Gegara Covid-19, Bandara di Dunia Rugi Rp1.800 Triliun Sepanjang 2020

Pandemi Covid-19 menyebabkan bandara-bandara di dunia rugi US$125 miliar atau sekitar Rp1.800 triliun (kurs 14.456), dari pendapatan seharusnya dikisaran US$ 188 miliar atau Rp2.713 triliun (kurs 14.456) sepanjang tahun 2020. Penyebabnya, apalagi kalau bukan jumlah penumpang turun sangat drastis.

Baca juga: IATA: Sepanjang 2020/2021, Maskapai Penerbangan Global Rugi Rp2.219 Triliun

Sebelum wabah virus Corona menerjang,  memperkirakan, sebanyak 9,4 miliar penumpang bakal memenuhi bandara sepanjang tahun 2020. Namun, ketika Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, angkanya hanya menjadi sekitar 3,3 miliar. Artinya, bandara-bandara di dunia kehilangan sekitar 6,1 miliar penumpang. Tak heran bila kerugian yang ditorehkan bisa sampai sebesar itu.

Dilansir Simple Flying, menatap tahun 2021, ACI mengaku tak begitu berharap kondisinya akan segera kembali ke era sebelum pandemi, dimana sekitar 9,8 miliar penumpang akan hilir mudik sepanjang 2021. Alih-alih berharap angka sebesar itu, ACI menargetkan sekitar 5,1 miliar penumpang memenuhi bandara, turun sebesar 47,5 persen atau sekitar 4,7 miliar penumpang sepanjang 2021.

Indikasi peningkatan penumpang pesawat selama kuartal I 2021 memang belum begitu terlihat. Namun, dengan banyaknya program vaksinasi serta sudah kembali dimulainya gelaran tingkat internasional, sekalipun dengan jumlah terbatas, sangat membuka asa ACI akan target itu.

Puncaknya, diharapkan, tiga bulan terakhir tahun ini akan menjadi momentum peningkatan jumlah penumpang bandara dengan berbagai relaksasi berlibur.

“Ada permintaan yang terpendam ini, dan orang-orang memiliki tabungan yang terkumpul dan akan bepergian jika mereka bisa. Pada akhir 2021, kami berharap berada di kisaran 45 hingga 55 persen dari level 2019,” kata VP Ekonomi ACI, Patrick Lucas.

“Jika kita mengambil hub bandara biasa yang menangani lebih dari 40 juta penumpang per tahun. Nah, bandara-bandara ini menghasilkan, rata-rata, sekitar US$ 1,3 miliar (Rp18 triliun) per tahun. Jadi jumlah ini setara dengan memiliki 95 pusat tersibuk di dunia yang kehilangan semua pendapatannya,” lanjutnya.

“Kami berharap peningkatan kepercayaan terhadap perjalanan udara berkat adanya program vaksinasi dan langkah-langkah keamanan akan menghasilkan jumlah orang yang bepergian ke luar negara mereka akan mulai musim semi ini dan meningkat secara signifikan pada pertengahan tahun,” tambahnya.

Baca juga: Bandara I Gusti Ngurah Rai Raih Predikat “Best Airport 2017” dari Airport Council International

ACI mencatat, beberapa pasar domestik, seperti di Cina dan Rusia nyaris kembali ke titik normal. Adapun pasar domestik di negara lain, seperti India, Jepang, Meksiko, Thailand, dan Amerika Serikat tingkat pemulihannya juga sangat cepat. Berkaca dari itu, ACI berharap, pasar domestik bisa kembali ke angka seperti tahun 2019 pada 2023 mendatang.

Sedangkan pasar internasional butuh waktu agak lama. Diperkirakan tahun 2026 pasar internasional baru akan kembali ke titik normal. Itupun bila tak ada gelombang atau mutasi virus Corona yang membuat dunia kembali menerapkan lockdown ketat.

Dear Traveler, Cobain Nih Aplikasi Tripset Buatan Airbus, Ini Sederet Keuntungannya

Airbus belum lama ini meluncurkan aplikasi pendamping perjalanan setiap traveler, Tripset. Aplikasi ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menyajikan sebanyak mungkin informasi penerbangan dan perjalanan guna memudahkan dan meningkatkan kepercayaan penumpang saat menggunakan moda udara selama pandemi Covid-19.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Dikutip dari laman resmi Airbus, aplikasi Tripset menawarkan berbagai keuntungan bagi traveler, pengguna, atau penumpang. Di antaranya, memungkinkan mereka untuk mendapatkan informasi tentang situasi dan kondisi perjalanan terbaru dan akurat serta pembatasan dan persyaratan kesehatan yang berlaku, tanpa harus berkonsultasi dengan berbagai sumber.

Pembatasan perjalanan akibat wabah Covid-19 yang tak kunjung usai di seluruh dunia memang membuat perjalanan penumpang menjadi lebih menantang.

Oleh karena itu, berdasarkan rancangan dan pengalaman aplikasi iflyA380 yang diakui dunia serta meraih beragam penghargaan, Airbus memperkenalkan aplikasi pendamping perjalanan (travel companion application) untuk menyediakan informasi terkini dan real-time kepada publik atau traveler yang bepergian untuk memastikan perjalanan lancar, aman, nyaman, dan menyenangkan.

Dengan fitur two interfaces, yang memungkinkan penumpang mengetahui penerbangan yang tersedia ketika mereka mengakses aplikasi dan tujuan yang dapat mereka pilih, traveler dijamin tak akan bingung dalam menetapkan negara atau kota tempat mereka berlibur.

Selain itu, Tripset juga bermanfaat ketika di lokasi tujuan. Setelah tiket dibeli, aplikasi akan memberi penumpang informasi tentang apa yang bisa dilakukan di tempat tujuan dan kedatangan mereka. Jadi, bisa dibilang, aplikasi Tripset membantu pengguna baik sebelum maupun sesudah memesan tiket.

Guna menghimpun informasi seakurat dan secepat mungkin untuk disajikan di aplikasi Tripset, Airbus menggandeng hampir seluruh pihak di industri penerbangan, dalam kaitan langsung dengan penumpang, seperti maskapai penerbangan, regulator, otoritas bandara, gugus tugas Covid-19, dan lain sebagainya. Semua dilakukan semata untuk mengembalikan kepercayaan penumpang untuk bepergian menggunakan transportasi udara ke seluruh dunia.

Airport Council International (ACI) memperkirakan, sebanyak 9,4 miliar penumpang bakal memenuhi bandara sepanjang tahun 2020. Namun, ketika Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, angkanya hanya menjadi sekitar 3,3 miliar. Artinya, bandara-bandara di dunia kehilangan sekitar 6,1 miliar penumpang.

Menatap tahun 2021, ACI mengaku tak begitu berharap kondisinya akan segera kembali ke era sebelum pandemi, dimana sekitar 9,8 miliar penumpang akan hilir mudik sepanjang 2021. Alih-alih berharap angka sebesar itu, ACI menargetkan sekitar 5,1 miliar penumpang memenuhi bandara, turun sebesar 47,5 persen atau sekitar 4,7 miliar penumpang sepanjang 2021.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Saat ini, beberapa pasar domestik, seperti di Cina dan Rusia nyaris kembali ke titik normal. Adapun pasar domestik di negara lain, seperti India, Jepang, Meksiko, Thailand, dan Amerika Serikat tingkat pemulihannya juga sangat cepat. Berkaca dari itu, ACI berharap, pasar domestik bisa kembali ke angka seperti tahun 2019 pada 2023 mendatang.

Sedangkan pasar internasional butuh waktu agak lama. Diperkirakan tahun 2026 pasar internasional baru akan kembali ke titik normal. Itupun bila tak ada gelombang atau mutasi virus Corona yang membuat dunia kembali menerapkan lockdown ketat.

Ini yang Dilakukan Maskapai Saat Terima Pesawat Baru

Setiap maskapai penerbangan tentu menginginkan pembaruan armada secara berkelanjutan. Di samping meningkatkan produktivitas, datangnya pesawat baru tentu memperbaiki citra dan pelayanan terhadap penumpang. Tetapi, ketika maskapai kedatangan pesawat baru, sebetulnya apa langkah-langkah yang dilakukan?

Baca juga: Wabah Corona Dorong Airbus Kirim Pesawat e-Delivery

Ketika sebuah pesanan pesawat keluar dari jalur produksi, itu tidak lantas langsung dikirim ke pelanggan. Pesawat terlebih dahulu diperiksa dengan intensif sebelum pelanggan menandatangani berita acara penerimaan pesawat. Sebab, begitu itu ditantangani, maka, penjual sudah berlepas tangan bila ada satu dua kekurangan.

Maka dari itu, tidak heran bila di momen ini menjadi begitu krusial. Terbukti, pada proses ini, pesawat dicek secara detail dalam kurun waktu sekitar lima hari. Dilansir Simple Flying, pemeriksaan tersebut mencakup beberapa hal.

1. Ground checks (inspeksi visual, pengujian sistem dan mesin).
2. Acceptance flight (untuk menguji inflight systems and behavior).
3. Mengolah kembali atau memecahkan masalah yang muncul dalam proses serah terima ini.
4. Technical acceptance (menghasilkan output penerbitan sertifikat kelaikan udara).
5. Pesawat secara resmi berubah kepemilikan dan dipersiapkan untuk penerbangan ferry flight.

Usai semua proses tersebut dilakoni dan menghasilkan kata sepakat tanpa ada cacat apapun, pesawat bisa langsung dikirim ke maskapai. Dalam proses ini, maskapai memiliki dua pilihan, mengirimkan kru untuk menjemput pesawat atau menunjuk pihak lain menjemput pesawat, dengan menyesuaikan protokol kesehatan, dan mengirimkannya ke lokasi yang telah disepakati oleh maskapai.

Pengiriman pesawat narrowbody jarak jauh dan widebody tentu akan terasa mudah, dalam artian tanpa harus transit berkali-kali. Sebab, selain jangkauan terbangnya sudah cukup jauh, secara teknis pesawat juga mampu terbang melampaui batas maksimal karena terbang tanpa kargo dan penumpang. Seperti yang terjadi baru-baru ini pada maskapai penerbangan Inggris, TUI.

Disebutkan, TUI belum lama ini menerima pesawat Boeing 737 MAX, menjadikannya yang pertama di Eropa, setelah disertifikasi ulang, langsung dari pabrik Boeing di Seattle ke London Gatwick.

Namun, lain cerita untuk pengiriman pesawat regional. Jangkauan terbang yang terbatas membuat proses pengiriman butuh waktu lebih karena harus transit berkali-kali. Apalagi bila lokasi pengiriman pesawat terletak cukup jauh.

Baca juga: Indonesia Terima Helikopter Airbus Lewat Skema e-Delivery Pertama di Asia Pasifik

Pada Oktober lalu, misalnya, ketika pesawat de Havilland Dash 8 hendak dikirim dari Toronto, Kanada ke maskapai Ethiopian Airlines, Ethiopia. Pesawat harus melewati penerbangan transatlantik. Karenanya, proses pengiriman harus transit berkali-kali dengan menempuh rute Toronto – Goose Bay – Reykjavík – Dublin – Roma – Kairo – Addis Ababa. Tercatat, total pengiriman pesawat mencapai enam hari, dari 23-29 Oktober.

Usai tiba di bandara yang disepakati, biasanya pesawat akan disambut dengan water salute sebagai pertanda penerbangan perdana. Setelahnya, beberapa maskapai ada yang melakukan ceremony sederhana, dengan memotong tumpeng atau memotong pita dan mengadakan press conference dihadapan awak media. Beberapa lainnya melakukan hal serupa, tetapi bukan di bandara tujuan melainkan di pabrik sebelum pesawat dikirim.

Inilah Aurora D8, Wujud Desain Pesawat Masa Depan Besutan NASA, Beroperasi 2030

Aurora D8 digadang menjadi wujud desain pesawat mada depan. Lewat desain brilian, pesawat yang dikembangkan bersama oleh Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney serta didukung NASA ini diklaim akan membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat 37 persen atau menurunkan emisi karbon dioksida hingga 87 persen serta lebih senyap atau minim polusi suara dibanding pesawat jet pada umumnya. Ditargetkan, Aurora Double-Bubble D8 mulai beroperasi pada 2030.

Baca juga: Inilah Enam Teknologi Terdepan untuk Tingkatkan Efisiensi Bahan Bakar Pesawat

Secara kasat mata, sebetulnya desain pesawat tidak sepenuhnya baru. Di masa lalu, desain pesawat seperti itu sudah pernah ada. Desain serupa sayap gawang di bagian belakang tercatat sudah lebih dahulu digunakan salah satunya oleh Sukhoi Su-80 Multirole.

Begitu juga dengan bagian dua sayap membentang cukup lebar di kanan dan kiri pesawat serta desain double bubble. Dua sayap membentang cukup lebar tercatat sudah pernah digunakan oleh Rutan Model 76 Voyager dan pesawat bertenaga surya (matahari) pertama di dunia, Solar One.

Adapun desain double-bubble yang dibanggakan Aurora D8 sudah pernah digunakan oleh pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, Boeing 377 Stratocruiser ataupun pesawat legendaris yang disebut-sebut sebagai Airbus A380 Propeller Era 40an, Bréguet 763 Deux-Ponts. Bedanya, dua pesawat itu kembung atau gemuk ke atas sedangkan Aurora D8 kembung ke samping atau kembung tapi melebar.

Lagi pula, Aurora Flight Science, yang diberikan dana sebesar US$2,9 juta oleh NASA untuk mengembangkan pesawat ini, mengakui bahwa desain Aurora D8 didasari oleh pesawat Boeing 737-800.

Tetapi, bila berkaca pada kesepatan awal konsep pesawat ini diluncurkan, Aurora D8 merupakan pengembangan pesawat-x D8 yang dulu sering digunakan pada waktu pasca Perang Dunia sebagai pesawat penumpang komersil, ditambah dengan berbagai sentuhan modern di bagian sayap dan mesin.

Dilansir Simple Flying, teknologi terbaru di bagian sayap disebut mampu mengurangi hambatan pada badan pesawat sehingga membuat penerbangan jadi lebih efisien hingga 70 persen.

Selain itu, sayap terbaru itu juga membuat pesawat melaju lebih kencang mencapai kecepatan sekitar 936 km per jam atau Mach 0,74, didukung oleh mesin terbaru yang lebih kecil dan ringan dari Pratt & Whitney serta United Technologies. Pesawat juga disebut lebih senyap dari pesawat pada umumnya.

Saat ini, pesawat, yang pengembangan utamanya ditujukan untuk mengurangi emisi karbon dan kebisingan, sudah melalui uji coba terowongan angin, teknologi propulsi, dan model uji struktural skala besar melalui model pesawat XD8.

Baca juga: Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

Bila tak ada aral melintang, pesawat ini akan diuji coba pada tahun 2027 dan setelah disertifikasi regulator penerbangan sipil, pesawat widebody double-aisle ini bisa mulai beroperasi pada 2030 mendatang, dengan kapasitas angkut 180 penumpang serta jangkauan terbang sejauh 5.556 km.

Dengan kapasitas besar dan lebih efisien, pesawat ini dinilai lebih menguntungkan maskapai dibanding jet yang ada saat ini. Menarik ditunggu, akankah Aurora D8 mampu merusak duopoli Airbus dan Boeing?

Pesawat Listrik Rolls-Royce dan Tecnam Meluncur 2026, Norwegia Jadi Pasar Terbesar

Pesawat listrik komuter buatan Tecnam dan Rolls-Royce, P-Volt, ditargetkan bakal mulai beroperasi pada 2026 mendatang. Nantinya, Norwegia akan menjadi pasar terbesar pesawat itu, menyusul komitmen maskapai regional terbesar di negara tersebut, Widerøe, untuk mengoperasikan P-Volt.

Baca juga: Tecnam dan Rolls-Royce Bakal Bikin Pesawat Listrik Komuter

Sebelum pandemi virus Corona menerjang, Widerøe adalah raksasa penerbangan regional Norwegia dengan 400 penerbangan per hari, menggunakan jaringan 44 bandara, dimana 74 persen penerbangan memiliki jarak kurang dari 275 km.

Durasi penerbangan terpendek maskapai itu antara tujuh dan lima belas menit. Jadi, sangat relevan untuk dioperasikan oleh pesawat listrik P-Volt yang kemampuannya masih sebatas penerbangan regional saja. Meski demikian, dengan kapasitas mencapai 11 penumpang, pesawat listrik P-Volt tetap menjadi pilihan yang menguntungkan untuk dioperasikan maskapai.

“Jaringan luas bandara short take-off and landing di Norwegia sangat ideal untuk teknologi nol emisi. Pesawat ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi baru dapat dan akan dikembangkan, dan bahwa kami berada di jalur yang tepat dengan ambisi kami untuk terbang dengan nol emisi sekitar tahun 2025,” kata juru bicara Widerøe, seperti dikutip dari Sam Chui.

Sementara itu, Direktur Rolls-Royce Electrical, Rob Watson, mengatakan, “Elektrifikasi akan membantu kami mewujudkan ambisi kami untuk memungkinkan pasar tempat kami beroperasi mencapai zero emisi (bebas karbon) pada tahun 2050. Kolaborasi ini memperkuat hubungan kami yang sudah ada dengan Tecnam dan Widerøe, seperti yang kami harapkan mengeksplorasi apa yang diperlukan untuk mengirimkan pesawat penumpang serba listrik untuk pasar komuter.”

Norwegia memang menjadi salah satu negara yang mulai menerapkan kebijakan mendorong penggunaan energi hijau (ramah lingkungan) pada pesawat. Negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah mulai melakukan kajian-kajian untuk mewujudkan pesawat listrik menguasai udara di masa mendatang. Salah satunya melalui Norway Research Association.

Norway Research Association ditugaskan oleh pemerintah Norwegia, bekerjasama dengan beberapa negara lain, untuk mempelajari teknologi baterai yang pas dan mencari tahu persepsi publik terkait pesawat listrik, dengan nilai investasi US$1,65 juta atau Rp25,3 miliar (kurs 15,370).

Meskipun belum menemukan hasil yang memuaskan, namun pemerintah sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek dalam negeri di Norwegia wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.

Sejalan dengan pemerintah, penduduk Norwegia yang berjumlah sekitar 5,4 juta orang juga sudah menyadari betapa pentingnya penggunaan energi terbarukan di dunia penerbangan.

Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Tak hanya itu, mereka juga mulai mengkampanyekan “flight shaming”, guna membuat orang-orang di sekeliling mereka yang masih bepergian menggunakan pesawat agar merasa malu karena telah menyumbang percepatan pemanasan global dan mendorongnya untuk beralih ke moda transportasi lain, terutama kereta.

Jadi, bila pesawat listrik komuter buatan Tecnam dan Rolls-Royce, P-Volt, bermitra dengan maskapai regional terbesar di negara tersebut, tentu itu adalah keputusan terbaik dan sangat menguntungkan.

NASA Uji Coba Sayap Pesawat Canggih untuk Kurangi Kebisingan

Polusi suara pada pesawat bukan hanya datang dari mesin, melainkan juga datang dari sayap pesawat. Mengurangi polusi suara dari mesin tentu bisa dikembangkan dengan menciptakan mesin yang lebih halus. Namun, bagaimana dengan sayap pesawat? Terkait itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mungkin punya jawabannya.

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Dilansir New Atlas, NASA dikabarkan tengah sibuk mengembangkan sayap mutakhir berteknologi tinggi untuk mengurangi kebisingan saat pesawat lepas landas maupun mendarat. Sayap pesawat diketahui menjadi salah satu penyumbang suara bising atau biasa juga disebut emisi atau polusi suara di sekitaran bandara efek dari aliran udara.

Selain membuat warga yang tinggal di pemukiman sekitar bandara menjadi tidak nyaman, sayap pesawat konvensional juga membuat pesawat membutuhkan tenaga lebih. Artinya, operasional pesawat jadi tidak efisien dan tingkat polusi karbon oksida juga meningkat.

Di bawah proyek Advanced Air Transport Technology (AATT), para insinyur NASA coba mencari solusi atas berbagai permasalahan itu. Pada Januari 2021, tim berhasil menyelesaikan pengujian terowongan angin subsonik pada model skala sepersepuluh dari desain sayap baru yang disebut versi Quiet-High-Lift dari Common Research Model (CRM- QHL).

Model saya uji terdiri dari badan pesawat yang dipotong menjadi dua dan diletakkan pada sisi datarnya di lantai terowongan angin. Di badan pesawat dipasang model rinci sayap pesawat, termasuk slat dan flap, serta model mesin dan retractable undercarriage. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk mengumpulkan data empiris untuk menilai model komputer yang diperlukan dalam mensimulasikan tingkat kebisingan pada sayap.

Tujuan dari adalah untuk memodifikasi komponen sayap seperti leading-edge slat dan trailing-edge flaps agar lebih efisien dalam hal kinerja aerodinamis, struktural, dan akustiknya menggunakan paduan shape-memory. Ketika uji model skala kecil selesai, rencananya, ini akan diteruskan ke uji terowongan angin skala besar untuk mengembangkan teknologi ke titik di mana ia dapat diadopsi oleh industri dirgantara.

Selain dari sayap dan mesin, polusi suara juga dihasilkan dari airframe (rangka) pesawat. Sebagaimana sayap, NASA juga mengembangkan teknologi terbaru untuk menjadi solusi atas persoalan tersebut.

Baca juga: Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Pada Mei 2018, disebutkan, NASA telah menyelesaikan serangkaian uji coba pada teknologi untuk mengurangi suara yang dihasilkan oleh airframe (rangka) pesawat dan suara yang dihasilkan saat melakukan pendaratan melalui teknologi Landing Gear Noise Reduction. Rangkaian uji coba ini dilakukan melalui rangkaian penerbangan Acoustic Research Measurement (ARM) di Armstrong Flight Center, California, AS.

Teknologi Landing Gear Noise Reduction sendiri dikembangkan untuk mengurangi suara dari airframe yang disebabkan aliran udara bergerak melewati roda pesawat saat mendekati landasan. Teknologi ini menggunakan fairing yang memiliki pori-pori sehingga suara yang dihasilkan oleh aliran udara dapat berkurang.

Cek Fakta Dibalik Video Viral Drone Hantam Pesawat Tak Lama Setelah Lepas Landas!

Pada Februari lalu, sebuah video viral di media sosial TikTok. Video tersebut menunjukkan sebuah drone mengantam winglet pesawat Southwest Airlines, tak lama setelah lepas landas dari Bandara LaGuardia, NewYork, Amerika Serikat (AS). Dalam sekejap, winglet kemudian hancur dan tentu saja membahayakan penerbangan.

Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua 

Sampai tulisan ini dibuat, video viral drone menghantam winglet pesawat itu sudah ditonton lebih dari 4 juta kali. Pertanyaannya, validkah video tersebut, mengingat teknologi bisa membuat segala yang tidak menjadi mungkin, dalam hal ini terkait teknologi video editing?

Dilansir snopes.com, bila dilihat secara lebih detail, sebetulnya drone yang menghantam jenisnya tak terlalu besar. Namun, dalam video viral itu, winglet pesawat, yang disebut sebagai penerbangan Southwest Airlines, hancur dibuatnya.

@marlon_spiridon_osborn

Drone hits plane on takeoff 🛫😱 #fyp #foryoupage #foryou #trending #trendy #tiktok #tiktokvids #foryoup #foryp #plane #drone #shocking #scaryflight

♬ original sound – M a r l o n K a n d a r o s

Setelah diusut tuntas, video tersebut rupanya tak lebih dari sekedar hoax belaka atau lebih tepatnya efek visual. Video tersebut diketahui pertama kali dibuat pada tahun Juni 2015 lalu, oleh seorang ahli visual effect, Bruce Branit. Ia pun juga secara cermat menempatkan watermark di sayap pesawat sampai betul-betul samar bila tak dilihat secara seksama.

Ketika itu, ia mengunggahnya ke akun YouTube miliknya, BranitFX. Sekalipun tak terlalu viral, dimana jumlah viewersnya hanya sekitar 450 ribuan, tetapi video itu memang tampak seperti sungguhan.

Tak heran bila di era digital yang sudah sangat massif sehingga lebih mudah membuat sebuah video viral seperti sekarang ini, video editan drone menabrak winglet pesawat hingga hancur itu mendapat perhatian luas dari warganet.

Memastikan video viral tersebut hoax, juru bicara Southwest Airlines pun membantah insiden itu. Dalam keterangannya, pesawat yang dimaksud terbang dengan aman dan selamat tanpa kendala apapun.

Hanya saja, insiden drone tabrak pesawat atau pesawat tabrak drone memang pernah terjadi. Bahkan bisa dikatakan sering terjadi.

Pada 12 November 2017, sebuah drone dilaporkan menabrak Boeing 737-800 milik maskapai Aerolineas Argentinas. Disebutkan, drone tersebut menghantam mesin sebelah kanan pesawat yang bertolak dari Trelew, sebelah timur laut dari Patagonia.

http://https://www.youtube.com/watch?v=GS3nb4bwHKQ&t=17s

Baca juga: Drone Misterius Ganggu Penerbangan di Bandara Changi Singapura

Kejadian tersebut terjadi ketika pesawat melintas di atas Tierra Santa Theme Park, tepat sebelum pesawat Aerolineas Argentinas mendarat di bandara Jorge Newbery di Buenos Aires, Argentina. Untungnya, pesawat tidak mengalami kerusakan hebat ketika ditabrak dan bisa mendarat dengan selamat.

Sekitar sebulan sebelumnya atau pada 16 Oktober 2017, insiden drone tabrak pesawat juga pernah terjadi di Kanada. Ketika itu, pesawat Skyjet Beech King Air 100 tengah bergerak mendekati Bandara Internasional Jean Lesage di Kota Quebec, dan dihantam oleh sebuah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang tidak dikenal.

Abu Vulkanik dari Letusan Gunung Pacaya Bikin Bandara di Guatemala Tutup Sementara Waktu

Bandara Internasional La Aurora Guatemala harus ditutup sementara karena abu vulkanik yang menyelimuti pesawat dan landasan pacu pada hari Selasa (23/3/2021). Ini karena kondisi angin yang tidak menguntungkan membawa abu dari Gunung Berapi Pacaya di dekatnya yang tengah aktif sehingga abu vulkanik menutupi bandara tersebut.

Baca juga: Arah Sebaran Abu Vulkanik Berubah, Bandara Lombok Pagi Ini Sudah Dibuka

Otoritas Penerbangan Sipil Guatemala mengatakan, adanya ini membuat tentara menyapu abu vulkanik di landasan pacu yang ditutup menyusul aktivitas vulkanik dan kondisi angin yang tidak menguntungkan di Gunung Pacaya. Dilansir KabarPenumpang.com dari cnn.com (23/3/2021), pengumuman penutupan Bandara La Aurora sendiri disampaikan melalui Twitter oleh Otoritas Penerbangan Sipil.

Tentara menyapu abu vulkanik dari landasan pacu di bandara Internasional La Aurora, yang ditutup menyusul aktivitas vulkanik dan kondisi angin yang tidak menguntungkan di gunung berapi Pacaya di luar Guatemala City pada Selasa, 23 Maret 2021. (cnn.com)

Mereka mengatakan bahwa mengambil keputusan itu sebagai akibat adanya perubahan arah angin dari selatan ke utara dan peningkatan aktivitas vulkanik di Pacaya serta meningkatnya hujan abu. Gunung ini memiliki tinggi 2.569 meter terletak sekitar 48 kilometer (29 mil) di selatan bandara dan telah aktif dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil, langkah tersebut diambil mengikuti rekomendasi dari National Institute of Seismology, Volcanology, Meteorology, and Hydrology (INSIVUMEH) yang mengumumkan peningkatan abu vulkanik di banyak wilayah ibu kota.

“Sejauh ini, sembilan pesawat telah terpengaruh dan tetap dilarang terbang, satu penerbangan yang datang dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, dialihkan ke El Salvador,” kata Otoritas Penerbangan Sipil Guatemala.

Dalam sebuah video yang diposting ke akun Twitter-nya, Direktur Penerbangan Sipil Francis Argueta mengatakan tidak jelas berapa lama penutupan akan berlangsung tetapi pihak berwenang “berharap untuk melanjutkan operasi bandara secepat mungkin.” Awan abu vulkanik merupakan bahaya serius bagi penerbangan, mengurangi jarak pandang, merusak kontrol penerbangan, dan pada akhirnya menyebabkan mesin jet rusak.

Pertemuan antara pesawat terbang dan abu vulkanik bisa terjadi karena awan abu sulit dibedakan dari awan biasa, baik secara visual maupun radar, menurut US Geological Survey. Awan abu juga bisa melayang jauh dari sumbernya. Abu vulkanik yang tertelan oleh mesin dapat menyebabkan penurunan kinerja mesin yang serius karena erosi bagian yang bergerak dan penyumbatan sebagian atau seluruh nosel bahan bakar.

Baca juga: Pesawat Boleh Tetap Mengudara di Tengah Kepulan Abu Vulkanik, Asalkan…

Abu vulkanik mengandung partikel yang titik lelehnya di bawah suhu internal mesin. Selama penerbangan, partikel-partikel ini akan langsung meleleh jika melalui mesin. Melalui turbin, bahan yang meleleh dengan cepat mendingin, menempel pada baling-baling turbin, dan mengganggu aliran gas pembakaran bertekanan tinggi.

Setahun Virus Corona dan Penerbangan Kabin Penumpang Dipenuhi Kargo

Tanpa terasa, virus Corona telah mewabah selama setahun lebih dan merusak bisnis, salah satunya bisnis penerbangan. Beruntung, di saat penerbangan penumpang mati total, justru penerbangan kargo meningkat tajam seiring waktu. Bahkan, saking tingginya permintaan, kabin penumpang pun sampai dipenuhi kargo, semata untuk memaksimalkan muatan per sekali terbang.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Di awal wabah virus Corona menerjang, semua maskapai nyaris tak bisa berbuat banyak. Bahkan, beberapa di antaranya menggrounded 100 persen pesawat, saking sepinya penerbangan.

Ketika itu, virus Corona yang masih menjadi epidemi di Wuhan secara khusus dan Cina secara umum, diprediksi para ahli tak akan berlangsung lama. Setelahnya, dunia akan kembali normal.

Faktanya, tidak demikian. Justru keadaan semakin sulit. Tak hanya itu, Covid-19 bahkan menyebar ke beberapa negara, berbagai negara, sampai akhirnya ke hampir seluruh negara di dunia.

Rantai pasokan barang dan jasa pun, yang selama ini mayoritas berada di Cina, otomatis terganggu. Pasokan medis, sepeti APD, masker, dan face shield dilaporkan terjadi kelangkaan dimana-mana.

Tatkala beberapa negara berhasil mengendalikan virus tersebut dan dunia mulai membaik, ditandai dengan dimulainya pertukaran barang dan jasa antar negara dan benua, dunia penerbangan pun perlahan kembali pulih. Tentu saja dimulai dengan penerbangan kargo.

Saat itu, sekitar bulan Maret, di negara-negara yang menjadi pemasok peralatan dan perlengkapan medis, seperti Cina, Taiwan, dan Korea Selatan, kargo pesawat bahkan sampai tidak muat menampung barang. Guna memaksimalkan kapasitas, terlebih di saat yang bersamaan penerbangan penumpang juga sepi, maskapai pun menyulap kabin penumpang untuk kemudian dipenuhi kargo.

Dilansir aircargonews.net, saking tingginya permintaan kargo, tarifnya bahkan sampai melonjak tajam. Pada 17 Maret 2020, data menunjukkan bahwa rata-rata tarif angkutan udara pada layanan dari Shanghai ke AS meningkat sebesar 29,7 persen dari harga pada minggu sebelumnya mencapai US$4,71 per kg. Untuk layanan dari Shanghai ke Eropa, ada peningkatan mingguan terjadi sebesar 17,7 persen menjadi US$3,19 per kg.

Bulan Maret memang benar-benar menjadi bulan kebangkitan industri penerbangan, dalam hal ini penerbangan kargo. Ketika itu, pada tanggal 19 Maret, United Cargo mulai menerbangkan kargo seberat 29.000 pon berisi pasokan medis dari Chicago O’Hare ke Frankfurt.

Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’

Setahun kemudian, maskapai ini tercatat telah mengoperasikan lebih dari 11.000 penerbangan khusus kargo, dimana kabin penumpang disulap menjadi kargo, yang membawa lebih dari 570 juta pon barang, termasuk lebih dari 113 juta pon produk medis dan farmasi pada penerbangan khusus kargo dan penumpang serta sekitar 10 juta vaksin Covid-19.

Sebelum United Cargo, Emirates SkyCargo diketahui sudah memulai penerbangan khusus kargo pada 16 Maret. Saat itu, pesawat penumpang Boeing B777-300ER, yang kabin penumpangnya dipenuhi kargo, membawa muatan seberat 34 ton kargo, dari Dubai ke Kuwait. Sejak itu, maskapai ini telah mengoperasikan lebih dari 27.800 penerbangan kargo yang membawa lebih dari 100.000 ton sampai saat ini.

Kapal Kontainer Raksasa Melintang di Terusan Suez, Lalu Lintas Kapal Dunia Terganggu

Pernah membayangkan bagaimana bila sebuah terusan macet dan perjalanan semua kapal yang melintasinya harus menunggu atau putar arah? Ini terjadi di Terusan Suez, yang mana sebuah kapal kontainer raksasa terjebak dan menghentikan lalu lintas di salah satu jalur air tersibuk dan terpenting di dunia.

Baca juga: 151 Tahun Sudah Terusan Suez Menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah

KabarPenumpang.com menghimpun dari cnn.com (24/3/2021), kapal kontainer ini bisa terjebak setelah angin dengan kecepatan 40 knot dan badai pasir menyebabkan jarak pandang rendah sehingga membuat navigasi yang buruk. Kapal berbobot 224 ribu ton dan memiliki panjang 59 meter tersebut berlayar dibawah bendera Panama yang tengah dalam perjalanan ke Pelabuhan Rotterdam di Belanda.

Gambar kapal yang menghambat perjalan di Terusan Suez dari satelit (cnn.com)

Saat itu kapal Ever Given tengah memasuki perdangan Timur-Barat yang penting pada Selasa pagi (23/3/2021) dan mengalami masalah ketika jaraknya sekitar 9,6 km laut di ujung selatan muara. Karena insiden ini, Tanker Trackers yang memantau kapal melalui data satelit dan maritim mengatakan insiden telah menyebabkan kapal lain di dekatnya mundur.

“Kapal tanker yang membawa minyak Saudi, Rusia, Oman dan AS menunggu di kedua ujungnya,” katanya.

Ever Given sedang transit ke utara dari Laut Merah ke Mediterania ketika mengalami masalah sekitar pukul 07.40 pagi setelah kapal mengalami pemadaman. Sedangkan ada 15 kapal lain dalam jalur tersebut tertahan dan menurunkan jangkar selama proses pembersihan tersebut. Di jalur selatan pun di blokir sampai kapal kontainer dipindahkan.

Maersk, perusahaan pengiriman peti kemas terbesar di dunia mengatakan tujuh dari kapal peti kemasnya telah terkena dampak penyumbatan, dengan empat kapalnya terjebak di sistem kanal sementara sisanya menunggu untuk memasuki jalur tersebut, kata perusahaan Denmark dalam sebuah pernyataan Rabu.

Kapal kontainer rusak dan menghentikan lalu lintasi di Terusan Suez (cnn.com)

Seorang senior kanal di Otoritas Terusan Suez mengatakan, untuk memindahkan kapal ini secara teknis sangat rumit dan bisa menghabiskan waktu berhari-hari. Dia mengatakan, bila peralatan untuk mengapung kapal tersedia, tetapi semuanya tergantung pada bagaimana penggunaannya.

“Jika metodenya tidak benar mungkin butuh waktu seminggu, dan jika dilakukan dengan baik bisa memakan waktu dua hari. Tapi jika itu benar [sejak awal], maka krisis bisa berakhir kemarin,” kata pejabat itu.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa, karena kerusakan tersebut, Ever Given tidak mungkin bisa berlayar sekarang dan mungkin perlu ditarik ke tempat parkir terdekat, Distrik Danau Great Bitter, sekitar 30 kilometer ke utara. Setelah itu kemungkinan besar akan ditarik dengan muatannya ke pelabuhan terdekat baik pelabuhan Sokhna 20 kilometer selatan kota Suez, atau Port Said, 100 kilometer ke utara.

Nantinya kargo akan diturunkan dan kapal akan menjalani perbaikan kecil. Jika kerusakannya ternyata lebih parah, kapal tersebut akan ditarik ke galangan kapal laut. Pejabat itu mengatakan bahwa “saat ini, jumlah kapal yang menunggu bisa mencapai 100 dan akan meningkat seiring waktu.”

“Terganggunya navigasi kapal diperkirakan akan menyebabkan kemacetan kapal yang membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk memulihkan ketertiban lalu lintas secara normal,” tambahnya.

Dampak pada aliran minyak dan gas akan tergantung pada berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan kapal peti kemas, sumber industri mengatakan kepada Reuters.

Baca juga: Kenapa Kapal Pesiar Bisa Tahan Terjangan Badai? Ternyata Jawabannya Sangat Sederhana!

“Jika diperpanjang, katakanlah, berminggu-minggu tentu saja akan mengganggu semua pengiriman secara besar-besaran. Tapi saya pikir harus tersedia sumber daya yang cukup dan cukup banyak untuk menangani situasi dengan cepat, dalam beberapa hari daripada berminggu-minggu,” kata Ashok Sharma, direktur pelaksana pialang kapal BRS Baxi yang berbasis di Singapura.