Pengguna GoJek Kini Bisa Cek Suhu Tubuh Pengemudi Lewat Aplikasi

Sepertinya aplikasi ride hailing besutan ank bangsa ini tak kehilangan ide untuk memberi kenyamanan pelanggannya. Ya, GoJek Indonesia baru-baru ini menghadirkan inovasi fitur informasi status suhu tubuh mitra driver dan kebersihan kendaraan mereka. Hal ini dilakukan GoJek untuk terus memastikan keamanan konsumen dan mitra pengemudi di tengah Covid-19.

Baca juga: Pasca Pandemi Corona, Haruskah Seluruh Bandara Tetap Lakukan Pemeriksaan Suhu Tubuh?

Mulai minggu ini jutaan pengguna GoJek dapat melihat fitur tersebut saat memesan layanan mereka di aplikasi seperti GoRide, GoCar, GoFood dan lainnya. Bisa dikatakan aplikasi ride hailing ini menjadi pertama di Indonesia yang meluncurkan fitur informasi suhu tubuh mitra pengemudi.

“Kepercayaan masyarakat terhadap layanan GoJek merupakan tanggung jawab yang senantiasa di jaga dengan baik. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inovasi dan inisiatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat baik sebelum maupun selama pandemi Covid-19 in,” ujar Chief Operations Officer Gojek Hans Patuwo yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Dia mengatakan, tim operasional dan engineering GoJek bekerja keras dalam menghadirkan inovasi-inovasi yang dibutuhkan masyarakat maupun mitra pengemudi. Hans menjelaskan saat memesan layanan GoJek, pengguna akan mengetahui status pengecekan tubuh mitra pengemudi dan status desinfeksi kendaraan.

“Fitur ini merupakan wujud keseriusan kami dalam memastikan semakin meningkatnya standar operasional layanan yang aman di tengah pandemi Covid-19,” tambahnya.

Hans menambahkan, secara bertahap, fitur status suhu pengemudi dan kebersihan kendaraan akan diimplementasikan pada layanan belanja, pengantaran barang dan logistik. Adapun informasi ini merupakan rekaman dari aktivitas pelayanan terhadap mitra pengemudi di 130 titik posko aman GoJek yang tersebar di 16 kota besar di Indonesia.

Di posko tersebut, pihak GoJek melakukan pengecekan suhu tubuh driver dan melakukan disinfeksi terhadap kendaraan yang digunakan mitra pengemudi. Informasi itulah yang kemudian akan diunggah ke dalam database dan kemudian ditampilkan di aplikasi pengguna.

GoJek mengklaim ada ratusan ribu driver alias mitra pengemudi yang memanfaatkan fasilitas dan prosedur kesehatan di posko-posko tersebut. Inisiatif ini merupakan langkah preventif untuk menjaga mitra driver berada pada kondisi sehat saat memberikan layanan kepada pelanggan. Setiap mitra yang aktif didorong untuk rutin mengunjungi Posko Aman Bersama GoJek.

Diketahui, sebelumnya, GoJek juga telah menyiapkan jutaan item masker, hand sanitizer dan dalam bentuk paket kesehatan yang dibagikan kepada ratusan ribu mitra driver di lebih dari 90 kota. Distribusi paket kesehatan terutama 5 juta masker yang diimpor GoJek akan terus dilakukan secara bertahap kepada mitra di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, GoJek juga berusaha memastikan keamanan dan kesehatan pengguna yang tetap harus beraktivitas selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di beberapa kota. GoJek juga sudah meluncurkan layanan pengantaran tanpa kontak langsung pada layanan GoFood, GoShop, GoSend dan GoMart.

Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

“Lewat inovasi dan teknologi, kami berupaya membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya di tengah pandemi tanpa rasa khawatir. Di situasi penuh tantangan seperti saat ini, GoJek terpacu untuk terus mempertegas dampak sosial yang bisa diberikan kepada masyarakat,” kata Hans.

Sambut 25 Mei, PT KAI Siapkan Protokol The New Normal

Indonesia akan memasuki kehidupan normal yang baru atau disebut dengan new normal. Maka dari itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) saat ini bersiap untuk menyambut skenario tersebut di lingkungan mereka sebagai tindak lanjut arahan Menteri BUMN Erick Thohir yang menerbitkan surat dengan No.336/MBU/05/2020 pada 15 Mei 2020 terkait antisipasi skenario The New Normal BUMN.

Baca juga: PT KAI Operasikan “Kereta Luar Biasa,” Ini Dia Aturannya

Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan, pihaknya saat ini sedang mempersiapkan protokol untuk antisipasi skenario penerapan The New Normal di KAI. Dia menjelaskan, protokol tersebut akan mengatur langkah-langkah serta tahapan yang akan diterapkan oleh KAI dalam menyambut The New Normal yang dimulai pada 25 Mei 2020.

Selain protokol untuk pelayanan pelanggan, protokol juga mengatur pekerja berusia 45 tahun untuk masuk kantor seperti biasa namun tetap memperhatikan aturan Pembatasan Sosisal berskala Besara (PSBB) di masing-masing wilayah kerja.

“Meskipun sebagian karyawan yg berusia di atas 45 tahun masih WFH, termasuk pembagian WFO secara bergantian dan disiplin phisycal distancing, namun kami tetap berkomitmen untuk menjaga produktifitas seluruh pekerja KAI,” kata Didiek yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id (17/5/2020).

Didiek mengatakan, sampai saat ini KAI fokus pada layanan Kereta Api Luar Biasa (KLB) di Jawa, KA Lokal, KRL, dan KA Angkutan Barang. Hal tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab KAI utk turut serta menangani pencegahan Covid-19. Dalam pengoperasiannya, KAI tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19 yang diawasi oleh Satgas Covid-19 KAI yang telah terbentuk sejak Maret 2020.

Khusus untuk layanan KA Penumpang, KAI akan tetap mengikuti perkembangan sesuai dengan aturan yang diterbitkan Kementerian Perhubungan selaku regulator perkeretaapian. Untuk terus bisa mendapatkan info terbaru pelayanan kereta api, masyarakat dapat menghubungi Contact Center KAI melalui telepon di 021-121, email di cs@kai.id, dan sosial media KAI 121.

“Dalam masa pandemi seperti ini, KAI berkomitmen bahwa BUMN sebagai salah satu penggerak perekonomian bangsa harus tetap berjalan dengan tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19,” tutup Didiek.

Baca juga: Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI

Terkait dengan skenario penerapan the New Normal, KabarPenumpang.com juga bertanya kepada PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Namun KCI yang diwakilkan oleh VP Corcomm KCI Anne Purba mengatakan belum ada skenario baru.

“Kalau ada skenario baru akan kami update,” ujarnya yang dihubungi, Selasa (19/5/2020).

Anjing Kini Dilatih untuk Mengendus Gejala Covid-19

Bagaimana jika anjing digunakan untuk mendeteksi gejala virus corona? Baru-baru ini North East University di Boston, AS, terlibat dalam uji coba “anjing Covid” yang dapat mendeteksi gejala virus corona. Uji coba ini juga melibatkan Durham University di Inggris dan akan membentuk bagian dari penelitian terkait metode deteksi dini yang berpotensi non-invasif.

Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top

KabarPenumpang.com melansir dari laman northumberlandgazette.co.uk (16/5/2020), anjing-anjing yang dilatih ini biasa mengendus penyakit kanker, malaria dan parkinson yang nantinya akan dilatih secara intensif untuk menemukan Covid-19 sebelum gejala muncul. Fase pertama uji coba akan dilakukan oleh para peneliti di London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM), bekerja sama dengan amal Anjing Deteksi Medis (MDD) dan Universitas Durham.

Ini akan menentukan apakah enam anjing, campuran labradors dan cocker spaniel, mampu mendeteksi coronavirus pada manusia dari sampel bau. Mereka akan dilatih menggunakan sampel dari orang yang terinfeksi virus corona dan mereka yang tidak terinfeksi, karena beberapa penyakit pernapasan diketahui mengubah bau badan.

“Kami benar-benar senang mendapatkan dana ini sehingga kami dapat memulai penelitian penting ini. Jika kita dapat menunjukkan bahwa anjing terlatih kita dapat mengidentifikasi orang yang membawa virus, tetapi siapa yang tidak sakit, itu akan menjadi pengubah permainan. Kami kemudian akan dapat meningkatkan penggunaan anjing di pelabuhan masuk untuk mengidentifikasi pelancong yang memasuki negara itu dengan virus. Ini penting untuk mencegah gelombang kedua epidemi,” kata Profesor Steve Lindsay, dari Departemen Biosains di Durham University.

Menteri Inovasi, Lord Bethell mengatakan, anjing-anjing bio-deteksi sudah mendeteksi kanker spesifik dan kami percaya inovasi ini mungkin memberikan hasil yang cepat sebagai bagian dari strategi pengujian kami yang lebih luas.

“Akurasi sangat penting sehingga percobaan ini akan memberi tahu kita apakah ‘Covid dogs’ dapat mendeteksi virus dengan andal dan menghentikan penyebarannya,” kata Bethell.

Penelitian yang dikumpulkan oleh MDD telah menunjukkan bahwa anjing dapat dilatih untuk mendeteksi bau penyakit pada pengenceran setara dengan satu sendok teh gula di dua kolam air berukuran Olimpiade. Badan amal memperkirakan bahwa setiap hewan dapat menyaring hingga 250 orang per jam setelah dilatih. Profesor James Logan, kepala departemen pengendalian penyakit di LSHTM, mengatakan ia “berharap” ini akan berhasil.

“Pekerjaan kami sebelumnya telah menunjukkan bahwa malaria memiliki bau yang khas, dan dengan Anjing Deteksi Medis, kami berhasil melatih anjing untuk mendeteksi malaria secara akurat. Ini, dikombinasikan dengan pengetahuan bahwa penyakit pernafasan dapat mengubah bau badan, membuat kami berharap bahwa anjing juga dapat mendeteksi Covid-19. Jika berhasil, pendekatan ini dapat merevolusi cara kami mendeteksi virus, dengan potensi untuk menyaring jumlah orang yang tinggi,” kata Logan.

Dr Claire Guest, salah satu pendiri dan kepala eksekutif Medical Detection Dogs, mengatakan, pihaknya senang bahwa Pemerintah telah memberi kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa anjing dapat memainkan peran dalam perang melawan Covid-19. Dia menyebutkan bahwa anjing-anjing memiliki potensi untuk membantu dengan menyaring orang dengan cepat. Bahkan ini bisa menjadi vital di masa depan.

Claire yakin anjing mereka akan dapat menemukan bau Covid-19 dan mereka kemudian akan pindah ke tahap kedua untuk mengujinya dalam situasi langsung, setelah itu pihaknya berharap dapat bekerja dengan agensi lain untuk melatih lebih banyak anjing untuk ditempatkan.

“Anjing sekali lagi dapat menyelamatkan banyak nyawa. Kami telah menunjukkan keahlian kami dalam mendeteksi penyakit anjing dengan berhasil melatih anjing untuk mendeteksi penyakit seperti kanker, Parkinson dan malaria, dan kami menerapkan ilmu yang sama untuk melatih Anjing Siaga Bantuan Medis yang menyelamatkan jiwa untuk mendeteksi perubahan bau pada individu yang disebabkan oleh kondisi kesehatan mereka,” kata dia.

Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan

“Kami yakin anjing kami mampu menemukan ‘bau’ COVID-19 dan selanjutnya kami akan pindah ke tahap kedua untuk menguji mereka dalam uji langsung di lapangan, setelah itu kami berharap dapat bekerja dengan lembaga lain untuk melatih lebih banyak anjing untuk penugasan,” tambahnya.

Kuwait Hadirkan Fasilitas Pengujian Drive-Through Covid-19 di Bandara

Sejak 13 Maret 2020 lalu, Kuwait menangguhkan semua penerbangan komersial. Bahkan pemerintah juga menutup toko, mall dan tempat pangkas rambut dalam upaya mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Tak hanya itu, pemerintah Kuwait juga memberlakukan jam malam penuh di negara tersebut.

Baca juga: Bandara Gerald R Ford Tingkatkan Pembersihan Anti Corona dengan Elektrostatik

Meski sudah banyak aturan yang diterapkan negara tersebut selama pandemi Covid-19, baru-baru ini tepatnya pada hari Minggu (17/5/2020), Kuwait meluncurkan pusat pengujian virus corona drive-through di Bandara Internasional Kuwait. Pusat pengujian ini merupakan yang pertama di Kuwait dan dibuat untuk meningkatkan kemampuan pengujian Covid-19 di negara itu.

Para petugas tes virus corona (Xinhua)

KabarPenumpang.com melansir dari laman outlookindia.com (17/5/2020). Menteri Kesehatan Bassel Al-Sabah mengatakan akan membantu meningkatkan jumlah tes untuk menemukan kasus infeksi yang tidak dilaporkan. Pusat pengujian virus corona drive-through di bandara ini akan memilh secara acak sebanyak 180 warga dan penduduk untuk pengujian per harinya.

“Pusat pengujian drive-through tersebut bisa menerima mobil sebanyak 15 unit sekaligus,” kata Al-Sabah.

Dalam hal ini, kementerian kesehatan juga akan bekerja sama dengan otoritas publik untuk informasi sipil supaya mengirim pesan teks kepada invidu yang dipilih dengan perincian lengkap agar bisa melakukan pengujian. Saat ini diketahui Kuwait melaporkan ada 13.802 kasus Covid-19 dengan 107 orang meninggal.

Diketahui, pusat pengujian virus corona drive-through ini menggunakan fasilitas parkir yang diubah oleh Jazeera Airways. Mereka mengkonversi fasilitas Park & ​​Fly dalam waktu singkat untuk digunakan secara gratis oleh Departemen Kesehatan untuk melakukan tes dan pengujian Covid-19. Tim desain dan teknik Jazeera Airways mengkonfigurasi ulang fasilitas untuk mematuhi persyaratan ketat dari otoritas kesehatan setempat.

“Fasilitas Park & ​​Fly kami adalah lokasi dan skala yang ideal untuk membangun pusat pengujian dan melengkapinya dengan kebutuhan Kementerian Kesehatan. Kami sangat berterima kasih untuk dapat berkontribusi dalam segala cara untuk upaya luar biasa yang dilakukan oleh Negara Kuwait untuk memerangi virus. Aset dan sumber daya manusia kami siap membantu Kuwait,” ujar Jazeera Airways, Marwan Boodai.

Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia

Fasilitas pengujian drive-through kedua sedang dibangun juga oleh tim Jazeera Airways di stadion nasional Jaber Al-Ahmad untuk dioperasikan oleh Kementerian Kesehatan.

90 Tahun Lalu, Pramugari Pertama AS Bekerja Nyambi Jadi ‘Perawat’ di Pesawat

Sebelum 15 Mei 1930, profesi pramugari mungkin tak pernah sepopuler saat ini, dengan sederet glomouritas yang dipertontonkan oleh para pramugari itu sendiri di seluruh dunia. Padahal saat itu, ditelaah dari kebutuhan, profesi pramugari atau awak kabin, dibayangan beberapa pihak, harusnya sudah dibutuhkan untuk menemani penerbangan.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Akan tetapi, di awal kemunculannya dahulu, pramugari tidak pada tupoksi yang kita kenal saat ini, melayani penumpang dengan berbagai suguhan dan memberikan informasi seputar keselamatan terbang. Ellen Church, pramugari pertama di Amerika Serikat (AS) atau airline stewardess (sebutan familiar kala itu sebelum muncul istilah flight attendant sebagai gantinya) mungkin tahu betul betapa berat tugas yang dipikul pramugari kala itu.

Dikutip dari thepointsguy.com, dengan teknologi yang terbatas atau belum secanggih saat ini, penerbangan jarak dekat pun bisa dilahap oleh pesawat dengan waktu tempuh yang cukup lama dan membutuhkan beberapa kali pemberhentian untuk mengisi bahan bakar.

Kemudian, saat di awal-awal penerbangan komersial dan sebelum munculnya profesi awak kabin, pesawat yang digunakan adalah pesawat dengan kabin tidak bertekanan dan terbang di ketinggian terbatas. Praktis, pesawat akan menghadapi lebih banyak turbulensi dan membuat penerbangan menjadi lebih mengerikan dari saat ini. Selain kedua alasan itu, menurut Thomas Petzinger Jr dalam bukunya “Hard Landing”, saat itu sebagian besar para penumpang dinilai masih cenderung takut terbang.

https://www.facebook.com/afacwa/photos/a.398664403519/10157636429823520/?type=3

Dalam tiga kondisi di atas, masih menurut Thomas Petzinger Jr dalam bukunya, mengatakan bahwa ide untuk menghadirkan wanita cantik serta memiliki pengetahuan dan terlatih di bidang kesehatan atau penanganan medis pun muncul.

Ellen Church, yang kala itu masih menjadi pilot di Boeing Air Transport (yang kini dikenal sebagai United Airlines, salah satu maskapai ternama di AS) mengajukan diri untuk melakoni tantangan tersebut. Lagi pula, ia memang pada awalnya adalah seorang perawat yang kemudian menjadi pilot. Jadi, sangat sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, wanita cantik dan terlatih secara medis. Meskipun sempat diragukan, Boeing Air Transport akhirnya mengizinkannya (yang kala itu masih berumur 25 tahun) untuk menjadi pramugari pertama di AS dan memulai penerbangan pertamanya pada 15 Mei 1930 atau 90 tahun lalu.

“Ellen Church menciptakan profesi kami (pramugari) dengan diawali sebagai seorang pilot dan perawat berlisensi. Setelah dia diberitahu bahwa wanita terlalu emosional untuk berada di kokpit, dia meyakinkan Boeing bahwa wanita diperlukan di kabin untuk merawat penumpang pria yang mungkin mengalami kesulitan dengan kerasnya penerbangan (akibat turbulensi),” kata Sara Nelson, Presiden Asosiasi Pramugari (AFA), dalam sebuah pernyataan.

“Kami melanjutkan pekerjaan yang Ellen mulai dengan memerangi kebijakan diskriminatif termasuk meninggalkan usia kerja pada usia 32 tahun, tetap lajang, dan berpegang teguh pada batasan ketat mengenai berat badan dan penampilan. Kami mengubah pekerjaan menjadi karier dan bahkan memperjuangkan laki-laki untuk memiliki hak yang sama dengan perempuan dalam pekerjaan. Kami juga telah memperjuangkan keselamatan dan keamanan untuk awak dan penumpang,” tambahnya.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Penerbangan pertama Ellen Church sebagai perawat di dalam kabin bukanlah perjalanan singkat. Kala itu, ia langsung dihadapi dengan perjalanan 20 jam yang melelahkan dari Oakland ke Chicago dengan 13 pemberhentian selama perjalanan.

Pramugari saat ini mungkin tak akan pernah mengalami apa yang Ellen Church rasakan di awal-awal penerbangan komersial. Sebaliknya, Ellen Church mungkin tidak akan pernah merasakan apa yang dialami pramugari saat ini, dengan persaingan ketat dan standar tinggi.

Ruam Pada Jari Kaki Bisa Jadi Gejala Covid-19, Tapi Jangan Langsung Panik

Batuk kering, demam dan sesak napas menjadi salah satu gejala virus corona Covid-19 atau yang paling umum. Selain itu, kehilangan penciuman, muntah dan diare serta banyak masalah kulit juga menjadi gejala namun kurang umum. Bahkan para dokter pun mengaku bingung dengan gejala dari virus yang terus menyebar ini.

Baca juga: Canggih! Airbus Kembangkan Sensor ‘Ubur-ubur’ untuk Deteksi Virus Corona dan Bahan Peledak

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mrt.com (17/5/2020), baru-baru ini dokter kulit tiba-tiba melihat banyak jari kaki melalui gambar atau kunjungan video di email dengan kekhawatiran tumbuh pada sebagian orang dan mengatakan virus corona gejalanya mungkin muncul di tempat yang tidak biasa. Ahli dermatologi Boston, Esther Freeman berharap melihat keluhan kulit ketika pandemi terjadi di mana berbagai jenis ruam terlihat muncul ketika orang sakit parah akibat virus lain.

“Tapi saya tidak mengantisipasi itu akan menjadi jari kaki,” kata Esther.

Dia mengatakan, telah melihat melalui telemedis jari kaki lebih dalam beberapa minggu terakhir daripada seluruh karirnya. Mereka disebut “jari kaki Covid-19” di mana terlihat adanya pembengkakan merah, sakit dan kadang-kadang gatal di jari kaki yang terlihat seperti chilblains, sesuatu yang biasanya dilihat dokter di kaki dan tangan orang-orang yang telah menghabiskan waktu lama di luar rumah dalam dingin.

Meski ada gejala ruam pada kulit, baiknya tidak berlomba ke ruang gawat darurat untuk melakukan pemeriksaan ketika merasa hal itu menjadi kekhawatiran. American Academy of Dermatology mengatakan awal bulan ini mengeluarkan saran bahwa pemeriksaan telemedis adalah langkah pertama bagi orang-orang bertanya-tanya apakah mereka memiliki “jari kaki Covid” dan yang tidak memiliki alasan lain untuk perawatan darurat.

Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan telemedis, dokter harus memutuskan apakah pasien harus tinggal di rumah isolasi atau di tes. Dalam satu laporan, dokter kulit mengevaluasi 88 pasien Covid-19 di rumah sakit Italia dan menemukan satu dari lima orang memiliki semacam gejala kulit, sebagian besar ruam merah.

Di tempat lain, dokter Spanyol melaporkan serangkaian 375 pasien virus dikonfirmasi dengan berbagai keluhan kulit, dari gatal-gatal sampai lesi seperti cacar air sampai pembengkakan jari kaki. Gambar-gambar dari jari-jari kaki yang memerah dan ruam di seluruh media sosial dan kelompok-kelompok obrolan dokter telah “memungkinkan pengenalan cepat tanda-tanda kulit oleh para ahli kulit.

Dr. Kanade Shinkai dari University of California, San Francisco menulis dalam editorial JAMA Dermatology baru-baru ini bahwa sekarang saatnya bagi ilmu sains ”untuk memahami tautan tersebut. Esther mengarahkan registrasi Covid-19 internasional bagi dokter untuk melaporkan kasus gejala kulit yang mungkin terkait virus.

“Dari 500 laporan sejak akhir Maret, sekitar setengahnya adalah bintik-bintik seperti chilblain di kakinya,” katanya.

Sedangkan pada anak-anak dokter menyebutnya “pernio,” yang adalah reaksi peradangan. Ketika reaksi pernio seperti yang muncul pada pasien yang terinfeksi virus corona adalah salah satu dari banyak misteri. Bagi sebagian orang, itu adalah gejala pertama atau bahkan satu-satunya yang mereka perhatikan dan yang lain melihat masalah jari kaki pada saat yang sama atau bahkan beberapa minggu setelah mengalami gejala Covid-19 yang lebih umum dan serius.

Menurut Dr. Amy Paller dari Northwestern University, ini juga muncul pada orang muda yang merupakan bagian dari daftar dermatologi anak yang juga mengumpulkan gambar-gambar jari kaki pasien. Di antara teori, “Apakah itu hanya peradangan yang dipicu oleh infeksi, bukan flu? Apakah virus mengiritasi lapisan pembuluh darah di kulit, atau mungkin menyebabkan pembekuan darah mikroskopis?”

“Pesan kesehatan masyarakat bukanlah untuk panik,” kata Esther.

Dia mencatat bahwa sebagian besar pasien jari kaki yang dilihatnya belum menjadi sakit parah.

Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan Aviointeriors

“Kami tidak bisa mengatakan hanya dengan melihat jari-jari kakimu,” katanya.

Kondisi medis lainnya, seperti lupus, dapat menyebabkan bintik-bintik serupa bisa menjadi alasan lain dokter harus mendiskusikan kesehatan keseluruhan pasien dan langkah selanjutnya untuk pengujian atau perawatan lain yang diperlukan.

Aplikasi Rideshare dan Taksi Kanada Persiapkan Diri untuk Cegah Covid-19

Aplikasi rideshare dan perusahaan taksi di Kanada akan mulai kembali mempersiapkan diri mereka untuk membantu menghentikan penyebaran virus corona atau Covid-19 ketika perekonomian kembali dibuka. Pihak aplikasi mulai mempersiapkan diri yakni Uber Technologies Inc., Lyft Inc. dan Beck Taxi yang meluncurkan segudang langkah termasuk salah satunya adalah masker.

Baca juga: Lebih Dahulu dari Indonesia, Grab Vietnam Hentikan Semua Pengangkutan Penumpang

Selain itu mereka juga akan melakukan pembatasan jumlah penumpang, mengingatkan penumpang untuk menggunakan sanitasi dalam menjaga keselamatan penumpang dan pengemudi.

“Segala sesuatunya akan tampak sedikit berbeda baik bagi pembalap maupun pengemudi. Menjaga semua orang aman berarti bahwa setiap orang harus mengambil tindakan pencegahan yang tepat, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi untuk melindungi pengemudi Anda dan melindungi orang berikutnya yang mungkin masuk ke dalam mobil setelah,” kata CEO Uber Dara Khosrowshahi yang dikutip KabarPenumpang.com dari insauga.com (13/5/2020).

Dia mengumumkan bahwa Uber akan meminta pengemudi, kurir dan penumpang Kanada untuk mengenakan masker mulai 18 Mei. Raksasa teknologi yang berbasis di San Francisco itu mengatakan para pengemudi tidak akan dapat menjemput pelanggan sampai mereka memverifikasi bahwa mereka mengenakan masker melalui perangkat lunak pengenalan foto yang ada di aplikasi Uber.

Selain itu, para pengemudi juga harus menyetujui serangkaian persyaratan yang menyebutkan bahwa mereka tidak memiliki gejala Covid-19. Mereka juga harus medesinfeksi kendaraan dan mencuci tangan. Nantinya para pengemudi dan kurir akan memiliki akses ke masker, pembersih tangan, dan desinfektan kendaraan senilai $50 juta yang telah dibeli oleh Uber untuk mereka.

Penumpang dan pengemudi akan dapat membatalkan perjalanan jika orang yang mengoperasikan atau memasuki kendaraan tidak memakai masker dan jika seseorang melepas masker di tengah perjalanan, dan akan memiliki opsi untuk memberi tahu Uber tentang pelepasan ketika mereka menilai perjalanan.

“Jika kita melihat pelanggaran berulang oleh orang yang sama, apakah itu pengendara atau pengemudi, kita dapat mengambil langkah-langkah tambahan termasuk mengambilnya dari peron,” kata Sachin Kansal, kepala produk keselamatan Uber.

Dia tidak mengatakan berapa banyak pelanggaran yang bisa menyebabkan penghapusan. Meski kembali beroperasi, tidak akan ada penumpang yang diizinkan duduk di kursi depan dan tidak lebih dari tiga penumpang di dalam kendaraan untuk naik Uber X dan XL.

Ketika mereka memesan tumpangan, penumpang akan disarankan untuk memakai masker, membersihkan tangan sebelum dan sesudah perjalanan, duduk di kursi belakang dan membuka jendela jika memungkinkan. Kurir Uber Eats akan dapat memberi tahu Uber tentang restoran yang tidak mengikuti jarak fisik atau menunggu lama, dan restoran akan dapat memberi tahu Uber ketika kurir tidak mengenakan masker atau mengikuti protokol.

Sedangkan Lyft mengatakan pada hari Rabu bahwa setiap penumpang dan pengemudi Kanada akan segera diminta untuk melakukan sertifikasi diri bahwa mereka akan mengenakan masker selama perjalanan mereka, bebas dari gejala dan akan mengikuti panduan resmi dinas kesehatan setempat terkait Covid-19. Siapa pun yang tidak menyetujui persyaratan tersebut tidak akan dapat meminta tumpangan atau mengemudi dengan Lyft.

Untuk memudahkan mengikuti kebijakan baru ini, Lyft mendistribusikan masker ke pengemudi di beberapa pasar, termasuk Ottawa, Toronto dan Vancouver. Lyft tidak mengatakan kapan kebijakan akan diberlakukan atau seberapa cepat driver akan menerima masker.

Sementara itu, Beck Taxi yang berbasis di Toronto akan mengoperasikan layanannya selama dua minggu dengan langkah-langkah yang diilhami Covid-19.

“Tidak lebih dari dua orang dewasa dapat melakukan perjalanan di Beck. Tidak ada yang diizinkan duduk di kursi depan. Kami bertanya apakah pelanggan mengenakan masker sehingga pengemudi dapat memutuskan apakah mereka mau mengambil risiko itu dan kami telah membagikan masker yang dapat digunakan kembali kepada pengemudi,” kata manajer operasi Kristine Hubbard.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi

Beck Taxi memperkenalkan StayHomeDelivery, layanan kurir berbayar, pada akhir Maret untuk memudahkan orang menggunakan aplikasinya untuk pengiriman bahan makanan, makanan, dan resep tanpa kontak.

Pasca Pandemi, Inilah Empat Skenario Industri Pariwisata di Masa Depan

Industri pariwisata sedang dalam masa kritis karena pandemi virus corona dan membuat banyak industri lain yang melingkupinya juga terkena imbas. Meski begitu saat ini sudah banyak tren yang mengubah industri pariwisata dan dipisahkan dalam dua tema utama, yakni perjalanan yang dipersonalisasi dan perjalanan mulus di seluruh negara, dimana tidak ada masalah kontrol pembatasan atau masalah keamanan.

Baca juga: Dianggap Inti dari Ekosistem Pariwisata, Matta Desak Pemerintah Malaysia Selamatkan Industri Penerbangan

Ketika hadir ke kurasi paket perjalanan yang dipersonalisasi, mengadopsi teknologi canggih menjadi langkah penting untuk mengumpulkan data konsumen. Wakil Presiden Strategi Perusahaan, Amadeus IT, Alex Luzarraga mengatakan, teknologi tidak pernah menjanjikan lebih banyak untuk industri perjalanan.

“Teknologi terbaru seperti AI dapat digunakan untuk penggalian data, untuk lebih memahami permintaan pelanggan individu dari jutaan aktivitas terkait perjalanan online pelanggan. Namun, ada hambatan tertentu dalam menawarkan paket perjalanan yang sangat personal, seperti peraturan pemerintah saat berbagi data konsumen di seluruh negara dan menawarkan paket perjalanan pribadi yang sangat mahal yang berada di luar kemampuan kebanyakan konsumen,” ujarnya.

Meski situasi global tengah terlihat suram, namun ini bukan status permanen. Industri pariwisata dan yang melingkupinya akan kembali melanjutkan operasi normal meski tampak seperti mimpi yang jauh. Namun kondisi akan secara bertahap berubah menjadi lebih baik dan industri pariwisat serta yang laiinnya akan kembali bangkit.

KabarPenumpang.com merangkum forbes.com (14/5/2020), para peneliti di Amadeus bersama dengan konsultan manajemen di A T Kearney telah mempertimbangkan banyak pilihan yang berpotensi menawarkan bentuk yang berbeda dengan industri perjalanan di masa depan dan berikut beberapa skenarionya.

Skenario 1
Kemakmuran ekonomi di dunia yang mendorong kekayaan konsumen mengarah pada permintaan yang meningkat untuk paket perjalanan yang disesuaikan. Ini berarti bahwa setiap detail kecil perjalanan mereka mulai dari bagaimana mereka ingin pergi ke pilihan merek bantal di hotel akan disesuaikan secara otomatis sesuai keinginan mereka. Selain itu, pelancong juga akan mendapat manfaat dari informasi real-time dan pembaruan tentang biaya transportasi, hunian hotel sehingga tidak ada kejutan saat terakhir atau kemunduran yang tidak terduga.

Pelancong juga dapat memperoleh manfaat besar dari pembaruan cuaca waktu nyata dan kondisi jalan dan lalu lintas, untuk merencanakan ke depan untuk perjalanan yang aman. Kemudian untuk memastikan bahwa permintaan konsumen terpenuhi, perusahaan perjalanan akan menyalurkan lebih banyak dana untuk inovasi. Mereka akan menggunakan teknologi terbaru seperti AI dan IoT untuk menjangkau pelanggan mereka dan berinteraksi dengan mereka untuk mengetahui lebih lanjut tentang preferensi mereka.

Skenario 2
Situasi kedua telah diproyeksikan dengan pandangan futuristik dan inovatif, dimana dunia ternyata lebih terintegrasi dan undang-undang dan peraturan privasi lebih menguntungkan untuk perjalanan. Dengan undang-undang yang lebih ringan lintas batas, dunia berubah menjadi ekosistem yang lebih saling terhubung dengan koleksi data konsumen tanpa batas dari titik data tak terbatas dan berbagi informasi konsumen yang menggunakan AI dan IoT. Bisa dikatakan, skenario ini paling menguntungkan untuk “kolonisasi” sektor pariwisata oleh para raksasa teknologi seperti Google dan Amazon, yang memiliki inventaris data konsumen terbesar, seperti Amadeus dan A T Kearney. Mereka memiliki peluang lebih tinggi untuk mengganggu industri perjalanan, bukan perusahaan perjalanan.

Skenario 3
Skenario ketiga dicirikan oleh meningkatnya populisme di Amerika Serikat dan Eropa serta meningkatnya kekhawatiran keamanan yang memecah industri perjalanan. Peraturan berbagi data membuatnya tidak mungkin untuk mencapai kesepakatan global dan kolaborasi yang membatasi inovasi dan jejak kaki internasional. Pemerintah proteksionis dan hukum yang ketat menjaga industri perjalanan terbatas pada pemain terbesar di lapangan.

Tim peneliti Amadeus dan Kearney merasa bahwa skenario ini menguntungkan bagi perusahaan perjalanan, tanpa harus takut raksasa teknologi memasuki arena dan mengganggu permainan mereka. Namun, tidak semua perusahaan perjalanan dapat mengambil manfaat dalam situasi ini dan hanya yang terbesar serta paling tepercaya yang dapat menikmati manfaatnya, membuat perusahaan dan startup yang kurang dikenal namun dapat dipercaya binasa. Ditambah biaya perjalanan juga akan naik untuk mematuhi peraturan hukum internasional tentang tenaga kerja, pajak, perlindungan data, dan lainnya.

Baca juga: Diterjang Corona dan ‘Ditinggalkan’ Pelancong Asal Cina, Sektor Pariwisata Singapura Mulai Goyang

Skenario 4
Dalam situasi keempat, tim peneliti ini telah mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Asia, yang mengarah pada kapasitas pengeluaran yang lebih besar untuk perjalanan dan pariwisata. Akibatnya, ada booming dalam pariwisata regional dan lokal termasuk menjamurnya perusahaan penerbangan lokal dan regional yang menargetkan pasar massal dengan operasi berbiaya rendah. Ini akan memicu perlunya kolaborasi yang intens antara negara-negara Asia dan Barat yang akan menciptakan layanan perjalanan standar yang lebih mirip komoditas. Akan ada banyak paket perjalanan standar yang ditawarkan bagi mereka yang tidak suka hiper-personalisasi pengalaman perjalanan.

Airbus Helicopters UK dan Universitas Cranfield Inggris Uji Sistem Pemantau Rotor Real Time

Universitas Cranfield Inggris dan Airbus Helicopters UK dilaporkan tengah mengujicoba sistem BladeSense. Sistem tersebut diklaim mampu memonitor kondisi rotor helikopter secara otomatis dan real time saat dalam penerbangan.

Baca juga: Jelang Fase Produksi, Airbus Helicopters Terbangkan Lagi Prototipe H160

Dikutip dari newatlas.com, belum jelas ujicoba tersebut diadakan kapan dan dimana, namun disebutkan, proyek yang sejatinya sudah dimulai sejak 2015 lalu tersebut diujicoba untuk pertama kalinya pada helikopter Airbus H135. Helikopter dilaporkan tidak terbang, melainkan hanya menghidupkan baling-baling rotor dengan kecepatan 400 rpm selama empat jam sambil berada di darat. Data tersebut kemudian dikirimkan secara transmisi melalui Wi-Fi ke ground station yang jaraknya agak jauh.

Teknologi tersebut menggabungkan potongan sensor serat optik yang dipasang di sepanjang setiap bilah rotor. Saat helikopter terbang, sensor-sensor tersebut mengukur tekanan yang ditempatkan pada rotor utama, bersama dengan segala perubahan yang terjadi pada bentuknya, mengingat rotor mungkin saja mengalami aus atau perubahan kondisi akibat overcapacity dan sejenisnya. Setelah itu, data kemudian diteruskan dari setiap bilah atau tail blade ke unit pemrosesan pusat, yang terletak di atas hub rotor.

Dengan sistem tersebut, bila pada kondisi nyata data menunjukkan bahwa satu atau lebih bilah hampir mengalami kegagalan teknis, pilot dan kru darat akan segera diberitahu melalui monitor di dalam kokpit (untuk pilot helikopter) dan melalui teknologi Wi-Fi (untuk kru darat). Jika masalahnya sangat parah, sistem BladeSense akan secara otomatis memicu sistem kontrol penerbangan helikopter untuk mengompensasinya, sehingga memungkinkan pesawat tetap berada di udara hingga dapat mendarat dengan aman dalam beberapa waktu.

Selain berfungsi memonitor kondisi rotor helikopter secara otomatis dan real time saat dalam penerbangan, sistem BladeSense juga dapat mempelajari perilaku baling-baling atau bilah rotor. Oleh karenanya, sistem BladeSense diklaim juga mampu membantu para perancang dan produsen helikopter menemukan desain (rotor dan baling-baling) terbaik dan lebih tahan lama.

Baca juga: Jepang Kembangkan Helikopter yang Mampu Tembus Kecepatan 500 Km Per Jam!

Produk-produk helikopter Airbus selama ini memang diterima dengan baik di pasaran. Pada tahun 2018 lalu, Airbus Helicopters mencatat pesanan bruto untuk 413 helikopter atau angka bersih sekitar 381. Sebanyak 356 unit di antaranya sudah diserahkan ke pemesan. Angkanya meningkat signifikan dari pesanan bruto di tahun 2017, yaitu 350 unit. Prestasi ini membuat posisi Airbus Helicopters sebagai produsen helikopter terdepan di ranah sipil dan layanan publik.

CEO Airbus Helicopters Bruno Even mengatakan, di pasar militer, Airbus Helicopters telah menempati posisi yang lebih kuat karena kesuksesan penjualan produk secara internasional. Perusahan mencatat 148 pesanan untuk keluarga helikopter ringan bermesin ganda H135/H145 dan 15 pesanan untuk helikopter generasi masa depan, H160. Pada akhir 2018, Airbus Helicopters mencatat backlog hingga 717 helikopter.

Gunakan Fingerprint Saat Wabah Covid-19, Amankah?

Virus corona menyebar dengan cepat, tak kenal tempat dan waktu. Selain itu, menurut penelitian, virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) ini disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Oleh karena itu, Asosiasi Kesehatan untuk Penyakit Menular dan Pencegahan serta Pengendalian Infeksi di Jepang pernah menyarankan agar individu yang menggunakan transportasi umum supaya tak menyentuh hidung, mulut, atau mata dengan tangan yang digunakan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang disentuh oleh orang lain, seperti tali pegangan di kereta dan sejenisnya. Tak hanya transportasi, berbagai media yang banyak disentuh orang lain juga termasuk, salah satunya fingerprint.

Dalam sebuah artikel di biometricupdate.com, Chief Research Officer di Suprema Inc, Brian Song, Ph.D mengungkap bahwa sebetulnya ada beragam hal untuk menilai apakah fingerprint aman digunakan di tengah pandemi virus Cina. Namun, secara singkat, ia tak menyangkal, sulit untuk untuk mengklaim bahwa sensor pengenalan sidik jari sepenuhnya aman dari penyebaran virus.

Meski tak menyangkal, ahli yang sudah 20 tahun bergelut di bidang teknologi biometeric ini menyebut, dibandingkan dengan berbagai permukaan lainnya seperti gagang pintu, tombol lift, gagang kendaraan, atau permukaan lainnya di transportasi atau fasilitas publik yang juga banyak disentuh orang, fingerprint dinilai masih lebih aman.

Pada akhirnya, dengan tak menyangkal bahwa virus corona dapat menyebar lewat fingerprint dan disaat yang bersamaan fingerprint dinilai masih lebih aman dibandingkan permukaan lain yang juga sama-sama disentuh banyak orang, ia pun mengambil jalan tengah. Menurutnya, bisa saja penggunaan fingerprint tetap terus dilakukan dengan syarat harus mencuci tangan dengan air mengalir dan anti septic. Peletakannya pun juga tak boleh berjauhan, fingerprint dan fasilitas pencuci tangan harus bersebelahan untuk meminimalisir kemungkinan seseorang menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.

Cara lainnya, tentu saja dengan tidak meniadakan absensi atau penggunaan fingerprint bila syarat di atas tak bisa dipenuhi. Selama syarat tersebut dapat dipenuhi, tak ada salahnya untuk tetap menggunakan teknologi dengan bijak, selagi masing-masing pribadi mengetahui keamanan teknologi itu sendiri.

Baca juga: Ahli: Penumpang yang Duduk di Dekat Jendela Lebih Aman dari Virus Corona

Di belahan bumi lain, The New York Post pernah melaporkan bahwa karyawan di New York City telah memprotes penggunaan absensi biometrik sidik jari yang akhirnya membuat New York Police Department (NYPD) dan the Metropolitan Transit Authority mempertimbangkan kembali cara absensi mereka. Pada akhirnya, NYPD memutuskan untuk menangguhkan penggunaan mesin fingerprint di kantor pusatnya.

Di India, pemerintah negara bagian dan lokal di negara tersebut telah mengeluarkan serangkaian protokol termasuk penghentian penggunaan mesin fingerprint setelah terdapat salah satu karyawan di daerah Hyderabad dinyatakan positif Virus Corona. Akhirnya, hampir dari 200 perusahaan dipanggil untuk diberikan panduan dan prosedur standar, salah satunya mengganti mesin fingerprint. Demikian juga di daerah New Delhi, berbagai perusahaan mulai berhenti menggunakan sistem absensi biometrik.