Gandeng Boeing, NASA Siap Luncurkan Penerbangan Orbital Nirawak Perdana

Kendati tengah terseok-seok di sektor penerbangan penumpang, namun manufaktur kedirgantaraan asal Amerika, Boeing tetap tidak bisa membendung langkahnya di sektor lain. Hal ini terbukti dari uji coba pesawat ruang angkasa milik Boeing CST-100 Starliner pada Senin (4/11) kemarin. Semula, uji coba ini hanya dapat disaksikan oleh internal Boeing saja, namun kemudian disiarkan secara langsung dari White Sands Missile Range, New Mexico, Amerika Serikat.

Baca Juga: Gunakan Boeing 747-400, Virgin Group Siap Luncurkan Satelit Menuju Orbit

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman CNN (5/11), uji coba ini dilakukan untuk menguji kemampuan roket melepaskan diri dari induk roket jika ada kondisi darurat sebelum lepas landas. Hal ini juga dilakukan untuk meyakinkan bahwa masing-masing sistem pada Starliner dapat bekerja secara terpisah maupun bersamaan.

“Tes abort Starliner akan disiarkan langsung. Transparansi untuk wajib pajak,” tulis administrator NASA, Jim Bridenstine melalui jejaring sosial Twitter.

Percobaan yang dijadwalkan selama tiga jam ini akan menguji empat mesin pembatalan peluncuran yang akan menyala selama beberapa detik dan mendorong Starliner dari landasan peluncuran. Starliner akan meluncur hingga mencapai ketinggian kurang dari 1,5 km di atas permukaan tanah.

Proyek ini merupakan kerja sama antara Boeing dengan NASA yang termasuk bagian dari Program Kru Komersial NASA, dengan tujuan utamanya untuk menyediakan transportasi aman dan hemat biaya dari dan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Sejatinya, Starliner ini dirancang untuk mengangkut tujuh penumpang sekaligus dan mampu digunakan ulang hingga 10 kali. Jika tidak mengemukan kendala dalam uji cobanya, maka selanjutnya roket segera digunakan dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Perdana Keluar dari Hanggar, Pesawat Terbesar di Dunia Lakukan Uji Coba Mesin

Diketahui, kini Boeing tengah mempersiapkan tahap akhir untuk melakukan penerbangan orbital nirawak perdana pada tanggal 17 Desember mendatang. Selain menggandeng Boeing, NASA juga kabarnya menggandeng SpaceX, perusahaan kenamaan milik Elon Musk.

“Program kru komersial kami selangkah lebih dekat untuk meluncurkan astronot Amerika di roket Amerika dari tanah Amerika,” kata Jim Bridenstine dalam sebuah keterangan resmi.

Tabrakan dengan Mobil Pengemudi Bus Tewas Ditempat Kejadian

Seorang pengemudi bus tewas dan 15 orang lainnya luka-luka akibat kecelakaan antara sebuah bus dan mobil. Pengemudi bernama Kenneth Matcham, 60, dinyatakan tewas ditempat kejadian di Orpington, London Tenggara.

Baca juga: Berkaca dari Kecelakaan di Tol Cipali KM150, Perlukah Ada Sekat Pembatas di Ruang Kemudi Bus?

Dilansi KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (1/11/2019), saksi mata yang merupakan penumpang bus Mark Jeffries mengatakan kejadian tersebut benar-benar mengerikan. Dia menjelaskan bus bertabrakan dengan sebuah mobil yang melaju di tengah-tengah mereka.

“Satu orang terlempar melalui jendela bus dan beberapa orang yang berada di trotoar ditabrak. Suara itu mengerikan dan Anda bisa mendengar teriakan,” kata Mark.

Dia mengatakan, penumpang terluka dengan berbagai cedera dari terkena serpihan hingga tak bisa bergerak karena patah tulang. Insiden ini mendatangkan sepuluh ambulans dari London Ambulance Service dan petugas di London Fire Bridge untuk membantu para korban.

Diketahui tabrakan terjadi sekitar pukul 22.00 dimana sebuah bus yang tengah melintas dan ada mobil yang melawan arus menabrak. Pengemudi bus terlempar dan meninggal seketika sedangkan pengemudi mobil tersebut diamankan karena menjadi penyebab kecelakaan tersebut.

Pengemudi mobil yang menabrak tersebut dalam keadaan menggunakan narkoba. Tabrakan ini bukan hanya membuat sedih para penumpang, tetapi anak dari pengemudi bus.

Shelley anak perempuan Kenneth mengatakan, sebelum terjadinya kecelakaan dia masih berbicara dengan sang ayah sebelum kembali mengemudikan bus.

“Dia sedang istirahat dan memanggil saya untuuk bertanya apakah saya membawa anak-anak itu untuk keluar dari tipuan atau perawatan. Aku memberitahunya bahwa aku punya dan dia bilang ‘di mana fotoku?’ Aku mengirim mereka setelah berbicara dengannya. Aku membuat anak-anak kembali dengan pakaian Halloween untuk mengambil foto dan mengirim ke ayah dan aku sangat senang aku melakukan itu,” jelas Shelley.

Dia mengatakan ayahnya adalah orang yang baik dan sangat menyayangi anjing piaraannya. Tak hanya itu pemilik Go Ahead London menggambarkan bahwa Kenneth adalah pengemudi yang setia.

Baca juga: Tekan Angka Kecelakaan, London Uji Coba Sistem Rem Otonom Pada Bus Umum

Setelah insiden tersebut jalan tersebut di tutup dan pengemudi yang akan melintas dialihkan ke rute lainnya. Hal ini dikarenakan bus dan mobil hitam yang rusak belum di evakuasi.

Akankah Boeing 737 MAX Kembali Mengudara di Kuartal Pertama 2020?

Kepala European Union Aviation Safety Agency (EASA) baru-baru ini mengatakan bahwa ada kemungkinan varian 737 MAX yang saat ini tengah grounded massal bisa mengudara kembali pada kuartal pertama tahun 2020 mendatang. Selain itu, Direktur Eksekutif dari EASA, Patrick Ky mengindikasikan bahwa mereka akan memberikan persetujuan terkait mengudaranya kembali varian ini pada Januari mendatang. Jika sudah ada indikasi semacam ini, akankah Boeing 737 MAX akan bisa memperbaiki citranya kembali yang sudah kadung buruk di mata masyarakat?

Baca Juga: Skak Mat! Boeing Kedapatan ‘Membual’ Ketika Pasarkan 737 MAX

“Jika ada persyaratan pelatihan dan koordinasi yang harus dilakukan dengan negara-negara anggota Uni Eropa untuk memastikan semuanya melakukan hal yang sama pada saat yang bersamaan pula, maka sejatinya ini akan memotong waktu (mempercepat peluncuran kembali),” ujar Patrick, dikutip KabarPenumpang.com dari laman Reuters.com.

“Itulah sebabnya saya mengatakan (peluncuran kembali 737 MAX jatuh pada) kuartal pertama tahun 2020,” imbuhnya.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, di sini, peran Federal Aviation Administration (FAA) menjadi sangat penting karena merekalah yang pada akhirnya menentukan apakah varian 737 MAX ini sudah layak untuk mengudara kembali atau belum pasca perbaikan sistem Maneuvering Characteristic Augmentation System (MCAS) yang dilakukan oleh Boeing. Ya, MCAS digadang-gadang sebagai masalah utama dari jatuhnya maskapai berbiaya rendah asal Indonesia, Lion Air dan Ethiopian Air yang kebetulan keduanya menggunakan varian 737 MAX dan secara tragis menewaskan lebih dari 300 orang.

Tidak hanya FAA yang akan memeriksa kelaikan dari varian 737 MAX ini, pun halnya dengan EASA, dimana mereka akan secara langsung menguji perbaikan yang dilakukan oleh pihak Boeing melalui simulator dan uji penerbangan langsung. Jika tidak ada kendala dalam uji coba ini, maka bukan tidak mungkin apabila EASA akan langsung memberikan ‘restu’ untuk 737 MAX bisa mengudara kembali di langit Eropa.

Kendati EASA merupakan badan keamanan penerbangan asal Eropa, namun mereka tampak menginginkan agar varian 737 MAX bisa kembali ke layanan. Ini terlihat agak unik, mengingat ‘perang’ antara Boeing (Amerika) dan Airbus (Eropa) di sektor aviasi global belakangan ini tengah memanas.

Baca Juga: Kasus Boeing 737 MAX: Joint Authorities Technical Review Lakukan Kritik Sertifikasi Pada FAA

Namun usut punya usut, salah satu maskapai asal Eropa, Ryanair sempat terseok-seok pasca grounded massal varian 737 MAX. Ya, diketahui Ryanair merupakan salah satu konsumen 737 MAX terbesar di dunia.

Jadi, mampukah 737 MAX kembali ke layanan secepatnya dan mendapat kepercayaan penuh lagi dari konsumen?

Terdampak Cuaca Buruk, Ryanair Terlantarkan Penumpang di Polandia

Lagi-lagi kasus penumpang terlantar di sektor aviasi global kembali menjadi topik hangat perbincangan, tepatnya setelah penumpang maskapai berbiaya rendah asal Irlandia, Ryanair terdampar di Bandara Krakow, Polandia pada hari Jumat (1/11) kemarin lantaran cuaca yang buruk. Namun , bukan permasalahan terlantar ini saja yang menjadi sorotan, lebihnya lagi karena penumpang harus mengeluarkan biaya ekstra untuk bertahan hidup di lokasi. Duh, kok bisa sampai seperti ini, ya?

Baca Juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (4/11), ada banyak pelancong yang mengklaim bahwa pihak maskapai telah gagal melayani penumpang ketika tengah menghadapi cuaca buruk di Polandia. Bahkan tidak sedikit dari mereka juga yang tidak mendapatkan bangku di penerbangan enam hari selanjutnya (Kamis, 7 November 2019).

Berdasarkan data dari Dublin Live, sebanyak 15 penerbangan dari Bandara Krakow dibatalkan pada Jumat (1/11).

Menyoal aksi dari pihak maskapai yang terbilang tidak becus dalam menangani kasus semacam ini, seorang guru asal Dublin, Róisín Ní Dhonnabhain mengatakan bahwa dirinya sampai-sampai harus mengeluarkan dana senilai € 1.000 untuk penerbangan baru – dana tersebut belum termasuk biaya menginap di hotel dan untuk makan sehari-hari.

“Kurang lebih saya mengeluarkan dana sebesar € 1.200 ketika terlantar di Krakow,” ujar Róisín.

“Ini merupakan nominal yang sangat besar – hampir setara dengan upah setengah bulan, dimana itu dikeluarkan hanya untuk pulang ke Dublin,” sambungnya.

Tidak hanya Róisín saja, pun dengan penumpang dari jurusan lain yang juga terdampak dan mendapatkan perlakuan sama seperti Róisín – tidak mendapatkan kompensasi yang setara dengan kerugian yang mereka alami.

Kendati terkendala cuaca buruk, namun beberapa penerbangan Ryanair masih ‘nekat’ dijalankan. Dengan begitu, penumpang yang terlantar dan harus menunggu selama enam hari akan memilih untuk terbang ke destinasi lain, lalu melanjutkan perjalanan sesuai tujuan asli mereka. Hal inilah yang menyebabkan penerbangan Ryanair pada akhir pekan lalu di Bandara Krakow menjadi sangat penuh – hampir tidak menyisakan satu bangku kosong.

Baca Juga: Inilah Fakta Ryanair, Maskapai Penerbangan Berbiaya Murah yang Penuh Kontroversi

Namun apa yang diungkapkan pihak Ryanair malah berbanding terbalik. Mereka menuturkan bahwa sudah memberikan sejumlah opsi via SMS kepada penumpang yang terdampak cuaca buruk ini.

“Kami dari manajemen Ryanair meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Sesungguhnya kondisi cuaca buruk di luar sana berada di luar kendali kami,” ujar salah satu perwakilan dari Ryanair.

Kereta Api Inggris Masih Buang Limbah Toilet ke Rel

Limbah toilet kereta api yang di buang ke rel ketika kereta sedang mengular ternyata tak hanya terjadi di Indonesia. Untungnya saat ini di Indonesia sudah menggunakan penampung sebelum akhirnya dibuang ke tempat semestinya. Namun ternyata beberapa negara lain masih ada yang melakukan praktik menjijikan tersebut.

Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida?

Bahkan beberapa operator kereta tersebut sempat berjanji untuk tidak membuang limbah toilet ke jalur kereta api tapi tak bisa ditepati. KabarPenumpang.com merangkum laman theguardian.com (3/11/2019), salah satunya Inggris dan Wales yang menjanjikan untuk menghentikan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta tahun ini. Namun ternyata tidak bisa dipenuhi, hal ini diakui oleh Network Rail dan perusahaan kereta api lainnya.

Mantan kepala eksekutif Network Rail, Mark Carne mengatakan, tahun 2017 lalu, dia telah mendapat persetujuan pemerintah untuk menghentikan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta api tahun 2019 ini. Tapi ternyata beberapa perusahaan masih terus menggunakan kereta api yang toiletnya langsung menbuang limbah ke rel.

Tahun 2017 Departemen Transportasi mengatakan bahwa semua waralaba akan memaksa perusahaan untuk memastikan setiap kereta memiliki toilet modern. Tapi hal ini pun bahkan masih ada beberapa operator yang mengajukan pengecualian.

Padahal para pekerja di lintasan kereta api terus mengalami kondisi tidak sehat karena masalah ini. East Midlands Railway yang memberikan kontraknya pada Abellio tahun ini mungkin tidak akan menghentikan sejumlah rolling stock yang masih melakukan pembuangan limbah toilet ke jalur kereta hingga 2023 mendatang. Hal ini karena ada izin untuk terus membuang limbah toilet di jalur dari kereta cepat yang berjalan antara London St Pancras ke kota-kota lain seperti Nottingham dan Sheffield.

“Kami sepenuhnya mendukung perjalanan dengan Network Rail untuk menghapus semua kereta tanpa toilet limbah terkendali pada akhir 2023 dan sudah bekerja untuk memiliki semua kereta kami beroperasi dengan tank pada akhir 2020,” ujar seorang juru bicara.

Tetapi beberapa masih mengoperasikan kereta yang melakukan pembuangan limbah di jalur termasuk Northern, West Midlands, ScotRail dan Transport for Wales. Seorang juru bicara West Midlands mengatakan, bahwa toilet yang tidak sesuai dengan gerbong tua akan di hentikan dan tidak digunakan lagi pada akhir tahun 2019 ini.

ScotRail mengatakan sedang menyesuaikan tangki retensi ke kereta InterCity berkecepatan tinggi selama program perbaikan “sesegera mungkin”. Transport for Wales mengatakan sedang berinvestasi di kereta baru, menghapus rolling stock terakhir pada tahun 2023. Sekretaris transportasi bayangan Andy McDonald berjanji untuk mencari jaminan dari menteri untuk mengakhiri hal tersebut.

“Baik operator kereta api dan pemerintah berjanji dua tahun lalu bahwa praktik beracun dari kereta api yang membuang limbah mentah ke kereta api akan berakhir pada tahun ini. Bisnis kotor ini berbau busuk dan merupakan janji lain yang dilanggar dari para menteri dan melatih bos perusahaan yang telah berkali-kali membuktikan bahwa mereka tidak dapat merencanakan peluncuran infrastruktur kereta api baru dan kereta api dalam bentuk koordinasi apa pun,” ujar Andy.

Network Rail mengatakan bahwa alternatif untuk mengeluarkan pengecualian adalah menghapus kereta tertentu dari penggunaan, yang berarti kemungkinan pembatalan.

Baca juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah

“Kami berkomitmen untuk mengakhiri kereta mengosongkan sampah ke rel dan kami bekerja dengan semua operator untuk mewujudkan hal ini. Ada beberapa perusahaan kereta api yang telah diberi sedikit waktu lebih banyak untuk sejumlah kecil kereta mereka dan kami sedang melacak rencana aksi mereka dengan cermat untuk memastikan mereka patuh,” tambah juru bicara Network Rail.

Seperempat Awak Kabin Qantas Pernah Alami Pelecehan Seksual, Segelap Itukah Balik Layar The Flying Kangaroo?

Sebuah fakta mencengangkan datang dari maskapai asal Australia, Qantas – dimana sebuah email internal perusahaan dikabarkan bocor dan isinya sangatlah mencengangkan. Dalam email tersebut, terpapar fakta bahwa seperempat dari awak kabin The Flying Kangaroo pernah mengalami pelecehan seksual oleh rekan mereka sendiri dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Namun dari sekian banyak awak kabin yang pernah mengalami pelecehan seksual, hanya tiga persen saja yang sempat dilaporkan kepada bos Qantas. Wow, sekelam itukah balik layar dari Qantas?

Baca Juga: Joanna Chiu: Kepala Biro Surat Kabar yang Sukses Hentikan Pelecehan Seksual di kabin

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (4/11), sebuah survei pernah dilakukan terhadap 1.650 awak kabin dan 750 pilot guna membuktikan kebenaran dari isi email tersebut, dan menemukan bahwa satu dari empat awak kabin pernah dilecehkan oleh kolega mereka sendiri, dan 15 persen diantaranya mengalami pelecehan seksual dari penumpang Qantas dalam kurun waktu 12 bulan ke belakang.

Selain itu, survei juga membuktikan bahwa pilot wanita tiga kali lebih rentan mendapatkan pelecehan seksual dari rekan prianya.

“Kami sama sekali tidak memiliki toleransi terhadap segala sesuatuyang berkenaan dengan penyalahgunaan atau diskriminasi dari atau terhadap semua karyawan yang bernaung di bawah Qantas Group,” ujar Chief Operating Officer Qantas, Rachel Yangoyan.

“Jika Anda mengalami atau melihat kejadian seperti ini (pelecehan seksual), kami harap Anda dapat melaporkannya kepada kami,” sambung Rachel.

Sekitar sepertiga dari awak kabin yang pernah mengalami pelecehan seksual lebih memilih untuk tidak repot-repot melaporkan kejadian terkait karena mereka bisa menyelesaikannya sendiri – namun tidak dengan sisanya, karena mereka takut dikucilkan atau akan merusak karir mereka di Qantas.

Menanggapi hal ini, Australian Transport Workers Union mengecam pihak maskapai karena rendahnya laporan tentang pelecehan seksual yang terjadi di tubuh maskapai mengindikasikan bahwa mereka enggan menuntaskan kasus ini.

Namun pihak Qantas menyanggah pernyataan tersebut, dimana mereka sejatinya sudah dan akan terus meningkatkan fasilitas layanan pengaduan – terutama bagi mereka yang akan melaporkan tentang pelecehan seksual. Pihak maskapai juga menambahkan bahwasanya mereka akan membentuk layanan hotline konseling rahasia dan independen baru untuk menangani kasus-kasus semacam ini.

Baca Juga: Ternyata, Qantas Airways Itu Merupakan Singkatan dari…

Belum reda perdebatan tentang pihak Qantas dan Australian Transport Workers Union terkait pelecehan seksual di tubuh The Flying Kangaroo ini, muncul Flight Attendant Association of Australia (FAAA) yang menyebutkan bahwa sebanyak 97,5 persen awak kabin di Australia pernah mengalamai pelecehan dari penumpang selama rentang tahun 2018 silam.

Sangat besarnya angka tersebut mengindikasikan bahwa betapa penumpang agaknya sangat sulit untuk bisa menjaga sikap – terlebih kepada awak kabin ketika tengah mengudara.

Mabuk dan Jatuh ke Peron, Pria Ini Nyaris Tewas Tertabrak Kereta

Mabuk bisa menyebabkan hal fatal seperti kematian ketika salah melangkah di peron sebuah stasiun. Hal ini baru saja terjadi di Stasiun Coliseum di California di mana seorang penumpang mabuk melangkah tanpa sadar dan jatuh ke jalur ketika kereta akan tiba di stasiun tersebut.

Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (4/11/2019), untungnya penumpang mabuk tersebut diselamatkan oleh seorang petugas Bay Area Rapid Transit (BART). Petugas yang bernama John O’Connor tersebut menarik pria mabuk ke atas peron dengan lengannya.

Tak lama setelah John menolong pria itu, kereta tiba di peron. Seorang penumpang bernama Tony Badill menulis di akun Titternya, “Pekerja #BART ini baru saja menyelamatkan orang tersebut saat jatuh dari rel ketika kereta mendekat! Luar biasa!!”

Kejadian ini direkam oleh seorang penumpang yang memperlihatkan bahwa John dengan bergegas menyelamatkan pria itu dan menariknya dengan sekuat tenaga ke tempat aman untuk menyelamatkan hidupnya ketika kereta berkecapatan 30 mph tiba di jalur.

“Saya pikir kereta akan memotongnya menjadi dua. Jujur saya tidak ingin melihat orang ini mati. Saya hanya melakukan apa yang saya lakukan dan bersyukur kepada Tuhan saya ada di sana,” ujar John.

Dia menambahkan, saat itu dirinya berada di garis kuing dan memperingatkan penumpang lain untuk tetap berada di belakang garis kuning.

“Saya melihat dia jatuh hampir seperti akan naik tangga dan berakhir di jalur kereta. Semua orang berteriak dan memberitahukannya untuk keluar dari rel karena ada kereta yang medekat,” tambahnya.

Dalam sebuah pernyataan BART yang tidak menyebutkan nama pria tersebut mengatakan, dia terjatuh tidak sengaja tetapi dikatakan pria itu mabuk dan dibawa untuk penanganan medis setelah insiden tersebut. Pihak BART juga berterimakasih kepada John yang telah bertindak menolong penumpang tesebut.

“Dia telah menyelamatkan hidup malam ini. John terimakasih tunjukkan padanya beberapa cinta,” tulis BART dalam akun Twitter.

Baca juga: Didorong dari Peron, Bocah 8 Tahun Tewas Tergilas Kerera Cepat di Frankfurt

Seorang juru bicara menambahkan, John saat itu ada di peron dan memastikan semua orang untuk menjauh dari pgarus kuning.

“John melihat ini bersama pengendara lain dan berteriak pada pria itu untuk kembali ke peron. Laki-laki itu tidak bergerak cukup cepat sehingga John meraihnya di pundak dan menariknya dengan menggulingkannya ke tubuh agar aman. Mereka berdiri dan berpelukan,” kata juru bicara itu.

Trayek Tak Tutup, Pengusaha Transportasi di Bandara Kertajati Hanya Merugi

Sepi penumpang ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, pengusaha bus banyak yang mengeluh dan menutup trayek mereka. Namun pihak manajemen BIJB mengaku tidak ada perusahaan bus yang menutup trayek mereka.

Baca juga: Mulai 8 Juni 2018, Damri Operasikan Bus ke Bandara Kertajati dari Empat Kota

Corporate Secretary BIJB Arief Budiman mengaku, tidak ada perusahaan yang tutup melainkan perusahaan transportasi merugi karena bersaing dengan bus Damri yang digratiskan pemerintah. Hal ini kemudian membuat penumpang lebih memilih menggunakan bus Damri dibandingkan bus lain yang berbayar.

KabarPenumpang.com mengutip lama detik.com (4/11/2019), Arief mengatakan, tidak ada perusahaan antarmoda di Kertajati yang gulung tikar. Kebenarannya adalah belum menguntukan karena bus Damri yang gratis dan tidak ada yang menutup trayeknya sama sekali.

“Moda yang beroperasi di sini masih melakukan layanan,” kata Arief.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa tidak ada perusahaan yang menutup trayek. Pasalnya cuma ada Damri dan Blue Bird yang mengoperasikan trayek Kertajati.

Arief mengatakan, ada sebanyak 12 operator bus yang membuka trayek ke Kertajati termasuk Damri. Adapun operator moda transportasi lainnya yakni CTU Shuttle, MyTrans, ECA Shuttle, P. Trans, Baraya, Mekarsari, Arnes, Budiman, Bhineka Shuttle, Sobat Trans, Urban Travel.

Selain ada operator taksi Blue Bird dan taksi online milik grab yang juga melayani jasa antar ke Kertajati. Bahkan para pengusaha modatransportasi memberikan harga promo untuk penumpang dengan tarif mulai Rp15 ribu hingga Rp100 ribu tergantung jarak tempuh.

Operator transportasi lain ini membuka rute ke berbagai daerah seperti Cirebon, Bandung, Tasikmalaya, Indramayu, Kuningan, Jatinangor, Sumedang, Majalengka, Maja, Kadipaten, Tonjong, Cikijing, Purwakarta, dan Rajagaluh.

Baca juga: Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?

Diketahui, beberapa angkutan umum di Cirebon terpaksa menutup trayeknya ke Kertajati karena sepi penumpang. Tak hanya itu bahkan sebelumnya ada 15 shuttle yang membuka trayek ke BIJB tapi kini tersisa hanya 12 saja.

“Sekarang BIJB kan sepi, senyap kembali. Sekarang memang sudah pada tutup. Ya rata-rata lah, di Cirebon itu ada sekitar 15 pengusaha angkutan yang sempat membuka shuttle arah BIJB,” kata Sekretaris DPC Organda Kota Cirebon Karsono.

Regulasi Sudah Disahkan Sejak 2008, Ternyata Masih Banyak Penumpang Korean Air yang Nekat Merokok di Ketinggian 36.000 Kaki!

Agaknya bagi semua yang pernah atau belum pernah naik pesawat sekalipun, tentu sudah mengetahui bahwa semua penumpang dan awak penerbang dilarang untuk merokok selama penerbangan berlangsung, baik itu rokok tradisional atau rokok elektrik yang sempat naik daun beberapa waktu ke belakang. Selain dapat mengganggu kenyamanan penumpang lain (terutama bagi mereka yang benci dengan asap rokok), tapi seperti yang sudah kita ketahui bersama, baterai yang terkandung di dalam rokok elektrik ini dapat memicu ledakan atau kebakaran. Menyeramkan, bukan?

Baca Juga: Tiga Kali Hisap Rokok di Toilet, Penumpang Batik Air Tujuan Padang Digelandang Keamanan Bandara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (28/10), memang, di beberapa maskapai di luar sana tidak memasang tanda dilarang merokok di dalam penerbangan mereka – dengan asumsi penumpang sudah memahami tentang peraturan ini sebelum mereka mengudara. Namun bagi sebagian maskapai, termasuk yang ada di dalam negeri, masih tetap memperingatkan kepada penumpang bahwa penerbangan yang sedang mereka lakoni tersebut bebas dari asap rokok.

Bagi orang-orang yang sudah sadar akan pentingnya kenyamanan penumpang lain di dalam sebuah penerbangan, tentu mereka tidak akan pernah coba-coba untuk menyalakan rokok di ketinggian 36 ribu kaki. Tapi tidak bagi mereka yang seolah tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, kasus ini nyatanya pernah terjadi di maskapai Korean Air, dimana ada atau bahkan bisa dikatakan banyak penumpang yang nekat menyalakan rokok elektrik mereka di tengah perjalanan.

“Kasus penumpang merokok rokok elektrik di dalam kabin sudah menjadi sesuatu yang lumrah sekarang,” ujar pihak Korean Air dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan pihak maskapai ini bukan tanpa data. Korean Air mencatat bahwa sebanyak 34 persen penumpang yang membawa dan menggunakan rokok elektrik mereka di dalam penerbangan pada tahun 2018 silam. Angka ini meningkat ke level 59 persen di tahun 2019 ini – tercatat sejak bulan September kemarin. Tentu saja ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan.

Meningkatnya angka pengguna rokok eletkrik di atas ternyata berbanding terbalik dengan menurunnya angka penumpang yang nekat menyalakan rokok tradisional di dalam penerbangan Korean Air. Di tahun 2016 silam, pihak maskapai mencatat ada 266 kasus penumpang yang nekat merokok rokok tradisional di dalam penerbangan. Namun angka tersebut turun hingga bulan September 2019, dimana hanya ada 120 insiden saja.

Baca Juga: Nekad Merokok di Kabin Sebelum Mengudara, Ini Tanggapan Pihak Citilink Indonesia

Banyak dari pengguna rokok elektrik yang berdalih bahwa mereka belum mengetahui tentang pemberlakuan regulasi terkait ini. Padahal, di Korea Selatan, Pemerintah sudah menetapkan rokok elektrik sebagai bagian dari produk rokok tradisional yang menggunakan tembakau sejak tahun 2008 silam – walaupun pada kenyataannya rokok elektrik tidak menggunakan tembakau.

Jadi, para penumpang yang masih nekat merokok di dalam pesawat ini memang benar-benar tidak mengetahui tentang regulasi dilarang merokok, atau hanya berpura-pura tidak tahu saja?

Berhubungan Badan dan Mengeluarkan Suara Keras, Pasangan Asal Jerman Diturunkan dari Kapal Pesiar

Menikmati perjalanan dengan kapal pesiar adalah salah satu cara untuk menikmati keindahan laut. Namun bagaimana kalau ketika menikmati perjalanan kapal pesiar bersama dengan pasangan tetapi harus diturunkan karena melakukan hal yang mengganggu penumpang lain?

Baca juga: Pelabuhan Benoa Berbenah, Kapal Pesiar Ukuran Besar Akan Bisa Bersandar

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymirror (2/11/2019),  sepasang suami istri asal Jerman diusir dan diturunkan dari kapal pesiar yang tengah mereka tumpangi ketika liburan. Kala itu mereka dalam perjalanan selama dua minggu ke Kepulauan Karibia.

Renate F dan sang suami Volker dilaporkan membiarkan pintu balkon mereka terbuka ketika tengah berhubungan badan. Kapal pesiar itu sedang berlabuh di Barbados dan keduanya mengaku mengeluarkan suara terlampau keras saat berhubungan badan dan lupa menutup pintu balkon mereka.

Setelah berhubungan badan Renate menuturkan dirinya dan sang suami sempat bertengkar dan tidak membuat kerusakan. Sayangnya kejadian itu membuat manajer kapal pesiar yang di dampingi keamanan datang dan memberitahu kapten untuk menyuruh keduanya keluar.

Setelah diusir dan diturunkan di Barbados, keduanya mengaku terdampar, dan harus membayar banyak uang untuk membeli tiket pesawat ke Paris, Perancis, sebelum pulang ke Jerman. Pasangan itu lalu mengambil jalur hukum dan menuntut perusahaan kapal pesiar tersebut untuk membayar ganti rugi, termasuk kompensasi “rasa sakit” dan uang mereka dikembalikan.

“Karena insiden keamanan, kami menggunakan hak kami agar tamu meninggalkan kapal,” ujar TUI operator kapal pesiar.

Perusahaan mengaku sudah berkorespondensi dengan Renate untuk menjelaskan terkait kebijakan mereka, utamanya soal ganti rugi. Dalam kebijakan mereka, penumpang yang membuat keributan maupun membahayakan penumpang lain bisa diusir tanpa mendapat pengembalian uang.

Terlepas dari kejadian tersebut, dilihat dari sisi medis umumnya berhubungan badan memang akan mengeluarkan suara, terlebih pada wanita. Sebab berhubungan badan yang terlalu sepi membuat sesi bercinta tersebut menjadi kurang menyenangkan.

Baca juga: Berdiri di Tepi Luar Balkon Kapal Pesiar, Wanita ini Dilarang Naik Kapal Pesiar Selamanya

Sebuah penelitian dari University of Leeds, Inggris bahkan menyebutkan adanya kaitan yang kuat antara ekspresi kepuasan dan peningkatan gairah. Renate dan Volker mengungkapkan, awalnya mereka memesan paket liburan bersama Mein Schiff 5, yang memulai pelayaran sejak 1 April lalu.