Dianggap Mengancam, Dua Penumpang Easyjet Digeruduk Keluar dari Pesawat

Singgungan antar penumpang ketika tengah melakukan boarding di pesawat agaknya menjadi hal yang lumrah adanya. Namun apabila singgungan ini berbuntut pada pembatalan penerbangan, wah, bisa repot juga! Tapi sejatinya, kejadian seperti ini memang kerap terjadi di penerbangan di luar negeri sana – entah apa yang melatarbelakangi para penumpang ini menjadi sangat agresif.

Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (2/11), maskapai berbiaya rendah asal Inggris, Easyjet dengan nomor penerbangan EZY1837 terpaksa mengeluarkan dua penumpang dari penerbangannya karena dinilai telah bersikap kasar dan mengancam penumpang lain. Kejadian ini sendiri terjadi pada Jumat (1/11) kemarin, dimana pesawat ini sejatinya akan melakukan perjalanan dari Manchester menuju Amsterdam.

Mulanya proses boarding berjalan dengan lancar, hingga pada saatnya pesawat melakukan taxi menuju landas pacu, keributan pun terjadi. Saking parahnya, pilot sampai-sampai memutuskan untuk mengurungkan take-off dan kembali menuju gedung terminal. Setibanya di gedung terminal, kedua penumpang berjenis kelamin pria ini langsung diungsikan dari dalam pesawat guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari petugas keamanan.

Dalam beberapa foto yang sempat diabadikan oleh orang-orang di dalam pesawat, tampak salah satu dari dua pria yang diusir dari dalam penerbangan ini memiliki postur tubuh yang cukup besar dan mengenakan kaos berwarna merah.

Tidak hanya dua penumpang anonim ini saja yang ternyata harus meninggalkan pesawat, melainkan semua penumpang yang ada di dalam penerbangan Easyjet EZY1837 juga harus kembali menuju gedung terminal. Sejatinya, penerbangan berjadwal ini take-off pada pukul 11.35 waktu setempat, namun karena insiden ini, maka penerbangannya terlambat dua setengah jam.

“Awak kabin kami sudah terlatih untuk mengatasi penumpang semacam ini, sehingga keselamatan penumpang tetap menjadi yang utama di Easyjet,” ujar salah satu juru bicara Easyjet sembari membenarkan apa yang terjadi pada maskapai tersebut.

Baca Juga: Pergerakan Penumpang Pesawat, Bisa Jadi Faktor Penyebaran Infeksi Pernafasan

“Meskipun insiden seperti ini jarang terjadi, kami akan menanggapinya dengan sangat serius, tidak mentolerir perilaku kasar atau mengancam di atas pesawat,” sambungnya.

Walhasil, keterlambatan pemberangkatan dari Easyjet EZY1837 menuju Amsterdam membuat pesawat ini baru mendarat pada pukul 16.24 waktu setempat – seharusnya pesawat tiba sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Niat Hati Mau Ngumpet di Ban Pesawat, Wisatawan Gelap Asal Rusia Dibekuk Petugas Bandara Taiwan

Apa yang akan Anda lakukan ketika pesawat hendak take-off? Tentu saja duduk nyaman di pesawat sembari mendengarkan musik atau hanya sekedar menikmati sensasi lepas landas dari si burung besi. Namun apa jadinya jika ada seseorang yang lebih memilih untuk menikmati sensasi take-off dari roda depan pesawat? Wah, sudah barang tentu ia akan menjadi pusat perhatian para petugas keamanan, ya! Tapi kejadian ini benar-benar terjadi, lho!

Baca Juga: Tertidur Sepanjang Perjalanan, Penumpang Air Canada Terbangun dalam Kabin Gelap dan Kosong

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newsinflight.com (2/11), seorang yang diduga berkebangsaan Rusia nekat merangsek masuk ke area tarmak dan berlari menuju pesawat China Airlines CI028 sebelum akhirnya memeluk erat tiang penyangga ban pesawat bagian depan. Kejadian ini sendiri terjadi di Bandara Internasional Taoyuan Taiwan pada Sabtu (2/11) kemarin, sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Beruntung, ketika kejadian ini berlangsung, seorang pilot Asiana Airlines melihat aksi si pria anonim ini, dan langsung menghubungi pihak bandara untuk menindaklanjutinya. Benar saja, seketika petugas menara ATC menerima laporan dari pilot Asiana Airlines ini, mereka langsung berkoordinasi dengan petugas keamanan dan langsung menangkapnya. Dari beberapa gambar yagn berhasil diabadikan oleh orang-orang di seputar lokasi kejadian, pria berambut pirang ini tampak mengenakan jaket berwarna gelap, mengenakan topi dan masker, serta membawa ransel yang mungkin berisi baju-bajunya selama berkelana di Negeri Tirai Bambu.

Sumber: newsinflight.com

Ketika sudah berhasil dibekuk petugas, ternyata pria ini tidka membawa identitas sama sekali dan tampak tidak kooperatif dalam menanggapi pertanyaan para petugas. Dari sini, petugas sudah mencurigai bahwa orang ini merupakan salah satu penumpang gelap yang hendak melarikan diri dari Tiongkok.

Baca Juga: Jadi “Penumpang Gelap,” Burung Myna Masuk Kabin A380 Singapore Airlines dan Ikut Terbang 12 Jam

Ternyata benar saja, ketika petugas melakukan pemeriksaan sidik jari dan pemindaian iris, pria ini tidak memiliki catatan masuk dan keluar dari Taiwan. Hingga berita ini diturunkan, petugas keamanan Bandara Internasional Taoyuan Taiwan yang berkoordinasi dengan pihak kepolisian masih memeriksa lebih lanjut tentang ‘calon penumpang gelap’ ini.

FlixBus Uji Coba Bus Listrik Terjauh di Amerika Serikat

Bus listrik ternyata tak digunakan hanya untuk dalam kota saja, tetapi di Amerika Serikat baru-baru ini diuji coba untuk perjalanan jarak jauh. Tepatnya Senin (28/10/2019), bus listrik berwarna hijau cerah melaju sepanjang 85 mil atau sekitar 136 km dari San Francisco ke Sacramento.

Baca juga: Kurangi Emisi, Pemerintah Sydney Bakal Ganti 8000 Bus Diesel Menjadi Bus Listrik

Pada uji coba tersebut, bus terisi penuh dan kemudian kembali lagi ke San Francisco dari Sacramento. Dilansir KabarPenumpang.com dari fastcompany.com (29/10/2019), uji coba ini dijalankan oleh FlixBus dan produsen bus MCI dan menjadi yang pertama dari rute bus listrik jarak jauh di Amerika Serikat.

FlixBus, yang berbasis di Jerman, diluncurkan pada 2013 untuk membantu agar pengemudi kendaraan pribadi tidak lagi menggunakan mobilnya untuk perjalanan jarak jauh dengan membuat bus lebih menarik bagi orang-orang yang mungkin tidak menganggapnya sebagai pilihan di masa lalu.

“Salah satu prinsip utama dari visi kami adalah bahwa mobil tidak sesuai dengan dunia modern kita. Situasi saat ini di mana Anda memiliki 90-92 persen perjalanan jarak jauh yang diambil dengan mobil tidak berkelanjutan. Bahkan jika semua orang bepergian dengan mobil listrik, katanya, akan ada terlalu banyak lalu lintas,” kata Pierre Gourdain, direktur pengelola perusahaan di AS.

Perusahaan menggunakan bus modern yang dilengkapi WiFi dan soket listrik serta memiliki aplikasi yang memungkinkan pengendara melacak bus yang mendekat seperti Uber, dan menawarkan tarif rendah.

“Mari kita temukan kembali cara pengirimannya, mari kita temukan kembali cara penjualannya dan cara mereknya untuk membuat bus menjadi dingin kembali dan membawa orang keluar dari mobil mereka,” kata Gourdain.

Sekarang menawarkan beberapa rute di Eropa dan AS, bermitra dengan operator bus yang memiliki dan menjalankan bus karena menangani pemasaran. Langkah alami berikutnya,  adalah pindah ke bus listrik. FlixBus pertama kali meluncurkan rute bus listrik di Perancis dan Jerman pada tahun 2018.

“Mereka masih dijalankan hari ini dengan bus listrik yang sama, jadi kami telah melihat bukti dan bukti jarak jauh dan kemampuan jangka panjang dari brankas dan Opsi listrik yang dapat diandalkan di luar negeri, ”kata Michael Kahn, kepala pengembangan bisnis di FlixBus USA.

MCI, pabrikan bus yang akan digunakan perusahaan di AS, kini menggunakan uji coba pilot untuk membuat perubahan akhir dari desain sebelum manufaktur dimulai dan bus-bus menghantam jalan, kemungkinan pada akhir 2020 atau awal 2021. Beberapa rute pertama akan mencakup San Francisco ke Sacramento, LA ke San Diego, dan Portland ke Seattle.

Bus-bus tersebut memiliki jangkauan proyeksi 158 mil. Perusahaan induk FlixBus, Flixmobility, memiliki tujuan untuk perjalanan bebas CO2 100 persen pada tahun 2030, juga mulai menjalankan kereta api yang mengandalkan energi hijau di Eropa, dan sedang menguji teknologi lain, termasuk bus yang beroperasi pada sel bahan bakar, membuat rute jarak yang lebih jauh mungkin.

Rute yang lebih panjang ini juga dapat membantu mengganti perjalanan pesawat. Gourdain mengatakan bahwa perusahaannya telah melihat peningkatan penjualan tiket bus di beberapa negara Eropa di mana perjalanan pesawat menurun karena kekhawatiran tentang perubahan iklim. Itu kemungkinan akan tumbuh seiring perusahaan terus beralih ke teknologi bersih.

“LA ke Vegas adalah contoh yang bagus dari rute yang saat ini tepat di luar jangkauan apa yang dapat dilakukan oleh model bus listrik saat ini, tetapi merupakan kandidat yang hebat, seiring dengan meningkatnya teknologi, untuk menggantikan banyak orang yang bepergian dengan pesawat. Terutama ketika kamu harus berurusan dengan LAX, kamu benar-benar tidak menghemat banyak waktu dengan pergi ke bandara dan terbang. Dan tentu saja, emisi yang Anda berkontribusi terhadap tiket pesawat jauh lebih banyak,” kata Kahn.

Tiket untuk rute listrik jarak jauh pertama di AS akan mulai dari $10 hingga $15. Gourdian mengatakan, kebanyakan orang tidak pernah naik dan mungkin tidak akan naik mobil listrik untuk waktu yang lama karena mereka masih sedikit di luar kisaran harga-bijaksana untuk sebagian besar penduduk.

Baca juga: Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di Cina

“Dan kami berpikir bahwa bagi banyak orang, pengalaman pertama mereka dalam perjalanan bersih adalah dengan bus listrik. Di satu sisi, itu benar-benar alat transportasi listrik untuk 99 persen,” jelasnya.

Pelabuhan Benoa Berbenah, Kapal Pesiar Ukuran Besar Akan Bisa Bersandar

Menjadi salah satu incaran pelancong domestik dan mancanegara, Bali seolah tak habis akal untuk memperbaiki dan mempercantik pulaunya. Hal ini terlihat di mana Pemerintah Provinsi Bali dan Pelindo III yang melakukan kerja sama dalam pembangunan Pelabuhan Benoa dan Bali agar bisa disinggahi oleh kapal pesiar.

Baca juga: Tahun 2020, Roller Coaster Hadir di Kapal Pesiar Untuk Jelajahi Laut

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, adanya pengembangan ini sudah disetujui oleh Gubernur Bali Wayan Koster yang melihat desain baru penataan Pelabuhan Benoa itu. Pada Oktober lalu, Pelabuhan Benoa bahkan sudah disinggahi oleh kapal pesiar sepanjang 268 meter dengan lebar 37 meter dan memiliki 12 lantai.

Kapal pesiar tersebut mengangkut dua ribu penumpang yang masuk ke dermaga Pelabuhan Benoa. Adanya pengembangan ini sendiri dengan memperpanjang dermaga pelabuhan, membuat rute perjalanan Pelabuhan Benoa ke objek wisata, transportasi dan pembangunan pusat UMKM.

Pengembangan ini dilakukan untuk memuaskan pelancong yang transit di Bali, sebab biasanya kapal pesiar akan bersandar dengan waktu yang cukup lama yakni enam hingga delapan jam.

“Maka ke depan ada cruise datang yang lebih mewah. Kita sudah tata supaya ke depan dibuat rute perjalanan, nanti penumpang yang ribuan akan dibagi, ada yang berkunjung ke Denpasar, Gianyar, Karangasem, Badung, meninjau pusat kerajinan rakyat destinasi wisata, transportasinya nanti akan disiapkan supaya keluar dari kapal penumpang, bisa lihat alam dan budaya Bali serta kerajinan rakyat,” kata Koster yang dikutip dari kumparan.com, Sabtu (2/11/2019).

Tak hanya itu Koster menambahkan, akan menyiapkan bisnis logistik agar kapal pesiar yang bersandar bisa menggunakan produk dari Bali seperti kebutuhan konsumsi yakni ikan, telur, daging, buah-buahan yang dihasilkan oleh peternak dan petani Bali untuk sumber makanan pelancong. Bahan bakar juga disediakan agar kapal bisa memenuhi kebutuhannya.

Sementara itu, Dirut PT Pelindo III Doso Agung menambahkan, sebelum diperpanjang kapal pesiar tidak bisa bersandar dan para pelancong diangkut dengan kapal lebih kecil. Bahkan karena ini banyak pelancong yang enggan untuk turun dan menikmati keindahan Pulau Dewata tersebut.

“Kami harus membangun kapasitas dermaga kami di tahun 2020. Tahun 2019 kami mulai kontruksi dan harapannya tahun 2020 selesai. Sehingga kapal masuk ke Benoa tidak terkendala kapal enggak bisa sandar. Kalau enggak bisa sandar pasti jumlah turis yang kan turun terbatas karena harus ditransfer lagi dari kapal kecil, orang akan malas, tapi kalau bisa bersandar orang-orang akan turun dan ini baik untuk perkembangan ekonomi di Bali,” ujar Doso.

Baca juga: Pelabuhan Benoa Berbeda dengan Tanjung Benoa di Bali

Dia mengatakan, Pelabuhan Benoa akan diperpanjang dermaganya sekitar 160 meter agar kapal pesiar bisa bersandar. Dikabarkan, perusahan kapal Genting Dream tengah membangun sebuah kapal dengan kapasitas empat ribu penumpang. Rencananya, kapal ini akan beroperasi tahun 2021 dari Amerika, Filipina dan Bali.

Kualitas Udara Anjlok dan Jarak Pandang Minim, 32 Penerbangan di Bandara Delhi Terdampak

Mungkin masih lekang dalam ingatan bagaimana serangan kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan yang juga berdampak pada sektor aviasi nasional, ternyata bukan hanya Indonesia yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Belakangan, kondisi cuaca di India juga menuai sorotan, mengingat kabut asap beracun yang menyelimuti kota Delhi dan beberapa daerah lain menyeret kualitas udara di sana menjadi yang terburuk sepanjang sejarah.

Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

Semakin memburuknya kualitas udara di Delhi sana pada Minggu (3/11) kemarin berdampak pada pengoperasian penerbangan dan memaksa sekolah-sekolah yang ada di Noida dan Ghaziabad untuk ditutup sementara waktu, setidaknya sampai kondisi mulai membaik. Pendeknya jarak pandang juga memaksa 32 penerbangan di Indira Gandhi International Airport dibatalkan.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman timesofindia.com (3/11), jarak pandang di bandara ini pada hari Minggu kemarin dikabarkan menurun ke angka 300 meter saja. Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak berwenang mengatakan bahwa semua pilot yang memenuhi persyaratan CAT-II (sudah terlatih dan berpengalaman) dapat beroperasi menuju Delhi, hanya saja pengoperasian penerbangan di Bandara Delhi memiliki visibilitas yang rendah.

Pihak berwenang juga mengingatkan kepada para penumpang untuk menghubungi masing-masing maskapai guna mendapatkan informasi lebih lanjut terkait penerbangan mereka apakah dibatalkan, di reschedule, atau tetap berjalan seperti jadwal.

“Sebagai dampak dari kondisi cuaca yang buruk, pengoperasian penerbangan terdampak sejak Minggu pukul 09.00 (waktu setempat) di Terminal 3 Bandara Delhi. Kurang lebih sebanyak 32 penerbangan tedampak jarak pandang yang pendek ini,” ujar pihak bandara dalam sebuah keterangan resmi.

Baca Juga: Saat Bencana Alam Tiba, Bukan Berarti Perjalanan Batal, Ikuti Tips Ini!

Untuk pertama kali dalam sejarah, Air Quality Index (AQI) tercatat berada di angka 625 pada hari Minggu (3/11) pukul 10.00 waktu setempat – kendati sempat ada hujan gerimis kala itu. Di Dhipur, AQI tercatat bertengger di angka 509, sedangkan di sekitaran wilayah Delhi University AQI berada di level 591 – sementara di Lodhi mencapai angka 537.

Sebagai perbandingan, AQI yang ada di Jakarta per Senin (4/11) secara keseluruhan hanya bertengger di angka 124 US AQI. Jadi, dapatkah Anda membayangkan bagaimana gelapnya di Delhi sana?

Hadirkan Empat Kereta Baru, KAI Berlakukan Gapeka 2019

Penghujung tahun 2019, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan empat kereta barunya. Kereta tersebut adalah Anjasmoro Ekspres, Dharmawangsa Ekspres, Sancaka Utara dan Argo Cheribon. Keempat kereta baru ini melayani kelas ekonomi bisnis dan eksekutif dan harganya beragam.

Baca juga: PT KAI Sambungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati dengan Angkutan Terusan

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Anjasmoro Ekspres akan melayani relasi Jombang-Yogyakarta-Pasar Senen, Dharmawangsa Ekspres melayani relasi Surabaya Pasar Turi – Pasar Senen. Sedangkan Sancaka Utara relasi Surabaya-Pasar Turi-Gambringan-Solo Balapan-Kutoarjo dan Argo Cheribon relasi Pemalang – Gambir serta Tegal – Pemalang.

Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan bahwa masyarakat sudah bisa memesan tiket pada tanggal 1 November 2019 untuk jadwal keberangkatan 1 Desember 2019. Untuk pemesanan tiket ini dilakukan secara bertahap dan berlaku di semua kanal pembelian.

“Saya mengimbau kepada calon penumpang KA dengan keberangkatan 1 Desember 2019 dan seterusnya agar memerhatikan lagi jadwal yang tertera di tiket. Tujuannya agar tidak tertiggal kereta, karena sudah diberlakukannya Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019,” kata Edi yang dikutip dari kompas.com, Jumat (1/11/2019).

Untuk tarif tiket kereta ini dibanderol variasi yakni KA Anjasmoro Ekspres dari Rp270 ribu sampai Rp380 ribu, KA Dharmawangsa Ekspres Rp160 ribu sampai 410 ribu. KA Argo Cheribon Rp40 ribu sampai Rp240 ribu dan KA Sancaka Utara sekitar Rp190 ribu sampai Rp280 ribu.

VP Public Relation PT KAI Edy Kuswoyo mengungkapkan KA Anjasmoro Ekspres menghadirkan 600 kursi dengan 200 kelas eksekutif dan 400 lainnya kelas ekonomi, KA Dharmawangsa Ekspres kursi yang tersedia 786 dengan pembagian 150 kursi eksekutif dan 636 kursi kelas ekonomi. KA Argo Cheribon menyediakan kursi 330 dengan 250 untuk kelas eksekuti dan 80 kelas ekonomi serta KA Sancaka Utara sebanyak 456 kursi kelas bisnis dan eksekutif.

Diketahui adapun rincian pengaruh dari penggunaan Gapeka 2019: Perubahan relasi KA Argo Wilis relasi Surabaya Gubeng-Bandung, menjadi relasi Surabaya-Gubeng-Bandung-Gambir (pp), KA Turangga relasi Surabaya Gubeng-Bandung, menjadi relasi Surbaya Gubeng-Bandung-Gambir (pp), KA Mutiara Selatan relasi Bandung-Surbaya Gubeng-Malang, menjadi relasi Gambir-Bandung-Surbaya Gubeng-Malang (pp).

KA Joglosemarkerto relasi Semarang Tawang-Tegal-Purwokerto-Solo-Semarang Tawang, menjadi relasi Solo-Tegal-Purwokerto-Solo-Semarang Tawang, KA Joglosemarkerto relasi Yogyakarta-Solo-Semarang Tawang, menjadi relasi Yogyakarta-Solo. Perubahan waktu tempuh KA Pasundan relasi Bandung Kiaracondong-Surabaya Gubeng akan mengalami pengurangan waktu tempuh sebesar 82 menit, dari sebelumnya 16 jam 7 menit menjadi 14 jam 45 menit.

Baca juga: Hanya Bisa Pesan Tiket H-30 Sebelum Keberangkatan, PT KAI Sukses Ambil Alih KAI Access?

KA Brantas relasi Blitar ke Pasar Senen mulai 1 Desember 2019 akan mengalami pengurangan waktu tempuh sebesar 54 menit, dari sebelumnya 15 jam 4 menit menjadi 14 jam 10 menit. KA Singasari relasi Blitar ke Pasar Senen mulai 1 Desember 2019 akan mengalami pengurangan waktu tempuh sebesar 45 menit, dari sebelumnya 15 jam 55 menit menjadi 15 jam 10 menit.

Desainer Ferrari Rancang Halte Bus Canggih dengan Konsep Alami

Jika selama ini kita melihat halte bus hanya berupa sebuah ruang beratap yang dilengkapi dengan beberapa buah tempat duduk – atau mungkin belakangan ini sudah dilengkapi dengan stasiun pengisian daya, maka Anda akan sedikit kebingungan ketika mendengar sebuah halte bus yang dibuat oleh sebuah firma yang mendesain mobil berlogo kuda jingkrak, Ferrari. Tentu pikiran Anda langsung mengarahkan pada sebuah halte yang modern nan futuristik, dan memang seperti itulah konsepnya.

Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman miamiherald.com (29/8/2018), adalah Pininfarina, sebuah perusahaan mobil asal kota Turin, Italia yang telah mendeklarasikan niatnya untuk membangun sebuah halte bus di daerah Miami Beach dalam beberapa waktu ke depan. Wajar rasanya jika gambaran tentang pemberhentian bus buatan Pininfarina ini akan melebihi ekspektasi Anda – dengan segala teknologi yang tersemat di dalamnya.

Dengan mengedepankan konsep “Yesterday, Today, and Tomorrow”, Paolo Trevisan selaku kepala desain dari Pininfarina of America mengatakan bahwa tampilan dari halte ini akan sangat alami, namun tetap futuristik pada bagian dalamnya. “Tampilannya akan sangat alami, yang kami gabungkan dengan teknologi terkemuka yang akan menampilkan kesan modern – percampuran alami dan teknologi,” tutur Paolo.

Nantinya, Paolo beserta jajarannya akan mendesain halte bus ini seperti sebuah batang pohon palem, “namun di sisi lainnya halte bus ini sangat terkontrol,” tandas Paolo. Berbekal pengalaman di sektor otomotif, maka sudah seyogyanya jika Pininfarina memperhatikan setiap detail yang akan disematkan di halte bus futuristik ini. “Kami memperhatikan setiap detail – bahkan yang terkecil sekalipun, karena kami berpatokan bahwa apa yang kami ciptakan ini bukanlah hanya sebuah produk, melainkan satu keseluruhan sistem yang saling terintegrasi,” lanjutnya.

Baca Juga: Perbaiki Halte Bus, Pramuka Ini Diganjar Gold Award!

Selain futuristik, halte bus ini juga hemat energi karena menggunakan panel surya yang tersimpan di bagian atap guna memenuhi kebutuhan elektrikal di dalamnya, seperti menyalakan lampu dan papan penunjuk informasi. Ketika siang hari, bayangan kaleidoskop akan tampak pada bagian lantai halte bus ini – hasil pembiasan dari cahaya matahari yang masuk. Terdapat juga ruang khusus bagi para pengiklan yang ditujukan sebagai pemasukan tambahan bagi produsen.

Enggan merinci lebih jauh soal halte bus ini, namun Paolo berpendapat bahwa pembangunan halte bus ini merupakan sebuah awalan dari perkembangan sebuah kota yang modern. “Bagi saya, ini hanyalah permulaan. Masih banyak yang bisa kita lakukan – masih banyak potensi.” Tutup Paolo.

Wujudkan Kota Pintar, Penang Kini Punya Smart Bus Shelter yang Serba Canggih

Jika di Indonesia keberadaan halte (shelter) bus seolah tersingkirkan dan banyak diantaranya yang sudah terbengkalai dan dibiarkan rusak begitu saja, maka lain halnya dengan yang ada di Malaysia – dimana salah satu perusahaan yang menekuni konektivitas berkelanjutan masa depan, EDOTCO Malaysia Sdn Bhd pada Mei 2019 kemarin meluncurkan Smart Bus Shelter. Dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa mengira kelebihan dari halte bus ini, persisnya halte ini dilengkapi dengan solusi telekomunikasi – sejalan dengan tujuan digitalisasi yang tengah dikembangkan oleh Malaysia.

Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman digitalnewsasia.com (14/5), adapun Smart Bus Shelter ini sendiri terletak di Lengkok Tenggiri, Seberang Perai, dimana di dalamnya Anda bisa menemukan fasilitas untuk mengisi ulang daya gadget, kamera CCTV, hingga panic button untuk lebih meningkatkan keamanan para penggunanya. Seperti yang sudah disebutkan di atas, solusi telekomunikasi yang ada di Smart Bus Shelter ini juga merupakan testbed untuk Penang yang terhubung dalam persiapan untuk implementasi konektivitas 5G.

Proyek ini sendiri merupakan dukungan nyata bagi Penang Vision 2030, yang antara lain menguraikan investasi untuk memperkuat mobilitas, konektivitas dan infrastruktur digital, dan mengintegrasikan layanan kota dengan teknologi pintar. Energi yang ada di Smart Bus Shelter ini dihasilkan oleh panel surya yang berada di atap halte. Penggunaan energi terbarukan ini juga merupakan bagian dari Penang Vision 2030 yang bertumpu pada penggunaan energi terbarukan.

“Proyek percontohan Smart Bus Shelter ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk mengubah Penang menjadi kota pintar, yang menjadi fokus kami di tahun 2019,” tutur Ketua komite Pemerintah Daerah, Perumahan, dan Perencanaan Kota Penang, Jagdeep Singh Deo.

“Keberhasilan pembuktian konsep ini membuka jalan bagi Penang untuk menjadi salah satu negara terkemuka yang siap untuk mengadopsi konektivitas 5G,” tandasnya.

Baca Juga: 10 Halte Bus Ini Jelas Tidak Biasa

Tingkat akses terhadap jaringan internet via smartphone di Malaysia sana sudah mengalami pertumbuhan nilai yang cukup signifikan. Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC) mencatat, pengguna internet via smartphone pada tahun 2014 silam masih berada di angka 74,3 persen – sedangkan di tahun 2018 kemarin angkanya sudah meningkat drastis ke level 93,1 persen. MCMC memproyeksikan bahwa di tahun 2022 mendatang, konsumsi data per pengguna mencapai angka 1GB per hari.

Tangani Masalah Penumpang Saat Connecting Flight, United Airlines Punya “Connection Saver”

Istilah connecting flight di sektor kedirgantaraan global memang sudah tidak asing lagi terdengar. Bagi Anda yang belum mengetahuinya, connecting flight merupakan suatu kondisi dimana Anda akan berganti pesawat di titik transit untuk tiba di satu destinasi. Karena pesawat yang akan Anda tumpangi berbeda, maka nomor penerbangannya pun akan berbeda pula.

Baca Juga: Klasik, Ini Dia Rentetan Alasan Delay di Dunia Penerbangan

Nah, kendati sudah terjadwal, namun connecting flight ini tetap saja memiliki beberapa masalah, satu yang paling mengundang keringat dingin penumpang adalah ketika pesawat keberangkatan menuju titik transit mengalami keterlambatan atau delay. Jamaknya, jeda waktu antara penerbangan satu dan penerbangan lainnya di connecting flight adalah berkisar 30 hingga 60 menit – bisa saja lebih, tergantung jadwal penerbangan masing-masing maskapai. Lalu, bagaimana jadinya jika penerbangan sebelumnya mengalami keterlambatan? Apakah pesawat selanjutnya akan menunggu Anda datang?

Jawabannya tentu saja tidak, karena mereka harus tetap menjalankan penerbangannya secara normal. KabarPenumpang.com mengutip dari laman vox.com, di Amerika Serikat, jika Anda mengalami kejadian seperti ini, maka yang harus Anda lakukan adalah melakukan booking ulang terhadap penerbangan Anda. Tidak jarang juga pihak maskapai yang akan memberikan kompensasi lebih kepada Anda yang ketinggalan connecting flight, seperti menginap di hotel atau berupa makanan.

Namun guna memangkas kejadian dimana penumpang harus mem-booking ulang tiket penerbangannya, maskapai United Airlines menggunakan sebuah teknologi yang dinamakan sebagai Connection Saver.

Teknologi ini menjalankan fungsi penghitungan alogaritma beberapa kemungkinan dimana hasilnya akan memberikan opsi kepada pihak maskapai, apakah akan tetap meninggalkan penumpang yang terlambat ini atau menunggunya. CEO dari United Airlines, Oscar Munoz mengatakan bahwa sejak aplikasi ini diluncurkan pada bulan Januari silam, aplikasi ini terbukti sudah ‘menyelamatkan’ lebih dari 50.000 penumpang yang mengalami keterlambatan di penerbangan pertama mereka.

Baca Juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya?

Dengan melihat begitu banyaknya penumpang yang ‘diselamatkan’ oleh United, maka bisa dibilang bahwa pihak maskapai lebih memprioritaskan penumpang, kendati pihak maskapai harus mengalami penurunan rating dari segi on-time performance.

Namun jika dilihat lagi ke belakang, nama United muncul sebagai salah satu maskapai paling kontroversial di dunia – terlebih ketika kasus perlakukan tidak sepantasnya menimpa seorang dokter pada tahun April 2017 silam. Apakah pengaplikasian teknologi Connection Saver ini merupakan upaya pihak maskapai untuk merebut kembali hati penumpang?

Lawan GoJek dan Grab, “Bonceng” Tawarkan Tarif Ojol Berdasarkan Cluster

Lagi-lagi GoJek dan Grab punya saingan baru dalam persaingan transportasi online ibukota saat ini. Ya, nama pesaing baru itu adalah “Bonceng.” Bonceng merupakan aplikasi yang sebenarnya sudah muncul sejak November 2018 lalu.

Baca juga: Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka

Aplikasi ini berasal asli dari Indonesia yang namanya pun diambil agar tidak membebani dengan istilah barat. Bahkan cinta tanah airnya pun bisa terlihat dari warna jaket dan helm yang seperti bendera merah dan putih.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Tak hanya Bonceng sepeda motor (ojol), aplikasi buatan anak bangsa ini juga punya layanan seperti Grab dan GoJek yakni Bonceng Mobil, Bingkis yang merupakan layanan paket, Bungkus layanan antar makanan dan Bonceng Pasar di mana penumpang bisa berbelanja kebutuhan di pasar tradisional.

Bonceng sendiri sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi dan beberapa daerah lainnya seperti Labuan Bajo. Founder dan CEO Bonceng, Faiz Noufal mengatakan, kini sudah ada 50 ribu pengemudi terdaftar dan baru lima ribu yang aktif.

Sedangkan untuk pengguna sudah ada 75 ribu dan belum jelas berapa yang sudah aktif menggunakan aplikasi Bonceng ini. Bonceng sendiri merupakan aplikasi besutan perusahaan developer PT Swa Nusa Multimedia.

Karena besutan anak bangsa, untuk pembayaran non-tunainya Bonceng menggunakan LinkAja dan berbeda dari GoJek yang menggunakan GoPay dan Grab yang menggunakan OVO. Tarif Bonceng sendiri menawarkan harga cluster bukan per kilometer yang artinya beberapa jarak perjalanan dikelompokkan pada beberapa harga yang bulat.

Tarifnya sendiri mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu dan seterusnya. Bahkan uniknya, penumpang yang melakukan pemesanan diperbolehkan memesan layanan Bonceng hingga tujuh hari kedepan. Bonceng kini sudah bisa diunduh melalui App Store ataupun Play Store.

Baca juga: Aplikasi Ride Hailing Kedatangan Pemain Baru, Anterin dan BitCar

Untuk mendaftar jadi mitra driver ojek online Bonceng, kamu harus mengunjungi situs bonceng.id. Calon driver diwajibkan untuk mengisi data pribadi mulai dari nama lengkap, alamat hingga informasi kendaraan.