PT MRT Jakarta melakukan Kick-off dan penandatanganan pakta integritas pelaksanaan pengadaan proyek fase 2 MRT Jakarta Koridor Bundaran HI-Kota. Pembangunan fase II Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta semuanya akan dibangun di bawah tanah.
Baca juga: Libur Lebaran, MRT Jakarta Jadi “Wahana Hiburan” Favorit Keluarga
Hal ini dikarenakan lahan di darat lebih sulit dan ada kali yang menjadi hambatan di daerah Harmoni. Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, fase II akan 100 persen di bawah tanah dan kedalamannya sekitar 30 meter atau akan lebih dari fase I karena ada kali diatasnya.
Dia menjelaskan, dalam fase II pembangunan MRT Jakarta sendiri akan ada tujuh stasiun yang membentang dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Kota dan menjadi delapan termasuk depo MRT fase II.
“Mulai dari Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan di akhiri di Kota dengan panjang lintasan 8,3 km,” ujar William.
Dia mengatakan, fase II ini sendiri deponya akan dibangun di daerah Ancol Barat dan sudah diputuskan dalam rapat pimpinan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Lokasi depo sedang dalam percakapan diskusi dalam rapim gubernur sudah diputuskan di Ancol Barat jadi proses administrasinya sedang dilaksanakan antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat,” tambahnya.
Pemilihan Ancol Barat sendiri karena adanya lahan yang cukup luas untuk membangun depo fase II yang membutuhkan lahan 9,4 hektar. Untuk pembangunannya sendiri akan dilakukan jika sudah ada penetapannya.
“Tergantung nanti penetapannya. Karena ini dalam proses studi yang kami lakukan merekomendasikan jalur menuju ke depo di fase 2 sebagai opsi karena lahan di Kampung Bandan enggak tersedia,” kata dia.
Dalam pengerjaan fase II ini, akan ada enam paket kontrak yang terdiri dari CP200 untuk pekerjaan Gardu Listrik (RSS) di Monas, CP201 untuk Bundaran HI-Monas, CP202 Harmoni-Mangga Besar, CP203 Glodok Kota, CP205 sistem perkeretaapian dan rel, CP206 untuk pekerjaan kereta. Adapun peletakan batu pertama atau Groundbreaking fase II sendiri sudah dilakukan sejak 24 Maret 2019 lalu oleh Presiden Joko Widodo.
PT MRT Jakarta menargetkan pembangunan fase II MRT Jakarta koridor Bundaran HI-Kota selesai tahun 2024 mendatang. Nilai anggaran yang disiapkan untuk fase I ini sebesar Rp22,5 triliun yang merupakan pinjaman dari Jepang.
Baca juga: MRT Fase II Hingga ke Ancol? Budi Karya: Nilai Investasi Bisa Bengkak Rp10 Triliun
Diketahui, pasokan listrik untuk MRT Jakarta fase II lebih kecil dari fase I yang sebesar 60 megawatt (MW). General Manajer PLN Distribusi Jakarta Muhamad Iksan Asaad mengatakan alasan pasokan listrik hanya 50MW karena sudah dibackup dari Fase I dimana sentral pasokan di Lebak Bulus mencukupi hingga Kota.
Volvo, perusahaan otomotif multinasional asal Swedia meluncurkan sebuah terobosan teknologi kemudi ringan yang didaulat dapat memudahkan dan mengurangi tingkat kelelahan pengemudi. Adalah Volvo Dynamic Steering, penggabungan antara power steering hidrolik konvensional dan motor listrik yang diatur secara elektronik ini nantinya akan dipasang pada roda kemudi.
Baca juga:Volvo B8RLE, Bus Low-Deck yang Tawarkan Optimalisasi Biaya Operasional
Menurut pihak Volvo, sistem ini akan mengurangi tenaga yang dibutuhkan dalam mengemudi hingga 85 persen dan mampu meredam hentakan akibat lubang, jalan tidak rata, jalan berlumpur, hingga pengereman. Selain itu, Volvo Dynamic Steering juga akan menjaga truk tetap lurus ke arah yang dipilih pengemudi.
Berdasarkan pantauan KabarPenumpang.com di Sentul, Bogor (20/6/2019), Marketing Director dari Volvo, Jurn Terpstra mengatakan, “Teknologi yang dipatenkan ini bermanfaat bagi pengemudi truk di Indonesia pada setiap kondisi operasi. Di jalan bebas hambatan, sistem Volvo Dynamic Steering ini akan memberikan stabilitas arah kendaraan yang tak tertandingi,”
“Bahkan di jalan off-road sekalipun, truk bermuatan penuh yang berjalan pada kecepatan rendah juga akan dapat sangat mudah dikendalikan, bahkan hanya dengan satu jari,” tandasnya.
Volvo Dynamic Steering ini bekerja pada sistem kemudi mekanis konvensional, pada poros terhubung ke roda kemudi. Unit servo hidrolik menghasilkan tenaga yang membantu pengemudi untuk memutar lingkar kemudi truk. Di sini, motor listrik yang saling bahu membahu dengan teknologi power steering hidrolik akan menyesuaikan diri ribuan kali per detik.
“Fungsi motor listrik adalah untuk memberikan pengendalian yang akurat di setiap saat ketika masa pengoperasian,” terang Jurn.
“Pada kecepatan rendah, bantuan motor listrik membuat truk jadi sangat mudah dikendalikan, bahkan truk konstruksi yang sarat akan muatan dapat dikendalikan tanpa ada kesulitan sama sekali. Bahkan, seekor hamster pun dapat mengendalikan sebuah truk,” tambahnya sedikit berkelakar.
Fitur baru ini sendiri sekarang sudah tersedia di Indonesia untuk truk rigid dan prime mover sengan poros roda depan tunggal (6X4) dan poros depan ganda (8X4), namun belum tersedia untuk truk all-wheel drive (truk dengan daya penggerak di keseluruhan roda).
Ketika disinggung apakah teknologi Volvo Dynamic Steering ini bisa diaplikasikan pada moda bus, Jurn Terpstra mengatakan, “Mengapa tidak?”
Baca Juga:Pemerintah Gothenburg Tunjuk Volvo 7900 Electric Bus Sebagai “Perpustakaan Keliling”
Senada dengan Jurn, Chief Operating Officer dari PT IndoTruck Utama, Eka Lovyan mengatakan bahwa untuk waktu dekat, mungkin Volvo tidak akan mengaplikasikan teknologi Volvo Dynamic Steering pada bus-bus di Indonesia.
“Mungkin tahun depan kita akan memboyong teknologi tersebut (Volvo Dynamic Steering) beserta dengan bus yang baru juga,” paparnya. (Rendy Nurhalim)
Penyandang disabilitas kerap kali mendapatkan masalah ketika bepergian menggunakan berbagai moda transportasi, salah satunya adalah pesawat terbang. Biasanya yang cukup kesulitan adalah penyandang disabilitas yang harus menggunakan jasa kursi roda.
Baca juga: Bepergian Sendiri, Penyandang Disabilitas ini Dilarang Mengudara oleh Hong Kong Airlines!
Hal ini kemudian membuat IATA (International Air Transport Association) menetapkan standar layanan bagi penumpang disabilitas agar dapat menikmati perjalanan lebih mudah. Resolusi ini sendiri disepakati dalam pertemuan umum tahunan IATA di Seoul, Korea Selatan.
IATA juga menyerukan kepada pihak regulator untuk bekerja sama saat membuat peraturan dan hukum yang mengatur akomodasi bagi penyandang disabilitas. KabarPenumpang.com merangkum dari laman runwaygirlnetwork.com, tak hanya pemerintah, IATA juga meminta Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk ikut mengadopsi prinsip-prinsip inti IATA tentang aksebilitas sebagai dasar untuk inisatif multilateral itu.
Resolusi ini juga mencerminkan kesadaran terkait banyaknya tantangan yang dihadapi penumpang penyandang disabilitas saat bepergian dengan pesawat. Seperti masalah kerusakan kursi roda karena kelalaian maskapai yang menyulitkan penyandang disabilitas.
Wakil presiden senior anggota dan hubungan eksternal di IATA, Paul Steele mengatakan, pihaknya menyusun praktik terbaik untuk menangani masalah dan melacak kerusakan yang terjadi karena apa.
“Saya pikir itu akan menjadi hasil yang logis. Kami terlibat dengan berbagai pemangku kepentingan, dan khususnya dengan asosiasi yang mewakili penyandang cacat. Dan, kami akan mengikuti rekomendasi mereka. Kami membuat panduan untuk maskapai penerbangan sehingga kami memiliki standar yang telah di tetapkan. Kami berusaha memastikan kami mengumpulkan data, karena tidak ada banyak data,” ujarnya.
“Saya tahu ada banyak kemunduran dan ke depan, terutama ketika kursi roda listrik, misalnya, memiliki baterai lithium. Bagaimana kita menghadapinya? Apa praktik standar yang harus kita gunakan? Karena kami tidak dapat membawa baterai itu di ruang tunggu untuk alasan keamanan. Itu dilarang. Jadi (baterai) harus diangkut di kabin. Itu artinya kita harus mengeluarkan (baterai) dari kursi roda listrik.”
Steele megatakan kepada Runway Girl Network (RGN) bahwa IATA menjangkau produsen perangkat mobilitas untuk mengatasi masalah desain yang membuat perangkat ini sulit dimuat ke dalam pesawat, dan akan terus bekerja dengan perwakilan dari komunitas penyandang cacat. IATA baru-baru ini melakukan penelitian bersama dengan Bandara Heathrow untuk lebih memahami layanan mobilitas yang dibutuhkan penumpang.
Ketika mereka belajar, banyak orang meminta bantuan kursi roda ketika mereka sebenarnya menginginkan jenis bantuan yang berbeda untuk menavigasi bandara. Sehingga ini bisa membuat orang yang benar-benar membutuhkan bantuan kursi roda harus menunggu.
Baca juga: Mudahkan Penyandang Disabilitas, Tahun 2025 Semua Bus di Seoul Adopsi Low Deck
IATA telah meluncurkan kampanye untuk mempromosikan penggunaan kode DPNA (Penumpang Cacat dengan Intelektual atau Pengembangan Kebutuhan Cacat). Salah satu ketidakkonsistenan peraturan yang mengkhawatirkan IATA adalah kebijakan Amerika Serikat tentang hewan pendukung emosional.
Terpleset di peron ketika hendak naik kereta kerap kali terjadi pada penumpang. Apalagi kereta itu sudah mulai berjalan. Namun pertanyaannya apakah saat tergelincir dan masuk ke jalur kereta penumpang tersebut selamat?
Baca juga: Akibat Didorong Penumpang Lain, Kaki Wanita Ini Terperosok di Celah Peron Stasiun MRT
Jawabannya iya dan tidak, sebab saat penumpang masuk ke celah peron saat kereta melintas bisa saja celaka ataupun selamat. Baru-baru ini, seorang pria 60 tahun di India terpeleset ketika hendak naik kereta yang tengah berjalan.
KabarPenumpang.com melansir dari laman kalingatv.com (18/6/2019), dari video terlihat pria bertubuh tambun itu mencoba mengejar kereta dan memegang pegangan di samping pintu kereta dan berusaha naik. Sayang dia kemudian tergelincir dan sempat terbentur hingga akhirnya jatuh ke celah peron.
Penumpang lain yang ada di sekitar peron melihat ke celah peron apakah pria itu selamat atau tidak. Terlihat beberapa penumpang mencoba untuk menyelamatkannya namun gagal karena celah peron yang sempit dan kereta pun tengah melaju di rel.
Pria tersebut diketahui bernama Rakesh Talwar seorang penduduk Sambalpur yang tengah melakukan perjalanan dari Howrah ke Sambalpur. Dia pergi bersama istri dan putranya dengan kereta Samaleswari Express, yang mana sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat kereta berhenti di Stasiun Jharsuguda dan Rajesh turun untuk minum teh.
Kemudian saat kereta mulai bergerak kembali, Rajesh mencoba mengejarnya dan sayangnya saat itu insiden dirinya tergelincir dan masuk ke celah peron terjadi. Untungnya saat kejadian tak lama seorang penumpang menarik rem darurat sehingga kereta berhenti.
Lalu, dua personil Pasukan Perlindungan Kereta api (RPF) yang mengetahui kejadian tersebut bergegas untuk menyelamatkannya dan membantu naik ke kereta tersebut. Namun, usai insiden itu tidak dapat diketahui dengan jelas apakah pria tua tersebut mengalami luka setelah kecelakaan atau tidak.
Pada April 2019 kemarin, seorang wanita juga tejatuh dari MRT Singapura dan kakinya terperosok ke celah peron di Stasiun Buona Vista. Wanita itu terjatuh ketika kereta penuh karena di dorong penumpang lainnya.
Baca juga: Akibat Ibu Asik Main Ponsel, Anak Jatuh Diantara Peron dan Rel
Kakinya terperosok masuk dari bagian lututnya di celah peron tersebut. Untungnya petugas lain cepat tanggap dan membantu wanita itu untuk dibawa ke rumah sakit mendapat pengobatan.
Setelah Korean Air memberlakukan regulasi untuk membabat first class seat di sejumlah rute penerbangan, pun dengan Asiana Airlines yang juga telah memangkas habis first class seat di semua rute penerbangannya, kini santer beredar kabar dari flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific yang juga memberlakukan regulasi serupa. Duh, kok bisa ya maskapai sekelas Cathay Pacific menghilangkan first class seat mereka di sebagian besar rute operasinya? Apakah ini ada kaitannya dengan masalah finansial perusahaan?
Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (18/6/2019), Cathay Pacific merupakan salah satu maskapai yang dimana sebagian besar armadanya memiliki first class seat. Namun pihak maskapai seolah acuh tak acuh dengan keberadaan bangku paling nyaman di penerbangan konvensional tersebut – tidak menghilangkannya, tapi juga tidak mengembangkannya.
Hingga saat ini, layanan first class dari Cathay Pacific tersedia di 32 armada Boeing 777-300ER saja – atau lebih dari setengah dari total armada Boeing 777-300ER yang mereka miliki. Cathay Pacific menyediakan layanan first class pada rute penerbangan jarak jauh, seperti menuju London, Los Angeles, New York, Paris, dan beberapa rute lainnya.
Tidak hanya rute-rute tersebut, Cathay Pacific juga cukup konsisten untuk menyediakan layanan first class seat pada penerbangan menuju Tokyo Haneda dan Beijing. Cathay Pacific juga secara selektif menawarkan layanan first class di pasar lain, termasuk ke Bangkok, Shanghai, Singapura, dan Taipei.
Menurut laman sumber, Cathay Pacific menempuh kebijakan untuk menghilangkan layanan first class pada penerbangan jarak pendek (rute regional) mereka – kecuali menuju Tokyo Haneda dan Beijing. Kendati telah meniadakan layanan first class, namun Cathay tidak serta merta mengubah konfigurasi bangku mereka, melainkan tetap membiarkannya kosong dan tidak menjual tiket untuk kelas bergengsi tersebut.
Baca Juga: Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan
Pihak Cathay Pacific mengatakan bahwa mereka akan mengijinkan anggota elite yang ada di loyalti program mereka yang duduk di kelas bisnis untuk bebas duduk first class. Maskapai juga hanya akan menugaskan tujuh awak kabin untuk beroperasi di dua kelas ini (bisnis dan first class).
Walaupun pihak Cathay Pacific masih belum membeberkan latar belakang mengapa mereka meniadakan layanan first class di sejumlah penerbangan regional mereka, namun satu dugaan yang cukup kuat adalah karena minimnya permintaan dari penumpang. Ya, hanya segelintir orang tertentu saja yang akan duduk di first class untuk penerbangan jarak pendek ketimbang duduk di kelas bisnis apalagi ekonomi.
Dengan diberhentikannya program A380, bukan berarti Airbus menyerah begitu saja terhadap keadaan. Permintaan pasar yang lebih mengarah kepada daya tempuh yang jauh namun dengan daya angkut yang tidak terlalu banyak membimbing Airbus untuk mengembangkan varian terbarunya. Adalah Airbus A321XLR, sebuah pesawat single aisle kembangan Airbus yang mampu mengarungi jarak hingga 4.700 nautical miles ini digadang-gadang sebagai pengganti A380 dan diperkenalkan ke publik pada perhelatan Paris AirShow 2019.
Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR
XLR, yang merupakan singkatan dari Xtra Long Range ini akan membawa penumpang hingga jarak terjauh 8.700km. Memang, jarak tersebut belum bisa menyaingi jarak tempuh dari A380 yang mencapai angka 15.200 km, namun dengan kemampuan tempuhnya yang bisa dibilang melebihi rata-rata pesawat lorong tunggal lainnya, maka keberadaan Airbus A321XLR tidaklah bisa dipandang sebelah mata. Ya, kini bukanlah load factor saja yang menjadi perhatian utama para pegiat bisnis aviasi, melainkan lebih kepada efektifitas dalam melakukan operasi.
Seeprti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (17/6/2019), Airbus A321XLR merupakan hasil dari pengembangan lanjutan dari varian sebelumnya, A321neo yang dikembangkan menjadi A321LR (Long Range) sebelum akhirnya diakhiri dengan dirilisnya varian A321XLR.
Pihak Airbus mengungkapkan bahwa A321XLR akan lebih hemat bahan bakar sekitar 30 persen per penumpang ketimbang varian yang dirilis kompetitor terbesarnya, Boeing 757. Sementara untuk jarak tempuhnya sendiri, Airbus A321XLR 15 persen lebih jauh ketimbang kakak kandungnya, Airbus A321LR yang hanya mampu menempuh jarak 4.600 mil atau yang setara dengan 7.403km.
Sumber: Airbus
Dengan kapasitasnya untuk mengarungi jarak 8.700km, maka rute penerbangan sekelas Tokyo – Sydney, London – Miami/Tampa, atau Dubai – Cape Town bukanlah sebuah masalah yang berarti, karena jarak dari ketiga contoh di atas berada di kisaran 4.000 nautical miles atau yang setara dengan 7.408 km.
Baca Juga: Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing
Peningkatan jarak tempuh pada varian A321XLR ini tidak lepas dari peran tangki bahan bakar yang juga lebih besar ketimbang varian sebelumnya. Dan jangan lupakan modifikasi yang dilakukan Airbus pada bagian landing gear yang meningkatkan maximum takeoff weight dan stream flaps pada bagian tepisayap yang lebih ramping.
Kendati sudah dipamerkan di Paris AirShow 2019, namun pihak Airbus merencanakan pesawat yang mampu mengangkut 180 hingga 220 penumpang ini baru bisa mengudara pada tahun 2023 mendatang.
Hingga saat ini ternyata mikrolet yang terintegrasi dengan TransJakarta baru sebesar tujuh persen. Bila ditotal jumlah dari 12 ribu armada baru ada 800 mikrolet yang terintegrasi. Padahal integrasi yang baik antar angkutan darat merupakan hal penting untuk menarik masyarakat agar beralih ke transportasi umum.
Baca juga: Pasca Lebaran, TransJakarta Buka Rute ke Bandara Soekarno-Hatta
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan, transportasi yang ada di ibukota saat ini sudah cukup lengkap mulai dari mikrolet, bus TransJakarta, kereta listrik (KRL) hingga MRT. Bahkan dirinya menyebutkan tak lama lagi kereta ringan atau LRT juga akan ikut ambil bagian dalam moda transportasi publik di Jakarta. Namun Shafruhan mengatakan, meski sudah banyak tetapi semuanya belum terintegrasi secara optimal.
“Idealnya, mikrolet dirotasi jalur trayeknya menjadi angkutan pengumpul yang masuk ke lingkungan pemukiman warga, dengan tujuan akhir di koridor-koridor Transjakarta. Transjakarta juga terhubung dengan MRT dan KRL. Jadi, kalau dari depan rumah sudah tersedia transportasi publik yang terintegrasi, maka ini akan menarik minat warga untuk beralih,” kata dia yang dikutip dari republika.co.id (19/6/2019).
Padahal, Direktur Operasional PT Transportasi Jakarta Daud Joseph mengatakan, TransJakarta akan menambah lima rute baru setuap bulannya untuk meningkatkan jumlah penumpang. Hal ini dilakukan agar strategi TransJakarta untuk mencapai target penumpang satu juta per hari bisa tercapai.
“Hingga saat ini, jumlah penumpang Transjakarta per harinya telah mencapai sekitar 800 ribu orang dan sedang menuju 900 ribu. Dalam internalnya sendiri, Daud dan tim menyebutnya sebagai “Gerakan 900K Gaspol” Pokoknya kita mesti ‘gas’ gimana caranya supaya bisa mencapai 900 ribu penumpang per hari dalam satu sampai dua bulan ini. Kalau sudah 900 ribu kan tinggal selangkah lagi satu juta,” jelas Daud.
Selain terus membuka rute-rute baru, dia menyebutkan, TransJakarta juga akan menambahkan jumlah bus kecil dari semula 904 unit menjadi 1.441 unit dari mulai bulan depan hingga Oktober mendatang. Dengan penambahan ini, ia optimistis jumlah penumpang akan naik.
“Nanti akan ada total penambahan 93 rute, sesuai dengan surat keputusan Dinas Perhubungan (Dishub),” ujar dia.
Selain itu, Daud juga mengatakan, pengintegrasian Transjakarta dengan moda raya terpadu (MRT) dan lintas rel terpadu (LRT) sangat membantu mencapai target satu juta penumpang per hari. Untuk LRT, ia mengatakan, sudah ada sekitar 50 unit bus Transjakarta yang berintegrasi dan pihaknya menargetkan untuk menambah satu hingga dua rute lagi pada Juli 2019.
Baca juga: Animo Pengguna MRT Jakarta Tinggi, TransJakarta Koridor 1 Tidak Mengalami Penurunan Penumpang
Selain itu saat dihubungi KabarPenumpang.com untuk menanyakan apakah akan ada penambahan mikrolet yang akan terintegrasi dengan TransJakarta, pihaknya menjawab belum ada.
“Untuk penambahan seperti ini yang berhak bicara dari Dinas Perhubungan,” ujar Humas PT TransJakarta Wibowo yang dihubungi, Rabu (19/6/2019).
Bila tak ada kendala lagi, Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akan mengular sekitar dua tahun lagi atau tepatnya pada 2021 mendatang. Dalam pengoperasiannya ini, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan memiliki konsesi pengelolaan selama 50 tahun atau lebih lama sepuluh tahun dibandingkan dengan MRT Jakarta ke Jepang.
Baca juga: Nantinya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Terintegrasi LRT Bandung Raya
Konsesi ini akan berlaku sejak KCJB beroperasi dan bila masanya habis, pihak KCIC harus mengembalikan semua prasarana kepada pemerintah dalam kondisi clear and clean serta laik untuk beroperasi. Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri mengatakan hal tersebut dan menambahkan kereta cepat ini bisa beroperasi.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Zulfikri sendiri menegaskan bahwa pihak pemerintah sama sekali tidak mengeluarkan dana dari APBN untuk proyek kereta cepat tersebut. Sehingga saat nantinya pun akan mulai beroperasi, pemerintah tidak akan mengalokasi anggaran untuk subsidi kereta cepat.
“Oh tidak ada subsidi, itu investasi full. Pemerintah tidak ada ikut sama sekali termasuk lahan pun mereka (KCIC),” katanya.
Apalagi sejak awal pengerjaan proyek ini, pemerintah secara tegas menyatakan tidak akan menjaminnya secara finansial. Pemerintah hanya memberikan jaminan terkait konsistensi kebijakan pembangunan kereta cepat dan sesuai dengan Perpres No.107/2015 tentang percepatan penyelenggaraan prasarana dan sarana kereta cepat antara Jakarta dan Bandung.
Nantinya kereta yang akan digunakan untuk KCJB akan menggunakan kereta generasi baru CR400AF yang merupakan hasil pengembangan CRH308A oleh CRRC Qingdao Sifang. KCIC mengatakan, kereta generasi baru ini memiliki keunggulan seperti kecepatan desain hingga 420 km per jam dan kecepatan operasional 350 km per jam.
KCIC mengatakan, kecepatan 350 km per jam bisa dicapai karena satu rangkaian kereta CR400AF ini terdiri dari delapan kereta atau cars dengan komposisi empat bermotor dan empat lainnya tanpa motor. CR400AF juga dipastikan mampu menghadapi kondisi geografis lintasan Jakarta-Bandung yang cenderung menanjak.
Dengan kondisi itu, CR400AF disebut bisa menempuh jarak 142,3 km Jakarta-Bandung hanya dalam waktu 36 menit untuk perjalanan langsung atau 46 menit dengan kondisi perjalanan berhenti di setiap stasiun. Di sepanjang trase kereta cepat Jakarta-Bandung akan terdapat empat stasiun pemberhentian, yakni di Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar.
Dari sisi keamanan, setiap rangkaian CR400AF dilengkapi dua lightning arrester. Fungsinya untuk meningkatkan keamanan terhadap sambaran petir, terutama di sisi peralatan tegangan tinggi. CR400AF juga dilengkapi dengan dua emergency brake.
Baca juga: Kemenhub Dorong PT KAI Jadi Operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Pertama, emergency brake EB yang bekerja berdasarkan perintah driver controller, fasilitas emergency brake penumpang, dan kontrol kewaspadaan masinis. Kedua, emergency brake UB yang akan aktif berdasarkan fungsi automatic train protection (ATP), pendeteksi jarak antarkereta dan pada saat power kereta dalam kondisi off/tidak bekerja.
“Dengan dua sistem emergency brake ini, CR400AF menawarkan tingkat keamanan yang lebih untuk melindungi kereta pada saat terjadi kesalahan sistem maupun human error,” tulis KCIC.
Setelah muncul pemberitaan codeshare Garuda Indonesia dengan China Airlines pada rute domestik Jakarta-Makassar, kini Garuda Indonesia terus mengembangkan codeshare untuk pangsa penerbangan domestik. Codeshare dinilai sebagai jurus ampuh untuk meningkatkan frekuensi penerbangan tanpa harus menambah jumlah armada. Tidak tanggung-tanggung, Garuda Indonesia telah menggandeng 14 mitra maskapai global untuk codeshare di penerbangan dalam negeri.
Baca juga: Beredar Kabar China Airlines Lakoni Rute Domestik Jakarta–Makassar, Ini Penjelasannya!
Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (18/6), maskapai mitra bertindak sebagai marketing carrier (maskapai yang memasarkan) dan Garuda Indonesia bertindak sebagai maskapai yang mengoperasikan penerbangan (atau operating carrier).
Kerjasama codeshare dengan maskapai asing dilaksanakan pada rute – rute dari ibukota negara (atau kota-kota utama) masing – masing ke Jakarta dengan penerbangan mereka (mereka sebagai operating carrier) dan dari Jakarta ke wilayah domestik lainnya, dimana Garuda Indonesia sebagai operating carrier atau maskapai yang mengoperasikan penerbangan di Indonesia.
Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan bahwa pelaksanaan codeshare dengan maskapai global merupakan strategi Garuda Indonesia untuk meningkatkan jumlah penumpangnya dan bagian dari peningkatan layanan dengan memberikan semakin banyak pilihan destinasi bagi penumpang.
“Kerjasama codeshare di domestik tersebut juga bagian dari upaya Garuda Indonesia untuk memperkuat posisi Jakarta, Surabaya, dan Medan sebagai hub penerbangan di domestik, selain Bali dan Makassar. Semua penerbangan di domestik yang menjadi bagian dari kerjasama codeshare dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Dalam hal ini Kementerian perhubungan telah memberikan izin perpanjangan bagi rute domestik Garuda Indonesia untuk menjadi bagian dari codeshare hingga periode musim panas (summer season) mendatang atau Oktober 2019.
Melalui kerjasama codeshare, Garuda Indonesia sebagai operating carrier akan menerbangkan penumpang internasional dari maskapai penerbangan global tersebut pada rute rute domestik yang dilayani Garuda Indonesia. Selanjutnya, pihak maskapai global yang melaksanakan codeshare dengan Garuda Indonesia akan menjadi marketing carrier yang akan menjual dan menawarkan tiket rute domestik Garuda Indonesia kepada para penumpang.
Penjualan tiket rute domestik Garuda Indonesia oleh marketing carrier dari luar negeri haruslah menjadi satu kesatuan dengan tiket internasional dari kota asal (negara) penerbangannya dan penumpang tersebut – walaupun terbang di domestik dengan Garuda Indonesia – dianggap penumpang internasional.
Baca juga: Perluas Rute, Mulai 8 Mei Garuda Indonesia dan Japan Airlines Tingkatkan Codeshare
14 maskapai global yang bekerjasama codeshare dengan Garuda Indonesia tersebut , diantaranya adalah All Nippon Airways, Japan Airlines, Etihad Airways, KLM Royal Dutch Airlines, Vietnam Airlines, Saudi Arabian Airlines, Malaysia Airlines, China Airlines, Bangkok Airways, Turkish Airlines, Oman Air, Air Europa Lineas Aereas, serta Aeromexico. Dengan pilihan rute penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia sebagai berikut :
Jakarta – Lampung pp | codeshare dengan Malaysia Airlines & China Airlines
Jakarta – Palembang pp | codeshare dengan Malaysia Airlines & All Nippon Airways
Jakarta – Padang pp | codeshare dengan Etihad Airways
Jakarta – Pekanbaru pp | codeshare dengan China Airlines & Etihad Airways
Jakarta – Medan pp | codeshare dengan Saudia Airlines, China Airlines, All Nippon Airways, Etihad Airways
Jakarta – Yogyakarta pp | codeshare dengan Bangkok Airways, China Airlines, Malaysia Airlines, All Nippon Airways, KLM, Japan Airlines
Jakarta – Solo pp | codeshare dengan Etihad Airways & Malaysia Airlines
Jakarta – Semarang pp | codeshare dengan Bangkok Airwayss, Saudia Airlines, China Airlines, Malaysia Airlines, All Nippon Airways, KLM
Jakarta – Surabaya pp | codeshare dengan Bangkok Airways, Etihad Airways, Malaysia Airlines, All Nippon Airways, China Airlines, Vietnam Airlines, KLM, Japan Airlines, Saudia Airlines
Jakarta – Denpasar pp | codeshare dengan Etihad Airways, Turkish Airlines, Bangkok Airways, Oman Air, Saudia Airlines, Vietnam Airlines, Air Europa, All Nippon Airways, KLM, Aeromexico
Jakarta – Lombok pp | codeshare dengan All Nippon Airways
Surabaya – Kupang pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Jakarta – Pontianak pp | codeshare dengan China Airlines
Jakarta – Banjarmasin pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Jakarta – Balikpapan pp | codeshare dengan Etihad Airways, KLM, China Airlines, All Nippon Airways
Jakarta – Manado pp | codeshare dengan All Nippon Airways, & Etihad Airways
Jakarta – Makassar pp | codeshare dengan Malaysia Airlines, Saudia Airlines, Bangkok Airways, China Airlines, All Nippon Airways, KLM, Saudia Airlines, Etihad Airways
Jakarta – Ambon pp | codeshare dengan KLM
Surabaya – Lombok pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Surabaya – Makassar pp | codeshare dengan Malaysia Airlines
Setelah dua bulan berturut-turut (April dan Mei) tanpa adanya order masuk ke perusahaan, akhirnya Boeing mempertimbangkan untuk mengubah nama dari varian 737 MAX yang belakangan ini menjadi sorotan publik dunia. Pernyataan ini diutarakan oleh Chief Financial Officer Boeing, Greg Smith pada pagelaran Paris AirShow 2019. Dirinya mengungkapkan bahwa pihak Boeing sangat terbuka dalam menerima masukan yang ada.
Baca Juga: Paris AirShow 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing
“Kami berkomitmen untuk melakukan apa yang perlu untuk pemulihan. Jika itu berarti kami harus mengubah nama, maka kami akan mengkaji. Jika tidak, kami akan melakukan yang terbaik,” ujar Greg, dilansir KabarPenumpang.com dari laman Reuters (18/6/2019).
Kendati begitu, melakukan rebranding bukanlah satu-satunya jalan keluar terbaik bagi Boeing untuk keluar dari zona keterpurukan. Stigma buruk tentang penggunaan nama sebelumnya tidak akan serta-merta begitu saja luntur dari varian terkait. Pernyataan ini didukung oleh pakar penerbangan asal Florida Institute of Technology, Shem Malmquist. Ia mengungkapkan bahwa rebranding untuk sebuah nama yang dilatarbelakangi oleh kejadian atau insiden yang sangat buruk akan sangat dulit terjadi – mengingat maskapai tidak akan memesan armada terkait dengan menggunakan nama barunya.
Akan sangat sulit bagi Boeing untuk mengembalikan kepercayaan penumpang terhadap varian 737 MAX. Bayang-bayang dua kecelakaan dalam rentang waktu lima bulan yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines akan tercatat dalam sejarah dan hal inilah yang akan menjadi ancaman besar bagi Boeing.
Tidak hanya dari sisi dua kecelakaan tersebut saja, melainkan pengakuan dari CEO Boeing, Dennis Muilenberg terkait pihak produsen kedirgantaraan yang telah terlebih dahulu mengetahui masalah ini sebelum dua kecelakaan yang menewaskan lebih dari 300 orang tersebut akan menjadi bahan pertimbangan pihak maskapai dan penumpang untuk kembali mempercayakan produksian mereka. Ya, siapa yang tidak punya ketakutan hal serupa akan terjadi kembali di masa yang akan datang?
Baca Juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX
Menyoal rebranding, sebelumnya pada tanggal 15 April 2019 yang lalu, Presiden Donald Trump sudah memberikan kode agar Boeing melakukan rebranding terhadap varian 737 MAX melalui media sosial Twitter.