Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing
Pagelaran Paris Air Show yang diadakan mulai 17 Juni hingga 23 Juni 2019 seharusnya menjadi ajang saling pamer antara produsen pesawat dari berbagai penjuru dunia – dengan dua aktor utamanya, Boeing dan Airbus. Namun tampaknya tahun ini pagelaran yang diadakan di Parc des Expositions Paris-le Bourget tidaklah berjalan seimbang, pasalnya Airbus tidak mendapatkan saingan yang setara. Ya, Boeing memang datang dengan kondisi terseok-seok ke perhelatan pameran dirgantara terbesar di dunia ini.
Baca juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX
Bahkan, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman aljazeera.com (18/6/2019), pagelaran Paris AirShow 2019 didominasi oleh krisis yang dialami oleh Boeing – dimana ada banyak pihak yang lalu menaruh perhatian kepada Boeing. Merasa sudah mendapatkan banyak pasang mata, pihak Boeing lalu berusaha untuk mengembalikan image dari varian 737 yang sudah kadung tercoreng akibat dua kecelakaan fatal yang menimpa Lion Air di bulan Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines pada Maret 2019.
Selain perbaikan sistem yang sudah dilakukan Boeing sejak beberapa bulan ke belakang, penyandang predikat eksportir terbesar bagi Amerika Serikat ini juga membuka kesempatan untuk melakukan rebranding yang ditujukan agar masyarakat awam bisa melupakan dua kecelakaan fatal tersebut. Namun kembali lagi, tidak ada yang bisa menjamin bahwa Boeing tidak akan melakukan kesalahan yang sama di waktu yang akan datang.
Pada pagelaran yang sama, eksekutif Boeing juga mengatakan bahwa mereka telah memperbaiki keseluruhan sistem yang ada di 737 MAX dan siap untuk mengudara kembali. Tapi apakah dengan diperbaikinya keseluruhan sistem yang error dan melakukan rebranding akan mengubah mindset masyarakat awam yang sudah kadung jelek ketika mendengar nama Boeing 737 MAX?
Dalam sebuah pidato di Paris Air Show 2019, Chief Financial Officer dari Boeing, Greg Smith mengatakan, “dua kecelakaan nahas tersebut hanya mengintensifkan upaya kami untuk memastikan tingkat keamanan tertinggi dari segi kualitas dan segalanya,”
Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!
Sebagai informasi tambahan, Boeing 737 MAX sempat menyandang predikat sebagai pesawat dengan penjualan tercepat sepanjang masa – setidaknya gelar tersebut bertahan hingga Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di perairan Tanjung Karawang pada Oktober 2018 silam.
Pakistan Klaim 200 Peziarah Sikh Tak Bisa Lalui Perbatasan India dengan Kereta
Sebanyak 200 peziarah Sikh asal Pakistan tak bisa melalui perbatasan India karena kereta mereka tak mendapatkan izin melintas. Padahal para peziarah tersebut akan menghadiri Jore Mela atau peringatan kematian Guru Arjun Dev Jee.
Baca juga: Jepang Rencanakan Bangun Proyek Kereta Cepat di 5 Kota India
Hal ini bahkan diklaim oleh pihak Pakistan pada Jumat (14/6/2019), dimana India menolak membiarkan kereta api melintasi perbatasan ke Lahore tepatnya di Stasiun Attari. Ketua Komite Sikh Gurdwara Parbhandhik (PSGPC) Pakistan Tara Singh mengatakan keputusan India telah mengecewakan komunitas Sikh di Pakistan.
Dilansir dari news18.com (15/6/2019) oleh KabarPenumpang.com, Amir Hashmi juru bicara Dewan Properti Evacuee Trust mengatakan, dalam perayaan tersebut Pakistan sudah mengeluarkan visa untuk 200 Sikh India untuk menghadiri Jore Mela dan akan tiba di Lahore dengan kereta api pada hari Jumat.
“Kami tetap berhubungan dengan pihak berwenang India di perbatasan mengenai membiarkan kereta api Pakistan melintasi perbatasan untuk memilih Yatris Sikh yang menunggu tetapi mereka jelas menolak,” klaim Hashmi.
Padahal kedutaan Pakistan telah mengeluarkan visa tujuh hari kepada 200 anggota Sikh untuk mengunjungi Lahore dan beberapa tempat suci Sikh lainnya di negara tetangga, termasuk Gurdwara Kartarpur Sahib. Namun, ternyata pemerintah India menolak untuk mengizinkan kereta Pakistan masuk wilayahnya untuk membawa Sikh Yatris.
Bahkan pemberitahuan tersebut pada pagi hari, dimana para peziarah diberitahu di stasiun kereta Attari bahwa tidak ada izin dari pemerintah India untuk mengizinkan kereta, datang dari Wagah, untuk memasuki stasiun. Sekretaris Jenderal Persatuan Akali Dal Paramjit Singh Jijani mengatakan, kereta tersebut adalah kereta khusus untuk mengangkut bhakta Sikh dari India.
Baca juga: Makan dan Minum Gratis di Kereta India Bila Tak Diberi Tagihan
Dalam hal penolakan tersebut, Hashmi mengatakan bahwa pihak berwenang India tidak memberikan alasan dari penolakan yang nereka lakukan.
“Kami telah memprotes keputusan India. Karena Komisi Tinggi Pakistan (di Delhi) telah mengeluarkan visa kepada 200 Sikh, tidak ada gunanya menghentikan mereka datang ke Lahore. Bahkan masalah ini akan menjadi masalah India, di tingkat pemerintah,” kata Hashmi. Sebagai informasi, India dan Pakistan beberapa lalu sempat bersitegang dalam insiden duel udara di wilayah udara Kashmir.
Memukau, ‘Sosok’ Airbus A380 Emirates Jadi Ladang Bunga Terbesar di Dubai
Pernah lihat sebuah pesawat Airbus A380 dipenuhi bunga-bunga di seluruh permukaannya? Mungkin hal ini dianggap mustahil dan hanya sebuah editan bila dilihat dalam foto. Tetapi ternyata di Dubai, Uni Emirat Arab, ada A380 milik Emirates yang seluruh bodi luarnya dipenuhi dengan bunga segar.
Baca juga: So Sweet! Pramugari Emirates Dilamar di Udara
Tentu saja yang dimaksud bukan pesawat asli, melainkan berupa mockup yang dibentuk dengan skala penuh. KabarPenumpang.com merangkum dari laman emirates.com, bunga-bunga tersebut bisa terpasang di mockup A380 tersebut karena adanya kerja sama Emirates dengan Dubai Miracle Garden yang membangun instalasi bunga terbesar dalam bentuk pesawat. Untuk memenuhi seluruh permukaan pesawat Emirates A380, dibutuhkan lebih dari 500 ribu bunga segar dan tanaman hidup.
Saat bunga-bunga ini bermekaran, maka akan ada lima juta bunga dengan berat lebih dari 100 ton yang belum pernah terjadi sebelumnya. Boutros Boutros, Divisional Senior Vice President, Corporate Communications, Marketing & Brand mengatakan, Emirates yang menggunakan pesawat Airbus A380 sangat populer di kalangan penumpang seluruh dunia.
“Melalui upaya kolaborasi dengan Dubai Miracle Garden, kami berharap dapat menginformasikan, menginspirasi dan menyenangkan pengunjung melalui skala tipis dan keindahan instalasi A380 bermotif bunga. Penerbangan mempengaruhi seluruh kehidupan kita, dan A380 yang dipamerkan akan menawarkan pengunjung kesempatan untuk lebih dekat dengan sosok pesawat angkut komersial terbesar ini. Inisiatif lingkungan yang progresif dan metode membangun dan menanam instalasi Emirates A380 juga selaras dengan eko-efisiensi pesawat,” ujarnya.
Abdel Naser Rahhal, Co-Founder and Creator of Dubai Miracle Garden mengatakan, menggunakan Emirates A380 adalah pencapaian besar bagi Dubai Miracle Garden. Apalagi pihaknya bangga memiliki instalasi bunga pada pesawat sebagai karya bunga terbesar di dunia yang pernah dibuat.
“Kami berharap bahwa ketika pengunjung mendekat ke Emirates A380 mereka akan merasakan skala di mana ia dibangun. Seperti moto kami mengatakan: Kami adalah tuan hijau dan pembuat bunga, ke mana pun kami pergi, kami membuatnya hijau, apa pun yang kami sentuh, kami membuatnya berkembang,” ujar Rahhal.
Bunga yang digunakan untuk membuat A380 Emirates adalah bunga hidup yang ditanam secara berkelanjutan dan dipanen selama empat bulan di pembibitan Taman Miracle Dubai di Uni Emirat Arab (UEA). Ada tujuh varietas tanaman yang tersebar di badan pesawat A380 tersebut yakni Petunia, Coleus (Plectranthus scutellarioides), Marigold (Tagetes), Snapdragon (Antirrhinum), Viola, Geranium (Pelargonium) dan Gaillardia (Gaillardia aristata).
Bahkan sembilan ribu bunga dan tanaman membentuk logo ikon dari Emirates serta 100 ribu bunga membentuk sayap yang sangat besar mencapai lebih dari 80,27 meter. Lebih dari 200 anggota kru instalasi dengan cermat bekerja 10 jam sehari selama 180 hari untuk membangun, melapisi dan memasang dedaunan tekstur pada struktur baja 30 ton yang membentuk Emirates A380.
Struktur pesawat bahkan mencakup kipas mesin yang bergerak dan fitur desain utama lainnya yang menangkap esensi dari desain pesawat asli.
Instalasi tanaman ini adalah struktur terbesar yang pernah dibangun di taman dan diatur pada petak bunga 7.460 meter persegi, sekitar 10 persen dari Dubai Miracle Garden. Pendekatan Dubai Miracle Garden untuk praktik hortikultura dan lansekap yang berkelanjutan berarti ia tumbuh dan mengangkut bunga dan tanaman dengan jejak karbon minimal.
Praktek perkebunan vertikal digunakan untuk meminimalkan konsumsi air, dengan benih hibrida berkualitas tinggi dijahit ke nampan dan kemudian dipindahkan ke berbagai tanah khusus, memungkinkan aerasi dan retensi air yang tepat. Setelah musim Dubai Miracle Garden berakhir, tanah akan digunakan sebagai pupuk organik.
Baca juga: Abaikan Tombol Panggilan dari Penumpang, Awak Kabin Emirates Terima Memo Peringatan
Struktur Emirates A380 dibangun dari bahan daur ulang dan bunga serta tanaman diairi melalui sistem air tetes yang dirancang khusus untuk struktur yang akan membuat instalasi A380 terhidrasi dan subur sepanjang musim. Instalasi Emirates A380 akan dipamerkan untuk umum mulai 27 November 2016 lalu dan dapat dilihat dari platform khusus di pusat Dubai Miracle Garden.
Siap Saingi AirAsia, Scoot Minat Buka Rute Domestik di Indonesia
Menanggapi ide dari Presiden Joko Widodo yang hendak memasukkan maskapai asing untuk beroperasi di rute domestik, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa ada sejumlah nama maskapai asing yang tertarik untuk membuka perusahaan di Indonesia – salah satunya datang dari maskapai negara tetangga, Scoot. Ya, maskapai yang melayani sektor Low Cost Carrier (LCC) ini dikabarkan tertarik untuk melayani penerbangan domestik di Tanah Air.
Baca Juga: ‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya!
Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, keberadaan anak perusahaan dari Singapore Airlines akan bersanding dengan bersanding dengan AirAsia yang sudah terlebih dahulu melayani penerbangan domestik di Indonesia.
“AirAsia sudah tinggal menambah saja. Yang ada apa itu, (maskapai) Scoot sama siapa, ada tiga itu yang baru,” ujar Menteri Budi, dikutip dari laman cnnindonesia.com (17/6/2019).
Untuk dua maskapai lagi, Meneteri Budi masih enggan menyebutkan, namun ia menekankan bahwa pihaknya ingin membuka kesempatan bagi maskapai asing untuk beroperasi di Indonesia. Selain dapat memperkaya pilihan maskapai bagi penumpang, upaya mengimpor maskapai asing ini juga dipercaya oleh sebagian pihak dapat menekan harga tiket pesawat yang mengalami lonjakan beberapa waktu ke belakang.
“Jadi spiritnya bukan asing tapi kompetisi. AirAsia pertama mungkin (yang pertama) bisa jalan,” lanjut Menteri Budi.
Sementara untuk AirAsia, Menteri Budi menambahkan bahwa maskapai besutan Tony Fernandes ini hanya akan menambah rute penerbangan saja. Tujuannya agar layanan penerbangan domestik bisa dilayani oleh banyak maskapai, karena saat ini, sekitar 97 persen penerbangan domestik dikuasai Garuda Indonesia Grup dan Lion Air Grup.
Diketahui, saat ini Scoot mengoperasikan 48 armada – Airbus A319-100 (satu unit), Airbus A320-200 (26 unit), Airbus A320NEO (dua unit), Boeing 787-8 (10 unit), dan Boeing 787-9 (sembilan unit).
Baca Juga: Kurang Armada untuk Tangani Rute, Scoot Bakal Sewa 12 Unit Airbus A320
Kendati menyandang predikat sebagai Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi tidak punya kuasa untuk mengatur harga tiket pesawat yang terus melonjak. Menurutnya, ia hanya sebatas mengatur tarif batas atas dan tarif batas bawah.
“Tiket itu bukan urusan saya. Jadi urusan dari airlane-nya. Saya urusannya (tarif batas) atas dan bawah. Saya cuma mengatur batas (tarif),” tegasnya.
Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang
Sebagai salah satu kota utama di Asia, Jakarta kini tengah melakukan uji coba dalam implementasi bus listrik. Persisnya lewat operator PT TransJakarta, unit bus listrik kini sedang lalu-lalang di sekitaran Monas dan Taman Mini Indonesia Indah guna melihat seberapa jauh respon masyarakat, selain tentunya melihat performa dari bus yang mengandalkan pasokan energi listrik dari baterai ini.
Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia
Meski menawarkan sejumlah keunggulan berupa bebas emisi dan memajukan penggunaan energi terbarukan, namun adopsi bus listrik bukan tanpa kendala pada kota-kota yang masih dalam lingkup ‘berkembang.’
Dilihat dari populasinya, saat ini bus listrik baru menguasai pangsa 17 persen di dunia atau sebanyak 425 ribu armada dengan 99 persen bus listrik dioperasikan di Cina.
Selain penyiapan infrastruktur, lambatnya penetrasi bus listrik disebababkan oleh beberapa keraguan. Semisal beberapa produsen bus besar masih mengatasi masalah mereka dari sisi lini produksi. Selain itu ada tantangan pada kinerja, selama tes awal di tempat-tempat seperti Belo Horizonte, Brasil, bus listrik kesulitan melewati bukit curam dengan muatan penumpang penuh. Albuquerque, New Mexico, membatalkan kesepakatan 15 bus dengan BYD pabrikan Cina setelah menemukan masalah pada perangkat selama pengujian.
Bus listrik bisa menempuh jarak sekitar 225 mil atau 362,102 km dalam sekali charge (isi ulang) baterai, tergantung pada kondisi topografi dan cuaca, yang berarti operator harus kembali ke depot sekali sehari pada rute yang lebih pendek di kota padat dan ini menjadi masalah di berbagai area yang padat akan kemacetan. Hal utama yang tampaknya dilupakan orang-orang tentang bus listrik adalah bahwa mereka perlu dikenakan biaya. Perlu dicatat, waktu isi ulang baterai secara penuh bisa memakan waktu sampai 4 jam, ini tentu harus diperhitungkan agar tidak menganggu pelayanan.
Instalasi depot pengisian energi dalam ukuran standar bisa menelan biata US$50 ribu. Investasi akan lebih tinggi bila depot dirancang untuk meng-handle beberapa bus ukuran besar sekaligus. Nilai di atas belum termasuk biaya konstruksi. Di pusat kota yang padat, pergerakan di dalam depot bus dapat diatur dengan ketat untuk mengakomodasi parkir dan pengisian bahan bakar. Pembangunan infrastruktur bus listrik merupakan tantangan yang berat dalam hal pengembalian investasi.
Lain dari itu, penyedia jasa pengisian listrik harus mendapatkan pasokan langsung ke stasiun pengisian mereka, bukan tak mungkin harus ada investasi untuk menyiapkan gardu baru. Warren, eksekutif New Flyer, memperkirakan butuh listrik 150 megawatt-jam untuk membuat depot 300 bus terisi penuh sepanjang hari. Sebagai perbandingan rumah tangga di Amerika Serikat hanya mengonsumsi 7 persen dari jumlah itu dalam satu tahun.
Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta
Diperkirakan bahwa hanya kurang dari 60 persen dari semua armada bus di dunia yang akan dikonversi menjadi bus listrik pada tahun 2040.
[Video] Airbus Kembangkan “AlbatrossOne,” Desain Sayap yang Terinspirasi dari Burung Albatros
Anda pernah mendengar nama burung Albatros? Ya, siapa sangka burung yang identik dengan area perairan ini menjadi inspirasi para insinyur di sektor aviasi dalam menciptakan sebuah pesawat yang kompatibel dengan kebutuhan penerbangan di masa yang akan datang. Alih-alih menciptakan sebuah pesawat yang memiliki kontur body seperti burung Albatros yang terkenal bisa mengarungi angkasa tanpa harus mengepakkan sayapnya, namun para insinyur dari Airbus menduplikasi bagian sayap dari burung Albatros. Perkenalkan, AlbatrossOne!
Baca Juga: Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?
Tentu saja nantinya sayap dari AlbatrossOne tidak akan bisa mengepak, melainkan bagian ujung sayapnya (wingtip) saja yang sengaja didesain untuk dapat bergerak mengikuti hembusan angin. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/6/2019), nantinya pihak Airbus akan menambahkan engsel khusus pada bagian wingtip – sama seperti varian Boeing 777X yang dapat melipat bagian ujung sayapnya ketika bentang sayap terlalu lebar untuk masuk ke ‘parkiran’ pesawat.
Untuk bagian wingtip sendiri, Airbus menggunakan bahan semi-aeroelastik yang akan bergerak bebas ketika tertiup oleh angin. Penggunaan desain sayap seperti ini dipercaya oleh pihak Airbus akan memberikan perubahan yang cukup signifikan ketika pesawat menghadapi turbulensi. Selain itu, para insinyur juga percaya bahwa penggunaan wingtip berengsel ini dapat mengurangi berat sayap secara keseluruhan.
Dalam upayanya untuk mewujudkan model ini, pihak Airbus telah menciptakan versi remote control yang telah sukses diuji coba di Filton, Inggris. Ya, Filton diketahui sebagai rumah bagi Concorde, pesawat berkecepatan super yang sudah memasuki masa pensiunnya sejak puluhan tahun lalu.
“Panjang dari wingtip di AlbatrossOne diperkirakan akan memakan space sepertiga bentang sayap. Nantinya wingtip ini akan beroperasi secara mandiri selama turbulensi dan mengurangi beban sayap pada bagian pangkal – yang dimana ini akan berimplikasi pada pengurangan beban pada pesawat secara keseluruhan,” ujar salah satu insinyur di Airbus, Tom Wilson.
“Ketika ada hembusan angin atau turbulensi, sayap pesawat konvensional mentransmisikan muatan besar ke badan pesawat, sehingga pangkal sayap harus sangat diperkuat, dan secara otomatis akan menambah bobot pada pesawat,” tandasnya.
Baca Juga: Tidak Ada Varian Airbus A370, Netizen Sampai Bikin Ilustrasi Sendiri!
Tom Wilson percaya bahwa dengan mengaplikasikan wingtip yang mampu bereaksi mandiri sesuai dengan hembusan angin akan mengurangi beban pesawat secara keseluruhan. Pihak Airbus sendiri belum bisa menentukan kapan pesawat kembangannya ini dapat melakukan first maiden, namun uji coba penerbangan dengan menggunakan remote control sudah rampung dilakukan terhitung sejak bulan Februari 2019 kemarin.
Berikut adalah video yang menunjukkan hasil uji coba penerbangan dengan menggunakan remote control yang dilakukan oleh Airbus pada bulan Februari lalu.
Mark Heydon, Awak Kabin Aktif dengan Usia 63 Tahun!
Mimpi menjadi seorang awak kabin sepertinya tidak terbatas usia. Pasalnya seorang kakek yang akan memasuki usia 63 tahun di bulan depan baru saja mewujudkannya dan terbang bersama dengan salah satu maskapai serta melayani penumpang dengan baik.
Baca juga: Oman Air Kenalkan Seragam Baru Awak Kabin di London Heathrow
Mark Heydon, ya kakek yang satu ini tidak membiarkan usia senja menghalangi mimpinya. Dia bahkan meninggalkan pekerjaannya dengan jabatan sebelumnya sebagai petugas rumah tangga yang mengelola keuangan tahunan lebih dari 1 juta pounsterling.
KabarPenumpang.com melansir dari laman metro.co.uk (14/6/2016), bisa dikatakan posisinya saat ini adalah sangatlah berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Tetapi kakek ini bahkan melakukannya dengan cepat karena dia sangat alami dalam melayani pelanggan.
Janine Santos mengunggah gambar yang diambilnya dengan Heydon ke akun media sosialnya dan memuji grandad-of-five untuk layanan pelanggan yang luar biasa sepanjang penerbangan pada 3 Juni 2019 kemarin.
“Saya hanya menyambutnya dan temannya di atas kapal dan berbicara dengan mereka tentang liburan mereka. Sangat menyenangkan berbicara dengan mereka, cukup mencengangkan bahwa (posting Janine) telah memiliki jumlah hit yang dimilikinya luar biasa,” ujar Heydon yang berasal dari Porthcawl di Wales.
Menurutnya, alasan memilih untuk menjadi seorang awak kabin, karena merasa melakukan satu hal yang sama sekali berbeda bisa membawa kebaikan baginya.
“Saya percaya sejumlah masalah membuat Anda lebih muda, melakukan satu hal yang menakutkan Anda, adalah salah satunya. Jelas ini menakutkan dalam arti bahwa Anda tidak pernah tahu apa yang ada di depan Anda,” tambahnya.
Janine menambahkan, dirinya tersentuh ketika melihat Heydon karena dia seusia dengan ayahnya, yang baru-baru ini meninggal akibat kanker. Heydone mengaku, mendapat pekerjaan ini tidak mudah dimana dirinya satu dari 260 orang kandidat yang terpilih lebih dari 12 ribu kandidat. Bahkan dirinya mengakui butuh empat hari untuk pulih dari kelelahan setelah pelatihan.
Baca juga: Abaikan Tombol Panggilan dari Penumpang, Awak Kabin Emirates Terima Memo Peringatan
“Istri saya sangat bangga pada saya. Dia menjaga saya untuk memastikan bahwa saya mengenakan seragam saya dengan baik dan dia cenderung mengamati penerbangan saya secara online untuk melihat apakah telah lepas landas atau tertunda. Hari pertamaku sangat menegangkan, aku merasa agak seperti kelinci di lampu depan. Saya mencoba mengingat banyak hal karena perannya beralih antara layanan pelanggan ke keamanan pesawat dan keselamatan penumpang,” ujarnya.
Kalau di Indonesia boleh tidak ya untuk kakek-kakek jadi awak kabin?
Banyak Peminat, KA Galunggung Kini Punya Tarif Rp35 Ribu
Warga Tasikmalaya yang mau ke Bandung atau sebaliknya kini bisa terhubung dengan kereta api yang ditempuh dengan waktu 2 jam 30 menit. Kereta yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini bernama Galunggung.
Baca juga: PT KAI Perpanjang Tarif Promo KA Galunggung
Kalau pernah dengar, nama kereta ini diambil dari sebuah gunung di kabupaten Tasikmalaya yakni Gunung Galunggung. Kereta ini sendiri merupakan kereta api lokal jarak menegah yang menggunakan rangkaian kereta Kahuripan.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kereta api ini sudah mulai beroperasi sejak 26 Desember 2018 lalu dan tujuan kehadirannya untuk memudahkan masyarakat Priyangan Timur. Karena sebelumnya kereta api yang melayani relasi ini hanya kereta jarak jauh.
Kereta Galunggung akan berhenti di delapan stasiun dari arah Bandung dan tujuh stasiun dari arah Tasikmalaya. Stasiun yang disinggahi Kereta Galunggung yakni Stasiun Rancaekek, Cicalengka, Leles, Cibatu dan Cipeundeuy.
Dari awal beroperasi hingga 25 Januari 2019 kemarin atau selama sebulan, PT KAI bahkan mengratiskan tiketnya. Namun tiket ini hanya bisa dibeli langsung di stasiun yang dilintasi kereta api Galunggung dan bisa dipesan H-7 keberangkatan.
Ternyata KA Galunggung ini memiliki peminat yang sangat besar, apalagi kehadirannya juga bersamaan dengan KA Pangandaran yang melayani relasi Gambir-Bandung-Banjar. Rata-rata okupansi KA Galunggung saja mencapai 89 persen dari kapasitas tempat duduk di relasi ini. Setelah menggratiskan, PT KAI sempat memberikan harga Rp1000 hingga Mei 2019 kemarin.
Sekarang untuk tiket kereta Galunggung relasi Kiarcondong menuju Tasikmalaya dikenakan tarif sekali jalan Rp35 ribu. Bahkan kini tiket KA Galunggung sudah bisa dipesan melalui web kai.id, aplikasi KAI Access, contact center 121 dan agen resmi PT KAI maupun langsung di stasiun.
Baca juga: KA Galunggung Rute Kiaracondong-Tasikmalaya Mulai Beroperasi
KA Galunggung akan berangkat setiap hari dari Stasiun Kiaracondong pukul 06.05 WIB dan tiba di Tasikmalaya pukul 09.25 WIB. Sedangkan dari Tasikmalaya pukul 10.35 dan tiba di Kiaracondong pukul 14.11.
Kata Pramugari, “Waktu Penerbangan Terbaik Ada di Pagi Hari”
Bagi Anda yang kerap mempercayakan pesawat untuk mengantarkan Anda dari satu kota menuju kota lainnya, kapan waktu penerbangan favorit Anda – siang hari atau malam hari? Tentu saja jawabannya akan sangat variatif, tergantung dari selera Anda masing-masing. Ada yang menjawab siang hari karena bisa melihat hamparan langit luas dari ketinggian puluhan ribu kaki, ada juga yang menjawab malam hari karena Anda gemar melihat kerlap-kerlip cahaya dari kota yang dilintasi oleh si burung besi.
Baca Juga: Inilah yang Diharapkan Seorang Awak Kabin dari Penumpang!
Namun percayalah, pilihan Anda tersebut berbeda dengan pilihan para awak kabin, yang sejatinya sudah mengetahui seluk beluk tentang sektor aviasi. KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (14/6/2019), seorang awak kabin dari maskapai yang berbasis di New York, Stella Connolly mengatakan bahwa waktu terbang yang paling difavoritkan olehnya adalah di pagi hari.
Tentu Anda semua akan mengernyitkan dahi ketika mendengar pernyataan Stella, mengingat ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan secara matang sebelum mengambil tiket penerbangan di pagi hari – mulai dari kendaraan yang akan Anda gunakan menuju bandara, hingga waktu tidur yang secara otomatis akan tersita karena harus bangun lebih awal guna mempersiapkan diri.
Tapi ketika mendengar pernyataan dari Stella, maka semuanya akan masuk di akal – atau mungkin akan mengubah persepsi Anda tentang terbang di pagi hari.
“Sederhana saja, terbang di pagi hari sangatlah tepat waktu!” ujar Stella.
Sebentar, bukankah semua penerbangan itu dirancang untuk tepat waktu?
“Layaknya snowball effect, jika ada penerbangan di pagi hari yang mengalami keterlambatan, maka hal ltersebut akan berdampak keterlambatan lain pada jam-jam selanjutnya,” tandasnya.
Baca Juga: Sedikit Rahasia Yang Terlupakan dari Sosok Awak Kabin
Selain jarang terjadi delay, penerbangan di pagi hari juga berarti Anda akan menggunakan pesawat yang notabene masih bersih, karena pada dasarnya, petugas kebersihan selalu membersihkan pesawat di pagi hari – walaupun tidak menutup kemungkinan jika pesawat juga akan dibersihkan ketika tengah ‘bersandar’ di tengah operasi hariannya.
“Jika Anda bisa sampai di tujuan pada pagi hari, itu berarti Anda masih memiliki banyak waktu untuk bersantai dan tidak tergesa-gesa,” tambah Stella.
Kalau sudah mendengar penjelasan logis seperti ini dari seorang awak kabin, apakah Anda akan mengubah persepsi Anda tentang terbang di pagi hari?
