Mulai 30 April, Cathay Pacific Pindah dari Terminal 2 Ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Maskapai asal Hong Kong, Cathay Pacific besok (30/4/2019) akan berpindah layanan operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dari Terminal 2 ke Terminal 3. Perpindahan ini akan melengkapi maskapai internasional yang ada di Terminal 3. Baca juga: Dua Pilot Cathay Pacific Kehilangan Pandangan Saat Mengudara, Ada Apa? Pada perpindahan ini sendiri penumpang dengan nomor penerbangan CX719 dan CX797 pada 29 April 2019 keberangkatan dari Hong Kong akan menjadi yang pertama turun di Terminal 3 ini karena tiba dini hari di Jakarta. Senior Manager Of Branch Communication and Legal Bandara Soetta Febri Toga Simatupang mengatakan adanya perpindahan ini untuk menjaga kenyamanan dan kelancaran operasional di Bandara Soetta. Karena adanya perpindahan terminal, PT Angkasa Pura II berharap agar pengguna jasa datang lebih awal dari jadwal penerbangan. “Penumpang minimal datang dua jam sebelum keberangkatan,” ujar Febri yang dikutip KabarPenumpang.com dari antaranews.com (26/4/2019). Lokasi konter check in Cathay Pacific akan berada di island C dan D. Dengan adanya perpindahan operasional maskapai yang berbasis di Hong Kong tersebut, Febri berharap, agar para penggun jasa memperhatikan pesan yang disampaikan maskapai. “Kami berharap agar pengguna jasa memperhatikan pesan yang disampaikan pihak maskapai baik itu berupa email, tiket atau petunjuk lainnya. Mohon untuk diperhatikan lokasi terminal dan area konter check in,” tambah Febri. Bandara Soetta sendiri telah menerapkan konsep Smart Connected Airport lengkap dengan sejumlah fasilitas teknologi canggih. Diantaranya konsep Smart Mobility, Smart Security, dan Smart Environment. Konsep Smart Mobility akan meningkatkan Airport Digital Journey Experience untuk penumpang, seperti otomatisasi dari Skytrain, dengan tanpa pengemudi dan peningkatan headway menjadi hanya lima menit. Country Manager Cathay Pacific Indonesia Chris Bowden mengatakan bahwa pengalaman bandara merupakan salah satu penting dari perjalanan untuk para pelanggan. “Manfaat yang dihasilkan dari mengadopsi sistem otomatis di bawah konsep Digital Journey Experience bandara akan membuat perbedaan nyata dan kami bersemangat untuk segera memberikan pelanggan kami opsi yang meningkat dan kenyamanan yang lebih besar,” kata Chris. Kehadiran Cathay Pacific di Terminal 3 secara resmi menjadikan terminal ini khusus internasional terkecuali penerbangan domestik Garuda Indonesia. Berikut ini maskapai internasional yang beroperasi di Terminal 3 yakni Air China, All Nipon Airlines (ANA), Asian Airlines, China Airlines, China Eastern, China Southern, Citilink Indoneisa, Emirates Airlines, Ethiopian Airlines, Etihad Airways, Eva Air. Baca juga: Cathay Pacific Beri Diskon 20 Persen untuk Pembelian Ekstra Bagasi 24 Jam Sebelum Keberangkatan Adapula Garuda Indonesia, Japan Airlines, KLM Royal Dutch Airlines, Korean Air, Malaysia Airlines, Oman Air, Philipines Airlines, Qantas Airways, Royal Brunei Airlines, Saudi Arabian Airlines, Shenzhen Airlines, Singapore Airlines, Srilanka Airlines, Thai Airways, Turkish Airlines, Vietnam Airlines dan Xiamen Air. Adapun Cathay Pacific mengoperasikan hingga empat layanan harian dari Jakarta ke Hong Kong, dari Denpasar dan Surabaya ke Hong Kong.

KA Argo Bromo Anggrek, Sejarah Pertama Varian Keluarga Kereta “Argo”

Selang tiga tahun sejak Stasiun ‘layang’ Gambir diresmikan pada tahun 1992, di tahun 1995 diwarnai momen penting dalam dunia perkeretaapian. Persisnya di era Presiden Soeharto tersebut PT KAI (d/h Perumka) untuk pertama kalinya merilis varian kereta eksekutif “Argo” dan lokomotif penarik CC203 yang langsung didatangkan dari Amerika Serikat. Dan mengawali hadirnya keluarga Argo, maka tak bisa dilepaskan dari ikon KA Argo Bromo Anggrek yang melayani rute Stasiun Gambir – Stasiun Pasar Turi. Baca juga: Jadi ‘Paket’ Pada Peluncuran KA Argo, Ini Dia Lokomotif CC203 Penarik Kereta Eksekutif Dirunut dari sejarah, KA Argo Bromo Anggrek ini diresmikan pada 31 Juli 1995 oleh Presiden Soehato, pada kesempatan yang sama juga diluncurkan KA Argo Gede yang melayani rute Stasiun Gambir – Stasiun Bandung. KA Argo Bromo Anggrek dan Argo Gede hadir untuk menandai Hari Teknologi Nasional yang jatuh pada 12 Agustus dan Hari Kemerdekaan Indonesia ke 50 tahun. KA Argo Bromo Anggrek punya label JS-950 yang berarti relasi Jakarta-Surabaya ditempuh sembilan jam perjalanan. Dua tahun kemudian tepatnya pada 24 September 1997, Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) meluncurkan kereta api baru menggunakan rangkaian kereta berbogie K9 yang masih beroperasi hingga kini. Ini menjadi kereta generasi kedua untuk Argo Bromo Anggrek yang mengusung jargon JS-852 yakni dari Jakarta-Surabaya ditempuh selama kurang lebih delapan jam 30 menit dan dioperasikan untuk memperingati 52 Kemerdekaan Indonesia. Pada masanya, KA ini adalah unggulan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) karena lebih bagus dari yang lainnya. Fasilitasnya pun lebih baik dari KA eksekutif lainnya seperti sandaran kaki, toilet dan pintu masuk otomatis. Kereta ini adalah satu-satunya yang menggunakan bogie tipe K9/CL243 bolsterless, yaitu bogie yang dikembangkan bersama Alstom dari Perancis, yang terkenal nyaman dan menggunakan suspensi udara, serta mampu berlari hingga 120 km per jam. Pada masa-masa awal pengoperasiannya, Kereta api Argo Bromo Anggrek pernah memiliki kelas Super Eksekutif (penomorannya diawali dengan KZ), yang dioperasikan selama beberapa waktu. Kereta KZ memiliki fasilitas yang lebih dari kelas eksekutif biasa, yaitu dengan adanya komputer dan kursi yang lebih lega. Kereta api ini juga diutamakan di setiap persilangan. Namun, kiprah kereta KZ ini tidak bertahan lama karena pada akhirnya kereta kelas ini kembali diubah menjadi kereta eksekutif pada umumnya. Kereta api ini sempat berjalan bersama dengan pendahulunya, JS-950 Argo Bromo (non-Anggrek) hingga berhenti beroperasi awal dekade 2000-an seiring kebijakan rasionalisasi yang dilakukan oleh PT KA. Sejak dihapusnya kereta api JS-950 Argo Bromo, rangkaian keretanya dihibahkan kepada KA Bima. Baca juga: Kereta Sleeper Berada di Rangakaian KA Argo Bromo Anggrek, Ini Fasilitas Mewahnya Rangkaian ini juga sempat mengalami sekali retrofit di PT INKA sekitar 2000-an akhir dan itu mengubah warnanya dari pink menjadi ungu, meskipun tidak semua kereta Anggrek K9 ini mengalami proses retrofit. Ternyata, nama Argo Bromo Anggrek sendiri diambil dari nama gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur.  

Absennya Fitur Keselamatan di Bangku Belakang Mobil Sebabkan Penumpang Cidera Dada

Layaknya pada kebanyakan mobil, penumpang yang ada di bangku belakang seolah kurang mendapatkan perhatian dari segi pengamanannya. Kehadiran airbag yang digadang-gadang sebagai instrumen keselamatan nyatanya hanya ada pada bangku bagian depan saja, dan penumpang yang ada di belakang hanya mendapatkan sabuk pengaman sebagai instrumen keselamatannya. Lalu, apakah kehadiran sabuk pengaman di bangku belakang mampu untuk meminimalisir korban semisal terjadi sebuah kecelakaan? Baca Juga: Sabuk Pengaman Juga Bisa Berakibat Fatal, Lho! Sayangnya, menurut studi yang dilakukan oleh Insurance Institute for Highway Safety (IIHS) menyebutkan bahwa penumpang yang berada di bangku belakang memiliki tingkat keselamatan yang lebih rendah ketimbang yang ada di bangku depan. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman carsdirect.com (25/4/2019), ini bukan kali pertama IIHS melakukan riset tentang keselamatan penumpang yang ada di bangku belakang. Sebelumnya, di tahun 2014, IIHS juga telah melakukan riset yang berbuah pada temuan korban cidera dalam sebuah kecelakaan pada bangku belakang, tidak terkecuali anak kecil dan orang dewasa – kendati mereka menggunakan sabuk pengaman. Kebanyakan penumpang yang berada di bangku belakang mengalami cidera pada bagian dada ketika terjadi sebuah kecelakaan. Cidera ini disinyalir terjadi karena korban mengenakan sabuk pengaman. Ya, hentakan yang kuat ketika mobil mengalami kecelakaan akan berdampak pada hadirnya sebuah daya dorong ke arah depan dan faktor inilah yang melandasi terjadinya cidera pada bagian dada penumpang yang duduk di bangku belakang. Terlebih ketika sabuk pengaman pada mobil-mobil keluaran terbaru yang memiliki fitur anti-hentak, dimana ketika Anda menghentak sabuk pengaman ketika dikenakan, maka sabuk pengaman tersebut akan berada pada kondisi ‘terkunci’ yang dimaksudkan agar bisa menahan tubuh penumpang agar tidak terpental ke depan. Baca Juga: Ternyata, Sabuk Pengaman Lindungi Anda dari Lima Arah Masalah ini tentu menjadi pokok pembahasan para produsen mobil, namun sayangnya, hanya mobil-mobil kelas menengah ke atas saja yang memiliki fitur airbag pada bagian belakangnya. Ya, diharapkan dengan adanya fitur ini, dapat meminimalisir korban yang jatuh akibat suatu kecelakaan. Ambil contoh produk Ford, dimana fitur keselamatan bagi penumpang di bangku belakang ini baru ada di Ford Fusion Titanium dan Ford Explorer Platinum.  

Lion Air Group (Wings Air) Bersiap Terima ATR-72 600 Ke-80

Wings Air bagian dari Lion Air Group, maskapai dalam negeri yang kondang mengoperasikan pesawat turbo propeller, diwartakan akan segera menerima pesawat ATR-72 600 ke-65. Pesawat ini diterbangkan langsung dari pusat perakitan pesawat ATR (Aerei da Trasporto Regionale atau Avions de Transport Régional) Aircraft di Toulouse Blagnac, Perancis (TLS). Secara keseluruhan, ATR-72 600 ke-65 Wings Air juga menjadi pesawat ke-80 yang diterima Lion Air Group untuk jenis yang sama, lantaran pesawat jenis ini juga digunakan oleh Malindo Air dan Thai Lion. Baca juga: Alih Operasi ATR dari Garuda Indonesia ke Citilink Selesai di 2020 Dikutip dari siaran pers Lion Air Group (27/4), pesawat ATR 72-600 telah dicat bercorak khusus (special livery 80th) akan dikirimkan pada tahun ini, saat ini masih dilakukan beberapa persiapan termasuk dokumentasi. Dengan demikian, nantinya melengkapi kekuatan jajaran armada yang saat ini dioperasikan oleh Wings Air, yaitu 45 ATR 72-600 dan 19 ATR 72-500. Pesawat dengan kode penerbangan PK-WJQ ini merupakan bagian komitmen perusahaan menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan tingkat kenyamanan travelers, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan serta keamanan penerbangan (safety first). Wings Air mengharapkan, kehadiran pesawat baru akan lebih menjadikan pengalaman perjalanan wisatawan dan pebisnis senantiasa berkesan, karena bisa bepergian menggunakan ATR 72-500 atau ATR 72-600, pesawat turboprop asal Perancis yang berkapasitas 72 penumpang dalam kelas ekonomi.
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Fitur kenyamanan di pesawat ini lebih menawarkan sensasi di setiap perjalanan antara lain pintu untuk penumpang hanya satu diletakkan di bagian belakang pesawat sebelah kiri dan pintu kargo terletak di depan sebelah kiri. Dari sisi teknologi, ATR 72-600 dibekali interior yang dirancang lebih futuristik, sehingga dinilai bisa meningkatkan layanan terbaik. Beberapa keuntungan diantaranya travelers serasa menikmati jet pribadi karena konfigurasi kursi mempunyai tata letak 2-2. ATR 72-600 dikenal sebagai pesawat baling-baling (propeller) modern dan canggih di kelasnya, antara lain menggunakan teknologi avionik terbaru serta fitur “synthetics runway visions” yaitu sistem yang mampu memberikan bantuan visualisasi runway saat mendarat. Selain itu memberikan keuntungan karena ramah lingkungan (emisi rendah), bahan bakar lebih hemat dengan efisiensi biaya perawatan. Baca juga: Wings Air Resmi Buka Rute Makassar – Maumere – Labuan Bajo dengan ATR-72 Wings Air dengan ATR 72 berperan sebagai feeder (penghubung) penumpang dan distribusi barang dari bandar udara setingkat kecamatan/ kabupaten khususnya setingkat kabupaten. ATR-72 600 didesain mampu lepas landas dan mendarat di panjang landas pacu (runway) kurang dari 1.600 meter.

Lion Air Group Sabet Gelar Maskapai Penyumbang 5 Besar Trafik Penumpang di Bandara Changi

Lion Air Group yang menaungi maskapai Lion Air, Batik Air, Malindo Air dan Thai Lion Aoir, baru saja mendapatkan penghargaan sebagai lima maskapai teratas yang paling banyak menyumbangkan penumpang di Bandara Internasional Changi, Singapura. Selama tahun 2018, Lion Air Group mengoperasikan 15 layanan penerbangan harian (regular flight) ke Changi dan telah mengangkut sekitar 1,4 juta penumpang. Lion Air Group mengoperasikan lebih dari 100 keberangkatan menuju Changi setiap minggunya. Baca juga: “Ogah Rugi, Cari Paling Murah dan Tidak Ada Pilihan,” Jadi Momok Pemumpang Pesawat di Indonesia Pergerakan tersebut melayani dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK): Lion Air enam kali sehari dan Batik Air tiga penerbangan harian; Thai Lion Air tiga penerbangan per hari dari Bandar Udara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand (DMK) serta Malindo Air memiliki empat penerbangan setiap hari dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia (KUL). Anugerah yang dicapai Lion Air Group diberikan untuk kategori (Top 5 Airlines and Airline Groups by Passenger Carriage) dalam acara Penghargaan Bandar Udara Internasional Changi ke-14 (14th Changi Airline Awards). Dikutip dari siaran pers Lion Air (26/4), Ajang Changi Airline Awards 2019 diserahkan langsung Changi Airport Group (CAG) Chief Executive Officer (CEO), Mr. Lee Seow Hiang kepada Managing Director Lion Air Group, Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi di Singapura. Penghargaan ini merupakan ketiga kali yang diterima Lion Air Group. Pada 2017 dan 2018 Lion Air Group telah memperoleh award serupa sejalan pengembangan empat perusahaan yaitu Lion Air, Batik Air dari Indonesia; Malindo Air dari Malaysia dan Thai Lion Air dari Thailand. Kehadiran Lion Air Group di Singapura untuk menjawab tingginya permintaan perjalanan udara selama ini serta sekaligus mempertegas kesungguhan Lion Air Group dalam memperluas konektivitas regional. Oleh karena itu, Lion Air sangat antusias terus mengembangkan network dari dan ke Changi. Dengan demikian, akan membawa lebih banyak pengunjung menuju ke tiga negara dimana Lion Air Group beroperasi dari Singapura. Singapura telah menempatkan salah satu bandar udara penghubung (hub) utama bagi konektivitas airlines dan travelers. Lion Air Group menantikan pertumbuhan berkelanjutan sehingga bisa membentuk dan melengkapi lalu lintas udara Singapura ke berbagai kota/ negara tujuan. Lion Air Group mengharapkan Bandara Changi akan semakin banyak membuka dan memberikan slot prime time untuk seluruh jaringan. Lion Air Group. Tujuan utama lebih memberikan kualitas penerbangan, tersedianya pilihan jadwal yang disesuaikan kebutuhan travelers serta dapat melakukan ekspansi dengan menambah rute baru menambah frekuensi terbang. Dengan bertambahnya kapasitas, Lion Air Group optimis dapat mendukung dalam meningkatkan investasi pada sektor ekonomi dan pariwisata di Singapura dengan Indonesia, Malaysia dan Thailand. Baca juga: Q1 2019, Lion Air Capai Level On Time Performance 85,97 Persen Frekuensi penerbangan Lion Air Group
Maskapai Rute Frekuensi Terbang
Lion Air Soekarno-Hatta – Singapura 6 kali per hari
Batik Air Soekarno-Hatta – Singapura 3 kali per hari
Malindo Air Kuala Lumpur – Singapura 4 kali per hari
Thai Lion Air Don Mueang – Singapura 2 kali per hari
   

NYC Cycleboats, Wahana kayuh Bersama Penjelajah Liberty Harbor Marina

Warga kota New York sebentar lagi akan memiliki wahana wisata baru, dimana ini juga merangkap sebagai sarana transportasi. Adalah NYC Cycleboats, rencananya akan diluncurkan pada 3 Mei mendatang, dimana wahana berbentuk kapal kayuh ini mampu menampung 16 orang. Ya, sesuai dengan namanya, penumpang harus mengayuh guna menggerakkan NYC Cycleboats ini. Kelak, wahana ini akan membawa penumpang berkeliling di sekitaran Liberty Harbor Marina. Baca Juga: Perahu Getek, Riwayatmu Kini Wahana ini tercetuskan manakala seorang pengusaha bernama Christopher Coscia tegah berlibur di Chicago dan melihat wahana serupa di sana. Kala itu, Christopher mengatakan bahwa New York membutuhkan wahana cycleboats dan iapun langsung ‘menggoreng’ idenya tersebut hingga matang. “Saya sedang berada di Chicago untuk berlibur dan melihat cycleboats di sungai, dan saya rasa, New York membutuhkan moda semacam ini,” ujar Christopher, sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman workboat.com (25/4/2019). “Saya juga telah berkoordinasi dengan pihak Coast Guard, dan secara kebetulan saya juga memiliki kapten kapal beserta kru kapal yang berlisensi untuk sesegera mungkin mewujudkannya di New York City,” tandasnya. Di beberapa lokasi lain, wahana cycleboats ini bukanlah lagi menjadi sebuah barang baru. Sebut saja di Oregon yang telah terlebih dahulu memiliki wahana serupa yang diberi nama Cascade Cycleboats.
Pedal yang terletak di bagian bawah meja memungkinkan Anda untuk tetap bercengkrama, kendati harus mengayuh. Sumber: istimewa
Pada dasarnya, cycleboats merupakan moda gabungan antara sepeda dan kapal, dimana seperti yang sudah disinggung di atas, para penumpang harus mengayuh pedal yang berada di bawah kaki mereka untuk menggerakkan kapal. Pedal-pedal tersebut terkoneksi langsung dengan bilah kipas yang berada di belakang kapal dan ketika pedal dikayuh, maka bilah kipas akan berputar dan kapal akan bergerak maju. Baca Juga: Surga Kanal Transportasi, Tak Hanya di Venesia Lho! Berbeda dengan sepeda, cycleboats memiliki kemudi yang dikendalikan oleh seorang kapten yang siap untuk membawa Anda berkeliling lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya. Jadi, Anda hanya perlu mengayuh, bercengkrama dengan rekanan Anda, menikmati pemandangan sembari menenggak minuman beralkohol kadar rendah. Tentu saja, ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Bagi NYC Cycleboats sendiri, rencananya tarif yang akan dikenakan untuk tur Patung Liberty ini berkisar di antara US$44 (Rp624.000) hingga US$49 (Rp695.000). Sementara bagi Anda yang hendak menyewa kapal ini secara keseluruhan, Anda akan dikenakan biaya US$490 hingga US$550. Nah, bagaimana? Cukup menarik bukan?  

Di Telkomsel IIMS 2019, Suzuki Luncurkan “New Carry Angkutan Kota”

Meski didominasi oleh kendaraan-kendaraan pribadi keluaran terbaru, di Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 ada sosok wahana angkutan umum yang lumayan membetot perhatian. Persisnya di booth Suzuki diperlihatkan varian New Carry Angkutan Kota. Dengan cat biru khas angkot Ibu kota, Anda yang bertandang ke booth Suzuki mungkin akan langsun membayangkan saat angkot ini beroperasi di jalanan Jakarta. Baca juga: Jeepney, Angkot Khas Filipina Dengan Sejuta Ornamen Pelengkapnya Seolah ingin mengajak bernostalgia, di Telkomsel IIMS 2019, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menghadirkan New Carry dalam beberapa varian. Selain varian angkot, Suzuki menampilkan New Carry Ambulance, New Carry Box dan New Carry Moko (Mobil Toko) yang sesuai untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia. Untuk New Carry Angkutan Kota hadir dengan bodi yang terbuat dari plat besi, pintu model lipat, jendela model geser, footstep yang terbuat dari aluminium bordes, lampu trayek, serta jok berkapasitas sebelas penumpang. Spesifikasi kendaraan ini punya panjang 4.415 mm, lebar 1.675 mm, dan tinggi 2.200 mm, New Carry Angkutan Kota disebut-sebut dapat memberi kenyamanan bagi penumpang serta keuntungan lebih bagi pengusaha. Angkot baru ini ditenagai mesin bensin empat silinder 1.5 liter (1.462 cc) dengan teknologi DOHC 16 valve yang mampu mengeluarkan tenaga maksimum 97 PS pada putaran mesin 5.600 rpm dan torsi puncak 135 Nm pada 4.400 rpm. Mesin ini diklaim lebih irit 15 persen daripada mesin Carry generasi sebelumnya dalam kondisi ideal. Baca juga: Hapus Angkot Keluaran Karoseri, Organda DKI Gunakan Angkot Keluaran ATPM Sebagai angkutan kota, New Carry ini masih menggunakan pintu penumpang model lipat dan jendela geser. Ciri khas angkot ini mengusung lampu belakang model karimun dan footstep dari aluminium bordes.

Penasaran dengan Bagian dalam Menara ATC? Beginilah Gambarannya!

Terkenal sebagai bagunan paling tinggi menjulang di area bandara, tidak sembarang orang boleh menapakkan kaki ke menara Air Traffic Control atau yang akrab disingkat menara ATC. Seperti sudah mendarah daging di stigma kebanyakan orang, “semakin dilarang, maka semakin penasaran.” Nah, kira-kira apa saja yang dilakukan oleh petugas yang ada di dalam sana? Dan seperti apa pemandangan yang tersaji dari atas menara ATC? Penasaran kan? Baca Juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, bagian paling atas dari menara ATC disebut Aerodrome Control Traffic. Petugas yang ada di bagian paling atas dari menara ATC ini berkoordinasi langsung dengan Ground Control untuk mengatur pergerakan pesawat ketika masih berada di darat. Selain itu, petugas Aerodrome Control Traffic juga memiliki wewenang untuk memberikan ijin kepada pilot untuk lepas landas (clear for take-off) dan mendarat (clear to land). Dari tugas sederhananya saja, sudah terbayangkah oleh Anda betapa ribetnya peran seorang petugas Aerodrome Control Traffic? Ya, selain itu, para “pegawai tinggi” ini juga harus paham betul tentang semua tipe dan dimensi/ukuran pesawat. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan mereka ketika tengah mengatur pergerakan pesawat yang hendak mengudara – agar tidak tabrakan dengan pesawat lainnya.
Gambaran peralatan di dalam menara ATC. Sumber: istimewa
Sementara itu, untuk visualisasi kondisi ruangan Aerodrome Control Traffic ini tampak seperti ruang kontrol yang dipenuhi oleh alat-alat yang akan menunjang kinerja dari seorang petugas ATC. Mulai dari komputer, pesawat telepon (untuk kepentingan komunikasi dan koordinasi), radar, dan alat-alat lain yang akan melancarkan setiap penerbangan Anda. Nah sementara untuk pemandangannya, bisa dibilang inilah salah satu fitur penunjang yang akan membuat petugas ATC betah – walaupun lama kelamaan akan bosan juga. Ya, Anda dapat melihat pemadangan di sekeliling Anda 360 derajat. Sebagai bangunan paling tinggi di komplek, maka sudah sewajarnya pemandangan Anda tidakakan terhalang oleh bangunan apapun yang melebihi tinggi dari menara ATC. Baca Juga: Ternyata! Pendapatan Petugas ATC Jauh Lebih Tinggi dari Seorang Pilot Ambil contoh menara ATC Bandara I Gusti Ngurah Rai yang ada di Pulau Dewata, Bali. Dari atas sini, Anda dapat melihat hamparan laut biru hingga panorama sun set yang selalu setia menghibur kepenatan dari petugas Aerodrome Control Traffic. Pun dengan penampakan Selat Bali dan Selat Lombok yang juga dapat Anda lihat dari atas sini. Wah, semoga pemaparan di atas tidak membuat Anda nekat untuk menyelinap masuk ke dalam menara ATC ya!  

Mengenal Non-Terrestrial Hostile, Satu Faktor yang Sumbang Tingkat Flying Stress Pada Pilot!

Setelah pada artikel sebelumnya telah dijelaskan tentang faktor-faktor apa saja yang mampu membuat seorang pilot mengalami flying stress ketika tengah bertugas, maka pembahasan kali ini sedikit lebih spesifik mengenai salah satu faktor yang melatarbelakangi hal tersebut. Baca Juga: Kenali Flying Stress, Situasi yang Bisa Buyarkan Konsentrasi Penerbang Sebenarnya, apabila Anda tidak memiliki trauma atau phobia terhadap ketinggian, maka mengudara dengan menggunakan pesawat bukanlah hal yang aneh. Lalu apa jadinya dengan pilot yang harus menghabiskan banyak waktunya di udara? Terlebih jika pilot tersebut sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi – bukan tidak mungkin apabila ia harus menerbangkan penumpang sampai puluhan jam lamanya. Dalam ilmu psikiatrik dirgantara, lingkungan penerbangan kerap disebut pula lingkungan yang non-terrestrial hostile. KabarPenumpang.com mengutip dari majalah Angkasa, sesuai dengan namanya saja, mengudara merupakan suatu kegiatan abnormal karena pada dasarnya manusia lebih banyak menghabiskan waktu di darat. Ya, bekerja di udara bagi manusia memang bukan satu pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan, dimana nyawa mereka sendiri dan para penumpang beserta awak kabin yang ada di dalam suatu penerbangan seolah ‘dikendalikan’ oleh kepiawaian para pilot untuk menerbangkan pesawat – terlepas dari faktor eksternal seperti pesawat dan cuaca. Selain kepiawaian pilot untuk mengemudikan pesawat, tantangan lain yang harus dijabani oleh mereka adalah beradaptasi dengan ruang lingkup pekerjaan mereka, yaitu di udara. Tidak hanya sebatas beradaptasi dengan suasana di ruang kokpit hingga di luar kaca kemudi – dimana para pilot disapa oleh hamparan awan biru ketika siang hari dan taburan bintang di malam hari, namun mereka juga harus tahan banting dan kemampuan untuk bereaksi secara cepat dan tepat. Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan! Nah, tapi seperti yang sudah disebutkan di atas, non-terrestrial hostile ini memang yang paling mudah dirasakan oleh para pilot muda. Dapatkah Anda membayangkan jika meja kerja Anda digantikan oleh puluhan hingga ratusan tombol dan panel yang masing-masingnya memiliki fungsi tersendiri, dan Anda akan ‘terjebak’ pada situasi ini dalam rentang waktu tertentu yang tidak bisa Anda prediksi (lama masa abdi Anda sebagai pilot). Jadi, bagi Anda yang masih punya angan untuk jadi seorang pilot, ada baiknya Anda pastikan diri terlebih dahulu sebelum menopang tanggung jawab yang super besar!  

Penumpang Perempuan Baiknya Tidak “Lenje” di Transportasi Online

Salahkah bila seorang penumpang terlalu akrab dengan pengemudi transportasi online? Apakah ini bisa berdampak bagi penumpang seperti mendapat kejahatan baik secara fisik atau psikis? Baca juga: [Update] Tips Aman Buat Wanita Penumpang Taksi Online, “Jangan Tidur Bila Sendirian” Tenyata dengan kelenjean alias sok akrab dengan seorang pengemudi transportasi online juga bisa berdampak buruk. Apalagi penumpang perempuan kerap kali seperti curhat dengan sang pengemudi dan biasanya ditanggapi dengan senang hati. Bahkan pengemudi juga sering memberikan tanggapan positif tetapi ada juga yang menanggapi curhatan itu sebagai kesempatan untuk berbuat pelecehan pada penumpang perempuan tersebut. Pasalnya beberapa hal yang pernah terjadi, seperti saat masa kampanye pemilihan presiden lalu, seorang penumpang diturunkan jauh dari tujuannya hanya karena perbedaan pilihan oleh sang pengemudi. Tak hanya itu, pelecehan seksual juga bisa terjadi karena penumpang terlalu akrab. Komnas Perempuan mengatakan, pihaknya mendapat laporan dua penumpang transportasi online dilecehkan saat naik tapi tidak dijelaskan awal masalahnya. Selain itu, pengemudi seperti merasakan sudah mengenal dekat dengan Anda. Seorang psikolog keluarga Veny Mulyani mengatakan, setiap penumpang yang berkomunikasi dengan pengemudi baiknya sewajarnya saja. Menurutnya setiap penumpang perlu bersikap ramah tapi dengan tatanan kesopanan yang semestinya saja tanpa berlebihan. Veny menambahkan, bila dalam perjalanan pengemudi menyanyakan informasi pribadi dan bersifat privasi, sebagai seorang penumpang boleh untuk tidak menjawabnya. “Pengemudi transportasi online butuh memberikan impresi yang baik dengan menunjukkan keramahan pada penumpang. Karena ini bagian dari service mereka. Nah kalau penumpang bisa mengabaikan atau mengatakan secara langsung pada pengemudi bila keberatan dengan pertanyaan yang menyangkut hal pribadi,” ujarnya yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (25/4/2019). Baca juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman! Dia menambahkan, bahwa feedback kejujuran pada pengemudi dengan pertanyaan yang tidak berkenan tersebut bisa menjadi masukan bagi pengemudi. Direktur tata Kelola Aptika Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Maria Fatimah Barata mengatakan, data penumpang perempuan yang menggunakan transportasi online mencapai 56 persen dan bisa dikatakan banyaknya sebanding dengan penumpang laki-laki.