Lima Restoran ini Gunakan Body Pesawat Sebagai Lapak Jualannya

Makan makanan yang ada di dalam pesawat tentu akan menguras kocek Anda karena makanan di sini terkenal tidak bersahabat dengan dompet dan tentu saja pilihan penganannya terbatas – karena kebanyakan makanan di dalam pesawat merupakan buatan dapur maskapai terkait. Namun apa jadinya jika Anda menemukan penganan semacam fast food atau makanan lain yang jarang Anda temui di setiap maskapai? Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah Tentu saja hal semacam ini tidak terjadi di dalam sebuah penerbangan domestik atau internasional, melainkan di pesawat-pesawat yang sudah tidak beroperasi lagi. Ya, sama seperti sejumlah orang-orang kreatif yang pernah diberitakan sebelumnya, berikut adalah lima tempat makan yang menggunakan badan pesawat sebagai ‘lapaknya’ untuk berjualan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (22/4/2019). McDonald’s
Kalau di sini, ada patung Ronald (ikon McDonald’s) nggak ya? Sumber: istimewa
Jika Anda tengah berkesempatan mengunjungi kota Taupo di Selandia Baru, maka Anda akan menemukan sebuah pesawat Douglas DC-3 yang sudah bertransformasi menjadi restoran cepat saji, McDonald’s. Setelah sekitar 24 tahun sejak penerbangannya yang terakhir, pesawat ini beroperasi kembali, namun tidak untuk mengudara – melainkan jadi tempat makan. McDonald’s dengan desain nyentrik ini sendiri mampu menampung hingga 20 pengunjung dan sudah beroperasi sejak tahun 2014 silam. Steaks on a Plane
Lho, bagian sayapnya kemana?! Sumber: The Bolton News
Restoran yang berada di Bolton, Inggris ini menggunakan body pesawat Boeing 737 milik maskapai Rusia yang sudah tidak digunakan lagi. Sesuai dengan namanya, pemilik restoran, Zahid Kadva menyajikan berbagai penganan cepat saji yang siap untuk menggugah selera Anda – mulai dari burger, steak, hingga beragam cemilan. El Avion
Terkesan seram sih, tapi unik banget! Sumber: The Costa Rican Times
Ini merupakan sebuah restoran yang ada di Kosta Rika, dimana jika namanya diterjemahkan ke Bahasa Inggris memiliki arti the plane atau pesawat terbang. Menggunakan body dari pesawat Fairchild C-123 sebagai lapak pengunjung untuk menkmati hidangan, restoran ini lebih memilih menu seafood sebagai menu andalannya – sebut saja cumi goreng, udang kelapa, hingga kari seafood merupakan sedikit dari hidangan yang tersedia di sini. Runway 1
Wah, ternyata bisa makan di bagian sayapnya juga! Masih kurang romantis? Sumber: curlytales.com
Terletak di India, restoran yang diinisiasi oleh pasangan ayah-anak Kuldeep Kakkar dan Kshitij Kakkar pada tahun 2017 ini menggunakan body dari Airbus A320 yang sudah memasuki masa pensiun. Uniknya, Anda harus terlebih dahulu mem-booking seat di restoran ini sebelum bisa menikmati sensasi uniknya! Baca Juga: Ada Sosok Boeing 737 Misterius di Bali, Kini Jadi Obyek Foto Favorit Para Pelancong Plane in the City
Ini dia penampakan restoran fine dining unik di Malaysia, Plane in the City!. Sumber: malaymail.com
Mungkin diantara keempat restoran di atas, Plane in the City inilah yang paling eksklusif, karena masing-masing pengunjung hanya diberi batas waktu 90 menit saja untuk berada di dalam pesawat. Selain itu, paket fine dining di atas body pesawat Boeing 737 yang ditawarkan oleh Plane in the City ini mencapai 999 ringgit atau yang berkisar Rp3,4 juta! Wah, bagi Anda yang memiliki kantong tebal dan kebetulan lagi ada di Malaysia, sepertinya restoran ini tidak boleh Anda lewatkan begitu saja deh!

Mampu Menemukan Orang-orang Hebat, Inilah Rahasia Sukses Tony Fernandes

Namanya belakangan ini menjadi buah bibir sebagian kalangan setelah tersiar kabar tentang putusnya hubungan antara Traveloka dengan AirAsia. Ya, dia adalah Anthony Francis Fernandes atau yang akrab disapa Tony Fernandes, CEO dari AirAsia. Sebelum memegang jabatan paling tinggi di tubuh maskapai berbiaya rendah asal Malaysia ini, siapa sangka Tony sempat menelan pil pahit berkali-kali. Sama seperti Jack Ma (founder Alibaba), Tony juga punya sejumlah tips yang mungkin dapat Anda implementasikan dan merengkuh kesuksesan dengan cara Anda sendiri. Ingin tahu? Baca Juga: Buntut Penembakan di Christchurch, CEO AirAsia Berhenti “Main” Facebook Sebelum berkutat dengan sektor aviasi global, Tony sempat memiliki posisi sebagai salah satu eksekutif di Warner Music – hingga pada akhirnya di tahun 2001, ia memutuskan untuk keluar dai zona nyamannya dan mencoba peruntungan di dunia kedirgantaraan. Bermodalkan sebuah pesawat bekas seharga satu ringgit atau yang berkisar Rp3.500 (kurs sekarang), Tony ternyata bisa mewujudkan sesuatu yang terlihat mustahil di awal, menjadi sesuatu yang sangat berharga di masa yang akan datang. Memang, Tony membutuhkan waktu dan kesabaran yang tinggi guna mendatangkan keuntungan bagi perusahaan yang ia dirikan tersebut. KabarPenumpang.com mengutip dari laman cnbc.com (14/4/2019), pendapatan AirAsia di tahun 2018 kemarin mencapai angka 10,6 miliar ringgit atau yang berkisar Rp36,3 triliun kurs sekarang. Jika disederhanakan, maka Tony beserta orang-orang hebat yang terus setia mendampinginya ini membutuhkan waktu sekitar 17 tahun untuk terus bekerja keras hingga menrengkuh kesuksesan. Jika Jack Ma selalu berupaya untuk menularkan kegigihannya kepada masyarakat berlandaskan pengalaman pribadinya, berbeda dengan Tony yang sempat menyinggung tentang salah satu kelebihan dirinya dalam memutar roda ekonomi. “Ketika ditanya soal kekuatan yang saya miliki, jika punya, maka itu adalah cara saya untuk menemukan orang-orang hebat di luar sana,” ujar Tony dalam sebuah konferensi pers di Singapura beberapa waktu yang lalu. Baca Juga: AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh Tentu saja, kemampuan Tony dalam merekrut orang-orang hebat tersebut terbukti dengan bertumbuhnya AirAsia menjadi sebuah maskapai yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika di awal, Tony hanya mempekerjakan 200 pegawai dengan dua pesawat, kini ia membawahi lebih dari 20.000 orang pekerja dengan total armada mencapai 250 pesawat. “Jika Anda melihat tim saya, terdapat banyak orang yang dulu tidak berhasil atau ingin membuktikan sesuatu,” ujar Tony.  

Untuk Pertama Kali di Indonesia, Vanderhall Autocycle Hadir di Telkomsel IIMS 2019

Untuk pertama kalinya, vintage race car dengan desain futuristik klasik, Vanderhall Autocycle, ditampilkan di Indonesia. Mobil sport roda tiga ini menjadi salah satu ikon yang memeriahkan pameran otomotif Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo Kemayoran. Kendaraan dengan kursi tunggal ini dibuat hand made, dan langsung didatangkan dari Utah, Amerika Serikat. Autocycle dirancang khusus untuk kebutuhan sport, touring, dan pemakaian di dalam kota. Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia Vanderhall Autocycle menggunakan mesin 4 silinder 1,4 liter turbocharged besutan General Motors, dengan tenaga rata-rata 180-200 horsepower pada hotrod berbobot kurang dari satu ton. Autocycle punya kecepatan fantastis, untuk mencapai kecepatan 100 km per jam hanya membutuhkan waktu kurang dari lima detik. Roadster roda tiga kendaraan ini dapat mencapai kecepatan maksimum 225 km per jam.
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Selain hadir dengan mesin 1,4 liter, Vanderhall juga menawarkan mesin dengan kapasitas 1,5 liter empat silider turbocharged pada tipe Carmel dan electric motor pada tipe Edison. Carmel dapat berakselerasi dari 0 hingga 100 km per jam dalam 4,5 detik, dan kecepatan maksimum 222 km per jam. Vanderhall Motor Works didirikan pada tahun 2010 oleh CEO & owner Steve Hall. Menurut rencana, kendaraan roda tiga ini akan ditawarkan untuk pasar Indonesia. Untuk pemasaran di Indonesia, Vanderhall menggandeng PT SVI yang akan segera mengumumkan showroom yang akan dibuka di Jakarta, Surabaya dan Bali. Nah, Anda penasaran dengan harga Vanderhall Autocycle? Bila merujuk ke model yang ditampilkan di Telkomsel IIMS 2019, sejatinya adalah tipe Venice Speedster yang informasi dari situsnya disebutkan harga jualnya mulai dari US$26.900.

Ekspor 14 Bus ke Bangladesh, Karoseri Laksana Andalkan Sasis dari Scania

Tak hanya kereta api yang dipesan oleh Bangladesh, ternyata bus juga mulai diimpor negara tersebut dari Indonesia. Pasalnya perusahaan karoseri CV Laksana awal bulan April 2019 telah mengekspor bus ke Bangladesh dan serah terimanya akan berlangsung saat pembukaan Indonesia Fair 2019 di Dhaka. Baca juga: Karoseri Laksana Hadirkan Bus Legacy SR2 Double Decker Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, bus besutan karoseri Laksana akan diserahkan ke Shohagh Group yang merupakan mitra bisnis di Bangladesh. Indonesia Fair 2019 di Dhaka diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Karoseri Laksana mengekspor sebanyak 14 unit bus dan sepuluh diantaranya merupakan bus tingkat atau double decker. Penasaran tipe bus apa yang diekspor oleh karoseri yang berbasis di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah ini? CV Laksana mengekspor bus high decker berjenis SR2 XHD Prime yang dibanderol dengan harga Rp2,5 miliar per unit. Technical Head Manager Karoser Laksana Stefan Arman mengatakan, SR2 XHD Prime yang dijual ke pasar Bangladesh memiliki spesifikasi kurang lebih sama dengan unit yang dijual di Indonesia. Sementara untuk sasis dan engine menggunakan buatan Swedia (Scania), artinya, bus ini bakal pakai Scania dengan kode K360IB yang diklaim punya tenaga maksimal 360 dk di 1.900 rpm dan torsi 1750 Nm di 1350 rpm. Ternyata bus tersebut juga berbeda dari Indonesia. Dimana perbedaannya adalah bus yang diekspor tersebut hanya memiliki satu pintu untuk masuk dan keluar yang berada di bagian depan, sedangkan di bagian belakang tidak ada pintunya. Selain itu dari segi dimensi ternyata ada perbedaan, bus yang diekspor mempunyai dimensi yang lebih panjang dibanding bus yang dijual di Indonesia. Hal tersebut kata Arman sesuai dengan permintaah pihak Bangladesh. Begitu juga dengan fitur dan kapasitas mesin, bus yang diekspor ke Bangldesh dibekali dengan fitur lebih mewah dibanding yang ada di Indonesia, mesinnya pun memiliki kapasitas yang lebih tinggi. Ternyata karoseri Laksana bukan pertama kalinya melakukan ekspor bus besutannya. Sebab sebelumnya karoseri ini sudah mengekspor 200 unit armada busnya ke Fiji dan Timor Leste. Untuk dalam negeri bus buatan pabrik karoseri Laksana telah digunakan untuk armada TransJakarta. Baca juga: Ekspor Seribu Bus ke Bangladesh, CV Laksana Torehkan Penjualan Bus Terbanyak di Indonesia Bahkan bus-bus produksi CV Laksana sudah memiliki sertifikat keamanan dari Eropa setelah perusahaan berkolaborasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan sejumlah universitas di Indonesia dalam pengembangan standar keamanan bus.

“Ogah Rugi, Cari Paling Murah dan Tidak Ada Pilihan,” Jadi Momok Pemumpang Pesawat di Indonesia

Lebih dari satu bulan, nama Boeing 737 MAX menjadi sorotan publik dunia, pasca dua kecelakaan maut yang menyeret nama Ethiopian Airlines dan Lion Air sebagai operatornya. Upaya demi upaya, jawaban demi jawaban telah dilontarkan pihak Boeing yang terus diberondong pertanyaan hingga pernyataan negatif terkait kapabilitas dari pesawat jenis ini. Apabila pesawat jenis ini kembali mengudara di masa yang akan datang, akankah Anda mempercayakannya kembali? Baca Juga: Hasil Pertemuan dengan Boeing, Garuda Indonesia Ingin Tukar Pesanan 737 MAX 8 Tentu saja ini bukan pertanyaan yang mudah untuk di jawab – terlebih apabila Anda merupakan seorang yang cermat dalam menyikapi sesuatu. Apabila Anda termasuk seseorang yang punya trauma tersendiri terhadap suatu kejadian, mungkin Anda bisa lebih cermat sebelum memesan tiket perjalanan. Anda bisa menggali informasi lebih dalam tentang perjalanan yang hendak Anda lakukan di situs resmi maskapai terkait – seperti mencari informasi tentang jenis pesawat yang akan digunakan. Sialnya, prinsip ogah rugi, cari yang paling murah, dan tidak ada pilihan – sudah terlalu mengakar bagi kebanyakaan orang Indonesia. Tidak bermaksud ofensif, namun tiga prinsip ini memang terlihat seperti telah ‘menggadaikan’ rasa takut bahkan pada nyawanya sekalipun. Ogah Rugi Poin pertama, siapa sih diantara Anda yang ingin merugi? Tentu tidak ada. Lalu, apakah Anda akan melakukan refund jika ternyata tiket penerbangan yang sudah Anda beli (sialnya) menggunakan jenis pesawat yang sama dengan yang tengah ramai dibicarakan di media – sebut saja Boeing 737 MAX. Hampir dapat dipastikan, Anda akan lebih sayang dengan kompensasi penalti 20 hingga 25 persen yang dikenakan pihak OTA (Online Travel Agent) atau pihak maskapai ketimbang keselamatan diri Anda sendiri. Betulkah begitu? Cari paling murah Lalu poin kedua tentang pilihan yang paling ‘bersahabat dengan dompet’. Lagi, terkadang kebanyakan orang enggan keluar uang sedikit lebih banyak untuk menggunakan maskapai yang lebih kredibel ketimbang maskapai lain yang sebut saja baru tertimpa satu masalah atau terlibat dalam suatu kecelakaan. Tanpa bermaksud untuk menyudutkan satu atau lebih banyak pihak, namun stigma ini seolah tidak bisa dihapus begitu saja oleh sebagian kalangan masyarakat. Tidak ada pilihan transportasi lain Dan poin terakhir adalah tentang tidak punya pilihan. Ya, sebenarnya poin ini masih berkorelasi dengan poin kedua, namun lebih bermain ke arah institusi. Ambil contoh, apabila Anda hendak pergi dari Jakarta menuju Jayapura, terdapat tiga pilihan maskapai yang melayani penerbangan direct; Lion Air (raksasa LCC Indonesia), Batik Air (bagian dari Lion Air Group), dan Garuda Indonesia (flag carrier Indonesia), maskapai mana yang Anda pilih? Mungkin sebagian dari Anda akan lebih memilih untuk menggunakan Batik Air atau bahkan Garuda Indonesia, dengan dalih trauma dengan Lion Air yang memiliki track record tidak terlalu gemilang di sektor aviasi nasional – tapi percayalah, tidak sedikit juga yang akan tetap menambatkan pilihan terhadap Lion Air dengan mengedepankan pakem ekonomis. Lalu, apalah arti dari trauma yang selama ini digaungkan? Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah! Namun kembali lagi, pilihan ada di tangan Anda. Sebagai pencerahan, banyak jenis pesawat di luar sana yang telah mencatat tinta hitam di dalam sejarah kedirgantaraan global – melebihi 737 MAX yang tercatat baru mengalami dua kecelakaan saja. Boeing 747-100/200/300: 26 peristiwa fatal Airbus A300 (semua model): 10 peristiwa fatal Airbus A318 / A319 / A320 / A321: 14 peristiwa fatal Boeing 737-600/700/800/900: 9 peristiwa fatal

[Update] Tips Aman Buat Wanita Penumpang Taksi Online, “Jangan Tidur Bila Sendirian”

Banyaknya masyarakat yang kini memilih menggunakan transportasi online ternyata tidak juga menghindarkan diri dari kejahatan. Apalagi biasanya korban kejahatan lebih banyak perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Baca juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman! Beberapa waktu lalu, KabarPenumpang.com pernah menuliskan tentang tips naik transportasi online, khususnya taksi online dengan aman. Nah, kali ini ada beberapa update atau pembaharuan terkait tips agar aman menggunakan taksi online tersebut. Direktur Tata Kelola Aptika Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Maria Fatimah Barata menyebutkan setidaknya ada sembilan tips yang beberapa diantaranya sudah dibahas dalam artikel sebelumnya. Berikut ini beberapa hal yang terbaru. 1. Tidak memesan langsung dari tempat tinggal Maria mengatakan, sebagai seorang pengguna transportasi online untuk menghindari kejahatan, penumpang bisa memesan tidak langsung dari rumah atau dari areal sekitar rumah. Hal ini pun berlaku untuk pengantaran penumpang ke rumah, sebab selain menghindarkan kejahatan, penumpang perempuan juga bisa sedikit lebih aman bila kurang percaya dengan pengemudi. “Biasanya beberapa penumpang transportasi online itu tidak langsung memesan dari rumahnya atau turun tepat di depan rumah. Saya sendiri bila memesan atau pulang naik transportasi online biasanya di gang komplek rumah,” ujar Maria yang ditemui KabarPenumpang.com di kantor Komnas Perempuan, Rabu (24/4/2019). 2. Gunakan Maps Dengan menggunakan aplikasi maps di ponsel pintar, Anda bisa memastikan rute perjalanan benar atau tidak untuk tiba di tujuan. KabarPenumpang.com pernah merasakan salahnya jalur yang dipilih. Bahkan yang seharusnya hanya 45 menit bisa menjadi 1 jam 30 menit. 3. Capture pesanan Sebagai penumpang yang memang sering menggunakan transportasi online, bisa meng-capture pesanan dan mengirimkannya ke keluarga agar tidak khawatir. Selain merasa aman, bila terjadi sesuatu keluarga bisa langsung mengambil tindakan. Namun, beberapa aplikasi transportasi online sendiri sudah bisa membagikan data pengemudi ke keluarga pemesan sengan pilihan share. “Data pengemudi terlihat jelas dan penumpang yang mengirim ke keluarga bisa sedikit merasa aman,” ujar Maria. 4. Gunakan barang tidak berlebihan Untuk menghindari kejahatan dalam kendaraan barang berharga seperti perhiasan digunakan seperlunya alias tidak berlebihan. 5. Tidak tidur bila sendirian Maria menambahkan, setiap penumpang transportasi online yang bepergian sendiri baiknya hindari tertidur. Sebab Anda tidak tahu apa yang akan terjadi bila anda lelap dalam perjalanan. Baca juga: Ternyata di Ride Hailing Banyak Kecurangan yang Dilakukan Pengemudi Online 6. Berbicara seperlunya Banyak penumpang atau pengemudi yang sok akrab. Hal ini bisa menjurus ke kejahatan karena pengemudi tahu tentang diri Anda. Bila ingin bercengkrama baiknya seperlunya seperti seputar perjalanan menuju tujuan.

Setelah Alpha One Vahana, Kini Giliran P2 Xcursion yang Uji Terbang

Setelah pemberitaan terakhir seputar moda udara berdaya listrik dihuni oleh uji coba penerbangan yang sukses dilakoni oleh Alpha One Vahana, kini perkembangan moda semacam ini juga merambah belahan dunia lainnya. Kali ini ada Equator Aircraft dengan mahakaryanya, P2 Xcursion yang juga dikabarkan berhasil melakukan uji coba penerbangan perdananya baru-baru ini. Setelah serangkaian proses terkait perijinan berhasil dilewati oleh perusahaan dengan mulus, kini pencapaian tersendiri juga telah ditorehkan oleh Equator Aircraft. Baca Juga: [VIDEO] Uji Penerbangan Alpha One Vahana yang Berikan Gambaran Moda Transportasi Futuristik Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (22/4/2019), uji penerbangan yang dilakukan pada 29 Maret 2019 kemarin ini dilakukan di Eggemoen Technology Park, Norwegia. Uji penerbangan ini pun masih dikendalikan oleh Eskil Amdal, pilot uji yang juga pernah menerbangkan moda ini sebelumnya di ketinggian rendah. Bedanya, kali ini Eskil harus menerbangkan prototipe dari P2 Xcursion pada tingkat ketinggian yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Kendati sudah pernah melakukan penerbangan dengan menggunakan moda yang mampu menampung satu orang penumpang ini sebelumnya, namun Eskil masih saja merasa nervous ketika hendak menjalani penerbangan ini. Adapun inti dari uji penerbangan ini adalah untuk melihat kemampuan P2 Xcursion untuk melakukan kontrol yang sempurna, serta sejumlah poin yang berkaitan dengan stabilitas dan dinamika pesawat. Ketika uji penerbangan ini berlangsung, prototipe hanya terbang dengan menggunakan mesin ENGIRO M97 dengan kapasitas 97 kW yang ditenagai oleh baterai lithium-ion dengan berat 100 kg (220 lb), sehingga memberikan daya tahan penerbangan total sekitar 35 menit. Namun pihak perusahaan mengatakan akan mengubah pesawat ini ke versi yang baru sehingga dapat mengudara selama kurang lebih 105 menit. Baca Juga: Peneliti University of Michigan: Kendaraan VTOL Listrik Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Mobil Listrik Jika dilihat spesifikasinya, adapun bobot dari P2 Xcursion ini mencapai 750 kg dan mampu mengangkut beban hingga seberat 240 kg. Sedangkan untuk masalah teknis, P2 Xcursion ini mampu melesat hingga kecepatan jelajah maksimum 130 knot (150 mph, 241 km/jam), dengan jangkauan maksimum hingga 845 nm (972 mi, 1.565 km). “Ini merupakan momentum berharga bagi perusahaan, dan kami sangat-sangat menantikan waktu dimana pesawat kami dapat mengudara secara komersial,” tutur CEO dari Equator Aircraft, Tomas Brødreskift. “Kami senang dapat melihat pesawat ini terbang sesuai dengan ekspektasi sebelumnya, dan kami tidak sabar untuk kembali melakukan uji penerbangan di waktu yang akan datang – tentu saja dengan versi yang lebih baru.” tutupnya.    

Gara-Gara Balon Helium, Perjalanan Kereta di Inggris Rugi 1 juta Poundsterling

Balon helium atau balon yang diisi gas, biasanya menjadi pilihan anak-anak untuk bermain karena memiliki warna yang cukup menarik atau bentuk yang beraneka ragam. Tak hanya itu, balon helium juga kerap kali diterbangkan oleh pasangan pengantin, kelulusan siswa baik di sekolah maupun universitas sebagai tanda parayaan. Baca juga: Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi Tapi siapa yang sangka, balon helium ini membawa petaka dalam perjalanan kereta api? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (18/4/2019), Network Rail mempersalahkan balon helium dalam keterlambatan keberangkatan kereta api di Inggris. Pasalnya banyak balon helium ini yang terlepas dan pengikatnya tersangkut di jaringan listrik kereta serta membuat kusut. Menyoroti masalah ini, Network Rail mengatakan pihaknya telah mencatat 619 insiden terkait balon pada tahun 2018 lalu di Inggris, Skotlandia dan Wales. Balon itu menjadi kusut di kabel overhead tegangan tinggi yang menyebabkan penundaan dan gangguan listrik. Hal ini pun membuat saluran atau jaringan listrik dimatikan untuk membersihkan dari kabel kusut balon helium yang tersangkut. Hal ini juga terjadi di Stasiun Smethwick Rofle Street di West Midlands ketika balon helium melilit kabel overhead. Peristiwa ini dari data yang ada telah menunda ratusan penumpang kereta api. Adanya masalah ini bukan hanya menunda keberangkatan penumpang tetapi juga menyebabkan kerugian hingga sekitar 1 juta poundsterling per tahun. “Jika Anda berada di platform stasiun kereta api dengan balon foil yang diisi dengan helium pada seutas tali dan ia bersentuhan dengan kabel overhead yang membawa 25.000V, yang dapat menyebabkan besar cedera atau kematian. Idealnya, kami meminta orang untuk tidak membawa balon ke stasiun kami sama sekali. Sebagai alternatif, bawa mereka ke dalam tas agar risiko mereka mengambang ke atas diminimalkan,” ujar Network Rail London North Western chief chief operating officer James Dean. Asosiasi Nasional Seniman dan Pemasok Balon (NABAS) juga menyuarakan dukungannya terhadap keprihatinan yang diangkat oleh Network Rail. Ini telah meluncurkan kampanye untuk melarang balon foil terbang, lampion dan benda udara serupa dengan tali plastik atau pita yang terpasang. Baca juga: Terbangkan Balon Udara di Jawa Tengah, Tradisi Sejak Zaman Belanda “Balon membawa kesenangan dan warna dan rasa pada setiap perayaan, tapi tolong terbangkan balon dengan tanggung jawab, dan jangan pernah melepaskan balon ke atmosfer. Hormati lingkungan dan cegah bahaya dan penundaan yang tidak perlu,” ujar Ketua NABAS George Oustayiannis mengatakan.

Rampung Pembaruan Software 737 MAX, Boeing Siap Serahkan Hasilnya ke FAA Guna Sertifikasi

Setelah melakukan pembenahan perangkat lunak (software) pada pesawat Boeing 737 MAX beberapa waktu yang lalu, kini perusahaan yang berbasis di Negeri Paman Sam tersebut menargetkan persetujuan dari Federal Aviation Administration (FAA) bisa keluar pada awal minggu ketiga bulan Mei 2019 mendatang. Selain itu, dua sumber dari pihak produsen pesawat ini juga mengatakan bahwa mereka akan mulai menerbangkan kembali pesawat-pesawat jenis ini pada pertengah Juli. Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR Tanggal yang dirilis oleh Boeing tersebut merupakan timeline sementara dari perusahaan yang pada kesempatan sebelumnya telah menggelar pertemuan dengan sejumlah maskapai dan otoritas terkait guna membahas pembenahan software tersebut. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, software masuk pada bagian navigasi ini memegang peranan penting dalam dua kecelakaan yang dialami oleh Lion Air di Tanjung Karawang pada akhir tahun 2018 lalu dan Ethiopian Airlines di Addis Ababa pada awal Maret 2019 kemarin. Kendati telah menentukan tanggalan di atas, namun pihak Boeing masih belum menyerahkan pembaruan software tersebut ke pihak FAA dengan dalih yang tidak diutarakan. Kedua sumber dari internal Boeing ini mengaku tidak punya kewenangan untuk membeberkan fakta lanjutan terkait pemberitaan terbaru ini. “Kini perusahaan tengah berfokus untuk mengembalikan 737 MAX kembali ke layanannya seperti sedia kala – tentu saja dengan komponen software yang sudah diperbaharui,” tutur seorang juru bicara dari Boeing. Baca Juga: Pesanan ‘Kering,’ Boeing Alihkan SDM Untuk Perbaharui Sistem 737 MAX Sementara itu, CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengatakan pada minggu lalu bahwa pihaknya telah menyelesaikan uji penerbangan dengan software yang sudah diperbaharui sebelum pada akhirnya pembaruan tersebut akan diserahkan kepada pihak FAA guna mendapatkan sertifikasi. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (23/4/2019), selain sertifikasi dari FAA, satu hal lain yang harus dilalui oleh Boeing sebelum mengembalikan pesawat ini ke layanan adalah melakukan pelatihan kepada para pilot tentang pembaruan software ini, dimana ini merupakan tahapan tambahan yang dianjurkan oleh para regulator internasional.