Komnas Perempuan Gandeng Grab Indonesia Tangani Kekerasan Perempuan di Transportasi Online

Moda transportasi online telah menjamur di seluruh Indonesia. Hal ini membuat semakin tingginya tingkat kriminalitas baik pada pengemudi maupun penumpangnya. Apalagi bagi penumpang dan pengemudi wanita, kejahatan kerap kali terjadi baik itu pelecehan seksual ataupun yang lainnya. Baca juga: Grab Hadirkan Fitur Telepon Pengemudi Tanpa Pulsa Hal ini kemudian membuat Komisi Nasional Perlindungan HAM (Komnas HAM) Perempuan mengambil sikap. Ketua Komnas Perempuan Azriana R Manalu mengatakan, pihaknya mencatat ada dua kasus kekerasan seksual yang diadukan. Dia mengatakan pengaduan itu dilakukan oleh dua orang penumpang transportasi online. “Dua orang itu penumpang, mereka mendapat sentuhan-sentuhan dari pengemudi,” ujarnya Azriana kepada KabarPenumpang.com yang ditemui di Kantor Komnas Perempuan, Rabu (24/4/2019). Bahkan pihaknya mengatakan akan memberi perhatian pada tren meningkatnya kekerasan terhadap perempuan. Azriana menambahkan, apalagi kini dengan teknologi yang semakin maju, sehingga pihaknya kini yang bekerja sama dengan Grab Indonesia pun membantu menangani bila terjadi pada pengemudi maupun penumpang dari penyedia aplikasi. “Ini ruang baru yang harus di pantau bagi perempuan untuk menangani pelecehan seksual. Penyedia aplikasi membangun sistem pencegahan ini harus di apresiasi. Kami menerima pengaduan kasus-kasus yang terjadi dan menangani secara potensial,” jelasnya. Azriana menambahkan, ruang baru dalam penggunaan transportasi online ini untuk terjadinya kekerasan tidak hanya ketika layanan aplikasi digunakan tetapi juga sesudahnya dimana penyalahgunaan nomor kontak dan identitas korban oleh pelaku. “Saat ini Grab Indonesia sudah meningkatkan kapasitas untuk mencegah dan menangani kasus dugaan kekerasan seksual,” ujar Presiden Direktur Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata. Ridzki mengatakan saat ini pihaknya meningkatkan kapasitas internalnya seperti pilot training yang hadir untuk menangani anti kekerasan seksual bagi mitra pengemudi. Pelatihan penerimaan aduan kekerasan seksual untuk Customers Experience leaders. Baca juga: Wajib Selfie, Jadi Syarat Naik Grab di Malaysia Tak hanya itu Grab juga membentuk satgas anti kekerasan seksual dan menyempurnakan proses tindakan bagi pelanggaran kode etika. Selain pelopor fitur-fitur keselamatan bagi penumpang seperti Share My Ride, Tombol Darurat, Panic Button, Penyamaran nomor telepon, VoIP Call yang berdasar Roadmap Technology Keselamatan. “Sebelum bekerja sama dengan Komnas Perempuan, Grab juga sudah melakukan hal ini dari awal pertama berdirinya di Indonesia. Apalagi transportasi onlilne saat ini menjadi pilihan penumpang perempuan, sehingga baik pengemudi maupun penumpang dilindungi dan membantu gandeng mitra dalam menangani kekerasan seksual yang terjadi,” jelas Ridzki.

Pembangunan Transit Oriented Development di Malaysia, Ternyata Juga Tidak Mudah

Transit Oriented Development (TOD) salah satu konsep yang lumrah untuk pengembangan area dekat dengan pusat transportasi. Indonesia yang kini memiliki MRT Jakarta juga tengah berupaya membuat TOD tersebut. Baca juga: Bangun Apartemen di Kawasan Stasiun Bogor, Proyek TOD Masih Terganjal Izin Lantas, bagaimana dengan negara tetangga Malaysia yang sudah lebih dahulu punya MRT dan pembangunan TOD nya? Dilansir KabarPenumpang.com dari beberapa laman sumber, ternyata dalam pembangunan TOD di Malaysia juga tak semudah di Indonesia. Tak hanya konstruksi tanah, tetapi masalah keberatan masyarakat juga menjadi salah satunya karena infrastruktur yang tidak memadai. Seorang pakar pemerintah daerah, Derek Fernandez mengatakan bahwa tidak semua tanah dalam radius 400 meter dari stasiun cocok untuk lokasi TOD. Apalagi rencana pembangunan TOD harus memiliki sembilan prinsip yakni menyediakan perumahan terjangkau bagi konsep bisnis, pengembangan area dengan kepadatan tinggi, bangunan ramah lingkungan, jalur pejalan kaki, pesepeda, fasilitas umum hingga bus pengumpan. “Stasiun KLCC dan KL Sentral adalah contoh sukses TOD. Sebab ada manfaat ekonomi di sekitar daerah ini. Kita perlu memiliki proyek yang sukses di Petaling Jaya untuk membuktikan konsep TOD berjalan ini sini,” kata Fernandez. Presiden Institut Perencana Malaysia Ihsan Zainal Mokhtar setuju bahwa konsep TOD itu baik dan harus didasarkan pada multi-mode dan penggunaan transportasi umum yang saling berhubungan. Dia mengatakan dewan lokal harus terlibat dengan pemilik tanah dan masyarakat untuk merencanakan, serta mencari bantuan dari perencana profesional tentang bagaimana TOD seharusnya. “Satu pengembangan saja tidak bisa disebut TOD. Itu harus komprehensif berdasarkan lingkungan, dan pandangan semua orang penting,” ujarnya. Bahkan MRT di rute Sungai Buloh-Kajang yang sudah hampir dua tahun beroperasi pun perkembangan TOD nya terlihat bermunculan di sepanjang jalur 51 km. Hingga saat ini, sebanyak 24 proyek TOD telah diluncurkan di sepanjang 31 stasiun jalur MRT perdananya di negara tersebut dengan dua lagi di dalam rencana. Salah satu proyek terbaru yang diluncurkan adalah Parkland Residence @ Cheras South yang terletak di sebelah stasiun MRT Cheras Batu 11. Direktur cabang MegaHarta, Joseph Teh mengatakan kepada bahwa proyek TOD di sepanjang dua jalur MRT telah mendapatkan perhatian dari pembeli properti, terutama pembeli muda, karena kemudahan untuk bekerja dari tempat mereka tinggal, dan fasilitas yang mudah diakses. “Tidak diragukan lagi, ada beberapa hal negatif terhadap proyek TOD, karena polusi suara dan kurangnya kepercayaan terhadap efisiensi sistem transportasi umum Malaysia. Tapi itu tampaknya telah berubah setelah peluncuran jalur MRT SBK karena orang-orang mulai menyadari bahwa itu tidak terlalu berisik dan sangat nyaman untuk pergi bekerja di pusat kota menggunakan MRT,” kata Teh. Menurut Google Maps, berkendara antara Jalan Bukit di Kajang dan pusat kota Kuala Lumpur bisa memakan waktu hampir dua jam selama jam sibuk pagi, dibandingkan dengan sekitar 40 menit menggunakan jalur SBK MRT. “Kami melihat pembeli perlahan mengadopsi konsep hidup TOD terutama mereka yang berusia 20-an sampai 30-an. Ada juga beberapa berpenghasilan tinggi dan pembeli setengah baya yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang proyek TOD,” tambah Teh. Pengembang properti dan pembuat kebijakan mencari untuk mengambil keuntungan dari jalur kereta api dan karenanya orang dapat mengharapkan lebih banyak TOD untuk muncul di Lembah Klang. Pembeli dan investor tertarik dengan kenyamanan transportasi umum dan pertumbuhan modal yang tinggi yang dicatat oleh TOD di Hong Kong dan Singapura sementara para pengembang didorong oleh tingginya minat dalam TOD, katanya mencatat. Baca juga: Bangun TOD di Lebak Bulus, MRT Jakarta Lalukan Studi Pengembangan dengan Wijaya Karya Selain itu, beberapa insentif yang ditawarkan oleh otoritas lokal untuk TOD seperti rasio plot yang lebih tinggi, juga telah mendorong pengembang untuk memanfaatkan pertumbuhan infrastruktur kereta api dan mengaitkan ke lokasi strategis stasiun transit, katanya.

Dua Pilot Cathay Pacific Kehilangan Pandangan Saat Mengudara, Ada Apa?

Awal tahun 2019 ini, dikabarkan dua pilot di penerbangan yang berbeda dari maskapai Cathay Pacific mengalami masalah kesehatan yang hampir sama ketika tengah mengudara. Dikabarkan, pandangan dari kedua pilot ini kabur dan memaksa kopilot untuk mengambil alih sisa perjalanan. Beruntung, kedua kopilot berhasil mendaratkan pesawat ini dengan selamat dan tidak memakan korban sama sekali. Poin uniknya adalah, mengapa kedua pilot ini mengalami gejala kesehatan yang hampir serupa, namun pada waktu yang berbeda? Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (24/4/2019), informasi di atas dirilis oleh otoritas penerbangan Hong Kong pada Selasa (23/4/2019) kemarin. Salah satu pilot yang menderita gangguan kesehatan ini merupakan kapten penerbangan Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX170 yang pada tanggal 21 Februari lalu terbang dari Perth, Australia menuju Hong Kong. Kala itu, sang pilot menginformasikan kepada kopilot bahwa dirinya merasa sesak nafas dan pandangannya kabur untuk sementara waktu. Merasa tidak aman untuk melanjutkan tugasnya, akhirnya pilot tersebut menyerahkan tugasnya kepada kopilot dan melanjutkannya. Penerbangan itu sendiri menggunakan pesawat jenis Airbus A350 dengan memboyong 270 penumpang dan 13 awak kabin. Setelah mendapatkan informasi bahwa kapten penerbangan tidak mamppu untuk melanjutkan tugasnya, ia langsung mendapatkan pertolongan pertama dengan diberi oksigen dan kondisinya pun berangsur pulih. Beruntung, salah satu dari penumpang penerbangan itu merupakan seorang ahli medis yang mampu melakukan diagnosa awal. Begitu pesawat masuk ke teritori Hong Kong, pesawat langsung meminta pendekatan prioritas ke pihak kontrol lalu lintas udara – karena dinilai mereka tengah mengalami situasi darurat. Berbeda dengan penerbangan sebelumnya, dimana pada tanggal 26 Januari kemarin, kapten dalam penerbangan Boeing 777-300 Cathay Pacific CX583 yang kala itu membawa 348 penumpang dan 16 awak kabin secara tiba-tiba kehilangan ketajaman visualnya selama kurang lebih 30 menit. Adapun rute penerbangan yang kala itu tengah dilakoni adalah Sapporo (Jepang) – Hong Kong dan uniknya – kedua pilot ini mengantongi sertifikat medis kelas 1. Menanggapi kejadian ini, otoritas penerbangan Hong Kong masih mendalami apa yang sebenarnya terjadi pada kedua pilot ini. Namun satu yang pasti, otoritas terkait mengatakan bahwa ini merupakan kasus serius yang harus sesegera mungkin dicari penyebab dan solusi terbaiknya. Baca Juga: Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona “Kami akan terus mengumpulkan dan mempelajari semua informasi yang relevan untuk menentukan keadaan dan penyebab dari insiden serius ini,” ujar salah satu juru bicara dari otoritas penerbangan Hong Kong. “Investigasi dan analisis yang lebih mendalam harus dilakukan sebelum kesimpulan dapat diambil,” tandasnya. Senada dengan pernyataan dari otoritas penerbangan Hong Kong, pihak Cathay Pacific pun mengatakan bahwa dirinya akan turut serta membantu investigasi agar dapat sesegera mungkin menyimpulkan apa yang sebenarnya tejadi. “Keselamatan penumpang merupakan prioritas utama kami dan insiden semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” ujar pihak Cathay Pacific.  

Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Meski berlangsung di Bandara Don Mueang, Bangkok, kasus pembajakan pesawat paling terkenal di Indonesia adalah yang melibatkan pesawat Garuda Indonesia “Woyla” dengan nomor penerbangan 206 pada Maret 1981. Namun faktanya, Woyla bukan kisah pembajakan pesawat pertama yang menerpa maskapai asal Indonesia. Ternyata kasus pembajakan pesawat pertama di Indonesia terjadi pada 15 April 1972, yaitu menimpa Vickers Viscount Merpati Airlines dengan nomor penerbangan MZ-171. Baca Juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pesawat yang tengah melayani rute penerbangan Manado – Makassar – Surabaya – Jakarta ini dibajak oleh seorang penumpang dan dipaksa mendarat di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Fakta lain yang lebih mencengangkan lagi adalah kasus pembajakan ini dilakukan oleh seorang desertir KKO (Korps Marinir) TNI AL yang bernama Hermawan Hardjanto. Kisah menyeramkan ini berawal ketika pesawat Vickers Viscount buatan Inggris yang menggunakan livery Merpati Airlines hendak mengudara dari Bandara Juanda, Surabaya sekitar pukul 13.30 WIB. Sebelumnya, pesawat ini telah dengan selamat melakukan penerbangan dari Manado – Makassar dan Makassar – Surabaya. Ketika pesawat sudah siap untuk melanjutkan perjalanannya menuju Jakarta, tiba-tiba sebuah mobil sedan melaju ke arah pesawat dan mengisyaratkan untuk minta ditunggu. Benar saja, ada seorang penumpang yang lalu ikut dalam penerbangan tersebut, sehingga total penumpang yang ada di dalam pesawat berjumlah 29 orang. Setelah pesawat tinggal landas dari Surabaya dan diperkirakan berada di atas Pekalongan, Soleh Sukarnapradja selaku ko-pilot (pilot flying) meminta ijin kepada Kapten Hindiarto untuk ke toilet. Alangkah terkejutnya Soleh ketika ia keluar toilet, ada seorang pria yang mengenakan masker dan meminta untuk masuk ke dalam ruang kokpit – yang dibarengi oleh sebuah ancaman. “Kasih saya masuk ke dalam kokpit kalau tidak ini bisa saya ledakkan,” tutur pria yang membawa sebuah ransel dan di tangannya terlilit sebuah rantai anjing. Ya, pria yang mengancam tersebut adalah Hermawan – si penumpang paling akhir yang masuk pesawat dan ternyata biang kerok dari kasus pembajakan ini. Hermawan mengancam untuk meledakkan dua buah granat buatan Cina apabila ia tidak diijinkan untuk masuk ke dalam ruang kokpit. Di dalam ruang kokpit, dua penerbang ini disandera dan Hermawan memerintahkan untuk mendaratkan pesawat di Yogyakarta. Mendengar kabar yang disiarkan Kapten Hindiarto melalui radio komunikasi pesawat, semua pihak yang mendengar kabar ini tidak percaya dan menganggap Kapten Hindiarto tengah berkelakar. Baca Juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426 Hingga menjelang final approaching di Bandara Adisucipto, Merpati Airlines MZ-171 hampir saja bertabrakan dengan pesawat Garuda Indonesia karena berada pada jarak yang relatif dekat. Setibanya di darat, Hermawan meminta uang tebusan senilai Rp20 juta dan satu buah parasut. Lagi, ancaman dari Hermawan keluar manakala ia merinci skenario apabila tuntutannya tersebut tidak terpenuhi. Singkat cerita, otoritas keamanan berupaya mengatasi pembajakan ini. Strategi yang diusung adalah dengan memberikan uang tebusan kepada pembajak. Dari babak inilah, drama pembajakan dapat diakhiri. Adalah IPDA Bambang Widodo yang ditugasi untuk mengantarkan paket uang tebusan lewat jendela kokpit. Seperti terlihat dalam foto di atas, IPDA Bambang Widodo naik ke arah jendeka kokpit menggunakan tangga. Saat membawa uang tebusan yang jumlahnya tidak mencapai Rp20 juta, Bambang Widodo ternyata juga memberikan pistol kepada dua penerbang. Lewat fase yang menegangkan, semua penumpang berhasil kabur sebelum Kapten Hindiarto memuntahkan tiga peluru yang melumpuhkan si pembajak. Akhirnya, kasus pembajakan perdana di Tanah Air berujung manis – kendati meninggalkan trauma yang cukup mendalam bagi para saksi sejarah di sektor aviasi nasional.  

“Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta

Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang mulai mengular pada awal April 2019 ternyata tak hanya di tunggu oleh masyarakat ibukota dan daerah penyangga. Tetapi ternyata di tunggu juga oleh para sutradara Indonesia yang bangga dengan kehadiran moda transportasi baru ini.

Baca juga: Resmi Ganti Nama dari Sisingamangaraja Menjadi ASEAN, Stasiun MRT Ini Juga Terintegrasi Halte 

Pasalnya baru-baru ini Miles Film melakukan produksi film yang berjudul Bebas di stasiun MRT. Dalam proses produksi film yang disutradarai oleh Riri Riza ini, pemain dan kru film tampak gembira. “MRT ini sudah lama ditunggu oleh warga Jakarta. Melalui film ini, kami ingin memperlihatkan kebanggan kita terhadap MRT yang saat ini telah beroperasional,” ujar Riri yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bisnis.com (23/4/2019). Syuting film Bebas yang di produseri Mira Lesmana mengambil lokasi syuting di Stasiun MRT Lebak Bulus. Bahkan Mira mengaku ada satu adegan yang berkesan dalam film tersebut. “Ada satu adegan paling berkesan dalam film ini yaitu adegan yang menggambarkan tokoh utama cerita di masa lalu naik kereta dan tokoh yang sama di masa kini melakukan hal yang sama. MRT merupakan representasi yang pas untuk bisa menggambarkan perubahan keadaan Jakarta di masa kini yang sesuai drngan film cerita,” ujar Mira. Tak hanya Mira yang bangga, tetapi Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar ikut menyambut hangat dengan proses syuting film Bebas ini. “Kami senang Mira Lesmana dan Riri Riza memilih MRT Jakarta dalam salah satu adegan film terbaru mereka. MRT Jakarta hadir untuk menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat dan kami berharap adegan MRT Jakarta dapat menjadi contoh nyata bagi masyarakat untuk #UbahJakarta,” kata William. Namun, dengan syuting ini apakah mengganggu pengoperasian MRT Jakarta? Ternyata saat KabarPenumpang.com menghubungi pihak humas MRT, tidak ada masalah dengan syuting maupun operasional kereta. “Tidak ada blocking area, kami hanya bilang kalau mau syuting silahkan. Kalau tidak mengganggu cari jam-jam tidak sibuk untuk syutingnya. Kru juga tidak membawa peralatan yang banyak untuk syuting, jadi mengalir seperti penulpang biasa,” ujar salah satu humas MRT Jakarta Tomo. Baca juga: Komikus Jepang Kritik Hutang Pembangunan, MRT Jakarta: “Tidak Ada yang Namanya Terlambat Bayar” Pemeran film Bebas yakni Marsha Timothy, aktris pemenang piala citra tahun lalu untuk pemeran wanita terbaik, Maizura, Sheryl Sheinafia, Baskara Mahendra, Agatha Pricilla, Lutesha, Zulfa Maharani, Susan Bachtiar, Indy Barends, dan Widi Mulia

Q1 2019, Lion Air Capai Level On Time Performance 85,97 Persen

Selama ini kata delay telah melekat pada maskapai Lion Air, sudah barang tentu stigma tersebut ingin dihilangkan seiring dengan dilakukannya perbaikan kinerja, khususnya pada tingkat ketepatan waktu/on-time performance (OTP). Dan hari ini (23/4/2019), Lion Air secara resmi merilis bahwa OTP maskapai berlogo kepala Singa tersebut sudah mencapai angka 85,97 persen. Baca juga: Garuda Indonesia Capai OTP Tertinggi 95,8 Persen di Arus Mudik Lebaran 2018 Level OTP tersebut dihitung pada periode Januari – Maret 2019 dengan total frekuensi terbang 36.000 (rata-rata per hari 400-420). Pencapaian ini menunjukkan rata-rata kinerja Lion Air tertinggi berdasarkan OTP, dibandingkan rata-rata 65 -70 persen perolehan di 2018. Data on-time merupakan ketepatan pesawat saat kedatangan (arrival) atau keberangkatan (departure) dalam waktu kurang dari 15 menit dari jadwal yang ditentukan. Penghitungan tersebut dilakukan berdasarkan laporan Integrated Operation Control Center (IOCC) Lion Air Group secara tepat waktu dan bersamaan (real time) pada triwulan pertama 2019. Dalam usaha menjaga tingkat ketepatan waktu sejalan menjawab pergerakan penumpang dan pesawat, Lion Air senantiasa melakukan koordinasi intensif bersama pihak terkait guna memastikan kelancaran penerbangan setiap hari. Untuk pengaturan mekanisme operasi pesawat, Lion Air memiliki utilisasi 8-9 jam per hari, rata-rata enam pesawat menjalani perawatan (schedule maintenance) serta rata-rata lima pesawat sebagai cadangan (stand by). Dikutip dari siaran pers, Lion Air mengoptimalkan pesawat dengan mengelola rotasi (pergerakan pesawat) disesuaikan jarak pada rute, infrastruktur bandar udara, tingkat keterisian penumpang (load factor) dan lainnya. Lion Air menggunakan sistem yang terstruktur dan koordinasi yang berkesinambungan antara perawatan pesawat (maintenance), tim operasional serta keputusan yang cepat (quick action) guna menentukan rotasi baru apabila ada hambatan yang terjadi di lapangan (irregularities) guna mengurai dampak keterlambatan penerbangan. Baca juga: Performa Penerbangan Haji, Antara Level OTP dan Ketersediaan Pesawat Sewaan Standar prosedur pengoperasian pesawat udara diberlakukan menurut aturan dan petunjuk dari pabrik pembuat pesawat, termasuk pemeliharaan pesawat, pengecekan komponen pesawat, pelatihan awak pesawat serta hal lainnya. Lion Air juga mengikuti prosedur yang diterapkan oleh DKPPU (Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara), Kementerian Perhubungan RI.

Mulai Beroperasi Mei 2019, Inilah Tarif Taksi Listrik Blue Bird

Taksi listrik Blue Bird telah diluncurkan 22 April kemarin, dan rencananya untuk tahap awal ada 30 armada yang akan beroperasi di sekitaran Jakarta mulai bulan Mei mendatang. Sebagai layanan taksi dengan wahana baru, membuat beberapa warga bertanya-tanya, berapakah besaran tarif yang dikenakakan untuk bisa naik taksi listrik ini?

Baca juga: Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru

KabarPenumpang.com melansir dari laman liputan6.com (22/4/2019), ternyata tidak ada perbedaan di antata tarif e-Taxi Blue Bird dengan yang biasanya atau bisa dikatakan sama persis dengan konvensional yang ada saat ini. “Untuk tarif kami targetkan tetapi sama dengan Blue Bird lainnya karena saat ini kami belum mendapatkan mobil dengan harga yang bisa membuat tarif menjadi lebih murah walaupun charger listriknya lebih murah dibandingkan bahan bakar minyak,” ujar Direktur PT Blue Bird Adrianto Djokosoetono. Blue Bird yang akan menggunakan mobil listrik BYD tarif per km adalah Rp4100 dan untuk Tesla yang digunakan Silver Bird Rp8000 hingga Rp9000 per km-nya. Adrianto mengatakan, spesifikasi kendaraan yang digunakan sebagai e-Taxi sama persis dengan taksi-taksi listrik yang beredar di Cina maupun Inggris.
 
View this post on Instagram
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Pihak Blue Bird menghadirkan 25 unit BYD dan empat unit Tesla di armadanya. Adapun tipe taksi tersebut yakni BYD e6 A/T dan Tesla X 75D A/T sebagai e-Taxi Blue Bird Group. Baca juga: Spektakuler! Sedan Tesla Mampu Derek Dreamliner Qantas Sejauh 300 Meter Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan merekomendasikan agar Blue Bird mengaplikasikan sistem fast charging untuk armada mereka. “Dengan durasi pengisisan lebih cepat, cuma 25 menit tentu akan membantu operasional kendaraan (armada e-Taxi Blue Bird) Anda,” kata Jonan. Jonan juga menyebutkan, pihaknya terus memperbanyak Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) untuk mendukung era kendaraan listrik. “Sejauh ini, sudah ada 1600 SPLU dan tahun ini minimal akan menjadi 2000 unit,” tambah Jonan.    

Adakah Kaitan Antara Pecahnya Perang Diponegoro dengan Pembangunan Jalur Kereta di Jawa?

Salah satu nama pahlawan kelahiran Yogyakarta ini hampir tidak pernah absen dari setiap jalanan di kota-kota besar yang ada di Tanah Air. Pangeran Diponegoro, Putra sulung dari Sultan Hamengkubowono III ini berdedikasi besar terhadap perang yang terjadi di Jawa pada tahun 1825 hingga 1830. Dan diantara sejarah hidupnya, ternyata debut pahlawan kelahiran 11 November 1785 ini tak bisa dikesampingkan dari sejarah pembangunan jalur kereta pertama di Pulau Jawa. Baca Juga: Jalur Kereta Terpendek di Dunia, Ternyata ada di Vatikan Kendati salah satu faktor utama pecahnya Perang Diponegoro adalah karena campur tangan pihak Belanda di dalam Keraton Yogyakarta, yang kala itu baru saja terjadi pergantian kekuasaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono III ke Sri Sultan Hamengkubuwono V, namun tidak sedikit literasi yang juga menyebutkan bahwa pembangunan jalur kereta api menjadi faktor yang menyulut pecahnya perang yang juga dikenal dengan nama Perang Jawa ini. Mengutip dari buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk Kelas V Sekolah Dasar terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2008, karangan Endang Susilaningsih dan Linda S Limbong, dituliskan bahwa kekecewaan Pangeran Diponegoro memuncak ketika Patih Danuredjo (wali Raja Hamengkubuwono IV yang kala itu masih berumur 10 tahun) atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak (patok) untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhur dari Pangeran Diponegoro. Apabila paham pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalur kereta api di Indonesia ini terjadi di awal tahun 1825 ini menjadi salah satu faktor penyebab pecahnya Perang Diponegoro, maka dapat di tarik benang merahnya bahwa ada persaingan yang cukup sengit antara Belanda dan Inggris. Pasalnya, masih di era yang sama (tahun 1825), pihak Inggris telah terlebih dahulu mengembangkan dan meluncurkan lokomotif uap pertama mereka yang tidak hanya mampu mengangkut logistik (batu bara dan lain-lain) saja, melainkan juga dengan penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stockton and Darlington Railway merupakan perusahaan kereta api partama yang melayani publik dengan menggunakan lokomotif uap. 27 September 1825 merupakan tanggal peluncuran dari rangkaian kereta yang digagas oleh George Stephenson. Menghubungkan Darlington dan Stockton, kala itu George Stephenson berhasil mengemudikan lokomotif uapnya dengan ‘muatan’ 450 penumpang – kecepatannya pun masih sangat pelan berkisar 24 km per jam saja. Kereta yang dikemudikan oleh George Stephenson tersebut memboyong 28 gerbong, dimana 21 gerbong diisi oleh penumpang, sedangkan sisanya diisi oleh batu bara. Ya, pada era tersebut, baik Belanda maupun Inggris serta sejumlah negara penjajah lainnya memang terkesan saling pamer dan unjuk kebolehan siapa negara yang paling kuat dan paling maju dalam ekspansi kolonial. Ada kemungkinan pihak Belanda menggunakan tanah Jawa sebagai lahan mereka untuk ‘uji coba’ apakah jaringan perkeretaapian yang mereka bangun dapat berjalan sempurna – sebelum akhirnya diterapkan di tanah mereka sendiri. Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda Hipotesa ini ditunjang oleh pembangunan trem pertama yang ternyata bukan di Belanda, melainkan di Jakarta. Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) yang mengoperasikan trem listrik di Jakarta pertama kali menjalankan kereta ini pada April 1899, sedangkan pihak Belanda baru mengoperasikan trem listrik pertamanya pada Juli 1899. Kendati hanya berselang tiga bulan saja, tapi tetap saja Indonesialah yang terlebih dahulu mengoperasikan trem listrik ketimbang Belanda. Jadi, kembali lagi ke topik awal, apakah pemasangan patok untuk pembangunan jalur kereta api di tanah Jawa menjadi salah satu faktor pecahnya Perang Diponegoro?  

26 Tahun Beroperasi, Jet Airways Terpaksa Hentikan Operasional Akibat Masalah Finansial

Jet Airways, maskapai penyedia layanan penuh (full service) dan dikenal sebagai yang kedua terbesar di India setelah Air India, diwartakan telah resmi mengumumkan berhenti beroperasi akibat krisis keuangan yang telah mendera sejak Februari 2019. Beragam upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan maskapai yang telah beroperasi 26 tahun ini, salah satunya dengan pendanaan dana darurat dari perbankan. Namun sayang upaya pendanaan gagal, hingga pada 17 April 2019 maskapai resmi menyatakan berhenti beroperasi. Baca juga: Pilot Lupa Aktifkan Pengatur Tekanan Kabin, Jet Airways Terpaksa Return to Base Jet Airways mulai beroperasi pada 1993, pada dekade 90-n maskapai ini menjadi salah satu yang terkemuka di India, terlebih Jet Airways membuka rute internasional ke Singapura, London dan Amsterdam. Didirikan oleh Naresh Goyal, pada awal 2000-an maskapai ini mulai mendapat tekanan pasca hadirnya maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) di India, yaitu SpiceJet dan IndiGo. Teknanan muncul terkait tarif, lantaran kedua maskapai mampu menawarkan harga tiket yang jauh lebih murah untuk rute yang sama. Mulai didera masalah finansial, akhirnya melibatkan maskapai Abu Dhabi, Etihad Airways, dengan suntikan dana lewat pembelian 24 persen saham Jet Airways pada 2013 lalu. Aksi korporasi ini membuat jalan Jet Airways untuk pulih semakin terang. Perusahaan pun memesan ratusan pesawat baru untuk mengimbangi permintaan terbang yang meningkat. Sayangnya, ekonomi makro India tak mendukung, terutama mata uang India jatuh ke rekor terendahnya pada 2018 lalu, mendorong kenaikan biaya avtur. Perusahaan mulai limbung dan gagal dalam membayarkan kewajibannya kepada staf, termasuk krediturnya. Baca juga: Vistara dan Jet Airways, Maskapai Full Service yang Sajikan Layanan Bergaya LCC Guna mencoba bertahan, Jet Airways sempat menghadirkan inovasi dengan menawarkan layanan ala LCC pada penerbangan full service. Hal tersebut dilakukan demi menekan harga tiket, dimana pemberian makan dan minuman pada penumpang dilakukan secara terpisah (di luar harga tiket). Penawaran full service dengan rasa LCC juga dilakukan maskapai India lainnya, yaitu Vistara. Dikutip dari Bloomberg.com (23/4), beberapa perusahaan swasta nasional India kini tengah bernegoisasi untuk mengakuisis saham dan operasional Jet Airways.

Aisha Al Mansouri, “Menerbangkan Airbus A380 Terasa Mudah dan Menyenangkan”

Tak sedikit wanita yang kini berprofesi sebagai penerbang, baik pada penerbangan sipil maupun militer sekalipun. Namun, diantara ribuan penerbang wanita di seluruh dunia, mungkin Aisha Al Mansouri menjadi sosok yang beruntung, pasalnya wanita Arab asal Uni Emirat Arab ini telah dipercaya menerbangkan pesawat penumpang terbesar di dunia saat ini, Airbus A380. Baca juga: Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak KabarPenumpang.com merangkum dari gulfnews.com (19/4/2019), Aisha Al Mansouri menjadi menjadi pilot Airbus A380 di maskapai Etihad. Mungkin sebagian dari Anda akan heran bagaimana seorang wanita bisa menerbangkan pesawat dengan bobot 560 ton tersebut. Usut punya usut, Aisha Al Mansouri ternyata bukan pilot biasa melainkan seorang perwira pertama atau kopilot di Etihad Airways. Sebelum menerbangkan A380, semua berawal dari saudara perempuannya yang lebih dahulu menjadi pilot dan mengajak Aisha ke pertunjukkan udara di Al Ain. “Saat mengunjungi acara itu ada beberapa orang yang bekerja di sana yang mengatakan kepada saya bahwa program kadet nasional dibuka di Etihad, jadi saya melihat ke dalam program dan memutuskan untuk bergabung, dan dalam delapan bulan saya dipekerjakan,” ujarnya. Dia mengatakan penerbangan pertamanya di tempat kerja adalah dengan Airbus A320 dengan tujuan Ammam, Yordania. Aisha sendiri mengaku dirinya memiliki perasaan yang berbeda, padahal pengalaman pelatihan terbangnya cukup banyak salah satunya menerbangkan Cessna 172. Aisha menerbangkan A320 selama lima tahun sebelum akhirnya menerbangkan pesawat yang lebih besar yakni A330 hingga yang terbesar A380. Dia mengatakan banyak pengalaman dalam menerbangakan burung besi berukuran besar tersebut. “Saya saat ini menerbangkan penerbangan jarak menengah dan jauh menggunakan A380,  seperti ke Sydney, New York City, Paris dan London. Ketika saya mulai dengan A380 saya kagum dengan ukurannya. Saya berlatih sebelumnya dalam sebuah simulator, tetapi begitu Anda melihat sendiri pesawat itu dari dekat, Anda menyadari ukurannya seperti menerbangkan sebuah bangunan kecil,” kata dia. Dia menambahkan, saat menerbangkan A380 sama seperti A320 karena bereaksi sangat baik dan sangat menyenangkan untuk diterbangkan. Bahkan dia mengaku pekerjaannya sebagai pilot lebih seperti gaya hidup dibandingkan kerja. Sebab sebagai seorang pilot harus bisa mengatur dan menangani semua dari penerbangan jarak jauh hinga zona waktu berbeda yang mengikutinya. “Hal yang saya coba berkonsentrasi sebelum saya memiliki penerbangan panjang adalah untuk memastikan bahwa saya cukup istirahat, itu hal yang paling penting bagi saya. Penerbangan malam biasanya yang sulit, misalnya jika saya harus terbang jam 3 pagi saya harus tidur pagi atau siang hari,” tambah Aisha. Bahkan perempuan yang satu ini memiliki waktu-waktu favorit saat menerbangkan pesawat yakni saat lepas landas dan mendarat. Dimana saat melakukan lepas landas dan mendarat dirinya menggunakan manual bukan otomatis. “Tidak masalah ke tujuan mana saya terbang, bagian yang paling menyenangkan adalah menerbangkan pesawat. Momen favorit saya adalah saat lepas landas dan mendarat. Memiliki semua teknologi canggih sangat bagus untuk hal-hal seperti navigasi dan pemecahan masalah, tetapi ketika tiba saatnya lepas landas dan mendarat, saya suka memiliki pendekatan manual langsung,” jelasnya. Aisha sendiri mengakui dirinya sangat senang menjadi contoh positif bagi wanita dan gadis muda lainnya. Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot “Wanita bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan, itulah yang saya pikir contoh saya tunjukkan. Semua wanita harus mengikuti jalur karier yang menginspirasi dan membuat mereka bahagia. Di dalam UEA, semua bidang dapat diakses selama Anda benar-benar menginginkannya, dan jadi jika ada wanita di luar sana yang percaya bahwa ia mampu menjadi pilot dan memiliki keterampilan yang diperlukan, maka lakukanlah,” ungkap Aisha.