Bandara Internasional Yogyakarta mulai (YAI) beroperasi pada 29 April 2019 kemarin. Bandara baru ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan nantinya untuk menggantikan Bandara Adisutjipto. Yang jadi pertanyaan kemudian, apakah dengan kehadiran bandara baru ini sudah ada maskapai yang mulai mengisi slot penerbangan?
Baca juga: Sertifikat Bandara Terbit, Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) Siap Dioperasikan
Dari beberapa kabar yang didapat, maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink dikabarkan siap memindahkan rute penerbangannya dari Bandara Adisutjipto ke Bandara Internasional Yogyakarta yang berada di Kulon Progo. Dikutip dari iNews.id (29/4/2019), penerbangan perdana rencananya akan dilakukan pada 6 Mei 2019 mendatang. Sedangkan untuk uji cobanya sendiri pada 2 Mei 2019.
“Jadi ada satu penerbangan yang kita geser ke YIA,” ujar VP Network PT management Garuda Indonesia Teten Wardaya. Ia mengatakan ada enam penerbangan dari Halim Perdanakusuma dengan tujuan Bandara Adisutjipto. Nantinya satu dari enam penrerbangan itu yang akan digeser ke bandara baru Yogyakarta.
Namun, dia menjelaskan bahwa intensitasnya tidak setiap hari dan ada tiga penerbangan dalam seminggu. Teten mengatakan, bila nantinya animo masyarakat bagus, maka akan di tambah jadwalnya.
Menurutnya, Citilink sengaja tidak langsung membuka penerbangan ke YIA dalam jumlah banyak karena melihat kebutuhan pasarnya. Tak hanya itu, maskapai ber-livery hijau ini sudah melakukan promosi ke sejumlah daerah tujuan dan keberangkatan.
“Tidak mudah memindahkan pengguna jasa dari Adisutjipto ke YIA,” ujar Teten.
Dia menjelaskan, untuk memudahkan perkembangan di YIA yakni dengan melakukan pembatasan penerbangan ke Adisutjipto. Salah satu caranya adalah dengan maskapai melakukan pemindahan rute.
Teten menambahkan, YIA memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bandara internasional. Diketahui, tingkat load faktor penerbangan dari Halim Perdanakusuma menuju ke Yogyakarta mencapai 80 persen dan pada masa lebaran akan terjadi peningkatan.
Namun, KabarPenumpang.com yang menghubungi pihak Citilink masih belum bisa mendapatkan konfirmasi yang jelas terkait rute tersebut.
Baca juga: NYIA Kulon Progo Beroperasi Pertengahan 2019, Inilah Kesiapan Kereta Bandaranya
“Belum jelas informasinya. Nanti bila sudah pasti akan kita kabari,” ujar humas Citilink Ageng kepada KabarPenumpang.com, Selasa (30/4/2019). Pihak AP I pun mengatakan, hingga saat ini belum ada maskapai yang mendaftarkan penerbangannya ke YIA.
Memasuki Mei 2019, PT MRT Jakarta memastikan bekal melayani perjalanan kereta dengan headway per 5 menit pada jam sibuk. Sementara headway per 5 menit telah dikumandangkan, dari sisi ketepatan waktu tiba (On Time Performace) juga akan dipertahankan, dimana saat ini level OTP telah mencapai 99,8 persen. Meski keberangkatan dan laju rangkaian kereta sepenuhnya dikendalikan dari Operation Control Center (OCC), tetap ada tantangan tersendiri bagi masinis sebagai pengawaknya.
Baca juga: Intip Besaran Gaji Masinis Yuk, Nominalnya Bikin Melongo!
Untuk mengantisipasi headway 5 menit yang akan dijalankan, maka sepanjang bulan April terus dilakukan trial run. Dalam acara Forum Jurnalis MRT Jakarta yang berlangsung Senin (29/4/2019), Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyebut pelatihan dilakukan dengan menambah jumlah perjalanan kereta dan berhenti di masing-masing stasiun, tanpa membuka pintu kereta. “Pelatihan ini berjalan lancar dan sesuai dengan gapeka (grafik perjalan kereta api) yang telah disusun,” ujar William.
Meski trial run dilakukan saat fase komersial telah berjalan, namun momen latihan dilakukan pada jam 21.00 sampai 03.00 WIB, dan juga tidak setiap hari, yakni di tanggal 12, 13, 18, 19, 20, 26 dan 27 April 2019. Setidaknya ada 55 masinis yang dlibatkan dalam trial run headway 5 menit ini.
Baca juga: Delapan Kereta MRT Jakarta Uji Coba Secara Penuh dengan Headway 10 Menit
Semasa trial run berjalan, diketahui terdapat masinis yang terlambat pindah kabin, lantaran yang bersangkutan tidak memperhatikan work instruction schedule. Untuk itu dalam rangka perbaikan, masinis diharuskan memastikan work instruction schedule pada saat sign-on dipandu oleh driver duty section head. “Kami menyadari bahwa ketepatan waktu adalah nilai jual utama dari MRT Jakarta, untuk itu kinerja yang maksimal, baik dari kesiapan wahana dan awak sangat menjadi perhatian,” ujar William Sabandar.
CEO Boeing, Dennis Muilenburg pada hari Senin (29/4/2019) kemarin mengatakan bahwa sistem keselamatan pada varian 737 jet MAX-nya dirancang dengan baik. Pada kesempatan yang sama, ia juga menambahkan bahwa pilot yang terlibat dalam dua kecelakaan maut yang menimpa Ethiopian Airlines dan Lion Air tidak sepenuhnya mengikuti prosedur kerja yang sudah disampaikan oleh pihak Boeing sebelumnya – dimana dampak dari hal tersebut adalah kecelakaan yang menewaskan ratusan orang secara keseluruhan.
Baca Juga: Rampung Pembaruan Software 737 MAX, Boeing Siap Serahkan Hasilnya ke FAA Guna Sertifikasi
Sebelumnya, pihak Boeing telah merampungkan upgrade sistem MCAS (anti-stall software) yang diduga sebagai penyebab dari dua kecelakaan maut tersebut dan kala itu, mereka masih menunggu persetujuan dari Federal Aviation Administration (FAA) guna mensertifikasi pembaruan tersebut. Menurut Dennis, sistem anti-stall itu telah memenuhi kriteria desain dan keselamatan Boeing, dan mematuhi protokol sertifikasi.
“Ketika kami merancang sistem ini, pahami bahwa pesawat ini diterbangkan oleh seorang pilot,” ujar Dennis, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (29/4/2019).
Kendati masih terlihat bahwa pihak Boeing seolah ingin ‘cuci tangan’ pasca dua kecelakaan maut tersebut, namun pabrikan pesawat asal Negeri Paman Sam ini pada akhirnya mengakui bahwa pihaknya turut berperan serta dalam kecelakaan yang hanya berselang lima bulan ini.
“Adalah tanggung jawab kami untuk meminimalisir hal seperti ini kembali terjadi di kemudian hari. Kami adalah yang menciptakannya dan kami tahu bagaimana cara memperbaikinya,” ujar Dennis pada 4 April kemarin.
Bak efek domino, kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air tidak hanya berdampak pada pembatalan sejumlah pesanan armada 737 MAX yang sebelumnya telah disepakati oleh berbagai maskapai – termasuk Garuda Indonesia, tapi dua kecelakaan ini juga berimbas pada penurunan laba perusahaan yang ditaksir terjun bebas 21 persen para kuartal pertama tahun 2019.
Kesialan beruntun ini tentu menjadi pukulan telak bagi pihak Boeing, sampai-sampai mereka merilis varian teranyar Boeing 777X hanya dikalangan internal saja sebagai bentuk penghormatan terhadap korban kecelakaan – tidak etis rasanya jika di satu sisi tengah berbela sungkawa karena kecelakaan, sedangkan di sisi lainnya merayakan rilis varian terbaru.
Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8
Guna meyakinkan pihak maskapai dan para penumpangnya kelak, Dennis mengatakan bahwa mereka telah melakukan segala hal untuk kembali mengharumkan nama Boeing dengan varian 737 MAX-nya yang diklaim Dennis sebagai pesawat udara paling aman di era ini. Mengedepankan jargon keselamatan penumpang merupakan prioritas utama mereka, Dennis berjanji bahwa kedepannya varian ini akan kembali digandrungi oleh banyak pihak.
“Namun, kami tahu kami selalu bisa lebih baik. Kami memiliki tanggung jawab untuk merancang, membangun, dan mendukung pesawat teraman di langit. Kecelakaan baru-baru ini hanya meningkatkan dedikasi kami untuk itu (meningkatkan keselamatan penumpang),” ujar Dennis.
Batik Air, maskapai full service nasional baru saja kedatangan armada pesawat terbarunya, yaitu Airbus 320-200CEO (A320) dengan registrasi PK-LZI yang langsung dikirim dari pabrikan Airbus di Toulouse, Perancis. Pesawat narrow body ini merupakan pesanan ke-43 dari total pesanan Lion Air Group pada A320 yang mencapai 234 unit.
Baca juga: Setelah Terbang 19 Jam dari Toulouse, Airbus A320CEO Ke-42 Batik Air Telah Tiba di Indonesia
PK-LZJ lepas landas (27/ 4) dari Bandara Internasional Finkenwerder di Hamburg barat daya, Jerman (XFW) pukul 12.37 waktu setempat (Currently Central European Summer Time/ CEST, GMT+2) tujuan Abu Dhabi. Sebagai informasi, airport ini bagian yang tidak terpisahkan dari pabrik Airbus di Hamburg serta secara eksklusif digunakan penerbangan korporat, pengiriman dan pengujian pesawat. PenerbanganTK B-001 telah mendarat di Bandar Udara Internasional Al Bateen, Abu Dhabi, United Arab Emirates (AZI) pada 21.21 waktu setempat (Gulf Standard Time/ GST, GMT+4).
Batik Air melanjutkan perjalanan (28/ 4) dari Bandar Udara Internasional Al Bateen pukul 22.20 waktu setempat dan tiba di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia (KUL) pada 09.24 waktu setempat (Malaysia Time/ MYT, GMT+8). Kemudian A320CEO PK-LZJ berangkat dari Kuala Lumpur pada 10.48 waktu setempat dan sudah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK) pukul 11.46 waktu setempat (Western Indonesia Time/ WIB, GMT+7).
Batik Air menggunakan nomor penerbangan ID-001 menempuh perjalanan sekitar 19 jam 40 menit. Pesawat mengudara bersama kru yang bertugas, yaitu pilot Capt. Tony Santoso, Yulian Hospi Lucki Yanuar, Alva Tampan Wulano, Firstio Dhenoviasa; engineer oleh Budi Elland Putra, Saiful Hidayat, Endro Sulistyo.
Airbus A320 PK-LZJ melengkapi kekuatan dari armada yang saat ini dioperasikan Batik Air, terdiri dari 42 Airbus 320-200CEO (12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi), enam Boeing 737-900ER (12 kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi) serta delapan Boeing 737-800NG (12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi).
Airbus 320 Batik Air memiliki konfigurasi lorong tunggal (single aisle) dengan tata letak dua kelas yaitu ekonomi (3-3) dan bisnis (2-2). Pesawat ini telah dibekali teknologi modern dan fitur-fitur yang memberikan kenyamanan setiap tamu ketika berada di kabin.
Melalui pesawat baru, Batik Air akan terus mengembangkan konsep full-service seiring memperkuat jaringan domestik dan internasional dengan tetap mengedepankan faktor keselamtan dan keamanan (safety first). Hingga kini Batik Air melayani lebih dari 45 destinasi domestik dan internasional ke Singapura; Chennai, India; Perth, Australia serta Guilin dan Kunming di Tiongkok, frekuensi penerbangan mencapai lebih dari 350 perhari.
Baca juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?
Rencananya A320 PK-LZJ difungsikan untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang dan barang, memperkuat layanan rute yang sudah ada serta pengembangan jaringan perusahaan seperti pembukaan rute baru. Selain itu kami menilai, pesawat baru mampu menambah tingkat kepercayaan dan loyalitas dari para tamu kepada Batik Air. Hadirnya pesawat baru, memberikan optimis terhadap tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance/ OTP) per hari. Saat ini, Batik Air mencatatkan rata-rata OTP 92,63 persen.
Tak terasa, fase komersial MRT Jakarta sudah berlangsung hampir satu bulan sejak layanan berbayar dengan potongan tiket 50 persen diberlakukan per 1 April lalu. Sebagai tahapan besar dalam implementasi layanan publik, PT MRT Jakarta terus melakukan monitoring dan evaluasi pada pergerakan dan tren penumpang. Dan selama periode komersial 2 hingga 28 April, pihak MRT Jakarta memberikan laporan yang cukup menggembirakan.
Baca juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta
Dalam acara Forum Jurnalis MRT Jakarta yang digelar di Hotel Neo Melawai (29/4), Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menyebut bahwa rata-rata penumpang per hari MRT Jakarta mencapai angka 82.615 orang. Dengan adanya peningkatan penumpang pada weekend yang mencapai 11 persen dibanding penumpang pada weekdays (hari kerja).
Dalam paparannya, William lebih spesifik menyebut bahwa puncak trafik penumpang terjadi pada Sabtu, 13 April dengan capaian 169 ribu penumpang. Sementara pada hari Pemilu yang berlangsung 17 April lalu, trafik MRT Jakarta terlihat menurun menjadi 80.611. Pihak MRT Jakarta membagi penumpang layanan sebagai pengunjung dan komuter, khususnya komuter adalah penumpang yang menggunakan jasa MRT untuk aktivitas bekerja sehari-hari.
Dan menyambut bulan Mei 2019, PT MRT Jakarta mengusulkan kepada pihak Pemprov DKI untuk terus memperpanjang masa potongan tiket, sembari dilakukan evaluasi pada pricing. Di Mei 2019 yang bertepatan dengan masuknya awal Bulan Suci Ramadhan, MRT Jakarta akan mengoperasikan 16 set kereta pada weekday, dengan rincian 14 set berjalan dan 2 set standby di depo. Sementara pada weekend aka nada 7 set yang berjalan setiap harinya.
Baca juga: Di Hari Perdana Komersial MRT Jakarta, Vending Machine dan Passenger Gate Masih Bermasalah
Dengan menjual ketepatan waktu yang mencapai level 99,8 persen, MRT Jakarta pada Mei 2019 akan menerapkan headway per 5 menit pada jam sibuk (07.00 – 09.00 dan 17.00 – 19.00 WIB) dan headway per 10 menit di luar jam sibuk. Pada weekend headway diberlakukan per 10 menit.
Di bulan Ramadhan, MRT Jakarta memberikan kelonggaran untuk bisa makan dan minum sekedar untuk berbuka puasa, tentunya dengan syarat sisa makanan/minuman harus dibawa dan dibuang setelah keluar dari kereta.
Sonar Bangla Express yang merupakan kereta antar kota di Bangledesh yang membentang antara ibukota Dhaka dan Chittagong. Tapi tahukah Anda gerbong-gerbong kereta tersebut dibuat di pabrik mana? Ternyata gerbong-gerbong untuk Sonar Bangla Express adalah besutan PT INKA milik Indonesia.
Baca juga: Ekspor 14 Bus ke Bangladesh, Karoseri Laksana Andalkan Sasis dari Scania
Rangkaian gerbong buatan PT INKA di Sonar Bangla Express melayani perjalanan nonstop untuk rute yang memakan waktu sekitar lima jam 40 menit perjalanan. Sonar Bangla Express ternyata menjadi kereta kedua setelah Subarna Express dan berhenti hanya di Stasiun Bandara Dhaka dan tarifnya pun cukup tinggi.
Namun meski begitu tarif ini sudah termasuk dengan makanan yang disediakan oleh Bangladesh Parjatan Corporation. Kereta ini memiliki jadwal keberangkatan dari Stasiun Dhaka pukul 07.00 pagi waktu Bangladesh dan tiba pukul 12.20 di Chittagong.
Sedangkan dari Chittagong sendiri berangkat pukul 17.00 waktu setempat dan tiba di Dhaka pukul 10.10 malam. Kereta ini tidak akan beroperasi setiap Selasa dari Chittagong dan Rabu dari Dhaka.
Satu rangkaian kereta terdiri dari 14 hingga 16 gerbong dengan 746 kursi yang tersedia. Kelas di Sonar Bangla Express terbagi antara Shovan, Snigdha (AC) dan AC Berth. Bisa dikatakan kereta ini merupakan kereta mewah pertama dan tercepat di Bangladesh.
Kereta Buatan PT INKA untuk Bangladesh. Sumber: anekainfounik.files.wordpress.com
Kereta besutan PT INKA ini mulai meluncur di rel Bangladesh sejak 2016 lalu setelah peresmiannya. Berwaran merah hijau, kereta ini ternyata ditarik oleh lokomotif kelas 2900 dari Bangladesh Railway.
Bangladesh diketahui memesan sebanyak 250 gerbong kereta dari PT INKA. Dimana gerbong-gerbong ini pun pengirimannya bertahap dan baru-baru ini dikirim lagi 50 gerbong ke Bangladesh. Humas PT INKA Muhammad Advin mengatakan, kereta yang dikirim secara bertahap dan ini kereta campuran untuk kelas eksekutif dan ekonomi.
“Kalau keretanya sama dengan Indoneisa, ada yang pake AC dan kipas atau kipas saja. Kita juga buat dan kirim kereta sleeper ke sana,” ujar Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (29/4/2019).
Baca juga: Tak Jadi Beroperasi Tahun Ini, Pabrik PT INKA di Banyuwangi Dibuka Tahun 2020
Dia mengungkapkan setiap pengiriman yang dilakukan PT INKA, tipe keretanya selalu bervariasi. Untuk kereta sleeper bertingkat dan berbilik atau berkamar. “Yang dimaksud sleeper bertingkat adalah kasurnya bukan keretanya yang bertingkat dua,” jelas Advin.
Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) siap untuk dioperasikan seiring dengan penerbitan Sertifikat Bandar Udara Bandara Internasional Yogyakarta dengan nomor sertifikat 149/SBU-DBU/IV/2019 oleh Direktorat Jenderal Bandar Udara (DJBU) Kementerian Perhubungan pada 26 April 2019. Adapun penerbangan komersial pertama akan dilakukan pada dalam waktu dekat oleh maskapai Citilink dan Lion Air. Nantinya YIA akan beroperasi dari 06.00 – 18.00 WIB.
Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara
“Melalui terbitnya Sertifikat Bandar Udara dari Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan 26 Maret 2019 lalu, kami menyatakan kesiapan Bandara Internasional Yogyakarta untuk dioperasikan untuk penerbangan internasional dan domestik,” kata PTS. General Manager Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) Agus Pandu Purnama.
Secara teknis dan administratif, Bandara Internasional Yogyakarta sudah siap untuk dioperasikan. Hal tersebut dapat dilihat dari dokumen-dokumen persyaratan yang sudah siap seperti Aeronautical Information Publication (AIP), Sertifikat Bandar Udara, Penetapan Kawasan Kepabeanan, Tempat Penimbunan Sementara, Tempat Pemeriksaan Imigrasi.
Adapun berbagai layanan pendukung juga telah siap, seperti layanan navigasi penerbangan; layanan metereologi; layanan pengisian bahan bakar pesawat udara; fasilitas kesehatan pelabuhan, fasilitas karantina ikan, hewan, dan tumbuhan; tenant atau area komersial; groundhandling , dan dukungan transportasi darat (Damri, shuttle bus, kereta api, taksi).
Secara umum, fasilitas sisi udara (airside) YIA ini sudah siap 100 persen dengan panjang runway 3.250 meter dan lebar 75 meter. Spesifikasi runway ini mampu didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380. Adapun fasilitas Penyelamatan Kecelakaan Pesawat – Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam Kategori 8.
Di sisi darat (landside), terminal seluas 12.900 meter persegi sudah dapat digunakan, dari total 210.000 meter persegi pada saat full operation akhir 2019 nanti. Di terminal penumpang tersebut tersedia 12 konter check-in, 2 x-ray, 2 walk through metal detector (WTMD), 400 kursi tunggu, 6 konter imigrasi di kedatangan dan keberangkatan, serta 2 bag conveyor belt.
Adapun fasilitas standar pelayanan bandara lainnya yang sudah tersedia yaitu signage, konter informasi, flight information display system, announcement, informasi transportasi lanjutan, customer service dengan tenaga yang berasal dari warga lokal Kulon Progo, Tourist Information Center, difable lounge, difable toilet, difable lift, difable drop zone, 132 tenaga facilities care, nursery room, kid zone, reading corner, troli sebanyak 400 unit.
Baca juga: Lion Air Resmi Buka Penerbangan Non Stop Yogyakarta – Samarinda
“Dengan segala kesiapan fasilitas YIA yang sesuai dengan standar keselamatan dan keamanan penerbangan global, kami mengundang maskapai lainnya untuk membuka rute-rute baru dari dan menuju YIA. Dengan spesifikasi runway yang mampu menampung pesawat berbadan besar, YIA dapat dijadikan maskapai sebagai hub baru untuk pengembangan rute-rute baru, baik internasional maupun domestik,” kata Agus Pandu Purnama.
Baru-baru ini Singapore Airlines menangguhkan kemitraannya antara KrisFlyer, program frequent-flyer dengan Mileslife. Mileslife sendiri adalah aplikasi seluler yang memungkinkan pengguna mendapatkan miles atau poin dalam penerbangan baik di tempat makan, gaya hidup, ritel, perjalanan dan berbagai pengeluaran lainnya.
Baca juga: Miles KrisFlyer Singapore Airlines Naik Per 7 Desember 2017
Sebab Milislife sendiri memiliki fitur e-wallet yang mana pengguna bisa memperoleh kredit dengan imbalan uang tunai. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman techinasia.com (26/4/2019), Singapore Airlines mengumumkan penangguhan tersebut dengan pemberitahuan singkat di situs websitenya.
(www.techinasia.com)
“Berlaku sejak 22 April 2019, kemitraan KrisFlyer dengan Mileslife untuk sementara ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” bunyi tulisan tersebut.
Pasalnya berbagai tanda dan sinyal menunjukkan Mileslife tengah dalam pergolakan. Hal ini pun terlihat dari 47 karyawan perusahaan ini yang terdaftar di Linkedin sebagai staf Mileslife dimana delapan diantaranya menyatakan terakhir bekerja per April ini.
Ini juga dibuktikan dimana seorang pedagang asal Cina yang mengeluh tidak menerima pembayaran $7420 dari Mileslife sejak Desember 2018 kemarin. Seorang staf mengatakan kepada pedagang tersebut bahwa karyawan banyak yang diberhentikan dan perusahaan tutup.
Beberapa vendor lainnya bahkan melaporkan tidak dapat menghubungi perusahaan yang bermarkas di Cina itu. Karena hal ini kemudian Mileslife mengeluarkan pernyataan dalam bahasa Cina yang menyangkal rumor dan mengatakan bahwa ini bisnis seperti biasa.
Pernyataan tersebut juga menyatakan operasional perusahaan tersebut untung tahun 2018 kemarin. Namun, bisnis secara keseluruhan mengalami kerugian karena operasi di luar negeri. Mileslife kemudian berjanji untuk melunasi semua hutang dengan para pedagang. Tetapi, pernyataan itu tampaknya tidak menyangkal ada PHK.
“Kami juga menyadari bahwa seorang karyawan Mileslife (Cina) telah berbagi bahwa perusahaan itu menyusut operasi di Tiongkok, dan mengurangi tenaga kerja. Kami mohon maaf atas kepanikan ini. Kami mohon maaf karena tidak menyampaikan informasi ini dengan cara yang lebih profesional dan matang,” ujar pernyataan itu.
Perusahaan kemudian merilis pernyataan dalam Bahasa Inggris di Facebook dimana pihaknya memahami bahwa pengguna telah melaporkan contoh terbatas di mana pedagang terpilih menunda sementara penerimaan Mileslife setelah dugaan ini.
“Tim kami bekerja keras untuk menjangkau semua mitra yang berharga untuk mengatasi masalah mereka, dan mencari pengertian Anda atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama ini waktu, “kata pernyataan itu.
Baca juga: Tidur Selonjoran di Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Garuda Indonesia Tawarkan Economy Sleeping Comfort
Singapore Airlines untuk menjelaskan mengapa mereka menangguhkan kemitraan. “Kami juga telah menghubungi Mileslife untuk memberikan komentar dan bertanya apakah Mileslife bermaksud mengembalikan uang kepada pengguna yang membeli kreditnya.”
Menjadi seorang pensiunan kerap kali saat bertemu kembali atau yang biasa di sebut reuni menjadikannya untuk mengingat masa lalu. Hal ini pun dirasakan oleh para awak kabin dan pilot yang bertemu kembali setelah 50 tahun.
Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (27/4/2019), mantan pramugari Malayan Airways Eunice Chua berusia 76 tahun yang hadir dalam reuni tersebut kembali mengenang petualangannya sebagai pramugari di Singapura selama reuni awak kabin dan pilot itu. Reuni ini dihadiri 145 orang mantan awak kabin dan pilot dari Malaysia-Singapore Airlines (MSA) dan Singapore Airlines.
(www.straitstimes.com)
Para mantan awak kabin dan pilot tersebut kini rata-rata berusia 60-an dan 70-an serta sebagian besar diantaranya akhirnya bertemu kembali setelah 50 tahun terakhir berjumpa. Meski telah 50 tahun tak berjumpa, para awak kabin dan pilot perintis tersebut saling mengenali dengan mudah satu sama lain saat reuni yang diadakan di Singapore Criket Club.
“Pertemuan itu adalah kesempatan bagi para keluarga tua untuk mengenang masa lalu dan mengejar ketinggal pesawat saat ini,” ujar Chua.
Chua bergabung dengan maskapai ini tahun 1962 dan terbang ke berbagai destinasi selama sepuluh tahun serta mengalami transisi dari Malayan Airways ke Malaysia-Singapore Airlines. Kemudian tahun 1972, MSA menghentikan operasi dan dirinya berpindah ke maskapai Qantas Airways.
“Penumpang sangat menghargai hal-hal kecil yang kami lakukan untuk mereka saat itu. Ketika saya membantu manula untuk membaringkan kursi mereka, mereka sangat bersyukur mereka memegang tangan saya begitu lama. Kami masih sangat muda dan naif. Kami mengatakan apa yang ada dalam pikiran kami, dan penumpang kami menyukainya,” kata Chua.
Reuni ini diselenggarakan oleh mantan anggota awak kabin Ravinder Pal, 71, karena banyak mantan rekan penerbangannya mengatakan mereka ingin bertemu lagi. Chua mengaku, mereka pernah mengadakan pertemuan kecil di masa lalu, tetapi tidak pernah sebesar skalanya dalam 50 tahun terakhir.
“Semua orang sangat senang bertemu satu sama lain sehingga mereka sudah merencanakan pertemuan berikutnya,” tambahnya.
Peserta tertua adalah mantan pilot Ho Weng Toh yang berusia 99 tahun, yang terbang dengan Malayan Airways, kemudian Malaysia-Singapore Airlines dan akhirnya Singapore Airlines.
“Oh, dan dia bahkan bertarung dalam Perang Dunia II sebagai pilot bomber. Terbang adalah hal yang sangat aneh. Begitu kamu mulai, kamu tidak bisa berhenti. Aku benar-benar rindu melihat awan. Untuk malam ini melihat teman-temanku lagi mendekati perasaan itu,” kata dia.
Mantan pramugari Malayan Airways yang memiliki penglihatan buruk tersebut saat itu memiliki cerita menarik. Dimana melihat bahwa jari-jari kaki penumpangnya mencuat dari lubang di sepatunya. Dia merasa kasihan padanya dan memberinya kantong udara penuh biskuit Thye Hong. Pria itu memberikan kartu namanya, tetapi baru belakangan Chua menemukan bahwa dia adalah seorang jutawan di Kuala Lumpur.
Baca juga: Heinrich Kubis – Awak Kabin Pertama di Dunia yang Cekatan dan Berpengalaman
“Saya memiliki perhentian malam (di sana) dan memutuskan untuk meneleponnya,” kenangnya pada Sabtu (27 April). Yang membuat saya takjub, sebuah Cadillac tiba dengan tuan rumah saya dan keluarganya untuk menjemput saya. Jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Aku mengalami begitu banyak petualangan lucu karena penglihatanku yang buruk,” tutupnya.
Dari sekian banyak varian pesawat Airbus yang telah diluncurkan, pernahkah Anda mendengar varian A370? Nampaknya dari susunan angka yang tersemat di belakang nama armada Airbus, hanya angka 7 lah yang tidak pernah tampak melengkapi bagian A3xx pada awal penamaan dan 0 di akhirnya. Nah, kira-kira kenapa ya varian A370 tidak pernah dirilis oleh pihak Airbus? Atau mungkin varian ini masih dalam proses perkitan dan ada kemungkinan untuk diluncurkan di waktu yang akan datang?
Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?
Sebagai informasi tambahan, rumor dan spekulasi yang beredar soal kehadiran varian A370 di sektor aviasi global ternyata sudah terbentuk sejak bertahun-tahun lalu – tepatnya pada tahun 2006 dimana rumor ini dicetuskan oleh salah satu media yang berfokus pada sektor kedirgantaraan internasional, Aviation Pros. Dalam artikel tersebut, tercatat sebuah “buzz in Paris” pada pagelaran tahunan yang diadakan oleh International Air Transport Association (IATA).
Ya, frasa “buzz in Paris” ini diartikan oleh banyak pihak sebagai sebuah gebrakan yang akan dilakukan oleh Airbus, mengingat sentra bisnis pesawat sipil Airbus berada di Blagnac, pinggiran kota Toulouse, Perancis. Namun apalah arti desas-desus yang beredar luas di masyarakat tanpa adanya pergerakan dari pihak manufaktur – semuanya hanya akan meninggalkan rasa penasaran yang mendalam terhadap pecinta aviasi global.
Bahkan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (28/4/2019), saking penasarannya warganet dengan pesawat Airbus A370 yang hingga saat ini belum atau bahkan tidak akan dirilis oleh pihak Airbus, mereka (warganet) sampai-sampai membuat gambaran mereka sendiri tentang pesawat A370 ini. Dimana kebanyakan dari warganet menggambarkan Airbus A370 sebagai pesawat mesin ganda dan bertingkat dua – hampir mirip seperti Airbus A380 hanya saja ini merupakan versi mininya.
Sementara itu, di tahun 2014, rumor tentang hadirnya Airbus A370 kembali muncul. Adalah media Global Security yang kembali melemparkan isu ini ke hadapan publik. Pada artikel tersebut, mereka memberikan gambaran bahwa bisa saja ukuran dari Airbus A370 ini (apabila dirilis oleh pabrikan pesawat kelak) akan berada di antara ukuran A321 dan A330 atau di antara ukuran A350 dan A380.
Baca Juga: Sukhoi KR-860, ‘Kembaran’ Airbus A380 yang Tak Pernah Mengudara
Jika ukurannya saja masih mengambang seperti ini, maka kapasitasnya pun masih belum dapat ditentukan – bisa saja A370 ini merupakan pesawat narrow-body atau juga pesawat wide-body.
Pada akhirnya, Airbus sendiri masih belum merilis informasi lebih lanjut mengenai varian ini. Jadi ada baiknya, Anda tidak perlu berasumsi terlalu jauh mengenai Airbus A370 dan menunggu pihak informasi resmi dari perusahaan terkait pesawat varian ini.