Jika kondisi memungkinan, sejatinya pembangunan jaringan kereta komuter, baik di segmen MRT (Mass Rapid Transit) atau LRT (Light Rapid Transit) ditekankan untuk memilih salah satu diantara tiga opsi, yaitu elevated (jalur layang), underground (jalur bawah tanah), atau grounded yang menapak di atas tanah. Namun umumnya karena kondisi kontur geografi dan struktur bangunan di sekitarnya, menjadikan operator kereta harus memilh opsi hybrid, contohnya seperti MRT Jakarta yang mengkombinasikan lintasan elevated dan underground.
Baca juga: Ketika LRT Mogok, Penumpang Harus ‘Siap’ Berjalan Kaki di Elevated Track
Sebaliknya, jaringan LRT seperti proyek Jabodebek dan LRT di Palembang, memilih opsi full elevated. Selain kontur geografis dan kondisi bangunan di sekitarnya, yang tak kalah penting adalah biaya pembangunan, disini implementasi jaringan underground jelas yang paling tinggi. Namun lepas dari itu semua, pemilihan jaringan pada MRT/LRT rupanya juga terkait dengan konsumsi energi yang harus dikeluarkan oleh operator.
Dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (14/1/2019), General Manager LRT Departemen PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Isman Widodo, menyatakan bahwa tidak naik turunnya kereta memungkinkan biaya operasional LRT nantinya bisa lebih hemat. Sebab, perlintasan menanjak atau menurun di rel besi tidak bisa disamakan dengan di jalanan yang hanya dilalui ban mobil dan aspal. Semakin banyak lintasan yang naik dan turun, maka tenaga yang dibutuhkan di kereta juga bakal semakin besar dan biayanya pun semakin mahal.
PT Adhi Karya yang mantab membangun LRT pada lintasan elevated tentu memiliki pertimbangan matang, di antaranya yaitu perimbangan antara capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) model elevated yang dianggap paling efisien, kapasitas kereta, hingga teknologi yang digunakan. “Konsep elevated ini lebih murah ketimbang bentuk underground atau bawah tanah, serta lebih efisien dan cepat dibandingkan menapak di atas tanah atau grounded yang memerlukan biaya yang besar,” ujar Iswan Widodo.
Baca juga: Eksklusif! Inilah Penampakan Bagian Dalam Stasiun MRT Dukuh Atas
Sementara dari sisi lain, pembangunan jaringan underground, meski menelana biaya besar dan waktu lebih lama, tapi punya nilai prestis tersendiri bagi suatu negara. Kehadiran jaringan kereta bawah tanah, tak dikesampingkan sebagai tolok ukur kemajuan transportasi di suatu negara.
Mirip dengan Uber Pool, ada layanan ride sharing bersama dengan orang lain baru-baru ini diluncurkan di Dhaka, Bangladesh. Layanan multi penumpang ini dijalankan oleh perusahaan aplikasi ride sharing Buddy. Buddy diluncurkan di Dhaka pada Kamis (30/1/2019) yang bertujuan memudahkan penumpang untuk berbagi tarif pembayaran dengan penumpang lainnya.
Baca juga: Tutupi Kerugian, Uber Bakal Maksimalkan Moda Transportasi Individual
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dhakatribune.com (1/2/2019), Buddy saat ini menjadi satu-satunya perusahaan ride sharing di Bangladesh yang menawarkan layanan multi penumpang. Buddy Ltd sendiri adalah saudara dari Microtrade Group Bangladesh yang bermitra dengan Microsoft Bangladesh untuk meluncurkan aplikasi dengan sepuluh minibus yang dimiliki perusahaan tersebut. Moto dari Buddy adalah ‘Ayo bergerak dengan aman’ dan perusahaan meluncurkan aplikasi tersebut setelah hampir satu tahun pengujian.
“Layanan ini diharapkan dimulai dari Dhanmondi, Mirpur 1 dan Uttara. Kami awalnya ingin meluncurkan 100 minibus di kota, menargetkan pejabat perusahaan, wanita dan mahasiswa yang siap untuk menghabiskan lebih dari tarif bus reguler tetapi jauh lebih rendah daripada aplikasi berbagi perjalanan lainnya,” ujar Direktur Pelaksana Microtrade S MD Jashimuddin Chisty.
Chisty menambahkan, layanan ini akan sangat hemat biaya, sebab banyak orang yang akan memanfaatkannya pada waktu yang bersamaan. Dia menjelaskan, layanan multi penumpang sendiri terinspirasi dari aplikasi Uber dan Pathao dimana layanan transportasi lebih murah tetapi hemat biaya bagi pelanggan. Menurut informasi yang tersedia di situs web perusahaan, satu perjalanan bisa mengangkut sekitar enam hingga sepuluh penumpang sekaligus.
“Fitur utama dari aplikasi ini adalah perjalanan yang aman dan aman bagi penumpang, sementara pada saat yang sama, memastikan harga yang lebih rendah,” kata Chisty.
Dia melanjutkan bahwa kamera CCTV telah dipasang di semua kendaraan untuk mengamati situasi di dalamnya secara real time. Sehingga, jika terjadi keadaan darurat, pihaknya bisa mematikan kendaraan dari jarak jauh. Selain itu, tim keamanan seluler yang mengendarai sepeda motor juga siaga untuk memastikan keamanan bagi penumpang.
Layanan dapat dimulai dari mana saja tetapi tujuan rute akan ditentukan oleh penumpang pertama. Nantinya, penumpang lain akan dijemput saat pergi ke tujuan. Direktur pelaksana mengatakan idenya telah menarik beberapa investor dan banyak perusahaan telah berusaha untuk berinvestasi dalam platform tersebut.
Baca juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing
Diketahui, sebelum kehadiran Buddy, Uber telah menghadirkan layanan Uber Pool dimana layanan ini mengangkut beberapa penumpang dengan tujuan yang sama. Kelebihannya adalah pembayaran yang dilakukan oleh penumpang lebih murah dan tidak menghabiskan banyak biaya dibandingkan memesan untuk diri sendiri.
Berharap bisa mengudara secara cuma-cuma? Nampaknya pernyataan tersebut terlalu muluk-muluk, ya! Tapi jangan salah, penumpang maskapai Air New Zealand pada akhir Januari 2019 kemarin bisa mengudara secara gratis lho! Syarat dan ketentuannya juga terbilang mudah, namun cukup menyeramkan – menahan diri selama pesawat terkena turbulensi.
Baca Juga: Turbulensi, Guncangan Saat Mengudara Yang Tak Perlu Ditakuti
Ya, KabarPenumpang.com mengutip dari laman nypost.com (25/1/2019), Air New Zealand dengan nomor penerbangan NZ5715 yang mengudara pada Rabu (23/1/2019), diterpa turbulensi yang sangat kuat. Saking kuatnya, sekira 20 persen penumpang yang ada di dalam penerbangan dari Christchurch menuju Invercargill ini mengalami muntah-muntah. Tidak hanya sekali, namun penumpang yang ada di dalam penerbangan tersebut mengatakan, “turbulensi hampir tiada henti,”
Ketika baru mengudara, kapten penerbangan kala itu sudah memperingatkan penumpang bahwa perjalanan tidak akan berjalan mulus dikarenakan faktor cuaca. Namun ternyata, turbulensi yang mengguncangkan penerbangan tersebut sangatlah parah, yang lalu berimbas pada kenyamanan penumpang.
“Benar-benar tanpa henti. Mungkin kami hanya memiliki waktu 10 menit untuk bisa menikmati perjalanan yang nyaman, namun setelah itu turbulensi kembali melanda,” ujar salah satu penumpang yang bernama Owen Scott.
“Sebelumnya, pilot memang sudah mengumumkan bahwa perjalanan ini tidak akan nyaman. Semoga itu menjadi perjalanan sekali seumur hidup saya,” imbuhnya sembari mengingat detail kejadian tersebut.
Owen yang merupakan seroang penumpang yang berdomisili di Invercargill ini tengah mengudara bersama istrinya, Cara dari Christchurch setelah menjalani pengobatan kanker.
“Saya sadar bahwa saya harus berkonsentrasi padanya (Cara) … tapi apa yang terjadi di dalam penerbangan tersebut sama sekali tidak ada drama yang dibuat-buat,” papar Owen.
Menanggapi hal ini, seorang juru bicara dari Air New Zealand mengatakan bahwa kendati perjalanan tersebut berjalan tidaklah mulus, namun pendaratan berlangsung lancar dan sesampainya di darat, para penumpang yang terdampak guncangan turbulensi langsung mendapatkan perawatan dari pihak medis.
Baca Juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!
“Air New Zealand menawarkan kepada pelanggan yang terdampak turbulensi dalam penerbangan tersebut berupa pengembalian dana penuh sebagai pengakuan atas pengalaman penerbangan mereka yang kurang menyenangkan. Selain itu, penumpang juga memiliki pilihan untuk menghadiri debriefing dengan awak pesawat,” ujar pihak Air New Zealand.
Ya, turbulensi hingga saat ini masih menjadi momok menakutkan yang membuat penumpang seolah kapok untuk mengudara.
Jaringan kereta Metro di Manila, Filipina sempat menjadi topik hangat perbincangan baru-baru ini. Bukan karena masalah keterlambatan pemberangkatan armada atau gangguan lain yang menyebabkan penumpukan di stasiun, melainkan karena ulah salah satu penumpangnya yang mendapat peringaran dari petugas keamanan. Alih-alih berterima kasih karena telah diingatkan tentang aturan yang berlaku, tapi si penumpang ini malah membuat kondisi semakin runyam! Duh, kira-kira penumpang ini ngapain ya?
Baca Juga: Inilah Alasan Perlunya Dua Kali Skrining Keamanan di Bandara
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kejadian ini berawal ketika seorang penumpang wanita berkewarganegaraan Cina hendak menggunakan moda Metro Transit Line 3 (MRT-3) pada Sabtu (9/2/2019) kemarin sekira pukul 08.30 waktu setempat. Namun karena ia tidak mengetahui peraturan yang berlaku, maka penumpang yang disinyalir bernama Jiale Zhang ini diberhentikan petugas karena ia membawa makanan/minuman ke dalam rangkaian kereta.
Jiale diperingatkan petugas karena tidak boleh membawa makanan/minuman ke dalam rangkaian kereta. Namun alih-alih berterima kasih karena sudah diingatkan, Jiale lalu malah melempar taho yang ia bawa ke arah petugas yang bernama William Cristobal. Taho sendiri merupakan makanan ringan asal Filipina yang terbuat dari tahu sutra, arnibal, dan mutiara sagu.
Taho. Sumber: istimewa
Karena dianggap sudah melakukan tindakan tidak terpuji kepada petugas, akhirnya Jiale diamankan menuju Mandaluyong Police Community Precinct 5 yang berada tidak terlalu jauh dengan stasiun MRT Boni – tempat Jiale melempar taho kepada William.
“Perlu juga dicatat bahwa bahkan sebelum larangan air minum kemasan, minuman dan cairan baru-baru ini, konsumsi makanan dan minuman tanpa segel juga dilarang di dalam kereta dan stasiun karena hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kecelakaan, dan keterlambatan operasi kami,” ujar seorang juru bicara dari operator kereta.
Manajemen MRT3 baru-baru ini juga melarang penumpang untuk membawa serta barang-barang berbentuk cair di dalam stasiun karena pertimbangan keamanan. Yang dikecualikan dari larangan tersebut adalah: susu formula, air minum untuk bayi atau anak kecil, obat-obatan, dan cairan lain yang dibutuhkan oleh seorang penumpang penyandang disabilitas.
Selain dikhawatirkan membuat kondisi tidak nyaman – dengan pertimbangan cairan tersebut tumpah dan membuat lantai menjadi kotor, alasan lain di balik pelarangan ini adalah adanya kabar yang menyebutkan perakitan bom dengan menggunakan bahan baku cairan khusus.
Baca Juga: Seorang Wanita Bawa Pisau dan Lolos dari Alat Pemindai, 3 Ribu Penumpang Tertahan di Bandara Auckland
“DOTr MRT-3 ingin menekankan bahwa penerapan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat di dalam kereta dan stasiun kami semata-mata untuk penumpang kami. Kami berhati-hati karena kami mengutamakan keselamatan dan keamanan penumpang dan personel kami setelah serangan di Mindanao tempo hari,” ujar pihak Departemen Transportasi Filipina.
Atas ulahnya tersebut, Jiale didakwa tidak menaati peraturan yang berlaku dan upaya penentangan terhadap petugas. Belum diketahui hukuman apa yang akan dilimpahkan kepada Jiale, namun dirinya kini terpaksa mendekap di balik tahanan markas besar kepolisian Mandaluyong.
Flag carrier Garuda Indonesia dikabarkan baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan berbagi tumpangan (ride-hailing), Go-Jek. Dalam kerja sama ini, maskapai plat merah ini menyasar distribusi logistik dan aplikasi e-commerce kepada para pelanggan Garuda yang ada di Indonesia. Menurut Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara, diharapkan kesepatakan kerja sama antara pihak maskapai dan Go-Jek bisa rampung dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!
Ari juga menambahkan, hingga saat ini, proses komunikasi antar dua belah pihak sudah masuk ke dalam tahap lanjutan. Mantan Direktur Utama PT Pelindo III ini memaparkan bahwa Garuda Indonesia tengah mengembangkan teknologi baru yang berkaitan dengan e-commerce dan logistik.
Dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kemitraan ini akan memungkinkan barang yang dipesan melalui aplikasi Gojek di satu kota di Indonesia untuk dikirimkan menuju kota lain dengan menggunakan armada Garuda Indonesia. Namun Ari enggan merinci lebih lanjut soal kerja sama ini.
Sementara itu menurut Sales & Service Manager Garuda Indonesia Makassar, Ade Nurman, pihaknya mengaku sangat excited dengan keputusan yang tengah dimatangkan oleh kantor pusat tersebut.
“Kerja sama itu saat ini dalam tahap pembicaraan. Bila ini jadi, bisa pengiriman door to door,” ungkap Ade, dikutip dari laman tribunnews.com (10/2/2019).
Sejak beroperasi pada 2011 silam di Jakarta, Go-Jek telah berevolusi dari layanan ride-hailing menjadi aplikasi ‘satu atap’ di mana pelanggan dapat melakukan pembayaran online lewat Go-Pay dan memesan semuanya, mulai dari makanan, bahan makanan hingga barang e-commerce.
Tidak hanya dengan menggunakan digital payment saja, Go-Jek juga menerima pembayaran dengan menggunakan uang konvensional. Menurut cnbcindonesia.com, Go-Jek kini menjadi perusahaan unicorn startup, atau perusahaan rintisan dengan valuasi di atas US$ 1 miliar.
Baca Juga: GoJek Rambah Empat Negara di Asia Tenggara
Masih lekang dalam ingatan, pada 1 Februari 2019 lalu, Go-Jek merampungkan fase pertama dari putaran pendanaan Seri F yang dipimpin oleh Google, JD.com, dan Tencent, serta beberapa investor lainnya termasuk Mitsubishi Corporation dan Provident Capital.
Operator Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru, India telah memutuskan untuk memasang pembangkit listrik tenaga surya pada bagian atap bandara tersebut. Pemasangan pembangkit listrik tenaga surya berdaya 3,35MW ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi bandara yang kian meningkat setiap harinya. Adapun operator bandara bekerja sama dengan Sunshot Technologies dalam urusan instalasi pembangkit listrik ini.
Baca Juga: Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (8/2/2019), alat pembangkut listrik tenaga surya ini dipasang di delapan titik atap bandara, termasuk Menzies Bobba, SATS Air India, Coolport dan sejumlah gedung kantor bandara berkode IATA BLR ini. Diperkirakan bahwa pembangkit listrik tenaga surya ini akan menghasilkan sekitar 4,7 juta unit listrik setiap tahunnya.
Selain itu, pembangkit listrik tenaga surya ini juga diharapkan dapat mengurangi kadar emisi CO2 sebanyak 3.800 ton setiap tahunnya. Panel surya yang dipasang di Bandara Internasional Kempegowda ini menggunakan material yang ringan, anti bocor, anti korosi, dan tahan terhadap terpaan angin kencang. Panel surya ini juga dirancang khusus guna menghindari pantulan sinar matahari – dimana ini akan berdampak pada pengoperasian penerbangan sehari-hari di sana.
“Sebagai role model untuk kemajuan yang berkelanjutan, Bandara Internasional Kempegowda berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut, kami berharap dapat mengaplikasikan bandara dengan energi terbarukan 100 persen pada tahun 2020 mendatang,” ungkap wakil presiden pemeliharaan Bandara Internasional Kempegowda, Lakshminarayanan Sankaran.
“Untuk itu, proyek pengadaan panel surya ini akan membantu Bandara Internasional Kempegowda untuk mengurangi emisi karbon dan mencapat netralitas energi,” tandasnya.
Proyek instalasi pembangkit listrik tenaga surya di Bandara Internasional Kempegowda Bengaluru ini rencananya akan dilaksanakan dalam dua tahap. Selama fasepertama yang dimulai pada tahun 2017 kemarin, pihak bandara telah menyelesaikan pemasangan panel surya dengan kapasitas 503kW, panel surya berkapasitas 2,5MW yang dipasang di tanah, dan 425kW sisanya di parkiran mobil.
Baca Juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme Himalaya
Selain itu, Bandara Internasional Kempegowda juga rencananya akan membeli 20MU melalui akses terbuka dari pabrik Bosch, dan 20 MU lagi dari Cleanmax selama tahap instalasi kedua.
Pada bulan Januari 2019 kemarin, Bandara Internasional Kempegowda mengajukan rencana untuk melakukan program ekspansi besar-besaran senilai Rs130bn (US$1,8 miliar) yang mencakup pembangunan terminal baru, landasan pacu kedua, jalan akses, dan infrastruktur jalan internal.
Setelah belum lama Qantas Airways memutuskan untuk membatalkan pesanan 8 unit Airbus A380, kini ada kabar bahwa maskapai terbesar pengguna A380, yaitu Emirates, berpotensi untuk tidak melanjutkan pemesanan A380. Emirates seperti diketahui, tengah dalam proses pemesanan 59 unit A380, saat ini Emirates telah mengoperasikan 109 unit Airbus A380, dengan unit perdana diterima pada tahun 2008.
Baca juga: Semakin Terpuruk, Airbus Terima Pembatalan Pesanan A380 dari Qantas Airways
Dikutip dari engineering.com (8/2/2019), pihak Emirates disebut-sebut telah membicarakan untuk keluar dari kesepakatan dengan Airbus. Beberapa indikasi seperti setahun sejak kontrak, Emirates telah berdebat dengan pemasok mesin, Rolls Royce akan kinerja mesin. Indikasi kedua yaitu rencana Emirates untuk pindah hub, ke bandara New Dubai World Central yang punya kapasitas penumpang lebih besar dari bandara saat ini. Perpindahan hub bandara ini rencananya akan tuntas pada tahun 2024.
Di New Dubai World Central Airport, kemungkinan besar Emirates akan meminimalkan kebutuhan pesawat sekelas A380. Salah satu alasan Emirates mengorder A380 adalah kapasitas penumpang yang besar, dengan lebih dari 600 penumpang sekali angkut. Saat itu, dipandang sebagai solusi trafik penerbangan yang tinggi di Bandara Internasional Dubai.
Meski berpotensi membatalkan pesanan A380, namun pilihan pemesanan sebagai penggantinya tetap dari Airbus, yang digadang adalah Airbus A350 atau A330Neo. Kedua pesawat twin engine tersebut punya kapasitas lebih kecil, namun punya jangkauan terbang lebih jauh dari A380, dan yang lebih penting lagi lebih efisien dalam bahan bakar, karena hanya menggunakan dua mesin.
Desas desus rencana Emirates untuk membatalkan pesanan A380 sudah terbaca pihak Airbus sejak tahun lalu. Pejabat eksekutif Airbus, John Leahy menyebutkan bahwa pihaknya kemungkinan besar akan menghentikan sepenuhnya produksi A380. Beberapa analis penerbangan juga berpendapat bila masa depan A380 sangat tergantung pada keputusan Emirates.
Baca juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid
Lesunya pesanan A380 sudah direspon Airbus, salah satunya dengan memperlambat kapasitas produksi menjadi 8 unit setahun, dan hanya akan menyerahkan 6 unit pesawat per tahun mulai 2020. Berita tentang masa suram A380 uniknya justru direspon positif oleh pasar saham, investor umumnya melihat tidak ada masa depan untuk proyek A380.
Kecurangan atau fraud merupakan fenomena yang terjadi di industri berbagi tumpangan atau ride hailing di Indonesia. Salah satunya adalah order fiktif yang dilakukan demi mendapatkan bonus dari perusahaan transportasi.
Baca juga: GoJek Kalah Saing, Grab Maju Selangkah Hadirkan Fitur AsuransiKabarPenumpang.com melansir dari laman scmp.com, selain fraud dengan order fiktif adapula dengan Fake GPS atau GPS palsu yang digunakaan untuk mencurangi lokasi di Global Positioning System (GPS). Kedua hal inilah yang mendasari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dan firma riset Spire Research and Consulting melakukan riset terkait fraud tersebut.
Sebanyak 61 persen pengemudi yang mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat mengetahui pengemudi lainnya melakukan penipuan. Tak hanya itu lebih dari 80 persen pengemudi mendapatkan pesanan palsu setiap minggu dan satu dari tiga pengemudi melihatnya setiap hari.
Menurut Grab, di Asia Tenggara sendiri sebanyak 20 persennya adalah order fiktif. Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF mengatakan, pengemudi melakukan penipuan karena tidak takut ketahuan dan bisa mendapatkan bonus tanpa harus bekerja.
“Sistem deteksi perusahaan masih lemah sehingga banyak pengemudi yang berpikir itu aman bagi mereka bila melakukan fraud karena hanya beberapa dari mereka yang ketahuan,” ujar Berly.
Apalagi di Indonesia menjadi medan persaingan antar dua ride hailing yakni Grab dan GoJek setelah Uber menarik diri dari Indonesia. Kompetisi keduanya bahkan termasuk ke ranah promosi dan pembayaran bonus.
Sumber: istimewa
Untuk melawan tren ini, Grab dan GoJek memperbarui alat anti penipuan mereka dalam beberapa bulan terakhir. Kampanye ini juga dipantau secara ketat oleh investor sebagai cara untuk mengukur, antara lain, nilai perusahaan, sumber dalam industri mengatakan. GoJek, khususnya, harus menunjukkan bahwa ia dapat mengatasi penipuan di pasar dalam negeri Indonesia sebelum berekspansi ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Perusahaan dengan senilai US$5 miliar ini, telah menyisihkan US$500 juta untuk ekspansi ke Singapura, Vietnam, Thailand dan Filipina. Survei INDEF menunjukkan bahwa 42 persen pengemudi mengatakan GoJek memiliki penipuan terbanyak, dibandingkan dengan Grab yang 28 persen.
Selain dari aplikasi GPS, pengemudi Indonesia sering membuat akun pengemudi dan pengendara palsu, atau membeli satu di banyak kios komputer di mal Jakarta, dijual dengan harga hingga satu juta rupiah. Hal ini memungkinkan mereka untuk membuat pemesanan perjalanan sendiri dan berpura-pura menyelesaikan perjalanan untuk mencapai tanda insentif.
Metode lain disebut “default tunai”, di mana pengemudi menggunakan akun palsu dan hanya menerima wahana dari penumpang yang membayar tunai. Untuk penipu yang mengerti teknologi, mereka akan menggunakan versi tidak resmi dari aplikasi dan telepon yang dimodifikasi yang memungkinkan mereka untuk memotong deteksi lokasi root dan me-reject, serta untuk membatalkan perjalanan tanpa konsekuensi. Di web yang gelap, ada setidaknya 1300 versi aplikasi GoJek tidak resmi untuk Android, dibandingkan dengan tiga dari Grab.
Grab dan GoJek baru-baru ini memperkuat kampanye anti-penipuan dan alat deteksi mereka untuk melawan wahana phantom, khususnya di Indonesia dimana kecurangan lebih menonjol. Grab memperkenalkan program whistle-blower yang disebut “Fairplay” yang telah menghasilkan 9000 tips dan menghasilkan sepuluh buah sindikat ilegal di seluruh Indonesia.
Program itu, telah menyebabkan pengurangan penipuan sebesar 80 persen dalam 12 bulan terakhir. Adapun GoJek, pada bulan April 2018 meluncurkan alat deteksi yang akan memperingatkan pengemudi melalui notifikasi pop-up jika mereka menggunakan aplikasi GPS palsu.
Baca juga: Meski Difabel, Bukan Halangan Bagi Wanita ini Menjadi Pengantar GrabFood
“Hingga Juni kami telah memberi sanksi kepada ratusan ribu pengemudi dan pelanggan yang terlibat dalam menempatkan pesanan palsu. Sistem kami mendeteksi bahwa lebih dari 80 persen wahana phantom terkonsentrasi di area dan jam tertentu, membuat kami percaya bahwa ini dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang misinya adalah membawa wahana palsu ke platform GoJek,” kata Michael Say, wakil presiden komunikasi perusahaan di Go-Jek.
New Yogyakarta International Airport (NYIA) atau Bandara Internasional Kulon Progo akan segera beroperasi, membuat beberapa stasiun yang tak lagi menaik turunkan penumpang akan kembali dioperasikan. Salah satunya adalah Stasiun Wojo yang terletak di Jalan Raya Wates, Purworejo, Jawa Tengah.
Baca juga: NYIA Kulon Progo Beroperasi Pertengahan 2019, Inilah Kesiapan Kereta Bandaranya
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Wojo merupakan stasiun yang berada di bawah manajemen PT KAI Daop VI Yogyakarta dan berada di ketinggian +14 mdpl yang menjadi stasiun kereta api kelas III. Bangunannya merupakan peninggalan masa Hindia Belanda dan didirikan bersamaaan jalur kereta api dari Yogyakarta menuju Maos.
Pengerjaan jalur tersebut dilakukan oleh Staatsspoorwegen Tramwegen in Nederlandsch–Indië (SS) tahun 1877 silam dan menjadi lanjutan proyek jalur Solo Balapan-Yogyakarta. Memiliki tiga jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, Stasiun Wojo sendiri kini hanya digunakan sebagai persusulan kereta dan tidak diketahui kapan berhenti menaik turunkan penumpang.
Bentuk bangunannya sendiri memiliki kemiripan dengan Stasiun Solo Kota dan Stasiun Sukoharjo dengan kekhasan berupa desain atap dan ventilasi bulat serta teralis besi kotak-kotak. Meski bangunan dari masa Hindia Belanda, Stasiun Wojo belum termasuk dalam cagar budaya. Tetapi nantinya akan masuk dalam data cagar budaya dan dikoordinasikan dengan Balai Cagar Budaya.
“Stasiun Wojo memang merupakan peninggalan kolonial, tapi belum tercatat sebagai cagar budaya tanpa menjelaskan alasannya. Kendati demikian dia memastikan stasiun itu bakal didata sebagai cagar budaya dan dikoordinasikan dengan Balai Cagar Budaya. Nanti kami data,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, Agung Wibowo yang dikutip dari harianjogja.com, Rabu (6/2/2019).
Karena tidak lagi ada aktivitas menaik turunkan penumpang di stasiun ini, membuat sejumlah warung rumahan di sekitarnya tutup. Namun, karena dalam waktu dekat NYIA akan segera beroperasi, Stasiun Wojo juga terkena imbasnya dan ada kemungkinan kembali beroperasi serta warung rumahan yang dulu tutup juga bisa kembali berjualan.
Dirjen Perkeretaapian, Zulfikri, memastikan bakal melakukan merevitalisasi Stasiun Wojo, dimana revitalisasi ini guna menunjang pengoperasian bandara. Stasiun kecil ini pun akan kembali berbenah. Tak hanya itu, beberapa bangunan pun juga ikut dipugar.
Fasilitas penunjang kenyamanan untuk para pengguna kereta api yang nantinya berhenti di stasiun tersebut rencananya bakal ditambah. Akses dari stasiun kelas III itu menuju jalan nasional Purworejo-Jogja yang berjarak sekitar 135 meter pun tak luput dibenahi.
Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya
Pemilihan Stasiun Wojo sebagai stasiun transit dari dan ke NYIA bukan tanpa alasan. Berdasarkan citra satelit, jarak dari stasiun itu ke bandara hanya berkisar 3,9 km. Sehingga bila ditempuh dengan kendaraan bermotor hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Sedangkan bila dibandingkan jaraknya dengan Stasiun Wates, Kulonprogo yang berjarak sekitar 18 km dengan sehingga membutuhkan waktu tempuh 20 menit.
Taksi aman untuk wanita baru saja diluncurkan pada awal Februari 2019 oleh Pemerintah Metropolitan Seoul di Korea Selatan. Taksi ini merupakan perusahaan waralaba Tago Solution yang terdiri atas 50 perusahaan dengan 4500 taksi. Rencananya, Tago Solution akan menguji dua macam layanan selama tiga bulan yakni Wagyo Lady dan Wagyo Blue.
Baca juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi
Taksi Wago Lady sendiri akan dikemudikan oleh seorang wanita dan hanya akan menjemput penumpang perempuan dan laki-laki di bawah usia sekolah menengah. KabarPenumpang.com melansir laman koreaherald.com (7/2/2019), taksi ini pun dilengkapi dengan kursi mobil untuk bayi dan anak-anak.
Sebanyak 20 taksi Wagyo Lady yang akan beroperasi pada masa percobaan ini dan akan meningkat jumlahnya menjadi 500 mobil di tahun depan. Bagi penumpang yang memanggil taksi Wagyo Blue, mobil tersebut akan dikemudikan oleh pengemudi tanpa mengetahui tujuan sampai penumpang masuk ke dalam taksi.
Tarif taksi Tago beriksar 2000 Won hingga 3000 Won dan lebih murah dari taksi biasa dengan tarif dasar yang diperkirakan berkisar 5800 Won sampai 6800 Won. Pengemudi pun pembayaran upah atau gajinya secara bulanan dan tak perlu membayar sebagian dari pendapatan mereka kepada perusahaan.
Sebab sebagain besar perusahaan taksi di Korea Selatan mengharuskan pengemudi membayar jumlah tetap dari tarif taksi yang mereka peroleh sekitar 120 ribu Won hingga 150 ribu Won. Sistem ini telah menuai kritik karena menciptakan kondisi kerja yang buruk dan menyebabkan pengemudi menolak penumpang yang bepergian ke tujuan dan dianggap tidak menguntungkan.
Di tengah meningkatnya keluhan tentang taksi yang menolak penumpang, pemerintah kota memberlakukan sistem “tiga-mogok“, di mana pengemudi yang tertangkap menolak penumpang pada tiga kesempatan dalam dua tahun akan dikenakan denda sebesar 600 ribu Won dan pembatalan lisensi taksi mereka.
Tak hanya itu, pemilik perusahaan taksi pun juga akan dikenakan sanksi. Pemerintah kota mengatakan akan menambah lebih banyak taksi yang memberikan layanan bernilai tambah seperti, taksi yang berspesialisasi dalam menjalankan tugas atau membawa kargo dan taksi yang memungkinkan hewan peliharaan naik.
Sebelumnya di negara Timur Tengah seperti di Karachi, Pakistan, sudah menghadirkan PAXI atau Pink Taxi yang khusus untuk penumpang wanita dengan pengemudi yang juga seorang perempuan. Tak hanya memberikan kenyamanan bagi pengguna, taksi pink ini juga aman bagi wanita karena tidak akan dilecehkan oleh pengemudi.
Baca juga: DriveHER, Ride Sharing dengan Pengemudi Wanita dan Khusus Bagi Penumpang Wanita
Selain itu di Kairo, Mesir juga ada taksi pink yang khusus untuk penumpang wanita. Pengemudi taksi ini menggunakan seragam berwarna pink dan bermake up serba pink. Pelayanan taksi pink di Kairo sendiri pengemudi minimal bergelar sarjana dan mampu berbahasa Ingris serta tarifnya yang cukup malah sebab menggunakan mobil limousine.