Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Apa yang akan dilakukan penumpang ketika makanan yang mereka terima dalam sebuah penerbangan ternyata menemukan binatang kecil yang seharusnya tidak ada? Wajar adanya jika penumpang akan berteriak kaget, marah dan membuang makanannya hingga meminta pertanggung jawaban awak kabin yang bertugas melayani. Baca juga: Menjijikan, Ada Kecoa di Makanan ‘Bersegel’ Pada Penerbangan Full Service Air India Seperti baru-baru ini kembali terjadi dalam sebuah maskapai penerbangan full service Pakistan International Airlines (PIA), dimana seorang penumpang menemukan cacing atau belatung hidup di makanan yang diterimanya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tribune.com.pk (4/2/2018), cacing tersebut ditemukan dalam makanan di penerbangan menuju ke London, Inggris di pesawat PIA. Penumpang yang saat itu akan menikmati kheer, sejenis puding nasi yang merupakan makanan khas India/Pakistan, ternyata ketika tutup kemasan makanan dibuka terdapat belatung hidup di dalamnya. Penumpang tersebut kemudian mem-videokannya dan menyebarkan melalui media sosial. Karena hal tersebut, wakil manajer umum maskapai PIA memanggil awak kabin dalam penerbangan dari Lahore ke London. Sang wakil manajer justru mempertanyakan kepada awak kabin, bagaimana penumpang itu bisa mengunggah video makanan tersebut. Bahkan jika identitas penumpang yang mengunggah makanan tersebut tidak ditemukan, maka awak kabin pada penerbangan itu yang akan menerima sanksi. Juru bcara PIA Mashoood Tajwar mengatakan, dirinya tak bisa mengkonfirmasi keaslian video. “Saya tidak yakin apakah itu dibuat pada penerbangan ini atau yang lama,” ujarnya. Tajwar mengatakan bahwa begitu penerbangan kembali ke Pakistan, pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan pada masalah ini. Sebelumya pada penerbangan Air India 2 Februari 2019, seorang penumpang menemukan seekor kecoa di makanannya. Dia kemudian memberitahukan awak kabin, tetapi malah diabaikan dan mengembalikan makanan tersebut kepada mereka. Foto makanan dengan kecoa tersebut menjadi viral dan disebar melalui Twitter dengan caption “Kecoa dalam makanan disajikan di Air India #Bhopal #Mumbai”. Baca juga: Mau Sarapan Nikmat di Kereta, Tak Tahunya Ada Cacing di Paket Makanan Gambar terlihat jelas menunjukkan seekor kecoa utuh dan diangkat keluar dari tempat makanan. Bila sebelum diangkat, kecoa tersebut tidak terlihat dengan jelas karena tertutup makanan matang. Atas insiden kecoa dalam makanan, untungnya awak kabin maskapai langsung meminta maaf pada penumpang karena kejadian itu dan mengeluarkan pernyataannya di media sosial.

Terdampak Cuaca Buruk, Pesawat Carter ini Tergelincir Menuju Jalan Tol

Sebuah pesawat carter dikabarkan mengalami kecelakaan di Richmond Municipal Airport, Indiana, Amerika Serikat pada Senin (11/2/2019) kemarin. Adapun kecelakaan pesawat ini disinyalir karena kondisi landas pacu yang licin tertutup salju, mengakibatkan pesawat model multi-engine 400-fixed-wing yang diproduksi pada tahun 1999 oleh Raytheon Aircraft Company ini mengalami kerusakan. Beruntung, sebanyak tiga penumpang yang berada di dalam pesawat tersebut dinyatakan selamat. Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pesawat carteran ini meninggalkan Bandara Waukesha County di Waukesha, Wis., untuk perjalanan ke Richmond, dan diperkirakan mendarat pada pukul 10:03 waktu setempat. Pesawat itu dijadwalkan terbang dari Richmond ke South Bend dan kembali ke Waukesha pada Senin sore. Kondisi landas pacu yang lici membuat pesawat ini tergelincir ketika mendarat. Pesawat tersebut tergelincir ke arah jalan Highway 227, dengan kondisi sayap sebelah kiri menutupi badan jalan. Pesawat nahas itu baru bisa berhenti ketika menabrak sebuah pagar yang membatasi jalan dengan perkebunan milik warga. Tampak bekas roda dari pesawat ini seolah membuat jejak yang menggambarkan ‘rute’ ketika pesawat ini tergelincir dari landas pacu ke tempat ia berhenti. Menurut penuturan dari Rodney Mayse, manajer dari Richmond Municipal Airport, ini merupakan kali pertama yang terjadi selama 22 tahun masa pengabdiannya terhadap bandara tersebut. “Kini pihak Federal Aviation Administration tengah menyelidiki kecelakaan ini lebih lanjut,” ungkap Rodney, seperti yang dikutip dari laman usatoday.com (11/2/2019). Selain kondisi landas pacu yang tertutup salju, jarak pandang pilot juga sebenarnya menjadi salah satu faktor minor dalam kecelakaan ini, dimana jarak pandang pilot terbatas karena tertutup kabut yang cukup tebal. Terkait dengan kecelakaan pesawat ini, National Weather Service mengeluarkan pernyataan cuaca musim dingin untuk wilayah Indiana utara, dengan salju dan es diperkirakan akan terjadi hingga Selasa (12/2/2019). Baca Juga: Nyaris Terjun Ke Laut Mati, Boeing 737-800 Pegasus Airlines Tergelincir Akibat Cuaca Buruk “Diharapkan setiap orang lebih berhati-hati dalam berkendara,” ungkap National Weather Service dalam sebuah pernyataan. Pesawat nahas ini sendiri baru bisa dievakuasi menuju hanggar Richmond Municipal Airport sekira pukul 15.15 waktu setempat.

Foto di Kokpit, Pilot dan Pramugari Singapore Airlines Terkena Sanksi ‘Grounded’

Seorang pilot dan pramugari dari Singapore Airlines belum lama ini terkena sanksi tidak terbang (grounded) sejak 1 Februari 2019, alasannya sang pilot mengizinkan pramugari tersebut duduk di kursi kopilot dan mengambil fotonya saat pesawat sedang mengudara. Baca juga: Viral! Pilot United Airlines Tidur di First Class dengan Seragam Ditanggalkan Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (11/2/2019), dalam sebuah pertanyaan, pilot mengatakan bahwa pramugari yang duduk di kusi kopilot untuk membantu membersihkan noda yang ada di jendela kokpit. Dalam konfirmasinya maskapai Singapore Airlines (SIA) mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada 12 Januari 2019 dalam penerbangan pesawat Airbus A350 dengan nomer SQ207 dari Singapura menuju ke Melbourne, Australia. Juru bicara SIA mengatakan, pramugari yang berada di kokpit datang untuk membersihkan nampan makanan pilot dalam penerbangan. “Pramugari duduk di kursi First Officer (kopilot) untuk mencapai noda (di jendela kokpit). Selanjutnya, dia meminta foto dirinya di kursi, yang diminta Kapten,” ujar juru bicara tersebut. Mereka bahkan mengatakan tidak ada pelanggaran keamanan di dalam kokpit. Tetapi sesuai dengan prosedur standar maskapai, pilot dan pramugari yang tidak diseutkan identitasnya tersebut sudah dikenakan sanksi, sementara pihak maskapai melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait masalah itu. Namun, masa hukuman keduanya belum jelas akan berlaku hingga kapan. Sebenarnya sebagai aturan umum, pramugari atau awak kabin tidak boleh menduduki kursi pilot/kopilot untuk alasan keamanan. “Ini bukan tentang keamanan tetapi keselamatan. Kokpit penuh dengan kontrol, tuas dan tombol sehingga kami selalu sangat berhati-hati ketika kami melangkah masuk,” ujar seorang awak kabin yang tak disebutkan namanya. Dia menjelaskan, untuk melayani makanan pilot dan kopilot, awak kabin melayaninya dari luar dengan hati-hati. Untuk pilot yang duduk disebelah kiri, biasanya awak kabin melayani dari kiri dan sebaliknya untuk kopilot yang ada di sebelah kanannya. “Kami tidak pernah berdiri di depan kontrol saat berada di kokpit untuk melayani pilot dan kopilot,” ungkapnya. Biasanya kokpit sendiri dilengkapi dengan empat kursi, dua di depan untuk pilot dan kopilot, dua lainnya dibelakang untuk pengamat teknis yang disahkan oleh maskapai atau perwakilan badan pengawas. Tak hanya itu, kedua kursi dibelakang itu juga digunakan pilot ketiga dan keempat dalam penerbangan waktu tempuh dan jarak yang panjang. Baca juga: Pilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Penerbangan Singapore Airlines dari Melbourne Terpaksa Batal Dalam beberapa situasi, awak kabin yang baru dilatih diizinkan duduk di kursi pengamat, sehingga mereka mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fase-fase kritis penerbangan.

Toilet Meluap, Penumpang Pesawat Pipis di Kantong Plastik

Dalam penerbangan jarak jauh maupun jarak pendek, toilet kerap kali digunakan penumpang ketika pesawat tengah mengudara. Meski memiliki ruangan yang cukup untuk satu badan saja, tetapi toilet menjadi salah satu bagian vital penumpang ketika hasrat ingin pipis harus dilepaskan. Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang Tetapi bagaimana jika saat dalam penerbangan toilet terpaksa dikunci oleh awak kabin karena sesuatu hal? Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nbcconnecticut.com, pada 2018 kemarin, penerbangan American Airlines yang berangkat dari Arizona menuju ke Hawaii tidak bisa digunakan. Hal ini membuat para awak kabin mengatakan kepada penumpang jika ingin pipis bisa membuangnya di kantong plastik. Juru bicara American Airlines mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pada 31 Agustus 2018 pesawat yang berangkat dari Phoenix menuju ke Kona, toiletnya tidak berfungsi selama penerbangan. Sayangnya karena toilet tersebut meluap dan hanya satu yang terbuka di bagian depan, seorang wanita mengatakan kepada awak kabin dalam sebuah video, “Apa maksudmu aku harus buang air kecil di kantong plastik?” Kemudian awak kabin memberitahukan pada wanita tersebut bahwa toilet pesawat meluap dan ini sebabnya sebuah kantong plastik disediakan. “Aku tahu, ini mengerikan. Dan orang-orang akan menggunakan botol,” kata wanita tersebut. American Airlines menjelaskan, meluapnya toilet dikarenakan ada penumpang yang membuang popok kedalam kloset dan membuat sistemnya rusak. Sebenarnya karena masalah ini, penerbangan American Airlines tersebut harusnya bertolak ke bandara terdekat namun hal itu tak dilakukan oleh maskapai yang berbasis di Fort Worth tersebut. American Airlines mengatakan agen layanan pelanggan menjangkau semua 187 penumpang yang telah naik Boeing 757. Baca juga: Bayi Ditemukan Tewas dalam Toilet Pesawat AirAsia, Perempuan 19 Tahun Jadi Tersangka “Di Amerika, toilet harus berfungsi dengan baik sebelum keberangkatan. Jika penerbangan Amerika ada di udara, dan semua toilet menjadi tidak beroperasi, penerbangan akan dialihkan ke bandara terdekat yang sesuai untuk pemeliharaan untuk memperbaiki situasi. Karena lokasi pesawat, penerbangan melanjutkan ke tujuan yang dimaksud. Masalahnya kemudian diperbaiki setelah tiba di Kona, dan penerbangan American Airlines tersebut kembali ke Phoenix sesuai jadwal.

Penat dengan Rutinitas? Holiday Inn Express Jakarta Wahid Hasyim Tawarkan Promo “Rest & Relax” di Akhir Pekan

Menghabiskan waktu santai diakhir pekan dengan peremajaan diri tepat dilakukan sehabis melakukan rutinitas padat sehari hari. Holiday Inn Express Jakarta Wahid Hasyim sebagai bagian dari jaringan hotel internasional Intercontinental Hotel Group (IHG) menawarkan promo akhir pecan Rest & Relax dengan harga paket IDR. 750.000 net/malam. Baca juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di Dunia Harga paket sudah termasuk1 Jam Tradisional Massage untuk 1 Orang dan Sarapan Pagi untuk 2 Orang. Harga sudah termasuk pajak dan servis. Periode reservasi mulai dari 11 Februari sampai dengan 31 Maret dan promo ini berlaku hanya untuk diakhir pekan selama bulan Februari dan Maret pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Aktivitas yang padat dihari kerja terkadang melupakan kita untuk melakukan peremejaan diri. Kembalikan kesegaran diri Anda dengan bermalam santai di akhir pekan bersama Holiday Inn Express Jakarta Wahid Hasyimdilengkapi dengan treatment 1 jam traditional massage oleh terapis terlatih kami yang meningkatkan semangat Anda, membuat tubuh Anda rileks, dan menyegarkan pikiran Anda “Menghabiskan waktu diakhir pekan dengan peremajaan diri sangat penting dilakukan sehabis aktivitas padat dihari kerja, Selama akhir pekan di bulan Februari dan Maret kami menawarkan promo terbaik yaitu Rest & Relax dilengkapi dengan traditional massage yang akan mengembalikan kesegaran Anda” imbuh Koko Baskoro General Manager Holiday Inn Express Jakarta Wahid Hasyim. Berlokasi di sepanjang Jalan K.H. Wahid Hasyim yang strategis, Holiday Inn Express Jakarta Wahid Hasyim memiliki akses mudah ke kawasan bisnis utama kota di Jalan M.H Thamrin dan area utama lainnya seperti Jalan Jendral Sudirman dan kawasan Kuningan yang terletak di Segitiga Emas Jakarta. Baca juga: Boeing 747-400 Eks KLM “City of Bangkok” Bakal Menjadi Daya Tarik Hotel di Amsterdam Selain akses yang mudah ke kantor besar, bank, kedutaan besar dan bangunan pemerintah, hotel ini menawarkan akses WiFi gratis dan cepat serta ruang kerja yang fleksibel, menjadikannya pilihan cerdas bagi pelancong bisnis yang ingin mengoptimalkan waktunya di Jakarta. Untuk informasi dan reservasi, silahkan hubungi +62 21 8064 2600 atau alamat e-mail rsvn.jktwh@ihg.com

Hadapi ‘Badai’ Low Season di Januari – Maret, Bisnis Penerbangan Harus Tetap Optimis

Pasca libur Imlek yang jatuh pada awal Februari kemarin, sektor penerbangan penumpang mulai memasuki masa low season, dimana permintaan untuk mengudara mengalami penyusutan. Secara otomatis, ketika permintaan mengalami penurunan, maka load factor (tingkat keterisian penumpang) dari masing-masing maskapai juga akan mengalami penurunan. Kendati begitu, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Polana B Pramesti mengatakan, para pelaku usaha harus tetap optimis dengan kondisi yang ada sekarang. Baca Juga: Sambut Low Season, Scoot Gelar Promo Tarif Awal Tahun “Jadi saya mengajak semua stakeholder untuk optimistis memandang bisnis penerbangan tahun ini akan terus tumbuh dan berkembang. Dan yang paling penting, harus tetap mengutamakan keselamatan, keamanan, pelayanan dan patuh terhadap aturan-aturan penerbangan yang berlaku,” ujar Polana, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman republika.co.id (11/2/2019). “Memang kondisi low season yang merupakan siklus tahunan, yaitu di Januari dan Februari. Lalu Maret baru mulai mengalami peningkatan,” imbuhnya. Mengutip dari laman sumber yang sama, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub mencatat pada 2016 saat Januari jumlah penumpang 6,7 juta orang, Februari 6,4 juta orang, Juli 8,7 juta orang, dan Desember 8,4 juta orang. Sementara itu pada 2017, saat Januari jumlah penumpang 7,7 juta orang, Februari 6,5 juta orang, Juli 9,5 juta orang, dan Desember 9,0 juta orang. Selanjutnya pada 2018, saat Januari jumlah penumpang 8,3 juta orang, Februari 7,5 juta orang, Juli 9,7 juta orang, dan Desember 8,1 juta orang. Senada dengan Polana, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menetaskan pernyataan yang sama. “Periode Januari – Maret itu memang masuknya low season. Memang secara seasonal-nya begitu. Di awal tahun turun, tapi nanti di periode April – Juni meningkat,” tutur Iksan dikutip dari laman sumber terpisah. Di tubuh flag carrier Indonesia sendiri, tingkat keterisian penumpang mengalami penurunan sekira 10 hingga 15 persen. Berbanding terbalik jika tengah masuk periode peak season, dimana angka keterisian Garuda Indonesia bisa mencapai 75 hingga 90 persen. “Low season itu biasanya (tingkat keterisian penumpang) hanya 60%-70%,” jelasnya. Mengantisipasi hal tersebut, Iksan menuturkan bahwa Garuda Indonesia memberlakukan regulasi khusus selama low season. “Ketika low season kapasitas harus disesuaikan. Pesawat kita misalnya, frekuensi salah satu kota dari tujuh, jadi enam. Sebagian pesawat yang kita kurangi frekuensinya itu, nanti akan masuk ke hanggar,” jelas Iksan. Kondisi low season ini sendiri semakin diperparah dengan melonjaknya harga tiket beberapa waktu ke belakang – hampir berbarengan dengan pemberlakuan regulasi penghapusan bagasi gratis oleh sejumlah maskapai nasional, seperti Lion Air. Baca Juga: Dielukan dan Selalu Dicari, Inilah Serba Serbi Low Cost Carrier Corporate Communication Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menambahkan bahwa para pelaku bisnis kedirgantaraan nasional seolah hanya bisa pasrah menghadapi low season jika memang minat terbang dari penumpang saja tidak ada – ditambah dengan pemberlakuan regulasi bagasi berbayar. “Cuma sekarang ini lagi ramai heboh tiket pesawat mahal dan ada bagasi berbayar. Jadi, semua dihubung-hubungkan seolah-olah kena efek,” tuturnya. “Ya kalau low demand enggak bisa diapa-apain, masyarakat ogah pergi juga.”

Adaptasi Rem Regeneratif, Otoritas Kereta di India Janjikan Penghematan Rp500 Juta Per Lokomotif

Perusahaan yang dikelola negara Bharat Heavy Electricals Limited (BHEL) telah menghadirkan teknologi awal di bawah inisiatif ‘Make in India’. Public Sector Undertaking (PSU) telah mengembangkan lokomotif listrik pertama di India dengan sistem pengereman regeneratif melalui pusat R&D di dalam perusahaan. Lokomotif baru-baru ini ditandai lepas dari pabrik di Jhansi. Baca Juga: Indian Railways Gelontorkan Rs650 Juta Untuk Jaringan Kereta Mumbai Adapun ide ini pertama kali diusulkan oleh Kementerian Perkeretaapian, dimana konsep ini melibatkan sistem regenerasi hemat energi yang diberlakukan oleh BHEL dalam lokomotif listrik 5.000 HP WAG-7. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (11/2/2019), teknologi ini dimaksudkan untuk meningkatkan sistem pengereman dinamis yang saat ini digunakan di lokomotif. Sementara sistem pengereman dinamis menyebabkan hilangnya energi dalam bentuk panas saat pengereman, sistem pengereman regeneratif menghindarinya dengan ‘mengumpan’ energi kembali ke saluran listrik overhead. Konsep ini sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena sistem pengereman regeneratif adalah teknologi yang telah lama digunakan pada electric vehicle (EV). Hanya saja ini digunakan dalam lokomotif DC konvensional untuk pertama kalinya. Sebuah laporan baru-baru ini, menyatakan bahwa teknologi pengereman regeneratif akan menambah jumlah armada jaringan kereta api lokomotif listrik konvensional. Sebuah cuitan di media sosial Twitter dari Kementerian Perkeretaapian juga menekankan bahwa sistem pengereman satu-satunya di lokomotif DC (arus searah) konvensional telah diproduksi untuk pertama kalinya di dunia. Cuitan ini lebih lanjut menyebutkan bahwa teknologi akan mengarah pada penghematan biaya hingga Rs25lakh (Rp495,5 juta) per lokomotif per tahun. Baca Juga: Indian Railways Siap Bangun Jalur Kereta di Atas Ketinggian 10.000 Kaki! Sebelumnya, Indian Railways telah mengumumkan rencana untuk upgrade armadanya dengan lokomotif listrik yang mampu mencapai kecepatan hingga 200 km per jam. Dengan menggunakan mesin bertenaga 5400HP, lokomotif listrik ini dielu-elukan menjadi lokomotif berdesain aerodinamis pertama di India, menurut Chittaranjan Locomotive Works (CLW). Kemudian pada bulan Desember 2018 kemarin, pihak kereta api mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mengubah lokomotif diesel menjadi lokomotif listrik, yang pertama di dunia, melalui unit produksi Indian Locomotive Works (DLW) Indian Railways di Varanasi. ‘Prestasi’ tersebut diraih hanya dalam catatan waktu 69 hari saja.    

Kenakan Busana Super Minim, Model Asal Filipina Bikin Geger Stasiun MRT Singapura

Antre ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di sebuah stasiun, jelas sesuatu yang lumrah. Namun bagaimana bila yang mengantre adalah seorang wanita yang hanya mengenakan tanktop dan tanpa bra, sehingga menjadi tontonan setiap penumpang kereta yang melihatnya? Baca juga: Telanjang Bulat, Wanita Ini Bikin Heboh Stasiun MRT Singapura Belum lama ini beredar sebuah foto di media sosial, dimana seorang perempuan tengah mengantre di mesin ATM, tepatnya di Stasiun MRT Somerset, Singapura. Perempuan tersebut diketahui bernama Ashley Garcia yang mengaku dirinya model freelance dari Filipina. KabarPenumpang.com melansir dari laman asiaone.com (11/2/2019), foto dirinya tersebar di media sosial pada 9 Februari 2019 kemarin. Warganet yang melihat foto tersebut beberapa diantaranya merasa tidak ada yang salah dengan pakaian Gracia. Menurut surat kabar Lianhe Wanbao, ada tiga foto Gracia yang tersebar. Dalam foto tersebut terlihat Gracia mengenakan tanktop tipis berwarna merah muda dan sepasang sandal. Tidak diketahui apakah dia mengenakan celana pendek. Dia tampaknya tidak sadar bahwa dia sedang menarik perhatian orang yang lewat. Menurut Wanbao, tanktop wanita itu memiliki garis leher rendah yang membuatnya menjadi perhatian, terlebih lagi karena ia tidak mengenakan bra. Namun beberapa lainnya mengatakan, Gracia menggunakan pakaian tidak senonoh dan bisa mendatangkan pikiran tak sehat bagi penumpang lainnya. Untungnya, Gracia sadar bahwa dirinya menjadi bahan perbincangan di media sosial dan pada hari ini Selasa (12/2/2019), dia mengaku perempuan itu adalah dirinya. Dia menuliskan sebuah postingan di akun Facebooknya, “Saya tidak tahu ada yang mengambil foto saya (saya pribadi tidak tahu tujuannya). Saya minta maaf jika saya telah menyinggung budaya apa pun dengan pakaian ini, tetapi, harap dipahami bahwa saya [tidak] memiliki niat cabul atau niat jahat dengan memakainya. Saya minta maaf jika Anda berpikir bahwa ini ‘pemaparan tidak senonoh’ tapi itu bukan niat saya.” “Kepada orang-orang yang sudah menjatuhkan saya dan mengkritik saya, saya menghormati Anda. Anda sudah mengatakan hal-hal yang terlalu pribadi dan sudah di luar dari apa yang Anda lihat dalam gambar.” Garcia juga mengklarifikasi bahwa dia telah mengenakan celana pendek dan pita puting pada saat kejadian. Baca juga: Didera Masalah Pernikahan, Wanita ini Gigit Penumpang Kereta di Cina “Saya mengalami pelecehan di dunia maya dan dilecehkan karena insiden ini. Saya berharap orang yang menggunggah fotonya tersebut bisa meminta maaf di depan umum,” kata Garcia.

Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Anomali kenaikan harga tiket pesawat yang momennya hampir berbarengan dengan pemberlakuan aturan penghapusan bagasi gratis ternyata masih menjadi perdebatan di sebagian kalangan hingga saat ini. Banyak pengguna jasa angkutan udara yang ‘menjerit’ akibat kenaikan harga tiket yang tidak lagi menyuguhkan harga miring. Baca juga: Klarifikasi INACA, “Harga Avtur Tidak Berpengaruh Langsung Pada Tingginya Harga Tiket Pesawat” Bagi mereka yang menjerit karena harga tiket pesawat yang sudah melambung, mungkin mereka masih belum paham betul mengenai rumitnya proses penetapan tarif dan faktor pendukung yang menyebabkan harga tiket menjadi mahal. Tidak sedikit penumpang yang mengeluhkan harga tiket penerbangan domestik rute tertentu itu lebih tinggi ketimbang rute penerbangan internasional dengan waktu terbang yang hampir sama. Namun ini bukanlah melulu tentang jarak dan waktu tempuh, penetapan harga tiket pesawat jauh lebih rumit ketimbang pertimbangan dua faktor di atas. Indonesian National Air Carriers Association (INACA) dalam siaran pers pernah menyebutkan bahwa avtur menyumbang 40 hingga 50 persen dari besaran tarif yang dikenakan kepada penumpang, 20 persen untuk biaya sewa pesawat, lalu dua hingga 10 persen untuk fasilitas terminal dan bandara (ground handling), sedangkan 30 persen sisanya untuk pajak dan biaya tenaga kerja. Itu hanyalah sebagian besar faktor yang menentukan besaran tarif tiket pesawat, masih banyak variabel lain yang juga turut memberikan andil – seperti persaingan harga dengan sesama maskapai dan juga nilai tukar rupiah, karena selama ini avtur dibayar dengan satuan mata uang dollar Amerika Serikat. Sekedar informasi tambahan, pengaturan harga tiket pesawat ini diatur oleh peraturan keselamatan, dengan tarif maksimum dan minimum yang ditetapkan oleh pemerintah guna memastikan kelangsungan komersial. Kalau ketahuan membelot, maka tidak menutup kemungkinan pihak maskapai akan keluar dari jalur persaingan. Baca Juga: Selasa Sore! Waktu Paling Tepat untuk Berburu Tiket Pesawat Murah Faktor hari libur nasional juga memegang peranan penting di balik melonjaknya harga tiket pesawat, karena di tanggal-tanggal libur tersebut, tidak sedikit orang yang ingin melancong dengan menggunakan pesawat – dan ini juga sedikit banyaknya mempengaruhi harga jual tiket untuk rute tertentu. Sebut saja perayaan Imlek kemarin, dimana harga yang ditawarkan pihak maskapai untuk rute, misalnya Jakarta – Pangkal Pinang akan meroket drastis. Ini dipengaruhi oleh permintaan penerbangan yang tinggi di rute tersebut. Sedangkan untuk rute lain pun mengalami peningkatan, namun tidaklah terlalu drastis. Jadi, sekarang sudah paham kan apa-apa saja yang mempengaruhi tingginya harga jual tiket pesawat?

Tarif Tiket Pesawat Naik, Bus AKAP Diburu Masyarakat Pulau Sumatera

Bus antar kota antar provinsi, belakangan seperti tak terdengar gaungnya. Namun, era kejayaan bus AKAP ini sepertinya mulai kembali bergelora, selain karena hadirnya tol Trans Jawa, pamor bus AKAP belakangan juga terdongkrak karena tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik. Baca juga: PO ANS – Pernah Layani Trayek AKAP Terjauh, Banda Aceh – Denpasar Kenaikan tarif tiket pesawat berawal dari melonjaknya harga bahan bakar pesawat, yakni avtur. Kenaikan tarif tiket pesawat tersebut membuat calon penumpang pesawat mulai beralih ke bus. Baru-baru ini penumpang pesawat menuju berbagai kota di Pulau Sumatera terlihat memenuhi beberapa terminal, seperti Pulogebang, Kampung Rambutan dan Terminal Kalideres. Bahkan perusahaan otobus (PO) di Terminal Kalideres yang melayani tujuan ke Padang mengalami peningkatan penumpang setelah tiket pesawat harganya melonjak. Salah seorang petugas PO NPM trayek Jakarta – Padang, Yusuf mengatakan kalau trayek PO mereka mengalami kenaikan penumpang hampir tiga kali lipat setelah kenaikan tarif tiket pesawat. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunjakarta.com (12/2/2019), Yusuf mengaku kenaikannya drastis dibandingkan saat tiket pesawat masih murah alias masih bisa dijangkau masyarakat menengah. Dia menambahkan, dengan kenaikan tarif tiket pesawat sendiri seakan memberi angin segar bagi bus apalagi bus AKAP. “Dulu kan sudah banyak PO yang bangkrut karena kalah saing dengan pesawat, tapi sekarang kalau begini terus bisa hidup lagi bisnis bus ini. Saya sih mendukung ya kebijakan ini karena membuat bisnis bus bangkit lagi,” kata Yusuf. Karena peningkatan ini, PO NPM merespon dengan menambah jumlah bus untuk trayek ke Padang. Yusuf mengatakan, biasanya bila saat tiket pesawat masih murah, PO NPM sendiri hanya menggunakan dua armada, tetapi kini minimal empat bahkan hingga lima bus per harinya saat libur. Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera Meski mengalami peningkatan jumlah penumpang, tarif tiket bus ini tetap normal, yakni Rp400 ribu dengan perjalanan yang memakan waktu dua hari dua malam. Sebagai informasi, kenaikan tarif tiket pesawat umumnya di rentang Rp600 ribu hingga Rp800 ribu, dan kini melonjak hingga Rp1,2 juta untuk sekali perjalanan. Sayangnya Terminal Bekasi sendiri tidak mengalami kenaikan atau tak berpengaruh kenaikan penumpang dengan adanya kenaikan tarif tiket pesawat. Bahkan beberapa PO tujuan Sumatera kecuali Medan sepi tak seperti beberapa terminal besar lainnya di Jakarta.