Ganti Tuas Persneling dengan Tongkat Bambu, Pengemudi Bus ini Tabrak Mobil Mewah
Sebuah kecelakaan bus dikabarkan terjadi di Mumbai, India pada Rabu (6/2/2019) kemarin, dimana sebuah bus yang tengah mengangkut anak sekolah ini menabrak sebuah mobil. Alih-alih dikendalikan oleh seseorang yang sudah memiliki pengalaman, pihak kepolisian yang menangani kasus ini mendapati bus ini dikemudikan oleh seorang pemuda yang berusia 22 tahun. Beruntung, kecelakaan ini tidak menghasilkan korban cidera atau jiwa.
Baca Juga: Duh! Remaja ini ‘Ditinggalkan’ Bus Ketika Tengah Transit
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman business-standard.com (7/2/2019), diberitakan pengemudi yang bernama Raj Kumar ini mengemudikan bus menuju Poddar Internasional School yang terletak di pinggiran kota Khar. Di tengah perjalanan, entah bagaimana caranya, Raj Kumar lalu menabrak sebuah mobil mewah yang ternyata disinyalir merupakan milik seorang pengusaha.
Pengusaha yang identitasnya disembunyikan tersebut lalu naik pitam terhadap Raj Kumar karena tabrakan itu telah menyebabkan mobilnya mengalami kerusakan. Si pengusaha ini langsung memanggil polisi ke TKP guna menindaklanjuti insiden tabrakan ini. Setibanya polisi di lapangan, Raj Kumar menjelaskan bahwa ia mengalami masalah pada bagian kemudinya.
Namun yang membuat pihak kepolisian dan si pengusaha ini terkejut adalah mereka menemukan ada sebilah tongkat bambu yang menggantikan peran dari tuas persneling bus nahas tersebut. Sudah jelas, Raj Kumar di sini didakwa telah lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai pengemudi bus, dan ia langsung diboyong menuju kantor polisi terdekat guna pemeriksaan lebih lanjut.
Di kantor polisi, Raj Kumar mengaku bahwa tuas persneling bus tersebut mengalami kerusakan sejak beberapa hari sebelum kejadian ini berlangsung, namun Raj Kumar berdalih belum sempat membetulkan kerusakan tersebut. Sebagai langkah agar Raj Kumar bisa tetap mengemudi, ia lalu berinisiatif untuk menggantikan peran dari tuas persneling tersebut dengan menggunakan sebilah tongkat bambu.
Baca Juga: Hajar Jembatan, Pengemudi Bus Tingkat Ini Disebut Belum Hafal Medan
Belum diketahui jelas apakah bus tersebut bisa beroperasi secara lancar ketika tuas persnelingnya diganti dengan menggunakan sebilah tongkat bambu, namun kendati lancar pun, Raj Kumar tetap tidak bisa menghindar dari dakwaan kelalaian dalam berkendara.
“Semua siswa yang berada di dalam bus tersebut dinyatakan selamat,” ujar salah satu pihak kepolisian.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini guna mencari titik terang.
Cerdas Namun Dipandang Licik, Lufthansa Perkarakan Penumpang yang Praktekkan Travel Hack
Ada saja cara licik-nan cerdas yang dilakukan oleh seorang oknum untuk mendapatkan keuntungan, seperti halnya seorang penumpang flag carrier Jerman, Lufthansa yang dikabarkan kedapatan berbuat curang untuk mendapatkan harga yang lebih murah ketimbang harga asli yang ditawarkan oleh pihak maskapai. Kendati kejadian ini sudah terlewatkan sekira dua tahun yang lalu, namun pihak Lufthansa tetap bersikeras untuk membawa kasus yang merugikan perusahaan ini ke ranah hukum.
Baca Juga: Lufthansa Hentikan Pengoperasian “Tante Ju”, Siapa Dia?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, menurut berkas yang masuk ke pihak pengadilan, pada Mei 2016 silam, seorang penumpang yang identitasnya dirahasiakan membeli tiket return trip di kelas bisnis untuk rute penerbangan dari Oslo di Norwegia menuju Seattle di Amerika Serikat via Frankfurt, Jerman seharga £556 atau yang sekiranya setara dengan Rp10 juta kurs sekarang.
Penumpang ini melakoni perjalanan dari Oslo menuju Seattle dengan tanpa adanya masalah. Namun ketika dalam perjalanan pulang, penumpang berjenis kelamin pria ini diketahui telah membeli tiket Lufthansa terpisah dari Frankfurt menuju Berlin tanpa dirinya menyelesaikan return journey menuju Oslo. Dalam ketentuan yang berlaku di tubuh maskapai Lufthansa, sudah jelas bahwa praktek ‘kecurangan’ semacam ini tidaklah diijinkan.
Dalam kasus ini, Lufthansa berpegang teguh pada regulasi yang berlaku di perusahaan dan mereka menggugat penumpang ini dengan nominal €2.112 atau yang setara dengan Rp33,5 juta sebagai kompensasi dari kecurangan yang ia lakukan.
Pada bulan Desember lalu, pihak pengadilan distrik Berlin telah menolak gugatan yang dilayangkan oleh pihak Lufthansa terkait kasus ini. Namun Lufthansa tidak menyerah dan mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan banding atas putusan pengadilan tersebut.
Baca Juga: Lufthansa Hadirkan Makanan Astronot di Kelas Bisnis
Tidak menutup kemungkinan bagi Anda untuk bisa menghemat biaya penerbangan dengan cara mengambil non-direct flight. Tidak sedikit maskapai yang terkadang menawarkan rute non-direct flight lebih murah daripada yang direct flight. Ini berarti bahwa dengan memesan tiket non-direct flight, dimana tujuan yang Anda tuju sebenarnya adalah lokasi transit, Anda akan mendapatkan tiket dengan harga yang sedikit lebih murah ketimbang Anda membeli tiket direct flight.
Sebagai contoh, mungkin harga tiket penerbangan PP dari Oslo menuju Seattle ditambah dengan tiket dari Frankfurt menuju Berlin itu lebih murah ketimbang harga tiket direct flight dari Oslo – Seattle dan Seattle – Berlin.
Sebenarnya cara yang dilakukan si penumpang ini bisa dibilang cukup cerdas, namun tidak oleh pihak Lufthansa yang malah membawa kasus ini ke meja hijau.
Load Factor Rendah, Akankah LRT Palembang Senasib dengan MRT Malaysia?
Kepala Kantor Staf Presiden RI Moeldoko menuding Pemda Sumatra Selatan memiliki peranan yang cukup besar di balik sepinya moda transportasi anyar di sana, Light Rapid Transit (LRT) Palembang. Menurut Moeldoko, tugas pemerintah pusat sudah selesai dengan membantu pembangunannya, selanjutnya tugas diemban oleh pemerintah daerah setempat – mulai dari pengoperasian, perawatan, dan lain sebagainya.
Baca Juga: MRT Malaysia Butuhkan 250.000 Penumpang per Hari Agar Bisa Tembus Break Even Point
“Dia (Pemda Sumatera Selatan) harus berupaya maksimal bagaimana utility sebuah infrastruktur itu bisa berdaya guna dengan baik. Bukan belum ada mengeluh, setelah dibangun mengeluh. Terus apa kerjaan mereka?” ujar Moeldoko seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnnindonesia.com (12/2/2019).
Ya, beredarnya kabar mengenai sepinya moda transportasi berbasis massal ini memang sudah cukup lama terdengar, tepatnya setelah perhelatan Asian Games 2018 selesai. Di hari-hari biasa (weekdays), moda ini bisa dibilang cukup sepi, berbanding terbalik jika kala weekend, dimana load factor (tingkat keterisian) LRT Palembang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan ketimbang weekdays.
Padahal biaya investasi kereta cepat pertama Indonesia itu mencapai Rp10,9 triliun. Belum lagi menyoal subsidi operasional bulanan yang mencapai Rp10 miliar. Menurut Moeldoko, pemeliharaan infrastruktur oleh Pemda Sumatera Selatan sangatlah penting karena itu merupakan salah satu bentuk dari investasi jangka panjang.
“Maka perlunya Pemda memberikan sosialisasi sehingga infrastruktur yang ada bisa termanfaatkan dengan baik. Jangan saat PON dibangun infrastruktur, setelah itu tidak terjaga. Ini harus ada semangat pimpinan daerah,” tukas Moeldoko.
Terlepas dari faktor-faktor apa saja yang membuat LRT Palembang ini sepi, namun ini mirip dengan yang terjadi di negara tetangga, Malaysia. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, MRT Malaysia yang berada di bawah kendali Menteri Keuangan mencatatkan target 250.000 penumpang setiap harinya. Hal tersebut harus direngkuh guna mencapai break-even point – dimana MRT Malaysia juga diketahui memiliki load factor yang cukup rendah, di bawah ekspektasi yang diharapkan.
Per-pertengahan tahun 2018 silam, MRT Malaysia mencatat load factor mereka setiap harinya hanyalah berkisar antara 130.000 hingga 140.000 saja penumpang per harinya.
“Inshaa Allah (Dengan berkat Allah), kami akan mencapai tujuan kami untuk mendorong penggunaan transportasi umum, yang akan berimbas pada pengembalian modal (break-even point),” ujar Wakil Menteri Keuangan, Datuk Othman Aziz.
Baca Juga: LRT Palembang Sepi Penumpang, Kepala Divre III: “Itu Wajar”
Lalu, apa yang membuat load factor kedua moda transportasi berbasis massal ini rendah? Tentu saja ada banyak variabel yang bisa mempengaruhinya, mulai dari harga tiket yang mungkin terlalu mahal, pelayanan yang kurang prima (ketepatan waktu keberangkatan, bantuan dari petugas, dll.), kualitas dari moda yang kurang memuaskan penumpang, rute perjalanan yang tidak sesuai dengan tujuan penumpang, atau bisa juga dari kesadaran masyarakat untuk mulai beralih menggunakan moda transportasi umum.
Sebagai informasi tambahan, di bulan September 2018 kemarin, LRT Palembang hanya mengangkut sekira 4.000 penumpang setiap harinya (weekdays), dan jumlah tersebut meningkat ke angka 6.000 hingga 7.000 penumpang kala weekend.
Uber Rilis Fitur Meditasi di Jalan, Hasil Kerja Sama dengan Calm
Dapat Anda bayangkan bagaimana Anda memulai rutinitas setiap harinya? Kerjaan yang menumpuk, deadline yang memburu, pancaran lampu rem kendaraan yang selalu menghiasi di kala peak hours, dan semua ini melelahkan, bukan? Terlepas dari moda yang Anda gunakan, apakah itu kendaraan pribadi atau layanan ride-hailing, namun siapapun jika terperangkap macet, seolah menjadi pemicu yang tepat untuk meningkatkan kadar stress seseorang.
Baca Juga: Uber Berlakukan Sistem Denda Bagi Penumpang yang Terlambat
Sadar betul akan problematika yang dihadapi oleh para penggunanya, perusahaan berbagi tumpangan asal San Francisco, Uber meluncurkan fitur latihan meditasi bagi penumpang di dalam armadanya. Para penumpang layanan Uber dapat menggunakan fitur hasil dari kerja sama Uber dengan perusahaan pelayanan Calm ini, terutama ketika jalanan tengah tersendat.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gizmodo.com, para penumpang Uber akan mendapatkan pilihan untuk memilih durasi waktu meditasi selama perjalanan, mulai dari tiga menit, lima setengah menit, 12 menit 20 detik, hingga 30 menit, tergantung lamanya perjalanan Anda. Ternyata, fitur meditasi ini tidak hanya tersedia bagi para penumpang saja, pun dengan para pengemudi yang juga memiliki kesempatan untuk melakukan meditasi selama tiga menit. Persisnya fitur meditasi ini hadir dalam wujud headset yang memperdengarkan irama meditasi.
Adapun latar belakang Uber meluncurkan fitur ini adalah perusahaan menemukan 37 persen orang yang terlalu kelelahan ketika berkendara melalui sebuah survei yang mereka lakukan. Tidak hanya itu, sebanyak 56 persen dari 2000 responden menyalahkan pekerjaan mereka yang terlalu berat hingga pada akhirnya menyebabkan mereka stress, sedangkan 31 persen lainnya menyatakan bahwa stress muncul ketika mereka merasa kelelahan.
“Dalam kesibukan sehari-hari, kita mudah kehilangan keseimbangan. Gaya hidup kita yang sibuk membuat kita cemas dan lelah. Jadi, jika kita dapat meluangkan sedikit waktu untuk bermeditasi, kita akan merasa lebih santai, fokus, dan produktif,” ujar Head of Mindfulness dari Calm, Tamara Levitt.
Senada dengan Tamara, seorang juru bicara dari Uber pun mendukung setiap penumpangnya untuk menerapkan pola hidup yang lebih sehat, yaitu dengan cara bermeditasi.
Baca Juga: Lewat Aplikasi, Uber Wajibkan Pengemudi Untuk Istirahat Setelah 12 Jam Beroperasi
“Sekitar 54 persen orang menggunakan waktu mereka di Uber untuk melihat email, media sosial, dan berita di ponsel mereka, jadi pada perjalanan Uber Anda berikutnya, lepaskan pekerjaan Anda sejenak untuk bersantai dengan cara bermeditasi,” tutur pihak Uber.
Jika tidak ada aral melintang, Uber siap untuk merilis fitur ini dalam beberapa bulan ke depan.
Resmi Beroperasi 12 Maret 2019, PT MRT Jakarta Mulai Garap Pembangunan Fase 2
Setelah menanti sekian lama, akhirnya PT MRT Jakarta telah membocorkan tanggal rilis dari moda yang akan menghubungkan Lebak Bulus dan Bundaran HI (Fase 1) ini. Menurut pihak perusahaan, MRT Jakarta akan secara resmi beroperasi pada tanggal 12 Maret 2019. Tentu saja, PT MRT Jakarta tidak ingin ada kendala ketika peluncuran dan pengoperasiannya kelak, maka kini perusahaan dikabarkan tengah melakukan sejumlah uji teknis hingga tanggal 11 Maret mendatang.
Baca Juga: Delapan Kereta MRT Jakarta Uji Coba Secara Penuh dengan Headway 10 Menit
Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar mengatakan bahwa pihaknya kini tengah mempersiapkan serangkaian skema exercise emergency.
“Jadi 23 Februari sampai 11 Maret itu akan dilakukan rangkaian exercise emergency, jadi bagaimana kalau ada berbagai macam kondisi dimana dibutuhkan saat emergency itu bagaimana mengatasinya. Nah, siapa yang akan terlibat itu pihak-pihak yang terkait dengan emergency,” ujar William, dikutip dari laman okezone.com (13/2/2019).
Tidak hanya itu, William juga menuturkan bahwa warga Ibu Kota juga bisa ‘curi start’ untuk menjajal moda yang sudah lama dinantikan oleh warga Jakarta dan sekitarnya ini.
“Lewat website. Sedang kita siapkan. Dari masyarakat silahkan kunjungi web MRT disitu ada yang harus diisi, apakah pakai QR Code atau pakai cetak, itu nanti dibawa pada saat mau naik kereta MRT,” jelasnya.
Alih-alih khawatir jumlah pengunjung yang membludak karena ingin menjajal MRT Jakarta, William justru tidak memberlakukan sistem kuota alias tidak membatasi jumlah pengunjung yang datang.
“Enggak ada kuota, pokoknya mendaftar aja, target penumpang selama masa uji coba ini 28 ribu,” paparnya.
Pada kesempatan yang sama, William juga menyampaikan bahwa proses pembangunan MRT Jakarta Fase 2 sudah mulai bergulir, kendati pihaknya masih menunggu respon dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) untuk pelaksanaan groundbreaking.
“Fase II kita jalan terus. Kita tetap jalan, tidak harus menunggu groundbreaking karena fase II itu kan ada beberapa paket,” jelasnya.
Baca Juga: Ini Dia Rute MRT Jakarta Jika Diteruskan Hingga ke Tangerang Selatan
Mengutip dari laman sumber lain, proses pengerjaan Fase 2 ini sendiri terbagi ke dalam sejumlah paket pengerjaan. Nah, yang disinggung William di atas merupakan paket pembangunan CP200. Seiring menunggu respons balasan dari Kemensetneg, pihaknya pun memulai pembangunan fase II pada paket pembangunan selanjutnya, yaitu CP201. Paket itu meliputi wilayah Bundaran HI sampai dengan Harmoni, Jakarta Pusat.
Setelah rampung, pihak MRT Jakarta sendiri akan melanjutkan pekerjaannya di sektor CP202 dan CP203 yang meliputi pembangunan di wilayah Harmoni – Glodok dan Glodok – Kota. Menurut William, proses persiapan pembangunan Fase II memang telah berlangsung sejak lama. Pihaknya telah melakukan tahap-tahap persetujuan pendanaan, penetapan lokasi, dan saat ini sedang proses lelang.
“Itu kita lelangkan. Tahun ini kita juga bebasin lahan, utilitas. Jadi, pekerjaannya banyak.” kata William.
Horee! Garuda Indonesia, Citilink dan Sriwijaya Air Turunkan Harga Tiket 20 Persen di Semua Rute
Kenaikan harga tiket pesawat pada low season ini membawa dampak besar, tidak hanya dirasakan pada bisnis penerbangan, namun lesunya lalu lintas penumpang berimbas pada sepinya industri pendukung di bandara, hingga transportasi umum penunjang dari dan ke bandara. Belum lagi sektor wisata domestik yang mulai mengeluhkan dengan merosotnya pendapatan sebagai dampak naiknya harga tiket pesawat.
Baca juga: Hadapi ‘Badai’ Low Season di Januari – Maret, Bisnis Penerbangan Harus Tetap Optimis
Menjawab persoalan tersebut, tepat di Hari Valentine, 14 Februari 2019, ada kabar baik yang datang dari Garuda Indonesia Group. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers Garuda Indonesia, disebutkan Garuda Indonesia Group melalui lini layanan full service Garuda Indonesia dan Low Cost Carrier (LCC) Citilink Indonesia serta Sriwijaya Air-NAM Air Group mengumumkan penurunan harga tiket di seluruh rute penerbangan sebesar 20 persen mulai 14 Januari 2019.
Penurunan tarif tiket pesawat ini merupakan tindak lanjut dari inisiasi awal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) yang sebelumnya baru berlaku di beberapa rute penerbangan.
“Hal tersebut sejalan dengan aspirasi masyarakat dan sejumlah asosiasi industri nasional serta arahan Bapak Presiden RI mengenai penurunan tarif tiket penerbangan dalam mendukung upaya peningkatan sektor perekonomian nasional khususnya untuk menunjang pertumbuhan sektor pariwisata, UMKM, hingga industri nasional lainnya, mengingat layanan transportasi udara memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan perekonomian.
Garuda Indonesia Group memastikan komitmen penurunan harga tiket pesawat sejalan dengan dengan sinergi intensif yang dilakukan seluruh pemangku kepentingan terkait dalam memastikan akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara tetap terjaga” papar Ari.
Komitmen positif Garuda Indonesia Group sebagai BUMN tersebut sejalan dengan sinergi positif seluruh sektor penunjang layanan penerbangan dalam memastikan tata kelola industri penerbangan yang tepat guna, baik dari aspek aksesibilitas masyarakat terhadap layanan transportasi udara serta business sustainability maskapai penerbangan di Indonesia.
Baca juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!
Lebih lanjut melalui penurunan tarif tiket penerbangan tersebut, Garuda Indonesia Group berharap akses masyarakat terhadap layanan transportasi udara dapat semakin terbuka luas, sehingga Garuda Indonesia Group dapat mengakomodir aspirasi masyarakat dalam memberikan pelayanan berkualitas yang dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat.
“Penurunan harga tiket tersebut kami pastikan akan menjadi komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia Group dalam memberikan layanan penerbangan yang berkualitas dengan tarif tiket penerbangan yang kompetitif ” tutup Ari.
Sempat Vakum 2 Tahun, Stasiun Kertosono Kembali Beroperasi Sejak 2015
Stasiun Kertosono yang berada di Banaran, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur merupakan stasiun kereta api kelas besar tipe B. Berada di ketinggian +43 mdpl ini masuk dalam Daerah Operasional (Daop) VII Madiun dan terletak di paling timur kabupaten Nganjuk. Memiliki tujuh jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, Stasiun Kertosono sendiri ternyata hanya mengoperasikan jalur 1-5 dan menggunakan sistem persinyalan elektrik.
Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini juga dilengkapi dengan sub dipo lokomotif dan pada tahun 2013-2014 lalu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) sempat memberlakukan kebijakan setiap kereta hanya bisa melintas langsung di Stasiun Kertosono ini. Hal tersebut dilakukan untuk mensterilkan stasiun dari pengamen dan pedagang asongan.
Bahkan kereta api Rapih Dhoho harus memutar lokomotifnya di Stasiun Baron atau Sukmoro dan rute KRD Kertosono di perpendek hingga Stasiun Jombang saja. Hingga akhirnya pada 1 April 2015, Stasiun Kertosono kembali melayani penumpang. Penumpang yang naik turun dari stasiun ini pun tak hanya dari Kertosono saja melainkan dari luar kecamatan.
Sebelum seperti saat ini pada tahun 1960 hingga 1980, Stasiun Kertosono merupakan stasiun kereta api kelas I atau besar. Stasiun ini didesain sebagai persimpangan jalur Madiun-Surabaya-Kediri-Blitar. Pada pembangunannya, jalur percabangan memang sengaja dibangun di seberang sungai agar menghemat biaya dengan tidak membangun dua buah jembatan. Percabangan ini dibuat simetris sehingga percabangan tersebut dikenal dengan sebutan “Simetri Kertosono”, meskipun letaknya sudah masuk wilayah Kabupaten Jombang.
Dipo yang ada di Stasiun Kertososo sendoro berfungsi sebagai bengkel perawatan lokomotif serta gerbong-gerbong kereta. Pada masa lalu, lokomotif yang dirawat masih menggunakan uap. Stasiun ini memiliki tiga bangunan menara pengawas yang dulunya disebut Sign-Huis atau rumah sinyal yang letaknya di ujung timur, barat dan persimpangan rel arah Blitar/Kediri dekat sungai Brantas, tetapi bagunan-bangunan itu kini sudah dibongkar.
Telekomunikasi antar stasiun saat itu masih menggunakan telepon dan telegraph. Stasiun Kertosono juga memiliki jalur kereta lori yang disebut warga sekitar motik. Rel ini menghubungkan stasiun dengan pabrik gula Lestari untuk mengangkut limbah gula yang akan dikirim dan didaur ulang.
Baca juga: Stasiun Labuan di Medan, Jalur Pertama Perkeretaapian Sumatera Utara
Jalur lori tersebut hingga kini masih bisa terlihat di depan Stasiun Kertosono sekarang. Tak hanya itu banyak gerbong barang, tangki minyak dan gerbong penumpang yang selalu mangkal di stasiun ini. Karena stasiun ini juga merupakan jalur distribusi barang dan minyak.
Blunder Beruntun! Cathay Pacific ‘Diskon’ Hampir 90 Persen Tiket Penerbangan Portugal – Hong Kong
Flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific dikabarkan kembali mengalami kerugian setelah pihaknya salah membanderol tiket, hampir mirip dengan kesalahan yang pernah mereka lakukan pada bulan Agustus 2018 silam. Jika pada bulan Agustus kemarin, Cathay menjual tiket kelas bisnis untuk penerbangan dari Vietnam ke New York dengan harga US$675 atau kurang dari Rp 10 juta pergi-pulang, maka kali ini maskapai yang pernah salah cetak livery ini menjual tiket dengan rute penerbangan Hong Kong – Portugal hanya dengan harga Rp21 juta saja.
Baca Juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Cathay kali ini menjual tiket penerbangan tersebut dengan harga yang sangat miring. Padahal, harga asli dari tiket di rute penerbangan antar benua tersebut dibanderol dengan harga sekira US$16.000 atau yang setara dengan Rp231 juta. Dapat Anda bayangkan, pihak Cathay merugi hampir 90 persen dari penjualan tiket di rute tersebut.
Menanggapi hal ini, pihak maskapai mengatakan menerima tiket-tiket yang sudah terlanjur dibeli dengan harga sangat murah itu, dan saat ini sedang “menyelidiki penyebab kesalahannya”. Kesalahan pemasangan harga tiket ini tercantum dalam laman resmi Cathay Pacific pada Minggu (13/1/2019) lalu, dimana mereka menjual tiket penerbangan first class dari Lisbon menuju Hong Kong dengan harga US$1.512 atau yang sekira Rp21 juta.
Padahal, penerbangan serupa via Frankfurt, Jerman dibanderol dengan harga US$16.000 atau yang setara dengan Rp231 juta. Nasi sudah menjadi bubur, pihak Cathay Pacific hanya bisa mengikhlaskan tiket yang dijual dengan harga super miring tersebut dan tidak ambil pusing dengan kejadian yang sudah kadung terjadi ini.
“Kami sedang mencari penyebab utama insiden ini, baik secara internal maupun eksternal, dengan rekanan kami,” ungkap pihak Cathay Pacific dalam sebuah keterangan resmi.
Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika
“Teruntuk penumpang yang beruntung karena sudah mendapatkan tiket penerbangan dengan harga super murah tersebut, kami harap Anda bisa menikmati layanan premium yang kami sediakan,” lanjutnya.
Kesalahan beruntun yang dilakukan oleh Cathay Pacific dalam waktu yang hampir berdekatan ini seolah menjadi sinyalbagi pihak maskapai untuk lebih berhati-hati dalam melayani setiap pelanggannya. Alih-alih meraup untung, insiden seperti ini jelas membawa kerugian bagi perusahaan dan bukan tidak mungkin jika pendapatan maskapai ini bisa tersalip oleh rival-rivalnya.
Duh, ada-ada saja, ya!
Joint Venture Rusia Kembangkan Trem Otonom Guna Minimalisir Human Error
Pabrikan kendaraan listrik asal Rusia dan pengembang kecerdasan buatan untuk sistem pengemudi otonom diketahui tengah mengerjakan trem kota yang akan mengaspal di jalan-jalan di kota Moskow dalam waktu dekat. Trem yang sepenuhnya otonom ini akan segera memulai pengujian fasilitas tertutup, sebelum akhirnya menjajal trial run di sepanjang rute trem Moskow. Tujuan dari pengadaan trem futuristik semacam ini adalah untuk mengembangkan sistem otonom, dimana trem bisa tetap mengular tanpa harus dikemudikan oleh manusia.
Baca Juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/2/2019), trem yang dikembangkan oleh joint venture PC Transport Systems dan Cognitive Technologies ini juga ditujukan untuk meminimalisir jumlah kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor human error. Menurut pihak perusahaan, kendaraan yang tengha dikembangkan ini nantinya akan juga masuk ke pasar Jerman dan Cina yang diperkirakan dapat terrealisasi pada tahun 2021 hingga 2022 mendatang.
Adapun trem ini kelak akan dibekali 10 hingga 20 kamera yang diposisikan di sekeliling trem, yang dikombinasikan oleh 10 sensor radar yang akan menghasilkan data. Penggunaan Global Positioning System (GPS) akan membantu pusat kendali untuk menentukan posisi trem yang presisi.
“Kombinasi sensor yang mencakup kamrea dan radar akan membantu kami untuk mendeteksi moda ini secara akurat, dan dapat diandalkan dalam berbagai jenis kondisi cuaca – malam, hujan, kabut, salju, hingga panas terik sekalipun,” ungkap Olga Uskove dari Cognitive Technologies.
Tidak hanya memiliki kemampuan untuk tetap beroperasi di segala jenis kondisi cuaca saja, trem ini juga kelak akan dapat mendeteksi moda lain di jalanan, membaca lampu lalu lintas, pejalan kaki, berhenti di tempat pemberhentian hingga merespon setiap kejadian di luar skema dengan tepat. Tim pengembang mengatakan bahwa trem akan otomatis berhenti ketika mereka menemukan hambatan ketika tengah beroperasi. Hebatnya lagi, trem ini juga dapat mengaplikasikan jarak aman dengan moda yang ada di depannya.
Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda
Sama halnya seperti MRT Jakarta, kelak, trem asal Rusia yang menurut rencana akan mulai diuji sekitar dua bulan ke depan ini akan terlebih dahulu dioperasikan oleh manusia, dimana kru dari joint venture ini akan berada di dalam rangkaian trem dan siap untuk mengambil alih kemudi semisal ada suatu hal yang luar skenario.
