Korean Air Batalkan Program Flight to Nowhere, Gegara Covid-19?

Korean Air akhirnya membatalkan program flight to nowhere. Tak diketahui secara pasti alasan dibalik itu. Namun, kuat diduga pembatalan dilakukan karena wabah Covid-19 yang tak kunjung mereda di Negeri Ginseng. Baca juga: Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat? Sejatinya, Korean Air sudah menjadwalkan penerbangan flight to nowhere pada 27 Februari mendatang setelah mendapat izin dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi. Meskipun belum ada detail pasti, rencananya flight to nowhere Korean Air akan mencakup penerbangan internasional ke Jepang, selain keliling Korea Selatan. Baik flight to nowhere ataupun rutenya, Korean Air mengklaim bahwa itu datang dari industri pariwisata. Dengan demikian, penerbangan tak kemana-mana atau take off dan mendarat di bandara yang sama ini akan diliputi kesuksesan meraup untung besar, sebagaimana penerbangan flight to nowhere oleh maskapai lain. “Kami telah mendapatkan beberapa permintaan dari industri pariwisata. Kami sedang mempersiapkan pengoperasian penerbangan tamasya, dan mendiskusikan periode penjualan dengan pihak terkait seperti agensi,” kata juru bicara Korean Air, seperti dikutip dari Simple Flying.
Korean Air tentu bukanlah yang pertama meluncurkan flight to nowhere di Korea Selatan. Sebelumnya, Asiana Airlines dan Air Seoul jadi dua yang terdepan menggaungkan flight to nowhere. Tetapi, hanya Asiana Airlines yang berhasil menjalankan flight to nowhere pada 12 Desember lalu. Adapun anak perusahaannya, Air Seoul, membatalkan rencana tersebut. Keduanya disinyalir bakal memulai kembali flight to nowhere dalam waktu dekat. Sedangkan di internasional, flight to nowhere sudah lebih dahulu dijalani oleh berbagai maskapai dunia. Qantas tercatat pernah menjalankan flight to nowhere selama 8,5 jam pada 10 Oktober 2020. Sebelum Qantas, maskapai EVA Air, China Airlines, All Nippon Airways (ANA), Singapore Airlines, dan Royal Brunei Airlines telah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang (serupa dengan konsep flight to nowhere Korean Air). Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara semula. Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi. Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak. Baca juga: Flight To Nowhere Ala Thai Airways, Terbang Sambil Ziarah ke 99 Tempat Suci Umat Buddha Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat. Kembali ke Korean Air, tidak ada keterangan apapun apakah maskapai nasional Korea Selatan ini akan memulainya di kemudian hari atau mengubur itu selamanya. Bila melihat dari kinerja keuangan, dimana maskapai justru mencetak keuntungan sebesar US$219 juta sepanjang tahun 2020 di saat maskapai lain rugi besar bahkan bangkrut, Korean Air besar kemungkinan tidak akan menjajaki flight to nowhere.

Mudahkan Pengguna, “The Next Level of TransJakarta” Menjadi Pembaruan di Aplikasi Tije

Sepertinya, dimasa pandemi ini semua terlihat serba praktis baik dari pembelian hingga pembayaran yang tanpa uang tunai. Bahkan yang tadinya menggunakan kartu pun beralih menggunakan QR Code yang didapat dari aplikasi. Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta Hal ini pun terjadi di moda transportasi yang ada di Jakarta yakni salah satunya bus rapid transit (BRT) milik PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Di mana TransJakarta, hari ini, Jumat (5/2/2021), meluncurkan pembaruan serta pengembangan pada aplikasi Tije yakni The Next Level of TransJakarta. Direktur Utama PT TransJakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, kehadiran pembaruan pada aplikasi Tije untuk melengkapi kebutuhan digital saat ini. Sehingga pada saatnya nanti pengguna tak perlu lagi menebak kedatangan bus atau mencari rute serta halte terdekat. Direktur Eksekutif Transformasi Digital Tekonologi Informasi Transjakarta Gidionton Saritua mengatakan, kehadiran The Next Level of Tije ini karena pelanggan memiliki ekspektasi yang tinggi. “Yang jelas dalam pembaruan ini kita aktifkan pencarian rute dari rumah untuk bus TJ yang akan digunakan. Mencari rute dan halte yang tidak beroperasi. Selain itu akan ada update secara realtime dan ini user friendly,“ ujar Gidi pada webinar. Dia menambahkan, pihaknya juga tengah mengembangkan teknologi untuk penyandang disabilitas. Nantinya para penyandang disabilitas bisa melakukan pembayaran dengan suara untuk kode khusus. “Kami masih meriview untuk penyandang disabilitas. Akan ada audio untuk memudahkan mereka dan tidak hanya notif tetap ada suara yang bisa didengar bagi mereka yang membutuhkan,“ tambahnya. Untuk diketahui ada enam fitur canggih di aplikasi Tije yang baru yakni Homepage dengan tampilan simpel dan menarik. Ketika pengguna masuk ke aplikasi, akan ada salam yang menyebutkan nama pengguna aplikasi dan ini Anda akan seperti disapa oleh Tije. Tjari Rute, ini adalah rencana perjalanan bersama TransJakarta yang mana penumpang bisa mengetahui posisi halte terdekat, pilihan rute yang dapat digunakan serta estimasi waktu perjalanan. Tjari Bus adalah fitur yang memudahkan pengguna mengetahui posisi bus serta detail armada seperti nomor bodi dan jenis bus. Baca juga: TransJakarta Lengkapi Seluruh Halte di 13 Koridornya dengan WiFi Tanpa Bayar dan Batas Kuota Informasi Rute merupakan fitur untuk mengetahui informasi rute secara up to date dan real time. Informasi Halte bisa digunakan pengguna untuk mengetahui informasi halte-halte baik yang beroperasi maupun yang sedang dalam proses renovasi dan sebagainya. Loyalti-je, ini adalah fitur keuntungan lebih banyak bagi pelanggan yang mendownload aplikasi TIJE dan melakukan pembayaran menggunakan QR tiket, di mana akan mendapat poin yang bisa ditukarkan dengan hadiah menarik.

Wow, Boeing 737 MAX Sudah Cetak 2.700 Penerbangan Pasca Diizinkan Kembali Terbang

Sejak diizinkan terbang (mendapat sertifikasi) kembali oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020 lalu, berbagai maskapai dunia ramai-ramai mulai mengatur jadwal penerbangan perdana Boeing 737 MAX. Sejauh ini, 737 MAX bahkan sudah berhasil mencatat 2.700 penerbangan penumpang dan 5.500 jam terbang bersama berbagai maskapai di setidaknya lima negara, meliputi Amerika Serikat (AS), Kanada, Brazil, Panama, Meksiko. Baca juga: Duh, Boeing 737 MAX Masalah Lagi! Kali Ini Terkait Sealant Bahan Bakar Di AS, dua maskapai besar, seperti American Airlines dan Southwest Airlines, jadi yang terdahulu mengoperasikan 737 MAX. Bersama keduanya, MAX sudah mencetak ratusan penerbangan, dimana 600 penerbangan di antaranya dicetak bersama American Airlines. Keduanya berjanji akan terus menerbangkan 737 MAX serta memperbanyak penerbangan MAX di kota-kota lain di AS. Maskapai-maskapai lainnya, seperti United Airlines dan Alaska Airlines bertekad akan menerbangkan 737 MAX dalam waktu dekat. Dilansir sacbee.com, United Airlines menjadwalkan penerbangan 737 MAX pada 11 Februari nanti. Adapun Alaska Airlines menyusul pada 1 Maret mendatang. Di dunia, maskapai pertama yang menerbangkan 737 MAX pasca mendapat izin dari FAA, Gol Linhas Aéreas, masih akan terus mengoperasikan pesawat ini. Begitu juga dengan maskapai kedua yang menerbangkan MAX pada 21 Desmeber lalu, Aeromexico. Kedua maskapai itu juga bakal menghadirkan penerbangan MAX di lebih banyak kota. Hampir seluruh maskapai di atas memberitahu penumpang detail informasi pesawat yang akan digunakan, tak terkecuali pada penerbangan transit. Penumpang dibebaskan untuk tetap ikut penerbangan bersama 737 MAX atau menolak dan meminta diterbangkan pakai pesawat lain. Sekalipun ada satu-dua penumpang yang menolak terbang menggunakan 737 MAX, namun, pada umumnya, penumpang sudah yakin terhadap pesawat itu. CEO Boeing, Dave Calhoun, mengungkapkan pihaknya sudah bekerja amat keras untuk memastikan retrofit 737 MAX aman. Business Insider melaporkan, Boeing telah melalui proses perbaikan selama 400 ribu jam, 1.400 tes dan pengecekan, serta lebih dari 3.000 jam terbang pesawat 737 MAX. Hasilnya, Boeing mengklaim permasalahan software flight control -yang menjadi penyebab dua kecelakaan MAX- telah diselesaikan dengan baik. Buah dari itu pun, FAA memberikan lampu hijau untuk terbang. Baca juga: EASA Akhirnya Izinkan Boeing 737 MAX Terbang di Eropa, Gegara Didesak AS? Di 2021 ini, sekalipun penerbangan masih lesu imbas wabah Covid-19, Calhoun meyakini seluruh maskapai di dunia yang masih belum menerbangkan MAX, seperti maskapai-maskapai di Timur Tengah, Asia Pasifik, Asia Tenggara, Eropa, dan Australia akan segera menerbangkannya. Tanda-tanda itu pun juga sudah begitu terang. Belum lama ini, Uni Eropa dan Inggris (Britania Raya) juga sudah mengeluarkan green light atau kembali mengizinkan 737 MAX terbang. Ini menjadi langkah konkret keduanya setelah akhir tahun lalu sudah memberikan sinyal diizinkannya MAX kembali terbang di seluruh daratan Uni Eropa dan Inggris.

Singapore Airlines Jual Sate 48 Tusuk dengan Harga Rp1 Juta

Sate merupakan makanan yang terkenal di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. Bahkan Negeri Kincir Angin yakni Belanda, sate juga sangat populer. Sehingga bisa dikatakan sate merupakan makanan yang bisa dikonsumsi oleh semua orang dari kalangan mana pun. Baca juga: Penumpang Sadar Gaya Hidup Sehat, Singapore Airlines Tawarkan Makanan Sehat dalam Penerbangan Pada Oktober 2020, Singapore Airlines meluncurkan berbagai rangkaian pengalaman yang dikurasi khusus untuk pelanggan di Singapura. Ini termasuk dua pengalaman bersantap Restoran A380 @Changi dan SIA @Home. Dalam dua pengalaman ini, pelanggan akan mendapatkan kesamaan makanan yang akan disantap yakni sate khas Singapore Airlines. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber mothership.sg (3/2/2021), sate yang disajikan ada tiga set yakni sebagai hidangan pembuka di kedua pengalaman itu. Jika dalam pengalaman tersebut sate yang didapat hanya sedikit per porsinya, baru-baru ini, Singapore Airlines memberikan kabar baik. Kabar tersebut adalah pelanggan bisa memesan lebih banyak karena SIA menjual sate ayam dalam satu kemasan berisi 48 tusuk dengan harga S$98 atau sekitar Rp1 juta. Harga ini bila dihitung satuan yakni sekitar S$2,04 atau Rp21 ribu per tusuknya. Bahkan Singapore Airlines memudahkan pelanggannya untuk mendapatkan 48 tusuk sate bisa menukarkan miles sebanyak 12.250. Setiap set juga dilengkapi dengan saus kacang seberat 1,2 kg yang dikemas dalam empat paket yang lebih kecil. Menurut keterangan di KrisShop, sate tersebut akan dikirim secara beku dalam wadah foil dan vacuum pack. Sate dan sausnya dapat disimpan dalam freezer hingga enam bulan sejak tanggal produksi. Karena dalam keadaan beku, ketika sate dan saus sudah dicairkan harus dikonsumsi sehari setelah dicairkan. Sayangnya sate khas Singapore Airlines ini dijual dalam jumlah terbatas yang akan dikirim setiap harinya. Perwakilan Singapore Airlines menyampaikan bahwa produk tersebut tergantung pada ketersediaan stok. Baca juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis “Pelanggan mungkin juga ingin memperhatikan bahwa karena tingginya volume pesanan, pesanan sate yang dibuat mulai hari ini dan seterusnya mungkin tidak tersedia untuk pengiriman sebelum tahun baru lunar,” ujar perwakilan tersebut.

Viral! Cerita Pramugari Tangani Penumpang Meninggal di Pesawat, Bikin Ngeri

Pramugari umumnya bertugas melayani segala kebutuhan penumpang, baik sebelum maupun sesudah penerbangan. Tetapi, di luar itu, pramugari harus siap untuk melakukan tugas-tugas lainnya di luar keadaan normal, seperti membuka pintu darurat, membantu penumpang memakai masker oksigen, atau bahkan melakukan penanganan dini terhadap penumpang sakit dan meninggal saat pesawat di udara. Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin Terkait cara pramugari menangani penumpang meninggal di pesawat, belum lama ini, pengguna TikTok @Sheenie_weenie punya cerita menarik, sekaligus mengerikan. Diktuip dari mirror.co.uk, Sheenie, yang juga pramugari, melalui sebuah postingan viral yang telah ditonton 2,8 juta pengguna, mengungkapkan ketika penumpang dipastikan meninggal -dengan tidak adanya denyut nadi dan jantung- pada umumnya ia akan tetap berada di tempat. Akan tetapi, seseorang dalam kondisi pucat, dingin, dan tidak responsif belum tentu meninggal. Lagi pula, hanya dokter bersertifikatlah yang bisa menyatakan seseorang meninggal atau tidak. Karenanya, awak kabin, ketika melihat sesuatu kejadian yang janggal pada penumpang, akan terlebih dahulu bertanya kepada semua penumpang barangkali ada dokter untuk memeriksa keadaan penumpang tersebut. Bila dokter tersebut kemudian merasakan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan barulah penumpang dinyatakan meninggal. Sebetulnya ada opsi untuk mendarat di bandara terdekat, namun hal itu bisa dibilang sama sekali tidak berjalan. Alhasil, penumpang yang berada di sebelahnya mau tak mau harus menerima kenyataan pahit, terbang sebangku dengan mayat. Begitu juga dengan penumpang lain yang berada di sekitar atau di kabin utama, mereka secara sadar terbang dengan mayat. Dalam kondisi ini, kadang kala penumpang tetap diam dan menerima kenyataan, sambil berharap pesawat cepat sampai di bandara tujuan. Tetapi, kadang kala, penumpang takut dan meminta pramugari melakukan sesuatu, entah itu memindahkan penumpang meninggal ke kursi kosong di belakang atau di bagian lainnya dan menggunakan media kain atau apapun untuk menutupi jasad mayat tersebut. Singkatnya, Sheenie, yang juga menjadi salah satu pramugari di salah satu maskapai Inggris, menyebut saat ada penumpang meninggal di pesawat, penerbangan akan menjadi horor. Baca juga: Viral di TikTok Pramugari Umbar Fakta Penghasilan Sekuat apapun seluruh penumpang dan awak pesawat mengatur mindset seolah tak ada mayat, tetap saja, begitu melewati, melihat, atau mengingat jasad penumpang meninggal tersebut nyali akan ciut dan membuat ketakutan berlebih, terutama pada penumpang wanita. Setelah pesawat mendarat, petugas medis, yang sebelumnya sudah diberita tahu kabar meninggalnya penumpang di pesawat, langsung menjemputnya dan membawa ke rumah sakit. Pramugari kemudian menghubungi pihak keluarga untuk memberi tahu kabar duka ini.

Airnav Sebut Ada Keterlibatan Garuda Indonesia Sebelum Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Dipastikan Jatuh

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) membeberkan kronologi lengkap, detik-detik mulai dari pesawat lepas landas sampai hilang kontak. Di antara fakta-fakta yang diungkap AirNav, ternyata ada keterlibatan penerbangan Garuda Indonesia sebelum pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182 dipastikan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. Baca juga: Tiga Fakta Kejadian Aneh Berbalut Mistis Dibalik Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Di sekitar hilangnya kontak, penerbangan Garuda Indonesia menjadi salah satu yang terdekat. ATC pun meminta bantuan penerbangan itu dengan menghubungi pilot pesawat guna memastikan keberadaan SJ-182. Namun, nihil jawaban. Begitu juga dari segi visual, tak ada tanda-tanda adanya pesawat SJ-182. Senada dengan gagalnya penerbangan Garuda Indonesia dalam menghubungi SJ-182, AirNav mengaku juga sudah 11 kali menghubungi pesawat namun tidak ada respons. Dalam rapat dengar pendapat di Komisi V DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu lalu, Direktur Utama AirNav Indonesia, Pramintohadi Sukarno, mengungkapkan kronologi hilangnya Sriwijaya Air SJ-182 dimulai saat take off dari runway25 pada pukul 14.36 WIB dan sempat mengontak ATC pada ketinggian 1.700 kaki. “Pada pukul 14.36 WIB Sriwijaya SJ-182 take off dari runway25. Kemudian, setelah melewati ketinggian 1.700 kaki menghubungi Jakarta approach di frekuensi 179 Mhz dan diinstruksikan controller untuk naik ke ketinggian 29 ribu kaki mengikuti prosedur SID atau standar alur keberangkatan,” jelasnya. Sekitar pukul 14.38 WIB, pesawat meminta arah 0,75 derajat atau ke arah kanan pada ATC karena alasan cuaca. ATC pun mengizinkan sekaligus memberi instruksi baru berupa menaikkan ke ketinggian 11 ribu kaki. Sebab, di ketinggian 7.900 kaki akan ada pesawat Air Asia yang juga tujuan Pontianak. Pukul 14.39 WIB, pesawat meminta izin untuk naik ke ketinggian 13 ribu kaki saat sudah mencapai ketinggian sekitar 10.600 kaki. Di sinilah titik krusial detik-detik hilangnya Sriwijaya Air SJ-182 terjadi. Sebab, tak lama setelah meminta izin ke ketinggian tersebut, pesawat tiba-tiba berbelok ke kiri, dari seharusnya ke arah kanan di posisi 0,75 derajat hingga akhirnya hilang dari radar. Hal ini tentu mengejutkan petugas mengingat selama komunikasi sejak awal berangkat, pesawat rute Jakarta-Pontianak ini tidak mengaku atau terindikasi adanya kerusakaan atau keadaan tidak normal. Baca juga: Jauh Sebelum Musibah Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Sudah Ingatkan Maskapai Soal Karat pada 737 Series “Selama proses dari pukul 14.36 WIB sampai 14.39 WIB tidak ada laporan pesawat dalam kondisi tidak normal. Jadi ini semua berlangsung dengan normal,” ungkap Pramintohadi. Petugas Jakarta controller pun di menit-menit berikutnya coba mengkonfirmasi arah dan keberadaan pesawat. Namun tak ada respon. Begitu juga saat Garuda Indonesia coba menghubungi pesawat, hasilnya nihil. Beberapa saat kemudian, dikonfirmasi bahwa pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182 jatuh di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, Jakarta, 4 menit setelah lepas landas.

Kanada Jadi Negara Pertama Terapkan Standar Baru untuk Bantu Pilot Hindari Runway Licin

Insiden pesawat tergelincir saat mendarat di landasan licin, baik itu karena bersalju, berlumpur, maupun hujan deras, bisa dibilang cukup sering terjadi. Pada tahun 2016 lalu, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mencatat pesawat tergelincir di landasan pacu (runway) karena licin terjadi hampir sekali dalam sepekan di seluruh dunia. Baca juga: Lawan Cuaca Buruk, Pesawat WestJet Tergelincir di Landas Pacu Celakanya, sejak era penerbangan dimulai sampai saat ini, ancaman runway licin akibat fenomena alam dan menyebabkan selip ban atau hydroplaning belum juga bisa ditanggulangi bersama. Ketika dihadapi dengan cuaca buruk, pilot biasanya tak memiliki informasi akurat seperti apa keadaan runway di bandara tujuan. Saking sedikitnya informasi, pilot diistilahkan terbang buta atau flying blind ketika mencoba memahami risiko mendarat di bandara bersalju, berlumpur, atau mungkin tergenang air akibat hujan deras. Dalam upaya menggali informasi, selain berkomunikasi dengan petugas approach ATC, pilot juga mengandalkan informasi dari pilot pesawat yang berada di depan. Inilah yang pada akhirnya menyebabkan insiden pesawat tergelincir terjadi. Sebab, antara pesawat yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan berat kosong dan berat isi pesawat, teknik pendaratan, pengalaman, dan mental. Insiden Southwest flight 1248 yang tergelincir di Bandara Chicago Midway pada 2005 lalu, misalnya, dari hasil penyelidikan, landasan pacu ternyata lebih licin dari yang dibayangkan pilot Southwest, berdasarkan analisis komputer tiga pesawat di belakangnya. Lagi pula, kondisi runway berubah dengan cepat, apalagi saat cuaca buruk. Dengan kata lain, mengikuti teknik pendaratan pesawat yang berada di depannya tentu tidak tepat. Guna memutus rantai kejadian tersebut, Regulator Penerbangan Sipil Kanada, Transport Canada, belum lama ini dikabarkan mulai menerapkan prinsip teknik standar baru. Ini berguna untuk pilot dan maskapai untuk mencocokkan penilaian teknik pengereman mereka dengan data objektif yang dikumpulkan oleh sensor pesawat. Baca juga: Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat Dilansir macleans.ca, penasihat Transport Canada mengungkapkan, setidaknya ada empat standar baru berupa indikator untuk dijadikan dasar keputusan pilot mendarat atau tidak, mulai dari indikator “good” yang berarti runway aman hanya dengan pendaratan mulus, “medium” fungsi rem tidak efektif dan harus dibantu dengan teknik pendaratan hard landing, “poor” pengereman dan kontrol arah lateral pesawat minimal, dan terakhir “nil” atau “nihil” yang berarti pesawat kemungkinan besar akan tergelincir atau disarankan mendarat di bandara lain. Disebutkan, standar baru ini sudah mulai diterapkan di Negeri Pecahan Es tersebut mengingat urgensinya. Hal itu pun menjadikan Transport Canada atau regulator penerbangan sipil Kanada dinobatkan sebagai regulator pertama yang menerapkan prinsip teknik standar baru tersebut.

NASA Andalkan Roket Nuklir Kirim Manusia ke Mars di 2035

Setelah menyeruak pada tahun 1940-an, gagasan roket bertenaga nuklir kembali muncul. Bahkan, kali ini bukan sekedar gagasan melainkan akan digeluti dengan serius oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). NASA berpendapat bahwa roket nuklir akan sangat efektif untuk mengantar manusia ke Mars dan bulan dibanding roket yang ada sekarang. Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak Dalam waktu dekat, tiga misi antariksa dari Uni Emirat Arab melalui wahana Perseverance, China melalui wahana antariksa Tianwen-1, dan Amerika Serikat, dikabarkan sama-sama akan mendarat di Planet Mars bulan ini. Ketiga negara pun berharap wahananya dapat selamat menyambangi Mars dan melakukan penelitian di sana tanpa keterlibatan astronot atau manusia secara langsung. Teknologi untuk mengirim manusia ke Mars sebetulnya sudah ada. Hanya saja, dengan harak hingga 140 juta mil, Mars diperkirakan akan jauh lebih dingin dari Antartika. Bukan cuma itu, durasi perjalanan roket yang ada saat ini juga sangat lama, mencapai tujuh bulan. Itu kemungkinan akan lebih lama mencapai sembilan bulan untuk misi kapal berawak. Selain membuat penelitian tidak efisien, lamanya perjalanan juga membuat keselamatan astronot terancam. Jeff Sheehy, kepala insinyur Direktorat Misi Teknologi Antariksa NASA, mengungkapkan durasi panjang menuju Mars dapat membuat astronot terpapar radiasi luar angkasa yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit radiasi, peningkatan risiko kanker seumur hidup, kerusakan sistem saraf pusat, dan penyakit degeneratif. Melihat celah itu, perusahaan teknologi berbasis di Seatlle, AS, Ultra Safe Nuclear Technologies (USNC-Tech) menawarkan apa yang disebutkan roket dengan mesin nuclear thermal propulsion (NTP). Lewat NTP, roket nuklir diklaim bisa mengantar manusia ke Mars hanya dalam tempo tiga bulan, atau lebih cepat tiga kali lipat dari roket kimia yang ada. “Teknologi nuklir akan memperluas jangkauan umat manusia melampaui orbit rendah Bumi, dan ke luar angkasa,” kata Michael Eades, direktur teknik USNC-Tech, dilansir CNN International. Berbagai tantangan pembuatan roket nuklir juga sudah ditemukan solusinya oleh tim teknik USNC-Tech. Selama ini, pengembangan roket nuklir selalu terhalang bahan bakar uranium yang mampu beroperasi pada suhu 2.426 celcius di dalam mesin termal nuklir atau mesin NTP. USNC-Tech mengatakan, solusi atas itu, bahan bakar uranium diperkaya dengan silikon karbida, bahan yang digunakan dalam pelindung tangki guna membentuk penghalang kedap gas yang mencegah keluarnya radioaktif dari reaktor nuklir, untuk melindungi para astronot. Disebutkan, reaktor nuklir tidak akan digunakan untuk lepas landas dari Bumi, tapi dipakai untuk melesat di angkasa. Peluncurannya tetap dengan bahan bakar kimia seperti yang dilakukan selama ini. Hal ini didasari atas alasan keamanan. Begitu berada di orbit, reaktor nuklir yang diaktifkan hanya bisa menimbulkan sedikit kerusakan karena ledakan dan radiasi termal tidak dapat bergerak melalui ruang hampa. Baca juga: Awas! Ratusan Juta Sampah Antariksa Siap Menghujam Indonesia, Setiap Pekan ada Dua Andai pun terjadi kegagalan dan reaktor roket nuklir hancur berkeping, potongan-potongan itu tidak akan mendarat di Bumi -atau planet lain- selama puluhan ribu tahun. Dengan sendirinya, zat radioaktif akan secara alami membusuk dan tidak akan berbahaya lagi. USNC-Tech sendiri sudah mempresentasikan teknologi roket nuklirnya ke NASA. Sejauh ini, NASA memang belum berkomentar apapun, tetapi secara meyakinkan sangat antusias dan setuju dengan gagasan roket nuklir untuk misi mengirim manusia ke Mars pada 2035 mendatang.

Pakai Crop Top, Selebgram Dilarang Masuk Kabin dan Diberikan Rompi

Tidak ada aturan jelas pakaian yang digunakan ketika Anda akan bepergian dengan pesawat. Namun meski begitu, Anda harus memperhatikan pakaian apa yang pantas dan nyaman ketika bepergian dengan transportasi udara. Bahkan beberapa tahun lalu ada seorang artis YouTube dan penyanyi rock tidak diperbolehkan masuk dalam penerbangan oleh awak kabin karena pakaian mereka yang tak pantas. Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan Ternyata hal ini tidaklah menjadi pelajaran bagi beberapa orang. Seperti belum lama ini, seorang selebgram atau model Instagram bernama Isabelle Eleanor yang dihentikan oleh awak kabin saat akan masuk ke dalam kabin pesawat Jetstar. Dilansir KabarPenumpang.com dari dnaindia.com (4/2/2021), Isabelle dihentikan saat akan masuk ke dalam kabin karena awak maskapai menganggap pakaian yang digunakannya tidak pantas. Hal ini membuat Isabelle marah dan merasa dihina oleh awak kabin yang memandangnya dengan ‘jijik’. Dia diberitahu oleh awak kabin bahwa crop top hitam yang dikenakannya terlalu minim. Tak hanya itu, awak kabin pun meminta Isabella untuk menggunakan jaket agar dia bisa masuk ke dalam kabin. “Seorang pramugari menatap saya dan bertanya apakah saya punya jaket yang bisa saya pakai? Saya merasa mereka meminta saya menggunakan jaket agar tidak masuk angin karena sekarang di Melbourne bisa dingin,“ ujar Isabelle. Karena tak membawa jaket, seorang awak kabin yang menghentikannya berunding dengan tim untuk memberikan jaket padanya. Saat dirinya diberikan jaket untuk dikenakan, Isabelle harus menghadapi rasa malu karena semua orang dalam penerbangan itu menatapnya. “Jadi mereka membuat keributan besar ketika saya menginjak pesawat dan membuat saya menunggu di depan semua orang sementara mereka mencari sesuatu untuk menutupi saya. Kemudian saya harus berjalan ke tempat duduk saya dengan mengenakan rompi ini. Ini adalah diskriminasi dan penghinaan Jet Star Australia. Rupanya atasan saya terlalu kecil dan saya tidak bisa terbang tanpa menutupi. Jika saya memiliki payudara kecil saya jamin mereka tidak akan mengatakan apa-apa, ”tulisnya. Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat? Karena hal ini, Jetstar mengatakan awak kabin memiliki kesalahpahaman tentang kebijakan maskapai. Pihak maskapai juga mengatakan telah meminta maaf pada model tersebut. Untuk diketahui Isabelle menggunakan crop top hitam dan jeans biru, saat itu tengah dalam perjalanan dari Gold Coast menuju ke Melbourne bersama suaminya.

China Airlines Batal Pensiunkan Boeing 747, Pertanda Apa?

China Airlines dikabarkan batal mempensiunkan Queen of the Skies Boeing 747. Hal itu dikarenakan pandemi virus Corona yang masih berlangsung sehingga, maskapai memilih menunggu sampai kondisi membaik dan menggelar upacara sederhana melepas pesawat ikonik itu. Baca juga: Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines? Dilansir Simple Flying, salah satu maskapai terbesar di Taiwan ini diketahui mengumumkan berencana mempensiunkan Boeing 747-400 pada awal Januari lalu. Skenarionya pun sudah amat matang, didahului dengan serangkaian penerbangan terakhir Boeing 747 lewat program “Farewell Party for the Queen of the Sky” mulai 6 Februari, sebelum akhirnya pesawat dikirim ke fasilitas penyimpanan jangka panjang. Saat itu, para penumpang program tersebut diajak terbang keliling Taiwan, melihat Gunung Fuji di Jepang, keliling beberapa prefektur di Jepang, sebelum akhirnya kembali ke Bandara International Taoyuan selama kurang lebih 5 jam 40 menit. Selain dikenal sebagai acara perpisahan Boeing 747, program ini juga dilabeli dengan flight to nowhere atau terbang dan mendarat di bandara yang sama. Flight to nowhere gagasan China Airlines bersama kompetitornya, Eva Air, bahkan viral di seluruh dunia dan pada akhirnya diikuti oleh banyak maskapai di berbagai negara, seperti Singapore Airlines, Royal Brunei Airlines, Qantas, dan Thai Airways.
Menurut data dari Planespotters.net, sepanjang sejarah perusahaan berdiri, China Airlines sudah memiliki total 60 Boeing 747. Saat ini, Queen of the Skies tersisa 22 unit, dimana empat di antaranya beroperasi mengangkut penumpang dan sisanya sebagai angkutan kargo. Tak diketahui secara persis sampai kapan penundaan pensiun Boeing 747 China Airlines dilakukan. Yang jelas, selama apapun penundaan dilakukan, hal itu tetap tidak mengubah fokus maskapai untuk beralih ke pesawat twin jet canggih, salah satunya seperti Airbus A350. Disebutkan, maskapai -yang ingin mengganti nama karena kesal selalu dihubungkan dengan Cina daratan- ini sudah memiliki total 14 Airbus A350-900. Pesawat ini dinilai cocok untuk China Airlines yang mengandalkan point-to-point sebagai fokus bisnis perusahaan, baik itu antar benua ataupun negara, salah satunya seperti rute Kaohsiung-Jakarta. Baca juga: Beredar Kabar China Airlines Lakoni Rute Domestik Jakarta–Makassar, Ini Penjelasannya! Sebagai informasi, 1 Juli 2018 silam, China Airlines secara resmi membuka rute Kaohsiung ke Jakarta melalui Hong Kong. Dibukanya rute ke Jakarta semakin mengukuhkan eksistensi maskapai sebagai salah satu operator maskapai terkemuka di Taiwan yang akan mengeksplorasi pasar perjalanan Asia Tenggara. Sebelum pandemi virus Corona, China Airlines memiliki 28 layanan mingguan dengan tujuan Indonesia termasuk Jakarta, Surabaya dan Bali. Penerbangan ini melakukan yang terbanyak oleh maskapai tunggal antara Taiwan dan Indonesia. Dengan rute baru ini, CAL sendiri optimis tentang pasar Indonesia dan menargetkan pelancong Indonesia yang ingin transit melalui Taiwan dalam perjalanan ke Eropa dan Amerika Utara.