Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?
Korean Air mulai memasukkan kembali Airbus A380 ke dalam layanan. Pesawat tersebut diplot untuk penerbangan tiga jam 40 menit dari Incheon, Korea Selatan (Korsel), ke Guangzhou, Cina. Keputusan ini membuat Korean Air bergabung bersama China Southern Airlines -satu-satunya maskapai yang tak meng-grounded A380 selama pandemi Corona- serta Emirates yang sudah lebih dahulu mengoperasikan pesawat tersebut pada awal musim panas ini.
Baca juga: China Southern Jadi Maskapai Satu-satunya di Dunia yang Masih Terbangkan Airbus A380
Simple Flying melaporkan, A380 Korean Air akan mengoperasikan rute Incheon-Guangzhou sepekan sekali, berangkat pukul 08.50 waktu setempat dan kembali ke Incheon, Seoul pada 13.20, setiap hari Rabu.
Di rute ini, Korean Air tak sendiri. Jawara A380 di dunia, China Southern Airlines, juga menjajaki salah satu rute potensial di Timur Asia ini. Bahkan, satu dari tiga maskapai terbesar di Cina itu ada kemungkinan untuk mengoperasikan lebih dari satu pesawat A380.
Dari 10 armada A380 Korean Air, pesawat superjumbo dengan nomor registrasi HL7614-lah yang bakal diplot melayani rute A380 paling aktif di dunia dewasa ini. Pesawat berusia 9,6 tahun tersebut diketahui terakhir kali terbang pada 5 Maret lalu, melahap rute Paris-Seoul.
Lebih dari setengah tahun tak mengudara membuat performa pesawat sempat diragukan. Karenanya, Korean Air mulai mengujicoba kelengkapan kemanan dan keselamatan pesawat tersebut pada 28 September lalu selama kurang lebih satu dan tiga seperempat jam penerbangan.
Selama waktu tersebut, Airbus A380 Korean Air berkeliling langit Pulau Jeju menuju Busan, salah satu kota terkenal di Korsel lewat film Train to Busan, dan mendarat kembali di Incheon, Seoul. Pada penerbangan ini, rata-rata pesawat hanya menjajal ketinggian jelajah di angka 32 ribu kaki.
Keputusan Korean Air mengerahkan kembali pesawat komersial terbesar di dunia ini tentu menuai tanda tanya, mengingat penerbangan penumpang di seluruh dunia disebut masih belum sepenuhnya pulih. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya terobosan maskapai untuk menyikapi sepinya penerbangan, mulai dari flight to nowhere, resepsi pernikahan di pesawat, makan siang mewah di pesawat A380, hingga terjun ke bisnis akikah kambing.
Selain itu, masih lesunya penerbangan penumpang juga dapat terlihat dari adanya gelombang PHK maskapai di berbagai negara di dunia.
Dari kacamata positif, dilihat dari rute yang dijajaki, keputusan maskapai mulai menghidupkan kembali A380 menjadi sinyal kuat pulihnya industri penerbangan di Cina usai dihantam virus Corona. Setidaknya ada tiga tanda terkait hal ini.
Dikutip dari Reuters, Jumat (10/7) menurut data dari Civil Aviation Administration of China (CAAC) jumlah penumpang pada Juni ini turun 42,4 persen atau hanya 30,74 juta penumpang. Angka ini lebih baik dibandingkan bulan Mei dengan penurunan 52,6 persen.
Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih
Selain melambatnya penurunan jumlah penumpang, kerugian kuartal II menandakan pemulihan bagi industri penerbangan China. Pasalnya kerugian kuartal I mencapai 38,1 miliar yuan setara Rp78 triliun. Sederhananya, kerugian pada kuartal I yang mencapai Rp78 triliun sudah mulai berkurang menjadi hanya Rp70 triliun di kuartal II.
Terakhir, tanda industri penerbangan Cina mulai kembali pulih dapat dilihat dari banyaknya promo yang ditawarkan. Terlebih, promo tersebut juga dibarengi dengan libur panjang di Negeri Panda itu, dimana jutaan orang diprediksi bakal bepergian setelah lockdown berkepanjangan sejak Januari lalu.
Viral, Penumpang Pesawat Keluhkan Stempel Karantina Mandiri Depkes Bikin Kulit Terbakar
Penumpang pesawat ramai-ramai mengeluhkan efek samping dari stempel khusus karantina mandiri. Mereka mengeluh bahwa stempel tersebut membuat alergi pada kulit dan nyaris tak bisa hilang sekalipun sudah berlalu cukup lama serta dibersihkan berkali-kali.
Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat
Diketahui, pemerintah di beberapa negara bagian memang telah mewajibkan kepada masyarakat agar melalukan karantina mandiri di rumah sepulang bepergian dari luar negeri. Agar mudah dideteksi, setiap penumpang pesawat akan ditandai secara fisik dengan cara dicap di bagian lengan bawah ketika tiba di bandara.
Dilansir theprint.in, polemik stempel khusus karantina mandiri yang membuat alergi pada kulit dan nyaris tak bisa hilang ini, bermula dari cuitan sekretaris nasional sekaligus juru bicara Kongres, Madhu Goud Yaskhi.
Dengan menampilkan dua foto lengan bagian bawah mirip bekas luka bakar, ia menyinggung Menteri Penerbangan Sipil India, Hardeep Singh Puri, dan Delhi International Airport Limited (DIAL), konsorsium yang mengoperasikan Bandara Indira Gandhi International (IGI), lewat cuitan “Dear @HardeepSPuri Ji, bisakah Anda melihat bahan kimia yang digunakan di Bandara Delhi untuk menstempel penumpang yang datang dari luar negeri? Kemarin saya dicap di @DelhiAirport dan beginilah tampilan tangan saya sekarang.”
Sejurus kemudian, sang menteri yang dimention Goud Yaskhi langsung membalas cuitan tersebut dan berjanji akan menindaklanjuti problem ini melalui Otoritas Bandara India (AAI). AAI pun buka suara. Menurutnya, mereka tak bisa berbuat banyak mengingat itu sudah masuk ranah yuridiksi DIAL. Selain itu, salah seorang sumber Bandara IGI juga mengungkapkan, bahwa stempel yang membuat penumpang alergi dan sulit hilang itu merupakan buah dari pengadaan oleh Departemen Kesehatan New Delhi, bukan oleh DIAL. “Departemen kesehatan pemerintah Delhi akan menanganinya. Pengadaan tinta juga dilakukan oleh pemerintah Delhi. Tidak ada keluhan seperti itu sebelumnya. Kami telah memberi tahu mereka tentang keluhan yang kami terima,” kata sumber tersebut. Baca juga: Selain di Pakistan, Pilot Berlisensi Palsu Ternyata Lebih Banyak di India Keluhan dari Madhu Goud pun pada akhirnya ikut menyeret penumpang lain bersuara. Rajal Sonal, misalnya, pada 1 Oktober lalu, ia juga sempat mengeluh alergi di bagian lengan sekitar stempel berwarna hitam tersebut. “Rasanya kulit saya terbakar di tempat stempel itu diletakkan,” ujarnya. Senada dengan Rajal, Aadesh Madhok juga mengaku merasa seperti terbakar pada bagian bekas stempel dengan tiga motif aneh itu. Demikian juga dengan Aadesh Gandhi. Hanya saja, ia bukan tak mengalami itu saat distempel di Bandara IGI, melainkan di Bandara Internasional Biju Patnaik, negara bagian Odisha, India. “Saya menghadapi banyak iritasi dan sedikit bengkak di area yang dicap,” paparnya.Dear @HardeepSPuri Ji, can you please look into the chemical being used at Delhi airport for stamping on passengers coming from abroad? Yesterday I was stamped at @DelhiAirport and this is how my hands look now. pic.twitter.com/Gt1tZvGc8L
— Madhu Goud Yaskhi (@MYaskhi) October 4, 2020
Pria Bule Dikeluarkan dari KRL Setelah Berulang Kali Melepas Masker
Setiap pengguna moda transportasi baik itu bus, kereta maupun kendaraan lainnya wajib menggunakan masker. Kewajiban menggunakan masker ini sendiri untuk semua orang dan tidak membedakan meski itu pelancong dari luar negeri ataupun dari masyarakat lokal.
Baca juga: Menolak Pakai Masker, Penumpang Kerera Cepat di Perancis Diusir dari Kereta
Nah, ketika tidak menggunakan masker apakah ada sanksi? Ya, sanksi dilarang untuk naik transportasi umum bagi penumpang yang tidak menggenakan masker. Baru-baru ini, sanksi pelarangan naik ke dalam kereta dikenakan pada seorang pria bule.
KabarPenumpang.com mengutip dari laman indonesiaexpat.biz (4/10/2020), dilarangnya pria ini untuk naik kereta karena dia enggan memakai masker. Vice President PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Anne Purba mengatakan, petugas tidak membedakan penumpang dan memberlakukan kewajiban menggunakan masker di semua stasiun dan kereta api baik penumpang berkewarganegaraan asing ataupun lokal.
Anne menjelaskan, tindakan ini dilakukan petugas karena pria bule tak mau mengenakan masker meski berkali-kali diminta diminta. Dia mengatakan, petugas sempat meminta pria bule itu memakai masker sejak masuk gerbang sebelum menunggu KRL di peron.
“Awalnya pengguna ingin masuk Stasiun Gondangdia sekitar 18:10 WIB tapi tidak memakai masker. Para petugas meminta dia memakai maskernya sebelum diizinkan untuk masuk,“ kata Anne.
Kemudian penumpang bule itu mengambil maskernya dan menggunakan. Sambil menunggu kereta menuju Bogor di peron dua, ia melepas lagi maskernya. Lalu petugas Stasiun Gondangdia meminta pria itu menggunakan masker jika ingin naik kereta.
Anne mengungkapkan, dalam meminta penggunaan masker, sempat ada pertengkaran, tetapi penumpang itu akhirnya mengikuti arahan petugas dan kembali memakai maskernya.
Baca juga: Gegara Batuk Tak Gunakan Masker, Penumpang Lain Tekan Tombol Darurat di Kereta
“Saat di KA 1192 jurusan Bogor, penumpang yang sama melepas masker lagi. Pengawal kereta kemudian memintanya untuk memakai masker, tetapi dia menolak. Sampai di Stasiun Cikini sekitar pukul 19.16, petugas mengeluarkan pengguna dari kereta karena tidak mau mengikuti protokol kesehatan yang ada,“ jelas Anne.
Asosiasi Pilot: PHK Massal Ancam Hilangnya 10 Juta Pekerjaan di Sektor Lain
Berbagai maskapai di Amerika Serikat (AS) ramai-ramai mulai melakukan PHK besar-besaran. Hal itu terjadi lantaran ambang batas larangan maskapai untuk mem-PHK karyawan sudah berakhir di awal bulan ini.
Baca juga: Maskapai Eropa Kurangi Pekerja, Amerika Serikat Bersiap Menyusul
Di samping itu, bailout atau paket stimulus tambahan dari pemerintah untuk menahan maskapai agar melakukan PHK secara massif juga masih tersendat menyusul perbedaan pendapat antara Partai Republik yang menguasai Senat dengan Partai Demokrat yang menguasai DPR.
Pertengahan Maret lalu, melalui Airlines for America (A4A), maskapai penerbangan di AS telah meminta paket bailout dari pemerintah, berkisar antara $45 miliar hingga $65 miliar atau sekitar Rp924 triliun. Meskipun sempat tarik-menarik angka, kongres akhirnya menyetujui paket stimulus sebagai bagian dari bantuan dan undang-undang keamanan ekonomi akibat virus Corona. Syaratnya, operator tidak boleh memberhentikan atau mem-PHK pekerja sampai 1 Oktober 2020.
Setelah tanggal tersebut, praktis, PHK karyawan tak bisa dibendung bila tanpa dibarengi dengan paket stimulus lanjutan dari pemerintah, mengingat kemampuan finansial maskapai memang sudah sangat tertekan dengan anjloknya jumlah penumpang komersial.
Terbukti, belum lama ini, maskapai AS mulai mengumumkan PHK karyawan secara besar-besaran. BBC Internasional melaporkan, maskapai penerbangan American Airlines mengatakan telah memecat 19 ribu pekerja. Sementara United Airlines melakukan PHK terhadap 13 ribu pekerja. Bila tak ada langkah konkret, beberapa maskapai besar AS lainnya diyakini bakal menyusul kedua maskapai.
Celakanya, PHK massal oleh maskapai AS diprediksi bakal berefek domino. Dilansir rt.com, juru bicara Allied Pilots Association (APA) sekaligus pilot American Airlines, Kapten Dennis Tajer, menyebut, PHK puluhan ribu karyawan akan mengancam 10 juta lapangan pekerjaan di sektor lain yang didukung mereka (karyawan di industri penerbangan). Muara dari semua itu, angka pengangguran jauh meningkat dari sekedar hitungan di atas kertas.
Selain itu, ia menyebut, saat ini tekanan finansial yang dihadapi perusahaan penerbangan mustahil untuk mencegah PHK terjadi.
Baca juga: Selamatkan Industri Penerbangan, APEX Serukan Pemerintahan Global Kucurkan ‘Bantuan’ Rp3.805 Triliun!
Menyikapi PHK massal maskapai AS, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS telah meminta maskapai penerbangan besar untuk menunda langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap puluhan ribu karyawan, seiring berakhirnya paket bantuan.
Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, parlemen menjanjikan bantuan sekitar 32 miliar dolar AS atau sekitar Rp470 triliun, melalui undang-undang bipartisan baru yang berdiri sendiri. Regulasi itu dijanjikan pada awal 2021 untuk melindungi pekerja dari PHK hingga Maret mendatang. Selain itu, akan memperpanjang bantuan yang sudah berakhir selama enam bulan lagi dalam paket yang lebih luas.
Dear Guru, Qatar Airways Bagikan 21 Ribu Tiket Gratis Tujuan ke Seluruh Dunia! Simak Cara Dapatkannya
Qatar Airways kembali buat gebrakan. Setelah membagian 100 ribu tiket gratis untuk para tenaga kesehatan pertengahan Mei lalu, kali ini, maskapai pimpinan Akbar Al Baker itu mengaku telah menyediakan 21 ribu tiket gratis untuk para guru di seluruh dunia, sebagai bentuk apresiasi dan keikutsertaan maskapai dalam memperingati Hari Guru Sedunia pada tanggal 5 Oktober 2020 ini.
Baca juga: Kabar Gembira Buat Tenaga Kesehatan di Garis Depan, Qatar Airways Berikan 100.000 Tiket Gratis!
Giveaway tiket gratis Qatar Airways untuk para guru sedunia atas berbagai dedikasinya mendidik kaum muda, terutama di tengah pandemi virus Corona seperti sekarang ini, hanya berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 5 Oktober pukul 04.00 sampai tanggal 8 Oktober mendatang pukul 03.59 (waktu Doha).
Cara untuk mendapatkan tiket gratis tersebut juga cukup mudah. Mula-mula, para guru di seluruh dunia hanya perlu mendaftarkan diri dengan mengklik link ini. Kemudian, mereka akan diminta untuk mengisi data diri untuk mendapatkan kode unik terkait program tiket gratis bagi 16 kategori guru di seluruh dunia.
Setelah semua itu selesai, para guru di lebih dari 75 negara yang menjadi jangkauan operasional Qatar Airways tinggal menunggu pengumuman pemenang program tiket gratis maskapai. Guna memastikan proses tersebut berjalan adil dan transparan, setiap negara bakal dibatasi dengan kuota yang disesuaikan selama periode tiga hari pendaftaran.
Seluruh pemenang nantinya berhak mendapatkan satu tiket gratis pulang-pergi ke seluruh jaringan Qatar Airways di lebih dari 90 tujuan di seluruh dunia. Tak hanya itu, para guru pemenang giveaway ini juga bakal mendapatkan voucher diskon 50 persen untuk satu tiket pulang-pergi yang bisa digunakan untuk diri sendiri, keluarga, atau teman. Kedua tiket tersebut (tiket gratis dan voucher diskon 50 persen) berlaku hingga 30 September 2021.
CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker, mengatakan,”Kami di Qatar Airways sangat berterima kasih atas komitmen dan kerja keras mengajar para profesional di seluruh dunia yang terus mendidik generasi muda kami di masa ketidakpastian ini. Ketahuilah bahwa ini bukanlah tugas yang mudah, namun para guru sangat pandai, beralih ke pembelajaran online dan metode lainnya.
Baca juga: Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses
“Sebagai maskapai penerbangan terbesar yang beroperasi secara konsisten selama pandemi, kami juga telah mendukung siswa dalam beberapa minggu terakhir dengan terbang gratis ke mana pun yang mereka inginkan sebelum memulai studi tentang penerbangan charter serta terjadwal. Sebagai maskapai penerbangan, kami sangat percaya pada pentingnya pendidikan dan berkomitmen untuk memberikan dukungan kami untuk tujuan pendidikan,” lanjutnya, dari keterangan pers yang diterima redaksi KabarPenumpang.com.
Qatar Airways sendiri memang tak terhindar dari kebijakan PHK karyawan akibat anjloknya jumlah penumpang komersial akibat pandemi virus Corona. Di samping itu, pengurangan gaji juga demikian. Namun, hal itu tak menghalangi maskapai untuk terus berprestasi. Belakangan, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengungkap, Qatar Airways menjadi maskapai terbesar antara April-Juni 2020 lalu dari segi frekuensi penerbangan.
AS Kirim Pesawat Mata-mata Berbendera Sipil, Rudal Intai Penerbangan Komersial di Sekitar LCS
Amerika Serikat (AS) belum lama ini dituding mengirim pesawat mata-mata mereka, Boeing RC-135W dan E-8C, menggunakan ‘bendera’ sipil. Pesawat tersebut disinyalir beroperasi antara Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel, Laut Cina Selatan (LCS), untuk mengumpulkan data-data intelijen.
Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing
South China Morning Post melaporkan, perbuatan melawan hukum oleh AS itu diketahui terjadi selama dua hari pada 8 dan 10 September lalu. Saat itu, beberapa pesawat pendeteksi dan pengumpulan sinyal elektromagnetik RC-135 Angkatan Udara AS melintasi LCS dengan kode registrasi milik pesawat sipil Malaysia. Padahal, pesawat ‘sipil Malaysia’ itu terbukti lepas landas dari pangkalan militer AS di Okinawa dan Guam.
Sudah begitu, dari kode enam digit yang dikirim secara otomatis oleh pesawat ketika mulai diinterogasi oleh ATC di sebuah negara, menunjukkan bahwa pesawat tersebut adalah pesawat militer. Dengan demikian, sekalipun Boeing RC-135W dan E-8C memiliki rupa mirip dengan pesawat sipil 707-200, ditambah, pesawat mata-mata tersebut mengikuti jalur pesawat komersial, pada akhirnya niat jahat AS tetap akan terbongkar.
Kedok pesawat mata-mata ‘berbendera’ sipil oleh AS tentu tak bisa diterima. Selain melanggar Konvensi Penerbangan Sipil Internasional, cara itu juga dinilai sangat membahayakan pesawat komersial. Ancaman pesawat komersial atau sipil atas itu pun bukan isapan jempol belaka.
Pada 1 September 1983, pesawat Boeing 747-200 Korean Airlines dengan nomor penerbangan 007 (flight 007), jatuh dirudal oleh jet tempur Uni Soviet akibat dikira pesawat mata-mata. Dugaan tersebut tentu sangat berdasar mengingat tensi geopolitik kala itu, antara Uni Soviet-Amerika Serikat (AS) tengah meruncing dalam balutan perang dingin.
Selain itu, penerbangan Korean Airlines (KAL) 007 rute New York-Seoul via Bandara Anchorage, Alaska ini juga bisa dibilang ketiban sial dari pesawat mata-mata AS. Kala itu, beberapa menit sebelum KAL 007 melintas, AS memang mengirim pesawat mata-mata ke sekitar Pulau Sakhalin. Alhasil, ketika KAL 007 lewat, Soviet menduga itu adalah pesawat militer.
Lagi pula, saat itu, gelapnya malam juga mengurangi kemampuan identifikasi pilot jet temput terhadap KAL 007. Di samping itu, Boeing 747-200 Korean Air 007 juga tak patuh pada Air Defense Identification Zone (ADIZ) yang diadopsi Uni Soviet.
Baca juga: Mengenang Korean Air 007, Korban Perang Dingin Soviet-AS yang Dirudal Gegara Insiden “Mata-mata”
Alhasil, Boeing 747-200 Korean Airlines akhirnya ditembak jatuh oleh Sukhoi Su-15 Soviet sebagai bentuk mempertahankan diri dari ancaman. Tentu, tidakan tersebut tetap tidak dapat ditolelir mengingat pesawat sipil, walau bagaimanapun, tetap tidak boleh ditembak.
Sepanjang tahun ini, AS diduga kuat oleh Cina telah menerapkan trik kotor tersebut setidaknya 100 kali. Bila strategi ini terus berlanjut, penerbangan sipil akan sangat berpotensi dirugikan dan menyebabkan hilangnya nyawa manusia.
Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan
Menurunya jumlah penumpang Moda Raya Terpadu atau MRT Jakarta di masa pandemi membuat Badan Usaha Milik Daerah ini mulai merambah inovasi lain untuk penambahan penghasilan. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, tahun ini menetapkan rasio penjualan tiket 1:4 dibandingkan non penjualan tiket sebagai target pendapatan.
Baca juga: MRT Jakarta, pendapatan non fare box, penumpang, pandemi Covid-19,
Dia menyebutkan, tahun lalu rasionya 1:1 dan berharap dalam waktu dekat pendapatan dari penjualan tiket akan meningkat. William mengatakan, bila ini terjadi, MRT Jakarta juga akan mendapat penghasilan dari pendapatan non tiket.
“Perusahaan akan memanfaatkan sumber pendapatan lain setelah memanfaatkan aplikasi seluler, situs web, dan media sosial untuk ruang iklan dan tujuan komersial lainnya, serta menyediakan pelatihan virtual untuk usaha kecil dan menengah (UKM) dan perusahaan baru,” ujar William dalam forum jurnalis virtual, Rabu (30/9/2020).
Bahkan MRT Jakarta juga tengah berencana menawarkan layanan pengiriman untuk dokumen dan kargo. Ada pula pemasangan mesin penjual otomatis dan loket di setiap stasiun. William menambahkan, salah satu langkah bisnis lain yang akan di jajaki adalah membangun ruang kerja bersama alias coworking space.
Pembangunan coworking space di Stasiun MRT Jakarta merupakan antisipasi kedepan jika perusahaan di ibukota tak lagi membutuhkan kantor besar atau permanen. William mengatakan, pihaknya akan menyulap area kosong di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai lokasi pertama coworking space.
“Ada tiga kelebihan coworking space di stasiun MRT, yakni protokol kesehatan yang baik, dilengkapi dengan fasilitas pendukung untuk mengadakan konferensi video dan lokasi startegis. Jadi konsep coworking space ini adalah ruang kerja dan studio multifungsi dengan fasilitas dan peralatan lengkap yang dapat digunakan untuk podcast atau event online dan ideal bagi kalangan profesional maupun non-profesional,” ujar dia.
Selain itu, MRT Jakarta juga telah mengubah banyak pilar dari stasiun layang menjadi ruang iklan. Sebab dengan ini, akan mendorong lebih banyak iklan di 50 pintu masuk di 13 stasiun. Operator baru-baru ini meluncurkan akselerator MRTJ dengan tujuan bekerja sama dengan startup dalam aktivitas digitalnya.
Baca juga: “MRTJ Accel,” Kolaborasi MRT Jakarta dan Startup untuk Jalankan Bisnis Anti-mainstream
Perusahaan juga berencana untuk memulai program inkubator MRTJ pada bulan Oktober, yang bertujuan untuk mengundang fresh graduate atau individu terdampak Covid-19 yang tertarik mengembangkan ekosistem digital.
Garuda Indonesia Tawarkan Resepsi Penikahan di Pesawat, Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu
Saat maskapai lain di seluruh dunia berpacu dengan sederet inovasi selama masa pandemi virus Corona, salah satunya seperti program flight to nowhere, Garuda Indonesia mengaku masih mencari skema bisnis lainnya yang lebih relevan. Belakangan, maskapai nasional Indonesia ini dikabarkan tengah menyusun paket pernikahan khusus atau resepsi pernikahan di atas pesawat.
Baca juga: Maskapai Indonesia Tatap Penerbangan Tanpa Tujuan, Traveller Siap-siap
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengaku, selama pandemi ini terdapat sejumlah klien yang memanfaatkan sewa pesawat (charter) untuk terbang tiga jam di atas Jakarta untuk keperluan resepsi pernikahan. Menurutnya, penyelenggaraan resepsi di gedung hotel jauh lebih mahal dan kurang efektif karena jumlah kehadiran tamu undangannya hanya bisa separuh dari kapasitas maksimal.
Irfan meyakini selama pandemi akan banyak terjadi pergeseran dan menciptakan tren baru, termasuk resepsi di atas pesawat. Masyarakat juga dapat memilih jenis pesawat yang diinginkan baik berbadan lebar maupun sempit.
Akan tetapi, sebelum Garuda Indonesia mengadakan penerbangan charter untuk menggelar resepsi pernikahan, beberapa maskapai lainnya di dunia rupanya sudah lebih dahulu menempuh jalan tersebut.
Dilansir Yahoo Lifestyle, Southwest Airlines pernah menggelar resepsi pernikahan Michael dan Renee dalam penerbangan berjadwal menuju Baltimore, Amerika Serikat (AS) pada Juni 2018 lalu. Bukan hanya dimeriahkan oleh para kru kabin, pilot pun juga ikut memeriahkan pesta pernikahan tersebut dengan memimpin acara.
Sebelum resepsi pernikahan Michael dan Renee bersama Southwest Airlines dihelat, pasangan Carlos Ciuffardi Elorriga dan Paula Podest Ruiz sudah lebih dahulu menggelar pernikahan di atas pesawat. Hanya saja, pasangan yang berprofesi sebagai pramugari dan pramugara ini tidak mengadakan pesta pernikahan layaknya Michael dan Renee, melainkan hanya menggelar akad pernikahan saja oleh seorang paus.
Selain itu, pesta pernikahan juga pernah dihelat oleh penumpang Delta Airlines di pesawat. Saat itu, kedua mempelai memutuskan menikah di pesawat lantaran mendapat penolakan dari keluarga. Alhasil, pernikahan di udara jadi solusi bagi keduanya dan ketika kembali ke darat, keluarga terkejut bahwa keduanya sudah menjadi sepasang suami-istri.
Pada tahun 2019, resepsi pernikahan di pesawat juga pernah terjadi. Dilansir Travel and Leisure, pria bernama David Valliant dan kekasihnya, Cathy, kala itu, sukses melangsungkan pernikahan di atas pesawat Jetstar dengan nomor penerbangan 201 rute Sydney ke Auckland.
Mereka sengaja memilih rute penerbangan tersebut karena keduanya berasal dari dua negara bertetangga tersebut. Prosesi pernikahan dimulai saat pesawat berada tepat di perbatasan kedua negara, di ketinggian sekitar 37 ribu kaki.
Cerita pernikahan David Valliant Cathy dimulai saat keduanya bermain game komputer “Airport City” di tahun 2011. Mereka lalu baru bertatap muka secara langsung dua tahun kemudian di Bandara Sydney. Setelah itu, rencana menghelat pernikahan di atas pesawat pun tercetus dan diteruskan ke Jetstar.
“Kami ingin pernikahan ini melambangkan cinta kami pada penerbangan dan cinta kami untuk Australia dan Selandia Baru serta cinta kami satu sama lain,” kenang Cathy.
Baca juga: Dijual Restoran Terbesar Bekas Airbus A340 di Turki Seharga Rp20 Miliar, Berminat?
Maskapai Jetstar pun memenuhi keinginan keduanya dan merancang pernikahan yang menjadi impian mereka yaitu menikah di atas udara.
Menurut juru bicara Jetstar, semua pelanggan yang telah melakukan pemesanan di penerbangan ini akan menerima email sebelumnya yang mengatakan akan ada pembuatan film. Wisatawan yang ingin mengubah penerbangan dapat melakukannya tanpa biaya.
U-Shift, Kendaraan Otonom Modular yang Bisa Mengangkut Sesuai Kebutuhan
Pusat penelitian aeronautika dan ruang angkasa nasional Jerman, atau Deutsches Zentrum für Luft und Raumfahrt (DLR) telah meluncurkan prototipe yang berfungsi untuk kendaraan mobilitas dan logistik multi guna perkotaan. Kendaraan ini disebut dengan U-Shift yang mana terdiri dari unit penggerak listrik dan otonom berbentuk U yang dipasang ke modul terpisah tergantung kebutuhan pengguna.
Baca juga: Optimus Ride, Kendaraan Self-Driving untuk Pengiriman Makanan dan Barang
KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (18/9/2020), model ini dirancang untuk digunakan sepanjang waktu, sehingga memungkinkan perusahaan bisa menggunakan untuk berbagai pekerjaan. DLR menggambarkan U-Shift sebagai layanan antar jemput otonom, kendaraan penjualan keliling dan pengangkut kargo untuk layanan distribusi paket meski skenario lainnya akan dikembangkan.
Meski begitu, teknologi otonom belum dikembangkan dan prototipe U-Shift masih dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia. Ini adalah rumah bagi sistem penggerak listrik dan baterai serta komponen pengangkat intik mengambil berbagai pod.
Modul-modul tersebut mencakup kapsul penumpang dengan tujuh tempat duduk, satu kursi lipat ekstra dan pintu besar dengan jalan yang terintegrasi untuk akses kursi roda. Ada pula kapsul kargo dengan kapasitas penyimpanan yang cukup untuk empat palet Euro.
Prototipe U-Shift, yang ukurannya sebanding dengan van, saat ini dikendalikan dari jarak jauh. Namun, di masa depan, ia akan dapat melakukan perjalanan sepenuhnya secara otonom.
“Kami ingin membuat mobilitas masa depan lebih berkelanjutan, efektif dan nyaman. Produk dan model bisnis yang sepenuhnya baru dapat muncul dari inovasi futuristik seperti konsep kendaraan U-Shift,” jelas Nicole Hoffmeister-Kraut, Menteri Urusan Ekonomi Baden-Württemberg.
Dia mengatakan, ini sangat penting bagi mereka untk mendukung usaha kecil dan menengah yang dimiliki di Baden-Württemberg selama proses transformasi industri otomotif dan membantu mereka menemukan peran baru di bidang konsep kendaraan masa depan dan solusi mobilitas. Pendekatan modular membuka banyak peluang di bidang ini.
Para peneliti di DLR menggunakan prototipe untuk menjalankan tes awal dan mendapatkan umpan balik dari operator dan produsen potensial. Mereka juga mencari umpan balik dari warga untuk menentukan kasus penggunaan yang berbeda untuk U-Shift di sektor publik dan swasta.
Langkah besar berikutnya, kata para peneliti, adalah meningkatkan kinerja drivetrain, menguji sistem baterai baru, memasang perangkat keras dan sensor untuk penggerak otomatis dan terkoneksi, dan meningkatkan rakitan sasis dan perangkat.
“Dengan konsep U-Shift modular, kami mengambil langkah signifikan menuju transformasi mobilitas. Prototipe sangat penting, terutama untuk adopsi konsep inovatif oleh industri otomotif, atau penyedia layanan logistik dan mobilitas. Prototipe memungkinkan peneliti dan pengguna masa depan untuk benar-benar merasakan dan membantu meningkatkan dunia seluler masa depan,” kata Karsten Lemmer, Anggota Dewan Eksekutif DLR untuk Energi dan Transportasi.
Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19
DLR bertujuan untuk memiliki prototipe kedua yang sepenuhnya otomatis siap untuk tahun 2024. Ini harus mampu mencapai 60 kilometer per jam dan akan membawa dunia selangkah lebih dekat ke visi perusahaan kedirgantaraan tentang mobilitas sesuai permintaan multi-tujuan .
Inilah Alasan, Mengapa Meja Baki Wajib Dilipat Sebelum Lepas Landas dan Mendarat
Banyak aturan yang harus ditaati ketika penumpang sudah berada di dalam kabin dan pesawat hendak lepas landas. Selain menggunakan sabuk pengaman, penumpang mematikan ponsel, meneggakkan senderan kursi hingga melipat meja baki di depan.
Baca juga: Meja Lipat di Pesawat Jarang Dibersihkan, Awak Kabin: Penumpang Sebaiknya Bawa Tisu Basah
Ini adalah aturan yang selalu diingatkan kembali saat awak kabin memeragakan alat keselamatan. Ternyata meja baki cukup penting untk dilipat bila pesawat akan segera lepas landas ataupun mendarat.
KabarPenumpang.com melansir laman express.co.uk (20/9/2020), terkait meja baki ini, awak kabin kemudian berbagi sesuatu yang mengkhawatirkan tentang meja baki di depan penumpang. Meskipun semua penumpang terbiasa mengikuti aturan ini, mereka mungkin tidak tahu alasan sebenarnya di balik penting aturan tersebut.
Awak kabin menjelaskan alasan meja baki harus di lipat kembali, karena jika ada keadaan darurat penumpang akan sulit untuk bergerak. Mereka mengatakan, hal ini bukan masalah untuk penumpang yang menggunakannya tetapi pada mereka yang ada di belakangnya.
“Alasan yang sama kamu tidak bisa memiliki apa pun di lorong. Jika ada sesuatu yang menghalangi, Anda dapat mengenai kepala Anda dan itulah yang paling sering terjadi,” kata awak kabin.
Bisa dikatakan, keadaan darurat dalam penerbangan paling umum terjadi selama lepas landas dan mendarat. Sehingga ini sebabnya tindakan pencegahan khusus di ambil sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.
Meskipun jarang, kecelakaan pesawat paling mungkin terjadi selama tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan menurut Ben Sherwood seorang penulis The Survivors Club-The Secrets and Science That Could Save Your Life.
Tak hanya itu, penumpang juga disarankan untuk tidak melepas sepatu atau menggunakan headset ketika lepas landas ataupun sesaat sebelum mendarat. Tetapi setelah pesawat mengudara, penumpang boleh melakukan hal tersebut karena biasanya lebih aman.
Kabar baiknya, statistik menunjukkan bahwa terbang tetap menjadi salah satu bentuk perjalanan teraman. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menemukan bahwa pada tahun 2016 rata-rata terjadi satu kecelakaan untuk setiap 2,86 juta penerbangan.
Meskipun benturan kecil, seperti turbulensi, dapat membuat beberapa wisatawan merasa cemas, namun hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Kunci untuk mengetahui keadaan darurat yang sebenarnya adalah mengarahkan pandangan Anda kepada kru.
Baca juga: Jijik! Ini Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Harus Mengindari Makanan Langsung Di Atas Baki
“Jika Anda melihat mereka dengan tenang melakukan tugasnya maka semuanya baik-baik saja. Mereka bukan robot, jadi jika ada sesuatu yang salah, Anda akan melihat mereka ketakutan. Jangan ragu untuk panik jika dan hanya jika itu terjadi,” jelas seorang awak kabin.
