Otoritas penerbangan Sipil Singapura menerapkan aturan baru, bahwa semua pesawat yang masuk dan keluar dari Singapura wajib memiliki area karantina untuk mengisolasi penumpang atau awak kabin yang kurang sehat selama perjalanan. Area ini sendiri bisa dibuat dengan mengosongkan beberapa kursi penumpang dan tak lupa menyiapkan toilet khusus penumpang di area isolasi tersebut.
Baca juga: Tiba di Canberra dari Melbourne, Penumpang Seperti Kena Prank Karena Harus KarantinaKabarPenumpang.com melansir straitstimes.com (9/9/2020), Otoritas Penerbangan Sipil Singapura atau CAAS mengatakan, bagi penumpang atau awak kabin yang tidak sehat karena demam atau gejala Covid-19 selama penerbangan harus dipindahkan ke area karantina dan diisolasi dari penumpang lainnya. Singapore Airlines atau SIA saat ini memberikan tiga baris kursi di bagian kiri belakang untuk ruang isolasi.
Bahkan SIA sudah melengkapi awak kabin mereka dengan alat pelindung diri yang lengkap ketika melayani orang sakit di pesawat. Ternyata hal ini juga dilakukan oleh Jetstar Asia di mana mereka telah mengatur zona di tiga baris kursi terakhir bagian sisi kiri atau kanan pesawat.
Persyaratan zona isolasi tersebut dipublikasikan bulan ini saat Jetstar Asia mengatakan telah menetapkan zona isolasi di pesawatnya. Direktur senior kelompok regulasi keselamatan di CAAS Alan Foo mengatakan, pihak berwenang telah mengamanatkan area karantina di atas pesawat pada Mei lalu.
“Untuk meminimalkan risiko paparan Covid-19 selama perjalanan mereka, langkah-langkah perjalanan yang aman telah diberlakukan untuk semua penerbangan yang beroperasi masuk dan keluar dari Singapura. Langkah-langkah ini telah dikembangkan oleh CAAS melalui konsultasi erat dengan Kementerian Kesehatan Singapura,” kata Foo.
Langkah-langkah tersebut termasuk mewajibkan seluruh penumpang menggunakan masker selama penerbangan dan meminta mereka yang terbang ke Singapura menjalani pemeriksaan kesehatan dasar sebelum naik pesawat. Selain itu, pelayanan makanan juga dimodifikasi guna mengurangi kontak antara penumpang dan awak kabin.
Foo menambahkan, CAAS saat ini masih meninjau berbagai langkah tersebut untuk menjadikan area karantina sebagai tindakan permanen mengingat sifat pandemi ini terus berkembang. Pakar penyakit menular Leong Hoe Nam mengatakan keputusan CAAS mewajibkan keberadaan area karantina merupakan tindakan yang masuk akal secara efektif.
“Meskipun filter udara partikulat berefsiensi tinggi (HEPA) di pesawat bekerja menyegarkan udara di dalam kabin, masih ada risiko penularan ke penumpang yang duduk dalam tiga baris di depan atau di belakang penumpang yang terinfeksi. Jika Anda tetap berada di luar zona, Anda menghilangkan risikonya,” kata Leong.
Zona karantina wajib melampaui pedoman internasional dalam mengisolasi orang yang tidak sehat saat dalam penerbangan. Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), jika seorang penumpang atau anggota awak menjadi tidak sehat di dalam pesawat, sebuah maskapai penerbangan harus mencoba merelokasi penumpang yang berdekatan sehingga ada jarak dua meter antara mereka dan orang yang tidak sehat.
Jika tidak ada kursi yang tersedia, IATA menganjurkan agar maskapai penerbangan memberikan alat pelindung diri kepada penumpang yang berdekatan. Ini juga merekomendasikan beberapa tindakan pencegahan lainnya, seperti menyimpan barang-barang kotor dari orang yang tidak sehat di dalam kantong biohazard.
Analis penerbangan independen Brendan Sobie dari Sobie Aviation mengatakan bahwa negara-negara perlu bekerja sama untuk membuat standar persyaratan keselamatan guna membantu pemulihan sektor penerbangan. Sobie mengatakan hal ini karena, kurangnya peraturan yang seragam di Asean menghambat upaya untuk memulai kembali perjalanan di kawasan itu.
Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya
“Masalahnya adalah bahwa setiap negara memiliki persyaratan yang berbeda. Sangat mengecewakan bahwa setelah berbulan-bulan, kami masih belum memiliki konvergensi untuk persyaratan ini dan banyak lainnya. Ini penting karena industri sedang mencoba untuk memulai kembali perjalanan internasional, tetapi ketika Anda memiliki peraturan yang berbeda di setiap negara, itu membuat sangat sulit bagi maskapai penerbangan,” tambah Sobie.
Beragam taksi sepertinya mewarnai kota-kota di Indonesia, baik taksi konvensional, taksi online hingga taksi yang berada di daerah. Meski sama-sama menjadi alat angkut, tetapi yang diangkut ternyata tak semuanya penumpang. Seperti taksi Gabah yang ternyata mengangkut hasil panenan gabah dari tengah sawah dengan motor.
Baca juga: ”Taksi Gabah” Bukan Mobil Tapi Motor Diubah Untuk Angkut Gabah
Namun, baru-baru ini ada lagi yang unik dari Indonesia yakni ‘Taxi Babinsa’. Penasaran ini taksi apa? Ternyata taxi babinsa ini hadir demi memperkuat ketahanan pangan di daerah pedalaman Babinsa Koramil 0909-07/Teluk Pandan dengan menggunakan mobil bak terbuka. Kehadiran taxi babinsa ini karena desa Teluk Pandan Kutai Timur merupakan lahan pertanian produktif dan warga masyarakatnya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Serka Agus Nggilu mengatakan alat transportasi ini merupakan salah satu stimulan bagi warga untuk membangkitkan sektor pertanian. Agus mengatakan hal ini juga agar para petani lebih produktif yang mana sejalan dengan program pemerintah dalam ketahanan pangan di bidang pertanian di masa pandemi Covid-19.
“Alat transportasi ini digunakan untuk mengangkut sarana dan prasarana pertanian maupun hasil panen petani. Paling tidak ini memudahkan warga untuk mengangkut hasil pertanian mereka dan alhamdulillah ini sangat membantu,” kata Agus.
Tak hanya memberikan angkutan untuk para petani, taxi babinsa sendiri gratis alias tidak dikenakan biaya sama sekali. Dengan ini warga secara bergantian bisa menggunakannya.
“Gratis, karena kami bekerja untuk masyarakat dan kami memang tidak mengharapkan imbalan,” kata Agus.
Selain itu, Agus juga menambahkan, bahwa dia terus berupaya memberikan motivasi dan dorongan, agar warga binaannya dapat terus meningkatkan hasil pertanian dan ladang mereka, untuk mendukung program ketahanan pangan yang tengah gencar digalakkan oleh pemerintah. Danramil 0909-07/Teluk Pandan Kapten Arh Muji, mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Babinsanya itu.
Dia menilai anggotanya telah melaksanakan tugasnya sebagai Babinsa dengan baik, dan bertanggungjawab serta selalu dekat dengan warganya. Sehingga, kemanunggalan antara TNI dengan rakyat dapat terwujud.
Baca juga: Lampu Taksi di Seoul Bakal Dibuat Lebih Besar dan Tampilkan Informasi Kesehatan Lingkungan
“Semoga apa yang dilakukan oleh personil tersebut dapat menjadi suatu pendongkrak semangat warga binaan, untuk terus produktif,” tutup Danramil.
Daftar tunggu penumpang Indian Railways nyatanya cukup banyak untuk satu kali perjalanan. Mereka biasanya menunggu kursi kosong penumpang lain yang membatalkan tiket kereta mereka. Adanya masalah ini kemudian membuat Indian Railways memiliki rencana untuk mengurangi penumpang yang masuk daftar tunggu.
Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan
Dilansir KabarPenumpang.com dari livemint.com (8/9/2020), di mana rencananya adalah menjalankan kereta kloning khusus di rute yang memiliki lalu lintas penumpang tinggi. Indian Railways berencana memulai kereta kloning secara bertahap dalam 15 hari ke depan dan akan mengeluarkan pemberitahuan tentang hal yang sama. Dewan kereta api VK Yadav mengatakan, kereta api akan memantau semua perjalanan yang saat ini beroperasi untuk menentukan kereta mana yang memiliki daftar tunggu panjang.
“Di mana pun ada permintaan kereta tertentu, di mana daftar tunggu panjang, kami akan menjalankan kereta tiruan di depan kereta yang sebenarnya, agar penumpang bisa bepergian,” katanya.
VK Yadav mengatakan penghentian kereta klon akan lebih sedikit daripada kereta khusus. Karena idenya adalah menghentikan kereta ini di stasiun-stasiun besar untuk kereta kloning agar memenuhi permintaan penumpang.
Kereta kloning ini akan berjalan dengan nomor yang sama dengan kereta yang sebenarnya seperti 12423/12424 New Delhi-Dibrugarh Rajdhani Express memiliki semua kursi yang telah dipesan dan masih memiliki banyak permintaan penumpang dalam daftar tunggu. Jadi dalam hal ini, Indian Railways akan memasang penggerak lagi dari Rajdhani Express dengan nomor yang sama hanya untuk mengangkut pemegang tiket dalam daftar tunggu.
Selain itu, penumpang dalam daftar tunggu akan diberi tahu tentang tempat duduk mereka di kereta kloning segera setelah grafik reservasi untuk kereta terjadwal asli dibuat empat jam sebelum keberangkatan. Namun, ini akan menjadi tantangan logistik bagi Indian Railways karena akan membutuhkan penggerak tambahan untuk menjalankan kereta kloning.
Indian Railways akan mencoba menjalankan jenis kereta ini dari kota-kota besar pada awalnya di mana ada penggerak tambahan. Indian Railways juga perlu meningkatkan Sistem Reservasi Penumpang (PRS). Saat ini Indian Railways menonaktifkan pemesanan tiket kereta setelah daftar tunggu kereta menyentuh 400 di kelas sleeper, 300 di 3AC atau kereta kursi, 30 di kelas satu dan 100 di kelas dua.
Indian Railways sudah menjalankan ‘Skema Vikalp’ di mana penumpang diberikan pilihan untuk memesan tiket di kereta alternatif jika tiket dalam daftar tunggu mereka tidak dikonfirmasi di kereta yang mereka pilih. Namun kelemahan utama dari ‘Skema Vikalp’ adalah bahwa waktu perjalanan penumpang dapat meningkat jika dia diberikan reservasi di kereta lain.
Seorang pejabat senior pemerintah memberi tahu Mint bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan kereta duplikat ini karena Indian Railways sekarang akan memiliki kejelasan lebih lanjut tentang permintaan yang tepat, yang menjadi dasar untuk menawarkan rute produktif untuk kereta ini.
Baca juga: 20 Penumpang Delhi-Bhubaneswar Rajdhani Express Keracunan Makanan
“Lebih baik menjalankan kereta api pada rute-rute yang permintaannya lebih banyak, daripada membiarkan aset-aset menganggur. Kami mencoba menerapkan ini lebih awal, tetapi jalur yang tersedia tidak cukup. Kereta klon terutama kereta 3AC dan berjalan di depan kereta khusus yang sudah beroperasi. Pengoperasian kereta klon akan dipublikasikan secara luas untuk kepentingan calon penumpang. Rute sedang diselesaikan,”kata juru bicara kementerian kereta api DJ Narain.
Ketika jaringan listrik rusak selama bencana angin topan dan hujan badai, banyak orang yang akan terkena dampaknya baik di rumah maupun di pusat evakuasi. Hal ini kemudian membuat Toyota dan Honda bekerja sama untuk menciptakan sistem pembangkit tenaga bergerak yang ditujukan pada situasi bencana.
Baca juga: Seorang Desainer Industri Rancang Halte Bus yang Dilengkapi Pengisian Daya EV Nirkabel!KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (7/9/2020), sistem ini terdiri dari bus sel bahan bakar besar yang mampu membawa banyak hidrogen, perangkat output daya portabel dan baterai. Kendaraan ini dijuluki ‘Moving e’ dan diperkirakan dapat mengalirkan listrik kapan saja dan di mana saja.
Sistem Moving e sendiri terdiri dari bus sel bahan bakar dari Toyota yang mampu membawa dua kali jumlah hidrogen sebagai basisnya bus FC, dua unit portabel Power Exporter 9000 dari Honda, 20 LiB-AID E500 dan 36 Baterai portabel Honda Mobile Power Pack, dan pengisi daya atau pelepas untuk Paket Daya Seluler.
Kedua produsen mobil ini percaya bahwa Moving e dapat melakukan lebih dari sekadar memberikan bantuan pada saat terjadi bencana. Bus juga bisa digunakan secara rutin untuk menyuplai listrik ke berbagai acara dan tentunya, semua teknologi ini masih perlu diuji. Sedangkan untuk busnya sendiri dikembangkan berdasarkan Toyota FC Bus versi sebelumnya.
Selain itu, ia hadir dengan tangki hidrogen bertekanan tinggi dua kali lebih banyak yang mampu menghasilkan sebanyak 454 kWh dengan output maksimum 18 kW. Bus tersebut juga didesain tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi yang mampu memberikan tenaga, tetapi sebagai tempat istirahat masyarakat pada saat terjadi bencana.
Toyota dan Honda akan melanjutkan untuk memverifikasi keefektifan sistem pembangkit atau keluaran listrik bergerak melalui berbagai penggunaan oleh kota dan bisnis yang bersedia bekerja sama dalam pengujian. Selama periode pengujian, bus Stasiun Pengisian Daya yang terisi penuh akan dibawa ke lokasi dunia nyata dalam jarak 100 km (62 mil) dari stasiun pengisian bahan bakar hidrogen.
Dua perusahaan ini kemudian akan menempatkan sumber daya seluler melalui langkahnya dalam berbagai skenario kasus penggunaan, untuk memastikan semuanya berfungsi seperti yang diharapkan. Jika bus tersebut kemudian dioperasikan, dan tidak ada perusahaan yang mengungkapkan rencana produksi apa pun, diharapkan ini bisa digunakan untuk menyalakan peralatan di zona bencana.
Baca juga: Desainer Ferrari Rancang Halte Bus Canggih dengan Konsep Alami
Selain itu juga menyediakan listrik untuk hal-hal seperti pusat evakuasi dan bahkan dapat berfungsi sebagai tempat penampungan sementara bagi mereka yang membutuhkan. Di antara misi membantu situasi bencana, bus juga dapat digunakan untuk menjalankan acara di luar ruangan seperti konser, pesta dan lainnya.
Jepang sepertinya tak kehilangan akal untuk membuat orang-orang bisa menikmati liburan virtual di masa pandemi. Salah satunya Jepang sampai membuat liburan online dikarenakan beberapa tempat wisata dan agen perjalanan tidak melayani para pelancong secara nyata.
Baca juga:First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama
Bisa dikatakan ini sesuai dengan reputasi negara sebagai tempat berteknologi tinggi dengan kecenderungan untuk bersenang-senang. Yang mana salah satu perusahaan bus di Jepang yakni Kotobus Tour menawarkan perjalanan bus online lengkap dengan sabuk pengaman palsu.
Hal ini dilakukan Kotobus Tour karena tidak ingin membiarkan pelancong Jepang terhalang krisis liburan di masa pandemi. KabarPenumpang.com melansir dari laman thestar.com.my (10/8/2020), juru bicara Kotobus Tour mengatakan, bahwa penumpang di era pandemi disambut melalui Zoom oleh seorang pramugari dan pengemudi bus muda yang ramah.
Penumpang yang berada di rumah kemudian menunggu waktu keberangkatan mereka meski tidak dengan bus yang sebenarnya dan pergi ke tujuan. Walau begitu penumpang akan menikmati pemandangan indah dari rumah dengan bantuan rekaman video dari rute perjalanan yang sesungguhnya.
Bahkan di tempat tujuan, ada perwakilan pariwisata langsung yang dengan senang hati menyambut tamu dari jauh dan menjelaskan ada atraksi lokal apa saja di tempat tersebut. Tak hanya itu, karena kuliner khas adalah salah satu incaran para pelancong di setiap perjalanan ke Jepang, maka penumpang dengan perjalanan virtual ini akan menerima paket perjalanan melalui pos sebelum memulai perjalanan virtual mereka.
Salah satu yang didapat dalam paket tersebut adalah makanan khas setempat yang bisa dimakan selama perjalanan bus virtual. Selain itu, karena keselamatan penumpang masih menjadi hal yang terpenting, dalam perjalanan virtual ini, paket yang dikirim operator bus juga berisi sabuk pengaman yang terbuat dari selembar karton.
Sabuk pengaman ini di pakai oleh penumpang saat ada instruksi menggunakannya. Dalam perjalanan virtual tersebut, penumpang pun dibatasi oleh operator bus yakni maksimal hanya 15 orang. Penasaran tarif perjalanan virtual seperti ini? Harganya cukup mengocek kantong yakni 4.980 yen atau sekitar Rp696 ribu.
Perusahaan bus saat ini menawarkan tiga perjalanan online yang berbeda, menurut juru bicara itu. Untuk diketahui, operator tur mendapatkan ide tersebut setelah tidak ada lagi perjalanan bus yang dapat dioperasikan karena pandemi.
Baca juga: Gangchon Rail Park – Sensasi Berkeliling dengan Sepeda Rel dan Virtual Reality
Karena perjalanan bus online telah diterima dengan baik, perusahaan sekarang mempertimbangkan untuk terus menawarkannya bahkan setelah pandemi berakhir. Tapi bagi Anda yang tidak mau mengocek kantong terlalu dalam dan ingin menikmati perjalanan instan dari rumah, ada banyak rekaman perjalanan kota dan pedesaan yang tersedia secara online.
Jepang saja ada, bagaimana ya kalau ini di adakan di Indonesia?
Bandara Internasional Seattle-Tacoma, Washington, Amerika Serikat (AS) terus berbenah dalam mencegah penyebaran virus corona di bandara. Terbaru, bandara yang melayani 51,8 juta penumpang di tahun 2019 ini mengerahkan enam robot pembersih lantai berteknologi artificial intelligence (AI).
Baca juga: Bandara Internasional Gerald R. Ford Kerahkan Robot Berteknologi UV Guna Singkirkan Corona
Dalam prosesnya, robot-robot pembersih lantai berteknologi AI di Bandara Seattle-Tacoma ini dibekali dengan peta digital dan juga kamera. Tak hanya itu, sistem kemudian akan mengatur robot agar membersihkan lantai bandara dengan lebih efisien dan efektif dibanding manusia tanpa mengganggu pelanggan.
Selain robot pembersih berteknologi AI, sebagai bagian dari program FlyHealthy@SEA untuk memastikan kesehatan penumpang, bandara tersebut juga mengerahkan berbagai peralatan berteknologi canggih lainnya, seperti restroom stall lights (sejenis lampu di bagian atas masing-masing toilet untuk menandakan apakah siap digunakan atau tidak), penyemprot disinfektan elektrostatis, sistem pembersihan handrail eskalator, hingga robot otonom berteknologi ultraviolet germicidal irradiation (UVC).
“Fasilitas kebersihan diperlukan untuk menjamin kesehatan. Pembersihan yang ditingkatkan berarti kami melipatgandakan kenyamanan penumpang, membawa disinfektan kelas medis dan berinvestasi dalam teknologi pembersihan baru,” kata Managing Director Bandara Seattle-Tacoma, Tac Lance Lyttle, seperti dikutip dari geekwire.com.
Program FlyHealthy di Bandara Internasional Seattle-Tacoma itu juga mencakup prosedur ketat protokol kesehatan sejak pertama kali masuk ke area bandara, termasuk di pos pemeriksaan keamanan, serta mendisfeksi berbagai tempat yang berpotensi menjadi sumber penularan virus corona, tempat sampah, mangkuk, konveyor, pagar, bangku, meja, dan permukaan lainnya yang kerap disentuh banyak orang.
Bandara yang terletak di antara kota Seattle dan Tacoma ini juga telah menyediakan sekitar 2.343 instalasi pencucian tangan, 1.444 kontainer tisu anti bakteri, dan 270 paper towel dispensers tanpa sentuh di toilet bandara.
Baca juga: Bantu Petugas dan Penumpang, Bandara Changi Operasikan 47 Unit Robot
Meskipun terlihat sudah sempurna dalam menjamin kesehatan penumpang dari ancaman virus corona, bandara yang dikelola oleh Port of Seattle itu masih belum puas. Dalam waktu dekat, bandara akan mengujicoba sistem baru berteknologi tinggi yang mampu membunuh patogen berukuran kecil, termasuk Covid-19, di udara. Sistem yang disebut HVAC ini diklaim mampu menghilangkan hingga 90 persen patogen berukuran kecil.
Cara kerjanya cukup mudah dan ada kemiripan dengan cara kerja filter HEPA. Mula-mula, patogen dihisap dan disaring oleh sebuah perangkat penyaringan dari perusahaan bio teknologi CASPR. Patogen-patogen tersebut kemudian dibenturkan dengan ion positif dalam jumlah banyak dan otomatis akan membunuh patogen berbahaya dalam beberapa saat.
Di antara faktor-faktor penunjang keselamatan penerbangan, bandara merupakan salah satunya. Dengan menduduki peran vital dalam mengatur lalu lintas udara, mulai dari lepas landas, selama di udara, sampai mendarat, pada prosesnya bandara didukung oleh berbagai peralatan canggih. Namun, tak semua faktor penunjung keamanan dan keselamatan penerbangan di bandara datang dari peralatan modern; salah satunya seperti windsock.
Baca juga: Mengenal RESA, ‘Juru Selamat’ Pesawat di Bandara
Menurut Kementerian Perhubungan (Kemenhub), windsock adalah alat kelengkapan yang wajib ada di setiap bandara. Biasanya, windsock terletak di dekat ujung landasan pacu berupa kain silinder berkibar di tiang pancang. Tinggi windsock sendiri umumnya 3-6 meter dan harus bisa terlihat oleh pilot di ketinggian 60 meter lebih.
Alat ini memiliki lubang terbuka pada kedua ujungnya. Lubang berdiameter lebih besar terdapat pada ujung dekat tiang penyangganya, sementara lubang yang lebih kecil pada ujung lainnya. Windsock biasanya berwarna selang-seling oranye dan putih dengan bahan yang dapat memantulkan cahaya agar tetap berfungsi maksimal di malam hari.
Dilihat dari bahan dan bentuknya, windsock tentu sangat sederhana. Tetapi, dilihat dari fungsinya, kehadiran windsock cukup genting; terlebih bagi bandara yang tak memiliki wind display.
Windsock sendiri merupakan alat yang berfungsi untuk mengamati dan memperkirakan arah angin secara visual. Arah angin yang ditunjukkan windsock akan berkebalikan dengan arah datangnya angin. Sebagai contoh, windsock berkibar mengarah ke barat maka angin menunjukkan datang dari arah timur.
Spek dan informasi windsock. Foto: flightflight.com
Terkadang windsock tidak dilengkapi pengukur kecepatan angin (anemometer). Peletakannya memang harus di ketinggian dengan konstruksi menyesuaikan geografi sekitar bandara (sebagaimana gambar di atas) dan berada di ujung landasan pacu, agar teramati oleh petugas pengatur lalu lintas udara. Dengan begitu, petugas bisa memberi arahan kepada awak pesawat tentang pilihan landasan yang aman untuk tinggal landas maupun mendarat. Bagi pilot, hasil pengamatan windsock dipergunakan untuk memperkirakan teknis pendaratan.
Untuk pilot pesawat modern, menghitung hembusan angin sebelum mendarat cukup dengan memasukkan angka-angka ke komputer (onboard performance tool). Cukup mudah dan tanpa perlu melihat windsock. Namun, pada pesawat tua, pilot harus menghitung hembusan angin secara manual berdasarkan informasi dari petugas ATC, termasuk berdasarkan pengamatan sederhana ke windsock.
Pengamatan windsock oleh pilot sebetulnya cukup mudah. Sebab, pola yang membentuk windsock seiring ada tidaknya hembusan angin bisa diterjemahkan dalam bentuk angka-angka seperti gambar di bawah ini.
Bentuk windsock saat diterpa angin menunjukkan besaran angin yang berhembus. Foto: windsockonline.co.zaBaca juga: Ada Peran “Tabletop Airport” dalam Kecelakaan Pesawat Air India Express 1344, Apa Itu?
Di internasional, windsock diatur dengan detail. FAA (Federal Aviation Administration) menetapkan dua ukuran tinggi windsock, yakni yang memiliki tinggi maksimal 3 meter dan yang memiliki tinggi maksimum 4,8 meter. Sementara itu ICAO (International Civil Aviation Organisation) mensyaratkan tinggi windsock enam meter.
Adapun untuk ukuran windsock, FAA menetapkan dua. Ukuran pertama adalah panjang 2,5 meter dengan lubang terbesar sebagai jalan masuk angin adalah 0,45 meter. Ukuran kedua adalah panjang 3,6 meter, dan diameter lubang terbesar adalah 0,9 meter. Sementara itu ICAO mensyaratkan ukuran panjang 3,6 meter dan lebar lubang terbesar adalah 0,9 meter. Windsock juga harus didesain bisa berkibar seluruhnya jika kecepatan angin mencapai 15 knot atau 28 km per jam, warnanya harus cerah, dan bisa dilengkapi dengan sumber cahaya di bagian dalam atau di bagian luarnya.
Sebuah pesawat belum lama ini dilaporkan kalang kabut saat hendak melakukan pendaratan akibat lampu runway atau landasan pacu sebuah bandara di Amerika Serikat (AS) mati. Beruntung, sebelum pesawat kehabisan bahan bakar, sekitar 20 mobil dikerahkan dan berjajar rapi di pinggir runway untuk membantu proses pendaratan. Meskipun sempat diragukan, nyatanya cara tersebut berhasil.
Baca juga: Ada 15 Makna Lampu Warna-warni di Runway Bandara, Sudah Tahu?
Dilansir CNN International, cerita pendaratan pesawat dengan alat bantu cahaya lampu mobil bermula dari adanya laporan seorang anak yang membutuhkan bantuan medis. Mengetahui itu, tim medis dari Alaska Lifemed Medical pun bergerak dan menjemput anak tersebut melalui sebuah bandara di AS, tepatnya di desa terpencil Igiugig, Alaska, AS.
Saat itu, waktu sudah memasuki hampir tengah malam, yakni pukul 23.30 waktu setempat. Tatkala memasuki desa terpencil berpenduduk hanya sekitar 70 jiwa ini, pesawat mendapati runway gelap gulita, termasuk desa tersebut. Alhasil, dari keterangan CEO LifeMed Alaska, Russ Edwards, pesawat pun bingung sambil berputar-putar selama beberapa saat di atas desa tersebut.
Tak tinggal diam, warga coba membantu dengan menyalahkan lampu runway secara manual. Namun, tak berhasil. Dari kesaksian Ida Nelson, juru tulis suku dan editor buletin untuk Dewan Desa Igiugig, usai berkomunikasi dengan pilot, warga kemudian mengumpulkan sekitar 20 kendaraan dan menjajarkannya di pinggir landasan pacu. Sorotan dari lampu mobil ke landasan pacu diharapkan dapat menggantikan peran lampu runway yang mati.
Usai runway kembali terang berkat lampu mobil, pesawat yang tak diketahui jenisnya itu kemudian melakukan observasi dengan beberapa kali terbang rendah. Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan selamat tanpa adanya insiden apapun. Begitu juga saat proses pesawat lepas landas untuk mengantar anak dari desa terpencil tersebut ke Bandara Internasional Ted Stevens Anchorage yang berjarak 450 km.
Juru bicara wilayah Pantai Selatan Alaska Department of Transportation (DOT), Sam Dapcevich mengatakan lampu landasan pacu telah padam sejak Februari. Mereka telah ke bandara tiga kali tahun ini untuk melakukan sejumlah perbaikan.
“Lampu-lampu rusak selama musim dingin akibat peralatan pembersih salju kami yang dioperasikan oleh kontraktor di masyarakat,” kata Dapcevich. “Sebelumnya, kami telah pergi ke sana pada awal Mei dan memperbaiki kerusakan pada lampu yang telah rusak.”
Baca juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan
Alaska DOT kemudian menemukan masalah kabel dan harus menunggu sampai tanah mencair untuk dikerjakan. Minggu lalu, mereka telah membetulkan kabel tersebut dan menemukan bahwa banyak kabel lampu yang telah dilindas.
Kru Alaska DOT kembali ke Igiugig pada Selasa untuk memperbaiki lampu, yang sekarang sudah bisa dinyalakan, kata Dapcevich.
Bandara-bandara yang ada di seluruh negara di dunia, tak semuanya berstatus internasional. Jumlah bandara internasional tentu jauh lebih sedikit dibanding bandara nasional. Antara bandara internasional dan bandara nasional tentu terdapat banyak perbedaan. Namun, besar kemungkinan keduanya minimal mempunyai air traffic control (ATC) untuk mengatur traffic di bandara.
Baca juga: “Zero Mistake dan Tahan Tekanan,” Jadi Keharusan Bagi Petugas Menara ATC
Di luar keduanya, ATC rupanya tidak menjadi sebuah kewajiban. Karenanya, jumlah mereka jauh lebih banyak. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, jumlah bandara tanpa menara kontrol atau tanpa ATC jumlahnya ada sekitar 20 ribu, berpuluh-puluh kali lipat dibanding bandara dengan menara kontrol atau ATC yang hanya sekitar 500 bandara.
Dikutip dari aopa.org, bandara tanpa menara kontrol atau tanpa ATC sebetulnya memiliki prosedur operasi yang sama dengan bandara dengan menara kontrol atau ATC, baik lepas landas maupun pendaratan. Bedanya, bila ATC atau menara kontrol hadir langsung di bandara, maka, bandara tanpa ATC mengharuskan pilot untuk berkomunikasi dengan remote air traffic control unit atau unit kendali lalu lintas udara jarak jauh.
Sebagaimana namanya, unit tersebut tidak hadir langsung di sekitar bandara, melainkan berada jauh di pusat kontrol. Pusat kontrol ini bergantung pada masing-masing negara. Kalau di Indonesia, pusat kontrol jarak jauh yang dimaksud yakni Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau biasa dikenal AirNav.
Layaknya ATC, unit tersebut akan memberikan clearance ke semua pesawat sebelum mulai lepas landas ataupun mendarat. Pola dan model komunikasinya pun juga sama, bisa melalui radio, telepon, atau melalui operator perusahaan serta melalui Flight Service Station setempat. Namun, turunan dari itu, di beberapa negara cenderung berbeda-beda. Ada yang menggunakan visual flight rules (VFR) dan ada pula yang mengadopsi instrument flight rules (IFR) sebagai syarat pilot mengoperasikan pesawat di bandara tanpa ATC.
Bandara tanpa ATC juga didukung oleh stasiun Universal Integrated Communication (UNICOM). Bersama pusat kontrol, UNICOM memegang peran vital dalam operasional bandara tanpa ATC. Stasiun komunikasi udara-darat tersebut akan memberikan seluruh informasi yang dibutuhkan pilot, seperti cuaca, kondisi runway, traffic, dan berbagai informasi lainnya. Hanya saja, UNICOM tak diperkenankan memberi clearance ke pesawat. Wewenang itu hanya ada di remote air traffic control unit atau pusat kendali jarak jauh.
Ketika traffic di bandara sudah jauh meningkat, pola komunikasi seperti itu sudah tidak bisa lagi dilakukan. Selain tidak efisien dan efektif, juga membahayakan. Dalam kondisi tersebut, mau tak mau, fungsi pusat kontrol dan UNICOM harus disatukan dengan membangun menara kontrol atau ATC. Bila tidak, bahaya yang sudah mengintai bisa berubah jadi kecelakaan kapanpun.
Baca juga: “Air Navigation Charges,” Biaya Jasa Navigasi ATC Saat Pesawat Melintas di Suatu Negara
Sebagai contoh, pada tahun tahun 1996, United Express Flight 5925 bertabrakan dengan pesawat King Air akibat buruknya komunikasi dalam satu frekuensi yang sama, yakni Common Traffic Advisory Frequency di Bandara Quincy tanpa ATC di Illinois, AS. Sebetulnya, andai ATC tersedia di bandara ini, visibililtas petugas yang cukup baik di atas menara, di samping pergerakan pesawat di radar, rasanya mampu mencegah tabrakan terjadi. Entah dengan menunda proses pendaratan pesawat United Express Flight 5925 ataupun sebaliknya, menunda take off King Air.
Di dunia, bandara tanpa ATC atau menara pemandu lalu lintas udara ada di seluruh negara. Di Swedia, Bandara Pegunungan Skandinavia (Scandinavian Mountains Airport) yang baru adalah salah satunya. Di Indonesia, mayoritas bandara perintis seperti Bandara Kiwirok dan Bandara Oksibil tak mempunyai ATC. Khusus untuk timur Indonesia, umumnya, terdapat banyak bandara tanpa ATC di sana.
https://www.youtube.com/watch?v=JIMGTSaSpEc
Pernah dengar taksi gabah? Apakah ini mobil taksi biasa dan mengangkut gabah makanya di beri julukan taksi gabah? Ternyata bukan dan ini jangan dibayangkan seperti taksi pada umumnya. Yang dimaksudkan dengan taksi gabah adalah sepeda motor yang sudah dimodifikasi yang dikenal sebagai taksi gabah atau pengangkut hasil panen.
Baca juga: Penggunaan Partisi dalam Taksi Rusia Masih Kontroversi
Baru dengar? Ya, KabarPenumpang.com pun baru mengetahuinya, dan dirangkum dari berbagai laman sumber, taksi gabah ini sendiri sepertinya sudah ada cukup lama di Pulau Sulawesi. Sebab pada 2017 petani di Sulawesi Barat ternyata sudah ditemukan motor yang dimodifikasi dan menjadi sarana angkutan di areal persawahan.
Motor ini dimodifikasi untuk mengatasi masalah transportasi terutama ketika musim panen tiba. Apalagi ketika saat musim hujan tiba, untuk membawa gabah ini cukup kesulitan. Sehingga motor dimodifikasi di mana jok dan ban motor di desain khusus untuk menghadapi kondisi medan yang becak dan berlumpur.
Motor tersebut menjadi pengganti kuda yang merupakan alat transportasi selama puluhan tahun terakhir. Dengan taksi gabah ini, para petani mengaku mampu mengangkut seratus karung gabah per hari tergantung jarak dan kondisi medannya. Tarifnya pun cukup murah yakni Rp7 hingga Rp20 ribu tergantung jarak dan medan yang ditempuh.
Taksi gabah ini bisa dikatakan menjadi salah satu pemberi pendapatan yang cukup lumayan karena para buruh angkut gabah bisa mendapat ratusan ribu rupiah per harinya. Bagi para pengangkut gabah ini, musim panen adalah bulan berkah bagi mereka. Pasalnya pendapatan mereka bisa berkali lipat dibanding menjadi tukang ojek.
Bisa dikatakan berkat para buruh angkut dengan taksi gabahnya para petani di Polewali Mandar tak perlu cemas gabah rusak dan kehujanan karena tak diangkut selama berminggu-minggu dan dibiarkan ditengah sawah. Banyaknya petani atau buruh angkut gabah pada musim panen membuat kelompok-kelompok pengakut gabah bersaing mendapatkan pelanggan dari petani yang bersedia gabahnya diangkut ke pabrik atau ke rumah petani.
Bila musim panen tiba, ratusan kelompok pengangkut gabah berlomba mengangkut gabah petani yang sedang panen. Setiap motor bisa membawa satu karung gabah yang bobotnya mencapai satu kwintal. Awalnya motor modifikasi ini digunakan para petani di Pinrang.
Motor modifikasi yang didesain untuk medan licin dan berlumpur di tengah lahan ini bermula ketika petani di Pinrang yang ketika itu masih mengandalkan kuda kewalahan untuk menganguk hasil panen. Sehingga rangka motor diganti dan dibuat lebih tinggi agar bisa digunakan di medan berlumpur. Di bagian rangka depan dibuat lebih luas seukuran dengan satu karung gabah.
Sementara di bagian belakang dibuat sadel khusus berbentuk pipih dari besi agar mudah dikendalikan di medan sulit. Ban dan joknya juga didesain khusus, membuat kendaraan ini mampu menaklukkan medan sulit termasuk lumpur yang sukar dilalui kuda. Belakangan motor sejenis berkembang luas ke daerah sekitarnya termasuk di Polewali Mandar.
Kendaraan ini pun menggantikan peran kuda sebagai sarana angkutan andalan petani saat musim panen. Sejak sepuluh tahun terakhir trasportasi kuda yang selama ini merajai angkutan gabah di sawah nyaris tak terlihat lagi. Warga dan petani lebih memilih menggunakan sarana motor taksi.
Baca juga: Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya
Selain karena lebih mudah juga lebih cepat dari sarana kuda. Untuk memodifikasi motor menjadi motor taksi yang handal di medan berlumpur, petani hanya perlu mengeluarkan dana sekitar Rp4 juta per unit.