Tekan Penyebaran Covid-19, Stasiun Kereta di India Terapkan ‘Pembersihan’ Barang Bawaan dengan Sinar Ultra Violet
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, virus corona dapat menempel dan bertahan di benda mati, dan ketika berbicara tentang moda transportasi, Covid-19 dapat bertahan selama beberapa jam di barang bawaan penumpang. Ironisnya, kebanyakan pemeriksaan Covid-19 di pra sarana transportasi baru sebatas pengecekan kondisi kesehatan setiap penumpang, sementara barang bawaan seperti tas dan koper luput dari pengawasan.
Baca juga: Isolasi Diri dari Pandemi Covid-19, Seorang Pria Tinggal di Stasiun Kereta Api
Sekalipun ada pengawasan pada barang bawaan, umumnya fokus petugas lebih kepada soal keamanan, seperti isi barang bawaan yang harus sesuai ketentuan. Dan berangkat dari terus melonjaknya angka penderita Covid-19 di India, belum lama ini KSR Bengaluru Railway Station melakukan langkah taktis untuk menekan penyebaran Covid-19, dimana ada kewajiban bagi setiap penumpang, bahwa sebelum bisa naik ke gerbong, maka semua barang bawaan penumpang sudah harus dalam kondisi bersih.
Dikutip dari newindianexpress.com (26/7/2020), disebut langkah konkrit yang dilakukan operator kereta adalah menerapkan penggunaan Ultra Violet Baggage Bath, persisnya setiap barang bawaan penumpang, seperti tas dan koper yang akan masuk ke dalam kompartemen gerbong harus di-sterilkan menggunakan sinar ultra violet untuk mematikan virus dan bakteri.
“Ini akan berdampak luas dalam penghentian penyebaran virus. Penumpang dapat mengambil bagasi mereka sebelum mereka naik kereta dan jika mereka mau bahkan setelah turun dari kereta,” ujar AN Krishna Reddy, Manajer Komersial Bengaluru Railway. Masih dari sumber yang sama, dikatakan sistem ulta violet di stasiun ini dikembangkan oleh startup yang berbasis di Chennai.
Sinar ultra violet akan mendisinfeksi virus, bakteri, semua jenis kuman dan patogen dari permukaan barang bawaan penumpang. Ini akan mengurangi cara tidak langsung penularan virus Covid-19 dari barang bawaan ke penumpang. Dalam prosedurnya, koper yang telah di-steril akan diserahkan kembali kepada penumpang dengan stiker yang ditempel di atasnya untuk menandai bahwa koper telah didisinfeksi.
Proses desinfeksi barang bawaan penumpang akan tersedia gratis untuk umum selama bulan pertama peluncuran. “Perubahan nominal akan dikenakan nanti setelah menilai biaya operasional,” tambah Reddy. Jika uji coba dinyatakan berhasl, selanjutnya Ultra Violet Baggage Bath akan dipasang di Stasiun Yesvantpur.
Baca juga: Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik
Langkah lain untuk meningkatkan keselamatan penumpang kereta dengan penyediaan lima vending machine nirsentuh yang akan memasok masker, perlengkapan APD, dan alat kebersihan lain di stasiun kereta KSR Bengaluru, Yesvantpur, dan Bengaluru Cantonment.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang
Setelah mulai digarap pada tahun 2016 lalu, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akhirnya dihentikan pada 2 Maret lalu. Banjir di Tol Jakarta-Cikampek jadi alasannya. Plt Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Danis Sumadilaga, menyebut tumpukan tanah bekas galian yang dibuang sembarang telah menutup saluran drainase dan menyebabkan terjadinya banjir.
Baca juga: Cina Bakal Punya Terowongan Kereta Cepat Pertama di Bawah Laut
Meskipun proyek kembali dilanjutkan pada Juni lalu, namun, bukan berarti berbagai masalah yang ditumbulkan sudah selesai. Dilansir dari eco-business.com, sejumlah masalah lain juga timbul sebagai dampak dari buruknya analisis dampak lingkungan (AMDAL). Selasa, 22 Oktober silam, ledakan pipa Pertamina terjadi di lokasi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Setelah ditelusuri, ledakan tersebut disebabkan oleh proyek KCJB. Satu orang pekerja asal Cina dilaporkan tewas.
Tak cukup sampai di situ, berbagasi masalah lainnya, seperti pembuangan limbah ke sembarang tempat, kerusakan atau dinding rumah warga di sekitar proyek retak-retak, kebisingan, hilangnya ruang terbuka hijau, lahan pertanian produktif, tanah longsor, kesulitan air, masalah pembebasan lahan, hingga banjir di Bekasi dan Kabupaten Bandung yang diduga disebabkan oleh proyek tersebut, merupakan deretan masalah lain yang belum bisa terpecehkan.
Meiki Paendong, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, menyebut pihak PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebetulnya sudah berjanji akan melakukan kajian ulang terhadap berbagai dampak di atas. Hanya saja, sampai awal bulan ini, hasil pemeriksaannya belum dipublikasikan.
Anehnya, di tengah kekacauan tersebut, pada 29 Mei lalu, pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, mengungkap bahwa Presiden Jokowi mengusulkan pepanjangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ke Surabaya. Jika September 2015 lalu pemerintah lebih memilih proposal Cina dalam proyek KCJB, perpanjangan proyek kereta cepat hingga Surabaya diputuskan untuk menggandeng kembali Jepang.
Menanggapi keputusan tersebut, Pemerintah Jepang mengaku bingung dengan kebijakan Indonesia. Berbagai media Jepang juga menyoroti kebingungan pemerintah oleh keputusan tersebut. Selain itu, menurut laporan Kyodo News, terkait persoalan seperti ini, biasanya Pemerintah Indonesia terlebih dahulu mengkomunikasikannya sebelum mengumumkan ke publik.
Di sisi lain, Jepang, melalui Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA), mengaku menyambut baik keputusan tersebut. Saat ini, pihaknya sudah memulai studi kelayakan terkait salah satu dari 89 proyek prioritas strategis nasional sepanjang 720 km (Jakarta-Surabaya) ini. Bila tak ada halangan, studi tersebut bakal selesai pada akhir 2020 mendatang.
Hanya saja, proyek tersebut nampaknya bakal menemui rintangan berat. Sebab, antara Kereta Cepat Jakarta-Bandung oleh Cina dan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya memiliki perbedaan dan sulit diintegrasikan.
“Pakar perkeretaapian mengatakan akan sulit untuk mengintegrasikan kedua proyek tersebut secara praktis karena lebar rel berbeda,” bunyi laporan dari Kyodo News.
Baca juga: Perancis Kirim Pasien Corona Antar Kota dengan Kereta Cepat
Kereta Cepat Jakarta-Surabaya diperkirakan akan melaju dengan kecepatan rata-rata 160 km -bisa dibilang kecepatan menengah- dan memangkas waktu tempuh Jakarta-Surabaya menjadi hanya 5,5 jam, dari semula hampir 11 jam. Berbeda dengan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya, KCBJ diperkirakan bakal melesat hingga 350 km per jam, menempuh jarak sejauh 142,3 km dalam tempo 36 menit untuk perjalanan langsung, hingga 46 menit dengan kondisi perjalanan berhenti di setiap stasiun.
Awalnya, proyek senilai US$5,5 miliar itu oleh China Railway Group Limited (CREC) Indonesia direncakan bakal selesai dan bisa beroperasi pada Mei 2019. Namun, karena berbagai masalah, pemerintah merevisi target penyelesain hingga 2022 mendatang, mengingat proyek sudah over bugdet.
Tips Lolos dari Aturan Batas Cairan Maksimal 100 Ml ke Kabin Pesawat, Cukup Pakai Kertas!
Penerbangan internasional mempunyai sederet aturan ketat. Alasannya, apalagi kalau bukan faktor keamanan; meminimalisir kesempatan oknum teroris. Padahal, saat atau sepulang menumpangi penerbangan internasional, penumpang kerap membawa berbagai buah tangan, seperti pakaian, tas, sepatu, hingga parfum atau berbagai produk berbahan cair lainnya.
Baca juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus
Di antara berbagai ketentuan, aturan ketat tentang cairan, aerosol dan gel yang dibawa ke pesawat mungkin jadi salah satu issue menarik. Selama ini, ketentuannya, satu botol cairan, masing-masing tidak boleh lebih dari 100 ml. Total yang diizinkan untuk dibawa hanya satu liter dengan dibungkus dalam plastik zipper transparan.
Di Indonesia sendiri, ketentuan pembatasan cairan ini tertuang dalam Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol, dan Gel yang Dibawa Penumpang ke Dalam Kabin Pesawat Udara pada Penerbangan Internasional.
Pasal 2a dan Pasal 3 ayat (1) bagian a dalam ketentuan tersebut berbunyi cairan, aerosol, dan gel yang dibawa sendiri oleh calon penumpang sebelum masuk ke dalam bandar udara harus berada dalam wadah maksimum 100 ml atau ukuran sejenis.
Adapun cairan, aerosol, dan gel yang diperoleh atau dibeli di toko bebas bea di dalam bandar udara atau airport duty free shop dan/atau di pesawat udara harus ditempatkan dalam satu kantong plastik transparan ukuran dengan maksimal 1000 ml atau 1 liter dan disegel ulang. Persyaratan cairan, aerosol, dan gel ini tidak berlaku untuk obat-obatan medis; makanan, minuman, dan susu untuk bayi; serta penumpang yang menjalani diet khusus.
Sebelum tahun 2006 atau lima tahun setelah peristiwa 11 September atau serangan 9/11 di New York City dan Washington, D.C, Amerika Serikat, aturan tersebut belum berlaku.
Dikutip dari express.co.uk, sejarah aturan batas cairan maksimal 100 ml ke kabin pesawat mulai diterpakan pasca kelompok teroris berencana meledakkan pesawat yang dengan rute London, Inggris, ke Amerika Serikat dan Kanada.
Mereka menyembunyikan bahan peledak cair di dalam minuman kaleng dan dibawa ke dalam kabin pesawat. Dari penelusuran kepolisian Inggris, kelompok teroris ini mengincar tujuh pesawat tujuan Amerika Serikat untuk diledakkan. Sejak itu, cairan yang boleh dibawa ke dalam kabin pesawat maksimal 100 ml demi keselamatan penerbangan.
Akan tetapi, bagi penumpang yang ingin tetap melewati pos pemeriksaan dengan membawa serta cairan lebih dari yang sudah ditentukan, selama itu bukan bertujuan untuk tindak kejahatan, belum lama ini, seorang pengguna Reddit coba berbagai tips unik soal itu.
Caranya tergolong cukup mudah. Mula-mula, siapkan cairan sabun, shampo, sabun cuci tangan, sabun cuci piring, beberapa lembar kertas yang mudah menyerap cairan atau air, serta wadah kecil.
Kemudian tuangkan sabun cair secukupnya ke dalam sebuah wadah. Lalu, ratakan sabun di atas kertas hingga ketebalan sekitar setengah sentimeter. Jika sudah selesai, balik kertasnya dan ulangi langkah sebelumnya agar sabun cair bisa merata di kedua sisi kertas. Setelah itu lalu jemur.
Baca juga: Jelang Pemeriksaan Keamanan di Bandara, Sebaiknya Tanggalkan Aksesoris Berikut Ini!
Ulangi langkah yang sama untuk shampoo, sabun cair pencuci tangan dan pencuci piring. Setelah semua kering, siapkan wadah untuk tempat penyimpanan, ukur, serta potong-potong kertas tadi agar sesuai dengan ukuran wadah.
Setelah semua terpotong tinggal masukkan potongan-potongan kertas sabun sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Dengan begitu, cairan yang ingin dibawa bisa dimasukkan ke dalam wadah tersebut dan di tempatkan terpisah dengan barang-barang cair yang disimpan di plastik zipper transparan. Supaya tidak tertukar, penumpang dapat memberi tanda di atas kotak masing-masing.
Kereta Ikonik ”Katak Hijau” Dipindah ke Tempat Kelahiran Hachiko
Gerbong kereta ikonik yang dijuluki “katak hijau” belum lama ini dipindahkan ke tempat kelahiran Hachiko (anjing yang terkenal setia dan diabadikan dalam sebuah patung) tepatnya di timur laut Jepang. Gerbong kereta ini dulunya berfungsi sebagai pusat informasi turis di luar Stasiun Shibuya Tokyo.
Baca juga: Mirip Hachiko, Seekor Anjing di India Menunggu di Peron Setiap Jam 11 Malam
KabarPenumpang.com melansir dari laman mainichi.jp (8/8/2020), gerbong ini akan ditempatkan di halaman “Akita Inu no Sato” yang diartikan menjadi desa anjing Akita. Gerbong tersebut nantinya digunakan sebagai tempat istirahat bagi pengunjung di fasilitas wisata yang mempromosikan anjing Akita yang populer di Stasiun JR Odate Prefektur Akita.
Kota ini merupakan tempat kelahiran anjing Akita yang terkenal setia yakni Hachiko. Hachiko sendiri mandapat perhatian nasional pada 1920-an dan 1930-an karena muncul di Stasiun Shibuya untuk menunggu almarhum pemiliknya pulang kerja setiap hari selasa sekitar sepuluh tahun.
Gerbong kereta ini merupakan gerbong kerta api Tokyu dan melayani sejak 1954 hingga 1986. Gerbong kereta ini dipindahkan Senin (3/8/2020) pukul 01.30 pagi waktu setempat dengan diangkat menggunakan crane dan dikeluarkan dari alun-alun dan tiba pada Kamis (6/8/2020).
“Merupakan kehormatan bahwa gerbong terkenal itu datang ke Odate. Kami ingin menggunakannya secara efektif sebagai sumber pariwisata,” kata Tsuyoshi Kudo, kepala bagian pariwisata kota di timur laut Jepang.
Untuk diketahui, gerbong ini merupakan bekas kereta api seri 5000 dengan panjang 11,22 meter dan berat sekitar 11 metrik ton. Dikenal dengan julukan “katak hijau” karena warnanya hijau dan ujungnya yang membulat. Gerbong kereta tersebut diserahkan ke Kantor Daerah Shibuya Tokyo pada tahun 2006 setelah pensiun.
Baca juga: Anjing Lucu Berperilaku Penumpang Bus, Bikin Gemas Sang Pengemudi
Relokasi gerbong kereta dilakukan saat alun-alun tersebut bersiap untuk menjalani renovasi sebagai bagian dari facelift besar di distrik hiburan Shibuya, yang populer di kalangan anak muda. Kemudian nantinya akan diberikan kepada pemerintah kota Odate dan mereka akan melakukan penyesuaian pada interior, eksterior dan lingkungan gerbong kereta, dan berniat untuk membukanya untuk umum mulai awal September.
Misteri Kecelakaan Air India Tahun 1966 yang Tewaskan Tokoh Penting Mulai Terkuak, Ada Campur Tangan CIA
Gunung Mont Blanc di Pegunungan Alpen, Perancis, jadi saksi bisu kecelakaan pesawat maskapai Air India dengan nomor penerbangan AI-101. Pesawat diketahui jatuh pada 24 Januari 1966 atau 54 tahun silam dan menewaskan seluruh penumpang dan kru pesawat yang berjumlah 117 orang tewas. Pesawat diketahui tengah menuju London dari Mumbai, melalui Delhi, Beirut, dan Jenewa. Jelang tiba di Jenewa itulah pesawat dilaporkan jatuh.
Baca juga: Hari ini 31 Tahun Lalu, Terjadi Kecelakaan Kereta Terbesar di India, Tewaskan 140 Orang!
Disebut menjadi saksi bisu, sebab, sampai saat ini, belum ada keterangan resmi yang cukup memuaskan terkait jatuhnya pesawat Boeing 707 ‘Kanchenjanga’. Pemerintah Perancis sendiri menyimpulkan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh humam error.
Pilot diketahui salah menilai posisi pesawat. Sang kapten pilot mengatakan pesawat yang dikendalikannya berada di ketinggian 19.000 kaki atau sekitar 5.791 meter, atau lebih tinggi 514 meter dari puncak Mount blanc, padahal (ATC, menurut laporan pemerintah) sejatinya belum.
Disebutkan, radar controller mencatat kekeliruan pilot dan petugas segera memberitahu posisi pesawat. Namun, tak lama kemudian pesawat hilang kontak dan diketahui jatuh usai menabrak gunung. Oleh karena itulah, banyak pihak, termasuk jurnalis Perancis, banyak melakukan penyelidikan independen.
Menariknya, lokasi jatuhnya pesawat Boeing 707 Air India sama persis dengan lokasi kecelakaan pesawat Lockheed L-749A Constellation ‘Malabar Princess’ Air India 245 pada 1950. Sama halnya dengan kecelakaan Air India AI-101, insiden ‘Malabar Princess’ juga tak diketahui dengan pasti penyebabnya.
Sejak tahun 80an, berbagai teori konspirasi tentang insiden tersebut terus bermunculan. Teori yang dihadirkan pun sangat beragam, mulai dari campur tangan politik, diplomatik, serta intrik-intrik lainnya berkenaan dengan budaya.
Dari laporan The Print, konspirasi pertama diketahui keluar dari lisan Philippe Réal, editor radio dan televisi nasional, ORTF. Réal menyebut terjadi beberapa kejanggalan. Dari temuan-temuan ia dan tim di lokasi kejadian, salah satunya terdapat sebuah puing bertuliskan tanggal 1 Juni 1960. Padahal, Boeing 707 Air India yang jatuh baru beroperasi pada 1961.
Selain itu, Réal juga meminta pendapat para ahli untuk menilai puing-puing tersebut. Hasilnya, para ahli menyebut puing-puing yang dimaksud bukan berasal dari Air India. Dua kejanggalan di atas, dalam perjalanannya, dilengkapi dengan adanya upaya penghalangan oleh pemerintah dalam proses penyelidikan independen. Dari situ, tim ORTF, termasuk Réal menyebut bahwa pesawat jatuh akibat bertabrakan dengan jet tempur F-104G Starfighter.
Teori konspirasi lainnya datang dari Jean-Daniel Roche, pengusaha, olahragawan, sekaligus pribadi yang sangat penasaran. Dengan data dan fakta yang ada, Ia menyimpulkan bahwa kecelakaan pesawat maskapai Air India dengan nomor penerbangan AI-101 akibat dirudal. Namun, ia kemudian merevisi teorinya itu dan bergabung dengan teori tim ORTF.
Alasannya, pada tahun 1960-an, Italia masif mengoperasikan Starfighters untuk memata-matai instalasi militer Perancis di Mont Blanc setiap pekan dan mengambil sejumlah gambar. Terlebih, terbang di sekitar gunung membuat jet tempur tersebut lebih sulit dideteksi radar.
Teori tersebut juga didukung dengan sejumlah temuan penting lainnya. Jean-Noël Benoît, seorang kolektor puing-puing kecelakaan pesawat, tak terkecuali pesawat Air India, menunjukkan adanya panel, bantalan kabel, sakelar, dan braket berkarat bertuliskan USAF atau Angkatan Udara Amerika Serikat.
Bila dikaitkan dengan laporan Boeing yang menyebut pesawat kecelakaan akibat cuaca buruk, tentu patut diduga pabrikan tersebut tidak mengakui fakta di lapangan mengingat F-104G Starfighter juga buatan Amerika, negara tempat Boeing bernaung.
Baca juga: Hipotesa Baru Misteri MH370: Kopilot Sempat Ambil Kendali Penuh dan Arahkan Pesawat Kembali ke Malaysia
Buntut dari konspirasi tersebut, Badan Intelijen Pusat AS (CIA), akhirnya ikut terseret, yang diduga sebagai aktof intelektual terjadinya kecelakaan. CIA hendak mensabotase program nuklir India, mengingat Air India 101 memuat Homi Jehangir Bhabha, fisikawan nuklir dan bapak program nuklir India. Dalam beberapa kabel diplomatik peninggalan Bhabha, terdapat beberapa penilian New Delhi tentang program nuklir Cina, analisi Delhi soal hubungan Cina-Barat, serta perpecahan Cina-Soviet.
Temuan lainnya juga tak kalah penting, berupa surat kabar keluaran tahun 1966, keluaran National Herald dan The Economist. Surat kabar itu muncul akibat gletser di Gunung Mont Blanc mencair akibat pemanasan global. Selain itu banyak temuan penting lainnya akibat mencairnya es.
Jalur Shinkansen Ini Berhenti di Pakaian Dalam Pria, Loh!
Jaringan kereta peluru shinkansen Jepang dimulai dengan jalur Tokaido Shinkansen yang membentang dari Tokyo hingga ke Osaka. Kemudian layanan kereta peluru ini terus berkembang dan kini membentang dari Prefektur Kagoshima di barat daya Jepang menuju ke pulau utara Hokkaido.
Baca juga: Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong
Tetapi kini bahkan ada perhentian baru lainnya bukan di suatu daerah di Jepang, melainkan di pakaian dalam pria. Nah, bagaimana kereta peluru bisa berhenti di pakaian dalam? KabarPenumpang.com melansir dari laman japantoday.com (3/8/2020), ternyata sebuah portal penggemar kereta api Jepang Shuppatsu Shinko telah menciptakan apa yang dijuluki “Teppan” dari tetsudo pantsu atau pakaian dalam kereta.
Portal ini menghadirkan hal tersebut di mana persembahan awal adanya sepasang desain shinkansen yang tampak paling dinamis dimulai dari kereta Hayabusa yang berjalan ke utara dari Stasiun Tokyo ke Shin-Hakodate-Hakuto yang saat ini merupakan perhentian kereta peluru paling utara. Desain ini berwarna hijau dengan mencirikan kereta peluru ke Hayabusa.
Sedangkan untuk yang satu lagi berwarna cerah adalah desain Komachi yang meniru shinkansen merah yang biasanya mengangkut penumpang dari Tokyo menuju ke Stasiun Akita. Ini adalah satu-satunya kereta peluru yang melayani jalur shinkansen Akita. Beberapa perusahaan Jepang memproduksi pakaian dalam bertema kereta untuk anak-anak, sedangkan Teppan Shuppatsu Shinko juga menghadirkan untuk ukuran dewasa.
Bahkan perusahaan pembuat dengan bangga mengatakan bahwa mereka membuat desain yang tidak hanya untuk penggemar kereta api tetapi juga orang biasa sehingga dapat dinikmati sepenuhnya. Mengingat uniknya gambar di pakaian dalam ini, beberapa orang mungkin merasa sedikit sadar dengan kehadiran sepasang Teppan ini.
Sebab bentuknya dengan batang kereta peluru yang ramping memiliki kemiripan dengan bagian tertentu dari anatomi pria. Namun, para perancang tampaknya telah meramalkan potensi kecanggungan tersebut, sehingga bagian depan kereta benar-benar muncul di bagian belakang pakaian dalam, dan sebaliknya, agar tidak membuatnya tampak seperti shinkansen yang meluncur keluar dari selangkangan Anda.
Teppan, yang secara resmi dilisensikan oleh operator Shinkansen Japan Railways, saat ini tidak tersedia di toko-toko, tetapi ditawarkan melalui kampanye tentang pemandangan crowdfunding Makuake, dengan tingkatan untuk ukuran dewasa mulai dari 2.640 yen (US$25) dan ukuran anak-anak di 2.200 yen.
Baca juga: Kereta Shinkansen Jepang Hadirkan Tiket Kereta Elektronik
Karena hanya dua pasang pakaian dalam tidak cukup untuk membantu Anda melewati siklus pencucian, jika Anda mencari lebih banyak simbol Jepang untuk bagian lemari pakaian Anda ini, selalu ada jajaran pakaian dalam Pokémon. Nah, bagaimana kalau Indonesia buat pakaian dalam dengan gambar kereta CommuterLine atau MRT Jakarta?
Demi Selamatkan Perusahaan, 6000 Staf Singapore Airlines Group Ambil Cuti Tanpa Dibayar
Singapore Airlines Group (SIA) sampai saat ini tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada seluruh stafnya. Namun sebanyak 6000 staf baru-baru ini mengambil cuti tanpa bayaran dalam berbagai jangka waktu untuk membantu perusahaan mengatasi penurunan perjalanan udara karena Covid-19.
Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir
Selain yang mengambil cuti tanpa bayaran, sebanyak 1700 staf SIA baik staf darat, pilot maupun awak kabin sudah terdaftar untuk posisi relawan dan pekerjaan di organisasi eksternal. Juru bicara SIA mengatakan, staf yang bekerja sebagai relawan selain SIA ada juga SilkAir dan Scoot.
SIA Grup mengatakan, staf mereka bisa memanfaatkan program kesehatan keuangan, mental dan fisik online jika diperlukan. Adanya skema cuti tak berbayar ini untuk memudahkan staf mencari pekerjaan tambahan. Meski adaya cuti tak berbayar ini, para pilot dan awak kabin masih mendapatkan gaji meski tak mendapat tunjangan.
Sedangkan untuk para staf yang tengah terikat dengan organisasi lain mungkin tak mendapatkan gaji yang sama alias bervariasi. Karena hal ini, SIA membantu menambah gaji bagi mereka yang berpenghasilan kurang dari gaji pokok mereka yakni sekitar S$1500 untuk anggota awak kabin.
Grup SIA, tidak seperti beberapa maskapai lain, sejauh ini berhasil mencegah PHK, dengan bantuan pendanaan dari Temasek dan Skema Dukungan Pekerjaan Pemerintah. Tetapi saat ini beroperasi hanya pada tujuh persen dari kapasitas yang dijadwalkan dibandingkan dengan sebelum pandemi. Beberapa awak kabin belum mengudara selama berbulan-bulan.
Bulan lalu, SIA melaporkan kerugian bersih $1,12 miliar pada kuartal yang berakhir 30 Juni, kerugian kuartalan terbesar dalam catatan. Permintaan perjalanan udara diperkirakan akan tetap rendah di masa mendatang, dengan Asosiasi Transportasi Udara Internasional mengatakan bahwa itu akan sampai 2024 sebelum permintaan kembali ke level tahun lalu.
Grup SIA mengatakan staf penerbangannya sekitar 3.200 pilot dan hampir 11 ribu awak kabin tetap mempertahankan keterampilan mereka meskipun terjadi penurunan drastis dalam penerbangan. Pilotnya sekarang menggunakan lebih banyak sumber daya e-learning selain pelatihan simulator. Mereka yang sudah lama tidak terbang diberi pelatihan tambahan.
Pilot kemudian harus menjalani pemeriksaan kemampuan yang diperlukan sebelum kembali ke penerbangan operasional. Untuk pilot kadet, pelatihan darat terus berlanjut, meskipun pelatihan simulator telah ditangguhkan. Sedangkan untuk awak kabin, mereka telah menjalani program online reguler yang disetujui oleh Otoritas Penerbangan Sipil Singapura.
Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit
“Awak kabin juga diwajibkan untuk menyelesaikan dan lulus pelatihan dan tes keterkinian armada dan operasional online untuk memastikan kualifikasi mereka tetap terkini selama periode ini. Mereka juga dijadwalkan untuk mengikuti kursus pelatihan di darat dan harus lulus semua latihan keselamatan yang diperlukan,” ujar juru bicara.
SIA mengatakan kapasitas penumpangnya akan meningkat menjadi sekitar delapan persen dari level sebelum Covid-19 pada akhir Oktober.
Ada Peran “Tabletop Airport” dalam Kecelakaan Pesawat Air India Express 1344, Apa Itu?
Kecelakaan pesawat Boeing 737-800 Air India Express menyisakan cerita. Selain menewaskan 18 orang, termasuk pilot dan co-pilot, kecelakaan pesawat dengan 174 penumpang dewasa, 10 anak-anak, dua pilot dan empat awak kabin itu juga menimbulkan berbagai spekulasi. Diduga, pesawat nahas tersebut crash akibat salah mendarat serta cuaca buruk (human error atau kesalahan manusia).
Baca juga: Dalam Kondisi Berkabut, Penggunaan ILS Bukan Jaminan Penerbangan Bakal Lebih Efisien
Namun, ada juga yang menyebut tabletop airport sebagai penyebab utama kecelakaan. Lantas, apa itu tabletop airport, sampai-sampai diduga menjadi biang keladi dalam kecelakaan penerbangan IX 1134?
Dirangkum KabarPenumpang.com dari The Hindu, tabletop runway merupakan landasan pacu yang terletak di atas dataran tinggi atau bukit dengan salah satu atau kedua ujungnya berdekatan dengan tebing curam. Dari keterangan tersebut, bisa dibilang, tabletop runway erat kaitannya dengan ketinggian bandara. Jenis bandara dengan runway seperti ini menciptakan ilusi optik yang membutuhkan pendekatan yang sangat tepat oleh pilot.
Kecelakaan pesawat Air India Express 1344 di Bandara Internasional Calicut, juga dikenal sebagai Bandara Karipur serta Bandara International Kozhikode, di Karipur, distrik Malappuram, Kerala, India, bukanlah pertama kali.
Pada Mei 2010 lalu, Air India Express juga pernah terlibat kecelakaan di bandara tabletop runway lainnya, Mangalore International Airport. Kala itu, dari 166 penumpang dan awak, 158 di antaranya tewas. Lima bulan pasca kecelakaan tersebut, Otoritas Penerbangan India (AAI) membuat sekitar serangkaian rekomendasi sebanyak 191 halaman.
Rekomendasi tersebut mencakup teknik pendaratan di bandara dengan kategori tabletop runway, visual reference system, lokasi menara ATC, approach and area radars, peran tim pemadaman kebakaran, sampai analisis risiko di bandara tersebut (tabletop runway).
Istilah tabletop runway sebetulnya tidak ada dalam dokumen teknis Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Hanya saja, untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan di bandara dengan kategori tabletop runway, ICAO punya rekomendasi tersendiri. Atas aturan tersebut, Bandara International Kozhikode pun mengalami sejumlah perubahan pada 2017 lalu.
Runway, dari semula 2.860 meter dipangkas untuk kebutuhan Runway End Safety Area (RESA) menjadi 2.700 meter. RESA dimaksudkan untuk mengatasi berbagai masalah saat pendaratan, termasuk overrun yang dialami oleh Air India Express IX 1134. Hanya saja, panjang RESA tak diatur dengan spesifik, sekedar dibatasi paling pendek 90 meter dan paling panjang 240 meter. Adapun Bandara International Kozhikode menyediakan RESA hanya sepanjang 160 meter.
Selain itu, bandara tersebut juga wajib dilengkapi dengan Instrument Landing System (ILS) CAT 1 serta berbagai alat bantu visual untuk memudahkan pilot melakukan simple approach lighting.
Dengan standar ketat tersebut, tak heran bandara itu mampu mendukung pendaratan pesawat Kode E atau pesawat berbadan lebar. Terakhir, Boeing 747 Air India berkapasitas 423 kursi rute Kozhikode-Jeddah pernah mendarat di sini.
Baca juga: AirNav Implementasikan Sistem Performance Based Navigation, Apa Itu?
Hanya saja, RESA bukanlah satu-satunya senjata utama dalam mengantisipasi kecelakaan di bandara tabletop runway. Dari segi instrumen, sebetulnya, selain RESA, ada juga EMAS atau Engineered Material Arrestor/Arresting System. EMAS sudah digunakan di seluruh bandara internasional di Amerika Serikat, menggantikan RESA. EMAS terbuat dari beton ringan dan dinilai lebih efektif. Disebutkan, EMAS sepanjang 75 meter sama dengan RESA sepanjang 240 meter.
Dari sudut pandang pilot, mencegah terjadinya kecelakaan di bandara tabletop runway juga bisa dilakukan dengan berbagai langkah, mulai dari disiplin dengan panduan, seperti go around jika pesawat tak mendarat di zona touchdown, minimum altitude di ketinggian 1.000 kaki saat memasuki ujung landasan awal, tidak memaksakan mendarat saat proses approach tidak stabil, hingga kelas atau pelatihan berbagai jenis ilusi optik, baik yang disebabkan hujan lebat dan angin kencang maupun kabut. Khusus untuk ilusi optik, setiap enam bulan.
Pasir Sinyal ‘SOS’ Selamatkan Tiga Pria Usai Terdampar Tiga Hari di Pulau Terpencil Tak Berpenghuni
Tiga orang pelaut berhasil evakuasi usai terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di Pasifik, belum lama ini. Menariknya, para pelaut tersebut berhasil diselamatkan Tim SAR gabungan Australia dan Amerika Serikat usai mengirim sinyal SOS dengan menuliskannya di pasir.
Baca juga: Throwback, Boeing 707 Pan Am 812 Jatuh di Bali, Tim SAR Butuh 3 Hari Menjangkau Lokasi
Associated Press melaporkan, peristiwa bermula saat tiga pelaut yang tak disebutkan dengan jelas dari mana mereka berasal, hendak berlayar ke Pulap Atoll sebelah Timur Laut Puluwat Atoll, Pasifik. Namun, mereka diketahui berlayar jauh keluar jalur menuju Barat Laut hingga akhirnya kehabisan bahan bakar dan terdampar di Pulau Pikelot, 190 kilometer dari Puluwat Atoll tempat mereka memulai pelayaran.
Jarak tersebut tentu sangat jauh di luar kapasitas bahan bakar mengingat tujuan semula di Pulap Atoll hanya berjarak 43 kilometer dari Puluwat Atoll.
Setelah tiga hari, akhirnya tim SAR gabungan Australia dan Amerika Serikat (AS) berhasil menemukan sinyal darurat SOS di sebuah pasir. Setelah dikontak oleh tim SAR AS, di Guam, sebuah helikopter kemudian dikirimkan Australia dalam perjalanan pulang dari Hawaii usai mengikuti latihan perang.
“Saya bangga dengan respons dan profesionalisme semua kru kapal saat kami memenuhi kewajiban berkontribusi pada keselamatan nyawa di laut, di mana pun kami berada,” kata komandan pangkalan Canberra, Terry Morrison.
Sementara itu para korban dilaporkan dalam kondisi baik. Mereka dikirim makanan dan minuman menggunakan helikopter militer Australia. Setelah kondisi mereka stabil, ketiga pria itu dievakuasi menggunakan kapal patroli Mikronesia.
Baca juga: Kereta Terperangkap Salju, 400 Penumpang JR East Terdampar dalam Suhu Estrem
SOS adalah sinyal marabahaya yang diakui secara internasional yang berasal dari kode Morse. Dalam insiden serupa pada Agustus 2016, sepasang pelaut yang terdampar juga pernah diselamatkan dari pulau tak berpenghuni lain di Mikronesia setelah helikopter Angkatan Laut AS melihat tanda SOS mereka.
Beberapa bulan sebelumnya, tiga orang lainnya yang kapalnya terbalik dua mil dari pantai terlihat di pulau terdekat setelah menulis kata “Help” di pasir. Mikronesia adalah gugus kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau yang berukuran sangat kecil di Samudra Pasifik bagian Timur, tetapi Hawaii tidak termasuk. Berbatasan dengan Filipina yang terletak di sebelah Barat, Indonesia di barat daya, Papua Nugini dan Melanesia di selatan, dan Polinesia di tenggara dan timur.
Mulai 1 Agustus, Bandara Charles de Gaulle Paris Wajibkan Pelancong dari 16 Negara Tes Swab
Pelancong dari 16 negara yang berisiko tinggi Covid-19, wajib melakukan tes swab di Bandara Prancis mulai 1 Agustus 2020 kemarin. Daftar negara tersebut yakni Amerika Serikat, Brasil, Aljazair, Turki, India, Israel, Afrika Selatan, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Panama, Madagaskar, Peru, Qatar, Oman dan Serbia.
Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Tawarkan Asuransi Covid-19 Gratis ke Penumpang! Simak Syaratnya
Tes ini dilakukan karena jumlah kasus baru di Perancis setiap harinya terus meningkat. Seorang pelancong asal California utara ketika tiba di Bandara Paris-Charles de Gaulle (CDG) disambut penjaga bea cukai Prancis dan mengatakan, “Maaf, tetapi tes Covidmu tidak lagi valid. Harap antri di sini untuk menjalani tes.”
Dilansir KabarPenumpang.com dari france24.com (4/8/2020), Rob si pelancong tersebut tiba di CDG pada 4 Agustus setelah melakukan penerbangan dari San Francisco selama 11 jam. Dia mengatakan, pengecekan berkas dan pengujian tes Covid-19 tidak teratur dan ada beberapa kebingungan, apakah tes harus dilakukan 72 jam sebelum boarding atau mendarat.
“Penjaga bea cukai kedua memeriksa tes saya lagi dan akhirnya mengizinkan saya melalui tanpa pengujian lebih lanjut,” kata dia.
Dia mengatakan, dirinya bersama penumpang lain dalam penerbangan AF87 dari San Francisco harus menunjukkan hasil tes Covid-19 negatif terbaru mereka atau harus menjalani tes swab di kedatangan. Josselin Lefrançois, seorang Prancis yang tinggal di San Francisco mengatakan, dirinya senang mengetahui bahwa sebagian besar orang yang ada dalam pesawat yang ditumpanginya dinyatakan negatif sebelum naik. Sama dengan penumpang lain, Josselin melakukan tes Covid-19 beberapa hari sebelum dirinya melakukan penerbangan.
“Masih penting untuk memiliki tes wajib gratis pada saat kedatangan, juga. Beberapa laboratorium Amerika Serikat membutuhkan waktu terlalu lama, sekitar enam hari, untuk memberikan hasil. Dan biayanya juga mahal,” tambah pengusaha teknologi, yang membayar $250 untuk ujiannya sebelum meninggalkan Amerika Serikat.
Untuk diketahui, saat ini ada tiga pusat pengujian Covid-19 di bandara CDG Paris, dua diantaranya berada dekat gerbang kedatangan di Terminal 2E dan 2A. Sedangkan yang ketiga terletak di zona pabean Terminal 2E dekat pengambilan bagasi. Meski tak ada lagi karantina pada saat kedatangan, setelah mendaftar dengan ID dan alamat email, pelancong yang tiba diuji di bilik kecil di belakang konter dan petugas medis dengan perlengkapan perlingdungan memasukkan kapas ke saluran hidung untuk mengambil sampel.
Kemudian sample dikirim ke laboratorium dan hasilnya akan diterima 24 sampai 48 jam. Setiap pusat pengujian bandara melakukan ratusan tes Covid-19 per hari. Yang terletak di dekat aula kedatangan sebenarnya mendapatkan sejumlah besar pelancong keluar di mana orang-orang yang akan melakukan perjalanan dari Paris ke tujuan lain dan tes Covid-19 juga wajib.
“Saya akan terbang ke Conakry (ibu kota Guinea di Afrika Barat) pada 7 Agustus. Otoritas Guinea mewajibkan kami memiliki hasil tes Covid negatif sebelum memasuki negara itu. Saya membawa putra saya ke bandara hari ini dan itu adalah kesempatan yang baik untuk selesaikan ini,” kata Amadou Sylla.
Sistem pengujian bandara masih membutuhkan itikad baik dari penumpang untuk bekerja secara efisien. Penumpang dari negara berisiko tinggi tidak menghadapi karantina saat menunggu hasil tes Covid-19 yang mereka lakukan pada saat kedatangan.
“Mereka menunjukkan ID mereka dan diminta mengisi formulir dengan detail kontak mereka. Seandainya hasil tes mereka positif, kami segera menghubungi untuk meminta mereka mengisolasi diri dan melacak orang lain yang mungkin pernah mereka hubungi,” jelas Alyzee Feauveaux, dari Agence Regionale de Santé, badan yang bertanggung jawab atas pusat pengujian.
Baca juga: Amerika Serikat Telat, Baru Akan Mulai Rapid Test Covid-19
Otoritas Prancis memilih untuk tidak menerapkan karantina wajib pada saat kedatangan seperti di Hong Kong atau Korea Selatan, di mana pihak berwenang memeriksa untuk memastikan bahwa penumpang yang masuk tetap terisolasi selama 14 hari.
