Stasiun Sukaresmi – Dari 2014 Hingga Kini Belum Juga Resmi Dibangun

Sejak 2014 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berharap PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera membangun stasiun baru di Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sereal. Stasiun baru ini nantinya akan membantu mengurai kemacetan arus lalu lintas di pusat kota Bogor. Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan Bahkan Pemkot Bogor pun sudah menghibahkan lahan seluas 1, 8 hektare dari 4,2 hektare yang akan digunakan untuk Stasiun Sukaresmi. Kemudian pembangunannya pun tertunda dan kini Pemkot Bogor akan mengajukan kembali pembangunan Stasiun Sukaresmi tersebut. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Pemkot Bogor akan meminta bantuan PT KAI agar hal ini bisa diajukan ke Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, meminta adanya kejelasan dari PT KAI terkait dengan aset yang sudah dibeli oleh Pemda yang rencananya akan dibangun Stasiun Sukaresmi. Dia menjelaskan, pembahasan kelanjutan pembangunan Stasiun Sukaresmi juga akan dibahas dengan sejumlah pihak. Sebab pembangunan Stasiun Sukaresmi juga masih terkendala kontur tanah yang miring. “Sudut kemiringan rel ini harus disesuaikan, disudut yang memungkinkan kereta berhenti tanpa harus dilakukan semacam pengereman. Jadi kan gini, kalau misalnya masinis lupa narik rem, kalau misalnya sudut kemiringan masih curam, kereta akan jalan,” jelas Dedie yang dikutip dari republika co.id (10/2020). Stasiun Sukaresmi sendiri merupakan stasiun yang masih dalam tahap perencanaan pembangunan. Stasiun ini dulunya bernama Halte Kebon Pedes yang terletak di Sukaresmi, Tanah Sereal, Bogor. Baca juga: Stasiun Sukabumi, Tak Jadi Dipindah dan Tetap Berada di Pusat Kota Berada di Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, nantinya setelah dibangun, stasiun ini diharapkan mampu mengurai penumpang harian kerta rel listrik (KRL) CommuterLine yang kian hari bertambah banyak. Apalagi di Stasiun Bogor yang hampir melebihi kapasitas penumpang. Nantinya, kehadiran Stasiun Sukaresmi juga akan memudahkan penumpang agar tidak lagi perlu ke Stasiun Bogor untuk naik kereta. Padahal proyek ini awalnya direncanakan akan diselesaikan tahun 2015. Tetapi ternyata molor dan bahkan belum ada kejelasan kapan akan dibangun meski lahan yang diberikan Pemkot Bogor sudah siap untuk digunakan.

Disorot Publik Akibat Sepi Penumpang, LRT Jakarta Justru Cetak Rekor Pengunjung Tertinggi

Sejak fase uji coba berakhir pada akhir tahun lalu, PT. Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Stasiun Velodrome – Kelapa Gading saat ini memang tengah mendapat soroton tajam. Proyek yang menelan biaya hingga Rp 6,8 triliun tersebut justru malah sepi peminat. Baca juga: Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer! Seperti berbalas pantun, keraguan banyak pihak terkait keberadaan LRT Jakarta yang hanya sejauh 5,8 km pun perlahan mulai tersingkirkan. Selain nilai investasi yang masih dinilai minim jika dibanding dengan proyek serupa di negara lain, belum lama ini, moda transportasi yang hanya mempunyai lima stasiun tersebut justru malah mencetak rekor pengunjung tertinggi selama fase komersial mulai diberlakukan. “Jadi di posisi tanggal 8 Februari kemarin kita memecahkan rekor juga selama ini dari kita komersial itu diangka 7.400. sementara kita angka tertinggi kita itu ada di bulan Januari itu diangka 5.400,” kata General Manager of Corporate Secretary, Arnold Kindangen, kepada KabarPenumpang.com di sela-sela acara bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta”, Jumat, (14/2). Meski demikian, ia memang tak menampik bahwa sejak tarif mulai diberlakukan, sekalipun hanya sebesar Rp 5.000, di awal-awal, LRT Jakarta memang banyak ditinggal penumpangnya. Rata-rata penumpang juga rendah, hanya menyentuh angka 4.000 dari rata-rata target 7.000 pengunjung. “Tapi memang perlu disampaikan juga, kita masih rata-rata diangka 4.000. Kalau target kita itu 7.000 dari panjang trek kita yang hanya 5,8 ya,” tambahnya. Seiring berjalannya waktu, LRT Jakarta kini mulai kembali diminati masyarakat. Terlebih, setelah moda transportasi yang tiba di stasiun setiap 10 menit tersebut terintegrasi dengan Transjakarta. Walaupun tarif naik menjadi Rp 8.500, namun secara benefit, justru semakin besar, mengingat jangkauan pengunjung jadi lebih luas, mencapai lebih 430 km, sebagaimana panjang jalur Tranjakarta. “LRT ini tidak cuma 5,8 (kilometer) sudah 420 kilo karena nyambung dengan Transjakarta karena mereka (masyarakat) belum mencoba aja. Pasti enak kok. Murah. 8.500 sampe pelosok Jakarta. Yakin,” Direktur utama (Dirut) PT. LRT Jakarta, Wijanarko. Selain itu, berbagai pengembangan yang telah dilakukan juga membuat prospek bisnis perusahaan yang masih tergolong sebagai cucu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut menjadi lebih cerah. Wijanarko berujar, bahwa dalam waktu dekat, tak jauh dari lokasi Stasiun Pulomas, nantinya akan dibuat apartemen serta pusat bisnis yang akan terhubung langsung dengan LRT. Baca juga: Nantinya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Terintegrasi LRT Bandung Raya Lebih daripada itu, secara keseluruhan, Stasiun Pulomas dan kawasan sekitarnya memang diproyeksikan akan menjadi kawasan terintegrasi baru, layaknya beberapa kawasan lainnya di DKI Jakarta, seperti Dukuh Atas dan Blok M. “Stasiun Pulomas stasiun yang paling besar. Ini titik next integrasi, sebelah juga akan dibangun apartement dan pusat bisnis yang nantinya juga akan terintergrasi sehingga Stasiun Pulomas dari apartemen bisa langsung ke sini,” pungkasnya.

Keluarkan Unek-Unek Selama Bekerja, Petugas Stasiun Kereta Api Jepang Curhat di Twitter

Siapa saja bisa melampiasakan kemarahan atau unek-unek ketika mereka bekerja. Bahkan petugas stasiun kereta api pun berhak mengungkapkan rasa kesal, marah atau apapun itu untuk menenangkan diri dan membuka mata orang lain bahwa mereka tidaklah serba bisa. Baca juga: Stasiun Raffles Place Jadi ‘Saksi’ Cinta Dua Petugas MRT Singapura Seperti petugas stasiun kereta api Jepang yang menuliskan rasa frustasi mereka di media sosial. Mungkin saat Anda melihat mereka bekerja, para petugas terlihat hormat dengan meminta maaf sedalam-dalamnya atas keterlambatan hingga membantu penumpang mendapat informasi jelas terkait jalur transportasi yang tersebar di Tokyo. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (8/2/2020), bila bertugas sisi baik terlihat, ternyata mereka juga punya sisi gelap ketika frustasi dan menuliskan di media sosial. Di Twitter para petugas stasiun mengomel dan banyak pengalaman yang mereka tuliskan ketika pelecehan yang dilakukan pelanggan dan tidak menyenangkan. Akun anonim dari pengguna Twitter yang mengatakan mereka adalah petugas kereta api bahkan kini semakin bermunculan dalam bahasa Jepang dengan rincian profil mereka menunjukkan bergabung dengan Twitter sejak 2019. Seorang petugas dengan akun @stsf_psn mengatakan, dia mencarai cara untuk melampiaskan masalah pekerjaannya secara anonim dan meningkatkan kesadaran akan aspek pekerjaan yang kurang dikenal sebagai karyawan stasiun kereta api. “Membuat tweet dan menyampaikan apa yang ada di pikiran saya dan terhubung dengan orang lain di industri ini untuk membantu saya melepaskan stres,” tulis @stsf_psn. Kicauan para petugas kereta api tersebut lebih banyak membahas berbagai aspek pekerjaan. Tetapi mereka mengatakan itu adalah sebuah pertempuran yang digambarkan sebagai pelanggan raksasa. Ini adalah istilah yang merujuk pada pelanggan dengan permintaan yang sangat menuntut atau permintaan yang tidak masuk akal dan membuat mereka lelah. “Saya memiliki penumpang yang meminta kami membayar untuk naik taksi karena kereta yang mereka rencanakan akan ditangguhkan,” tulis @stsf_psn. Pengguna Twitter @Black_railway, yang mengaku sebagai karyawan kereta api berusia 30-an, juga menceritakan beberapa insiden pelecehan. “Satu hal yang saya ingin orang mengerti adalah bahwa karyawan stasiun kereta api tidak mahatahu,” tulis akun @Black_railway. Berada dalam bidang pekerjaan ini, tulisnya, tidak berarti dia setara dengan peta jalan kaki yang memiliki pengetahuan ensiklopedis dari setiap stasiun. “Banyak orang telah mendekati saya dan berkata, ‘Hei, saya harus pergi ke toko ini, tetapi saya tidak tahu di mana itu atau apa stasiun terdekatnya. Katakan bagaimana cara ke sana’. Tapi, sungguh … bagaimana aku tahu?” tulisnya. Menurut kementerian transportasi, 670 kasus kekerasan terhadap karyawan stasiun dilaporkan pada tahun fiskal 2018, termasuk insiden di mana staf dipukul, didorong, atau diludahi secara fisik. Maka tidak mengherankan jika karyawan stasiun terkadang menggunakan bahasa yang penuh warna dalam melampiaskan rasa frustrasi mereka di Twitter. “Penumpang berusia sekitar 70-an kasar secara verbal dan berteknologi rendah. Apakah ini benar-benar orang yang berkontribusi pada pertumbuhan pascaperang Jepang?” pengguna Twitter @ monkey_56su memposting pada Januari. Pengguna Twitter @shiotaiosyuseki mengatakan ada alasan mengapa beberapa pekerja stasiun tidak sebaik yang Anda harapkan. Dia mengatakan tidak semua dari mereka kasar sejak awal, tetapi penumpang yang buruklah yang membuat berperilaku seperti itu. Sementara itu, pengguna Twitter @Sta__attendant mengatakan akibat dari upaya bunuh diri oleh seorang penumpang membuatnya sakit kepala terbesar. Bahkan banyak pelanggan yang menyalahkan atas keterlambatan tersebut padahal polisi tengah melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. “Namun, mengeluarkan kemarahan Anda pada kami seperti itu tidak membuat operasi lebih cepat lagi bahkan tidak sedetik pun,” kata @Sta_attendant. Pemilik akun @Sta_attendant mengatakan, beberapa penumpang menuduh karyawan stasiun tidak memiliki pandangan ke depan untuk memasang penghalang platform untuk mencegah upaya bunuh diri, tetapi banyak dari tragedi ini sebenarnya terjadi di persimpangan kereta api bukan di platform. Meskipun dia percaya banyak orang membenci, bukannya bersimpati dengan, orang yang meninggal. “Saya tidak bisa membayangkan membayangkan tekanan emosional yang harus mereka lalui untuk merasa harus bunuh diri dengan cara ini. Itulah yang kurasakan setiap kali aku memproses akibat dari apa yang terjadi,” tulis @Sta__attendant. Baca juga: Antisipasi Serangan dari Penumpang, Petugas Kereta di Jepang Dibekali Peralatan Anti Huru Hara Pemilik akun @Black_railway menuliskan, keluhan umum lainnya yang dikutip oleh karyawan stasiun kereta api termasuk shift kerja maraton yang dapat menahannya di sana selama 24 jam atau lebih. Jam kerja yang tidak teratur seperti itu sering mengambil korban dalam kehidupan pribadi mereka dengan mengganggu pencarian asmara mereka. “Hubungan kita tidak akan bertahan lama kecuali kita bertemu dengan mitra yang bisa mentolerir gaya kerja seperti itu. Kami telah melihat peningkatan dalam rekrutmen wanita baru-baru ini, jadi sekarang ada lebih banyak roman di tempat kerja daripada sebelumnya,” tulisnya.

Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer!

Direktur utama (Dirut) PT. Light Rail Transit (LRT) Jakarta, Wijanarko, menyindir pihak-pihak yang mengatakan bahwa LRT Jakarta terlampau pendek, yakni hanya sejauh 5,8 kilometer. Menurutnya, perusahaan yang dipimpinnya tersebut bukan hanya 5,8 kilometer, sebagaimana yang disebut banyak orang, melainkan kini sudah lebih panjang, mencapai 420 kilometer. Baca juga: Rampung Uji Publik, LRT Jakarta Siap Beroperasi Penuh Mulai 1 Desember “LRT ini tidak cuma 5,8 (kilometer) sudah 420 kilo karena nyambung dengan Transjakarta karena mereka (masyarakat) belum mencoba aja. Pasti enak kok. Murah. 8.500 sampe pelosok Jakarta. Yakin,” katanya di sela-sela acara yang bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta”, Jum’at, (14/2), di Stasiun LRT Pulomas, Jakarta. Lebih lanjut, pihaknya, melalui Arnold Kindangen, General Manager of Corporate Secretary, juga menolak bahwa LRT Jakarta dikatakan sepi. Pasalnya, belum lama ini LRT sempat mencatatkan rekor pengunjung terbanyak. Padahal, sebagaimana yang santer diberitakan, sejak mulai diberlakukan tarif normal (atau sejak periode uji coba berakhir) pada akhir tahun lalu, pengguna LRT Jakarta memang sempat anjlok. “Jadi di posisi tanggal 8 Februari kemarin kita memecahkan rekor juga selama ini dari kita komersial itu diangka 7.400. sementara kita angka tertinggi kita itu ada di bulan Januari itu diangka 5.400. tapi memang perlu disampaikan juga, kita masih rata-rata diangka 4.000. Kalau target kita itu 7.000 dari panjang trek kita yang hanya 5,8 ya,” jelasnya. Oleh karenanya, LRT Jakarta saat ini tengah melakukan berbagai program untuk menjaga tren positif tersebut (hingga 7.400 pengunjung sehari). Di antaranya seperti acara yang pada Jumat hingga dua hari ke depan diselenggarakan. Sebagaimana yang sudah disinggung di atas, dalam rangka mempererat sinergi dengan berbagai pihak, PT LRT Jakarta berkolaborasi dengan pemerintah dan swasta untuk menggelar kegiatan bersama ratusan kaum lansia, anak yatim, dan anak-anak korban banjir yang berdomisili di sekitar Stasiun LRT Jakarta. Baca juga: Stasiun Velodrome LRT Jakarta dan Halte Pemuda TransJakarta Kini Resmi Terkoneksi Acara yang bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta” ini berlangsung mulai hari Jumat, 14 Februari 2020 hingga Minggu, 16 Februari 2020 di Stasiun Pulomas, Jakarta Timur. LRT Jakarta menggandeng, Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas PPKUKM Jakarta Timur, Suku Dinas Sosial Jakarta Timur, Bank DKI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Duit HaPe, Dompet Dhuafa, Lazismu, Matahatimu.org, Muslimnesia, Enesis Group, Danone Aqua, dan Waste for Change. Direktur Utama LRT Jakarta menyampaikan, melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tercapai sebuah niat dan pesan untuk menyampaikan kebaikan dan berbagi kebahagiaan. Harapannya, melalui momen ini, energi positif yang dihasilkan dari melakukan kebaikan akan membuahkan berkah untuk kita semua dan meringankan langkah untuk bersama-sama menciptakan kota Jakarta yang lebih baik lagi, sesuai dengan visi yang sering diungkapkan pak Gubernur DKI Jakarta, Maju kotanya Bahagia Warganya. (Alpin Hardiyansah)

Dear Maskapai, Mau Kejar OTP Tinggi? Perhatikan Pengaturan Masuknya Penumpang Ke Kabin!

On Time Performance (OTP), tak bisa dipungkiri, sering kali menjadi salah satu hal yang sangat diperhatikan maskapai penerbangan. Terlebih, setiap tahunnya terdapat perhargaan khusus bagi maskapai dengan OTP terbaik oleh OAG Flightview. Sayangnya, OTP terbaik di dunia terakhir yang dicetak oleh Garuda Indonesia pada periode Juni 2018 – Mei 2019 hanya mencapai 91,6 persen. Padahal, angka tersebut masih dinilai kecil bila mampu mengatasi hal-hal sepele sebelum keberangkatan. Baca juga: ‘On Time Performance’ Tak Cuma Milik Dunia Penerbangan Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk, Selasa, (11/2), belum lama ini hasil penelitian menunjukkan bahwa hal sepele yang seringkali terlewat adalah pengkoordinasian penumpang saat hendak naik ke pesawat. Pada umumnya, maskapai membiarkan penumpang mengatur dirinya masing-masing pada momen tersebut. Bila hal itu diorganisir dengan baik, mungkin 91,6 persen adalah angka yang cukup kecil untuk menyandang rata-rata maskapai dengan OTP terbaik di dunia. Dalam sebuah penelitian yang dipimpin tim peneliti dari Norwegia menggunakan teknik geometri ruang-waktu untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mengarah pada take-off yang cepat atau penundaan yang membosankan di landasan menunjukkan, bahwa ketika penumpang yang lebih lama (semisal penumpang dengan anak-anak, lanjut usia, atau berkebutuhan khusus) didahulukan, mulai dari naik ke pesawat, mencari lokasi tempat duduk, mengatur kompartemen bagasinya, hingga kemudian duduk, hal tersebut justru mencatatkan waktu sekitar 28 persen lebih efisien dibanding dengan model percobaan lainnya. Celakanya, hal tersebutlah yang luput dari perhatian maskapai dalam mengejar OTP.
Para peneliti menghitung waktu naik berdasarkan rantai penumpang yang saling menghalangi ketika mereka mencoba untuk duduk di kursi mereka. Semakin banyak penumpang yang bisa duduk pada saat yang sama, semakin sedikit kemacetan yang menumpuk dan semakin cepat naik bisa naik. Foto: Daily Mail
Ahli statistik dari Western Norway University, Sveinung Erland, yang tergabung dalam penelitian tersebut bersama timnya, memutuskan coba untuk membuktikan cara mencapai OTP terbaik ketika naik pesawat dengan menggunakan teori apa yang disebut ‘geometri Lorentzian’. Geometri ruang-waktu ini adalah cabang matematika yang sama dengan matematika pada umumnya yang menopang teori relativitas umum Albert Einstein yang terkenal. Teorinya, tim mempertimbangkan hubungan yang diketahui antara dinamika mikroskopis dari sekumpulan partikel yang berinteraksi dan sifat berskala lebih luas yang terkait – suatu hubungan yang merupakan tema utama dalam fisika statistik. Bila diterjemahkan ke dalam konteks proses naik pesawat, mereka mempertimbangkan hubungan antara interaksi penumpang yang naik dalam barisan dan waktu menyeluruh yang diperlukan bagi setiap orang untuk duduk. “Kemampuan penumpang untuk menunda penumpang lain tergantung pada posisi antrean dan penunjukan baris mereka. Ini setara dengan hubungan sebab akibat antara dua peristiwa dalam ruang-waktu,” kata tim peneliti dalam makalah mereka. Dalam model mereka, para peneliti memperlakukan boarding sebagai proses dua bagian, dengan para penumpang menempati garis satu dimensi di lorong dan akhirnya duduk dalam matriks kursi. Pertama, penumpang bergerak menyusuri lorong sampai mereka mencapai barisan yang ditugaskan, atau untuk sementara tertahan oleh penumpang lain di depan mereka. Setelah setiap penumpang mencapai barisan mereka, model selanjutnya mempertimbangkan berapa lama mereka harus berdiri di lorong untuk menyimpan bagasi tangan mereka di kompartemen overhead dan kemudian duduk. Dengan menyatukan langkah-langkah ini, model dapat menentukan apakah masing-masing penumpang pada akhirnya akan saling menghalangi berdasarkan posisi relatif mereka dan seberapa jauh jarak alokasi kursi mereka. Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhkan untuk melengkapi penumpang duduk tergantung pada di mana masing-masing barisan berada, baris mana yang mereka tuju, dan berapa lama yang dibutuhkan seseorang untuk menyimpan bagasi mereka dan duduk.
Dengan pendekatan ini, para peneliti dapat menguji berbagai strategi naik pesawat yang mungkin dipekerjakan oleh maskapai – mulai dari membiarkan penumpang yang lebih lambat naik terlebih dahulu ke naik secara acak. Mereka sampai pada temuan bahwa sekitar 28 persen lebih efisien untuk membiarkan penumpang yang lebih lambat naik pesawat terlebih dahulu dibandingkan dengan membiarkan yang lebih cepat memulai terlebih dahulu. Foto: Daily Mail
Para peneliti menemukan bahwa antrian penumpang yang naik dapat dibayangkan sebagai serangkaian gelombang, dengan masing-masing gelombang mewakili kelompok penumpang yang semuanya dapat mengambil tempat duduk pada saat yang sama. Dengan pendekatan khusus, para peneliti dapat menguji berbagai strategi naik pesawat yang mungkin dipekerjakan oleh maskapai, yakni dimulai dari membiarkan penumpang yang lebih lambat naik terlebih dahulu untuk naik secara acak. Mereka sampai pada temuan yang tampaknya berlawanan dengan inisiatif bahwa sekitar 28 persen lebih efisien untuk membiarkan penumpang yang lebih lambat naik pesawat terlebih dahulu dibandingkan dengan membiarkan yang lebih cepat memulai terlebih dahulu. “Ini adalah hasil universal, valid untuk kombinasi parameter apa pun yang menjadi ciri masalah,” tulis tim. Baca juga: Garuda Indonesia Sabet Predikat “Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia,” Begini Cara Menghitungnya! Temuan ini sebanding dengan penelitian serupa yang dilakukan oleh fisikawan Amerika, Jason Steffen pada 2011. Kala itu, penelitian yang menggunakan teori algoritma ‘Markov chain Monte Carlo’ dan pendekatan ‘metode Steffen’ menemukan bahwa penumpang yang cenderung lebih lambat harus didahulukan. Sebaliknya, penumpang yang duduk dalam satu barisan yang sama (biasanya penumpang yang bepergian secara berkelompok) harus dipisahkan. Kemudian, penumpang yang duduk diujung pesawat harus didahulukan, berbanding terbalik dengan penumpang yang duduk pada bagian depan pesawat yang menurut penelitian tersebut harus ditunda. Meskipun demikian, hal tersebut tetap harus didukung dengan management yang apik, mulai dari penyuluhan, kerjasama awak kabin satu dengan yang lainnya, hingga meyakinkan penumpang tidak kehabisan slot kompartemen bagasi overhead jika mereka ditahan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu. Jika hal tersebut dilakukan dengan harmoni, tentu OTP 91,6 persen bisa dikatakan kecil.

Untuk Pesawat Narrow Body, ST Engineering Tawarkan Desain Toilet Baru yang Lebih Besar dan Nyaman

Singapore Technologies Engineering Ltd (ST Engineering) memperkenalkan desain terbarunya di bidang aviasi, dalam hal ini terkait desain interior pesawat, mulai dari konsep kursi kelas ekonomi penerbangan jarak jauh berbahan magnesium aloi yang diklaim mengurangi bobot kursi hingga 30 persen hingga desain toilet terbaru yang lebih besar. Inovasi desain toilet baru tersebut dipamerkan dalam ajang Singapore AirShow 2020 yang masih berlangsung hingga kini. Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com, Rabu, (12/2), VP commercial business Hean Seng Tan disela-sela gelaran Singapore AirShow 2020 mengatakan, pihaknya memang sangat mendambakan untuk menghadirkan toilet yang lebih besar bagi semua orang. Pasalnya, belakangan ini, toilet yang dihadrikan maskapai pada umumnya sudah tergolong cukup sempit dan tidak nyaman. Hal itu sangat wajar bila melihat dari sisi efisiensi tata letak dalam kabin. Namun, bila dilihat dari segi kebutuhan penumpang, toilet sempit, sekalipun tetap bisa digunakan, bukanlah sesuatu yang diharap-harapkan oleh penumpang. Justru sebaliknya, penumpang kerap kali melayangkan keluhan demi keluhan terkait toilet yang cukup sempit. Bahkan, terkadang, untuk memutar badan pun tidak bisa sehingga memaksa penumpang untuk masuk ke toilet dengan berjalan mundur, saking sempitnya.
Berangkat dari fakta tersebut, ST Engineering pun coba menciptakan produk yang disebut “Access lavatory” yakni toilet dengan dua tujuan sekaligus, pertama untuk memberikan layanan toilet yang lebih luas bagi pelanggan sekaligus (yang kedua) tetap mengakomodir maskapai yang ingin mengurangi dimensi toilet, agar dapat dimanfaatkan untuk hal lainnya. Access lavatory sendiri dinilai dapat memenuhi dua tujuan tersebut berkat inovasi dinding samping yang dapat diperpanjang hingga 33 cm, menciptakan ruang lantai 40 persen lebih banyak hingga menghadirkan kesan lebih luas. Bahkan, penumpang dengan kursi roda pun tetap bisa masuk ke dalam toilet tersebut dan berbalik badan dengan mudah. Hal tersebut tentu sangat ditunggu-tunggu oleh pelanggan. Bila sudah selesai digunakan, dinding samping toilet kemudian didorong untuk kembali ke posisi semula, sehingga membuat area pantry kembali luas serta tidak menghalangi akses keluar masuk penumpang saat waktunya tiba, mengingat, jika toilet tersebut tengah digunakan, akses keluar masuk memang akan sedikit terganggu. Ketika sudah di dalam toilet, tata letak (seperti stainless steel untuk pegangan, kaca, hingga westafel), desain, serta interiornya yang lengkap juga membuat toilet tersebut dinilai mampu menjawab keluhan-keluhan penumpang pesawat selama ini. Dengan berbagai kemudahannya dalam meningkatkan aksesibilitas penumpang pada pesawat sempit, sebagaimana usulan Departemen Perhubungan AS untuk tetap memberikan kemudahan bagi pelanggan bahkan di pesawat sempit sekalipun, Access lavatory dinilai cocok untuk pesawat narrow body seperti A320 dan Boeing 737. Baca juga: Toilet Meluap, Penumpang Pesawat Pipis di Kantong Plastik Agar produknya bisa diaplikasikan ke Airbus dan Boeing (A320 dan Boeing 737) tersebut, Access lavatory kini tengah mengejar sertifikasi EASA dan tentu saja FAA. Namun, mereka menargetkan untuk mengaplikasikan produknya di pesawat Boeing 737 terlebih dahulu, yakni pada Oktober 2020 mendatang, dibanding Airbus A320 (kuartal pertama taun 2021). Hal tersebut dikarenakan, menurut ST Engineering, pesawat buatan Boeing lebih sulit untuk dibuatkan Access lavatory ketimbang pesawat besutan Airbus. Hingga kini, pihak ST Engineering mengaku telah membuka obrolan terkait pengaplikasian Access lavatory kepada dua maskapai asal AS. Namun, perusahaan belum mau menyebut siapa yang dimaksud dua maskapai tersebut. Tak hanya itu, pihaknya juga dijadwalkan bertemu dengan beberapa maskapai dan masih akan terus membuka diri kepada maskapai lainnya untuk membuat berbagai kesepakatan di sela-sela gelaran Singapore Airshow hingga Senin mendatang.

Ikuti Diet Tak Jelas dari Google, Pria Muda Tabrakkan Diri ke Kereta di Manchester

Diet sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika berkonsultasi dengan pihak yang tepat seperti ahli gizi ataupun dokter. Dengan konsultasi ini setiap orang yang akan diet akan diberikan tahapan dan program yang jelas. Namun apa jadinya jika tidak berkonsultasi dan menganggap yang dibaca dan dilihat adalah cara yang benar untuk berdiet? Ini terjadi pada seorang pria muda bernama Will Matthews yang salah mengikuti cara diet. Baca juga: Tergeletak di Rel dan Tertabrak Kereta, Seorang Pria Bakal Didakwa Lakukan Tindakan Ilegal Karena hal tersebut kesehatan mentalnya terpengaruh dan pada 8 Oktober 2017 lalu, ketika pria berusia 22 tahun tersebut akan naik kereta dari Stocport di Greater Manchester, dia melangkah menabrakkan dirinya ke kereta yang bergerak dari Brimingham. Saat kejadian Will ditemukan meninggal ditempat kejadian dan beberapa luka terlihat ditubuhnya. Sebelum meninggal, mahasiswa Universitas Manchester Metropolitan tersebut mulai terobsesi dengan diet ketat yang hanya memakan sayur dan buah. Christopher Matthews yang merupakan ayah Will kesal dan mengatakan bahwa putranya memiliki fiksasi dengan diet ini dan menjadi lebih buruk. Matthews mengatakan, disaat yang sama kesehatan mental Will juga ikut terpengaruh. Bahkan setelah dia mengonsumsi suplemen kesehatan untuk mengimbangi tubuhnya karena tidak ada protein ataupun karbohidrat yang masuk. Tak hanya itu, Will juga mengaku dan yakni memiliki masalah dengan bagian tulang dan mulai kehilangan rambutnya. Matthews menambahkan, putranya sangat percaya semua informasi tentang diet yang didapatnya dari Google dan situs web Amerika. Bahkan hal tersebut membuat perilaku Will menjadi semakin irasional. “Dia kemudian mengatakan bahwa memiliki masalah fisik dengan tulangnya dan harus bertemu dengan dokter,” ujar Matthews yang dikutip KabarPenumpang.com dari manchestereveningnews.co.uk (10/2/2020). Melihat putranya seperti itu, Matthews kemudian memutuskan untuk membiayai konselingnya, tetapi menghentikannya karena Will tidak merespon hal tersebut. “Dia benar-benar keluar dari kenyataan, dia berada di gelembung kecilnya sendiri. Dia benar-benar kelelahan dan tidak bisa fokus. Dia terus mengatakan pada banyak kesempatan dia akan mati dan bahwa penyakitnya memakannya secara fisik dan mental. Dia sesekali berkata kepadaku, ‘Aku sudah cukup, aku ingin mengakhiri sesuatu’, tetapi ini adalah komentar singkat, dia tidak mengatakan bagaimana atau kapan,” ujarnya. Ibu Will, Sylvia Duncan mengatakan di persidangan bahwa dia sebelumnya menjadi pescatarian. Duncan mengatakan dia telah membaca saran diet di internet yang menyuruhnya untuk menurunkan berat badan sedikit lebih dulu. “Saya mencoba mengatakan bahwa itu tidak masuk akal tetapi dia bersikeras bahwa mereka tahu apa yang mereka bicarakan. Saya pikir dia mengakses informasi yang salah dari Google yang mengirimnya ke arah yang salah,” kata Duncan. Sebelum bunuh diri, Will diketahui sempat mendapat perawatan di Norbury di Stepping Hill Hospital pada September 2017 setelah kekhawatiran lebih lanjut tentang kondisi mentalnya. Leanne Callan dari Kepolisian Transportasi Inggris mengatakan, petugas menghampiri bangsal di Stepping Hill dan menghidupkan laptop serta mengirimkannya ke unit kejahatan teknologi tinggi di London. Baca juga: Ditemukan Tewas di Dekat Jalur Kereta Api, Ternyata Pemuda India Ini Hilang Sejak Sabtu “Saya sadar keluarga memang memiliki kekhawatiran mengenai akses ke situs web dan web gelap dan hal-hal seperti itu. Unit interogasi diminta untuk memeriksa apakah William telah mengakses materi web yang gelap tetapi tidak ada penggunaan web yang gelap tersebut. Mereka dapat mengakses sejumlah dokumen kata. Ada tiga dokumen yang menarik, satu disebut “catatan akhir”, satu disebut “catatan bunuh diri” dan yang ketiga disebut “jalan”. “Dari bukti di CCTV dan pernyataan pengemudi kereta, kami percaya bahwa Will dengan sengaja memasuki rel sendiri, tidak ada keterlibatan pihak ketiga, dan sengaja menempatkan dirinya di depan kereta,” ujar Callan.

Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Terpuruknya Boeing akibat sederet masalah yang terkait dengan 737 MAX, membuat manufaktur asal Eropa, Airbus, berada di atas angin. Sejumlah pengamat menyebut, kondisi ini membuat apapun yang dilakukan Airbus saat ini (dalam keadaan Boeing yang sedang terpuruk) akan senantiasa mengantarkan mereka berada selalu di depan. Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce Terbukti, dalam urusan pengiriman pesawat pada 2019 lalu dan pesanan pesawat pada 2020 mendatang, Airbus memang unggul dan mencatatkan rekor pengiriman pesawat internalnya. Namun nyatanya, tidak demikian dalam urusan produksi pesawat. Dikutip KabarPenumpang.com dari nytimes.com, Jumat, (14/2), kepala eksekutif Airbus, Guillaume Faury, melaporkan, tahun lalu pihaknya memang berhasil memecahkan rekor, yakni berhasil mengirimkan 863 pesawat komersial, naik dari tahun sebelumnya sebesar 800. Selain itu, pesanan juga meningkat dari semula 747 menjadi 768 pesawat di tahun 2020 mendatang. Hal tersebut kemudian didukung dengan pangsa pasar pesawat narrow body Airbus yang kini semakin bergairah dengan meningkatkan kepemilikannya di A220, sebuah jet yang dikembangkan bersama oleh Bombardier, pabrikan pesawat asal Kanada. Meski demikian, Guillaume Faury menyebut, dalam urusan produksi pesawat, pihaknya belum bisa menyalip Boeing, khususnya dalam jangka pendek. Hal itu disebabkan banyak faktor yang erat kaitannya dengan sebuah ekosistem bisnis. Singkatnya, mulai dari hulu hingga hilir; yang notabene banyak melibatkan pihak lain, seperti penyediaan bahan baku, kapasitas produksi, pengiriman bahan baku, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, hingga barang jadi ke mitra kerja Airbus, baik internal maupun eksternal, yang tersebar di 11 negara, seperti Wales, Spanyol, Perancis, Jerman, hingga Cina. “Ini mungkin terlihat seperti sebuah paradoks, tetapi dalam jangka pendek, kami tidak mendapatkan manfaat dari situasi dengan pesaing kami,” kata Faury, dalam pidatonya pada hari Kamis, di sebuah konferensi pers terkait laporan keuangan perusahaan pada 2019 lalu, di Kota Toulouse, Perancis. Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Airbus adalah mengirim pesanan pesawat ke pelanggan, yang sangat terpengaruh dengan kemampuan perusahaan dalam memproduksi pesawat secepat mungkin. Oleh karenanya, pihaknya berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi A320NEO, jet lorong tunggal terlaris sekaligus alternatif pelarian dari 737 MAX, menjadi sekitar 67 unit sebulan di tahun 2023, naik dari target 63 sebulan di tahun 2021. Namun, hal tersebut kini mendapat penolakan dari para pemasok. Belum jelas apa dasar penolakannya. Akan tetapi, kedigdayaan Airbus dalam menyaingi Boeing sebagai pesaing utama merebut status raksasa dirgantara nomor satu dunia, diperkirakan akan mulai memudar saat Boeing 737 MAX mulai kembali mengudara. Pimpinan Federal Aviation Administration (FAA) sendiri pekan lalu melaporkan bahwa uji terbang 737 MAX akan diadakan dalam waktu dekat. Bila lulus, maka, pesawat tersebut akan dapat kembali mengudara musim panas mendatang atau sekitar pertengahan tahun 2020. Ketika 737 MAX sudah kembali mengudara, hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi Airbus. Bukan karena pangsa pasar mereka akan kembali tertekan karena kuallitas 737 MAX, melainkan perang diskon yang terjadi. Di awal kemunculannya kembali, Boeing memang diprediksi akan memberikan diskon menarik untuk merebut kembali kepercayaan maskapai pada 737 MAX. Jika itu terjadi, Airbus mau tak mau juga harus mengikuti langkah Boeing untuk memberikan diskon menarik, agar pangsa pasar tidak sepenuhnya lepas ke tangan Boeing. Tentu hal tersebut akan menjadi petaka bagi kedua pihak bila tidak diimbangi dengan strategi penjualan lainnya, terlebih Airbus yang tengah mengalami kerugian besar tahun lalu. Baca juga: Diduga Terima ‘Cashback’ dari Airbus, Tony Fernandes Mundur 2 Bulan dari AirAsia Dalam acara jumpa pers laporan keuangan kemarin, Guillaume Faury, kepala eksekutif Airbus, juga melaporkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya mengalami kerugian besar. Padahal sebelumya, ia justru mengabarkan bahwa Airbus berhasil mencetak rekor pengiriman dan lonjakan pesanan pesawat. “Airbus melaporkan kerugian keseluruhan 1,36 miliar euro, atau US$1,48 miliar untuk 2019. Alasan utama kerugian itu adalah kesepakatan untuk membayar denda US$4 miliar ke Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat untuk menyelesaikan skandal korupsi,” ujarnya.

Dulu Kirim Kilatan, Kini Alien Makin Agresif Kirim Sinyal Misterius ke Bumi

Sejak pertama kali dideteksi pada 2007 di bagian langit tertentu dan memancarkan banyak kilatan ke bumi, pesan dari peradaban lain di luar bumi secara bertahap terus menerus muncul. Tahun 2015 lalu, sebuah lonjakan sinyal radio yang berasal dari sebuah bintang mirip Matahari telah menarik perhatian sejumlah astronom. Sinyal tersebut diduga berasal dari sebuah bintang bernama HD 164595 yang terletak di konstelasi Hercules, sekitar 95 tahun cahaya dari Bumi. Baca juga: Masih Misterius, Penyidik Perancis Curigai Adanya Peran Entitas Ketiga di Insiden Hilangnya MH370 Kal itu, para ilmuwan memperkirakan, sinyal tersebut merupakan hasil dari fenomena alam seperti microlensing, di mana gravitasi bintang menjadi lebih kuat dan memfokuskan sinyal di tempat lain. Namun, mereka belum dapat memastikan dari mana asal-muasal sinyal tersebut. Lebih lanjut, para astronom juga telah meminta SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) untuk melihat lebih dekat apakah sinyal radio itu merupakan pesan dari makhluk ekstraterestrial. Belum juga selesai menjawab persoalan tersebut, sinyal misterius atau biasa juga disebut fast radio bursts (FRB) kembali terdeteksi. Tercatat hingga 2019 lalu, sinyal aneh yang berjarak hingga miliaran tahun cahaya tersebut, sudah mencapai 52 sumber FRB. Lagi-lagi, belum pecah misteri tersebut, baru-baru ini ilmuan kembali menerima sinyal misterius dari luar bumi. Berbeda dari sebelumnya, ilmuan kali ini menerima sinyal yang lebih masif, setiap empat hingga 12 hari. Dikutip KabarPenumpang.com dari sciencealert.com, Jumat, (14/2), salah satu ciri khas sinyal misterius sebetulnya secara model mereka tidak dapat diprediksi. Mereka (sinyal tersebut) bersendawa melintasi kosmos tanpa sajak atau alasan, tanpa pola yang jelas, membuat ilmuan kesulitan mempelajari apa pesan, maskud, serta dari mana sinyal tersebut berasal. Ilmuan dari Canadian Hydrogen Intensity Mapping Expreiment (CHIME) FBRs hanya menemukan bahwa adanya pola detak ledakan yang terjadi setiap 16 hari. Selama empat hari, sinyal akan melepaskan satu atau dua detakan setiap jam, kemudian akan kembali hening selama 12 hari. Meski demikian, sekalipun polanya sulit dipelajari, ilmuan menduga sebuah sinyal radio misterius yang disebut berdetak berulang-ulang seperti jarum jam, berasal dari galaksi yang berjarak 500 juta tahun cahaya. Pengamatan yang dikenal dengan FRBs 1890916.J0158+65 itu diamati pada 16 September 2018 hingga 30 Oktober 2019. Detak ledakan yang dikelompokkan menjadi periode empat hari ini menggunakan teleskop radio CHIME di British Columbia. Belum ada ilmuwan yang berhasil memecahkan misteri sinyal dari luar angkasa tersebut. Tahun lalu, CHIME mendeteksi adanya delapan detakan sinyal radio cepat yang berulang. “Penemuan perioditas 16 hari dalam FRBs berulang ini merupakan petunjuk penting dari sifat ledakan sinyal radio dari luar angkasa,” tulis studi yang diterbitkan dalam server preprint arXiv tersebut. Meskipun secara periode berbeda dengan sinyal sebelum-sebelumnya, FRB 180916.J0158 + 65 diduga memiliki kesamaan dengan FRB lainnya. Dengan begitu, dapat dikatakan sebetulnya FRB berulang pada satu siklus yang sama, hanya saja, teknologi saat ini belum dapat mendukung riset ilmiah untuk mengungkap hal tersebut. Peneliti lain yang masih menerka-nerka sumber sinyal misterius luar angkasa tersebut mengatakan itu merupakan sistem bintang biner tipe OB berisi bintang masif dan inti bintang super padat bernama bintang neutron. Ada lagi studi yang menyebut bahwa bintang neutron terkecil di alam semesta yang merupakan sisa-sisa supernova akan memancarkan ledakan atau sinyal radio, tapi sinyalnya akan disamarkan angin secara berkala. Terlepas dari semua hal tersebut, faktanya, teknologi yang ada saat ini memang belum memungkinkan untuk mendeteksi apa maskud dari pesan tersebut. Layaknya sandi-sandi yang dikirim dari sebuah instansi satu ke yang lainnya, sinyal tersebut bisa saja berupa sandi yang karena keterbatasan teknologi atau perbedaan peradaban dengan sang pengirim sinyal, membuat komunikasi yang coba dibangun oleh makhluk luar angkasa (sebut saja Alien) hingga kini belum membuahkan hasil. Baca juga: Lakukan Pendaratan Darurat, Penumpang Southwest Airlines Dibuat Bingung dengan Sosok Misterius di Sayap Para ilmuan dunia sendiri sebetulnya sudah coba mengirim kembali pesan dari bumi ke lokasi yang diduga sebagai tempat pengirim berada. Namun, lagi-lagi, keterbatasan teknologi membuat sinyal yang dikirim balik dari bumi baru akan sampai setelah sekitar 500 juta tahun mendatang. Tentu saja peradaban sudah berganti dan mungkin saja sinyal yang dikirimkan akan lebih sulit dideteksi. Sebagaimana yang telah umum diketahui, dalam sebuah jagat raya ini, terdapat miliaran galaksi yang bernaung di rumah besar yang kalau dalam literatur Islam disebut Arsy. Dalam sebuah galaksi, terdapat miliaran pula benda-benda langit yang salah satunya bumi. Terkait sinyal misterius, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, sangat mungkin galaksi lain yang mempunyai kehidupan layaknya bumi tempat kita bernaung, coba membangun komunikasi lintas galaksi.

Pemerintah Dorong Pemberian Insentif kepada Maskapai Akibat Virus Corona, Pertanda Industri Penerbangan Lampu Kuning?

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan berjanji akan memberikan insentif kepada maskapai tanah air sebagai respon dari turunnya pendapatan (potential loss) akibat distopnya penerbangan dari dan ke Cina hingga waktu yang belum ditentukan. Selain memberikan insentif, pemerintah juga mendorong untuk pihak lainnya untuk sama-sama memberikan insentif di bidang lainnya. Hal tersebut guna mendukung iklim pariwisata dalam negeri yang tak bisa dipungkiri juga berdampak langsung ke maskapai. Baca juga: Penutupan Rute dari dan ke Seluruh Cina Daratan, Berpotensi Hanguskan Triliunan Rupiah “Contoh insentif dari pemerintah kepada maskapai misalnya, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) akan kita kurangi, kemudian API dan AP II mengurangi landing fee, diskon sewa ruangan, dan sebagainya. Jadi Pemerintah, operator bandara, maskapai, hotel harus sama-sama memberikan insentif. Tidak mungkin pemerintah melakukan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menggenjot sektor pariwisata. Supaya orang tetap punya keinginan untuk berlibur,” ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dalam keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com, Kamis, (13/2). Dengan diberikannya insentif kepada maskapai, tentu saja hal tersebut adalah berita baik untuk dunia penerbangan dalam negeri. Namun, bila melihat dari sudut lain, kabar tersebut justru bisa saja menandakan maskapai dalam negeri tengah dalam kondisi yang terseok-seok atau bisa dikatakan tengah masuk periode lampu kuning. Sebagaimana sudah banyak diinformasikan, di Indonesia sendiri, saat ini tercatat lima maskapai nasional yang mengoperasikan penerbangan ke Cina, yakni Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Garuda Indo sendiri, memiliki penerbangan dari dan menuju Cina ke lima kota, meliputi Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou dan Xi’an. Setiap pekannya, maskapai pelat merah itu melayani sebanyak 30 penerbangan. Sementara itu, Lion Air, tercatat memiliki 15 rute ke Cina, meliputi Xi’an, Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou, hingga Wuhan. Berbeda dengan Garuda Indonesia, Lion Air memiliki frekuensi yang lebih banyak, sekitar 45 penerbangan dari 15 rute tersebut setiap pekannya. Bila diambil rata-rata 30 penerbangan dalam sepekan, plus rata-rata okupansi 80 persen serta dikalikan lima maskapai, maka total potensi kerugian maskapai-maskapai tersebut mencapai Rp120 miliar per pekan. Bila penundaan rute dari dan ke Cina berlangsung selama sebulan, maka total potensi kerugian yang dihasilkan kelima maskapai tersebut mencapai Rp2,4 triliun. Angka yang cukup fantastis, mengingat kondisi penerbangan dalam negeri yang tengah lesu, ditandai dengan anjloknya jumlah penumpang pesawat udara tahun 2019 lalu. Menteri Perhubungan sendiri, dalam pertemuan bersama MenParekraf, AP1, AP2 dan seluruh airlines yang beroperasi di Indonesia, menyebut potential lost yang dialami oleh maskapai berkisar di kisaran 30 persen. Namun ia belum dapat memastikan berapa tepatnya jumlah potential lost tersebut. “Kita memang belum bisa memastikan kerugiannya sendiri, yang punya masalah itu rata-rata adalah yang berhubungan dengan mainland China dan Singapura. Yang lainnya sebenarnya relatif masih baik. Tetapi karena penerbangan ini juga ada sebagian ke Tiongkok kira-kira 30 persen, jadi berkurang rata-rata 30 persen,” terangnya. Untuk menutupi potensial lost tersebut, pihaknya mengaku telah telah berdiskusi dengan maskapai, dengan memikirkan peluang-peluang apa yang mungkin dilakukan. “Untuk opportunity, yang paling masif itu di Asia Barat seperti India, Pakistan, Bangladesh. karena memang beberapa saat sebelum kejadian ini, para duta besar itu bertemu saya untuk dapat connecting flight. Oleh karenanya saya minta kepada Garuda, Batik, Lion, Air Asia untuk mencari konektivitas ke Asia Barat, paling lambat bulan Mei ini untuk buka rute baru, karena perencanaan itu tidak bisa langsung seketika,” pungkas Menhub. Baca juga: Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong Sementara itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan insentif ini adalah untuk semua. Menurutnya dalam menyikapi hal ini harus dipikirkan secara komprehensif supaya dapat bertahan dalam tantangan menghadapi virus Corona ini, bukan hanya maskapai, tapi juga hotel dan sebagainya. “Jadi kita mencoba kali ini untuk mendengarkan pemikiran dari maskapai dan kita juga sudah melakukan pembicaraan dengan PHRI dan sebagainya yang terkait dengan pariwisata secara keseluruhan. Jadi saya pikir ini adalah usaha kita untuk bagaimana dapat menghadapi tantangan virus Corona ini, tidak mudah tetapi kita harus lakukan yang terbaik. Untuk kerugian ini masih berjalan, kita tidak tahu karena virus Corona belum berhenti. Sebagai gambaran dalam setahun Tiongkok menyumbang 2 juta wisatawan dengan total devisa USD 2,8 milyar,” tuturnya.