Kurang dari 5 Jam, British Airways Catatkan Rekor Penerbangan Trans-Atlantik Tercepat di Dunia dengan Boeing 747
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, sebuah pesawat penumpang komersial berhasil terbang melintasi Atlantik dalam waktu kurang dari lima jam. Belum lama ini, sebuah penerbangan British Airways mendarat mulus Minggu pagi, pukul 4.43 waktu setempat, di Bandara Heathrow (LHR), London, setelah meninggalkan Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York hanya empat jam dan 56 menit, hampir dua jam lebih cepat dari jadwal semula, yakni pukul 6.25 pagi.
Baca juga: Norwegian Airlines Bebaskan Awak Kabin untuk Berdandan Seadanya
Dikutip dari laman cnbc.com, Kamis, (13/2), menurut catatan Flightradar24, lembaga yang melacak penerbangan global, dengan waktu tempuh tersebut, British Airways berhasil mengunci rekor kecepatan baru untuk pesawat komersial subsonik – atau lebih lambat daripada kecepatan suara – untuk terbang di antara kedua kota tersebut. Rekor sebelumnya dipegang oleh penerbangan Norwegian Air, yang terbang antara kedua kota dengan waktu penerbangan lima jam dan 13 menit.
Keberhasilan Bristish Airways dalam mencatatakan rekor penerbangan trans-atlantik tercepat di dunia tentu sangat spesial. Selain tidak mengharapkan atau berniat mengejar rekor tersebut, pada penerbangan sebelumnya, rata-rata waktu tempuh memang jauh lebih daripada itu. Terlebih, kala itu, di saat yang hampir bersamaan, penerbangan Virgin Atlantic juga berhasil mendarat mulus di Bandara LHR. Hanya saja, maskapai asal Britania Raya tersebut terpaut waktu satu menit lebih lambat dari penerbangan British Airways.
Seperti dilihat KabarPenumpang.com dari situs flightradar24, Kamis, (13/2), sejak tanggal 5 Februari – 11 Februari 2020, penerbangan JFK – LHR umumnya mencatatkan waktu lebih dari enam jam, adapun yang sejak tanggal tersebut (kecuali penerbangan tanggal 8 Februari yang mencatatkan rekor) penerbangan tercepat tercatat pada tanggal 5 Februari, dengan waktu tempuh enam jam 10 menit.
Menanggapi rekor penerbangan tercepat trans-atlantik tersebut, Direktur Komunikasi Flightradar24, Ian Petchenik, mengungkapkan, rekor penerbangan itu terjadi karena didukung beberapa faktor alam. Hal tersebut sangat jarang dan hampir sulit ditemukan dalam setiap penerbangan.
Baca juga: Tanpa Tiket dan Dokumen, Bocah 13 Tahun ‘Sukses’ Terbang dengan British Airways
“Angin dan arus udara ideal untuk penerbangan cepat. Di musim dingin, aliran jet turun sedikit. Ini semacam tempat yang sempurna untuk penerbangan melintasi Atlantik Utara untuk memanfaatkannya,” ungkapnya.
Meskipun berhasil memecahkan rekor waktu tercepat sebelumnya, pihak British Airways sendiri menyebut, keberhasilan dengan nomor penerbangan BA112 yang menggunakan pesawat Boeing 747 tersebut, pihaknya tetap memprioritaskan keselamatan di atas kecepatan.
Akibat Miskomunikasi dengan Pengemudi, Penumpang GrabCar Tekan ‘Tombol Darurat’
Baru-baru ini, seorang wanita menekan tombol darurat yang ada pada layanan ride hailing GrabCar. Wanita tersebut menekan tombol darurat untuk membebaskan diri dari situasi yang sulit, karena dia berpikir akan diculik padahal ternyata pengemudi memasukkan alamat langsung ke BSD bukan ke Dharmawangsa terlebih dahulu.
Baca juga: GoJek Punya Fitur “Panic Button” yang Tersambung ke Unit Darurat
Bahkan hal tersebut viral di media sosial selama akhir pekan. Tombol tersebut sebenarnya fitur yang disediakan aplikasi untuk melindungi pengemudi maupun penumpang. Penekanan tombol ini terjadi ketika wanita itu menggunakan layanan GrabCar untuk pergi ke kedua tempat berbeda. Perempuan bernama Tian itu mengaku perjalanan pertama adalah ke kantornya di Dharmawangsa, Jakarta Selatan untuk menjemput temannya.
Kemudian ke pameran pernikahan di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Sayangnya mobil tersebut tidak mengikuti arahannya ke tujuan pertama di Dharmawangsa. Mobil itu ke rute berbeda dan pengemudi mengaku diarahkan ke jalur tersebut oleh aplikasi navigasi. Selama perjalanan, dia tiba-tiba mendengar suara apa yang dia pikir sebagai walkie talkie yang datang dari kursi pengemudi.
“Saya merasa tidak enak ketika mendengarnya. Pengemudi itu berulang kali menatap saya di kursi belakang sementara saya berusaha untuk tidak panik,” tulisnya di Instagram.
Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (10/2/2020), dia mengatakan mobil tiba-tiba berbelok ke jalan tol dan semakin jauh dari tujuan pertama. Dia mencoba memberi tahu pengemudi untuk kembali ke jalan yang benar sambil mencoba menghubungi pacarnya.
“Sopir terus membisikkan sesuatu dan mengatakan semacam kode, saya tidak tahu kepada siapa dia berbisik,” lanjutnya.
Tian mengatakan pengemudi tiba-tiba mengubah kecepatan, mungkin dalam upaya untuk membuatnya menjatuhkan ponselnya.
“Tapi kemudian saya ingat ada tombol darurat di aplikasi Grab, jadi saya menekannya dan terhubung ke call center,” tulisnya.
Saat menekan tombol darurat, dirinya menjelaskan pada operator situasinya saat itu. Kemudian pengemudi mulai melaju kencang dan berkata dengan keras dia menuju ke arah yang benar.
“Saya bertanya apakah mereka dapat melacak lokasi saya dan operator memberi tahu saya bahwa gugus tugas Grab sedang dalam perjalanan ke lokasi saya. Pengemudi mulai panik dan dia menurunkan saya di jalan tol, ”tulisnya.
Ketika diturunkan, operator mengatakan dirinya akan dijemput oleh petugas Grab, yang kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi dengan dia. Grab menyediakan fitur “Bantuan Darurat” di aplikasi sehingga pengguna dapat menghubungi pusat panggilan dan tim darurat jika penumpang atau pengemudi merasa bahwa mereka dalam bahaya. Fitur ini juga menginformasikan kontak darurat yang ditetapkan pengguna saat digunakan.
Baca juga: Komnas Perempuan Gandeng Grab Indonesia Tangani Kekerasan Perempuan di Transportasi Online
Manajer humas Grab Indonesia Andre Sebastian mengatakan bahwa dia berharap pos viral akan meningkatkan kesadaran pengguna Grab akan fitur darurat aplikasi. Saingan Grab, aplikasi Gojek juga menyediakan fitur serupa yang disebut “Tombol Darurat” untuk menghubungkan pengguna yang merasa terancam selama perjalanan ke hotline daruratnya.
“Saya merasa tidak enak ketika mendengarnya. Pengemudi itu berulang kali menatap saya di kursi belakang sementara saya berusaha untuk tidak panik,” tulisnya di Instagram.
Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (10/2/2020), dia mengatakan mobil tiba-tiba berbelok ke jalan tol dan semakin jauh dari tujuan pertama. Dia mencoba memberi tahu pengemudi untuk kembali ke jalan yang benar sambil mencoba menghubungi pacarnya.
“Sopir terus membisikkan sesuatu dan mengatakan semacam kode, saya tidak tahu kepada siapa dia berbisik,” lanjutnya.
Tian mengatakan pengemudi tiba-tiba mengubah kecepatan, mungkin dalam upaya untuk membuatnya menjatuhkan ponselnya.
“Tapi kemudian saya ingat ada tombol darurat di aplikasi Grab, jadi saya menekannya dan terhubung ke call center,” tulisnya.
Saat menekan tombol darurat, dirinya menjelaskan pada operator situasinya saat itu. Kemudian pengemudi mulai melaju kencang dan berkata dengan keras dia menuju ke arah yang benar.
“Saya bertanya apakah mereka dapat melacak lokasi saya dan operator memberi tahu saya bahwa gugus tugas Grab sedang dalam perjalanan ke lokasi saya. Pengemudi mulai panik dan dia menurunkan saya di jalan tol, ”tulisnya.
Ketika diturunkan, operator mengatakan dirinya akan dijemput oleh petugas Grab, yang kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi dengan dia. Grab menyediakan fitur “Bantuan Darurat” di aplikasi sehingga pengguna dapat menghubungi pusat panggilan dan tim darurat jika penumpang atau pengemudi merasa bahwa mereka dalam bahaya. Fitur ini juga menginformasikan kontak darurat yang ditetapkan pengguna saat digunakan.
Baca juga: Komnas Perempuan Gandeng Grab Indonesia Tangani Kekerasan Perempuan di Transportasi Online
Manajer humas Grab Indonesia Andre Sebastian mengatakan bahwa dia berharap pos viral akan meningkatkan kesadaran pengguna Grab akan fitur darurat aplikasi. Saingan Grab, aplikasi Gojek juga menyediakan fitur serupa yang disebut “Tombol Darurat” untuk menghubungkan pengguna yang merasa terancam selama perjalanan ke hotline daruratnya. Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung
Transportasi dunia bertanggung jawab atas sekitar seperempat emisi global dan ini tumbuh lebih cepat dibanding dengan sektor lainnya. Karena hal ini, teknologi baru hadir, salah satunya bus listrik yang akan membantu mengurangi emisi. Kehadiran bus listrik bisa lebih baik, sebab hanya memiliki sedikit getaran, suara dan nol asap knalpot.
Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya
Bahkan dalam jangka panjang, bus listrik memiliki biaya operasional yang lebih rendah. Hal ini karena bus listrik punya mesin efisien yang lebih mudah untuk di rawat. Kehadiran bus listrik ini membuat penjualan global meningkat 32 persen pada 2018 lalu.
“Anda melihat ke arah elektrifikasi mobil, truk itu adalah bus yang memimpin revolusi ini,” kata David Warren, direktur transportasi berkelanjutan di pabrik bus New Flyer.
Saat ini sekitar 17 persen atau sebanyak 425 ribu bus yang ada di dunia sudah berganti dengan listrik dan 99 persennya ada di Cina. Amerika Serikat sendiri di beberapa kotanya sudah membeli beberapa bus listrik, seperti di California mengamanatkan bahwa tahun 2029 semua bus angkutan massal akan bebas emisi.
KabarPenumpang.com melansir wired.com, Becky Collins, manajer inisiatif perusahaan di Southeastern Pennsylvania Transportation Authority mengatakan, pihaknya ingin responsif dan menjadi inovatif dengan menguji coba teknologi baru serta berkomitmen sebagai agen perubahan.
“Tetapi jika bus diesel adalah ponsel mobil generasi pertama, kami sedang melakukan verifikasi di wilayah smartphone sekarang. Ini tidak sesederhana hanya membalik saklar,” kata dia.
Becky mengatakan, salah satu alasan terkait keraguan kendaraan listrik adalah masih banyak hal yang belum bisa dilakukan. Salah satunya seperti saat tes di daerah Belo Horizonte, Brasil yang mana bus listrik kesulitan melewati bukit curam dengan muatan penuh. Bahkan di Albuquerque, New Mexico, membatalkan kesepakatan 15-bus dengan BYD pabrikan Cina setelah menemukan masalah peralatan selama pengujian.
Bus yang diuji coba selain itu sudah bisa menempuh 225 mil per charger dan hal ini tergantung pada kondisi topografi serta cuaca dan berarti bus harus kembali sekitar satu kali sehari pada rute yang lebih pendek di kota padat. Ini juga menjadi masalah di banyak tempat. Bahkan ketika berbicara bus listrik bukan hanya masalah armada saja, tetapi keseluruhan sistem yang akan digunakan. Sebab, armada bus listrik bisa dikatakan hanya sebuah awalan saja.
“Kami berbicara dengan banyak organisasi berbeda yang begitu terpaku pada kendaraan,” kata Camron Gorguinpour, manajer senior global untuk kendaraan listrik di World Resources Institute.
Seperti stasiun pengisian listrik dan dana yang harus dikucurkan untuk membuat depot standar yakni sekitar US$50 ribu. Camron mengatakan, dana segitu pun juga belum termasuk dengan biaya konstruksi pembangunan depot. Bisa dikatakan, infrastruktur bus listrik baru berarti memikirkan kembali ruang terbatas dan itu akan sangat memberatkan ketika agen-agen beralih dari diesel ke bus listrik.
“Masalah besarnya adalah mempertahankan dua set infrastruktur pengisian bahan bakar,” kata Hanjiro Ambrose, seorang mahasiswa doktoral di UC Davis yang mempelajari teknologi dan kebijakan transportasi.
Warren mengatakan, yang harus dipikirkan saat ini adalah memperkirakan perlu listrik 150 megawatt-jam untuk membuat depot 300 bus terisi penuh sepanjang hari. Itu banyak pekerjaan oleh perusahaan utilitas,” kata Warren.
Untuk kota-kota di luar Cina, banyak dari mereka masih menguji bus listrik dan mencari tahu bagaimana mereka masuk ke dalam armada mereka yang lebih besar dan belajar tentang apa yang diperlukan untuk menjalankan satu adalah bagian dari proses. Ini, tentu saja, membutuhkan uang dan waktu.
Baca juga: Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda
Saat ini, diproyeksikan bahwa hanya di bawah 60 persen dari semua armada bus diesel yang akan menjadi bus listrik pada 2040, dibandingkan dengan di bawah 40 persen dari van komersial dan 30 persen dari kendaraan penumpang. Yang berarti, tentu saja, bahwa pekerjaan baru saja dimulai.
Diterjang Corona dan ‘Ditinggalkan’ Pelancong Asal Cina, Sektor Pariwisata Singapura Mulai Goyang
Cina menjadi penyumbang pelancong ke Singapura dengan presentase sebanyak 20 persen dan menjadi yang terbesar dibandingkan dengan Indonesia ataupun India. Karena masalah virus corona, kini larangan pelancong Cina datang ke Singapura telah menyebabkan “penguapan” pada sumber pendapatan di negara pulau tersebut.
Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi
KabarPenumpang.com melansir laman bloomberg.com (11/2/2020), Kepala Eksekutif Singapore Tourism Board, Keith Tan mengatakan, saat ini Singapura kehilangan 18 hingga 20 ribu pelancong sehari dan angka tersebut masih bisa lebih menurun jika situasi seperti ini terus bertahan lama.
“Seruan utama yang saya dengar adalah ‘tolong’ sekarang dari seluruh industri pariwisata. Ada banyak bukti anekdotal bisnis mengering, tapi itu tidak mengherankan mengingat berapa banyak kontribusi Cina untuk kedatangan pengunjung kami,” kata Keith.
Dia mengatakan, STB punya lebih dari 1600 pemandu wisata yang memandu dalam bahasa Mandarin. Keith menjelaskan, memandu adalah mata pencaharian dan menguap karena banyak dari mereka yang merupakan pekerja lepas.
Karena penyebaran virus corona ini, Keith menambahkan, tak hanya pelancong dari Cina, tetapi dari negara lain juga menunda kujungan mereka ke Singapura atau ke wilayah Asia lainnya. Dia menyebutkan, Korea Selatan dan Kuwait telah menyarankan warga mereka untuk meminimalkan atau menunda perjalanan ke Singapura.
Sebenarnya Singapura bukan satu-satunya negara yang terkena dampak dari virus corona. Sebab di seluruh dunia, hotel, kasino, maskapai penerbangan dan peritel yang mengandalkan pelancong asal Cina juga terkena dampaknya.
Diketahui, sekitar 163 juta pelancong Cina melakukan perjalanan ke luar negeri tahun 2018 dan menyumbang lebih dari 30 persen pengeluaran perjalanan di seluruh dunia. Sayangnya untuk proyeksi tahun 2020, negara yang terdampak akan kehilangan pendapatan mereka.
Padahal tahun 2019, Singapura sendiri kedatangan 19,1 juta pelancong Cina. Pendapatan pariwisata juga naik menjadi S$21,7 miliar tahun 2019 berdasarkan perkiraan awal dari S$26,9 miliar pada tahun sebelumnya.
Dalam laporan minggu lalu, DBS Group Holding Ltd. mengatakan pihaknya melihat penurunan satu juta penumpang pelancong sama dengan sekitar S$1 miliar dalam pengeluaran. Kedatangan pelancong yang menurun juga memotong sekitar 0,5 persen dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) setahun penuh.
Baca juga: Militer Jepang Siapkan Kapal Ferry untuk Karantina Masyarakat Terinfeksi Virus Corona
Charles Tan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Nasional Agen Perjalanan Singapura mengatakan, langkah-langkah pemotongan biaya telah diberlakukan oleh sektor perhotelan Singapura, seperti meminta beberapa pekerja untuk meninggalkan atau pergi bekerja selama empat hari seminggu. Badan Pariwisata Singapura juga akan membentuk Satgas Aksi Pemulihan Pariwisata, yang terdiri dari para pemimpin pariwisata dari sektor publik dan swasta untuk membantu upaya pemulihan. Itu mirip dengan tindakan yang diambil selama SARS, ketika kedatangan wisatawan menurun 18 sampai 19 persen.
Buat Toilet “Eksklusif,” Pramugari KLM Dituduh Rasis Terkait Virus Corona
Penerbangan KLM Airlines rute Amsterdam, Belanda ke Seoul, Korea Selatan belum lama ini viral di media sosial Twitter. Hal tersebut disebabkan oleh pramugari mereka yang secara sengaja dan tanpa alasan yang jelas menulis sebuah pesan (hanya dalam bahasa Korea) berisi informasi adanya toilet khusus bagi awak kabin.
Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat
Seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com, Kamis, (13/2), insiden bermula ketika seorang penumpang tak sengaja melihat tanda tersebut. Penumpang, yang mengerti bahasa Korea, akhirnya mengambil gambar informasi yang ditulis di selembar kertas tersebut sebelum akhirnya kembali ke tempat duduknya.
Pramugari yang melihat adanya salah satu penumpang yang mengambil gambar tanpa izin, menghampirinya dan menanyakan maksud serta tujuan mengambil gambar tersebut. Dengan santai, penumpang tadi hanya menanyakan balik perihal peraturan yang menyebutkan penumpang tidak boleh mengambil gambar di dalam pesawat.
Pramugari yang mulai tersulut emosi, kemudian mengambil daftar hal-hal yang tak boleh dilanggar penumpang selama di dalam kabin. Hasilnya, penumpang hanya tidak dipebolehkan untuk mengambil gambar penumpang lain dan pramugari tanpa seizin yang bersangkutan. Adapun mengambil gambar toilet, tidak diatur dalam peraturan tersebut. Pramugari yang mulai merasa tersudut kemudian merespon balik. Sebaliknya, penumpang yang merasa dikecewakan akibat toilet eksklusif tersebut juga tak mau kalah. Adu mulut pun tak terhindarkan.
Penumpang yang tak diketahui namanya tersebut kemudian menanyakan dasar dibuatnya toilet eksklusif tersebut. Pramugari dengan santai menjawab bahwa perkembangan virus corona di Asia belakangan membuat dunia khawatir, tak terkecuali dengan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan hal tersebut agar mereka dapat tetap sehat. Jika mereka sehat, mereka tetap akan bisa membantu penumpang, termasuk penumpang yang bertanya tadi.
Tak berhenti sampai disitu, penumpang tersebut kemudian lanjut bertanya. Kali ini ia mempersoalkan mengapa pemberitahuan toilet eksklusif tersebut hanya ditulis dalam bahasa Korea, tidak ditambah bahasa lain yang lebih umum, seperti bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Di pertanyaan ini, pramugari tampak kalap. Setelah memberikan jawaban yang terkesan “ngeles”, di akhir jawaban, ia pun akhirnya mengakui bahwa ia dan tim salah tulis.
Tak lama setelahnya, pramugari senior pun turun tangan. Dengan singkat dan padat, ia menjelaskan bahwa mereka (awak kabin KLM) telah melakukan hal tersebut (membuat kamar mandi eksklusif dadakan) sebanyak tiga kali. Pertama saat virus MERS dan kedua saat SARS merebak.
Baca juga: Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas
Percakapan pun akhirnya berakhir setelah pramugari senior tersebut, semacam Purser, menutup ketegangan dengan berjanji akan segera menulis informasi adanya toilet khusus awak kabin dengan bahasa Inggris.
Atas insiden tersebut, pihak maskapai sejauh ini belum memberikan keterangan resmi mengenai apa yang sebetulnya terjadi. Di sisi lain, penumpang yang terlibat percekcokan dengan pramugari KLM, melanjutkan keluh kesahnya di Twitter. Setidaknya ada beberapa hal yang ia cukup sayangkan, mulai dari masalah tidak adanya pemberitahun resmi yang diumumkan sebelum pesawat lepas landas, keberadaan toilet khusus awak kabin yang dinilai berlebihan, hingga pengumuman toilet tersebut yang hanya dalam bahasa Korea, seakan-akan orang Korea membuat mereka cemas terkait virus corona.
Dampak Virus Corona, Tiap Hari Bandara Changi Kehilangan 20 Ribu Pelancong
Menjadi negara terbanyak kedua terinfeksi virus corona, pelancong yang datang ke Singapura lewat Bandara Changi mengalami penurunan yang drastis. Bahkan Singapore Tourism Board (STB) memperkirakan kedatangan penumpang turun 18 ribu hingga 20 ribu per hari dan akan semakin menurun lagi di hari-hari kedepan. Dalam sebuah laporan yang diberikan Tiffani Fumiko Tay, mengatakan wabah virus corona memiliki dampak yang lebih besar di Singapura daripada wabah SARS di tahun 2003 lalu.
Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi
“Pada titik ini, kami memperkirakan bahwa setiap hari, kami kehilangan rata-rata 18 sampai 20 ribu pengunjung internasional ke Singapura. Sektor pariwisata Singapura menghadapi tantangan terbesar sejak SARS pada tahun 2003. Namun tidak seperti SARS, kami sekarang lebih siap dan lebih tangguh. Tujuan kami tetap menarik, kami memiliki saluran produk pariwisata yang kuat, dan portofolio pasar kami beragam,” ujar Keith Tan, Kepala Eksekutif STB yang dikutip KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (12/2/2020).
Menurut STB, Cina menyumbang sekitar 20 persen dan menjadi pelancong terbesar dari kedatangan pelancong lain di Singapura. Tetapi Singapura menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menutup perbatasannya dengan pendatang baru dari Cina Daratan.
Akibat virus corona yang belum terkendali ini, STB mengatakan kedatangan pengunjung turun 25 persen menjadi 30 persen di tahun 2020. Singapura diketahui pada 2019 kemarin menyambut kedatangan 19,1 juta pelancong.
Para pelancong tersebut menghabiskan US$19,55 miliar dengan produk domestik bruto (PDB) Singapura adalah sekitar US$365 miliar. Menurut data dari OAG, jumlah penerbangan antara Cina dan Singapura telah turun 89,1 persen pada bulan lalu.
Selain itu, maskapai penerbangan lokal Singapura juga membatalkan penerbangan ke Cina. Singapore Airlines dan Silk Air menangguhkan dan mengurangi beberapa layanan ke Cina termasuk rute Singapura – Beijing, Singapura – Shanghai, Singapura – Guangzhou, Singapura – Shenzhen, Singapura – Xiamen, Singapura – Chengdu dan Singapura – Chongqing.
“Masih banyak warga Singapura yang bekerja dan tinggal di Cina, banyak di antaranya masih akan membutuhkan konektivitas antara Singapura dan Cina. Sebagai operator nasional, kami akan terus mempertahankan konektivitas minimum ke kota-kota utama di Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Chongqing untuk saat ini meskipun permintaan berkurang. Kami akan terus memantau situasi dengan cermat dan melakukan penyesuaian seperlunya,” ujar Singapore Airlines dalam sebuah pernyataan.
Tak hanya itu, maskapai berbiaya hemat (LCC) Scoot juga menangguhkan semua penerbangannya dari Singapura ke Cina Daratan hingga Maret 2020 mendatang. Scoot saat ini memiliki 19 tujuan ke Cina Daratan dan mereka juga memperingatkan pembatalan ad hoc pada layanan Singapura – Makau dan Singapura – Hong Kong.
Baca juga: Akibat Virus Corona, Tiada Lagi Handuk, Makanan Panas, Selimut, Bantal, dan Majalah dalam Penerbangan
Pada tahun keuangan 2018, ketiga maskapai tersebut menghasilkan pendapatan $11,77 miliar dengan laba bersih $770 juta. Namun, saat ini dengan anjloknya kedatangan penumpang di Singapura, prospek keuangan ketiga maskapai tersebut tidak akan secerah biasanya.
Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!
Bill Gates belakangan ramai jadi bahan perbincangan setelah diisukan telah membeli kapal pesiar super mewah seharga Rp8,8 triliun. Hal tersebut menjadi isu hangat mengingat orang terkaya nomor dua di dunia dengan kekayaan bersih mencapai Rp1.612 triliun tersebut memiliki rekam jejak cukup bagus di bidang sosial (melalui dua yayasannya, The Gates Foundation dan Gates Ventures).
Baca juga: FB277 – Superyacht Serba Komplit yang Siap Disewakan Per Juni 2019
Dengan beredarnya kabar bahwa pendiri Microsoft membeli kapal pesiar Superyacht Aqua berbahan bakar hidrogen pertama di dunia sepanjang 112 meter tentu membuat sebagian kalangan angkat bicara. Mereka bergeming, dengan uang sebesar itu (Rp8,8 triliun untuk membeli sebuah kapal pesiar mewah), harusnya Bill Gates bisa menggunakannya dengan lebih bijak, seperti mendanai riset proyek-proyek kendaraan listrik dan hidrogen yang dinilai menghasilkan dampak yang jauh lebih besar ketimbang sebuah kapal pesiar mewah untuk bersenang-senang.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman engadget.com, Rabu, (12/2), kabar tentang pembelian kapal pesir mewah Superyacht Aqua awalnya beredar dari laporan Sinot, firma arsitektur asal Belanda yang berada di balik desain kapal pesiar bertenaga hidrogen tersebut.
Dalam laporannya, perusahaan yang bermarkas di Eemnes, Utrecht, Belanda tersebut menyatakan bahwa pihaknya telah melaporkan penjualan Aqua ke Gates. Namun, belakangan laporan penjualan Superyacht Aqua ke orang terkaya nomor dua di dunia adalah salah. Mereka pun mengkonfirmasi ulang dengan menyatakan bahwa antara Sinot dan Bill Gates belum memiliki kesepakatan apapun, termasuk pembelian superyacht Aqua.
“Aqua adalah konsep yang sedang dikembangkan dan belum dijual kepada Gates. Sinot tidak memiliki hubungan bisnis dengan Gates. Konsep Aqua tidak terkait dengan Gates atau perwakilannya dalam bentuk apapun, semua informasi (terkait pembelian Aqua oleh Bill Gates) yang beredar adalah tidak benar,” bunyi keterangan tertulis Sinot dalam laman resminya, seperti dilihat KabarPenumpang.com.
Meskipun demikian, sebagian kalangan menilai, hal tersebut (bantahan oleh Sinot) sangat wajar mengingat belakangan pemberitaan mengenai dirinya dan Bill Gates menjadi gaduh, sehingga wajar bila perusahaan mengambil langkah seperti itu.
Baca juga: Kenali 10 Rute Kapal Ferry Terindah di Dunia
Di samping itu, sebetulnya, identitas pembeli memang berhak untuk disembunyikan, sebagai bagian dari privasi dan keamanan pembeli. Dengan harga sebesar itu (Rp8,8 triliun), memang tidak ada yang sanggup membeli kecuali triliunen tajir melitir seperti Gates.
Sinot Yacht Architecture and Design atau Sinot Exclusive Yacht Design sendiri adalah perusahaan arsitektur asal Belanda yang mengkhususkan diri dalam desain Superyacht eksterior dan interior. Salah satu produknya yang disebut “Aqua Concept” yang memiliki banyak fitur seperti helipad dan infinity pool, fasilitas spa, pintu kaca yang mencapai langit-langit, dan bahkan air terjun di dek kapal, desain kapal ini pertama kali dipresentasikan pada ajang Monaco Yacht Show 2019.
Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi
Semakin merebaknya kasus orang terinveksi virus corona di Singapura membuat para pengemudi taksi dan kendaraan sewaan harus mendapatkan perlakuan ekstra, wujudnya berupa pemberian masker yang nantinya akan diberikan kepada penumpang yang dalam kondisi tidak sehat.
Baca juga: Pendapatan Turun, Pengemudi Taksi Singapura Tetap Bekerja dan Semprotkan Desinfektan serta Gunakan Masker
Otoritas Angkutan Darat (LTA) Singapura mengatakan, mulai Selasa (11/2/2/2020), sebanyak 300 ribu masker akan dibagikan kepada pengemudi melalui perusahaan taksi. Pihak LTA mengatakan, bahwa penumpang yang sakit juga harus bisa memainkan peran mereka dengan menggunakan masker sebelum naik taksi atau menyewa mobil pribadi.
Bahkan para pengemudi pun juga diminta untuk mengukur suhu tubuh mereka sebanyak dua kali dalam sehari. LTA menyebutkan ada delapan lokasi untuk pengecekan suhu yang didirikan oleh tujuh perusahaan Singapura.
Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (10/2/2020), pengemudi taksi yang suhu tubuhnya dalam kisaran normal akan menerima stiker pada hari itu. Stiker ini menunjukkan bahwa pengemudi sehat dan sedangkan pengemudi persewaan swasta diminta mengukur suhu tubuh mereka sendiri dan mengirimkan hasilnya melalui aplikasi.
LTA bersama Asosiasi Taksi Nasional (NTA) dan Asosiasi Kendaraan Perekrutan Pribadi Nasional (NPHVA) akan meningkatkan jumlah stasiun pengecekan suhu di Singapura agar semua pengemudi terjangkau. Langkah tersebut diambil setelah seorang pengemudi taksi dan mobil sewaan terkena virus corona dari tujuh kasus baru yang diumumkan pada Sabtu kemarin.
“Kami sedang bekerja dengan operator untuk meningkatkan langkah-langkah pembersihan. Pengemudi kami sarankan untuk menurunkan jendela setelah perjalanan untuk kebersihan udara dalam kendaraan dan menyemprotkan desinfektan ke mobil lebih teratur,” kata LTA.
LTA menyebutkan, pengemudi taksi dan mobil sewaan yang terkena virus corona harus dikarantina akan diberi tunjangan S$100 atau Rp985 ribu per hari dari pemerintah. Pengemudi bisa mendapatkannya jika memenuhi syarat untuk tunjangan tersebut.
Semua operator taksi, serta perusahaan persewaan swasta GoJek, Grab dan Ryde, mengatakan mereka akan menghapuskan biaya sewa kendaraan untuk pengemudi yang dikarantina. Tak hanya itu, mereka juga berkomitmen untuk memberi tunjangan yang bisa digunakan satu kali sebanyak S$100.
Sedangkan pengemudi yang menjadi anggota NTA atau NPHVA juga berhak mendapat tunjangan sekali pakai sebesar S$200 atau sekitar Rp1,9 juta. Menteri Senior Transportasi Janil Puthucheary bertemu dengan sekitar 60 supir taksi dan swasta di Institut Devan Nair untuk membahas kekhawatiran mereka atas berita dua pengemudi yang terinfeksi,
Dia mengatakan, langkah yang diumumkannya pada hari itu bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan pada industri. Janil mengatakan, bahwa banyak penumpang yang sulit naik ride hailing di lokasi-lokasi seperti rumah sakit. Menurutnya ini karena pengemudi merasa cemas bila mengangkut penumpang dari rumah sakit dan baiknya pengemudi tidak ragu-ragu karena menggunakan masker.
Janil juga membantah laporan yang menyatakan bahwa virus corona baru itu mengudara, mencatat bahwa pemerintah Cina sendiri mengatakan virus itu tidak ada di udara. Sebab semua bukti saat ini menunjukkan bahwa virus ini disebarkan oleh tetesan, bukan udara.
Dia mengakui bahwa tindakan yang diumumkan dapat disalahgunakan, misalnya oleh pengemudi yang mengklaim masker untuk diri mereka sendiri daripada memberikannya kepada penumpang yang sakit.
Baca juga: Di Tengah Ancaman Virus Corona dan Pembatalan Peserta, Singapore AirShow 2020 Jalan Terus
“Saya pikir kita harus menerima dengan itikad baik bahwa (pengemudi) akan menjaga diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.”
Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle
Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, Senin lalu mengumumkan rencana perubahan pesawat Kepresidenan AS (Air Force One). Salah satu yang menarik dari rencana perubahan tersebut adalah warna pada pada pesawat, yakni merah, putih, dan biru, yang mengingatkan kita pada Trump Shuttle, maskapai milik pesawat Presiden AS ke-45 tersebut.
Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehill.com, Rabu, (12/2), dalam rincian anggarannya, Pentagon mengajukan anggaran sebesar US$800,9 juta atau sekitar Rp11 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS untuk program Rekapitalisasi pesawat VC-25B atau program rekapitasisasi pesawat Air Force One. Hal ini dimaksudkan untuk menggantikan pesawat Air Force One saat ini dengan dua pesawat Boeing 747-8 yang baru sekaligus dimodifikasi, sesuai dengan pengajuan anggaran pertahanan administrasi Trump.
Nantinya, pesawat yang digambarkan setengahnya (bagian atas) berwarna putih, garis merah di tengah, dan biru di bagian bawah pesawat, akan membantu tugas-tugas kenegaraan presiden AS mendatang (yang akan melalui pemilihan umum pada tahun ini) serta menjamin kemanan, akses komunikasi dengan Gedung Putih, serta kenyamanan tingkat tinggi terhadap presiden, staf, dan tamu.
Bila ditarik ke belakang, Presiden Trump memang sudah sejak 2018 lalu ingin mengubah warna pesawat kepresidenan Air Force One yang baru. Entah apa yang mendasarinya, yang jelas, ia hanya ingin mengganti warna pesawat warisan dari mantan Presiden AS Presiden Kennedy dan ibu negara Jacqueline Kennedy, dari semula biru dan putih muda, menjadi merah, putih, dan biru tua.
Setelah lama tak terdengar, pada Juni 2019 Trump pun membocorkan desain awal pesawat baru kepresidenan tersebut mirip seperti warna yang sudah resmi diajukan dalam anggaran. Kala itu, para pengamat mencatat bahwa warna baru ini mirip dengan pesawat ulang-alik Trump sebelumnya beberapa dekade lalu sebelum menjadi Presiden AS.
Menanggapi rencana Trump terkait pesawat Air Force One, Komite Angkatan Bersenjata AS mengaku khawatir bahwa Trump akan melakukan perubahan yang sebetulnya tidak perlu dan mahal untuk sekedar pembaruan pesawat. Namun, jalan Trump untuk merealisasikan keinginannya tersebut bukannya tanpa halangan. Tahun lalu, Trump sudah berusaha meminta persetujuan kongres untuk perubahan skema cat pesawat kepresidenan dan desain interior. Namun ditolak dan masih menggantung hingga RAPBN AS 2021 mendatang.
Baca juga: Pensiun Angkut Penumpang, Boeing 747-400 Dikonversi Jadi Pesawat Pemadam!
Oleh karenanya, rencana Trump untuk “menghidupkan” kembali Shuttle Trump melalui pesawat Air Force One masih bisa dibatalkan bila Trump tidak terpilih kembali pada pemilu tahun ini. Sebaliknya, jika ia terpilih kembali, maka, pesawat baru kepresidenan tersebut dijadwalkan akan mulai membatu tugas-tugas kepresidenan pada akhir masa jabatan Trump dan memaksa presiden selanjutnya menggunakan karya monumental darinya.
Sebelumnya, Angkatan Udara AS pada Juli 2018 telah menandatangani kontrak senilai $ 3,9 miliar dengan Boeing untuk merancang, memodifikasi, menguji, menyempurnakan, dan mengirimkan dua pesawat 747 untuk menggantikan pesawat yang lebih tua pada akhir 2024.
Di Singapore AirShow 2020, Airbus Pamerkan MAVERIC, Desain Pesawat yang Mampu Hemat 20 Persen Bahan Bakar
Singapore AirShow 2020 yang dihelat mulai 11 – 16 Feb mendatang rupanya jadi ajang unjuk gigi Airbus. Dalam ajang tersebut, raksasa pabrikan pesawat asal Perancis telah memamerkan inovasi model pesawat terbarunya yang disebut MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls) sebagai prototipe teknologi model “Blended Wing Body”.
Baca juga: Evolusi Sayap Pesawat dari Waktu ke Waktu – Mulai dari Kayu Hingga Material Komposit
Dengan panjang 2 meter dan lebar 3,2 meter, serta luas permukaan sekitar 2,25 m², MAVERIC memiliki desain pesawat yang dinilai dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 20 persen dibandingkan dengan pesawat satu lorong yang beredar saat ini. Konfigurasi “blended wing body” juga membuka kemungkinan baru untuk tipe dan sistem sistem propulsi, serta kabin serbaguna untuk pengalaman penumpang yang sepenuhnya baru.
Diluncurkan pada 2017, MAVERIC pertama kali mengudara pada Juni 2019. Sejak saat itu, serangkaian uji terbang terus berlangsung dan akan berlanjut hingga akhir kuartal kedua tahun 2020 atau pada bulan April hingga Juni mendatang.
“Airbus memanfaatkan teknologi yang muncul untuk merintis masa depan penerbangan. Dengan menguji konfigurasi pesawat yang disruptif, Airbus dapat mengevaluasi potensi mereka sebagai produk masa depan yang layak,” kata Jean-Brice Dumont, EVP Engineering Airbus, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari situs resmi perusahaan, Rabu, (12/2). “Meskipun tidak ada garis waktu khusus untuk masuk ke layanan, demonstrasi teknologi ini dapat berperan dalam membawa perubahan dalam arsitektur pesawat komersial untuk masa depan yang berkelanjutan secara lingkungan untuk industri penerbangan,” tambahnya. Baca juga: KLM Gandeng TU Delft Kembangkan Pesawat Hemat Energi “Flying-V” Di samping tengah mengejar target pengembangan MAVERIC, melalui sebuah ekosistem penelitian yang disebut AirbusUpNext, Airbus saat ini juga sedang mengerjakan sejumlah proyek demonstran secara paralel, mulai dari E-FAN X (penggerak hybrid-electric), fello’fly (penerbangan “formasi” berbentuk v) dan ATTOL (Autonomous Take-Off & Landing) yang telah berhasil menerbangkan pesawat dengan otomatis awal Januari lalu. Akan tetapi, terkait konsep “Blended Wing Body”, sebetulnya Airbus bukanlah satu-satunya. Selalu ada pesaing abadi mereka, Boeing dalam urusan inovasi pesawat. Jauh sebelum Airbus meluncurkan pesawat MAVERIC pada 2017 silam, pesawat riset Boeing X-48C melakukan uji terbang untuk kesekian kalinya pada 9 April 2013. Dalam uji terbang kala itu, Boeing mengklaim telah mengunci keberhasilan penyelesaian program uji terbang delapan bulan untuk mengeksplorasi dan lebih memvalidasi karakteristik aerodinamis dari konsep desain Blended Wing Body.RT @TravelEsquire: .@Airbus showcases #sustainabletravel at #SGAirshow2020 #AirbusMAVERIC, “our blended wing body ✈️ demo! An innovative shape for improved performance & an enhanced passenger experience.” 👉 https://t.co/1bldPQiKNP ht @FandaAviation #… pic.twitter.com/QpPvwotDvE
— Jeana Travels (@SurfnSunshine) February 12, 2020
