Warga Singapura Sebentar Lagi Bisa Lintasi Imigrasi Tanpa Perlu Bertemu Petugas
Melewati imigrasi ketika akan bertandang ke luar negeri baik untuk berlibur maupun urusan bisnis pasti dilakukan setiap penumpang. Ketika melewati bagian imigrasi ini, maka paspor pelancong akan diperiksa dan dicek oleh petugas.
Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara
Namun, sebentar lagi warga Singapura tidak akan melakukan pengecekan dengan petugas dan hanya melewati mesin. Pasalnya di terminal Bandara Changi akan ada mesin yang bisa membaca data penumpang asal Singapura.
Dilansir dari beberapa laman sumber oleh KabarPenumpang.com, pada 4 Desember 2019 kemarin Immigration and Checkpoints Authority (ICA) Singapura mengumumkan bahwa warga Singapura tak lagi perlu memindai paspor dan scan sidik jari ketika ke Singapura. Mereka hanya perlu memindai iris mata saja.
Dengan mesin ini, maka akan membaca data penumpang dan mengeluarkan data imigrasi dari warga Singapura. Adanya mesin untuk pengecekan imigrasi ini tercetus untuk membantu menghindari masalah veirifikasi karena sidik jari yang memudar karena penuaan ataupun rusak.
Bahkan di awal mula ini, warga Singapura yang berusia enam tahun keatas dan memiliki nama berawalan huruf K serta memegang paspor sejak 1 Desember 2018 sudah bisa melalui proses ini. Sebab warga dengan paspor baru sudah memiliki informasi biometrik yag disimpan di database nasional.
Sehingga warga Singapura tidak perlu lagi mendaftar. Cara kerja mesin ini ialah dengan penumpang masuk ke gate pemeriksaan. Nantinya ada dua gerbang yang harus dilewati yakni gerbang pertama untuk memindai iris mata dan wajah.
Jika dikenali gate pertama akan terbuka dan lanjut ke gate kedua yang akan memeriksa identitas pelancong secara pasti hingga proses selesai. Jika orang yang sama melintas maka gate pasti akan terbuka. Sistem pemeriksaan otomatis ini akan diterapkan pada tahun 2022 di Terminal 4 Changi Airport. Ini hanya berlaku untuk warga Singapura, dan pelancong mancanegara tetap melewati proses pemeriksaan petugas.
Mengingat ini, mulai 28 Agustus 2019 kemarin pihak Singapore’s Immigration and Checkpoints Authority (ICA) meluncurkan layanan yang disebut automated immigration gate. Ya, sesuai namanya yang berlebel otomatis, pelancong saat memasuki gerbang imigrasi tak perlu bertatap muka dengan petugas yang judes dan kadang wawancara singkat.
Baca juga: Bandara Changi Resmikan Layanan Automated Immigration Gate
Tapi pelancong cukup melakukan scan paspor di gerbang, bila semua clear, proses imigrasi otomatis ini hanya butuh waktu yang sangat cepat. Alhasil tidak perlu antre yang panjang. Sayangnya layanan imigrasi otomatis ini baru berlaku untuk pemegang paspor Jepang dan Korea Selatan. Sebenarnya layanan ini ditujukan untuk frequent traveler yang sering bolak balik ke Singapura.
Untuk mendapatkan fasilitas yang juga disebut Enhanced Immigration Automated Clearance System (eIACS) tidak diperlukan biaya tambahan. Hanya saja pelancong perlu mengajukan permohonan. Masih dari sumber yang sama, disebut konter pendaftaran ada di Pusat Pelayanan ICA yang berada di Terminal 3.
Duduk di Kursi Lorong Ternyata Punya Banyak Kemudahan
Apakah ada aturan resmi ketika duduk di kursi pesawat? Sepertinya tidak, apalagi untuk duduk di kursi dekat lorong. Bahkan bisa dikatakan bila dalam urutan keluarga kursi di lorong adalah anak tertua. Kursi ini adalah tempat untuk pelancong yang fokus masuk dan keluar seefisien mungkin.
Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya
Karena duduk di kursi dekat lorong, bisa merasa lebih bebas dan bergerak lebih leluasa ketika ke toilet atau lavatory dalam pesawat. KabarPenumpang.com merangkum laman washingtonpost.com, selain bisa masuk dan keluar kursi seenaknya, penumpang yang duduk di kursi lorong juga bebas menyelonjorkan kaki ke lorong untuk sesaat.
Sebab jika lebih lama dari itu berisiko kaki tersenggol troli yang dibawa awak kabin. Dengan duduk dilorong juga dengan mudah membantu penumpang lain yang kesulitan meletakkan barang bawaan mereka di kabin atas.
Anda yang duduk di kursi lorong menjadi pemisah antar tetangga baris dan lorong dan menjadi pintu bagi penumpang di kursi tengah serta dekat jendela. Berkat posisi ini, Anda terjebak di antara penumpang dan pramugari. Secara default, petugas dapat meminta bantuan Anda untuk melakukan penawaran mereka.
Mereka mungkin perlu bantuan untuk menyerahkan barang ke tetangga Anda, membangunkannya dari tidur nyenyak atau mengusir dari pengasingan yang dibuat oleh headphone mereka. Mereka yang ingin sesedikit mungkin gangguan selama pengalaman mereka harus memesan kursi jendela saja.
Nah bagaimana ketika pesawat sudah mendarat dan penumpang di sebelah Anda ingin berdiri serta keluar lebih dahulu? Anda tidak dapat mengontrol bagaimana penumpang lain keluar, tetapi dapat memilih untuk terburu-buru atau bersantai sendiri. Jika tetangga di barisan Anda meminta dengan baik agar Anda pindah untuk mereka, jangan ragu untuk memenuhi permintaan mereka.
Baca juga: Kurangi Efek Turbulensi, Sebaiknya Pilih Kursi di Dekat Sayap
Tetapi bila mereka memaksa Anda secara non-verbal dengan berdiri di atas kursi, jangan merasa bersalah, sebab penumpang itu seharusnya sudah memesan kursi di lorong jika mereka merasa sangat kuat tentang kapan harus turun pesawat. Nantinya ketika terjadi sesuatu pada pesawat, sebagai penghuni kursi lorong, Anda bertugas untuk tetap bersama dan tenang serta mengikuti instruksi staf penerbangan untuk perintah selanjutnya.
KA Dharmawangsa Mulai Mengular di Relasi Pasar Senen-Surabaya Pasar Turi
Mengular mulai 1 Desember 2019 kemarin sesuai dengan grafik perjalanan kereta api (Gapeka) 2019, kereta api Dharmawangsa melintas di relasi Stasiun Pasar Senen ke Surabaya Pasar Turi. KA Dhramawangsa merupakan kereta penumpang kelas eksekutif dan ekonomi AC yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 7 Surbaya.
Baca juga: Mulai 1 Desember, KA Kalijaga Berhenti Beroperasi Setelah Penetapan Gapeka 2019
Nama KA ini diambil dari nama salah satu tokoh kerajaan Airlangga yakni Dharmawangsa Teguh yang memiliki karakter tubuh tinggi besar, kukuh, kekar, kuat dan pemberani. Karakter ini dilekatkan pada KA Dharmawangsa untuk menggambarkan keandalan perjalanan dan kualitas pelayanan yang selalu siap dalam berbagai keadaan.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan, pihaknya berharap kehadiran KA Dharmawangsa bisa mengakomodir kebutuhan perjalanan KA para pelanggan yang ingin ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dia mengatakan KA Dharmawangsa berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.25 WIB dan berhenti di beberapa stasiun seperti Pegadenbaru – Cirebon Perujakan – Brebes – Tegal – Pekalongan – Waleri – Semarang Tawang – Ngrombo – Randublatung – Cepu – Bojonegoro – Babat – Lamongan hingga berhenti di stasiun akhir yakni Surabaya Pasar Turi pukul 19.30 WIB.
“KA Dharmawangsa akan menempuh waktu selama 11 jam lima menit dengan tiga kereta eksekutif yang berkapasitas 150 tempat duduk, enam kereta ekenomi dengan kapasitas 636 tempat duduk. Sehingga bila di total ada 786 tempat duduk dalam satu rangkaian,” kata Edi.
Edi mengatakan, tarif tiket KA Dharmawangsa mengacu pada tarif batas atas dan tarif batas bawah. Seperti dari Stasiun Pasar Senen menuju ke Stasiun Surabaya Pasar Turi untuk hari biasa atau weekday kelas eksekutif sekitar Rp350 ribu sampai Rp390 ribu dan kelas ekonomi Rp150 ribu.
Sedangkan untuk akhir pekan atau weekend, kelas eksekutif sekitar Rp350 ribu hingga Rp480 ribu dan kelas ekonomi Rp150 ribu hingga Rp160 ribu. Pembelian tiket KA Dharmawangsa sudah bisa dipesan sejak 1 November 2019 untuk keberangkatan 1 Desember dan seterusnya, melalui aplikasi KAI Access, Website KAI, dan seluruh channel penjualan resmi KAI lainnya.
Baca juga: Waspadai Perubahan Jadwal Kereta! Mulai 1 Desember PT KAI Gunakan Gapeka 2019
“Diharapkan dengan diluncurkannya KA Dharmawangsa ini, KAI ke depannya semakin besar, jaya dan terus meningkatkan pelayanan kepada pelanggan,” ujarnya.
Barang Bagasi Penumpang Umrah Hilang? Jangan Khawatir Ada yang Siap Ganti dengan US$1000
Risiko bagasi tertukar, tiba tidak bersamaan dengan sang pemilik, sampai kehilangan bagasi dalam penerbangan acap kali menghantui para calon pemumpang. Nah, guna meningkatkan rasa aman dalam penerbangan, belum lama ini DCNLINK bekerja sama dengan Blue Ribbon Bags (BRB) menawarkan jaminan dan klaim bagasi penumpang yang hilang atau tidak ditemukan.
Baca juga: Ingat! Anda Berhak Peroleh Kompensasi Setelah Lapor Kehilangan Bagasi di Bandara
DCNLINK adalah kanal distribusi digital untuk airlines ticket group pertama di Indonesia. Sedangkan BRB adalah penyedia layanan ancillary untuk jaminan dan klaim bagasi penumpang dengan kantor pusat di New York, USA yang sedang mengembangkan pasar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Tawaran ini membuka kesempatan bagi tour operator dan penyelenggara umrah untuk lebih mudah mendapatkan layanan ancillary sebagaimana visi IATA yang tertuang dalam NDC (New Distribution Capability) Initiative. Di masa depan, penumpang maupun tour operator dapat menikmati layanan ancillary dari airlines maupun mitranya melalui kanal digital seperti DCNLINK.
Untuk menikmati produk BRB, tour operator dapat dipesan melalui kanal DCNLINK. BRB menjamin bagasi penumpang. Jika bagasi tidak tiba bersama kedatangan penumpang, BRB bertanggung jawab untuk menemukan. Jika dalam 96 jam bagasi tidak ditemukan atau hilang, BRB mengganti US$1.000 untuk satu bagasi yang hilang.
“Kalau bagasi ditemukan setelah 48 jam, bagasi diserahkan dan jaminan US$1.000 per bagasi tetap dibayarkan,” kata Presiden Direktur PT Gensag Aeroprtama, Andri Bermawi. PT Gensang Aeropratam adalah perwakilan BRB di Indonesia.
Baca juga: Hanya dari Biaya Bagasi, Maskapai Global Raup Untung Hingga Ratusan Triliun Rupiah
Untuk pertama kali BRB mendapatkan partner yang berfokus pada penerbangan group antara, terutama untuk umrah dan halal trip. BRB sudah bekerjasama dengan 250 Online Travel Agent (OTA) di seluruh dunia dan sekitar 40 ribu penumpang pesawat menggunakan produk BRB per hari. BRB juga menjalin kerjasama dengan 13 maskapai penerbangan internasional.
Layani Jamaah Umrah, Lion Air Buka Penerbangan Perdana Lombok-Jeddah
Tingginya jamaah umrah asal Nusa Tenggara Barat (NTB) rupanya mendapat perhatian tersendiri dari maskapai terbesar di Tanah Air, persisnya Lion Air telah memulai layanan penerbangan umrah 1441 Hijriah pertama dari Kota Mataram melalui Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Praya, Nusa Tenggara Barat (LOP) ke Jeddah – Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Arab Saudi (JED).
Baca juga: Layani Umrah 2019, Airbus A330-900NEO Lion Air Lakukan Penerbangan Perdana ke Arab Saudi
Penerbangan pertama dari Lombok Praya menggunakan nomor terbang JT-104, pesawat lepas landas pada 13.15 (Waktu Indonesia Tengah, GMT+ 08) dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz pukul 19.45 waktu setempat Arabia Standard Time (AST), GMT +03. Pada momen terbaik ini, Lion Air menerbangkan 257 jamaah.
Penerbangan umrah 2019 ditandai pengoperasian Airbus 330-900NEO, sebagai pesawat terbaru berbadan lebar (wide body) dan operator pertama di Asia Pasifik yang menggunakan armada ini. Pengoperasian Airbus 330-900NEO menjadi bagian dari langkah strategis Lion Air guna memperkuat pengembangan bisnis penerbangan jarak jauh (long haul) yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 13 perjalanan tanpa henti (nonstop).
A330-900NEO bertata letak lorong ganda (double aisle) berkapasitas 433 kursi penumpang yang nyaman, menyediakan kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama dari kabin airspace, desain baru kompartemen bagasi kabin (overhead bin) yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan barang bawaan di kabin.
Di tahap awal, frekuensi terbang tersedia satu kali dalam sebulan. Lion Air memproyeksikan pertumbuhan perjalanan ibadah ke tanah suci dari Nusa Tenggara Barat akan meningkat positif karena ada potensi penumpang jamaah umrah, sehingga optimis dan tidak menutup kemungkinan penambahan frekuensi penerbangan dapat dilakukan.
Baca juga: Dari Embarkasi Luar Negeri, Lion Air Juga Layani Penerbangan Haji 2019
Lombok menjadi keberangkatan asal (origin) ke-13 untuk penerbangan umrah, yang dilayani dari Indonesia
1. Banda Aceh – Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh (BTJ)
2. Medan – Bandar Udara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara (KNO).
3. Padang – Bandar Udara Internasional Minangkabau, Padang Pariaman, Sumatera Barat (PDG).
4. Pekanbaru – Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Riau (PKU).
5. Batam – Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batu Besar, Kepulauan Riau (BTH).
6. Palembang – Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan (PLM).
7. Jakarta – Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK).
8. Solo – Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo, Boyolali, Jawa Tengah (SOC).
9. Surabaya – Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur (SUB).
10. Balikpapan – Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Kalimantan Timur (BPN).
11. Banjarmasin – Bandar Udara Internasional Syamduddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (BDJ).
12. Makassar – Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi, Selatan (UPG).
13. Mataram – Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Praya, Nusa Tenggara Barat (LOP)
Bisa Dinikmati Gratis, “WiFi on Board Entertainment” Segera Hadir di Lima Pesawat Lion Air
Smartphone atau tablet yang Anda bawa dalam penerbangan nantinya bakal lebih berguna saat di dalam kabin, pasalnya Lion Air Group bersiap meluncurkan layanan terbaru berupa hiburan dalam perjalanan udara (inflight entertainment) dalam konsep WiFi entertainment yang akan diperkenalkan sebagai Lion Entertainment dalam waktu dekat.
Baca juga: Singapore Airlines Rilis Tarif Baru WiFi Onboard
Keunggulannya, Lion Entertainment bisa terkoneksi dengan W-IFE AirFi Indonesia yang dapat dinikmati penumpang (travelers) dari semua ponsel pintar (smartphone), tablet, laptop dengan operating system (OS) – perangkat lunak sistem yang mengatur sumber daya seperti iOS, Android, Windows, BBM, Linux dan lainnya
Untuk tahap awal, Lion Air akan memasang (instalasi) perangkat wireless pada lima pesawat Boeing 737-900ER. Untuk pemasangan perangkat tersebut dilakukan oleh Batam Aero Technic (BAT) sebagai pusat perawatan dan perbaikan pesawat member of Lion Air Group. Periode selanjutnya layanan Lion Entertainment akan tersedia di seluruh armada milik Lion Air.
Layanan WiFi on-board ini adalah kerjasama PT Dua Surya Dinamika (AirFi Indonesia) selaku perusahaan penyedia W-IFE. Fasilitas hiburan dapat diakses hanya dari genggaman melalui wireless inflight entertainment (W-IFE) pada ketinggian jelajah hingga 35.000 kaki (10.000 meter) dari permukaan air laut untuk penerbangan domestik dan internasional secara cuma-cuma untuk melakukan aktivasi on board dengan mudah.
Konten yang disediakan dalam W-IFE dari AirFi Indonesia beragam dan menarik, antara lain film-film (Hollywood, Bollywood, Korea, Mandarin, Indonesia), video untuk anak-anak, majalah, permainan, percakapan pesan singkat dalam kabin (chat onboard) serta fitur unggulan yang lain.
Untuk urusam keamanan data, “Fitur Lion Entertainment menjamin privasi dan keamanan, karena jaringan W-IFE dari AirFi Indonesia tidak mengizinkan penumpang atau pihak lain mengakses data pribadi. Sistem kami adalah yang terbaru dan mutakhir dalam industri penerbangan. AirFi dirancang untuk berfungsi dengan perangkat genggam dalam bentuk atau variasi merek. Dengan konten yang beragam dan up to date, Lion Entertainment menjadikan passenger experience sebagai prioritas,” ujar Satish Mahtani, Direktur Utama PT. Dua Surya Dinamika dalam pesan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com.
Baca juga: Duh! Pilot Delta Airlines Kirim Pesan ‘Menggoda’ Kepada Penumpang via Aplikasi Grindr
Rudy Lumingkewas, Direktur Utama Lion Air menyebutkan, “Lion Air telah menunjukkan keseriusan dalam menyediakan layanan yang memanjakan setiap pebisnis dan wisatawan ketika melakukan penerbangan, sesuai tren bepergiaan di era kekinian (millennials travelers). Dengan demikian, pada momen mendatang bagi travelers semakin mudah melengkapi pengalaman perjalanan (journey) dalam waktu tempuh kurang dari satu jam atau lebih dari satu jam.”
Olli, Bus Autonomous yang Bisa Diajak Bicara
Dewasa ini, semua negara tengah merencanakan sebuah konsep kendaraan tanpa awak sebagai gambaran masa depan. Setiap Negara dari berbagai penjuru dunia ini saling menunjukkan konsep jagoannya, dari mulai bus tanpa awak dengan roda sejajar, hingga sebuah drone yang digunakan sebagai angkutan penumpang kelak. Namun, salah satu konsep kendaraan masa depan yang satu ini cukup menarik perhatian banyak orang, yaitu bus tanpa awak yang memiliki berbagai sensor, dari mulai sensor suara hingga sensor gerak.
Adalah Local Motors, sebuah manufaktur mesin bermotor yang bekerja sama dengan International Business Machines (IBM) menciptakan sebuah kendaraan futuristik memiliki fungsi khusus. Seperti yang sudah dijabarkan di atas, bus nir awak yang memiliki beberapa sensor ini diperuntukkan untuk menjangkau beberapa titik dengan jarak yang berdekatan. Olli, begitulah nama dari bus ini, rencananya akan dipasarkan ke beberapa target, seperti bandara dan kampus. Tempat duduk yang didesain mengikuti bentuk dari Olli menunjang para penumpang untuk lebih leluasa bergerak.
Kendaraan yang mampu melaju dengan kecepatan dibawah 35 mil per jam ini ini rencananya akan mulai diproduksi pada musim panas tahun 2018 mendatang. Apabila tidak menemukan kendala selama proses produksi, maka ini akan menjadi bus nir awak pertama yang menjajal ruas jalan di Amerika. Sebagaimana formula pada awal pembuatannya, Olli yang sepenuhnya dioperasikan oleh sistem otomatis dipadukan dengan AI-powered, sebuah teknologi keluaran IBM yang memungkinkan bus ini berkomunikasi langsung dengan para penumpangnya, tentu saja melalui suara dan teks yang akan muncul di layar smartphone Anda.
Selain dua perusahaan di atas, Meridian Autonomous juga turun serta dalam menyempurnakan moda darat yang bentuknya menyerupai sebuah lemari ini. Meridian berperan serta dalam pengadaan sistem navigasi, dimana melibatkan radar, lidar, dan juga kamera optik. Sebelum memasang alat-alat tersebut, Meridian memproyeksikan lingkungan sekitar dalam sebuah konsep 3 dimensi yang amat detail. Layaknya kendaraan otomatis pada umumnya, terdapat sensor yang akan memaksa Olli berhenti ketika menemukan sebuah rintangan selama perjalanan dan mengimkan sinyal kepada remote supervisor (yang dikendalikan oleh manusia) untuk menentukan langkah selanjutnya.
General Manager Local Motors yang juga menangani proyek Olli, Gina O’Connell mengutarakan bus autonomous ini bahkan dapat memilih pilihan sendiri dalam kondisi darurat. “Jika penumpang mengalami masalah terhadap kesehatan atau keamanannya, maka Olli akan segera mendatangi rumah sakit atau kantor polisi terdekat,” ucapnya seperti yang dilansir dari laman technologyreview.com, Kamis (13/4/2017).
Bus yang mampu mengangkut hingga 12 penumpang dalam sekali perjalanan ini dapat berkomunikasi menggunakan teknologi AI-powered yang terpasang di dalamnya, sehingga penumpang dapat memerintah Olli menggunakan suara secara spesifik, seperti “Restoran Mexico terdekat dari sini” dan semacam itu. Selain menggunakan sensor suara untuk memerintah Olli, penumpang juga dapat menggunakan teks untuk menyuruh Olli mengantarkan Anda.
Selain beberapa keunggulan di atas, Olli juga memiliki machine vision, yang berfungsi untuk memantau situasi apabila ada penumpang atau penyandang disabilitas belum sepenuhnya naik ke dalam kabin bus, maka Olli tidak akan berjalan hingga orang tersebut sudah sepenuhnya duduk. Machine vision juga berfungsi sebagai pembaca gerak bibir dari orang penderita tuna rungu dan tuna wicara yang nantinya akan menampilkan jawaban orang-orang tersebut pada sebuah layar, tentunya dengan menggunakan bahasa isyarat.
Ritase – Perkembangan Mobilitas Barang Membutuhkan Solusi Multimoda Secara Digital
Dinamika ekonomi yang makin cepat dan terintegrasi membutuhkan solusi logistik yang mampu mengikuti akselerasi itu. Pada saat yang sama, penyedia jasa logistik harus memutar otak agar layanan mereka tetap efisien dan bersaing, baik dari segi harga dan kualitas.
Baca juga: Nippon Express Canangkan Pengiriman Barang dengan Kereta dari Cina Menuju Eropa
Ritase, layanan logistik truk berbasis aplikasi, menjawab masalah itu dengan mengembangkan transportasi multimoda (combined transport) yang memadukan angkutan darat, air, dan udara di Indonesia dalam platform aplikasi (apps) marketplace logistik yang telah diluncurkan sejak Mei 2019.
Ritase memadukan kemudahan penggunaan aplikasi dengan jaringan logistik terpercaya sehingga konsumen merasakan pengalaman baru dalam pengiriman barang antarpulau secara efisien dan efektif. Keunggulan Ritase diperoleh dari perpaduan optimasi rute dengan proses yang efektif dalam menyesuaikan beban dengan truk sebelum beroperasi sehingga menghasilkan harga yang lebih efisien.
Transportasi multimoda Ritase memanfaatkan angkutan kereta untuk jalur darat, pesawat untuk jalur udara, dan pelayaran untuk jalur air. Aplikasi ini akan mencari kombinasi angkutan yang tercepat dan termurah melalui sistem sehingga konsumen punya pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya.
“Aplikasi kami sangat cocok untuk shipper karena menyediakan fitur Track & Trace pada tiga moda yang berbeda ketika pengiriman di luar pulau tidak bisa dipantau,” ujar David Samuel, CTO & Co-Founder Ritase di Jakarta (2/12).
Selain soal pelacakan, lanjut David, pengguna apps Ritase dapat menerima laporan berkala tentang cloud stock atau barang yang sudah keluar dari gudang muat tetapi belum tiba di end customer, nilai barang yang sudah keluar dari gudang muat (in transit) dan sudah sesuai dengan lead time pengiriman, maupun nilai barang in transit tetapi sudah melebihi lead time pengiriman.
Ritase adalah perusahaan rintisan (startup) dalam digitalisasi industri trucking di Indonesia. Dalam kurun waktu satu tahun beroperasi, Ritase mampu mencakup area trucking di Indonesia dan sekarang telah memiliki lebih dari 13,000 armada truk dari 600 perusahaan truk (transporter) yang melayani beberapa perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) terbesar di Indonesia.
Baca juga: Bandara Manchester Hadirkan Layanan Pengambilan Barang Bawaan Penumpang dari Rumah
Tahun ini Ritase telah berhasil mendapatkan pendanaan Seri A sebesar US$ 8,5 juta untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya sebagai pelopor layanan trucking digital di Indonesia. Pendanaan tersebut diberikan oleh sejumlah investor dengan Golden Gate Ventures (SG) sebagai investor terbesar. Selain itu, Ritase didukung sarana yang bersifat open-API dan perangkat lunak cloud-based memungkinkan pengirim untuk menikmati akses informasi real-time pergerakan barang dan perkembangan di marketplace trucking.
