Meski usianya jauh lebih muda, namun PT MRT Jakarta sudah lebih dulu mendulang pemasukan dari iklan yang terpasang di kereta dan stasiun. Dan tak ingin ketinggalan, BUMD PT TransJakarta hari ini resmi mengumumkan dibukanya tender mitra media buyer untuk program implementasi iklan pada ribuan armada bus TransJakarta.
Baca juga: Hapus Mesin EDC untuk Pembayaran, TransJakarta Tambah Reader TOB di Bus Pengumpan
Dalam jumpa media hari ini (28/8), Direktur Utama PT TransJakarta Agung Wicaksono menyebutkan bahwa mulai tahun ini TransJakarta sudah mencanangkan untuk memperoleh pendapatan di luar tiket. Untuk menunjang misi memproleh pendapatan tersebut, PT TransJakarta mengundang mitra media buyer yang akan merencanakan dan mengatur kerja sama dengan pihak pengiklan.
Karena merupakan bentuk kerja sama yang strategis, PT TransJakarta memberikan pra syarat yang ketat untuk memilih media buyer. Diantara yang dikemukakan adalah media buyer sudah punya pengalaman minimal 3 tahun dalam program iklan di luar ruangan, matang dalam melakukan branding OOH (Out of Home), berkedudukan di Jabodetabek dan sanggup memberikan signing fee minimal Rp20 miliar bila telah dinyatakan sebagai pemenang.
“Pihak media buyer yang nantinya akan mencarikan pengiklan yang tepat sesuai pasar, namun perlu jadi catatan, pemasang iklan tidak diperkenankan memilih rute dan jadwal bus untuk placement iklan,” ujar Agung. Alasannya ternyata sederhana, beda dengan MRT Jakarta yang rutenya sudah ‘paten,’ setiap bus di TransJakarta dapat berganti-ganti wilayah penugasan rutenya, belum lagi untuk jadwal bus yang nantinya masuk dalam masa pemiliharaan. “Jadi penempatan iklan sepenuhnya adalah TransJakarta yang mengatur di 1.521 bus,” tambah Agung.
Saat ditanya tentang proyeksi pendapatan, Agung menyebut minimal Rp100 miliar dapat dihasilkan dalam satu tahun. Pola kerjasama yang ditawarkan kepada media buyer adalah profit sharing, dimana TransJakarta mensyaratkan minimal pendapatan kotor 70 persen.
Baca juga: TransJakarta Punya Rute Baru Setiap Bulan, Bagaimana Integrasi dengan Mikrolet?
Bagi media buyer yang berminat, dipersilahkan mengirim proposal ke nfb@transjakarta.co.id paling lambat sampai 3 September 2019. Rencananya pada 12 September akan diumumkan siapa pihak yang lolos kualifikasi dan dilanjutkan beauty contest yang digelar pada 27 September sampai 10 Oktober 2019. Bila semua proses lancar, maka pada 11 Oktober 2019 pemenang tender akan diumumkan. Untuk jangka waktu kerjasama ditetapkan selama periode 3 tahun.
Sebuah pesawat Airbus A330-300 milik Air China dilahap oleh si jago merah ketika tengah ‘bersandar’ di Beijing Capital International Airport pada Selasa (27/8) kemarin. Kepulan asap menandai terbakarnya pesawat yang hendak mengoperasikan rute penerbangan dari Beijing menuju Tokyo ini. Dikabarkan, kepulan asap mulai keluar ketika pesawat selesai mengoperasikan rute penerbangan Singapura – Beijing dengan nomor penerbangan CA976.
Baca Juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash LandingKabarPenumpang.com merangkum dari sejumlah laman sumber, melihat asap yang semakin membumbung tinggi dari dalam pesawat dengan nomor registrasi B-5958 ini, penumpang yang hendak boarding sontak langsung putar arah dan kembali menuju terminal. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka atas insiden ini.
Sejumlah petugas pemadam pun dengan sigap langsung berupaya untuk memadamkan api dan penerbangan menuju Tokyo Haneda tersebut terpaksa mengalami keterlambatan. Menurut penuturan sejumlah saksi, kepulan asap ini muncul dari dek kargo bagian depan pesawat.
Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele
Menanggapi hal ini, pihak maskapai mengatakan: “Asap disinyalir berasal dari ruang penyimpanan kargo dari CA183 yang akan mengoperasikan rute penerbangan Beijing – Tokyo. Ground crew dan petugas tanggap darurat berhasil memadamkan asap, sementara kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab insiden ini. Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” tulis pihak maskapai dalam sebuah pernyataan resmi.
Pihak maskapai juga menjelaskan bahwa ketika insiden ini berlangsung, tidak ada penumpang yang berada di dalam kabin, dan “Pihak bandara langsung mengaktifkan protokol tertentu untuk menangani situasi ini. Saat ini, bandara sudah mengoperasikan penerbangan sesuai jadwal,”
Dikabarkan, pesawat A330-300 milik Air China ini mengalami kerusakan yang cukup parah pasca insiden ini.
Penumpang yang berhasil mengabadikan momen menegangkan ini langsung mengunggahnya di berbagai laman media sosial dan menjadi topik hangat perbincangan. Pihak maskapai juga tidak memberikan keterangan lebih lanjut terkait penumpang yang mengalami penundaan penerbangan ini.
Tunduk pada regulasi merupakan hal wajar bagi setiap pekerja, tidak terkecuali awak kabin suatu maskapai. Namun apa jadinya jika regulasi tersebut malah terkesan merugikan dan terlalu memaksakan? Hal inilah yang tengah hangat diperbincangkan oleh segelintir orang di luar sana, menyikapi langkah yang ditempuh maskapai plat merah Garuda Indonesia yang kabarnya akan mengurangi fasilitas awak kabin yang terbang dari Jakarta menuju Sydney dan Melbourne.
Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!
“Kami sedang menguji coba penjadwalan atau penugasan awak kabin rute Australia, yaitu rute Sydney dan Melbourne menjadi rute pulang pergi sehingga tidak perlu stay,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman kontan.co.id (27/8).
Tidak perlu stay di sini, yang dimaksud Ikhsan adalah awak kabin nantinya tidak akan mendapatkan lagi fasilitas menginap di hotel. Ia menjelaskan, Garuda Indonesia melakukan itu sebagai bagian dari proses kajian berkelanjutan atas semua aspek bisnis dan operasi perusahaan. Maksudnya, untuk menjadikan pergerakan awak pesawat dan operasional penerbangan semakin efektif dan efisien, demi menunjang operasional penerbangan yang semakin dinamis.
Baik penerbangan dari Jakarta menuju Sydney atau Melbourne sama-sama memakan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam 30 menit hingga 7 jam. Di sini, seorang awak kabin Garuda Indonesia akan bekerja minimal 14 jam ditambah masa istirahat bila on duty di rute penerbangan seperti Jakarta – Sydney atau Melbourne pulang pergi.
Ikhsan sendiri mengatakan bahwa peraturan penerbangan internasional mengijinkan seorang awak bekerja sampai maksimal 18 jam dalam sehari.
“Jadi, ini bukan dalam kaitan efisiensi, ya. Tapi lebih pada efektivitas operasional penerbangan,” terang Ikhsan.
Kendati terdengar ‘sadis’ dan membuat awak kabin Garuda Indonesia (mungkin) akan ogah untuk bertugas di rute penerbangan tersebut, namun Ikhsan menjelaskan bahwa pihaknya selalu memperhatikan faktor kesiapan dan kenyamanan awak kabin dalam bertugas. Caranya, dengan mengatur jadwal penerbangan yang berkaitan dengan jam kerja awak kabin.
Baca Juga: 9 Kali Sehari, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Singapore Airlines
Ketika mengkonfirmasi rencana Garuda Indonesia ini, pengamat kedirgantaraan Indra Setiawan mengatakan, “oke kalau semuanya serba on-time, tapi bagaimana jadinya jika ada delay yang ujung-ujungnya bakal melebihi jam kerja awak kabin? Itu juga harus diperhatikan,” ujarnya kepada KabarPenumpang.com.
Indra juga menambahkan, bukan tidak mungkin jika kebijakan seperti ini juga akan diterapkan pada rute penerbangan lain yang memiliki jam terbang tidak jauh berbeda seperti rute Jakarta – Sydney atau Melbourne.
“Kembali ke jam terbang awak kabin, selama tidak melebihi jam kerjanya, ya it’s okay. Mungkin nantinya (jika skema penerbangan ini sudah beroperasi) jam off-duty awak kabin akan ditambah,” tandas mantan Direktur Utama Garuda Indonesia ini.
Namun terlepas dari semua rencana ini, Garuda Indonesia sudah kadung membukukan kerugian sebesar US$175 juta atau yang setara dengan Rp2,45 triliun (kurs Rp 14.004/US$) di tahun 2018 silam. Apakah pengurangan fasilitas awak kabin ini merupakan salah satu langkah yang dilakukan oleh emiten penerbangan BUMN untuk melakukan penghematan?
Apakah Anda masih ingat dengan pernyataan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan yang pada pertengahan tahun 2018 kemarin mengindikasikan bahwa Indonesia akan menghentikan impor pesawat Airbus dan beralih menggunakan Boeing? Ya, pernyataan ini merupakan reaksi pemerintah terhadap aksi sepihak yang dilakukan oleh Eropa yang menghambat ekspor biodiesel asal Indonesia. Namun dalam rentang waktu setahun, ada banyak kejadian terjadi dan belakangan ini, isu serupa kembali mencuat.
Baca Juga: Pilihan Pengadaan Pesawat, Mengapa Maskapai Pilih Airbus dan Boeing?
Adalah Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita yang kali ini menabuh genderang perang dengan Benua Biru. Masih bermuara pada akar permasalahan yang sama, kini opsi balas dendam pihak RI turut menyeret Bos Lion Air, Rusdi Kirana yang diketahui memiliki pesanan armada Airbus dalam jumlah yang cukup banyak.
Penerapan bea masuk untuk produk biodiesel asli Indonesia ke Benua Biru agaknya terlalu ‘mencekik’ dan hal ini membuat Menteri Enggertiasto menjadi geram. Diklaim, pihak Kementerian Perdagangan telah melayangkan surat keberatan ke World Trade Organization (WTO) terkait hal ini. Terlepas dari latar belakang ‘perang dingin’ ini, apakah sektor aviasi domestik mampu beroperasi tanpa armada berlabel Airbus?
KabarPenumpang.com mengutip dari laman simpleflying.com (25/8), total ada 219 pesanan unit Airbus dari tiga maskapai Tanah Air: 113 unit A320-200neo dan 65 unit A321-200neo milik Lion Air, dua unit A320neo dan 14 unit A330-900neo milik Garuda Indonesia, dan 25 unit A320neo milik Citilink.
Ketiga maskapai dalam negeri ini mempercayakan produksian Airbus untuk menyediakan pesawat narrow-body. Semisal benar skema serangan yang dilancarkan Pemerintah Indonesia ini akan berdampak pada penghentian impor produk Airbus, lalu jenis armada apa yang akan dioperasikan untuk mengakomodir pangsa pasar penerbangan narrow-body dalam negeri?
Pertanyaan ini semakin menguat pasca grounded massal dari Boeing 737 MAX yang dalam kasus ini menjadi rival apple-to-apple dari keempat varian pesawat Airbus di atas. Memang, pihak Boeing mengatakan bahwa varian 737 MAX akan kembali mengudara di tahun 2020. Tapi apa jadinya jika rencana tersebut meleset dan sialnya, Boeing 737 MAX tidak mendapat sertifikasi untuk kembali mengangkut penumpang?
Mungkin opsi lain jatuh pada penggunaan armada ‘black horse’ seperti Bombardier dan merk dagang ‘tier II’ lainnya. Namun agaknya hal tersebut terlalu berisiko mengingat kedigdayaan Boeing dan Airbus di sektor aviasi global sudah kadung mendarah daging dan sulit untuk diruntuhkan.
Belum lagi permasalahan teknis seperti suku cadang, biaya perawatan, hingga kecekatan teknisi lapangan dalam merawat dan memperbaiki armada selain Boeing dan Airbus. Sedikit banyaknya, ini juga menjadi pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang.
Bak Daud melawan Goliath, nampaknya dalam kasus ini pihak Indonesia sudah terlalu terburu-buru dalam mencetuskan pernyataan. Sebaliknya, mungkin efek penghentian impor dari Indonesia ini (mungkin) tidak membawa dampak yang signifikan terhadap perusahaan – mengingat masih banyak maskapai di luar sana yang antre untuk mendapatkan armada dari perusahaan asal Uni Eropa ini.
Baca Juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?
Agaknya hal ini tidak akan menjadi masalah yang terlalu berarti jika Airbus dan Boeing masih berada dalam posisi yang sejajar (sama-sama masih bersaing untuk mendistribusikan pesawat). Namun jatuhnya dua unit Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines menjadi pertanda bahwa pamor Boeing ‘menukik’ jauh meninggalkan Airbus.
Menurut Anda, apakah aksi sepihak Uni Eropa ini pantas diganjar dengan ‘hukuman’ penghentian impor Airbus?
Seorang anak berusia 13 tahun menangis ketika ditemukan sendirian di Bandara San Francisco. Remaja putri tersebut ditemukan oleh seorang pria yang tak disebutkan namanya. Saat itu remaja tersebut sendirian dan tertekan sehingga sang pria mengizinkan untuk menggunakan ponselnya agar bisa menghubungi ortangtuanya.
Baca juga: Gadis Kecil Usia 5 Tahun Tertinggal di Bandara Setelah Keluarganya Pulang Berlibur
Dilansir Kabarpenumpang.com dari laman simpleflying.com (26/8/2019), sang orang tua setelah mendapat telepon dari anaknya karena sendirian dan tak tahu harus berbuat apa, lantas mereka meminta pria yang menolong putrinya tersebut ke bagian konter Alaska Airlines dan meminta maskapai menghubungi. Menurut orang tua remaja tersebut maskapai akhirnya mengakui bahwa mereka kehilangan anak selama masa singgah.
Hal ini menjadi kontradiksi langsung dengan kebijakan maskapai di situs web mereka dan menyatakan bahwa setelah menyerahkan anak Anda kepengasuhan Alaska Airlines akan tetap berada dibawah kepengawasan staf setiap saat.
“Kami memberikan setiap anak yang bepergian sendiri dengan potongan identitas unik yang harus mereka kenakan setiap saat selama berada dalam perawatan kami. Anak usia 13 tahun yang mendapat layanan monitor adalah opsional dan seorang anak dapat bepergian sendiri,” tulis maskapai tersebut di web.
Adanya insiden ini membuat Alaska Airlines memberikan tanggapan, dimana mereka melakukan investigasi yang mencakup catatan spesifik dengan melacak pergerakan penumpang.
“Sementara kami memperhatikan penumpang remaja kami sepanjang waktu untuk memahami bahwa dia mungkin merasa tidak diawasi di daerah yang ramai dan untuk itu kami sangat menyesal. Kami juga berpikir bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik berkomunikasi dengannya,” kata Alaska Airlines.
Setelah mengeluarkan pernyataan ini, maskapai telah mengembalikan biaya kepada orang tua yang masih mengejar kompensasi tambahan. Diketahui, remaja putri ini bepergian sendirian dari Raleigh di North Carolina melalui San Francisco menuju ke Spokane di Washington awal pekan ini.
Baca juga: Bayi Tertinggal di Ruang Boarding, Ibu Panik dan Pesawat Terpaksa “Return to Base”
Orang tuanya telah membayar biaya tambahan $75 kepada pihak maskapai sebagai bagian dari layanan bagi penumpang remaja yang pergi tanpa pendampingan. Layanan ini mencakup penjagaan terhadap anak yang bepergian sendiri dari gerbang awal hingga ke tujuan dengan aman dan selamat
Produsen otomotif kenamaan asal Jepang, Honda, mengungkapkan bahwa mereka memiliki teknologi airbag terbaru yang masih dalam pengembangan. Dengan tujuan untuk menjamin keselamatan penumpang, fokus tambahan dari Honda sendiri adalah agar airbag ini bisa lebih ‘defensif’ melindungi penumpang dari tabrakan yang berasal dari sudut-sudut kendaraan – baik tabrakan antar kendaraan atau dengan benda lain.
Baca Juga: Bila Tak Cermat, Airbag Justru Bisa Membayakan Anda
Airbag ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian proyek Honda yang akan dirilis di Amerika Serikat pada tahun 2020 mendatang dan ditujukan untuk mengurangi angka kematian di jalan akibat kecelakaan.
“Teknologi airbag baru ini merupakan upaya berkelanjutan Honda untuk meningkatkan keselamatan penumpang dalam berbagai skenario kecelakaan, dan membuktikan bahwa teknisi kami merefleksikan pola pikir yang inovatif untuk menekan angka cidera dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas,” ungkap Jim Keller, Honda R&D Americas President, dikutip KabarPenumpang.com dari laman hotcars.com (25/8).
“Berpegang teguh pada prinsip ‘Safety for Everyone’, para teknisi kami di Honda sadar betul bahwa apa yang mereka kerjakan sekarang akan membawa dampak luas di luar sana dalam jangka waktu yang panjang,” tandas Jim.
Di sini, teknisi Honda berupaya untuk meminimalisir tekanan lateral yang mungkin dapat diterapkan pada bagian kepala pengemudi dan penumpang yang ada di bagian depan kendaraan. Selain itu, airbag juga didesain lebih besar yang bertujuan untuk memberikan ruang lebih kepada kepala penumpang atau pengemudi – seperti sebuah sarung tangan baseball.
Jika airbag pada umumnya menggunakan single inflatable section, maka itu akan berbeda dengan yang tengah dikembangkan oleh Honda ini, dimana akan ada empat komponen utama yang tersemat di dalamnya, tiga sisi airbag yang berfungsi untuk menampung kepala penumpang (satu di bagian muka, dan dua lainnya pada bagian pinggir), dan sailpanel yang berfungsi seperti sarung tangan baseball tadi.
Baca Juga: 30 Tahun Airbag Hadir Untuk Keselamatan Dunia Otomotif
Apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, seharusnya airbag kembangan Honda ini bisa dengan sempurna ‘menangkap’ kepala penumpang layaknya sarung tangan baseball. Jika skema ini terlaksana dengan sempurna, maka ada banyak ratusan nyawa di luar sana yang bisa selamat dari kecelakaan.
PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengkampanyekan nilai-nilai antikorupsi. Adanya kampanye ini disambut baik oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, bahkan dirinya berharap kampanye tersebut tidak hanya berdampak di MRT saja tetapi masyarakat daerah lain.
Baca juga: Rilis “Park and Ride South Quarter,” MRT Jakarta Kolaborasi dengan Intiland Development
“Hari ini MRT Jakarta dengan KPK kita mendapatkan dukungan ya untuk melaksanakan sebagian dari program mendorong antikorupsi di kawasan MRT Jakarta dan lewat proses kerja sama ini nantinya akan dilewatkan stiker atau iklan layanan masyarakat oleh seluruh pimpinan. Nanti bisa kita lihat di stasiun,” ujar William di Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Stiker nilai-nilai antikorupsi di kereta MRT Jakarta (KabarPenumpang.com)
Tak hanya penempelan stiker ‘Berani Jujur Hebat’ di dalam kereta MRT, William mengatakan, kampanye antikorupsi ini juga akan ada di layar LED yang ada di stasiun MRT. Salah satunya yang KabarPenumpang.com pantau adalah di LED Stasiun Blok M yang diputar selama 15 detik.
“Di blok M itu nanti kita bisa melihat selain yang ditempel di tempat duduk, juga akan ada dalam tampilan LED. Saya juga mau lihat ini juga baru dipasang kemarin. Jadi, sekali lagi, terima kasih karena kita akan dukung sepenuhnya upaya melakukan kampanye,” ujar William.
Menurutnya, nilai-nilai antikorupsi ini bisa terlihat pada budaya antre yang baik. Selain itu karyawan MRT juga tidak diperkenankan meneripa tip sebagai bentuk kampanye antikorupsi.
William mengatakan, memberikan tip tidak diperkenankan dan sudah dipesankan kepada seluruh jajaran. Dia mengatakan, pihaknya hanya menerima yang diterima setiap bulan seperti gaji. Sebab ini adalah tanggung jawab.
Adanya kolaborasi ini, KPK yang dihadiri oleh Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan, dilakukannya pemasangan stiker ini secara bersama karena berpikir, antikorupsi bukan hanya dibutuhkan KPK tetapi juga untuk MRT. Dia menyebutkan, mulai dari masalah planning hingga pemanfaatannya pun KPK selalu ingin bekerja sama dengan MRT.
Baca juga: Pelajari Keunggulan Seoul Metro, MRT Jakarta Kembangkan Kapasitas Operasi dan Sistem Pemeliharaan
“MRT itu menjadi simbol baru juga, menjadi simbol dunia usaha yang betul-betul memperhatikan nilai-nilai integritas dan antikorupsi sejak awal. Oleh karena itu, kami juga berharap agar para pengguna MRT itu juga adalah orang-orang baik,” kata Laode.
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa tersebut agaknya tepat untuk menggambarkan situasi yang sempat memanas di Iran belakangan ini, dimana sempat terjadi boikot besar-besaran terhadap pionir aplikasi ride-hailing di Iran, Snapp. Berawal dari perselisihan antara pengemudi dan penumpang, siapa sangka insiden ini bisa berbuntut panjang dan cukup masif.
Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing
Insiden ini bermula ketika seorang pengemudi Snapp bernama Saeed Abed berusaha untuk mengingatkan penumpang wanitanya untuk membetulkan hijab yang terlepas dari kepalanya. Di sini, Saeed hanya berupaya untuk menegakkan hukum yang berlaku di Iran, yang menyebutkan bahwa setiap wanita diwajibkan untuk menutup auratnya dengan mengenakan kerudung dan baju yang longgar.
Tidak terima diceramahi, wanita ini lalu beradu argumen dengan Saeed sebelum pada akhirnya turun dari mobil yang ditumpanginya tersebut. KabarPenumpang.com mengutip dari laman aljazeera.com, kejadian yang diperkirakan terjadi pada 6 Juni 2019 kemarin ini dengan cepat menjadi buah bibir warganet setelah penumpang terkait mengungkapkan apa yang baru ia alami di media sosial Twitter – disertakan dengan nama dan foto Saeed, sang pengemudi.
Singkat cerita, cuitan sang penumpang wanita yang tidak diterima ini telah dihapus karena alasan yang tidak disebutkan – namun screen capture dari cuitannya ini sudah kadung tersebar. Pro dan kontra mewarnai insiden yang (sebenarnya) berlandaskan dari suatu hal yang baik ini.
Banyak publik di luar sana yang menyanjung aksi dari Saeed yang mengindikasikan bahwa ia adalah seorang warga negara yang patuh dan selalu berusaha untuk menegakkan peraturan yang ada. Namun tidak sedikit juga dari warganet yang menilai aksi dari Saeed ini terlalu personal untuk dilontarkan kepada seorang penumpang.
Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?
Saking viralnya, Saeed sampai-sampai dipuji sebagai Pahlawan dan diundang ke stasiun TV milik Pemerintah sebagai buah manis dari upayanya untuk menegakkan syariat Islam. Namun viralnya Saeed menjadi awalan dari aksi boikot terhadap aplikasi Snapp – tempat Saeed bekerja. Warganet yang kontra terhadap aksi heroik Saeed ini berbondong-bondong menghapus aplikasi Snapp dari ponsel pintar mereka.
Tagar #BoycottSnapp dan #WeDeleteSnapp yang menyerukan aksi boikot ini juga sempat menjadi trending di Iran untuk beberapa hari. Tidak diketahui pasti berapa angka tepat dari penurunan aplikasi terunduh dari Snapp ini, namun satu yang pasti, hal sepele bisa saja menjadi viral dengan sangat mudah.
Pasca jatuhnya dua pesawat Boeing berjenis 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines, industri penerbangan global ternyata mengalami pasang surut yang cukup fluktuatif. Selain pasar yang sempat didominasi oleh Airbus – rival abadi Boeing, ternyata pengiriman pesawat secara keseluruhan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Wah, siapa sangka buntut dari dua kecelakaan yang hanya berselang lima bulan ini sampai panjang begini?
Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (26/8), organisasi perdagangan yang mewakili industri dirgantara, pertahanan, keamanan dan ruang angkasa asal Inggris, ADS menyebutkan bahwa hanya ada 88 unit pesawat yang dikirim pada periode Juli 2019. Angka tersebut menyusut sebesar 24 persen ketimbang bulan Juli tahun lalu. ADS menyebutkan bahwa penyusutan angka pengiriman pesawat ini diakibatkan oleh penurunan produksi dan grounded massal dari pesawat single-aisle, Boeing 737.
Sebanyak 716 pesawat telah dikirimkan sepanjang tahun 2019 ini, namun angka tersebut masih 11 persen lebih rendah ketimbang tahun 2018 kemarin. Munculnya fakta ini berbarengan dengan revisi prediksi jumlah pesawat yang dikirim pada tahun 2019 yang dirilis oleh ADS: dari 1.789 unit menjadi 1.489 unit.
Industri kedirgantaan global memang tengah lesu-lesunya belakangan ini – tepatnya setelah jatuhnya Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 dan Boeing 737 MAX 8 yang dioperatori oleh Ethiopian Airlines (ET-302) yang jatuh di Bishoftu, Ethiopia pada 10 Maret 2019. Jika ditotal, jumlah korban meninggal dari dua insiden mematikan ini lebih dari 300 orang.
Terlepas dari dua insiden di atas, demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Hong Kong beberapa waktu ke belakang juga turut menyumbang presentase yang cukup signifikan pada melemahnya permintaan perjalanan udara.
Tapi jika ditimbang dari fakta yang terpapar di atas, menurunnya angka pengiriman pesawat tersebut tidak lepas dari peranan vital Boeing yang selama ini menyumbangkan presentase angka yang cukup besar bagi sektor aviasi global. Bagaimana tidak, jagad kedirgantaraan global – terutama di kelas pesawat jet narrow-body dan wide body, di duopoli oleh Airbus dan Boeing.
Baca Juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body
Kedigdayaan dua perusahaan beda benua ini memang sangat sulit untuk diruntuhkan. Saking sulitnya untuk diruntuhkan, Rusia dan Cina sampai bekerja sama di bawah satu payung China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC) dalam mengembangkan CR929, pesawat wide-body yang kabarnya siap untuk menggusur tahta dua perusahaan tersebut.
Kembali lagi, walaupun sudah terpuruk pasca jatuhnya uda unit 737 MAX 8, tapi Boeing merupakan ‘pemain lama’ yang sudah punya pasarnya sendiri, dan sulit untuk diruntuhkan begitu saja.
Demo massa terkait RUU Ekstradisi yang terjadi di Hong Kong hingga kini masih mengalami pasang surut – kadang memanas, kadang landai. Namun satu yang pasti, demo ini sudah hampir berjalan lima bulan dan telah merugikan banyak pihak. Di sini, maskapai terbesar di Hong Kong, Cathay Pacific menjadi perusahaan yang cukup banyak menyumbang demonstran, sekaligus menjadi salah satu perusahaan yang tak luput dari protes massa yang mencapai ribuan personil tersebut. Namun siapa sangka bahwa demo ini bisa membawa Cathay ke ambang kehancuran?
Baca Juga: Mayoritas Pilot dan Awak Kabin Dukung Aksi Protes, Cathay Pacific Tujuan Cina Daratan Terancam Lumpuh
Confederation of Trade Unions (CTU) atau konfederasi serikat buruh sebelumnya telah menyuarakan protes mereka di hadapan markas besar Cathay. Protes ini berlangsung setelah pemberitaan tentang pemutusan hubungan kerja dari ketua Hong Kong Dragon Airlines Flight Attendants’ Association, Rebecca Sy. Lalu, mengapa pemberhentian hubungan kerja Rebecca ini bisa menjadi satu pemicu ampuh untuk meruntuhkan kejayaan Cathay Pacific?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (26/8), aksi massa yang memprotes pemberhentian hubungan kerja Rebecca ini hanyalah segelintir dari variabel yang bisa menggiring Cathay Pacific ke ambang kehancuran. Bagaimana tidak, seperti yang sudah disinggung di atas, maskapai yang tergabung di dalam aliansi penerbangan Oneworld ini merupakan salah satu penyumbang massa terbesar dalam aksi protes terhadap RUU Ekstradisi ini – diperkirakan lebih dari 2.300 karyawan Cathay Pacific telah bergabung dalam aksi protes, diantaranya 1.200 orang merupakan pilot dan awak kabin.
Bukan tidak mungkin jika seorang penting seperti Rebecca ini akan turut ‘menyerap’ karyawan Cathay untuk tidak mengabdi lagi kepada pihak perusahaan.
Belum lagi putusan pihak maskapai untuk menangguhkan penjualan tiket penerbangan dari Hong Kong International Airport – markas dari Cathay Pacific yang terjadi pada kisaran minggu ketiga bulan Agustus kemarin.
Faktor lain yang juga bisa ‘menenggelamkan’ Cathay Pacific adalah fakta bahwa 24 destinasi domestik Cathay Pacific adalah menuju Cina daratan – seperlima dari semua penerbangan yang dilayani oleh Cathay. Mengutip dari laman South China Morning Post, jalur Cina dan Hong Kong menghasilkan lebih dari setengah pendapatan Cathay Pacific pada 2018 – yaitu HK$57 miliar dari total pendapatan keseluruhan Cathay Pacific yang mencapai HK$111 miliar.
Ditambah dengan ketakutan awak kabin untuk mengudara ke Cina daratan, dimana seorang diantaranya (yang ingin tetap anonim) mengungkapkan bahwa penggeledahan yang dilakukan oleh otoritas Cina daratan meninggalkan kesan buruk kepadanya.
Mengutip dari laman sumber lain, saham Cathay Pacific pun sudah jelas mengalami penurunan. Dibukukan pada 12 Agustus 2019 kemarin, saham Cathay terjun bebas lebih dari empat persen – dimana kondisi ini mendekati level terendah saham maskapai dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
Baca Juga: Situasi Tak Kunjung Kondusif, Cathay Pacific Tangguhkan Penjualan Tiket di Hong Kong
Saham Cathay Pacific anjlok ke level 9,82 dollar Hong Kong pada sesi awal perdagangan. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2018 dan hampir mencapai level terburuk sejak krisis keuangan global pada 2009.
Para analis yang enggan acuh terhadap carut marut masalah RUU Ekstradisi ini mengatakan bahwa penurunan saham ini juga akan berpengaruh terhadap, “penerbangan ke Eropa, dan tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh juga terhadap penerbangan maskapai ke Amerika, karena mereka terbang di wilayah udara Cina,” terang analis.
Kalau sudah seperti ini, berapa lama Cathay Pacific akan mampu bertahan menerpa badai bertubi RUU Ekstradisi?