Ada yang baru di aplikasi Garuda Indonesia “GIA Mobile,” persisnya pada aplikasi yang berjalan di OS Android ini dilengkapi fitur baru, yaitu berupa Voice Command dan Virtual Assistant. Dengan kedua fitur baru tersebut, para calon pemumpang dan pengguna aplikasi dapat memperoleh informasi dan reservasi layanan penerbangan Garuda Indonesia lewat perintah suara kepada virtual assistant.
Baca juga: Rambah Aplikasi E-Commerce dan Distribusi Logistik, Garuda Indonesia Gaet Go-Jek
Update fitur yang dirilis pada 29 Agustus lalu, juga memberikan keleluasan lebih dalam pengaturan storage handphone, mengingat aplikasi GIA Mobile ini hanya sebesar 28 MB lebih ringan dari versi sebelumnya.
Dalam pesan tertulis, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan,”Hadirnya pembaharuan fitur pada aplikasi GIA Mobile ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menyediakan layanan digital experience yang lebih seamless kepada pengguna jasa dengan berbagai keunggulan dan kemudahan penggunaan, khususnya pada proses pemesanan tiket”.
“Fitur digital ini akan terus kami kembangkan kembali melalui berbagai penyempurnaan teknologi untuk menghasilkan layanan fitur virtual assistant dan voice command yang lebih baik lagi”, jelas Ari.
Lebih lanjut, melalui fitur baru virtual assistant dan voice command ini, Garuda Indonesia menghadirkan pengalaman pre journey yang berbeda berbekal adaptasi teknologi “Natural Language Processing (NLP)” serta “Text to Speech (TSS)” dalam mengoptimalkan layanan digital teranyar ini. Dimana pengguna bisa berbicara dengan GIA dalam bahasa formal maupun informal, menjadikan GIA sebagai personal asisten bagi pengguna setia Garuda Indonesia.
Baca juga: Akibat Temuan BPK Paksa Garuda Indonesia Group Hentikan Layanan WiFi Gratis
Saat ini fitur tersebut baru dapat dinikmati oleh pengguna mobile phone berbasis Android. Adapun pada platform iOS akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat.
Pembaharuan pada aplikasi mobile apps turut memudahkan pengguna jasa dalam menerima Informasi terkait operasional penerbangan seperti nomor gate, informasi flight delay, juga informasi layanan seperti promosi dan juga GarudaMiles.
Maskapai plat merah Garuda Indonesia akhirnya mengekor apa yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Singapore Airlines, Qantas, Thai Airways, dan Virgin Australia, yaitu melarang penumpang membawa laptop rilisan Apple, MacBook Pro (Retina 15-inch). Adapun jenis laptop ini tidak boleh masuk baik ke dalam kabin maupun ke dalam bagai kargo setiap pesawat Garuda. Kebijakan ini diambil Garuda setelah pihak Apple melakukan penarikan kembali produk tersebut.
Baca Juga: Mengekor FAA, Qantas dan Virgin Australia Larang MacBook Pro 15-inch Masuk Kargo
Kebijakan ini ditempuh pihak maskapai sebagai bentuk antisipasi dan tatalaksana safety pada layanan penerbangan Garuda Indonesia. Kebijakan tersebut sejalan dengan aturan yang dikeluarkan oleh European Union Aviation Safety Agency (EASA) serta regulasi dari IATA Dangerous Goods Regulations (Special Provisions A154) terkait dengan larangan membawa MacBook Pro (Retina 15-Inch) yang telah diinformasikan oleh pihak Apple menyusul ditemukannya permasalahan pada baterai laptop tersebut yang berpotensi menimbulkan gangguan terhadap aspek keselamatan penerbangan.
Spesifikasi Standar
Laptop yang menggunakan layar Retina berukuran 15,4 inci (diagonal) ini juga dilengkapi dengan lampu latar LED dan teknologi IPS; resolusi 2880 x 1800 pada 220 piksel per inci dengan dukungan untuk jutaan warna.
MacBook Pro (Retina 15-inch) ini sendiri terbagi ke dalam dua kelompok, tergantung dari prosesor yang digunakan. Pertama, 2,2GHz yang menggunakan prosesor Intel Core i7 quad-core 2,2 GHz (Turbo Boost hingga 3,4 GHz) dengan kapasitas penyimpanan hingga 256GB berbasis PCIe. Satunya lagi 2,5 GHz yang menggunakan prosesor Intel Core i7 quad-core 2,5 GHz (Turbo Boost hingga 3,7 GHz) dengan kapasitas penyimpanan flash 512GB berbasis PCIe.
Laptop yang dirilis pada pertengahan tahun 2015 ini menggunakan baterai lithium-polymer bawaan 99,5-watt-jam – dimana baterai ini ditengarai sebagai penyebab dari ditariknya jenis laptop ini dari pasar.
Baca Juga: Cek Sekarang! Singapore Airlines Larang MacBook Pro Jenis Tertentu Masuk KabinAlasan Ditarik
Pada Juni 2019 kemarin, pihak Apple mulai melakukan penarikan terhadap laptop jenis ini karena baterai yang digunakan disinyalir dapat menimbulkan kebakaran. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Apple menyebutkan ada sejumlah unit perangkat yang terdampak. Perangkat-perangkat ini dijual antara September 2015 dan Februari 2017.
Jika memenuhi syarat, pihak Apple akan mengganti baterai MacBook Pro Retina Display 15 inci secara gratis.
Untuk memastikan apakah MacBook Pro (Retina 15-inch) Anda terdampak atau tidak, silakan klik tautan ini.
Mengingat instruksi keselamatan yang selalu diperagakan awak kabin sesaat sebelum pesawat tinggal landas sudah kerap kali diabaikan oleh penumpang, maka dari itu maskapai asal Negeri Matahari Terbit, Japan Airlines (JAL) berinisiasi untuk meluncurkan video keselamatan baru yang akan diputar di layar entertainment. Sudah bukan menjadi rahasia umum, sikap acuh tak acuh penumpang membuatnya kebingungan ketika tengah dihadapkan pad situasi darurat – padahal poin tersebut sudah disinggung pada instruksi keselamatan.
Baca Juga: Japan Airlines Terjun Ke Segmen Low Cost Carrier
Seolah menggantikan peran dari peragaan yang dilakukan oleh awak kabin, video ini akan menampilkan sejumlah potensi masalah yang bakal muncul di dalam sebuah penerbangan dan bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut.
“Video keselamatan menampilkan potensi masalah yang ada di dalam kabin serta memberitahu penumpang tentang jalur evakuasi semisal ada suatu hal darurat terjadi,” tulis pihak maskapai dalam siaran pers.
“Video ini mencakup skenario realistis yang menggambarkan situasi potensial mungkin terjadi jika penumpang mengambil tindakan yang tidak tepat,” lanjutnya.
Video keselamatan ini sendiri menampilkan karakter seorang penumpang yang dikonversi ke dalam bentuk 3D – dan tentu saja mencantumkan bahasa Jepang dan Inggris sebagai subtitle-nya.
Jika dirangkum, beberapa poin penting yang ditayangkan pihak JAL dalam video ini mencakup:
1. Cara mengencangkan dan mengendurkan safety belt,
2. Larangan merokok selama penerbangan,
3. Panduan menggunakan gadget,
4. Cara menggunakan masker oksigen dalam keadaan darurat,
5. Lokasi pintu keluar darurat, dan
6. Cara menggunakan pelampung keselamatan.
Namun, di sini penumpang tidak akan bosan ketika melihat video keselamatan ini. Ya, di dalam video berdurasi kurang lebih tiga menit ini juga Anda dapat melihat efek jika Anda tidak mematuhi peraturan yang berlaku dengan menyisipkan unsur humor di dalamnya.
Baca Juga: 1 Agustus 1951, Japan Airlines Resmi Berdiri dengan Modal 100 Juta Yen
Sebut saja seperti orang yang tidak mengenakan sabuk pengaman akan terpental ketika pesawat mengalami turbulensi, atau barang-barang penumpang akan beterbangan ke sana ke mari ketika mereka tidak menyimpannya dengan benar.
Bagi Anda yang penasaran, berikut video keselamatan yang ada di dalam maskapai Japan Airlines.
https://www.youtube.com/watch?v=CAzUKWGUbOI
Prosedur imigrasi yang ketat sudah menjadi kewajaran yang berlaku di setiap bandara internasional. Bahkan pada jam kedatangan yang padat, tak jarang antrean imigrasi bisa mengular panjang. Meski cek konter imigrasi telah dibuka beberapa, di bandara sekelas Hong Kong dan Changi, antrean bisa sangat panjang dan membuat pelancong mengalami keletihan.
Baca juga: Bandara Dubai Hadirkan Teknologi Baru Keimigrasian di Pekan Teknologi Gitex 2017
Nah melihat potret di atas, Otoritas Bandara Internasional Changi Singapura membuat terobosan. Mulai 28 Agustus 2019, pihak Singapore’s Immigration and Checkpoints Authority (ICA) meluncurkan layanan yang disebut automated immigration gate. Ya, sesuai namanya yang berlebel otomatis, pelancong saat memasuki gerbang imigrasi tak perlu bertatap muka dengan petugas yang judes dan kadang wawancara singkat. Tapi pelancong cukup melakukan scan paspor di gerbang, bila semua clear, proses imigrasi otomatis ini hanya butuh waktu yang sangat cepat. Alhasil tidak perlu antre yang panjang.
Dikutip dari KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com, sayangnya layanan imigrasi otomatis ini baru berlaku untuk pemegang paspor Jepang dan Korea Selatan. Sebenarnya layanan ini ditujukan untuk frequent traveler yang sering bolak balik ke Singapura.
Untuk mendapatkan fasilitas yang juga disebut Enhanced Immigration Automated Clearance System (eIACS) tidak diperlukan biaya tambahan. Hanya saja pelancong perlu mengajukan permohonan. Masih dari sumber yang sama, disebut konter pendaftaran ada di Pusat Pelayanan ICA yang berada di Terminal 3.
Baca juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta
Mengingat tingginya frekuensi pebisnis dan wisatawan asal Indonesia yang bertandang ke Singapura, tentu idealnya pemegang paspor Indonesia juga layak mendapatkan fasilitas imigrasi otomatis ini.
Ketika sebuah kereta api berhenti beroperasi tidak berarti mati begitu saja. Mungkin hanya berganti nama dan berganti relasi keberangkatan serta tujuan kereta itu saja. Tetapi beberapa yang mati bahkan tidak ada gantinya tetapi diteruskan oleh kereta api yang sudah ada, beroperasi dan berjalan bergandengan ketika si kereta tersebut masih beroperasi.
Baca juga: KA Cisadane – Timbul Tenggelam Hingga Akhirnya ‘Menghilang’KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, salah satu kereta yang sudah tak lagi beroperasi adalah Kereta Api (KA) Rajawali. Kereta ini melayani relasi Surabaya Pasar Turi menuju ke Semarang Tawang.
Pertama kali meluncur, KA Rajawali tanggal 21 Mei 2003 atau satu hari setelah peluncuran Kereta Api Harina. KA Rajawali kala itu adalah produk baru yang mengisi kekosongan layanan relasi Surabaya – Semarang.
Perjalanan dari Surabaya menuju Semarang ini sejauh 240 km dan ditempuh dengan waktu empat jam 20 menit. KA Rajawali sendiri hanya berhenti di Stasiun Surabaya Pasar Turi, Stasiun Bojonegoro, Stasiun Cepu, Stasiun Ngrombo dan Stasiun Semarang Tawang.
Kemudian pada 2 Agustus 2010, KA Rajawali kemudian menambahkan gerbong kelas bisnis dalam setiap perjalanannya. Pada 12 Februari 2011 PT Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan KA Rajawali 2 yang disebut KA Rajawali Pagi.
Nama KA Rajawali sendiri diambil dari salah satu jenis burung untuk menggambarkan kecepatan perjalanan kereta. Sayangnya KA Rajawali 2 kemudian akhirnya dihapuskan dari karena tingkat okupansi yang rendah.
Tanggal 1 Maret 2013, KA Rajawali relasi Semarang Tawang – Surabaya Pasar Turi akhirnya berhenti operasinya. Namun meski berhenti beroperasi, tugas KA Rajawali digantikan oleh KA Harina yang memperpanjang relasinya dari Bandung ke Surabaya.
Perpanjangan relasi KA Harina ini juga untuk mengoptimalkan dan mengefisienkan pengoperasian sarana. Sehingga penumpang KA Rajawali tujuan Surabaya bisa beralih menggunakan KA Harina yang berangkat lebih pagi dari Stasiun Semarang Tawang.
Baca juga: KA Aji Saka – Tingkat Okupansi Rendah, Terpaksa Berhenti Mengular Pada Juli 2014
Harga tiket yang diberlakukan untuk KA Harina Semarang-Surabaya kelas eksekutif adalah Rp140 ribu pada rentang batas bawah dan Rp350 ribu pada batas atas. Sementara untuk kelas Bisnis, Rp105 ribu pada batas bawah dan Rp250 pada batas atas.
Menyusul regulasi pelarangan membawa laptop MacBook Pro 15-inch yang telah terlebih dahulu dirilis oleh Singapore Airlines beberapa hari ke belakang, kini dua maskapai asal Negeri Kangguru, Qantas dan Virgin Australia juga dikabarkan telah menerapkan regulasi serupa. Sama halnya seperti Singapore Airlines, pihak Qantas dan Virgin Australia juga tidak merilis tenggat waktu pemberlakuan peraturan ini.
Baca Juga: Cek Sekarang! Singapore Airlines Larang MacBook Pro Jenis Tertentu Masuk Kabin
“Sampai pemberitahuan lebih lanjut, semua Apple MacBook Pro 15-inch harus dibawa serta oleh penumpang ke dalam kabin dalam kondisi mati selama penerbangan,” tulis pihak Qantas dalam keterangan tertulisnya, dikutip KabarPenumpang.com dari laman zdnet.com (28/8).
Pemberitahuan serupa juga dilayangkan pihak Virgin Australia, dengan dalih “tindak pencegahan. Keamanan dan keselamatan penumpang serta awak kabin merupakan prioritas kami,”
Menurut pihak Virgin Australia, peraturan ini mengikuti penarikan Apple Macbook 15-inch rilisan tahun 2015 yang berlaku di seluruh dunia. Keputusan kedua maskapai ini menyusul regulasi yang diberlakukan oleh Federal Aviation Administration (FAA) terhadap MacBook Pro 15-inch rilisan Apple di dalam setiap penerbangan.
“Karena ini merupakan laptop generasi lama, jadi dikhawatirkan kondisi baterai yang terlalu panas dapat memicu kebakaran di dalam penerbangan,” terang pihak Apple menanggapi ‘regulasi tambahan’yang mulai diberlakukan oleh sejumlah maskapai nomor wahid ini.
Selain Singapore Airlines, Qantas, dan Virgin Australia, satu maskapai lain yang juga telah menerapkan peraturan ini adalah Thai Airways.
Masih hangat dalam ingatan beberapa waktu lalu, sejumlah otoritas bandara dan maskapai melarang penumpang untuk mengoperasikan jenis ponsel pintar Samsung Galaxy Note 7 selama penerbangan. Produsen elektronik asal Korea Selatan ini pada akhir tahun 2016 silam mengatakan bahwa Samsung Galaxy Note 7 memiliki baterai yang cacat produksi sehingga mudah meledak dan terbakar.
Baca Juga: Laptop Anda Diperiksa di Bandara? Jangan Keburu Panik!
Sebelumnya, pihak Apple telah mulai melakukan penarikan jenis MacBook Pro 15-inch ini secara sukarela karena disinyalir dapat menimbulkan risiko keamanan. Menurutnya, unit laptop yang ditarik secara sukarela ini dijual pada rentang September 2015 hingga Februari 2017. Semua laptop yang dirilis pada rentang waktu tersebut dapat diidentifikasi melalui nomor serinya.
Untuk mengetahui apakah MacBook Pro Anda perlu diganti baterai atau tidak, Anda bisa mengklik “About This Mac” pada menu Apple yang ada di sudut kiri atas layar laptop. Lalu masukkan nomor seri laptop pada laman tersebut untuk mengecek apakah laptop Anda perlu diganti baterai atau tidak.
Pesawat Airbus A330-300 milik Air China yang terbakar pada Selasa (27/8) sore kemarin mungkin tidak akan beroperasi kembali di waktu yang akan datang. Ini disebabkan oleh kerusakan yang cukup parah bada bagian depan pesawat – tempat dimana kepulan asap hitam pertama kali terlihat membumbung. Padahal, pesawat dengan nomor registrasi B-5958 ini usianya masih tergolong ‘muda’ – kurang dari lima tahun.
Baca Juga: Mayday! Mayday! Airbus A330-300 Air China Terbakar di Beijing International Airport!
Dikabarkan, sudah ada sekitar 100 penumpang yang masuk ke dalam kabin dan mereka kaget ketika melihat lampu pendeteksi api menyala merah sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Sontak, mereka langsung dievakuasi keluar dari pesawat, dibantu oleh awak kabin. Beruntung, tidak ada korban jiwa atau luka akibat insiden ini, walaupun ancaman denda kepada pihak Air China sudah menanti di depannya.
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asiatimes.com (28/8), pihak Air China bisa saja dikenakan denda hingga 1,7 miliar yuan atau yang setara dengan Rp3,4 triliun hanya jika pihak maskapai terbukti telah mengkompromikan faktor keselamatan struktural pesawat. Dugaan sementara, api berasal dari baterai lithium yang tersimpan di kompartemen kargo – diduga milik salah satu dari penumpang pesawat dengan nomor penerbangan CA-183 tersebut.
Para peneliti percaya bahwa benda-benda penghantar listrik seperti baterai lithium dapat dengan sangat mudah terbakar dan diklasifikasikan sebagai benda berbahaya.
Insiden terbakarnya A330-300 milik Air China ini lalu dikorelasikan dengan jatuhnya pesawat Boeing 747-400 milik UPS Airlines Flight 6 pada September 2010 lalu, dimana kala itu, pesawat tengah mengangkut muatan baterai lithium dalam jumlah besar. Sebelum jatuh, saksi mata melihat pesawat ini sempat terbakar sebelum akhirnya crashed di dekat Dubai.
Baca Juga: Yang Menarik dari Air China – Terobsesi Gunakan Pesawat Produksi Dalam Negeri
Pasca kejadian jatuhnya UPS Airlinres Flight 6, Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan regulasi yang melarang maskapai penerbangan penumpang untuk membawa baterai lithium dalam jumlah banyak.
Kembali ke persoalan Air China, pihak maskapai juga telah menghubungi Airbus terkait insiden ini, agar supaya pihak produsen pesawat bisa mengirim teknisi guna memeriksa lebih lanjut penyebab kebakaran ini.
Dibutuhkan kesabaran yang amat sangat ketika menghadapi anak yang mengidap keterbelakangan mental – terlebih ketika ia berkendara dengan menggunakan moda transportasi berbasis massal. Pada artikel sebelumnya, sudah pernah dibahas bahwa anak berkebutuhan khusus ini akan lebih terlihat diam ketika berkendara, karena mereka merasa takut dan cemas. Sama seperti yang dialami oleh penumpang United Airlines yang kebetulan tengah mengudara bersama anaknya yang mengidap keterbelakangan mental.
Baca Juga: Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya!
Seperti yang dapat Anda bayangkan, Braysen Gabriel – sang anak mengamuk sejadi-jadinya selama pesawat hendak melakukan proses take-off. Ketakutanlah yang menjadi penyebab anak berusia empat tahun ini mengamuk.
“Ia berteriak, memukul, menendang, dan menarik rambut saya,” tutur Lori Gabriel, Sang Ibu, dikutip KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (27/8).
Lori yang pada awal bulan Agustus kemarin hendak pergi dari San Diego menuju Texas ini sempat merasa tidak enak hati, mengingat amukan Braysen dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan penumpang lain yang ada di penerbangan tersebut.
Lori Gabriel. Sumber: metro.co.uk
“Mungkin mereka akan menyesal telah membeli tiket penerbangan ini dan bertemu dengan kami,” ungkapnya.
Namun apa yang ada di benak Lori tidaklah benar – karena smeua penumpang dan awak kabin yang ada di penerbangan tersebut benar-benar sabar menghadapi Braysen.
“Penumpang yang tidak sengaja tertendang oleh Braysen tidak mempermasalahkannya, pun dengan awak kabin yang jalannya terhalang, mereka sangatlah sabar,” lanjut Lori.
Salah satu dari awak kabin United lalu menghampiri Lori untuk menawarkan bantuan dan membawa Braysen menuju First Class – tempat yang lebih nyaman ketimbang kelas yang diduduki oleh Lori.
Di First Class, amukan Braysen masih belum juga mereda. Ia kembali mengamuk dan tidak sengaja menendang penumpang lain. Namun hebatnya lagi, penumpang yang tertendang tersebut tidak malah memperkarakannya.
Baca Juga: Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat
“Penumpang itu berkata, anak ini bisa menendang bangku saya selama penerbangan, dan saya tidak ada masalah dengan itu,” tandas Lori sembari mengenang kesabaran penumpang yang ada di penerbangan tersebut.
Satu lagi momen yang tidak bisa dilupakan oleh Lori adalah ketika ia dan Braysen tiba di Texas, Lori mendapatkan sebuat surat dari penumpang wanita yang tidak sengaja tertendang oleh Braysen. Surat yang ternyata dibuat oleh awak kabin United yang sedang tidak bertugas itu sangatlah mengiris hati Lori.
“Anda sangat kuat dalam menghadapi anak Anda. Jangan jadikannya (Braysen) sebagai sesuatu yang mengganjal hati Anda. Anak ini adalah berkat dari Tuhan. Teruslah menjadi wanita kuat! Salam hangat, keluarga United.”
Pengguna transportasi umum seperti bus TransJakarta kini akan dimudahkan dengan adanya integrasi bernama Jak Lingko yang merupakan transformasi program Ok-Otrip. Adanya kemudahan integrasi yakni dimana penumpang yang naik mikrotrans dengan tarif Rp0 akan bisa terintegrasi dengan bus TransJakarta dan dikenakan tarif Rp5 ribu.
Baca juga: Hapus Mesin EDC untuk Pembayaran, TransJakarta Tambah Reader TOB di Bus PengumpanKabarPenumpang.com yang menghubungi pihak Humas TransJakarta dijelaskan, bahwa adanya tarif Rp5 ribu yang terintegrasi antara TransJakarta dengan mikrotrans merupakan skema tiga jam. Dimana dikatakan pihak humas TransJakarta, penumpang yang naik mikrotrans kemudian berpindah ke bus TransJakarta akan dikenakan tarif normal Rp3500, kemudian dalam tiga jam naik lagi maka hanya dikenakan Rp1500.
“Misal naik mikrotrans ini 0 rupiah, pindah ke Cililitan naik Transjakarta koridor 10, tap in di kartu Rp3500 terpotong. Sampai di PGC belanja dulu belum sampai tiga jam balik lagi pulang. Nah ketika tapping di halte hanya Rp1500 terpotongnya, jadi Rp5 ribu dalam tiga jam,” kata Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas Transjakarta, Nadia Diposanjoyo.
Dia mengatakan saat ini ada 1231 armada mikrotrans yang sudah melayani 48 rute dan kedepannya target TransJakarta bisa mencapai 6360 armada hingga tahun 2020 mendatang. Nadia menambahkan, Jak Lingko sendiri adalah transformasi OK-Otrip yang merupakan sistem transportasi yang terintegrasi baik rute, manajemen hingga pembayaran.
Integrasi ini sendiri tidak hanya antar mikrotrans, bus kecil, bus medium hingga bus besar di TransJakarta, tetapi juga melibatkan transportasi berbasis rel yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti MRT dan LRT.
Dalam kesempatan itu, Nadia juga memaparkan kalau pihaknya terus melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat. Salah satunya dengan menggandeng Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta. Menurutnya transportasi publik yang terintegrasi memberikan rasa aman bagi anak-anak ketika pergi sekolah.
Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta
Pun dari sisi lingkungan, penggunaan kendaraan umum memungkinkan keselamatan anak Lebih baik sehubungan dengan tidak perlunya mereka membawa kendaraan ke sekolah. Nadia berharap, dengan adanya sistem integrasi ini kedepannya juga akan memudahkan masyarakat yang akan bepergian dan dengan tarif integrasi yang sudah disesuaikan.
Siapa di antara Anda di sini yang pernah atau masih bercita-cita menjadi seorang pramugari? Bisa berkeliling dunia, memiliki pendapatan yang cukup besar, dan dapat bertemu dengan orang-orang baru merupakan segerintil keuntungan yang akan Anda dapatkan ketika menjadi seorang pramugari. Tapi tahukah Anda bahwa seorang pramugari merupakan salah satu pekerjaan yang ‘rawan’ akan pelecehan seksual?
Baca Juga: Pasca Pelecehan Pada Awak Kabin, EVA Air Siap ‘Banned’ Penumpang yang Berperilaku Tak Pantas
Di Jerman, hampir 50 persen pramugari pernah menjadi objek pelecehan seksual. Angka ini tentu saja menjadi ironi tersendiri mengingat betapa dieksploitasinya image seorang pramugari yang identik dengan baju serba ketat dan terkadang tidak seronok ini. Belum lagi sejumlah iklan yang dibuat oleh pihak maskapai yang menyertai awak kabin (pramugari) dan menambahkan bumbu vulgar pada iklan tersebut. Sampai sini saja, image pramugari sudah cukup untuk dijadikan fantasi oleh pria hidung belang.
KabarPenumpang.com mengutip dari laman paddleyourownkanoo.com, sebuah survei yang dilakukan oleh Independent Flight Attendant Organization (UFO) yang mewakili awak kabin di Lufthansa, Eurowings dan Condor menghasilkan angka 49,6 persen yang mengaku pernah menjadi objek pelecehan seksual ketika mereka bertugas.
Fakta lain yang lebih mengejutkan adalah setengah dari presentase tersebut dilakukan oleh onboard supervisors, sementara penumpang menyumbang seperempat dari presentase yang sama. Sebagian besar dari pelecehan seksual ini terjadi ketika pesawat berada di udara, dan 37 persennya terjadi ketika pramugari tengah layover.
Tidak hanya di Negeri Bavaria saja, pelecehan sekual di dunia aviasi juga marak terjadi di Negeri Paman Sam, dimana sebuah survei berbeda menujukkan bahwa dua pertiga awak kabin yang beroperasi di sana pernah mengalami pelecehan seksual sepanjang karir mereka.
Mengintip dari data yang dirilis tahun lalu saja, sebanyak 35 persen pramugari mengaku pernah mendapatkan pelecehan seksual verbal dari penumpang. Mirisnya, dua pertiga dari presentase tersebut tidak melihat suatu upaya yang serius dari pihak maskapai untuk mengentaskan masalah ini.
Baca Juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin
Diperlukannya pengawasan lebih terhadap penyebaran iklan yang menayangkan pramugari dan setiap maskapai harus berupaya untuk menghapuskan citra seksualitas seorang wanita pada awak kabin. Setidaknya langkah ini dapat meminimalisir pelecehan seksual terhadap pramugari.
Selain kontrol dari pihak perusahaan, kontrol pribadi juga harus mulai diterapkan oleh setiap penumpang dan lapisan masyarakat lain yang berhubungan langsung dengan awak kabin. Niscaya, angka ini akan perlahan menurun dan lambat laun akan menghilang.