Aisha Al Mansouri, “Menerbangkan Airbus A380 Terasa Mudah dan Menyenangkan”

Tak sedikit wanita yang kini berprofesi sebagai penerbang, baik pada penerbangan sipil maupun militer sekalipun. Namun, diantara ribuan penerbang wanita di seluruh dunia, mungkin Aisha Al Mansouri menjadi sosok yang beruntung, pasalnya wanita Arab asal Uni Emirat Arab ini telah dipercaya menerbangkan pesawat penumpang terbesar di dunia saat ini, Airbus A380.

Baca juga: Delta Airlines Punya Pilot Sepasang Ibu dan Anak

KabarPenumpang.com merangkum dari gulfnews.com (19/4/2019), Aisha Al Mansouri menjadi menjadi pilot Airbus A380 di maskapai Etihad. Mungkin sebagian dari Anda akan heran bagaimana seorang wanita bisa menerbangkan pesawat dengan bobot 560 ton tersebut.

Usut punya usut, Aisha Al Mansouri ternyata bukan pilot biasa melainkan seorang perwira pertama atau kopilot di Etihad Airways. Sebelum menerbangkan A380, semua berawal dari saudara perempuannya yang lebih dahulu menjadi pilot dan mengajak Aisha ke pertunjukkan udara di Al Ain.

“Saat mengunjungi acara itu ada beberapa orang yang bekerja di sana yang mengatakan kepada saya bahwa program kadet nasional dibuka di Etihad, jadi saya melihat ke dalam program dan memutuskan untuk bergabung, dan dalam delapan bulan saya dipekerjakan,” ujarnya.

Dia mengatakan penerbangan pertamanya di tempat kerja adalah dengan Airbus A320 dengan tujuan Ammam, Yordania. Aisha sendiri mengaku dirinya memiliki perasaan yang berbeda, padahal pengalaman pelatihan terbangnya cukup banyak salah satunya menerbangkan Cessna 172.

Aisha menerbangkan A320 selama lima tahun sebelum akhirnya menerbangkan pesawat yang lebih besar yakni A330 hingga yang terbesar A380. Dia mengatakan banyak pengalaman dalam menerbangakan burung besi berukuran besar tersebut.

“Saya saat ini menerbangkan penerbangan jarak menengah dan jauh menggunakan A380,  seperti ke Sydney, New York City, Paris dan London. Ketika saya mulai dengan A380 saya kagum dengan ukurannya. Saya berlatih sebelumnya dalam sebuah simulator, tetapi begitu Anda melihat sendiri pesawat itu dari dekat, Anda menyadari ukurannya seperti menerbangkan sebuah bangunan kecil,” kata dia.

Dia menambahkan, saat menerbangkan A380 sama seperti A320 karena bereaksi sangat baik dan sangat menyenangkan untuk diterbangkan. Bahkan dia mengaku pekerjaannya sebagai pilot lebih seperti gaya hidup dibandingkan kerja. Sebab sebagai seorang pilot harus bisa mengatur dan menangani semua dari penerbangan jarak jauh hinga zona waktu berbeda yang mengikutinya.

“Hal yang saya coba berkonsentrasi sebelum saya memiliki penerbangan panjang adalah untuk memastikan bahwa saya cukup istirahat, itu hal yang paling penting bagi saya. Penerbangan malam biasanya yang sulit, misalnya jika saya harus terbang jam 3 pagi saya harus tidur pagi atau siang hari,” tambah Aisha.

Bahkan perempuan yang satu ini memiliki waktu-waktu favorit saat menerbangkan pesawat yakni saat lepas landas dan mendarat. Dimana saat melakukan lepas landas dan mendarat dirinya menggunakan manual bukan otomatis.

“Tidak masalah ke tujuan mana saya terbang, bagian yang paling menyenangkan adalah menerbangkan pesawat. Momen favorit saya adalah saat lepas landas dan mendarat. Memiliki semua teknologi canggih sangat bagus untuk hal-hal seperti navigasi dan pemecahan masalah, tetapi ketika tiba saatnya lepas landas dan mendarat, saya suka memiliki pendekatan manual langsung,” jelasnya.

Aisha sendiri mengakui dirinya sangat senang menjadi contoh positif bagi wanita dan gadis muda lainnya.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

“Wanita bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan, itulah yang saya pikir contoh saya tunjukkan. Semua wanita harus mengikuti jalur karier yang menginspirasi dan membuat mereka bahagia. Di dalam UEA, semua bidang dapat diakses selama Anda benar-benar menginginkannya, dan jadi jika ada wanita di luar sana yang percaya bahwa ia mampu menjadi pilot dan memiliki keterampilan yang diperlukan, maka lakukanlah,” ungkap Aisha.

Juni 2019, Uzbekistan Airways Buka Penerbangan Jakarta – Tashkent 2x Seminggu

Uzbekistan Airways merupakan flag carrier dari Uzbekistan yang berdiri sejak 28 Januari 1992 dan mulai melakoni penerbangan komersialnya pada 31 Mei 1992. Bertumpu pada kekuatan 31 armada pesawat, maskapai ini memiliki 58 destinasi, termasuk sejumlah titik yang tersebar di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Belakangan ini, nama Uzbekistan Airlines menjadi buah bibir yang cukup santer dibicarakan oleh sebagaian kalangan.

Baca Juga: Mengenal SkyTeam, Aliansi Penerbangan Internasional Garuda Indonesia

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata maskapai ini diproyeksikan untuk kembali melakukan penerbangan menuju Indonesia. Adapun rute yang nantinya akan dijabani oleh maskapai ini menghubungkan Jakarta dengan Ibukota Uzbekistan, Tashkent. Menurut kabar yang tersiar, Uzbekistan Airways akan mulai mengoperasikan rute ini sekitar bulan Juni 2019 mendatang.

Rute penerbangan pulang pergi ini sendiri akan dilayani sebanyak dua kali dalam seminggu dengan dua skema yang berbeda. Skema pertama adalah Tashkent – Kuala Lumpur – Cengkareng/Jakarta – Tashkent, dan skema kedua adalah Tashkent – Cengkareng/Jakarta – Kuala Lumpur – Tashkent.

Apabila rencana yang tersebar luas dari Direktur Orient Mice Travel, Shukur Pardaev ini terealisasi kelak, maka ini akan menorehkan tinta emas di tubuh maskapai. Pasalnya, maskapai asal Asia Tengah ini akan menjadi yang pertama terbang menuju Indonesia. Selain itu, nama Indonesia juga akan tercatat sebagai destinasi ketiga di Asia Tenggara yang dikoneksikan oleh Uzbekistan Airways ini, setelah Malaysia dan Singapura.

Baca Juga: Trans-Siberia, Kereta Yang Mengubah Takdir Cinta

Menurut rencana yang beredar, maskapai ini akan menggunakan pesawat jenis Boeing 767 yang mampu menampung hingga 232 kursi kelas ekonomi. Untuk durasi perjalanan, penerbangan langsung Cengkareng – Tashkent akan memakan waktu 8,5 jam. Sedangkan untuk penerbangan Tashkent – Kuala Lumpur berlangsung selama 7,5 jam, dan Kuala Lumpur – Cengkareng selama kurang lebih 2 jam.

Sebenarnya, maskapai berkode HY versi IATA ini bersama dengan travel-travel wisata di negeri pecahan Uni Soviet sudah lama mengincar pasar wisatawan Tanah Air, khususnya wisatawan muslim, dengan menawarkan paket-paket wisata ziarah ke kota bersejarah seperti Bukhara dan Samarkand, selain Ibu Kota Tashkent.

 

Torqeedo Siap Luncurkan “Free Fall” Lifeboat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia

Torqeedo menyediakan sistem propulsi yang terintegrasi untuk sekoci (free fall lifeboat) bertenaga listrik pertama di dunia, yang sedang kini tengah dibangun oleh perusahaan asal Belanda, Verhoef. Kapal ini dikabarkan baru saja menyelesaikan tahap akhir pengujian dan rencananya akan ditempatkan di lepas pantai proyek minyak Valhall Flank West di Norwegia. Tentu saja, pengadaan sekoci ini sudah juga termasuk ke dalam pengadaan kapal kilang – tidak hanya sekocinya saja.

Baca Juga: Langkah-Langkah Ini Akan Mudahkan Proses Evakuasi Saat Kapal Mengalami Kecelakaan!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman maritime-executive.com (15/4/2019), sekoci penyelamat ini sendiri memiliki kapasitas 32 penumpang dan menggunakan bahan dasar alumunium. Insinyur Verhoef dan Torqeedo telah mengembangkan dan menguji sistem propulsi bebas emisi sepenuhnya yang terintegrasi yang terdiri dari 50 kW, 80 tenaga kuda yang setara, motor listrik yang didukung oleh tiga baterai 30,5 kWh Deep Blue dengan teknologi dari BMW i.

Jika Anda pernah menonton film Captain Phillips yang dibintangi oleh Tom Hanks, ada satu scene yang menunjukkan sebuah sekoci penyelamat yang keluar dari salah satu bagian kapal. Nah, kurang lebih sekoci itulah yang tengah dikembangkan oleh Torqeedo dan Verhoef. Sudah barang tentu sistem sekoci ini dibuat sekokoh mungkin guna menahan kekuatan yang dihasilkan akibat peluncuran bebas sekoci menuju laut lepas.

Sumber: globalenergy.today

Sistem listrik juga mencakup inverter untuk menggerakkan pompa semprotan air, yang merupakan persyaratan jika kapal drive menuju minyak yang terbakar di permukaan air.

Menurut salah satu juru bicara dari Verhoef, salah satu motivasi utama di balik peralihan ke tenaga listrik adalah untuk mengurangi biaya perawatan yang tinggi dari mesin diesel yang saat ini digunakan. Perusahaan juga memperkirakan bahwa sistem propulsi listrik akan mengurangi biaya operasi sekitar 90 hingga 95 persen dibandingkan dengan sekoci bertenaga pembakaran (combustion-powered).

Baca Juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak

“Proyek yang menantang ini merupakan validasi penting dari ketahanan dan kinerja teknologi propulsi listrik terintegrasi kami di sektor kelautan,” ungkap Dr. Christoph Ballin, salah satu pendiri dan CEO dari Torqeedo GmbH.

“Sekoci ini harus siap diluncurkan dalam keadaan darurat kapan saja, siang atau malam hari, mampu bertahan dari guncangan dan getaran peluncuran dari platform tinggi dan mengantarkan penumpang ke tempat yang aman. Torqeedo telah menunjukkan bahwa kami siap untuk tugas itu,” imbuhnya.

Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10

Setelah sempat gagal di uji penerbangan perdananya pada Agustus 2016, Hybrid Air Vehicles (HAV) seolah tiada henti untuk terus mengembangkan hybrid airship Airlander 10. Dalam rentang tiga tahun ke belakang, perusahaan ini enggan berhenti untuk mewujudkan mimpi: Menerbangkan Airlander 10 secara komersial. Namun kendala demi kendala terus hadir dan pada akhirnya HAV memutuskan untuk tidak membuat model baru dari pesawat yang memiliki bentuk seperti zeppelin ini dalam waktu dekat – namun tetap berupaya untuk menerbangkannya secara komersial.

Baca Juga: Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi

Pada awalnya, HAV telah mendapatkan persetujuan dari Civil Aviation Authority (CAA) untuk mengembangkan pesawat jenis ini dan diharapkan Airlander 10 ini dapat mengudara secara komersial pada awal tahun 2020 mendatang.

“Fokus kami sekarang adalah untuk sepenuhnya membawa batch pertama dari pesawat Airlander 10 type-certified (yang sudah tersertifikasi) dan berstandar produksi ke dalam layanan dengan pelanggan,” ungkap Stephen McGlennan, kepala eksekutif HAV, dikutip KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (13/1/2019).

“Prototipe akan bertugas untuk sebagai pesawat hybrid ukuran penuh pertama di dunia, memberikan data yang kami butuhkan untuk bergerak maju dari prototipe ke standar produksi. Dan pada akhirnya, kami tidak berencana untuk menerbangkan pesawat prototipe lagi,” tandasnya.

Kurang lebih, prototipe dari Airlander 10 ini telah melakukan uji penerbangan sebanyak enam kali, dimana beberapa diantaranya berakhir dengan sebuah bencana. Kendati begitu, perusahaan tetap optimis pada pendiriannya untuk tidak mengganti model dari pesawat ini dan malah mengatakan bahwa mereka telah merampungkan final testing dan mengantongi sejumlah data penting yang akan menunjang pengoperasiannya di masa yang akan datang.

Tercatat, ada dua kecelakaan yang membayangi uji penerbangan dari Airlander 10 ini, dan terhitung sejak kecelakaan terakhir yang terjadi pada tahun 2017 silam, ada banyak pihak yang menentang kehadiran dari Airlander 10 ini sebagai pesawat komersial di masa yang akan datang dengan dilatarbelakangi oleh masalah keselamatan.

Baca Juga: Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9

Namun perusahaan akan bersikukuh untuk tetap mempertahankan model yang lama dan menjamin bahwa versi prototipe akan sangat berbeda dengan versi produksi massal kelak – tentu saja sudah disempurnakan dengan data yang mereka dapatkan dari enam uji penerbangan sebelumnya.

“Banyak orang yang menanyakan di luar sana: Akankah Airlander mengudara lagi? Jawaban saya sederhana, Airlander siap didistribusikan kepada para pelanggan di seluruh dunia,” tutur Stephen McGlennan.

 

The New York Times: Boeing Terburu-buru dalam Memproduksi Pesawat

Siapa sih produsen yang tega apabila suatu barang yang diproduksinya dikatakan jelek atau berada di bawah standar? Tentu saja tidak ada yang mau. Nah hal semacam inilah yang baru saja dirasakan oleh manufaktur kedirgantaraan asal Amerika, Boeing yang mendapat tuduhan dari salah satu media kenamaan bahwa produksi pesawat mereka jelek. Alih-alih memperkarakan kasus ini, pihak Boeing hanya membantah dengan tegas bahwa mereka tidaklah seperti apa yang dituduhkan oleh media The New York Times.

Baca Juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nbcnews.com (22/4/2019), melalui general manager dari program Boeing 787, Brad Zaback, perusahaan ini menampik kabar yang terlanjur dipublikasikan oleh The New York Times pada Sabtu (20/4/2019) kemarin. Sudah barang tentu, beredarnya penggiringan opini publik semacam ini semakin memojokkan pihak Boeing yang hingga kini masih berkutat untuk bangkit pasca kecelakaan 737 MAX 8 Ethiopian Airlines dan Lion Air.

Dalam literasi yang diunggah The New York Times, media ini mengatakan bahwa Boeing mengabaikan keluhan pegawai bahwa pabrikan pesawat ini seolah tutup mata terhadap masalah yang ada. Bahkan, The New York times menyebut Boeing terlalu terburu-buru dalam memproduksi pesawat.

Gerah dengan pemberitaan tersebut, Brad Zaback lalu menanggapi pemberitaan tersebut dan mengatakan bahwa pihak The New York Times terlalu ofensif dan tidak berlandaskan pada fakta yang ada di lapangan.

“Kami selalu menerapkan pemeriksaan kualitas yang sangat ketat,” ujar Brad Zaback.

“Kami juga memiliki tim dengan kinerja yang sangat baik untuk melayani pihak maskapai dari seluruh dunia,” tandasnya.

Tentu saja, Brad Zaback yang mewakili Boeing merasa kecewa dengan berita tak berlandaskan data yang sudah diterbitkan oleh The New York Times tersebut.

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

“Sangat disayangkan dan mengecewakan bahwa New York Times memilih untuk menerbitkan cerita yang menyesatkan ini,” ujar Brad.

Guna memastikan bahwa literasi yang sudah diterbitkan The New York Times adalah berita tak berlandaskan data, pihak Boeing mengundang media tersebut untuk datang langsung ke South Carolina – lokasi pabrik Boeing.

“Ini bertujuan agar mereka bisa melihat langsung apa yang kami lakukan di sini, namun sayang, mereka menolaknya,” tegas Brad.

 

‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR

Di tengah keterpurukan pihak Boeing pasca kecelakaan dua pesawat 737 MAX 8 dalam rentang waktu 5 bulan ini, ternyata dimanfaatkan dengan jeli oleh kompetitor abadinya, Airbus. Melalui Kepala Penjualan Airbus, Christian Scherer, manufaktur kedirgantaraan asal Eropa ini dikabarkan tengah menekan penjualan dari pesawat jenis A321 yang memiliki body lebih panjang ketimbang “saudara kandungnya”, A320. Ya, ini merupakan saingan yang sepadan untuk jenis 737 MAX 8 milik Boeing.

Baca Juga: Di Balik Prahara Boeing 737 MAX 8, Mampukah Airbus ‘Curi’ Ceruk Pasar?

Sebagaimana yang diketahui bersama, era pesawat berbadan kecil yang mampu merengkuh penerbangan jarak jauh dengan efisien memang tengah naik daun belakangan ini. Para maskapai dari berbagai penjuru dunia seolah tidak melirik pesawat wide-body hanya demi menyambung nafas kas perusahaan, karena mereka beranggapan bahwa penerbangan jarak jauh dengan menggunakan pesawat wide-body seperti Airbus A380 tidaklah seefisien pesawat narrow-body – terutama dari segi load factor.

Seolah luput dari sorot kamera media, secara mengejutkan Airbus sudah meluncurkan varian A321XLR, versi terbaru dari pesawat single-aisle yang mampu meruntuhkan kedigdayaan Boeing dengan varian 737 MAX kebanggaan mereka. Seperti yang sudah disinggung di atas, A321XLR milik Airbus merupakan lawan yang sepadan bagi Boeing 737 MAX.

Kendati tidak secara terang-terangan mendeklarasikan bahwa Airbus mencoba untuk mengambil keuntungan dari keterpurukan yang tengah dialami Boeing ini, namun dengan diluncurkannya A321XLR seolah sudah menjadi pertanda yang sangat jelas bahwa perusahaan yang berbasis di Eropa ini ingin mencuri ceruk pasar Boeing.

“Saya tentu tidak mendorong perilaku apa pun untuk mencoba mengeksploitasi situasi ini, karena ini di luar batas,” ujar Christian Scherer yang mengisyaratkan bahwa Airbus tidak mungkin untuk meningkatkan produksi secara masif, dikutip KabarPenumpang.com dari laman reuters.com (18/4/2019).

Baca Juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Akal bulus pihak Airbus untuk mencuri konsumen dari Boeing semakin terlihat manakala adanya rencana peningkatan produksi dari varian ini yang digalang-galang akan dimulai pada tahun depan, dari 57 pesawat menjadi 63 pesawat. Sebenarnya, angka 63 pesawat yang diproduksi oleh pihak Airbus dalam sebulan ini lebih sedikit dari rencana awal yang mereka ramu – 70 pesawat. Hal ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan potensi dari pihak pembuat mesin yang mengaku kewalahan untuk menjabani permintaan dari Airbus.

 

 

 

 

Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru

Blue Bird, salah satu operator taksi terbesar di Indonesia akan memperkenalkan armada barunya. Armada baru tersebut adalah mobil listrik untuk kendaraan operasional operator taksi berlambang burung biru ini.

Baca juga: Spektakuler! Sedan Tesla Mampu Derek Dreamliner Qantas Sejauh 300 Meter

Kehadiran dan penggunaan taksi listrik ini sendiri, Blue Bird berkomitmen untuk melakukan inovasi seiring perkembangan teknologi guna memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya. Sebelum di perlihatkan kepada Indonesia, beberapa foto armada taksi tersebut dengan mobil listrik milik Tesla di media sosial sudah tersebar.

Model yang digunakan untuk taksi listrik ini adalah S 75 D dan berbeda dari penampakan armada sebelumnya yang tersebar di media sosial beberapa waktu lalu dengan menggunakan mobil listrik Cina merek BYD. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, mobil Tesla ini akan ada pada armada Silverbird yang lebih eksklusif.

Penggunaan taksi listrik sendiri menjadi langkah awal dan wujud nyata kontribusi Blue Bird pada kelangsungan lingkungan hidup di Indonesia khususnya. Mobil Tesla ini sendiri berjenis Hatchback dan bukanlah hal baru lagi di beberapa negara Eropa.

Sebab, Belanda sudah menjadikan mobil jenis ini untuk digunakan oleh Uber sebagai armada taksi online. Mobil ini terlihat sepasang head lamp LED yang dibekali dengan Auto-Dimming High Beams.

Bila ditelisik dari teknologinya, lampu ini akan menyala secara otomatis ketika suasana jalan gelap. Tidak ada gril pada fascia depan mobil, desainnya hanya dibuat memancung dan ada lubang angin di bemper depan. Mobil ini dibekali dengan pelek berukuran 20 inci sehingga tampak sporty.

Sementara itu bagian belakang terdapat rear combination stop lamp berdesain futuristik, sepertinya juga sudah menggunakan teknologi LED. Bagian bemper belakang terdapat reflektor yang memunculkan kesan sporty.

Tesla Model S 75D berdasarkan spesifikasi mampu menempuh jarak 390 kilometer dalam sekali pengisian daya. Mobil ini mampu berakselerasi dari diam hingga 100 kilometer per jam dalam waktu 4,4 detik dengan kecepatan maksimal 225 kilometer per jam.

Tenaga dari motor listriknya hadir sebesar 333 PS dan torsi 525 Nm. Mobil ini menggunakan baterai berkapasitas 75 kWH dengan pengisian daya menggunakan kabel tipe 2. Waktu yang dibutuhkan untuk pengisian daya dari kosong hingga penuh adalah 5 jam 15 menit.

Baca juga: Bulan Depan, Tesla Siap Tampilkan Truk Besar Bertenaga Semi Elektrik

Sebelumnya, melalui informasi dari Kementerian Perhubungan diketahui Blue Bird sudah melakukan uji coba untuk armada taksi listriknya BYD. Untuk Tesla, diketahui Blue Bird juga sudah memasang instalasi fast charging untuk pengisian daya armada taksi listriknya tersebut.

Pernah Minta Cebok Ke Pramugari, Pria Gemuk Ini Telah Meninggal Dunia

Masih ingat dengan tindakan seorang penumpang yang memiliki berat badan berlebih dan terbang dengan maskapai Eva Air serta meminta pramugari untuk membantu membersihkan pantatnya? Ternyata pria dengan bobot sekitar 200 kilogram tersebut meninggal dunia di Thailand pada Maret 2019 kemarin.

Baca juga: Pelecehan Seksual, Pramugari Dipaksa ‘Nyebokin’ Penumpang

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nextshark.com ( 18/4/2019), pria Amerika tersebut dalam penerbangan maskapai Eva Air membuat banyak permintaan yang tak masuk akal dari semua pramugari. Januari lalu, kepala pramugari maskapai Taiwan mengungkapkan bahwa penumpang tersebut memaksa pramugari untuk menurunkan celananya dan membersihkan pantat penumpang itu setelah buang air besar.

Hal itu terjadi dalam penerbangan dari Los Angeles menuju Taipei. Kepala Purser yang bermarga Kuo mengatakan, pria itu mengklaim dirinya tak bisa menyeka karena tangan kanannya baru saja pulih dari operasi.

Bahkan pria tersebut mengaku toilet pesawat kelas ekonomi terlalu kecil untuk digunakan dirinya yang bertubuh besar itu. Setelah penumpang tersebut di antar ke toilet kelas bisnis pun masih memaksa agar pintu tidak di tutup agar bisa bernafas leluasa.

Saat pramugari membantu membersihakan pantat penumpang gemuk itu, pria tersebut mengerang dan terlihat merasa menikmati dengan wajah senang.

“Dia berkata: ‘Oh, mmm, lebih dalam, lebih dalam,’ dan kemudian menuduh kepala pelayan saya tidak membersihkan bagian belakangnya dengan benar, meminta dia melakukannya lagi,” kenang Kuo.

Dalam ingatan Kuo, pramugari mengulangi hal itu sebanyak tiga kali hingga penumpang tersebut berkata “Anda bisa menarik celana saya kembali sekarang.”

Karena ada insiden seperti tersebut, serikat petugas penerbangan Taoyuan yang mewakili Kuo dan rekan lainnya dalam kasus ini menyesalkan sistemik masalah itu dan berasal dari budaya industri jasa yang mempromosikan memenuhi setiap perminaan pelanggan. Hingga akhirnya serikat pekerja tersebut menyarankan agar penumpang seperti itu dan yang memiliki perilaku yang sama dilarang menggunakan maskapai tersebut dan awak kabin pria harus dipekerjakan.

Awak kabin pun ternyata mengetahui, pria gemuk asal Amerika tersebut ternyata sudah membeli tiket Eva Air lainnya dari Bangkok ke Taipei pada Mei mendatang. Adanya perilaku tak baik tersebut, kemudian maskapai menginformasikan pengacara pria itu bahwa Eva Air membatalkan reservasi.

Baca juga: Pasca Pelecehan Pada Awak Kabin, EVA Air Siap ‘Banned’ Penumpang yang Berperilaku Tak Pantas

Kemudian tak lama pihak maskapai tahu bahwa pria itu telah meninggal dunia karena penyakit yang tidak pasti di Maret lalu di Pulau Ko Samui, Thailand. Sehingga Eva Air akhirnya mengembalikan biaya tiket ke kerabat sang pria.

Meski Bakal Merugi, Mitsubishi Regional Jet Siap Masuk Jalur Produksi di 2020

Di tengah hiruk pikuknya persaingan antara dua raksasa sektor dirgantara global, yakni Boeing dan Airbus yang dikabarkan tengah bersitegang, ada sejumlah perusahaan di luar Eropa dan Amerika yang mencoba untuk memanfaatkan momen ini. Setelah pihak Perancis beberapa waktu yang lalu mengungkapkan bahwa Cina akan jadi pihak yang diuntungkan dari perang dingin antara Boeing dan Airbus, rupanya Jepang juga ingin unjuk gigi ke publik dengan menghadirkan pesawat narrow-body yang dikhususkan untuk pengangkutan penumpang.

Baca Juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Dirilis dengan nama Mitsubishi Regional Jet, ini merupakan pesawat jet pertama yang dirakit oleh Jepang – setidaknya sejak periode tahun 1960-an. Memang, Mitsubishi Regional Jet hanya mampu menampung 88 penumpang saja dalam setiap penerbangannya – tidak seperti Boeing atau Airbus yang sudah bermain di angka ratusan penumpang dalam kelas jet berbadan kecil. Namun ini tidak menyurutkan itikad Mitsubishi Heavy Industries Ltd. selaku produsen untuk terjun langsung dalam persaingan di sektor kedirgantaraan global.

Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, Mitsubishi Regional Jet memiliki dua varian yang siap untuk dirilis. Kembali lagi, kedua varian ini memiliki jumlah bangku yang lebih sedikit dan fuselage yang jauh lebih kecil ketimbang Boeing 737 atau Airbus A320 yang secara head-to-head menjadi pesaing utama pihak Mitsubishi. Kedua varian dari Mitsubishi ini memiliki jarak tempuh maksimal hingga 2.000 mil – pun dengan varian yang satunya lagi yang hanya mampu menampung 76 penumpang saja, namun memiliki jarak tempuh yang sama dengan saudara kandungnya.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (18/4/2019), Corporation President Hisakazu Mizutani mengatakan bahwa pihaknya telah melalui beberapa tahapan yang cukup sulit dalam rentang waktu beberapa tahun ke belakang, dan kini perusahaan mematok tahun 2020 mendatang akan menjadi tahun yang paling sulit karena mereka berencana untuk mengkomersialkan layanan dari Mitsubishi Regional Jet.

“Tahun depan akan menjadi tahun paling penting bagi kami,” ujar Hisakazu Mizutani.

Baca Juga: Mitsubishi Uji Coba Regional Jet, Inikah Momen Kebangkitan Industri Dirgantara Jepang?

Pernyataan Hisakazu yang menyebutkan bahwa tahun 2020 mendatang merupakan tahun berat bagi perusahaan bukan tanpa alasan. Alih-alih hanya memikirkan tentang kapasitas pesanan yang masuk ke buku daftar pesanan perusahaan, seorang analis dari Jefferies Japan Ltd., Sho Fukuhara juga menambahkan bahwa jumlah pesanan yang masuk ke perusahaan hingga detik ini masih belum bisa menutup modal yang sudah dikeluarkan dalam mengembangkan pesawat narrow-body ini.

“Sekarang, ada banyak pihak yang bergantung pada kemampuan Mitsubishi untuk mampu membuat jet tepat waktu. Pasalnya, sebanyak 407 pesanan yang masuk ke perusahaan masih belum mampu untuk membuat program perakitan pesawat ini menguntungkan,” ujar Sho.

 

166 Tahun Sudah Jaringan Perkeretaapian India Layani Penumpang

Sebagai moda transportasi massal yang mampu mengangkut ratusan penumpang sekaligus, tidak heran rasanya jika kehadiran kereta api di berbagai negara digambarkan bak tulang punggung transportasi di sana – tidak terkecuali India. Kendati pemberitaan media terkait jaringan kereta api di India kerap kali menyudutkan negara penghasil film Bollywood tersebut karena kualitasnya yang berada di bawah negara lain, namun faktanya jaringan kereta api India merupakan salah satu yang pertama di dunia yang berhasil mengkoneksikan seluruh negara via jalur darat.

Baca Juga: Dalam 5 Tahun, Kejahatan di Kereta Api India Meningkat Hingga 500 Persen!

Selain itu, tanggal 16 April kemarin rupanya menjadi tanggal yang sangat bersejarah bagi perkeretaapian India, karena 166 tahun silam – tepatnya 16 April 1853, jaringan perkeretaapian India pertama kali mengular dengan membawa penumpang.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman news18.com (16/4/2019), kala itu kereta diwajibkan untuk menempuh jarak sejauh 34 km yang menghubungkan Bombay dengan Thane. Tidak berlebihan jika dapat disimpulkan bahwa masyarakat India sudah menaruh hati kepada jaringan perkeretaapiannya selama 166 tahun.

Mengangkut sekira 400 penumpang yang tersebar di 14 gerbong, kereta yang pertama mengular di India ini menggunakan tiga lokomotif yang masing-masing diberi nama Sahib, Sindh, dan Sultan.

“16 April 1853, kereta pertama di India mengular yang terdiri dari 14 gerbong dalam satu rangkaian. Kala itu kereta berangkat dari Chhatrapati Shivaji Terminal dengan muatan sekira 400 penumpang,” ujar Menteri Perkeretaapian India dalam sebuah cuitan di jejaring sosial Twitter yang diunggah pada 16 April 2019 kemarin.

Walaupun perkembangan jaringan perkeretaapian di India tidaklah terlalu pesat layaknya di negara-negara lain seperti Jepang, Cina, atau bahkan Indonesia, namun masyarakat di sana seolah sudah menyandarkan kebutuhan mereka untuk bermobilisasi kepada kereta api.

Baca Juga: Ketepatan Waktu Kereta India Mengalami Penurunan Akibat Faktor Keterlambatan

Seolah enggan melewati momen spesial ini begitu saja, banyak masyarakat India yang lalu mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada jaringan kereta tersebut via berbagai platform jejaring media sosial.