Pamerkan Mock-Up 777X, Boeing Mainkan Sisi Psikologis Penumpang

Setelah dengan bangga memamerkan varian Boeing 777-9 terbaru pada tangga 13 Maret 2019, kini raksasa aviasi asal Amerika Serikat ini dikabarkan baru saja merilis interior dari Boeing 777X. Jika diperhatikan dengan seksama, terdapat sejumlah perbedaan yang cukup mencolok dari pesawat yang terbagi ke dalam dua varian ini, 777-8 dan 777-9. Satu yang paling mencolok dari perubahan desain kabin ini adalah interior melengkung yang dirancang untuk menambah ‘kelapangan’ space.

Baca Juga: Meski Khusus Internal Perusahaan, Boeing Tepati Janji Perlihatkan 777-9

Namun, gambaran interior dari Boeing 777X ini masih hanyalah sebatas mock-up yang dipamerkan di pagelaran Aircraft Interior Expo (AIX) 2019 di Hamburg, 31 Maret 2019 hingga 2 Maret 2019 silam. Kendati sempat menghadapi masa yang tidaklah mudah pasca jatuhnya dua pesawat 737 MAX 8 yang masing-masing dioperasikan oleh Ethiopian Airlines dan Lion Air dalam rentang waktu lima bulan ini, namun pihak Boeing mengatakan bahwa mereka tetap bangga dapat memamerkan mock-up interior dari pesawat yang sudah dinantikan oleh banyak orang ini.

“Kami telah banyak belajar sejak varian 777 pertama kali dirilis pada tahun 1990-an, terutama dari sisi psikologi penumpang saat melakukan perjalanan,” ujar Cabin Experience and Revenue Analysis Regional Director Boeing, Kent Craver, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (17/4/2019).

“Setiap orang pasti terpesona dengan sektor aviasi, dan kami bermaksud untuk memperkenalkan kembali keajaiban di dunia penerbangan,” tandasnya.

Kendati mock-up yang dipamerkan di pagelaran AIX 2019 tersebut belumlah sempurna dan masih terbuka kemungkinan untuk dirombak oleh pihak perusahaan, namun dari situ kita bisa mendapatkan gambaran dari pesawat ini di masa yang akan datang.

Bagasi kabin dari Boeing 777X. Sumber: simpleflying.com

Pihak Boeing mengatakan bahwa jarak antar bangku pada varian 777X ini dilebarkan sekira empat inci – dimana ini diharapkan dapat berimplikasi pada kenyamanan penumpang saat melakukan perjalanan. Kembali ke pernyataan di awal dimana Boeing menggunakan desain interior melengkung yang akan memainkan sisi psikologis penumpang – penumpang akan melihat varian ini lebih lega ketimbang varian lain dari Boeing.

“Kami menggunakan tata pencahayaan dan arsitektur untuk menciptakan tidak hanya ruang fisik semata, tetapi juga kesan lega – jadi pada tingkat psikologis,” kata Kent Craver.

Setelah memainkan sisi psikologis dari penumpang, Boeing juga mengaplikasikan sistem tekanan kabin yang lebih rendah, dimana itu dipercaya dapat meningkatkan kenyamanan dari para penumpangnya.

“Itu (tekanan kabin yang lebih rendah) dapat membantu menghilangkan perasaan tidak enak ketika mengudara di ketinggian seperti sakit kepala, nyeri oto, hingga mual,” terangnya.

Baca Juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien?

Selain itu, pihak Boeing juga menambahkan bahwa ketersediaan ruang yang lebih lega pada varian 777X ini dapat menguntungkan pihak maskapai yang kelak akan menggunakan jenis pesawat ini.

“Karena kabin di varian 777X ini lebih ringan, dimana secara otomatis akan memberikan ruang lebih banyak bagi maskapai penerbangan yang menggunakannya. Itu (ketersediaan tempat) dapat dimanfaatkan oleh para maskapai untuk mengisinya dengan fitur yang mereka harapkan,” tutup Kent Craver.

 

S.Ride, Aplikasi dari Sony untuk Taksi Hailing di Jepang

Maraknya layanan ride hailing membuat Sony juga ikut memasuki segmen yang berbasis aplikasi ini. Sebelum masuk dalam segmen ini, Sony terkenal dengan portofolio produknya seperti televisi, smartphone hingga konsol gamenya.

Baca juga: Peneliti UCLA Sebut Ride-Hailing Khusus Wanita Kurang Efektif

Mengawali segmen ride hailing, Sony menghadirkan aplikasi S.Ride untuk layanan taksi hailingnya. Aplikasi ini baru dan telah diluncurkan di Tokyo untuk memanggil taksi per 17 April 2019 kemarin.

KabarPenumpang.com melansir valuewalk.com (17/4/2019), aplikasi S.Ride dari Sony ini baru hadir d Tokyo. Namun mungkin Anda akan berpikir S dari S.Ride adalah Sony, tetapi itu adalah simple, smart and speedy.

“Dengan satu slide, Anda dapat memanggil taksi terdekat dari jaringan taksi terbesar di Tokyo, dan ini adalah layanan pengiriman taksi yang dapat Anda turunkan segera dengan pra-menunggang, pembayaran bersih di dalam mobil, atau pembayaran kode QR,” a terjemahan status siaran pers.

Aplikasi taksi buatan Sony dimiliki oleh perusahaan bernama Minna no Taxi (atau “Taksi Semua Orang”), yang dibentuk tahun lalu. Minna no Taxi adalah perusahaan patungan antara Sony Corporation, Sony Payment Services dan beberapa perusahaan taksi Jepang. Dikatakan, saat ini baru ada lima operator taksi, termasuk dua operator terbesar Tokyo, Daiwa dan Kokusai.

Dengan lebih dari 10 ribu mobil, layanan taksi Sony memanggil armada terbesar di ibukota Jepang. Aplikasi ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk berkoordinasi dengan pengemudi dan mengarahkan mereka ke daerah dengan permintaan puncak. Karena aplikasi ini mengandalkan layanan taksi yang ada, pembayaran dilakukan dalam bentuk uang tunai, kartu kredit, atau kode QR melalui dompet digital.

Meski begitu kehadirannya yang ada di Jepang, belum akan memperluas S.Ride keluar dari Jepang. Kehadiran S.Ride sendiri membedakan dari Uber dan Lyft. Sebab, Jepang tidak mengizinkan pengemudi non profesional untuk menawarkan layanan taksi dengan alasan keamanan dan perusahaan yang memanggil taksi hanya diperbolehkan. Untuk menawarkan layanan yang cocok dengan pengguna taksi yang menggunakan platform seluler.

“Jelas bagi saya bahwa kita perlu memikirkan kemitraan dan khususnya kemitraan dengan industri taksi,” kata Kepala Eksekutif Uber Dara Khosrowshahi kepada investor di Tokyo beberapa bulan lalu.

Baca juga: Ternyata di Ride Hailing Banyak Kecurangan yang Dilakukan Pengemudi Online

SoftBank Group dan China Didi Chuxing juga memiliki rencana untuk meluncurkan layanan taksi di Jepang tahun ini. SoftBank telah berinvestasi di beberapa perusahaan perjalanan global, termasuk Didi, Uber, dan lainnya. Jepang adalah pasar berkendara yang menguntungkan, dan karenanya, regulator menghadapi tekanan yang meningkat untuk melonggarkan aturan. Pasar taksi negara ini bernilai lebih dari $16 miliar.

Akibat Iseng di Platform Screen Doors, Kereta Bawah Tanah Jepang Terlambat 1 Menit

Sebagai moda yang memiliki ketepatan waktu, kereta Jepang kerap kali jadi perbincangan di dunia. Bahkan di setiap stasiunnya terpasang poster pengumuman yang meminta penumpang mengikuti aturan yang ada.

Baca juga: Platform Screen Doors Alami Kendala, Penumpang MRT Singapura Terjebak Delay Dua Jam!

Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com (12/4/2019), pada 6 April lalu, seorang penumpang di video-kan karena ulahnya yang mengganggu di sebuah kereta di Nagoya tepatnya Prefekur Aichi. Pria tersebut terus menerus meletakkan tangannya di antara platform screen doors dan pintu kereta yang akan menutup.

Hal ini membuat pintu jadi terbuka kembali dan membuat perjalanan kereta terhambat sehingga tidak meninggalkan stasiun tepat waktu. Video tersebut di unggah di Twitter dan menjadi viral dan di bagikan serta di unggah ulang oleh warganet.

Keterlambatan tersebut terjadi di kereta bawah tanah jalur Higashiyama pukul 20.40 malam waktu setempat. Saat itu terlihat sang pria meletakkan tangan kirinya diantara pintu kereta yang tengah menutup.

Ini membuat pintu kereta membuka dan menutup sebanyak tujuh kali hingga akhirnya staf kereta menghampiri untuk meminta penumpang menghentikan kelakuannya tersebut. Petugas tersebut hingga memaksa penumpang pria itu dan mendorong tangannya agar menjauh dari pintu.

Namun itu tidak menghentikan sang pria, bahkan melakukannya lagi seolah-olah dia tidak melakukan hal luar biasa. Beberapa penumpang juga membantu menahan pria itu hingga seorang staf senior mendekati kereta.

Pria itu kemudian mencoba menahan pintu dengan kaki. Namun saat di awasi oleh staf senior akhirnya pintu kereta tertutup sempurna dan kereta beranjak dari stasiun setelah mengalami keterlambatan satu menit. Insiden ini membuat para warganet mengomentari tindakan sang pria.

“Mereka harus menangkapnya karena menghalangi bisnis.”
“Harus ada aturan bahwa jika seseorang melakukan ini, penumpang lain dapat mendorongnya keluar dan meninggalkannya di peron.”
“Staf harus menariknya dari kereta.”
“Aku berada di kereta itu dan dapat memastikan itu membuat kami tiba terlambat satu menit di semua stasiun di telepon.”
“Kasus rogai lain”

Rogai adalah kata dalam bahasa Jepang yang merujuk pada masalah yang dialami oleh orang orang tua, terutama gerontokrasi, ketika orang tua melakukan kontrol berlebihan terhadap anak muda. Sementara istilah ini telah menjadi semacam kata kunci setelah kasus-kasus kejahatan yang dilaporkan dilakukan oleh orang tua dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa diskusi mengenai apakah tindakan penumpang harus digambarkan sebagai rogai atau hanya diklasifikasikan sebagai gangguan.

Baca juga: Automatic Announcer di Kereta Jepang Error, Rekaman Komuter ini Undang Gelak Tawa!

Biro transportasi kota membuat pernyataan setelah kejadian itu, meminta penumpang untuk menahan diri dari perilaku semacam ini demi kepentingan keselamatan publik. Namun, syukurlah, komuter tua di video itu tidak mewakili semua penumpang yang bepergian dengan tiket, beberapa dari mereka benar-benar berusaha keras untuk membantu sesama penumpang, dengan cara yang paling mengharukan.

Grab Hadirkan Fitur Telepon Pengemudi Tanpa Pulsa

Sebagai salah satu perusahaan ride hailing terbesar di Indonesia, Grab meluncurkan fitur baru dalam aplikasinya. Fitur terbaru ini sendiri merupakan hal yang bisa memudahkan penumpang untuk menghubungi pengemudi yang akan menjemputnya.

Baca juga: Wajib Selfie, Jadi Syarat Naik Grab di Malaysia

KabarPenumpang.com mengutip dari laman detikiinet.com (17/4/2019), adapun fitur terbaru itu adalah dimana penumpang tak lagi perlu mengeluarkan pulsa ketika menelpon pengemudi. Dari video singkat di akun Instagram milik Grab, terlihat aktivitas percakapan telepon seorang penumpang yang menghubungi mitra pengemudi melalui fitur chat.

Grab menghadirkan fitur baru ini juga untuk membuat penumpang yang kerap kali typo atau salah pengetikan tulisan dimudahkan. Bahkan fitur ini tak lagi mengeluarkan pulsa melainkan dengan data seluler atau via internet.

“Ajfh inkay saua. Maap maap typo. Jadi ini udah ada fitur telfon pake internet di Grab lho. Gak ada alesan lagi tuh buat keabisan pulsa atau ngetik typo. Udah nyobain belom? Cuma di Grab. #AutoGampang,” tulis Grab Indonesia yang menjadi caption di Instagram-nya.

Keputusan menghadirkan fitur baru ini kemudian di tanggapi berbagai komentar oleh warganet. Beberapa diantaranya mengaku agak kesulitan menghubungi mitra pengemudi dan lainnya mengatakan adanya fitur ini memudahkan pelanggan.

“Parahh, susah menelpon dengan fitur ini suara driver gk jelas,” tulis akun @vincenthuang_

“Makin mudah gunain Grab,” ujar akun lainnya @ddar51.

Sebelumnya fitur telepon sendiri sudah disematkan namun pelanggan masih menggunakan pulsa pribadinya. Selain fitur yang memudahkan untuk menelepon, ada pula ‘Share My Ride’ yang memudahkan penumpang membagikan perjalannya untuk di lacak orang yang dipercaya demi alasan keamanan.

Baca juga: Lawan Opik, Grab Indonesia Luncurkan “Grab Defense”

Selain ‘Share My Ride’ fitur penunjang keamanan lainnya juga turut disematkan. Misalnya menerapkan proses otentikasi bagi mitra driver maupun pelanggan, kemudian juga dengan menyamarkan nomor telepon.

Adapun di Filipina sendiri pengguna bisa menyimpan lokasi yang sering kali dikunjungi untuk memudahkan pencarian dan pengalaman pemesanan lebih cepat. Lokasi yang tersimpan biasanya seperti alamat rumah, kantor dan beberapa tempat lainnya. Bahkan fitur ini juga memungkinkan pemilihan alamat yang sering digunakan pengguna untuk pengambilan dan pengantaran barang.

9 Kali Sehari, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Singapore Airlines

Sebagai maskapai plat merah, Garuda Indonesia baru-baru ini memperluas operasional codeshare-nya dengan Singapore Airlines. Perluasan codeshare ini sendiri bagi kedua maskapai adalah untuk memberikan dan memudahkan pelanggan dengan memberikan lebih banyak perjalanan antara keduanya yakni Jakarta dan Singapura.

Baca juga: Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Japan Airlines

Apalagi bisa dikatakan Indonesia sebagai negara yang menjadi salah satu tujuan wisata dan bisnis yang populer di Asia Tenggara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (15/4/2019), dengan codeshare ini, keduanya akan mengoperasikan sembilan penerbangan setiap hari baik dari Jakarta maupun Singapura.

Wakil Presiden senior perencanaan penerbangan Singapore Airlines, Tan Kai Ping mengatakan, Indonesia sebagai tujuan wisata dan bisnis yang sangat populer membuat pihaknya senang dengan kemudahan akses oleh pelancong seluruh dunia.

“Ini mencerminkan upaya berkelanjutan kami untuk bekerja dengan mitra kami untuk menawarkan pengalaman penerbangan yang lebih mulus bagi pelanggan kami,” ujar Kai Ping.

Direktur Komersial Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan, bagi Garuda Indonesia, Asia Tenggara adalah wilayah yang sangat penting dan Singapura khususnya merupakan pasar pertumbuhan utama.

“Penerbangan Garuda Indonesia ke Singapura telah memainkan peran penting dalam meningkatkan ikatan ekonomi serta pertukaran budaya antara kedua negara,” kata Pikri.

Diketahui, perjanjian codesharing antara kedua operator dimulai pada 2010 dengan rute Singapura menuju ke Bali. Selain itu pada 2014 lalu, perjanjian codesharing kedua maskapai ini untuk rute Singapura menuju Surabaya.

Anak perusahaan Singapore Airlines yakni SilkAir juga melakukan codeshare pada penerbangan Garuda Indonesia dari Bali menuju Surabaya. Selain itu juga ada sepuluh penerbangan SilkAir lainnya dalam rute di Indonesia yang melakukan codeshare dengan Garuda Indonesia.

Baca juga: Meski Penerbangan Langsung Jakarta-London Tutup, Garuda Indonesia Masih Layani via Codeshare

Tak hanya itu, Garuda Indonesia selain dengan Singapore Airlines juga melakukan codeshare dengan Japan Airlines yang mulai berlaku Oktober 2018 kemarin. Codeshare juga di lakukan dengan beberapa maskapai lainnya yakni Saudi Arabian Airlines dan maskapai Vietnam Airlines. Sedangkan Singapore Airlines juga melakukan Codeshare dengan Lufthansa.

Aston Pluit Hotel & Residence Gelar ‘Master Chef Kids’

Dalam rangka memperingati hari Paskah yang jatuh pada hari minggu tanggal 21 April
2019, Aston Pluit Hotel & Residence akan menyelanggarakan Cooking class ‘Master Chef ‘Kids!’ Acara ini bertujuan untuk mengajak anak-anak agar mereka lebih kreatif dan mengembangkan kemampuan motorik . ‘Master Chef Kids!’ ini akan diselenggarakan di area Swimming pool lantai 6 Aston Pluit Jakarta . Lomba mewarnai ini akan diikuti oleh peserta anak-anak yang berusia 5-11 tahun.

Untuk mengikuti kegiatan ini para tamu bisa mendaftarkanya dengan tiket seharga Rp.100.000 dan akan mendapatkan kesempatan untuk adik-adik atau anak kalian bisa belajar masak dengan executive chef kami. Selain itu para perserta juga akan mendapatkan sertifikat khusus dari Aston Pluit Hotel & Residence.

“Acara ini merupakan acara reguler tiap tahun untuk memperingati hari paskah dan ajang untuk mempromosikan Hotel Aston dengan anak-anak bahwa Aston pluit memiliki kids activity dan fasilitas untuk mendukung para tamu kami yang memiliki anak kecil.” Ujar PR Aston Pluit Finky Santika.

Aston Pluit Hotel & Residence terletak di jantung daerah Pluit Jakarta dan hanya 20 menit dari
bandara internasional yang memungkinkan akses mudah ke semua atraksi utama di Jakarta
termasuk fasilitas belanja dan hiburan. Dengan menyediakan beragam kenyamanan dan pelayanan yang personal, Aston Pluit merupakan tempat yang tepat bagi para pelaku bisnis dan wisawatan berlibur. Aston Pluit menawarkan 229 kamar hotel untuk tipe deluxe dan suite.

Heinrich Kubis – Awak Kabin Pertama di Dunia yang Cekatan dan Berpengalaman

Jika selama ini flight attendant itu selalu identik dengan wanita berparas cantik yang ditunjang oleh postur tubuh yang proporsional, tapi tahukah Anda bahwa flight attendant pertama di dunia bukanlah berasal dari kaum hawa? Ya, bagi Anda yang mendalami soal sejarah aviasi global, mungkin Anda tidak asing lagi dengan yang namanya Heinrich Kubis – sang awak kabin pertama di dunia.

Baca Juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Mundur jauh ke bulan Maret tahun 1912, dimana Heinrich Kubis menjadi awak kabin pertama yang melayani penumpang di dalam penerbangan balon udara DELAG Zeppelin LZ 10 Schwaben. Selain penerbangan tersebut, Heinrich Kubis juga menjadi awak kabin di dalam penerbangan Zeppelin LZ 129 Hindenburg yang terkenal. Sedikit informasi tambahan, LZ 129 Hindenburg ini mengalami kecelakaan pada 6 Mei 1937 di Lakehurst, New Jersey, dimana kecelakaan ini menewaskan 13 penumpang, 22 kru penerbang, dan satu ground crew.

Kembali ke cerita Heinrich Kubis, dimana ketika ia menjadi awak kabin pertama di dalam sejarah kedigantaraan global, ia melakukan apa yang selama ini dilakukan oleh awak kabin di setiap penerbangan – mulai dari melayani setiap kebutuhan penumpang hingga menyajikan makanan selama penerbangan.

Ketika Heinrich Kubis Tengah Melayani Penumpang. Sumber: istimewa

KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, Heinrich Kubis sendiri lahir pada 16 Juni 1888. Pernah menelan asam garam di sejumlah hotel paling modis di Eropa, seperti Carlton di London dan Ritz di Paris, Heinrich Kubis seolah tidak asing lagi untuk bertemu dengan businessmen dengan “kantong berlapis”, aktris cantik, hingga politisi. Ternyata, di situlah awal mula Heinrich Kubis bertemu dengan Count Ferdinand von Zeppelin dan Doctor Hugo Eckener yang merupakan founder dari DELAG – yang ternyata merubah nasibnya kelak.

Mungkin dua founder ini merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Heinrich Kubis, sehingga mereka berani melemparkan penawaran kepada Heinrich Kubis untuk bergabung menjadi awak kabin di perusahaan yang mereka kelola – dan Heinrich Kubis menerimanya.

Heinrich Kubis Bersama Salah Seorang Korban Selamat dari LZ 129 Hindenburg. Sumber: istimewa

Pengalaman yang ia dapatkan selama bekerja di dunia perhotelan ini seolah menjadi bekal yang sangat berharga bagi Heinrich Kubis, dimana kala itu, ia mampu berbicara dalam tiga bahasa dan paham betul dengan kebutuhan para penumpang – bahkan sebelum si penumpang tersebut meminta. Selain itu, job desk Heinrich Kubis yang baru ini juga mengajarkannya banyak hal, salah satunya adalah memahami aspek teknis dari pesawat yang ia tumpangi, hingga prosedur keselamatan bagi para penumpang.

Baca Juga: On This Day: Penerbangan Trans-Atlantik Perdana yang Dibumbui Sejumlah Kendala

Ternyata jalan hidup Heinrich Kubis sebagai awak kabin pertama tidaklah mudah. Tercatat, ia pernah hampir menjadi korban dalam kecelakaan zeppelin LZ 129 Hindenburg. Beruntung, ia berhasil melolskan diri dan selamat dalam insiden mematikan tersebut.

Namun amat disayangkan, dunia seolah lupa akan predikat Heinrich Kubis selaku flight attendant pertama di dunia. Terbukti dari minimnya informasi yang dapat digali di dunia maya – ini seolah mengindikasikan bahwa dunia lupa dengan sosok Heinrich Kubis.

 

 

[VIDEO] Uji Penerbangan Alpha One Vahana yang Berikan Gambaran Moda Transportasi Futuristik

Dalam uji terbangnya yang ke-50, Alpha One Vahana mulai menunjukkan kemampuannya untuk melakukan penerbangan dengan sayap miring. Delapan propellers yang mengarah ke langit memungkinkan pesawat ini untuk lepas landas dan mendarat secara vertikal. Sementara ketika hendak melaju ke depan, Alpha One Vahana akan memiringkan ke-delapan propellersnya secara vertikal.

Baca Juga: Peneliti University of Michigan: Kendaraan VTOL Listrik Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Mobil Listrik

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/2/2019), A3, anak perusahaan Airbus yang mengembangkan pesawat ini, mengatakan bahwa penggunaan propellers ini akan memungkinkan pesawat melakukan penerbangan jarak jauh secara efisien dan juga cepat.

Pada kesempatan yang sama, salah satu juru bicara dari A3 juga mengatakan bahwa pihaknya memiliki prototipe yang sudah mengudara kurang lebih selama lima jam di Pendleton UAS Range di Oregon. Prototipe tersebut, lanjutnya, telah terbang selama kurang lebih tujuh menit pada suatu waktu, dan mencapai kecepatan tertinggi pada angka 97 km/jam.

Selama uji penerbangan ini, pihak A3 terus mengumpulkan data yang sekiranya mampu menyempurnakan moda udara skala kecil ini sebelum akhirnya di rilis di masa yang akan datang. Hingga saat ini, perusahaan masih melakukan sejumlah pengembangan terhadap Alpha One Vahana.

Baca Juga: Kembangkan Wahana VTOL, Uber Gandeng NASA dan Angkatan Darat AS

Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun AviationWeek di jejaring sosial Youtube pada 22 Februari 2019 kemarin, tampak Alpha One Vahana ini melakukan serangkaian uji penerbangan – mulai dari vertical take-off, melaju ke arah depan, berakselerasi hingga kecepatan 50 knots, hingga melakukan putaran 180 derajat.

Dari video ini, harusnya Anda sudah dapat gambaran tentang moda transportasi yang terinspirasi dari drone ini di masa yang akan datang. Jika saja moda semacam ini beroperasi di Indonesia, khususnya Jakarta, maka besar kemungkinan kemacetan yang selama ini menjadi ‘ikon’ Ibukota akan mampu diatasi.

 

 

Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Terpuruknya Boeing pasca dihantam oleh sejumlah tudingan hingga pembatalan pesanan yang bermuara dari jatuhnya dua pesawat 737 MAX 8 dalam rentang waktu 5 bulan ini ternyata membangkitkan jiwa nasionalis dari pemegang kekuasaan tertinggi di Negara Adikuasa, Donald Trump. Presiden yang terkenal kontroversial ini sempat menyerukan agar Boeing mengganti nama pesawat tersebut karena memiliki catatan sejarah yang sangat kelam. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa citra dari Boeing 737 MAX sudah sangat tergerus oleh dua kasus kecelakaan di atas.

Baca Juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?

Dalam sebuah cuitannya yang diunggah di media sosial Twitter beberapa hari yang lalu, Donald Trump mengisyaratkan agar Boeing melakukan rebrand terhadap pesawat tersebut. Tidak hanya itu, Doland Trump juga berharap agar Boeing dapat memberikan fitur tambahan yang diharapkan dapat menarik kembali minat para pelanggan dan mengembalikan kepercayaan terhadap produksian Boeing.

“Jika saya adalah Boeing, saya akan memperbaiki Boeing 737 MAX, tambah beberapa fitur yang baru, dan rebrand pesawat dengan sebuah nama baru, tambahkan beberapa fitur luar biasa, dan REBRAND pesawat itu dengan sebuah nama baru,” ujar Trump dalam cuitannya tersebut.

https://twitter.com/realDonaldTrump/status/1117736685721223168?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1117736685721223168&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fbisnis%2Fread%2F3942411%2Fdonald-trump-ingin-boeing-ganti-nama-737-max

Nampaknya, cuitan tersebut tidak hanya sebatas isyarat dari Trump yang seolah mengindikasikan agar Boeing mengubah nama dari keluarga 737 MAX. Tapi di awal cuitannya, Presiden Amerika Serikat ke-45 ini mengatakan, “Apalah yang saya ketahui tentang branding, mungkin tidak ada (tetapi saya berhasil menjadi presiden!),” ujar Trump.

Jelas, poin tentang rebrand inilah yang coba ditekankan oleh Donald Trump.

“Boeing adalah perusahaan luar biasa. Mereka saat ini bekerja sangat, sangat keras. Dan harapannya mereka akan segera memberi jawaban, tapi sebelum itu pesawat akan dikandangkan” ujar Donald Trump pada Maret lalu – tak berselang lama setelah pesawat Ethiopian Airlines jatuh di Addis Ababa.

Sudah seyogyanya jika Donald Trump memberikan dukungan lebih terhadap Boeing mengingat raksasa kedirgantaraan ini berasal dari negara tempatnya memerintah. Berbagai isu hangat yang sampai saat ini membombardir Boeing antara lain ditemukannya kesalahan pada sistem navigasi 737 MAX 8, hingga perang dingin yang terjadi dengan rival abadinya, Airbus.

Baca Juga: Pesanan ‘Kering,’ Boeing Alihkan SDM Untuk Perbaharui Sistem 737 MAX

Tidak dapat dipungkiri, Boeing telah berperan besar dalam membangun perekonomian negara berjuluk Negeri Paman Sam ini – sebut saja dari hal yang paling sederhana adalah predikatnya sebagai eksportir terbesar bagi Amerika Serikat. Jadi, sudah lumrah adanya jika Donald Trump berupaya untuk tetap menjaga nama baik dari Boeing.

 

Beda dengan TransJakarta, Jelang Pemilu Berbagai Moda Transportasi Luar Daerah Dipadati Penumpang

Pesta Demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu), akan berlangsung pada Rabu, 17 April 2019 di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini membuat banyak masyarakat berbondong-bondong kembali ke daerah asal mereka untuk melakukan pencoblosan.

Baca juga: Jelang Libur Panjang, PT KAI Siapkan 11 KA Tambahan dan Penjualan Melonjak 90 Persen

Melihat antusias ini bagaimana moda transportasi di Indonesia baik di Jakarta maupun daerah lainnya? Ternyata antusias ini berbuntut dengan baik, dimana meningkatnya animo masyarakat untuk kembali ke kota asal untuk memilih.

Sebab beberapa moda transportasi terjadi antrean yang cukup panjang dan tiket pun terjual hampir 90 persen. Untuk kereta api, PT KAI di Daop I bahkan sudah menambahkan 11 kereta api tambahan pada masa pilpres dan libur panjang.

Sedangkan di Manado sendiri ratusan penumpang di tiga kepulauan yakni Talaud, Sangihe dan Sitaro memadati pelabuhan. Karena kepadatan ini membuat banyak penumpang yang tidak mendapatkan tiket ranjang untuk keberangkatan sebelum Pemilu.

Direktur Lintas Utara Line (LUL) dan Asosiasi Perkapalan Bongkar Muat Indonesian (APBM) Kota Manado Yusak Lesman Walo mengakui, lonjakan penumpang terjadi sejak Minggu (14/4/2019) kemarin.

Bahkan di pelabuhan ferry Ternate tepatnya di Pelabuhan Bastiong, antrean panjang terjadi pada 15 April 2019 kemarin sejak pukul 10.00 WIT di loket penjualan tiket. Hal ini membuat petugas pelabuhan membuka dua jalur untuk rute keberangkatan yang berbeda guna meminimalisir penumpukan penumpang.

Sedangkan Manager Operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Ternate, Ali Tahmer mengatakan lonjakan tersebut dikarenakan adanya Pemilu. Dia mengatakan, meski ada lonjakan penumpang, PT ASDP tidak memberikan armada tambahan dan semuanya berjalan sesuai dengan jadwal.

Selain itu, masyarakat pengguna bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) pun melonjak dengan adanya Libur Nasional Pemilu ini. Empat hari terakhir di Terminal Mandalika, Mataram terlihat peningkatan jumlah penumpang.

Ini karena banyak masyarakat Sumbawa, Dompu dan Bima yang tinggal di luar kota seperti Pulau Jawa yang kembali ke kota masing-masing. Pengguna bus sendiri umumnya kebanyakan mahasiswa. Bahkan ada pula bus yang diborong atau charter oleh calon anggota legislatif agar masyarakat daerah di Mataram bisa kembali pulang demi memberikan hak pilih mereka.

Ya, antusias masyarakat daerah begitu jelas terlihat, pelabuhan terminal, bahkan stasiun kereta api di Jawa pun tiketnya terjual hingga 90 persen. Namun bagaimana angkutan dalam kota seperti di Jakarta yang memiliki kereta Commuter Line atau kereta rel listrik (KRL) dan bus TransJakarta?

Ternyata dengan adanya Pemilu, PT TransJakarta bahkan memprediksi akan terjadi penurunan penumpang saat pencoblosan Pemilu 2019. Adanya prediksi ini sendiri berdasarkan dari pengalaman Pesta Demokrasi lima tahun lalu yakni 2014. Humas PT TransJakarta, Wibowo mengatakan, adanya prediksi ini merupakan estimasi. Hal ini dikarenakan penurunan hanya terjadi di saat Pemilu.

“Setelah Pemilu atau hari Kamisnya diperkirakan sudah normal seperti biasa. Karena itu kan hari kerja meski besoknya (Jumat) libur lagi,” ujar Wibowo yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (16/4/2019).

Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta

Meski sedang dalam Pesta Demokrasi, pihak TransJakarta tidak memberikan diskon atau reward lagi bagi penumpang. Hal ini dikarenakan tarif yang cukup murah dan bilapun ada biasanya pihak bank yang bekerja sama memberikan diskon bagi penumpang yang menggunakan kartu uang elektronik mereka. Sedangkan VP Corcom PT KCI Anne mengatkan, untuk KRL tidak ada penurunan penumpang di hari pemilu.

“Untuk Pemilu 2019 penumpang akan sama jumlahnya seperti hari Sabtu atau Minggu,” ujar Anne.