Jalur Kereta Api Medan – Siantar Diperbaiki, Potensi Danau Toba Bisa Lebih Bersinar

Para pelancong yang akan menuju destinasi Danau Toba di Sumatera Utara kerap kali menggunakan pesawat terbang dengan tujuan Bandara Silangit atau kini bernama Bandara Sisingamangaraja XII. Tetapi, tidak ada salahnya juga bila tiba di Kualanamu dan menggunakan moda transportasi lain seperti kereta api untuk sampai di danau vulkanik terbesar di dunia ini. Kereta api yang bisa digunakan pelancong yakni Siantar Ekspres yang berangkat dari Stasiun Medan menuju Staisun Pematang Siantar.

Baca juga: Kereta Premium Siap Ramaikan Rute Lubuk Pakam-Pematangsiantar

Untuk mendukung pengembangan potensi pariwisata di Danau Toba, Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera berencana melakukan perbaikan lintasan kereta api di Sumatera Utara tahun 2019 ini. Pejabat Pemuat Komitmen (PKK) Medan I Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Fakhrul Rivai Hasibuan memaparkan bahwa peningkatan infrastruktur kereta dilakukan untuk relasi Medan menuju Siantar dan sebaliknya.

“Kalau Medan-Siantar kita program dua tahun, dari 2019 sampai 2020 selesai. Kita mulai dari Stasiun Aras Kabu persimpangan Kualanamu sampai Tebing Tinggi, Siantar,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari vivanews.com, Senin (28/1/2019).

Dia mengatakan kini pihaknya tengah mempersiapkan dokumen pelelangan tender dan berharap proses pengerjaan bisa sesuai dengan yang sudah dijadwalkan yakni April 2019. Dia menjelaskan, proyek tersebut akan dimulai dari pergantian rel.

“Program kita tahun ini, dengan peningkatan perlintasan kereta api sepanjang 103 kilometer dengan dana bersumber Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Karena, kondisi rel saat ini, rel R33 dan rel R42, kecepatan kereta api sangat terbatas. Kemudian, pengaruh dengan keselamatan kereta api,” ungkapnya.

Adanya peningkatan perlitasan ini sendiri diakui Fakhrul bertujuan untuk mendukung program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (SPN) Danau Toba. Peningkatan infrastruktur kereta api ini, menurut Fakhrul, juga memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat. Apalagi, pengguna moda transportasi kereta api di Sumut semakin meningkat jumlahnya.

Diketahui, jalur kereta api Medan-Siantar dalam pembangunannya terbagi menjadi dua fase, awalnya Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) membangun jalur Medan-Tebing Tinggi yang berada di Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara dan Aceh ini mulai 28 April 1888 hingga ke Perbanungan. Kemudian berlanjut membuka jalur menuju Tebing Tinggi tahun 1903 silam.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik

Sukses dengan jalur Medan-Tebing Tinggi, DSM kemudian melanjutkan pembangunan jalurnya dari Tebing Tinggi menuju ke Siantar. Pembangunan sepanjang 100 km meter diresmikan pada tahun 1915 dan setahun kemudian pada 5 Mei 1916, jalur tersebut selesai di bangun.

 

Ubah Konsep, Honda Siap Produksi Massal ElectricVehicle di Akhir 2019

Raksasa otomotif asal Jepang, Honda meluncurkan gambaran perdana dari prototipe electric vehicle (EV) dan perusahaan mengatakan akan merilis versi produksi dari moda tersebut pada akhir tahun 2019 ini. Namun rencana dari Honda sendiri bisa dibilang sulit untuk diikuti, pasalnya 2 tahun lalu, Honda meluncurkan konsep EV perkotaan dengan tampilan retro dan mengatakan akan membawa versi mobil ini ke pasar. Alih-alih merilisnya, Honda malah merubah rencananya tersebut.

Baca Juga: Rapide 3 Electric Vehicle, “Bemo” Canggih Untuk Jasa Antar Paket

“Debut ini merupakan demonstrasi lebih lanjut dari visi perusahaan yang akan berfokus dalam pengembangan moda listrik, sebuah komitmen bahwa dua pertiga dari penjualan Eropa akan menampilkan teknologi listrik pada tahun 2025. Versi produksi massal dari mobil ini akan dijual akhir tahun ini,” tutur pihak Honda dalam sebuah pernyataan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman electrek.co (24/1/2019).

Sumber: electrek.co

Sementara untuk versi penuh gambaran perdana ini, Honda mengatakan bakal menampilkannya pada pagelaran Geneva Motor Show pada bulan Maret 2019 mendatang. Mereka juga menambahkan bahwa gambaran tentang moda anyar ini benar-benar berbeda dengan apa yang mereka pamerkan di Frankfurt pada tahun 2017 silam.

Jika dilihat dari gambaran yang dibocorkan oleh Honda, mobil ini tampak menggunakan model jadul – body-nya masih terlihat kotak-kotak dengan warna dasar putih. Ada dua pintu pada gambar yang dirilis oleh perusahaan, berbeda dengan mobil-mobil lain yang notabene dilengkapi dengan empat pintu.

Terlepas dari konsep desain ini, tahun 2018 lalu, GM dan Honda mengumumkan kemitraan mereka untuk merakit sebuah baterai untuk kendaraan listrik generasi selanjutnya.

Baca Juga: The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik

Ya, hadirnya kendaraan berbasis listrik dewasa ini memang tengah menjadi topik hangat perbincangan beberapa kalangan. Selain dapat menggantikan peran dari bahan bakar fosil dengan listrik, kendaraan semacam ini juga dinilai lebih ramah lingkungan dan bebas polusi. Memang, masalah polusi belakangan ini sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Jika tidak dientaskan secara perlahan mulai sekarang, maka dikhawatirkan ini akan menjadi bahaya laten di masa yang akan datang.

Bukan Sekedar Isapan Jempol, Hyperloop Transportation Technologies Siap Uji Coba Quintero One

Lama tak tersiar kabarnya, kini Hyperloop Transportation Technologies diberitakan baru saja kedatangan pod penumpang skala penuhnya yang langsung diboyong menuju fasilitas pengujian mereka di Perancis. Pada kesempatan yang sama, CEO dar Hyperloop Transportation Technologies, Dirk Ahlborn mengutarakan bahwa moda ini semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan dan siap untuk memasuki layanan komersial pada tahun 2022 mendatang.

Baca Juga: Akhirnya, Hyperloop Transportation Technology Luncurkan Pod Penumpang Perdana

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Hyperloop Transportation Technologies memiliki rival yang sama-sama berbentuk startup, Virgin Hyperloop One. Namun anehnya, kali ini dua rival tersebut malah bekerja sama dengan segenap pihak berwenang dari seluruh penjuru dunia untuk melakukan studi kelayakan yang hampir tak terhitung jumlahnya. Namun dari sekian banyak studi yang telah mereka lakukan, nampaknya Timur Tengah akan menjadi daerah pertama yang merasakan keandalan dari moda futuristik ini.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/1/2019), Hyperloop Transportation Technologies memiliki rencana untuk membangun sistem hyperloop sepanjang 10km di Abu Dhabi, dengan perpanjangan yang menghubungkan ibukota Emirat ke Dubai dan selanjutnya ke Riyadh di Arab Saudi – hampir 1.000km jauhnya.

Mengingat bahwa kedua perusahaan startup ini belum menunjukkan pengoperasian sistem yang hampir mendekati kecepatan suara – kecepatan yang digaungkan dapat ditempuh oleh hyperloop di dalam sebuah tabung hampa udara, ada baiknya semua pihak untuk tidak terlalu berharap pada jadwal yang telah dirilis oleh kedua perusahaan ini. Kecuali keduanya sudah menunjukkan bahwa moda yang selama ini mereka geluti sudah mampu menembus batas kecepatan yang sebelumnya mereka janjikan – 1.000 km per jam.

Namun dengan hadirnya pod penumpang skala penuh ini, Hyperloop Transportation Technologies seolah membuktikan bahwa apa yang selama ini perusahaan tuju, bukanlah hanya sekedar isapan jempol belaka.

Baca Juga: Akhirnya! Hyperloop Transportation Technologies Canangkan Uji Coba Skala Penuh

“Final tests kini tengah berlangsung,” ujar salah satu juru bicara dari Hyperloop Transportation Technologies tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang tengah diuji atau sampai mana progress tersebut telah berlangsung.

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, adalah Quintero One, armada Hyperloop Transportation Technologies terbuat dari material komposit yang dikenal dengan nama Vibranium – terinspirasi dari logam super dari komik fiktif Marvel Comics. Quintero One sendiri memiliki panjang 32 meter, dengan panjang kabin 15m dan berat sekira lima ton.

 

Peneliti UCLA Sebut Ride-Hailing Khusus Wanita Kurang Efektif

Seorang peneliti dari UCLA (University of California Los Angeles) mengatakan bahwa layanan perjalanan khusus wanita dapat membuat perjalanan yang aman lebih aman bagi wanita, tetapi mungkin tidak layak jika ditinjau dari segi ekonomi dan kondisi di lapangan. Christopher Tang, seorang profesor terkemuka di Sekolah Manajemen UCLA Anderson, yang juga turut menyoroti layanan perjalanan khusus wanita mengatakan ide ini muncul setelah maraknya serangan seksual dan pembunuhan terhadap penumpang wanita yang dilakukan oleh pengemudi layanan ride-hailing dan ride-sharing seperti Uber dan Lyft.

Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

“Selama tiga tahun terakhir, ada serangkaian laporan tentang penumpang wanita … yang mengalami pelecehan seksual, diperkosa atau bahkan dibunuh oleh pengemudi pria,” ujar Christopher Tang, dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailybruin.com (24/1/2019).

Ya, maraknya pelcehan yang terjadi pada penumpang wanita membuat perusahaan penyedia jasa mau tidak mau untuk memutar otak guna memberikan kenyamanan dan menjamin keselamatan para penumpangnya. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh pihak perusahaan guna menanggapi hal seperti ini adalah memberikan opsi layanan yang spesifik gender terkait pengemudi dan penumpang. Sebut saja SheTaxis dan Safr di Amerika Serikat yang ditujukan khusus untuk wanita

“Motivasi pertama (untuk menyediakan layanan perjalanan khusus wanita) adalah soal keselamatan, … lalu aksesibilitas. Beberapa wanita mungkin tidak bisa mendapatkan pengemudi berjenis kelamin pria … (terutama) di beberapa budaya lain, seperti beberapa budaya Muslim, di mana pria biasanya tidak berinteraksi dengan wanita dalam lingkungan sosial,” tandas Christopher Tang.

Tentu saja, dengan hadirnya layanan semacam ini, maka lapangan pekerjaan untuk para wanita pun turut terbentuk – terutama di negara-negara berkembang dimana para wanita ini akan juga berusaha untuk mencari uang.

“Dari sudut pandang ekonomi, (layanan semacam itu) dapat menciptakan lebih banyak peluang kerja bagi pengemudi wanita,” lanjutnya.

Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?

Namun tidak semua wanita memiliki alur pikiran seperti yang sudah disebutkan di atas, yang pada akhirnya opsi ini tidak terlalu maksimal dimanfaatkan. Belum lagi jika layanan ride-hailing atau ride-sharing khusus untuk wanita ini benar-benar sudah dengan optimal dimanfaatkan, maka jumlah kendaraan di jalanan akan secara otomatis mengalami peningkatan – dan berdampak pada kemacetan yang semakin memerah.

Bak permasalahan yang semakin meradang, diperlukannya ketegasan dari pihak perusahaan untuk semakin meningkatkan pengawasan terhadap para pengemudinya guna mencegah pelecehan terhadap kaum Hawa – kasus semacam ini bisa semakin diminimalisir.

Kadung Bawa Bagasi ‘Dadakan’ Pasca Penghapusan Free Baggage, Ini Regulasi Ala Citilink!

Kebijakan mengenai penghapusan bagasi gratis di penerbangan domestik yang diberlakukan oleh Low Cost Carrier (LCC) Citilink Indonesia per-tanggal 8 Februari 2019 mendatang kini tengah menjadi topik hangat perbincangan sejumlah kalangan. Mengikuti kebijakan yang sebelumnya diterapkan oleh ‘raja’ LCC Indonesia, Lion Air, anak perusahaan dari Garuda Indonesia ini tidak begitu saja menghapuskan kebijakan tersebut. Anda masih bisa mendapatkan bagasi gratis seberat 10kg dengan cara bergabung bersama Supergreen, program keanggotaan maskapai yang didominasi livery berwarna hijau ini.

Baca Juga: Resmi, 8 Februari 2019 Citilink Resmi Meniadakan Free Baggage

“Jadilah member dari Supergreen dan dapatkan free baggage hingga 10kg,” ujar Direktur Niaga Citilink, Benny Rustanto kepada KabarPenumpang.com, Senin (28/1/2019).

“Kita berupaya untuk mengubah kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Kenapa mesti 10kg? Ya, supaya penumpang bisa memilah mana yang patut di bawa, mana yang tidak. Bukan semata-mata untuk menaikkan revenue,” tandasnya.

Ketentuan ini akan berlaku bagi seluruh penumpang yang membeli tiket di atas tanggal 8 Februari 2019. Sedangkan bagi penumpang yang sudah membeli tiket sebelum tanggal tersebut, maka penumpang masih bisa mendapatkan fasilitas bagasi gratis hingga 20kg, kendati jadwal penerbangannya melebihi tanggal 8 Februari 2019.

Jika ditarik benang merah menuju hulunya, Citilink Indonesia terdaftar sebagai maskapai dengan pelayanan “no frills” (pelayanan dengan standar minimum), dimana pihak maskapai dapat mengenakan biaya untuk pengangkutan bagasi tercatat, sebagaimana yang tertuang pada Pasal 22 butir C PM 185 Tahun 2015.

Bagi para penumpang yang ‘terpaksa’ membawa bagasi, melebihi hand luggage yang berat maksimalnya 7kg, maka mereka bisa membeli paket bagasi yang disediakan oleh pihak maskapai di laman citilink.co.id. Varian paketan yang tersedia pun beragam, mulai dari 5kg, 10kg, 15kg, hingga 20kg.

Pertanyaan muncul, “Lalu bagaimana nasib penumpang yang ternyata secara tiba-tiba diharuskan untuk membawa bagasi setelah mereka mengambil paket bagasi yang disediakan oleh Citilink?”

Setelah diresmikannya kebijakan ini, maka penumpang yang secara tiba-tiba diharuskan untuk membawa bagasi tambahan, maka penumpang bisa membeli paket bagasi tambahan di check-in counter.

“Untuk harga tentu kami akan memberlakukan yang sebisa mungkin dijangkau oleh penumpang. Harganya bervarian, tergantung juga dari rutenya, bisa dari Rp9.000 per-kilogram,” ujar Benny.

Baca Juga: Naik Citilink, Kini Bisa Nikmati WiFi Gratis di Ketinggian 35 Ribu Kaki

Menambahkan pernyataan dari Benny, Vice President Ground Operation Citilink Indonesia, Joko Suprapto mengatakan bahwa hitungan harga yang harus dibayarkan penumpang untuk bagasi dadakan ini akan diperhitungkan berdasarkan berat muatan.

“Tarifnya akan dihitung per-kilogram, juga tergantung dari jarak yang ditempuh oleh penumpang,” ujar Joko.

“Tentunya sedikit lebih mahal, karena kan tidak dapat diskon 40 persen seperti di website,” tandasnya.

 

Seibu Railway Hadirkan Tokoh Kartun Jepang di Jalur Kereta Saitama

Perusahaan kereta api Jepang Seibu Railway Co., Ltd yang menghubungkan hub di Tokyo yakni Ikebukuro dan Shinjuku ini memiliki tujuan ke Chichibu dan Kawagoe. Keduanya berada di jalur operasional Saitama dan kini tengah menghadirkan sebuah kampanye dengan menggunakan karakter komik ‘Kanahei’s Small animals‘ yang tengah populer di Jepang, Hong Kong dan Taiwan.

Baca juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Karakter komik ini digambar oleh seorang komikus yang juga ilustrator manga Jepang yang memiliki nama samaran Kanahei. Saat membeli tiket kereta api yakni “Seibu Kawagoe Pass,” penumpang bisa menukarkannya dengan hadiah yakni salah satunya adalah koleksi terbatas seperti sebuah tas untuk botol minum bergambar hewan kecil karakter komik tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari laman eturbonews.com (24/1/2019), kerja sama antara Seibu Railway dan Kanahei dalam bentuk hadiah tersebut penumpang bisa menukarkannya di Stasiun Hon-Kawagoe atau Pusat Informasi Turis Seibu Ikebukuro selama masa kampanye hingga pada 31 Oktober 2019 atau saat hadiah habis. Tak hanya itu kolaborasi keduanya ini, membuat perusahaan kereta Seibu Railway menjalankan kereta mereka dan menghadirkan iklan dengan tema Hewan Kecil Kanahei yang berjalan santai ke Kawagowe dengan naik kereta Seibu di jalur Shinjuku.

Selain itu, para pelancong dapat melihat video animasi asli yang menampilkan dua binatang yang bepergian dengan kereta api dari Ikebukuro ke Hon-Kawagoe, perhentian terakhir di Seibu Shinjuku Line dan stasiun terdekat ke kota kastil tua Kawagoe. Dalam video itu, hewan-hewan berganti kereta di Stasiun Tokorozawa dan menikmati tamasya di Kawagoe.

Baca juga: Agar Tidak Kikuk, Intip Enam Tips Hidup di Jepang!

Jika Anda bepergian dari Tokyo untuk melihat pemandangan ikonik di Kawagoe seperti menara “Toki no Kane (Bell of Time)” dan distrik “Kura no machi” di gudang berdinding tanah, lebih mudah menggunakan Hon-Kawagoe Seibu Railway. Datang dan naik kereta Seibu Railway ke Kawagoe dari stasiun dengan segala cara.

Bukan hanya di Jepang, beberapa negara juga pernah mengadakan kampanye untuk penumpang. Seperti di kota Devon yang berkampanye untuk meningkatkan kesadaran penumpang terkait penyakit kanker.

Robot Vortex – Robot Kecil yang Lakukan Maintenance Pada Badan Pesawat Besar

Tragedi Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang pada akhir tahun 2018 kemarin tentu saja memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang maintenance pesawat. Ya, tersiar kabar bahwa pesawat berjenis Boeing 737 MAX 8 ini sudah tidak laik terbang sejak dua penerbangan sebelumnya. Pemeriksaan kondisi pesawat sebelum mengudara menjadi poin penting yang harus zero mistake.

Baca Juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Ya, perkara human error dalam hal pemeriksaan kondisi pesawat sebelum mengudara ditengarai menjadi penyebab jatuhnya Lion Air JT-610. Nah, guna meminimalisir kesalahan yang disebabkan oleh manusia tersebut, sekelompok peneliti asal Eropa diketahui tengah mengembangkan Robot Vortex – yang menjadi fokus dari proyek CompInnova. Selain untuk meminimalisir kesalahan tersebut, pemeriksaan dengan menggunakan Robot Vortex terhadap pesawat akan memotong waktu kerja dan lebih murah.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/1/2019), robot yang menggunakan empat roda untuk melakukan mobilisasi ini akan dapat bergerak secara nirkabel dan mandiri di seluruh bagian luar pesawat dengan menggunakan sensor terintegrasi seperti kamera termal dan unit ultrasonik untuk mencari bagian yang ‘cacat’. Dalam beberapa kasus, Robot Vortex juga dapat menggunakan sejumlah perkakas seperti bos, laser, atau alat onboard lainnya untuk melakukan reparasi.

Saat ini, prototipe robot ini tengah diujicoba pada pesawat Boeing 737 oleh tim dari Luleå University of Technology Swedia di Cranfield University, Inggris. Robot Vortex memanfaatkan sistem penghisap udara yang berada pada bagian bawahnya, dimana hal ini memungkinkan robot untuk memanjat permukaan pesawat yang licin, terlepas dari sudut kemiringannya – dapat bergerak dalam orientasi apa pun. Khususnya, Robot Vortex ini mampu bergerak melintasi area sayap.

Baca Juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin

“Visi kami adalah untuk melakukan inspeksi dengan memanfaatkan robot dan untuk melakukan perbaikan pesawat,” tutur Luleå’s Georgios Andrikopoulos, pemimpin teknis proyek.

“Bayangkan jika Anda bisa mengirim beberapa robot dan membiarkan mereka bekerja secara kolaboratif, baik waktu dan uang bisa dihemat sekaligus berpotensi untuk meningkatkan keselamatan di industri dirgantara,” tandasnya.

 

Resmi, 8 Februari 2019 Citilink Resmi Meniadakan Free Baggage

Penikmat maskapai berbiaya rendah (LCC) Citilink tak lagi bisa menikmati bagasi gratis atau free baggage dalam penerbangan domestiknya. Pasalnya per tanggal 8 Februari 2019 mendatang, maskapai hijau ini akan menerapkan kelebihan biaya untuk setiap bagasi yang akan dibawa penumpang.

Baca juga: Ikuti Jejak Lion Air Hilangkan Bagasi Gratis, Citilink Siapkan Sosialisasi

Sedangkan untuk penumpang yang membeli tiket sebelum tanggal 8 Februari 2019, masih akan mendapat free baggage 20 kg. Namun, tenang saja bagi pelanggan yang sudah menjadi member Supergreen dan Garudamiles akan mendapatkan gratis bagasi sepuluh kilogram.

Untuk menjadi member Supergreen dari Citilink sendiri tak susah, pelancong hanya perlu masuk ke website citilink.co.id atau melalui mobile aplikasi Citilink dengan melakukan log in terlebih dhulu. KabarPenumpang.com mengutip website citilink.co.id, Minggu (27/1/2019), meski begitu untuk penumpang yang bukan member masih bisa membawa tas ke dalam kabin dengan berat tujuh kilogram.

Tak hanya itu, maskapai hijau ini sendiri memberikan pilihan pre booked bagasi untuk penumpang dengan layanan paket-paket bagasi dengan tarif yang lebih hemat dibandingkan dengan tarif per kilogram di check in counter bandara. Pre booked yang diberikan Citilink sendiri adalah paket 5 kg, 10 kg, 20 kg, 30 kg dan 40 kg.

Paket pre booked ini bisa dibeli empat jam sebelum keberangkatan penumpang dan pembeliannya bisa melalui website, call center, mobile apps dan ticketing office. Pemilihan paket bagasi tersebut hanya bisa dilakukan satu kali oleh penumpang. Sedangkan penumpang yang membawa alat olahraga akan dikenakan biaya bagasi khusus alat olahraga.

Member Citisport Citilink, akan mendapat free baggage untuk alat olahraga yang dibawa dengan berat maksimal 20 kg. Sebenarnya bukan hanya keuntungan mendapat free baggage sepuluh kilogram saja, pelancong yang menjadi member diberikan kemudahan khusus yakni mendapat free lounge di Bandara Halim Perdanakusuma.

Baca juga: Sering Naik Lion Air? Per 20 Desember 2018 Free Baggage Allowances Akan Dikurangi

Kemudian, saat dalam penerbangan akan mendapat kompliment seperti air mineral dan snack bar yang bisa dinikmati penumpang selama perjalanan. Tak hanya itu, untuk membeli makanan yang dijual dipesawat pun penumpang akan mendapat harga lebih murah yakni Rp15 ribu hingga Rp25 ribu untuk membeli makanan yang dijual dalam pesawat dengan memesan melalui aplikasi.

Sukses Terbang Perdana, Taksi Udara Uber Mahakarya Boeing Mengudara di Tahun 2023

Raksasa manufaktur pesawat, Boeing dikabarkan semakin mendekati realisasi untuk menghadirkan taksi terbang untuk perusahaan penyedia jasa ride-sharing, Uber. Pernyataan ini dirilis pasca Boeing berhasil melakukan uji coba terbang perdananya. Para eksekutif yang ada di Boeing percaya bahwa mereka masih berada di jalur yang benar dalam mengembangkan taksi udara otonom berdasarkan permintaan.

Baca Juga: Selangkah Lagi, Uber Akan Operasikan Taksi Udara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (23/1/2019), Boeing merilis sebuah video yang menunjukkan proses uji terbang tersebut – dimana moda ini berhasil mengudara untuk waktu yang singkat sebelum akhirnya melakukan pendaratan yang terkendali.

“Dalam waktu sekira satu tahun, kami telah berhasil untuk mentransformasikan desain konseptual menjadi sebuah prototipe,” tutur Kepala Teknologi Boeing, Greg Hyslop dalam sebuah pernyataan.

Uji terbang yang dilakukan di Manassas, Virginia ini tidak berlangsung lama. Pesawat hanya mengudara untuk waktu yang singkat dan tidak bergerak maju ke depan. Di situ, Boeing juga tidak menguji bagaimana transisi Personal Air Vehicle (PAV) antara lepas landas vertikal dan terbang ke depan. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, taksi udara bertenaga baterai ini kelak akan memiliki jarak tempuh sekira 50 mil.

Para eksekutif Boeing mengatakan bahwa mereka yakin pada akhirnya, transisi PAV tersebut dapat digunakan untuk armada taksi udara dan untuk layanan udara komersial lainnya.

Tidak hanya Boeing, banyak perusahaan lain di luar sana yang tengah berjibaku untuk mengembangkan kendaraan semacam ini. Sebut saja anak perusahaan Textron, Bell yang juga sedang menggarap proyek serupa – dimana secara teori, mampu mengantarkan orang dalam jarak pendek di dalam sebuah kota.

Di sini, Boeing dan Bell bermitra dengan Uber karena sama-sama memetakan rencana untuk membuka layanan taksi udara yang disebut Uber Air.

“Tes penerbangan yang sukses ini merupakan sebuah perkembangan yang luar biasa, mentransformasikan layanan ride-sharing menuju udara dengan waktu kurang dari dua tahun sejak Uber Elevate pertama kali dibentuk,” ujar Kepala Uber Elevate, Eric Allison dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Bell Tampilkan Desain Teknologi Taksi Udara

Uber sendiri menargetkan dapat memperkenalkan layanan taksi udara ini pada tahun 2023 mendatang – tentunya setelah regulasi mengenai taksi udara dari Federal Aviation Administration (FAA) ini rampung.

Sementara itu, pesaing Boeing, Airbus juga diketahui tengah dalam kontrak kerja sama dengan Volocopter dalam mengembangkan taksi udaranya sendiri.

 

 

Etihad Airways Buka Lowongan Global di 19 Kota Dunia

Etihad Airways membuka lowogan pekerjaan besar-besaran secara global untuk bergabung dalam maskapai tersebut yang dibuka selama tahun 2019 hingga awal Januari 2020 mendatang. Perekrutan sendiri akan berlangsung di 19 kota berbeda di beberapa negara seperti Australia, Eropa, Timur Tengah, Afrika, Inggris, Prancis, Slovakia, Tunisia dan Afrika Selatan.

Baca juga: Etihad dan Emirates, Jadi Maskapai Paling Ramah Bagi Keluarga

Wakil Presiden layanan dan pengiriman Etihad Airways, Linda Celestino mengatakan, di masing-masing kota tersebut, pihaknya akan mengambil 120 kandidat terkuat dengan keterampilan yang luar biasa untuk bergabung di maskapai itu.

“Dalam perekrutan ini akan mendukung pertumbuhan operasional perusahaan kami. Termasuk kedatangan armada generasi baru untuk maskapai kami,” ujar Linda yang dikutip KabarPenumpang.com dari arabianaerospace.aero (24/1/2019).

Tak hanya memberikan pengetahuan terkait informasi lengkap kandidat untuk tinggal di Abu Dhabi, Etihad juga akan menjelaskan dinamika kerja dalam melayani penumpang di ketinggian 30 ribu kaki serta melakukan penilaian mendalam bagi kandidat.

“Di balik kampanye merek kami ‘Select Well’ yang baru diluncurkan, hari-hari terbuka ini lebih dari sekadar dorongan perekrutan. Kami berharap dapat menarik pria dan wanita yang berbakat dan antusias secara global, untuk menginspirasi dan membantu mereka memulai peluang karier dan pengalaman hidup yang luar biasa di UEA bersama kami,” tambahnya.

Kandidat yang berhasil akan menjalani program pelatihan komprehensif di Abu Dhabi, yang mencakup semua aspek keselamatan kabin dan pemberian layanan. Pelatihan akan dilakukan di Zayed Campus, akademi pelatihan maskapai penerbangan.

Awak kabin diberikan pendapatan bebas pajak, asuransi kesehatan perusahaan, manfaat perjalanan konsesi, transportasi, seragam, akomodasi perusahaan berperabotan lengkap di Abu Dhabi, dan diskon untuk makanan dan minuman dan kegiatan rekreasi di lingkungan ibukota yang segar dan bersemangat di ibu kota Uni Emirat Arab (UEA).

Berikut jadwal perekrutan di 19 kota pada negara-negara yang terpilih. London dan Dublin pada Januari, Bratislava (Slovakia), Bukares (Rumania), Beograd (Serbia) dan Beirut pada bulan Februari. Athena di bulan Maret, Kairo, Johannesburg di bulan April, Capa Town, Tunis (Tunisia) bulan Mei.

Baca juga: Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya

Australia, Milan dan Roma, Barcelona dan Madrid di bulan Juni, Paris pada bulan Juli. Kemudian di Abu Dhabi sendri dari bulan Oktober, November, Desember 2019 hingga Januari 2020. Amman bulan September dan Amsterdam di bulan Oktober.