Berusia Lebih dari 100 Tahun, Jembatan Penyeberangan di Stasiun ini Masih Berdiri Kokoh

Bagaimana nasib sebuah jembatan penyeberangan antar peron yang usianya lebih dari satu abad harus mengakhiri pengabdiannya? Hal ini terjadi pada sebuah jembatan penyeberangan di Stasiun Handa, jalur JR Taketoyo di Handa Prefektur Aichi.

Baca juga: Karena Unik, Sejumlah Jembatan Penyeberangan Orang Jadi Fenomena

Jembatan berusia lebih dari 110 tahun ini merupakan jembatan penyeberangan tertua di Jepang yang digunakan di lokasi sama sejak didirikan. Menurut Central Japan Railway Company atau JR Central, jembatan akan dialihkan dari JR Central ke pemerintah kota Handa yang tengah membahas pelestarian struktur. bangunan tersebut.

Pemindahan jembatan penyeberangan tertua di Negeri Sakura tersebut dikarenakan adanya pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung untuk meningkatkan area di sekitar stasiun. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (5/6/2021), pekerjaan konstruksi dilakukan untuk meninggikan jalur sepanjang 2,6 km yang berpusat di sekitar Stasiun Handa.

Ini juga sudah berlangsung di jalur JR Taketoyo dalam upaya untuk mengurangi kemacetan di perlintasan kereta api. Sehingga pada 5 Juni 2021, jembatan penyeberangan tertua itu harus dipindahkan dan pada 6 Juni lalu, pelayanan dimulai di gedung stasiun sementara untuk layanan kereta pertama.

Jembatan penyeberangan yang dibangun pada November 1910 itu dikatakan Masahiro Sugiura yang merupakan kepala kelompok pelestarian lokomotif uap C11265, adalah suatu keajaiban. Sugira yang kini mengelola museum kereta api kota di depan Stasiun Handa menyerukan pelestarian pada jembatan penyeberangan bersejarah itu.

Dia mengatakan, meski penyeberangan telah berubah secara bertahap sejak pendiriannya seperti vas di kaca jendela, jembatan mempertahankan jejak dirinya yang dulu. Salah satu yang masih bertahan dikatakan Sugira adalah warna two-tone putih dan merah. “Merupakan keajaiban bahwa jembatan penyeberangan yang berusia lebih dari 100 tahun tetap ada,” kata Sugira.

Baca juga: Kehadiran Skybridge Bakal Ubah Tata Letak Pintu Stasiun Tanah Abang

Sebagai informasi, Pemerintah kota Handa akan memindahkan jembatan penyeberangan bersejarah itu ke lokasi sementara di dalam kota pada tahun 2022, yaitu setelah pekerjaan pembongkaran di gedung stasiun saat ini selesai.

Pantau Prokes Masyarakat di Transportasi Umum, Perancis Andalkan Teknologi Kecerdasan Buatan

Perancis mengerahkan teknologi kecerdasan buatan – artificial intelligence (AI) yang disematkan di CCTV yang ada di jaringan Metro Paris. Ini dilakukan untuk memantau tingkat kepatuhan masyarakat (penumpang) dalam menjalankan disiplin protokol kesehatan (prokes), khususnya memakai masker.

Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang

Kendati demikian, AI yang disisipkan di kamera CCTV itu tidak dimaksudkan untuk menghukum para pelanggar prokes, melainkan untuk membantu petugas mengingatkan hingga men-tracing pasien positif Covid-19. Muara dari semua itu ialah menekan kasus penularan virus Corona di Perancis.

Usai tiga bulan di uji coba di beberapa titik, seperti Stasiun Chatelet-Les Halles di Paris serta di beberapa bus di kota Cannes, teknologi AI untuk pantai prokes masyarakat ini pun diterapkan di seluruh kota untuk proyek percontohan negara-negara lainnya.

“Kami hanya mengukur satu tujuan ini. Tujuannya hanya untuk mempublikasikan statistik berapa banyak orang yang memakai masker setiap hari,” kata CEO DatakaLab, Xavier Fischer kepada The Verge.

Di masing-masing negara, teknologi AI untuk memantau prokes masyarakat teknisnya bisa berbeda-beda. Di Perancis, yang notabene operator masih dibayangi Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) UE, CCTV yang sudah diinstal teknologi AI hanya menyajikan data statistik penggunaan masker oleh masyarakat setiap interval 15 menit sekali.

Data-data tersebut tidak terhubung dengan cloud, sebagaimana negara lain. Setelah bus atau stasiun yang menjadi lokasi uji coba selesai beroperasi, petugas memindai dan mengunduh data menggunakan WiFi serta dikirim ke departemen transportasi setempat.

Intinya, tidak ada sistem pemantauan dan penindakan real time, dimana ketika penumpang atau masyarakat melanggar prokes, sistem peringatan pusat akan menghubungi petugas terdekat atau bahkan sopir untuk mengingatkan kepada mereka yang melanggar; seperti yang dilakukan oleh otoritas di Dubai, Uni Emirat Arab.

Dubai diketahui juga melibatkan teknologi AI berseta kamera pengawas di setiap taksi untuk memantau disiplin penerapan prokes oleh penumpang dan sopir. Saat terjadi pelanggaran, sistem akan memberikan sinyal ke pusat kontrol dan melakukan penindakan tak langsung berupa peringatan dan tindakan langsung oleh aparat di lapangan.

Kamera atau CCTV berteknologi AI yang disebar otoritas Dubai di setiap taksi juga diinstal program matematika, untuk memantau disiplin jaga jarak.

“Teknik kecerdasan buatan telah digunakan untuk memantau sejauh mana kepatuhan terhadap berbagai prosedur untuk mencegah penyebaran virus Corona sekaligus memonitor pelanggaran, selain jumlah penumpang yang diizinkan di setiap perjalanan, dimana teknologi ini diterapkan,” kata Ahmed Mahboub, Direktur Departemen Smart Services Executive Otoritas Perhubungan Dubai.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

“Eksperimen menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan mampu menangani dan memproses file video (di seluruh taksi) yang isinya sekitar 200 ribu jam per hari. Ini mengurangi kebutuhan untuk petugas secara langsung (mengecek) dan menghemat waktu serta upaya untuk menganalisis video ini,” lanjutnya.

“Dua model kecerdasan buatan telah diprogram untuk mengidentifikasi dan mendeteksi wajah dalam tayangan video dan mendeteksi penggunaan masker dengan benar, di samping model matematika untuk menghitung jarak antara penumpang dan pengemudi,” tambahnya.

Canggih! Masker Ini Dilengkapi Filter HEPA dan Sensor Udara, Anti Covid-19 Kah?

Gelombang kedua lonjakan Covid-19 di Indonesia tinggal menunggu waktu. Selama beberapa hari belakangan, kasus positif Covid-19 melonjak drastis, bahkan terus melewati kasus harian tahun lalu.

Baca juga: Masker F5 Serbaguna Bisa Jadi Hadiah Natal Pada Masa Pandemi

Penularan Covid-19 akhir-akhir ini memang kian mengganas lantaran adanya mutasi virus corona B.16.17 atau varian Delta. Varian yang pertama kali ditemukan di India ini diakui WHO empat kali lebih menular (infeksius) dan jauh lebih kuat dibanding varian sebelumnya.

Oleh karenanya, dibutuhkan proteksi lebih untuk menghindari penularan langsung (droplet). Salah satunya menggunakan masker canggih berteknologi tinggi.

Masker Nexvoo Breeze. Foto: ktla.com

Dilansir ktla.com, setidaknya ada tiga masker canggih berteknologi tinggi di antara beberapa masker canggih lainnya di dunia. Pertama ialah Nexvoo Breeze. Masker ini disebut canggih karena dilengkapi dengan dua kipas elektronik built-in dengan filtrasi lebih banyak daripada N95. Karenanya, masker ini disebut atau diberi peringkat N99.

Tak berhenti sampai di situ, produsen masker canggih ini juga menawarkan 30 filter tambahan, loh. Lebih dari itu, masker ini transparan sehingga tetap bisa mengekspresikan wajah pengguna untuk memudahkan komunikasi. Masker ini dibanderol seharga Rp1,1 juta.

AirPop Active+ Halo Smart Mask. Foto: ktla.com

Masker canggih berteknologi tinggi kedua ialah AirPop Active + Halo Smart Mask. Masker ini disebut canggih dan berteknologi tinggi karena dibekali dengan filter dan sensor bawaan untuk mengirimkan data ke companion app (aplikasi pendamping).

Dengan begitu, pengguna bisa mengetahui pola pernapasan, polutan yang terhalang dan menempel di masker, dan kapan saatnya mengganti filter. Masker ini dijual seharga Rp2,1 juta.

Masker Air x MicroClimate. Foto: ktla.com

Adapun masker canggih berteknologi tinggi yang terakhir ialah Air by MicroClimate. Ini sebetulnya lebih pantas disebut pod atau helm astronot. Sebab, masker Air by MicroClimate menutupi seluruh kepala. Tetapi, cara ini dinilai paling efektif mencegah pengguna tertular virus Corona mengingat patogen berukuran kecil bisa menyelinap masuk ke sela-sela masker dan wajah.

Agar pengguna tetap bebas atau paling tidak mudah berkomunikasi, masker canggih ini dilengkapi empat filter HEPA (High Efficiency Particulate Absorbing) dan dua kipas. Ini dipercaya mencegah terjadi embun dan menghalangi pandangan. Selain itu, adanya filter HEPA dan sejenis blower itu juga dijamin ampuh mencegah penularan virus Corona melalui droplet. Masker ini dibanderol seharga Rp4,3 juta.

Baca juga: Masker LED Desain Chelsea Klukas Jadi Gaya di Masa Pandemi

Kendati berbentuk helm astronot, masker transparan ini diklaim Daniel Boyer, Chief Marketing Officer MicroClimate, bisa digunakan di pesawat. Kendati demikian, ia menyadari setiap maskapai memiliki kebijakan penggunaan masker masing-masing.

Karenanya, boleh jadi ada maskapai yang melarang masker buatannya. Tetapi, bukan karena tidak efektif melainkan karena masalah kebijakan masker yang ditentukan.

Terbang Perdana ke Milan, Qatar Airways Luncurkan New Business Class Suite di Boeing 787-9 Dreamliner
























Qatar Airways memang beda, saat kebanyakan maskapai tiarap akibat pandemi Covid-19, tapi justru Qatar Airways terlihat agresif dengan membuka penerbangan dan layanan baru ke berbagai rute favorit dunia. Selain diwartakan bakal menambah karyawan, Qatar Airways pada Jumat ini (25/6/2021), resmi meluncurkan kelas baru, yaitu New Business Class Suite pada pesawat Boeing 787-9 Dreamliner.

Baca juga: Qatar Airways Tambah Karyawan dan Rute Saat Maskapai Lain Tiarap, Ini Alasannya

Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, disebutkan New Business Class Suite dilengkapi fasilitas andalan berupa sliding privacy doors, wireless mobile device charging layar monitor besar, dan tentunya flat bed. New Business Class Suite dengan Boeing 787-9 Dreamliner dijadwalkan akan terbang melayani rute-rute udata di Asia dan Eropa. Untuk pertama, yaitu 25 Juni 2021, penerbangan perdananya akan dilakukan dari Doha ke Milan. Selanjutnya, New Business Class Suite Qatar Airways juga akan melayani tujuan ke Athena, Barcelona, ​​Dammam, Karachi, Kuala Lumpur dan Madrid.

Konfigurasi di Boeing 787-9 Dreamliner terdiri dari 311 kursi, yang terdiri dari 30 kursi untuk New Business Class Suite dan 281 kursi kelas ekonomi. “Penumpang kami berhak mendapatkan yang terbaik dan saya yakin mereka akan menghargai varian Dreamliner yang lebih besar karena kenyamanannya,” ujar Chief Executive Qatar Airways Group Akbar Al-Baker.

New Business Class Suite ditata dalam pola herringbone dengan susunan kursi 1-2-1, setiap suite memiliki akses lorong langsung dengan pintu geser untuk memastikan privasi dan kenyamanan terbaik. Penumpang yang duduk di suite tengah yang bersebelahan dapat menggeser panel privasi dengan satu sentuhan tombol untuk menciptakan ruang pribadi tertutup bagi mereka sendiri.

New Business Class Suite dilengkapi kursi yang bisa berubah menjadi tempat tidur datar berukuran 79 inchi, menawarkan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi di dalam pesawat. Penumpang dapat bersantai selama penerbangan, mengetahui perangkat seluler pribadi mereka disimpan dengan aman di dudukan telepon khusus, dilengkapi dengan teknologi pengisian daya nirkabel yang kompatibel dengan perangkat iOS dan Android.

Baca juga: Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses

Sementara itu, penumpang di kelas ekonomi dapat merasakan kenyamana saat menggunakan kursi rancangan Recaro yang hadir dengan desain serta teknologi terbaru. Setiap kursi dilengkapi dengan layar sentuh Panasonic IFE 13 inci selain dudukan perangkat elektronik pribadi untuk perangkat seluler dan iPad. Kursi memiliki sandaran tangan yang dapat diputar yang dapat disimpan sepenuhnya ke sandaran, memberikan pengalaman yang lebih nyaman dan lapang.

Pertama di Dunia, Penumpang Pesawat Singapore Airlines Bisa Belanja Online di Udara

Teknologi membuat sesuatu yang tak mungkin jadi mungkin. Baru-baru ini, Singapore Airlines meluncurkan layanan KrisWorld in-flight entertainment (IFE) e-shopping di seluruh armada Airbus A350.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

Layanan ini memungkinkan seluruh penumpang berbelanja online lebih dari 4.000 produk, seperti merchandise maskapai, produk kecantikan, parfum, elektronik, dan sampai minum-minuman beralkohol, saat berada di tengah penerbangan, menjadikannya sebagai maskapai pertama di dunia untuk layanan serupa.

Nantinya, penumpang Singapore Airlines yang berbelanja di udara, tinggal pilih barang pembeliannya mau di antar ke rumah atau diberikan saat penerbangan berikutnya bersama maskapai. Jika pilihan terakhir yang diambil, penumpang tidak dikenakan bea pengiriman atau bebas ongkir.

Teknologi yang terjalin berkat kemitraan dengan Air Free, Thales, dan Panasonic Avionics, tersebut menghubungkan KrisShop SIA langsung ke sistem IFE pesawat, memungkinkan update berkesinambungan terkait ketersediaan produk dan aktivasi untuk pengguna kartu kredit.

Bagi anggota KrisFlyer dan PPS Club, selain akan mendapat tambahan miles, pelanggan juga mendapat berbagai tawaran diskon menarik. Untuk di awal ini, mereka mendapat tawaran diskon 15 persen untuk setiap pembelian minimal 150 dolar Singapura; dengan catatan barang berupa pre-order dan skema pengiriman di penerbangan berikutnya, bukan dikirim ke rumah.

Adapun untuk pengiriman ke rumah, anggota KrisFlyer dan PPS Club hanya mendapat diskon 10 persen tanpa minimum belanja.

Dilansir Business Traveller, sebagai permulaan, belanja di udara atau belanja barang secara online saat di pesawat pertama di dunia tersebut hanya tersedia di seluruh armada Airbus A350 Singapore Airlines. Ke depan, secara bertahap, seluruh armada dan jaringan maskapai, kecuali Boeing 737-800NG, juga dilengkapi layanan KrisWorld in-flight entertainment (IFE) e-shopping.

Dirunut ke belakang, layanan belanja online di pesawat pertama di dunia itu merupakan wujud dari keseriusan maskapai dalam bertransformasi menjadi maskapai penerbangan digital terkemuka di dunia. Tujuannya tentu mengembangkan solusi digital yang inovatif untuk mempersonalisasi pengalaman perjalanan end-to-end setiap penumpang.

Baca juga: Toko Bebas Bea Pertama di Dunia ada di Bandara Shannon Irlandia

“E-commerce adalah masa depan belanja, dan mengintegrasikan fitur ini ke dalam sistem hiburan dalam penerbangan kami merupakan industri pertama bagi SIA. Hal ini memungkinkan KrisWorld untuk melampaui film, acara televisi, musik, dan permainan, dan menawarkan lebih banyak hal yang mereka inginkan kepada pelanggan saat terbang bersama kami,” jelas Yeoh Phee Teik, Senior Vice President Customer Experience Singapore Airlines.

“Ini adalah bagian dari komitmen teguh kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan penawaran produk dan layanan kami, dan menambah pengalaman perjalanan bagi pelanggan kami,” tutupnya.

Beroperasi November 2021, Stasiun Bang Sue Lebih dari Sekedar Pusat Transportasi di Bangkok

Stasiun Bang Sue Grand Central Bangkok akan menjadi lebih dari sekedar pusat transportasi di ibu kota Thailand. Sebab stasiun kereta api baru yang akan mulai beroperasi secara penuh pada November mendatang, nantinya juga akan mengatasi permasalahan lalu lintas di salah satu kota paling padat di dunia itu.

Baca juga: Mulai Beroperasi 2021, Bang Sue Bakal Menjadi Stasiun Kereta Terbesar di Asia Tenggara

KabarPenumpang.com melansir bloomberg.com (18/6/2021), stasiun yang memiliki empat lantai dengan tampilan kaca reflektif tersebut memiliki luas 298.200 meter persegi dan lebih luas dari 40 lapangan sepak bola.

“Kami ingin menjadikan sistem kereta api sebagai moda transportasi utama di Thailand, menghubungkan negara ini dengan tetangga regional. Tujuannya adalah untuk menurunkan biaya logistik dan mengurangi ketergantungan kita pada kendaraan pribadi, yang akan memperbaiki masalah kemacetan jalan kita secara berkelanjutan,” kata Menteri Transportasi Saksayam Chidchob.

Terlihat dari jalan bebas hambatan di mana mobil bolak-balik ke dan dari pusat kota Bangkok, kompleks ini disebut-sebut sebagai pusat transportasi terbesar di Asia Tenggara, dan biaya pembangunannya mencapai 93,95 miliar baht ($3 miliar). Atap Stasiun Bang Sue melengkun dan memiliki jam yang menonjol di fasadnya sehingga sedikit mirip dengan Stasiun Bangkok yang struktur bergaya neo-Renaissance yang dibangun pada tahun 1916 yang akan diganti oleh Bang Sue.

Stasiun ini akan menampung jalur kereta api berkecepatan tinggi pertama di Thailand serta kereta listrik konvensional, jarak jauh, dan dalam kota. Ini juga akan terhubung dengan bus, ferry sungai, bandara dan jalur kereta api ke pusat industri yang direncanakan di pesisir timur negara yang berfokus pada sektor-sektor termasuk manufaktur kendaraan listrik, teknologi 5G, robotika dan pariwisata medis.

Pemerintah berharap saat pelancong asing kembali, sistem kereta api akan membantu mereka mengakses lebih banyak negara, termasuk daerah yang jarang dikunjungi yang membutuhkan dorongan ekonomi. Tetapi keberhasilan rencana transportasi umum kota tidak hanya pada stasiun, menurut Pongpisit Huyakorn, Direktur Desain dan Pengembangan Perkotaan di Universitas Thammasat dan anggota komite Asosiasi Perancang Perkotaan Thailand.

Dia mencatat pentingnya koneksi first-mile dan last-mile yang nyaman yaitu, cara bagi para komuter untuk melakukan perjalanan antara depot angkutan umum dan tujuan akhir mereka (rumah, kantor, atau di mana pun). Bangkok sebagian besar tidak memiliki koneksi ini, membuat para pelancong bergulat dengan bus, kapal, dan ojek.

Pongpisit mengatakan, tarif pun sangat penting, sebab Skytrain di Bangkok terlalu mahal untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Hal ini membuat Menteri Perhubungan menjanjikan tarif tiket yang terjangkau ketika Stasiun Bang Sue mulai beroperasi. Pemerintah juga berharap dapat memicu pembangunan di sekitar stasiun, yang terletak di tepi Chatuchak, kawasan perumahan yang berkembang pesat bagi penduduk kota kelas menengah dan menengah atas.

“Bang Sue Grand Central Station akan memperkuat posisi area Chatuchak sebagai pusat komersial dan transportasi Bangkok seiring dengan berkembangnya proyek pengembangan berorientasi transit di sekitar stasiun. Ini telah menjadi titik fokus investor domestik dan asing dalam beberapa tahun terakhir,” kata Aliwassa Pathnadabutr, direktur pelaksana untuk perusahaan penasihat real estat CBRE Group Inc. di Thailand .

Hingga stasiun dibuka untuk layanan, Bang Sue akan beroperasi sebagai pusat vaksinasi Covid-19. Setelah itu, stasiun akan menjadi jantung dari tantangan kesehatan lainnya yakni kualitas udara yang buruk.

Baca juga: Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

“Pemerintah merasa sangat penting untuk mengembangkan sistem transportasi nasional untuk menurunkan masalah debu PM2.5, meningkatkan daya saing ekonomi Thailand dan meningkatkan standar hidup orang Thailand,” kata Saksayam.

Inilah Maria, Dokter Gigi Jadi Pramugari dan Kembali ke Profesi Semula Gegara Corona

Cita-cita mungkin menjadi kepuasan tersendiri jika berhasil tercapai. Kira-kira, itulah yang dialami Maria Pandolfi. Wanita asal Vilnius, Lituania, itu sebetulnya sudah mencapai kehidupan yang mapan sebagai dokter gigi. Namun, itu belum cukup untuk membuatnya bahagia. Bukan karena kekurangan harta, tetapi karena cita-citanya sebagai pramugari belum jadi nyata.

Baca juga: Kisah Pilu Pramugari Emirates Gegara Corona, Jualan Sabun Demi Sambung Hidup

Sejak kecil, Maria sudah mencicipi manisnya penerbangan antara Italia-Lituania. Berkali-kali ia melihat pramugari di pesawat, berkali-kal itu pula ia semakin tertarik untuk menjalani profesi itu kelak ketika ia besar.

Setelah lebih dari 20 tahun kemudian, Maria, yang lahir dan besar dari keluarga dokter, sempat kehilangan asa menjadi pramugari. Sebab, ia diarahkan untuk menjadi dokter gigi ketimbang pramugari.

Lagi pula, ketika masih menempuh pendidikan dokter tingkat akhir, ia sempat berpikir bahwa untuk menjadi pramugari seseorang harus memiliki postur tinggi dan paras kelewat cantik. Jadi, ia sempat kehilangan semangat untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil itu.

“Saya tidak pernah menyerah pada kedokteran gigi, dan saya masih mendapatkan pengalaman di bidang ini, tetapi pekerjaan pramugari adalah impian masa kecil saya, yang harus saya penuhi. Jadi, saya melakukannya,” ujar Maria, seperti dikutip dari Aerotime Aero.

Sebetulnya, sebelum lulus kuliah, ia sempat ditawari posisi sebagai pramugari oleh salah satu maskapai domestik Lithuania. Tetapi, ia menolak dan memilih menyelesaikan studi terlebih dahulu baru kemudian bergabung jika masih ada kesempatan.

Usai lulus, lowongan pramugari di maskapai tersebut belum tersedia dan mau tak mau Maria mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat. Setelah beberapa tahun, ia mendapat informasi adanya lowongan sebagai pramugari Airbus A319 dan A320 di maskapai charter asal Lituania, ACMI. Setelah menjalani serangkaian tes, ia pun resmi menjadi pramugari pertengahan tahun 2019 silam.

Saat itu, ia bergabung sebagai pramugari kontrak. Maria tak memiliki ekspektasi tinggi terkait profesi barunya tersebut. Yang ada di benaknya hanyalah menjalani petualangan barunya sebagai pramugari dengan sepenuh hati.

Kontrak berakhir, ia ditawari perpanjangan kontrak selama beberapa bulan dan Covid-19 pun menerjang. Pada saat itu, virus Corona masih menjadi epidemi di Asia. Kendati demikian, neneknya, yang juga dokter gigi, mengingatkan virus tersebut akan menjangkiti umat manusia dan membuat perekonomian melorot sebagaimana yang terjadi saat ini.

Baca juga: Kisah Perjuangan Jae Won Jess Shin, Gadis ‘Miskin’ Korea yang Sukses Jadi Pramugari dan Pilot

Pada musim semi 2020, Maria memutuskan hengkang setelah genap 10 bulan berkarir sebagai pramugari dan menjalani kehidupan lamanya sebagai dokter gigi. Awalnya, ia sempat bersedih menghadapi kenyataan itu. Tetapi, ia menguatkan diri sebisa mungkin.

Walau bagaimanapun juga, jauh di lubuk hatinya, ia berharap suatu hari nanti bisa kembali ke udara sebagai pramugari.

Terbang Makin Aman, Airbus Luncurkan Desain Karantina Mandiri di Pesawat

Selama pandemi Covid-19, sudah beberapa kali terjadi kasus dimana penumpang pesawat diketahui positif virus Corona saat dalam penerbangan. Cukup panjang bila diceritakan detail bagaimana itu bisa terjadi.

Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Selain itu, beberapa kasus juga diketahui sejumlah penumpang di seluruh dunia mengalami gejala mengidap Covid-19 saat dalam penerbangan. Ketika semua itu terjadi, rata-rata dari maskapai hanya melakukan tindakan preventif dengan mengkarantina penumpang tersebut di kursi paling belakang.

Tetapi memang, itu hanya namanya saja karantina mandiri. Faktanya, mereka masih menghirup dan menghembuskan udara di tempat yang sama tanpa sekat. Tentu hal ini membuat penumpang merasa khawatir dan kekhawatiran inilah yang coba dijawab Airbus dengan mendesain kursi khusus karantina di pesawat.

Dilansir CNN International, belum lama ini Airbus resmi meluncurkan konsep desain PaxCASE (Passenger Containment Area for Symptomatic Events). Prinsipnya sederhana, penumpang bergejala positif Covid-19 diarahkan duduk di kursi bagian belakang pesawat dan di sekat sampai tertutup layaknya ruangan khusus menggunakan plastik semi-transparan. Dengan begitu, diharapkan tidak terjadi droplet di kabin pesawat.

Wakil presiden pemasaran kabin Airbus, Ingo Wuggetzer, mengungkapkan PaxCASE sangat fleksibel alias mudah dibongkar pasang, dengan begitu tetap bisa memaksimalkan kapasitas kursi penumpang andai tak terjadi kasus demikian.

Tirai, sekat, atau ruang khusus karantina mandiri di pesawat inovasi Airbus ini didesain hanya memakai empat kursi belakang dari formasi tiga baris di sisi kanan dan kiri. “Ini adalah prinsip yang sangat sederhana dan mudah, diterapkan oleh kru jika terjadi kebutuhan darurat,” kata Wuggetzer.

Konsep PaxCASE ini diketahui berhasil masuk nominasi ajang Crystal Cabin Awards 2021 kategori Clean and Safe Air Travel. Selain itu, dari delapan kategori yang diperebutkan, konsep desain khusus karantina mandiri di pesawat tersebut juga masuk dalam nominasi Judges Choice.

Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan Aviointeriors

Meski demikian, Wuggetzer mengungkapkan, maskapai penerbangan di dunia pada umumnya saat ini fokus pada pengalaman terbang nirsentuh, disinfeksi pesawat sebelum dan sesudah penerbangan, surat bebas Covid-19, mengosongkan kursi tengah, memakai masker, dan melarang berbicara selama dalam penerbangan.

Singkatnya, Airbus menyadari bahwa dalam waktu dekat konsep PaxCASE gagasannya belum akan diaplikasikan maskapai dalam waktu dekat. Terlebih, IATA juga sudah menguatkan langkah yang ditempuh maskapai dunia saat ini, dengan menyebut, “Risiko tertular Covid-19, saat mengenakan masker di pesawat, sangat rendah.”

Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam
























Rasanya untuk keunggulan teknologi kereta cepat, Cina akan menjadi yang terdepan di dunia. Pasalnya Cina belum lama ini melakukan pembangunan jalur uji kereta Maglev yang bisa melayani kecepatan kereta hingga 1.000 km per jam. Jalur uji tersebut akan dibangun di Provinsi Shanxi, Cina Utara.

Baca juga: Dengan Maglev, Cina Siap Buktikan Perjalanan 2200 Km Hanya Butuh Waktu 2 Jam!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman globaltimes.cn (26/5/2021), langkah ini bisa dikatakan menjadi terobosan terbaru Cina setelah commissioning kereta Maglev yang dapat melaju hingga 620 km per jam pada awal tahun ini. Sementara itu Jepang dan Amerika Serikat juga melakukan peningkatan upaya penelitian dan pengembangan serta uji coba kereta Maglev dengan sistem vakum.

Uji coba kereta api berkecepatan tinggi ini dilakukan oleh North University of China dan Institut Penelitian Ketiga di China Aerospace Science and Industry Corp yang memanfaatkan proses suspensi vakum dan magnetik yang rendah. Teknologi tersebut berarti kereta api akan memiliki potensi untuk melakukan perjalanan jauh lebih cepat daripada kereta berkecepatan tinggi 350 km per jam saat ini.

Ma Tiehua, dekan Sekolah Teknik Elektro dan Kontrol Universitas Pusat Utara memperkirakan bahwa kecepatan moda transportasi futuristik ini kemungkinan akan melebihi 1.000 km per jam, dan mencapai tiga atau empat kali di masa depan. Seperti sesuatu yang keluar dari fiksi ilmiah, Virgin Hyperloop yang berbasis di AS melakukan uji coba sistem transportasi ultra-cepat dengan penumpang manusia tahun lalu.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 2014 dengan alasan membuat visi Tesla dan CEO SpaceX Elon Musk tentang sistem transportasi ultracepat dari pod yang melayang secara magnetis melalui tabung hampir tanpa udara telah menjadi kenyataan. Sementara beberapa perusahaan dan lembaga sedang mengerjakan desain transportasi khusus, beberapa akademisi memiliki ide yang berbeda.

Zhao Jian, seorang profesor di Universitas Jiaotong Beijing, mengatakan, teknologi ini dapat digunakan untuk eksperimen tetapi tidak mungkin diadopsi untuk proyek komersial dan rekayasa. Selain itu, keselamatan adalah masalah utama untuk transportasi massal, jadi tidak jelas bagaimana seseorang dapat mengoperasikan kendaraan dengan kecepatan tinggi seperti itu di bawah keadaan hampir vakum.

Baca juga: Prototipe Kereta Maglev Cina Melaju dengan Kecepatan 620 Km Per Jam

“Kereta maglev peluru super” dengan kecepatan maksimum 620 kilometer per jam, ditujukan untuk mengisi kesenjangan kecepatan antara kereta api berkecepatan tinggi saat ini dengan pesawat terbang yang melesat 800 kilometer per jam.

Desember 2021, Laos dan Cina Akan Terhubung dengan Jalur Kereta Api
























Vientiane yang merupakan ibu kota dari Laos akan terhubung dengan Negeri Tirai Bambu. Hal ini terlihat dari Laos yang akan mulai melakukan uji coba pertama kereta di jalur Laos – Cina pada Agustus 2021.

Baca juga: “Belt and Road Initiative” dari Cina, Ibarat Madu dan Racun Bagi Negara Berkembang

Jalur yang menghubungkan dua negara tersebut memiliki rel sepanjang 422,4 km. Dilansir KabaraPenumpang.com dari bangkokpost.com (23/6/2021), pembangunan semua stasiun di sepanjang jalur ini ditargetkan selesai pada September dan Oktober mendatang, serta diharapkan dapat beroperasi untuk umum pada Desember 2021.

Sebuah terowongan yang sedang dibangun di jalur kereta api yang menghubungkan Laos dan Cina (Akun Facebook Laos-China Railway Company Limited)

Sepanjang jalur dari Laos menuju ke Cina akan ada sepuluh stasiun, yakni Vientiane, Phonhong, Vangvieng, Kasy, Luang Prabang, Nga, Xay, Namor, Nateuy dan Boten. Tak hanya stasiun untuk penumpang, jalur ini juga punya 22 stasiun untuk bongkar muat barang.

Perjalanan kereta yang menghubungkan Vientiane ke perbatasan Cina akan melintasi provinsi Vientiane, Luang Prabang, Oudomxay dan Luang Namtha. Menurut Laos-China Railway Co., Ltd, kereta nantinya akan melewati 75 terowongan dengan panjang gabungan 197,83 km.

Jalur kereta yang menghubungkan dua negara ini pembangunannya menelan biaya US$5986 miliar (37,4 miliar yuan). Di mana pengerjaannya sudah dimulai sejak Desember 2016 lalu. Kehadiran jalur Laos menuju Cina juga merupakan bagian strategis dari China’s Belt and Road Initiative mencakup koneksi kereta api dengan Thailand di Nong Khai.

Hadirnya jalur ini juga strategi pemerintah Laos untuk mengubah Negeri Sejuta Gajah tersebut dari negara terkurung daratan menjadi jalur darat di dalam kawasan. Nantinya setelah kereta beroperasi, ini akan memangkas biaya transportasi melalui barat laut Laos sebesar 30-40 persen dibandingkan transportasi melalui jalan darat biasa.

Baca juga: Pemasangan Balok Jalur Kereta Cina-Laos Mulai Memasuki Tahap Akhir

Kereta api berjalan dari perbatasan Boten di Laos utara, berbatasan dengan Cina, ke Vientiane, dengan kereta yang melaju dengan kecepatan maksimum 160 km per jam. Pemerintah yakin kereta api akan memacu pembangunan sosial-ekonomi dan memungkinkan Laos untuk membuat kemajuan yang lebih besar.