Rute Penerbangan Terpendek Lufthansa Setara Jakarta-Bandung Kini Dilayani Pakai Bus

Lufthansa menyetop penerbangan di rute terpendeknya sejauh 86 mil (138 km) antara Munich dan Nuremberg. Sebagai gantinya, maskapai terbesar di Eropa itu mengerahkan armada busnya untuk melayani royal customer.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Selama ini, Lufthansa memang dikenal memiliki jejaring kuat bukan hanya regional Eropa dan internasional, tetapi juga domestik. Saking banyaknya, beberapa di antara mereka bahkan bisa dibilang sangat dekat, salah satunya rute Munich-Nuremberg.

Sebetulnya, rute tersebut masih tak lebih pendek dibanding rute terpendek Garuda Indonesia, yaitu Denpasar – Lombok sejauh 76 mil. Hanya saja, rute tersebut terpisah oleh perairan, tak seperti rute Lufthansa. Karenanya, tak heran bila maskapai yang didirikan pada 6 Januari 1953 itu sampai mengganti layanan tersebut dari semula menggunakan pesawat menjadi bus.

Laporan aeroTELEGRAPH, Lufthansa Express Bus atau Layanan Bus Express Lufthansa waktu tempuhnya sudah pasti lebih lambat ketimbang pesawat. Sudah begitu, jarak tempuhnya juga bertambah, dari semula hanya 86 mil menjadi sekitar 100 mil (167 km) setara Jakarta-Bandung, selama kurang lebih 1 jam 38 menit.

Dari data internal perusahaan, di 2018 lalu, tiga persen dari penumpang tercatat ingin mengakhiri perjalanan di Munich. Sedangkan sisanya, sebanyak 97 persen adalah connecting passengers.

Lufthansa sendiri tak mengungkap dengan detail alasan di balik keputusan ini. Sebab, rute lain yang tergolong pendek, yaitu Munich ke Frankfurt sejauh 118 mil (190 km), tetap dipertahankan dan tentu saja mendapat kecaman dari German Green Party.

Menurut partai yang pernah berkuasa di Jerman itu, penerbangan di bawah dua jam setengah, sebagaimana kebijakan di Perancis, tidak sejalan dalam langkah memangkas emisi karbon yang dihasilkan dari perjalanan udara.

Maka dari itu, penerbangan di bawah rentang waktu tersebut didorong untuk menggunakan kereta. Terlebih Komisi Eropa berniat menjadikan tahun 2021 sebagai “Tahun Kereta Eropa” sebagai wujud dari dukungan untuk Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal).

Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang.

Bila berhasil, Uni Eropa akan menjadi benua “blok netral-iklim” pertama di dunia, mengalahkan paket stimulus Green New Deal yang diusulkan Amerika Serikat. Target terdekat dalam Kesepatan Hijau Eropa terjadi pada 2030 mendatang, dimana emisi gas rumah kaca diproyeksikan turun hingga 55 persen.

Baca juga: Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

Uni Eropa saat ini tercatat menyumbang seperempat dari emisi gas rumah kaca dunia dari seluruh jaringan moda transportasi mereka. Tak ayal, dengan catatan tersebut, mereka bertekad untuk mengejar laju dekarbonisasi -salah satunya memasifkan penggunaan kereta api- sambil terus meningkatkan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya Lufthansa tak bergeming. Melalui CEO-nya, perusahaan mengaku tetap akan terus maju dan mengoperasikan rute tersebut.

Dilarang Terbang ke Hong Kong, Cobaan (Lagi) Buat Garuda Indonesia

Garuda Indonesia dipaksa menelan pil pahit usai temuan Otoritas Kesehatan Hong Kong, Centre for Health Protection (CHP), soal adanya empat penumpang positif Covid-19 dalam penerbangan GA876. Flag carrier Indonesia itu dilarang membawa penumpang masuk Hong Kong mulai 22 Juni – 5 Juli mendatang. Adapun penerbangan kargo tetap diizinkan seperti biasa. Begitu laporan media lokal China Daily.

Baca juga: Rute ke Hong Kong Lesu, Garuda Indonesia Susutkan Frekuensi Penerbangan Jadi 2 Kali Seminggu!

Larangan tersebut pun makin memperparah bisnis angkutan penumpang Garuda terhadap Hong Kong. Sebagai negara ketiga penampung TKI terbanyak serta lima besar investor asing Indonesia, Hong Kong memang menjadi salah satu rute internasional paling potensial Garuda Indonesia.

Akan tetapi, sejak beberapa tahun belakangan, bisnis penerbangan penumpang dan kargo Garuda Indonesia ke Hong Kong mulai meredup. Bukan karena tertinggal dengan maskapai lain, melainkan karena faktor internal dan eksternal negara tersebut.

Petaka pertama Garuda Indonesia datang di tahun 2019. Ketika itu, gelombang protes besar-besaran menetang RUU Ekstradisi terjadi sekitar bulan Juni di seantero Hong Kong dan dalam tempo yang cukup lama.

Jangankan Garuda Indonesia, tiga maskapai raksasa, Singapore Airlines, Qantas, dan Cathay Pacific, pun juga turut kena imbas. Rata-rata dari mereka load factor turun belasan sampai puluhan persen. Garuda Indonesia sendiri, di masa terjadinya gelombang protes menetang RUU Ekstradisi Hong Kong, sampai memangkas 12 penerbangan, dari 14 penerbangan menjadi hanya dua penerbangan sepekan.

Saat gelombang protes mulai mereda menyusul dicabutnya RUU Ekstradisi pada bulan Oktober dan penerbangan penumpang serta kargo mulai kembali pulih, pandemi Covid-19 pun membawa petaka lanjutan bagi bisnis Garuda Indonesia di Hong Kong.

Adanya larangan terbang oleh otoritas Hong Kong dan pemerintah Indonesia membuat penerbangan penumpang lumpuh berbulan-bulan. Di 2020, penerbangan penumpang baru bisa kembali di bulan September sepekan sekali, bersama rute-rute internasional lainnya seperti Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, dan Belanda.

Sepanjang tahun 2020 lalu, Bandara Hong Kong tercatat kehilangan 89 persen penumpang, terendah sejak 1985.

Saat ini, pergerakan penumpang juga belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan drastis. Selain virus Corona masih merajalela di sejumlah negara, mengingat Hong Kong tidak memiliki penerbangan domestik dan mengandalkan penerbangan internasional, aturan karantina ketat juga menjadi penghalang masuknya wisatawan ke Hong Kong.

Baca juga: Akhir 2021, Startup Hong Kong Luncurkan Layanan Drone Penumpang Pertama! Target Selanjutnya Indonesia

Sejak awal pandemi, otoritas Hong Kong melibatkan teknologi gelang elektronik canggih untuk mengontrol warga dan wisatawan, dibarengi dengan sejumlah kontrol dan aturan ketat lainnya. Gelang itu diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri.

Meski kasus virus Corona di sana sudah mereda, tetapi aturan ketat masih dijunjung tinggi. Mulai 20 Februari 2021 lalu, otoritas Hong Kong telah menerapkan kebijakan karantina mandiri selama 14 hari untuk kru pesawat, baik itu pramugari maupun pilot. Saat memasuki hari ke-15, mereka tetap akan mendapat pengawasan penuh petugas selama tujuh hari.

Soal Penamaan Stasiun, Di India Ternyata Operator Kereta Tak Ikut Ambil Bagian
























Setiap operator kereta api biasanya memberikan nama kepada stasiun tempat kereta melintas dan berhenti sesuai nama daerahnya. Namun Indian Railways sepertinya menjadi satu-satunya operator yang memiliki stasiun tapi tidak memberikan penamaannya.

Baca juga: Di India Ada Stasiun Kereta Tanpa Nama

Pasalnya pemberian nama ini tergantung pada kebijaksanaan pemerintah negara bagian yang bersangkutan. Sehingga ketika pemerintah negara bagian ingin mengubah nama kota dan ingin agar merefleksikan papan nama termasuk di stasiun kereta api, mereka akan mengajukan ke kementerian Dalam Negeri.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari indianexpress.com, hal ini seperti pemerintah Uttar Pradesh saat ingin mengganti nama Stasiun Mughalsarai, Indian Railways harus menunggu Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah negara bagian untuk menyelesaikan formalitas. Setelah itu nama secara resmi diubah menjadi Pandit Deen Dayal Upadhyaya Junction di papan nama stasiun dan tiket.

Hal ini juga sama ketika perubahan nama Allahabad ke Prayagraj. Indian Railway mengatur bahasa yang ditampilkan pada papan nama stasiun dan dikenal sebagai Indian Railway Works manual di mana dokumen setebal 260 halaman yang mengkodekan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan konstruksi teknik sipil.

Bahasa untuk penamaan stasiun sendiri menggunakan Bahasa Hindi dan Inggris, tetapi seiring berjalannya waktu, diperintahkan bahwa bahasa ketiga yang menjadi bahasa lokal harus dimasukkan. Karena tidak sesederhana itu, pihak kereta api mau tak mau tetap harus mendapat persetujuan dari pemerintah negara bagian yang terkait dengan pengejaan nama-nama dalam tiga bahasa sebelum meletakkannya di papan nama stasiun.

“Nama-nama stasiun akan dipamerkan dalam urutan berikut, Bahasa Daerah, Hindi dan Inggris, kecuali untuk Tamil Nadu di mana penggunaan bahasa Hindi akan dibatasi pada stasiun-stasiun penting dan pusat-pusat peziarah sebagaimana ditentukan oleh Departemen Komersial. Di mana bahasa Regional adalah bahasa Hindi, papan nama akan berada dalam dua bahasa, bahasa Hindi dan bahasa Inggris …,” kata Manual.

Seperti di Uttar Pradesh, bahasa Urdu menjadi salah satu bahasa resmi yang tertulis di papan nama stasiun. Uttarakhand pernah menjadi bagian dari Uttar Pradesh, sehingga stasiun Dehradun terus memiliki Urdu di papan tulis. Bisa dikatakan bahasa Urdu menjadi bahasa unik yang bukan bahasa daerah yang terbatas pada negara bagian tertentu.

Indian Railway memiliki aturan terpisah untuk menulis nama stasiun dalam bahasa ini pada papan namanya. Paragraf 424 Manual Pekerjaan memiliki bagian terpisah yang mencantumkan kabupaten di seluruh India di mana semua stasiun memiliki nama dalam bahasa Urdu bersama dengan bahasa lain.

Daftar ini telah diperbarui dari waktu ke waktu. Ia memiliki hampir 100 distrik dari negara bagian India Selatan ke Maharashtra ke Bihar. Bahkan setelah ini, jika ada bahasa yang menurut penduduk setempat harus diwakili pada papan nama stasiun, departemen kereta api yang bersangkutan diberi mandat untuk memasukkannya setelah berdiskusi dengan Komite Konsultasi Pengguna Kereta Api Zonal dan pemerintah negara bagian.

Sebuah BJP MLA telah menulis kepada Kementerian Perkeretaapian untuk mendapatkan nama yang ditulis dalam bahasa Sanskerta, sementara sebuah kelompok lokal secara lokal keberatan dengan skrip Urdu dihapus. Kantor-kantor kereta api lokal menulis kepada otoritas distrik untuk mendapatkan nama resmi bahasa Sansekerta September lalu dan juga pada Februari tahun ini. Untuk saat ini, Railways menyatakan bahwa papan nama di Uttarakhand akan terus menampilkan nama dalam bahasa Inggris, Hindi, dan Urdu.

Dengan adanya ini mengingatkan bahwa beberapa waktu lalu, di jalur Indian Railway ada satu stasiun tak bernama. Stasiun tanpa identitas tersebut letaknya berada sekitar 35 km dari Bardhaman di Benggala Barat. terletak di jalur Bankura dan Massagram, stasiun ini terletak di antara dua desa yakni Raina dan Rainagarh.

Baca juga: Mirip di Bandara, Dua Stasiun Kereta di India Dilengkapi Sensor Thermal Canggih

Awalnya stasiun ini memiliki nama dan dikenal dengan Rainagarh. Namun penduduk desa Raina tidak suka dengan ini karena mereka mengatakan, stasiun tersebut dibangun di atas tanah desa Raina. Penduduk desa Raina percaya bahwa stasiun ini harus dinamai Raina bukannya Rianagarh. Karena masalah ini, kemudian terjadi pertengkaran di antara dua penduduk desa. Adanya perselisihan nama stasiun tersebut terdengar hingga ke operator kereta api.

Setelah perselisihan, Indian Railways kemudian menghapus nama stasiun dari semua papan tanda yang di pasang di sana. Hal ini kemudian membuat banyak penumpang bingung dan bermasalah.

Kejar Restrukturisasi Utang Rp70 Triliun, Garuda Indonesia Gandeng Tiga Advisor AS

Garuda Indonesia terus mempercepat proses restrukturisasi utang Rp70 triliun. Teranyar, perseroan dan Kementerian BUMN menunjuk tiga advisor asal Amerika Serikat (AS). Tiga itu, McKinsey & Company (business advisor), Guggenheim Partners (financial advisor), dan legal advisor Cleary Gottlieb; dibantu oleh dua advisor dalam negeri, PT Mandiri Sekuritas (lead advisor) dan legal advisor Assegaf Hamzah & Partners.

Baca juga: The New Garuda Indonesia Mau Pakai Satu Tipe Pesawat? Ini Untung-Ruginya

Lima advisor yang terkuak berdasarkan dokumen paparan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI, Senin (21/6) yang disiarkan dari laman Youtube DPR RI, itu menjadi jawaban atas teka-teki beberapa pekan sebelumnya.

Dalam sebuah forum diskusi di salah satu stasiun TV swasta nasional, Irfan Setiaputra pernah mengungkapkan pihaknya telah merekrut beberapa advisor. Tetapi, tidak disebutkan dengan detail siapa saja. Itu dilakukan untuk menghadapi kemungkinan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan atau di luar pengadilan.

Dari empat opsi penyelamatan Garuda Indonesia yang disampaikan perseroan saat rapat dengan Komisi VI DPR, kemarin, terkuak bahwa manajemen memang memilih opsi nomor dua, yaitu merestrukturisasi utang ketimbang nomor satu, yaitu diberi suntikan modal kerja oleh pemerintah. Karenanya, tak heran bila manajemen menunjuk advisor untuk membantu proses PKPU.

Sambil mengurus perihal PKPU, di tempat terpisah, manajemen Garuda Indonesia juga diketahui tengah fokus untuk memperkuat konsep New Garuda Indonesia. Diharapkan, model bisnis New Garuda Indonesia bisa mencatat Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi positif sepanjang periode 2022-2026.

“Garuda telah memiliki rencana bisnis model baru untuk tahun 2022-2026, untuk menjembatani kondisi saat ini menjadi New GA diperlukan rencana strategis yang dilakukan secara bertahap pada periode Juni-Desember 2021,” tulis manajemen Garuda, dikutip Selasa (22/6).

Baca juga: De Javu Krisis Garuda Indonesia, Dirut Irfan Mungkin Bisa Belajar dari Dirut Robby Djohan?

Adapun rencana bisnis lima tahun yaitu mencatatkan EBITDA positif 2022-2026, new business model (fleet as variable, profitable route, sufficient people with high productivity), armada mulai 66 unit di 2022, dan total pegawai berdasarkan jumlah armada.

Adapun periode pembalikan kinerja (turn around) yakni dilakukan dengan dua cara, restrukturisasi keuangan (Lease Negotiation dan Unsustain Debt Settlement – in/out of court), dan restrukturisasi operasional (Rightsizing SDM, Route and Fleet Optimization, Social Distancing Evaluation, dan Frequency optimization).

Punya Gelar Maskapai Teraman di Dunia, Tujuh Insiden ini Pernah Membuat Penerbangan Qantas Nyaris Berujung Petaka

Qantas selama ini dikenal sebagai maskapai dengan predikat teraman di dunia. Predikat maskapai teraman tentu ada dasarnya, yaitu selama 100 tahun pengabdian di dunia dirgantara, belum pernah terjadi kecelakaan fatal yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak awak pesawat maupun penumpang.

Baca juga: Sambut Perayaan Satu Abad, Qantas Layak Bangga Jadi Maskapai Teraman di Dunia

Budaya mengutamakan safety rupanya telah tertanam sejak lama, bahkan Qantas kini memimpin dalam teknologi pemantauan mesin secara real-time di seluruh armadanya dengan menggunakan komunikasi satelit. Cara tersebut memungkinkan maskapai dengan julukan The “Flying Kangaroo” ini mampu mendeteksi masalah sebelum menjadi isu keamanan pesawat membesar.

Tapi tahukah Anda, meski belum pernah mengalami insiden yang berujung hilangnya nyawa pada penumpangnya, ternyata ada ada beberapa insiden ‘berat’ yang terkait pesawat Qantas, di mana insiden-insiden ini berpotensi menyebabkan hilangnya nyawa awak pesawat dan penumpang. Dikutip dari flightsafetyaustralia.com, berikut tujuh insiden besar yang terkait keselamatan pada Qantas yang terjadi sejak tahun 1951.

1. Pada tahun 1960, Lockheed Super Constellation Qantas gagal lepas landas di Mauritius setelah mengalami kerusakan salah satu mesin turbo kompon Wright R-3350. Pesawat dalam insiden ini mengalami total lost pasca kebakaran, dalam insiden ini semua penumpang dan awak berhasil dievakuasi.

2.Pada tahun 1966, Boeing 707 Qantas mengalami guncangan hebat sesaat setelah pesawat lepas landas dari Sydney. Dalam peristiwa ini, pilot memutuskan return to base setelah 10 menit di udara. Dengan kecepatan 287 knot, pesawat sempat mengalami manuver 2G. Penyelidikan atas perisitiwa ini menemukan adanya baut yang longgar di area sayap ekor.

Ilustrasi Boeing 707 milik Qantas dengan lima mesin Foto: Simple Flying

3. Pada tahun 1969, Boeing 707 Qantas mengalami manuver spiral sesaat mengoreksi jalur penerbangan Sebelum itu, indikator pada instrumen di kokpit tidak menunjukkan sesuatu yang salah. Lebih dari 40 detik, pesawat kehilangan ketinggian 19.000 kaki atau 5.791 meter. Saat kehilangan ketinggian, kecepatan turun pesawat mencapai Mach 0,93 dengan catatan tekanan gravitasi hingga 4,5G.

4. Pada tahun 1999, dalam cuaca yang berangin keras, Boeing 747-400 Qantas tergelincir saat proses pendaratan di Bangkok, Thailand.

5. Pada tahun 2008, sebuah tabung oksigen meledak pada penerbangan Qantas 30 dengan pesawat Boeing 747-400 Qantas 30. Sampai saat ini Biro Keselamatan Transportasi Australia tidak dapat menemukan penyebab dari meledaknya tabung oksigen. Dalam insiden, fagmen tabung yang meledak sampai menembus kabin penumpang dengan kecepatan tinggi, ajaibnya tidak ada penumpang yang terluka dalam insiden di udara ini.

Dua tahun lalu, pesawat Qantas yang dipensiunkan akhirnya dibeli oleh Rolls Royce untuk dijadikan sebagai flying test bed atau pesawat uji terbang yang nantinya mendukung pengembangan mesin baru perusahaan. Foto: Airline Geeks

6. Pada tahun 2008, penerbangan Qantas 30 dengan Airbus A330-300 terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Learmonth, Australia, menyusul insiden dalam penerbangan yang mencakup dua manuver pitch-down, dalam insiden ini menyebabkan cedera parah pada beberapa penumpang dan awak.

7. Pada tahun 2010, Airbus A380 milik Qantas mendarat darurat di Singapura setelah mesinnya rusak di langit Batam. Inilah insiden pertama pesawat terbesar di dunia saat itu. A380 Qantas dengan nomor penerbangan QF32 terbang dari London ke Sydney dengan transit di Singapura. QF32 menggunakan Airbus A380-800 buatan tahun 2008.

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Insiden ini terjadi dalam perjalanan dari Singapura ke Sydney. Saat baru terbang 6 menit, satu mesin jet ini mengalami kerusakan. Bahkan, ada komponen fiberglass dari pesawat yang berjatuhan dari langit. Atas kejadian ini, pilot memilih mendaratkan pesawat di Changi, semua penumpang dan awak pesawat dilaporkan selamat.

Misteri Balok Es ‘Hujani’ Inggris, Diduga dari Toilet Pesawat Bocor

Misteri ‘serangan’ balok es kembali terjadi. Kali ini di Eagle Avenue, Waterlooville, dekat Portsmouth, Inggris. Balok es berukuran besar menghantam dengan keras di pemukiman warga dan meninggalkan jejak bukan hanya berupa es yang sudah mencair, melainkan juga plastik. Keduanya diduga berasal dari toilet pesawat yang bocor.

Baca juga: Berpendingin Es Balok, Inilah Kereta Kepresidenan Soekarno

“Saya pikir seseorang telah menabrakkan skuter mereka di luar, ada suara mendesing cukup besar dan bunyi gedebuk, jadi saya melihat ke luar jendela dan hanya ada gumpalan es di jalan,” kata Lisa Boyd, warga sekitar.

“Kami hanya bersyukur tidak ada yang lewat dan tidak ada yang tertimpa balok es karena bisa membunuh seseorang,” lanjutnya, seperti dikutip dari The Sun.

Louise Browne, tetangga Lisa, menyebut balok es berukuran sedang itu menimpa pemukiman mereka pada malam hari. “Kami baru saja naik ke tempat tidur dan kami pikir seseorang sedang melemparkan batu kerikil ke jendela kami. Saya pikir (ukurannya) itu sekitar setengah meter persegi. Cukup besar,” jelasnya.

Diyakini, balok es misterius yang jatuh dari langit itu berasal dari toilet pesawat yang bocor saat terbang di ketinggian 35 ribu kaki. Dugaan tersebut diperkuat dengan bukti adanya kotoran manusia dan tisu toilet setelah balok es mencair.

Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA) sendiri mengklaim semua limbah toilet tetap tersimpan di pesawat sampai akhirnya ditampung di kendaraan khusus untuk persiapan penerbangan berikutnya.

Misteri balok es jatuh dari langit sebelumnya beberapa kali terjadi di Britania Raya. Pada 2018 lalu, balok es sebesar 20 kg jatuh dari langit dan menewaskan petugas kebersihan jika sampai terkena. Untungnya tak terkena.

Amir Khan, pria 39 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan taksi terdekat, mengatakan kepada Evening Standard bahwa kejadian yang ia lihat seperti adegan pada film.

“Rasanya seperti awalan film bencana seperti The Day After Tomorrow. Peristiwa itu menimbulkan suara keras seperti meteorit runtuh. Petugas pembersih jalanan begitu bingung dan takut. Semua orang berlari keluar untuk melihat langit. Gila,” ujar Amir.

Baca juga: Tangki Toilet Kosong Saat Mendarat, Patut Diduga Pesawat Buang Kotoran di Udara

Sama halnya seperti insiden jatuhnya balok es di Portsmouth, insiden di jalanan di Kew, London Barat, itu diperkirakan jatuh dari pesawat terbang. Sebab, lokasi peristiwa tersebut merupakan jalanan menuju Bandara Heathrow. Otoritas Penerbangan Sipil mengatakan bahwa sekitar 30 es jatuh terjadi per tahun, yang bisa disebabkan oleh kebocoran dari pesawat.

Setahun sebelumnya, kebun rumah warga di Busby, East Renfrewshire, Skotlandia juga pernah dihujani balok es berukuran besar. Beruntung, balok es tak menimpa warga dan mencederai atau bahkan menewaskannya.

The New Garuda Indonesia Mau Pakai Satu Tipe Pesawat? Ini Untung-Ruginya

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dalam sebuah program di salah satu stasiun TV swasta, mengungkap saat ini pihaknya tengah menyusun proposal The New Garuda Indonesia. Di antara poin-poin penting yang dibocorkan terkait The New Garuda ialah tidak akan lagi mengoperasikan rute-rute sepi pesanan segelintir orang berpengaruh, fokus pada rute-rute domestik, dan efisiensi.

Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau

Terkait efisiensi dan fokus pada rute domestik, dua kata kunci itu agaknya The New Garuda Indonesia yang digagas Irfan dkk bisa berkaca pada sepak terjang maskapai dunia, semisal Southwest Airlines, Ryanair, easyJet, dan tentu saja AirAsia.

Sudah jadi rahasia umum bahwa maskapai-maskapai di atas berhasil mencapai tingkat efisiensi mengesankan dengan mengoperasikan satu tipe pesawat saja. Southwest Airlines dan Ryanair hanya mengoperasikan satu tipe pesawat Boeing 737. Adapun easyJet dan AirAsia hanya mengoperasikan satu tipe pesawat Airbus A320.

Hanya saja, keempat maskapai itu merupakan maskapai berbiaya hemat atau LCC. Sedangkan Garuda Indonesia merupakan maskapai full service. Namun demikian, mengingat The New Garuda Indonesia akan berfokus pada rute-rute domestik, itu artinya, menurut beberapa pengamat, model bisnis LCC bisa digunakan.

Pada rute-rute domestik, The New Garuda Indonesia menggunakan satu tipe pesawat. Begitu juga dengan rute-rute internasional, juga menggunakan satu tipe pesawat.

Kendati demikian, konsekuensi di balik penggunaan satu tipe pesawat saja pasti ada. Tetapi, untung-rugi mengoperasikan satu tipe pesawat bisa berimbang.

Keuntungannya, tentu efisiensi. Efisiensi bisa didapat dari berbagai lini, seperti biaya spare part, biaya training-sertifikasi pilot dan tim mekanik, fasilitas simulator dan mockup untuk pramugari, sampai diskon seiring tingginya kuantitas pembelian pesawat.

Meski begitu, menurut pengamat, efisiensi bisa maksimal bila menggunakan pesawat-pesawat Airbus ketimbang Boeing. Itu karena pesawat Airbus cenderung lebih universal atau komonalitas.

Jadi, satu keluarga pesawat, misalnya A320, meski ada peningkatan satu sama lain namun tidak jauh berbeda, membuat biaya training serta turunannya lebih murah dan cepat ketimbang Boeing, yang meski pesawatnya berasal dari tipe yang sama, misalnya keluarga B737, namun cenderung banyak perbedaan atau bahkan sangat berbeda.

Untuk kerugian menggunakan satu tipe pesawat, pastinya jangkauan terbatas, terutama jika dihadapkan pada pelayanan rute regional. Tetapi, dalam konteks penerbangan domestik The New Garuda Indonesia, masalah jangkauan terbatas akibat menggunakan satu tipe pesawat tentu tak ada masalah mengingat range-nya masih terjangkau.

Baca juga: Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

Kerugian lain maskapai hanya menggunakan satu tipe pesawat ialah masalah manajemen. Dalam kasus Boeing 737 MAX, tak ada yang pernah menyangka bahwa jenis pesawat itu di-grounded sampai setahun lebih. Bayangkan bila ketika itu ada maskapai yang hanya mengoperasikan MAX, sudah pasti bisnisnya akan ikut berantakan.

Sudah begitu, ketergantungan terhadap satu produsen pesawat juga tak baik untuk bisnis maskapai itu sendiri.

Sejarah Ibadah Haji Sejak 1.400 Tahun Lalu: Pernah 20 Tahun Ditiadakan Gegara Hajar Aswad Dicuri!

Pelaksanaan ibadah haji tahun 2021 masehi atau 1442H resmi ditiadakan. Arab Saudi hanya mengizinkan pelaksanaan ibadah haji oleh para ekspatriat dan warga yang bermukim di sana.

Baca juga: Kisah SS Voorwaarts, Kapal Uap Italia Bekas Pengangkut Jamaah Haji dan Orang Jawa ke Suriname

Kendati sulit diterima, namun sebetulnya itu masih lebih baik ketimbang di masa lalu, dimana ibadah haji benar-benar ditiadakan sama sekali, baik oleh umat Islam di Indonesia dan dunia serta umat Islam di Arab Saudi bahkan penduduk Mekkah-Madinah sekalipun.

Sejarah ibadah haji sejak 1400 tahun lalu atau pasca hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke dari Mekkah ke Madinah mencatat, pelaksanaannya pernah beberapa kali terganggu bahkan sampai benar-benar ditiadakan sampai lebih dari 20 tahun lamanya. Setidaknya, seperti dilansir Smithsonian Magazine, ada tiga penyebab umum yang melatarbelakangi hal itu.

1. Konflik bersenjata

Sejak berdirinya Kerajaan Saudi pada tahun 1932, beberapa kali wabah pernah mengganggu pelaksaan ibadah haji. Namun tidak sampai ditiadakan, sebagaimana tahun 930. Ketika itu, sekte Ismailiyah, sebuah komunitas minoritas Syiah yang dikenal sebagai Qarmatians, menyerbu Mekkah lantaran percaya bahwa ibadah haji merupakan ritual pagan.

Orang-orang Qarmatian kemudian membunuh jamaah haji dan membawa kabur hajar aswad, yang diyakini batu dari surga, untuk kemudian disimpan di benteng mereka di Bahrain.

Sejak saat itu, pelaksaan ibadah haji ditiadakan sampai 20 tahun lebih, sampai akhirnya Dinasti Abbasiyah, yang berkuasa sejak tahun 750-1258, membayar sejumlah uang tebusan untuk membawa pulang hajar aswad kembali ke Mekkah.

2. Gesekan politik

Perbedaan politik berujung konflik sering membuat pelaksanaan ibadah haji terganggu. Namun memang tak separah ketika hajar aswad dicuri. Pada tahun 983, para penguasa Fatimiyah Mesir mengaku sebagai pemimpin Islam sejati dan menentang kekuasaan dinasti Abbasiyah di Irak dan Suriah.

Alhasil, gesekan politik ini membuat jamaah haji di Mekkah-Madinah tak bisa melaksanakan ibadah haji selama delapan tahun sampai tahun 991.

Baca juga: Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Pernah juga ketika serbuan militer Napoleon yang bergesekan dengan Inggris, membuat jamaah haji dari seluruh dunia tertahan pada tahun 1798 dan 1801.

3. Virus, wabah, dan penyakit

Penyakit dan bencana alam pernah mewabah di seluruh dunia di masa lalu sebagaimana virus Corona dan menyebabkan ibadah haji batal pada tahun 967, beberapa tahun sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, wabah kolera pada tahun 1858, wabah pes di India pada tahun 1831, kekeringan dan kelaparan di bawah Dinasti Fathimiyah pada  tahun 1048, MERS pada 2012-2013, isu HAM antara Qatar-Arab pada 2017 dan 2018 serta lain sebagainya.

Unik, Bangunan Beton Diapit Jalan Layang dan Pintu Stasiun ini Ternyata Toilet

Sebuah bangunan beton berada di antara jalan layang dan pintu masuk stasiun kereta mungkin akan membuat bingung pelancong. Namun ternyata Suppose Design office sengaja membuat bangunan yang bila terlihat dari jauh seperti mengambang itu. Bangunan beton ini adalah sebuah toilet yang letaknya disebelah Stasiun Sendagaya dekat Stadion Olimpiade Tokyo.

Baca juga: Mules Saat Kereta Terakhir, Siswa di Jepang Terkunci di Toilet Stasiun

Studio mengatakan, pihaknya membangun toilet seperti terjepit tersebut karena memikirkan cara membuat dampak dengan arsitektur sederhana dan beberapa cara. Dilansir KabarPenumpang.com dari dezeen.com (2/3/2021), mereka mengatakan, membuat toilet dengan menggunakan ketinggian.

“Kami ingin menciptakan rasa tidak nyaman di kota dengan membuat gumpalan beton, yang biasanya berat, terlihat seperti mengambang sehingga menjadi seni tersendiri.
Blok toilet setinggi 7,5 meter tingginya dua kali lebih tinggi dari pintu masuk stasiun, yang dikombinasikan dengan fasad beton monolitik menjadikannya struktur yang mengesankan,” kata studio.

Dinding beton tersebut seperti digantung, karena beton yang menyangga bangunan berada di tengah blok toilet dengan celah 500 milimeter yang tersisa di sekitar dasar bangunan untuk memungkinkan cahaya dan udara masuk ke dalam struktur. Menurut mereka, berat beton yang dikombinasikan dengan efek mengambang dirancang untuk menyampaikan rasa kontradiksi.

“Membangun ruang dengan hati-hati menumpuk hubungan yang dimanifestasikan oleh kontradiksi, seperti ‘rasa mengambang karena berat’ dan ‘hadirnya cahaya karena kegelapan’, kami berusaha untuk menghilangkan batas antara kota dan arsitektur dan untuk menciptakan batas yang menarik di mana alam dan arsitektur beresonansi satu sama lain,” jelas mereka.

Blok seluas 75 meter persegi diakses dengan satu pintu yang dipotong ke fasad beton yang menghadap ke stasiun. Ini mengarah ke area tengah dengan wastafel dan toilet yang dapat diakses dengan toilet pria dan wanita yang diatur di kedua sisinya.

Untuk menciptakan “tampilan seperti hotel” di dalam blok, studio melapisi bilik di panel kayu Akoya dan menggunakan papan nama kuningan di seluruh area. Sebuah skylight panjang yang membentang sepanjang blok meneranginya dari atas.

“Sepenuhnya tertutup setinggi mata, secara simbolis membiarkan cahaya masuk dari atas, dan memastikan ventilasi melalui celah di kaki bangunan, kami bertujuan untuk menciptakan arsitektur yang memungkinkan orang untuk merasakan ruang lebih dari sekadar toilet umum, sebagai perangkat untuk membuat lingkungan sekitar terlihat jelas,” kata studio.

Suppose blok toilet Design Office adalah yang terbaru dari serangkaian fasilitas umum yang dirancang arsitek yang baru-baru ini dibangun di Tokyo. Studio percaya bahwa ini adalah bagian dari upaya seluruh kota untuk meningkatkan Tokyo menjelang Olimpiade dengan berfokus pada intervensi arsitektur kecil.

“Kami pikir ini adalah hasil dari upaya sadar untuk merevitalisasi kota untuk Olimpiade. Toilet umum adalah bangunan kecil, tetapi ukurannya yang kecil memberi mereka skala yang akrab,” katanya.

“Di sisi lain, mereka cenderung memiliki citra yang tidak disukai dari sudut pandang kebersihan, jadi kami pikir mereka berpikir untuk berkontribusi pada peningkatan tingkat budaya dengan mempertahankan arsitektur pada skala yang sudah dikenal sambil memperbarui citra buruk itu,” tambah mereka.

Baca juga: Tokyo Metro Hadirkan Aplikasi untuk Mudahkan Penumpang Temukan Toilet Kosong di Stasiun

Di tempat lain di kota, Toilet Tokyo Nippon Foundation telah melihat tujuh toilet yang dibangun oleh beberapa arsitek paling terkenal di dunia, termasuk tiga pemenang Hadiah Pritzer. Sebagai bagian dari proyek, Shigeru Ban mendesain sepasang balok transparan yang menyala di malam hari, sementara Tadao Ando membuat toilet melingkar dan Fumihiko Maki di atasnya dengan “atap ceria”.

Perjalanan Haji Tahun 1600-an, Setahun di Laut dan Belasan Kali Gonta-Ganti Kapal!

Ibadah ke Tanah Suci Mekkah memang bukan perkara mudah. Perlu kekuatan harta dan tenaga agar dapat sampai ke sana. Sebelum era pesawat terbang datang, jamaah haji tempo dulu berangkat menggunakan kapal laut.

Baca juga: Perjalanan Haji Tahun 1888, 20 Hari Keliling Pulau Jawa Sebelum Menuju Mekkah!

Di beberapa literatur dan cerita turun-temurun, durasi jamaah haji tempo dulu mulai dari berangkat sampai pulang kembali ke rumah cukup bervariasi, mulai dari sebulan, empat bulan, enam bulan, hingga total 10 bulan. Luar biasa, bukan? Bahkan, di banyak kasus, keluarga sama sekali tidak mengetahui dimana jenazah anggota keluarganya.

Sebab, baik saat perjalanan ataupun pulang, jamaah haji yang meninggal memang dilarung ke laut, tidak menunggu sampai ke daratan. Itulah mengapa, calon jamaah haji tempo doeloe (dulu), sebelum berangkat, rata-rata sudah memberikan wasiat ke keluarga seolah mereka tak akan pernah kembali pulang. Di sini, proses pengajian (ratiban, prosesi melepas jamaah haji) biasanya sangat sakral dan berlinang air mata.

Selain lama perjalanan dan jenazah jamaah haji tempo dulu yang dilarung ke laut, kekompakan serta semangat nenek moyang kita menyambut panggilan haji di tahun-tahun awal Belanda mulai menjajah Indonesia, yaitu pada abad ke-15 (tepatnya 20 Maret tahun 1602), menarik untuk dibahas.

Pasalnya, ketika itu, pemerintahan Hindia Belanda belum mengatur pelaksanaan ibadah haji, baik secara aturan maupun akomodasinya. Sudah begitu, tak ada pihak swasta yang berinsiatif melayani pelaksaan ibadah haji. Parahnya lagi, di tahun 1600-an, kapal mesin atau kapal uap belum ada dan pada umumnya menggunakan kapal layar. Jadi, perjalanan haji menjadi sangat lama.

Dalam buku Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje Jilid VIII karya Soedarso Soekarno, mobilisasi jamaah haji tempo dulu di Nusantara berpusat di Aceh. Ini pula yang menurut banyak pendapat menjadikan Aceh disebut Bumi Serambi Mekkah.

Sayangnya, tak disebutkan dengan rinci bagaimana mobilisasi jamaah haji dari Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, tanpa dikoordinir pemerintah Hindia Belanda maupun swasta serta tanpa adanya teknologi komunikasi dan informasi yang cepat dan instan seperti sekarang ini, berkumpul dan berangkat bersama-sama menuju Aceh. Sungguh ajaib.

Tetapi, menurut Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman, dalam teks asal abad ke-16 dan ke-17, seperti Sajarah Banten dan Babad Kraton, jamaah haji berangkat dengan berjalan kaki dari Jawa, berkuda, jalan darat, melewati sungai, gunung, hutan belantara, sampai menumpangi kapal laut saudagar Asia Tenggara-Arab.

Balik lagi ke buku Soedarso Soekarno, disebutkan, dari Aceh, jamaah haji pun berpindah-pindah kapal atau bisa dibilang nebeng atau menumpang kapal pedagang menuju India. Tak ada rute khusus kapal berlayar menuju Mekkah, bahkan di musim haji sekalipun.

Dalam perjalanan Aceh menuju India belum tentu ditempuh dalam sekali keberangkatan. Sebab, kendala di perjalanan senantiasa menghadang, seperti karam, sakit, serta dirampok perompak, dan mengharuskan mereka terdampar di pulau sebelum pindah ke kapal lainnya.

Dari India, perjalanan haji tempo dulu tahun 1600-an berlanjut ke Yaman. Namun, tak selalu ke sini. Bisa saja ke negara-negara di sekitarnya, seperti Oman, Pakistan, atau bahkan Iran. Sekali lagi, semua tergantung kapal layar pedagang berlabuh.

Baca juga: Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

Dengan cara ini serta segunung masalah yang menimpa selama perjalanan, tak ada yang memastikan berapa lama perjalanan ibadah haji tempo dulu ditempuh. Namun, diperkirakan bisa sampai enam bulan sekali berangkat atau satu tahun perjalanan pulang pergi (bahkan bertahun-tahun), termasuk pelaksanaan ibadah haji di Mekkah-Madinah.

Menariknya, di banyak literatur, jamaah haji yang berangkat dengan yang pulang justru lebih banyak pulang dan membuat Hindia Belanda geram. Pada umumnya, mereka bukan hanya membawa pengalaman tetapi juga ilmu agama untuk didakwahkan ke masyarakat sampai akhirnya semangat perlawanan pun muncul.