Mau Liburan Seru dan Edukatif Buat Si Kecil? Coba ke Kuntum Farmfiled

Wisata edukatif berbalut agrowisata semakin diminati banyak keluarga di Indonesia dan salah satu yang familiar tentu Kuntum Farmfield. Tak hanya itu, lokasi strategis di Jalan Raya Tajur, Sindangrasa, Bogor Timur, dan mudah diakses menggunakan sepeda motor maupun mobil juga menjadi daya tarik tersendiri agrowisata yang memiliki motto back to nature, chemical free, dan friendly environment ini.

Baca juga: Inilah Odyssey Submarine Bali, Kapal Selam Wisata untuk Eskplore Eksotisme Bawah Laut Bali

Belum juga masuk dan menjelajah lebih jauh, kesan back to nature yang diusung Kuntum Farmield sudah begitu melekat ketika pertama kali masuk ke kompleks. Parkirannya juga luas dan tersedia charging station untuk kendaraan listrik, sangat friendly environment bukan?

Selain berwisata, Kuntum Farmfield juga menawarkan berbagai kegiatan edukatif kepada setiap pengunjung, seperti pelatihan agribisnis, pembudidayaan dan pengenalan tanaman hias, tanaman buah, tanaman perkebunan, tanaman kehutanan, tanaman obat serta pemanfaatannya maupun pembuatan kompos.

Konsep perpaduan peternakan, perikanan, perkebunan, dan pertanian berbasis organik ala Kuntum Farmfield terkategorisasi dengan apik melalui pembagian empat zona, yaitu A, B, C, dan D.

Zona A mencakup pintu masuk area aquaponik, kolam ikan aligator, ikan lele dan berbagai ikan lainnya, serta rumah caping. Di sini, pengunjung biasanya akan berdecak kagum dengan beragam tanaman hias, seperti janda bolong, red velvet, lavender Inggris, dan lain sebagainya.

Beranjak ke Zona B, pengunjung agrowisata Kuntum Farmfield bisa mengajak sang buah hati bermain-main dengan berbagai binatang ramah anak, seperti kelinci, kambing, domba, marmut, hamster, sampai sapi. Tiket masuk seharga Rp50 ribu di hari kerja dan Rp60 ribu di hari libur yang sudah dibeli tak jauh setelah pintu masuk, sudah termasuk berbagai pakan untuk binatang-binatang tersebut.

Khusus untuk area kelinci dan hamster, pengunjung bisa masuk langsung ke kandang dan berinteraksi lebih dekat dengannya. Sangat menyenangkan, bukan?

Tak cukup sampai di situ, berbagai keseruan lainnya masih menanti. Di Zona C, berbagai binatang seperti unggas-unggasan, kerbau, area tanam, rumah pupuk, sudah menanti pengunjung. Di samping itu, kegiatan memancing dan menangkap ikan juga bisa dilakukan di zona ini.

Menariknya, ikan hasil pengunjung memancing juga bisa dimasak di kantin yang lokasinya tak jauh dari kolam ikan, loh. Tarif memancing dan mengelola ikan hasil tangkapannya juga terjangkau. Di zona ini pula, berbagai pendopo juga tersedia untuk berbagai gelaran, baik bersama keluarga, kantor, instansi, dan lain sebagainya.

Baca juga: KA Jenggala, Kereta Komuter Plus “Wisata” Rute Mojokerto-Sidoarjo

Lanjut ke Zona D, keseruan menangkap ikan, memperkenalkan sang buah hati dengan berbagai hewan, seperti burung, ayam, dan area tanaman, menanti setiap pengunjung. Tak lupa, di zona terakhir ini, pengalaman berkuda yang biasanya ditunggu-tunggu menjadi pelengkap berbagai keseruan yang sudah didapat pengunjung di zona-zona sebelumnya.

Penasaran seperti apa keseruannya? Buruan datang langsung ke Kuntum Farmfield dan nikmati pengalaman wisata edukatif dengan konsep back to nature, chemical free, dan friendly environment.

Collins Aerospace Hadirkan Layanan Panggil Awak Kabin via Smartphone Penumpang

Virus corona telah membuat banyak perubahan yang signifikan pada kehidupan masyarakat saat ini. Salah satunya adalah layanan pemanggilan awak kabin untuk membantu atau meminta kopi yang tidak lagi perlu menekan tombol panggil.

Baca juga: Cegah Corona, Panasonic Avionics Luncurkan In-Flight Entertainment Tanpa Sentuhan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber timesofindia.indiatimes.com (17/6/2021), seperti yang dihadirkan oleh Collins Aerospace belum lama ini. Di mana mereka menawarkan solusi nirsentuh atau tanpa sentuhan baru dalam penerbangan untuk awak pesawat dan layanan penumpang.

Nantinya penumpang yang mengajukan permintaan layanan dan berbelanja dalam penerbangan akan menggunakan perangkat elektronik pribadi mereka, seperti smartphone. Yang mana hal tersebut dipercaya dapat mengurangi titik kontak penumpang dengan awak kabin.

Yang pasti, ini akan tersedia jika maskapai memutuskan untuk berinvestasi. Raytheon Technologies dan Collins Aerospace selaku perancang solusi ini mengatakan, “electronic cabin bag (eCB)” akan tersedia untuk melayani kebutuhan maskapai. Solusi ini akan mendigitalkan dan mengotomatiskan tugas awak kabin sekaligus memungkinkan penumpang menggunakan perangkat elektronik pribadi mereka untuk belanja dalam penerbangan dan permintaan layanan.

“Dengan mendigitalkan dokumen, proses dalam penerbangan, dan inventaris dalam penerbangan, solusi eCB memberikan informasi yang dibutuhkan awak kabin untuk melayani penumpang dengan lebih baik dalam satu perangkat, menggantikan proses tradisional yang banyak menggunakan kertas. Solusi ini juga menghilangkan kebutuhan penumpang untuk menyentuh tombol panggilani di kabin,” kata Collins Aerospace dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Collins Aerospace menambahkan bahwa eCB lebih ditingkatkan ketika pesawat memiliki koneksi satelit guna memungkinkan verifikasi pembayaran kartu kredit secara langsung atau real time.

Nintendo Switch Punya Kontroler Kereta di Jepang

Kenapa simulator kereta itu keren? Karena banyak alasan untuk membuatnya keren, termasuk kereta yang sangat bagus dan dibuat simulatornya. Namun yang paling penting saat ini adalah simulator tak hanya memberi kesempatan pemain menjalankannya tetapi juga bisa memiliki pengontrol simulator tersebut.

Baca juga: Laboratorium Simulator Kereta Api Hadir di Massachusetts untuk Bantu Teknisi

Dilansir KabarPenumpang.com dari kotaku.com (25/6/2021), simulator yang bisa dimiliki pemain ini nantinya akan membawa simulasi kereta ke tingkat berikutnya. Perangkat simulator ini dijuluki Densha De Go!! Yang merupakan pengontrol satu pegangan khusus untuk Nintendo Switch.

Ini periferal baru yang bertujuan untuk secara realistis menciptakan kembali sensasi mengoperasikan kereta. Di mana tuas yang mengontrol kereta dilekuk dan terkunci ditempatnya. Uniknya lagi, pengontrol ini dilengkapi dengan serangkaian roda gigi internal.

Sehingga membuat pengoperasian menjadi intuitif dan berarti bahwa pemain berpengalaman tidak harus terus melihat ke dasar pengontrol untuk melihat perlengkapan apa yang mereka gunakan. Sehingga sebagai gantinya, pemain cukup mengklik pada tempatnya.

Menurut Famitsu, ini adalah pertama kalinya dalam empat belas tahun kontroler Densha De Go mulai dijual.Kontrolernya terlihat cukup rumit dengan mekanisme pemutusan dan roda gigi untuk mengubah kecepatan. Di dasar pengontrol juga ada tombol wajah untuk input yang mudah juga.

Densha De Go!! Dedicated One Handle Controller Untuk Nintendo Switch akan dirilis pada 8 Agustus di Jepang. Harganya 14.850 yen atau sekitar Rp1,9 juta. Namun belum ada kabar tentang rilis internasional.

Untuk diketahui, Densha de Go pertama! dirilis pada tahun 1996 di arcade Jepang. Permainan tiba di PlayStation 2 tahun berikutnya. Sejak itu, ia melahirkan banyak simulator realistis, periferal keren dan rilis arcade yang mengesankan.

Gim ini mendapat rilis baru pada tahun 2017 sebagai Densha de Go!!, dan dikemas dalam lemari seperti kereta. Di dalam, ada kontrol realistis, layar sentuh, dan beberapa monitor. Itu adalah simulator, di mana intinya adalah untuk membawa kereta api dari satu stasiun ke stasiun berikutnya.

Baca juga: Simulator LRT Berada di Depo Terbesar di Jakarta

Kemudian, pada Desember 2020, game arcade ini diporting ke PS4 dan Nintendo Switch sebagai Densha de Go!! Hashirou Yamanote Sen dan menyertakan seluruh Jalur Yamanote dan konten baru lainnya.

Lawan Covid-19, Argentina Batasi Hanya 600 Penumpang Internasional Per Hari

Pemerintah Argentina baru-baru ini mengeluarkan kebijakan baru dalam upaya melawan penyebaran Covid-19. Negerinya Lionel Messi itu kini hanya melayani masuknya 600 penumpang internasional per hari dari semula 2.000 orang.

Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

Argentina memang lama dikenal sebagai salah satu negara yang paling ketat dalam melakukan langkah-langkah pencegahan penularan virus Corona. Pada tahun 2020 lalu, Argentina diketahui sempat melarang seluruh penerbangan domestik dan internasional sepanjang April sampai September.

Barulah mulai oktober, setelah kasus Covid-19 di sana sudah mulai mereda, penerbangan domestik mulai diizinkan. Adapun penerbangan inernasional baru dibuka mulai Januari 2021.

Dari data biro statistik Argentina, Sejak dibuka pada Januari sampai Mei lalu, sudah ada 517.000 turis asing masuk, turun 92 persen dibanding periode yang sama dua tahun lalu. Angka tersebut tentu saja akan kembali menurun usai kebijakan baru membatasi pergerakan orang diteken pemerintah.

Dilansir Simple Flying, setidaknya ada tiga kebijakan utama Argentina dalam upaya negara tersebut melawan penyebaran virus Corona. Pertama, mengurangi kuota masuk penumpang internasional, baik untuk perjalanan bisnis maupun wisata, dari semula 2.000 menjadi hanya 600 orang. Perlu dicatat, penumpang internasional ini berlaku untuk seluruh warga, baik asing maupun warga negara Argentina yang hendak kembali ke negaranya.

Kedua, sesampainya di Argentina, penumpang yang bersangkutan wajib melayani karantina mandiri selama tujuh hari. Adapun detail tempat dan teknis karantina mandirinya diatur oleh masing-masing pemerintah kota.

Ketiga, melarang penerbangan dari sekitar 60 lebih negara yang masuk daftar merah, termasuk Inggris, Turki, Brasil, Chili, India, Indonesia, negara-negara Afrika, dan berbagai negara lainnya.

Tentu saja kebijakan tersebut mendapat pro dan kontra. Bagi praktisi dan pengamat kesehatan, kebijakan tersebut akan memudahkan kinerja mereka melayani dan menekan laju kasus penularan virus Corona. Bagi pelaku bisnis, baik itu bisnis penerbangan dan turunannya serta bisnis pariwisata beserta turunannya, kebijakan tersebut tentu menyusahkan.

“Langkah ini, yang dilakukan sebelum waktunya, secara langsung dan negatif berdampak pada warga Argentina dan warga asing di luar negeri; sekarang, mereka tidak bisa kembali ke negara seperti yang direncanakan,” kata Asosiasi Transportasi Udara Amerika Latin & Karibia (ALTA), dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut, kebijakan tersebut memaksa maskapai untuk menunda layanan ribuan penumpang tak berdosa yang ingin berkunjung ataupun kembali ke Argentina.

Baca juga: Covid-19 Paksa Maskapai Terbesar LATAM Bangkrut! Jadi Maskapai Kelima Bangkrut Akibat Corona

Selain itu, kebijakan tersebut juga membuat maskapai kembali terpukul. Padahal, dari data Cirium, maskapai seantero Argentina, seperti LATAM, Aerolineas Argentinas, JetSMART, Flybondi, dan maskapai lainnya, sudah menjadwalkan 1.255 penerbangan internasional sepanjang Juli 2021, turun 83,5 persen dibanding Juli 2019. Tetapi, itu masih lebih baik dibanding Juli 2020.

Namun, dengan adanya kebijakan baru pembatasan penumpang internasional yang masuk Argentina, semua itu (schedule 1.255 penerbangan) hanya isapan jempol belaka.

Dekat Perbatasan Cina-India, Kereta Peluru Pertama Mengular di Tibet

Cina kembali meluncurkan kereta peluru, namun kali ini menjadi yang pertama beroperasi di wilayah Tibet, Himalaya. Kereta peluru ini akan menghubungkan ibu kota Provinsi Tibet, Lhasa, dengan Nyingchi, yaitu kota di perbatasan Tibet yang dekat dengan Arunachal Pradesh, negara bagian di India.

Baca juga: Kereta Peluru CR400AF-G Mampu Beroperasi di Suhu Ekstrim -40 Derajat Celcius

Rute dari Lhasa menuju Nyingchi adalah bagian dari Kereta Api Sichuan-Tibet dan koridor sepanjang 435,5 km telah diintegrasikan menjelang perayaan seratus tahun Partai Komunis China (CPC) yang berkuasa pada 1 Juli.

Ini adalah kereta api listrik pertama yang dioperasikan di Daerah Otonomi Tibet. Jalur Kereta Api Sichuan-Tibet akan menjadi jalur kereta api kedua ke Tibet setelah Jalur Kereta Api Qinghai-Tibet, yang akan melewati wilayah tenggara Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, dilaporkan sebagai salah satu geolokasi paling aktif di dunia.

KabarPenumpang.com melansir hindustantimes.com (25/6/2021), Presiden Cina Xi Jinping telah mengarahkan para pejabat pada November tahun lalu untuk mempercepat pembangunan proyek kereta api baru, yang menghubungkan Provinsi Sichuan dan Nyingchi di Tibet. Ini dikatakan Xi Jinping karena jalur kereta api baru akan menjadi pemain kunci dalam menjaga kepentingan dan stabilitas perbatasan.

“Jika skenario krisis terjadi di perbatasan Cina-India, jalur kereta api akan memberikan kemudahan besar untuk pengiriman material strategis Cina,” ujar Qian Feng, direktur departemen penelitian di Institut Strategi Nasional di Universitas Tsinghua.

Melalui kereta yang memiliki kecepatan 160 km per jam, waktu tempuh antara Lhasa dan Nyingchi berkurang dari lima jam menjadi sekitar 3,5 jam dan waktu tempuh antara Shannan yang merupakan salah satu stasiun tempat kereta akan berhenti dan Nyingchi dari enam jam hingga sekitar dua jam, menurut laporan oleh kantor berita Xinhua.

Kereta Api Sichuan-Tibet dimulai dari Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, melewati Ya’an dan memasuki Tibet melalui Qamdo. Perjalanan dari Chengdu ke Lhasa berkurang dari 48 jam menjadi 13 jam. Untuk diketahui, Cina mengklaim bahwa Arunachal Pradesh adalah bagian dari Tibet Selatan.

Baca juga: 29 Siswa Wanita Berlatih Jadi Masinis Kereta Peluru di Cina

Namun, klaim tersebut ditolak mentah-mentah oleh India. Di mana barisan perbatasan India-Cina membentang di atas klaim China Arunachal Pradesh sebagai bagian dari Tibet Selatan, yang dengan tegas ditolak oleh India. Hal ini membuat sengketa perbatasan India-Cina mencakup Garis Kontrol Aktual (Line of Actual Control/LAC) sepanjang 3.488 km.

Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Harga tiket maskapai LCC baru yang belum lama ini mendapat sertifikat izin operasi komersial atau Air Operator Certificate (AOC) dengan tipe pesawat Airbus A320, Super Air Jet, ternyata lebih murah ketimbang kompetitor yang selama ini jawara dalam menyediakan tiket penerbangan murah, Lion Air dan AirAsia.

Baca juga: Bedah Maskapai Baru “Super Air Jet,” Seragam Pramugari Tak Biasa dan Milenial Banget

Dalam laman resminya, Super Air Jet diketahui menawarkan tiket penerbangan Jakarta-Palembang dengan tarif Rp252 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp367.200 dan AirAsia seharga Rp358.875), Jakarta-Pekanbaru mulai Rp 423 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket 555.300 dan AirAsia seharga Rp543.923).

Kemudian, ada lagi rute Jakarta-Medan Kualanamu yang ditawarkan maskapai baru Super Air Jet mulai Rp536 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp679.600 dan AirAsia seharga Rp665.149), rute Jakarta-Pontianak tarif mulai Rp385 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp513.500 dan AirAsia seharga Rp502.551).

Selanjutnya, Super Air Jet juga membuka rute Jakarta-Padang dengan tarif mulai Rp440 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp574.000 dan AirAsia seharga Rp561.561), dan Jakarta-Batam tarif mulai Rp 429 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp561. 900 dan Citilink seharga Rp594.900).

Ada juga rute Jakarta-Lombok, tarif mulai dari Rp416 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp547.600 dan AirAsia seharga Rp535.904), Jakarta-Surabaya tarif mulai Rp348 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp472.800 dan AirAsia seharga Rp462.463).

Adapun tiket penerbangan Jakarta-Denpasar tarifnya dibanderol mulai Rp426 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp558.600 dan AirAsia seharga Rp547.129), dan Jakarta-Banjarmasin tarif mulai Rp437 ribu (lebih murah dibanding Lion Air yang mematok tarif tiket Rp570.700 dan Citilink seharga Rp624.820).

Semua perbandingan harga tiket Super Air Jet dengan maskapai kompetitor tersebut didapat dari Google Flight, bukan dari online travel agent.

Tarif tiker penerbangan super murah tersebut rasanya tak begitu mengherankan mengingat berdirinya Super Air Jet memang untuk itu; dalam hal ini fokus pada pasar penerbangan generasi milenial serta menjadi maskapai ULCC (Maskapai Berbiaya Sangat Rendah). Targetnya, maskapai bisa meraup ceruk pasar wisatawan beranggaran rendah dan menawarkan penerbangan murah di Indonesia.

Untuk sementara ini, rute-rute yang ada memang berfokus pada domestik saja, dengan Jakarta sebagai basisnya. Tetapi, dalam waktu dekat Super Air Jet berencana memperluas ke rute internasional.

Baca juga: Bebaskan Landing Fee Bagi Maskapai Baru, Angkasa Pura I Dukung Sektor Wisata NTT

Saat ini, maskapai yang digadang-gadang menjadi bagian dari Lion Air Grup tersebut (kendati mereka tak mengakuinya) sudah memiliki satu unit pesawat A320-200 berkapasitas 180 kursi dengan konfigurasi all-ekonomi, berusia 10 tahun dengan kode registrasi PK-SAJ. Pesawat ini disewa dari IndiGo (sebuah LCC India) dan sekarang disimpan di Bandara Internasional Hang Nadim di Batam.

Tak jelas kapan maskapai mulai beroperasi. Yang pasti, maskapai baru tersebut menyebut dalam waktu dekat bisa segera memulai penerbangan perdana.

Mau Vaksin Pfizer Gratis Sambil Jalan-jalan ke Los Angeles? Cek Di Sini

Program ‘Vaccine Tourism Hub’ atau pusat hub vaksinasi bagi wisatawan sepertinya benar-benar menjadi ladang bisnis baru bagi biro perjalanan wisata. Di Indonesia, belum lama ini beredar flyer paket perjalanan wisata ke Los Angeles, Amerika Serikat, sambil mendapat suntikan dua dosis vaksin Pfizer gratis. Menarik, bukan?

Baca juga: Lufthansa Luncurkan Corona Lounge di Rusia, Seperti Apa?

Kendati program vaksinasi massal di Indonesia semakin gencar, dari semula prosesnya rumit menggunakan surat domisili menjadi bebas tanpa surat itu, dari semula terbatas untuk kalangan tertentu menjadi bebas untuk masyarakat umum, tetapi vaksinnya terbatas pada Sinovac dan vaksin Astrazeneca.

Padahal, dari hasil penelitian sederhana, banyak masyarakat yang menginginkan vaksin Pfizer.-BioNTech. Alasannya tentu berkenaan dengan kualitas dan efektivitas vaksin itu sendiri. Sayangnya, akses ke vaksin tersebut di Indonesia atau negara tetangga bak mencari intan berlian di tengah hamparan pasir, sulit sekali.

Di sisi lain, Amerika Serikat justru memberikan sekitar 500 juta dosis vaksin Pfizer gratis sampai tahun depan. Inilah yang pada akhirnya menjadi peluang untuk program Vaccine Tourism Hub oleh salah satu biro perjalanan wisata atau travel agent yang berbasis di Jakarta.

Dilihat KabarPenumpang.com dari sebuah flyer yang beredar, travel agent tersebut menawarkan paket wisata vaksin dengan total perjalanan 27 hari 24 malam bersantai di Los Angeles dan mendapatkan vaksin Pfizer gratis. Harga yang dipatok mulai dari Rp27,99 juta termasuk airport tax Jakarta + International & Fuel Surcharge.

Selain itu harga ini sudah termasuk mobil pribadi sesuai dengan acara di itinerary, akomodasi hotel selama 24 malam (1 kamar berempat tanpa extra bed). Lalu biaya PCR di Los Angeles. Tiket pesawat Economy Class by All Nippon Airways (NH) – GV 4 (K Class).

Biaya tambahan yang dikenakan adalah biaya visa, single supplement Rp15 juta, biaya minum dan makan selama tur berjalan, biaya PCR keberangkatan dari Jakarta (jika diperlukan).

Lalu biaya pengeluaran pribadi tidak ditanggung, biaya tur tambahan sampai biaya tipping driver US$12 per orang.


Hanya saja, perlu dicatat, program paket wisata vaksin plus vaksin Pfizer gratis ini berlaku sampai 10 Desember 2021 dan selama persediaan vaksin masih ada.

“(Vaksin) selama persediaan ada untuk saat ini,” ujar Bryan, customer service travel agent saat dihubungi, Senin (28/6).

Di dunia, tentu program paket wisata vaksin atau Vaccine Tourism Hub yang ditawarkan travel agent asal Indonesia bukanlah yang pertama. Lufthansa, sejak Maret lalu, sudah lebih dahulu meluncurkan program serupa yang disebut sebagai Corona Lounge ke Rusia.

Program tersebut juga menawarkan penumpang Lufthansa untuk berwisata ke Rusia sambil mendapat suntikan dua dosis vaksin Sputnik V secara gratis.

Baca juga: Singapore Airlines Sukses Kirim Vaksin Pfizer-BioNTech Pertama, Makin Dekat Jadi Hub Distribusi Vaksin

Bagi wisatawan yang berminat atas program yang juga disebut paket wisata medis ini, setidaknya harus mengeluarkan kocek sebesar €1.000 atau sekitar Rp17 juta lebih (kurs 17.160). Itu pun baru harga perkiraan. Kemungkinan, harganya bisa jauh di atas itu,

Selain Rusia, beberapa negara juga akan dan sudah melayani program Vaccine Tourism Hub atau paket wisata vaksin untuk wisatawan. Di antaranya, Kuba, tepatnya di Havana, menggunakan vaksin Covid-19 buatan dalam negeri, Soberna (Sovereign) serta Dubai, menggunakan vaksin Covid-19 Sinopharm.

Tiang Bus Stop Modern Bakal Dilengkapi Teknologi Informasi Tingkat Tinggi

Tiang bus stop kini sudah bukan lagi pemandangan yang asing, seiring majunya transportasi di suatu kota, maka guna menunjang pelayanan bus kota, hadirlah pit stop atau bus stop, sebagai tempat pemberhentian bus kota reguler.

Bila saat ini bus stop tampil sederhana, yaitu hanya berupa tiang dan papan penanda (sign), maka di masa mendatang bus stop akan dikembangkan lebih canggih lagi. Apalagi dengan kemunculan kota pintar turut mengembangkan jaringan canggih dengan menghubungkan semua aspek infrastruktur melalui internet.

Baca juga:  Desainer Ferrari Rancang Halte Bus Canggih dengan Konsep Alami

Sederhananya, ini berarti bahwa segala sesuatu dari papan nama hingga transportasi semuanya dapat berinteraksi dengan pengguna secara digital. Meskipun mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, sebenarnya ini lebih dekat dari yang Anda kira. Bahkan Anda tidak perlu membeli halte bus yang sama sekali baru untuk mendapatkan manfaat dari revolusi cerdas saat ini.

Sifat fleksibel dari teknologi pintar memastikan bahwa fitur-fitur mutakhir sekarang dapat diintegrasikan ke dalam tiang atau struktur bus yang ada. KabarPenumpang.com merangkum futuresystems-inc.com , ada beberapa fasilitas yang dapat dimasukkan ke dalam teknologi tiang bus stop.

Di antaranya adalah fasilitas pengisian daya USB, dari penelitian terbaru orang dewasa sekarang 77 persen diantaranya memiliki akses ke ponsel pintar. Di mana banyak fitur perangkat yang membuat daya baterai cepat habis. Kehadiran pengisi daya USB memberikan solusi bagi pengguna yang baterai ponsel atau tabletnya hampir habis. Fitur lain yang juga bisa dihadirkan adalah WiFi publik yang terpasang di tiang halte bisa memberikan akses berselancar di dunia maya lebih besar pada penumpang yang menunggu bus.

Ini memberikan pengalaman transportasi bagi penumpang dan memberikan keuntungan yang jelas dibandingkan mengemudi serta mendukung penumpang memanfaatkan waktu mereka untuk menjelajahi. Di era teknologi ini, kehidupan modern berarti banyak orang yang bekerja sepanjang hari dan membuat jadwal kehidupan menjadi sibuk. Ini membuat banyak kota menjalankan layanan mereka pada malam hari dan memastikan transportasi umum dapat diakses dengan mudah ketika malam dengan penerangan yang memadai karena hal ini penting.

Sumber daya pencahayaan dan penerangannya pun dapat dilengkapi dengan panel surya di atas tiang bus stop. Sehingga memberikan penerangan pada lampu jalan dan bus stop di mana penumpang menunggu bus mereka. Bila diperlukan, konektivitas Bluetooth dapat ditambahkan untuk memberikan pengalaman terbaik bagi penderita gangguan pendengaran atau tunanetra.

Notifikasi dapat dikirimkan langsung ke ponsel pengguna, memastikan bahwa informasi penting seperti waktu kedatangan dan nomor rute sejelas mungkin. Bahkan dengan pemanfaatan sebuah tiang bus stop pun bisa menggabungkan berbagai sensor yang mengumpulkan data dari berbagai faktor seperti udara hingga pemantauan lalu lintas.

Baca juga:  Krumbach di Austria Punya Halte Bus Unik Buatan Tujuh Arsitek Internasional

Layar e-paper nirkabel di tiang bus stop dapat menampilkan peta pencarian arah, memungkinkan akses mudah ke pemetaan langsung, petunjuk arah kota, informasi, dan layanan. 

Boeing 727 Bekas Japan Airlines Ingin Disulap Jadi Kantor ‘Terbang’

Seorang pengusaha di Bristol, Inggris, Johnny Palmer, berencana mengubah Boeing 727 bekas Japan Airlines menjadi kantor. Bukan sekedar kantor, ia akan menjadi kantor ‘terbang’. Sebelumnya, pesawat trijet itu dibiarkan mangkrak di Bandara Cotswold, Gloucestershire, sebelah Barat London, Inggris.

Baca juga: Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’

Sebagai informasi, bandara ini memang kondang dikenal sebagai ‘kuburan’ pesawat di Eropa. Memang tak sebesar ‘kuburan’ pesawat di Gurun Mojave, Amerika Serikat (AS), tetapi, setiap tahunnya bandara tersebut menjadi ajang bongkar-membongkar sekitar 50-60 pesawat purna tugas menjadi kepingan-kepingan kecil untuk didaur ulang. Daur ulang pesawat memang tengah tumbuh subur di Eropa dalam beberapa dekade terakhir.

Kembali ke soal kantor ‘terbang’, pesawat itu nantinya akan dimodifikasi dan digabungkan dengan kontainer untuk membentuk kantor dengan konsep shipping cointainer architecture atau bangunan yang menggunakan kotak bekas kontainer atau kargo sebagai material utamanya. Paduan Boeing 727 bekas dengan kontainer pun dilengkapi dengan mural atau lukisan awal sebagai latar belakang dan membuatnya tampak terlihat terbang.

Mural dengan efek 3D. Mural seperti inilah yang nantinya akan membuat kantor yang dibuat dari kontainer dan pesawat tampak seperti terbang. Foto: @charlesarthur

“Ide itu datang kepada saya dua tahun (2018) lalu ketika seorang teman saya mengatakan bahwa dia telah melakukan syuting film di sebuah pesawat di Kemble (Bandara Cotswold). Saya pergi ke lapangan terbang itu untuk melihat semua pesawat tua ini dan menyadari bahwa itu mungkin (bisa) dibeli satu,” jelas Johnny Palmer, seperti dikutip dari Simple Flying.

“Sungguh keren bahwa Dewan Kota Bristol bersedia memberi lampu hijau untuk proyek yang menarik ini. Menurut saya dewan di kota besar lain tidak akan melakukannya,” tambahnya.

Disebutkan, tak semua bagian pesawat dipertahankan. Sayap dan mesin dibuang dan sisanya dipadupadankan dengan kontainer dan equipment lainnya. Nantinya, bangunan baru dari perpaduan itu akan dijadikan beragam fungsi, seperti kantor, tempat makan malam private, kantor, hingga event space atau ruang serbaguna untuk berbagai kegiatan.

Bila tak ada aral melintang, proyek menyulap pesawat mangkrak menjadi venue keren multifungsi itu selesai dikerjakan pada Maret 2021 mendatang.

Boeing 727 yang ingin disulap menjadi kantor ‘terbang’ tersebut diketahui pertama kali dikirim ke JAL (Japan Airlines) pada bulan Desember 1967. Menurut JetPhotos.com, pesawat tersebut awalnya terdaftar sebagai JA8325. Pesawat Boeing 727-100 ini memiliki panjang 133 kaki (40,5 m) dan biasanya memuat sekitar 106 penumpang dalam dua kelas. Jet khusus ini kemungkinan dioperasikan pada layanan domestik. Namun, ada kemungkinan Boeing 727 juga dioperasikan pada layanan internasional jarak dekat atau regional.

Baca juga: VACA Limousines – Hasil ‘Kawin Silang’ Boeing 727 dengan Bus Mercedes-Benz, Dijual Rp14,7 Miliar!

Setelah terbang untuk maskapai nasional Jepang, pesawat tersebut diregistrasi ulang pada September 1975 di Jerman sebagai D-AHLQ. Pesawat dioperasikan oleh perusahaan pelayaran dan transportasi internasional, Hapag Lloyd, hingga Mei 1981.

Lepas itu, silih berganti, pesawat dioperasikan oleh berbagai maskapai dunia, dengan nomor registrasi N4245S, VR-CBE, VR-CLM, VR-CMN, dan terakhir, VP-CMN.

Inilah Pure Skies, Konsep Kabin Masa Depan Pasca Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah mengubah perjalanan udara. Terbukti, saat ini, penumpang setidaknya wajib hadir empat jam sebelum keberangkatan pesawat untuk proses skrining surat bebas Corona.

Baca juga:  Intip Konsep Peacock Suites, Desain Hotel ‘Terbang’ Super Mewah Pesawat di Masa Depan

Belum lagi kewajiban memakai masker mulai masuk sampai keluar, disinfeksi, pengecekan suhu tubuh, pemeriksaan ulang, sampai tes swab ulang di bandara tujuan (rute internasional).

Di tataran interior, tentu saja Covid-19 banyak yang mendorong terjadinya perubahan, salah satunya mengkosongkan kursi tengah. Lebih dari pada itu, maskapai penerbangan bisa menghadirkan berbagai hal baru, seperti sekat partisi antar kursi dengan beragam teknologi dan konsep serta kursi khusus mandiri di pesawat.

Sayangnya, tidak menerapkan itu lebih lanjut (dan memilih fokus pada efisiensi) meskipun survei membuktikan adanya inovasi itu justru membuat penumpang merasa lebih aman.

Tetapi, meski bagaimapun juga, perubahan di kabin yang dipercaya tetap akan terjadi di masa mendatang. Itu pula yang mendorong berbagai firma desain membuat konsep desain kabin di masa depan pasca pandemi Covid-19 berakhir. Salah satunya PriestmanGoode.

Perusahaan asal London, Inggris, belum lama ini meluncurkan desain Pure Skies, konsep kabin masa depan. Konsep yang turut diperlombakan di ajang Crystal Cabin Award 2021 ini pada prinsipnya mengusung tiga tema; ruang pribadi, kebersihan, dan perjalanan tanpa sentuhan.

Konsep kabin Pure Skies Zones. Foto: PriestmanGoode

“Karya terbaru dari studio ini merepresentasikan inovasi pragmatis. Dengan manfaat dari pengalaman lebih dari 30 tahun, kami tahu bagaimana memanfaatkan desain untuk mencapai perubahan jangka panjang yang positif,” kata Nigel Goode, Co-founding Director di PriestmanGoode, seperti dikutip dari Simple Flying .

“Kami telah melihat ke depan untuk membayangkan skenario masa depan dan mempertimbangkan penumpang baru yang ditunjukkan oleh pandemi (Covid-19) global untuk memastikan desain kami dapat diterapkan dalam beberapa tahun dan persyaratan pengguna dan maskapai selama bertahun-tahun ke depan,” sambung.

Tiga tema yang diusung tadi (ruang pribadi, kebersihan, dan perjalanan bebas sentuhan) kemudian dibagi menjadi dua kelas. Dua itu normalnya disebut kabin kelas ekonomi dan kabin kelas premium (kelas bisnis dan first class). Tetapi, konsep kabin Pure Skies karya PriestmanGoode coba menghilangkan kata ‘kelas’ tersebut dan diganti dengan Pure Skies Rooms (kelas premium) dan Pure Skies Zones (kelas ekonomi).

Di Pure Skies Rooms, sebagaimana namanya, feri disuguhkan ruang private dengan sekat partisi menutup sampai langit-langit kabin dan dilengkapi tirai. Tak hanya itu, terkait tiga tema yang diusung, penumpang juga dimudahkan untuk mengoperasikan layar IFE pesawat dengan bantuan aplikasi khusus yang bisa diunduh di ponsel masing-masing.

Tak cukup sampai di situ, kursi anti mikrobanya juga dirancang tanpa jahitan membentuk sedemikian rupa sehingga kursi dinilai berbentuk huruf ‘U’ untuk menghindari celah pada kursi yang bisa menjadi sarang virus dan bakteri. Desain itu juga memudahkan maskapai membersihkan dan mendisinfeksi kursi.

Baca juga:  Inilah Economy Sky-Dream, Tempat Tidur Tiga Tingkat untuk Penumpang Kelas Ekonomi Jarak Jauh

Kursi serupa juga dihadirkan PriestmanGoode di kabin Pure Skies Zones, dilengakapi dengan sekar partisi tinggi sampai ke langit-langit di setiap kursi. Menariknya, semua kursi kabin Pure Skies bisa bereaksi terhadap sinar UVC dan perawatan terhadap panas, sehingga sangat mudah dibersihkan.

Hanya saja, untuk kabin Pure Skies Zones, itu tidak dilengkapi dengan layar IFE dan meja lipat di sandaran kursi pesawat. Jadi, penumpang mau tak mau makan menggunakan baki maskapai dengan bantuan paha dalam posisi menempel satu sama lain. Cukup merepotkan, bukan?