Genjot Pendapatan Tambahan, Lion Air Group dan Sabre Jalin Kemitraan Jangka Panjang

Sistem manajemen penjualan tiket dan layanan pelanggan pada maskapai penerbangan dikenal lebih maju dibandingkan moda transportasi lainnya. Hal tersebut didukung oleh penyediaan perangkat lunak (aplikasi) dan teknologi yang mumpuni. Seperti salah satunya pada jaringan maskapai yang tergabung dalam Lion Air Group, yang selama ini mengadopsi solusi dari Sabre Corporation.

Baca juga: Selasa Sore! Waktu Paling Tepat untuk Berburu Tiket Pesawat Murah

Dan terkait hal di atas, belum lama ini Lion Air Group telah memperpanjang kontraknya dengan Sabre Corporation untuk peningkatan kemampuan memperoleh pendapatan tambahan lewat manajamen kursi dalam penerbangan.

Sebagai jaringan maskapai terbesar di Indonesia, Lion Air Group sejatinya telah mengadopsi solusi dari Sabre dengan cukup lama, terutama dalam sistem Penjualan dan Layanan Pelanggan (Customer Sales and Service, CSS) SabreSonic, serta seperangkat solusi pengelolaan kru, operasi dan penjadwalan untuk mengoptimalkan fungsi harian, mengurangi biaya dan perencanaan secara strategis di seluruh grup Lion Air. Cakupan dari solusi mencakup maskapai-maskapai yang berada di bawah naungan Lion Air Group, yaitu Batik Air Indonesia, Wings, Malindo Air dan Thai Lion Air.

Solusi pengoptimalan pendapatan akan memberikan kemampuan untuk membuat dan memasarkan penawaran tambahan di semua saluran dengan mudah dari awal sampai akhir, termasuk harga kursi yang berbeda, dan memfasilitasi pembayaran dan pengiriman layanan tambahan di seluruh grup maskapai ini.

Dikutip dari siaran pers Sabre Corporation yang diterima KabarPenumpang.com (29/6/2021), Lion Air Grup nantinya juga akan menggunakan Sabre Digital Connect, yaitu suatu Hub API yang berkemampuan memberikan layanan mikro yang luas, untuk memperkuat kemampuan perdagangan elektronik. Termasuk di dalamnya serangkaian alat pengelolaan integritas pendapatan untuk mendorong pendapatan tambahan dengan mendeteksi dan mengoptimalkan pemesanan yang kurang menguntungkan dalam waktu yang sebenarnya untuk meningkatkan faktor muatan setiap pesawat.

Ini akan memberikan peluang yang penting untuk meningkatkan pendapatan dengan penjualan layanan tambahan melalui operator mitra, serta memungkinkan Lion Air Group untuk menjual perlengkapan tambahan saat check-in.

Baca juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah

Lion Air Group kelak dapat membuat cakupan tambahan, angka penjualan dan titik harga yang unik untuk masing-masing mereknya. Teknologi Sabre juga akan memberikan kemampuan Belanja Tingkat Lanjut, untuk mendapatkan hasil belanja yang lebih tepat, dan mengaktifkan fitur swalayan yang melengkapi kemampuan Pertukaran dan Pengembalian Otomatis, serta otomatisasi yang diperlukan untuk menampung kembali penerbangan tambahan ke penerbangan baru setelah adanya gangguan.

Canggih, Masker ini Bisa Deteksi Virus Corona Saat Pengguna Memakainya dalam Waktu 90 Menit

Bagaimana bila masker medis yang biasa digunakan mampu mendeteksi SARS-CoV-2? Hal tersebut rupanya telah menjadi penelitian oleh para peneliti dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan Harvard yang melakukan demo teknologi biosensor mutakhir dengan mengembangkan masker yang dapat mendeteksi SARS-CoV-2 pada napas pemakainya dalam waktu 90 menit.

Baca juga: Universitas di Singapura Kembangkan Masker Antimikroba Nanoteknologi dengan Filtrasi 99,9 Persen

Teknologi sensor ini dapat diprogram untuk mendeteksi segala jenis virus atau racun dan cukup kecil untuk diintegrasikan ke dalam kain pakaian. Biosensor sebenarnya sudah dikembangkan selama beberapa tahun dan didasarkan pada teknologi baru yang dijuluki (wearable freeze-dried cell-free).

Teknologi biosensor ini sistem mengekstrak dan membekukan mesin sel yang diperlukan untuk mendeteksi molekul organik dan berbeda dengan yang sebelumnya di mana memerlukan penggabungan sel hidup.

“Kelompok lain telah menciptakan perangkat yang dapat dipakai yang dapat merasakan biomolekul, tetapi teknik tersebut mengharuskan semua sel hidup dimasukkan ke dalam perangkat yang dapat dikenakan itu sendiri, seolah-olah pengguna mengenakan akuarium kecil. Jika akuarium itu pernah pecah, maka serangga yang direkayasa bisa bocor ke pemakainya, dan tidak ada yang menyukai gagasan itu,” jelas Peter Nguyen, salah satu penulis studi baru tersebut.

KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (28/6/2021), teknologi wFDCF sebelumnya telah digunakan untuk membuat alat diagnostik eksperimental untuk virus Ebola dan Zika. Sekitar setahun yang lalu, ketika pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, para peneliti dengan cepat berputar untuk mencoba dan mengubah teknologi eksperimental menjadi produk yang berguna untuk membantu memeranginya.

“Kami ingin berkontribusi pada upaya global untuk memerangi virus, dan kami datang dengan ide untuk mengintegrasikan wFDCF ke dalam masker wajah untuk mendeteksi SARS-CoV-2. Seluruh proyek dilakukan di bawah karantina atau jarak sosial yang ketat mulai Mei 2020,” catat rekan penulis pertama Luis Soenksen.

Masker wajah menghadirkan aplikasi tercanggih dari teknologi wFDCF hingga saat ini. Beberapa biosensor dalam topeng diaktifkan ketika sebuah tombol ditekan, melepaskan reservoir kecil air. Cairan ini menghidrasi molekul beku-kering di sensor yang dapat menganalisis tetesan dari napas pemakainya.

Dalam 90 menit, secarik kertas kecil mendaftarkan pemakainya sebagai positif atau negatif untuk SARS-CoV-2, melalui pembacaan yang mirip dengan tes kehamilan.

Tes awal menunjukkan masker wajah diagnostik memberikan hasil yang sangat akurat, sebanding dengan tes PCR saat ini, standar emas untuk deteksi SARS-CoV-2. Nguyen mencatat masker covid-19.

“Teknologi ini dapat dimasukkan ke dalam jas lab untuk ilmuwan yang bekerja dengan bahan atau patogen berbahaya, scrub untuk dokter dan perawat, atau seragam responden pertama dan personel militer yang dapat terpapar patogen atau racun berbahaya, seperti gas saraf,” kata Nina Donghia, salah satu penulis dalam studi baru tersebut.

Baca juga: Volvo Jual Masker Batik Reusable Ramah Lingkungan dengan Fitur Anti Mikroba

Para peneliti saat ini sedang mencari produsen yang tertarik untuk memproduksi masker wajah pendeteksi Covid-19 secara massal. Studi baru ini diterbitkan dalam jurnal Nature Biotechnology.

Tentang SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2), merupakan virus penyebab Covid-19, nama tersebut diberikan Komite Taksonomi Virus Internasional untuk virus corona asal Wuhan. Sementara Covid-19 adalah singkatan dari kata ‘corona’, ‘virus’, dan ‘disease’. Angka 19 mewakili tahun saat penyakit itu ditemukan yaitu akhir tahun 2019.

 

 

Dapat Pesanan 86 Pesawat A321neo dari Scoot dan United Airlines, Airbus Keluar dari Krisis?

Airbus akhirnya bisa bernapas lega setelah mendapat tambahan pesanan pesawat dari berbagai pihak. Terbaru, Scoot dan United Airlines masuk dalam daftar portofolio baru perusahaan sebagai pengguna A321neo. Keduanya diketahui memesan total 86 pesawat; dengan rincian 70 pesanan datang dari United Airlines dan sisanya dari Scoot.

Baca juga: Merpati Airlines Bakal Kembali Terbang Pakai Airbus A320/A321Neo, Tak Jadi Pakai MC-21?

“Pesanan yang signifikan dari maskapai besar seperti United menggarisbawahi bahwa A321neo menawarkan kemampuan yang tak tertandingi, lebih ekonomis, dan ramah terhadap penumpang,” kata Christian Scherer, Chief Commercial Officer dan Head of International Airbus, melalui siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com.

“Tidak ada pesawat lain yang dapat melakukan apa yang dapat dilakukan A321neo, dan tim Airbus sangat bersyukur dengan penegasan kuat United atas status premiumnya. A321neo akan melengkapi pesawat A321XLR United Airlines masa depan, bersama-sama menciptakan segmen istimewa tersendiri,” lanjutnya.

Disebutkan, Airbus A321neo, yang memiliki 95 persen kesamaan badan pesawat dengan Keluarga A320, menjadi pesawat yang paling ramah lingkungan di kelasnya. Itu berkat emisi CO₂ per kursi pesawat menjadi yang terendah di dunia (di kelasnya).

Mengingat banyak maskapai di dunia yang sudah menyongsong bebas emisi CO₂ pada 2050 mendatang, sejalan dengan Regulator Penerbangan Eropa dan Amerika Serikat serta IATA dan ICAO, tentu A321neo menjadi pesawat paling menarik saat ini.

Dari segi interior, pesawat yang mengusung mesin Pratt & Whitney PW1100G dan memiliki 236 kursi dalam kondifgurasi satu kelas itu, juga dirancang berdasarkan settingan Airbus Cabin Flex untuk optimalisasi kabin serta disematkan pula konsep desain kabin Airspace Airbus.

Desain ini bukan hanya menonjolkan keindahan kabin berkat permainan cahaya LED saja, melainkan juga mengusung setidaknya empat DNA Airspace Airbus; kenyamanan (ruang relaksasi), suasana (ruang inspirasi), layanan (ruang keluarga), dan desain (ruang keindahan).

Masing-masing dari empat DNA tersebut mempunyai detail tersendiri. Suasana (Ambience), menampilkan kabin yang senyap, kaya pencahayaan, dan sambutan lampu LED yang menakjubkan saat memasuki pesawat. Kenyamanan (comfort), menawarkan ruang kabin dan jendela yang lebih besar, kompartemen bagasi yang terbesar di kelasnya, dan kursi fleksibel untuk jarak jauh.

Lanjut ke layanan (services), Airbus menawarkan smart space solution, kabin bersih (termasuk di toilet sekalipun), seemless connectivity and entertainment. Adapun ke desain (design), Airbus mengusung konsep desain berkelanjutan, desain berkualitas, dan desain ramah keluarga.

Baca juga: Di Paris AirShow 2019 Airbus Perkenalkan A321XLR, Apa Saja Keunggulannya?

Pesanan pesawat dari Scoot dan United Airlines, termasuk 7.400 pesanan pesawat Keluarga A320neo dari 121 customer di seluruh dunia pada Mei 2021 lalu, tentu menjadi berkah tersendiri bagi Airbus mengingat manufaktur pesawat asal Eropa itu sempat berdarah-darah sepanjang tahun lalu. Imbasnya, ribuan karyawan pun terpaksa di-PHK Airbus.

Kendati tak ada laporan pasti yang menyebut dampak dari pesanan tersebut, tetapi, itu diyakini amat menolong kinerja keuangan Airbus setelah mengarungi tahun tersulit akibat pandemi virus Corona sepanjang perusahaan berdiri.

Tenggelam di Selat Bali, Inilah Spesifikasi Kapal Ferry RoRo KMP Yunicee

Kapal motor penumpang atau KMP Yunicee tenggelam saat akan bersandar di Pelabuhan Gilimanuk, Bali dan menewaskan tujuh orang. Tenggelamnya kapal ferry RoRo yang mengoperasikan rute Gilimanuk menuju Ketapang atau sebaliknya ini terjadi pada 29 Juni 2021 kemarin sekitar pukul 19.20 WITA.

Baca juga: Mau Melintasi Selat Bali? Kenali Dulu Tarif Ferry Ketapang – Gilimanuk

KMP Yunicee tenggelam saat akan bersandar pada jarak 200-300 meter di utara Pelabuhan Gilimanuk. Sebelum tenggelam, awalnya KMP Yunicee berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Selasa (29/6/2021) petang pukul 18.00 Wita.

Bahkan kapal naas ini ketika melintasi Selat Bali tidak mengalami masalah apa pun. Namun, ketika menunggu giliran untuk bersandar di Dermaga MB Pelabuhan Gilimanuk, Selasa malam pukul 19.06 Wita, kapal ferry ini tiba-tiba terseret arus ke arah selatan.

KMP Yunicee yang berisi 41 penumpang dan 16 ABK termasuk nakhoda ini diduga mengalami kebocoran pada bagian lambung, hingga kemudian tenggelam dan menghilang di tengah laut sekitar Pantai Penginuman, Kelurahan Gilimanuk. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KMP Yunicee dibangun pada tahun 1992 dan berlayar di bawah bendera Indonesia yang dioperasikan oleh PT. Surya Timur Line.

KMP Yunicee memiliki panjang 56,6 meter dan lebar 8,6 meter dengan bobot penuh 922 ton. Penyebab kapal ini tenggelam hingga saat ini belum bisa diketahui. Ada kemungkinan penyebab tenggelam salah satunya faktor usia kapal, humam eror atau faktor dari alam.

Hingga saat ini korban meninga ada tujuh orang, 44 selamat dan enam lainnya dalam pencarian. Meski dalam manifest ada 41 penumpang, 13 orang dan petugas kantin 3 orang, namun korban yang berhasil dievakuasi sebanyak 59 orang baik yang selamat maupun meninggal.

Baca juga: Pelayanan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Bakal Ditingkatkan dengan Automatic Ticketing System

Sehingga jumlahnya lebih dibandingkan dengan manifes yang ada. Untuk diketahui, Saat insiden KPM Yunicee mengangkut 15 anak buah kapal (ABK), 41 orang penumpang, 17 unit truk, enam unit mobil pribadi, satu unit mobil pick up dan satu unit sepeda motor. Kapal ferry jenis RoRo ini berlayar dengan kecepatan 4,3 knot.

Universitas di Singapura Kembangkan Masker Antimikroba Nanoteknologi dengan Filtrasi 99,9 Persen

Ilmuwan material dari Nanyang Technological University, Singapura (NTU Singapura) telah mengembangkan “masker nanoteknologi” yang dapat digunakan kembali serta mampu menyaring 99,9 persen bakteri, virus, partikel (PM) dan membunuh bakteri. Lapisan antimikroba dalam masker itu disebut dapat membunuh bakteri dalam waktu 45 detik dan efektif setidaknya selama 144 jam (enam hari).

Baca juga: Canggih! Masker Ini Dilengkapi Filter HEPA dan Sensor Udara, Anti Covid-19 Kah?

Efisiensi penyaringannya dapat melampaui kemampuan masker N95 dan makser ini dapat dicuci dan digunakan kembali lebih dari sepuluh kali. Pada pertengahan Mei, Singapura memperketat langkah-langkah Covid-19 karena negara itu menghadapi peningkatan jumlah infeksi, dan penduduk disarankan untuk menggunakan masker wajah dengan kemampuan penyaringan tinggi.

Masker buatan NTU terdiri dari dua komponen utama, yakni lapisan antimikroba yang terbuat dari nanopartikel tembaga yang dikembangkan serta dipatenkan oleh Profesor Lam Yeng Ming. Kemudian lapisan kain yang ditemukan oleh Associate Professor Liu Zheng, yang memiliki sifat dielektrik unik yang menarik semua partikel nano dan kuman.

Prof Lam, yang juga Ketua Fakultas Ilmu dan Teknik Material NTU mengatakan, bahwa prototipe masker mereka menggabungkan dua sifat yang paling diinginkan untuk melawan Covid-19, menjadi satu kesatuan filter.

“Dalam percobaan, lapisan nanopartikel tembaga kami memiliki aktivitas antibakteri yang sangat cepat dan berkelanjutan, dengan efisiensi membunuh hingga 99,9 persen ketika bertemu dengan bakteri. Lapisan ini akan membantu mengurangi penyebaran bakteri karena membunuh mikroba dalam tetesan yang terperangkap oleh serat masker. Itu akan memberi pengguna lapisan perlindungan ganda dibandingkan dengan masker bedah konvensional,” jelas Prof Lam yang dikutip KabarPenumpang.com dari eurekalert.org (9/6/2021).

Eksperimen tentang efektivitas antibakteri masker dilakukan bekerja sama dengan para ilmuwan dari National University of Singapore (NUS). Mereka mensimulasikan kondisi kehidupan nyata dengan memperkenalkan bakteri resisten dalam bentuk tetesan pada permukaan kain dan mengamati bahwa hampir semua bakteri mati dalam 45 detik.

Alasan efektivitas lapisan antimikroba ada dua, yang pertama adalah ukuran nanopartikel yang sangat kecil, yaitu sekitar 1.000 kali lebih kecil dari lebar rambut manusia. Secara kolektif, jutaan nanopartikel menyediakan area permukaan yang sangat besar bagi virus dan bakteri untuk dihubungi, dibandingkan dengan partikel yang lebih besar.

Yang kedua adalah tingginya tingkat kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh bahan oksida tembaga. Membunuh virus dan bakteri hanya akan berhasil jika masker mampu menjebak dan mencegahnya lewat. Di sinilah terobosan Assoc Prof Liu berguna.

Baca juga: Masker F5 Serbaguna Bisa Jadi Hadiah Natal Pada Masa Pandemi

Tahun lalu, timnya mengembangkan cara untuk mengintegrasikan bahan dielektrik ke serat plastik selama proses pembuatan filter kain tidak ditenun yang terbuat dari Polypropylene.

Jangan Kaget, Ini Bandara dengan Jumlah Runway Terbanyak di Dunia

Qatar, Yunani, Jepang, Jerman, dan Singapura boleh saja berbangga hati atas prestasi yang diperoleh bandara kebanggaannya.

Baca juga: Inilah 6 Negara dengan Jumlah Bandara Terbanyak di Dunia, Nomor 6 dari Asia! Indonesia, kah?

Dari daftar bandara dengan tingkat pengalaman penumpang tertinggi di dunia versi AirHelp, bandara di kelima negara itu menempati posisi teratas, mulai dari Hamad International Airport (Doha), disusul Athena International Airport, Tokyo Haneda International Airport (Jepang), Cologne Bonn Airport (Jerman), dan Changi International Airport (Singapura) di posisi kelima.

Selanjutnya, dari daftar bandara tersibuk di dunia tahun 2019 menurut Airports Council International, Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (Amerika Serikat – 107,4 juta penumpang), Bandara Internasional Ibukota Beijing (Cina – 101 juta penumpang), Bandara Internasional Dubai (Uni Emirat Arab – 89,1 juta penumpang), Bandara Internasional Los Angeles (AS – 87,5 juta penumpang), dan Bandara Haneda Tokyo (Jepang – 87,1 juta penumpang) boleh saja berbangga diri karena bertengger di urutan teratas.

Akan tetapi, dalam urusan bandara dengan runway terbanyak, kelima bandara tersibuk di dunia tersebut masih tertinggal dibanding Bandara Internasional O’Hare Chicago, Amerika Serikat.

Mega-hub antarbenua tersebut bertengger di posisi teratas dalam daftar bandara dengan jumlah runway atau landasan pacu terbanyak di dunia dengan delapan runway yang kesemuanya bisa difungsikan secara bersamaan, tidak seperti runway ketiga Bandara Soekarno-Hatta, yang difungsikan bergantian dengan runway lainnya atau dengan kata lain hanya dua runway aktif.

Tak cukup sampai di situ, dikutip dari Simple Flying, bandara yang dikenal berangin kencang dan membuat proses pendaratan di musim tertentu menjadi lebih menantang tersebut juga memiliki helipad dalam jumlah banyak.

Dengan delapan runway aktif, bandara ini memungkinkan tiga pesawat mendarat sekaligus dalam waktu bersamaan. Tentu dengan batasan jarak yang sudah diatur FAA. Untuk memudahkan pendaratan dan lepas landas, bandara ini dilengkapi dengan tiga ATC.

Selain bandara itu, Amerika Serikat juga mempunyai bandara lain dengan jumlah runway terbanyak; Bandara Internasional Dallas-Fort Worth. Mega-hub antarbenua ini diketahui memiliki tujuh runway aktif, menjadikannya sebagai satu dari tiga bandara dengan jumlah pergerakan pesawat tahunan terbesar di dunia.

Masih di AS, di luar dua itu, ada juga bandara lain yang memiliki enam runway, yaitu Bandara Internasional Denver dan Bandara Detroit Metropolitan Wayne County.

Baca juga: Panjang Bak Macet di Ibukota, Ini Dia Deretan Runway Terpanjang di Dunia!

Eropa juga tak ketinggalan. Kendati belum sebanyak Bandara Internasional O’Hare Chicago dan Bandara Internasional Dallas-Fort Worth, paling tidak, Benua Biru memiliki wakil dalam daftar 10 bandara dengan runway terbanyak di dunia; Bandara Schipol Amsterdam.

Bandara Schiphol diketahui juga memiliki enam runway aktif yang hanya melayani satu terminal. Bisa dibayangkan bagaimana kemeriahan yang terjadi di terminal tersebut. Menariknya, bandara ini juga berada di bawah permukaan laut, loh.

Waspada, Face Shiled Tidak Bisa Cegah Penularan Covid-19

Apakah penggunaan face shield atau pelindung wajah sebenarnya efektif untuk menghalau virus SARS CoV-2 dan lebih ampuh dari pada masker atau sama? Nyatanya face shield tidak memiliki efek signifikan sama sekali untuk melindungi diri penggunanya dari virus corona.

Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri

Hal ini terlihat dari penelitian baru yang dipresentasikan pada Kongres Mikrobiologi Klinis & Penyakit Menular Eropa tahun ini menemukan bahwa saat mengenakan masker wajah bedah dapat memberikan perlindungan yang sama terhadap infeksi di udara seperti mengenakan respirator, pelindung wajah menawarkan sedikit atau tidak sama sekali perlindungan.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Philipps University Marburg di Marburg, Jerman, membandingkan 32 jenis masker yang dimaksudkan untuk digunakan di rumah sakit, termasuk masker kain dan bedah, respirator, dan pelindung wajah. Dalam sebuah penelitian, dokter Christian Sterr mengatakan bahwa masyarakat harus memakai masker wajah medis bersertifikat dengan kualitas baik dari pada masker kain atau pelindung kerja.

Hal tersebut dikarena kinerjanya yang buruk terlihat dalam penelitian yang dilakukannya. Apalagi face shield tidak menutup mulut dan hidung dengan sempurna sehingga memberikan ruang untuk aerosol pembawa virus corona saat berada di udara.

Ini bisa dilihat karena face shield hanya melindung mulut dan hidup dari bagian depan tetapi bagian samping kanan dan kiri terdapat celah yang cukup banyak untuk aerosol pembawa virus corona masuk. Dirangkum KabarPenumpang.com dari healthline.com, menunjukkan studi lain bahwa hanya bernapas dan berbicara dapat mengeluarkan tetesan yang mengandung virus.

Partikel-partikel ini dapat tetap berada di udara dan menyebar luas melalui ruangan, membuat orang lain rentan terhadap infeksi. Dokter David Hirschwerk, seorang dokter yang merawat penyakit menular di Northwell Kesehatan di New York menunjukkan bahwa meskipun pelindung wajah bersifat protektif, itu tidak cukup untuk mencegah infeksi di lingkungan berisiko tinggi.

Baca juga: Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker

“Masker bedah memberikan perlindungan bagi pemakainya, tetapi tidak sebanyak respirator N95. Karena ada potensi patogen seperti SARS-CoV-2 untuk menyebabkan infeksi melalui selaput yang terkait dengan mata, pelindung wajah dapat membantu mengurangi risiko itu. Tapi, dengan sendirinya, face shield tidak cukup dalam situasi paparan tinggi,” katanya.

Bikin Kaget, Artis Ini Dapat Tagihan Rp11 Triliun Gegara Selonjoran di Pesawat

Sudah bukan rahasia bahwa penerbangan di masa lalu lebih nyaman dibanding penerbangan di era modern seperti sekarang ini. Sebab, maskapai saat ini pada umumnya menempatkan kursi per 78 cm, cukup rapat dibandingkan penerbangan di masa lalu hingga 86 cm. Hal tersebut membuat penumpang pada umumnya tidak duduk persis di samping jendela.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Di samping itu, ukurannya juga tidak sebesar dahulu, meskipun dinilai ukuran jendela yang lebih kecil saat ini berkaitan dengan faktor safety.

Penempatan kursi yang jauh lebih rapat juga menjadikan ruang kaki atau leg room kian menipis. Tak ayal, di berbagai penerbangan, tak sedikit dari penumpang yang meminta extra leg room untuk mendapat kenyamanan lebih, seperti yang dialami oleh komedian asal Australia, Dave O’Neil.

Hanya saja, entah apa yang terjadi, usai komedian yang juga aktor, bassist, penulis, dan presenter TV serta radio tersebut meminta extra leg room di penerbangan Qantas, pada April lalu, tagihan fantastis pun muncul. Tidak main-main, ia menerima tagihan sebesar US$770 juta atau sekitar Rp11 triliun lebih (kurs 14.535).

Merasa janggal, ia pun membagikan pengalaman buruknya itu ke media sosial. Dalam unggahannya, ia mengaku tak keberatan untuk membayar itu semua, hanya saja, ia gusar karena itu dirasa terlalu mahal untuk sebuah extra leg room.

“Hai @Qantas, yang saya inginkan hanyalah extra leg room di penerbangan saya ke Perth, sangat senang membayarnya, tetapi ini tampaknya agak mahal,” tulisnya dengan dibarengi foto tagihan nyaris Rp11 triliun dari maskapai, seperti dikutip dari Travel and Leisure.

Tak butuh waktu lama, postingan O’Neil pun viral dan menyita perhatian publik serta tentu saja Qantas. Melalui media sosialnya, Qantas memintanya untuk mengkontak perusahaan via DM untuk ditindak lanjuti permasalahan tersebut.

Secara terpisah, juru bicara Qantas menyebut, “Meskipun kami tahu bahwa pelanggan sangat menghargai extra leg room, harga yang ditampilkan jelas sedikit berlebihan,” jelasnya.

Baca juga: Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

“Kami dapat mengonfirmasi bahwa penumpang dikenakan biaya yang benar sebesar US$70 per sektor extra leg room dan kami sedang menyelidiki apa yang menyebabkan jumlah yang salah ditampilkan,” tambahnya.

Dari keterangan di atas, hampir dapat dipastikan bahwa insiden ini murni sebuah kesalahan ketik atau kesalahan teknis. Tetapi, bila semua itu dijalankan oleh sistem secara otomatis, tentu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah besar buat maskapai sebelum benar-benar dibanjiri penumpang pasca pandemi virus Corona berakhir.

Volvo Jual Masker Batik Reusable Ramah Lingkungan dengan Fitur Anti Mikroba

Ketika masker menjadi salah satu kebutuhan utama, membuat berbagai merek ternama dunia ikut menghadirkan masker buatan mereka. Seperti Volvo Car Malaysia yang belum lama ini meluncurkan koleksi masker wajah anti mikroba untuk mendukung masyarakat lokal dalam menghadapi kesulitan akibat Covid-19.

Baca juga: Canggih! Masker Ini Dilengkapi Filter HEPA dan Sensor Udara, Anti Covid-19 Kah?

Masker ini diproduksi oleh para ibu yang tinggal di lingkungan pedesaan dan alumni SMK Giatmara untuk memenuhi kebutuhan hidup selama pandemi. Pembuatan masker ini adalah kolaborasi yang dilakukan antar perusahaan otomotif, Three Little Ahmads yang merupakan merek pakaian anak dan perusahaan sosial yang didirikan di Malaysia serta NanoTextile.

Direktur pemasaran dan hubungan masyarakat Volvo Car Malaysia Akhtar Sulaiman mengatakan kolaborasi ini sejalan dengan filosofi omtanke Volvo yang berasal dari bahasa Swedia dan berarti etos perusahaan yang berarti “peduli” dan “perhatian”.

“Kami merasa terhormat untuk membantu komunitas lokal kami dan mempertahankan mata pencaharian mereka, terutama selama masa-masa sulit secara ekonomi ini,” ujar Akhtar yang dikutip KabarPenumpang.com dari thestar.com.my (29/6/2021).

Omtanke juga mendefinisikan pendekatan Volvo terhadap keberlanjutan, di mana kepeduliannya terhadap orang lain meluas ke planet ini. Sebagai perusahaan otomotif, Volvo Cars berkomitmen untuk melindungi dan meningkatkan lingkungan dan masyarakat luas. Salah satu masalah lingkungan yang timbul dari pandemi ini adalah pembuangan masker bedah sekali pakai, yang dapat berakhir di tempat pembuangan sampah atau lautan sebagai nano-plastik.

Masker kain dapat digunakan kembali, dengan pola tekap batik yang unik sebagai penghargaan untuk seni Malaysia. Pendiri dan perancang busana Three Little Ahmads, Datin Azrene Ahmad, mengatakan bahwa desainnya didasarkan pada tiga bunga yakni bunga matahari, lily stargazer dan melati yang biasanya tidak terlihat pada batik tradisional.

“Kami berterima kasih atas kesempatan untuk memobilisasi bakat komunitas lokal kami dan memberi mereka sumber pendapatan,” kata Datin.

Setiap masker wajah terbuat dari 100 persen katun, anti bakteri, anti air dan memberikan perlindungan hingga 100 kali pencucian lembut. Nano teknologi digunakan untuk mengurangi penetrasi tetesan yang terkontaminasi dan mencegah kemungkinan infeksi kain oleh virus atau bakteri.

Penambahan filter PM2.5 memberikan perlindungan lapisan kelima, dan diuji untuk menyaring 90 persen partikel virus secara efektif. CEO NanoTextile Thomas Ong mengatakan, nanoteknologi membuka ke cara baru dalam memproses bahan dalam industri tekstil.

“Melalui kerjasama ini, kami berharap dapat menampilkan potensi nanoteknologi sebagai salah satu solusi mengurangi pencemaran lingkungan,” ungkap Thomas.

Baca juga: Masker F5 Serbaguna Bisa Jadi Hadiah Natal Pada Masa Pandemi

Masker Wajah Volvo Batik Reusable hadir dalam tiga set, dengan dua pilihan ukuran yang tersedia sedang dan besar. Setiap set hadir dalam tiga variasi warna, yaitu dark blue (bunga matahari), navy blue (stargazer lily) dan sky blue (melati). Dengan harga eceran RM99 per set atau sekitar Rp346 ribu, masker wajah saat ini tersedia untuk dibeli di dealer Volvo Malaysia.

Siap-siap, Lowongan Kerja 60 Ribu Pilot Bakal Dibuka!

Di tengah hancurnya industri penerbangan akibat pandemi virus Corona, pilot di seluruh dunia banyak yang non job alias nganggur. Jangankan pilot baru, pilot senior nan berpengalaman sekalipun banyak yang tak terserap dunia kerja saat ini.

Baca juga: Kabar Baik dari Hasil Kajian Boeing: Industri Penerbangan Butuh 763.000 Pilot

Kendati demikian, melesatnya jumlah penumpang pada 2030 mendatang dipercaya membutuhkan sekitar 60 ribu pilot di seluruh dunia. Terdekat, pada 2025 mendatang, dunia setidaknya butuh 34 ribu pilot. Angka itu bisa saja meleset menjadi sekitar 50 ribu pilot. Karenanya, jangan lupa siapkan Complete Pilot Selection Handbook kalian ya.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 2018 silam pernah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037.

Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Diperkirakan, paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional. Itu artinya, kebutuhan pilot sebagaimana di tahun 2019 akan terulang dan kabar baiknya pilot-pilot yang ada belum mampu memenuhi itu.

Menurut studi terbaru oleh Geoff Murray dari Oliver Wyman, perusahaan konsultan manajemen terkemuka di Amerika Serikat (AS), sebelum mencapai 2024 pun, industri penerbangan, dalam hal ini maskapai, diprediksi sudah mulai kekurangan pilot mulai tahun 2023. Bila industri penerbangan bisa kembali pulih lebih cepat, itu artinya akhir tahun ini kebutuhan pilot maskapai sudah mulai melonjak.

Disebutkan, tingginya kebutuhan industri terhadap pilot terjadi berkat dua kondisi yang berlawanan. Di satu sisi industri penerbangan mulai kembali pulih. Di sisi lain, pilot-pilot senior yang sudah malang-melintang memutuskan pensiun dan tak kembali ke dunia penerbangan lagi. Diperkirakan, ada sekitar 25 – 35 ribu pilot yang mengambil jalan itu.

Karenanya, dengan kombinasi paling menguntungkan itu, akhir dekade ini dunia mengalami kekurangan sebanyak 60 ribu pilot.

Baca juga: Kabar Baik, Maskapai Buka Lowongan dan Butuh Banyak Pilot! Segini Jumlahnya

Sebelum itu terjadi, beberapa maskapai penerbangan sudah merencanakan program pilot training in-house. Diharapkan, ini akan membantu calon pilot untuk lolos sertifikasi.

Dari berbagai kondisi di atas, mulai dari banyaknya pilot senior yang tak lagi berminat terbang, melonjaknya jumlah penumpang, hilangnya beberapa hambatan, menurut sebagian pengamat, inilah saat yang tepat untuk terjun ke dunia penerbangan dan menjadi pilot andal.