Antartika Punya Penerbangan Domestik, Siapa Penumpangnya?

Terletak di bagian paling bawah bumi, Antartika adalah benua terbesar kelima dan jadi tempat terdingin di bumi. Karena cuacanya tidak ramah untuk dijadikan tempat tinggal serta populasi dan mobilitas yang tak sesibuk kota besar di seluruh dunia, hampir mustahil benua tersebut membutuhkan penerbangan domestik. Tetapi, fakta justru sebaliknya. Antartika mempunyai penerbangan domestik.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Benua beku Antartika di Kutub Selatan masih menyimpan misteri alam yang menunggu dieksplorasi. Antartika adalah satu-satunya tempat di Bumi yang tidak dimiliki siapapun atau negara manapun. Juga, tidak pernah memiliki sejarah dimiliki penduduk asli.

Berdasarkan perjanjian Antartika, tanah dan sumber daya yang ada hanya boleh digunakan untuk tujuan perdamaian dan ilmiah. Terdapat lebih 60 pusat sains di Antartika yang didirikan 27 negara. Salah satunya Norwegia.

Dilansir Simple Flying, Negara Nordik itu mengklaim Queen Maud Land berada di bawah otoritas mereka. Namun, glacial blue ice runway atau landasan pacu biru yang berada di wilayah tersebut tetap terbuka untuk umum, dalam hal ini tim peneliti dari seluruh dunia; di antaranya dari International Polar Foundation (IPF) yang berbasis di Brussels, Belgia, dimana mereka mengoperasikan Stasiun Penelitian Princess Elisabeth Antartika (PEARS) yang terletak di Utsteinen Nunatak, Queen Maud Land.

http://https://www.youtube.com/watch?v=VSvuyHnIzLc

Untuk mencapai PEARS, sudah pasti para peneliti dari IPF harus mendarat di glacial blue. Kebanyakan dari mereka ataupun tim peneliti serta wisatawan yang tiba di Antartika tiba di sana dengan menumpangi pesawat Ilyushin 76 TD-90 buatan Rusia yang dioperasikan oleh maskapai Antarctic Logistics Center International (ALCI).

Jadi, bagi Anda yang penasaran bagaimana cara ke Antartika dan sangat berminat untuk bisa ke sana, ALCI bisa mengantar Anda ke sana. Hanya saja biaya tidak disebutkan dengan detail.

Yang pasti, ALCI hanya melayani penerbangan internasional selama enam jam, dari Cape Town International Airport (CPT) di Afrika Selatan ke Pangkalan Udara Novolazarevskaya (Novo) di Antartika saat musim panas. Sebab, pada musim dingin, posisi Antartika menjauh dari matahari sehingga selalu diselimuti gelap dan suhu dingin ekstrem.

Mengingat benua ini cukup besar, mencapai 14,2 juta km persegi, jauh lebih luas dari Benua Australia sebesar 8,6 juta km persegi, sudah pasti banyak titik dijadikan lokasi penelitian. Karena perjalan via darat atau mungkin laut cukup ekstrem dan tidak efisien, alhasil, dibutuhkan penerbangan domestik dari bandara atau pangkalan udara Antartika ke titik-titik penelitian. Itulah alasan mengapa ada penerbangan domestik di Antartika.

Baca juga: Begini Foto Antartika Pertama pada 119 Tahun Lalu Lewat Balon Udara

Setibanya di Pangkalan Udara Novo milik Rusia, tim peneliti yang ingin ke PEARS akan diantar maskapai Kenn Borek Air yang berbasis di Calgary, Kanada, menggunakan pesawat Basler BT-67, sebuah pesawat berkapasitas 18 penumpang yang dinilai sangat mirip dengan Douglas DC-3, selama satu jam perjalanan dan mendarat di Troll Airfield (di bawah otoritas Norwegia) dekat PEARS. Pesawat ini digadang tangguh di segala kondisi, dari mulai wilayah terdingin sampai terpanas di bumi.

Sayangnya Troll Airfield tidak dilengkapi dengan Sistem Pendaratan Instrumen (ILS), sehingga pilot mengandalkan visual flight rules (VFR) untuk mendaratkan pesawat, selain tetap mengandalkan sejenis papan ski mengelilingi landing gear. Itu berarti, bila cuaca tidak bersahabat, mau tak mau penerbangan harus delay selama beberapa hari.

Aksi Awak Kabin Emirates Tuai Pujian, Selamatkan Nyawa Penumpang dalam Penerbangan

Rasanya pahlawan tanpa tanda jasa tak hanya bisa disematkan pada seorang guru, tetapi bagi para awak kabin pun sepertinya bisa. Pasalnya kisah mengharukan belum lama terjadi dalam sebuah penerbangan Emirates dari Dubai menuju Chennai di India.

Baca juga: Viral! Cerita Pramugari Tangani Penumpang Meninggal di Pesawat, Bikin Ngeri

Di mana ada empat orang awak kabin yang tak disebutkan namanya menyelamatkan nyawa seorang penumpang. Bahkan aksi heroik mereka diabadikan oleh penumpang lainnya dan membagikan ke platform jaringan online profesional LinkedIn.

KabarPenumpang.com melansir laman gulfnews.com (21/3/2021), Emirates mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada penerbangan EK 544 pada 19 Maret 2021. Dalam sebuah pernyataan, Emirates mengatakan “seorang penumpang merasa tidak sehat dan anggota awak kabin kami segera memberikan bantuan medis kepada penumpang dengan mengikuti protokol standar”.

Para awak kabin ini berhasil membantu penumpang itu pulih dan tiba di Chennai dengan kondisi sehat. Penumpang yang membagikan kejadian itu di LinkedIn bernama Naren Balasubramaniam yang juga berada di dalam pesawat dan menyaksikan aksi heroik para awak kapal di tengah pandemi Covid-19. Dalam postingannya dia mengatakan berbesar hati melihat kru menyelamatkan penumpang.

“Hari ini ketika saya melakukan perjalanan ke Chennai dengan berat hati karena kehilangan ayah saya karena Covid, saya sangat berbesar hati menyaksikan awak penerbangan menyelamatkan nyawa seorang penumpang yang jatuh pingsan di tengah penerbangan dan berhenti bernapas. Mereka luar biasa, tetap tenang, bergerak cepat, memiliki rantai komando yang jelas dengan empat anggota kru mengikuti protokol langkah demi langkah menyediakan dukungan oksigen, melakukan prosedur CPR di tengah penerbangan,” kata postingannya.

“Ini dia untuk pahlawan yang tidak disebutkan namanya, dua anggota kru yang sederhana dan rendah hati dari empat orang itu. TERIMA KASIH karena telah menyelamatkan nyawa!” Ia menambahkan, sembari membagikan foto dua awak tersebut.

Emirates mengatakan, semua awak kabinnya menjalani program pelatihan komprehensif yang mempersiapkan mereka untuk mengenali dan menangani peristiwa medis selama penerbangan.

“Kesehatan dan keselamatan pelanggan dan kru kami adalah yang paling penting bagi kami,” ujar maskapai itu.

Baca juga: Kala Virus Kolera Serang Ratusan Penumpang Pesawat Lewat Makanan dari Maskapai

Sementara itu, postingan Naren mengumpulkan ribuan suka dan ratusan komentar. Beberapa orang mengambil kesempatan untuk menyoroti bahwa awak kabin maskapai penerbangan sering kali menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dan merayakan kontribusi mereka sebagai pejuang garis depan selama pandemi.

Stop Proyek Kereta Cepat, Singapura Bangun Pusat Pengujian Kereta Terintegrasi

Pusat Pengujian Kereta Terintegrasi (ITTC) baru di Tuas, Singapura akan menjadi salah satu yang pertama di dunia. Nantinya ini dapat menguji berbagai kereta api dan sistemnya pada saat bersama tanpa mengganggu layanan penumpang reguler.

Baca juga: Mampir ke Singapura, Pecinta Kereta Api Jangan Lupa Telusuri Jalur Tersembunyi “The Lost Railway to Jurong”

Pembangunan ITTC dimulai pada Rabu, (17/3/2021) dan merupakan langkah lebih lanjut dalam memperkuat sistem MRT di Singapura. Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan pusat ini yang pertama di Asia Tenggara dan berada di atas lahan seluas 50 hektar bekas Raffles Country Club yang tadinya diakuisisi untuk proyek rel kecepatan tinggi Kuala Lumpur menuju ke Singapura yang dihentikan.

Pembangunan ini pertama kali diumumkan pada 2019 dengan tender senilai $639,5 juta untuk merancang dan membangun ITTC yang diberikan tahun lalu kepada perusahaan Korea Selatan GS Engineering. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (18/3/2021), Ong mengatakan, kapasitas pengujian kereta Singapura akan ditingkatkan beberapa kali dengan pusat khusus yang mereplikasi kondisi aktual di jalur operasional.

Pengujian dapat dilakukan sepanjang waktu, membebaskan jam teknis terbatas untuk pekerjaan pemeliharaan dan pembaruan lainnya. Ini berarti lebih sedikit ketidaknyamanan bagi komuter karena mengurangi kebutuhan untuk penutupan lebih awal dan pembukaan stasiun yang terlambat.

“Pengujian sekarang dilakukan di depo dan di jalur utama saat kereta tidak beroperasi, yang menambahkan hingga sangat sedikit jam di larut malam”, kata Ong.

Sementara itu, pengujian kereta baru membutuhkan waktu beberapa tahun karena perlu diuji dengan sistem persinyalan dan komunikasi masing-masing. Tes ini hanya bisa dilakukan di luar negeri. Dengan adanya ITTC, pengujian bisa dilakukan saat jalur MRT masih dibangun dan depo belum siap.

“Dengan melakukan tes di sini, kami lebih mampu memecahkan masalah, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah tumbuh gigi lebih awal untuk memastikan keandalan,” kata Ong.

ITTC diatur untuk diselesaikan dalam dua tahap yang mana fase pertama diharapkan siap pada akhir tahun depan, pada waktunya untuk menerima dua kereta Circle Line Stage 6 baru yang akan dikirim pada awal 2023. Ong mengatakan, pusat ini juga akan membantu membangun kemampuan teknik perkeretaapian lokal dengan memungkinkan para insinyur dari Land Transport Authority (LTA), operator kereta api dan pabrikan peralatan asli (OEM) untuk bekerja erat pada platform pengujian dan pemeliharaan umum.

Harapannya adalah bahwa ITTC akan mendorong lebih banyak OEM untuk mendirikan toko di sini, menghasilkan dukungan yang lebih tepat waktu dan hemat biaya. LTA mengatakan ITTC akan mendukung pengujian dan commissioning kereta api dan sistem kereta api untuk jalur kereta api baru dan yang sudah ada.

Baca juga: Wanita Nyentrik Bikin Penumpang Kereta dan Media Sosial Singapura Tertawa

Trek pada ITTC dirancang agar dapat mengakomodasi semua jenis sistem persinyalan dan komunikasi yang digunakan di seluruh jaringan MRT. Selain itu, pusatnya telah dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi energi. Separuh dari kebutuhan energinya akan dipenuhi oleh panel surya. Ini juga akan menggunakan lampu LED dan sistem chiller terpusat.

 

 

3 Kali Tersandung Tangga Pesawat, Joe Biden Kenapa Tidak Pakai Eskalator Seperti Raja Salman?

Tersandung tangga saat hendak naik ke pesawat mungkin hal biasa kebanyakan orang. Namun, tidak demikian bagi seorang Presiden Amerika Serikat Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Insiden Biden tersandung di tangga pesawat pun menjadi pembicaraan hangat avgeek dan bertanya-tanya, mengapa sekelas presiden negara adidaya tidak menggunakan eskalator agar tak bersusah payah naik tangga untuk masuk ke dalam pesawat?

Baca juga: Keanehan Dibalik Momen Trump Tumpangi Air Force One untuk Terakhir Kalinya

Dilansir Independent, Presiden AS, Joe Biden, hendak terbang menuju Atlanta, Georgia, guna mengunjungi lokasi penembakan yang menewaskan delapan orang etnis Korea, dan mencoba menenangkan masyarakat setempat yang resah atas tindak kekerasan rasial.

Namun, insiden kecil pun terjadi. Biden, yang sudah berusia 78 tahun kedapatan tersandung anak tangga. Bukan satu, tetapi sampai tiga kali. Kekhawatiran publlik atas kesehatan Presiden AS ke-46 pun muncul. Terlebih, Biden juga salah ucap dengan menyebut Wakil Presiden Kamala Harris sebagai “Presiden Harris”. Tetapi, hal itu (kekhawatiran terhadap kesehatan Biden) segera dibantah.

Menurut keterangan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, Biden dalam kondisi baik-baik saja. Selain itu, mantan wakil presiden di era Presiden Barrack Obama itu juga tidak mengalami cedera apapun.

Karine pun membeberkan, Joe Biden tersandung anak tangga saat hendak naik pesawat kepresidenan Air Force One bukan karena ada masalah pada kesehatan, melainkan karena kondisi saat itu sedang diterpa angin kencang.

“Saat itu kondisi angin sangat kencang. Saya sendiri juga hampir tersandung. Beliau (Biden) sehat seratus persen dan baik-baik saja,” jelasnya.

Belajar dari insiden itu, avgeek pun memberi solusi agar Air Force One dilengkapi dengan tangga otomatis atau eskalator. Sebab, andai ini dilakukan, hampir dipastikan kalau Joe Biden tidak akan pernah lagi tersandung anak tangga saat ingin naik pesawat.

Lagi pula, di usia yang tidak lagi muda, tidak ada salahnya bila Joe Biden menggunakan tangga eskalator. Terlebih, hasil jajak pendapat, warga AS banyak yang tidak percaya dengan kesehatan Biden.

Menurut hasil jajak pendapat yang digelar lembaga riset Rasmussen pada bulan ini, setengah dari penduduk AS tidak yakin Biden bisa melaksanakan tugas sebagai presiden ditinjau dari kondisi fisik dan mental.

Pada November 2020 lalu tulang kaki Biden retak saat bermain dengan anjing peliharaannya, Major. Alhasil dia harus mengenakan sepatu bot selama beberapa pekan.

Apabila Joe Biden nantinya menggunakan tangga otomatis atau eskalator untuk menaiki pesawat, tentu ia bukan pemimpin pertama di dunia.

Baca juga: Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Raja Salman tercatat pernah menggunakan eskalator saat menaiki pesawat. Pada, Rabu (1/3/2017), pesawat Boeing 747-400 Saudi Arabian berkelir krem dan putih yang membawa Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Raja yang ketika itu sudah menginjak usia 81 tahun itu turun dari pesawat menggunakan eskalator. Bahkan, ketika eskalator rusak pun ia menggunakan lift portable (hi lift catering truck) untuk turun dari pesawat alih-alih menggunakan tangga.

Total Loss Jadi Alasan Pesawat Kargo Trigana Air yang Tergelincir ‘Dipotong-potong’

Pesawat kargo Trigana Air Boeing 737-500 yang tergelincir hingga keluar landasan saat mendarat sekitar pukul 11.26 WIB, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu lalu, akhirnya dipotong-potong. Hal itu dilakukan untuk memudahkan proses evakuasi.

Baca juga: Otoritas Rusia Terpaksa ‘Mutilasi’ A321 Ural Airlines yang Lakukan Hard Landing di Ladang Jagung

Hanya saja, proses evakuasi tidak harus dengan cara dipotong-potong. Sebab, ketika dipotong menjadi empat bagian atau lebih, pesawat bisa dipastikan sudah tak lagi digunakan. Karenanya, alasan yang paling tepat untuk itu, menurut beberapa kalangan, adalah total loss.

Pesawat Trigana Air berisi dua pilot, satu teknisi, dan satu FOO (flight operation officer). Pesawat tergelincir setelah melakukan prosedur return to base (RTB) atau kembali ke bandara asal keberangkatan.

Executive General Manager Bandara Halim Perdanakusuma Marsma Pnb TNI Nandang Sukarna mengatakan, opsi RTB diambil usai kedua mesin pesawat mati atau mengalami kegagalan (engine failure) saat terbang menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Belum diketahui secara pasti penyebab kedua mesin pesawat mati.

Dalam kondisi melayang di udara dengan kondisi kedua mesin pesawat mati, Boeing 737-500 Trigana Air pun mendarat. Sayangnya, pendaratan gagal dan pesawat tergelincir ke area rerumputan sekitar runway.

Guna memudahkan evakuasi, pesawat pun dipotong-potong menjadi tiga bagian, terdiri dari depan, tengah, dan belakang. Tetapi, bila melihat secara jeli, sebetulnya alasan pesawat dipotong-potong untuk memudahkan proses evakuasi tidak sepenuhnya benar. Boleh jadi, alasan di balik itu adalah pesawat mengalami apa yang disebut sebagai total loss.

Disarikan dari artikel Aircraft Physical Damage karya Thomas H. Chappell, total loss adalah kondisi dimana pesawat mengalami kerusakan -karena kecelakaan atau hal lain- dan membuat nilai pesawat menjadi turun jauh di atas biaya yang bisa dicover pihak asuransi.

Menurut sumber lain -masih dalam tulisan tersebut- total loss merupakan kondisi dimana tingkat kerusakan pesawat cukup parah dan biaya perbaikannya 70 persen lebih tinggi dari budget reparasi yang diberikan pihak asuransi yaitu hanya sebesar 30 persen dari harga perkiraan perbaikan.

Bila dirinci dari bagian-bagian kerusakan yang dimaksud, sebetulnya itu masih cukup relatif. Sebab, total loss bukan bergantung pada seberapa besar kerusakan pada pesawat, tetapi lebih pada total polis yang bisa didapat atas kerusakan pesawat tersebut dari pihak asuransi.

Baca juga: Koper Bekas Badan Pesawat Boeing 747 Dijual Rp38 Juta! Berminat? Cuma Ada 150 di Dunia

Andai saja user atau pemilik pesawat bisa menyepakati definisi total loss menjadi kondisi dimana nilai perbaikan atas kerusakan pesawat minimal bisa mencapai 70 atau bahkan 80 persen, maka, pesawat bisa saja tidak dipotong-potong karena akan diperbaiki sampai bisa beroperasi kembali. Sebab, dengan dipotong-potong, pesawat sudah hampir pasti tidak akan kembali beroperasi.

Sesudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, biasanya pesawat akan tetap diperjualbelikan di pasar pesawat bekas. Tentu, harganya jauh lebih murah dari biasanya. Pesawat-pesawat bekas itu nantinya bisa disulap menjadi beberapa hal, seperti furniture, restoran, penginapan, dan lain sebagainya.

Gegara Puntung Rokok di Toilet, Satu Gerbong Kereta di India Terbakar

Kereta Shatabdi Express yang dalam perjalanan dari New Delhi ke Dehradun di India mengalami kebakaran di salah satu gerbongnya. Dalam toilet gerbong S5 ini ditemukan adanya puntung rokok atau bidi yang dibuang ke tempat sampah yang juga diisi dengan kertas tisu.

Baca juga: Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Dilansir KabarPenumpang.com dari indianexpress.com (20/3/2021), ternyata puntung rokok yang ditutupi tisu tersebut tidak mati. Salah seorang penumpang yang terkena dampak memberikan pernyataan tertulis yang mengatakan bahwa alarm detektor asap berbunyi di gerbong ketika api mulai menyala.

Insiden ini terjadi pada 13 Maret kemarin di dekat Raiwala di Uttarakhand. Hal ini kemudian membuat empat petugas menyelidikinya dan menemukan api berasal dari sisi toilet melalui inspeksi visual.

”Interiornya benar-benar terbakar.… Api mulai dari… WC sisi kiri, kerusakan maksimum ditemukan di lokasi yang sama. Cat bagian wc benar-benar terbakar sedangkan di tempat lain kerusakan lebih sedikit. Juga terlihat lantai toilet retak karena intensitas panas yang tinggi,” kata laporan itu.

Adanya insiden ini kemudian membuat Indian Railway mengatakan akan menindak bila ditemukan penumpang yang merokok di dalam kereta api. Mereka juga mempertimbangkan hukuman berat hingga penangkapan karena merusak properti umum.

“Kami sedang mempertimbangkan hukuman berat. Dalam beberapa kasus, bahkan penangkapan dapat dilakukan karena menyebabkan kerusakan pada properti kereta api umum dan mempertaruhkan nyawa orang lain untuk mencegah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan sesat,” kata seorang perwira senior.

Bagian 167 dari Railways Act menetapkan bahwa siapa pun yang ditemukan merokok di dalam kompartemen meskipun ada larangan atau keberatan dari rekan penumpang dapat dikenakan denda hingga Rs100. Menteri Perkeretaapian Piyush Goyal dalam pertemuan dengan anggota Dewan Kereta Api dan manajer umum zona meminta mereka untuk mengambil langkah proaktif untuk membuat penumpang peka terhadap merokok di kereta dan juga mendesak agar penumpang yang melakukan kesalahan harus dicegah dari menimbulkan risiko bagi orang lain dengan merokok di kereta.

Baca juga: Kereta di Rumania Terbakar, Diduga Akibat Korsleting

“Kereta api akan memberantas rokok di kereta api. Kebakaran kemungkinan besar dimulai di salah satu toilet dan penyelidikan awal mengungkapkan bahwa kebakaran itu kemungkinan besar disebabkan oleh mendidihnya roko /beedi yang dibuang ke tempat sampah. Aliran udara terus menerus dalam gerakan cepat kereta api akan mengipasi itu.

Mulai Hari Ini, Garuda Indonesia Kembali Operasikan Pesawat Wide Body untuk Rute Jakarta-Denpasar

Akibat pandemi Covid-19 berdampak pada penurunan tajam pada frekuensi dan kapasitas penerbangan, tak terkecuali dampak tersebut dirasakan pada rute gemuk Jakarta-Denpasar. Lantaran imbas menurunnya jumlah penumpang, maka sejak beberapa lama Garuda Indonesia hanya mengoperasikan pesawat jenis narrow body untuk melayani rute Jakarta-Denpasar-Jakarta. Namun, ada perubahan positif pada 22 Maret 2021.

Baca juga: Jadi Penumpang Business Class di Boeing 777 Garuda Indonesia, Inilah yang Anda Nikmati

Sebagai upaya untuk memberikan keyamanan lebih bagi para penumpang serta guna mengoptimalkan kapasitas isian penumpang, maskapai penerbangan Garuda Indonesia mulai Senin (22/3) mengoperasikan pesawat berbadan lebar (wide body) pada rute Jakarta–Denpasar–Jakarta.

Beberapa pesawat wide body tersebut diantaranya adalah Boeing 777-300ER yang berkapasitas 314 penumpang (triple class) dan 393 penumpang (dual class), Airbus A330-200 berkapasitas 222 penumpang, A330-300 berkapasitas 287 penumpang serta Airbus A330-900Neo dengan kapasitas 301 penumpang.

Adapun sebelumnya, rute penerbangan Jakarta-Denpasar-Jakarta sebagian besar dilayani dengan armada Boeing 737-800NG dengan kapasitas 162 penumpang pada setiap penerbangannya. Dalam pesan tertulis, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa pengoperasian pesawat berbadan lebar (wide body) pada layanan penerbangan Jakarta – Denpasar – Jakarta tersebut merupakan upaya Garuda Indonesia untuk terus memaksimalkan aksesibilitas masyarakat pada sektor penerbangan Jakarta – Denpasar – Jakarta yang merupakan salah satu rute penerbangan dengan trafik frekuensi penerbangan tertinggi di Indonesia.

Selain Itu, langkah tersebut juga merupakan bagian dari upaya strategis Perusahaan dalam memperkuat segmen pasar penerbangan Garuda Indonesia ke Bali yang merupakan salah satu pintu gerbang pariwisata nasional. “Langkah optimalisasi isian penumpang tersebut tentunya senantiasa kami selaraskan dengan komitmen penerapan physical distancing selama penerbangan yang menjadi fokus utama value layanan penerbangan Garuda Indonesia di masa adaptasi kebiasaan baru ini”, papar Irfan.

Baca juga: Inisiatif Respon Virus Corona Bersama Maskapai Lain, Dirut Garuda: Jangan-jangan Solusi Malah Memakan Salah Satu

Adapun saat ini Garuda Indonesia melayani sekitar 56 kali penerbangan untuk rute Jakarta-Denpasar pp setiap minggunya dari total 104 penerbangan yang dilayani Garuda Indonesia dari dan menuju Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar.

Tak Lagi di Gulf Air, Pramugari Ini Buka Toko Kelontong di Kenya

Seorang pramugari Gulf Air kini membuka toko kelontong di Kenya, Afrika dan mengubah jalur kariernya ketika pandemi Covid-19. Susan Wamaitha bisa dikatakan menjadi salah satu dari mereka yang mengubah kehidupan penerbangannya dengan membuka toko kelontong dan kembali dekat dengan keluarga.

Baca juga: 14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis

“Saya telah menyaksikan keajaiban, melihat yang terbaik, menghadapi yang terburuk, melewati rasa sakit, dan merasakan luka di kulit saya. Saya telah melihat tanaman tumbuh dari retakan. Saya telah merasakan seperti apa rasanya diinjak dan apa arti muncul dari balik awan,” kata Susan yang dikutip KabarPenumpang.com dari aerotime.aero.

Susan Wamaitha mantan pramugari Gulf Air (aerotime.aero)

Dia mengatakan, bila tidak ada pandemi, dirinya tidak akan punya cukup waktu untuk memulai bisnisnya sendiri. Selama lima tahun ketika dia bekersa sebagai pramugari Gulf Air, Susan hampir tidak punya waktu bahkan untuk keluarganya. Susan ketika masih bekerja di Gulf Air milik negara Bahrin merupakan pramugari kelas bisnis.

“Saya sudah menikah dan saya memiliki seorang putra. Mereka berdua tinggal di Kenya. Sebelum pandemi kami biasa bertemu setiap bulan. Ketika Kenya dan Bahrain diisolasi dari Maret hingga Juli 2020, kami tidak dapat bertemu satu sama lain. Semuanya tertutup, kami merasa seperti tawanan. Itu tidak mudah,” jelas Susan.

Dia mengatakan penerbangan terakhirnya ke London pada bulan Maret 2020 dan ketika kembali ke Bahrain mereka tinggal lebih dari tujuh jam menunggu hasil tes Covid-19. Susan mengaku, dirinya tidak tahu bahwa hal itu adalah penerbangan terakhirnya.

“Maskapai tempat saya terbang tidak segera memecat kami. Kontrak saya berlaku hingga Juli 2020, jadi perusahaan menahan saya. Saya tidak terbang tetapi Gulf Air membayar kami setengah gaji, dan itu tidak masalah,” ungkapnya.

Susan dengan jelas mengingat momen ketika dia dibuat berlebihan. Dia berkata bahwa dia telah berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan di maskapai penerbangan dan setelah menerima berita yang mengecewakan, dia mengalami pergolakan emosional.

Saat pandemi Covid-19 dia berusaha mempersiapkan diri secara psikologis dan mental untuk cuti. Namun Susan mengaku, dirinya tak bisa melakukan hal itu dan bukan waktu yang tepat untuk pergi sebab hal ini mengejutkan.

“Kami biasanya membawa lebih dari 300 orang dalam penerbangan dan tiba-tiba kami hanya membawa 50 penumpang. Itu merupakan kerugian besar bagi perusahaan. Orang-orang takut untuk terbang karena kemungkinan jatuh sakit atau terkunci di luar negeri,” tambahnya.

Setelah meninggalkan maskapai, Susan kembali ke Kenya di mana dia akhirnya bisa bertemu keluarganya. Pramugari memutuskan untuk mencurahkan emosinya pada seni, menangkap semua suka duka hidupnya ke dalam sebuah buku. Meskipun tidak memiliki pengalaman sebelumnya dalam manajemen bisnis atau bisnis itu sendiri, didorong oleh temannya dan mencari stabilitas keuangan, Susan memutuskan untuk mencoba sendiri dan mendirikan toko kelontong kecil di kampung halamannya.

“Saya menghargai pekerjaan baru saya karena sama seperti bekerja untuk maskapai penerbangan, saya bertemu orang yang berbeda setiap hari. Saya juga menjalankan peternakan unggas kecil, jadi saya bisa mengatakan saya adalah orang yang berpikiran bisnis sekarang,” kata dia.

Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit

Diberdayakan untuk membangun kembali karier dan hidupnya, Susan mengatakan bahwa dia memiliki beberapa nasihat untuk anggota keluarga penerbangan lainnya yang juga telah melalui pengalaman yang mengubah hidup.

Inilah SE200, Pesawat Widebody Super Irit dengan Enam Sayap, Penantang Serius Airbus-Boeing?

Perusahaan startup asal Alabama, Amerika Serikat (AS), SE Aeronautics, belum lama ini memperkenalkan pesawat super irit alias ramah lingkungan, SE200, singkatan dari super efficient. Berbekal desain unik dengan enam sayap, pesawat widebody yang mampu mengangkut 264 penumpang itu diklaim mampu menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 70 persen dan menurunkan emisi CO2 atau karbon dioksida hingga 80 persen.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Dilansir Simple Flying, dengan tingkat efisiensi tinggi dan biaya operasional jauh lebih rendah dari pesawat lain, SE200 memang menjanjikan keuntungan berlipat bagi maskapai di setiap penerbangan. Hal itu juga didukung dengan tingkat keselamatan tinggi serta masa pakai pesawat yang lebih lama dari pesawat komersial yang ada saat ini.

Di samping itu, pesawat juga tak menggunakan banyak baut. Hal itu dimungkinkan berkat desain monocoque yang berarti mencetak satu bagian komposit secara utuh. Selain mengurangi metal fatigue, itu juga membuat penumpang lebih aman.

“Teknologi inovatif dan desain pesawat baru kami akan menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 70 persen dan menurunkan emisi CO2 hingga 80 persen yang diukur dengan per kilometer kursi. Desain inovatif yang dimaksud adalah konfigurasi sayap tri-ringan yang lebih efisien yang sangat meningkatkan gaya angkat selama drag, menghasilkan kemampuan lepas landas dan pendaratan singkat (STOL) dan penerbangan yang sangat panjang,” kata Chief Engineer SE Aeronautics, Lloyd Weaver.

Desain enam sayap atau tiga pasang sayap, ditambah mesin super efisien diklaim mampu menurunkan emisi C02 hingga 80 persen. Foto: SE Aeronautics

“Konstruksinya semuanya berbahan komposit, dicetak dalam satu bagian yang kuat dan lebih aman. Selain itu pesawat juga super tipis, sayap panjang, dan lebih ramping dari mulai bagian hidung pesawat hingga ekor. Kami melakukan semuanya,” tambahnya.

Desain pesawat widebody SE200 juga meletakkan tangki bensin di tempat yang berbeda dengan pesawat yang ada saat ini. Sebagai gantinya, tangki bahan bakar diletakkan di atas badan pesawat yang bertujuan untuk membuat pesawat lebih lama mengambang saat melakukan ditching atau pendaratan di atas air.

Saat ini SE200 masih menunggu paten. Tak disebutkan dengan jelas kapan target pesawat ini rampung. Foto: SE Aeronautics

SE200 buatan SE Aeronautics ini nantinya akan menggunakan dua mesin super efisien yang terletak di bagian belakang dengan daya dorong 64.000 lbf. Melengkapi itu, perusahaan berencana menyisipkan kargo dengan desain state of the art bulk container system untuk memaksimalkan load serta berat lepas landas atau maximum takeoff weight sebesar 170,000 lb.

Dari segi kapasitas kabin, SE200 didesain sebagai widebody dengan muatan 264 penumpang. Selain itu, pesawat juga mampu menjangkau sejauh 17 ribu km dalam muatan penuh, setara dengan Airbus A350ULR. Luar biasa, bukan?

Baca juga: Mau Gusur Airbus dan Boeing, Perusahaan Amerika Bikin Pesawat Listrik untuk Kurangi Pemanasan Global

Dengan berbagai keunggulan di atas, CEO SE Aeronautics, Tyler Mathews, yakin SE200 menjadi akan alternatif pilihan favorit di tengah duopoli Airbus-Boeing yang dinilai berteknologi usang.

“Pesawat ini akan menjadi solusi paling praktis, menguntungkan, dan permanen untuk teknologi pesawat yang berkinerja buruk saat ini. Efisiensi produksi kami akan memungkinkan kami untuk memproduksi pesawat kami dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada metode tradisional saat ini. Namun permata di mahkota adalah kemampuan kami untuk menurunkan tingkat konsumsi bahan bakar hingga 70 persen. Kami akan merevolusi industri,” tegasnya.

Lakukan Pelecehan Seksual, Pengemudi Grab Dipenjara dan Dikeluarkan dari Platform

Seorang pengemudi Grab di Singapura melakukan pelecehan seksual pada seorang penumpangnya. Pengemudi pria ini berumur 69 tahun dan karena perbuatanya tersebut, dia dipenjara selama satu minggu dan mengakui perbuatannya di pengadilan.

Baca juga: Tangkal Pelecehan Seksual, Taksi dan Ojek Perempuan Bisa Jadi Solusi

Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (12/3/2021), insiden pelecehan seksual ini sejatinya sudah lama terjadi, yaitu pada September 2018 sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Di pengadilan, dia mengatakan saat itu korban seorang wanita berusia 38 tahun melakukan pemesanan GrabShare melalui ponselnya dengan perjalanan dari East Coast Park ke Blok 896A, Tampines Street 81.

Dalam penggunaan GrabShare hanya perempuan itu dan tidak ada penumpang lain. Hashim mengatakan, penumpang wanita itu duduk di kursi belakang sebelah kiri saat dirinya mengemudi. Kemudian ketika perjalanan menyusuri Pan Island Expressway menuju Bandara Changi, dia mengulurkan tangan kiri ke arah kursi penumpang belakang dan mengelus pergelangan kaki kanan korban.

Jaksa penuntut mengatakan, setelah itu Hashim berbalik dan menatap kaki korban. Dia juga meletakkan tangan kirinya di antara pergelangan kaki korban dan menggunakan telapak tangannya membelai betis bagian dalam dengan gerakan ke atas beberapa kaki serta bergerak dari pergelangan kaki ke lutut.

Korban dikejutkan dengan tindakan Hasyim dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Kemudian Hashim menarik tangannya dan meminta maaf. Karena merasa dilecehkan, korban mengajukan laporan polisi keesokan harinya. Penuntut meminta hukuman penjara singkat, mengacu pada keputusan pedoman kasus lain, mencatat bahwa pelanggaran dilakukan di dalam kendaraan sewaan pribadi dan ada kontak kulit-ke-kulit.

Saat dipengadilan, keluarga Hashim ikut dalam persidangan. Bila ada penganiayaan dia bisa dipenjara hingga dua tahun, didenda, dicambuk, atau diberikan kombinasi hukuman ini. Karena tidak ada, maka penuntut hanya ingin Hashim dihukum singkat. Adanya permasalahan ini, seorang juru bicara Grab mengatakan pada hari Sabtu bahwa Hashim telah dilarang dari platformnya.

Baca juga: Antisipasi Tindakan Negatif, Kota Cambridge Pasang CCTV di Taksi Online

“Keamanan pengguna kami penting bagi kami dan kami sama sekali tidak menoleransi perilaku tidak senonoh, pelecehan, atau penyalahgunaan dalam bentuk apa pun. Pengguna yang menampilkan perilaku tidak senonoh akan dilarang dari platform,” kata perusahaan itu.