Produksi Pesawat Supersonic Setara Concorde, Virgin Galactic Gandeng Rolls Royce Hingga NASA

Virgin Galactic dikabarkan bakal memproduksi pesawat supersonic. Perusahaan milik Sir Richard Branson, konglomerat asal Inggris yang juga pemililk maskapai Virgin Atlantic dan Virgin Australia itu, telah mendapat dukungan teknologi dari Rolls Royce (berkenaan dengan mesin) dan NASA (berkaitan dengan desain pesawat supersonic).

Baca juga: Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Dukungan tersebut cukup penting mengingat kedua pabrikan sudah cukup berpengalaman. Pabrikan asal Inggris itu (Rolls Royce) sudah berpengalaman dalam membuat mesin pesawat supersonic pada pesawat legendaris Concorde. Begitu juga dengan NASA yang sudah sangat teruji berkenaan dengan aerodinamika pesawat dari pengalaman penelitian umum luar angkasa jangka panjang.

Meski masih bekerjasama dengan pabrikan mesin pesawat Concorde, pesawat supersonic Virgin Galactic disebut bakal melebihi kemampuan Concorde, yang notabene hanya mampu melesat maksimum Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam), yakni mencapai Mach 3 (3.704 kilometer per jam) atau sama dengan tiga kali kecepatan suara dengan dilengkapi desain sayap delta (delta wing aircraft).

Dengan kecepatan tersebut, Virgin Galactic disebut akan terbang di ketinggian 60 ribu kaki atau lebih dari 18 kiometer dengan mengangkut penumpang sebanyak sembilan hingga 19 penumpang. Pesawat ini nantinya akan fokus pada perjalanan bisnis saja, tidak untuk penerbangan wisata ataupun penerbangan komersial lainnya.

Mengingat pesawat ini terbang dengan kecepatan supersonic, beberapa pengamat menilai, tak akan banyak layanan selama dalam penerbangan sebagaimana penerbangan komersial di masa lalu.

Sampai berita ini ditulis, belum ada ketarangan lanjutan rute manakah yang akan dijajaki pesawat tersebut, entah mengikuti rute Concorde, melayani penumpang secara reguler dari Bandara Heathrow London dan Bandara Charles de Gaulle Paris ke Bandara John F Kennedy New York, Bandara Internasional Washington Dulles, dan Bandara Internasional Grantley Adams di Barbados, atau rute lain yang lebih favorit.

Demikian juga dengan harga tiket serta konfigurasi kelas di setiap penerbangan, apakah akan dijual seluruhnya dalam kelas bisnis, konfigurasi dua, atau bahkan tiga kelas?

Simple Flying mengabarkan, saat ini, proposal pesawat supersonic Virgin Galactic sudah masuk ke meja Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat untuk menjadwalkan uji sertifikasi pesawat sesegera mungkin.

Kerinduan masyarakat dunia akan pesawat supersonic rasanya masih cukup besar. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari saham Virgin Galactic yang tercatat naik empat persen lebih di bursa saham Amerika Serikat dari sebelumnya hanya berada di angka $22.45 per saham.

Baca juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Sejalan dengan fakta tersebut, salah seorang analis Wall Street menyebut pesawat supersonic dapat merusak pasar pesawat komersial. Namun, untuk membuktikan hal itu, tentu harus bersabar. Sebab, pada akhirnya, harga dan rute-lah yang akan menetukan dampak signifikan atas kehadiran pesawat supersonic Virgin Galactic.

Bila harganya tak semahal Concorde kala itu berkisar (Rp23 juta atau setara Rp140 juta lebih saat ini), pesawat mungkin bisa saja dipenuhi penumpang di setiap penerbangan. Demikian pula sebaliknya.

Ongkos Taksi Rp180 Ribu Dibayar Pakai Koin?

Bayar ongkos angkutan umum dengan koin? Ini bisa saja terjadi ketika naik bus yang masih menggunakan kondektur seperti di Indonesia. Namun bagaimana jika ini terjadi pada seorang pengemudi taksi dan menerima empat paket koin setelah mengantar penumpang dari Orchard menuju ke Bukit Batok?.

Baca juga: Parkir Lima Menit di Bandara Bristol, Wanita Ini Harus Bayar Rp2,9 Juta dengan Koin!

Kejadian unik ini terjadi pada 30 Juli 2020 kemarin, di mana seorang pengemudi taksi bermarga Zaffre menjemput seorang penumpang muda dari Orchard dengan tujuan ke Bukit Batok. Dalam perjalanan tersebut, tidak terlihat tanda-tanda gadis ini akan membayar secara tunai atau kartu.

(mothership.s)

KabarPenumpang.com melansir dari laman mothership.sg (3/8/2020), ternyata ketika tiba di tujuan, gadis tersebut membayar dengan uang tunai sebebesar S$17,20 atau sekitar Rp180 ribu. Namun bukan uang lembaran yang diterima Zaffre melainkan empat bungkusan kertas yang di staples.

Awalnya gadis tersebut memberikan satu koin 20 sen kemudian diikuti empat paket kertas berisi koin yang di depannya di tulis jumlah nominal. Zaffre kemudian bertanya kepada gadis tersebut kenapa membayar ongkos dengan seperti ini. Kemudian gadis itu hanya mengatakan hanya itu yang dia miliki.

Karena berupa uang koin, Zaffre awalnya jengkel dan enggan untuk menerima uang tersebut selain itu juga tak bisa langsung menghitungnya saat itu. Meski begitu, gadis tersebut memintanya untuk percaya bahwa dalam empat paket tersebut jumlahnya tepat.

Hingga akhirnya Zaffre mengambilnya dan berpikir bahwa gadis tersebut telah mengambil uang dari celengan serta memutuskan untuk digunakan membayar taksi tanpa ragu. Ketika tiba di rumah, pengemudi taksi tersebut berhasil menghitung koin yang tak sempat saat usai mengantar.

Dia membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk menghitung koin-koin dalam empat paket bersama putri dan menantunya. Untungnya koin dalam empat paket tersebut jumlahnya pas seperti yang diyakini sang gadis meski dua dari lima sen koinnya adalah mata uang Cina dan Hong Kong.

Baca juga: [Video] Lagi dan Lagi, Aksi Lempar Koin di Pesawat Bikin Penerbangan Delay

Insiden unik ini kemudian di unggah oleh Liyanah, putri dari Zaffre ke akun Facebooknya dengan mengatakan, ada banyak koin lima dan sepuluh sen di dalam paket. Liyanah menambahkan, meskipun ayahnya kesal, dia memuji gadis itu karena jujur dan menambahkan humor dalam kehidupan mereka.

Dassault Mercure, Sang Penantang Boeing 737 dan Airbus A320 yang Terjegal Krisis Minyak

Bicara soal dunia penerbangan Perancis pasti mau tak mau akan melibatkan Airbus. Padahal, jauh sebelum Airbus berdiri, pabrikan pesawat lainnya asal Perancis, Dassault Aviation, sudah lebih dahulu ada dan menjadi salah satu wakil Eropa untuk menjegal produsen pesawat asal Negeri Paman Sam Amerika Serikat, seperti Boeing dan McDonnell Douglas.

Baca juga: Intip Prosedur Cabin Cleaning Pesawat Ala GMF Cegah Covid-19 di Pesawat

Didirikan pada tahun 1929, pabrikan pesawat yang berbasis di Paris ini fokus memproduksi pesawat di berbagai kategori, mulai dari militer, jet regional, jet bisnis, hingga pesawat jet. Khusus pesawat sipil, di samping Dassault Falcon 20, Dassault Aviation juga punya pesawat andalan lainnya yang dinilai bakal laris di pasaran. Pesawat itu adalah Dassault Mercure.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Dassault Mercure merupakan pesawat jet sayap rendah (low wing) bermesin kembar. Meskipun baru diproduksi massal pada tahun 1973, namun, usulan untuk membuat pesawat seperti itu sudah dimulai pada tahun 1967. Kala itu, pendiri Dassault Aviation, Marcel Dassault, dan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Prancis (DGAC) melihat belum ada pesawat yang khusus melayani penerbangan regional point-to-point atau low distance.

Setelah dilakukan kajian serta dengan dukungan dari banyak pihak, Dassault Mercure akhirnya mulai mengudara untuk pertama kalinya pada 28 May 1971. Melihat perkembangan Dassault Mercure, pabrikan pun sesumbar bahwa pesawat andalannya itu akan menjadi pengganti McDonnell Douglas DC-9.

Selain itu, pabrikan juga mengklaim Dassault Mercure akan menjadi kompetitor sepadan Boeing 737 versi awal yang saat itu sedang menikmati masa kejayaannya karena minim pesaing, mengingat Airbus, lewat narrowbody andalannya, A320, baru lahir pada 1988.

Selang beberapa waktu setelah penerbangan perdana, Dassault Aviation mengaku banyak dapat pesan positif dari maskapai. Namun, pada akhirnya, hanya satu maskapai -itupun maskapai dalam negeri- Air Inter yang memesan Dassault Mercure. Air Inter pada akhirnya juga menjadi satu-satunya maskapai yang mengoperasikan pesawat.

Krisis minyak tahun 1970-an serta devaluasi dolar disebut sebagai biang keladi sepinya peminat yang pada akhirnya menyeret Dassault Mercure sebagai salah satu pesawat komersial dengan penjualan terburuk di dunia, yakni hanya sebanyak 12 unit selama kurang lebih 24 tahun. Tak ayal, dengan kondisi tersebut, pabrikan pun menyetop produksi Dassault Mercure pada 1975 hingga akhirnya resmi pensiun pada 29 April 1995.

Sebelum menyetop produksi, pada tahun 1973, Marcel Dassault, terlebih dahulu meminta timnya untuk membuat versi baru Dassault Mercure, Mercure 200C, dengan menggandeng sejumlah pihak, dalam dan luar negeri. Hal itu dimaksudkan untuk membalas kekecewaan atas kegagalan Dassault Mercure 100.

Baca juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Dilihat dari kemampuan, sebetulnya pesawat gagal Dassault Mercure cukup mentereng. Dibekali mesin Pratt & Whitney JT8D-15 turbofans, pesawat dengan panjang 34,84 meter, tinggi 11,35 meter, serta bentang sayap 30,55 meter ini mampu mengangkut sebanyak 150 penumpang, dengan tiga kru; pilot, co-pilot, dan flight engineer. Maklum, waktu itu, regulator penerbangan dunia rata-rata belum menerapkan aturan Two-Men Cockpit yang dicanangkang Direktur Utama Garuda Indonesia Wiweko Soepono.

Selain itu, kecepatan maksimum pesawat juga tergolong tinggi, mencapai 925 km per jam. Hanya saja, dari segi daya jelajah yang hanya mencapai 1.756 km serta ketinggian maksimum di ketinggian 12.000 meter, Dassault Mercure masih berada di bawah level Boeing 737 apalagi Airbus A320.

Selaraskan Layanan, Mulai Tahun Depan Singapore Airlines Garap Rute Silk Air

Mulai tahun depan, maskapai terbaik dunia tahun lalu versi SkyTrax, Singapore Airlines (SIA), dikabarkan mulai menggarap rute-rute Silk Air, yang notabene adalah anak perusahaan Singapore Airlines. Hal itu merupakan bagian dari skema merger Silk Air dengan SIA dalam waktu dekat.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Menurut CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, strategi ini berdampak sangat signifikan bagi konsumen. Mereka bisa merasakan produk dan layanan yang selaras, baik di penerbangan jarak pendek, medium, atau jarak jauh.

Hal itu dikarenakan SIA telah berinvestasi lebih dari 100 juta dollar AS untuk program penyesuaian produk dan layanan, seperti kursi rebah (flatbed) yang baru di kelas bisnis, pemasangan sistem in-flight entertainment (IFE) di semua kursi, serta meningkatkan penggunaan pengalaman penumpang dengan kursi Vantage Thompson Aero dari semula kursi conventional recliners (traditional recliners) atau akrab juga disebut kursi malas.

Dengan begitu, penumpang dapat tetap merasakan kualitas premium khas Singapore Airlines sekalipun dalam rute-rute pendek (regional) menggunakan Boeing 737-NG. Selama ini, SIA memang dikenal fokus pada penerbangan menengah dan jarak jauh dengan pesawat-pesawat widebody andalan, seperti Airbus A380, Airbus A350, Boeing 777, Boeing 787-10 Dreamliner.

Hanya saja, untuk fasilitas flatbed dan IFE, penumpang masih harus bersabar karena harus mengikuti perkembangan industri penerbangan ke depan, mengingat saat ini, kursi kelas bisnis belum banyak diminati karena berbagai faktor, mulai dari perekonomian dunia yang tengah loyo, rendahnya perjalanan bisnis akibat tren baru meeting via daring, hingga kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi Covid-19 yang masih terus menghantui.

Di samping itu, pasokan logistik yang masih tersendat akibat perlambatan ekonomi global juga turut andil.

Dari segi iklim bisnis perusahaan, dengan adanya merger ini, SIA akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan pandemi Covid-19 untuk tetap terus bertahan di industri penerbangan global.

Selain itu, juru bicara maskapai mengatakan penggabungan atau integrasi SilkAir-SIA dapat “memberikan skala ekonomi yang lebih besar untuk SIA Group, dan memungkinkannya untuk mengoperasikan pesawat yang tepat untuk memenuhi permintaan perjalanan udara saat waktunya tiba,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari executivetraveller.com.

Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Penguatan keuangan perusahaan memang penting dilakukan anak (Silk Air) dan induk perusahaan (SIA) mengingat keduanya sama-sama mencetak hasil minus di kuartal II 2020. Dalam sebuah pernyataan, Singapore Airlines mengaku rugi sebesar $1 miliar, cukup besar dibanding Silk Air yang hanya terkoreksi 0,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, Silk Air mengoperasikan 11 pesawat Airbus A320, 22 Boeing 737-800 dan 737 MAX 8. Saat ini Silk Air juga sedang dalam masa transisi, menjadi seluruhnya pesawat tipe 737. Silk Air diketahui memiliki 49 destinasi penerbangan di 16 negara.

Mengulang 45 Tahun Lalu, Dua Astronaut NASA Mendarat di Laut dengan Kapsul SpaceX

Proyek SpaceX dan NASA berhasil mengulang sejarah 45 tahun yang lalu. Kepastian itu didapat usai dua astronaut, Doug Hurley dan Bob Behnken, mendarat di lepas pantai Pensacola, Teluk Meksiko, Minggu (02/08) pukul 14.48, waktu setempat.

Baca juga: Penumpang Justru Senang Pesawat Delay 2 Jam Gegara Apollo 11 Kembali Ke Bumi

Mereka adalah bagian dari misi luar angkasa komersial pertama ke Stasiun Luar Angkasa Internasional yang kembali ke Bumi sejak misi luar angkasa terakhir Apollo dilakukan pada 1975 atau 45 tahun lalu. Seperti diketahui, sejak era pesawat ulang-alik, astronot NASA tidak lagi pulang ke Bumi dengan kapsul. Lewat proyek SpaceX ini seolah mengulang kembali metode pendaratan dengan kapsul, khususnya mendarat di laut.

Hurley dan Behnken tiba di ISS (International Space Station) menggunakan kapsul Crew Dragon milik SpaceX pada 31 Mei 2020. Setelah dua bulan menjalan misi, keduanya juga harus menyelesaikan salah satu aspek yang paling menantang dari misi, yakni meninggalkan stasiun ruang angkasa.

Mengutip dari BBC Internasional, keduanya menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kapsul untuk mencapai Bumi. Kapsul itu terjun payung melalui atmosfer Bumi dan mendarat di perairan dekat pantai Florida, AS.

Guna mengurangi efek benturan saat mendarat, kapsul dilengkapi dengan parasut. Parasut kemudian memperlambat laju kapsul dari sekitar 560 km per jam menjadi sekitar 24 km per jam saat pendaratan.

Meskipun berhasil kembali ke bumi dengan selamat, NASA mengungkap bahwa tempat pendaratan awal bukan di lepas pantai Pensacola, melainkan di lepas pantai Kota Panama, Florida. Prosedur pendaratan memang menjadi tatangan lain sekaligus rintangan terakhir dari misi yang dinamai Demo-2 dan menjadi tes akhir untuk sistem kru komersial SpaceX.

Sejak awal, NASA menekankan misi yang dijalani Behnken dan Hurley adalah uji terbang. Sehingga, pekerjaan utama para astronaut adalah memeriksa setiap aspek kendaraan dan memastikan siap untuk digunakan secara teratur oleh anggota kru di masa yang akan datang.

Keberhasilan SpaceX dan NASA dengan kembalinya dua astronaut mereka dari misi luar angkasa berawak, telah memulai era baru bagi badan antariksa Amerika. Di masa depan, semua kebutuhan transportasi manusia ke luar Bumi akan dibeli dari perusahaan swasta, seperti SpaceX; termasuk juga Boeing yang sebetulnya sudah membuat kapsul Starliner sekalipun masih bermasalah, serta Virgin Galactic by Virgin Group.

Badan pemerintah mengatakan mengontrak penyedia layanan dengan cara ini akan menghemat miliaran dolar. Uang sebanyak itu dapat dialihkan untuk mengirimkan astronaut ke Bulan dan Mars.

Administrator NASA, Jim Bridenstine, memuji upaya semua pihak yang terlibat dalam misi Hurley dan Behnken. Tak lupa, ia juga menyinggung soal perubahan filosofi lembaga tempatnya bernaung.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

“Kami tidak ingin membeli, memiliki, dan mengoperasikan perangkat keras seperti dulu,” katanya.

“Kami ingin menjadi salah satu pelanggan dari banyak pelanggan di pasar komersial yang sangat kuat di orbit Bumi. Tetapi kami juga ingin memiliki banyak penyedia yang bersaing satu sama lain dalam hal biaya dan inovasi dan keselamatan, dan benar-benar menciptakan siklus pengembangan ekonomi dan kemampuan ini,” tutupnya.

Perang Siber Iran Vs Israel! Kereta Bawah Tanah Israel Jadi Korban, Iran: Ini Baru Permulaan

Iran mungkin tak sekuat Cina saat menantang negara lain. Namun, Negeri Syiah itu tak bisa dianggap sebelah mata. Berbekal kekuatan nuklir yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia, negara tersebut terus kukuh mempertahankan kepentingan geopolitiknya di Timur Tengah dan akan menerjang siapapun yang menghadang; tak terkecuali Israel.

Baca juga: Marak Kejahatan Cyber, Startup dari Israel Kembangkan Sistem Keamanan Untuk Kereta Api

Belum lama ini, serangan siber Iran lewat tim yang menamakan diri sebagai Cyber Avengers ini dikabarkan berhasil membuat jaringan kereta bawah tanah Israel kacau balau. Serangan yang berlangsung sejak 14 Juli lalu itu menyasar sekitar 150 server industri perkeretaapian dan berdampak langsung terhadap operasional 28 stasiun di Yerusalem, Universitas Tel Aviv, dan Ben Gurion. Serangan tersebut kemudian berakhir pada 24 Juli atau setelah 10 hari berturut-turut.

Lebih dari enam hari pasca serangan siber Iran terhadap Israel dihentikan, otoritas setempat menyebut stasiun masih belum bisa beroperasi. Disebutkan, 28 stasiun itu mengalami kerusakan parah di berbagai peralatan dan infrastruktur.

Sebagaimana biasa, serangan siber umumnya memiliki pesan; Cyber Avengers Iran pun demikian. Mereka mengaku, serangan itu sebagai sebuah sinyal darurat Israel bahwa mereka bisa saja merencanakan tabrakan puluhan kereta jika sewaktu-waktu mereka menginginkannya.

Dalam sebuah pernyataan dirilis via Telegram yang terkait dengan pengawal revolusioner Iran (IRGC), serangan Iran terhadap Israel dilakukan pada pukul 1.20 waktu setempat, mengikuti waktu serangan terhadap komandan militer Iran, Jenderal Qassem Soleimani pada awal Januari lalu.

Hussain Estahdadi, jurnalis Iran dan analis perang siber, dalam sebuah posting di Twitter mengatakan Israel telah “menggertak tentang kemampuan keamanan sibernya selama dekade terakhir. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari hanya akan ada satu serangan siber pada sistem kereta api mereka,” tulisnya, sebagaimana dikutip dari middleeastmonitor.com.

Sekalipun sudah berhasil membuat jaringan kereta bawah tanah Israel kelabakan, kelompok tersebut memperingatkan bahwa ini bukanlah akhir. Masih ada beberapa rencana serangan cyber lainnya yang lebih besar.

Serangan siber Iran terhadap Israel bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kelompok yang sama -Cyber Avengers- awal bulan Juli lalu juga pernah menyerang instalasi listrik nasional Israel. Akibatnya, Negeri Zionis itu mengalami pemadaman listrik besar-besaran.

Di Bulan April lalu, serangan siber tak kalah dahsyat dan tergolong canggih juga menimpa Israel. Kala itu sejumlah pabrik pengolahan air limbah, stasiun pompa, dan unit air limbah di Israel menjadi sasarannya. Serangan-serangan itu, menurut para pakar siber, dilakukan dengan meretas perangkat lunak komputer pompa air setelah melakukan routing melalui server untuk menyembunyikan sumber serangan.

Iran tentu tak luput dari serangan siber. Bulan Mei lalu, salah satu pelabuhan tersibuk di Iran sempat kalap saat mendapat serangan siber dari peretas asing. Akibatnya, aktivitas pereknomian sempat terganggu selama beberapa hari.

Baca juga: Airbus Duga Cina Jadi Dalang di Balik Insiden Serangan Cyber

Awal Juli lalu, sebuah serangan misterius berhasil menghantam fasilitas nuklir Natanz, menyebabkan kerusakan signifikan pada situs yang bejarak sekitar 300 km dari Teheran. Beberapa hari kemudian, ledakan menewaskan dua orang di zona industri di ibu kota.

Badan Keamanan Nasional mengaku sudah mengetahui dalang dibalik serangan itu. Namun, mereka menolak mengumumkan ke publik atas dasar keamanan. Meski demikian, banyak pihak menduga bahwa Israel bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Dassault Falcon 20 – Sosok Jet Pribadi Unik di Halaman Depan Kantor GMF AeroAsia

Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia mungkin masyhur dikenal atas kepemilikan fasilitas perawatan pesawat kategori narrow body terbesar di dunia dengan kemampuan memuat 16 pesawat sekaligus. Bahkan, fasilitas bernama Hanggar 4 yang diresmikan pada tahun 2015 itu diproyeksikan untuk mendukung target GMF menjadi pemain global di industri MRO (maintenance, repair, and overhaul).

Baca juga: Hemat Devisa, GMF dan Lion Air Group Bangun Delapan Hanggar Perbaikan di Bandara Hang Nadim

Namun, dalam kunjungan kami ke fasilitas GMF AeroAsia di Bandara Soekarno-Hatta pada 30 Juli 2020, bukan hanya Hanggar 4 yang menarik perhatian, melainkan ada sosok yang menarik di area halaman depan kantor pusat anak perusahaan Garuda Indonesia tersebut. Dengan balutan livery biru -putih, yang dimaksud adalah pesawat jet pribadi Dassault Falcon 20.

Dari data planelogger.com, pesawat dengan nomor registrasi PK-CIR itu diketahui terakhir dimiliki oleh private owner sejak tahun 1996 silam. Namun, beberapa situs sejenis satu pun tak ada yang memuat informasi detail kepemilikan pesawat, termasuk keberadaannya di GMF AeroAsia.

Yang jelas, sejak pertama kali diproduksi pada 1967, pesawat yang mencatat penerbangan pertama pada 1963 itu tercatat sudah empat kali berpindah tangan dengan latar belakang operator yang berbeda-beda, mulai dari Royal Australian Air Force (militer), L King (sipil), hingga Christmas Island Resort (sipil/non maskapai penerbangan).

Secara umum, Dassault Falcon 20 bisa dibilang tak memiliki identitas yang jelas antara pesawat sipil dengan militer. Sebab, di kedua sektor tersebut, pesawat pertama dari keluarga jet bisnis yang diproduksi Dassault Aviation ini nyaris sama banyak. Data menunjukkan, dari 28 negara pengguna, 12 di antaranya dioperasikan oleh militer.

Namun, terlepas dari itu, spesifikasi Falcon 20 di militer dan sipil tak banyak mengalami perbedaan; begitu pula dari segi nama. Sebab, tak jarang, sekalipun dari jenis yang sama, beberapa pesawat cenderung memiliki perbedaan dari segi spesifikasi dan nama, salah satunya McDonnell Douglas Dakota DC-3.

Dibekali sepasang mesin turbofan General Electric CF700 yang berada di bagian belakang, Dassault Falcon 20 mampu mengangkut penumpang sebanyak 14 orang ditambah dua kru. Pesawat yang memiliki panjang 17.15 m, bentang sayap 16.30 m, dan tinggi 5.32 m ini digadang mampu melaju dengan kecepatan maksimum 862 km per jam, serta daya jelajah sejauh 3,350 km.

Pesawat dengan berat maksimum saat lepas landas (MTOW) sebesar 13.000 kg ini juga memiliki ketinggian terbang maksimum yang cukup lumayan, mencapai 12.800 m, melebihi maximum altitude Boeing 737 versi awal yang hanya mampu terbang di ketinggian 12.400 meter.

Selama puluhan tahun mengudara, Dassault Falcon 20 pernah mencatat tinta emas di sektor dirgantara internasional dengan menjadi jet sipil pertama yang terbang menggunakan biofuel 100 persen. Prestasi itu bukan hanya membuat keberadaan pesawat jadi makin spesial, melainkan sebagai sebuah penghilang rasa pilu akibat kecelakaan tragis yang dialami pesawat jet bisnis sayap rendah (low wing) ini.

Baca juga: Warning Buat AS-Eropa, Pabrikan Cina COMAC ARJ21 Lulus Uji Terbang di Bandara Tertinggi di Dunia

Tak lama setelah lepas landas, Dassault Falcon 20 dilaporkan menghisap beberapa kawanan burung ke dalam mesin hingga akhirnya memutus saluran bahan bakar dan menyebabkan mesin tersebut rusak.

Kebakaran di dekat bagian belakang kabin pun tak terhindarkan dan pilot kehilangan kendali ketika berusaha melakukan pendaratan darurat. Akibatnya, 10 penumpang tewas. Insiden yang terjadi pada tahun 1995 itu pun menyeret Dassault Falcon 20 untuk masuk dalam daftar lima kecelakaan penerbangan akibat bird strike terburuk di dunia.

Covid Curry dan Mask Naan, Menu Makanan India Khas Pandemi Virus Corona

Setelah kehadiran kue corona dan Corona Sandeh yang dibuat oleh toko manis Kolkata, di salah satu restoran India tepatnya di Jodhpur juga menghadirkan makanan unik bertemakan virus corona baru atau Covid-19 ini. Vedic Multi cuise, restoran ini menghadirkan hidangan Covid Curry dan Mask Naan. Mereka mengatakan tidak bercanda dengan menghadirkan dua menu baru ini.

Baca juga: Air India Hadirkan Makanan Khusus Rendah Lemak Bagi Pilot dan Pramugari

Covid Curry adalah makanan yang sangat mirip dengan kari mali kofta, namun punya satu-satunya perbedaan yakni memiliki mahkota runcing yang bentuknya menyerupai Covid-19 seperti yang diungkapkan oleh para ilmuwan. Sedangkan Mask Naan adalah mentega naan klasik yang dibentuk seperti masker wajah.

Untuk kombo vegetarian ini harga yang dibanderol sekitar Rs260 atau sekitar Rp50 ribu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman menafn.com (2/8/2020), pemilik restoran Anil Kumar mengatakan, mereka menghadirkan dua menu ini untuk membawa bisnis kembali ke jalurnya.

“Kami pikir kami harus menciptakan sesuatu yang menarik yang akan membangkitkan minat dan membuat orang penasaran, yang akan membuat mereka kembali ke restoran,” kata Kumar.

Dia mengatakan, para pekerja di restorannya mengikuti semua protokol kesehatan dan keamanan untuk pencegahan Covid-19 termasuk kebersihan yang layak dan jarak sosial. Kumar mengatakan, kehadiran menu baru ini, membuat mereka menerima umpan balik positif dan melihat adanya peningkatan pemesanan sejak diluncurkannya dalam menu,

Tak hanya menarik di dunia nyata, dua menu dari Vedic ini bahkan menawarkan ke eksentrikannya di dunia maya. Vedic, dalam posting mereka, mengatakan bahwa tujuan memperkenalkan dua hidangan khusus adalah untuk menyebarkan kesadaran tentang coronavirus novel.

“Atasi rasa takut korona dengan penemuan pertama di dunia dalam korona pandemi. Covid Curry disajikan dengan Mask Naan. Kami sangat bangga menjadi penemu pertama di dunia dari konsep unik ini. Moto di balik hidangan ini adalah untuk membawa kesadaran tentang #corona,” Vedic mengatakan dalam judul tulisan mereka.

Kemudian warganet pun memberikan komentar-komentar lucu tentang dua hidangan baru ini.

“Apakah kita harus menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk menikmati hidangan ini?” komentar seorang warganet.

Baca juga: Demi Hindari Covid-19, Wanita Skotlandia Cuci Semua Makanan Berbahan Plastik

Sementara itu, ternyata, Vedic bukanlah yang pertama kali menghadirkan menu dengan menggunakan nama dari Covid-19 yang kini tengah menjadi pandemi. Sebab sebuah restoran di Madurai telah menarik perhatian netizen setelah menciptakan parottas berbentuk masker dan Corona dosa.

Warning Buat AS-Eropa, Pabrikan Cina COMAC ARJ21 Lulus Uji Terbang di Bandara Tertinggi di Dunia

Pesawat made in China atau buatan Cina, COMAC ARJ21, dikabarkan berhasil melewati uji terbang di bandara sipil tertinggi di dunia, Daocheng Yading Airport, yang berada di ketinggian 4.411 meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Berada di Atas Awan, Daocheng Yading Jadi Bandara Tertinggi di Dunia!

Capaian tersebut tentu tidak diraih dengan mudah, mengingat bandara yang terletak di provinsi Sichuan, barat daya Cina ini, tergolong sulit dilalui; mulai dari udara tipis, medan yang sulit, hingga cuaca yang kerap berubah-ubah dengan cepat.

Dilansir aerotime.aero, uji terbang mencakup tes lepas landas dan pendaratan seharian penuh selama kurang lebih dua pekan. Pasca menjalani berhasil menjalani proses pengujian dengan baik, pesawat dikirim balik ke Shanghai untuk dilakukan pengecekan.

Setelah uji terbang ini, praktis, pesawat yang digadang-gadang dapat merusak pasar Boeing, Airbus, ATR, Embraer, atau bahkan Bombardier ini akan bisa melahap penerbangan komersial di rute-rute ekstrem seperti Bandara Daocheng Yading. Tentu saja hal ini menjadi sebuah keuntungan sekaligus daya tarik terbesar maskapai untuk mengoperasikan pesawat dikarenakan Cina banyak memiliki wilayah-wilayah dengan ketinggian ekstrem.

Uji terbang di ketinggian ekstrem ini merupakan yang pertama sejak tiga tahun terakhir setelah terakhir dilaksanakan pada tahun 2017 lalu. Kala itu, COMAC ARJ21 berhasil melahap uji terbang di Bandara Huatugou, melengkapi uji terbang di tahun 2013 yang dilaksanakan di Bandara Golmund di Cina Barat.

Pesawat Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) ARJ21 belakangan memang sangat familiar di rute-rute regional Cina. Akhir Juni lalu, tiga maskapai penerbangan terbesar di Cina, Air China, China Eastern, dan China Southern dikabarkan telah menerima pesawat ARJ21-700. Pesawat ini diproyeksikan bakal jadi andalan baru maskapai tersebut dalam melayani penerbangan regional point-to-point, khususnya di Cina daratan.

Dikutip dari Reuters, ketiga maskapai tersebut masing-masing juga akan mendapat tambahan satu pesawat lagi dari di akhir tahun. Pengiriman dijawalkan akan terus berlangsung hingga 2024 mendatang dengan total target pengiriman sebanyak 35 pesawat. Namun, tak dijelaskan lebih rinci distribusi pesawat berkapasitas 90 kursi ini ke ketiga maskapai tersebut.

Baca juga: Tiga Maskapai Terbesar Cina Terima Pesawat ARJ21 Besutan Pesaing Terberat Boeing dan Airbus

Di akhir Mei lalu, menurut laporan Global Times, COMAC juga telah mengirimkan 25 jet regional ARJ21-700 ke tiga maskapai Cina, yaitu dari Chengdu Airlines, Tianjiao Airlines, dan Jiangxi Airlines. Ketiga maskapai itu bahkan telah membuka 50 rute ke 50 kota dan menyelesaikan lebih dari 830.000 penerbangan penumpang.

ARJ21-700 sendiri merupakan pesawat pertama buatan COMAC. Teknologinya memang disebut banyak menyadur pesawat-pesawat yang sudah ada. Meski demikian, pesawat yang sudah empat tahun mengudara ini tetap laris di Cina.

Pertama Kali India Lakukan Perpisahan Pensiunan Staf Kereta Api Secara Virtual

Biasanya perpisahan para pensiunan dengan karyawan yang masih bekerja akan dilakukan secara tatap muka di kantor. Namun bagaimana di masa pandemi Covid-19 ini? Apakah hal tersebut bisa dilakukan atau ada cara lainnya? Sepertinya untuk dilakukan secara tatap muka tidak akan mungkin terjadi.

Baca juga: Mirip di Bandara, Dua Stasiun Kereta di India Dilengkapi Sensor Thermal Canggih

Seperti India yang mengadakan perpisahan virtual dengan para pensiunan pekerja kereta api. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman livemint.com (2/8/2020), Kementerian Perkeretaapian India, melakukan perpisahan dengan para pensiunan melalui virtual pada 31 Juli 2020 kemarin. Hal ini juga menjadi pertama kalinya di mana Menteri perkeretaapian berinteraksi dengan 2320 staf di seluruh jaringan kereta api India.

Meski secara virtual, acara pelepasan pensiunan kereta api tersebut dihadiri Menteri Perkeretaapian India Piyush Goyal, Menteri Bagian Kereta api Suresh C Agandi, Sekertaris Dewan Kereta Api Sushant Kumar Mushra dan pejabat senior kereta api lainnya. Dalam perpisahan virtual, Goyal memuji para pensiunan karena layanan khusus mereka dan kontribusi berharga untuk kereta api India.

Selain itu, dia mengatakan, bahwa para pensiunan terus melakukan tidakan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan semakin memperkaya proses pembangunan bangsa.

“Ini adalah hari kebahagiaan dan kesedihan. Ini adalah kesempatan yang menyenangkan karena para karyawan telah lama bekerja di berbagai bidang, kapasitas dan tanggung jawab. Kontribusi Anda untuk kereta api dan menjadikannya lebih baik serta peran yang di mainkan dalam menyiapkan segalanya untuk masa depan harus diingat,” ungap Goyal.

Dia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kereta api telah menunjukkan peningkatan dalam gaya kerja mereka. Goyal mengatakan, dalam fase Covid-19, kereta barang, kereta parcel, kereta khusus Shramik dipindahkan. Kereta api telah melakukan upaya terbaik untuk melayani bangsa selama pandemi dan karyawan kereta api tidak kurang dari prajurit Corona. Saya ingin memuji staf untuk menempatkan yang terbaik upaya selama perang melawan Covid-19.

“Pensiun ini adalah stasiun perantara dalam perjalanan hidup seseorang, setengah dari perjalanan selanjutnya bisa menarik jika seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik bagi negara dan menjadi pemimpin transformasi. Jika kita meluangkan waktu dari hidup kita dan memanfaatkan pengalaman kita dari hidup kita untuk melayani bangsa, masa depan negara kita bisa menjadi cerah. Kita dapat mendorong generasi berikutnya dengan cara yang lebih baik dan meninggalkan negara yang lebih baik untuk mereka,” katanya.

Dia mendesak para pensiunan untuk terus melakukan tindakan kecil yang dapat membawa perubahan nyata dalam masyarakat seperti panen air hujan, produksi kotoran dari limbah basah, memikirkan cara-cara inovatif untuk meningkatkan produksi panen petani. Goyal juga menyarankan bahwa semua petugas atau staf yang pensiun dari Kereta Api memiliki pengalaman luas bekerja di sektor Pemerintah.

Mereka selanjutnya dapat memberi informasi dan mendidik masyarakat awam tentang kebijakan dan program Pemerintah India sehingga rakyat jelata dapat memperoleh manfaat dan menjadi mandiri. Ini mungkin salah satu kontribusi besar untuk membuat hidup mereka lebih baik. Goyal memuji para pensiunan pada tanggal 31 Juli 2020 atas kontribusi mereka yang berharga dan berharap mereka memiliki kehidupan yang baik di masa depan.

Baca juga: Pertama Kalinya Jaringan Kereta India Berhenti Operasi Dalam 167 Tahun

“Senang sekali bisa bersama kalian semua. Kereta api dan negara tidak akan pernah bisa melupakan layanan yang diberikan oleh staf Kereta Api tanpa lelah. Saran Anda selalu disambut untuk memotivasi staf muda. Saya berharap kepada Tuhan untuk memberikan kekuatan dan kebaikan. Seorang Trainmen selalu seorang Trainmen,” ujar Agandi.

Kedepannya perpisahan virtual dengan para pensiunan ini akan dilakukan setiap bulan dalam format yang sudah ditentukan