Dapat Suntikan Rp8,5 Triliun, Garuda Tak Jadi Terancam Bangkrut?

Garuda Indonesia akhirnya akan mendapat dana talangan modal kerja BUMN (bridging loan) sebesar Rp8,5 triliun dari pemerintah. Sekalipun mekanisme dan penggunaanya belum dijelaskan secara rinci, namun beberapa kalangan menilai, dana tersebut akan digunakan sebagai modal operasional dan membayar utang.

Baca juga: Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut

Terkait penggunaan dana talangan untuk membayar utang, kepastiannya masih akan diperoleh setelah hasil final permintaan restrukturisasi dengan para para pemegang sukuk keluar, mengingat saat ini prosesnya masih berjalan dan pada 3 Juni 2020 adalah tenggat terakhir Garuda membayar kewajiban berupa sukuk global senilai US$500 juta atau setara Rp7,5 triliun (kurs Rp15.000/US$).

Bila negosiasi gagal dan Garuda Indonesia mau tak mau harus membayar kewajiban utang, praktis, perusahaan dengan kode GIAA di bursa saham itu hanya memiliki dana sisa sebesar Rp1 triliun untuk menghadapi ketidakpastian masa depan penerbangan global terkait virus Cina.

Meskipun angka tersebut (Rp1 triliun atau Rp8,5 triliun) masih lebih besar dibandingkan dana talangan modal kerja beberapa BUMN lainnya, seperti Perumnas sebesar Rp650 miliar, KAI sebanyak Rp3,5 triliun, PTPN senilai Rp4 triliun, dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebanyak Rp3 triliun, namun, bila dibandingkan dengan dana talangan modal kerja di negara lain untuk maskapai nasional mereka, Rp8,5 triliun masih tergolong kecil. Apalagi kalau dana tersebut harus dipotong untuk membayar utang.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Air Canada, misalnya, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih. Angka tersebut pun dikabarkan belum final dan masih akan ada suntikan modal lainnya seiring perkembangan industri penerbangan global.

American Airlines Group akhir Maret lalu dikabarkan telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kucuran dana sebesar US$12 miliar atau Rp196 triliun sebagai bagian dari paket pinjaman dan hibah dari pemerintah AS sebesar $58 miliar atau Rp949 triliun untuk maskapai penerbangan. Adapun Qantas, disebut hanya akan mendapatkan dana sebesar $636,1 juta atau sebesar Rp10 triliun (kurs Rp16.009).

Begitu juga dengan Singapore Airlines, yang mendapat suntikan modal dari Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya sebesar S$19 miliar atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292) ke maskapai flag carrier Singapura tersebut. Suntikan tersebut pun digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus corona. Terbukti, hingga saat ini, belum ada suntikan modal ke maskapai manapun yang berhasil melebihinya.

Alasan negara atau investor menyuntikkan modal ke maskapai nasional mereka tentu bukan tanpa alasan. Pada akhir Februari lalu, IATA telah berasumsi, jika corona sama dengan wabah SARS beberapa tahun lalu, maka, proses recovery sampai akhirnya benar-benar pulih kembali bisa mencapai 9 bulan. Faktanya, dengan banyak sumber menyebut bahwa wabah corona jauh lebih buruk dibanding SARS atau resesi global tahun 2008 lalu. Itu berarti, proses recovery bisa lebih dari 9 bulan.

Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!

Airport Council International (ACI) World memprediksi bahwa dibutuhkan setidaknya 18 bulan untuk kembali ke kondisi normal layaknya sebelum pandemi Covid-19 menyerang. Senada dengan ACI, Changi Airport Group (CAG) sendiri selaku operator Bandara Changi juga telah bersiap dengan kemungkinan proses recovery hingga 18 bulan. Air Canada lebih ekstrem lagi. CEO flag carrier Kanada itu, Calin Rovinescu memperkirakan butuh setidaknya tiga tahun untuk mencapai posisi seperti sebelum wabah virus corona merebak.

Dengan berbagai fakta di atas, menarik ditunggu, mampukah Garuda Indonesia bertahan dengan kemampuan finansial seadanya plus kondisi industri penerbangan global dan domestik yang tak kunjung stabil akibat pandemi corona?

Kepulauan Canary Wajibkan Penumpang Bawa Paspor Kesehatan Digital Bebas Corona

Kepulauan Canary di Spanyol dilaporkan akan mengujicoba penerbangan pertama di dunia yang mewajibkan penumpang membawa paspor kesehatan digital. Paspor jenis baru tersebut digunakan sebagai legitimasi bahwa seorang penumpang tidak sedang terpapar corona. Rencananya paspor kesehatan corona itu akan mulai diujicoba untuk pertama kalinya di dunia, di Kepulauan Canary pada bulan Juli mendatang.

Baca juga: Pasca Covid-19, Proses Perjalanan Udara Butuh Empat Jam Sebelum Terbang!

Kebijakan tersebut adalah inisiatif dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO). UNWTO sejauh ini telah memilih pulau-pulau mana saja yang akan melakukan uji coba kebijakan itu. Jika paspor bebas virus corona tersebut berhasil menekan angka penyebaran Covid-19, tidak menutup kemungkinan UNWTO akan mendorong destinasi lainnya di seluruh dunia untuk menerapkan kebijakan paspor digital bebas virus corona.

Meski begitu, UNWTO belum menyebut dari manakah penerbangan tersebut akan dilakukan. Sebagaimana umum diketahui, Kepulauan Canary memiliki tujuh pulau yang kesemuanya menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara. Namun, Pulau Tenerife di Kepulauan Canary disebut-sebut sebagai titik keberangkatan uji coba penerbangan tersebut.

Hal itu tak lepas dari infrastruktur dan tawaran pariwisata yang menjadikannya sebagai destinasi favorit di banding enam pulau lainnya di Kepulauan Canary. Pulau ini memiliki Gunung Teide, yakni puncak tertinggi di Spanyol, dan resor pantai populer Los Gigantes sebagai daya tarik. Setiap tahunnya, wisatawan ramai mendatangi berbagai spot menarik di sana, seperti Taman Loro untuk melihat burung tropis, Taman Primata Kebun Binatang Tenerife, dan rangkaian gunung berapi Parque Nacional Las Canadas del Teide.

Direktur Jenderal WTO, Zurab Pololikashvili, mengatakan bahwa langkah tersebut dilakukan agar penumpang dapat bepergian dengan mudah dan nyaman. Selain itu, ia mengatakan bahwa maskapai penerbangan perlu melakukan antisipasi keselamatan penumpang selama penerbangan.

Pololikashvili juga mengatakan bahwa paspor kesehatan digital yang dibuat oleh perusahaan Kanada Hi + Card ini akan memberikan rasa nyaman kepada penumpang pesawat. Sehingga, mereka tidak perlu khawatir tertular virus corona selama penerbangan.

Co-Founder Hi + Card, Antonio Lopez de Avila, menjelaskan, nantinya setiap penumpang pesawat yang sedang dalam penerbangan akan membawa profil kesehatan digital yang tersimpan di aplikasi smartphone mereka. Profil kesehatan tersebut berisikan data entitas kesehatan yang diakreditasi oleh Kementerian Kesehatan.

Baca juga: Usai Diterjang Badai Pasir Berkecepatan 120 Km Per Jam, Bandara di Kepulauan Canary Kembali Dibuka

“Hal ini dapat mencegah adanya manipulasi atau profil palsu catatan medis seseorang,” jelas Avila, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk.

Yaiza Castilla, Menteri Pariwisata Kepulauan Canary menuturkan bahwa langkah tersebut akan menjadi dorongan dalam industri pariwisata Canary yang turun drastis akibat pandemi virus corona. Selain Kepulauan Canary, Yunani dan Thailand juga berencana untuk menggunakan paspor kesehatan digital bebas corona bagi semua wisatawan internasional.

Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online

Sejumlah negara menerapkan lockdown atau penguncian dan menutup diri agar tidak ada yang bisa masuk atau keluar saat pandemi tengah berlangsung. Ini kemudian membuat dunia transportasi udara dan pariwisata pun anjlok bahkan tak sedikit maskapai yang sudah merumahkan, bahkan sampai mem-PHK para karyawannya.

Baca juga: Akibat Covid-19, Pilot Sampai Banting Setir Jadi Masinis

Dilansir KabarPenumpang.com dari citynews.ca (30/4/2020), kemudian banyak pertanyaan muncul bagaimana nasib mereka yang terkena PHK? Di Selandia Baru, banyak pilot yang di PHK dan mulai mencoba pekerjaan baru dengan melamar menjadi masinis kereta komuter.

Lalu bagaimana di negara lainnya? Ternyata seorang pilot jet di Thailand harus mengambil jalan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pilot ini tak lagi memakai seragam kebesarannya ketika menerbangkan pesawat melainkan menanggalkanya dan menggunakan jaket serta mengemudikan sepeda motor.

Pilot tersebut bernama Kritee Youngfuengmont yang sudah sejak sekitar satu bulan lalu tak lagi menerbangkan pesawat komersial dan beralih mengendarai motor untuk mengantar makanan, dokumen dan lainnya.

Kritee mengaku, dirinya saat ini tengah dalam kesulitan dan membuatnya harus memilih berjuang agar keluar dari masalah atau menyerah pada keadaan. Untungnya pria berusia 36 tahun ini memilih berjuang keluar dari masalah meski bekerja sebagai pengemudi ojek online atau ojol.

Dia mengaku memang tidak glamor seperti jadi pilot, apalagi saat ini tempatnya bekerja memotong penghasilannya sebesar 50 persen padahal dirinya masih memiliki cicilan yang tak kenal virus corona.

“Hidup ini tidak bisa diprediksi. Yang tak terduga bisa terjadi kapan saja. Anda bisa menikmati saat-saat yang menyenangkan dan tiba-tiba, Anda berantakan. Ketika itu terjadi, kamu harus mencari tahu apakah kamu akan menyerah, atau bertarung dan menemukan sesuatu untuk dijadikan pegangan saat kamu mencari jalan keluar,” ungkapnya.

Selama menjalani profesi sebagai pengemudi ojol, setiap hari dia mendapatkan 1500 baht atau lebih kurang Rp700 ribu. Jumlah tersebut bisa membuatnya bertahan setidaknya sampai pandemi berakhir. Dia mengaku, uang penghasilan dari jasa kurir yang ia sediakan pun mampu menutupi pengeluarannya untuk sementara waktu.

Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window

Maskapai penerbangan tempat Kritee bekerja Thai Airways International mulai memangkas gaji pada akhir Maret 2020 untuk mengatasi benturan finansial dampak samping pandemi corona.

Iklan Pakaian Dalam dengan Model Pramugari Mendapat Kecaman

Seorang pramugari maskapai penerbangan kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang. Hal ini karena mereka dianggap melakukan pekerjaan pelayan di dalam kabin. Bahkan mereka juga sering dilihat sebagai pembangkit hawa nafsu kaum pria karena seragam ketat yang digunakannya.

Baca juga: [18+] Hampir Separuh Pramugari di Jerman Pernah Alami Pelecehan Seksual!

Meski begitu sebenarnya ada standar seberapa ketat pakaian pramugari yang bertugas dalam kabin. Baru-baru ini seorang pramugari mengecam label pakaian dalam karena kampanye iklan menampilkan model-model berpakaian seperti pramugari dan menjilati seorang wanita yang mengenakan pakaian dalam.

(dailymail.co.uk)

KabarPenumpang.com melansir laman dailymail.co.uk (6/5/2020), pramugari tersebut bernama Amanda dan mengecam label pakaian dalam Honey Birdette. Amanda menulis postingan blog untuk situs feminis Collective Shout bahwa gambar-gambar itu membuat para pramugari menjadi sasaran. Dia mengklaim telah ada sejarah panjang pramugari yang melakukan seksualitas dengan kampanye iklan Honey Birdette.

“Maskapai penerbangan diketahui memiliki batasan tinggi badan, berat badan, dan usia untuk awak pesawat dan telah mewajibkan standar seragam yang ketat untuk pramugari wanita, termasuk persyaratan untuk mengenakan sepatu hak tinggi,” tulisnya.

Amanda mengatakan kampanye itu membuatnya merasa ‘objektif’, sebab tidak memberdayakan atau membangkitkan semangat, tetapi hanya memperkuat stereotip negatif dan sikap negatif terhadap perempuan di industri penerbangan.

“Itu membuat pekerjaan saya lebih sulit. Saya terkejut bahwa merek seperti Honey Birdette yang target pasarnya adalah wanita dan akan mempromosikan pakaian mereka sedemikian rupa sehingga merendahkan wanita,” ungkapnya.

“Jujur iklannya sepertinya mereka sudah merekam video Pornhub yang mahal. Ini mengecewakan,” tambahnya.

Collective Shout juga memposting ke Facebook mengatakan merek terus ‘mengobjektifikasi, merendahkan dan melemahkan perempuan’.

“Apakah Honey Birdette pada suatu saat mempertimbangkan bagaimana penggambaran seksis mereka terhadap awak kabin perempuan sebagai fantasi bertema porno dapat membahayakan para perempuan ini? Apakah mereka peduli? ” tulis Collective Shout.

Pendiri Honey Birdette Eloise Monaghan mengatakan kepada Courier Mail Collective Shout, “(Mereka) akan memutarbalikkan apa pun untuk memajukan agenda para wanita progresif Australia,” katanya.

Baca juga: Selain Pesona, Inilah Mengapa Awak Kabin Didominasi oleh Wanita

Monaghan mengatakan kelompok itu memiliki ‘pandangan prasejarah’ tentang kebebasan perempuan dan menuduh kelompok itu membenci perempuan karena mencintai tubuh mereka sendiri yang indah. “Mereka menyembunyikannya di bawah selubung kepedulian terhadap anak-anak. Ini sebenarnya sangat menjijikkan dan represif,” katanya.

Joyce Lin, Pilot Pesawat yang Jatuh di Papua, Ternyata Ahli IT Lulusan Kampus Terbaik Dunia

Joyce Lin, pilot pesawat yang jatuh di Danau Sentani, Papua, rupanya bukan sembarang pilot. Mendiang pemilik nama lengkap Joyce Chaisin Lin itu rupanya juga seorang Sarjana Sains dan Magister Teknik lulusan kampus terbaik di dunia, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Dikutip dari christianitytoday.com, selain itu, ia juga disebut pantas digelari ahli IT. Di samping karena memang ia pernah mendapat gelar di bidang itu, wanita berkewarganegaraan AS ini juga pernah bekerja sebagai spesialis komputer (IT) selama lebih dari satu dekade hingga menjabat direktur teknis di perusahaan komersial.

Namun, karena ketertarikannya di dunia kemanusiaan, ia pun menanggalkan jabatan dan zona nyamannya untuk berpacu dengan maut sebagai pilot Mission Aviation Fellowship (MAF), sebuah lembaga penginjilan serta sosial kemanusiaan internasional yang bermarkas di AS, Inggris, dan Australia. Sekalipun ia bukanlah lulusan sekolah pilot, namun, tingginya minat di dunia penerbangan mendorong ia untuk memperoleh sertifikat pilot pribadi sekedar bersenang-senang selagi ia kuliah. Sertifikat itulah sebagai modalnya untuk bergelut di bidang tersebut.

Dibilang berpacu dengan maut mengingat Joyce telah memberanikan diri mengambil misi untuk membantu kehidupan orang-orang yang terisolasi dengan menyediakan penerbangan evakuasi medis di Papua.

Sebagaimana umum diketahui, dengan kondisi iklim yang kerap berubah dengan cepat, topografi wilayah berupa pegunungan, dan minimnya infrastruktur pendukung keselamatan dan keamanan terbang, Papua memang menjadi salah satu tempat paling menantang di Indonesia bagi para pilot dan Joyce memilih jalan itu demi kebahagiaan orang lain.

“Meskipun dia ada di sana hanya dua tahun–satu di Jawa Tengah untuk sekolah bahasa dan satu lagi di Sentani–dampaknya sangat signifikan. Berulang kali Joyce membagikan betapa dia dipenuhi sukacita dalam minggu-minggu sebelum dia pergi untuk bergabung dengan Tuhan,” kata pihak MAF.

“Dari saat penemuan pertama itu, Joyce telah memegang keyakinan kuat akan panggilan Tuhan agar dia bekerja untuk menjadi pilot misionaris. Dia memperoleh peringkat instrumen dan sertifikat komersial, dan bekerja sebagai instruktur penerbangan untuk memenuhi persyaratan pilot MAF,” lanjut MAF dalam sebuah tulisan.

Joyce dikenal sebagai sosok yang punya jiwa sosial tinggi. Sebagai pilot, Joyce ingin membantu mengubah kehidupan orang-orang yang terisolasi dengan menyediakan penerbangan evakuasi medis yang menyelamatkan jiwa. Dia juga memberikan pasokan untuk pengembangan masyarakat, mengangkut misionaris, guru, dan pekerja bantuan kemanusiaan ke lokasi yang tidak dapat diakses.

“Kalimat terakhir biografi Joyce MAF berbunyi, ‘Sementara Joyce akan selalu bersemangat untuk menerbangkan pesawat dan bekerja di komputer, ia paling bersemangat untuk berbagi kasih Yesus Kristus dengan membantu mengubah keputusasaan orang lain yang mendalam dan berkabung menjadi tarian dan kegembiraan’,” demikian MAF.

Jalan Joyce untuk menggeluti bidang itu bukanlah datang tanpa sebab. Awalnya, pilot 40 tahun itu sempat mendaftar di Seminari Teologi Gordon-Conwell sampai akhirnya lulus dengan gelar Master of Divinity. Saat di seminari, ia tahu penerbangan misi. Dari situ Joyce menemukan pekerjaan yang menggabungkan minat dalam komputer, penerbangan, dan pelayanan Kristen. Keinginannya untuk bekerja untuk orang lain pun menjadi semakin terasah hingga akhirnya memutuskan menjadi pilot MAF.

Sebelumnya, pesawat dengan kode penerbangan PK-MEC milik MAF jatuh sekitar pukul 06.27 WIT di Danau Sentani. Pesawat tersebut sedang dalam penerbangan menuju Mamit, Kabupaten Tolikara.

Bupati Tolikara Usman Wanimbo mengatakan kemungkinan besar pesawat MAF yang dikemudikan Joyce membawa buku-buku dan peralatan sekolah milik Yayasan Papua Harapan di Mamit. Hal senada disampaikan oleh Presiden GIDI.

Baca juga: Ada Pilot dan Helikopter Terbaik Dibalik Kecelakaan Kobe Bryant, Lantas Apa Sebabnya?

“Pesawat itu bawa alat-alat sekolah dan buku sekolah ke Mamit,” kata Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikbo, dikutip dari Jubi.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan pesawat tersebut telah berhasil dievakuasi. Tak ada penumpang dalam pesawat MAF. Ia menjelaskan pesawat itu hanya melakukan pengangkutan logistik berupa bahan sembako.

Akibat Covid-19, Pilot Sampai Banting Setir Jadi Masinis

Maskapai penerbangan yang terkena dampak paling besar di pandemi virus corona atau Covid-19 ini membuat awak kabin, pilot dan para staf lainnya harus mengambil cuti tak berbayar. Bahkan beberapa maskapai dunia melakukan PHK besar-besaran demi mengurangi pengeluaran.

Baca juga: Panik Karena Corona, Pilot AirAsia Keluar Kokpit Lewat Emergency Sliding Window

Nah bagaimana nasib para pilot, awak kabin dan staf lainnya? KabarPenumpang.com melansir dari laman stuff.co.nz (14/5/2020), ratusan pilot di Selandia Baru yang telah diberhentikan sejak pandemi menyebar di dunia, kini mencari pekerjaan baru di jalur kereta api.

Bahkan sejauh ini ternyata sudah ada 34 pilot yang melamar untuk menjadi masinis di jaringan kereta api kota. Transdev yang mengoperasikan kereta komuter Auckland, Selandia Baru saat ini sudah mempekerjakan 200 masinis kereta di kota tersebut.

Direktur pelaksana kereta komuter Auckland, Peter Lensink mengatakan dirinya senang bisa menawarkan pekerjaan kepada pilot yang keterampilannya ideal untuk mengendarai kereta.

“Saya benar-benar merasakan pilot yang ada di posisi ini dan saya sangat senang kami memiliki alternatif dan berharap mereka akan beradaptasi dengan mengendarai kereta di atas sepotong logam daripada terbang bebas di udara. Kami hanya mempekerjakan orang-orang yang sangat terampil dan pilot maskapai penerbangan memiliki kesamaan dengan keterampilan dan kompetensi yang diperlukan sebagai pengemudi kereta,” kata Lensink.

Lensink mengatakan sektor maskapai dan kereta api memiliki budaya keselamatan yang kuat dan keterampilan khusus yang diperlukan termasuk konsentrasi. Meski begitu pendapatannya tidak sebesar menjadi pilot pesawat karena seorang masinis kereta api yang berkualitas hanya menghasilkan lebih dari $40 per jam.

“Walaupun mungkin lebih menarik bagi sebagian orang untuk melihat Auckland dari udara, saya pikir lebih menarik untuk melihat Auckland dari dekat dan terbuka di depan Anda,” kata Lensink.

Meskipun ada satu pilot helikopter di antara pengemudi kereta Auckland, Lensink mengatakan ini adalah pertama kali pilot direkrut.

“Kami mendapat peluang besar karena kami tumbuh dan bersiap di sini di Auckland untuk City Rail Link. Itu akan menggandakan jumlah layanan di sini dalam waktu empat hingga lima tahun. Karena itu kami dapat merekrut sejumlah besar melatih pengemudi untuk masa depan,” ujarnya.

Dia mengatakan telah ada banyak kontak antara para pemimpin di sektor maskapai dan kereta api, termasuk Air New Zealand.

“Begitu kata itu keluar dan orang-orang melihat hubungan antara peran dan peluang yang dimiliki kereta api, saya berharap melihat lebih banyak pilot masuk ke dalam proses perekrutan,” tambahnya.

Baca juga: Nasib Pilot Gegara Corona, Tetap Harus ‘Terbang’ Tanpa Dibayar

Lensink mengatakan pilot akan menjalani pemeriksaan perekrutan “intens” termasuk menjalani tes penglihatan sebelum pelatihan pada Juni. Pelatihan akan diadakan di depo Wiri yang jaraknya sepelemparan batu dari Bandara Auckland.

Lufthansa Kirim Airbus A380 Terakhir ke ‘Kuburan’ Pesawat di Spanyol

Belum lama ini, Lufthansa dilaporkan mengirimkan tujuh Airbus A380 ke ‘kuburan’ pesawat maskapai Eropa di Teruel, Spanyol. Dengan dikirimnya tujuh armada tersebut, praktis Lufthansa hanya menyisakan satu dari 14 armada A380 yang dioperasikan. Satu itu masih coba dimaksimalkan Lufthansa untuk angkutan kargo. Adapun enam A380 lainnya sudah lebih dulu dikirim ke Airbus untuk dijual kembali, lebih cepat dari rencana semula yakni pada tahun 2022 mendatang.

Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Pesawat A380-800 terakhir yang meninggalkan armada Lufthansa adalah ‘München/Mike-Bravo’ berusia sepuluh tahun. Pesawat dengan nomor registrasi D-AIMB dinamai kota-kota besar sesuai tradisi maskapai, mirip pemberian nama pada Boeing 747 “Queen of The Skies” milik maskapai tertua di dunia, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang akrab disingkat KLM.

Dikutip dari aerotime.aero, pesawat double-decker itu (A380-800 terakhir) berangkat dari basis Lufthansa di Bandara Frankfurt (FRA) pada pukul 6.30 waktu setempat dan tiba di Teruel pada pukul 8:30 untuk digrounded sampai batas yang tak ditentukan seiring perkembangan wabah corona di Jerman dan dunia.

Walau hanya tujuh pesawat terakhir, namun proses pemindahannya memakan waktu total 16 hari, terhitung sejak pesawat pertama dengan kode registrasi D-AIMG dikirim ke Teruel pada 28 April lalu. Pesawat-pesawat tersebut masing-masing dikirim dari dua hub utama Lufthansa, Bandara Frankfurt (FRA) dan Bandara Munich (MUC).

Sebagai informasi, Bandara Teruel sendiri sebetulnya adalah rumah bagi Tarmac Aerosave, sebuah perusahaan spesialis perawatan pesawat dan merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang disertifikasi untuk menangani Airbus A380.

Bandara yang berada di sebelah Timur Kota Madrid tersebut sebelum adanya pandemi corona memnag kerap dijadikan alternatif penyimpanan akhir maskapai-maskapai di dunia, khususnya Eropa. Sebab, bak gayung bersambut, keberadaan bandara yang mumpuni untuk dijadikan fasilitas penyimpanan sementara dalam waktu yang panjang memang dibutuhkan maskapai dan letaknya pun seperti sudah terklaster dengan baik.

Bagi maskapai-maskapai Asia, pada umumnya, fasilitas penyimpanan sementara favorit adalah Alice Springs (ASP), Kota Gurun Pasir, di Australia. Adapun maskapai-maskapai di Benua Amerika, pada umumnya akrab dengan beberapa bandara di Amerika Serikat (AS), seperti The Mojave Air dan Space Port di Gurun Mojave, Southern California, AS, Victorville, California, AS, dan Pangkalan Udara Davis-Monthana Air Force Boneyard, Tucson, Arizona, AS.

Baca juga: Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia

Namun, bila ditelisik lebih lanjut, pangsa pasar atau fungsi Teruel sebagai ‘kuburan’ pesawat-pesawat maskapai Eropa cenderung memiliki kesamaan dengan ASP. Kedua bandara tersebut pada umumnya menampung pesawat-pesawat yang masih gagah. Hanya saja, karena satu dan lain hal, pesawat tersebut harus di-grounded dalam jangka waktu yang tak menentu, tak terkecuali seperti wabah virus Cina saat ini.

Sedangkan ‘kuburan’ pesawat di AS, pada umunya hanya pesawat yang hampir pasti sudah purna tugas yang digrounded, bukan hanya pesawat-pesawat komersial, melainkan pesawat-pesawat ‘pensiunan’ militer atau bekas perang.

Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Seorang pilot komersial asal Amerika Serikat (AS) dijatuhi hukuman penjara empat minggu dan denda S$10 ribu atau setara Rp104 juta pada hari Rabu, 13 Mei oleh otoritas Singapura. Brian Dugan Yeargan, terbukti telah melanggar peraturan Infectious Diseases (Covid-19 – Stay Orders) Regulations atau kebijakan untuk tetap di rumah saja (karantina mandiri).

Baca juga: Menperindag Singapura: Bekerja dari Rumah Akan Terus Dominan Pasca Covid-19

Dikutip dari straitstimes.com, pilot berusia 44 tahun itu diketahui tiba di Singapura pada 3 April dari Australia setelah otoritas setempat memberikan visa kunjungan jangka pendek selama 30 hari. Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA) mengatakan, visa kunjungan Yeargan diterima dengan syarat untuk tetap di tempat tinggal (hotel) sejak pertama kali tiba di Singapura atau hingga 17 April.

Entah apa yang merasukinya, pada 5 April sekitar pukul 11.15 waktu setempat, ia terdeteksi telah melanggar peraturan lockdown atau karantina mandiri dengan meninggalkan hotel Crowne Plaza Changi Airport tempatnya menginap. Menindaklanjuti dugaan tersebut, seorang petugas ICA pun mengecek ke hotel tersebut sekitar 15 menit setelah Yeargan pergi dan menemukan ia tidak berada di tempat.

Wakil Jaksa Penuntut Umum V Jesudevan membeberkan kepada Hakim Senior Distrik Ong Hian Sun bahwa Yeargan berjalan sekitar 15 menit ke stasiun MRT Bandara Changi sebelum naik kereta ke stasiun City Hall.

“Ketika turun di stasiun City Hall, ia memperkirakan ada sekitar 1.000 orang di stasiun. Setelah turun, tertuduh berjalan sekitar 30 menit untuk mencapai Chinatown Point,” katanya.

Setelah itu, ia membeli termometer dan beberapa box masker di empat toko berbeda di pusat perbelanjaan. Usai berbelanja, ia kemudian menuju ke stasiun MRT terdekat untuk kembali ke hotel sekitar pukul 1.40 sore. Saat perjalanan pulang itulah, ia ditelepon oleh bos tempatnya bekerja, yakni di perusahaan jasa pengiriman FedEx. Dalam panggilan telepon itu, ia dberitahu telah melanggar kebijakan lockdown atau karatina mandiri dan harus secepatnya kembali ke hotel.

Mendengar hal itu, Yeargan diketahui mengubah haluan dan kembali ke hotel dengan menumpangi sebuah taksi dan tiba di sana sekitar pukul 14.15. Namun, tetap saja, secepat apapun ia kembali ke hotel tidak lantas menghilangkan kesalahannya.

Atas pelanggaran tersebut, Wakil Jaksa Penuntut Umum, Jesudevan menuntut pengadilan untuk menghukumnya enam hingga delapan minggu penjara. Dakwaan tersebut didasarkan dengan alasan Yeargan keluar hotel untuk membeli masker dan termometer dinilai tak masuk akal.

Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top

“Barang-barang yang dibelinya akan sangat dibutuhkan dan berfungsi sebagaimana mestinya ketika ia menyelesaikan perintah karantina mandiri atau bahkan setelah ia keluar dari Singapura, tidak pada saat ia menjalani karantina mandiri. Lagi pula, bilapun tetap harus membeli saat itu, ia bisa membelinya di sekitar hotel, meminta bantuan petugas hotel, atau perwakilan tempatnya bekerja (FedEx),” ujar Wakil Jaksa Penuntut Umum, Jesudevan.

Setelah mendengar tuntutan dari jaksa dan pembelaan dari pengacara, pengadilan akhrinya memutuskan untuk menghukum dua pekan lebih sedikit dari tuntutan jaksa serta memberikan denda sebesar S10 ribu atau Rp149 juta (kurs 10,458).

Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’

Menikmati hari tua di tempat yang asri, dekat dengan alam, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan mungkin menjadi impian semua orang; tak terkecuali dengan Jo Ann Ussery, nenek 78 tahun asal Benoit, Mississippi, Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Bombardier Q Series Disulap Jadi Rumah Minimalis Seharga Rp500 Jutaan

Sejak tahun 1994 silam, hair stylist profesional ini telah mengubah pesawat tua Boeing 727 bekas Continental Airlines yang sudah pensiun usai mengudara mulai Mei 1968 hingga September 1993 dan menempatkannya di sebelah danau di Mississippi.

Dikutip dari mirror.co.uk, ide untuk mengubah Boeing 727 menjadi sebuah huniah idaman sebetulnya diawali dengan musibah yang menimpa Jo Ann. Saat itu, rumahnya hancur diterjang badai es. Menyikapi hal itu, sang kakak ipar, Bob Farrow, yang bekerja sebagai air traffic control di bandara sekitar, menyarankan agar Jo Ann membeli pesawat tersebut seharga US$2.000 atau Rp29 juta (kurs Rp15.012) untuk diubah menjadi hunian idaman.

Setelah pesawat berpindah tangan, bermodal sekitar US$30.000 atau Rp446 juta (kurs 15.012), ia pun mulai menyulapnya menjadi hunian idaman hari tua dengan berbagai fasilitas layaknya rumah pada umumnya, seperti penghangat ruangan, listrik, tiga kamar tidur, lounge, dapur, tempat cuci baju, tempat cucian piring, pendingin ruangan, oven, mesin cuci, hot-tub, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Jo Ann Ussery saat tengah menikmati suasana di sekitar tempat ‘Little Trump’ miliknya berada. Foto: Getty Images via Mirror

Dengan segudang fasilitas dan penempatan unik dengan separuh bagian melayang di atas danau serta dikelilingi hutan kota, tak heran bila rekan dan keluarga Jo Ann banyak yang tak tahan untuk terus mengunjungi rumah berjuluk ‘Little Trump’ ini.

“Cucu-cucu saya suka berlari-lari dan teman-teman saya suka pesta di sini. Tetapi tidak ada pramugari yang melayani minuman mereka,” kata Jo Ann.

Meskipun disulap sedemikian rupa, namun, bukan berarti pesawat sepanjang 42 meter itu seluruhnya dikerjakan oleh kontraktor. Disebutkan, untuk urusan instalasi listrik, pemanas, dan pendingin ruangan Little Trump diakui Ann memang dikerjakan oleh kontraktor. Tetapi, untuk urusan penataan dan furniture yang digunakan, Ann mengaturnya sendiri.

Selain itu, untuk menciptakan nuansa pesawat, beberapa bagian seperti kamar mandi, jendela, livery pesawat, pintu pesawat, dan kompartemen kabin masih dipertahankan Jo Ann.

Baca juga: Spruce Creek, Hunian yang Bikin Pesawat Mondar-mandir di Jalan Raya Bak Mobil

Meskipun sudah memiliki rumah idaman yang tak banyak dimiliki oleh orang lain, Jo Ann mengaku masih memiliki cita-cita lain, yakni mengubah Boeing 747 menjadi rumah idaman lainnya di masa mendatang. Hal itu dikarenakan pesawat tersebut memiliki dua lantai, sehingga memungkinkan desain lantai kedua khusus untuk kamar tidur atau ruang pribadi dan bagian lainnya di lantai pertama disulap menjadi berbagai fasilitas mewah, lengkap, dan nyaman.

Di samping itu, ia juga memiliki cita-cita untuk membuka huniannya untuk publik. Namun, nampaknya itu hanyalah sebuah cita-cita yang tak akan pernah bisa dicapai. Sebab, beberapa tahun setelah rumah impiannya itu tercapai, rumah pesawat tersebut dilaporkan jatuh dan mengalami sejumlah kerusakan pada Mei 1999 saat hendak ingin dipindahkan ke bagian lain di Amerika.

Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan

Maskapai dunia bukan hanya membatasi jumlah penumpang yang akan naik pesawat tapi juga akan mulai mengurangi layanan dalam penerbangan selama pandemi virus corona atau Covid-19 ini. Seperti Southwest Airlines yang menjadi salah satu maskapai dan menghentikan semua layanan makanan dan pilihan makanan ringan dalam penerbangan mereka saat ini.

Baca juga: Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi?

Mereka mengatakan tidak akan melayani makanan ringan atau minuman dalam penerbangan untuk membatasi kontrak pribadi penumpang dengan awak kabin. Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (4/5/2020), maskapai berbiaya hemat untuk mengatasi pandemi ini telah memperkenalkan langkah-langkah ketat bersama dengan menghapus majalah dalam penerbangan dan menegakkan aturan penggunaan masker untuk penumpang di dalam kabin.

Makapai AirAsia Thailand dan Lion Air serta IndiGo India juga ternyata menangguhkan layanan makanan dalam penerbangan. Sedangkan maskapai Inggris belum ada yang melakukan hal tersebut meski hal ini menjadi sesuatu yang disarankan oleh operator besar untuk mengurangi penyebaran virus.

Namun maskapai Inggris saat ini justru berfokus dalam mempertimbangkan aturan jarak sosial seperti kursi tengah dibiarkan kosong. Bahkan Bandara London Stansted dan Manchestes mewajibkan semua orang baik penumpang maupun staf menggunakan masker.

Ini sama seperti yang dilakukan oleh maskapai Amerika yakni American Airlines, United dan Delta. Wizz Air, maskapai yang terbang dari Inggris juga mewajibkan semua menggunakan masker dan telah menghapus semua majalah dan kertas dari kantong kursi. Namun para ahli telah memperingatkan bahwa pedoman baru dapat menghasilkan antrian yang lebih lama di bandara serta penerbangan yang lebih mahal.

“Akan ada lebih sedikit penerbangan, kursi lebih sedikit tersedia, harga akan naik dan akan ada kondisi yang sangat tidak nyaman karena permintaan untuk memakai alat pelindung diri dan menjaga jarak sosial. Bahkan jika hujan mulai turun malam ini, kita masih melihat dua tahun setidaknya untuk kembali ke tingkat yang terlihat sebelum wabah. Dan itu mungkin akan lebih seperti lima tahun,” kata Andrew Charlton, direktur pelaksana Aviation Advocacy.

Antrian empat jam di keamanan juga diharapkan, serta mengurangi jadwal terbang. Namun, bos Heathrow John Holland-Kaye memperingatkan bahwa jarak sosial akan “mustahil” di bandara karena setiap pesawat akan memiliki antrian naik satu kilometer.

“Lupakan jarak sosial, itu tidak akan bekerja dalam penerbangan atau bentuk transportasi umum lainnya. Dan masalahnya bukan pada pesawat, itu adalah kurangnya ruang di bandara,” kata Holland-Kaye.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Sebuah video yang mengerikan telah mengungkapkan dengan tepat bagaimana batuk di pesawat dapat mendorong virus melalui seluruh kabin yang berarti semua orang terinfeksi. Dalam video itu, tetesan air liur kecil dari satu kuman mendorong batuk di seluruh pesawat. Satu firma desain telah menawarkan sarannya sendiri untuk tetap aman di pesawat dengan layar kaca di setiap kursi.