Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit

Setelah artikel terdahulu mengupas bagian interior dari Airbus A380 milik British Airways, sekalipun sebetulnya tak cukup ruang untuk mengupas tuntas segala kelebihan, kemewahan, dan kemegahannya, kali ini tak ada salahnya kita fokus pada salah satu bagian terpenting dalam pesawat. Kokpit.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Punya Dua Lift untuk Manjakan Penumpang

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Kamis, (27/2), rupanya kemegahan dan kemewahan pesawat Airbus A380, dalam hal maskapai British Airways (sebab mungkin saja maskapai lain mengubah dekorasi kokpit dengan tambahan fasilitas yang berbeda), tidak hanya terletak pada kabin saja penumpang saja, melainkan juga kokpit.

Betapa tidak, bila pada umumnya pilot tidak memiliki fasilitas khusus berupa kamar pribadi dan toilet privat, atau mungkin di beberapa pesawat pilot memiliki hal tersebut sekalipun harus melalui perjuangan ekstra mengingat lokasinya (kamar atau tempat tidur khusus untuk pilot) berada di atas kabin business class, pada Airbus A380 pilot tak perlu melakukan hal itu (bersusah payah mencapai kamar pribadi). Pasalnya, pilot diberikan fasilitas khusus berupa dua kamar pribadi dan toilet di dalam kokpit. Luas biasa, bukan?

Selain itu, begitu banyak tombol di beberapa panel, mulai dari navigation unit, flight information unit, hingga central unit (tersebar di panel bagian atas, panel instrumen bagian tengah, dan panel bagian bawah), yang dari ketiganya terdapat turunan indikator yang sangat banyak, bahkan, terlampau banyak untuk disebutkan seluruhnya.

Sebagai pesawat terbesar dengan harga selangit, kokpit Airbus A380 sudah barang tentu memiliki fitur-fitur canggih khas Airbus, sekaligus pembeda dengan pabrikan asal AS, Boeing, salah satunya terletak pada sistem kemudi, dimana Airbus menggunakan joystick adapun Boeing menggunakan kemudi seperti bentuk setir atau biasa disebut yoke.

Dalam hal keamanan atau safety, Airbus A380 juga dilengkapi dengan sejumlah fitur canggih, semisal sistem yang memungkin pilot terhindar dari kesalahan kecil akibat tidak sengaja mengangkat persneling, memencet tombol, dan sejenisnya.

Baca juga: Ditemukan Keretakan Pada Sayap, Airbus A380 Harus ‘Keliling Dunia’ untuk Reparasi

Meski demikian, secanggih apapun sistem-sistem yang ada di Airbus A380, tetap saja, harus terhindar dari cairan apapun, mengingat, dari database ASRS dan safety reporting NASA, sudah banyak sekali insiden yang menyebabkan mesin pesawat mati mendadak akibat ketumpahan cairan, baik berupa kopi ataupun yang lainnya.

Pasalnya, kemewahan dan kemegahan Airbus A380 tetap saja tak membuat panel-panel di dalam kokpit, khususnya center pedestal belum mampu menghadirkan fitur anti tumpahan. Menurut Captain Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.

Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Sejak virus corona menyebar dan bisa menjangkiti siapapun, banyak penumpang yang mulai melakukan pencegahan dengan menggunakan masker atau yang lainnya. Bahkan ada yang menggunakan helm untuk menghindari virus corona ini ketika berada di dalam kabin pesawat.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Namun hal aneh lainnya baru saja dilakukan seorang penumpang pesawat yang juga pebisnis. Di mana dirinya menggunakan under the weather pods ketika berada di dalam kabin pesawat.

Rick Pezcovitz membuat pods ini pada 2010 lalu dan sebenarnya untuk orang tua serta keluarganya yang ingin menonton pertandingan olahraga tanpa kebasahan ketika hujan tiba. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman today.rtl.lu (9/2/2020), Rick yang tinggal di Cincinnati, Amerika Serikat menggunakan salah satu pod tersebut untuk mencobanya sendiri.

David yang merupakan adik dari Rick menuliskan, banyak para pelancong mengambil langkah -langkah yang tidak biasa untuk melindungi diri mereka dari virus corona seperti menggunakan kendi air di kepala mereka hingga menutup dengan terpal plastik.

“Saudara lelaki saya berpikir untuk melihat bagaimana StadiumPod-nya akan bekerja pada Sebuah pesawat terbang,” tulisnya.

Bahkan David mengatkan, Rick bercerita bahwa pramugari dengan senang hati mengambil foto dirinya. Tak hanya itu, penumpang yang duduk disebelah Rick juga tidak memperhatikan.

StadiumPod sendiri dirancang agar pas dengan badan dan dikenakan saat duduk. Namun, banyak pertanyaan kemudian muncul, apakah ini bisa menghentikan virus corona menginfeksi penumpang dan berhasil?

Seorang pria berkomentar hal ini mungkin tidak untuk digunakan di baris keluar. Sedangkan yang lain bercanda dan mengatakan mereka akan menggunakannya untuk menjaga ruang pribadi.

Baca juga: Pramugari Mulai Terinfeksi Virus Corona, Lantas Pilih Tetap Pakai Masker atau Tidak?

Selain Rick, seorang penumpang yang tidak diketahui wajahnya menggunakan helm ketika berada di pesawat. Pria tersebut saat itu naik dalam penerbangan dari Cina menuju ke Australia.

Diketahui, virus corona pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2019 lalu. Saat ini sudah puluhan ribu orang terjangkit dan ribuan orang meninggal. Orang-Orang di Amerika Serikat bahkan tak mau menerima paket Amazon yang dikirim dari Cina karena takut tertular virus corona ini.

Riwayat “Petruk” di Pelabuhan Ferry, Sebenarnya Siapakah Mereka?

Siapa sebenarnya para pengurus truk atau petruk yang ada di pelabuhan penyeberangan baik Merak atau Bakauheni? Ada yang bilang bahwa para petruk ini adalah calo pembayaran tiket. PT ASDP Indonesia Ferry mengatakan bahwa petruk menawarkan tarif yang lebih murah dari yang sudah ditentukan.

Baca juga: Antrian Truk 2 Km Buat Toll Gate Merak Tak Berfungsi

Namun ternyata hal itu tidaklah semua benar. Sebab petruk ini ternyata adalah perpanjangan tangan para perusahaan kendaraan besar seperti truk kontainer atau ekspedisi. Mereka biasanya membantu para pengusaha tersebut untuk membayarkan tarif ke loket penyeberangan karena banyak supir truk yang sering menyelewengkan kelebihan uang pembayaran tiket.

Ini adalah salah satu tugas dari petruk itu sendiri. Namun KabarPenumpang.com yang mewawancarai salah seorang mantan petugas pelabuhan Bakauheni, ternyata mendapatkan fakta lainnya dimana para petruk tersebut bukan hanya membayarkan tarif dari pada truk-truk tersebut. Mereka juga mengurus truk tersebut keluar dari tempatnya hingga menyeberang di kapal ferry.

“Mereka itu sebenarnya ngurusin truk itu. Mereka yang bayarin dulu, dan biasanya punya invoice yang akan dikasih ke pengusaha dan dapat persenan yang tidak besar,” kata sumber KabarPenumpang.com.

Dia menambahkan, biasanya upah yang diberikan atau persenan itu hanya sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu atau tergantung kebijakan pengusaha truk masing-masing. Adanya permainan tarif sendiri sebenarnya bukan langsung dari para petruk, melainkan petugas loket pembayaran di pelabuhan juga turut memainkan peran.

“Petugas yang biasanya memainkan tarif, nah petruk ini cuma ngikut saja,” tambahnya.

Nah, ternyata petruk ini sudah ada sejak pelabuhan penyeberangan berpindah dari Pelabuhan Panjang di Bandar lampung ke Bakauheni tahun 1982 silam. Pelabuhan Bakauheni sendiri mengoperasikan penyeberangan kapal laut jenis ferry atau foll on roll off (Roro) dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya.

Meski sering dipandang sebelah mata dan dijadikan kambing hitam, para petruk ini ternyata tergabung dalam beberapa organisasi. Bahkan organisasi-organisasi ini memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD-ART) yang jelas dan umumnya kepemimpinan umumnya terstruktur.

Keberadaan Petruk tak lepas dari kontroversi, unjuk rasa akibat keberadaannya yang tak pernah dianggap penting oleh pihak lain mengakibatkan dalam kurun waktu 2015-2016 beberapa aksi demonstrasi kepada pihak pemilik pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, penyedia jasa penyeberangan (pemilik kapal) serta pihak lain. Adanya boikot dan aksi unjuk rasa tersebut berimbas ekonomi lumpuh dan kerugian diperkirakan mendekati miliaran rupiah.

Akibat aksi Petruk tersebut kemacetan panjang terjadi sebagai dampak boikot petruk yang tidak memperbolehkan kendaraan yang mereka urus menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni. Sehingga bisa dikatakan keberadaan  petruk seperti “terekspos” sebagai sebuah entitas yang diperhitungkan karena memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional.

Baca juga: Mengenal Bakauheni, Pelabuhan Utama Penghubung Transportasi ke Sumatera

Seperti layaknya buruh yang bekerja pada perusahaan seorang pengurus pun memiliki kewajiban dan hak tertentu dan dibatasi dengan aturan aturan ketat dari federasi maupun dari organisasi tempatnya bernaung. Selain itu aturan ketat dari pemilik pelabuhan pun secara ketat diikuti sehingga Petruk bukan sebuah perkumpulan liar dan tak terstrukur.

Namun, bagaimana nasib para petruk saat pelabuhan sudah mulai menerapkan digitalisasi dalam standar pembayaran? Apakah mereka akan bertahan atau lenyap begitu saja? Tentu ini waktu yang akan menjawabnya.

PT MITJ Benahi Empat Stasiun Integrasi, MRT Jakarta Mulai Fase 2

Setelah beroperasi, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta kini mulai bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) membangun perusahaan patungan bernama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ). Perusahaan patungan ini sudah memiliki Direktur Utama yakni Tuhiyat yang dulunya Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta.

Baca juga: PT MRT Jakarta Canangkan Integrasi Ticketing dengan TransJakarta dan PT KCI

Kehadiran direktur utama baru untuk PT MITJ tersebut, kini sudah mulai progres untuk pembenahan empat stasiun yang akan terintegrasi. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, PT MITJ yang kehadirannya untuk mengelola transportasi perkeretaapian ini akan memegang 72 stasiun yang ada di Jabodetabek. Saat ini, William menjelaskan sudah dimulai penataan kawasan di empat stasiun yakni Stasiun Tanah Abang, Juanda, Senen dan Sudirman.

Empat stasiun integrasi yang dikerjakan PT MITJ (MRT Jakarta)

“Kita mulai langsung penataan di empat stasiun integrasi. Di Tanah Abang menjadi yang terparah karena lalu lintas yang tidak terkendali dan macet total. Untungnya PT KAI mau membuka lahan yang tidak terpakai untuk memperlancar arus lalu lintas di depan Stasiun Tanah Abang,” kata William yang ditemui dikantornya, Kamis (27/2/2020).

Dia menjelaskan, lahan kosong tersebut akan digunakan untuk tempat transit. Di mana bus milik TransJakarta akan masuk ke dalam kawasan stasiun dan halte serta kanopi akan dibuat untuk memudahkan penumpang yang menggunakan layanan integrasi antar moda tersebut.

“Kita kerja sama dengan berbagai pihak yakni Sarana Jaya akan membuat halte TransJakarta dan kanopinya. Binamarga akan mengaspal jalanan dan membuat trotoar untuk pejalan kaki. Sedangkan lahan kosong itu akan dipakai untuk masuknya angkutan umum seperti Mikrotrans, Bajaj dan ojol (ojek online),” jelasnya.

William menambahkan, akan ada jalur sepanjang 200 meter yang akan dibuat untuk pejalan kaki dengan kanopi diatasnya. Sedangkan untuk Stasiun Senen, PT MITJ mulai membuka jalan di bagian tengah untuk memudahkan akses pejalan kaki.

“Kita buka dibagian jalan tengah untuk pejalan kaki. Karena biasanya mereka masuk dari pintu yang cukup jauh untuk ke stasiun. Jalan ini memotong bagian tengah GOR dan kita buat halte TransJakarta dekat jalur tersebut,” kata William.

Untuk Stasiun Juanda, William menambahkan, akan mengelola ojol dan opang (ojek pangkalan) dan membuat titik penampungan dibelakang stasiun. Titik penampungan ini merupakan tempat bekas pengumpulan sampah dan saat ini sudah mulai dirapikan serta dibersihkan sehingga awal Maret diraharapkan sudah bisa difungsikan.

Stasiun keempat yakni Sudirman, akan di tata untuk kawasan ojol di bekas Pasar Blora. William mengatakan, ini dikarenakan kondisi sering macet di depan mini market karena ojol-ojol ini menurunkan penumpang.

“Kita koordinasi dengan KAI untuk menutup jalan tersebut dan minimarket akan dipindahkan. Pos polisi juga kita pindahkan, dan untuk sementara jalur ini akan dipagari,” jelas William.

Dia mengatakan, nantinya ojol akan menurunkan penumpang di pedestrian yang akan dibenahi saat ini. William menambahkan, PT MRT Jakarta juga akan bangun transport hub di pasar Blora setinggi 14 lantai dan bagian bawahnya digunakan untuk parkir TransJakarta.

Fase 2 Pembangunan MRT Jakarta
Setelah fase 1 selesai dan beroperasi, PT MRT Jakarta kini mulai melanjutkan pembangunan untuk fase 2 dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Ancol Barat. William mengatakan, untuk pembangunan fase 2 ini akan dibagi menjadi dua tahap yakni fase 2a dan fase 2b. Di mana fase 2a pembangunan dari Bundaran HI menuju ke Kota sepanjang enam kilometer dan fase 2b dari kota ke Ancol Barat yang sekaligus akan menjadi Depo MRT Jakarta yang juga sepanjang enam kilometer sehingga bila ditotal akan sepanjang 12 km.

“Fase 2a untuk CP201 dari Thamrin ke Monas sudah mulai kontrak dengan panjang jalur 2,8 km. Untuk CP202 kita sudah dapat kontraktornya tapi dibatalkan dan tengah menarik berkas untuk tender ulang. Sedangkan CP203 dari Glodok hingga ke Kota juga mulai tender,” jelas William.

William menjelaskan Stasiun Thamrin yang akan dibangun berbeda dengan staisun lainnya. Sebab Stasiun Thamrin nanti akan menjadi stasiun interchange dengan jalur dari timur ke barat di fase 3.

Panjang stasiun ini pun lebih panjang dari yang lainnya yakni sekitar 500 meter atau tepatnya 490 meter. William menjelaskan, kedalaman Stasiun Thamrin yakni 30 meter atau sekitar tiga lantai untuk lift.

Dia mengatakan, MRT Jakarta baru pertama kali mempunyai intersection seperti hal tersebut. Untuk Stasiun Monas, akan ada ada hal yang unik di mana bangunannya akan dikelola oleh MITJ semua. Endtrans akan ada satu di pintu masuk barat daya Monas dan satu lagi di jalan museum yang akan terkoneksi dengan TransJakarta.

Baca juga: Tempuh Jalur 6 Km, Pekerjaaan Konstruksi MRT Jakarta Fase 2A Dimulai Maret 2020

“Intinya fase 2a ini semuanya akan ada dibawah tanah dan kami bangun semuanya dengan perencanaan matang dan belajar dari bencana seperti banjir yang baru-baru ini terjadi,” jelasnya. William menambahkan, nantinya fase 2a akan mulai pengoperasian semuanya di Desember 2024 dimana instalasi sistem, rolling stok hingga testing commitioning.

Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Sejak pertama kali virus corona merebak, pereknomian Cina terus tergerus di berbagai sektor. Dari data salah satu pusat studi ekonomi dunia, perekonomian Cina memang terus mengalami penurunan, bahkan mencapai yang terburuk dalam 10 tahun terakhir. Diperkirakan tahun ini Cina hanya sanggup meraih angka pertumbuhan ekonomi dikisaran 5,3 persen, dari semula diperkirakan mencapai 6 persen, sebelum adanya kasus virus corona.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Di samping itu, pergerakan perdagangan Cina juga mencapai titik terendah setelah adanya virus corona. Puncaknya terjadi pada pertengahan Februari lalu, dengan angka perdagangan berkisar 30-50 persen. Begitu juga dengan sektor aviasi yang juga mengalami penurunan drastis akibat banyaknya maskapai yang menghentikan penerbangan dari dan ke Negeri Tirai Bambu itu. Meskipun otoritas setempat belum merilis angka resminya, namun, setidaknya jebloknya penerbangan di Cina dapat terlihat dari pergerakan pesawat tersebut di ruang udara Cina.

https://www.instagram.com/p/B83z0zUnGdB/?utm_source=ig_web_copy_link

Seperti dilihat KabarPenumpang.com dari laman Instagram @nytimes, Jumat, (28/2), sebelum virus corona merebak, ruang udara Cina tampak memang sangat padat, dengan angka ribuan pergerakan pesawat setiap harinya. Namun setelah adanya virus corona di penghujung tahun lalu, ruang udara Cina tampak turun lebih dari separuhnya, berkisar 70-80 persen.

Menurut Flightradar24, hanya dalam tiga minggu, mulai 23 Januari hingga 13 Februari, jumlah keberangkatan dan kedatangan harian untuk penerbangan domestik dan internasional turun menjadi hanya 2.004, dari 15.072. Detailnya, pada 23 Januari lalu, sebelum maraknya pembatalan penerbangan dari dan ke Cina, pergerakan pesawat di negara tersebut mencapai 12,814 pergerakan dalam sehari. Pada 13 Februari lalu, setelah adanya pembatalan besar-besaran dari maskapai seluruh dunia, angkanya menjadi hanya 1,662 pegerakan pesawat dalam sehari. Singkatnya, ada lebih dari 13.000 penerbangan dalam sehari hilang akibat virus corona.

Data penerbangan di Cina. Sumber: FlightRadar24 via nytimes

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $ 29 miliar atau Rp 417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Terlebih, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit lost) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik.

Hal itu setidaknya telah terbukti bila dilihat dari beberapa langkah yang dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem bisnis aviasi di beberapa negara, semisal HongKong yang harus menggelontorkan (melalui otoritas bandara HongKong) sebesar Rp 2,8 triliun atau Indonesia yang juga tengah mempersiapkan beberapa skema guna penyelamatan bisnis penerbangan.

Data penerbangan di empat tujuan favorit warga Cina. Foto: FlightRadar24 via nytimes

Akan tetapi, IATA tidak menampik, bahwa profit loss sebesar Rp 417 triliun tersebut sangat dimungkinkan bisa berkembang lebih besar, mengingat, dalam pengamatan IATA, virus corona jauh lebih mematikan, lebih besar (dampaknya), dan lebih merusak ekosistem bisnis penerbangan di Cina, yang saat ini tengah menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan mau tak mau (dengan posisinya sebagai raksasa perekonomian dunia tersebut) juga akan berimbas ke negara lain.

Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody

Lihat saja Jepang dan Singapura, sekalipun bukan menjadi negara endemik virus corona, namun perekonomian kedua negara tersebut dibuat rontok dan memasuki periode resesi karenanya. Sebaliknya, Cina hingga kini masih tergolong aman dari ancaman resesi, meskipun diprediksi mencatatkan pertumbuhan ekonomi terburuk dalam 10 tahun terakhir.

Sementara itu, dalam catatan IATA, wabah SARS sendiri, kala itu, merenggut sekitar $ 6 miliar atau sekitar Rp 86,5 triliun pendapatan tahunan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Selain itu, upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Aplikasi “Ambulans Jadi Taksi” Agar Terhindar dari Kemacetan Segera Diluncurkan, Setuju Kah?

Kemacetan terkadang memang terasa begitu menyebalkan, khususnya saat seseorang tengah dalam keadaan terburu-buru, entah karena urusan kantor, bisnis, pertemanan, bahkan percintaan. Di saat yang bersamaan, akan lebih menyebalkan ketika melihat pejabat atau pihak berwenang bebas menggunakan rotator atau sirine hingga dapat menghindar dari kemacetan. Pasalnya, aturan perundang-undangan di negeri ini memang tidak memperbolehkan masyarakat sipil menggunakan rotator dan atau sirine atau sejenisnya di kendaraan pribadi.

Baca juga: Minat Bikin Aplikasi Mobile, Ini 7 Hal yang Mesti Diperhatikan

Akan tetapi, bagi Anda yang bosan dengan keadaan seperti itu, mungkin, aplikasi ini bisa menjadi salah satu andalan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman medpagetoday.com, Kamis, (27/2), belum lama ini muncul wacana dari sebuah perusahaan untuk menjalankan aplikasi ROSC Ambulance. Sesuai namanya, aplikasi tersebut memang mengoperasikan ambulans. Namun, bukan hanya untuk mengangkut mayat atau orang sakit, melainkan juga untuk mengangkut orang sehat.

Cara kerjanya sendiri sebetunya sangat mirip dengan GoJek, Grab, Uber, atau aplikator aplikasi ride hailing lainnya. Bedanya, ketika hendak mengorder kendaraan dari aplikasi tersebut, pengguna harus menentukan jenis layanan, untuk keadaan rill (sebagaimana fungsi ambulans pada umumnya) atau tidak.

Baik dalam keadaan rill maupun tidak, hal tersebut sebetulnya tidak berpengaruh dengan harga dan jenis layanan. Hanya saja aplikator tetap harus mengetahui jenis layanan yang digunakan pelanggannya. Di samping itu, bila demand lebih banyak dari suplai, atau bisa dibilang armada lebih sedikit dari permintaan, maka, aplikator akan mendahulukan layanan rill atau darurat, meskipun besar kemungkinan seluruh pengguna layanan tersebut tengah dalam keadaan darurat sekalipun darurat dalam kadar masing-masing, entah darurat karena takut terlambat naik pesawat atau lainnnya.

Lagi pula, selain menyediakan layanan pribadi, aplikasi tersebut juga melayani tumpangan. Jadi, tidak benar-benar dioperasikan untuk satu tujuan tertentu. Misalnya, ketika ambulans tengah mengantar orang sehat untuk sampai ke tempat tujuan dan di saat yang bersamaan terdapat pasien gawat darurat, maka pasien tersebut akan diantarkan terlebih dahulu.

Baca juga: East Japan Railway Hadirkan Aplikasi “Train’ing,” Mudahkan Penumpang Berolahraga Dalam Kereta

Meskipun terdengar menyebalkan, namun, CEO ROSC Ambulance, Jeb Lance, berdalih bahwa dirinya hanya berusaha untuk menangkap peluang pasar. Artinya, dirinya bukanlah orang yang memulai hal tersebut (ambulans dijadikan taksi) melainkan hanya meneruskan fenomena yang ada. “Toh orang menggunakan ambulans sebagai taksi, jadi saya benar-benar ingin memanfaatkan pasar yang berkembang itu,” jelasnya.

Bila tidak ada halangan apapun, aplikasi tersebut diperkirakan akan mulai aktif memberikan layanan sekitar bulan September mendatang di wilayah New York, Amerika Serikat. Aplikasi tersebut dapat diunduh di Google Playstore ataupun IOS. Jeb Lance optimis idenya tersebut akan berjalan sesuai rencana dan bila itu terjadi, ia berencana untuk mengembangkan bisnisnya bukan hanya terpaku pada mobil, namun juga helikopter. Menarik ditunggu, apakah aplikasi serupa akan muncul di Indonesia?

Tidur di Lantai Ruang Tunggu Bandara, Wanita ini Bikin Penumpang Lain Tak Bisa Duduk di Kursi Kosong

Kelakuan penumpang aneh tak hanya ada dalam sebuah kabin pesawat saja. Nyatanya di bandara pun juga ada yang sering melakukan hal tersebut. Bukan hanya mementingkan dirinya, tapi mengambil hak-hak penumpang lainnya.

Baca juga: Makan Seledri Sambil Berjoget, Video Penumpang Wanita Viral di Instagram

Seperti seorang wanita ini yang melakukan tindakan egois karena berbaring di depan dua kursi kosong yang seharusnya bisa di duduki penumpang lainnya. Memang perjalanan jauh cukup melelahkan, tapi bila sadar harusnya tidaklah melakukan tindakan egois.

Penumpang yang tidur di lantai tepat di depan dua kursi kosong tersebut bernama Becky seorang influencer. Foto wanita 24 tahun ini viral di sebuah akun Instagram Travel Creeps.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nine.com.au (26/2/2020), karena viral, akun Travel Creeps dibanjiri komentar para warganet yang mengekspresikan rasa jijik mereka karena Becky dengan egois mengambil dua kursi tanpa diduduki.

“Ada banyak yang salah dengan gambar ini,” komentar seorang warganet.

Yang lain menambahkan sambil bercanda bahwa dia mengambil dua kursi tanpa benar-benar menggunakan keduanya dan mereka mungkin bisa menggunakan Becky sebagai sandaran kaki.

“Dua kursi dan dia dapat menempati ruang bersama yang diperlukan untuk bernavigasi di antara barisan tempat duduk yang berbeda,” tulis warganet lain.

“Aku hanya bisa berharap, seseorang membuat pergelangan kakinya dengan barang-barang berat dan atau tajam yang mencoba berjalan dengan tampilan pencarian perhatian,” tulis yang lainnya.

Ini bukan pertama kalinya penumpang memanggil sesama pelancong secara online. Tahun lalu, seorang penumpang maskapai dipermalukan karena tidur di lantai pesawat sementara rekan perjalanan prianya menempati tiga kursi.

Pasangan itu terlihat dalam sebuah gambar, diambil oleh seorang rekan selebaran, setelah itu muncul memperlihatkan wanita itu mencari tempat tidur di lantai di antara dua baris kursi.

Banyak yang marah karena pria itu tidak menawarkan tempat duduknya kepada wanita itu, sementara selebaran lain ‘jijik’ karena hal-hal ‘kotor’ yang mereka lihat mengenai karpet. Insiden yang mempermalukan penumpang lainnya termasuk penumpang maskapai yang dipermalukan karena ‘kasar’ menggantung rambut pirangnya di bagian belakang kursinya dan memblokir seluruh layar orang di belakangnya.

Baca juga: Kisruh di Kabin, Penumpang Kursi Belakang Kesal Pukul Kursi Depan Karena Bersandar

Seorang pria Australia, yang hanya dikenal sebagai David, berbagi foto penumpang wanita di Facebook, mengungkapkan bagaimana rambutnya disisir ke belakang di sandaran kepala saat menonton film dalam penerbangan.

PT MRT Jakarta Canangkan Integrasi Ticketing dengan TransJakarta dan PT KCI

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, mulai melanjutkan integrasi layanannya dengan TransJakarta dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Dalam integrasi ini tak hanya layanan yang akan dikedepankan melainkan beberapa fasilitas juga akan dikembangkan.

Baca juga: Tempuh Jalur 6 Km, Pekerjaaan Konstruksi MRT Jakarta Fase 2A Dimulai Maret 2020

Salah satunya yang kini sudah berjalan yakni dengan TransJakarta membuat jembatan dari Stasiun MRT Asean menuju ke Halte CSW yang melayani koridor 13. Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, penghubung MRT dengan TransJakarta ini akan mulai bisa digunakan pada Agustus 2020 mendatang.

William mengatakan selain moda, pihaknya juga berintegrasi melalui sarana dan prasarana seperti fasilitas pejalan kaki. Kemudian pihaknya juga akan melakukan pengembangan jalur pesepeda.

“Kita juga akan tingkatkan pelayanan pada pejalan kaki dan pesepeda dengan menambahkan bike rack di beberapa titik di sepanjang jalur MRT,” kata William yang ditemui di kantornya, Kamis (27/2/2020).

Bahkan kini, juga melakukan penambahan park and ride untuk kendaraan seperti mobil dan sepeda motor. Hal ini dilakukan juga karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mulai menaikkan tarif parkir yang cukup tinggi.

“Untuk antisipasi ini kita akan perbaiki koneksi dan interkoneksi. Kita akan tambah juga layanan kawasan parkir di daerah luar,” ujar William.

Dia menyebutkan park and ride yang akan ditambah yakni di Ragunan. Di mana akan ada shuttle service dari TransJakarta untuk mencapai stasiun MRT.

William menambahkan, saat ini transit plaza yang ada di Lebak Bulus dengan Point Square sudah mulai terlihat lebih bagus. Di mana Point Square mulai di tata dan skybridge yang menghubungkan dengan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab sudah mulai terlihat pembangunannya.

Ternyata bukan hanya dengan TransJakarta adanya integrasi dilakukan. PT MRT Jakarta juga melakukan integrasi dengan PT KCI dan TransJakarta terkait masalah ticketing.

William menjelaskan, pihaknya tetap mengikuti peraturan dari Bank Indonesia terkait penerbitan card issuer. Dalam satu hal MRT dan KCI harus melakukan interoperability operating pada Januari 2022.

Sehingga Multi Trip (MTT) milik MRT Jakarta dan Kartu Multi Trip (KMT) milik KCI bisa dipakai di dua mesin tap masing-masing moda ini.

“Kita lakukan upaya. Task force dan instrumen disesuaikan dengan mengurus ini agar bisa dipakai semua. Windownya Desember 2021 dan bisa selesai serta digunakan pada Januari 2022,” kata William kepada KabarPenumpang.com.

Sedangkan dengan TransJakarta, William menambahkan, bahwa pihaknya juga akan gunakan satu kartu dan bekerja sama dengan JakLingko agar 2022 mendatang bisa terintegrasi semuanya serta nantinya akan dipersatukan oleh Bank Indonesia. Tak hanya kartu pembayar yang akan terintegrasi, MRT Jakarta juga akan terintegrasi dengan pembayaran melalui QR code baik dengan TransJakarta ataupun LRT Jakarta.

Baca juga: Capaian Melebihi Ekspektasi 2019, MRT Jakarta Akan Mulai Fase 2

“QR code diharapkan akan bisa lebih cepat dari kartu. Kita belum buka ke publik untuk saat ini karena masih terus uji coba untuk mendapat hasil terbaik. Kita juga mau tahu pengalam penumpang nantinya jika menggunakan QR code karena biasanya yang menggunakan teknologi ini skillnya berbeda-beda,” tutup William.

AeroFarms Punya 800 Varietas Tanaman, Singapore Airlines Bisa Sajikan Salad Segar Setiap Hari

Sejak Oktober 2019, Singapore Airlines sudah mulai menggunakan sayuran segar sebagai bahan makanan untuk penumpang. Sayur-sayur ini dihasilkan di fasilitas AeroFarms Newark yang disebut sebagai pertanian vertikal indoor terbesar di dunia.

Baca juga: Singapore Airlines Datangkan Sayur Segar dari AeroFarms di New Jersey

Startup agtech yang sudah berusia 16 tahun tersebut membawa sistem penanaman aeroponik ke skala industri dan menanam sekitar 800 varietas sayuran berdaun hijau, umbi-umbian, tanaman anggur hingga buah beri. Cara penanaman aeroponik ini tanpa air dan sinar matahari serta pestisida.

Sayangnya Marc Oshima, salah satu pendiri AeroFarms mengatakan, mereka tidak bisa mengasilkan buah yang ditanam di pohon. Pertanian aeroponik ini sendiri 300 persen lebih efisien dibandingkan dengan pertanian tradisional dalam hal hasil panen.

Namun, meski begitu cara penanaman yang dilakukan AeroFarms ini dikritik karena penggunaan listrik yang besar untuk menyalakan komputer, lampu, katup tekanan tinggi dan alat penyiraman sepanjang waktu. Meski ada kritik terkait listrik yang digunakan untuk penanaman, Restoran Momofuku’s David Chang, Red Rooster’s Marcus Samuelsson dan koki eksekutif Anthony Moraes memuji tentang kepadatan rasa dari produk yang dikembangkan oleh AeroFamrs.

Ini karena faktor lingkungan yang bisa diubah selama proses pertumbuhan tanaman di mana koki bisa meminta kangkung yang lebih manis dan arugula pedas yang sesuai resep. Oshima menjelaskan saat ini mereka telah berlomba untuk memenuhi permintaan karena proses AeroFarms tidak tergantung pada kondisi cuaca alami. Bahkan mereka bisa menghasilkan sayuran musim dingin di separuh waktu pertanian tradisional. Antony McNeil, direktur makanan dan minuman Global Singapore Airlines mengaku aneh ketika pertama kali mendengar selada dihasilkan di sebuah rak dengan penyinaran menggunakan lampu LED.

“Saya tidak yakin tentang itu. Tapi AeroFarms memiliki kemampuan untuk membantu Singapore Airlines melayani penumpang dengan menyediakan produk terlezat dan tersegar,” kata McNeil.

KabarPenumpang.com melansir laman qz.com (22/2/2020), bisa dikatakan faktor kesegaran menjadi hal yang menarik. Sebab sebagian besar maskapai penerbangan komersial menggunakan sayuran untuk salad yang dipanen tiga hingga lima minggu sebelum mereka hadir di nampan makanan dalam penerbangan.

Singapore Airlines adalah maskapai besar pertama yang melayani hasil panen hanya beberapa jam sebelum penerbangan. JetBlue memiliki program “pertanian-ke-udara” yang serupa, tetapi menggunakan pertanian tradisional di taman atap di bandara John F. Kennedy, New York.

“Kami sekarang memiliki peluang terbaik untuk melayani produk segar, dan tidak perlu terbang dua ribu mil,” McNeil menjelaskan.

Tetapi apakah koki yang terlatih secara klasik memiliki keraguan tentang sayuran yang ditanam di laboratorium, seperti yang dilakukan oleh banyak orang ketika datang ke produk daging yang dimodifikasi secara genetik? Betapapun anehnya kekuatan untuk mengkalibrasi warna, rasa, dan tekstur produk berdasarkan keinginan koki. Namun, McNeil tampaknya tidak peduli.

“Saya tidak punya masalah dengan itu karena itu tidak tercemar. Menurut saya, ini hanya produk segar dan cantik,” katanya.

AeroFarms menyesuaikan pesanan dengan mengubah kondisi pertumbuhan lingkungan dengan meningkatkan kecepatan angin di tambak menghasilkan kangkung yang lebih kencang, misalnya.

“Ini memperluas imajinasi kita,” kata McNeil.

Di luar faktor kualitas, McNeil mengatakan memiliki data yang melacak di mana dan bagaimana sayuran ditanam adalah penghemat waktu terutama untuk maskapai penerbangan, di mana keamanan pangan adalah yang terpenting. Seperti yang dia catat, makanan yang disajikan di pesawat harus melewati sepuluh hingga 12 titik kontrol kritis dalam transit dari panen hingga saat disajikan.

Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai

Singapore Airlines saat ini melayani produk yang dikembangkan AeroFarms pada penerbangan yang berasal dari bandara Newark dan JFK. McNeil mengatakan rencananya adalah untuk memperluas jaringan perusahaan petani berkelanjutan untuk melayani lebih banyak rute di seluruh dunia.

Pramugari Mulai Terinfeksi Virus Corona, Lantas Pilih Tetap Pakai Masker atau Tidak?

Belum lama ini, seorang pramugari Korean Air dinyatakan positif virus corona. Akibatnya, ketakutan traveler untuk datang ke Korea Selatan pun memuncak, terlihat dari ramainya netizen yang menginginkan rencananya ke Negeri Ginseng tersebut ditunda. Sementara itu, Korean Air sendiri telah membentuk sistem khusus bekerja sama dengan Centers for Disease Control and Prevention Korea (CDCK) untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

Baca juga: Ahli: Penggunaan Masker yang keliru Justru Dapat Sebarkan Virus Corona

Dengan terjangkitnya pramugari Korean Air tersebut, pembahasan terkait mekanisme pencegahan terbaik bagi awak kabin (pramugari) pun kembali menarik untuk diperbincangkan.

Pasalnya, sebelum pramugarinya terjangkit virus corona atau Covid-19, maskapai memang belum mengeluarkan peraturan yang mengharuskan pramugari memakai masker selama bertugas. Padahal, penasehat medis di dunia tidak merekomendasikan para awak kabin untuk mengenakan masker selama bertugas. Bahkan, menggunakan masker justru malah dapat menjadi penyebab terinfeksi virus corona.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebelumnya, menurut penasihat medis untuk penerbangan dunia atau International Air Transport Association (IATA), David Powell, cara terbaik dalam menghindari virus corona, termasuk virus-virus berat atau ringan lainnya, dengan sering-sering mencuci tangan. Pendapat ini tentu saja sangat bertentangan dengan pengetahuan dan stigma masyarakat luas tentang penggunaan masker dan sarung tangan karet, yang notabene justru dapat melindungi mereka.

“Virus tidak dapat bertahan lama di kursi atau sandaran tangan, sehingga kontak fisik dengan orang lain memiliki risiko infeksi terbesar dalam penerbangan. Bahkan, masker dan sarung tangan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menyebarkan virus daripada menghentikannya,” ujarnya.

Selain itu, menggunakan masker bukanlah cara yang direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk mencegah infeksi pada orang yang sehat.

“Tidak ada banyak data untuk mendukung klaim ada manfaat menggunakan masker di tempat umum,” kata Dr. Jonathan Grein, dokter penyakit menular profesional dan Direktur Rumah Sakit Epidemiologi di Pusat Medis Cedars-Sinai di Los Angeles.

Masker digunakan, lanjutnya, oleh dokter dan perawat ketika berhadapan langsung dengan orang sakit. Selain itu, mereka (dokter dan perawat) karena dua alasan utama, yakni untuk menstimulus sekresi individu yang memiliki infeksi pernapasan dan untuk melindungi petugas kesehatan yang memberikan perawatan langsung kepada pasien.

Lantas, dengan banyaknya para ahli medis di dunia yang tidak merekomendasikan pramugari untuk mengenakan masker, baik selama bertugas maupun tidak, masihkah pendapat tersebut relevan untuk menangkal serangan virus corona? Mungkin saja iya, mungkin juga tidak. Hal itu karena hingga kini belum ada keterangan lanjutan bagaimana dan dimana pramugari tersebut terinfeksi, apakah di pesawat atau di kehidupan sehari-hari, di luar jam kerja?

Meski demikian, bila langkah-langkah dari ahli kesehatan medis dunia seperti menghindari kontak dengan orang sakit, menghindari pasar hewan (hidup atau mati), pasar hewan, dan produk yang berasal dari hewan (seperti daging mentah), hingga cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, bahkan menjaga kebersihan masker (jika memakainya) seluruhnya sudah dilakukan, mungkin satu hal ini juga patut diperhatikan.

Baca juga: Hindari Virus Corona, Penumpang ini Kenakan Helm di Kabin Pesawat!

Menurut dr. Ratna Kumalasari, Medical & Scientific Information Manager Industri Farmasi pernah berujar bahwa menjaga sistem imun tubuh tetap prima juga jadi salah satu langkah penting dalam menghindari virus corona. Menurutnya, saat sistem ketahanan tubuh (immune system) kuat, virus tidak mudah masuk ke tubuh kita, hanya saat kondisi tubuh lemah, kita mudah terinfeksi virus.

Senada dengan Ratna, Menteri Kesehatan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad(K) juga pernah menjadi bahan perbincangan di media sosial akibat statement-nya yang menyatakan virus corona dapat ditangkal dengan terus berdoa dan menjaga imunitas tubuh.