Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Virus Corona ‘akhirnya’ sampai di Indonesia, setelah dua warga asal Depok dinyatakan positif mengidap Covid-19, mengingat, sebelum benar-benar ditemukan kasus WNI positif virus corona, terlebih dahulu sudah ada beberapa warga negara asing yang positif mengidap virus tersebut sepulang dari Indonesia atau mempunyai riwayat perjalanan ke Indonesia.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Dengan positifnya WNI mengiap virus corona, bagi dunia penerbangan, hal tersebut tentu sangat berdampak sangat buruk, mengingat, pemerintah, melalui berbagai kementerian dan pelaku bisnis aviasi, tengah berjuang menghadapi terpaan badai virus yang diklaim berasal dari Wuhan tersebut.

Dihimpun KabarPenumpang,com dari berbagai sumber, Sabtu lalu, dengan pemberian insentif kolaborasi berbagai pihak, seperti Pemerintah, AP I dan II, Airnav Indonesia, dan Pertamina, maskapai pun akhirnya bisa sedikit bernapas lega, setelah Februari lalu ‘terpaksa’ menutup rute internasional dari dan ke Cina hingga batas yang belum dapat dipastikan, mengikuti perkembangan virus corona di negara tersebut. Insentif tersebut dinilai dapat membuat maskapai menurunkan harga tiket pesawat hingga 40-50 persen.

Benar saja, bak gayung bersambut, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, misalnya, mulai Minggu (1/3) mengumumkan telah memberlakukan potongan harga pada sejumlah rute yaitu dari dan ke Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Toba (Silangit), Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang. Pemberlakuan potongan harga ini merupakan tindak lanjut kebijakan pemberian insentif dari Pemerintah untuk menurunkan tarif penerbangan ke 10 Destinasi Wisata.

Sesuai keputusan Pemerintah, skema pemberian potongan (diskon) harga tiket ke 10 destinasi wisata dilaksanakan selama 3 bulan kedepan dimulai tanggal 1 Maret hingga 31 Mei 2020, dimana Pemerintah menetapkan besaran insentif untuk maskapai adalah dengan potongan harga tiket hingga 50 persen. Hanya saja, diskon tersebut hanya untuk 25 persen dari total jumlah penumpang, bukan untuk seluruhnya, atau sekitar 40 seat untuk program tersebut. Bila ditotal, dalam sebulan, seat yang tersedia untuk program itu sekitar 65.700 seat.

Akan tetapi, bagi sebagian pengamat, seberapa besar pun diskon yang ditawarkan, ketika masyarakat tengah was-was, sekalipun belum ada pernyataan dari pemerintah bahwa Indonesia darurat virus corona, tetap saja mereka (masyarakat) memilih untuk menahan diri bepergian ke sana sini. Singkatnya, jika bukan karena urusan super penting, masyarakat mungkin akan urung bepergian apalagi ke daerah wisata, sebagaimana destinasi yang ditawarkan pada diskon tersebut.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Wikipedia)

Akibatnya, tentu saja berdampak pada penurunan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan. Seperti di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, misalnya, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto, menyebut pergerakan pesawat di bandara ini menurun dari semula 470-480 pergerakan pesawat menjadi hanya kurang lebih 400 pergerakan.

Hal itu baru pergerakan, belum spesifik ke okupansi di masing-masing penerbangan dari total 400 pergerakan tersebut. Sangat mungkin jumlahnya juga menurun karena banyak turis yang cenderung menghindari penerbangan ke Asia. Jika pergerakan pesawat menurun, pertanyaan yang paling mungkin adalah, kemana kah pesawat-pesawat yang biasa melayani penumpang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebetulnya redaksi KabarPenumpang.com sudah berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pihak Garuda Indonesia dan Lion Grup. Namun, keduanya belum memberikan tanggapan spesifik. Pasalnya, dari kedua maskapai tersebut, ada banyak penerbangan internasional. Rute internasional ke Cina, misalnya, setidaknya terdapat 75 penerbangan dari kedua maskapai tersebut, 30 penerbangan milik Garuda Indonesia dan sisanya milik Lion Air.

Dengan ditutupnya rute tersebut (dari dan ke Cina), pesawat widebody yang biasa digunakan untuk terbang ke sana bukan tak mungkin mangkrak di apron bandara. Sebetulnya, bisa saja dipaksakan terbang dengan dua pilihan. Pertama, mengalihkan pesawat-pesawat tersebut ke rute-rute internasional lainnya. Namun, pilihan tersebut rasanya sulit, mengingat, maskapai-maskapai Indonesia bisa dibilang masih sulit bersaing di rute internasional melawan maskapai raksasa dengan reputasi tinggi, seperti Singapore Airlines, Qatar, Emirates, dan Etihad, di samping iklim penerbangan global yang tengah tak baik. Ditambah memang demand sedang rendah ke tujuan-tujuan yang dimaksud.

Pilihan kedua, pesawat-pesawat widebody yang biasa melayani rute internasional putar haluan menjadi melayani rute dalam negeri. Pilihan tersebut rasanya juga sulit, mengingat butuh perjuangan ekstra keras. Pasalnya, bila okupansi rendah, menggunakan pesawat widebody untuk rute domestik dengan jarak tempuh singkat justru malah membuat maskapai rugi besar.

Nyatanya, gairah penumpang untuk menggunakan pesawat pun juga tengah menurun. Selain konektivitas darat dan laut yang sudah mulai membaik, persoalan tiket masih dikeluhkan penumpang, di tengah perlambatan ekonomi global, termasuk Indonesia, akibat berbagai hal. Tahun lalu, misalnya, penumpang pesawat tercatat turun 19,14 persen atau turun sebanyak 17,5 juta orang.

Sebetulnya, di luar kedua pilihan tersebut, maskapai masih bisa tertolong dengan pilihan lainnya, yakni penerbangan khusus umroh. Namun, harapan tersebut pupus, mengingat pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menyetop layanan umroh. Akibatnya, calon pesawat mangkrak pun jadi bertambah meskipun belum jelas ada berapa pesawat yang akan terdampak.

Kemudian, pilihan untuk memarkirkan pesawat di apron bandara pun juga bukan pilihan bagus, mengingat, pesawat tetap harus membayar biaya parkir pesawat dan tetap harus melaksanakan perawatan rutin. Setidaknya, setiap pesawat membutuhkan kocek sebesar Rp43 miliar untuk perawatan rutin, mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

Hanggar 4 GMF. Sumber: Twitter

Pada dasarnya, perawatan rutin tidak melihat pesawat digunakan atau tidak. Tentu, hal tersebut akan sangat menyedihkan maskapai. Sudah pesawat tidak menghasilkan (karena tidak melayani penumpang), namun di sisi lain tetap harus mengeluarkan uang untuk membayar biaya parkir dan perawatan pesawat. Kondisi yang sangat sulit bagi maskapai.

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $29 miliar atau Rp417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Celakanya, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit loss) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia.

Baca juga: Penutupan Rute dari dan ke Seluruh Cina Daratan, Berpotensi Hanguskan Triliunan Rupiah

Menariknya, berkaca pada peristiwa serupa (wabah SARS), upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Jika sudah begini, bagaimana kah strategi maskapai untuk memaksimalkan armadanya yang mangkrak akibat penutupan rute dari dan ke Cina, rute umroh, serta rute-rute internasional lainnya yang juga terdampak akibat virus corona sampai iklim penerbangan global benar-benar pulih kembali? Khusus untuk Garuda Indonesia, di tengah kewajiban membayar utang sebesar Rp6,8 Triliun yang sudah jatuh tempo, bagaimana kah upaya maskapai pelat merah tersebut? Akankah bernasib sama dengan anak perusahaannya, Merpati Airlilnes?

Di Inggris, Penyandang Tuna Netra dan Tuna Rungu Semakin Terancam di Moda Kereta Komuter

Penyandang disabilitas seperti tuna netra dan tuna rungu (tuli) kerap kali menjadi yang terkesampingkan ketika terkait masalah kereta komuter di Inggris. Bahkan terkesan dianggap seperti penumpang normal lainnya yang bisa dengan jelas tahu keadaan stasiun dan keterlambatan kereta.

Baca juga: Di Inggris, Penyandang Disabilitas Tak Terlayani dengan Baik di Stasiun dan Kereta

Hal ini membuat mereka seringkali tertekan karena tidak tahu dengan jelas kondisi stasiun dan perjalanan kereta. Tak hanya itu, bahkan anjing penuntun mereka sering terinjak dan terdorong tas.

Para tuna netra ini juga sering di dorong penumpang lainnya dan di dalam kereta sering duduk di lantai. KabarPenumpang.com melansir birminghammail.co.uk (24/2/2020), karena hal ini manajer kebijakan dan kampanye regional Guide Dogs, Alexandra Jones mengatakan, meningkatnya ketakutan dan ketidakpastian terkait pengguna kereta api, membuat banyak orang dengan tuna netra dan tuli terkena dampak.

Hal inilah yang membuatnya kemudian membagikan kisah-kisah para disabilitas tersebut di sebuah audiensi publik yang diadakan oleh Polisi West Midlands dan Komisaris Kejahatan David Jamieson. Alexandra bergabung dengan David Smith dan anjing penuntunnya Darcy pada pertemuan 21 Februari 2020 kemarin.

“Secara tradisional, ini telah menjadi mode transportasi penyandang tuna netra dan tuli. Ini cukup nyaman dan mereka percaya diri saat menggunakannya. Namun sekarang kami mulai melihat banyak orang mengatakan bahwa mereka sekarang mulai merasa semakin tidak aman atau tidak pasti dengan penggunaan jaringan keret api di wilayah tersebut,” ujar Alexandra.

Dia menambahkan satu dari lima orang memberitahu mereka bahwa banyak yang aktif menghindari perjalanan kereta api karena ada begitu banyak ketidakpastian di sekitar mereka. Pengguna layanan di wilayah tersebut memberitahu Alexandra bahwa mereka harus melakukan perubahan pada kehidupan sehari-hari termasuk hal-hal seperti mempertimbangkan untuk berhenti bekerja atau mengubah jam kerja demi menghindari kereta yang penuh sesak dan tekanan terkait dengan pembatalan, keterlambatan dan gangguan.

“Kami benar-benar prihatin dengan hal ini di Guide Dogs karena kami sudah tahu bahwa tingkat pengangguran untuk orang yang tuna netra sangat tinggi. Mereka jauh lebih tinggi jumlahnya daripada kelompok penyandang disabilitas lainnya dan 75 persen populasi usia kerja,” tambah Alexandra.

Baca juga: Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

Anjing pemandu melakukan panggilan untuk pengalaman dari pengguna kereta api tuna netra yang terlihat di Midlands. Alexandra mengatakan, kepadatan menjadi masalah besar dan pihaknya memandu pemilik anjing untuk berbicara tentang duduk di lantai.

130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

Virus corona yang kini sudah menyebar ke lebih dari 60 negara membuat museum terkenal di Perancis yakni Museum Luovre harus tutup pada hari Minggu kemarin. Penutupan ini setelah kasus virus corona meningkat di seluruh Eropa dan sekitarnya.

Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Musemu Louvre sendiri menjadi yang paling banyak dikunjungi pelancong di dunia dan beberapa pelancong yang datang pada Minggu sore mengeluh karena penutupan tersebut. KabarPenumpang.com melansir laman alkhaleejtoday.co (1/3/2020), keluhan tersebut karena pelancong telah memesan tiket pada pagi yang sama tanpa ada pemberitahuan apapun terkait penutupan museum.

Diketahui, di Perancis sendiri sudah ada 130 kasus yang dikonfirmasi dan dua yang meninggal dari virus corona ini. Negara yang terkenal dengan menara Eiffelnya ini melarang pertemuan lima ribu orang atau lebih. Mereka juga menutup sekolah dan membatalkan layanan keagamaan di beberapa zona yang terdampak.

Ternyata pada hari Minggu kemarin, tak hanya Museum Louvre yang tutup tetapi pagelaran marathon di Paris juga dibatalkan. Dua kasus yang dikonfirmasi di Perancis pada hari Minggu adalah anak-anak berusia satu dan lima tahun serta ibu mereka yang berusia 27 tahun di kota Strasbourg timur.

Namun, meski begitu, di Perancis tidak ada anak di bawah sepuluh tahun yang dilaporkan meninggal karena virus corona itu. Virus corona saat ini juga telah mengguncang pasar global dan mendorong langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintah yang berebut untuk menanggulangi wabah tersebut.

Saat ini World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia sudah memperingatkan dan menghimbau seluruh dunia akan bahayanya virus ini. Di Amerika Serikat dan Australia mengumumkan kematian akbiat virus corona pertama mereka selama akhir pekan.

Sedangkan Cina melaporkan adanya 573 infeksi baru pada hari Minggu. Virus corona sendiri menyebar dengan cepat melintasi perbatasan dengan Korea Selatan, Italia dan Iran yang saat ini menjadi salah satu negara terbanyak yang terinfeksi.

Dalam beberapa hari terakhir, epidemi telah menyebar ke Afrika sub-Sahara, sementara Armenia dan Republik Ceko melaporkan kasus pertama mereka pada hari Minggu, dan kasus-kasus di Jerman berlipat ganda. Pada hari Minggu, Kementerian Kesehatan Kerajaan Bahrain mengatakan telah mendaftarkan tujuh kasus baru yang dikonfirmasi dari virus corona, meningkatkan total kasus yang dikonfirmasi menjadi 33.

Semua orang yang berhubungan dengan pasien yang terinfeksi juga telah dikarantina sebagai upaya pencegahan. Qatar, Ekuador, Luksemburg dan Irlandia semuanya mengkonfirmasi kasus pertama mereka pada hari Sabtu ketika virus melanjutkan pawai globalnya di luar perbatasan China.

Negara yang paling terpukul di Eropa Italia mengatakan pada hari Minggu pihaknya akan mengirimkan 3,6 miliar euro ($4 juta) dalam bantuan darurat untuk sektor-sektor yang terkena virus. Italia mengalami lonjakan kasus baru pada Sabtu, sehingga jumlah total infeksi mencapai di atas seribu, dengan 29 kematian.

Wabah ini juga memaksa penundaan lima pertandingan di liga sepak bola Serie A teratas Italia, termasuk pertandingan kelas berat antara juara Juventus dan Inter Milan. Bahkan di Indonesia hari ini, Senin (2/3/2020) mengumumkan dua orang positif terinfeksi virus corona dan sudah masuk dalam ruang isolasi serta rumah sakit dan orang-orang yang berhubungan dengan dua pasien ini sudah di karantina.

Kekhawatiran memuncak bahwa penyakit ini dapat membahayakan ekonomi global. Pasar saham di negara-negara Teluk yang kaya minyak anjlok pada hari Minggu setelah bursa global terpuruk minggu lalu, merosot ke level terendah sejak krisis keuangan 2008.

Ekonomi Cina juga terpukul ketika pabrik-pabrik tutup dan jutaan orang tinggal di rumah setelah pemerintah memberlakukan tindakan penguncian di seluruh petak negara.
Dengan kematian dari virus corona yang terdaftar di AS, Thailand dan Australia selama akhir pekan dan kasus-kasus baru masih melonjak di Italia dan Iran, para pedagang memulai minggu ini dengan gelisah.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Ekonom Goldman Sachs sekarang memperkirakan virus itu akan menimbulkan “kontraksi global jangka pendek” pada ekonomi dunia yang memaksa The Fed untuk memangkas suku bunga di babak pertama. Ketua Fed Jerome Powell telah membuka pintu untuk penurunan suku bunga, mengutip “risiko yang berkembang” yang ditimbulkan pada ekonomi AS dari virus, dalam sebuah pernyataan langka yang dikeluarkan pada hari Jumat.

United Airlines Larang Awak Kabinnya ikut #OverheadBinChallenge

Masuk ke dalam bagasi kabin pesawat sepertinya sudah dilakukan oleh para awak kabin beberapa dekade lalu. Namun baru-baru ini kembali viral karena dibagikan ke beberapa platform media sosial.

Baca juga: Tim Fisikawan Internasional Temukan Cara Terbaik Minimalisir Kepadatan Dalam Kabin

Bahkan ada tagar yakni #OverheadBinChallenge yang makin memudahkan untuk mencari foto para awak kabin yang tengah berada di dalam tempat penyimpanan barang bawaan penumpang tersebut. Viralnya challenge ini kemudian membuat banyak awak kabin mengikutinya dan mengunggah di media sosial mereka masing-masing.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (29/2/2020), berbagai pose terlihat begitu menarik. Salah satunya adalah foto badan awak kabin yang masuk ke tempat penyimpanan dengan kaki yang menggantung keluar.

Posisi seperti orang tidur tengkurap pun menjadi yang populer lainnya. Di Instagram dengan kata kunci pencarian #OverheadBinChallenge, Anda bisa menemukan foto-foto viral tersebut.

Dari penelusuran yang dilakukan KabarPenumpang.com melalui #OverheadBinChallenge ternyata yang melakukannya lebih banyak adalah pramugari. Karena hal ini, maskapai United Airlines kemudian melarang para awak kabinnya untuk mengikuti challenge tersebut.

Faktor utama pelarangan tersebut adalah untuk keselamatan para awak kabin itu sendiri. Manajemen maskapai mengatakan, agar awak kabin mereka tidak berpikir untuk memposting gambar-gambar semacam itu di media sosial untuk menjaga sikap profesional mereka.

Untuk saat ini, United Airlines telah memutuskan untuk menghindari proses disiplin formal untuk pelanggaran pertama jika ada awak kabinnya yang mengikuti #OverheadBinChallenge. Jika pelanggaran berulang maka akan ada sanksi yang lebih tegas lagi dari pihak United Airlines.

“Kami mengharapkan foto mereka yang diposting di media sosial menunjukkan hubungan dengan maskapai untuk menjadi profesional,” ujar maskapai tersebut.

Baca juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat

Seiring dengan foto-foto overhead bin, United Airlines juga telah melarang lokasi foto favorit anggota kru lainnya seperti bagian dalam penutup mesin pesawat terbang. Namun ternyata bukan hanya United Airlines yang melarang foto semacam ini. Lagi pula, maskapai sebenarnya meminta karyawan untuk mempromosikan perusahaan di saluran media sosial mereka.

 

 

Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

Lebih dari 13.000 penerbangan dalam sehari hilang akibat virus corona. Menurut Flightradar24, hanya dalam tiga minggu, mulai 23 Januari hingga 13 Februari, jumlah keberangkatan dan kedatangan harian untuk penerbangan domestik dan internasional turun menjadi hanya 2.004, dari 15.072.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Bila dilihat dari sisi negatif, turunnya frekuensi penerbangan tersebut tentu sangat banyak. Sebut saja pendapatan para pilot dan pramugari (sebab mereka dibayar mengikuti banyaknya jam terbang), pendapatan pengelola bandara, pengelola ruang udara (air navigation charge), pengelola ground handling, bahkan berbagai perusahaan jasa, seperti bus, kereta (bandara), taksi, hingga wrapping sekalipun, yang kesemuanya mengalami penurunan pendapatan. Namun, dibalik banyaknya sisi negatif, ternyata juga terdapat sisi positif.

Dikutip dari laman bbc.com, Senin, (2/3), sepinya ruang udara rupanya membuat tingkat polusi di Cina menurun. Hal itu diketahui dari hasil potret satelit milik Badan Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA) yang menunjukkan kadar polusi gas nitrogen dioksida berkurang drastis. Gas ini biasanya dihasilkan oleh fasilitas industri dan asap kendaraan. Termasuk di dalamnya emisi karbon yang dihasilkan oleh pesawat.

Pasalnya, perjalanan udara selama ini juga disinyalir turut menyumbang emisi peningkatan emisi karbon dunia. Menurut NASA, untuk pertama kalinya fenomena ini terjadi, dengan tingkat penurunan drastis serta melibatkan area penurunan yang lebih luas.

“Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan penurunan dramatis tingkat polusi pada area yang luas karena kejadian tertentu,” kata Fei Liu, peneliti kualitas udara NASA.

Menurut NASA biasanya tingkat polusi memang akan berkurang setiap awal tahun akibat perayaan imlek. Namun demikian hal tersebut tidak berlangsung lama karena orang-orang akan kembali beraktivitas seperti biasa.

“Pengurangan tingkat polusi tahun ini lebih signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan lebih lama,” lanjutnya.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Meski demikian, maraknya langkah-langkah preventif dari berbagai negara di dunia dalam mencegah penyebaran virus corona, salah satunya seperti mengurangi penerbangan dari dan ke Cina, membuat ia tak terlalu kaget atas bukti turunnya polusi dari citra satelit tersebut.

“Saya tidak terkejut karena banyak kota di seluruh negeri telah mengambil tindakan untuk meminimalkan penyebaran virus.”

Pemerintah Australia Punya Aturan Baru Untuk Keselamatan Penumpang Kapal

Pemerintah Australia kini membuat aturan keselamatan penumpang yang baru untuk kapal komersialnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keselamat penumpang di kapal komersial Negeri Kangguru tersebut. Langkah-langkah pada aturan terbaru ini baru saja diumumkan oleh Pemerintah Australia.

Baca juga: Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air

Wakil Perdana Menteri Australia yang juga menjabat sebagai Menteri Infrastruktur, Transportasi dan Pembangunan Regional Michael McCormack mengatakan, adanya perubahan aturan tersebut juga untuk memperkuat persyaratan dalam memastikan keselamatan penumpang. Sehingga kapal komersial bisa mempertanggung jawabkan penumpang mereka selama dalam perjalanan di lautan.

McCormack mengatakan, perubahan ini mengacu pada pendekatan holistik untuk keselamatan penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber miragenews.com (28/2/020), selain itu mereka juga mengikuti konsultasi industri dan publik yang luas untuk menangani kompleksitas. Pertimbangan yang cermat dari beragam kebutuhan sektor kapal komersial Australia juga menjadi salah satunya.

“Kami telah dengan jelas menetapkan tanggung jawab bagi operator untuk memiliki prosedur yang efektif dalam memantau penumpang dan memiliki bukti tentang keselamatan serta prosedur darurat mereka untuk penumpang yang hilang dan tercatat dalam Sistem Manajemen Keselamatan mereka,” jelas McCormack.

Hal ini kemudian akan memastikan regulator, otoritas keselamatan maritim Australia (AMSA) agar bisa memverifikasi kepatuhan mereka terhadap aturan baru tersebut. Dengan itu, berdasarkan umpan balik industri, maka perubahan ini akan memungkinkan operator untuk menggunakan sistem teknologi keselamatan terbaik dalam operasional masing-masing.

Baca juga: Inilah Serangkaian Faktor yang Menjadi Penyebab Tabrakan kapal di Laut

Kemudian penghitungan on atau off, gelang elektronik, pemantauan CCTV atau alat lainnya juga akan digunakan untuk memastikan kru kapal agar dapat menanggapi insiden keselamatan penumpang secepat mungkin. Langkah selanjutnya yang terdapat dalam aturan baru adalah edukatif, yakni membantu pemilik dan operator di industri untuk mematuhi aturan yang akan mulai berlaku pada 31 Mei 2020 mendatang.

Tiga Manfaat Drone di Bandara, Nomor Dua Taruhannya Nyawa

Di beberapa kondisi, drone mungkin menjadi sumber keluhan bagi industri penerbangan dan sudah banyak kasus yang memaksa tertundanya penerbangan karena mengancam keselamatan. Tetapi, bagaimana bila dengan penggunaan dan momentum yang tepat serta diikuti dengan komunikasi dengan otoritas bandar, apakah drone masih akan mengganggu?

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Seperti dilansir airport-technology.com, Jumat, (28/2), rupanya drone tak selamanya mengganggu industri penerbangan. Justru sebaliknya, adanya drone dapat membantu penerbangan, khususnya dari ancaman bird strike. Terlebih, menurut International Civil Aviation Organization (ICAO) atau Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, serangan burung atau bird strike yang sangat mengancam keamanan penerbangan, 90persen di antaranya terjadi saat lepas landas dan mendarat.

Selain dapat menangkal kawanan burung di sekitaran bandara, drone juga sangat bermanfaat untuk melakukan beberapa pekerjaan yang erat kaitannya dengan kebandarudaraan, seperti inspeksi bandara dan aktivitas pengiriman barang atau biasa juga disebut drone deliveries atau drone kargo. Untuk lebih lengkapnya, berikut tiga manfaat drone di bandara.

1. Inspeksi bandara
Salah satu cara drone dapat mendukung operasi bandara dan mengurangi biaya adalah dengan melakukan kegiatan perawatan dan inspeksi di bandara. Inspeksi Path Approach Path Indicator (PAPI), misalnya, secara tradisional biasa dilakukan oleh pesawat inspeksi penerbangan, namun kini, drone dapat menggantikan peran tersebut untuk memeriksa unit PAPI mematuhi peraturan atau tidak, termasuk sudut transisi, simetri, dan horizontal, seperti yang diatur oleh ICAO.

Canard, sebuah perusahaan Inggris dan Spanyol, saat ini tengah melakukan inspeksi PAPI di berbagai bandara. Bahkan, lima di antaranya telah diinspeksi berkat bantuan drone, seperti bandara Paris-Orly Airport di Paris, Milano Linate Airport di Italia, Bandara Internasional Jenewa, dan Bandara Internasional Edmonton (EIA) atau bandara pertama yang diinspeksi dengan bantuan drone.

2. Menangkal bird strike
Burung, sekalipun hanya seberat sekitar 2 kg, faktanya dapat membuat burung besi seberat 40.000 kg tak berkutik. Oleh karenanya, seiring berjalannya waktu, segala macam cara terus dicoba untuk menghindari insiden bird strike berulang dan terus berulang. Salah satunya di, Bandara Internasional Edmonton, Kanada.

Tahun 2017 lalu, bandara tersebut resmi menghadirkan sebuah robot yang diprogram khusus untuk mengusir kawanan burung liar yang berada di sekitaran landas pacu bandara. Drone tersebut dikendalikan dari jarak jauh dan berhubungan langsung dengan otoritas bandara untuk memaksimalkan fungsinya. Teknologi ini pun didaulat menjadi pionir karena belum ada yang menggunakan The Robird, nama dari robot drone pengusir burung tersebut, dalam usaha meminimalisir angka kecelakaan di sekitaran landas pacu.

Dari segi desain, The Robird Drone ini menyerupai Elang Peregrine, yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung dalam jumlahbesar, seperti burung camar dan angsa. Bahkan, selain menakut-nakuti burung, The Robird Drone juga dapat ‘memaksa’ kawanan domba untuk menjauh dari bandara.

Baca juga: Viral! Akibat Virus Corona, Sebuah Drone ‘Tegur’ Nenek dan Kakek Tua

3. Drone kargo
Pasar drone komersial global diperkirakan akan tumbuh sebesar 26% setiap tahun dari 2016 untuk mencapai nilai $ 10.738 juta pada tahun 2022. Selain itu, tren e-commerce yang terus meningkat juga mendorong penggunaan drone kargo lebih massif. Tren ini menurut ahli lebih didorong oleh perubahan pola belanja konsumen.

Sebuah survei oleh McKinsey menemukan bahwa 25% konsumen akan membayar harga premium untuk pengiriman cepat dan jumlah ini cenderung meningkat. McKinsey memperkirakan bahwa di masa depan kendaraan otonom, termasuk drone, akan berkontribusi hampir 100% dari X2C (business to consumer) dan 80% dari semua item (model bisnis).

Untung Rugi Narrowbody vs Widebody untuk Pesawat Kepresidenan Indonesia

Belum lama ini beredar foto pesawat Garuda Indonesia yang livery-nya diubah menjadi pesawat kepresidenan. Usut punya usut, ternyata foto tersebut benar adanya. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengakui pesawat tipe Boeing 777-300ER bakal digunakan Presiden Jokowi untuk menghadiri ASEAN-US Summit 2020 di Las Vegas, Amerika Serikat, Maret mendatang.

Baca juga: Berpendingin Es Balok, Inilah Kereta Kepresidenan Soekarno

Pasalnya, pesawat kepresidenan yang ada saat ini, Boeing Business Jet (BBJ) tipe 737-800, dinilai tak efisien jika digunakan untuk penerbangan jarak jauh. Selain harus transit berkali-kali, tingkat kenyamanan yang ditawarkan keduanya juga berbeda, mengingat 737 tergolong narrowbody atau berbadan sempit dan 777 (trilple) seven masuk dalam kategori widebody atau berbadan lebar yang punya tingkat kenyamana lebih baik, utamanya untuk penerbangan jarak jauh.

Meski demikian, terlepas dari Boeing 777-300ER yang disewa untuk agenda Presiden Jokowi Maret mendatang, sebetulnya, untuk ukuran Presiden RI, model pesawat manakah yang lebih cocok dimiliki pemerintah guna memudahkan orang nomer satu di Republik ini melakoni tugas-tugas kenegaraan? Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berikut ulasan untung rugi narrowbody vs widebody pesawat kepresidenan Indonesia.

1. Efisiensi
Sebetulnya masalah efisiensi masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Namun, bila bicara dari data yang ada, rata-rata kunjungan kenegaraan Presiden RI berada dikisaran 12-16 kunjungan per tahun. Misalnya, di tahun 2015 lalu, Presiden Jokowi tercatat melakukan kunjungan kerja sebanyak 16 kali. Sebagai pembanding, di tahun yang sama, Kanselir Jerman, Angela Merkel, tercatat melakukan kunjungan hingga 56 kali.

Airbus A340 ‘Konrad Adenaeur’. Sumber: aeronef.net
Gambaran kabin dari pesawat kenegaraan Jerman yang baru. Sumber: Lufthansa Technik

Dari perbedaan mencolok tersebut, beberapa pihak menilai sangat wajar bila Indonesia memutuskan untuk menggunakan pesawat narrowbody sebagai pesawat kepresidenan. Pasalnya, bila Indonesia memaksakan membeli pesawat widebody, dengan jumlah kunjungan mentok di angka belasan, hal itu dinilai justru akan menggerus anggaran dan sangat tak efisien.

Betapa tidak, untuk pesawat medium sekelas Boeing 737 saja, setidaknya membutuhkan kocek Rp43 miliar untuk perawatan rutin, mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Perawatan rutin tersebut bisa saja per bulan atau lebih, tergantung jam terbang dan frekuensi pemakaian. Bila pesawat narrowbody tersebut saja membutuhkan kocek sebesar itu, lantas, bagaimana dengan widebody? Pastinya jauh lebih besar.

Sedangkan, jika menyewa pesawat, untuk ukuran pesawat jet dengan kapasitas 13 penumpang saja, harganya berkisar Rp123 juta per jam. Tentu saja harga untuk menyewa sebuah pesawat 777-300ER yang notabene berbadan lebar, harganya bisa jauh lebih dari pada itu. Jika sudah begitu, dengan berbagai penjelasan di atas, lebih efisien mana, menyewa atau memiliki pesawat widebody sendiri?

2. Faktor Keselamatan
Sebagai pesawat sewaan, tentu saja fitur-fiturnya adalah fitur bawaan layaknya penerbangan komersial atau dalam hal ini tidak memiliki fitur penunjang keselamatan untuk standar pesawat kepala negara , seperti anti rudal atau biasa disebut CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System).

3.  Risiko Saat Transit
Seperti sudah disebutkan di atas, meski kemewahan melengkapi pesawat narrrowbody kepresidenan, namun jarak jangkau yang terbatas untuk penerbangan jarak jauh, menjadikan pesawat kepresidenan harus transit untuk isi bahan bakar di suatu atau beberapa bandara. Selain transit akan melelahkan bagi rombongan VVIP, faktor keamanan juga menjadi risiko bagi pejabat negara.

4. Kebanggaan dan Identitas
Meskipun hanya mempunyai pesawat medium Boeing Business Jet (BBJ) tipe 737-800, Indonesia mungkin patut berbangga diri karena masih memiliki pesawat khusus kepresidenan. Tengoklah negara adidaya kedua di dunia, Cina, yang tidak mempunyai pesawat khusus kepresidenan. Padahal, dari segi teknologi, negara tersebut sudah mampu memproduksi pesawat sipil maupun militer sendiri.

Meski demikian, ketika butuh, maskapai domestik sudah menyiapkan armada khusus berupa Boeing 747-400 dan diubah sedemikian rupa hingga menyerupai kantor bahkan hotel. Tentu saja sebelumnya harus melewati pemeriksaan ketat.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Sebetulnya masalah kebanggaan dan identitas sangat tentatif. Saat pesawat-pesawat para pemimpin kepala dunia berkumpul, pada umumnya tidak melihat apakah pesawat tersebut menyewa atau tidak atau livery dari pesawat itu sendiri, sebab, saat pesawat disewa untuk tugas kenegaraan, biasanya livery-nya sudah disesuaikan dengan pesanan.

Hanya saja, yang membedakan tetaplah pada aspek keselamatan, mengingat, pesawat dengan kepresidenan idealnya sudah dilengkapi perangkat pertahanan udara terbatas. So, dengan berbagai penjelasan di atas, apakah Anda termasuk ke dalam kelompok pro pesawat kepresidenan atau kontra (menyewa pesawat hanya pada perjalanan jauh)?

Hadirkan Berbagai Teknologi Canggih dan Habiskan Miliaran Dollar, Akankah Olimpiade Jepang Tetap Digelar?

Olimpiade Musim Panas di Tokyo yang akan berlangsung pada Juli 2020 ini, banyak sekali fasilitas yang dihadirkan. Kereta cepat hingga berbagai teknologi terbaru yang bisa menjadi pusat perhatian banyak orang.

Baca juga: Sambut Olimpiade 2020, Bandara Jepang Siapkan Kemudahan Bagi Penyandang Disabilitas

All Nippon Airways (ANA) maskapai Negeri Sakura tersebut juga mengembangkan berbagai teknologi yang berfokus pada perjalanan untuk digunakan di bandara-bandara Jepang serta pusat perbelanjaan. ANA mengaku upaya yang lebih besar juga diperlukan bagi staf daratnya demi berkomunikasi secara efktif dengan semua penumpang di Bandara.

KabarPenumpang.com merangkum fastcompany.com (27/2/2020), di Bandara Jepang pengumuman biasanya menggunakan dua bahasa yakni Jepang dan Inggris. Namun, ANA memudahkannya dengan meluncurkan Pocketalk di Desember tahun lalu.

Pocketalk tersebut merupakan perangkat penerjemah dengan teknologi AI yang lebih kecil dari smartphone dan bisa berfungsi dalam 74 bahasa. Pocketalk bisa digunakan di gerbang keberangkatan dan lobi Bandara Internasional Osaka.

Dilengkapi dengan layar sentuh dan mikrofon peredam bising, perangkat ini juga bisa menangani pelancong yang berbicara dengan dialek, slag ataupun frasa idiomatik tertentu. Kepala operasi ANA di bandara, Shinici Abe mengatakan, perangkat ini terbukti sangat berguna dalam memberi informasi yang tepat waktu dalam situasi tak terduga.

Perangkat ini akan berada di tangan petugas ANA di akhir Maret 2020 dan terbagi di 50 bandara di Jepang yang dilayani maskapai ini. Dengan Olimpiade musim panas ini, ANA HD akan mengerahkan seribu avatar robot (dirancang bekerja sama dengan OhmniLabs) yang disebut “Newmes” di daerah-daerah dengan permintaan tinggi di Tokyo, termasuk pusat perbelanjaan, tempat wisata dan museum, serta rumah sakit dan fasilitas perawatan lansia.

Pikirkan Newmes seperti robot telepresence yang memungkinkan karyawan jauh untuk secara fisik berkeliaran di lorong kantor dan mengambil bagian dalam rapat, dengan hal ini, wajah pengguna muncul di layar video 10,1 inci yang terletak di atas silinder resin setinggi lima kaki.

Tetapi Newmes akan memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik dengan lengan robot (dan akhirnya aksesori yang dapat disesuaikan lainnya) yang dapat dikontrol untuk tindakan yang tepat, seperti menuangkan segelas air, memancing, atau bahkan memeluk nenek Anda di rumah pensiun. Jika Anda menggunakan Newmes yang terpasang di toko Jepang, Anda juga dapat melakukan pembelian yang di kirim langsung ke rumah Anda.

Tujuan jangka pendeknya adalah membuat avatar tersedia untuk publik Jepang dan untuk digunakan secara internal oleh perusahaan dan lembaga pemerintah. Pengguna akan dapat masuk ke platform (untuk diluncurkan pada bulan April tahun ini) di komputer pribadi, meskipun versi aplikasi seluler akan siap tahun depan. Akhirnya, orang-orang di seluruh dunia akan memiliki akses ke Newmes melalui portal global yang saat ini dalam pengembangan.

Namun, ketika Jepang tengah bersiap untuk Olimpiade 2020, Jepang ikut menjadi salah satu negara yang masyarakatnya terinfeksi virus corona. Bahkan selama 14 hari sebuah kapal pesiar Diamon Pricess dikarantina di lautan.

Kehadiran virus corona ini apakah akan membuat Olimpiade 2020 musim Panas di Jepang akan dibatalkan atau ditunda atau mungkin terus berjalan? Ternyata pihak penyelenggara yang khawatir akan masalah ini mengatakan kemungkinan terbesarnya adalah dibatalkan jika virus corona tidak teratasi hingga akhir Mei 2020.

“Jika virus corona yang menjangkiti masyarakat di Jepang belum bisa diatasai hingga akhir Mei, maka pengelenggara mungkin akan membatalkan Olimpiade 2020 musim Panas di Jepang,” kata sebuah laporan.

Baca juga: SkyDrive, Moda Otonom Yang Digadang Nyalakan Api Olimpiade 2020

Diketahui, Jepang sudah menghabiskan US$12,6 miliar untuk penyelenggaraan Olimpiade 2020, namun tim audit mengatakan jumlah uang yang digelontorkan dua kali lipat dari yang dilaporkan. Olimpiade 2020 di Jepang akan berlangsung dari 24 juli hingga 9 Agustus 2020 di Tokyo dan sekitarnya.

Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit

Setelah artikel terdahulu mengupas bagian interior dari Airbus A380 milik British Airways, sekalipun sebetulnya tak cukup ruang untuk mengupas tuntas segala kelebihan, kemewahan, dan kemegahannya, kali ini tak ada salahnya kita fokus pada salah satu bagian terpenting dalam pesawat. Kokpit.

Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Punya Dua Lift untuk Manjakan Penumpang

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Kamis, (27/2), rupanya kemegahan dan kemewahan pesawat Airbus A380, dalam hal maskapai British Airways (sebab mungkin saja maskapai lain mengubah dekorasi kokpit dengan tambahan fasilitas yang berbeda), tidak hanya terletak pada kabin saja penumpang saja, melainkan juga kokpit.

Betapa tidak, bila pada umumnya pilot tidak memiliki fasilitas khusus berupa kamar pribadi dan toilet privat, atau mungkin di beberapa pesawat pilot memiliki hal tersebut sekalipun harus melalui perjuangan ekstra mengingat lokasinya (kamar atau tempat tidur khusus untuk pilot) berada di atas kabin business class, pada Airbus A380 pilot tak perlu melakukan hal itu (bersusah payah mencapai kamar pribadi). Pasalnya, pilot diberikan fasilitas khusus berupa dua kamar pribadi dan toilet di dalam kokpit. Luas biasa, bukan?

Selain itu, begitu banyak tombol di beberapa panel, mulai dari navigation unit, flight information unit, hingga central unit (tersebar di panel bagian atas, panel instrumen bagian tengah, dan panel bagian bawah), yang dari ketiganya terdapat turunan indikator yang sangat banyak, bahkan, terlampau banyak untuk disebutkan seluruhnya.

Sebagai pesawat terbesar dengan harga selangit, kokpit Airbus A380 sudah barang tentu memiliki fitur-fitur canggih khas Airbus, sekaligus pembeda dengan pabrikan asal AS, Boeing, salah satunya terletak pada sistem kemudi, dimana Airbus menggunakan joystick adapun Boeing menggunakan kemudi seperti bentuk setir atau biasa disebut yoke.

Dalam hal keamanan atau safety, Airbus A380 juga dilengkapi dengan sejumlah fitur canggih, semisal sistem yang memungkin pilot terhindar dari kesalahan kecil akibat tidak sengaja mengangkat persneling, memencet tombol, dan sejenisnya.

Baca juga: Ditemukan Keretakan Pada Sayap, Airbus A380 Harus ‘Keliling Dunia’ untuk Reparasi

Meski demikian, secanggih apapun sistem-sistem yang ada di Airbus A380, tetap saja, harus terhindar dari cairan apapun, mengingat, dari database ASRS dan safety reporting NASA, sudah banyak sekali insiden yang menyebabkan mesin pesawat mati mendadak akibat ketumpahan cairan, baik berupa kopi ataupun yang lainnya.

Pasalnya, kemewahan dan kemegahan Airbus A380 tetap saja tak membuat panel-panel di dalam kokpit, khususnya center pedestal belum mampu menghadirkan fitur anti tumpahan. Menurut Captain Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.