Train 18 yang katanya akan menggantikan Shatabdi Express diberi nama Vande Bharat Express oleh Menteri Kereta Api India Puyush Goyal. Kereta ini sendiri akan berjalan di antara Delhi dan Varansi dengan kecepatan maksimum 160 km per jam.
Baca juga: India Uji Coba Train 18, Kereta Cepat Tanpa Masinis Produksi Dalam Negeri
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman economictimes.indiatimes.com (27/1/2019), kereta dengan 16 gerbong ini diproduksi selama 18 bulan dengan biaya Rs97 crore oleh Integral Coach Factory (ICF).
“Kereta 18 sekarang akan dikenal sebagai Vande Bharat Express. Ini kereta yang sepenuhnya dibangun di India oleh insinyur India, dalam rentang 18 bulan. Itu akan naik dari Delhi ke Varanasi. Ini adalah contoh yang memungkinkan untuk membuat dunia kereta kelas di bawah Make in India,” ujar Goyal.
“Itu benar-benar dibuat di India dan berbagai nama disarankan oleh masyarakat umum tetapi kami telah memutuskan untuk menamainya Vande Bharat Express. Hadiah pada kesempatan Hari Republik kepada orang-orang. Akan meminta perdana menteri untuk mengibarkannya,” katanya.
Train 18 atau Vande Bharat Express ini sendiri telah diuji coba paca 29 Oktober lalu sebelum menggantikan Shatabdi Express yang sudah mengular selama 30 tahun di India. Kereta ini sendiri dilengkapi dengan CCTV dan memiliki dua kompartemen eksekutif yang berada di tengah 16 gerbong tersebut.
Vande Bharat Express akan mampu mengangkut 1128 penumpang. Selain Sistem Informasi Penumpang berbasis GPS, kereta ini telah menghadirkan pencahayaan yang tersebar, pintu otomatis dengan langkah kaki. Tak hanya itu, toilet vakum yang ada juga ramah penyandang disabilitas serta adanya ruang untuk kursi roda.
Jejak di pintu masuk meluncur ke luar ketika kereta berhenti di stasiun yang memungkinkan penumpang untuk turun dengan aman dengan kenyamanan mengingat variasi ketinggian antara lantai kereta dan platform. Diketahui, Indian Railways telah memperkenalkan Shatabdi Express pada tahun 1988 dan kereta ini saat ini berjalan di lebih dari 20 rute yang menghubungkan metro dengan kota-kota penting lainnya di negara ini.
Baca juga: Gantikan Shatabdi Express, Inilah 10 Fakta Unik dari Train 18 di India!
Kereta menerima semua izin hukum untuk operasi komersial pada hari Jumat (1/2/2019). Kereta ber-AC sepenuhnya akan berhenti di Kanpur dan Allahabad dan akan memiliki dua mobil kursi eksekutif dan 14 mobil kursi non-eksekutif. Ongkos kereta api kemungkinan lebih tinggi dari apa yang dikenakan dalam kereta Shatabdi, yang akan mencakup makanan juga.
Jalur kereta api Labuan menuju Rangkasbitung kini masuk dalam Wilayah Aset I Jakarta. Lintasan ini sendiri mulai dibangun tahun 1908 silam dan tutup sejak 1984 karena persaingan antar moda transportasi lainnya. Lintasan sepanjang 56 km tersebut memiliki percabangan ke arah Bayah dari Stasiun Saketi.
Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi
Setelah beroperasi selama 20 tahun, lintasan ini cukup ramai, sebab ada perjalanan kereta penumpang dan barang lima kali pergi pulang dalam sehari. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kereta yang melintasi jalur ini dulunya memiliki kelas II, III dan khusus inlanders atau pribumi.
Kereta barang yang melintas jalur ini biasanya mengangkut ikan dari Labuan untuk di jual ke Jakarta dan membawa garam dari Tanah Abang untuk pembuatan ikan asin di Labuan. Mati sejak 1984, jalur Labuan-Rangkasbitung rencananya akan kembali direaktivasi.
Rencana ini sudah berjalan dimana PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai melakukan survei untuk pemetaan jalur tersebut. Reaktivasi jalur ini sendiri dikatakan Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kabupaten Lebak, Dudi Mulyadi, bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Survei pemetaan jalur itu,terkait akan dioperasikan kembali KA Rangkasbitung-Labuan sepanjang 56 kilometer. Kami mulai pemetaan dari titik jembatan Ciujung hingga melintasi Stasiun Warunggunung-Cibuah dan Citangkil yang berjarak kurang lebih 17 kilometer,” kata Dudi yang dikutip dari wartakota, Minggu (27/1/2019).
Tahun 2016 lalu, Bupati Pandeglang, Irna Narulita berharap, reaktivasi jalur Labuan-Rangkasbitung bisa rampung tahun 2020 mendatang. Dia mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan terkait pengaktifan kembali jalur kereta tersebut.
“Lebih bagus kalau dalam satu-dua tahun rel kereta apa itu sudah bisa digunakan, karena dengan begitu ekonomi masyarakat akan hidup, khususnya di wilayah stasiun kereta,” kata Irna yang dikutip dari tempo.co.
Kasi Penataan Jaringan Ditlaka Ditjen Kereta Api Jumanto menyampaikan sebelum melakukan pembangunan akan dilakukan sosialiasasi terlebih dahulu. Ada dua hal juga yang harus dipersiapkan yakni penertiban dan pengadaan lahan.
“Karena jalur kereta yang mati saat ini masih dimanfaatkan oleh warga. Agar laju kereta bisa 60 km per jam harus ada pelebaran untuk jalur kereta dari yang sudah ada saat ini,” ujarnya.
Baca juga: Menjadi Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan, Stasiun Rangkasbitung juga Sebagai Tombak Perekonomian
Untuk diketahui, ada lima stasiun di jalur Labuan-Rangkasbitung yang akan diaktifkan yakni Pandeglang, Kadukacang, Saketi, Menes dan Labuan. Selain itu ada objek wisata yang juga bisa dikunjungi selain vila dan pantai di jalur selatan tersebut.
Situs penyelaman di Indonesia diakui oleh dunia sebagai salah satu yang terbaik, namun apakah predikat tersebut akan tetap tersemat manakala Bahrain telah membuka theme park bawah lautnya pada musim panas mendatang? Ya, menurut rencana yang tersiar, pihak Negara Teluk Persia ini akan membuka underwater theme park dengan sebuah sentuhan yang unik dan niscaya akan mengundang decak kagum para penyelam. Kira-kira apa, ya?
Baca Juga: Peringati Ultah ke-100, British Airways ‘Dandani’ Boeing 747-400 dengan Livery BOAC
Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, adalah kehadiran dari Boeing 747 di underwater theme park tersebut yang dipercaya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta olahraga bawah air. Tentu saja, ini merupakan pesawat yang sudah tidak dioperasikan lagi. Proyek sub-aquatik ini merupakan bentuk kerja sama antara Supreme Council for Environment, Bahrain Tourism and Exhibitions Authority (BTEA) dan pihak swasta.
Diumumkan melalui Kantor Berita Bahrain yang dikelola pemerintah, lokasi penyelaman ini juga tampaknya akan menampilkan replika rumah pedagang mutiara Bahrain, terumbu karang buatan, dan beragam patung.
Mengingat Boeing 747 ini tidaklah didesain khusus yakni menggunakan pesawat bekas, lalu pertanyaan mulai muncul, apakah spot penyelaman ini ramah lingkungan?
“Daya tarik baru bagi Bahrain ini ramah lingkungan. Spot ini akan turut mempromosikan pertumbuhan kehidupan bawah laut,” ujar pihak promotor.
Namun pernyataan ini disanggah oleh Adriana Humanes, seorang ahli kelautan yang memiliki gelar PhD dari Ekologi Kelautan James Cook University. Ia mengatakan bahwa terumbu karang buatan tidak melulu berimplikasi baik jika dilihat dari sudut pandang ekologis.
“Ketika terumbu karang dalam kondisi yang sehat sudah mengalami penurunan jumlah, maka terumbu karang buatan muncul sebagai alternatif yang digunakan pemerintah dan industri pariwisata untuk menarik pengunjung,” ujar Adriana.
“Wreck diving adalah salah satu metode tertua yang digunakan untuk menciptakan terumbu buatan dengan menyediakan struktur bagi biota laut,” tandasnya.
Baca Juga: Lufthansa – Jadi Operator Boeing 747-8 Hingga Konsumen Caviar Terbesar di Dunia
Sebelum ditenggelamkan ke dasar laut, Boeing 747 ini sendiri akan di sterilisasi terlebih dahulu guna menghilangkan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya.
“Semua permukaan pesawat akan di sterilisasi terlebih dahulu dengan menggunakan deterjen yang ramah lingkungan untuk memastikan semua lapisan, minyak, dan debu pasca produksi hilang,” ujar pihak promotor.
“Selain itu, sebagian besar waktu telah dihabiskan untuk menghilangkan kontaminan dari pesawat selama ia berada di darat, termasuk menghilangkan semua perkabelan, semua sistem hidrolik, pneumatik dan bahan bakar, dan semua perekat, isolasi, plastik, karet, bahan kimia atau zat beracun potensial lainnya,” imbuhnya.
Dari kabar yang tersiar, tahun 2019 ini, jalur kereta dari Labuan menuju Rangkasbitung akan kembali beroperasi. Kemudian sepanjang jalur ini sendiri ada beberapa stasiun dan kemungkinan juga akan ikut kembali beroperasi setelah adanya reaktivasi jalur kereta tersebut.
Baca juga: Menjadi Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan, Stasiun Rangkasbitung juga Sebagai Tombak Perekonomian
Salah satunya adalah Stasiun Menes yang masuk dalam Daerah Operasional (Daop) I Jakarta. Stasiun Menes yang sudah tak lagi aktif kini beralih fungsi sebagai rumah tinggal. Tak hanya itu, bagian ruang tunggunya pun kini berubah menjadi tempat penyimpanan kayu bakar dan kandang ayam.
Berada di lintasan yang akan direaktivasi yakni Labuan-Rangkasbitung, dulunya Stasiun Menes menjadi stasiun kedua tersibuk setelah Stasiun Labuan. Dimana tercatat sebanyak 44 ribu hingga 90 ribu penumpang diangkut per tahunnya.
Stasiun ini juga mengangkut barang dalam kapasitas sekitar 200-900 ton barang per tahunnya di antara tahun 1950-1953. Stasiun Menes sendiri dibangun tahun 1906 oleh Staatsspoorwegen (SS) salah satu perusahaan kereta api Hindia Belanda.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Menes sama seperti stasiun di jalur Labuan-Rangkasbitung lainnya yang tutup tahun 1982 silam karena persaingan transportasi. Jalur kereta api stasiun ini sendiripun hanya tersisa besi dan di sebuah sekolah menjadi garis batas sebuah lapangan voli.
Stasiun Menes terletak diantara kota Rangkasbitung di Kabupaten Lebak dan Stasiun Labuan di Pandeglang. Penumpang dikala stasiun tersebut ramai ternyata adalah para pelajar yang menimba ilmu di berbagai kota yakni Banten dan sekitarnya serta Lampung dan Jakarta.
Meski tak lagi terlihat jelas bentuknya, penanda gedung tua tak terawat tersebut adalah sebuah stasiun yakni tulisan di bagian atas rumah yakni Menes. Dibagian dalam bekas stasiun yang sudah menjadi rumah tinggal tersebut masih terlihat ada bekas tempat penyimpangan dan ruang loket menjadi sebuah kamar. Gudang stasiun pun masih ada dan kini pun tak lagi terpakai.
Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi
Dari video yang terlihat dari Youtube, sisa dari toilet masih terlihat jelas. Rumah pengatur sinyal sendiri ada di sisi barat stasiun dan plang nama bawah tanaah juga berada di sisi yang sama dan milik PJKA.
Flag carrier Tanah Air, Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-866 terpaksa Return to Base menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Senin (28/1/2019) kemarin. Adapun moda udara yang melayani rute penerbangan Jakarta – Bangkok ini dikabarkan mengalami kendala pada bagian Air Conditioner (AC), sehingga hal ini memaksa pilot untuk kembali mendaratkan si burung besi di bandara berkode CGK tersebut.
Baca Juga: Dianggap Pilot “Terlalu Besar,” Embraer 175 United Airlines “Return To Base” di Tengah Perjalanan Menuju Chattanooga
Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Vice President Coprorate Secretary PT Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan pun membenarkan insiden yang menimpa armada berjenis Boeing 737-800NG ini.
“Pesawat dijadwalkan berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 09.35. Namun demikian setelah beberapa saat pesawat lepas landas ditemukan indikator sensor Air Conditioning yang memerlukan pengecekan lebih lanjut,” ujar Ikhsan, dikutip dari laman tribunnews.com (28/1/2019).
“Memang saat take-off, penumpang di kelas ekonomi row kedua merasa ada bau terbakar,” ujarnya.
Ikhsan menambahkan, prosedur Return to Base ini ditempuh pilot dengan alasan kenyamanan penumpang dalam penerbangan tersebut,
“Iya pilot kami mengetahui ada salah satu panel AC yang bekerja tidak ideal, jadi memutar kembali untuk dilakukan perbaikan,” jelas Ikhsan.
“Itu kan Jakarta-Bangkok, dengan waktu terbang bisa sampai 4 jam. Jadi kami mengutamakan kenyamanan penumpang, dan pilot melakukan putar balik untuk dilakukan perbaikan,” imbuhnya.
Sekira 20 menit pesawat berada di udara, sebelum akhirnya pilot memutuskan untuk melakukan Return to Base.
Setibanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, penumpang kembali menunggu di ruang terminal sembari petugas ground handling mereparasi bagian pesawat yang rusak tersebut. Ikhsan juga mengatakan bahwa ada prasyarat yang harus dipenuhi oleh suatu armada untuk bisa membumbung tinggi ke udara, yaitu suhu yang ideal.
“AC-nya bekerja tidak normal, kedinginannya tidak ideal. Kan itu ada prasyarat juga, suhu ideal, kalau dia tak pada dingin tertentu pesawatnya tak bisa naik ke atas,” terang Ikhsan.
Baca Juga: Bikin Ulah Pasca Keluar Toilet, Penumpang ini Paksa The Flying Kangaroo Return to Base
Akhirnya setelah teknisi selesai membetulkan AC di armada tersebut, pada pukul 12.50 WIB, pesawat itu sudah kembali mengudara.
“Komitmen Perusahaan dalam mengedepankan aspek safety dalam operasional penerbangan menjadi aspek penting dan memiliki arti tersendiri dalam memastikan value layanan Perusahaan tetap terjaga,” tutup Rosan.
Para pelancong yang akan menuju destinasi Danau Toba di Sumatera Utara kerap kali menggunakan pesawat terbang dengan tujuan Bandara Silangit atau kini bernama Bandara Sisingamangaraja XII. Tetapi, tidak ada salahnya juga bila tiba di Kualanamu dan menggunakan moda transportasi lain seperti kereta api untuk sampai di danau vulkanik terbesar di dunia ini. Kereta api yang bisa digunakan pelancong yakni Siantar Ekspres yang berangkat dari Stasiun Medan menuju Staisun Pematang Siantar.
Baca juga: Kereta Premium Siap Ramaikan Rute Lubuk Pakam-Pematangsiantar
Untuk mendukung pengembangan potensi pariwisata di Danau Toba, Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera berencana melakukan perbaikan lintasan kereta api di Sumatera Utara tahun 2019 ini. Pejabat Pemuat Komitmen (PKK) Medan I Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Fakhrul Rivai Hasibuan memaparkan bahwa peningkatan infrastruktur kereta dilakukan untuk relasi Medan menuju Siantar dan sebaliknya.
“Kalau Medan-Siantar kita program dua tahun, dari 2019 sampai 2020 selesai. Kita mulai dari Stasiun Aras Kabu persimpangan Kualanamu sampai Tebing Tinggi, Siantar,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari vivanews.com, Senin (28/1/2019).
Dia mengatakan kini pihaknya tengah mempersiapkan dokumen pelelangan tender dan berharap proses pengerjaan bisa sesuai dengan yang sudah dijadwalkan yakni April 2019. Dia menjelaskan, proyek tersebut akan dimulai dari pergantian rel.
“Program kita tahun ini, dengan peningkatan perlintasan kereta api sepanjang 103 kilometer dengan dana bersumber Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Karena, kondisi rel saat ini, rel R33 dan rel R42, kecepatan kereta api sangat terbatas. Kemudian, pengaruh dengan keselamatan kereta api,” ungkapnya.
Adanya peningkatan perlitasan ini sendiri diakui Fakhrul bertujuan untuk mendukung program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (SPN) Danau Toba. Peningkatan infrastruktur kereta api ini, menurut Fakhrul, juga memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat. Apalagi, pengguna moda transportasi kereta api di Sumut semakin meningkat jumlahnya.
Diketahui, jalur kereta api Medan-Siantar dalam pembangunannya terbagi menjadi dua fase, awalnya Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) membangun jalur Medan-Tebing Tinggi yang berada di Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara dan Aceh ini mulai 28 April 1888 hingga ke Perbanungan. Kemudian berlanjut membuka jalur menuju Tebing Tinggi tahun 1903 silam.
Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik
Sukses dengan jalur Medan-Tebing Tinggi, DSM kemudian melanjutkan pembangunan jalurnya dari Tebing Tinggi menuju ke Siantar. Pembangunan sepanjang 100 km meter diresmikan pada tahun 1915 dan setahun kemudian pada 5 Mei 1916, jalur tersebut selesai di bangun.
Raksasa otomotif asal Jepang, Honda meluncurkan gambaran perdana dari prototipe electric vehicle (EV) dan perusahaan mengatakan akan merilis versi produksi dari moda tersebut pada akhir tahun 2019 ini. Namun rencana dari Honda sendiri bisa dibilang sulit untuk diikuti, pasalnya 2 tahun lalu, Honda meluncurkan konsep EV perkotaan dengan tampilan retro dan mengatakan akan membawa versi mobil ini ke pasar. Alih-alih merilisnya, Honda malah merubah rencananya tersebut.
Baca Juga: Rapide 3 Electric Vehicle, “Bemo” Canggih Untuk Jasa Antar Paket
“Debut ini merupakan demonstrasi lebih lanjut dari visi perusahaan yang akan berfokus dalam pengembangan moda listrik, sebuah komitmen bahwa dua pertiga dari penjualan Eropa akan menampilkan teknologi listrik pada tahun 2025. Versi produksi massal dari mobil ini akan dijual akhir tahun ini,” tutur pihak Honda dalam sebuah pernyataan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman electrek.co (24/1/2019).
Sumber: electrek.co
Sementara untuk versi penuh gambaran perdana ini, Honda mengatakan bakal menampilkannya pada pagelaran Geneva Motor Show pada bulan Maret 2019 mendatang. Mereka juga menambahkan bahwa gambaran tentang moda anyar ini benar-benar berbeda dengan apa yang mereka pamerkan di Frankfurt pada tahun 2017 silam.
Jika dilihat dari gambaran yang dibocorkan oleh Honda, mobil ini tampak menggunakan model jadul – body-nya masih terlihat kotak-kotak dengan warna dasar putih. Ada dua pintu pada gambar yang dirilis oleh perusahaan, berbeda dengan mobil-mobil lain yang notabene dilengkapi dengan empat pintu.
Terlepas dari konsep desain ini, tahun 2018 lalu, GM dan Honda mengumumkan kemitraan mereka untuk merakit sebuah baterai untuk kendaraan listrik generasi selanjutnya.
Baca Juga: The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik
Ya, hadirnya kendaraan berbasis listrik dewasa ini memang tengah menjadi topik hangat perbincangan beberapa kalangan. Selain dapat menggantikan peran dari bahan bakar fosil dengan listrik, kendaraan semacam ini juga dinilai lebih ramah lingkungan dan bebas polusi. Memang, masalah polusi belakangan ini sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Jika tidak dientaskan secara perlahan mulai sekarang, maka dikhawatirkan ini akan menjadi bahaya laten di masa yang akan datang.
Lama tak tersiar kabarnya, kini Hyperloop Transportation Technologies diberitakan baru saja kedatangan pod penumpang skala penuhnya yang langsung diboyong menuju fasilitas pengujian mereka di Perancis. Pada kesempatan yang sama, CEO dar Hyperloop Transportation Technologies, Dirk Ahlborn mengutarakan bahwa moda ini semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan dan siap untuk memasuki layanan komersial pada tahun 2022 mendatang.
Baca Juga: Akhirnya, Hyperloop Transportation Technology Luncurkan Pod Penumpang Perdana
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Hyperloop Transportation Technologies memiliki rival yang sama-sama berbentuk startup, Virgin Hyperloop One. Namun anehnya, kali ini dua rival tersebut malah bekerja sama dengan segenap pihak berwenang dari seluruh penjuru dunia untuk melakukan studi kelayakan yang hampir tak terhitung jumlahnya. Namun dari sekian banyak studi yang telah mereka lakukan, nampaknya Timur Tengah akan menjadi daerah pertama yang merasakan keandalan dari moda futuristik ini.
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/1/2019), Hyperloop Transportation Technologies memiliki rencana untuk membangun sistem hyperloop sepanjang 10km di Abu Dhabi, dengan perpanjangan yang menghubungkan ibukota Emirat ke Dubai dan selanjutnya ke Riyadh di Arab Saudi – hampir 1.000km jauhnya.
Mengingat bahwa kedua perusahaan startup ini belum menunjukkan pengoperasian sistem yang hampir mendekati kecepatan suara – kecepatan yang digaungkan dapat ditempuh oleh hyperloop di dalam sebuah tabung hampa udara, ada baiknya semua pihak untuk tidak terlalu berharap pada jadwal yang telah dirilis oleh kedua perusahaan ini. Kecuali keduanya sudah menunjukkan bahwa moda yang selama ini mereka geluti sudah mampu menembus batas kecepatan yang sebelumnya mereka janjikan – 1.000 km per jam.
Namun dengan hadirnya pod penumpang skala penuh ini, Hyperloop Transportation Technologies seolah membuktikan bahwa apa yang selama ini perusahaan tuju, bukanlah hanya sekedar isapan jempol belaka.
Baca Juga: Akhirnya! Hyperloop Transportation Technologies Canangkan Uji Coba Skala Penuh
“Final tests kini tengah berlangsung,” ujar salah satu juru bicara dari Hyperloop Transportation Technologies tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang tengah diuji atau sampai mana progress tersebut telah berlangsung.
Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, adalah Quintero One, armada Hyperloop Transportation Technologies terbuat dari material komposit yang dikenal dengan nama Vibranium – terinspirasi dari logam super dari komik fiktif Marvel Comics. Quintero One sendiri memiliki panjang 32 meter, dengan panjang kabin 15m dan berat sekira lima ton.
Seorang peneliti dari UCLA (University of California Los Angeles) mengatakan bahwa layanan perjalanan khusus wanita dapat membuat perjalanan yang aman lebih aman bagi wanita, tetapi mungkin tidak layak jika ditinjau dari segi ekonomi dan kondisi di lapangan. Christopher Tang, seorang profesor terkemuka di Sekolah Manajemen UCLA Anderson, yang juga turut menyoroti layanan perjalanan khusus wanita mengatakan ide ini muncul setelah maraknya serangan seksual dan pembunuhan terhadap penumpang wanita yang dilakukan oleh pengemudi layanan ride-hailing dan ride-sharing seperti Uber dan Lyft.
Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing
“Selama tiga tahun terakhir, ada serangkaian laporan tentang penumpang wanita … yang mengalami pelecehan seksual, diperkosa atau bahkan dibunuh oleh pengemudi pria,” ujar Christopher Tang, dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailybruin.com (24/1/2019).
Ya, maraknya pelcehan yang terjadi pada penumpang wanita membuat perusahaan penyedia jasa mau tidak mau untuk memutar otak guna memberikan kenyamanan dan menjamin keselamatan para penumpangnya. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh pihak perusahaan guna menanggapi hal seperti ini adalah memberikan opsi layanan yang spesifik gender terkait pengemudi dan penumpang. Sebut saja SheTaxis dan Safr di Amerika Serikat yang ditujukan khusus untuk wanita
“Motivasi pertama (untuk menyediakan layanan perjalanan khusus wanita) adalah soal keselamatan, … lalu aksesibilitas. Beberapa wanita mungkin tidak bisa mendapatkan pengemudi berjenis kelamin pria … (terutama) di beberapa budaya lain, seperti beberapa budaya Muslim, di mana pria biasanya tidak berinteraksi dengan wanita dalam lingkungan sosial,” tandas Christopher Tang.
Tentu saja, dengan hadirnya layanan semacam ini, maka lapangan pekerjaan untuk para wanita pun turut terbentuk – terutama di negara-negara berkembang dimana para wanita ini akan juga berusaha untuk mencari uang.
“Dari sudut pandang ekonomi, (layanan semacam itu) dapat menciptakan lebih banyak peluang kerja bagi pengemudi wanita,” lanjutnya.
Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?
Namun tidak semua wanita memiliki alur pikiran seperti yang sudah disebutkan di atas, yang pada akhirnya opsi ini tidak terlalu maksimal dimanfaatkan. Belum lagi jika layanan ride-hailing atau ride-sharing khusus untuk wanita ini benar-benar sudah dengan optimal dimanfaatkan, maka jumlah kendaraan di jalanan akan secara otomatis mengalami peningkatan – dan berdampak pada kemacetan yang semakin memerah.
Bak permasalahan yang semakin meradang, diperlukannya ketegasan dari pihak perusahaan untuk semakin meningkatkan pengawasan terhadap para pengemudinya guna mencegah pelecehan terhadap kaum Hawa – kasus semacam ini bisa semakin diminimalisir.
Kebijakan mengenai penghapusan bagasi gratis di penerbangan domestik yang diberlakukan oleh Low Cost Carrier (LCC) Citilink Indonesia per-tanggal 8 Februari 2019 mendatang kini tengah menjadi topik hangat perbincangan sejumlah kalangan. Mengikuti kebijakan yang sebelumnya diterapkan oleh ‘raja’ LCC Indonesia, Lion Air, anak perusahaan dari Garuda Indonesia ini tidak begitu saja menghapuskan kebijakan tersebut. Anda masih bisa mendapatkan bagasi gratis seberat 10kg dengan cara bergabung bersama Supergreen, program keanggotaan maskapai yang didominasi livery berwarna hijau ini.
Baca Juga: Resmi, 8 Februari 2019 Citilink Resmi Meniadakan Free Baggage
“Jadilah member dari Supergreen dan dapatkan free baggage hingga 10kg,” ujar Direktur Niaga Citilink, Benny Rustanto kepada KabarPenumpang.com, Senin (28/1/2019).
“Kita berupaya untuk mengubah kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Kenapa mesti 10kg? Ya, supaya penumpang bisa memilah mana yang patut di bawa, mana yang tidak. Bukan semata-mata untuk menaikkan revenue,” tandasnya.
Ketentuan ini akan berlaku bagi seluruh penumpang yang membeli tiket di atas tanggal 8 Februari 2019. Sedangkan bagi penumpang yang sudah membeli tiket sebelum tanggal tersebut, maka penumpang masih bisa mendapatkan fasilitas bagasi gratis hingga 20kg, kendati jadwal penerbangannya melebihi tanggal 8 Februari 2019.
Jika ditarik benang merah menuju hulunya, Citilink Indonesia terdaftar sebagai maskapai dengan pelayanan “no frills” (pelayanan dengan standar minimum), dimana pihak maskapai dapat mengenakan biaya untuk pengangkutan bagasi tercatat, sebagaimana yang tertuang pada Pasal 22 butir C PM 185 Tahun 2015.
Bagi para penumpang yang ‘terpaksa’ membawa bagasi, melebihi hand luggage yang berat maksimalnya 7kg, maka mereka bisa membeli paket bagasi yang disediakan oleh pihak maskapai di laman citilink.co.id. Varian paketan yang tersedia pun beragam, mulai dari 5kg, 10kg, 15kg, hingga 20kg.
Pertanyaan muncul, “Lalu bagaimana nasib penumpang yang ternyata secara tiba-tiba diharuskan untuk membawa bagasi setelah mereka mengambil paket bagasi yang disediakan oleh Citilink?”
Setelah diresmikannya kebijakan ini, maka penumpang yang secara tiba-tiba diharuskan untuk membawa bagasi tambahan, maka penumpang bisa membeli paket bagasi tambahan di check-in counter.
“Untuk harga tentu kami akan memberlakukan yang sebisa mungkin dijangkau oleh penumpang. Harganya bervarian, tergantung juga dari rutenya, bisa dari Rp9.000 per-kilogram,” ujar Benny.
Baca Juga: Naik Citilink, Kini Bisa Nikmati WiFi Gratis di Ketinggian 35 Ribu Kaki
Menambahkan pernyataan dari Benny, Vice President Ground Operation Citilink Indonesia, Joko Suprapto mengatakan bahwa hitungan harga yang harus dibayarkan penumpang untuk bagasi dadakan ini akan diperhitungkan berdasarkan berat muatan.
“Tarifnya akan dihitung per-kilogram, juga tergantung dari jarak yang ditempuh oleh penumpang,” ujar Joko.
“Tentunya sedikit lebih mahal, karena kan tidak dapat diskon 40 persen seperti di website,” tandasnya.