MRT Jakarta Libatkan 16 UMKM di Lima Stasiun

Lima dari 13 stasiun Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta tak hanya akan dilengkapi retail ternama tetapi juga akan dilengkapi dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kehadiran UMKM ini sendiri nantinya dibina oleh PT MRT Jakarta dan akan ada 16 terpilih. Baca juga: Tiga Stasiun MRT Jakarta Kini Telah Miliki “Naming Right” Direktur Pengembangan dan Dukungan Bisnis PT MRT Jakarta Ghamal Peris mngatakan, 16 UMKM yang terpilih nantinya akan terbagi menjadi tiga kategori besar yakni fashion, kuliner dan kriya atau kerajinan tangan. “Kita akan sebar 16 UMKM yang akan terpilih nantinya di lima stasiun strategis yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Haji Nawi, Blok M dan Dukuh Atas. Kita bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) karena ingin UMKM ini bisa naik level,” ujar Ghamal yang ditemui KabarPenumpang.com di kantor MRT Jakarta, Kamis (24/1/2019). Ghamal menambahkan UMKM yang tersebar sendiri nantinya akan ada di 6 Lebak Bulus, 1 Haji Nawi, 6 Fatmawati, 1 Blok M dan 2 Dukuh Atas. Dia menjelaskan, untuk mendaftar dalam program tersebut akan ada syarat khusus, sehingga tidak semua UMKM bisa mendaftar program ini. Syarat tersebut adalah dimana pemilik UMKM tidak memiliki toko dipusat perbelanjaan kelas A serta mereka juga tidak mewaralabakan usahanya. Sebab PT MRT bukan mencari yang sudah well-established. Para pengusaha UMKM juga harus melaporkan keuangannya dalam satu tahun terakhir. “Jadi kehadiran UMKM ini bukan untuk coba-coba melainkan mereka punya konsep bisnis namun butuh platform usaha,” jelas Ghamal. Nantinya para pelaku UMKM tersebut hanya perlu mengeluarkan biaya Rp1.360.000 per bulannya dan ditargetkan dapat menyasar keramaian penumpang MRT di hari-hari kerja. “Ini supaya menjadi benchmark bagaimana stasiun-stasiun nantinya akan menawarkan produk dengan kualitas baik, MRT ini kekuatannya adalah traffic, jadi memang weekdays yang ramai penumpang,” tuturnya. Baca juga: MRT Jakarta Uji Coba Operasional Secara Penuh, Masyarakat Bisa Ikut Mencobanya Adapun waktu proses seleksi UMKM ini PT MRT Jakarta dan Bekraf akan mulai pada 24-31 Januari 2019. Kemudian dilanjutkan proses penilaian dengan tanya jawab lainnya. Kemudian pada 18 Februari 2019 akan diumumkan UMKM mana saja yang bisa mengisi gerai di stasiun MRT.

Satu Dasawarsa Pasca Kejadian, Survivor Tragedi “Miracle on the Hudson” Langsungkan Reuni

15 Januari 2009 merupakan tanggal yang tidak bisa dilupakan oleh 155 penumpang maskapai US Airways Flight 1549. Ya, Kamis itu, para penumpang maskapai ini dipersilakan boarding menuju armada Airbus A320-214 dan pesawat yang hendak bertolak menuju Seattle-Tacoma International Airport ini diijinkan untuk mengudara dari Runway 4 Bandara LaGuardia, New York sekira pukul 15.24 waktu setempat. Semuanya berjalan lancar hingga beberapa insiden bird strike menimpa penerbangan ini. Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang Beruntung, kejadian yang sampai diangkat ke layar lebar dengan judul “Sully” ini tidak memakan korban jiwa – sejumlah penumpang mengalami cidera ringan hingga parah. Dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sekitar tiga menit setelah US Airways Flight 1549 mengudara, pesawat ini menabrak sekawanan angsa Kanada yang berimbas pada matinya kedua mesin. Sebenarnya, pesawat ini berada di dalam jarak aman untuk mendarat di Bandara Teterboro, New Jersey. Namun kala itu pilot Chesley “Sully” Sullenberger dan kopilot Jeffery Skiles lebih memilih untuk melakukan pendaratan darurat di Sungai Hudson, di sebelah Timur NewYork.
Airbus A320-214 pasca insiden US Airways Flight 1549. Sumber: aopa.org
10 tahun telah berlalu pasca kejadian yang dikenal sebagai “Miracle on the Hudson” ini, dan para penumpang, awak kabin, hingga pilot dan kopilot berkumpul di dalam sebuah ‘reuni’ untuk mengenang peristiwa yang hampir saja merenggut nyawa mereka semua. Tidak ada yang dapat dilakukan penumpang dan awak kabin selain mengucapkan terima kasih kepada Kapten Chesley “Sully” Sullenberger dan kopilot Jeffery Skiles atas kepiawaian mereka dalam mengendalikan pesawat yang sudah mati mesin tersebut. Bertempat di Carolinas Aviation Museum – tempat armada Airbus A320-214 nahas ini ditempatkan, para saksi sejarah ini saling bertegur sapa satu sama lain sembari berusaha untuk mengenang kembali kejadian yang dinyatakan oleh National Transportation Safety Board sebagai “Pendaratan Darurat di Sungai Paling Sukses Sepanjang Sejarah Aviasi”. “Ini merupakan kejadian yang sangat tidak terduga – dimana kami belum pernah dilatih secara khusus untuk mengangani kejadian semacam ini,” ujar Kapten Chesley “Sully” Sullenberger.
Sumber: aopa.org
“Kami harus mengaplikasikan apa yang kami tahu, mengadaptasikannya, dan menerapkannya dengan cara baru untuk memecahkan masalah yang belum pernah kami lihat sebelumnya, dan menyelesaikannya dengan tepat pada kesempatan pertama, dalam waktu kurang dari tiga setengah menit,” lanjut sang Kapten sembari mengenang insiden tersebut. Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat Sementara itu, seorang penumpang yang kala itu juga berada di dalam penerbangan tersebut, mengaku bahwa dirinya merasakan sebuah hantaman cukup keras sesaat setelah pesawat tinggal landas. “Saya merasakan hantaman yang sangat kuat, seperti pesawat menabrak sebuah benjolan besar, dan tak lama berselang, saya mencium bau seperti kabel listrik atau daging yang terbakar. Kami meluncur turun, dan kami sadar bahwa pesawat belum berada di ketinggian yang cukup. Kami berbelok ke kiri dan saya bisa melihat bandara (LaGuardia) di ujung sayap,” kenang seorang penumpang yang turut hadir ke acara ‘reuni’ tersebut. Masih banyak lagi cerita dari para penumpang yang tercurahkan pada acara tersebut, namun apa yang mereka lakukan tetaplah sama seperti apa yang mereka lakukan ketika sadar bahwa pendaratan darurat itu berjalan dengan mulus – berterima kasih kepada sang Kapten.

Stasiun di Jepang Akan Uji Coba Alat Deteksi Benda Berbahaya

Sebagai negara dengan kemajuan teknologi yang cukup pesat, Jepang akan menguji sistem pendeteksi benda berbahaya yang dibawa penumpang kereta api. Rencananya sistem deteksi ini akan diuji coba pada akhir Maret 2019 untuk meningkatkan keamanan dalam transportasi umum. Baca juga: Alat Pemindai dan Detektor Logam Uji Coba Perdana di Stasiun MRT Little India Pejabat Kementerian Transportasi mengatakan, pembuat peralatan untuk sistem ini telah mengajukan proposal ke Kementerian Pertahanan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata agar perangkat sistem ini bisa mendeteksi benda berbahaya seperti piasu dan bahan peledak yang dibawa oleh penumpang kereta api. Dilansir KabarPenumpang.com dari staradvertiser.com (17/1/2019), dengan adanya sistem ini, pejabat tersebut mengatakan pihak pemerintah akan menguji langkah-langkah keamanan yang diterapkan. Selain itu pemerintah juga ingin melihat apakah dengan adanya sistem keamanan di kereta api ini merepotkan penumpang atau tidak. Sedangkan untuk menguji kelayakan perangkat setiap hari dan akan dibandingkan selama acara internasional terkemuka yang akan dilaksanakan di Tokyo yakni Olimpiade dan Paralimpik. Bulan Februari direncanakan uji coba sistem tersebut akan dilakukan di stasiun bawah tanah Kasumigaseki, tetapi rinciannya dapat berubah disebabkan pihak kementerian baru saja menerima proposal dari pembuat perangkat dan operator kereta api pada Senin (14/1/2019). “Kami juga sadar akan seruan untuk meningkatkan keamanan di kereta,” ujar pejabat kementerian tersebut. Diketahui pada bulan Juni 2018 , satu penumpang tewas dan dua lainnya terluka ketika seorang lelaki berusia 20an dengan pisau mengamuk di dekat Yokohama saat naik kereta cepat dari Tokyo ke Osaka. Setelah kejadian itu, kementerian transportasi segera mempertimbangkan untuk memperkenalkan inspeksi bagasi, tetapi rencana itu ditentang oleh perusahaan kereta api. Sebagai gantinya, kementerian memutuskan untuk melarang membawa pisau yang tidak terbungkus di kereta mulai bulan April. Operator kereta api berpendapat bahwa inspeksi tidak nyaman karena mereka menambah waktu transit untuk penumpang. Mereka juga mengatakan sulit menemukan ruang di stasiun untuk dipersembahkan untuk tujuan inspeksi. Sedangkan di Singapura, alat pendeteksi logam mulia mulai seperti di bandara dipasang di stasiun MRT Singapura dan mulai diuji coba pada Desember 2018 kemarin. Alat pemindai ini untuk memeriksa barang bawaan penumpang. Baca juga: Akibat Tas Make Up Lolos dari Alat Pemindai, 700 Penumpang Terdampar di Bandara Munich Karena hal ini beberapa penumpang mengeluhkan adanya pendeteksian barang bawaan mereka. Sebab dalam waktu sepuluh menit rata-rata ada empat orang yang melalui pemindaian. Meski begitu ada pula penumpang yang merasa aman.

Apéro Camper-Cabriolet, Van Berukuran Besar yang Serba Komplit!

Pagelaran CMT 2019 yang diadakan di Stuttgart, Jerman menjadi saksi dari hadirnya prototipe Apéro, sebuah mahakarya dari produsen otomotif, Skydancer. Bisa dibilang, Apéro merupakan kendaraan yang menyerupai sebuah van – hanya saja Apéro memiliki desain yang lebih kompleks dan kelengkapan interior yang lebih banyak. Ya, moda ini sangat cocok untuk Anda gunakan dalam menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga, atau mungkin hanya sekedar berpetualang. Baca Juga: ZEV T3-1 Micro, Van Ukuran Mini yang Mirip Bajaj Qute Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (23/1/2019), Apéro sendiri memiliki body yang lebih lebar dari kebanyakan van. Pun dengan desainnya yang terkesan agak ‘putus-putus’ karena eksistensi dari sekat yang memisahkan bagian depan (ruang pengemudi) dan bagian belakang (kabin penumpang). Namun karena keunikannya inilah yang pada akhirnya membuat Apéro diminati oleh para pengunjung CMT 2019.
Sumber: newatlas.com
Bak sebuah rumah di dalam mobil, Apéro camper-cabriolet dilengkapi dengan ruang tamu yang dapat memuat empat bangku, serta ruang lain yang berisikan kasur. Dari namanya saja, mungkin Anda semua sudah dapat membayangkan keseluruhan isi dari Apéro camper-cabriolet. Ya, penggunaan kata camper biasanya diindikasikan dengan hadirnya sebuah ruang untuk bersantai ataupun untuk beristirahat. Sedangkan cabriolet biasanya digunakan untuk kendaraan-kendaraan yang pada bagian atapnya bisa dibuka (convertible).
Sumber: newatlas.com
Keunikan lain dari Apéro camper-cabriolet adalah bangku pengemudi yang dapat diputar jika kendaraan ini berada dalam kondisi mati – tanpa harus menekan tombol khusus. Bangku pengemudi akan kembali ke posisi semula jika kunci kontak dinyalakan. Dengan hadirnya fitur ini, maka waktu berkumpul Anda bersama keluarga atau kolega kerja di dalam Apéro akan semakin maksimal, tanpa Anda harus meninggalkan bangku pengemudi. Baca Juga: Mercedes Benz Sprinter Vansports Camper, Van Lengkap Dengan Ruang yang Besar Lalu untuk ruang utama, dilengkapi dengan sebuah ranjang berukuran 200cm x 140cm yang akan menunjang waktu beristirahat Anda. Jika tengah berpetualang dan Anda ingin memaksimalkan pengalaman tersebut, cukup buka bagian atap Apéro dan Anda bisa melihat hamparan bintang tersaji tepat di atas kendaraan futuristik ini. Keren, bukan? Bagi Anda yang tergugah untuk memiliki satu unit Apéro camper-cabriolet, siapkan dana sebesar US$146.000 atau yang setara dengan Rp2,07 miliar. Harga yang sangat tinggi namun setara dengan fitur-fitur unggulan yang ada di dalam Apéro camper-cabriolet.

Kisah Stasiun Batutulis, Pernah Mati Suri dan Terlupakan

Stasiun Batutulis pada Desember 2018 diwartakan terkena dampak dari angin puting beliung. Listrik padam, atap bangunan rusak serta genteng stasiun berjatuhan, untungnya semua itu tidak sampai mengganggu lalu lintas kereta api. Sedikit punya cerita, sesuai namanya Stasiun Batutulis berlokasi tak jauh dari Istana Batutulis yang berada di Bogor Selatan, dan stasiun ini melayani perjalanan kereta api Pangrango relasi Bogor – Sukabumi. Baca juga: Punya Nama Unik, Stasiun “Belatung” Berada Diantara Lampung dan Palembang Menjadi stasiun kelas III, Stasiun Batutulis berada di ketinggian +299 mdpl dan masuk dalam Daerah Operasional (Daop) I Jakarta. Stasiun Batutulis sendiri berada di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, keberadaan stasiun ini sudah ada sejak masa pejajahan Belanda, tepatnya dibangun pada tahun 1920. Pembangunannya juga dimulai tidak lama setelah diresmikannya jalur kereta api Bogor – Jakarta tahun 1881 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschcappij (NIS). Karena dianggap menguntungkan, pembangunan jalur kereta yang pada awalnya bermula dari Stasiun Bogor ke Jakarta itu pun kemudian dikembangkan lagi hingga dapat melintasi beberapa daerah. Jalur yang sudah ada dari Stasiun Bogor diteruskan hingga ke Cicurug, Sukabumi. Sampai pada tahun 1888, jalur kereta dari Sukabumi telah mencapai daerah Cilacap, Jawa Tengah. Stasiun Batutulis memiliki dua jalur, dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Tetapi karena jarang adanya persilangan dan persusulan antar kereta api, jalur 1 di bongkar dan kini tinggal menyisakan jalur 2. Pada tahun 2008, Stasiun Batutulis melayani KA Bumi Geulis tujuan Bogor ke Sukabumi. Sayangnya layanan ini dihentikan pada Desember 2012 lalu karena rangkaian kereta api yang digunakan sudah tua. Stasiun Batutulis sendiri ternyata pada saat diberhentikan operasinya bukan karena kereta Bumi Geulis saja yang tua, melainkan beberapa peralatan, jalanan, alat-alat mekanis dan bangunannya pun sudah tua sehingga perlu renovasi. Bahkan karena ada pelemparan batu ke kereta juga membuatnnya berhenti beroperasi sejenak karena berisiko atas alasan keamanan. Lain dari itu, jembatan Cicurug yang menjadi tumpuah lintasa kereta Bogor – Sukabumi, sempat rubuh dan tidak ada pembatas jalan ketika kereta api melintas. Baca juga: Tarif KA Pangrango Naik, Ternyata Selama Ini PT KAI Merugi Untungnya mati suri Stasiun Batutulis tidak terlalu lama, beberapa bulan setelah ditutup, PT Kereta Api Indonesia (KAI) kembali mengoperasikan stasiun ini pada 1 November 2013. Saat ini Stasiun Batutulis hanya dilintasi oleh KA Pangrango.

Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

Maskapai penerbangan nasional Hong Kong, Cathay Pacific dikabarkan akan segera mengakhiri penggunaan seragam berbentuk rok yang telah digunakan oleh para awak kabinnya (wanita) sejak 70 tahun yang lalu. Kelak, para awak kabin ini akan diijinkan untuk mengenakan celana panjang selama bertugas. Pergantian aturan tentang penggunaan seragam ini merupakan kemenangan terbesar yang sangat bersejarah bagi para serikat awak kabin. Baca Juga: Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, maskapai yang berdiri sejak tahun 1946 ini telah sukses mempertahankan penggunaan seragam para awak kabinnya yang terkesan terlalu ketat oleh sebagian kalangan, Dari situ, tidak sedikit lapisan masyarakat yang mengecam tentang penggunaan seragam yang beberapa kali dimanfaatkan oleh para pria hidung belang untuk melancarkan aksi bejatnya. Ya, sejak kian maraknya aksi pelecehan seksual yang mereka alami dari para penumpang, serikat awak kabin ini semakin vokal menyuarakan agar perusahaan dengan segera mengganti peraturan tentang seragam tersebut. Wakil Ketua Asosiasi Petugas Penerbangan Hong Kong Dragon Airlines, Pauline Mak mengatakan bahwa para awak kabin ini merasa tidak nyaman manakala mereka tengah membantu penumpang untuk memasukkan hand luggage menuju bagasi kabin, “atau bahkan saat mereka tengah naik kendaraan umum sambil mengenakan seragam,” Berkenaan dengan tuntutan dari serikat awak kabin tersebut, Pauline Mak mengaku senang mendengar putusan dari perusahaan yang akhirnya mencabut peraturan tersebut. “Kami menyambut dan menghargai keputusan perusahaan untuk memberi kami pilihan dalam memilih seragam,” ujar Pauline Mak. “Terlebih ketika perusahaan tidak hanya memberikan satu opsi seragam saja. Secara tidak langsung, ini akan memberikan kami perlindungan dari segala macam pelecehan,” tandasnya. Menanggapi hal ini, pihak maskapai mengatakan bahwa mereka akan melakukan evaluasi terhadap aturan mengenai penggunaan seragam ini. Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika “Sama seperti kami menyadari bahwa penting untuk memberikan pelanggan kami lebih banyak pilihan, hal yang sama juga berlaku untuk para awak kabin kami,” ujar salah seorang juru bicara dari Cathay Pacific. Ia melanjutkan, dengan mendengarkan dan mempertimbangkan aspirasi dari serikat awak kabin ini, maka mereka akan merasa dihargai dan meredakan kekhawatiran mereka. Sayangnya, perubahan itu kemungkinan tidak akan datang untuk setidaknya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan dengan dalih perusahaan masih membutuhkan waktu untuk melakukan berbagai macam pertimbangan.  

Nantinya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Terintegrasi LRT Bandung Raya

Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengatakan bahwa pihaknya akan mengintegrasikan kereta cepat Jakarta – Bandung dengan layanan Light Rapid Transit (LRT) Bandung Raya. Hal ini dipercaya mampu menjadi solusi untuk mereduksi high cost economy terkait logistik. Untuk kereta cepat Jakarta – Bandung sendiri, Sekretaris Daerah Provinsi Jabar, Iwa Karniwa mengatakan bahwa progress pembangunannya menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Baca Juga: Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun “Sesuai dengan arahan Pak Gubernur, tentu harus nyambung dengan LRT Bandung Raya yang meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan sebagian Kabupaten Sumedang,” ujar Iwa, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman jawapos.com (21/1/2019). Menurut Iwa, setelah dilakukan kajian oleh Tim Akselerasi Pembangunan Jawa Barat, pihak pengembang kereta cepat dan Dinas Perhubungan Provinsi Jabar, pembangunan LRT Bandung Raya ternyata tidak sesuai jika menggunakan konsep Business to Business (B2B) sehingga diusulkan akan diubah menjadi kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). “Dari pertemuan, juga terdapat usulan dari berbagai studi. Ternyata untuk konsep Business to Business itu tidak masuk. Jadi sudah diusulkan kalau polanya KPBU,” terang Iwa. Iwa menambahkan, pihaknya akan melakukan konsolidasi dengan beberapa pihak terkait siapa dan tugas apa yang harus mereka kerjakan. Hal ini dimaksudkan agar terjadi kesepahaman para pihak dalam melakukan tugasnya masing-masing. “Supaya singkron untuk bahan rapat itu terlebih dahulu diupayakan adanya semacam prepare yang sudah dilaksanakan sejak 2014 sampai dengan sekarang,” imbuhnya. Sebagai informasi tambahan, pembangunan kereta cepat akan menciptakan Transit Oriented Development (TOD) dengan total panjang sekitar 142,3 kilometer. Mulai dari Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta (kilometer 0), Karawang (kilometer 41), lalu Walini (kilometer 96), dan Tegalluar (kilometer 142). Apabila nanti dilanjutkan ke Bandara Kertajati, dibutuhkan sekitar 70 kilometer lagi. Baca Juga: Menteri Rini: “Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Dilengkapi 13 Terowongan” Rencananya, kereta cepat Jakarta-Bandung ini mampu menampung 583 penumpang dan mampu melaju hingga kecepatan 350km/jam – dengan waktu tempuh hanya sekitar 35 menit saja. Waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan kereta api Argo Parahyangan yang memakan waktu perjalanan 3 jam 15 menit.

NYIA Kulon Progo Beroperasi Pertengahan 2019, Inilah Kesiapan Kereta Bandaranya

Rencananya New Yogyakarta International Airport (NYIA) atau Bandara Kulon Progo akan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2019. Untuk mendukung bandara tersebut PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menghubungkannya dengan jalur kereta api ke Stasiun Tugu dan Bandara Adisutjipto. Baca juga: KA Solo Ekspres Mengular di Jalur Kereta Api Solo-Yogyakarta-Kutoarjo Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pihak KAI saat ini membuka akses menuju ke NYIA dengan pembangunanan jalur kereta api baru. Sembari menunggu jalur tersebut selesai, nantinya penumpang akan menggunakan jalur kereta api eksisting atau yang sudah ada dari Stasiun Maguwo hingga Stasiun Wojo. Sebab bila diperkirakan jarak antara Stasiun Wojo dan NYIA hanya sepuluh menit menggunakan bus. Sehingga akan disediakan bus atau shuttle untuk melanjutkan menuju bandara dari Stasiun Wojo. Kereta yang akan digunakan untuk kereta bandara sendiri adalah rangkaian kereta Solo Ekspres. Bahkan nantinya kereta jarak jauh dari Surabaya, Solo, Madiun dan Purwokerto bisa berhenti di terminal. Sehingga penumpang yang akan umroh bisa di layanani melalui bandara baru tersebut. Terkait masalah kereta api jarak jauh, Manager Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) VI, Eko Budiyanto menjelaskan, bila penerbangan di NYIA sudah beroperasi, PT KAI juga siap bila harus mengatur ulang jadwal KA agar sesuai dengan penerbangan. “Kalau sudah fix, semuanya bisa diatur. PT KAI (Persero) sudah siap. Armada untuk mendukung penerbangan di NYIA juga sudah siap. Nanti armada bisa ditambah juga, kita melihat situasi dan kondisi, jamnya juga bisa diubah sesuai dengan jam penerbangan,” ujar Eko yang dikutip dari tribunjogja.com, Selasa (22/1/2019). Sementara itu, untuk jalur KA menuju NYIA, Eko mengatakan hal tersebut merupakan kewenangan Dirjen Perkeretaapian. Sehingga pihaknya belum bisa berkomentar banyak mengenai perkembangan jalur tersebut. “Jalur KA ke NYIA tahapan masih proses AMDAL, itu kewenangan Pusat, Dirjen Perkeretaapian. Jalur KA bukan kewenangan PT KAI, jadi saya tidak berani berkomentar. Kalau armadanya dari PT KAI . Namun mengenai Armada kami selalu siap,” ungkapnya. Baca juga: Saingi Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kulon Progo Kelak Juga Bisa Tampung Airbus A380 Diketahui, jalur kereta api yang akan dibangun menuju bandara tersebut adalah jalur kereta api baru dengan jarak sekitar 3-5 kilometer dari Desa Kedundang hingga bandara.

Vakum 5 Tahun, Stasiun Prupuk Kembali Melayani Kereta Api Penumpang

Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah stasiun tidak menaik turunkan penumpang kereta api. Ya, Stasiun Prupuk akhirnya kembali beroperasi sebagai salah satu stasiun penumpang untuk pemesanan tiket KA jarak jauh/menengah sejak 1 Oktober 2018 dan melayani keberangkatan dan kedatangan penumpang pada 18 Oktober 2018 kemarin. Baca juga: Tidak Ada ‘Belatung’ di Stasiun Randublatung Stasiun ini pun kini ramai setelah beberapa kereta api mulai berhenti untuk menaik turunkan penumpang. Kembalinya menjadi jalur kereta api penumpang, ternyata tak lepas dari Manjemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) V Purwokerto yang mengusulkannya ke pusat.
(Harry Sulastianto)
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Stasiun Prupuk kini melayani tiga perjalanan kereta api Joglosemarkerto tujuan Semarang dan Purwokerto sampai Solo yang kini resmi berhenti di stasiun tersebut. Bahkan pada 1 Februari 2019 nanti akan ada KA Sawunggalih relasi Kutoarjo- Purwokerto- Pasar Senen pp, KA Kutojaya Utara relasi Kutoarjo – Purwokerto – Pasar Senen pp serta KA Jayakarta Premium relasi Surabaya Gubeng – Purwokerto – Pasar Senen pp, resmi berhenti di stasiun Prupuk. “Kini perjalanan beberapa KA sudah resmi berhenti di stasiun Prupuk, sehingga pemesanan tiket langsung bisa menunjuk tujuan/asal stasiun Prupuk,” ujar Manager Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, Supriyanto. Stasiun Prupuk sendiri merupakan stasiu kelas II yang berada di desa Prupuk, kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. Berada di ketinggian +36 mdpl, Stasiun Prupuk memiliki lokasi paling utara di Daop V Purwokerto dengan lintas Prupuk-Kroya dan paling selatan di KabupatenTegal. Memiliki enam jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ganda arah hilir dari Cirebon – Jakarta. Kemudian jalur 3 sepur lurus halur ganda arah hulu ke Cirebon-Jakarta dan jalur 4 sebagai sepur lurus jalur tunggal arah Slawi-Tegal. Stasiun Prupuk sendiri merupakan titik pertemuan antara jalur kereta api Cierbon-Prupuk dengan jalur Tegal – Prupuk. Baca juga: Stasiun Lasem, Dahulu Stasiun Besar Kedua di Rembang, Kini Hanya Jadi Tempat Parkir Tetapi pertigaan stasiun sekitar dua kilometer ke arah timur laut dan tepatnya dekat flyover atau jembatan Klonengan. Dahulu, Stasiun Prupuk berukuran besar, namun setelah adanya perubahan pada PT KAI, sehingga bangunan stasiun mengalami perombakan hingga mencapai bentuk yang sekarang.

Loncat Bebas dari Ketinggian 30 Meter, Penumpang Ini Dilarang Naik Kapal Pesiar Selamanya

“Symphony of the Seas” sampai saat ini masih dinobatkan sebagai kapal pesiar terbesar dan termegah di dunia. Namun, belum lama ini, kapal berbendara Bahama yang dioperasikan Royal Caribbean International ini menjadi ramai diberitakan di seantoro dunia, bukan terkait layanannya yang super mewah, melainkan karena aksi nekad seorang penumpang yang terjun ke laut dari deck dengan ketinggian 30 meter. Baca juga: Pramugari Emirates Lompat dari Pesawat, Akhirnya Tewas Sehari Setelah Jalani Perawatan Aksi bak stuntmant ini dilakoni pria warga negara Amerika Serikat, Nick Naydev (27 tahun). Dikutip dari independent.co.uk (18/1/2019), Naydev melakukan atraksinya dalam kondisi sadar. “Saya melakukannya dalam keriaan bersama kawan-kawan,” ujar Naydev. Menurutnya, setelah terjun Ia akan melanjutkan berenang menuju pantai untuk menikmati liburannya di Nassau, Bahama. Namun aksi Naydev yang berlangsung dalam hitungan detik itu menjadi viral, lantaran rekannya merekam proses loncatannya dan mengunggahnya ke Instagram. Dalam waktu singkat, video lompatan Naydev telah dilihat 350 ribu kali di Instagram. Meski dalam video terlihat penuh canda dan tawa, namun lain halnya dengan pihak Royal Caribbean. Pihak operator kapal pesiar justru mengecam aksi nekad tersebut. Meski tak ditangkap, Naydev disebut-sebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian.
 
View this post on Instagram
 

Full send. (Check out my channel, link in bio)

A post shared by Nick Naydev (@naydev91) on

Lewat juru bicaranya, Royal Carribean menyebut aksi Naydev sebagai tindakan bodoh dan sangat berbahaya. “Atas tindakannya tersebut, kami melarang yang bersangkutan untuk berlayar bersama Royal Carribean selamanya,” ujar sang juru bicara. Naydev sendiri telah mengungkapkan penyesalannya, dan berharap aksinya tidak menginspirasi orang lain untuk mencobanya. Beberapa sumber menyebut bahwa Naydev memang dikenal sering melakukan lompatan dari ketinggian. Dia melompat dari ketinggian seperti itu sebelumnya, dan kami tidak benar-benar peduli tentang konsekuensi dari perusahaan pelayaran,” kata Konstantin Kryachun, teman yang memfilmkan lompatan itu. “Kami hanya ingin mendapatkan video dan membuatnya viral.”
Symphony of the Seas
Baca juga: Bosan Menunggu, Pria Ini Buka Pintu Darurat dan Niat Lompat dari Sayap Pesawat Ternyata dibalik tawa Naydev, diakui bahwa dirinya mengalami cedera saat melakukan loncatan, yaitu bagian leher dan tulang ekor mengalami rasa sakit hingga 3 hari. Sebagai catatan, kapal pesiar Symphony of the Seas punya ketinggian hingga 72,5 meter. Kapal dengan bobot 228 ribu ton ini punya panjang 361 meter dan mampu menampung 6.000 penumpang.