Generasi Baru Metro Bombardier Movia Meluncur di Jalur MRT Terpanjang Singapura

Bombardier Transportation meluncurkan desain generasi terbaru metro Bombardier Movia di dua jalur Mass Rapid Transit (SMRT) terpanjang di Singapura. Generasi baru tersebut dibuat dengan inspirasi karena pesona kota yang semarak dan terlihat dari garis denyut merah serta hijau di sepanjang carbody eksterior. Baca juga: Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan Sehingga ini memberikan penekanan visual kontemporer untuk titik masuk penumpang. Kendaraan ini mengintegrasikan teknologi mobilitas paling canggih di dunia untuk meningkatkan transportasi umum Singapura. Dilansir KabarPenumpang.com dari globenewswire.com (8/10/2020), ada 106 kereta metro Movia dengan satu rangkaian ada enam mobil baru untuk Jalur Utara-Selatan dan Timur-Barat (NSEWL). Kereta Movia tersebut akan beroperasi dengan jalur sepanjang 102 km dan akan melayani 59 stasiun. Bisa dikatakan ini akan menghubungkan penumpang di seluruh Singapura. “Bersama dengan LTA, Bombardier dengan senang hati memamerkan desain kami untuk kereta NSEWL. Selama tujuh tahun terakhir, kinerja metro Movia kami telah terbukti bisa menggerakkan jutaan penumpang di Jalur Pusat Kota, membuat perjalanan harian mereka lebih hijau, lebih tenang, dan lebih aman daripada sebelumnya,” kata Jayaram Naidu, Presiden Asia Tenggara, Bombardier Transportation. Naidu menambahkan, pihaknya ingin berkolaborasi lebih lanjut dengan Otoritas Transportasi Darat (LTA) untuk memperkenalkan kereta metro mereka yang mengubah permainan secara global untuk membantu meningkatkan pengalaman perjalanan, mengurangi konsumsi energi dan meningkatkan keandalan kereta di Singapura. Dengan 636 mobil metro yang dipesan untuk proyek tersebut, maka akan menambah jumlah kendaraan Movia di Singapura menjadi 912. Sehingga hal ini menjadikannya salah satu armada metro terbesar Bombardier di dunia. Kendaraan metro Movia sendiri telah terbukti mengintegrasikan solusi mobilitas berperforma tinggi termasuk metro bogie Bombardier FLEXX dan sistem propulsi Bombardier MITRAC untuk mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan efisiensi energi serta memenuhi standar lingkungan tertinggi. Teknologi Train Control Monitoring System (TCMS) yang inovatif, serta fitur pemantauan berdasarkan kondisi dan prediktifnya akan meningkatkan efisiensi operasi armada dengan menyediakan diagnostik kereta api yang ekstensif dan mengoptimalkan perawatan track dengan menganalisis kondisi track. Interior kendaraan baru menampilkan lebih banyak ruang terbuka untuk kursi roda dan kereta bayi, mendukung visi LTA tentang sistem transportasi umum yang lebih inklusif. Baca juga: Di 2030, MRT Singapura Perpanjang Jaringan Hingga 360 Km, Bagaimana dengan MRT Jakarta? Bombardier bertanggung jawab atas desain, teknik, manufaktur, perakitan, pengujian, komisioning, dan pengiriman kereta metro Movia untuk sistem NSEWL. Kereta baru generasi mendatang ini dijadwalkan memasuki layanan penumpang mulai 2022 untuk meningkatkan keandalan dan kinerja sistem.

Hilangkan Kepenatan Karena Pandemi, Kereta Komuter Seoul Hadirkan Festival Film Kereta Bawah Tanah Internasional

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat orang masih terus dan harus menjaga jarak sosial mereka. Ini bisa membuat tekanan mental bagi banyak orang dan hal tersebut kemudian berbagai pihak menghadirkan solusi untuk membantu meringankan beban di masa pandemi. Baca juga: Bioskop Drive-In Solusi Hiburan di Era Covid-19, Mungkinkah Bakal Hadir Lagi di Indonesia? Seperti yang dilakukan jaringan kereta komuter bawah tanah Seoul untuk para penumpangnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari ajudaily.com (24/8/2020), jaringan kereta bawah tanah tersebut membuat festival film kereta bawah tanah internasional untuk meringkankan kepenatan penumpang. Operator kerta bawah tanah Seoul mengatakan bahwa mereka telah membuka “Festival Film Kereta Bawah Tanah Internasional Seoul ke-11”. Dalam festival ini akan ada 55 film indie yang diputar. Film indie pendek tersebut berdurasi sekitar 90 detik dan diputar di layar digital yang dipasang di kereta dan peron stasiun. Pemutaran film ini berakhir pada 17 September kemarin. Kereta bawah tanah yang berjalan di bawah ibukota Korea Selatan tersebut setidaknya menghadirkan delapan tampilan digital yang menunjukkan tujuan dan nama stasiun yang akan datang. Untuk diketahui, adanya pandemi ini, festival dan pameran film telah memilih metode non kotak untuk mengundang dan berkomunikasi dengan penggemar. Salah satunya Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN), sebuah festival film tahunan, diadakan sebagai acara online pada bulan Juli untuk memutar sekitar 190 film dari 40 negara. Sebuah gedung bioskop tunggal yang dilengkapi dengan kamera pencitraan termal, termometer dan semprotan disinfektan digunakan untuk pemutaran offline. Museum juga menarik generasi muda yang paham teknologi menggunakan realitas virtual (VR). Museum Nasional Sejarah Kontemporer Korea dan Museum Istana Nasional Korea, keduanya terletak di pusat kota Seoul, membuat museum virtual 3D untuk memungkinkan warga berjalan-jalan di dalam menggunakan komputer, smartphone, atau headset VR. Baca juga: Isolasi Diri dari Pandemi Covid-19, Seorang Pria Tinggal di Stasiun Kereta Api Seoul dan kota-kota lainnya memiliki jaringan rel kereta bawah tanah yang luas dengan 331 stasiun yang membentang dalam jarak total 353,2 kilometer (219,4 mil). Sekitar 7,4 juta orang menggunakan kereta subway setiap hari. Seorang komuter yang tinggal di Seoul atau kota-kota sekitarnya biasanya menghabiskan waktu sekitar tiga jam untuk perjalanan sehari-hari.

Kapten Sully Kritik Habis Boeing 737 MAX, Crew Alerting System dan Sensor Ketiga AoA Jadi Sorotan

Kapten Chesley “Sully” Sullenberger atau dikenal juga Kapten Sully mengaku tak puas dengan progres perbaikan Boeing 737 MAX. Padahal, usai menjalani uji sertifikasi ulang awal Juli lalu, pesawat pesakitan itu digadang bakal kembali melayani penumpang akhir tahun ini. Baca juga: Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual Kapten Sully yang terkenal usai tragedi “Miracle on the Hudson”, sebuah insiden yang menimpa pesawat Airbus A320-214 US Airways flight 1549 akibat dihantam bird strike dan memaksa pesawat melakukan ditching atau mendarat di air, dalam sebuah wawancara, menyoroti crew alerting system atau sistem peringatan kru 737 MAX. Menurutnya, pesawat perlu melakukan modifikasi tambahan untuk meningkatkan sistem peringatan kru dan menambahkan sensor ketiga untuk input data sensor angle of attack (AoA) pesawat. Saat ini, sensor AoA diketahui hanya ada dua dan dalam insiden 737 MAX yang menimpa Lion Air serta Ethiopian Airlines, dua sensor AoA MAX rusak dan tak bisa mengenali gerak pesawat. “Saya tidak akan mengatakan, ‘Kita sudah selesai, cukup bagus, lanjutkan’. Orang-orang akan terbang di atasnya dan saya mungkin akan menjadi salah satunya,” kata Kapten Sully, seperti dilaporkan Seattle Times dan Military.com. “MAX yang diperbarui mungkin akan seaman (model sebelumnya) 737 NG ketika mereka selesai menggunakannya. Tapi itu tidak sebaik yang seharusnya,” tambahnya. Dengan kondisi keuangan yang agak kacau akibat pandemi virus Corona, proses perbaikan 737 MAX dan 737 NG diprediksi akan menemui kendala baru. Untuk perbaikan MAX saja, hingga Maret lalu, Boeing mengaku telah menghabiskan Rp268 triliun. Seiring berbagai inspeksi oleh otoritas, 737 NG pun ikut keseret dan pada akhirnya juga dituntut melakukan perbaikan. Namun demikian, Kapten Sully, sang pilot kawakan di insiden Sungai Hudson, menekankan agar Boeing tak sayang uang demi kemanan dan keselamatan pesawat 737 MAX serta 737 NG. “Di MAX, desain sistem kontrol penerbangan tergolong cacat. Mereka telah secara tidak sengaja membuat perangkap (pesawat) maut. Itu masalah waktu sampai itu merenggut nyawa.” Kapten Sully memang terkenal keras terkait insiden Boeing 737 MAX. Pada bulan Juni 2019, saat bersaksi pada sidang investigasi 737 MAX di hadapan Komite Transportasi DPR AS, ia mengkritik keras kegagalan desain Boeing dan pengawasan FAA. Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan “Sangat penting bahwa input Aoa ketiga, atau synthetic airspeed, tersedia di pesawat ini,” kata Kapten Sully. Atas kritikan keras dan masukan darinya, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) pun menekan Boeing agar menambahkan input ketiga AoA pada MAX. Meskipun hal tersebut tak mudah dilakukan, EASA menyebut Boeing siap menjalankan masukan itu pas MAX kembali beroperasi.

Tak Seperti Negaranya, Vietnam Airlines Rugi Rp6,7 Triliun Gegara Covid-19

Vietnam menjadi satu dari beberapa negara yang tak sekalipun mencatat pertumbuhan ekonomi di bawah nol. Padahal, di saat yang bersamaan, pandemi virus Corona telah menyeret berbagai negara maju ke dalam resesi. Sayangnya, prestasi Vietnam tak lantas diikuti oleh BUMN negara tersebut, seperti misalnya flag carrier nasional mereka, Vietnam Airlines. Baca juga: Gantikan Armada Airbus yang Sudah Tua, Vietnam Airlines Berencana Pesan 100 Boeing 737 MAX Selama sembilan bulan atau hingga kuartal ketiga 2020, maskapai yang berdiri sejak 1956 ini tercatat membukukan kerugian bersih sebesar US$463 juta atau Rp6,7 triliun (kurs Rp14.700). Hal ini tentu saja diakibatkan turunnya frekuensi penerbangan internasional serta kebijakan ketat pemerintah dalam menangkal Covid-19 ke negara yang sering disebut Vietnam Rose ini. Dilansir Simple Flying, sejak akhir Januari, Vietnam Airlines telah menangguhkan semua penerbangan dari dan ke China. Sebanyak 70 ribu pengunjung antara kedua negara terdampak oleh kebijakan tersebut. Dua bulan berselang, pemerintah memutuskan untuk menutup pintu internasional dari dan ke negara tersebut, kecuali beberapa penerbangan internasional yang sangat penting. Hal itu tentu saja semakin membuat maskapai berdarah-darah. Memasuki bulan Juni, penerbangan domestik mulai berangsur pulih. Sekalipun di titik ini penerbangan internasional masih belum bisa diandalkan, setidaknya maskapai tetap bisa memutar uang bersamaan dengan jalannya rute domestik. Sambil terus fokus di penerbangan domestik, Vietnam Airlines juga mengambil langkah-langkah efisiensi, seperti restrukturisasi utang, reorganisasi manejemen atau PHK karyawan, serta menahan pengeluaran yang tidak mendesak. Tentu saja semua langkah tersebut juga dilakukan oleh seluruh maskapai di dunia. Dewi fortuna nampaknya juga berpihak ke maskapai yang beraliansi dengan SkyTeam ini. Hal itu tercermin dari tingginya mobilitas maskapai terhadap penerbangan charter khusus kargo, repatriasi, dan pemulihan rute domestik. Pada penerbangan repatriasi, maskapai ini tercatat telah mengoperasikan lebih dari 100 penerbangan repatriasi dan membawa pulang lebih dari 30.800 warga negara ke berbagai tujuan, seperti Angola, Guinea Khatulistiwa, Amerika Serikat, Taiwan, negara-negara di Eropa, dan banyak negara lainnya di seluruh dunia. Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO Penerbangan kargo pun demikian. Vietnam Airlines setidaknya telah mengoperasikan lebih dari 2.600 penerbangan kargo ke seluruh dunia. Beberapa dari penerbangan ini termasuk sumbangan peralatan dan perlengkapan medis serta berbagai barang bernilai ekonomi tinggi lainnya. Vietnam Airlines dan anak usahanya, Pacific Airlines, merupakan pemegang market share terbesar di Vietnam dengan lebih 50 persen pangsa pasar domestik. Hingga kuartal ketiga, keduanya telah mengoperasikan 46.700 penerbangan dan mengangkut kurang dari 12 juta penumpang serta 146.000 ton kargo. Selain itu, khusus untuk Vietnam Airlines, maskapai juga telah meluncurkan 22 rute domestik baru dan saat ini menerbangi lebih dari 300 penerbangan per hari.

Hari ini, 17 Tahun Lalu, Wahana Roket Cina Shenzhou 5 Berhasil Terbangkan Astronot Pertama

Cina pada 17 tahun lalu akhirnya berhasil menyelesaikan misi antariksa berawak pertama mereka. Ini adalah roket Shenzhou 5 yang diluncurkan pada 15 Oktober 2003 dari program antariksa Cina. Pesawat antariksa Shenzhou tersebut diluncurkan dari wahana peluncuran Long March 2F. Baca juga: Lihat Banyak Tempat Indah dari Luar Angkasa, Astronot Juga Butuh Liburan KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Shenzhou 5 diluncurkan pada pukul 01.00 UTC (09.00 waktu setempat) dari kosmodrom Jiuquan tepatnya berada di Gurun Gobi. Kemudian pada pukul 01.10 UTC, orbit target mencapai ketinggian 343 km. Bila ditotal secara keseluruhan Shenzhou 5 mendarat 21 jam kemudian setelah mengitari bumi sebanyak 14 kali sebelum akhirnya mendarat pukul 22.23 UTC tanggal 16 Oktober di Mongolia Dalam. Pendaratan ini sendiri meleset sekitar 4800 meter atau 4,8 km dari tempat peluncuran awal. Sebelum Shenzhou 5 ada empat dari misi Shenzhou nirawak sejak tahun 1999 dan Cina menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki kemampuan penerbangan antariksa berawak independen setelah Uni Soviet sekarang Rusia dan Amerika Serikat. Ternyata Shenzhou ini terdiri dari tiga modul yakni modul layanan berisi instrumentasi dan sistem propulsi, modul tengah berbentuk lonceng yang membawa awak selama peluncuran dan pendaratan serta modul orbital ke depan berbentuk silinder yang membawa eksperimen ilmiah dan militer. Shenzhou 5 memiliki panjang 9,3 meter, beratnya mencapai 7.840 kilogram serta berdiameter 2,8 meter. Pesawat ini didukung dengan empat panel surya yang menghasilkan total daya 1500 watt. Dalam peluncurannya, Shenzhou 5 menggunakan roket peluncur Long March 2F dalam membantunya mencapai orbit bumi. Penasaran siapa awak yang ikut dalam perjalanan antariksa Shenzhou 5? Dia adalah Yang Liwei seorang pilot umum dan militer besar serta China National Space Administration Astronot. Dia menjadi orang pertama yang dikirim ke luar angkasa dalam misi Shenzhou 5. Dia sebelum menjadi awak Shenzhou 5, terpilih sebagai kandidat astronot pada 1998 dan telah berlatih untuk penerbangan luar angkasa sejak saat itu. Yang Liwei saat menjalankan misi berpangkat Letkol dan kemudian diangkat menjadi kolonel 20 Oktober 2003. Baca juga: Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR Setelah peristiwa itu, seorang pimpinan NASA, Sean O’Keefe menyebut Shenzhou 5 sebagai “pencapaian penting dalam eksplorasi manusia”. NASA juga berharap Cina “melanjutkan program penerbangan angkasa manusia yang aman”. Berkat pencapaiannya, Cina terus berinovasi lebih dan pada 16 Juni 2012, program Shenzhou 9 berhasil membawa astronot wanita China pertama.

Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Poimo, skuter listrik tiup yang mudah dibawa kemana-mana berkat fleksibilitasnya, sukses menggebrak pasar personal mobility vehicle pada bulan Mei lalu. Sebagaimana namanya, Poimo, akronim dari Portable and Inflatable Mobility, memang sangat memudahkan pengguna karena bisa dilipat dan dimasukkan ke ransel atau sebaliknya, dikeluarkan dari ransel, dipompa, dan dikendari kemanapun berkat motor listrik. Baca juga: Poimo, Skuter Listrik Tiup dari Jepang Seolah belum cukup, skuter listrik hasil kerja sama Mercari R4D dengan laboratorium Kawahara dan Niiyama dari Universitas Tokyo tersebut, belum lama ini dikabarkan telah meluncurkan versi custom-fit, memungkinkan produsen untuk menyesuaikan ukuran tubuh dengan Poimo. Dilansir dari New Atlas, untuk mendapatkan Poimo yang sesuai dengan postur tubuh pengguna, mula-mula mereka perlu mengambil sejumlah gambar yang merepsentasikan posisi ideal saat mengendarai Poimo. Setelah itu, gambar-gambar tersebut akan dipilih dan dibuatkan model 3D skuter melalui sebuah software yang dirancang khusus untuk mengakomodir dimensi Poimo yang disesuaikan dengan pose dari gambar tadi.
Selain dalam bentuk menyerupai sepeda motor, Poimo juga menyediakan desain menyerupai kursi roda. Foto: Poimo
Tak hanya itu, software ini juga bisa mengakomodir calon pengguna yang agak rempong. Usai model 3D skuter listrik Poimo selesai dibuat, tentu saja berdasarkan pose yang dikirimkan, calon pengguna dimungkinkan untuk tetap menyesuaikan lagi desain Poimo sesuai keinginan mereka. Seumpama, mereka menginginkan ukuran ban, body skuter, jok, pijakan kaki, rangka bagian depan Poimo, setang, dan pengontrol nirkabel bawaan yang lebih tinggi atau pendek, lebih kecil atau besar, software otomatis akan menyesuaikan bagian lainnya ketika dimensi satu bagian diubah, seperti pada video di bawah ini. Dengan begitu, kekuatan, stabilitas, dan tingkat kenyamanan pengoperasiannya tidak terganggu.
Skuter yang dibuat dari kain dropstitch yang relatif kuat dengan tujuh bagian, mulai dari roda sampai setang, tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 9 kg. Skuter listrik tiup atau inflatable electric scooter Poimo diketahui bisa melaju hingga 6 km per jam, menempuh jarak sejauh puluhan km per satu jam pengisian daya. Kreasi sekelompok mahasiswa di Universitas Tokyo dalam membuat Poimo berawal dari keinginan untuk menciptakan kendaraan baru. Idenya adalah menggunakan bahan lembut, ringan dan memudahkan pemiliknya. Walau bukan solusi mobilitas mikro pertama yang ada, Poimo bisa dibilang paling menarik karena secara efektif menyelesaikan masalah portabilitas. Buktinya skuter ini dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam ransel besar. Baca juga: Walkcar, Skateboard Listrik yang Bisa Dijinjing dan Masuk ke Tas “Poimo merupakan jenis mobilitas personal baru yang terbuat dari bahan lunak, ringan, dan dapat ditiup. Bodi lembut dan dimensi kecil memungkinkan interaksi pengguna lebih aman dengan pejalan kaki. Kami juga sudah melakukan tes mekanis untuk memverifikasi bahwa itu dapat menahan berat manusia,” kata Ryuma Niiyama, bagian dari tim pengembangan di Universitas Tokyo. Skuter listrik Poimo diciptakan dengan teknik robotik lunak untuk menciptakan kendaraan listrik yang aman. Setidaknya dirancang untuk meminimalkan kecelakaan, terutama di ruang pejalan kaki yang padat seperti yang ada di Tokyo, Jepang. Ia juga termasuk kendaraan antirepot, karena jika terjadi tabrakan atau tusukan, tubuh yang menggembung dapat diganti atau diperbaiki tanpa masalah besar.

Bak Astronot, Penumpang Bisa Melayang di Dalam Pesawat Berkat Zero Gravity

Dunia antariksa memang selalu menarik perhatian publik. Selain bisa menikmati pemandangan ciamik luar angkasa, umumnya publik ingin mencicipi sensasi zero gravity atau tanpa gravitasi, dimana seluruh benda melayang dibuatnya. Sayangnya, untuk menjajal itu, miliaran rupiah sudah pasti harus keluar dari kocek seseorang. Baca juga: Mau Jadi Astronot Selama Beberapa Jam? Yuk Jajal Wisata Unik Ala Novespace Ini! Akan tetapi, keinginan untuk menjajal nol gravitasi tanpa harus jauh-jauh keluar dari atmosfer bumi serta merogoh kocek miliaran rupiah, sepertinya bukan lagi sebuah isapan jempol belaka. Adalah Zero Gravity Corporation, atau ZERO-G, perusahaan di balik “G-FORCE ONE,” sebuah pesawat Boeing 727 yang dimodifikasi untuk mampu menghasilkan penerbangan tanpa gravitasi. Dengan itu, penumpang dan seluruh benda apapun di dalamnya dapat melayang. Dikutip dari Business Insider, penerbangan tanpa gravitasi ini bekerja dengan melakukan manuver aerobatik yang dikenal sebagai parabola. Pilot yang menerbangkan pesawat ini telah dilatih khusus dalam melakukan manuver aerobatik.
Pesawat Boeing 727 ZERO-G. Foto: Thomas Pallini/Business Insider
“Penumpang ZERO-G mengalami (penerbangan) tanpa bobot yang sesungguhnya,” kata CEO Zero Gravity Corp, Matt Gohd, dalam sebuah postingan. Menurut Matt, sebelum memulai penerbangan tanpa gravitasi, pesawat akan terbang pada ketinggian 24.000 kaki. Kemudian, pilot mulai menerbangkan pesawat lebih tinggi lagi. Secara bertahap, dia meningkatkan sudut pesawat hingga sekitar 45 derajat ke langit sampai mencapai ketinggian 30.000 kaki. Selama gerakan ini, penumpang akan merasakan kekuatan 1,8 Gs. Pesawat kemudian dengan lembut mendorong untuk menciptakan segmen gravitasi nol parabola yang berlangsung sekitar 20 -30 menit. Lalu, pesawat menarik diri dari pergerakan dan memungkinkan penumpang untuk kembali stabil di lantai pesawat.
Perusahaan telah menjamin keselamatan bagi penumpang. Namun, bagi penumpang sendiri ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Menurut Reno Gazzete Journal, penumpang disarankan untuk menghindari minuman dan makanan berminyak sebelum penerbangan. Oleh sebab itu, saat sedang menunggu helikopter jemputan di Lounge Blade, West 30th Street Heliport, New York City, untuk diantar ke Bandara Internasional Newark Liberty dan menikmati penerbangan zero gravity, para peserta dihidangkan sarapan ringan penuh karbohidrat,croissant dan salad buah, untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Sebetulnya, penumpang tak diharuskan ke bandara pakai helikopter, hanya sekedar fasilitas tambahan saja.
Tak hanya penumpang, pilot pun menikmati momen penerbangan nol gravitasi. Foto: Space Frontiers/Getty
Usai menyantap sarapan, para peserta penerbangan nol gravitasi Boeing 727 besutan Zero Gravity Corporation (ZERO-G) juga akan dibekali dengan jumpsuit one-piece, mirip dengan jumpsuit pilot pesawat tempur, serta kaus kaki panjang. Di masa pandemi seperti sekarang ini, masker juga wajib dikenakan penumpang sebagai elemen keselamatan tambahan. Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar Tak hanya itu, semua penumpang juga perlu memeriksakan suhu dan kadar oksigen darah mereka sebelum keberangkatan melalui termometer dan oksimeter. Usai itu, penumpang diantar ke bandara dan menikmati penerbangan nol gravitas tanpa harus jauh-jauh ke luar angkas. Harga ZERO-G juga bervariasi, mulai dari sekitar USD 5.400 atau sekitar Rp 73.000.000 per orang, cukup murah bukan? Selain New York, penerbangan nol gravitasi ini juga tersedia di Las Vegas, Los Angeles, Atlanta, Austin, Houston, Miami, Orlando, Fransisco, Seattle, Washington, D.C., dan beberapa wilayah di New England. Di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, penerbangan ZERO-G cukup banyak diminat penumpang yang rindu hiburan.

Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Sebelum beroperasi, sebuah pesawat terlebih dahulu harus didaftarkan atau diregistrasi di beberapa otoritas penerbangan, seperti Regulator Penebangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA). Umumnya, pesawat tak selalu terdaftar di negara tempatnya beroperasi. Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA Boeing 737 Ryanair, misalnya, terdaftar di tiga negara, mulai dari Irlandia, Inggris, dan Malta. Padahal, rute terbang pesawat menjangkau seluruh Eropa. Pertanyaan kemudian muncul, sebetulnya, negara manakah yang paling banyak meregistrasi pesawat? Sebagian besar orang mungkin akan menjawab Amerika Serikat. Sebagian lagi mungkin Inggris -berkat pengaruh internasionalnya sejak dahulu- atau mungkin Cina yang belakangan muncul sebagai kekuatan baru dunia. Sayangnya, jawaban tersebut tak satupun benar, bila didasarkan pendapat CEO Ryanair, Eddie Wilson. Dalam sebuah podcast bertajuk ‘Inside Ryanair’ belum lama ini, ia mengungkapkan, “Separuh pesawat di planet ini sebenarnya terdaftar (diregistrasi) di Irlandia. (Irlandia) dipandang sebagai suar untuk pesawat sewaan.” Akan tetapi, ia tak menjelaskan dengan detail dasar pernyataannya tersebut. Padahal, bila disandingkan dengan data lain, tentu pandangan Wilson patut dipertanyakan. Dilansir Simple Flying, pakar analisis perjalanan dan penerbangan Cirium baru-baru ini melakukan analisis armada global guna mencari tahu di negara mana saja pesawat diregistrasi dan dimiliki. Analisis dipecah berdasarkan jenis pesawat. Dalam analisisnya, Cirium mengamati sebanyak 5.715 pesawat turboprop regional, 4.513 jet regional, 18.126 jet narrowbody, dan 6.457 jet widebody. Totalnya, ada 34.811 pesawat. Dari jumlah tersebut, 31,85 persen dimiliki di Amerika Serikat atau sekitar 11.087 pesawat. Namun, hanya 9.371 dari pesawat-pesawat tersebut yang benar-benar diregistrasi di Amerika Serikat. Data yang cukup kontras tentunya dengan pernyataan Wilson. Irlandia sendiri, masih dari data Cirium, memiliki proporsi kepemilikan pesawat tertinggi kedua dengan 5.186 atau 14,9 persen. Namun, ini tidak terkait dengan jumlah pesawat yang diregistrasi di negara tersebut. Artinya, hanya ada 669 yang benar-benar diregistrasi di Irlandia, mewakili 1,9 persen dari armada global. Dengan begitu, Cina dengan jumlah registrasi pesawat mencapai 4.081, Kanada (1333), Inggris (959), India (922), Bermuda (784), Jerman (709), Jepang (701), Australia (688), dan Indonesia (680), masih lebih banyak meregistrasi pesawat daripada Irlandia. Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang Berbicara lebih jauh tentang registrasi pesawat, rupanya hal lain yang lebih menarik muncul, tak sekedar mencari tahu dimana pesawat diregistrasi saja. Bila negara-negara lain meregistrasi atau memiliki pesawat dengan jumlah puluhan hingga belasan ribu, justru negara-negara ini sebaliknya, hanya memiliki tak kurang dari dua digit. Negara-negara tersebut mulai dari San Marino, Belize, Bosnia-Herzegovina, British Virgin, Republik Afrika Tengah, Polinesia Perancis, Sao Tome dan Principe, Somalia, tercatat hanya memiliki satu pesawat di seantero negeri. Sisanya, tentu saja pesawat sewaan. Liechtenstein mungkin masih lebih baik. Negara yang tak memiliki bandara tersebut hanya mempunyai atau meregistrasi tiga pesawat, dua pesawat turboprop regional, dan satu pesawat narrowbody.

Daftar Maskapai Terdepan yang Gunakan Bahan Bakar Berkelanjutan, Tak Satupun dari Asia

Dunia berlomba-lomba untuk membuat penerbangan menjadi ramah lingkungan. Ditargetkan, tahun 2050 mendatang moda transportasi massal di dunia, termasuk pesawat, sudah bebas emisi. Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh! Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Perlahan tapi pasti, transisi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar berkelanjutan nan ramah lingkungan sudah dimulai maskapai sejak beberapa tahun lalu. Setidaknya, ada lebih dari 30 maskapai yang sudah memulai proyek hijau mereka. Namun, hanya ada beberapa maskapai yang konsisten menjalankannya sampai dunia benar-benar bisa bebas dari emisi. Dilansir dari Simple Flying, beberapa maskapai yang konsisten untuk terus menguji coba atau sudah menggunakan bahan bakar berkelanjutan tersebut, termasuk American Airlines, Alaska Airlines, JetBlue Airways, United Airlines, Delta Air Lines, KLM, Finnair, dan SAS Scandinavian Airlines. Musim panas tahun ini, produsen solar dan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) terbesar di dunia, Neste, mulai memasok bahan bakar nabati ke tiga maskapai besar AS, American Airlines, Alaska Airlines, dan JetBlue Airways, untuk penerbangan dari Bandara San Fransisco (SFO). Dalam proyek yang dikenal sebagai “climate quantum leap” ini, perusahaan asal Finlandia itu mulai mengirimkan SAF ke SFO melalui pipa. Ketiga maskapai tersebut sudah menandatangani perjanjian untuk menggunakan bahan bakar ramah lingkungan yang terbuat dari limbah dan sisa makanan buatan Neste. Bahan bakar ramah lingkungan itu akan terus digunakan di setiap perjalanan udara dari SFO. Selain ketiga maskapai AS itu, Neste juga bermitra dengan maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM. Maskapai yang belum lama ini merayakan hari jadinya yang ke-101 tersebut nantinya bakal menggunakan bahan bakar berkelanjutan buatan Neste mulai 2022 mendatang, usai pembelian 75.000 ton biofuel diteken. Bahan bakar ramah lingkungan KLM nantinya akan terpusat di Bandara Schiphol. Selain bermitra dengan Neste, KLM juga mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan secara mandiri. Hal itu untuk memastikan beberapa penerbangan KLM menggunakan biofuel. Atas inisiatif tersebut, KLM tercatat sebagai satu-satunya maskapai penerbangan Eropa yang menggunakan biofuel di rute antarbenua, yakni Amsterdam – Los Angeles. Tetapi, tak lama lagi, Finnair mungkin bakal mensejajarkan diri dengan KLM, mengingat maskapai tersebut sudah lama menguji coba penerbangan lintas benua, antara Helsinki – San Fransisco, menggunakan biofuel. Maskapai penerbangan pada umumnya terkendala di biaya sebelum mulai menggunakan bahan bakar berkelanjutan. Sebab, investasinya empat kali lipat per penerbangan dari bahan bakar fosil. Namun, hal itu nampaknya bisa disiasati dengan baik oleh SAS Scandinavian Airlines. Alih-alih mengeluarkan dana ekstra, maskapai tersebut justru memanfaatkan psikologi masyarakat Skandinavia yang selalu merasa bersalah atas kerusakan alam. Sejak September 2019, penumpang SAS diizinkan membayar lebih untuk mendorong maskapai menggunakan bahan bakar ramah lingkungan sebelum penerbangan dimulai. Cukup inovatif, bukan? Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia Bergeser kembali ke Negeri Paman Sam, pada tahun 2019, United Airlines mulai menguji coba biofuel di bawah program “Flight for the Planet” dari Chicago ke Los Angeles, menggunakan 70 persen bahan bakar fosil dan 30 persen biofuel. Pada tahun yang sama, maskapai tersebut telah menganggarkan US$40 juta untuk proyek percepatan produksi biofuel. Selain itu, maskapai juga setuju untuk membeli hingga 10 juta galon SAF selama dua tahun ke depan. Rekan senegara maskapai itu, Delta Air Lines, juga telah menandatangani perjanjian untuk membeli 10 juta galon per tahun. Namun, hanya menyisihkan $2 juta untuk penelitian SAF.

Krumbach di Austria Punya Halte Bus Unik Buatan Tujuh Arsitek Internasional

Menunggu memang hal yang tidak menyenangkan apalagi bila menunggu bus di halte yang biasa saja. Namun bagaimana jika halte bus tersebut diubah lebih menarik, unik dan mungkin menjadi spot foto yang berbeda dari lainnya? Di Austria telah dibangun tujuh halte bus yang menarik dan mengalihkan pandangan dunia, yaitu di kota kecil Krumbach, distrik Bregenzerwald. Baca juga: Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput Halte-halte bus ini dirancang oleh tujuh orang arsitektur terkenal di seluruh dunia. Para arsitek ini berkolaborasi dengan tradisi, inovasi, nasional dan internasional. KabarPenumpang.com melansir laman archdaily.com, tujuh orang arsitek tersebut ialah Ensamble Studio Antón García-Abril dan Débora Mesa dari Spanyol, Arsitek de Vylder Vinck Taillieu dari Belgia, Arsitek Rintala Eggertsson dari Finlandia dan Norwegia, Alexander Brodsky dari Rusia, Wang Shu dari Cina, Sou Fujimoto dari Jepang dan Smiljan Radic dari Chili.
Desain halte bus (archdaily.com)
Tujuh arsitek yang membangun tujuh halte bus ini juga bekerja sama dengan pengrajin lokal sehingga struktur unik didapatkan untuk menampilkan kota kecil dengan seribu penduduk. Kurator Dietmar Steiner memuji komitmen mereka yang terlibat, dengan mengatakan, seluruh proyek berhasil karena didukung dengan cara yang paling dermawan oleh lebih dari 200 orang. Ini termasuk para arsitek, yang mengambil proyek mereka hanya untuk liburan gratis di daerah tersebut dan kesempatan untuk terlibat dalam tantangan yang tidak biasa. Namun, Verena Konrad, Direktur vai Vorarlberger Architektur Institut, mencatat bahwa proyek itu penting untuk “sambungan infrastruktur dan mobilitas yang sukses untuk daerah pedesaan.” Untuk diketahui, wilayah Bregenzerwald, terletak di titik pertemuan tiga negara, menawarkan pengunjung berbagai budaya, masakan, arsitektur, kerajinan tangan, fasilitas olahraga dan rekreasi yang sangat kaya dan padat untuk daerah pedesaan seperti itu. Arsitektur memainkan peran penting dalam menarik sekitar 30 ribu pelancong setiap tahun ke provinsi ini dan merupakan kelanjutan dari keahlian dan seni yang telah membentuk wilayah ini selama berabad-abad. Dalam beberapa tahun terakhir, kota kecil Krumbach telah menyelesaikan beberapa bangunan arsitektural yang menarik termasuk pembangunan perumahan komunal, paviliun di rawa dataran tinggi, dan stasiun bus pedesaan pusat baru oleh arsitek lokal Hermann Kaufmann, Bernardo Bader dan Rene Bechter. Krumbach berharap dapat menciptakan hubungan antara desain ini dan proyek budaya membangun. Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel Kunjungan situs dengan arsitek internasional telah dilakukan di Krumbach dan desain mereka ditunggu dengan penuh kegembiraan. Mendampingi proyek akan menjadi dokumentasi film dan foto, pameran dan publikasi. Halte bus Krumbach diharapkan akan menciptakan dorongan baru untuk pariwisata, bisnis, dan keahlian yang akan berdampak besar di luar kawasan.