Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Pada hari ini, 91 Tahun Lalu, bertepatan dengan Senin, 14 Oktober 1929, kapal udara buatan Inggris, R101 terbang perdana. Selain diplot sebagai pesaing kapal udara pertama di dunia, Zeppelin, kapal udara R101 Inggris tersebut juga diplot sebagai moda transportasi untuk menghubungkan Inggris dengan koloninya di seluruh dunia di bawah proyek British Imperial Airship Scheme tahun 1920-an. Baca juga: Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10 Dilansir BBC, ide untuk membuat kapal udara R101 pesaing Zepplein Jerman muncul atas gagasan dari AH Ashbolt, pemimpin Tasmania, salah satu koloni Inggris, pada tahun 1921. Ia mengusulkan agar kerajaan Inggris membuat perusahaan Imperial Airship Company. Namun, usulan tersebut ditolak karena dinilai tak relevan. Setahun berikutnya, perusahaan pembuat pesawat asal Inggris, Vickers, mengusulkan hal yang sama, melalui skema pengembangan kapal udara komersial. Kapal tersebut nantinya akan menyediakan layanan penumpang untuk menghubungkan negara-negara Kerajaan Inggris. Proyek tersebut dinamai “skema Burney” diambil dari sang insiator, Dennistoun Burney. Skema tersebut merencanakan pembuatan enam kapal udara dengan perkiraan biaya £4 juta. Seluruh kapal udara Inggris tersebut nantinya akan diproduksi dan dioperasikan oleh Vickers.
R101 saat sedang diproduksi. Foto: Culture24
Sekalipun skema Burney sudah disetujui, namun, usai pemimpin baru Inggris terpilih melalui pemilu 1922, skema tersebut ditangguhkan akibat terlalu banyak menyerap anggaran. Untuk diketahui, seluruh dana dalam produksi kapal udara Inggris itu ditanggung oleh Australia, India, dan Inggris; termasuk dari warga melalui pengutan pajak. Dua tahun berikutnya, partai konservatif yang menguasai Inggris sejak 1922 digusur oleh partai buruh. Skema Burney pun akhirnya ditolak mentah-mentah. Namun, semangat mengembangkan kapal udara Inggris terus melaju di bawah Imperial Airship Scheme atau Skema Pesawat Kekaisaran. Skema tersebut didesain untuk memproduksi dua kapal udara Inggris, dimana satu kapal udara “Kapitalis” bernama R100 dikembangkan oleh Vickers di bawah komando Dennistoun Burney. Adapun kapal udara lainnya, R101 “Sosialis” dirancang oleh Royal Airship Works milik Pemerintah di Cardington, Bedfordshire, Inggris.
Spesifikasi kapal udara Inggris, R100 dan R101. Foto: Tangkapan layar
Sekalipun terlihat sama, dimana kapal udara sama-sama berkemampuan mengangkut 100 penumpang sejauh 57 jam penerbangan dengan kecepatan jelajah 101 jm per jam, namun, dua kapal udara Inggris tersebut sungguh berbeda. R100 “Kapitalis” yang dikembangkan oleh Vickers hanya memanfaatkan teknologi yang ada. Adapun R101 “Sosialis” dirancang sebagai wadah inovasi ilmuan terkait desain pesawat atau kapal udara. Setelah menjalani proses produksi sejak Maret 1924, pada 14 Oktober 1929, kapal udara R101 yang ditenagai mesin diesel berhasil terbang perdana melintasi langit London. Pada Agustus 1930, kapal udara R100 yang dibekali mesin berbahan bakar bensin menyusul keberhasilan R101 usai melahap perjalanan trans-Atlantik ke Amerika Utara, menuju Quebec, Montreal, dan Toronto pada tahun 1930 selama 78 jam. Setelah terbang perdana, R101 mengalami pengembangan di pertengahan 1930. Namun, proses pengembangan terus-menerus gagal. Tetapi, pengembang ngotot untuk bisa sesegera mungkin menguji coba kapal udara hasil pengembangan. Usai sertifikat kelaikan udara terbit, 5 Oktober 1930 kapal udara R101 terbang menuju India. Dalam kondisi cuaca buruk, penerbangan pembuktian itu tetap dipaksakan.
Kapal udara Inggris, R101 usai kecelakaan di Perancis. Foto: Getty
Pasca tujuh jam terbang, kapal udara itu dilaporkan jatuh dan terbakar di dekat Beauvais, Perancis utara, menewaskan 48 dari 54 penumpang; termasuk Lord Thomson, ketua DPR Inggris dan VC Richmond, kepala desain R101. Baca juga: Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024 Akan tetapi, kecelakaan tersebut tak membuat Inggris bergeming. Di awal tahun 1931, Inggris mengajukan layanan angkutan penumpang dari Cardington ke Karachi dan Montreal menggunakan R100 dan R101 (yang sudah dikembangkan). Proposal tersebut juga diikuti dengan pengembangan R102 dan R103 yang akan beroperasi pada 1934 dan 1935. Keempat kapal udara tersebut akan menawarkan layanan pulang pergi bulanan ke Montreal dan Karachi, serta layanan mingguan ke Ismailia, Mesir. Layanan kapal udara ke Australia juga bakal dijajaki pada tahun 1936, bersamaan dengan sebuah kapal udara yang lebih besar, R104. Sayangnya, sebelum hal itu terwujud, pada 31 Agustus 1931, Kabinet Inggris memutuskan untuk meninggalkan pengembangan dan mengakhiri cerita kapal udara Inggris.

Rute Domestik Tersibuk di Dunia Ternyata Hanya 400 Km, Setara Jakarta-Semarang

AirAsia Indonesia boleh saja berbangga diri. Maskapai yang baru saja merilis logo baru tersebut diketahui mengoperasikan rute terpendek A320 di dunia, antara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasional Praya di Lombok dengan jarak sekitar 122 km atau 15 hingga 25 menit perjalanan. Namun, salah satu rute domestik terpendek di dunia itu bukanlah yang tersibuk. Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran! Dilansir Simple Flying, dari daftar 10 rute domestik tersibuk di dunia, delapan di antaranya boleh saja berada di Asia, tetapi tak satupun melibatkan AirAsia. Menariknya, empat dari rute tersibuk domestik tersebut ada di Jepang. Tak cukup sampai di situ, yang jauh lebih menarik lagi, dari ke-empat rute domestik tersibuk di dunia yang ada di Jepang, seluruhnya melibatkan Bandara Internasional Haneda, Tokyo; mulai dari Bandara Chitose Baru Sapporo-Haneda, Bandara Fukuoka-Haneda, Bandara Okinawa-Haneda, dan Bandara Internasional Haneda Tokyo-Bandara Internasional Itami Osaka. Masuknya Bandara Chitose Baru Sapporo-Haneda, Bandara Fukuoka-Haneda, dan Bandara Okinawa-Haneda tentu tak terlalu mengejutkan, mengingat wilayah tersebut terpaut cukup Jauh. Haneda, Tokyo berada di tengah dari gugusan kepulauan di Jepang, sedangkan mereka, berada di atas dan di bawah Haneda. Namun, tidak demikian dengan salah satu rute domestik tersibuk di dunia antara Bandara Internasional Haneda Tokyo-Bandara Internasional Itami Osaka, yang juga sama-sama berada di tengah daratan Jepang. Secara jarak, kedua bandara tersebut berjarak hanya sekitar 400 km atau kurang lebih setara jarak Jakarta-Semarang. Di tahun 2019 lalu, Official Airline Guide (OAG) sebagai penyedia data perjalanan global mencatat, ada sekitar 7.248.300 penumpang yang melakukan perjalanan antara kedua bandara ini. Dengan traffic sebanyak itu, rute tersebut pun bercokol di posisi ke-10 daftar rute domestik tersibuk di dunia. Sejauh ini, ada dua maskapai yang aktif melayani rute tersebut, yakni Japan Airlines dan All Nippon Airways (ANA). Di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, jumlah traffic memang menurun dratis, namun, tetap bergairah. Hal itu setidaknya terlihat dari armada yang dikerahkan maskapai dalam rute tersebut. Penerbangan di rute tersebut pada 27 Oktober, misalnya, dari 21 penerbangan oleh Japan Airlines dan ANA, hanya dua penerbangan yag menggunakan pesawat lorong tunggal (Boeing 737 dan Airbus A321). Sisanya, maskapai mengerahkan armada widebody mereka, seperti pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia Boeing 767 dan 787 Dreamliner. Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia Dari segi ekonomi, masuknya rute tersebut ke dalam daftar 10 rute domestik tersibuk di dunia tentu tak mengherankan, mengingat Osaka dan Tokyo merupakan dua kota berpenduduk terbesar di Jepang. Namun, bila dilihat dari segi kemudahan akses, tak seharusnya rute tersebut menduduki posisi seperti sekarang ini dalam kaitannya dengan rute domestik tersibuk. Selain bisa ditempuh menggunakan pesawat, dengan jarak tempuh sekitar 1 jam 10 menit, Itami-Haneda juga bisa ditempuh dengan menggunakan kereta peluru atau Shinkansen selama 2 jam 30 menit. Tetapi, dalam kondisi tertentu, Shinkansen bisa melahap Itami-Haneda atau Osaka-Tokyo hanya dalam 10 menit. Belum lagi kemudahan keluar-masuk stasiun -dibanding bandara- seharusnya kereta lebih diminat, sekalipun dengan harga sedikit lebih mahal.

Bukan Nama Jet Tempur, Inilah Lokomotif Tejas yang Layani Kereta Ekspres dengan Kecepatan 160 Km Per Jam

Bagi sebagian kalangan, nama Tejas sudah terlanjur identik dengan nama jet tempur bermesin tunggal produksi dalam negeri India. Namun, kali ini nama Tejas rupanya juga digunakan untuk wahana lokomotif, persisnya pabrik lokomotif utama Indian Railways Chittaranjan Locomotive Works (CLW) meluncurkan lokomotif listrik Tejas Express batch pertama. Lokomotif ini dikembangkan oleh CLW untuk operasi ‘dorong-tarik’ dengan WAP-5 yang dirancang secara aerodinamis. Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan Teknologi ‘dorong-tarik’ tersebut akan membantu lokomotif listrik penumpang untuk mengurangi tarikan udara dan memastikannya lebih stabil pada operasi kecepatan tinggi. KabarPenumpang.com melansir livemint.com (2/10/2020), lokomotif ini bertipe WAP-5 yang berkapasitas 6000 HP dan dilengkapi dengan sistem propulsi berbagis IGBT terbaru yang mampu melaju dengan kecepatan 160 km per jam. Meja masinis pada Tejas Express dimodifikasi secara ergonomis untuk meningkatkan keterampilan manuver masinis lokomotif. Konverter komposit juga disediakan di lokomotif ini untuk langsung memasok daya ke gerbong dan gerbong pantry sehingga menghilangkan kebutuhan gerbong pembangkit tenaga diesel terpisah. Dalam pengaturan ‘dorong-tarik’, setiap lokomotif terhubung ke setiap ujung kereta dan akan berkomunikasi melalui bus kereta kabel. Setiap lokomotif dirancang sedemikian rupa sehingga satu kabin berbentuk aerodinamis dan kabin lainnya yang menghadap ke sisi gerbong dibuat datar untuk mengurangi hambatan udara secara drastis pada kecepatan yang lebih tinggi. Dengan begitu kesemuanya dapat meningkatkan efisiensi energi kereta dan membuatnya lebih stabil secara dinamis pada kecepatan yang lebih tinggi. Upaya traksi maksimum dari satu lokomotif WAP5 adalah 260 kN dan itu bisa mengangkut hingga 16 gerbong. Pengaturan ‘dorong-tarik’ dengan maksimum 12000 HP memberikan solusi untuk kebutuhan kereta yang lebih panjang seperti Rajdhani dengan satu loko di depan disebut master dengan loco pilot dan yang lainnya di belakang disebut slave tanpa loco pilot. Hal ini juga mengurangi gaya coupler dan menghasilkan pengoperasian yang lebih aman. Lebih jauh di bagian gradien yang curam, tidak ada banker loco yang diperlukan dan tidak ada waktu yang hilang untuk pemasangan dan pelepasan bankir. Untuk memudahkan pekerjaan Loco Pilot, karena dua lokomotif akan berjarak sekitar 600 meter dengan gerbong di antaranya, kunci BL (Loco Main Switch to Turn ON), LSDJ (Indikasi kondisi pemutus sirkuit vakum) dan BPFA (Indikasi/Acknowledgement of Fault) telah disediakan dalam duplikat di master loco yang menggambarkan kondisi slave loco. Selain itu, perangkat lunak pada lokomotif telah ditingkatkan untuk kemudahan pengoperasian. Kaca pandang telah diperlebar untuk kenyamanan Loco Pilot yang lebih baik dan seluruh bodi loco dibalut dengan lapisan vinil dengan desain grafis. Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta Ini adalah lokomotif hijau bebas kebisingan, bebas polusi dan ramah lingkungan yang lebih hemat energi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan dan juga akan menghemat banyak waktu shunting lokomotif. Tejas Express akan mengurangi perjalanan Rajdhani Express antara Howrah dan New Delhi hingga 90 menit

Indonesia dan Singapura Siapkan “Reciprocal Green Lane” untuk Mudahkan Perjalanan Bisnis dan Resmi

Pemerintah Singapura dan Indonesia sepakat menyiapkan jalur hijau timbal balik atau reciprocal green lane (RGL) untuk bisnis penting dan perjalanan resmi antar dua negara. Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) mengatakan, aplikasi untuk RGL akan mulai dibuka pada 26 Oktober dan perjalanan akan segera dimulai setelahnya. Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan Kesepakatan ini sendiri hanya direncanakan kurang dari dua bulan di mana pada 25 Agustus, Singapura dan Indonesia membicarakan hal tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (12/10/2020), MFA mengatakan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan dan Menlu Indonesia Retno Marsudi telah menegaskan bahwa hubungan yang sangat baik dan lama antara keduanya dalam percakapan telepon. Pada diskusi Agustus lalu, keduanya membahas pentingnya memperkuat kerja sama yang saling menuntungkan dalam mengatasi tantangan bersama yang ditimbulkan oleh Pandemi Covid-19. Hal ini termasuk dimulainya kembali perjalanan penting sambil menjaga kesehatan dan keselamatan publik di kedua negara. “Dalam konteks ini, para menteri menyambut baik hasil perundingan tersebut,” kata MFA. MFA mengatakan, Indonesia sebagai pengatur koridor perjalanan dan memperbolehkan warga Indonesia serta Singapura melakukan bisnis atau perjalanan resmi jika memenuhi syarat untuk RGL. Untuk itu pelancong ataupun pebisnis harus menunjukkan bukti tes usap reaksi berantai polimerase (PCR) pra-keberangkatan dan pasca-kedatangan dari institusi kesehatan yang diakui bersama. Selain itu untuk hal lainnya diktakan MFA akan diumumkan ketika sudah waktunya. Retno mengatakan, akan ada dua titik masuk di Indonesia untuk RGL yakni Terminal Ferry Batam Center dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Sedangkan dua titik masuk ke Singapura adalah Terminal Ferry Tanah Merah dan Bandara Changi. Pelancong harus mengikuti tes PCR pertama 72 jam sebelum keberangkatan, dan tes kedua setelah tiba di bandara atau terminal ferry. Retno menambahkan, pelancong yang memenuhi syarat juga harus mengunduh dan mendaftarkan diri di aplikasi seluler TraceTogether dan SafeEntry selama di Singapura, atau di aplikasi e-HAC dan Peduli Lindungi selama di Indonesia. Dia mengatakan, pelamar dari Indonesia harus memiliki sponsor dari lembaga pemerintah atau perusahaan di Singapura dan meminta tiket SafeTravel. Sedangkan bagi warga Singapura yang ingin masuk ke Indonesia harus memiliki sponsor dari pemerintah atau badan usaha dan mengajukan visa online. Ketika Singapura semakin dibuka kembali di tengah pandemi Covid-19, pengaturan perjalanan khusus telah dibuat dengan beberapa negara dan wilayah. Saat ini Singapura telah memiliki pengaturan jalur hijau timbal balik untuk bisnis penting dan perjalanan resmi dengan Cina, Malaysia, Brunei, Korea Selatan dan Jepang. Ini juga secara sepihak mencabut pembatasan perbatasan untuk beberapa pengunjung dari Australia, tidak termasuk negara bagian Victoria, Vietnam, Brunei dan Selandia Baru. Baca juga: Desember 2020, Kereta Mewah Orient Express Tampil di Singapura Awal bulan ini, Menteri Transportasi Singapura Ong Ye Kung mengatakan mengejar lebih banyak pengaturan jalur hijau dan menegosiasikan gelembung perjalanan udara dengan negara-negara yang memiliki tingkat infeksi Covid-19 yang rendah termasuk di antara rencana untuk “menghidupkan kembali” Changi Air Hub. Ong mengatakan dalam pernyataan, sebuah fasilitas telah didirikan di Bandara Changi untuk menampung hingga 10 ribu penumpang sehari. Dalam beberapa bulan ke depan, ada rencana untuk mendirikan laboratorium penguji Covid-19 khusus di bandara untuk mendukung pemulihan penerbangan.

Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Qantas sukses menerbangkan penerbangan tanpa tujuan atau flight to nowhere akhir pekan lalu (10 Oktober 2020). Terjadi beberapa perubahan dalam penerbangan perdana flight to nowhere tersebut, dari semula 134 kursi menjadi total 150 kursi; dari semula rata-rata di ketinggian 30 ribu kaki, menjadi hanya di ketinggian 25 ribu kaki; dan dari semula hanya tujuh jam menjadi total 8,5 jam keliling Australia. Baca juga: Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual Di momen penerbangan tanpa tujuan perdana Qantas, pengunjung disuguhkan berbagai pemandangan menarik dari beberapa destinasi wisata andalan Negeri Kanguru. Tak hanya itu, penumpang juga disuguhkan sajian spesial flight to nowhere. Agar lebih jelasnya, berikut foto-foto momen penerbangan tanpa tujuan Qantas yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber. 1. Boeing 787 Dreamliner
Boeing 787 Dreamliner dengan nomor penerbangan QF787 lepas landas dari Bandara Sydney. Foto: Getty Images
Pesawat Boeing 787 Dreamliner Qantas yang membawa 150 penumpang pada penerbangan tanpa tujuan, berangkat pukul 10.43 pagi waktu setempat, dari Bandara Sydney, di sebelah Tenggara Benua Australia. Setelah itu, pesawat langsung menuju ke Utara, menyusuri sepanjang pantai di ketinggian 25 ribu kaki. 2. Gold Coast, Brisbane
Goald Coast. Foto: Tourism Australia
Setelah menyisir sepanjang pesisir Timur Australia, pesawat kemudian mulai menurunkan ketinggian di kisaran 2.800 kaki ketika sampai di Gold Coast, Brisbane. Di sini, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan pasir putih khas Australia, biru laut, serta beberapa gedung pencakar langit. 3. Sunshine Coast, Queensland
Sunshine Coast. Foto: Daily Queensland
Setelah melewati Gold Coast, pengunjung disuguhkan dengan pemandangan indah pantai yang nyaris serupa dengan pantai tersebut, Sunshine Coast. Bedanya, pantai ini tak terdapat gedung tinggi sehingga lebih memanjakan mata tanpa terhalang bangunan. 4. Coolum Beach
Coolum Beach. Foto: Qatas
Masih sepanjang garis pantai Timur Benua Australia, dengan kecepatan agak pelan dan ketinggian rendah, peserta penerbangan tanpa tujuan Qantas disuguhkan dengan pemandangan Coolum Beach. Menariknya, warga yang berada di pantai melakukan penyambutan kecil ke pesawat dengan mengukir pasir dan membentuk tulisan “Visit Us for Real” sebagai undangan tak resmi pengujung ke pantai tersebut di kemudian hari. 5. Hamilton Island
Hamilton Island. Foto: Reddit
Usai menyusuri tiga pantai, Boeing 787 Dreamliner Qantas dengan nomor penerbangan QF787 kembali melesat di kecepatan dan ketinggian normal. Ketika mendekati Hamilton Island, pesawat dengan nomor registrasi VH-ZND tersebut kembali menurunkan ketinggian di kisaran 1.475 kaki. Pengunjung pun disuguhkan dengan pemandangan indah landskap unik di sekitar pantai, biru laut, dan pasir putih tanpa adanya bangunan apapun. 6. Heart Reef
Heart Reef. Foto: Youtube
Belum usai decak kagum keindahan Hamilton Island, agak melenceng sedikit ke lepas pantai Australia di Timur Laut, peserta penerbangan tanpa tujuan dibuat tercengang dengan keindahan Heart Reef. Terumbu karang berbentuk hati itu merupakan bagian dari gugusan terumbu karang yang melintang di sepanjang Timur Laut Australia, tak jauh dari Hamilton Island. Di sini, pesawat sempat berkeliling sebelum terbang ke destinasi berikutnya. 7. Greet Barrier Reef
Greet Barrier Reef. Foto: GoEco
Melengkapi Hear Reef, pengunjung juga disuguhi dengan pemandangan Greet Barrier Reef. Sebagaimana namanya, terumbu karang ini seperti menjadi tameng sekitar pesisir Timur hingga Timur Laut Australia dari terjangan ombak. 8. Uluru, Ayers Rock
Uluru atau biasa juga disebut Ayers Rock. Foto: ABC
Usai mengunjungi cantiknya terumbu karang dan pantai pesisir Timur hingga Timur Laut Australia, pesawat meluncur ke tengah Australia dengan melahap lima jam perjalanan. Setelah itu, pengunjung diajak melihat formasi batu pasir besar, Uluru atau biasa juga dikenal Ayers Rock, dari ketinggian sekitar 3.900 kaki. Di sini, pengunjung dijelaskan oleh para ahli melalui sambungan telepon satelit layaknya tour guide. Begitu juga saat di destinasi sebelumnya. Setelah 30 menit, pesawat kemudian kembali ke Sydney dan mendarat pada pukul 19.09.

Sanggup Layani Kapal Ferry Bertonase 10.000 Ton, Dermaga IV Merak-Bakauheni Resmi Dibuka

Dermaga IV di pelabuhan Merak dan Bakauheni yang dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry diresmikan pada Senin (12/10/2020). Kehadiran dermaga ini diharapkan akan mampu mendukung layanan operasional angkutan Natal dan Tahun Baru mendatang. Baca juga: Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, Dermaga IV Pelabuhan Merak dan Bakauheni ini merupakan peningkatan dari dermaga yang sudah ada sebelumnya. Dermaga IV juga bisa melayani kapal-kapal ferry dengan kapasitas 6000-10 ribu GRT. “Kesiapan dermaga IV untuk beroperasi merupakan solusi agar kegiatan mobilisasi barang maupun manusia antara Pulau Jawa dan Sumatera berjalan lancar,” ujarnya Budi Setiyadi yang dikutip dari keterangan tertulis. Dia mengatakan, pelabuhan memiliki peran vital dalam perekonomian nasional dan daerah untuk menjamin kelancaran, keamanan, ketertiban dan keselamatan berlayar. Sehingga dikatakan Budi Setiyadi, pemeliharaan fasilitas pelabuhan mutlak dilaksanakan. “Hal ini juga harus menjadi perhatian ASDP selaku operator Pelabuhan bahwa pemeriksaan fasilitas pelabuhan secara rutin merupakan tools untuk dapat melaksanakan langkah tindak lanjut dalam melaksanakan pemeliharaan berkala. Dengan langkah ini diharapkan tidak akan terjadi kerusakan yang bersifat mayor dan gagal fungsi pada fasilitas Pelabuhan,” kata dia. Budi Setiyadi menambahkan, bertambahnya dermaga, maka bertambah pula frekuensi keberangkatan maupun kedatangan kapal setiap hari. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan, dalam menunjang konsep Poros Maritim dan memenuhi tuntutan kebutuhan angkutan penyeberangan yang andal dan memadai, maka ASDP melakukan revitalisasi dan peningkatan kapasitas dermaga Moveable Bridge (MB) dermaga IV di Merak dan Bakauheni, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintasan tersibuk ini. “Alhamdullilah, pembangunan dermaga IV Merak-Bakauheni telah rampung tepat waktu dalam satu tahun, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintasan tersibuk ini.  Dalam waktu dekat, dermaga ini dapat mendukung operasional layanan Angkutan Natal dan Tahun Baru mendatang,” tutur Ira. Proyek dermaga IV Merak-Bakauheni senilai Rp379 miliar ini dibangun oleh kontraktor PT PP Pembangunan Perumahan yang tentunya telah memenuhi syarat baik klasifikasi dan kualifikasi dalam pekerjaan proyek ini. Dermaga IV Merak dengan tipe Breasting Dolphin, memiliki panjang 120 meter dengan pola sandar buritan mampu disandari kapal ukuran 6000-10 ribu GRT. Untuk dermaga Bakauheni, dengan tipe Quay Wall, panjang 150 meter dengan pola sandar haluan juga mampu disandari kapal ukuran 6000-10 ribu GRT. Ira menambahkan, keberadaan dermaga IV di Merak dan Bakauheni dengan asumsi masing-masing dapat disandari oleh lima kapal, akan menambah kapasitas minimal empat trip kapal per 24 jam atau 20 trip per dermaga dari satu sisi. Sehingga kini total kapasitas trip di Pelabuhan menjadi rata-rata maksimal 140 trip dari total 7 dermaga yang beroperasi per 24 jam. Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik Ia menambahkan, Pelabuhan Merak dan Bakauheni menjadi salah satu prasarana vital dan penting dalam roda perekonomian di Tanah Air karena menghubungkan dua pulau besar yang menjadi pusat perekonomian di Indonesia. Penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi lintasan tersibuk yang dikelola ASDP dengan total sekitar 60 kapal yang standbye beroperasi di lintasan ini.

Kucurkan Rp2,2 Triliun, Mahasiswa 27 Tahun Jadi Pemilik Baru Maskapai El Al

Eli Rozenberg, mahasiswa Yeshiva University (institusi Yahudi utama dunia untuk pendidikan tinggi), resmi menjadi pemilik atau bos baru maskapai penerbangan nasional Israel, El Al. Hal itu terjadi usai satu-satunya tawaran dari mahasiswa berusia 27 tahun itu, senilai US$150 juta atau sekitar Rp2,2 trliiun (kurs Rp14.700) diterima oleh maskapai. Dana tersebut nantinya akan menjadi modal tambahan El Al untuk bertahan di tengah krisis akibat virus Corona. Baca juga: Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal Sebetulnya, selain Eli Rozenberg, David Sapir, seorang pengusaha pariwisata dan telekomunikasi berdarah Rusia-Israel dan Meir Gurvitz, seorang pengusaha real estate berdarah Inggris-Israel, juga ikut memperebutkan El Al. Hanya saja, sampai tenggat waktu penawaran terakhir ditutup, kedua pengusaha keturunan Yahudi itu tak mengajukan penawaran apapun. Dilansir ynetnews.com, dengan kucuran dana segar sebesar itu (Rp2,2 trliiun), perusahaan mahasiswa Yahudi kelahiran New York, Amerika Serikat ini, Kanfei Nesharim Aviation (travel agen yang berbasis di Brooklyn, New York, dan Buenos Aires, Argentina dimana Amerika Latin dan Timur Tengah menjadi fokus utamanya), diketahui menjadi pemegang saham mayoritas sekitar 42,85 persen. Adapun sisanya dimiliki negara dan perusahaan lain. “Negara, yang telah berkomitmen untuk membeli saham tak terencana sebagai bagian dari stimulus paket penyelamatan perusahaan, membeli sekitar $30 juta atau setara dengan 12-15 persen saham dari perusahaan,” tulis The Times of Israel. Pada bulan Juni, Kementerian Keuangan Israel merumuskan stimulus bantuan sebesar NIS 1,4 miliar ($400 juta), dengan jaminan 75 persen dari total bantuan jika terjadi kredit macet atau gagal bayar. Hal itu terpaksa dilakukan mengingat keuangan maskapai sudah dalam kondisi kritis. Meski demikian, pemerintah berargumen bahwa masalah maskapai ini, seperti tenaga kerja yang membengkak, gaji tinggi, dan neraca yang lemah, sudah dimulai jauh sebelum adanya pandemi Covid-19. Karenanya, Pemerintah Israel meminta maskapai El Al Israel Airlines untuk melakukan pembenahan, termasuk juga regulasi pemutusan hubungan kerja (PHK). Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo Pembenahan tersebut juga menjadi syarat yang harus dipenuhi maskapai yang berpusat di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv itu sebelum pemerintah Israel menyetujui untuk memberikan bantuan sebesar US$400 juta pada Juni lalu. Sejak penerbangan internasional runtuh akibat pandemi virus Corona, El Al setidaknya sudah mem-PHK sebanyak 6.000 karyawan atau sekitar 90 persen dari total karyawan. Maskapai tersebut tak punya pilihan lain mengingat perusahaan tak mempunyai pangsa pasar penerbangan domestik yang kuat layaknya Indonesia, AS, Cina, Rusia, dan negara-negara lainnya.

Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi

Masa pandemi banyak membuat moda transportasi mengalami kemerosotan dalam hal pendapatan, seperti alah satunya adalah Damri yang sebagian besar sektor pemasukannya berasal dari layanan bus bandara. Dan ketika trafik dan jumlah penerbangan anjlok, maka otomatis berimbas pada kinerja keuangan pada BUMN tersebut. Baca juga: Damri JA Connection Buka Rute Pondok Cabe – Bandara Soekarno-Hatta Meski tengah menghadapi tantangan berat, Perum Damri perlahan mulai bangkut kembali dan baru-baru ini, menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengelola Keuangan Haji atau BPKH untuk menyediakan layanan transportasi bagi Jemaah Haji dan Umrah di Arab Saudi. Adanya hal ini sendiri merupakan bagian dari strategi ekspansi bisnis Damri ke luar negeri. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara mengatakan, akan memberikan layanan terbaik dan melakukan transformasi budaya kerja dengan telibat langsung di proyek internasional termasuk layanan ibadah Haji dan Umrah. “Dengan keterlibatan Damri dalam proyek internasional bisa meningkatkan juga kapabilitas dan transformasi budaya Damri. Sehingga dari sisi kualitas layanan maupun kinerja, performance bisnis dan keuangan semakin baik,” ujar dia. Sayangnya belum dibeberkan secara jelas kapan hal ini bisa terealisasi. Selain itu, Damri juga berkolaborasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry dalam hal penyediaan layanan angkutan bus bagi penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, nantinya layanan bus Damri akan tersedia bagi penumpang ferry yang akan melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan Sosoro Merak menuju ke Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan kawasan pariwisata Tanjung Lesung, Banten. Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Shelvy Arifin mengatakan, sinergsitas layanan angkutan dengan Damri ini sebagai wujud komitmen dalam mendukung layanan transportasi intermoda di lingkungan Pelabuhan Merak yang dikelola ASDP. Sebelumnya, telah ada integrasi layanan transportasi kapal dengan kereta api di Pelabuhan Merak, lalu dengan bus (melalui Terminal Terpadu Merak), dan kini bekerja sama dengan Damri menyediakan transportasi bagi penumpang yang akan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan kawasan wisata Tanjung Lesung. “Kami berusaha agar pengguna jasa dari Pelabuhan Merak semakin mudah mengakses layanan transportasi dari dan ke bandara Soekarno-Hatta maupun ke Tanjung Lesung. Permintaan untuk ketersediaan layanan angkutan lanjutan ini memang cukup tinggi, dan kami berusaha untuk merespon pasar,” ujar Shelvy. Selama bulan Oktober 2020 ini, ASDP dan Damri melakukan uji coba operasional layanan bus Damri dari Mal Sosoro Terminal Eksekutif Merak menuju Bandara Soetta dan Tanjung Lesung, yang dilayani setiap hari per 2-3 jam.  Untuk tujuan ke Bandara Soetta disiapkan moda bus dengan kapasitas 39 kursi, sedangkan untuk ke Tanjung Lesung disiapkan kendaraan jenis Elf dengan kapasitas lima kursi. Lain dari itu, Damri juga mendukung Dinas Perhubungan di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menjadi operator bus ramah lansia, disabilitas dan lingkungan. Untuk trayeknya sendiri adalah kota Mataram yang akan melalui beberapa sekolah luar biasa dan sekolah umum serta melayani kaum disabilitas untuk beraktivitas. Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Barat telah bekerja sama dengan Damri untuk mengoperasikan bus ramah difabel yang akan mulai beroperasi mulai 1 Oktober 2020 besok. Bus dengan merk Hino RK ini memiliki kapasitas 70 orang dilengkapi dengan fasilitas tangga hydraulic otomatis dan ruang khusus pengguna kursi roda sebanyak sepuluh titik. Memiliki karakteristik torsi yang tinggi sejak putaran rendah, dengan demikian dapat mengefisiensikan pemakaian bahan bakar. Baca juga: Tak Lagi Repot ke Loket, Beli Tiket Bus Damri Bisa Pakai Damri Apps Adapun waktu keberangkatan dari Pool Damri Sweta Mataram yakni pukul 06.30 WITA dengan waktu tiba di Sekolah Luar Biasa Selagalas pukul 08.00 WITA. Sedangkan untuk rute sebaliknya dari Sekolah Luar Biasa Selagalas yakni pukul 12.00 WITA dengan waktu tiba di Pool DAMRI Sweta Mataram pukul 14.00 WITA. Dengan tarif gratis.

Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

Singapore Airlines menawarkan sajian spesial sate non daging alias sate ramah vegetarian. Hidangan untuk kelas bisnis dan kelas satu yang hadir dengan saus kacang pedas merupakan bagian dari tiga inisiatif baru maskapai dalam balutan Discover Your Singapore Airlines. Dengan begitu, pelanggan bisa makan sate sepuasnya tanpa takut kolesterol atau darah tinggi. Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380 Tiga itu, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, tur keliling fasilitas pelatihan maskapai terbaik di dunia pada tahun 2018 dan terbaik ke-2 tahun 2019 versi Skytrax ini, hingga layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan. Dilansir situs resmi perusahaan, Singapore Airlines (SIA) membanderol makan siang selama tiga jam di kabin kelas ekonomi Airbus A380 hanya sebesar $50 atau sekitar Rp750 ribu (kurs 14.800). Bagi pelanggan yang menginginkan berbagai hal lebih, mulai dari sajian mewah dari koki terkenal Singapura, Shermay Lee, pemandangan, servis, fasilitas, serta desain jauh lebih mewah dibanding kabin kelas ekonomi, mereka dapat menikmati makan siang mewah di ultra first-class suites A380 SIA dengan mahar sebesar $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800). Tapi tenang, bila harga tersebut masih terlalu mahal, pengunjung bisa saja mendapatkan diskon di KrisShop, goodie bag edisi terbatas, dan hadiah tambahan jika datang ke restoran pop-up A380 Singapore Airlines menggunakan pakaian tradisional. Layanan ini sudah bisa dipesan mulai 12 Oktober dan akan dibuka pada 24-25 Oktober mendatang. Di antara sajian mewah dalam restoran pop-up pesawat Airbus A380 yang di parkir di Bandara Changi ini, sate (satai) vegetarian atau Impossible Meat adalah salah satunya. Sebagaimana namanya, satai yang disajikan tak menggunakan daging ayam, domba, dan sapi, tapi diganti dengan hidangan ramah vegetarian yang dibuat oleh Impossible Foods California untuk memberikan rasa dan tekstur yang sama. Satai ini tidak hanya untuk vegetarian dan vegan. Namun, seperti pengganti daging modern lainnya, satai ini juga merupakan pilihan sesekali untuk karnivora yang sadar kesehatan. Pihak Singapore Airlines mengatakan satai dengan Impossible Meat ini dibuat secara khusus untuk melengkapi makanan vegetarian. Selain tersedia di restoran pop-up Airbus A380 Singapore Airlines di Bandara Changi, sate (satai) vegetarian atau Impossible Meat satay tersebut juga tersedia dalam layanan SIA@HOME, sebuah layanan pesan-antar (delivery) makanan mewah yang biasa dihidangkan SIA untuk para penumpang kelas bisnis dan kelas satu (first- or business-class). Setiap menu menampilkan sate khas SIA. Hidangan sate khas SIA tersebut spesial buatan empat chef internasional SIA; Australia, Jepang, India, dan Perancis. Untuk first class meals SIA, harganya dibanderol mulai dari $448 atau Rp6,6 juta (kurs 14.800). Adapun untuk business class meals SIA dalam program ini, dibanderol mulai $288 atau sekitar Rp4,3 juta (kurs 14.800). Layanan ini sudah bisa dinikmati mulai 5 Oktober 2020. Baca juga: 14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis Sebelum menyantap menu spesial sate khas SIA tersebut, pelanggan juga disuguhkan dengan first class atau business class amenity kit maskapai, seperti welcome videos, panduan cara memanaskan dan menghidangkan makanan, serta playlist kurasi spesial yang sudah di-create ulang untuk menghadirkan sensasi terbang di kabin pesawat SIA di rumah. Edisi terbatas dalam program SIA@HOME juga memberikan kesempatan pada pelanggan untuk menikmati berbagai fasilitas di dalam pesawat SIA, seperti gelas kristal Lalique, pakaian tidur Lalique first class, perlengkapan makan Wedgwood dan Narumi, dan berbagai fasilitas lainnya.

Sulit Pompa ASI, Senator Tammy Duckworth Prakarsai Ruang Laktasi di Bandara Amerika Serikat

Apakah ruang laktasi dibutuhkan di bandara? Jawabannya ya, karena penumpang bandara juga banyak yang merupakan seorang ibu dan bepergian dengan bayi mereka. Para ibu ini membutuhkan ruang laktasi untuk menyusui bayi mereka atau sekedar memompa ASI (air susu ibu) sebagai persediaan. Baca juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room Ruang laktasi hadir di bandara Amerika Serikat setelah seorang Senator bernama Tammy Duckworth yang akan memompa ASI. Saat itu, dirinya disarankan untuk memompa ASI di toilet bandara. Hal itu terjadi ketika dia memiliki putri pertama pada tahun 2015 lalu.
Ruang laktasi di bandara (businessinsider.com)
Tammy saat itu kesulitan apalagi dirinya kerap kali bolak-balik antara Illinois dan Washington DC untuk bekerja dan masih memompa ASI untuk bayinya. KabarPenumpang.com melansir laman businessinsider.com (10/10/2020), kala itu, dirinya sering kali tidak dapat menemukan tempat untuk memompa ASI. “Saya diberitahu untuk menggunakan kios orang cacat, toilet, yang menjijikkan. Anda tidak akan makan sandwich di sana. Mengapa Anda meminta saya untuk memompa ASI untuk putri saya? Itu tidak sehat,” kata Senator Tammy. Karena kesulitannya ini, pada 2015, Tammy mensponsori RUU untuk membantu memasukkan ruang laktasi ke bandara. Namun, sayangnya upaya tersebut gagal dan pada 2018, Friendly Airport for Mother ATC yang disponsori Tammy diberlakukan. Undang-undang baru memastikan bahwa bandara menengah dan besar dapat menggunakan dana dari program peningkatan bandara. Biasanya dana ini digunakan untuk perbaikan gedung terminal, perluasan lanadasan pacu. Tetapi saat ini juga digunakan untuk penamabahan area laktasi pribadi. Tetapi bandara kecil yang diklasifikasi Federal Aviation Administration atau FAA sebagai bandara yang menerima 0,05 hingga 0,25 persen dari rencana komeriasl Amerika Serikat tahunan tidak dimasukkan dalam persamaan. Tammy mengatakan ini menjadi masalah karena banyak pelancong memulai perjalanan mereka dari bandara kecil sebelum mengambil penerbangan di hub yang lebih besar. “Tempat terbaik [bagi para penumpang] untuk memeras ASI, ini benar-benar penerbangan awal. Dan itu adalah bandara kecil,” kata Tammy. Baca juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah Meskipun ada penundaan karena pandemi virus corona, Kongres awal bulan ini mengesahkan Undang-Undang Peningkatan Bandara Ramah Ibu, yang juga memperpanjang penggunaan pendanaan Perbaikan Bandara untuk ruang bersalin ke bandara kecil. Presiden Trump diharapkan untuk menandatanganinya menjadi undang-undang. RUU itu akan berlaku saat bandara dan pelancong keluar dari pandemi. “Ketika kita mulai bepergian lagi, para ibu yang bekerja di luar rumah, dan keluarga yang bepergian, sebenarnya akan mendapatkan manfaat ini,” kata Tammy.