Kenapa pesawat komersial berjadwal dilarang terbang atau melintas Benua Antartika? Pertanyaan tersebut sering kali dijumpai saat membahas berbagai misteri dari benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi ini.
Baca juga: Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!
Sebagian kalangan mengaitkan, tidak melintasnya pesawat di atas benua yang hampir seluruhnya terletak di Lingkar Antarktika dan dikelilingi oleh Samudera Pasifik, Samudera Atlantik, dan Samudera Hindia ini dengan Admiral Byrd. Admiral Byrd adalah seorang penjelajah dari Amerika Serikat yang terkenal karena penjelajahannya pada benua Antartika dan lautan Arktik.
Pada saat melakoni ekspedisi di Benua Antartika menggunakan pesawat Fokker F-VII, ia mengaku melihat daratan lain sebesar Amerika Serikat, yang tak pernah dikunjungi manusia. Bagi penganut teori konspirasi Bumi Datar, Benua Antartika menyimpan sisi lain bumi yang tak diketahui dan tak boleh diakses oleh publik.
Terlepas dari itu, teka-teki larangan pesawat komersial berjadwal melintas masih terus membuat penasaran dunia. Namun, pendapat dari Leo Moran, tutor bahasa Inggris ini mungkin bisa sedikit menjawab teka-teki tersebut.
Dikutip dari express.co.uk, Moran mengatakan, “Selama Pemerintahan Reagan (Presiden AS ke-33 dengan masa jabatan mulai 20 Januari 1981 – 20 Januari 1989), Administrator FAA, J. Lynn Helms, memutuskan bahwa pesawat-pesawat yang terbang harus berjarak sekitar 1 jam penerbangan dari bandara terdekat jika terjadi keadaan darurat, sehingga pesawat bisa mendarat.”
Aturan tersebut kondang dikenal dengan sebutan “60-minute rule” atau dikenal juga Extended Range Operation Two-Engine Airplanes (ETOPS). Saat itu, ETOPS mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.
Akan tetapi, saat ini, pesawat sudah mampu mengudara selama berjam-jam lamanya sekalipun hanya dengan satu mesin. Airbus A330-900, misalnya, berhasil terbang 4 jam 45 menit dengan satu mesin saat meraih sertifikasi ETOPS. Faktanya, maskapai yang menggunakan pesawat tersebut atau pesawat lainnya dengan kemampuan setara atau di bawahnya tetap tak kunjung diizinkan untuk melayani penerbangan berjadwal melilntasi Benua Antartika.
Lebih lanjut, Moran menjelaskan, Benua Antartika tak boleh dilintas pesawat komersial berjadwal sebab, di sana terdapat medan magnet cukup kuat. “Terbang di wilayah kutub yang kuat magnet buminya adalah mimpi buruk bagi setiap pilot. Sebab, arah navigasi pada radar menjadi tidak berarti,” ujarnya.
Meski demikian, faktanya, penerbangan charter/joy flight tetap takdiperbolehkan melintas di benua tersebut. Jadi, alasan medan magnet membahayakan navigasi pesawat nampaknya tak sepenuhnya bisa diterima.
Sejauh ini, beberapa pesawat dengan ukuran yang kecil seperti pesawat perintis memang masih bisa terbang ke Antartika. Itu adalah pesawat-pesawat yang membawa para peneliti, serta yang membawa pendaki gunung untuk mendaki salah satu Seven Summit dunia, Vinson Massif.
Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terbang Lurus? Inilah 5 Alasannya
Sebelum benar-benar dilarang, sebetulnya, pesawat komersial berjadwal pernah melintas di atas Benua Antartika sampai akhirnya pesawat milik maskapai Air New Zealand mengalami kecelakaan di Antartika pada 28 November 1979. Akibat kecelakaan pesawat flight 901 tersebut, 257 orang tewas dilaporkan tewas. Insiden yang juga sering disebut Kecelakaan Mount Erebus ini usai jatuh di lereng Gunung Erebus, Pulau Ross, akhirnya menjadi awal dari larangan penerbangan melintasi Benua Antartika.
Pada dekade 1970, perjalanan udara ke Antartika memang sempat populer di kalangan wisatawan. Mereka penasaran untuk melihat-lihat panorama benua paling selatan di bumi tersebut. Salah satu jenis penerbangan yang terkenal adalah terbang mengelilingi Tebing Es Ross. Pemandangan indah di sekitar wilayah tersebut menjadi daya tarik utama.
Setelah beberapa waktu lalu menampilkan Airbus A330-900 Neo dengan livery masker pada bagian hidung, maka Garuda Indonesia kembali merilis pesawat kedua yang diberi livery masker, kali ini dengan tajuk “Indonesia Pride,” Garuda Indonesia mencat area hidung pada pesawat narrow body Boeing 737-800NG.
Baca juga: Pesawat Garuda Indonesia Pakai Masker, Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu Loh
Desain livery masker tersebut merupakan karya dari Jailani pemenang kompetisi “Fly Your Design Through the Sky” tahap pertama yang diselenggarakan pada periode 1 Oktober 2020 hingga 9 Oktober 2020 lalu. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Melalui kompetisi “Fly Your Design Through The Sky” ini, kami ingin mengajak masyarakat luas berperan aktif dalam menyuarakan pentingnya penggunaan masker pada masa pandemi, dengan menuangkan kreativitasnya pada desain masker yang akan terpasang di 4 (empat) pesawat Garuda Indonesia secara bertahap ini.”
Desain mask livery ini mengangkat tema kebanggaan atas kekayaan ragam budaya dan pesona alam Indonesia antara lain dengan menampilkan motif Barong Bali, simbol eksotisme candi, ikon fauna khas Indonesia – komodo serta berbagai representasi kekayaan budaya dan pesona alam nasional lainnya.”Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Artha Graha Peduli yang turut menduking kampanye penggunaan masker melalui Inisiatif program mask Livery Garuda Indonesia”, jelas Irfan.
Baca juga: Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan!
Kompetisi desain mask livery “Fly Your Design Through The Sky” akan diselenggarakan sepanjang bulan Oktober 2020 yang terbagi menjadi 4 tahap pengumuman pemenang yakni ; Pemenang ke-1: 12 Oktober 2020, Pemenang ke-2: 16 Oktober 2020, Pemenang ke-3: 23 Oktober 2020, dan Pemenang ke-4 : 9 November 2020.
Seorang pramugari asal Malaysia diganjar hukuman penjara selama sembilan tahun oleh Pengadilan Melbourne, Australia karena perannya dalam sindikat kejahatan canggih yang membanjiri negara Bagian Victoria dengan obat-obatan terlarang. Pramugari ini divonis karena menyembunyikan heroin senilai jutaan dolar di dalam pakaian dalamnya.
Baca juga: Ganja Legal di California, Tapi Tak Bisa Dibawa Melalui Bandara
Pramugari bernama Zailee Zainal memiliki posisi istimewa karena bekerja untuk Malaysian Airlines dan Malindo Air. Dilansir KabarPenumpang.com dari paddleyourownkanoo.com (8/10/2020), Zailee menyelundupkan heroin ke Australia setidaknya delapan kali sejak Oktober 2018 dan Januari 2019 hingga akhirnya dia ditangkap. Saat ini Zailee membantu menyelundupkan sedikitnya empat kilogram heroin ke Australia dengan perkiraan nilai jalan A$3 juta.
heroin yang dimasukkan dalam bra oleh pramugari Malaysia (paddleyourownkanoo.com)
Heroin tersebut disembunyikannya di celana dalam dan bra, kemudian dia mengantarnya ke hotel untuk ditukar dengan pembayaran tunai. Diketahui, Zailee setuju melakukan hal tersebut demi melunasi tagihan medis putrinya yang menumpuk di rumah sakit.
Saat diadili, pengadilan mendengar bagaimana dia menghabiskan tiga bulan belajar bagaimana berjalan dengan bantal diantara kedua kakinya hingga bisa melewati bandara dengan heroin tersebut tanpa terdeteksi. Selama penerbangan, pramugari 40 tahun tersebut menyembunyikan obat-obatan itu di toilet sebelum kembali menyembunyikan di celana dalam dan bra.
Namun pada 6 Januari 2019, Zailee terpilih untuk pencarian acak oleh Pasukan Perbatasan Australia di Bandara Melbourne Tullamarine. Dia mengatakan kepada petugas bahwa dia tahu dia membawa narkoba ketika bungkusan itu ditemukan padanya tetapi membantah mengetahui itu adalah heroin.
Zailee mengaku bersalah atas satu tuduhan mengimpor sejumlah komersial obat-obatan yang dikendalikan perbatasan tetapi Hakim Pengadilan Wilayah Michael Cahill mengatakan dia pantas mendapatkan keringanan hukuman.
“Ada tempat untuk melaksanakan belas kasihan dalam menjatuhkan hukuman,” kata hakim saat Zailee menangis di pengadilan.
“Anda merasa tidak punya pilihan lain selain melakukan kejahatan. Anda sangat ingin mengumpulkan uang untuk membayar operasi yang dibutuhkan putri Anda guna meningkatkan kualitas hidupnya,” tambahnya.
Zailee telah mengembalikan rumahnya dan bahkan menjual brownies dalam upaya untuk mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan putrinya. Dia bahkan menghubungi departemen sumber daya manusia di Malindo Air yang setuju untuk mengirimkan email kepada rekan-rekannya sebagai bagian dari upaya crowdfunding.
Baca juga: Ganja Legal di California, Tapi Tak Bisa Dibawa Melalui Bandara
Pada titik inilah seorang ‘teman’ mengiriminya email dengan proposal bisnis. Zailee mengatakan kepada pengadilan bahwa dia “rentan” dan setuju untuk mengambil bagian dalam skema tersebut. Dia mungkin memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat setelah empat tahun dan sembilan bulan dan Zainal telah menjalani 640 hari dalam penahanan pra-sidang.
Fentress Global Challenge (FGC) 2020 mengadakan kompetisi desain siswa global tahunan yang dibuat oleh Fentress Architecs. Dalam kompetisi tersebut ada seratus entri yang dikirimkan dari siswa di lebih dari 15 negara dengan kompetisi tahun ini yang menantang peserta untuk membayangkan mobilitas udara tahun 2100.
Baca juga: Futurebus, Desain Bus Dimasa Pandemi yang Memenangkan KontesKabarPenumpang.com melansir passengerterminaltoday.com (6/10/2020), pemenang kompetisi ini adalah Green Gateway yang merupakan hub multimoda tanpa emisi dan sangat berkelanjutan.
“Semangat yang dalam untuk desain dan pola pikir kreatif adalah landasan dari setiap pengajuan kompetisi desain yang sukses,” kata Curtis Fentress, FAIA, RIBA, kepala sekolah yang bertanggung jawab atas desain di Fentress Architects.
Cuntris mengatakan, setiap tahun, pengiriman yang mereka terima lebih inovatif, bersemangat, dan dinamis dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan prospek yang menarik untuk masa depan desain terminal.
“Kami sangat terkesan dengan para pemenang tahun ini dan setiap pengiriman yang kami terima,” kata dia.
Konsep pemenang, dirancang oleh Nikhil Bang dan Kaushal Tatiya dari Southern California Institute of Architecture (SCI-Arc), mengubah Bandara Internasional Indira Gandhi menjadi pusat multimoda yang berpikiran maju dan berkelanjutan serta mengurangi dampak lingkungan dari perjalanan udara sambil meningkatkan mobilitas di seluruh penjuru.
Desain, dijuluki ‘Gerbang Hijau’ atau Green Gateway, yang mengusulkan masa depan di mana bandara lebih dari sekadar bangunan. Desain ini menyediakan koneksi tanpa batas ke konteks budaya situs, mulai dari perencanaan hingga bentuk dan materialitasnya.
Merangkul strategi desain berkelanjutan, konsep nol emisi menampilkan sistem desentralisasi dari satu terminal pusat dan enam menara yang tersebar di seluruh kota. Bahkan, menara menyediakan tujuan ganda, berfungsi sebagai pusat pemurni udara dan stasiun untuk mobil terbang.
Solusi ini secara signifikan meningkatkan mobilitas di seluruh kota dengan menggantikan penerbangan domestik sebagai salah satu sumber utama polusi. Kiriman siswa menggambarkan desain bandara sebagai nol emisi di tingkat makro dan mikro, meningkatkan mobilitas di seluruh kota dengan mengganti penerbangan domestik sebagai salah satu sumber utama polusi dan membuat perjalanan udara menjadi urusan seseorang.
Posisi kedua ditempati oleh Dušan Sekulic, mahasiswa Universitas Ljubljana, Slovenia. Konsep mereka menata ulang Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (ATL) yang merupakan bandara tersibuk di dunia sebagai bandara drive-in dengan pod yang sepenuhnya otonom, kursi mengemudi, navigasi bertenaga AI, serta lepas landas dan pendaratan vertikal ( VTOL) pesawat.
Di tempat ketiga adalah Kota Aero Terapung, yang dirancang oleh Yuanxiang Chan, Chaofan Zhang dan Zhuangzhuang King dari Universitas Jiaotong Beijing, yang menurut juri memberikan pendekatan visioner untuk desain berkelanjutan. Berlokasi di Hong Kong, konsep bandara menanggapi kondisi iklim subtropis situs dan masalah kepadatan tinggi.
Baca juga: Arab Saudi Pamer Desain Bandara Baru Mirip Fatamorgana di Tengah Padang Pasir
Dengan mengambang di laut, platform tiga dimensi yang dapat dipindahkan dari bandara mengurangi dampak pada medan alami sekaligus menambah ketersediaan lahan. Bentuk vertikal struktur secara signifikan mengurangi waktu yang dibutuhkan penumpang untuk mengalir dari check in ke boarding, meningkatkan pengalaman penumpang secara keseluruhan.
Operator ojek sepeda di Kigali, Rwanda dikenal secara lokal sebagai abanyonzi dan sejak 21 Maret kemari dilarang beroperasi sebagai tindakan pencegahan penyebaran Covid-19. Kemudian setelah enam bulan tidak beroperasi, akhirnya para ojek sepeda ini kembali beroperasi setelah rapat kabinet yang diadakan oleh pemerintah Kigali.
Baca juga: Berkat Teknologi GPS, Lampu Sein di Sepeda Bisa Menyala Otomatis
Namun meski diperbolehkan kembali beroperasi, para pengemudi ojek sepeda ini harus mematuhi langkah-langkah keselamatan lainnya termasuk mengenakan helm. KabarPenumpang.com melansir newtimes.co.rw (3/10/2020), karena hal ini para pengemudi ojek sepeda dilema meski diberi lampu hijau, mereka mengaku bingung terkait arahan wajib mengenakan hal tersebut.
“Kami menghargai pemerintah yang mengizinkan kami untuk melanjutkan, karena kami berjuang untuk mencari nafkah karena kami tidak memiliki pekerjaan. Sekarang kami bekerja, kami akan bisa memberi makan keluarga kami lagi,” kata Eric Tuyisenge.
“Sampai sekarang, kami tidak tahu jenis helm yang harus kami beli, harganya, atau di mana menemukannya. Saya kira pemerintah harus memberikan lebih banyak informasi tentang arahan baru itu, kalau tidak, kami akan tetap dilema,” kata pengemudi sepeda penumpang lainnya, Charles Hategekimana.
Bahkan dilema ini pun menjadi lebih nyata ketika para pengemudi ojek sepeda tak mampu membeli helm karena enam bulan tak beroperasi. Tito Rutagengwa pengemudi yang beroperasi di Sektor Masaka, Kabupaten Kicukiro mengatakan, masa dilanda pandemi saat ini mereka kesulitan membeli helm.
“Sudah enam bulan tidak bekerja. Karena itu, saat ini kami tidak ada yang mampu membeli helm, kecuali jika koperasi kami bernegosiasi dengan pemasok dan kami membayar dengan mencicil,” jelasnya.
Rutagengwa menambahkan, pihaknya menyimpulkan bahwa arahan tersebut merupakan kepentingan untuk mereka dalam hal keselamatan. Dia mengaku memahami hal tersebut, tetapi hanya memiliki sedikit uang dan banyak tanggung jawab yang dimiliki sehingga membuat mereka tidak mungkin untuk mematuhi arahan dalam sekejap mata.
Laporan mengatakan bahwa sepasang helm (untuk pengendara dan penumpang) berharga Rp14 ribu. Rata-rata, kata Rutagengwa, seorang pengendara sepeda motor berpenghasilan Rwf1.500 per hari dan banyak dari mereka di Kigali memiliki keluarga yang mereka rawat dan rumah yang mereka sewa.
Baca juga: Pengamat Transportasi: Bila Pesepeda Masuk Jalan Tol, Faktor Keselamatan Jadi Taruhan
Sumber dari Kota Kigali mengatakan, pertemuan antara pemerintah kota, Polisi Lalu Lintas dan pengendara ojek antara pemangku kepentingan lainnya dijadwalkan untuk membahas tantangan implementasi arahan tersebut.
Perpustakaan bergerak biasanya menggunakan bus atau mobil keliling. Namun bagaimana jika perpustakaan tersebut hadir dengan menggunakan sebuah trem? Rasanya ini tak masalah dan bisa saja ruang di trem lebih besar dibandingkan bus atau mobil perpustakaan.
Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia
September 2020, kota Kolkata (d/h kalkuta) menghadirkan perpustakaan trem pertama di India. Perpustakaan ini akan melintasi jalan di Kolkata dari Shyambazar di utara ke Esplanade di pusat kota Kolkata. Kehadiran perpustakaan ini dalam upaya untuk menarik para pelajar dan pecinta buku.
Dilansir KabarPenumpang.com dari bangaloremirror.indiatimes.com (24/9/2020), kehadirannya juga untuk membangkitkan kembali kecitaan pada sejarah transportasi. Isi dari perpustakaan di dalam trem adalah buku-buku fisik yang bisa dibaca di dalam trem.
Kemudian ada WiFi gratis dan pena gratis bagi pengunjung di minggu perdana peluncuran perpustakan trem. Kehadiran WiFi gratis memudahkan penumpang yang juga akan berselancar untuk mencari buku online selama perjalanan.
Buku-buku terkait berbagai ujian kompetitif seperti IAS, IPS, WBCS, GRE, GMAT juga akan tersedia di trem. Selain buku, akan ada bagian terpisah untuk majalah. Trem telah didekorasi untuk menciptakan suasana seperti perpustakaan.
“Idenya adalah untuk meluncurkan trem sebagai moda pilihan bagi siswa Kolkata lagi,” kata Rajanvir Singh Kapur, MD dari WBTC yang mengoperasikan Kolkata Tramways.
Dalam perjalanannya dari Shyambazar ke Esplanade, trem akan melewati pusat buku bersejarah di College Street. College Street memiliki bangunan bersejarah seperti Presidency College tempat para tokoh dan terpelajar Bengali belajar dan bekerja, mulai dari Ekonom dan Peraih Nobel Amartya Sen yang terkenal di dunia internasional hingga pemenang hadiah Nobel Abhijit Binayak Banerjee, pernah belajar di Presidency College.
Universitas Calcutta, Hare School, Perguruan Tinggi Sanskerta juga ada di jalan ini. Itu adalah Kolese Sansekerta yang terletak di College Street, tempat Reformis Pendidikan Vidyasagar mengajar dan menjadi Kepala Sekolah di kemudian hari.
“Ada setidaknya tiga puluh institusi pendidikan di rute perpustakaan trem, termasuk Presidensi, Sekolah Gereja Skotlandia, Universitas Bethune, Sekolah Hindu, Sekolah Hare dan Sekolah Perempuan Calcutta,” kata pejabat Perusahaan Transportasi Bengal Barat.
Di masa depan, sesi membaca buku dan festival sastra reguler akan direncanakan di platform perpustakaan trem baru ini. Peluncuran buku juga akan direncanakan, kata sumber West Bengal Transport Corporation.
Meski begitu, di masa pandemi ini, trem juga tetap didesinfeksi dan pengelola menyiapkan sanitasi gerbong trem yang benar dan teratur. Trem sebelum diluncurkan pada 24 September, sudah menjalan uji coba di rute Shyambazar Esplanade pada 22 September.
Baca juga: Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”
Rute Trem di Kolkata juga beroperasi di rute Tollygunge ke Ballygunge, rute Rajabazar ke Jembatan Howrah, rute Gariahat ke Esplanade dan rute Howrah ke Shyambazar.
Kebetulan, WBTC juga memasang karya seni menarik di dalam beberapa trem yang menggambarkan bagaimana trem dimulai pada tahun 1873 dan dialiri arus listrik pada tahun 1900.
Mengapa kokpit disebut kokpit? Mungkin, jajaran direksi, manager, staf darat, pramugari, sampai pilot maskapai penerbangan ataupun produsen pesawat di dunia tak banyak yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Atau bahkan, tak ada sama sekali (yang bisa menjawab).
Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Pintu Kokpit Cegah Pembajakan? Berikut Ulasannya
Dilansir generalaviationnews.com, setidaknya, ada tiga termasyhur yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan itu; mulai dari the control center hypothesis, the blood and guts hypothesis, dan the nautical connections hypothesis.
Dirunut ke belakang, kata “kokpit” pertama kali digunakan pada tahun 1580-an, digunakan untuk menggambarkan arena adu atau sabung ayam (dengan burung). Tetapi, seiring berjalannya waktu, seperti pandangan Oxford English Dictionary, istilah tersebut berkembang ke arah lain yang tak ada hubungannya dengan sabung ayam, yakni pesawat.
Pada tahun 1635, sebuah teater di London bernama The Cockpit dirobohkan dan didirikan beberapa bangunan baru semata untuk memfasilitas lemari kesukaan Raja Charles I. Rupanya, warga London terus menyebut bangunan-bangunan tersebut sebagai “kokpit” mengacu pada nama teater yang telah dirobohkan. Usut punya usut, teater tersebut rupanya juga bangunan baru, menggusur tempat lama Honest-to-Pete yang merupakan tempat sabung ayam.
Kokpit pada perahu. Foto: BOB JAQUES
Pada akhrinya, Robert Barnhart, dalam bukunya Barnhart Concise Dictionary of Etymology, menyarankan bahwa kokpit berevolusi menjadi sinonim untuk pusat kendali dan pada gilirannya mulai digunakan sebagai tempat pusat kendali pesawat atau kokpit. Begitu sejarah kenapa kokpit disebut kokpit versi hipotesa pusat kontrol atau the control center hypothesis.
Selain digunakan sebagai sinonim untuk pusat kendali, rupanya pada tahun 1700-an, tentara mulai menggunakan “kokpit” sebagai metafora untuk lokasi pertempuran yang mengerikan, terutama ketika pertempuran itu dilakukan di daerah tertutup.
Situs web Word Detective telah menyarankan bahwa kata kokpit kemudian “diadopsi oleh pilot dalam Perang Dunia I, yang menerapkannya pada tempat operasi taktis dengan medan sempit serta sulit dari pesawat tempur mereka.”
Terkait dengan ini, pada abad ke-18, para pelaut yang terluka dibawa ke bawah geladak selama pertempuran, di mana ahli bedah kapal dan rekan-rekannya akan merawat mereka – sebuah bisnis berdarah yang menyebabkan tempat ahli bedah disebut kokpit. Demikian versi kedua asal usul penyebutan kokpit menurut the blood and guts hypothesis atau hipotesis darah dan keberanian.
Ilustrasi Cockswain. Foto: WIKIMEDIA COMMONS
Adapun versi ketiga sejarah penyebutan kokpit menurut the nautical connections hypothesis adalah berasal dari laut, coxswain, yang sangat berbeda dengan dua versi sebelumnya.
Coxswain menggambarkan orang yang menahkodai sebuah kapal kecil. Gelar ini berasal dari “cock”, istilah Inggris Kuno untuk perahu kecil, dan “swain”, yang berarti pelayan. Seiring waktu, gelar ini mengarah ke kompartemen kemudi kapal yang lebih kecil, tempat cockswain duduk, yang disebut kokpit.
Oleh sebab penerbangan awal meminjam sejumlah istilah lain dari laut, banyak pihak menilai bahwa hipotesa ini adalah asal mula penyebutan kokpit seperti yang kita kenal.
BLÉRIOT XI saat terbang perdana pada tahun 1909. Foto: GEORGE GRANTHAM BAIN COLLECTION AT THE LIBRARY OF CONGRESS
Hipotesa tersebut juga terhubung dengan kokpit di pesawat, seperti ditulis dalam buku “Vehicles of the Air” terbitan tahun 1909 karya insinyur penerbangan modern pertama di dunia, Victor Lougheed. Buku tersebut lahir lima tahun sebelum PD I meletus dan enam tahun setelah penerbangan pertama di dunia wirght bersaudara di Kitty Hawk dimulai.
Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya
Dalam buku tersebut, ia menulis, “Akhir-akhir ini, bagaimanapun, beberapa kapal yang lebih modern muncul dengan pengaturan yang sangat nyaman untuk tempat duduk operator (pilot), seperti yang dibuktikan secara khusus pada kokpit mirip perahu yang disediakan oleh Bleriot (pesawat buatan Louis Bleriot, seorang pilot dan produsen pesawat asal Perancis), Antoinette (pesawat monoplane buatan Léon Levavasseur, terinspirasi dari Marie Antoinette sebagai Ratu Prancis terakhir sebelum Revolusi Prancis), dan R.E.P. machines.”
Dengan kecakapan Victor Lougheed di bidang dirgantara, pendapatnya tersebut (terkait tempat kemudi pilot dengan kokpit pada perahu) kemudian diamini oleh banyak orang bak fatwa pada Islam. Pada akhirnya, jadilah kokpit disematkan sebagai pusat kendali pesawat yang dihuni oleh pilot dan co-pilot.
Deutsche Bahn, operator kereta di Jerman meluncurkan layanan internet baru dan gratis dengan nama WIFI @ DB. Bahkan seluruh armada DB ICE, lebih dari 100 stasiun kereta, semua lounge DB dan kereta bus regional pertama sudah terhubung. Bahkan hingga akhir tahun 2020, lebih dari 130 stasiun kereta akan mulai menyediakan layanan itu.
Baca juga: Jangan Sembarangan Gunakan WiFi Gratisan, Berikut Tips Keamanan Data dari FBIKabarPenumpang.com melansir laman globalrailwayreview.com (25/9/2020), saat ini kereta IC juga dilengkapi dengan WLAN dan juga menerima WIFI @ DB secara langsung. Sedangkan beberapa ratus kereta dan bus regional lainnya akan menyusul pada 2021 mendatang.
DB sendiri saat ini telah menginvestasikan 200 juta euro untuk memperluas infrastruktur teknis WLAN di stasiun, kereta dan bus beberapa tahun terakhir. Hal ini memudahkan para pelancong akan dapat berselancar dengan bandwith tinggi, waktu tidak terbatas dan sepenuhnya tidak berbayar alias gratis.
“Konektivitas yang mulus berarti lebih banyak kenyamanan bagi komuter dan pelancong bisnis, yang dapat menjelajahi web secara terus menerus di kereta, di stasiun dan di DB Lounge dan tidak perlu masuk lagi untuk perjalanan pulang,” jelas Anggota Dewan DB untuk Digitalisasi dan Teknologi Prof. Sabina Jeschke.
Jeschke mengatakan, setelah masuk, perangkat secara otomatis terhubung ke WIFI @ DB terdekat. Diketahui, sekitar 44 juta euro saat ini diinvestasikan dalam perluasan WLAN di lebih dari 130 stasiun kereta saja. Sejauh ini, 3800 titik akses telah dipasang dan 230 km kabel telah dipasang.
Saat ini, WIFI @ DB tersedia di stasiun kereta utama di Berlin, Cologne dan Hamburg, tetapi juga di Westerland di Sylt, Straubing dan Trier. Meskipun ICE telah menawarkan WiFi gratis sejak 2017, cakupan yang memadai di sepanjang jalur rel masih menjadi masalah bagi mereka yang online di kereta.
Baca juga: Sukses Hadirkan WiFi Gratis di 400 Stasiun India, Kini Google Rambah Ruang Publik Lain
Perluasan jaringan adalah tanggung jawab operator jaringan seluler, sebagaimana ditentukan dengan jelas oleh Badan Jaringan Federal. Perkeretaapian terpenting harus dilengkapi dengan jangkauan seluler pada akhir tahun 2022, dan semua rute kereta api pada akhir tahun 2024. Dengan demikian, operator jaringan kereta api dan seluler bekerja sama secara erat untuk meningkatkan konektivitas.
Di masa lalu, McDonnell Douglas DC-9 dan MD-80 merupakan pesawat yang bisa melakukan self-pushback tanpa pushback tractor atau biasa juga disebut pushback truck. Hal itu dimungkinkan berkat katup jet yang tertutup di bagian belakang.
Baca juga: WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal
Ketika mesin pesawat menyala, tak berselang lama katup yang berada di bagian belakang mesin jet tertutup dan pesawat mulai berjalan mundur. Katup tersebut berfungsi sebagai penghambat tenaga yang dikeluarkan oleh mesin, dan mengalihkan tenaganya menuju arah depan, sehingga pesawat bisa berjalan mundur.
Akan tetapi, saat ini, pesawat tersebut sudah tak ada dan pesawat lain juga tak dilengkapi dengan teknologi tersebut. Alhasil, pesawat selalu dibantu pushback tractor atau pushback truck untuk bergerak dari apron.
Proses tersebut dinilai cukup lamban karena masih bergantung pada kendaraan lain. Terlebih, di beberapa kasus, petugas pushback tractor diketahui tak banyak yang bertahan lama alias selalu bergonta-ganti orang, sehingga pengalaman mereka tak membantu mempercepat proses pushback. Maskapai pun cukup dirugikan karenanya.
WheelTug self-driving aircraft saat dioperasikan pada malam hari. Foto: WheelTug
Namun, seiring berjalannya waktu, inovasi dari berbagai perusahaan di dunia pun berdatangan, dari semula pushback tractor yang dioperasikan manusia, towbarless tug berbahan bakar fosir, hingga electric towbarless remote-controlled aircraft tugs yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Hanya saja, itu masih belum cukup untuk memangkas efisiensi waktu saat proses pushback, sampai pada akhirnya WheelTug muncul. Dilansir Forbes, WheelTug merupakan nosewheel yang ditenagai listrik untuk bisa menggerakkan roda pesawat. Produk yang namanya sama dengan nama perusahaan pembuat ini dinilai menjadi jawaban atas berbagai keluhan pilot terkait lambannya proses pushback.
WheelTug umumnya digunakan di pesawat narrowbody seperti Airbus A321 dan Boeing 737. Tak disebutkan dengan jelas apakah pesawat di atas itu (widebody) bisa digerakkan oleh WheelTug atau tidak, mengingat bobot pesawat jauh lebih besar.
Menurut CEO dan perancang WheelTug, Isaiah Cox, produk buatannya itu dijamin bisa menghemat hingga 20 persen per penerbangan, melalui efisiensi waktu selama proses pushback. Dengan begitu, pergerakan pesawat di bandara, rute, penerbangan, jadwal, dan lainnya dimungkinkan untuk bertambah seiring cepatnya mobilitas.
WheelTug saat didemonstrasikan di pesawat Boeing 737-800. Foto: WheelTug
Dari studi Deloitte, bila diuangkan, WheelTug disebut mampu menghemat hingga $300 hingga $2500 per penerbangan atau setara setengah juta hingga enam juta dolar per pesawat per tahun. Tentu kabar cukup menyenangkan untuk maskapai.
Selain baik untuk maskapai, WheelTug juga diklaim baik untuk pilot. Sebab, alat tersebut juga dilengkapi berbagai kamera di beberapa sudut pesawat sehingga menambah visibilitas dan kemandirian pilot saat pushback. Cara pengoperasiannya juga cukup mudah. Setiap pilot hanya perlu ditraining selama kurang lebih 45 menit untuk bisa mengoperasikan WheelTug.
Baca juga: Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih
Saat ini, WheelTug sudah beberapa kali dilakukan ujicoba atau demonstrasi. Terbaru, alat tersebut didemonstrasikan pada pesawat Boeing 737-800 di bulan September lalu. Ditargetkan, akhir 2021 mendatang, WheelTug bisa mendapat sertifikasi FAA untuk penggunaan yang lebih luas. WheelTug mengaku sudah mendapat sekitar 2.200 unit pesanan dari 26 maskapai di seluruh dunia; di antaranya, IndiGo Airlines dan KLM.
Menariknya, WheelTug pada dasarnya gratis. Layaknya mesin pesawat, WheelTug mendapat pundi-pundi uang dari penggunaan per jam. Jadi, pengguna tak perlu melakukan investasi besar-besaran untuk mencapai tingkat efisiensi tinggi saat pushback.
Dilihat dari namanya, mungkin orang awam pada umumnya akan mengira bahwa glass cockpit merupakan jendela atau kaca di bagian kokpit, layaknya cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield. Padahal, maksud dari glass cockpit bukan itu.
Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum
Dikutip dari nasa.gov, glass cockpit adalah suatu kokpit di pesawat dengan tampilan display atau instrumen yang terkomputerisasi dan tidak menampilkan display yang mekanik atau manual. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pilot mengoperasikan pesawat dan hanya fokus pada informasi yang sedang beroperasi, juga dapat mengeliminasi kebutuhan flight engineer.
Komponen dasar dari glass cockpit adalah Electronics Flight Instrument System (EFIS) dan Engine Indications and Crew Alerting System (EICAS). Turunan EFIS terdiri dari Primary Flight Display PFD yang letaknya di instrument panel di sisi pilot dan co-pilot yang mampu menampilkan beberapa hal, mulai dari data navigasi: DME, VOR, GS, ILS, dan sebagainya, hingga data ketinggian, kecepatan angin, kecepatan pesawat, attitude, waktu, kompas, dan sejenisnya.
Adapun EICAS menampilkan beberapa hal, mulai dari Engine Indicator seperti ITT, Torque, Fuel Flow, Oil Pressure, dan lain sebagainya hingga warning dan caution sebagai peringatan dini kru kokpit.
Sebelum memasuki dekade 70-an, pesawat pada umumnya masih menggunakan sistem mekanik dan belum terkomputerisasi layaknya glass cockpit. Seiring berjalannya waktu dan padatnya lalu lintas udara, ilmuan mulai mencari solusi atas itu dan ide mengembangkan glass cockpit dari sekedar konsep pun bergema.
“Sebelum tahun 1970-an, operasi transportasi udara tidak dianggap cukup menuntut untuk membutuhkan peralatan canggih seperti display penerbangan elektronik. Kompleksitas pesawat komersial yang semakin meningkat, munculnya sistem digital dan traffic lalu lintas udara yang meningkat di sekitar bandara mulai mengubah hal itu,” kata Lane Wallace, penulis yang sudah membuat karya enam buku untuk NASA.
Ia menambahkan, rata-rata pesawat penumpang pada pertengahan 1970-an sudah memiliki lebih dari 100 cockpit instruments and controls. Jumlah sebanyak itu pun membuat flight instrument utama sudah dipenuhi berbagai elemen. Dengan kata lain, bertambahnya jumlah instrumen di kokpit membuat pilot harus berbagi fokus untuk memantaunya. Usai glass cockpit dikembangkan, tugas pilot pun jadi lebih mudah.
Di antara berbagai model glass cockpit, model AT-33 adalah salah satunya. Model AT-33 menyediakan beragam informasi grafik yang mudah dipilih oleh pilot. Desain utama meliputi tampilan posisi, heading, data udara, status mesin dan bahan bakar; plus referensi situasi via layar peta bergerak yang lengkap, posisi dideteksi oleh sistem GPS Kelas 3 yang disertifikasi WAAS. Selain itu, tersedia input comm. VHF 16 watt, VOR/ILS dan transponder digital dengan pilihan frekuensi dan kode yang dikontrol kenop dan tombol fungsi pada dua layar LCD di kokpit.
Model AT-33 adalah paket glass cockpit terpadu, yang jelas lebih dari sekedar pengganti untuk instrumen giromekanik model lawas. Dengan menggabungkan semua info penerbangan utama, navigasi, tuning radio dan data mesin dengan data cuaca, tanah dan input peringatan lalu lintas, sistem ini memantau penerbangan dan meningkatkan kewaspadaan.
Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya
Unit digital ini memiliki suara berkualitas tinggi, plus fungsi perekaman/ pemutaran yang unik untuk memastikan pembacaan jarak ATC dengan akurat. Integrasi antara kontrol dan tampilan virtual semua fungsi dan instrumen penerbangan, layar datar 1024 x 768 piksel dengan warna yang cerah, sudut tampilan yang lebar, lampu latar yang canggih dan tulisan dapat dibaca dengan jelas. Konfigurasi yang tepat dari dua layar diagonal 10.4 inci diletakkan sisi menyisi pada panel untuk menampilkan situasi penerbangan yang penting, data navigasi dan sensor tepat di hadapan pilot.
Panel kaca sebelah kiri memiliki Primary Flight Display (PFD) untuk info posisi, kecepatan udara, kecepatan tanjakan, ketinggian dan course/heading, sedangkan layar di sebelah kanan menjadi Multi-Function Display (MFD), memantau mesin dan sistem bahan bakar plus grafik peta bergerak secara rinci yang menampilkan posisi pesawat terhadap darat, data diagram, NAVAIDS, rute rencana penerbangan, dan masih banyak lagi.