Ekspansi Bisnis, Japan Railway East Buka Area Belanja di Stasiun Singapura Akhir 2019
Bila mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket semata, rasanya berat bagi perusahaan kereta untuk dapat mencetak laba secara signifikan. Untuk itu, pilihan optimalisasi kawasan stasiun yang terintegrasi dengan area belanja menjadi opsi yang dikedepankan hampir di semua perusahaan kereta. Mungkin karena alokasi dana yang besar, bukan tak mungkin investasi justru di lakukan di luar negeri, salah satunya seperti dilakukan perusahaan kereta asal Jepang.
Persisnya East Japan Railway Co (JR East) akan membuka area belanja di 27 dari 32 stasiun di Thomson-East Coast Line (TEL), Singapura. Kabarnya area belanja tersebut akan beroperasi secara bertahap mulai akhir tahun ini.
Baca juga: Naik Kereta Shinkansen, Jangan Lupa Beli Ekiben di Kios Stasiun untuk Bekal Makanan
Dilansir dari todayonline.com (5/9/2019) oleh KabarPenumpang.com, dibukanya area belanja oleh JR East ini merupakan operator kereta api Jepang pertama yang mengembangkan fasilitas komersial di stasiun di negara-negara asing. JR East memiliki rencana awal membuka di stasiun dekat perbatasan Malaysia di jalur utara-selatan yakni Woodlands North, Woodlands and Woodlands South.
Toshio Omiyama, direktur pelaksana JR East Business Development SEA, unit Singapura mengatakan, pihaknya memenangkan kontrak operasi ritel untuk jalur kereta api senilai S$24 juta atau sekitar US$17,3 dengan SMRT Experience, anak perusahaan operator angkutan umum SMRT Corp, dan Alphaplus Investments, anak perusahaan dari supermarket besar dan operator rantai toko serba ada NTUC FairPrice Co-Operative, pada 27 Agustus kemarin.
Ketiga perusahaan tersebut akan mendirikan Stellar Singapore-Japan Retail pada bulan Oktober untuk mengoperasikan ruang ritel, dengan JR East Business Development SEA yang memegang 35 persen saham. JR East mengatakan, operator ini akan menyewa ruang lantai dengan luas lima ribu meter persegi dari Land Transport Authority (LTA) Singapura selama 16 tahun mulai dari akhir 2019.
“Area perbelanjaan terbesar akan berada di Stasiun Woodlands pada 1570 meter persegi. NTUC FairPrice bermaksud untuk membuka toko-toko Cheers di ruang ritel,” ujar Omiyama.
Manajer pengembangan bisnis baru JR East Akiko Takamura mengatakan, area belanja ini mungkin akan menampung beberapa penyewa Jepang yang saat ini mengoperasikan toko di mal Jepang yang dikelola JR East. Jalur Thomson-East Coast akan dikembangkan dalam lima fase hingga Juni 2024 untuk memperluas ke arah timur dekat Bandara Changi, menjadi jalur terpanjang ketiga di negara tersebut.
Baca juga: Mirip Lokasi Syuting Video Klip Girlband, Stasiun MRT Dijadikan Objek Foto Para Pelancong
Diketahui, Otoritas Angkutan Darat (LTA) telah mengumumkan pada bulan Agustus bahwa mereka akan melakukan outsourcing bisnis non-tarif sistem kereta api untuk pertama kalinya dan telah memberikan tender bagi pengoperasian ruang iklan dan area belanja di sepanjang TEL.
Airbus Bakal Tambah Sensor di Pesawat Guna Pantau Kebiasaan Penumpang
Apakah Anda pernah merasa bahwa gerak-gerik Anda diawasi? Tentu saja perasaan ini tidak enak dan sangat mengganggu, ya! Tapi jangan salah, manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus rencananya akan mengawasi setiap apa yang Anda lakukan di dalam kabin. Mulai dari apa yang Anda minum, film apa yang sedang Anda tonton, hingga bahkan seberapa banyak Anda menggunakan tisu toilet.
Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik
Ternyata ini merupakan rencana pihak Airbus untuk bisa mengumpulkan data tentang perilaku penumpang dan apa yang mereka konsumsi selama penerbangan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (11/9), bulan lalu, Airbus menerbangkan salah satu berbadan lebarnya A350-900 untuk menguji apakah ‘pikiran gila’ para eksekutif ini dapat dikembangkan lebih lanjut atau tidak.
“Ini bukan konsep, ini bukan mimpi,” ujar vice president of cabin marketing Airbus, Ingo Wuggetzer.
Pihak Airbus menambahkan bahwa nantinya pesawat Airbus akan dipenuhi oleh sensor untuk mengumpulkan data kebiasaan penumpang di dalam kabin. Manufaktur pesawat yakin, pemasangan sensor ini mampu menghemat pengeluaran pihak maskapai penggunanya dan bisa mengurangi tingkat stress penumpang – terutama ketika antre untuk mengambil bagasi kabin dan menggunakan toilet.
Ambil contoh sensor yang ada di toilet, nantinya sistem akan merekam seberapa sering toilet digunakan, apakah persediaan tisu dan sabun masih ada di dalam toilet, dan lebih jauh lagi, Airbus bisa mengetahui apakah keberadaan toilet di dalam pesawat sudah dirasa cukup atau harus ditambah lagi.
Selain itu, Airbus juga berencana untuk menambahkan kamera kecil di dalam pesawat untuk memantau berapa banyak orang yang menunggu kamar mandi, dan kemudian memberi tahu para penumpang perkiraan waktu tunggu atau toilet yang mana yang harus mereka gunakan.
Baca Juga: Gaet Musisi Asal Seattle, Singapore Airlines Rilis Video Super Kreatif di Airbus A350!
Sebagian data yang dikumpulkan oleh sensor akan dibagikan kepada awak kabin melalui WiFi onboard dan dilanjutkan kepada pihak maskapai sesampainya mereka di darat (landing). Dari situ, data akan dapat dipelajari tentang kebiasaan penumpang selama berada di dalam pesawat.
Selain itu, Airbus juga berencana untuk menambahkan kamera kecil di dalam pesawat untuk memantau berapa banyak orang yang menunggu di toilet, dan kemudian memberi tahu para penumpang perkiraan waktu tunggu atau toilet yang mana yang harus mereka gunakan.
N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter
Berpulangnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab dipanggil BJ Habibie pada Rabu (11/9) kemarin memang menyisakan duka yang amat mendalam bagi warga Indonesia. Pria jenius kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan sektor aviasi, baik domestik maupun mancanegara. Kendati raganya sudah bersatu dengan tanah, namun jasa dan masterpiece-nya akan selalu melekat di setiap orang yang menghormatinya.
Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?
Salah satu masterpiece BJ Habibie yang paling terkenal di jagad dirgantara adalah airliner regional komuter bertenaga turboprop, N-250. Pesawat rakitan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio/IPTN (sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia) ini menggunakan desain dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia. Bahkan, kode huruf N yang bertengger di depan nama pesawat ini merupakan akronim dari Nusantara – semakin mempertegas bahwa N-250 merupakan pesawat produksi lokal yang siap bersaing dengan burung besi buatan luar.
Dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, N-250 sejatinya menjadi primadona IPTN dalam upayanya mencuri ceruk pasar di kelas pesawat berkapasitas 50-70 penumpang dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Pesawat dengan bentang sayap 28 meter dan panjang 26,3 meter ini juga pernah menjadi bintang utama pada pagelaran Indonesia AirShow 1996 di Cengkareng.
Setahun sesudahnya, prototipe dari N-250 ini juga pernah diterbangkan sampai ke Eropa, yaitu untuk dipamerkan dalam Paris AirShow 1997 dan berhasil mencuri perhatian publik lewat demo udaranya. Dapat Anda bayangkan, betapa hebatnya pesawat ini pada masanya dulu – menggunakan sistem fly-by-wire, masih berstatus sebagai pesawat prototipe, namun sudah diterbangkan dan diperkenalkan ke luar negeri. Digadang-gadang, N-250 bakal menjadi lawan berat bagi keluarga ATR-72.
Namun sayang, ketika tengah menunggu sertifikasi dari pihak Federal Aviation Administration (FAA) guna menyatakan bahwa pesawat ini laik untuk mengangkut penumpang, sejumlah kendala mulai menghampiri. Satu yang menjadi tembok paling kokoh yang menahan laju dari N-250 untuk mengudara adalah krisis moneter. Hingga pada akhirnya, pengembangan pesawat yang menggunakan dua unit mesin Allison AE2100C turboprop engines ini mangkrak begitu saja. Tercatat, hanya ada dua unit dari N-250 saja yang sudah lahir ke dunia, namun itu pun statusnya masih sebagai prototipe. Baca Juga: Lanjutkan Asa N250 yang Tenggelam, Ini Dia R80 Besutan B.J. Habibie Sempat ada niatan dari BJ Habibie untuk kembali mengembangkan N-250 ini, terlebih saat beliau mendapatkan ‘restu’ dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, guna meminimalisir cost pengembangannya, BJ Habibie dikabarkan akan mengurangi performa dari N-250, seperti penurunan kapasitas mesin dan dicabutnya sistem fly-by-wire.
Menuju Operasional Penuh di 2020, Proses Pembangunan YIA Kini Mencapai 82 Persen
Apa kabar dengan Bandara Internasional Yogyakarta? Setelah empat bulan beroperasi resmi, yakni dengan penerbangan komersial perdana pada 6 Mei 2019, kini bandara yang terletak di kawasan Kulon Progo ini telah mencapai perkembangan yang signifikan. Selain pembanguan pelayanan dan infrastruktur yang sudah mencapai 82 persen, jumlah penumpang pun telah mencapai 96 ribu orang sampai 31 Agustus lalu.
Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo
Bahkan, terjadi peningkatan penumpang yang cukup signifikan pada Agustus 2019 lalu jika dibandingkan bulan sebelumnya. “Pada Juli 2019, YIA melayani 27.585 penumpang, sementara Agustus 2019 tercatat ada 38.646 penumpang. Artinya terjadi peningkatan penumpang sebesar 40 persen,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dalam siaran pers (12/9/2019)
Saat ini di YIA ada 14 jadwal penerbangan setiap harinya dengan tujuan ke Jakarta (Cengkareng), Jakarta (Halim), Palangkaraya, Samarinda, Lombok, dan Makassar yang dilayani oleh empat maskapai, yaitu Citilink, Batik Air, Indonesia AirAsia, dan Lion Air.
Pada 25 September 2019 mendatang, direncanakan akan ada tambahan enam rute penerbangan lagi di YIA yang dioperasikan oleh Lion Air. Maskapai berlogo singa merah ini akan membuka rute Kualanamu-YIA-Kualanamu, YIA-Tarakan-YIA, YIA-Pontianak-YIA. Sehingga akan ada 20 jadwal penerbangan yang dilayani di YIA.
“Ke depan, beberapa maskapai juga telah merencanakan akan membuka beberapa rute baru dari dan menuju YIA, antara lain dari maskapai Citilink, Batik Air, dan Lion Air yang akan membuka tambahan 16 rute lagi, sehingga total akan ada 36 penerbangan yang dilayani di YIA,” kata Faik.
Baca juga: Disambut Water Salute, Citilink QG-132 Lakukan Penerbangan Komersial Perdana ke YIA
Penambahan jadwal penerbangan ini seiring dengan progres pembangunan bandara yang terus mengalami kemajuan. Hingga minggu pertama September 2019, progres pembangunan YIA telah mencapai 82 persen. Pembangunan bandara ini ditargetkan tuntas 100 persen akhir tahun ini dan bisa dioperasikan secara penuh di awal tahun 2020.
Nantinya, sebagian besar penerbangan yang saat ini dilayani di Bandara Adisutjito akan dipindahkan secara bertahap ke YIA.
Resmi! Emirates Purna Tugaskan Boeing 777-300
Kabar mengejutkan datang dari salah satu maskapai terbaik di dunia, Emirates, dimana maskapai asal Timur Tengah ini dikabarkan mempensiunkan salah satu varian pesawatnya, Boeing 777-300. Pada tanggal 6 September kemarin, pihak maskaai mengumumkan perihal pemberhentian jenis pesawat terakhir yang ada di armada Emirates, namun itu bukan berarti Anda tidak akan melihat varian 777 lagi – karena yang dipurna-tugaskan ini merupakan Boeing 777-300 dengan nomor registrasi A6-EMX, dimana pesawat ini mulai mengabdi kepada Emirates sejak Juni 2013.
Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aerotime.aero (10/9), Boeing 777-300 dengan nomor registrasi A6-EMX ini sudah melakoni 14.961 penerbangan dengan akumulasi total waktu operasi 61.375 jam. Menurut pihak maskapai, Boeing 777-300 A6-EMX melakukan perjalanan menuju Queen Alia International Airport (AMM) di Yordania, dan setelah itu, pesawat ditarik keluar dari pengoperasian pada 27 Oktober 2018.
Agaknya sedikit tidak mungkin apabila Emirates menghentikan penggunaan dari Boeing 777, mengingat maskapai ini hanya menggunakan dua jenis pesawat saja – Boeing 777 dan Airbus A380. Jika benar Emirates menarik jenis pesawat ini, maka biaya operasional mereka akan membengkak, mengingat varian A380 merupakan salah satu pesawat dengan bea operasi yang terbilang tinggi diantara varian lainnya.
Diketahui, Emirates masih mengoperasikan 155 unit 777, yang terbagi ke dalam dua jenis – 777-200LR dan 777-300ER. Selain itu, pihak maskapai juga tengah menantikan kehadiran 150 unit Boeing terbaru, 777X.
CEO dari Emirates, Tim Clark yang ketika dimintai keterangan terkait pensiunnya varian 777-300 malah mengisyaratkan bahwa Ia juga menghentikan penggunaan dari salah satu unit A380 karena, “Kebutuhan perbaikan yang besar di masa yang akan datang,” ujarnya.
Dengan begitu, Emirates kini memiliki 112 unit A380, dimana beberapa diantaranya akan terus beroperasi hingga dua tahun ke depan.
Baca Juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber!
Sempat ada indikasi Emirates akan membeli dua varian pesawat lain dari Airbus – A330 dan A350, namun karena satu dan lain hal, pesanan tersebut pada akhirnya tidak ditindak lanjuti.
“Saya tidak mengatakan kami tidak suka A330, A350, atau 787-9 dan 787-10. Mereka adalah pesawat-pesawat yang sangat kuat yang pada akhirnya akan menyelesaikan semua operasinya. Mereka adalah desain yang luar biasa. Sayangnya, mereka tidak disatukan sebagaimana mestinya,” ujar Tim.
Dewi Mazu Tertangkap Kamera Tengah Bepergian Naik Kereta Cepat di Cina
Agaknya, hanya di Cina dimana seorang Dewi bisa menunggangi ular besi untuk bepergian. Tapi jangan salah tafsir dulu, di sini, bukanlah seorang wanita yang bernama Dewi atau Dewi (God) dalam bentuk yang sesungguhnya, melainkan sebuah patung Dewi Mazu yang tertangkap kamera tengah duduk anteng di dalam sebuah rangkaian kereta yang mengular dari Fujia, Putian menuju Jiangsu, Kunshan beberapa waktu yang lalu.
Baca Juga: 10 Fakta Seputar Kereta Cepat di Cina
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman shanghai.ist (9/9), patung Dewi Mazu berukuran seperti manusia ini kedapatan menaiki layanan kereta cepat dengan menggunakan jubah berwarna kuning terang dengan mahkota yang tampak sangat berat. Dalam perjalanannya ini, Sang Dewi dikawal oleh beberapa orang yang siap mengangkutnya keluar dan masuk kereta – juga untuk bermobilisasi.
Menurut kabar yang tersiar, Dewi Mazu ini tengah dalam perjalanan untuk ‘menghadiri’ suatu acara. Uniknya lagi, perjalanan Dewi Mazu ini juga dikenakan biaya, lho! Karena ia duduk di salah satu bangku di dalam gerbong, jadi Ia pun harus membayar tiket seharga manusia. Dalam tiketnya, nama penumpang berupapatung jelas tidak ditulis Dewi Mazu, melainkan Lin Mo – nama asli dari Dewi Mazu.
Dalam kebudayaan Cina dan beberapa wilayah di Asia Tenggara, nama Dewi Mazu sangat mahsyur dan menjadi kepercayaan bagi mereka yang beriman kepadanya. Ia dipercaya sebagai Dewi penjaga lautan, dimana para nelayan dan pelaut berdoa untuk keselamatan dan hasil panen yang baik kepadanya.
Mengutip dari laman sumber lain, sosok Dewi Mazu ini sebenarnya merupakan seorang ‘orang pintar’ di desa nelayan Meizhou Island, bagian dari Putian yang hidup pada abad ke-10. Dan pasca berpulangnya Sang Dewi, ia dihormati dan dianugerahi banyak gelar oleh Dinasti di Cina; seperti Sun Ji Fu Ren (Nyonya Agung yang Memberikan Pertolongan yang Sangat Dibutuhkan) yang diberikan oleh Kaisar Gao Zong dari Dinasti Song pada tahun 1155, “Bunda Suci dari Surga di Langit” yang diberikan tahun 1417 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, hingga “Bunda Suci di Surga”, gelar yang diberikan oleh Kaisar Daoguang pada tahun 1839.
Baca Juga: [Bagian 1] Fakta Unik Kereta Cepat di Cina – Punya Jaringan Terbesar di Dunia dan Angkut 2 Juta Penumpang Per Hari
Sebelumnya, Dewi Mazu ini juga sempat tertangkap kamera tengah mengudara dari Cina menuju Malaysia di Business Class salah satu maskapai yang disamarkan.
Wah, ternyata Sang Dewi gemar plesiran juga ya!
Eksplorasi Sektor Kargo, Garuda Indonesia Group Luncurkan “Tauberes”
Garuda Indonesia sebagai maskapai plat merah Tanah Air ternyata tidak melulu menaruh fokus pada pelayanan terhadap penumpang saja. Ceruk bisnis di sektor kargo pun tak pelak menjadi sasaran Garuda Indonesia untuk mengembangkan sayap bisnisnya.
Baca Juga: ‘Belanja’ ke Cina, Garuda Indonesia Datangkan Drone Untuk Angkutan Kargo
Nah, jika beberapa waktu yang lalu Garuda Indonesia sempat menetaskan pernyataan untuk menggunakan drone dalam urusan kirim paket, kini flag carrier Indonesia melalui lini usaha layanan logistik kargo udara PT Garuda Tauberes Indonesia (GTI) meluncurkan terobosan sebuah aplikasi digital “tauberes” yang merupakan aplikasi digital pertama di Indonesia yang menghubungkan layanan kargo udara dengan agen pengiriman barang kepada masyarakat (end customers).
Pada acara launching aplikasi “tauberes” yang bertempat di Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (11/9), Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Garuda Indonesia, Mohammad Iqbal mengatakan bahwa hadirnya aplikasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Garuda Indonesia Group dalam menyediakan inovasi layanan digital yang menjawab kebutuhan pengguna jasa dalam urusan pengiriman barang secara cepat, tepat, dan efisien serta adaptif.
“Mengusung konsep smart logistic services, hadirnya aplikasi ini diharapkan dapat menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat yang membutuhkan layanan pengiriman barang secara online dengan basis layanan kargo udara yang terpercaya mulai dari akurasi waktu pengiriman, keamanan paket, hingga tarif yang kompetitif,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Tauberes Indonesia (GTI), Albert Burhan mengatakan bahwa “tauberes” ini didesain sebagai one-stop logistic solution, dimana pengguna tidak hanya dapat mengirim paket atau menggunakan jasa kargo udara saja, melainkan pengguna juga dapat berbelanja secara online.
“Tauberes sendiri memiliki fitur real-time tracking, dimana pengguna bisa dengan mudah memonitor pergerakan paket. Tidak hanya ketika berada di darat, melainkan paket juga dapat di-track ketika tengah berada di udara (di dalam pesawat),” jelas Albert.
Baca Juga: Fokus di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Inilah Tantangan Operasional Drone Kargo Garuda Indonesia
Melalui aplikasi ini juga, para pengguna dapat memilih penyedia jasa pengiriman barang yang telah bekerjasama dengan “tauberes”, diantara lain: J&T Express, Lion Parcel, Aero Express, SAP dan Si Cepat. Untuk metode pembayarannya pun dapat dilakukan dengan dua cara; tunai maupun melalui platform LinkAja.
Aplikasi “tauberes” ini berbasis Progressive Web Application (PWA), dimana pengguna akan mendapatakan keleluasaan dalam menggunakan apps ini di mobile device. Bagi Anda para pengguna iOS maupun Android, bisa mengunduh “tauberes.in” melalui gadget masing-masing.
“Sunrise Project,” Qantas Bakal Sabet Gelar Penerbangan Langsung Terlama di Dunia
Di era yang sudah serba maju seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin untuk mengudara dari satu kota menuju kota lainnya di belahan bumi lain hanya dengan menggunakan satu kali penerbangan saja. Sebut saja rekor penerbangan langsung terjauh di dunia saat ini dipegang oleh Singapore Airlines yang menghubungkan Newark Liberty International Airport (EWR) dan Singapore Changi Airport (SIN) dengan total durasi perjalanan kurang lebih 18 jam.
Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!
Ternyata, ada maskapai lain yang ingin mencatatkan namanya sebagai moda pengangkut yang memiliki durasi penerbangan paling lama di dunia, menyaingi maskapai berkode SIA tersebut. Adalah The Flying Kangaroo, maskapai asal Australia ini dikabarkan akan menguji coba daya tahan penumpang ketika melakukan perjalanan selama 19 jam lamanya di udara. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com (28/8), rencananya Qantas akan menguji coba penerbangan dari New York dan London menuju Sydney ini pada musim gugur mendatang.
Proyek yang bertajuk “Sunrise Project” ini akan melibatkan tiga unit Boeing 787-9 untuk melakoni perjalanan ultra long haul flight ini.
“Penerbangan uji coba ini digunakan untuk mengumpulkan data terkait kesehatan dan kesejahteraan penumpang dan awak pesawat selama penerbangan,” tulis pihak Qantas dalam sebuah siaran pers.
Namun alih-alih menerbangkan penumpang dengan kapasitas selayaknya bangku yang ada di Boeing 787-9, pihak Qantas hanya akan mengangkut 40 penumpang saja – termasuk awak kabin. Ini ditujukan agar penumpang bisa beradaptasi dengan zona perbedaan waktu, dan mereka juga dapat mengatur tata pencahayaan lampu di kabin.
Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Tiket Penerbangan Langsung Jarak Jauh Lebih Mahal
Tidak seperti penerbangan biasa, kelak Qantas akan melengkapi penumpang dengan sensor untuk mengukur porsi tidur, asupan makanan dan minuman, hingga jumlah gerakan penumpang di dalam kabin – karena jika boleh diklasifikasikan, mengudara selama lebih dari ¾ hari merupakan salah satu hal ekstrem yang pernah ada. Maka dari itu, pihak Qantas juga tidak ingin mengambil risiko dari potensi dihadirkannya rute penerbangan ini kelak.
Kelak, hasil dari uji penerbangan yang direncanakan pada bulan Oktober 2019 mendatang ini akan ditelaah lebih lanjut oleh Charles Perkins Centre, Sydney dan Monash University bersama dengan CRC for Alertness, Safety and Productivity.
Tambah Ruas Ganjil Genap, MRT Jakarta Optimis Jumlah Penumpang Meningkat
Aturan ganjil genap yang mulai berlaku di 25 ruas jalan pada Senin (9/9/2019) terhadap kendaraan roda empat, membuat penumpang Moda Raya Terpadu (MRT) meningkat. Namun Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar belum bisa mengevaluasi secara keseluruhan karena perluasan ganjil genap baru berjalan satu hari.
Baca juga: PT MRT Jakarta dan PT KCIC Lakukan Kerja Sama Transfer of Knowledge
“Dibanding minggu lalu ada peningkatan, jadi kita lihat berapa angka rata-rata penumpang di hari Senin kemarin 87 ribu dan biasanya bila hari Senin sekitar 70 ribu sampai 80 ribu penumpang saja,” kata Sabandar yang ditemui di kantor pusat MRT Jakarta, Selasa (10/9/2019).
Dia mengatakan, pada hari pertama perluasan ganjil genap tersebut peningkatan sebanyak 5 ribu sampai enam ribu penumpang. Sabandar menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi jumlah penumpang dalam satu minggu hingga satu bulan kedepan.
“Saya harus lihat satu minggu ke depan seperti apa, satu bulan ke depan seperti apa. Dampak dari ganjil genap itu cukup signifikan. Dan memang kita ingin ajak masyarakat untuk daripada bermacet-macet di wilayah yang tidak ganjil genap. Naik MRT sepanjang Lebak Bulus-Bundaran HI paling aman dan enak, 30 menit sampai,” kata Sabandar.
Dia mengatakan, untuk mengantisipasi penambahan penumpang, pihaknya mendorong perkembangan integrasi MRT dengan moda transportasi lainnya. Tetapi kedepannya bila penumpang menembus 170 ribu perhari yang akan tercapai sekitar dua samapi tiga tahun kedepan maka akan ada penambahan armada.
Bahkan pihak MRT Jakarta menargetkan akan ada mampu mengangkut penumpang 100 ribu perhari hingga akhir tahun. Division Head Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin mengatakan, target ini bisa tercapai dengan adanya peraturan ganjil genap di kasawan Jalan RS Fatmawati Raya, Jakarta Selatan.
Baca juga: Dorong Antikorupsi, KPK dan MRT Jakarta Tempel Stiker “Berani Jujur Hebat” di Kereta Prioritas
Selain itu untuk pembangunan fase 2 saat ini Sabandara mengatakan, CP200 sudah berjalan 60 persen dan direncanakan akhir tahun 2019 selesai. Sedangkan CP201 masih dalam proses lelang dan akan diumumkan pada akhir 2019.
“CP202, CP203 juga mulai lelang dan diumumkan, CP204, CP205 kita mulai lelang tahun depan dan full force kita tahun depan. Semua on schedulle,” tutupnya.
Takut Kena Tilang Elektronik? Yuk Pantau Keberadaan Kamera ETLE via Waze
Dengan diberlakukannya tilang elektronik lewat Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), banyak pengendara lalu lintas yang bertanya, ruas jalan mana saja kah yang kini telah dipasangi kamera tilang elektronik tersebut? Maklum dari kabar yang ramai di media sosial, Polda Metro Jaya dikabarkan terus menambah kamera ETLE. Nah, selain memantau informasi lewat pemberitaaan, ada baiknya pengendaraa yang budiman memantau keberadan kamera ETLE lewat aplikasi.
Baca juga: Sterilisasai Jalur Busway Turun 4 Persen, TransJakarta dan Dirlantas Polda Metro Jaya Pasang ETLE
Persisnya aplikasi Waze Indonesia kini bisa memberikan titik-titik adanya Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau kamera dengan sistem tilang elektronik. Wakil Direktur Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP I Made Agus Prasatya mengatakan, pemberitahuan informasi lokasi kamera ETLE melalui aplikasi Waze itu bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan meminimalisir pelanggaran yang terekam kamera.
Dia mengatakan ETLE tidak hanya berupa penegakkan hukum tetapi ada unsur preventif dan edukasi sehingga terwujudnya budaya tertib lalu lintas.
“Para pengendara akan mendapatkan pemberitahuan melalui aplikasi Waze ketika melintasi ruas jalan yang terpasang kamera ETLE. Aplikasi Waze pun dapat mendeteksi lokasi 12 kamera ETLE yang terpasang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin. Tidak hanya (mendeteksi) satu (kamera ETLE) alam aplikasi Waze, tapi semua titik kamera terdeteksi dan tereksplorasi dalam layar,” kata Made yang dikutip dari kompas.com.
Saat ini diketahui ada 12 kamera ETLE yang dipasang pada sepuluh titik di Jakarta dan dilengkapi fitur canggih. Penerapan kamera fitur terbaru ini sendiri ternyata sudah berlaku sejak 1 Juli 2019 kemarin.
Berbeda dengan peranti lunak navigasi umumnya, Waze memberikan informasi dan peta berdasarkan masukan komunitas pemakainya. Informasi terkait kecelakaan, kemacetan, polisi dan bahaya berdasar kondisi nyata yang dilaporkan pengguna. Para Wazer atau sebutan pengguna Waze bisa melakukan pemutakhiran peta, penambahan tempat dan jalan baru termasuk mengkondisikan aturan dan alur lalu lintas di setiap jalan serta persimpangan.
Bahkan kamera-kamera ini memiliki jenis dan fungsi yang berbeda yakni ANPR (Automatic Number Plate Recognition) yang dapat mendeteksi jenis pelanggaran marka dan lampu lalu lintas. Jenis kamera kedua adalah kamera check point yang dapat mendeteksi jenis pelanggaran ganjil genap, tidak menggunakan sabuk keselamatan, dan penggunaan ponsel oleh pengemudi mobil. Sementara itu, jenis kamera yang terakhir adalah kamera speed radar yang dikoneksikan dengan kamera check point untuk mendeteksi kecepatan kendaraan yang melintas.
Baca juga: Auckland Transportation Mulai Pasang CCTV di Jalur Bus Pusat Kota
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, uniknya, Waze memiliki tampilan berbeda dengan ikon yang mengikuti musim atau peristiwa seperti Natal, Paskah, Hallowen dan lainnya. Ikon baru akan muncul di peta dan memberikan poin tertentu jika pengemudi melewati jalur tersebut. Waze sendiri terhubung dengan Facebook, Foursquare dan Twitter.
Waze Ltd didirikan untuk pertama kali tahun 2008 lalu di Israel oleh Uri Levine, ahli perangkat lunak Ehud Shabtai dan Amir Shinar. Waze sendiri merupakan gabungan dari aplikasi navigasi dengan jejaring sosial dan permainan online. Waze kemudian diakuisisi oleh Google pada Juni 2013 untuk membantu dalam dunia bisnis pemetaan yang sebelumnya dimiliki Google.
