Pramugari Emirates Bagi Tips Pilih Kursi Terbaik di Penerbangan

Sering kehabisan makanan yang diidamkan dan tidak mendapatkan kursi yang sesuai keinginan? Rasanya hal itu hampir dirasakan banyak penumpang yang bepergian dengan pesawat. Namun, seorang pramugari Emirates belum lama ini membagikan cara mendapat kursi terbaik untuk semua hal itu.

Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

KabarPenumpang.com melansir dari cambridge-news.co.uk (31/10/2021), pramugari itu memberikan tips tentang cara mengamankan pilihan makanan pertama Anda selama penerbangan dan menyiapkan kursi lorong untuk diri sendiri. Sandra Jeenie Kwon, pramugari Emirates yang berbasis di Dubai ini membagikan tips tersebut di Instagram dan TikTok.

@jeenie.weenie 😈 #cabincrewlife ♬ Original sound – Sandra Jeenie Kwon


Sandra menjelaskan tentang kursi terbaik di penerbangan standar yang terdiri enam baris (pesawat wide body). Dalam tips Sandra, kursi itu bukan berada dekat pintu darurat untuk mendapat kursi dengan ruang kaki ekstra.

Dalam video yang diposting di Instagram dan halaman TikTok-nya, Sandra menjelaskan bahwa kursi terbaik untuk diamankan adalah kursi lorong di tengah bagian belakang pesawat. Kursi khusus terbaik yang Sandra jelaskan ingin Anda dapatkan adalah 49C, D, F, dan G karena letaknya lebih jauh dari toilet dan berada di lorong.

Sandra menambahkan, mendapatkan tempat duduk di bagian belakang pesawat adalah yang terbaik, karena pesawat juga terisi penuh dari depan, yang berarti Anda lebih mungkin mendapatkan baris untuk diri sendiri. Namun, dia juga memperingatkan untuk tidak naik ke lima baris belakang pesawat karena dekat dengan toilet. Dalam video panduan langkah demi langkah, Sandra menjelaskan kursi melalui proses eliminasi.

“Karena distribusi berat pesawat, mereka selalu mengisi bagian depan terlebih dahulu, jadi karena alasan itu Anda lebih mungkin mendapatkan baris untuk diri sendiri di belakang. Dan untuk peluang itu saya lebih suka bagian belakang. Selanjutnya adalah preferensi pribadi, saya benci meminta orang lain untuk pindah agar saya bisa menggunakan toilet, jadi saya menghilangkan pilihan kursi dekat jendela,“ tambah Sandra.

“Dan karena makanan disajikan dari depan ke belakang, Anda masih memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan pilihan makanan di posisi tengah bagian belakang. Jadi melalui proses eliminasi, pilihan set ideal saya adalah kursi 49 C/D/F/G,” ungkapnya.

Baca juga: Hanya Gunakan Riasan Sederhana, Pramugari ini Bagi Rutinitas Pagi di TikTok

Sandra bukan satu-satunya yang berbagi kiat perjalanan, karena pakar perjalanan lain juga turun ke TikTok untuk membagikan peretasan sederhana untuk membantu mengamankan seluruh baris itu saat bepergian sebagai pasangan.






















Gantikan Angkot, Pemkot Bogor Mulai Operasikan Bus Kita Trans Pakuan

Mulai 2 November 2021, sebanyak 49 armada bus program Buy The Service (BTS), Bus Kita Trans Pakuan dijawdalkan akan mulai beroperasi. Bus ini memiliki rute dari Stasiun Bogor sampai ke Simpang Pomad. Bus hasil kolaborasi Pemkot Bogor dengan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) akan beroperasi gratis alias tanpa ongkos hingga akhir tahun ini.

Baca juga: Inilah Parade PO Bus AKAP yang Usianya Tembus Setengah Abad

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, bus ini melayani Trans Pakuan Koridor (TPK) 5. Di mana rutenya melintasi rute Ciparigi, Warung Jambu, Ahmad Yani, Air Mancur, Fly Over Jalan Martadinata, Merdeka, Jembatan Merah dan Stasiun Bogor.

Kemudian dari Stasiun Bogor kembali lagi menuju Ciparigi melalui Jalan Juanda, Sudirman, Pemuda, Warung Jambu, Sholeh Iskandar, Talang, Simpang Pomad. Bus ini dlengkai dengan berbagai fasilitas salah satunya adalah bracket atau rak khusus sepeda yang dipasang di bagian depan bus untuk memudahkan para pengguna sepeda.

Bentuknya yang futuristik ini menjadi lebih menarik lagi dengan sentuhan desain Batik Bogor. Di dalam bus ada pendingin udara, CCTV, passenger counting system, disability friendly, peralatan keamanan APAR dan pintu emergency. Untuk kapasitas penumpang sebanyak 35 orang, terdiri atas 20 tempat duduk dan 15 orang berdiri.

Hadirnya berbagai kenyamanan dalam bus BTS bertujuan agar masyarakat yang semula menggunakan kendaraan pribadi beralih ke bus. Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, Bus Kita Trans Pakuan diproyeksikan untuk mengganti angkot-angkot di Kota Bogor dengan sistem konversi. Nantinya tiga armada angkot akan digantikan menjadi satu armada bus Trans Pakuan jenis ini.

Hadirnya 49 bus dari BPTJ ini, nantinya akan menggantikan 147 angkot sampai akhir tahun 2021. Sedangkan pengemudi angkot diproyeksikan menjadi pengemudi bus dengan sistem shift. Kemudian pengemudi lainnya akan dilatih menjadi mekanik atau dibagian perawatan.

Baca juga: 17 Tahun TransJakarta, dari Konsep Bogota Sampai BRT Khas “Jakarte”

Sedangkan untuk nasib para sopir angkot yang kena konversi, kata dia, diproyeksikan menjadi sopir bus dengan sistem shif. Lalu untuk yang tidak jadi pengemudi bus, akan dilatih menjadi mekanik atau ditempatkan di bagian perawatan.






















FAA Akui Jaringan 5G Ancam Keselamatan Penerbangan

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengakui bahaya dari jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan. Jaringan 5G dinilai menggangu kinerja radal altimeter pesawat. Karenanya, dalam waktu dekat, regulator penerbangan sipil AS itu akan mengeluarkan peringatan resmi terkait hal ini.

Baca juga: Studi Terbaru: Teknologi 5G Bahayakan Radar Altimeter Pesawat Sipil

Dikutip dari Reuters, Wakil Administrator FAA Bradley Mims dalam surat tertanggal 6 Oktober yang sebelumnya tidak dilaporkan mengatakan bahwa FAA merasakan “keprihatinan mendalam tentang dampak potensial terhadap keselamatan penerbangan dari gangguan pada kinerja altimeter radar dari operasi jaringan 5G di spektrum C-Band.”

Usai berkoordinasi dengan Komisi Komunikasi Federal (FCC), FAA berencana segera mengeluarkan Buletin Informasi Kelaikan Udara Khusus dan arahan kelaikan udara tentang masalah jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan.

Sayangnya, sejauh ini tak ada penyataan lebih jelas bagaimana FAA termasuk FCC menyikapi rencana penggunakan jaringan teknologi 5G pada 5 Desember 2021 mendatang di 46 titik di seantero AS.

Sebelumnya, di bulan Agustus lalu, FAA hanya melakukan hal yang sama dengan baru-baru ini, yaitu memperingatkan bahaya jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan secara khusus dan industri penerbangan secara umum.

Disebutkan, jaringan 5G akan mengganggu Sistem Ruang Udara Nasional. Tak hanya itu, andai tak ada perubahan, FAA terpaksa mengurangi frekuensi penerbangan secara drastis. Sudah pasti, ini akan menjadi ‘kiamat kecil’ industri penerbangan AS maupun global.

Sayangnya, kekhawatiran FAA terhadap bahaya laten jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan dibantah oleh CTIA atau asosiasi dagang yang mewakili industri komunikasi nirkabel di Amerika Serikat.

CTIA justru mengatakan sebaliknya dimana jaringan 5G dapat dengan aman menggunakan spektur C-band tanpa mengganggu apalagi membahayakan keselamatan penerbangan. Sebanyak 40 negara disebutnya sudah menggunakan spekturm ini dan terbukti aman. Jika AS lamban dalam mengaktifkan spekturm ini, dikhawatirkan daya saing AS akan melemah.

Pelaku industri penerbangan sendiri merespon atas kegaduhan dari polemik bahaya jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan. Solusi jangka panjangnya adalah perkuatan beberapa altimeter dengan filter out-of-band. Hanya saja, investasi untuk ini cukup mahal dan ada ribuan pesawat yang akan terdampak.

FAA memang mendapat banyak masukan dari berbagai lembaga di AS terkait bahaya jaringan 5G terhadap penerbangan.

Tahun lalu, Radio Technical Commission for Aeronautics (RTCA), mitra penerbangan swasta-publik yang memberi masukan kepada Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), memperingatkan bahwa teknologi 5G dapat menimbulkan risiko besar atau gangguan berbahaya terhadap radar altimeter pesawat sipil.

Salah alasannya adalah spektrum frekuensi 3,7-3,98 GHz yang bakal digunakan provider telekomunikasi biasa digunakan oleh pesawat sipil.

Jika sistem telekomunikasi 5G diizinkan untuk menggunakan pita frekuensi itu, risikonya akan sangat besar dan berdampak pada operasional penerbangan di AS; termasuk adanya kemungkinan kegagalan katastropik (keretakan atau biasa juga disebut kegagalan struktural) yang berdampak cukup besar, bila tak dibarengi dengan mitigasi dini.

Baca juga: Pertama di Dunia, Cina Bakal Hadirkan Teknologi 5G di Penerbangan! Seperti Apa?

Altimeter radar banyak digunakan oleh pesawat-pesawat sipil di dunia. Altimeter radar merupakan satu-satunya sensor pesawat yang mengukur ketinggian pesawat di atas medan dan objek.

Menurut Flight Safety Foundation, altimeter radar memberikan informasi penting terkait terrain awareness and warning systems (TAWS), sistem peringatan lalu lintas dan pencegah tabrakan (TCAS), wind shear detection systems, sistem kontrol penerbangan, dan sistem autoland.

Bandara Sydney Dibuka Setelah 20 Bulan Lockdown, Disambut Tangis Penumpang

Bandara Sydney Australia untuk pertama kalinya membuka pintu bagi penerbangan internasional -khusus warga negara Australia dan tidak untuk selain itu- setelah 20 bulan lockdown. Hal ini pun disambut dengan tangis haru keluarga para penumpang yang juga warga negara Australia.

Baca juga: Corona Melonjak, Australia Batasi Penumpang Internasional! Tiket Melonjak Sampai Rp400 Jutaan

Mulai hari ini, 1 November 2021, persyaratan karantina mandiri dan berbagai prosedur rumit lainnya bagi kedatangan internasional sudah tidak berlaku bagi mereka yang sudah mendapat vaksinasi dua dosis.

ABC News melaporkan, 14 penerbangan internasional diperkirakan akan mendarat di Bandara Sydney hari ini. Beberapa di antaranya sejak dini hari sudah mendarat dan dibarengi dengan momen sangat emosional.

Salah satu penumpang pertama yang tiba di Bandara Sydney mengaku sangat rindu dengan ibunya yang sedang sakit. Sang ibu divonis dokter sudah tak lama lagi. “Saya sangat takut dan emosional karena saya sangat ingin melihat ibu saya karena dokter mengatakan dia tidak akan lama,” katanya kepada wartawan.

Setelah tiba di bandara dan bertemu dengan keluarganya, penumpang tersebut masih harus menuju ke Australia Barat, tempat ibunya berada dan itu tidak mudah. Tetapi, ia bertekad untuk melibas semua tantangan yang ada. “Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa untuk melihatnya,” katanya.

Penumpang pesawat pertama di Bandara Sydney lainnya yang juga warga negara Australia lainnya, Nick Skarajew, mengaku lega bisa kembali ke Negeri Kangguru. Sebab, tak sedikit kerabat, keluarga, dan lingkaran terdekatnya yang sakit atau meninggal tanpa bisa dihadirinya.

“Sungguh menakjubkan mendengar beberapa cerita tentang keluarga terlantar, tentang hubungan dan juga banyak orang sedih yang merasa sangat tidak berdaya dengan mengetahui orang tua dan anggota keluarga dekat meninggal dan tidak bisa berbuat banyak,” jelasnya.

Australia memutuskan membuka kembali penerbangan internasional khusus bagi warga negara Australia ataupun bagi warga asing yang sudah menetap di sana. Adapun penerbangan untuk wisatawan dan pelajar internasional masih belum diizinkan.

“Hari ini Sydney telah membuka kembali Australia untuk dunia,” ujar Menteri Pekerjaan, Investasi, dan Pariwisata NSW Stuart Ayres.

“Senang sekali berada di sini di aula kedatangan melihat senyum di wajah orang-orang, pelukan hangat dan tulus dari anggota keluarga yang bersatu kembali untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan,” tambahnya.

Sementara itu, Perdana Menteri NSW Dominic Perrottet, mengatakan, “Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu banyak orang dan tingkat vaksinasi kami yang tinggi memungkinkan kami untuk membuka kembali dengan cara yang aman dan penuh pertimbangan,” jelasnya.

Baca juga: Australia Canangkan Buka Penerbangan (Penumpang) ke Luar Negeri pada Desember

“Keluarga dan teman-teman di seluruh NSW sekarang dapat berkumpul dan juga menantikan untuk menyambut pulang warga Australia yang telah ke luar negeri untuk mencoba pulang,” tutupnya.

Sebetulnya, sebelum ini, Bandara Sydney sudah dibuka untuk penerbangan internasional. Setiap hari, hanya 400 penumpang internasional yang diizinkan masuk Australia. Hanya saja, ketika itu, tidaknya sangat mahal karena sedikitnya penerbangan. Tiket termahal bahkan sampai Rp400 juta. Sudah begitu, penumpang harus karantina mandiri 14 hari menggunakan biaya sendiri dan sederet prosedur lainnya.

Malam Hallowen, Pria Berkostum Joker Tusuk Penumpang dan Membakar Kereta

Halloween tahun ini di kereta Tokyo menjadi hal yang cukup mengerikan. Pasalnya seorang berkostum Joker mengacungkan pisau dan menikam satu orang penumpang di kereta dan itu dilakukannya sebelum menyalakan api. Polisi dan saksi mata yang melihat itu mengatakan, pelaku setelah melakukan tindakannya, melarikan diri dan melompat dari jendela.

Baca juga: Dalam Dua Hari, Tiga Kondektur Kereta di India Diserang Penumpang Tak Bertiket

Dalam insiden tersebut, departemen pemadam kebakaran Tokyo mengatakan ada 17 penumpang terluka dan tiga di antaranya mendapt luka serius. Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com (31/10/2021), pihak kepolisian Tokyo mengidentifikasi pelaku penyerangan adalah Kyota Hattori yang berusia 24 tahun, ia telah ditangkap setelah serangan hari Minggu dan sedang diselidiki atas dugaan percobaan pembunuhan.

Diketahui, pelaku naik kereta ekspres menuju Stasiun Shinjuku di Tokyo. Saat itu tiba-tiba dia mengeluarkan pisau dan menikam dada kanan penumpang pria berusia 70-an yang tengah duduk. Polisi menjelaskan bahwa pelaku mengatakan kepada pihak berwenang bahwa dia ingin membunuh orang dan mendapatkan hukuman mati. Saat melakukan hal itu, pelaku mengenakan pakaian cerah yakni kemeja hijau, jas biru dan mantel ungu layaknya Joker dalam komik Batman atau seseorang yang akan pergi ke acara Halloween.

Sebuah video yang diposting oleh seorang saksi di media sosial menunjukkan tersangka duduk, dengan kaki disilangkan dan merokok di salah satu gerbong kereta, mungkin setelah serangan itu. Pejabat polisi Tokyo mengatakan serangan itu terjadi di dalam kereta Keio dekat stasiun Kokuryo. Tayangan televisi menunjukkan sejumlah petugas pemadam kebakaran, petugas polisi dan paramedis menyelamatkan para penumpang, banyak di antaranya melarikan diri melalui jendela kereta.

Dalam satu video, penumpang berlari dari mobil lain yang terbakar. Untuk diketahui, tersangka, setelah menikam penumpang, menuangkan cairan menyerupai minyak dari botol plastik dan membakar, yang membakar sebagian kursi. Shunsuke Kimura, yang merekam video tersebut, mengatakan bahwa dia melihat penumpang berlari dengan putus asa dan ketika dia mencoba mencari tahu apa yang terjadi, dia mendengar suara ledakan dan melihat asap mengepul. Dia juga melompat dari jendela tetapi jatuh di peron dan bahunya terluka.

Baca juga: Makin Panas, Kereta Pakistan ‘Hilang’ di India Setelah Peristiwa Berdarah

“Pintu kereta ditutup dan kami tidak tahu apa yang terjadi, dan kami melompat dari jendela. Itu mengerikan,” kata Kimura.

Singapura Punya SAGE, Sistem Pemantau Kinerja dan Kemampuan Sopir Bus Kota

Operator bus kota – SBS Transit di Singapura punya cara canggih untuk memontir kinerja pada pengemudinya, yaitu dengan mengadopsi sistem yang diberi label SAGE (SAfe, Green and Eco).

Baca juga: Dubai Gunakan Virtual Reality Sebagai Media Pelatihan Pengemudi Bus

SAGE mampu memantau berbagai aspek kemampuan pengemudi bus, seperti jumlah putaran, pengereman, akselerasi, kecepatan, jumlah waktu yang dihabiskan untuk idling dan tikungan. Dalam unggahannya di Facebook, SBS Transit memperlihatkan berbagai aspek mengemudi bus yakni putaran dan pengereman yang berlebihan. Hal tersebut yang disinyalir dapat membuat perjalanan menjadi tidak nyaman.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (27/10/2021), mengemudi yang lebih baik ternyata membantu meningkatkan konsumsi bahan bakar dan menghemat biaya bahan bakar dalam jangka panjang. Untuk memudahkan pelacakan data mengemudi mereka dari SAGE, para pengemudi bus SBS Transit bisa menggunakan aplikasi.

Nantinya aplikasi tersebut akan memberitahu pada pengemudi area mana yang harus ditingkatkan. Tak hanya itu, penggunaan telematika bukanlah hal baru karena tidak terbatas pada SBS Transit. Untuk diketahui, Tower Transit sudah memasang perangkat telematika di dalam dasbor semua bus SBS Transit pada tahun 2016 lalu.

Perangkat ini terhubung ke tag RFID yang dikeluarkan untuk setiap pengemudi bus dan memperingatkan mereka tentang contoh mengemudi yang mengerikan dengan berkedip hijau, kuning atau merah. Tower Transit juga memulai skema penghargaan untuk pengemudinya pada tahun 2016, memberikan poin kepada setiap pengemudi untuk setiap insiden yang direkam pada perangkat telematika.

Mereka yang mencetak 20 poin atau lebih rendah dalam sebulan akan mendapatkan bonus S$130 atau sekitar Rp1,3 juta. Namun bagi mereka yang mencapai lebih dari 50 poin dikirim untuk kursus penyegaran.SMRT juga merupakan pengadopsi awal telematika, menerapkannya dalam armada busnya pada tahun 2014.

Selain berfungsi sebagai alat peringatan kecepatan, penggunaan telematika di bus SMRT memungkinkan Pusat Kontrol Operasi Bus operator untuk memantau lokasi yang tepat dari setiap bus dan jarak antar bus. Hal ini memungkinkan operator untuk mengontrol jadwal bus dengan lebih baik dan mengurangi penumpukan bus.

Telematika juga dapat memainkan peran yang lebih prediktif dalam membantu operator mengidentifikasi masalah sejak dini. Selama di Go-Ahead Singapore, operator bus menggunakan sistem telematika yang dibuat khusus yang dikembangkan bersama oleh Singtel. Sistem ini diterapkan di seluruh armada pada tahun 2020.

Baca juga: Transport for London Lacak Pergerakan Penumpang via Jaringan WiFi

Sistem telematika Go-Ahead Singapura memantau data waktu nyata utama seperti tekanan ban dan suhu mesin. Dengan menggunakan sensor tekanan ban alih-alih pengukur tekanan manual telah menyelamatkan pekerja pemeliharaan operator tiga jam per hari. Selain telematika, bus di Singapura juga dilengkapi dengan berbagai fitur teknologi seperti Anti-Fatigue System untuk mendeteksi kelelahan pengemudi dan Collision Warning System.






















Hari Ini, 41 Tahun Lalu, British Airways Stop Penerbangan Concorde dari Bahrain dan Singapura

Pada hari ini, 41 tahun lalu, bertepatan dengan 1 November 1980, maskapai British Airways resmi menyetop rute penerbangan pesawat supersonik Concorde dari Bahrain dan Singapura. Alasannya simpel, karena sepi penumpang.

Baca juga: Video: Dahsyatnya Mesin Concorde Saat Lepas Landas, Alarm Mobil Sampai Bunyi!

Dilansir france24, setelah bertahun-tahun berjalan tanpa ikatan resmi, sejarah pesawat supersonik Concorde akhirnya dimulai usai Pemerintah Perancis dan Inggris menandatangani perjanjian untuk bersama-sama merancang dan memproduksi jet supersonik komersial pertama pada 29 November 1962. Sebelumnya, penelitian terkait itu telah dimulai sejak tahun 1958.

Lama dinanti, prototipe pesawat supersonik Concorde buatan Perancis akhirnya sukses terbang perdana pada 2 Maret 1969. Ketika itu, pesawat lepas landas dari Bandara Toulouse dan mengudara selama 42 menit. Adapun prototipe pesawat Concorde 002 buatan Inggris sukses melakukan penerbangan perdananya sebulan kemudian.

Selang beberapa bulan, tepatnya pada 1 Oktober 1969, pesawat supersonik Concorde 001 buatan Perancis sukses memecahkan pengalang suara atau terbang melebihi kecepatan suara. Sebelum itu, pesawat Concorde belum menunjukkan klaim supersoniknya.

Setelah sukses terbang perdana dan terbang melebihi kecepatan suara, penerbangan komersial Concorde pun dimulai.

Pada 21 Januari 1976, pesawat supersonik Concorde Air France mulai melayani rute Paris – Rio de Janeiro dan British Airways melayani penerbangan supersonik rute penerbangan London – Bahrain. Pasang surut tentu terjadi di kedua rute ini.

Baca juga: Sejarah Concorde Mendarat-Lepas Landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sonic Boom Bikin Kaca Pecah?

Sambil terus mensukseskan rute yang telah dibuka, British Airways dan Air France terus melakukan penerbangan promosi ke berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Dikutip dari Majalah Angkasa Edisi November-Desember 1976, pesawat supersonik Concorde milik Air France dengan nomor registrasi F-BTSC pernah mendarat dan lepas landas di Bandara Internasinoal Halim Perdanakusuma untuk pertama kalinya pada 8 November 1976.

Sekilas tentang Concorde dengan nomor registrasi F-BTSC ini, pesawat pertama kali dikirim ke Air France pada bulan Mei 1975. Menariknya, pesawat ini adalah pesawat yang terlibat kecelakaan nahas tak lama setelah lepas landas di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Setelah dua tahun tersangkut masalah hukum, Concorde memulai penerbangan komersial reguler ke New York dari London dan Paris pada 22 November 1977.

Tak lama kemudian, rute ini segera menjadi penerbangan transatlantik paling favorit pilihan penumpang. Terbukti, walau harga tiketnya selangit, berkisar US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang, penerbangan di rute ini tetap ramai atau mencatat load factor tinggi.

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Barbara ‘Penata Rambut’ Harmer Resmi Jadi Pilot Wanita Pertama Concorde

Sayangnya, itu tak diikuti oleh rute-rute lainnya. Pada 1 November 1980, British Airways menghentikan layanan Concorde ke Bahrain dan Singapura karena kurangnya permintaan.

Dari keduanya, Singapura menjadi yang paling singkat diterbangi Concorde. Negeri Jiran itu tercatat mulai dilayani penerbangan supersonik Concorde pada tahun 1977.

Menipu! Terdengar Sangat “Eropa,” Padahal Stasiun ini Terletak di Jawa Timur

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Stasiun Glenmore? Mungkin kebanyakan dari Anda mengira ini merupakan salah satu stasiun yang berada di tanah Britania atau di daratan Eropa. Jika Anda menebak stasiun ini berada di luar negeri, maka Anda salah besar. Siapa sangka bahwa stasiun yang namanya terdengar sangat kebarat-baratan ini terletak di Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi. Wah, kok namanya bisa Bule banget, ya?

Baca Juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini masuk ke dalam kategori stasiun kelas III atau stasiun kecil, yang masuk ke dalam teritori Daerah Operasi (Daop) IX Jember. Stasiun dengan kode GLM ini bertengger di atas ketinggian +342 meter di Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi. Dari data ini, bisa kita simpulkan bahwa nama stasiun ini diambil dari nama kecamatan tempatnya berdiri.

Sebagai informasi tambahan, pada tahun 1910, daerah ini pernah dijadikan perkebunan tembakau oleh seorang Inggris yang bernama Ros Taylor. Ros sendirilah yang akhirnya menamai perkebunan tersebut dengan nama Glenmore. Mungkin inilah yang menjadi asal-usul mengapa nama daerah ini sangat kental dengan nuansa Eropa.

Kini, kecamatan Glenmore sendiri terdiri dari tujuh desa, yaitu Bumiharjo, Karangharjo, Margomulyo, Sepanjang, Sumbergondo, Tegalharjo, dan Tulungrejo.

Kembali ke pembahasan awal, masuknya Stasiun Glenmore ke dalam kategori kelas III membuat tidak memiliki banyak jalur, hanya ada dua jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Tidak hanya itu, stasiun ini juga hanya melayani kereta penumpang kelas ekonomi saja, baik komuter atau layanan biasa. Adapun layanan kereta dari stasiun ini, antara lain;

Kelas Ekonomi AC
1. Kereta Sri Tanjung, tujuan Surabaya bersambung Yogyakarta via Madiun-Solo dan tujuan Banyuwangi
2. Kereta Tawang Alun, tujuan Bangil bersambung Malang dan tujuan Banyuwangi
3. Kereta Probowangi, tujuan Surabaya dan tujuan Banyuwangi

Lokal/Komuter Ekonomi AC
1. Kereta Pandanwangi, tujuan Jember dan tujuan Banyuwangi

Baca Juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Ditinjau dari segi geografis, sebelah timur stasiun ini terdapat Stasiun Kempit yang kini sudah tidak lagi aktif. Penutupan tersebut didukung oleh berbagai alasan, diantaranya karena letaknya yang kurang strategis, okupansi penumpang yang minim, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Stasiun Sumberwadung (letaknya persis setelah Stasiun Glenmore). Sedangkan ke arah barat, terdapat Halte Krikilan yang nasibnya hampir serupa dengan Stasiun Kempit.

Jadi, jangan mengira stasiun ini berada di luar negeri lagi, ya!






















Beli Tas Pengepak di Online, Mudahkan Pramugari Bepergian dengan Banyak Pakaian

Berbagai macam cara orang untuk mengepak pakaian mereka saat bepergian. Mungkin banyak yang memiliki cara sama dan bisa saja ada terobosan baru sehingga saat pengepakan pakaian di dalam koper sehingga memuat lebih banyak dari semestinya.

Baca juga: 13 Tips Perjalanan Luar Negeri dengan Ransel

Setiap awak kabin bisa dikatakan selalu bepergian untuk menjalankan tugasnya pasti memiliki cara pengepakan pakaian mereka sendiri. Hal tersebut diungkapkan oleh Miguel Munoz yang sudah enam tahun menggeluti pekerjaan itu.

Dilansir KabarPenumpang.com dari nzherald.co.nz (20/10/2021), Munoz mengatakan, pengepakan pakaian dan barang lainnya dikemas dalam sebuah tempat. Dia mengatakan, membeli bungkus pengepakan itu secara online dan menjadi cara sempurna untuk menyatukan atau mengelompokkan item pakaian tertentu seperti kemeja atau kaus kaki.

“Anda tidak perlu mengambil banyak dan membongkar dan mengemas seluruh koper Anda setiap saat. Plus, pakaian ekstra akan dimasukkan ke dalam koper Anda karena lebih padat,” katanya.

Pengikutnya tampak setuju dan menyebut tempat pengepakan itu sebagai “pengubah permainan”. Bahkan tidak hanya bisa digunakan di penerbangan, tetapi tempat pengepakan tersebut bisa digunakan saat berkemah, hiking hingga perjalanan darat.

Tempat pengepakan itu praktis dan memudahkan Anda mengambil barang sesuai dengan yang sudah diatur dalam tas itu. Selain itu jika Anda ingin memasukkan banyak barang seperti seratus item ke dalam tas jinjing atau ransel, bisa dengan menggabungkan tempat pengepakan.

Pembawa acara TV Inggris dan mantan Gadis Bond Rachel Grant mengatakan, dirinya menggulung semua pakaian, menyimpas kaus kaki di dalam sepatu dan mengemasnya ke dalan tempat. Dia juga memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas jinjing kecil.

Baca juga: Tips Kemas Barang Saat Melancong dengan Koper Kecil

Namun, berbicara dengan penyimpanan Ratu Marie Kondo dan dia memiliki teknik yang berbeda sama sekali yakni menumpuk pakaian berdampingan daripada digulung atau di atas satu sama lain. Kondo menjelaskan bagaimana taktik ini mencegah beban diterapkan pada item bawah dan menyebabkan kerutan.






















Kenapa Hasil Tes PCR Lama Keluar? Ini Jawabannya

Setelah lama menjadi polemik, harga tes PCR kembali diturunkan pemerintah menjadi maksimal Rp275 ribu. Tetapi, tetap saja, untuk hasil kurang dari 1×24 jam, tarifnya bisa di atas harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Lantas, mengapa hasil tes PCR lama keluar?

Baca juga: Paling Murah, Garuda Indonesia Tawarkan Tes PCR Rp260 Ribu!

Bukan hanya Indonesia, di seluruh dunia, hasil tes PCR tidak bisa langsung keluar secepat tes swab antigen atau rapid tes. Alasannya kompleks dan erat hubungannya dengan ketersediaan serta kapasitas labortatorium uji molekuler tempat dimana spesimen diproses.

Dikutip dari khn.org, salah satu alasan mengapa masyarakat harus menunggu lebih lama untuk mengetahui hasil pemeriksaan PCR adalah, kapasitas laboratorium yang dinilai masih belum mencukupi. Keterbatasan ini tidak bisa dipaksakan, karena itulah hasil uji memakan waktu lebih lama.

Setiap hari, setiap laboratorium tentu memiliki target penyelesaian uji PCR. Namun, terkadang ada berbagai kondisi yang mengakibatkan petugas tidak berhasil memenuhi target uji, sehingga mau tidak mau harus menunggu lebih lama dari waktu sebenarnya.

Belum lagi, tak semua klinik atau pusat kesehatan mempunyai laboratorium untuk memproses sampel hasil swab PCR. Pada kasus ini saja, terkadang proses mengirim sampelnya saja sudah berjam-jam atau seharian. Belum lagi saat di laboratoriumnya, sampel harus menunggu banyak untuk diuji dan mendapatkan hasil.

Saat proses pengujian pun, waktunya bisa berbeda-beda. Tergantung mesin PCR, perlatan, dan tenaga medis yang memprosesnya.

Disebutkan, setelah sampel swab PCR diambil, spesimen diproses RNA virus diekstrak atau dibersihkan untuk membantu mengatur gen. Pada laboratorium uji molekuler, proses ekstraknya dilakukan dengan cara otomatis dan lebih cepat.

Di Indonesia, menurut Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir, ada dua macam mesin tes PCR; PCM (alat seperti mikroskop dengan menggunakan catridge) dan NAT (teknologi uji saring yang mampu mendeteksi keberadaan DNA/RNA virus).

Hasil tes PCR menggunakan mesin PCM bisa keluar dalam waktu sekitar dua jam, sedangkan PCR umum yang digunakan laboratorium hasilnya minimal delapan jam, tergantung kapasitas dan variabel lainnya, seperti kekurangan reagen, tes kit, dan lain sebagainya.

Baca juga: Kapasitas Penumpang Pesawat Boleh 100 Persen tapi Wajib PCR, Pengamat: Mungkin Stok Masih Banyak

Di masa awal pandemi Covid-19, hasil tes PCR keluar dengan cepat atau kurang dari 1×24 jam sangat sulit ditemukan. Bahkan hampir tidak ada. Penyebabnya itu tadi, kekurangan reagen, tes kit, mesin PCR, kapasitas uji, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, saat ini, hasil tes PCR keluar dalam tempo dua-tiga jam sudah banyak tersedia, sekalipun memang harganya bisa saja lebih mahal dari yang sudah ditetapkan pemerintah atau di atas Rp275 ribu.