Paling Murah, Garuda Indonesia Tawarkan Tes PCR Rp260 Ribu!

Garuda Indonesia melalui anak usahanya Aero Globe Indonesia, bekerja sama dengan KPH Lab (Kartika Pulomas Hospital Laboratories), menawarkan tes PCR dan rapid antigen dengan harga super murah, masing-masing Rp260 ribu dan Rp45 ribu. Kedua tes Covid-19 itu bisa didapat di seluruh jaringan Rumah Sakit dan Klinik KPH Lab yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca juga: Kapasitas Penumpang Pesawat Boleh 100 Persen tapi Wajib PCR, Pengamat: Mungkin Stok Masih Banyak

Lebih lanjut, promo khusus tes Covid-19 tersebut berlangsung hingga 31 Desember 2021 dan berlaku bagi seluruh penumpang domestik dan internasional, dengan periode pembelian tiket dan periode penerbangan 20 September 2021 hingga 31 Desember 2021.

Untuk mendapatkan harga khusus tersebut para pengguna jasa dapat melakukan pemesanan tes Covid-19 sesuai dengan preferensi di kantor penjualan Garuda Indonesia ataupun melalui Whatsapp Service Aero Globe Indonesia (AGLine) di nomor +62 877 7746 1807 untuk selanjutnya mendapatkan service voucher yang dapat ditukarkan di klinik penyedia layanan yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, program harga khusus tersebut selain merupakan upaya maskapai untuk memberikan nilai tambah layanan penerbangan bagi para penumpang yang akan melaksanakan perjalanan di masa pandemi ini, juga merupakan bentuk komitmen Garuda Indonesia untuk mendukung langkah percepatan penanganan pandemi yang dilaksanakan Pemerintah.

“Di tengah langkah penanganan pandemi melalui sejumlah penyesuaian ketentuan persyaratan perjalanan, promo khusus tes Covid-19 ini menjadi wujud komitmen kami untuk senantiasa hadir, memberikan kemudahan aksesibilitas layanan penerbangan bagi masyarakat yang akan merencanakan perjalanan di era kenormalan baru ini,” jelasnya.

“Bagi kami, menghadirkan layanan penerbangan yang aman, nyaman dan terpercaya bagi seluruh pengguna jasa adalah prioritas kami,” tambahnya, melalui keterangan resmi perusahaan.

Sayangnya, PCR dan antigen murah dari Garuda Indonesia tidak ada keterangan berlaku berapa hari, entah itu 2 x 24 jam atau 3 x 24 jam, sebagaimana aturan baru dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 27 Oktober 2021 menetapkan tarif tertinggi tes RT PCR pada harga Rp275 ribu untuk daerah di Jawa-Bali, dan Rp300 untuk daerah luar Jawa-Bali mulai 16 Agustus 2021.

Penurunan tarif tertinggi itu terhitung merupakan perubahan tarif ketiga. Kemenkes pada 16 Agustus lalu menetapkan tarif tertinggi tes RT PCR pada harga Rp495 ribu untuk daerah di Jawa-Bali, dan Rp525 ribu untuk daerah luar Jawa-Bali.

Baca juga: Catat! Mulai 12 Juli Hanya Hasil PCR dari 742 Lab yang Bisa Dipakai untuk Naik Pesawat

Patokan harga terhitung turun dari harga awal yang ditetapkan Kemenkes pada 5 Oktober 2020 lalu dengan batasan tarif tertinggi Rp900 ribu untuk pemeriksaan RT PCR. Batasan tarif tersebut berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan RT-PCR atas permintaan sendiri atau mandiri.

Tes PCR menjadi syarat penumpang pesawat untuk rute domestik Jawa dan Bali belakangan menjadi polemik di masyarakat. Banyak yang berpendapat aturan tersebut hanya untuk kepentingan bisnis semata, bukan tulus ikhlas menekan laju penyebaran Covid-19.

Deretan Kecelakaan Fatal TransJakarta, Didominasi Kecelakaan Tunggal

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) saat ini memiliki 13 koridor dan sudah mulai beroperasi sejak tahun 2004. Menjadi salah satu transportasi publik Pemprov DKI Jakarta, TransJakarta menjadi solusi mengatasi kemacetan. Tetapi sayangnya armada bus TransJakarta memiliki banyak masalah dan membuatnya tak baik-baik saja.

Baca juga: Empat Rute TransJakarta Mulai Dioperasikan Kembali Setelah Dihentikan Karena Pandemi

Seperti yang terjadi pada Senin (25/10/2021) pagi, terjadi kecelakaan antar dua bus TransJakarta yang menewaskan dua orang. Kecelakaan ini terjadi di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur. Dua armada itu milik operator Bianglala Metropolitan dengan nomor bodi BMP 211 dan BMP 240.

Kecelakaan ini menjadi fatal karena pertama kalinya terjadi tumbukan antar bus TransJakarta di dalam jalur. Padahal saat itu, bus di depan tengah berhenti dan harusnya bus dibelakang mengurangi kecepatan serta mengerem untuk menghindari tabrakan.

Sayangnya itu tidak terjadi sehingga bus belakang menabrak bagian belakang bus yang ada di depannya. Selain dua orang meninggal, 37 orang lainnya mengalami luka mulai dari ringan hingga berat dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Selain itu, pada 2020 bus TransJakarta bertabrakan dengan Bajaj dan menewaskan satu orang penumpang Bajaj itu. Insiden ini awalnya saat Bajaj melintas dari arah Lodan menuju ke arah persimpangan dan ternyata sebuah bus TransJakarta juga melintas.

Pengemudi Bajaj sempat mengerem tetapi tidak berhenti hingga akhirnya terjadi tabrakan antara keduanya. Selain satu penumpang tewas, satu penumpang lain dan pengemudi Bajaj mengalami luka dan dilarikan ke rumah sakit.

Bahkan di tahun 2016, 2017 dan 2018 juga banyak insiden yang dibuat oleh TransJakarta. Sayangnya dari data yang ada, tidak disebutkan kecelakaan tunggal atau dengan kendaraan lainnya.

Dari data tersebut, banyak didapatkan kecelakaan tunggal yang terjadi pada bus TransJakarta di mana, pengemudi menabrak separator. Selain itu juga menghindari penyeberang jalan dan membuat pengemudi harus banting setir dan membuat bus menabrak separator dan sebuah pohon.

Baca juga: PPKM Level 2, TransJakarta Mulai Berlakukan Kapasitas Angkut Penumpang 100 persen

Insiden ini juga menewaskan seorang warga karena tertimpa pohon yang tertabrak. Berkaca dari berbagai macam insiden yang terjadi pada bus TransJakarta ada empat tipe kesalahan yakni lalai dalam melaksanakan tugas, melakukan tugas dengan cara salah walaupun niat sudah benar, melaksanakan kegiatan tidak sesuai aturan dan tidak akurat dalam menilai situasi karena ketidakcukupan informasi.






















Video: Dahsyatnya Mesin Concorde Saat Lepas Landas, Alarm Mobil Sampai Bunyi!

Sudah bukan rahasia kalau pesawat supersonik Concorde memiliki kekuatan mesin yang begitu dahsyat. Tetapi, seberapa dahsyat dan bising mesin Concorde?

Baca juga: Sejarah Concorde Mendarat-Lepas Landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sonic Boom Bikin Kaca Pecah?

Di masanya, pesawat supersonik Concorde begitu menyita perhatian. Setiap hari, surat kabar, televisi, dan sejenisnya tak ada kata lelah meliput dan menginformasikan segala hal tentang Concorde dan turunannya. Namun, siapa nyana, 27 tahun setelah terbang perdana, sederet masalah pada pesawat ini akhirnya mengakhiri era penerbangan supersonik.

2 Maret 1969 merupakan kali pertama Concorde dengan prototipe pertamanya, Concorde 001, membelah angkasa. Kala itu, langit Toulouse di Perancis menjadi saksi bisu dari terbangnya prototipe ini selama kurang lebih setengah jam lamanya.

Sejak saat itu, dibutuhkan waktu sekira tujuh tahun lamanya bagi perusahaan yang dikembangkan oleh Aerospatiale (Perancis) dan British Aircraft Corporation untuk bisa memulai layanan komersialnya.

Penerbangan penumpang terjadwal perdana dari Concorde ini terjadi pada 21 Januari 1976, dimana maskapai Air France menjabani rute penerbangan Paris – Rio de Janeiro, dan British Airways yang melakoni rute penerbangan London – Bahrain.

Setelah penerbangan perdana sampai penerbangan penumpang berjadwal perdana, pamor Concorde terus meningkat sampai di puncak tertinggi. Namun, sederet masalah satu per satu menghampiri dan klimaksnya saat Concorde Air France (AF) dengan nomor penerbangan 4590 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Charles de Gaulle Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Selain memiliki masalah teknis, Concorde juga memiliki masalah non teknis. Tetapi ini tidak ada kaitannya dengan penerbangan secara langsung. Masalah tersebut tak jauh-jauh dari suara mesin Concorde yang menggelegar.

Dalam sebuah video unggahan tahun 2017 oleh Kanal YouTube Heathrow Aircraft, terlihat dan terdengar jelas bagaimana perbedaan suara deru mesin Rolls-Royce/Snecma Olympus 593 pesawat supersonik Concorde dan mesin pesawat lainnya semisal Boeing 777 British Airways.

Video diambil dari Colnbrook Village, dekat ujung Heathrow’s Runway 27 Right, menggunakan camcorder VHS. Teknologi kamera recorder di masa itu sudah pasti belum sebagus sekarang.

Alhasil, bagi sebagian avgeeks, termasuk sang perekam yang mengaku sebagai Steve, video tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan betapa dahsyatnya suara mesin Concorde yang menggelegar.

Saking kerasnya suara mesin Concorde, alarm mobil diklaim sampai bunyi, meski belum ada bukti video terkait ini. Padahal, tak lama setelah lepas landas, afterburner atau mesin dimatikan untuk menghindari kebisingan berlebih.

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York

Di masa sekarang, tak ada pesawat yang saking bisingnya membuat alarm bunyi, kecuali suara petir mengguntur. Mungkinkah suara mesin Concorde sama dengan suara petir?

“Bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mengalami secara pribadi dan dekat, suara Concorde lepas landas, besarkan volume di tablet/ponsel Anda. Ini masih tidak benar-benar adil – itu adalah deru vulkanik yang luar biasa – sebagai saksi efek Concorde selalu pada alarm mobil di sekitar take off run!” tulis Steve dalam deskripsi video tersebut.

Jerman Hadirkan Coworking Space di Stasiun Pusat Berlin, Tarifnya Per Menit

Coworking space atau ruang kerja bersama yang bisa digunakan siapa pun dan kapan pun saat ini semakin menjamur. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, di mana banyak orang tak lagi ke kantor untuk bekerja melainkan dari luar ruangan agar meminimalisir penularan virus corona.

Baca juga: Coworking Space di Stasiun MRT Bundaran HI Resmi Dibuka dan Gratis Hingga 31 Desember

Jerman, juga memilik ruang kerja bersama di Stasiun Pusat Berlin yang mana ini dikelola oleh Deutsche Bahn atau DB dan baru saja meluncurkan empat fasilitas kerja sama baru di stasiun lain yang ada di Jerman. Dilansir KabarPenumpang.com dari railway-news.com (26/10/2021), tujuan meluncurkan ruang kerja bersama ini adalah agar pelanggan merasa nyaman dan dapat bekerja saat bepergian.

Pelanggan cukup membayar untuk akses ke layanan melalui aplikasi Everyworks gratis yang tersedia untuk perangkat Apple dan Android. Selain itu pengguna harus membayar 16 sen per menit. Untuk diketahui, Hannover adalah ruang kerja pertama yang dibuka dan akan diikuti bulan depan oleh Frankfurt am Main.

Di mana pelanggan bisa memanfaatkan ruang kerja bersama Design Office d stasiun utama Karlsruhe dan Nuremberg. Proyek Everyworks adalah bagian dari inisiatif Kota Cerdas DB yang lebih luas untuk mempromosikan perjalanan kereta api yang ramah lingkungan dengan menyediakan layanan baru dan lebih baik yang membuatnya lebih menarik untuk bepergian dengan kereta api.

Dr Meike Niedbal, Kepala inisiatif Smart City DB, mengatakan, pekerjaan mandiri menjadi semakin penting setelah satu setengah tahun terakhir.

“Kami telah memperhatikan bahwa, selain kantor klasik dan kantor di rumah, kami juga membutuhkan peluang kerja yang fleksibel dan profesional di mana saja. Dengan setiap pekerjaan kami menawarkan tempat kerja modern di lokasi paling sentral di kota yakni stasiun kereta api,” ujarnya.

Baca juga: Aliante, Kursi Tunggu Bandara yang Bisa Jadi Meja Kerja ala Coworking Space

Niedbal menambahkan, dengan nilai tambah ini mereka membuata stasiun lebih menarik dan di atas segalanya. Ini juga memberikan insentif lebih lanjut kepada orang-orang yang bepergian dan melakukan perjalanan bisnis untuk beralih ke kereta api yang ramah iklim.

Mungkin Cuma Bercanda, Tapi Jangan Sebut ‘Kata-kata’ Ini Pada Awak Kabin

Ada beberapa hal yang tabu dilakukan penumpang kepada awak kabin ketika dalam penerbangan. Apalagi kondisi kerja yang menantang seperti saat ini bisa membuat ketegangan dan kecemasan tersendiri. Bahkan beberapa kata yang dipilih dengan buruk juga bisa disalah artikan.

Baca juga: Dirjen Perhubungan Udara: “Akan Ada Sanksi Berat Jika Lontarkan Lelucon Bom”

Seperti saat penumpang tahu mereka sedang bercanda atau hanya mencoba membuat percakapan konyol. Dilansir dari bestlifeonline.com (25/10/2021), Willlis Orlando, Senior Product Operations Specialist Scott mengatakan, ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan kepada awak kabin. Berikut kata yang tidak boleh diucapkan pada pramugari.

Jangan pernah mengatakan “Saya mabuk” 
Orlando mengatakan, Anda tidak boleh mengatakan “Aku mabuk.” Meski itu jelas hanya bercandaan mengatakan mabuk, hal itu adalah ide yang buruk dan dapat memiliki konsekuensi yang serius.

“Tentu saja banyak dari kita menjadi sangat ramah dengan awak kabin dan ingin kita ingin berteman dengan mereka dan membuat lelucon semacam ini dan kita merasa ringan—dan mungkin kita membuat lelucon tentang mabuk,” katanya.

Di bawah undang-undang federal, Orlando menjelaskan, “mereka berhak menendang Anda jika Anda mabuk.” Faktanya, Administrasi Penerbangan Federal melarang Anda meminum minuman keras apa pun yang dibawa sendiri ke dalam pesawat, sebagai cara untuk mencegah penumpang menghirup udara secara berlebihan. Mungkin Anda hanya bercanda mengatan tentang apa yang dikonsumsi. Tetapi itu akan menempatkan awak kabin di posisi sulit saat Anda mengatakannya dengan keras.

“Jangan menempatkan mereka pada posisi harus membuat keputusan apakah Anda aman untuk tetap di kapal. Bahkan jika kamu mabuk, tutup mulutmu,” kata Orlando.

Tentu saja, awak kabin akan berhenti melayani jika mereka mengira Anda mabuk. hanya itu, Anda juga bisa dikeluarkan dari penerbangan lanjutan.

“Ada juga hal-hal yang bisa mereka lakukan untuk menghukum Anda. Mereka bisa memasukkan Anda ke dalam daftar penumpang bermasalah—dan ini semua bisa menjadi kesalahpahaman jika Anda membuat lelucon sederhana,” kata Orlando.

Jangan pernah bercanda tentang kekerasan
Ini mungkin tidak perlu dikatakan lagi, tetapi kekerasan dan terorisme juga tidak boleh dijadikan bahan lelucon di pesawat. Dalam banyak kasus, candaan seputar terorisme, seperti celetukan soal bom bisa berujung pidana pada penumpang.

Baca juga: Awak Kabin ‘Ancam’ Semprot Lysol ke Bokong Penumpang yang Batuk

Lelucon seputar Covid
“Lelucon Covid, lelucon tentang masker, meminta pengecualian untuk aturan masker, orang-orang ini bekerja keras, dan hal terakhir yang mereka inginkan adalah bertanya-tanya apakah Anda bercanda atau serius tentang apakah Anda akan mematuhinya. Anda mungkin berpikir itu ringan dan jinak, tetapi mereka bekerja sangat keras. Jadi beri mereka istirahat,” kata Orlando.






















Mangkrak dan Senasib dengan Bandara Kertajati, Inilah Sejarah Panjang Bandara JB Soedirman

Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman di Kabupaten Purbalingga jadi sorotan. Hal itu terjadi usai Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, membeberkan kondisi terkini tentang bandara tersebut. Disebutnya, bandara yang baru beroperasi pada 1 Juni lalu itu sudah tak ada penerbangan lagi, mengingat Citilink, satu-satunya maskapai yang terbang ke sana, sementara waktu membekukan penerbangan karena sepi.

Baca juga: Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019

“Saya mau book minggu depan ternyata sudah tidak ada penerbangan. Saat saya konfirmasi ke Citilink memang stop terbang. Semoga nasibnya tidak seperti Bandara Kertajati,” tulisnya pada postingan Facebook, Senin (25/10).

Sindiran pengamat yang juga mantan ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini agar tak senasib dengan Bandara Kertajati memang bukan isapan jempol.

Sebab, geliat wilayah di sekitar Bandara JB Soedirman, seperti Banjarnegara, Kebumen, Banyumas, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Tegal, dan Wonosobo, memang tak sebesar wilayah-wilayah seperti Bali, Surabaya, Jakarta, dan sebagainya. Itu pula yang terjadi pada Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat (BIJB) hingga menjadikannya mangkrak dan dimanfaatkan jadi bengkel pesawat.

Terlepas dari polemik dan masa depan Bandara JB Soedirman akan senasib dengan Bandara Kertajati atau tidak, yang pasti, Bandara JB Soedirman merupakan bandara besar di masanya. Bandara ini bahkan pernah menjadi saksi sejarah atas upaya diplomasi Indonesia untuk memperoleh kedaulatan internasional usai Agresi Militer Belanda I dan II.

Dilansir dari laman resmi TNI AU, Bandara JB Soedirman, yang sebelumnya bernama Pangkalan TNI AU Wirasaba atau Lanud Wirasaba, dibangun pada tahun 1938 oleh Belanda. Ketika dibangun, lokasinya memang strategis untuk pertahanan militer udara utama di wilayah Karesidenan Banyuman, bukan untuk transportasi udara sebagaimana Bandara Kemayoran pada masa itu.

Tahun 1942-1945, Lanud dikuasai oleh Jepang. Tahun 1945-1947, dengan bertekuk lututnya Jepang, Pangkalan Udara Wirasaba dikuasai oleh pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang pertama adalah Sersan Mayor Udara Soewarno.

Di masa tahun 1947-1950, setelah Jepang bertekuk lutut, maka Belanda kembali akan merebut RI. Dengan tidak adanya pasukan Pertahanan Pangkalan di Pangkalan Udara Wirasaba, maka dengan mudah pangkalan dikuasai Belanda.

Di masa inilah, Pangkalan Udara Wirasaba, yang diambil dari nama seorang pangeran yaitu Pangeran Wirasaba, Bupati Banyumas sekaligus pendiri Daerah Tingkat II Purbalingga yang sangat berkharisma, menjadi saksi upaya diplomasi Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Baca juga: Ketimbang ‘Sepi Merana,’ Bandara Kertajati Bakal Disulap Jadi Pusat Bengkel Pesawat

Dari foto-foto koleksi Nationaal Archief Belanda, disebutkan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku perwakilan Pemerintah Republik Indonesia bertemu dengan anggota Komisi Tiga Negara (KTN), Australia, Belgia, serta Amerika Serikat, untuk berdiplomasi mengenai pengakuan kedaulatan RI pasca perjanjian Renville.

Selain itu, Pangkalan Udara Wirasaba juga pernah mencatat sejarah penting lain, seperti kedatangan jurnalis internasional dari New York Herald Tribune, Dorothy Brandon, pada 1949, kunjungan Wakil Konsul/Diplomat Cina ke wilayah Karesidenan Banyumas pada 10 Oktober 1947, pengembalian seorang serdadu Inggris berkebangsaan India bernama Rambal Sheng, sampai kunjungan petinggi militer Belanda Jenderal de Waal pada 6 April 1948.

Inilah Bonza, Maskapai Ultra LCC Baru dari Australia

Australia akhirnya punya maskapai penerbangan berbiaya rendah (LCC) independen alias tidak terafiliasi dengan grup maskapai besar. Ini terjadi usai maskapai baru, Bonza, berhasil mendapat Air Operator Certificate (AOC) dari regulator Negeri Kangguru.

Baca juga: Ecuatoriana Airlines, Maskapai Baru yang Lahir Saat Maskapai Lain Terancam Bangkrut

Bila tak ada aral melintang, Bonza akan memulai perjalanan udara berjadwal pertama dalam beberapa bulan ke depan, meramaikan pasar LCC di Australia yang sebelumnya dimonopoli oleh Jetstar, anak perusahaan maskapai nasional Qantas.

Dilansir Newshub, Bonza besar kemungkinan akan menghindari rute ke kota-kota besar di Australia, yang selama ini sudah dikuasai Qantas dan Virgin Australia.

Sebagai gantinya, maskapai yang mengklaim lebih dari sekedar LCC atau ultra LCC ini akan memaksimalkan rute-rute lain ke dan dari tujuan populer lainnya di seantero negeri, menawarkan lebih banyak perjalanan melalui skema penerbangan point-to-point, bukan penerbangan hub. Ini tentu menarik mengingat Australia termasuk dalam 15 pasar penerbangan domestik terbesar di dunia.

Kolaborasi tiket super murah dan penerbangan point-to-point dari dan ke tujuan-tujuan populer dinilai akan menjadi satu kesatuan penting dalam merebut hati penumpang.

Berbeda dengan maskapai LCC pada umumnya di dunia, termasuk maskapai LCC baru semisal Super Air Jet, yang menggunakan pesawat-pesawat Airbus, maskapai LCC baru Bonza justru mengandalkan menggunakan Boeing 737-800.

“Misi Bonza adalah untuk mendorong lebih banyak perjalanan dengan menyediakan lebih banyak pilihan dan tarif ultra-rendah (ultra LCC), terutama ke tujuan rekreasi di mana perjalanan sekarang sering terbatas pada koneksi melalui kota-kota besar,” kata pendiri sekaligus CEO Bonza, Tim Jordan.

“Bonza akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi semua warga Australia, tetapi khususnya bagi komunitas regional dengan menyediakan rute baru dan peluang perjalanan yang lebih besar,” jelasnya.

“Bonza juga akan memainkan peran utama dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 Australia – menciptakan lapangan kerja, merangsang perjalanan dan belanja konsumen, serta membantu kawasan masyarakat, terutama yang mengandalkan pariwisata, bangkit kembali,” paparnya.

Lebih lanjut, CEO yang malang melintang di industri penerbangan selama 25 tahun bersama Cebu Pacific, Virgin Blue, dan FlyArystan -maskapai LCC pertama di Asia Tengah- ini akan didukung dengan kekuatan finansial perusahaan investasi swasta AS, 777 Partners.

Baca juga: Industri Penerbangan Loyo, ‘Warren Buffet-Nya’ India Malah Dirikan Maskapai Ultra LCC Baru

Perusahaan yang memiliki maskapai penerbangan populer di Kanada dan Asia Tenggara ini juga akan meresmikan Bonza secara langsung, yang diperkirakan akan berlangsung pada awal 2022.

“Ada peluang besar untuk berbuat baik dan melakukannya dengan baik dengan mendemokratisasikan perjalanan udara melalui biaya yang lebih rendah. Kami ingin meningkatkan pilihan konsumen dan membuat perjalanan lebih terjangkau dan lebih mudah diakses oleh semua warga Australia,” ujar Josh Wander, Managing Partner 777 Partners.

Baru 3 Tahun Beroperasi, Moskow Kini Punya 800 Armada Bus Listrik

Bus listrik mulai merambah transportasi dunia. Selain mengurangi emisi karbon, kebisingan dalam perjalanan pun berkurang. Sebagian besar negara di dunia, juga sudah mulai menggunakan bus listrik dan beberapa diantaranya baru ada yang melakukan uji coba.

Baca juga: Satu Armada Bus LIstrik Kembali Diuji Coba TransJakarta di Rute Blok M–Balaikota

Seperti Moskow sudah memiliki dan mengoperasikan bus listrik sejak 2018, dan kini ibu kota Rusia itu tengah merayakan peluncuran bus listrik mereka yang ke 800. Tak hanya itu, Moskow juga memiliki tujuan untuk menambahkan armada bus listrik mereka menjadi seribu dan akan beroperiasi pada akhir tahun 2021.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (14/10/2021), bus listrik ke 800 itu telah melintasi jalan-jalan ibu kota Rusia. Bus listrik itu dirakit di eco-plant SVARZ oleh KAMAZ, yang dibuka pada April 2021.

Bus listrik ke 800 tersebut dimiliki oleh Mosgortrans yang adalah operator utama angkutan umum perkotaan di Moskow yang kini beroperasi di selatan kota. Meski bus listrik baru hadir tiga tahun, tetapi transportasi ini sudah diluncurkan di 61 rute bus dan menempuh 58 juta km serta mengangkut lebih dari 128 juta penumpang.

Memiliki bus listrik dengan jumlah ratusan dan ditargetkan seribu di akhir tahun, membuat Moskow secara aktif mengembangkan infrastruktur pengisian daya. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 150 struktur pengisian di kota.

Pihak berwenang mengatakan, hingga akhir 2023 mendatang, jumlah infrastruktur pengisi daya akan meningkat hingga 500 stasiun. Kemudian secar resmi, pemerintah Moskow akan meluncurkan 200 lebih kendaraan listrik baru menjelang akhir tahun 2021 dan akan ada seribu bus listrik yang beroperasi di Moskow pada tahun 2022.

“Pada tahun 2021, Moskow telah berhenti membeli bus diesel untuk operator angkutan umum permukaan. Saat ini, kota ini berfokus pada alternatif ramah lingkungan dan mengikuti tren pasar kendaraan listrik di seluruh dunia,” kata Maksim Liksutov, Wakil Walikota Moskow untuk Transportasi.

Baca juga: VinBus, Inilah Model Bus Listrik Modern Produksi Vietnam

Dia mengatakan, menurut Departemen Transportasi Moskow Moskow dianggap memiliki armada bus listrik terbesar di Eropa. Sebab semua rute kota akan dioperasikan oleh bus ramah lingkungan pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah Moskow akan membeli lebih dari 500 bus listrik per tahun, serta mengembangkan hidrogen yang inovatif dengan model bus buatan bersama KAMAZ dan RUSNANO.

Hari Ini, 110 Tahun Lalu, Sarah van Deman Jadi Penumpang Pesawat Wanita Pertama dalam Sejarah

Pada hari ini, 110 tahun yang lalu, bertepatan dengan 27 Oktober 1909, Sarah van Deman berhasil menjadi penumpang pesawat pertama dalam sejarah kedirgantaraan Amerika Serikat (AS). Ketika itu, ia mendampingi Wilbur Wright (kakak dari Orville Wright) saat menerbangkan pesawat yang dirakit oleh Wright Bersaudara.

Baca juga: Hari Ini, Raymonde de Laroche Jadi Pilot Wanita Berlisensi Pertama di Dunia, Terinspirasi Wright Bersaudara

Dikutip dari Arsip Nasional Amerika Serikat, di tahun 1909, geliat dunia aeronautika AS memang sedang tinggi-tingginya. Di antara banyak tempat, penerbangan pesawat (umumnya berupa eskperimen) salah satunya dilakukan di lapangan penerbangan Signal Corps Angkatan Darat Amerika Serikat di College Park, Maryland; termasuk penerbangan bersejarah Wilbur Wright dan Sarah van Deman.

Sarah sendiri merupakan penduduk asli Dixon, Illinois, AS. Tetapi, bukan itu yang membuatnya melenggang mendampingi Wilbur Wright menjadi penumpang pertama dalam sejarah penerbangan AS, melainkan statusnya sebagai anak dari seorang perwira intelijen militer AS, Kapten Ralph Henry Van Deman, sekaligus juga istri dari perwira Angkatan Darat AS.

Tak jelas kapan Sarah dan Wilbur Wright termasuk -Katharine Wright adik dari Wrigth bersaudara- bertemu.

Namun, besar kemungkinan, keduanya bertemu di Fort Myer, Virginia, pada September 1908, saat menjenguk Orville Wright setelah kecelakaan terbang pada 9 September 1908 dan menewaskan Letnan Thomas E. Selfridge dari Angkata Darat AS. Ia adalah korban tewas pertama dalam kecelakaan pesawat bertenaga.

Usai pertemuan itu, Saran van Deman mulai akrab dengan ketiganya. Terlebih, ia juga bukan orang sembarangan. Keakraban Sarah dan Wright bersaudara serta Katharine makin dalam saat mereka menghadiri undangan makan malam Sarah dan keluarganya. Makin akrab lagi saat Sarah mulai rutin menghadiri penerbangan Orville Wright di Fort Myer.

Di satu momen, di sela-sela penerbangan Orville, Sarah van Deman berbicang banyak dengan Katharine terkait sensasi terbang di ketinggian dengan kecepatan tinggi, mengingat Katharine atau Ms. Wrigth pernah merasakannya di Perancis pada tahun 1909.

Sampai di sini, tak begitu jelas apakah Katharine terbang sebagai pilot atau penumpang. Bila sebagai penumpang, seharusnya ia yang menyandang gelar sebagai penumpang wanita pertama dalam sejarah dirgantara AS.

Sejak diceritakan sensasi terbang, Sarah van Deman jadi sangat tertarik untuk menjajal semua yang diceritakan Ms. Wright. Atas permintaan Ms. Wright, Wilbur pun akhirnya mau mengajak seorang wanita terbang. Sebelumnya, Wilbur tidak pernah mau mengajak seorang wanita terbang dengan alasan apapun. Tetapi, spesial atas permintaan adiknya, ia pun mau.

Baca juga: Hari Ini, 107 Tahun Lalu, Film Dokumenter Pertama yang Diambil dari Udara Terjadi Demi Raja Inggris

Setelah persiapan matang, dibantu prajurit dari Signal Corps Angkatan Darat, Wilbur dan Sarah van Deman pun sukses terbang di atas lapangan College Park di ketinggian 60 kaki dengan kecepatan 60mph selama empat menit.

“Jeritan kecil terdengar sesaat sebelum pesawat Wright 1909 Military Flyer jatuh menghantam bumi,” tutur salah satu sejarawan di sektor aviasi global, David Trojan. Sarah van Deman meninggal pada tahun 1967 di usianya yang ke 86 tahun.

7 Pendaratan Bandara Paling Eksotis di Dunia, Nomor 6 Tak Disangka

Jelang mendarat di sebuah bandara, pesawat hanya berada ratusan kaki di atas daratan. Ini biasanya menyajikan pemandangan luar biasa menawan dari dalam kabin, terutama bagi mereka yang duduk dekat jendela.

Baca juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!

Masing-masing bandara mungkin bisa memiliki teknologi kebandarudaraan yang sama. Tetapi, ‘lukisan’ Tuhan yang berada di sekitar bandara tersebut dipastikan berbeda. Jelang mendarat, ada bandara yang menawarkan pemandangan perkotaan, pedesaan, laut, pegunungan, kanal, kelap-kelip lampu (pendaratan malam hari), dan sebagainya. Pertanyaannya, bandara mana saja?

Dikutip dari CNN Internasional, berikut daftar tujuh pendaratan bandara paling eksotis di dunia yang menawarkan pemandangan luar biasa menakjubkan.

1. Rio de Janeiro, Brasil

Bandara Santos Dumont menawarkan pemandangan Teluk Guanabara. Foto: CNN Internasional

Anugerah berupa ‘Roller coaster’ di atas perbukitan, dilengkapi pegunungan yang rimbun, dan dibatasi oleh garis pantai berpasir berbatasan langsung dengan Samudra Atlantik, membuat Rio de Janeiro masuk jadi kota dengan alam paling indah di dunia.

Mendarat di kota ini biasanya menjadi salah satu momen favorit penumpang saat berwisata, terlebih bila pesawat mendarat di Bandara Santos Dumont yang berada tepat di pinggir Teluk Guanabara. Penumpang bakal disuguhi pemandangan terbaik berupa hamparan pemukiman berwarna putih, Gunung Sugarloaf, pasir putih, dan birunya laut.

2. Male, Maladewa

Pemandangan jelang mendarat di Bandara Internasional Velana, tak jauh dari Male di Pulai Hulhule, Maladewa. Foto: CNN Internasional

‘Surga’ yang dititipkan ke Maladewa bahkan sudah bisa dilihat penumpang pesawat jelang mendarat di Bandara Internasional Velana, tak jauh dari Malé di pulau Hulhulé. Dari sini, pemandangan birunya laut Samudera Hindia beserta atolnya sangat indah dipandang mata.

3. Venesia, Italia

Dari udara, kilauan kanal Venesia akan menjadi momen paling tak terlupakan saat mendarat di Bandara Marco Polo, Venesia, Italia. Foto: CNN Internasional

Pernah dengar pemandangan ikan berenang menuju daratan dengan ekornya mengepak ke Laut Adriatik? Jika belum, itu adalah pemandangan ajaib yang dilihat penumpang pesawat jelang mendarat di Bandara Marco Polo, Venesia, Italia. Tanggul MOSE, Pulau Lido, atap terakota, menara lonceng nan gagah, sampai Grand Canal yang legendaris adalah pemandangan yang tak mungkin terlupakan.

4. Cape Town, Afrika Selatan

Pemandangan kota Cape Town sangat menakjubkan dengan hamparan pegunungan dan perairan Samudera Hindia dan Samudera Atlantik Selatan. Foto: CNN Internasional

Lukisan Tuhan yang dianugerahkan ke Cape Town nyaris serupa dengan Rio de Janeiro. Letaknya juga berseberangan dan dipisahkan oleh Samudera Atlantik Selatan. Bedanya, Cape Town diapit juga oleh Samudera Hindia di Timur, membuat pemandangan alam jelang mendarat di bandara di kota ini sangat menakjubkan.

5. San Francisco, AS

Traveler yang juga penumpang pesawat bisa menikmati pemandangan kota yang apik beserta Jembatan Golden Gate di San Francisco. Foto: CNN Internasional

Selain dikenal dengan teknologinya, Amerika Serikat (AS) juga dikenal dengan kekayaan alamnya yang luar biasa. Salah satunya di San Francisco. Penumpang akan disuguhkan pemandangan kota dan Jembatan Golden Gate, termasuk pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, sebagai salah satu momen terindah menjelasan pendaratan pesawat.

6. Santiago de Chile, Chili

Santiago adalah salah satu lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan Pegunungan Andes dari kabin pesawat jelang mendarat. Foto: CNN Internasional

Jangan pernah lupakan Pegunungan Andes bila bicara tentang pemadangan terindah dari kabin pesawat dan sebagian besar itu bisa dilihat jelang pesawat mendarat di Santiago, Chili. Bukit-bukit gersang, dataran, dan pegunungan yang menjulang di kejauhan berselimut putih sangat memanjakan mata.

Baca juga: Ini Dia Pemandangan Lima Situs Warisan Dunia UNESCO yang Bisa Dinikmati dari Dalam Kereta

7. Tyrol, Austria

Pemandangan pegunungan Alpen yang bisa dinikmati penumpang pesawat dari Tyrol, Austria. Foto: CNN Internasional

Serupa dengan Pegunungan Andes, Pegunungan Alpen di Eropa juga menyajikan seribu satu pemandangan eksotis dari sudut manapun. Termasuk dari Tyrol, Austria, saat mendarat di Bandara Innsbruck.

Pemandangan lebih luar biasa lagi bisa dinikmati penumpang dari dalam kabin pesawat saat di musim dingin ketika gunung-gunung ditaburi salju, lembah, dihiasi desa-desa berwarna merah bata nan kontras sebagai pelengkapnya.