Lintasi Myanmar, Cina Buka Jalur Kereta Barang Menuju Pelabuhan di Samudera Hindia

Pada 27 Agustus 2021, jalur baru Cina-Myanmar dilintasi sebuah kargo uji yang berangkat dari perbatasan Myanmar ke stasiun kereta api Chengdu di Sichuan, Cina. Koridor ini melibatkan konektivitas kapal laut, jalan darat dan jaringan rel kereta.

Baca juga: Pengiriman Melalui Laut Alami Penundaan, Kereta Barang Cina-Eropa Jadi Pilihan di Asia Tenggara

Persisnya barang yang diangkut dengan kapal laut dari Pelabuhan Singapura tiba di Pelabuhan Yangon (Myanmar) melalui Laut Andaman di timur laut Samudera Hindia, kemudian barang diangkut melalui jalan darat via truk ke Lincang di sisi Cina perbatasan Myanmar-Cina di Yunnan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari thehindu.com (31/8/2021), jalur kereta api baru ini membentang dari kota perbatasan Lincang ke Chengdu, pusat perdagangan utama di Cina barat, melengkapi koridor tersebut.

“Jalan ini menghubungkan jalur logistik Singapura, Myanmar dan Cina, dan saat ini merupakan jalur darat dan laut paling nyaman yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Cina barat daya. Perjalanan satu arah ini menghemat 20 hingga 22 hari,” kata China News Service.

Cina juga memiliki rencana untuk mengembangkan pelabuhan lain di Kyaukphyu di negara bagian Rakhine, termasuk jalur kereta api yang diusulkan dari Yunnan langsung ke pelabuhan, tetapi kemajuan di sana terhenti karena kerusuhan di Myanmar. Perencana Cina juga melihat Pelabuhan Gwadar di Pakistan sebagai jalan keluar utama lainnya ke Samudra Hindia yang akan melewati Selat Malaka.

Pelabuhan Gwadar sedang dikembangkan sebagai bagian dari Koridor Ekonomi China Pakistan (CPEC) ke wilayah Xinjiang paling barat, tetapi proyeknya melambat karena kekhawatiran atas masalah keamanan. Biaya dan logistik melalui CPEC juga kurang menguntungkan dibandingkan jalur Myanmar dengan dibukanya jalur transportasi kereta api dari perbatasan Myanmar langsung ke hub komersial terbesar Cina barat, Chengdu.

Waktu transportasi di jalur kereta api dari perbatasan Myanmar ke Chengdu memakan waktu tiga hari.

Situs web Irrawaddy yang berfokus pada berita Myanmar mengatakan rute itu adalah “yang pertama menghubungkan Cina barat dengan Samudra Hindia”. Jalur kereta api saat ini berakhir di Lincang di sisi Cina di seberang kota perdagangan perbatasan Myanmar, Chin Shwe Haw.

Baca juga: Bangkitnya Jalur Sutra Modern Dari Cina ke Daratan Eropa

Rencana sedang dilakukan untuk mengembangkan Chin Shwe Haw sebagai “zona kerja sama ekonomi perbatasan” di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan. Irrawaddy mengatakan rute itu melewati Mandalay, Lashio dan Hsenwi di sisi Myanmar dan “diharapkan menjadi urat nadi perdagangan internasional bagi Cina dan Myanmar, sambil memberikan sumber pendapatan bagi rezim militer Myanmar”.

Lima Maskapai yang Paling Banyak Terbangkan Quadjet, Nomor Satu Sukar Dipercaya

Maskapai-maskapai besar di dunia dengan reputasi tinggi pada layanan dan keamanan, sudah pasti didukung oleh kualitas dan kuantitas armada. Sebelum era twinjet mendominasi satu dekade terakhir, mereka mengandalkan quadjet untuk menyediakan penerbangan mewah lintas negara dan benua.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Selain itu, maskapai pengguna quadjet juga identik dengan sokongan dana besar, semisal Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, Singapore Airlines, dan lainnya.

Akan tetapi, bila dihitung sejak maskapai-maskapai di dunia berkiprah, ternyata, nama-nama di atas bukanlah pengguna pesawat quadjet terbesar atau paling banyak di dunia. Lantas maskapai mana? Dilansir Simple Flying, berikut daftar lima maskapai yang paling banyak mengoperasikan quadjet.

1. Japan Airlines

Sepanjang sejarah berdiri, setidaknya Japan Airlines telah mengoperasikan total 108 Boeing 747, menjadikannya sebagai maskapai pengguna Boeing 747 terbesar di dunia. Maskapai ini juga menerbangkan 58 DC-8 dari tahun 1960 serta DC-8 yang terakhir pensiun pada tahun 1988. Jadi total Japan Airlines udah mengoperasikan 166 quadjet.

2. Lufthansa

Lufthansa wajib masuk dalam daftar ini. Salah satu maskapai dengan jaringan terbesar di dunia di bawah bendera Lufhansa Group, yang juga memiliki saham mayoritas di maskapai besar di beberapa negara, tercatat sudah mengoperasikan total 157 pesawat quadjet, dengan rincian 81 Boeing 747, 62 A340, dan 14 A380. Belum lagi Boeing 720-B yang pernah dioperasikan pada awal 1960-an.

3. Emirates

Emirates menjadi maskapai dengan usia termuda yang bertengger dalam daftar maskapai di dunia yang paling banyak mengoperasikan quadjet. Maskapai yang berdiri pada 25 Maret 1985 ini tercatat menjadi pengguna Airbus A380 terbesar di dunia, dengan total 119 unit.

Selain itu, Emirates juga pernah mengoperasikan 18 quadjet; 10 A340-500 dan delapan A340-300. Totalnya, Emirates mengoperasikan 137 pesawat quadjet.

4. British Airways

British Airways tercatat sebagai operator Boeing 747 terbesar kedua dalam sejarah, dengan total 101 unit. Maskapai yang berbasis di London ini juga pernah mengoperasikan pesawat quadjet Boeing 707 dan Vickers VC-10 sepanjang tahun 1960-an sampai 70-an. Hanya, totalnya tak diketahui persis.

Baca juga: Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

5. Singapore Airlines

Avgeeks tentu tak heran bila Singapore Airlines masuk ke dalam daftar ini. Sejak dahulu, maskapai nasional Singapura ini tak segan menggelontorkan uang untuk memberikan penerbangan mewah bersama quadjet.

Maskapai saat ini total sudah mengoperasikan 86 Boeing 747, 19 Airbus A380 (operator A380 terbesar kedua di dunia), dan 21 A340. Total, maskapai sudah mengoperasikan 126 pesawat quadjet.

Air New Zealand Gandeng Airbus Operasikan Pesawat Turboprop Bertenaga Hidrogen

Air New Zealand menyepakati kerjasama dengan Airbus terkait penelitian dan pengembangan pesawat bertenaga hidrogen. Ini dilakukan untuk mencapai tujuan emisi nol persen atau bebas karbondioksida maskapai pada tahun 2050 mendatang.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

“Perjanjian ini membawa kami selangkah lebih dekat ke komitmen emisi nol persen kami pada tahun 2050 dan untuk mewujudkan aspirasi kami untuk menerapkan solusi rendah karbon untuk penerbangan domestik dan regional kami yang lebih pendek dalam dekade berikutnya,” kata CEO Air New Zealand Greg Foran.

“Selandia Baru memiliki peluang unik untuk menjadi pemimpin dunia dalam penerapan pesawat bebas emisi, mengingat komitmen negara tersebut terhadap energi terbarukan yang dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen ramah lingkungan dan jaringan udara regional kami yang sangat terhubung,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Pesawat regional atau turboprop bertenaga hidrogen Air Ne Zealand rencananya akan diplot melayani rute domestik jarak pendek, semisal penerbangan trans-Tasman ke Australia, menggantikan armada turboprop yang ada saat ini.

Sebelum ini, Airbus memang sedang mengembangkan pesawat bertenaga hidrogen dan salah satunya pesawat turboprop.

Pesawat berkapasitas hingga 100 penumpang ini menggunakan mesin turboprop sebagai pengganti turbofan, dan juga didukung oleh pembakaran hidrogen dalam mesin turbin gas yang telah dimodifikasi dan mampu melakukan perjalanan lebih dari 1.852 km lebih. Hal ini menjadikannya pilihan untuk penerbangan jarak pendek.

Selain itu, ada dua pesawat bertenaga hidrogen lainnya yang tengah dikembangkan Airbus; turbofan (kapasitas 120-200 penumpang) dan pesawat dengan desain sayap-lebur atau blended-wing body (kapasitas hingga 100 penumpang). Ketiga itu ditargetkan bisa tersedia di pasaran mulai 2035 mendatang.

“Perjanjian dengan Air New Zealand ini akan memberi kami wawasan penting tentang bagaimana kami dapat menempatkan pesawat tanpa emisi (ramah lingkungan) ke dalam layanan,” ujar Presiden Airbus Asia-Pasifik Anand Stanley.

“Studi bersama akan memungkinkan kami untuk mendapatkan umpan balik yang sangat berharga tentang apa yang diharapkan maskapai penerbangan dan preferensi mereka dalam hal konfigurasi dan kinerja,” tambahnya.

Dalam kerjasama yang akan berlangsung selama dua tahun ke depan tersebut, Air New Zealand akan menganalisis dampak pesawat bertenaga hidrogen terhadap jaringan, operasi, dan infrastrukturnya.

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Sedangkan Airbus, mereka akan berbagi kinerja pesawat yang diharapkan dan karakteristik operasi darat untuk mendukung tujuan dekarbonisasi serta bebas emisi Air New Zealand pada 2050.

Menarik ditunggu, di penghujung nota kesepahaman (MoU) antara Airbus dan Air New Zeland, akankah prototipe pesawat turboprop bertenaga hidrogen Airbus sudah bisa wara-wiri di langit Selandia Baru?

Delapan Fitur Tersembunyi di Pesawat, Penumpang Wajib Tahu!

Bagi traveler yang sudah sering bepergian naik pesawat, mereka biasanya sangat hafal berbagai fitur yang ada. Meski begitu, di pesawat itu sendiri terdapat banyak fitur tersembunyi di dalam dan di luar kabin.

Baca juga: Awas! Bila Dapat Kursi Pesawat di Bawah Bagian Ini Atau Anda Bakal ‘Ketiban’ Awak Kabin

Masing-masing fitur, baik itu berupa tombol maupun handle, tentu sangat berguna di beberapa situasi. Apa saja fitur rahasia tersebut? Dikutip dari news.com.au, berikut daftar delapan fitur di pesawat yang harus diketahui penumpang saat bepergian.

1. Handrail di atas kursi penumpang

Handrail di atas kepala sebetulnya sangat mencolok. Tetapi, kadang kala ini terlihat tak lebih dari sekedar memenuhi aspek artistik belaka. Padahal, ini bisa menjadi pegangan penumpang alih-alih memegang kursi dan mengganggu penumpang lainnya.

2. Tombol rahasia di bawah armrest

Tombol ini sengaja diletakkan di bawah armrest agar penumpang lebih nyaman saat menyandarkan tangan. Tombol rahasia ini berfungsi untuk mengangkat armrest ke atas dan memudahkan penumpang beranjak dari kursi.

3. Lubang kecil di jendela pesawat

Breather hole atau biasa juga disebut vent hole sebetulnya disadari penumpang, tetapi, besar kemungkinan tak banyak yang tahu fungsinya. Vent hole atau breather hole berfungsi menjadikan jendela pesawat tak berembun.

4. Wing hooks

Wing hooks atau kait berwarna kuning di sayap pesawat memang tak bisa digunakan penumpang saat dalam penerbangan. Tetapi, dalam kondisi darurat, wing hooks amat berfungsi untuk proses evakuasi.

5. Segitiga hitam di dinding

Bagi penumpang yang jeli, pasti mereka pernah melihatnya. Penulis sendiri, sepanjang naik pesawat, tidak pernah melihat segitiga hitam di dinding pesawat. Segitiga hitam di dinding pesawat berfungsi untuk menandakan ke kru posisi sayap pesawat yang paling tepat untuk dilihat.


6. Pegangan di pintu keluar

Seperti fitur-fitur rahasia pesawat di atas, fitur pegangan di pintu keluar pesawat juga sebetulnya sangat mencolok. Tetapi, penumpang hampir pasti tak menyadarinya. Pegangan di pintu keluar berfungsi untuk pegangan kru saat pesawat terguncang serta saat penumpang meninggalkan pesawat.

Baca juga: Pantas Banyak ‘Skandal,’ Ternyata Pramugari Punya ‘Ruang’ Tersembunyi Bak Hotel di Pesawat

7. Tombol kecil di lemari kamar mandi

Tombol yag terletak di bawah cermin ini berfungsi untuk membuka lemari yag berisi fasilitas seperti pembalut, tisu, paper bags, dan lainnya.

8. Asbak di toilet pesawat

Meski merokok di pesawat dilarang keras, tetapi, produsen tetap menyediakannya. Alasannya mudah, andai kata ada penumpang yang nakal, mereka harus memastikan bara api itu jatuh pada tempatnya, bukan di sembarang tempat.

 

Ternyata Ini Pesawat Narrowbody dengan Mesin Terbesar di Dunia, Dioperasikan Citilink dan Lion Air

Di setiap lini di dunia dirgantara selalu ada jawaranya. Kategori pesawat komersial terbesar di dunia, misalnya, dipegang oleh Airbus A380. Begitu juga di kategori pesawat paling panjang di dunia, Boeing 777X adalah juaranya.

Baca juga: Mengenal GE9X Boeing 777X, Mesin Pesawat Terkuat di Dunia

Selain urusan panjang, Boeing 777X juga mendapat gelar sebagai pesawat jet dengan mesin terbesar dan terkuat serta paling efisien di dunia; General Electric GE9X. Mengingat pesawat yang terbang perdana pada 25 Januari 2020 itu adalah widebody, lantas, pesawat mana yang memegang gelar serupa (pesawat dengan mesin terbesar di dunia) di kelas narrowbody?

Setelah era De Havilland, Lockheed (divisi pesawat komersial), sampai McDonnell Douglas berakhir, praktis, di dunia, hanya ada dua produsen besar pesawat; Boeing dan Airbus.

Dilansir Simple Flying, di pangsa pasar narrowbody, Boeing jelas disebut merajai sektor ini, baik dari segi penjualan maupun hegemoni di pasar. Hal itu mungkin bisa disebut wajar, mengingat, Boeing 737 -lambang kesuksesan narrowbody Boeing- sudah menjalani first flight pada 1967 atau 20 tahun sebelum A320 menjalani first flight. Jadi, pada pertempuran Boeing 737 vs A320 dimenangi Boeing.

Namun, seiring perkembangan teknologi dan kemampuan produsen dalam melihat peluang ke depan serta arah keinginan maskapai -termasuk di dalamnya kecenderungan penumpang untuk bepergian- membuat peta persaingan di pangsa pasar narrowbody menjadi lebih seru.

Airbus bisa dibilang lebih unggul di masa mendatang. Dengan kehadiran A321XLR, pengembangan dari A320neo dan LR, serta di saat yang bersamaan 737 MAX masih belum terlalu greget, tak berlebihan bila memprediksi Airbus akan memimpin pasar ini di masa mendatang. Terbukti, dari segi penjualan, tahun lalu, Airbus berhasil melampaui Boeing.

Khusus untuk narrowbody Airbus A320neo, ternyata pesawat ini cukup spesial bukan hanya karena teknologi canggih dan efisiensinya, tetapi juga karena menyandang status sebagai pesawat dengan mesin terbesar di dunia.

Baca juga: Rusak Duopoli Boeing-Airbus, Cina Produksi Suku Cadang Mesin Pesawat Sendiri Mulai 2025

Di dunia, sejauh ini hanya ada dua mesin terbesar di kelas narrowbody; mesin CFM LEAP dengan ukuran 78 inci (198 cm) dan Pratt & Whitney Geared Turbofan (GTF) 1100G-JM P&W berukuran 81 inci (206 cm). Menariknya, kedua mesin tersebut digunakan di A320neo.

Selain jadi mesin pesawat narrowbody terbesar di dunia, mesin Pratt & Whitney Geared Turbofan (GTF) 1100G-JM P&W ini juga memiliki bilah kipas dengan rasio bypass tinggi dengan green rub strips. Ini membantu mengurangi gesekan dan kebisingan berlebih.

 

Rumah Letaknya Jauh dari Tempat Kerja, Pramugari Tinggal di Crash Pad New York

Seorang pelatih lumba-lumba sejak awal tahun 2020 memiliki pekerjaan baru sebagai seorang pramugari. Pramugari itu bernama Cierra dan mengatakan bahwa banyak orang membuat pekerjaan ini tampak seperti paling glamor yang pernah ada. Padahal menurutnya, ternyata tidaklah semua glamor.

Baca juga: Intip First Cabin, Hotel Kapsul di Jepang dengan Desain Kabin Mewah Pesawat

Di mana salah satu sisi kurang glamor adalah situasi kehidupannya. Cierra tinggal di Florida, tetapi pekerjaannya berbasis di New York dan harus tinggal ketika dijadwalkan untuk penerbangan awal. Dilansir KabarPenumpang.com dari insider.com (10/9/2021), untuk memudahkan pekerjaan dalam penerbangan awal, dia membayar sewa ke The Hotel Crash Pad Network.

Ini adalah perusahaan yang mengatur akomodasi staf maskapai untuk tinggal di crash pad yang pada dasarnya adalah sebuah asrama untuk awak kabin dan pilot. Menurut Cierra, padnya adalah persilangan antara rumah frat dan rumah dari “Big Brother.” Dia menambahkan, daya tarik dari crash pad adalah biayanya yang lebih murah dari pada hotel biasa.

Meski begitu, harganya tergantung pada lokasi dan seberapa sering awak kabin dan pilot berencana untuk menginap. Cierra mengatakan, untuk membayar sebulan hanya mengocek kantong $350 atau sekitar Rp4,9 juta. Meski begitu, Cierra hanya menghabiskan sebelas hari di crash pad New York City.

The Hotel Crash Pad Network mengubah dua kamar hotel menjadi akomodasi tunggal. Sama seperti kamar biasanya, di dalam kamar mandi dilengkapi dengan sampo, kondisioner dan sabun dalam botol mini. Tapi ketika tiba diruang tidur, Anda akan tahu kenapa biaya yang dibayar Cierra cukup murah.

Alih-alih tempat tidur king, ada satu set tempat tidur susun dan tiga kasur twin. Ada juga kamar yang bersebelahan dengan pengaturan serupa. Cierra mengatakan, dia tinggal bersama-sama, di mana sepuluh orang dapat berbagi dua kamar dan dua kamar mandi.

Meskipun daya pikat utama adalah harganya, Cierra menambahkan bahwa ada beberapa manfaat lain yang didapat dengan tinggal di crash pad-nya. Misalnya, dia dekat dengan bandara, mendapat transportasi bandara gratis, dan crash pad-nya termasuk tata graha, yang berarti tidak pernah ada pertengkaran tentang kerapian. Cierra mengatakan, meski begitu ada banyak tantangan yang harus dilewati selama tinggal di crash pad.

“Anda tahu apa yang Anda hadapi ketika Anda memutuskan untuk mendaftar ke crash pad. Itu biasanya termasuk mendengkur, alarm terus berbunyi, kurangnya privasi, dan orang-orang berpesta hingga larut malam,” kata Cierra.

Pada akhirnya, Cierra memberi tahu bahwa dia suka tinggal di tempat yang tepat untuk orang-orang dan petualangan. Selama beberapa bulan terakhir, dia mengatakan bahwa dia mengenal awak kabin, pilot dan staf hotel lainnya.

Baca juga: Inilah 14 Tugas Awak Kabin Pesawat Yang Jarang Diketahui

“Saya bisa datang ke hotel ini dan rasanya seperti keluarga. Ini benar-benar seperti ‘Suite Life of Zach and Cody.’ Saya suka berada di sini,” katanya.

Proyek AirTrain LaGuardia Digadang Jadi Pekerjaan Transportasi Termahal di Dunia

Bandara LaGuardia di New York, Amerika Serikat akan terhubung dengan kereta 7 dan Long Island Rail Road di Willets Point. Sebuah laporan menyebutkan bahwa proyek bernama LaGuardia AirTransit ini digadang-gadang menjadi yang termahal di dunia dalam sejar transportasi. Sebab diperkirakan biaya untuk proyek ini sebesar $2,1 miliar.

Baca juga: Knightscope K5, Robot Penghalau Taksi Gelap di Bandara LaGuardia

Jalur kereta sepanjang 1,5 mil atau sekitar 2,4 km ternyata tidak sesuai dengan ekonomi AirTrain LGA yang diusulkan. Bahkan dari laporan tersebut, ada penolakan dari masyarakat dan pejabat karena mengaggap rutenya tidak logis. Di mana membuat penumpang dari Manhattan melakukan perjalanan melewati bandara ke Willets Point yang kemudian mundur ke bandara.

Untuk diketahui, proyek ini adalah kesayangan mantan gubernur Andrew Cuamo. Dilansir KabarPenumpang.com dari foresthillspost.com (10/9/2021), proyek AirTrain ini diperkirakan nantinya akan melayani enam ribu penumpang baru setiap hari. Dengan biaya proyek yang besar, angkanya hampir dua kali lipat proyek kereta bawah tanah Second Avenue.

Otoritas Pelabuhan memperkirakan bahwa AirTrain akan melayani 13.117 penumpang harian dengan kombinasi penumpang udara dan karyawan bandara. Namun, ini mungkin lebih sedikit jumlahnya yakni, bahwa lebih dari 3.500 pengendara harian tersebut akan berkendara ke stasiun AirTrain di Willets Point dan parkir atau diturunkan sebagai bagian dari perjalanan.

Jumlah ini karena masih banyak penumpang yang akan menggunakan mobil pribadi dan AirTrain tidak akan mencapai tujuannya untuk mengeluarkan kendaraan pribadi dari jalan.

“Sebagian besar dari apa yang LGA Airtrain lakukan adalah menyediakan layanan antar-jemput yang sangat mahal bagi karyawan bandara yang memarkir mobil mereka dan penurunan taksi [di Willets Point]. Oleh karena itu, kami pikir klaim Otoritas Pelabuhan bahwa AirTrain ramah iklim benar-benar aneh,” tulis laporan tersebut.

Laporan itu juga mencatat bahwa banyak dari perkiraan 13.117 pengendara harian sudah menggunakan transportasi umum ke bandara. Laporan tersebut menempatkan angka ini sekitar 3.600. Menemukan kembali Albany dan kritikus lain dari LaGuardia AirTrain yang diusulkan berharap bahwa Gubernur Kathy Hochul akan membatalkan rencana pendahulunya.

Baca juga: Kamboja Punya Kereta Bandara yang Unik, Mirip Railbus Batara Kresna di Solo

Hochul belum membuat pernyataan publik tentang rencana tersebut sejak menjabat. Otoritas Pelabuhan tidak menanggapi permintaan komentar, tetapi mengatakan kepada New York Post bahwa angka-angka laporan itu “sangat salah.”

Hubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania, Mesir Kembangkan Jaringan Kereta Cepat

Jaringan kereta api berkecepatan tinggi terintegrasi akan dikembangkan oleh National Authority for Tunnels (NAT). Integrasi jaringan ini sepanjang 1.800 km di Republik Arab Mesir. Kemudian jalurnya akan diberi nama Terusan Suez, lantaran akan menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania untuk pergerakan penumpang dan barang yang aman.

Baca juga: Sebelum Israel Menjajah, Palestina Pernah Punya Jaringan Kereta Api Terbesar

Dilansir KabarPenumpang.com dari railway-technology.com, nantinya kereta berkecepatan tinggi di jaringan ini akan beroperasi dengan kecepatan maksimum 250 km per jam. Ini merupakan manifestasi dari rencana Mesir untuk berinvestasi dalam jaringan kereta api berkecepatan tinggi yang andal. Selain itu juga untuk mengubah transportasi umum di negara itu.

Sistem perkeretaapian yang modern dan berkelanjutan diharapkan dapat menghasilkan lebih dari 18.800 pekerjaan langsung dan tidak langsung. Penutupan keuangan proyek ini diantisipasi pada tahun 2022, sedangkan jalur pertama diharapkan akan dibuka pada tahun 2023. Jaringan kereta api berkecepatan tinggi Mesir akan dikembangkan sebagai sistem kereta api terintegrasi yang canggih dengan jalur kereta api utama dan angkutan barang berkecepatan tinggi yang sepenuhnya dialiri listrik.

Sistem ini akan mengurangi konsumsi energi primer sekaligus mengurangi emisi karbon hingga 70 persen dibandingkan dengan transportasi mobil dan bus. Sistemnya pun akan menampilkan teknologi terbaru dan sesuai dengan standar Eropa. Di mana akan disesuaikan dengan Sistem Kontrol Kereta Eropa (ETCS) Level 2 akan menggabungkan teknologi interlocking terkomputerisasi terbaru.

Jalur pertama sepanjang 660 km dari jaringan akan membentang antara Pelabuhan Sokhna di Laut Merah dan pelabuhan Mediterania Marsa Matrouh dan Alexandria. Ini akan mencakup 21 stasiun dan diharapkan untuk mengangkut lebih dari 30 juta orang per tahun. Jalur ini juga akan mengurangi waktu tempuh hingga 50 persen.

Dua jalur lagi akan menjadi bagian dari jaringan, salah satunya akan menghubungkan kota Luxor di Mesir selatan ke kota pelabuhan Safaga melalui Hurghada di sepanjang pantai Laut Merah, sementara yang lain akan menghubungkan 6th of October City di sepanjang Sungai Nil dengan Aswan. Jalur pertama akan dilayani oleh kereta api berkecepatan tinggi Velaro milik Siemens Mobility, rangkaian kereta regional berkapasitas tinggi Desiro dan lokomotif barang Vectron.

Kereta akan dilengkapi dengan sistem keamanan dan komunikasi modern untuk meningkatkan pengalaman penumpang. NAT menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan konsorsium perusahaan kereta api Jerman Siemens Mobility dan perusahaan lokal Orascom Construction dan The Arab Contractors (Osman Ahmed Osman & Co.) untuk merancang, memasang, dan menugaskan sistem kereta api berkecepatan tinggi, pada Januari 2021. Perjanjian engineering, procurement, and construction (EPC) juga mencakup penyediaan jasa pemeliharaan selama 15 tahun.

Siemens Mobility dan mitra konsorsiumnya menandatangani kontrak senilai $4,5 miliar untuk memberikan sistem kereta api yang komprehensif untuk proyek tersebut pada bulan September 2021. Siemens Mobility bertanggung jawab untuk memasok kereta api dan subsistem sementara mitranya akan melakukan pemasangan rel.

Baca juga: Alasan Politik, Pemerintah Mesir Perintahkan Taksi Online Gunakan Aplikasi Pelacak

NAT akan bertanggung jawab untuk membangun jembatan dan memfasilitasi pekerjaan konstruksi terkait untuk proyek tersebut. Konsorsium juga sepakat untuk membahas dan menyelesaikan kontrak untuk menyediakan infrastruktur kereta api, kereta api, dan layanan pemeliharaan untuk dua jalur kereta api tambahan dari jaringan tersebut.

Pesawatnya Jatuh di Markas KKB Papua, Inilah Profil Maskapai Rimbun Air

Pesawat DHC-6 Twin Otter seri 400 Rimbun Air jatuh dan terbakar di kawasan Bandara Sugapa, Intan Jaya, Papua, Rabu pagi (15/9). Pesawat dengan nomor registrasi PK-OTW itu diketahui membawa kargo berupa sembako, diawaki oleh Mirza sebagai pilot, Fajar sebagai kopilot, dan Iswahyudi selaku teknisi.

Baca juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

Pesawat Twin Otter itu diduga jatuh akibat cuaca buruk yang menjadi sebuah keniscayaan di Papua. Laporan twinotterarchive.com, pesawat disebut sedang melakukan approach ke Bandara Bilorai, Intan Jaya, Papua. Tetapi, kabut tebal menyelimuti area di sekitar bandara.

Dalam kondisi tersesebut, pilot yang juga mantan anggota TNI AU ini akhirnya memutuskan go around. Namun nahas, tak lama kemudian terdengar benturan keras dan hilang kontak.

Dua jam berikutnya pesawat ditemukan. Dilihat dari kerusakannya, besar kemungkinan pesawat menabrak tepat di bagian hidung dan membuat kokpit hancur total. Tak ada korban selamat dalam tragedi kecelakaan ini.

Rimbun Air diketahui memang memfokuskan operasinya di wilayah Timur Indonesia, khususnya wilayah terpencil dengan bandara kecil dan runway pendek, didukung pesawat berkemampuan STOL (Short Take Off and Landing).

Pada banjir bandang di wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya April lalu, maskapai ini turut mendistribusikan bantuan makanan, obat-obatan, dan alat kesehatan menggunakan pesawat 737F dan DHC-6 Twin Otter.

Teknisnya, seluruh kargo mula-mula diangkut menggunakan Boeing 737F ke Kota Kupang. Dari sini, perbekalan diteruskan menggunakan DHC-6 Twin Otter PK-OTW ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti Larantuka, Alor, Lembata, Bajawa, Maumere, dan Rote.

Anak perusahaan dari PT. Menara Grand Papua yang berdiri pada tahun 2018 tersebut saat ini memang hanya mempunyai dua jenis pesawat di barisan armada, Boeing 737-300 Freighter dan DHC 6 – 400 Twin Otter. Namun, jumlah pastinya tak disebutkan dengan jelas.

Akan tetapi, dalam rilis resmi perusahaan, pesawat DHC 6 – 400 Twin Otter PK-OTW Rimbun Air yang jatuh di Papua kemarin baru dioperasikan maskapai pada 23 Februari lalu. Selain itu, Boeing 737-300 Freighter maskapai juga baru bergabung pada 28 Februari 2021.

Baca juga: Bukan Twin Otter, Pesawat yang Dibakar KKB di Intan Jaya ialah Quest Kodiak

Mengingat hanya ada dua jenis pesawat dan dua-duanya baru didatangkan pada Februari lalu, besar kemungkinan maskapai Rimbun Air baru efektif beroperasi setelah itu, meskipun perusahaan sudah berdiri sejak 2018 silam.

Rimbun Air melayani berbagai layanan penerbangan, seperti operasi pertambangan, penerbangan charter penumpang dengan kapasitas 19 penumpang per penerbangan per hari, operasi kargo, pesawat survei, angkutan kargo atau barang berbahaya semisal zat kimia ataupun bahan bakar, sampai evakuasi medis, khususnya di wilayah-wilayah pegunungan.

Bikin Merinding! Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik dari Kereta Api

Meski terdengar kontroversial, kereta dengan kemampuan meluncurkan rudal balistik itu memang ada. Saat berkecamuknya Perang Dingin, Uni Soviet mengembangkan kemampuan peluncur rudal balistik dengan kemampuan mobile, yang salah satunya mengandalkan wahana kuda besi.

Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Dan saat era kebangkitan Rusia, peluncur rudal balistik dari kereta api bukan isapan jempol belaka, persisnya Rusia punya ambisi untuk merilis kereta peluncur rudal balistik yang tak dapat dideteksi oleh satelit. Kombinasi rudal balistik antar benua atau Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM) RS-24 dengan kereta lapis baja setebal 1 inch pengangkut rudal jelas menjadi alutsista startegis yang mematikan. Dengan jangkauan sejauh 3.400 mil atau 5471 kilometer dengan keampuan membawa hulu ledak nuklir, rudal tersebut diklaim mampu melenyapkan sebuah kota dalam hitungan detik.

Meski keberadaanya telah diungkap lewat beberapa foto, tapi sejauh ini, belum ada fakta bahwa Rusia telah meluncurkan rudal balistik dari kereta api. Dan lama tak ada kabar tentang kereta peluncur rudal balistik, justru ada berita datang dari Korea Utara. Jagad pemerhati alutsista global dalam beberapa hari ini sedang dihebohkan dengan dirilisnya beberapa foto tentang peluncuran rudal balistik dari atas kereta api.

Walau belum ada keterangan resmi dari pihak Korea Utara, militer Negeri Kim Jong Un itu diketahui memiliki apa yang disebut “Railway Mobile Missile Regiment.” Dan pada Rabu (15/9), dua rudal balistik diwartakan telah diluncurkan dari Korea Utara ke arah Laut Timur. Rudal balistik yang diduga dari jenis KN-23 disebut-sebut punya jangkauan 497 mil atau 800 km dan ketinggian sekitar 60 km.

Baca juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara

Di tengah tekanan Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan, Korea Utara dalam beberapa waktu ini justru melakukan langkah balasan dengan melakukan latihan uji coba penembakan rudal balistik, dimana jangkauan rudal tersebut bisa mencapai daratan Jepang.