Ada Tanda Segitiga Misterius di Kabin Pesawat, Apakah Artinya?

Pernah melihat di atas jendela pesawat ada suatu simbol atau tanda yang dianggap misterius? Biasanya tanda ini berbentuk segitiga berwarna hitam dan letaknya menandai kursi yang paling dekat pandangannya dengan sayap pesawat.

KabarPenumpang.com melansir telegraph.co.uk (4/9/2017), nama lokasi segitiga ini adalah Seat William Shatner. Seorang pensiunan insinyur ruang angkasa Lee Ballentine mengatakan ini adalah tempat di dalam pesawat dimana Anda bisa mengecek pandangan visual terbaik untuk melihat adanya es atau hal lainnya di atas sayap.

Baca juga: Tips dan Trik Fotografi dari Dalam Kabin Pesawat

Nama Shatner ini diambil dari salah satu episode dari film Twilight Zone yang paling aneh yakni Nightmare at 20,000 Feet yang ditayangkan pertama kali 11 Oktober 1963. Pada film ini, karakter Shatner melihat adanya gremlin di sayap pesawat saat dirinya menjadi seorang penumpang.

Sebenarnya tempat dekat posisi ini adalah spot paling menarik dan terbaik untuk berfoto ria. Apalagi penyuka fotografi dan media sosial, spot sayap biasanya sangat di cari. Selain sebagai spot foto yang bagus, tempat ini juga digunakan untuk memudahkan awak kabin melihat ke bagian sayap. Sebab bagian sayap ini merupakan satu tempat penting di pesawat lantaran di sayap terdapat mesin dan tangki bahan bakar.

Bila terjadi kondisi darurat, sayap juga menjadi tempat terpenting untuk melakukan evakuasi. Lewat sayap penumpang bisa turun saat pesawat melakukan pendaratan darurat, sebab di bagian sayap ada slide yang bila dibuka bisa digunakan untuk penumpang turun ke daratan atau ke air.

Sebenarnya duduk dekat jendela dan bisa melihat sayap atau kondisi luar pesawat adalah cara terbaik untuk mengurangi ke khawatiran penumpang. Tempat ini bisa sangat nyaman dan tenang bagi Anda yang memang menyukai duduk dekat jendela dan sejajar dengan sayap.

Baca juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Steven Hoober seorang pilot kawakan mengatakan, tanda segitiga ini tidak pernah dilepas dan berguna untuk memudahkan awak kabin. Selain itu, seorang insinyur penerbangan, Donal Daugherty mengatakan bahwa titik pesawat terbang di beberapa pesawat Airbus digunakan untuk melihat kondisi lepas landas dan mendarat pesawat. Sebab, pada proses lepas landas dan mendarat, sayap pesawat akan berada pada posisi tertentu, yakni ada beberapa bagian yang terbuka sejajar.






















Rumah Sakit di Inggris Sulap Gerbong Tua Jadi Ruang Serbaguna

Rasanya tak heran kalau gerbong kereta tua dikonversi menjadi berbagai macam kegunaan lain. Salah satunya seperti gerbong tua Pacer yang diubah menjadi ruang non klinis untuk mendukung pasien selama mereka tinggal di Rumah Sakit Airedale, Inggris Utara

Baca juga: Pemprov Jawa Timur Minta PT INKA Ubah Gerbong Kereta Jadi Bangsal Perawatan Covid-19

Gerbong bekas ini ‘memulai’ pengabdian barunya pada 5 September 2021 untuk melayani masyarakat setelah menyelesaikan jutaan mil di jaringan kereta api. NHS Foundation Trust setempat mengajukan tawaran untuk menyelamatkan gerbong dari tumpukan pembuangan barang dan menggunakannya untuk menciptakan lingkungan positif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Di mana kemudian RS Airedale mengubah gerbong ini menjadi ruang serbaguna non klinis untuk meningkatkan pengalaman pasien menggunakan rumah sakit. Ini akan memiliki fokus khusus untuk membantu anak-anak dan keluarga, serta mereka yang menderita demensia, menyediakan lingkungan komunal yang unik untuk mendukung pasien selama mereka tinggal.

Dilansir KabarPenumpang.com dari gov.uk (6/9/2021), gerbong kereta seberat 19 ton diangkat ke posisinya oleh derek dan ke lokasi yang dibangun khusus, siap untuk restorasi. Kendaraan tersebut adalah yang ketiga dan terakhir dari kereta pensiunan yang dikirim ke proyek komunitas sebagai bagian dari kompetisi ‘Transform a Pacer’ Departemen Transportasi di Inggris Utara.

Baca juga: Gerbong Kereta Tua Dikonversi Jadi Hotel Mewah di Pinggir Pantai Inggris

Kereta yang dikirim ke Airedale NHS Foundation Trust disediakan oleh perusahaan rolling stock Porterbrook dan telah beroperasi sejak 1986, menempuh perjalanan lebih dari tiga juta mil melintasi jaringan pada waktu itu. Itu dipasang dengan bantuan tim Network Rail, yang mengelola logistik untuk memasangnya.

Kereta Karakter Akan Hadir di Stasiun Uwajima 9 dan 10 Oktober

Jepang bisa disebut dengan rumah berbagai kereta yang memiliki banyak karakter baik itu Ultraman superhero Jepang, Hello Kitty, Star Wars, Doraemon, kartun Disney dan lainnya. Nah, bagaimana jika kereta dengan beragam karakter ini berkumpul di satu tempat?

Baca juga: Livery Ultraman dan Ogre Hiasi Bodi Kereta JR Shikoku

Pada 14 September kemarin, Shikoku Railway Co. (JR Shikoku) mengumumkan bahwa kereta di JR Yodo Line di Pulau Shikoku, Jepang Barat dengan livery bergambar superhero Jepang Ultraman dan karakter lainnya akan meluncur ke Stasiun Uwajima di prefektur Ehime pada 9 dan 10 Oktober mendatang. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (19/9/2021), perakitan kereta merupakan fitur utama dari festival Yodosen Fun Fun yang akan diselenggarakan selama dua hari di Jalur Yodo yang menghubungkan Ehime dan Kochi.

Kereta dengan bodi bergambar Ultraman. Foto: Mainichi

“Ini akan menjadi pertama kalinya di Shikoku untuk waktu yang begitu lama dan banyak kereta yang memiliki livery karakter untuk dibawa bersama, dan langka bahkan dalam skala nasional,” ujar seorang perwakilan JR Shikoku.

Dalam dua hari festival ini, kereta yang digunakan adalah kereta dengan livery karakter yang beroperasi di Jalur Yodo. Keenam kereta karakter tersebut yakni, kereta Shiman Torocco; kereta api Kappa Uyo-uyo (“banyak imp air”) seri Kaiyodo Hobby Train; Kereta Hobi Tetsudo; kereta Oni (“raksasa”); Ultra Train seri Kaiyodo Hobby Train; dan kereta Osanpo Nanyo (“jalan-jalan di wilayah selatan Prefektur Ehime di Nanyo”) seri kereta Karakter Nanyo yang menampilkan karakter gambar dari prefektur tersebut.

Keenam kereta ini dapat Anda lihat di peron 2 dan 3 di Stasiun Uwajima selama sekitar 30 menit. Nantinya akan ada satu atau lebih kereta yang terlihat sejak pukul 09.00 pagi dan siang hari pada 9 dan 10 Oktober. Pada kedua hari tersebut, pasar akan dibuka di Stasiun Uwajima dan Stasiun Matsumaru di kota Matsuno di prefektur Ehime.

Pasar ini menjual makanan khas setempat dan kebun binatang keliling serta kios makanan dan kerajinan akan didirikan di alun-alun Pemerintah Kota Shimanto kantor di Prefektur Kochi di sebelah Stasiun Kubokawa, pada 9 Oktober. Paket perjalanan khusus juga dijual, termasuk naik kereta Oni dan Kappa Uyo-uyo di mana para peserta dapat menikmati “gibier,” atau masakan hewan liar menggunakan daging burung dan rusa lokal, sambil melakukan perjalanan pulang pergi antara stasiun Uwajima dan Matsumaru seharga 6.500 yen (sekitar $60) per orang.a

Baca juga: Rayakan Ulang Tahun ke-100 , Kereta Ini Didandani Karakter Kartun Thomas!

Karena jumlah penumpang di Jalur Yodo telah menurun, kondisi bisnis menjadi sulit. JR Shikoku berharap dapat mempromosikan jalur kereta api di kalangan penduduk lokal dan penggemar kereta api melalui acara ini.

“Jika acara ini diterima dengan baik, kami ingin melanjutkannya di masa depan,” ujar juru bicara JR Shikoku.






















1 Januari 1914, Momen Penerbangan Domestik Berjadwal Pertama di Dunia

Penerbangan berjadwal internasional pertama di dunia dimulai pada 25 Agustus 1919 oleh Air Transport & Travel Ltd (AT&T) yang merupakan cikal bakal British Airways (BA). Penerbangan perdana tersebut menghubungkan antara London dan Paris yang melintasi Selat Channel. Lantas bila itu penerbangan internasional berjadwal pertama, kapankah penerbangan domestik berjadwal pertama di dunia?

Baca juga: Penerbangan Komersial Terjadwal Ternyata Sudah Dimulai 100 Tahun Lalu

Rupanya lima tahun sebelumnya, di Florida, Amerika Serikat, berhasil dipecahkan rekor penerbangan domestik berjadwal perdana. Dikutip dari airandspace.si.edu, disebutkan rute penerbangan domestik berjadwal pertama di dunia menghubungkan antara St.Petersburg dan Tampa, dimana kedua wilayah tersebut masih berada di dalam Negara Bagian Florida.

Rute penerbangan yang disebut airbot line itu berlangsung pertama kali pada 1 Januari 1914. Pesawat yang digunakan adalah pesawat Model XIV buatan pabrikan pesawat St. Louis Thomas Benoist. Jangan dikira bisa membawa banyak penumpang, selain seorang pilot, pesawat propeller ini hanya dapat membawa satu penumpang yang duduk di samping pilot dengan kokpit terbuka. Model XIV ditenagai mesin tunggal Roberts dengan kekuatan 75 tenaga kuda, 6 silinder dan berpendingin air.

Penerbangan dari St.Petersburg ke Tampa dan sebaliknya mengambil rute lurus melintasi Teluk Tampa. Jarak tempuhnya hanya 29 kilometer dan memakan waktu 23 menit. Sebagai perbandingan, rute St.Petersburg ke Tampa sebelumnya dilakukan menggunakan jasa kereta api, lantaran harus mengitari pesisir Teluk Tampa, waktu yang dibutuhkan St.Petersburg ke Tampa bisa mencapai 11 jam.

Selama tiga bulan beroperasi, Model XIV total mengangkut 1.204 penumpang melintasi teluk. Tapi tanpa subsidi berkelanjutan dari Pemerintah St. Petersburg atau pendapatan tetap dari lalu lintas turis, maka layanan udara berjadwal ini tidak akan bisa bertahan. Dan akhirnya pada akhir Maret 1919, penerbangan ini pun ditutup.

Baca juga: Fokker F-VII – Pesawat Legendaris ‘Pelaku’ Penerbangan Perdana Reguler Amsterdam-Batavia di Tahun 1924 

Lantaran saat itu menjadi wahana primadona, Mantan Walikota St. Petersburg A.C. Phiel (tengah) rela membayar US$400 untuk kehormatan menjadi penumpang pertama di jalur Airboat St. Petersburg-Tampa. Sementara ongkos standar untuk jasa sekali trip penerbangan adalah US$5 (setara US$100 untuk saat ini).






















Mengular di 2024, Emmanuel Macron Tampilkan Mockup Kereta Cepat TGV Generasi Mendatang

Meski tengah dibuat kecewa akibat keputusan Australia yang membatalkan program pengadaan 12 unit kapal selam dari Perancis, rupanya Presiden Perancis Emmanuel Macron masih punya program lain yang bisa mengobati Pemerintahan Negeri Eiffel tersebut. Menyambut 40 tahun momen peluncuran kereta cepat TGV (Train a Grand Vitesse), Emmanuel Macron pada 17 September lalu secara resmi memperkenalkan mockup dari TGV NG (Next Generation) di Stasiun Gare de Lyon, Paris.

Baca juga: Ouigo, Kereta Cepat Bergaya TGV dengan Tarif Rendah

Dikutip dari click2houston.com, penampilan mockup dengan ukuran penuh menjadi penanda komiten besar Pemerintah Perancis dalam menghadirkan kereta cepat berteknologi tinggi yang ramah lingkungan dan lebih efisien. Pada presentasi di Stasiun Gare de Lyon Paris, Macron menyebut kereta TGV baru akan memainkan lebih banyak aspek ramah lingkungan.

Macron berbicara di depan model skala penuh TGV NG/M yang baru. Dalam spesifikasi, dikatakan TGV M akan membawa lebih banyak penumpang — 740, dibandingkan dengan TGV saat ini yang hanya dapat membawa 600 penumpang dalam satu kali trip. Bila sesuai prediksi,TGV M direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2024. Kereta cepat baru ini akan menggunakan seperlima lebih sedikit listrik daripada TGV saat ini, sementara kecepatan tertinggi dipertahankan 320 kilometer per jam (199 mil per jam).

TGV generasi pertama diluncurkan 40 tahun lalu oleh Presiden Perancis kala itu, François Mitterrand. Dioperasikan oleh SNCF, kecepatan maksimum TGV awalnya adalah 270 kilometer per jam. Kemunculan TGV tak pelak menjadi pengubah tren perjalanan kereta api modern. Sejak itu teknologi TGV telah ditiru di seluruh dunia, termasuk baru-baru ini dalam proyek HS2 yang sangat dinanti di Inggris.

Adapun prototipe pertama yang dihadirkan oleh pihak TGV ini masih menggunakan turbin gas dan sebuah alat yang dapat memproduksi listrik dengan menggunakan minyak. Prototipe ini dikenal dengan nama TGV 001. Namun ketika krisis energi menerpa Benua Biru pada tahun 1973, pihak TGV harus memutar otak agar armadanya tersebut bisa bertahan di tengah harga minyak yang melambung tinggi. Ternyata krisis tersebut memaksa TGV untuk menyerah pada keadaan dan menerima kritik dari banyak pihak yang mengatakan bahwa ide tersebut dianggap tidak praktis.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya, TGV lalu menciptakan prototipe kereta listrik pertamanya pada tahun 1974. Seiring berjalannya waktu, beberapa uji coba dilakukan dan pembenahan di armada tersebut mengantarkan TGV pada penyempurnaan versi akhir dari kereta listrik ini. Diketahui, TGV sukses membangun sebuah kereta cepat bertenaga listrik pada tahun 1980. Setahun berselang, perusahaan tersebut membuka layanan perdananya yang menghubungkan Paris dan Lyon.

Sejak saat itu, nama TGV naik ke permukaan dan mulai dikenal oleh banyak orang. Pasar mereka pun meningkat, terlihat dari antusias warga Perancis yang mulai menumpukan alternatif perjalanan mereka dengan menggunakan armada TGV. Kesuksesan tersebut lalu tidak membuat pihak TGV pongah. Alih-alih menikmati kesuksesan, mereka lantas menambah rute perjalanan baru. Tercatat, beberapa jalur perjalanan lain telah dibuka, seperti Paris menuju Tours/Le Mans, Paris menuju Lille, dan Paris menuju Brussels.

Baca juga: TGV, Masih Jadi Lambang Supremasi Kereta Cepat Eropa

Pemerintah Macron telah mengalokasikan anggaran 6,5 miliar euro (US$7,6 miliar) dalam investasi untuk memperluas jalur kereta api berkecepatan tinggi, dan meningkatkan penggunaan kereta api telah menjadi bagian dari strategi pemerintahnya untuk mengurangi emisi.






















Dibandrol Rp2,4 Juta, Volvo Hadirkan Sepatu Kets Ramah Lingkungan

Setelah belum lama ini meluncurkan masker anti Covid-19, pabrikan otomotif asal Swedia, Volvo, kembali berencana untuk merilis produk non aksesoris otomotif. Persisnya guna memeriahkan Hari Bebas Mobil Sedunia yang jatuh pada 22 September mendatang, Volvo kolaborasi Casca meluncurkan sepasang sepatu kets ramah lingkungan.

Baca juga: Volvo Jual Masker Batik Reusable Ramah Lingkungan dengan Fitur Anti Mikroba

Rancangan sepatu kets ini tentu rancangan dan filosofi tersendiri, yaitu desainnya terinspirasi mobil listrik XC40 Recharge. Dengan cita rasa produk Swedia yang terkenal ramah lingkungan, maka 10 persen solnya terbuat dari ban daur ulang. Ini adalah yang pertama bagi Casca membuat tema otomotif dari sepatu tersebut. Sol bukan satu-satunya sentuhan ramah lingkungan, pasalnya bagian atas sepatu ternyata terbuat dari tujuh botol plastik daur ulang.

Bahan ini telah diubah menjadi benang, yang membuat sepatu “rajut yang fleksibel dan bernapas.” Menggambarkan jati diri bangsa, pada sepatu kets ini juga disematkan bendera Swedia kecil serta garis dan panel yang dirancang untuk mengingatkan lampu depan Thor’s Hammer.

Pada prinsipnya, antara Volvo dan Casca sama-sama mengedepankan ide ramah ligkungan, dan kedua peusahaan telah punya andil dalam mendukung green technology. Casca memiliki komitemen membuat semua bagian atas rajutan mereka dari bahan daur ulang atau terbarukan pada tahun 2022. Sementara Volvo hanya menggunakan listrik dan akan meningkatkan penggunaan bahan daur ulang serta berbasis bio di kendaraan mereka.

Sepatu kets edisi khusus ini dijual secara terbatas, untuk harganya, sepasang sepatu ini akan dilepas ke pasaran pekan depan dengan harga US$168 atau sekitar Rp2,4 juta. Nah, apakah Anda tertarik, yuk selalu pantau situs Volvo.

Baca juga: Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Kilas balik pada Juni 2021, Volvo Car Malaysia meluncurkan koleksi masker wajah anti mikroba untuk mendukung masyarakat lokal dalam menghadapi kesulitan akibat Covid-19. Setiap masker wajah terbuat dari 100 persen katun, anti bakteri, anti air dan memberikan perlindungan hingga 100 kali pencucian lembut. Nano teknologi digunakan untuk mengurangi penetrasi tetesan yang terkontaminasi dan mencegah kemungkinan infeksi kain oleh virus atau bakteri.

Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Pesawat jadi moda transportasi paling aman di dunia. Data terkait ini pun mudah didapat. Meski begitu, pesawat rawan mengalami kecelakaan, terutama saat take off ataupun landing; tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan (critical eleven) atau biasa juga disebut Plus Three Minus Eight.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Critical eleven atau 11 menit paling krusial dalam penerbangan sudah pasti disebabkan oleh dua faktor, teknis dan non teknis atau eksternal. Terkait faktor eksternal, setidaknya ada empat penyebab paling umum terjadinya kecelakaan pesawat saat take off ataupun landing. Apa saja? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasan empat faktor eksternal penyebab kecelakaan pesawat di periode critical eleven.

1. Bird strike

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing.

Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Meski begitu, berbagai cara sudah ditempuh pengelola bandara di seluruh dunia. Seperti mengerahkan robot pemotong rumput (mengingat rumput tinggi di sekitar runway bisa jadi sarang burung), drone atau The Robird Drone, dan lain sebagainya.

2. Hujan lebat, bersalju, dan berpasir

Menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah empat milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.

Celakanya, saat hujan lebat, genangan di runway kerap melebihi ambang batas aman di atas. Karenanya, tak heran jika kecelakaan pesawat di periode critical eleven atau saat take off maupun landing sering terjadi. Biasanya berupa overrun, baik itu keluar runway sampai keluar dari perimeter bandara.

Tak hanya hujan lebat dan menyebabkan genangan, salju dan pasir di runway juga kerap menjadi penyebab kecelakaan saat lepas landas maupun turun landas.

Meski begitu, ini sebetulnya bisa disiasati dengan teknik pendaratan hard landing atau pendaratan keras, bertujuan untuk menghindari hilangnya gesekan antara ban dengan permukaan runway.

3. FOD (Foreign Object Damage)

Jika dilihat dari dekat, permukaan runway biasanya dipenuhi dengan FOD (Foreign Object Damage) berupa partikel pasir, debu, atau sisa karet ban pesawat yang terkelupas, tertinggal di runway selama bertahun-tahun dan mengendap di sana. Bila tak ada penanganan serius, FOD ini memungkinkan pesawat mengalami selip ban.

4. Crosswind

Crosswind juga sering menjadi penyebab kecelakaan pada pesawat menjelang landing ataupun saat lepas landas.

Sebetulnya, dalam kondisi angin kencang, secara prinsip, pilot masih bisa melakukan soft landing dan mendarat dengan aman. Tetapi, saat berada di ketinggian sekitar 50 kaki atau sekitar 15 meter, tiba-tiba angin kencang membuat landing approach angle meleset sekaligus sudut pendaratan pesawat menjadi miring.

Baca juga: Dinilai Krusial Selamatkan Penerbangan, Berikut Empat Penyebab Hard Landing

Kacaunya lagi, tekanan angin di sekitar runway juga cukup tinggi, bisa karena cuaca terlalu terik dan menyebabkan udara banyak terkumpul di runway akibat pemuaian, sehingga membuat pesawat mengambang selama beberapa saat.

Padahal, pesawat sudah harus melakukan landing di zona touchdown, bila tidak, pesawat terancam overrun atau keluar runway. Nah, pada posisi ini, pilot bisa mensiasatinya dengan divert atau balked landing dan kembali mengudara, go around, sambil menunggu crosswind mereda.

Langkah Kaki Penumpang Jadi Tenaga Listrik di Stasiun Leighton Buzzard

Belum lama ini, Inggris menghadirkan teknologi baru yakni mengubah langkah kaki menjadi tenaga listrik. Di mana dua jalan setapak yang terbuat dari ubin kinetik telah dipasang di Stasiun Leighton Buzzard. Lantai ini dibuat melalui kemitraan dengan Central Bedfordshire COuncil dan penyedia teknologi Pavegen.

Baca juga: Powerbank Tenaga Surya, Andalan Ketika Berlibur di Alam Tanpa Soket Listrik

Tenaga listrik dihasilkan melalui beban dari langkah kaki penumpang yang melintasi jalan tersebut. Di mana saat kaki melangkah maka mereka menekan generator elektromagnetik di bawahnya dan listrik yang dihasilkan bisa digunakan untuk dua bangku pengisi daya USB serta layar digital.

Dilansir KabarPenumpang.com dari thenextweb.com (13/4/2021), lantai kinetik ini didanai oleh Departemen Transportasi melalui £22,9 juta (US$31,7 juta) ADEPT SMART menempatkan Program Labs Langsung, percontohan ini dipahami sebagai yang pertama dari jenisnya di pusat transportasi Inggris dan tujuannya adalah untuk mendemonstrasikan teknologi untuk lokal lainnya.

“Saya suka fakta bahwa itu melibatkan orang, melibatkan olahraga dan menciptakan listrik bersih sepanjang waktu. Saya pikir hubungan antara manusia dan energi yang diciptakan melalui gerakan adalah kerjasama yang sangat baik,” ujar Andrew Selous, MP untuk South West Bedfordshire.

Untuk mengetahui berapa energi langkah kaki para penumpang, akan ada layar digital. Selain itu dilayar ini juga menampilkan pesan lain. Layar digital akan menunjukkan berapa banyak energi yang dihasilkan serta menampilkan pesan lainnya.

Pavegen juga bekerja sama dengan Central Bedfordshire Council untuk menawarkan hadiah penumpang melalui aplikasi. Di mana ini dapat digunakan untuk mendorong penggunaan transportasi umum atau belanja lokal untuk membantu pemulihan ekonomi, misalnya.

Pada tahun 2019, Central Bedfordshire Council memperoleh £1,05 juta melalui Live Labs untuk mengeksplorasi cara memanen energi terbarukan dari sumber matahari, kinetik dan termal. Dalam skala besar, energi tersebut dapat digunakan untuk menggerakkan infrastruktur seperti lampu jalan dan rambu-rambu jalan elektronik.

“Energi langkah kaki yang belum dimanfaatkan di pusat transportasi kami merupakan peluang nyata untuk menyediakan sumber energi berkelanjutan untuk mendukung aplikasi yang dipesan lebih dahulu, sambil melibatkan audiens dan mendorong perubahan perilaku. Uji coba ini akan membantu menunjukkan kelayakan teknologi dan bisa menjadi langkah perubahan dalam cara hub transportasi terlibat dengan komuter,” kata Giles Perkins, Direktur Program Live Labs.

Pilot lain yang mengeksplorasi bagaimana probe dimasukkan ke tempat parkir Bedfordshire dapat menghasilkan energi panas bumi akan selesai akhir bulan ini. Ini akan menunjukkan bagaimana energi dapat disimpan dan dilepaskan bila diperlukan untuk mencairkan permukaan tempat parkir dan memanaskan bangunan di musim dingin.

Uji coba ini bertujuan untuk membantu dewan memahami jika dan bagaimana teknologi dapat diterapkan di gedung-gedung baru seperti pusat rekreasi dan sekolah. Inisiatif lebih lanjut melihat menangkap energi matahari dari permukaan jalan. Pavegen memiliki sekitar 200 penerapan di 36 negara berbeda, termasuk aplikasi untuk kota, pusat transportasi, ritel, pendidikan interaktif dan merek komersial.

Ubin V3 menghasilkan hingga empat joule energi listrik off-grid per langkah. Seorang juru bicara Pavegen mengatakan bahwa sulit untuk mengatakan seperti apa output energi di stasiun kereta api karena bergantung pada langkah kaki, yang tidak dapat diprediksi karena Covid-19.

Baca juga: e-paper Papercast, Sistem Informasi Digital di Halte Bus dengan Tenaga Surya

“Manfaatnya benar-benar tentang bagaimana komunitas bisa berkumpul dan produk ini bisa dijadikan titik awal pembicaraan tentang keberlanjutan,” kata mereka.

Secara total, ada delapan Lab Langsung yang dipimpin oleh otoritas lokal yang menguji coba teknologi di seluruh energi, data, material, dan mobilitas. Yang lain mengevaluasi jalan plastik, analisis video, dan manajemen transportasi berbasis data.

Gegara Angker? Tiga Wilayah Ini ‘Haram’ Dilewati Pesawat, Ini Alasannya

Pesawat, sekalipun sudah dilengkapi dengan teknologi super canggih, tetap saja memiliki batasan-batasan tertentu. Hal itulah yang pada akhirnya membuat pesawat tidak terbang atau bisa juga dibilang menghindari wilayah tertentu.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Di dunia, setidaknya ada tiga wilayah yang dihindari pesawat karena berbagai alasan. Wilayah mana saja itu? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasan lengkap tiga wilayah ‘terlarang’ untuk diterbangi atau dilintasi pesawat.

1. Ka’bah

Sebagai Tanah Suci umat Muslim di seluruh penjuru dunia, sudah menjadi rahasia umum lagi jikalau Mekkah mendapatkan ‘perlakuan khusus’. Ditambah dengan posisi dari Ka’bah yang terletak di tengah-tengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram.

Nah, bagi Anda yang sudah pernah menunaikan ibadah haji atau umrah ke Mekkah dan kota-kota lainnya, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang melintas di atas Ka’bah? Jawabannya sudah pasti tidak pernah.

Rumor yang beredar itu dikarenakan Ka’bah memiliki gelombang magnet yang sangat besar sehingga pesawat tidak diperkenankan untuk mengudara di atasnya.

Baca juga: Enam Alasan Mengapa Pesawat Tidak Terbang di Atas Pegunungan Himalaya, Nomor Enam Ngeri!

Akan tetapi, itu hanya rumor belaka. Menurut pilot kawakan berkebangsaan Arab Saudi, Hasan Al Ghamidi, alasan kenapa pesawat dilarang melintas di atas ka’bah karena menjaga kenyamanan dan keselamatan para jemaah haji dan umrah.

“Karena posisi Kota Mekah berada di wilayah pegunungan, ketika ada pesawat yang melintas maka suara pesawat akan memantul dan menimbulkan efek buruk bagi para jamaah haji atau umrah,” jelasnya.

Sebetulnya, alasan kenapa pesawat dilarang melintas di atas Ka’bah sama halnya dengan alasan kenapa pesawat tidak diperbolehkan terbang di atas fasilitas militer sebuah negara, seperti Korea Utara, Amerika Serikat, Rusia, dan lainnya. Terlebih, fasilitas militer tempat pengembangan senjata atau teknologi sangat rahasia.

2. Antartika

Kenapa pesawat komersial berjadwal dilarang terbang atau melintas Benua Antartika? Pertanyaan tersebut sering kali dijumpai saat membahas berbagai misteri dari benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi ini.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terbang Lurus? Inilah 5 Alasannya

Tak seperti alasan kenapa pesawat tak boleh melintas di atas Ka’bah, alasan kenapa pesawat dilarang terbang atau melintasi Benua Antartika, khususnya pesawat komersial berjadwal, lebih kepada faktor keselamatan.

Menurut sebuah sumber, selama Pemerintahan Reagan (Presiden AS ke-33 dengan masa jabatan mulai 20 Januari 1981 – 20 Januari 1989), Administrator FAA, J. Lynn Helms, memutuskan bahwa pesawat-pesawat yang terbang harus berjarak sekitar satu jam penerbangan dari bandara terdekat jika terjadi keadaan darurat, sehingga pesawat bisa mendarat.

Mengingat tak ada bandara terdekat di sekitar Benua Antartika, tak heran bila pesawat dilarang melintas di wilayah ini.

Baca juga: Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!

3. Pegunungan Himalaya, Tibet

Selain dilarang atau menghindari terbang di atas Ka’bah dan Benua Antartika, pesawat juga dilarang melintasi wilayah Pegunungan Himalaya, Tibet. Sama halnya dengan Benua Antartika, larangan melintas di wilayah ini bagi pesawat lebih dikarenakan faktor keselamatan.

Setidaknya, ada enam faktor atau alasan mengapa pesawat dilarang atau menghindari terbang di atas Pegunungan Himalaya; mulai dari terlalu tinggi, kurangnya medan datar untuk pendaratan darurat, area rawan konflik, kondisi darurat, turbulensi, hingga terlalu dingin serta membuat bahan bakar membeku.

Bisa Nikmati Pemandangan dengan Bebas di Kursi Depan, Di Mobil ini Kemudi Dipindah ke Kursi Belakang

Pernah terpikirkah oleh Anda bagaimana jika setir dan segala hal untuk mengemudi tidak ada di kursi depan bagian kiri atau kanan mobil? Beberapa dari Anda pasti pernah memiliki imajinasi seperti ini dan berpikir untuk memindahkan setir dan perlengkapan kemudi ke bagian yang diinginkan.

Baca juga: Ternyata, Setir Kemudi Paling Kotor Dibanding Interior Mobil Lainnya

Mungkin lebih banyak yang akan menghilangkan kursi kanan dan kiri dan menempatkan kemudi di bagian tengah. Ini menjadi hal yang bisa saja terjadi dan terwujud bila pemilik ingin merubah atau hanya sekedar imajinasi.

kemudi mobil yang dipindah ke kursi belakang. Foto: Core 77

Namun, ternyata pemindahan kemudi yang sebenarnya pernah terjadi dan bukan hanya imajinasi seseorang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber core77.com (13/9/2021), salah satu penduduk di Dubai, Uni Emirat Arab, menemukan cara terbaik untuk memindahkan kemudi dari bagian depan mobil.

Kursi depan tanpa kemudi. Foto: Core 77

Dia telah melakukannya pada tahun 2008 dan memindahkan kemudi di bagian kursi belakang. Orang Dubai ini membayar toko kustomisasi otomotif untuk memodifikasi SUV miliknya. Kemudian meletakan semua komponen kemudi di area kursi belakang.

Baca juga: Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Sehingga dengan cara ini, Anda dan rekan bisa duduk di kursi depan dan mendapat pemandangan yang lebuh bagus. Bahkan ketika berbincang, Anda tak seperti biasanya yang melihat kepala belakang tetapi kini berhadapan muka.

Foto: Core 77

Foto: Core 77