Pohon Tumbang di Stasiun Depok Ganggu Perjalanan KRL, Ada Aturan ‘Ruang Bebas’ yang Dilanggar?

Perjalanan KRL relasi Jakarta Kota-Bogor dan Bogor-Jakarta Kota sejak sore sampai malam kemarin nyaris lumpuh. Itu disebabkan adanya pohon tumbang yang menutupi Jalur 1 Stasiun Depok. Insiden ini sudah pasti melanggar ruang bebas Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) PM. 60 Tahun 2012 Tentang Persyaratan Teknis Jalur Kereta Api.

Baca juga: Deforestasi yang Luas Bakal Terjadi di Hutan Amazon Bila Brasil Buka Jalur Kereta Api

Ruang bebas sendiri adalah ruang di atas jalan rel yang senantiasa harus bebas dari segala rintangan dan benda penghalang; ruang ini disediakan untuk lalu lintas rangkaian kereta api. Ukuran ruang bebas untuk jalur tunggal dan jalur ganda, baik pada bagian lintas yang lurus maupun yang melengkung, untuk lintas elektrifikasi dan non elektrifikasi.

Selain itu, dalam PP 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian Pasal 176, disebutkan, “Setiap orang dilarang membangun gedung, membuat tembok, pagar, tanggul, bangunan lainnya, menanam jenis pohon yang tinggi, atau menempatkan barang pada jalur kereta api yang dapat mengganggu pandangan bebas dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta api.”

Dari PM. 60 dan PP 56 di atas, terang benderang bahwa insiden pohon tumbang di Stasiun Depok dan menutupi jalur satu melanggar dua aturan itu. Tetapi, bagaimana dengan adanya pepohonan yang berada di sepanjang jalur kereta api? Apakah termasuk melanggar ruang bebas?

Pertanyaan itu tentu tak mudah dijawab, tetapi bukan berarti terlampau sulit sampai tidak bisa dijawab. Dari bunyi PM. 60 Tahun 2012 dan PP 56 Tahun 2009, sangat jelas bahwa yang dilarang adalah adanya hal apapun yang menghalangi KRL di atas lintasan rel.

Objeknya pun sudah sangat detail, mulai dari jenis pohon tinggi, gedung, tembok, pagar, tanggul, dan lainnya.

Namun, di sepanjang lintasan kereta api atau KRL, ada begitu banyak pepohonan tinggi dan yang tak terlalu tinggi. Posisinya juga menjulang ke atas atau vertikal. Sampai di sini, tentu keberadaan pepohonan itu tidak melanggar aturan yang tertuang di PM. 60 Tahun 2012 dan PP 56 Tahun 2009.

Baca juga: Memiliki Berbagai Alasan, Delapan Negara ini Tak Punya Jaringan Kereta Api

Tetapi, andai pepohonan itu secara sengaja atau tidak sengaja (tumbang akibat angin kencang dan sebagainya, seperti yang terjadi di Jalur 1 Stasiun Depok) berubah posisi dari vertikal ke horizontal dan dimensinya mumpuni untuk menutupi lintasan KRL, pertanyaannya kemudian, apakah pepohonan tinggi menjulang yang berada di sepanjang jalur kereta api itu melanggar PM. 60 Tahun 2012 dan PP 56 Tahun 2009?

Seharusnya, bila aturan yang tertuang dalam PM. 60 Tahun 2012 dan PP 56 Tahun 2009 itu poin pentingnya adalah tujuan, dimana tidak boleh ada objek apapun yang berada di atas lintasan KRL, pepohonan di sepanjang jalur KRL bisa dibilang melanggar aturan karena dimensinya berpotensi menghalangi perjalanan KRL andai pohon tersebut tumbang dan menutup jalur KRL.

Tren Covid-19 Menurun, Penumpang Singapore Airlines dari Indonesia Diizinkan Transit di Bandara Changi

Gegara badai Covid-19 yang meroket beberapa bulan lalu, penumpang pesawat asal Indonesia tidak diizinkan melakukan transit penerbangan di Bandara Changi, padahal seperti diketahui, bandara tersibuk di Asia itu adalah hub internasional yang strategis bagi akses penerbangan dari dan ke Indonesia. Nah, melihat tren Covid-10 yang mulai landai dan mereda di Indonesia, otoritas Singapura mulai membuka akses transit bagi penumpang dari Indonesia.

Baca juga: Lindungi Kesehatan Penumpang, Bandara Changi Kenalkan Sistem Zonasi Terbaru

Dikutip dari ChannelNewsAsia, pada 23 September besok, penumpang maskapai Singapore Airlines (SIA) dari Indonesia akan diizinkan untuk transit di Bandara Changi. “Kami sangat senang karena sekarang kami dapat menyambut kembali pelanggan kami yang melakukan perjalanan dari Indonesia dengan penerbangan Singapore Airlines,” tutur General Manager Singapore Airlines Indonesia, Alvin Seah dalam pernyataan persnya. Ia menambahkan, ini merupakan langkah penting karena industri perjalanan secara bertahap mulai pulih dari pandemi.

Perizinan ini diperuntukkan untuk penerbangan dari Jakarta menuju destinasi dalam jaringan SIA Group. Seperti diketahui, sejak Juli lalu, pemerintah Singapura sempat memperketat aturan izin masuk bagi pelancong atau wisatawan asal Indonesia di negara tersebut. Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan aturan izin masuk itu berlaku bagi pelancong asal Indonesia, yang bukan warga negara atau penduduk tetap di wilayahnya.

Melansir laman resmi Otoritas Imigrasi Singapura, penumpang yang ingin transit di negara itu harus tes PCR Covid-19 dalam waktu 48 jam sebelum keberangkatan ke Singapura dan memiliki laporan tes negatif yang valid. Setibanya di Bandara Changi, penumpang akan dipandu ke Transit Holding Area (THA) di terminal keberangkatan penerbangan berikutnya.

Penumpang dari high risk country penyebaran Covid-19, harus rela mendapatkan perlakuan yang tidak biasa saat tiba di Changi. Setiap penumpang dari Indonesia, menggunakan jenis maskapai apa saja dan dari kelas apa pun, kini harus menggunakan tangga manual untuk turun dari pesawat.

penumpang lain harus turun menggunakan tangga manual. Sesuatu hal yang menurutnya mengagetkan, pasalnya ia merupakan penumpang yang duduk di kelas bisnis, tapi harus turun menggunakan tangga. Dengan turun menggunakan tangga di apron, sudah barang tentu penumpang harus menerima suara bisingnya mesin pesawat. Belum lagi bila cuaca buruk, mulai dari angin kencang hingga kehujanan kerap kali menjadi satu permasalahan yang serius.

Baca juga: Penumpang dari Indonesia Tiba di Changi ‘Tak Lagi’ Dilayani dengan Garbarata, Ini Sebabnya!

Menggunakan shuttle bus, penumpang dari high risk country tidak dibawa ke terminal konvensional yang identik dengan penyejuk ruangan dan pernak-pernik kelontong khas Changi. Justru bus yang membawa penumpang dari Indonesia masuk ke sisi pelataran parkir Terminal 4, yang memang dikhususkan untuk melayani penumpang dari negara-negara dengan risiko tunggi penularan Covid-19. Dan di area semi outdoor inilah penumpang harus duduk antre dalam jarak aman untuk menuju konter imigrasi.






















Hari ini 40 Tahun Lalu, Kereta Cepat TGV Kebanggaan Perancis Meluncur Perdana

Hari ini, 40 tahun lalu yang bertepatan dengan 22 September 1981, kereta cepat yang menjadi kebanggaan Perancis dan Eropa Train Grand Vitesse (TGV) pertama kali beroperasi untuk umum dari Paris ke Lyon. Dirancang dengan desain streamline, TGV yang diresmikan Presiden Perancis kala itu, François Mitterrand menghubungkan dua kota dalam waktu dua jam 40 menit.

Baca juga: Ouigo, Kereta Cepat Bergaya TGV dengan Tarif Rendah

Waktu perjalanan tersebut mengurangi setengah waktu yang ada sebelumnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari theguardian.com, kereta ini meluncur di jalur sepanjang 250 mil atau sekitar 402 km dari Paris menuju ke Lyon. TGV akan melaju dengan kecepatan tertinggi 180 mph atau sekitar 289 km per jam dan ini masih lebih cepat 30 mph dari saingan Jepangnya, Hokaido.

Investasi awal TGV mencapai £850 juta atau setara Rp16,5 triliun, bila dikomparasikan biaya investasi TGV  adalah seperempat dari biaya Concorde. Dan saat ini, TGV telah menghungkan Paris dan London melalui terowongan Channel.

Sampai saat ini sudah 87 kereta telah dibuat atau sedang dalam pelayanan untuk menghubungkan Paris ke beberapa kota di dalan dan luar Perancis.  Tidak hanya akan lebih cepat untuk melakukan perjalanan daripada dengan cara lain, TGV juga akan lebih murah. Harga tiket akan sama dengan layanan saat ini, tetapi akan lebih murah daripada cara lain. Paris-Lyon akan menelan biaya sekitar £16 atau sekitar Rp311 ribu, dibandingkan dengan hampir £40 melalui udara.

Dari sejarahnya, perusahaan asal Perancis, Alstom dan SNCF mulai mengembangkan teknologi kereta cepat untuk mendukung mobilitas warga antar kota. Ide muncul pada era 1960-an, prototipe pertama kereta cepat menggunakan turbin gas dan memproduksi listrik sendiri yang berasal dari minyak. Namun, karena terjadi peningkatan harga minyak ketika itu, proyek ini tak mendapat respons baik.

Prototipe kereta dengan nama TGV mulai dikembangkan kembali pada 1974. Berbagai pengembangan dan teknologi dibuat untuk menyempurnakan rancangan kereta ini. Kereta ini akhirnya bisa diselesaikan pada 1981.

TGV mempunyai delapan gerbong dan mempunyai kecepatan 289 kilometer per jam. Sebenarnya, kereta cepat pertama telah dikembangkan oleh Jepang dengan julukan Shinkansen pada era 1960-an. Namun, karena kecepatannya ketika itu hanya sekitar 270 kilometer per jam, TGV bisa melampaui dan mencatatkan rekor kecepatan.

Baca juga: Mengular di 2024, Emmanuel Macron Tampilkan Mockup Kereta Cepat TGV Generasi Mendatang

Pengembangan kereta tersebut membutuhkan dana sekitar 745 juta dollar. Alstom dan SNCF membuat 87 unit kereta api dengan tiap unitnya terdapat dua lokomotif beserta delapan gerbong. Kereta ini mampu mengangkut 386 penumpang.






















Kecepatan ‘Dilebih-lebihkan’, Ternyata Kecepatan Maglev Cina 600 Km Per Jam

Terkait dengan propaganda, tak jarang Cina melakukan klaim berlebihan atas suatu produk yang bernilai strategis. Di sektor transportasi, kemampuan Cina dalam memproduksi kereta cepat memang patut diacungi jempol lantaran bisa menandingi teknologi Jepang.

Baca juga: Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam

Di lini kereta cepat, maka Maglev yang dirilis Cina menjadi sorotan global, pasalnya diklaim dalam sebuah postingan memiliki kecepatan 750 km per jam (573 mph). Dalam postingan itu bahkan mengklaim bahwa kereta tersebut adalah kendaraan darat tercepat di dunia. Namun apakah ini benar?

KabarPenumpang.com melansir factly.in (20/9/2021), faktanya 573 mph kira-kira sama dengan 922 km per jam bukan ‘750 km per jam’ seperti yang tertulis dipostingan itu. Namun, kereta dalam postingan tersebut adalah kereta Maglev yang melaju dengan kecepatan 600 km per jam atau 373 mph.

Pada tahun 2015 lalu, Jepang telah membuat rekor dunia baru ketika kereta Maglev Jepang telah mencapai 603 km per jam di jalur eksperimental di Yamanashi. Belakangan klaim dari Cina dikatakan sebagai sistem transportasi Maglev tercepat di dunia yang diluncurkan dari jalur perakitan. Oleh karena itu klaim yang dibuat dalam postingan tersebut adalah SESAT.

Dalam penelusuran lebih lanjut, gambar kereta Maglev pada postingan ditemukan pada artikel CNN dengan foto yang sama. Artikel tersebut diterbitkan pada 21 Juli 2021 dengan judul, “Cina debut kereta tercepat di dunia.” Kereta ini dikembangkan oleh China Railway Rolling Stock Corporation milik negara yang memulai debutnya di Qingdao, Cina.

Kereta peluru Maglev dapat mencapai kecepatan 600 km per jam (373 mph). “’Maglev’ adalah singkatan dari ‘levitasi magnetik’. Kereta tampaknya ‘mengambang’ berkat gaya elektromagnetik yang membuatnya meluncur di atas rel.”

Menurut Reuters, dengan kecepatan tertinggi 600 km per jam, maka kereta ini akan memakan waktu dua setengah jam untuk pergi dari Beijing ke Shanghai yang berjarak lebih dari 1.000 km. Perjalanan akan memakan waktu tiga jam dengan pesawat dan lima setengah jam dengan kereta api berkecepatan tinggi.

Baca juga: Prototipe Kereta Maglev Cina Melaju dengan Kecepatan 620 Km Per Jam

Sementara pesawat terbang dengan kecepatan rata-rata 800 hingga 900 km er jam, kereta berkecepatan tinggi melesat dengan kecepatan sekitar 350 km per jam di Cina. Singkatnya, kecepatan kereta di foto itu dilebih-lebihkan.

Ini Beragam Masalah yang Dirasakan Pengguna Aplikasi PeduliLindungi

Pada Agustus 2021 kemarin, Kementerian Perhubungan mulai menerapkan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat perjalanan di seluruh moda transportasi baik darat, laut maupun udara. Penerapan aplikasi ini karena sektor transportasi merupakan salah satu yang terpenting guna mengatur mobilitasi di masa pandemi Covid-19.

Baca juga: Aplikasi Rideshare dan Taksi Kanada Persiapkan Diri untuk Cegah Covid-19

Dengan penggunaan PeduliLindungi, ini juga memudahkan petugas moda transportasi dalam memastikan proses validasi dokumen kesehatan secara digital. Di mana dengan pengecekan digitalisasi akan lebih aman, cepat, mudah dan sederhana.

Selain itu juga meminimalkan kontak fisik, karena penumpang tak lagi perlu membawa dokumen kertas hasil tes Covid-19 atau kartu vaksin. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, aplikasi digital ini selain memudahkan dalam membantu petugas memastikan validasi dokumen, juga lebih aman dari adalanya pemalsuan hasil swab PCR maupun Antigen.

Meski memudahkan petugas dalam proses validasi penumpang. Ternyata tetap saja ada masalah dalam pelaksanaannya di lapangan dan penggunaan aplikasi dinilai diskrminatif. Pasalnya banyak masyarakat yang mengalami kesulitan dalam penggunaan PeduliLindungi.

Kemudian ada kasus tidak munculnya sertifikat vaksin di aplikasi padahal pengguna sudah melakukan vaksin. Ditambah terjadinya error saat pengguna melakukan scan barcode sebelum naik ke moda transportasi.

Selain itu, banyak lansia yang menggunakan transportasi umum sulit menggunakan aplikasi tersebut karena tidak banyak yang terbiasa dengan teknologi masa kini. Permasalahan lainnya adalah penumpang kehabisan daya ponsel atau kehabisan paket data (internet) saat menggunakan transportasi umum sehingga tidak bisa scan barcode.

Baca juga: 1 Mei 2021, Singapura Resmi Gunakan IATA Travel Pass untuk Data Covid-19 Pelancong 

Dalam hal ini, permasalahan yang terjadi pada pengguna cukuplah merepotkan dan membuat mereka kesulitan ketika akan menumpang moda transportasi. Ternyata tak hanya di sisi penumpang, masalah keamanan data dan borosnya penggunaan daya karena apalikasi PeduliLindungi. Ini karena aplikasi tersebut akan terus aktif setiap saat jika pengguna membukanya.

Mengapa Beberapa Bandara Berlakukan Jam Malam Penerbangan? Ini Jawabannya

Di banyak tempat, aktivitas penerbangan di bandara internasional semakin sibuk saat dini hari. Tetapi, di beberapa bandara, penerbangan dini hari nyaris tidak ada di bawah aturan jam malam penerbangan. Mengapa demikian?

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Diakui atau tidak, bandara memang jadi salah satu sumber kebisingan. Sedang calon penumpang pesawat saja merasa terganggu dengan suara bising mesin pesawat saat menuju bandara, sebelum masuk ke dalam terminal, apalagi warga sekitar yang jelas-jelas menghabiskan banyak waktu di sana. Pasti sangat kebisingan dan terganggu.

Setiap hari, pagi sampai sore, penduduk di sekitar bandara ‘dipaksa’ menikmati kebisingan dari suara mesin pesawat dan lainnya. Di malam hari, waktu dimana mereka seharusnya bisa menikmati kesunyian malam, juga direnggut begitu saja oleh aktivitas di bandara yang tak kenal waktu.

Namun, di beberapa negara, penduduk di sekitar bandara bisa menikmati malam dengan penuh ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas bandara. Itu karena bandara tersebut melakukan jam malam penerbangan.

Sebagaimana namanya, jam malam penerbangan berarti melarang penerbangan di malam hari. Biasanya dari pukul 23.00 sampai 05.00.

Sekalipun tetap ada penerbangan malam, sudah pasti harus melalui prosedur yang ketat, seperti tingkat kebisingan sangat rendah (biasanya pesawat modern semisal Embraer 195-E2) sampai menambah biaya ekstra nan mahal untuk setiap lepas landas dan mendarat. Ini umumnya membuat maskapai mau tak mau memilih mendarat di bandara yang tak menerapkan kebijakan jam malam penerbangan.

Selain itu, di bandara yang menerapkan jam malam, aktivitas penerbangan juga masih dimungkinkan terhadap pesawat yang mengalami keadaan darurat dan harus mendarat di bandara tersebut. Selebihnya, pesawat benar-benar dilarang lepas landas dan mendarat.

Dilansir Simple Flying, salah satu bandara yang menerapkan jam malam penerbangan adalah Bandara Frankfurt, Jerman, mulai dari pukul 23.00 sampai 05.00. Meski terlihat segalanya berjalan sesuai aturan, tetapi, pada prosesnya ada saja kejadian-kejadian menarik.

Disebutkan, pada tahun 2019, penerbangan Lufthansa menggunakan pesawat Airbus A340 dijadwalkan mendarat di Bandara Frankfurt sebelum pukul 23.00 atau ambang batas terakhir penerbangan. Tetapi, dalam perjalanan, terjadi keterlambatan dan dipastikan tiba di atas jam 23.00.

Alhasil, pesawat yang sudah menuju bandara terpaksa balik kanan menuju Bandara Koln. Penumpang akhirnya diangkut menggunakan bus ke Bandara Frankfurt kurang lebih dua jam perjalanan.

Di luar jam malam, Bandara Frankfurt rupanya tetap memberlakukan biaya ekstra untuk setiap kebisingan yang dihasilkan pesawat. Tahun 2015, LATAM harus membayar €869 untuk setiap pendaratan pesawat A340-300 dan €267 untuk setiap pendaratan Boeing 787 Dreamliner di Bandara Frankfurt.

Baca juga: Mengenal Polusi Suara Pesawat: Bisa Bikin Stres Sampai Kardiovaskular! Penumpang-Pilot Terdampak

Lufthansa juga demikian, harus membayar €2.173 untuk setiap pendaratan Boeing 747-400, Boeing 747-8 sebesar €1.292, dan Airbus A380 sebesar €1.298.

Sejak tahun 2012 sampai 2015, persentase biaya ekstra kebisingan di Bandara Frankfurt meningkat 120 persen. Hal ini diklaim sebagai upaya untuk mendorong maskapai agar menjalankan lebih banyak penerbangan di siang hari.

Boeing Rugi Rp4 Triliun di Proyek VC-25B Air Force One, Gegara Botol Tequila Kosong?

Boeing mengaku rugi sebesar US$318 juta atau setara Rp4 triliun lebih (kurs 14.270) dalam proyek pembangunan dua pesawat VC-25B atau Air Force One.

Baca juga: Boeing Selidiki Botol Miras Kosong di Dalam Pesawat Air Force One yang Sedang Dibangun

Meski belum lama ini temuan botol tequila kosong di pesawat Air Force One yang sedang dibangun viral dan jadi sorotan, namun, dipastikan ini tak ada hubungannya dengan kerugian yang dialami Boeing. Ini murni karena bisnis dan dinamika yang menyertainya.

Dilansir Flight Global, CEO Boeing, David Calhoun, menyebut program Revitalisasi Pesawat Kepresidenan berbasis Boeing 747-8 itu menjadi rugi lantaran mobilitas karyawan dan barang terkendala pandemi virus Corona, entah itu karena terinfeksi, karantina mandiri usai bepergian dari luar negeri, lockdown, dan lain sebagainya. Banyaknya kendala membuat target rampungnya dua pesawat itu di 2024 molor.

Molornya proyek ini tentu berdampak negatif bagi Boeing. Sebab, Angkatan Udara AS (USAF) mengontrak Boeing dalam proyek ini dengan skema fixed-price. Artinya, segala pembengkakan biaya yang terjadi harus ditanggung Boeing, bukan USAF atau pemerintah AS.

Selain itu, Boeing juga terlibat berbagai masalah dengan subkontraktor program VC-25B. Ini dikonfirmasi langsung oleh Chief Financial Officer Boeing, Greg Smith. Meski tak menyebut siapa subkontraktor yang dimaksud, namun, kuat dugaan itu adalah GDC Technics of Fort Worth yang berbasis di Texas.

April lalu, GDC Technics digugat Boeing karena diduga gagal memberikan sistem dan komponen pesawat interior yang sudah disepakati untuk pesawat VVIP sekelas Air Force One. Tak tinggal diam, GDC Technics, yang mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 26 April, menggugat balik Boeing dengan menuduh bahwa perusahaan salah kelola dalam program VC-25B.

USAF pada Juli 2018 telah menandatangani kontrak senilai US$3,9 miliar dengan Boeing untuk merancang, memodifikasi, menguji, menyempurnakan, dan mengirimkan dua pesawat 747 untuk menggantikan pesawat yang lebih tua pada akhir 2024.

Belakangan target tersebut mundur menjadi tahun 2025 dan membuat Boeing sementara ini terkoreksi merugi sampai US$318 juta atau sekitar Rp4 triliun lebih (kurs 14.270).

Dua pesawat Air Force One atau VC-25A yang ada saat ini diketahui merupakan pesawat berbasis 747-200 yang dikirim pada tahun 1991. Ini dianggap sudah terlalu tua dan butuh modifikasi di berbagai lini untuk menjamin keamanan presiden, staf, dan para tamu VVIP.

Proses pengerjaan Air Force One atau VC-25B berbasis Boeing 747-8 sudah dimulai sejak tahun 2018, tak lama setelah kontrak diteken.

Baca juga: Boeing Terlibat Masalah dengan Kontraktor, Jadwal Penyelesaian Air Force One Terancam Molor

Disebutkan, pesawat yang juga dijadikan pusat komando dan kontrol saat dalam penerbangan ini dilengkapi interior mewah, lengkap dengan kantor untuk presiden dan kamar tidur terpisah, serta ruang konferensi dan fasilitas medis.

Air Force One VC-25B juga sudah dilengkapi fitur integrasi GPS militer ke dalam sistem manajemen penerbangan dan kemampuan identifikasi teman atau musuh. Unit daya tambahan (APU) yang ada, biasanya Pratt & Whitney PW901A/C, diganti dengan dua APU dari sumber yang tidak disebutkan namanya untuk memungkinkan pesawat memiliki pembangkit tenaga listrik sendiri saat berada di darat.

Sah, Dua Sandaran Tangan ‘Milik’ Penumpang yang Duduk di Kursi Tengah

Apakah sandaran tangan boleh dikuasai oleh penumpang yang duduk ditengah? Atau milik penumpang yang ada di sisi kanan dan kiri penumpang tengah? Namun, apakah Anda mencoba berbagi sandaran tangan ketika Anda duduk di tengah kepada mereka?

Baca juga: Jangan Lupa, Ada Aturannya Saat Turunkan Sandaran Kursi Pesawat

Pertanyaan ini menjadi salah satu topik perdebatan terus menerus di antara penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari timesnownews.com (18/9/2021), baru-baru ini seorang awak kabin telah menjawab pertanyaan yang menjadi perdebatan itu kepada semua orang.

Boris Millan, penulis panduan perjalanan udara The Common Sense of Flying, baru-baru ini muncul di podcast Confessions on the Fly tentang bab dari bukunya tentang etiket pesawat. Dia mengatakan kepada pembawa acara Laura ‘LJ’ Salerno dan Pramugari Jo, “Mereka melakukan banyak penelitian di Inggris untuk beberapa alasan tentang ini ketika Anda duduk di kursi tengah, Anda akan mendapatkan…”

LJ memotong untuk mengatakan, “Anda mendapatkan kedua sandaran tangan!”

Saat itu juga Boris setuju, “Itu masuk akal, teman-teman. Ini masuk akal.”

Bahkan bukan hanya Boris, tetapi banyak orang yang setuju dengan penumpang tengah mendapatkan kedua sandaran tangan. Awal tahun ini, pakar etiket Jodi RR Smith, presiden Mannersmith Etiquette Consulting, mengatakan, ketika duduk tiga orang di pesawat, orang di tengah menguasai kedua sandaran tangan.

Ia menjelaskan, bahwa orang yang berada di lorong memiliki manfaat untuk dapat bergerak bebas dan memiliki ruang yang melebar ke dalam lorong. Orang yang berada di dekat jendela memiliki manfaat untuk bersandar di jendela atau dapat melihat pemandangan, ketika ada sesuatu untuk dilihat.

“Tetapi orang di tengah tidak dapat dengan mudah bergerak atau meregangkan, juga tidak ada tempat untuk bersandar. Oleh karena itu, mereka memiliki kendali atas sandaran tangan,” ujar Smith.

Baca juga: Pengguna TikTok Guyur Kaki Penumpang yang Naik ke Sandaran Kursi Pesawat

Benét J Wilson, penulis perjalanan untuk The Points Guy, setuju, dengan mengatakan, ‘orang malang’ yang terjebak di kursi tengah berhak mendapatkan kedua sandaran tangan. Orang yang berada di jendela memiliki badan pesawat dan kendali atas naungan. Orang di lorong memiliki akses dan dapat meletakkan kaki mereka keluar saat awak kabin tidak melayani.






















Boeing Selidiki Botol Miras Kosong di Dalam Pesawat Air Force One yang Sedang Dibangun

Boeing dilaporkan tengah menyelidiki temuan dua botol miras (minuman keras) jenis tequila di dalam pesawat Air Force One yang sedang dibangun di Pabrik, San Antonio, Amerika Serikat (AS). Minum miras sangat dilarang saat membangun pesawat; apalagi membangun pesawat yang kelak akan digunakan orang nomor satu di AS, Presiden Joe Biden.

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Boeing sendiri tak menyangkal soal temuan dua botol tequila kosong di pesawat Air Force One yang sedang dibangun. Tetapi, perusahaan tak berkomentar banyak saat ditanyai wartawan. “Ini adalah ulah oknum karyawan kami, untuk alasan kontrak (setelah kejadian ini) kami tidak bisa berkomentar lebih jauh,” kata juru bicara Boeing, seperti dilaporkan CNN Internasional.

Setali tiga uang, Kepala Humas Angkatan Udara AS, Ann Stefanik, membenarkan adanya botol miras kosong di pesawat Air Force One. Meski begitu, Boeing meyakinkan tak ada dampak signifikan terhadap pesawat VC-25B berbasis Boeing 747-8 yang tengah dibangun.

“Boeing memberi tahu Angkatan Udara tentang ulah oknum karyawannya yang terkait dengan program VC-25B,” jelasnya.

“Tidak ada dampak terhadap upaya modifikasi kedua pesawat yang sedang berlangsung. Angkatan Udara terus memantau kualitas produksi dengan cermat dan meminta pertanggungjawaban Boeing untuk memastikan program VC-25B memenuhi persyaratan kontrol kualitas yang ketat,” tambahnya.

Disebutkan, ini bukan masalah pertama dalam proyek pembuatan dua pesawat Air Force One Boeing. Sebelumnya, dua pesawat kepresidenan AS itu rencananya akan dikirim pada 2024 mendatang, menggantikan Air Force One yang ada saat ini.

Tetapi, belakangan Boeing menyebut terjadi penundaan sekitar satu tahun. Pandemi Covid-19 membuat beberapa subkontraktor yang sudah melakukan beberapa pekerjaan interior dalam program VC-25B bangkrut, sehingga Boeing kesulitan untuk mengejar target 2024. Selain itu, Boeing juga disebut ‘cekcok’ dengan beberapa subkontraktornya.

Keputusan pembangunan dua pesawat Air Force One oleh Boeing sendiri terjadi di era Presiden Donald Trump pada tahun 2018 silam.

Ketika itu, Angkatan Udara AS menandatangani kontrak senilai $ 3,9 miliar dengan Boeing untuk merancang, memodifikasi, menguji, menyempurnakan, dan mengirimkan dua pesawat 747 untuk menggantikan pesawat yang lebih tua pada akhir 2024.

Di tahun 2020, Pemerintahan Trump melalui Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengajukan anggaran sebesar US$800,9 juta atau sekitar Rp11 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS untuk program Rekapitalisasi pesawat VC-25B atau program rekapitalisasi pesawat Air Force One.

Baca juga: Boeing Terlibat Masalah dengan Kontraktor, Jadwal Penyelesaian Air Force One Terancam Molor

Dalam proposalnya, Air Force One akan berganti warna, dari semula berwarna biru dan putih muda, warisan dari Presiden Kennedy dan ibu negara Jacqueline Kennedy, menjadi berwarna merah, putih, dan biru tua, mirip dengan maskapai Trump Shuttle.

Kendati mendapat sorotan dan mungkin hal ini juga sudah diketahui Presiden Joe Biden, namun, tak ada keterangan lanjutan apakah perubahan warna pesawat Air Force One yang diajukan di era Trump ini akan dibatalkan Joe Biden atau tidak.

Yang Unik dari Stasiun Kuala Lumpur, Padukan Desain Barat dan Timur

Terletak di ibu kota negara, Stasiun Kuala Lumpur tergolong bangunan bersejarah yang telah berusia tua di Malaysia, lantaran stasiun ini sudah beroperasi sejak tahun 1910. Kehadirannya menggantikan sebuah stasiun yang lebih lama pada lokasi yang sama dan pernah menjadi penghubung kereta api di kota ini bagi Keretapi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu dan Keretapi Tanah Melayu sebelum Kuala Lumpur Sentral mengambil alih tahun 2001.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

Bangunan Stasiun Kuala Lumpur memiliki ciri khas gaya perpaduan Barat dan Timur. Di mana memiliki tiga platform tinggi yang melayani empat platform dengan dua platform tepi pada dua sisi dan satu platform pulau ditengah. KabarPenumpang.com merangkum Wikipedia, Stasiun Kuala Lumpur awalnya terdiri dari satu terminal utama di depan gedung dan tiga platform kereta api yang mengoperasikan empat platform di bagian belakang.

Struktur utama terdiri dari aula utama, loket tiket dan kantor yang dirancang khusus dengan gaya Raj yakni campuran Barat dan Mughal mirip dengan arsitektur kebangkitan Moor atau Indo-Arab. Bagkan menjadi populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di koloni India, termasuk di Eropa dan Inggris.

Tak hanya itu, ada juga bangunan ladam kuda dan gerbang Ogee serta chhatri besar di sudut bangunan menemani variasi yang lebih kecil di depan. Stasiun ini sebanding dengan bangunan Sultan Abdul Samad dan struktur yang dibangun di sekitar Lapangan Merdeka selama periode ini.

Bukan hanya ada bangunan utama, ada tiga lantai tambahan di sayap kanan ditambahkan pada awal periode operasi dengan menerapkan desain Barat saat ini dengan perimeter dan segmen gerbang yang terpisah. Bagian depan Stasiun Kuala Lumpur ini sama sekali berbeda dari bangunan gaya yang sama yang memilih bata terbuka dan dicat dengan berbagai warna cerah.

Atap stasiun berkerangka baja yang lebih tinggi dari bangunan awal sebelumnya. Sisi peron tidak terhubung ke bangunan utama dan dikelilingi oleh dinding yang dibangun sesuai dengan gaya yang sama dengan bangunan utama. Peron dan bangunan utama dihubungkan melalui dua lorong bawah tanah.

Baca juga: Pembangunan Transit Oriented Development di Malaysia, Ternyata Juga Tidak Mudah

Desain platform tambahan selama modifikasi stasiun pada tahun 1986 dengan pendekatan yang lebih terkini, terdiri dari tiang beton besar yang mendukung atap berhiasan dan kantor tiket yang terbuat dari beton di ujung utara, bergantung pada dua lantai di udara. Dinding dan lengkungan putih yang bertindak sebagai hiasan dekoratif menambah lebih banyak pada kompleks Dayabumi. Stasiun ini terletak di Jalan Sultan Hishamuddin, atau dulu dikenal sebagai Victory Avenue.