Bagaimana Cara Mesin Pesawat Dipasang? Berikut Ulasannya

Di dunia, produsen pesawat menempatkan mesin di posisi yang berbeda-beda. Ada yang di badan pesawat bagian atas dan belakang dengan format tiga, empat, sampai enam mesin; di fuselage tengah dengan format dua mesin, sampai di sayap (tinggi dan rendah) pesawat dengan format dua dan empat mesin.

Baca juga: Bagaimana Perawatan Mesin Pesawat Dilakukan? Ini Jawabannya

Masing-masing dari mereka tentu punya alasan teoritis tersendiri mengapa mesin diletakkan di sana, didukung dengan data-data empiris hasil pengujian. Entah itu berhubungan dengan kenyamanan, keamanan, maupun efisiensi dan aerodinamika pesawat.

Terlepas dari banyaknya model peletakan mesin pesawat, pada artikel ini kami lebih membahas bagaimana cara mesin pesawat di pasang, dalam hal ini di sayap, bukan di bagian lain pesawat. Sebelum menjawab hal itu, ada baiknya kita bahasa terlebih dahulu kenapa mesin pesawat diletakkan di sayap.

Dilansir Simple Flying, jawaban dari pertanyaan itu tentu tidak sederhana. Tetapi bukan berarti tak bisa dideskripsikan. Sebetulnya, mesin pesawat bisa dipasang dimana saja. Tetapi, ketika memasukkan unsur keamanan, kenyamanan, efisiensi, dan aerodinamika pesawat, tentu mesin pesawat hanya bisa diletakkan di posisi tertentu; termasuk di sayap.

Ada beberapa keunggulan meletakkan mesin pesawat di sayap, mulai dari membantu menekuk sayap ke arah bawah, melawan efek lift dari wingtip yang menekuk ke atas, serta akses perawatan yang lebih mudah. Hanya saja memang peletakan mesin di sayap memperbesar risiko kerusakan benda asing atau foreign object damage.

Kendati mesin dipasang di sayap pesawat, itu bukan berarti mesin berada benar-benar di bawah sayap pesawat. Mesin diletakkan agak ke depan dari sayap. Fungsinya agak sayap tak mengepak seperti sayap pada burung. Kemudian, itu juga dimaksudkan agar ketika terjadi kebakaran, sayap dan bahan bakar di dalamnya masih relatif aman dari kobaran api pada mesin.

Cara pemasangan mesin ke sayap pesawat cukup sederhana, sebagaimana cara kerja mesin pesawat. Cukup menghubungkan pod mesin ke tiang atau pylon pada sayap pesawat dengan baut. Biasanya tak baut yang digunakan untuk menghubungkan pylon dengan nacelle, satu baut di atas dan satu lainnya di bawah.

Walaupun cuma dua baut, tetapi itu sangat kuat mengingat bautnya terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi, salah satunya superalloy, paduan nikel 718, pada pesawat Boeing 737.

Baca juga: Bingung Bagian Bawah Mesin Boeing 737 Rata? Ini Penjelasannya!

Baut-baut yang mengikat nacelle dengan pylon juga disebut mampu bertahan dalam beragam kondisi, kecuali benturan hebat, seperti pendaratan tanpa roda dan lainnya. Di luar itu, mesin dijamin tetap akan menempel di mesin di segala kondisi.

Tetapi, andaipun mesin lepas saat terjadi insiden, itu sebetulnya lebih diharapkan mengingat memperkecil kemungkinan kebakaran dari mesin yang menyambar ke sayap pesawat.

Viral Foto Penumpang Kereta London Gunakan Masker untuk Tutupi Mata

Penggunaan masker yang kini menjadi wajib selama masa pandemi, ternyata bukan hanya membuat manusia sulit bernafas menikmati udara bebas, tetapi banyak hal konyol dan aneh yang bisa membuat tertawa. Salah satunya terjadi di jaringan London Underground pada (27/4/2021) kemarin dan tertangkap oleh kamera.

Baca juga: Berselisih Karena Tak Kenakan Masker, Penumpang Kereta Terkena Semprotan Merica

Di mana seorang penumpang yang tengah bepergian di jalur Hammersmith dan City melakukan hal konyol. Penumpang pria tersebut bukannya menggunakan masker untuk menutupi mulut dan hidungnya, tetapi menutup mata untuk menikmati tidur dalam perjalanan.

Ini membuat penumpang lainnya terjebak antara ketidaksetujuan penggunaan masker dan komedi situasi itu. Dilansir KabarPenumpang.com dari mylondon.news (29/4/2021), penumpang yang mengabadikan moment tersebut bernama Stieve, kemudian dia mempostin di sebuah grup Facebook dengan caption, “Eh, bukan begitu cara kerjanya!”

Karena hal ini, warga London, Inggris membanjiri kolom komentar untuk mengekspresikan apa yang mereka lihat terhadap bagian aneh antropologi Tube. Biasanya warganet akan akan berkomentar kata-kata terbaik, lelucon dan komentar jenaka mereka dengan mengorbankan perjalanan yang mengantuk.

“Not woke,” adalah salah satu permainan kata yang tak terhindarkan.
“Dia belum melingkarkan kakinya melalui tali tasnya. Bukan dari London saya mengerti, ”kata warganet lainnya.

Ada juga beberapa pengguna yang memarahi pria itu karena melanggar aturan Covid.

“Ketika Anda begitu muak dengan orang-orang Anda tidak peduli tentang menangkap ‘rona,” adalah penjelasan lain yang diajukan. Dia membutuhkan tidur kecantikannya karena dia jelas tidak punya otak,” tambah yang lain dengan nakal.

Penumpang lain memperhatikan tas ‘Whole Foods’ milik pelancong itu seumur hidup dan mencoba melihat sisi positifnya, “Dia punya makanan sehat di sana, jadi jika dia tertular virus dia akan sehat ketika dia tidak bisa bernapas.”

“Setidaknya dia makan dengan sehat,” adalah tanggapan lain.

Baca juga: Berselisih Karena Tak Kenakan Masker, Penumpang Kereta Terkena Semprotan Merica

Bahkan ada sebagian kecil pengguna yang mengira mungkin pemakai masker maverick itu tertarik pada sesuatu.

“Saya melakukan hal yang persis sama beberapa hari yang lalu lol Saya hanya perlu tidur sebentar dan membutuhkan sesuatu untuk menghalangi silau,” aku salah.

Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Sebelum era duopoli Boeing-Airbus, Uni Soviet memiliki banyak produsen pesawat berkualitas. Sebut saja Antonov, Ilyushin, Tupolev, Sukhoi, dan Yakovlev. Beberapa dari mereka bahkan membuat pesawat monumental yang terkenang sampai saat ini, seperti Antonov An-225, Ilyushin Il-14 Avia, serta pesawat supersonik Tupolev Tu-114, pesaing ketat pesawat supersonik Concorde.

Baca juga: Percaya atau Tidak, Rusia Pernah Membuat Helikopter Berkapasitas 196 Penumpang

Hanya saja, dari sekian banyak jenis dan tipe pesawat yang sudah diproduksi oleh kelima pabrikan tersebut, tak semuanya laku keras di pasaran. Lalu, pesawat apa saja yang laku dipasaran? Dilansir Simple Flying, berikut daftar pesawat-pesawat terlaris buatan Uni Soviet dan Rusia.

1. Antonov
Pabrikan yang berdiri pada tahun 31 Mei 1946 di Novosibirsk, Uni Soviet tersebut tentu sudah kondang di jagat industri kedirgantaraan dunia. Dari 30an lebih tipe pesawat yang diproduksi, mulai dari jenis pesawat penumpang, pesawat kargo, pesawat pengintai, pesawat uji, sampai pesawat glider, hanya beberapa pesawat saja yang banyak diminati operator di seluruh dunia. Salah satu yang terlaris adalah Antonov An-12.

Pesawat kargo yang awalnya dikhususkan untuk militer ini diketahui telah diproduksi Antonov sebanyak 1.248 unit antara tahun 1957 dan 1973.

Selain An-12, ada juga An-24 dengan total produksi sebanyak 1.367 unit, serta An-72 dan An-74 dengan produksi kurang lebih 200 unit. Salah satu pesawat yang pernah mengoperasikan pesawat Antonov adalah Aeroflot.

2. Ilyushin
Kendati tak sepopuler Antonov, Ilyushin nyatanya berdiri lebih dahulu, yakni pada 13 Januari 1933, di Moskow, Rusia. Kualitas pesawat buatannya juga boleh diadu dengan Antonov. Salah satu pesawat buatannya, Ilyushin Il-96-300, bahkan digunakan oleh Presiden Vladimir Putin sebagai pesawat kepresidenan Rusia, Vlad Force One.

Tetapi, itu bukanlah yang terlaris. Tercatat, Il-14, Il-12, Il-18, dan Il-62 adalah pesawat-pesawat terlaris buatan Ilyushin dengan jumlah produksi tertinggi mencapai 1.348 unit dan terendah mencapai 292 unit. Pesawat-pesawat itu pernah dioperasikan oleh Aeroflot, Air Koryo, dan Rossiya Airlines.

3. Sukhoi
Nama pabrikan Sukhoi tentu sudah tak asing jagat aviasi Indonesia. Penyebabnya, apalagi kalau bukan kecelakaan tragis Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, pada 9 Mei 2012.

Menariknya, tipe pesawat itu pulalah yang laris dipasaran, dengan total sebanyak 172 unit pesawat sampai saat ini, kendati belum satupun diproduksi dan dikirim ke maskapai. Salah satu pemesannya adalah Armavia, maskapai nasional Armenia.

4. Tupolev
Pegiat aviasi dunia, apalagi tahun-tahun dimana Tupolev memasuki masa kejayaannya, pasti sangat familiar dengan produsen pesawat tertua Uni Soviet di antara empat lainnya ini. Salah satu yang terkenal tentu Tupolev Tu-114 supersonik pesaing Concorde.

Baca juga: Antonov An-24, Jawara Pesawat Penumpang Propeller Soviet yang ‘Dijiplak’ Menjadi Xian MA60

Tetapi, berbicara pesawat terlaris, Tu-114 tidak termasuk di dalamnya. Setidaknya, ada empat pesawat terlaris Tupolev sejak pertama kali berdiri pada 22 Oktober 1922, di Moskow, Rusia, mulai dari Tu-154, Tu-134, pesawat jet kedua di dunia -setelah de Havilland Comet- Tu-104, dan Tu-124. Aeroflot adalah satu di antara banyak maskapai yang pernah mengoperasikan pesawat tersebut.

5. Yakovlev
Dibanding empat lainnya, Yakovlev hanya memiliki dua pesawat terlaris. Dua itu adalah Yak-40 dengan total produksi mencapai 1.013 serta Yak-42 dengan produksi sebanyak 185 unit. Aeroflot adalah satu di antara banyak maskapai yang pernah mengoperasikan pesawat tersebut.

Kementerian Transportasi Jepang Buat Zona Larangan Terbang Selama Olimpiade Tokyo 2021

Olimpiade Tokyo yang tertunda tahun lalu, akan dilaksanakan pada 21 Juli hingga 5 September 2021. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Transportasi Jepang mengatakan, akan ada zona larangan terbang di atas tempat atau lokasi Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo tersebut.

Baca juga: Sambut Olimpiade Tokyo 2021, JR East Co Hadirkan ELLA Robot Barista di Semua Stasiun Besar

Penetapan zona larangan terbang pada masa perhelatan olahraga internasional tersebut diumumkan pada Kamis (6/5/2021). Kementerian Transportasi mengatakan, bagi penerbangan reguler yang akan berangkat atau tiba di Bandara Haneda Tokyo tidak akan dikenakan pembatasan tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman kyodonews.net (6/5/2021), disebutkan kementerian, bahwa zona larangan terbang tersebut akan diberlakukan dari dua jam sebelum dimulainya kompetisi. Pemberlakuan ini akan berakhir satu jam setelah perhelatan olahraga tersebut selesai.

Ada pun zona larangan terbang, kementerian mengatakan, ini akan mencakup penerbangan di semua ketinggian. Tak hanya itu, pembatasan yang sama akan berlaku juga pada pembukaan dan penutupan Olimpiade serta Paralimpiade Tokyo 2021 di Stadion Nasional tempat utama perhelatan olahraga tersebut.

Untuk diketahui, zona larangan terbang akan mencakup radius tiga kilometer dari lokasi selama kompetisi. Bahkan zona ini juga akan diperluas hinggaO radius 46 km dari Stadion Nasional tempat upacara dilaksanakan.

Baca juga: Hadirkan Berbagai Teknologi Canggih dan Habiskan Miliaran Dollar, Akankah Olimpiade Jepang Tetap Digelar?

Nantinya kompetisi yang diadakan di luar Tokyo seperti maraton yang akan diadakan di Sapporo juga tunduk pada zona larangan terbang. Olimpiade Tokyo sendiri di akan diadakan antara 23 Juli dan 8 Agustus menyusul penundaan satu tahun karena pandemi virus corona. Sedangkan, Paralimpiade akan dilanjutkan dari 24 Agustus hingga 5 September.

Pasca Peniadaan Mudik, PT KAI Telah Operasikan 144 Kereta Api Jarak Jauh

Bagaimana perjalanan kereta api jarak jauh setelah masa mudik Lebaran kemarin? Saat ini pasca peniadaan mudik, PT kereta Api Indonesia atau KAI mulai kembali mengoperasikan kereta jarak jauh ke berbagai kota baik di daerah operasional di Pulau Jawa maupun divisi regional di Pulau Sumatera.

Baca juga: Punya Bunker, Inilah Kisah Balai Besar Bandung yang Menjadi Kantor Pusat PT KAI

Dalam keterangan tertulis, pasca peniadaan mudik, mulai 18 Mei hingga 24 Mei 2021, VP Public Relation PT KAI Joni Martinus mengatakan jumlah perjalanan jarak jauh rata-rata 144 kereta per harinya. Joni menyebutkan, saat ini, penumpang yang akan bepergian sudah bisa melakukan pembelian tiket melalui aplikasi KAI Access, web KAI maupun seluruh channel resmi penjualan tiket kereta lainnya.

Meski begitu, Joni menegaskan bahwa PT KAI tak lagi meminta surat izin perjalanan, tetapi penumpang tetap harus melampirkan surat bebas Covid-19 atau hasil negatif melalui rapid antige, GeNose C19 ataupun RT-PCR. Di mana surat hasil negatif Covid-19 diambil dalam kurun waktu 1×24 jam.

Penumpang yang akan bepergian menggunakan kereta api, Joni menambahkan, PT KAI masih menyediakan layanan untuk rapid tes antigen dengan tarif Rp85 ribu di 42 stasiun. Selain itu juga tetap menghadirkan pemeriksaan GeNonse C19 di 54 stasiun.

Tak hanya itu, PT KAI juga mengeluarkan aturan baru mulai 18 Mei 2021 yang isinya mengenai calon penumpang yang tidak menunjukan hasil negatif RT-PCR, rapid tes antigen, GeNonse C19, tidak menggunakan masker, penumpang terinfeksi virus corona, maka tiket yang direfund akan dikenakan bea pembatalan sebesar 25 persen.

Proses pembatalan dilakukan di loket stasiun pembatalan dan melalui Contact Center 121 paling lambat 30 menit sebelum keberangkatan. Sedangkan calon penumpang yang didapati suhu tubuhnya di atas 37,3 derajat celcius pada saat boarding, maka tiket akan dikembalikan 100 persen.

Baca juga: PT KAI Luncurkan KA Brawijaya Relasi Gambir-Malang dan KA Kertanegara Relasi Purwokerto-Malang

Pembatalan dapat dilakukan di semua loket stasiun penjualan. Proses pengembalian bea pada loket stasiun pembatalan dapat dilakukan tunai atau skema transfer. Khusus untuk layanan Contact Center 121 menggunakan skema transfer. Bea tiket yang dibatalkan dikembalikan setelah hari kalender ke-30 sejak permohonan pembatalan.

Jadi Salah Satu Bagian Terpenting Pesawat, Begini Cara Kerja Landing Gear

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway.

Baca juga: Mengapa Main Landing Gear Boeing 737 Dibiarkan Terbuka dan Terlihat? Ini Jawabannya

Secara definitif, roda pendaratan berfungsi untuk menyerap tenaga pendaratan serta mencegah badan pesawat menghantam tanah. Fungsi tersebut dijalankan setidaknya oleh dua cara, pertama penyangga roda pendaratan utama yang memiliki sistem peredam kejut (shock struts). Kedua, landing force yang menyebar ke seluruh roda.

Di masa lalu, sistem landing gear belum menggunakan peredam kejut. Masih sangat sederhana sekali menggunakan rigid struts suspensi rendah teknologi yang membuat pendaratan jadi kasar dan keras. Seiring berjalannya waktu, landing gear pesawat mulai menggunakan spring steel struts, berlanjut ke bungee cords, dan barulah menggunakan shock struts.

Dengan menggunakan nitrogen dan cairan hidrolik, sistem pegas yang ‘tersaji’ pada shock struts akan mampu meminimalisir daya kejut ketika pesawat mendarat secara signifikan – setidaknya jauh lebih halus dari tiga varian di atas.

Daya kejut yang dihasilkan ketika pesawat touchdown akan senantiasa tereduksi dengan hadirnya dua silinder yang akan meminimalisir efek kejut.

Pada pesawat kecil, tentu landing gear hanya menggunakan tiga roda. Pada pesawat narrowbody dengan konfigurasi 2-2, biasanya empat roda di setiap sisi dan satu di depan. Sedangkan pada pesawat widebody, seperti Boeing 777 menggunakan masing-masing tiga roda pendaratan.

Adapun pada pesawat yang lebih besar seperti A340, A380, Boeing 747, menggunakan total lima roda pendaratan. Terbanyak tentu dipegang oleh Antonov An-225 dengan total tujuh roda pendaratan atau total 28 roda di sisi kanan dan kiri pesawat.

Momen paling krusial landing gear tentu saat lepas landas dan mendarat. Ketika lepas landas gesekan kuat membuat tekanan pada landing gear begitu kuat. Roda pendaratan kemudian menggantung selama cruising dan masuk ke dalam kompartemen di lambung pesawat.

Sampai di sini, seperti dikutip dari Simple Flying, tidak semua roda pendaratan disimpan sempurna di badan pesawat. Salah satunya Boeing 737. Main landing gear pesawat ini memang tetap melipat ke dalam badan pesawat, namun, dibiarkan terbuka dan terlihat.

Anehnya, saat dilipat, struts roda pendaratan utamanya tertutup cover dan menyisakan roda pendaratan yang terbuka. Lebih aneh lagi, nose landing gear atau landing gear bagian depan Boeing 737 tidak demikian. Ia melipat dan tertutup oleh cover atau sejenis pintu hingga tak terlihat.

Baca juga: Intip Cara Qantas Rawat Komponen Landing Gear System Tanpa Harus Terbang

Selama di udara, praktis landing gear tidak bekerja apa-apa sampai ketika hendak mendarat. Di sini, landing gear biasanya akan dikeluarkan pilot beberapa mil sebelum mendekati bandara.

Landing gear kemudian touch down, meredam efek kejut dari badan pesawat dengan suspensi khusus yang disebar ke seluruh roda pendaratan. Pada titik ini prosesnya amat krusial. Salah sedikit, roda pendaratan bisa saja meledak dan membuat pendaratan menjadi horor.

Khusus Kelas Ekonomi Domestik, Garuda Indonesia Tawarkan “Eco Lite” Diskon Spesial 25 Persen

Garuda Indonesia menggelar promo khusus bertajuk “Economy Lite” (Eco Lite) dengan menghadirkan harga spesial dengan diskon tiket 25 persen, untuk penerbangan kelas ekonomi rute domestik. Promo tersebut berlaku untuk pembelian tiket mulai tanggal 20 Mei – 31 Mei 2021 di seluruh kanal resmi penjualan tiket Garuda Indonesia dengan periode perjalanan hingga 31 Desember 2021 mendatang.

Baca juga: Sstt… Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Garuda Indonesia Retro Livery Setengah Hati!

Penawaran harga spesial tersebut dihadirkan bagi calon penumpang yang memiliki preferensi atau kebutuhan prioritas dengan memilih untuk duduk berdampingan selama penerbangan, diantaranya bersama keluarga atau rekan terdekat.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Program Economy Lite ini kami perkenalkan dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat seiring dengan meningkatnya preferensi masyarakat yang mengedepankan added value layanan penerbangan, khususnya melalui pilihan duduk berdampingan, antara lain bersama keluarga atau rekan terdekat di era kenormalan baru seperti saat ini”.

“Hal ini tentunya juga sejalan dengan mulai tumbuhnya persepsi dan kepercayaan akan rasa aman dan nyaman masyarakat untuk bepergian menggunakan moda transportasi udara, sejalan dengan momentum program vaksinasi nasional yang tengah dilaksanakan oleh Pemerintah”, papar Irfan.

Adapun dalam pengalokasiannya, promo khusus Economy Lite ini disediakan secara terbatas pada baris penumpang yang terpisah dengan penumpang regular lainnya pada setiap penerbangan. Hal ini dilakukan guna memastikan aspek kenyamanan dan keamanan bagi seluruh penumpang di tiap penerbangannya senantiasa selalu terjaga sesuai dengan kebutuhan dan pilihan masing-masing penumpang.

Baca juga: Garuda Indonesia Sewakan Simulator Pesawat dengan Tarif Mulai Rp1,6 Jutaan, Ikuti Thai Airways?

Irfan menambahkan, “Ditengah berbagai prefensi masyarakat yang semakin beragam dalam memilih layanan penerbangan, Garuda Indonesia berkomitmen untuk selalu menghadirkan pengalaman penerbangan terbaik dengan mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama”.

Ngeri, Teknologi Terbaru Bisa Bikin Pesawat Ngebut 21 Ribu Km Per Jam!

Teknologi sistem propulsi terbaru kembangan University of Central Florida (UCF) disebut mampu membawa pesawat melesat hingga Mach 17 atau 21 ribu kilometer per jam. Teknologi ini tentu akan membuka jalan geliat penerbangan hipersonik yang diprediksi akan marak di masa mendatang.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Jet NASA X-15 Jadi Pesawat Pertama yang Melesat 4,675 Km Per Jam!

Sebagai perbandingan, pesawat Lockheed SR-71 Blackbird sebagai pemegang rekor dunia untuk kecepatan tertinggi di udara saat ini, hanya mampu menyentuh 3.529 kilometer per jam.

Bila segalanya dipermudah, perjalanan dari New York di ujung timur ke Los Angeles di ujung barat Amerika Serikat sejauh 4.500 kilometer bisa tempuh hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Normalnya, penerbangan komersial saat ini membutuhkan waktu rata-rata enam jam perjalanan.

Dalam penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, para peneliti menemukan cara menstabilkan ledakan penggerak hipersonik dengan menciptakan ruang reaksi hipersonik khusus untuk mesin jet.

“Ada dorongan internasional yang intensif untuk mengembangkan sistem propulsi terbaru untuk penerbangan hipersonik dan supersonik yang memungkinkan penerbangan melesat dengan kecepatan sangat tinggi dan juga efisien,” tulis Kareem Ahmed, profesor di Departemen Teknik Mesin dan Dirgantara UCF.

“Penemuan menstabilkan ledakan -yang notabene jadi bentuk paling kuat dari reaksi intens dan pelepasan energi- berpotensi merevolusi sistem propulsi dan energi hipersonik,” tambahnya, seperti dikutip dari Scitech Daily.

Teknologi sistem propulsi terbaru ini memanfaatkan kekuatan apa yang disebut oblique detonation wave. Sebelumnya sistem propulsi saat ini menggunakan kekuatan rotating detonation waves. Sebetulnya agak rumit untuk menjelaskan teknologi ini secara teknis. Untuk penjelasan teknisnya silahkan klik di sini.

Namun, secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat pada gelombang udara yang dihasilkan. Bila rotating detonation waves membuat ruang udara berputar, oblique detonation wave justru sebelaiknya, tidak bergerak dan relatif stabil dengan memiringkan ramp di dalam mesin.

Dengan begitu, efisiensi pada mesin penggerak jadi meningkat dan menggunakan sedikit bahan bakar dibanding sistem propulsi atau mesin penggerak sebelumnya. Muara dari itu, tentu mengurangi biaya dan emisi karbon dioksida.

Menariknya, teknologi sistem propulsi terbaru ini bukan hanya bisa digunakan pada pesawat komersial maupun militer, melainkan juga bisa digunakan pada roket untuk misi luar angkasa, menjadikannya lebih ringan dengan sedikit bahan bakar, perjalanan lebih jauh, dan pembakaran lebih bersih.

Baca juga: Cek Fakta, Kereta Shinkansen Melesat 4.800 Km per Jam, Jakarta-Surabaya Cuma 15 Menit!

Sebelum temuan dari para peneliti UCF, ilmuan di dunia sangat penasaran dengan oblique detonation wave engines atau mesin gelombang ledakan miring.

Meski masih butuh pengembangan dan penelitian lebih jauh, bila berhasil, teknologi penggerak hipersonik berbasis ledakan atau detonation-based hypersonic propulsion bisa diaplikasikan di seluruh penerbangan dan roket luar angkasa pada dekade mendatang.

Gawat, Singapore Airlines Rugi Rp46 Triliun Sepanjang 2020

Singapore Airlines (SIA) mencatat kerugian sebesar US$3,2 miliar atau sekitar Rp46 triliun (kurs 14.454), turun 76 persen dibanding tahun sebelumnya, sepanjang 12 bulan pada periode Maret 2020 sampai Maret 2021. Itu karena, flag carrier nasional Singapura itu kehilangan penumpang sekitar 97,9 persen akibat pembatasan perjalanan.

Baca juga: Selamatkan Singapore Airlines, Temasek Suntikan Dana Rp218 Triliun

Angka kerugian tersebut sebetulnya bisa saja lebih besar andai pendapatan maskapai dari penerbangan kargo tidak tumbuh. Seperti diketahui, selama pandemi, pendapatan dari penerbangan kargo justru meningkat sebesar 38,8 persen menjadi US$2 miliar atau sekitar Rp28 triliun (kurs 14.454).

Hanya saja, penerbanga kargo memang tak berkontribusi banyak untuk operasional pesawat, termasuk pengaruhnya terhadap kinerja keuangan.

Di artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com sudah membahas bahwa sumber penghasilan terbesar maskapai, 75 persen di antaranya datang dari penumpang. Adapun sisanya, 15 persen datang dari muatan kargo dan 10 persen lagi dari bisnis lainnya, salah satunya iklan.

Dengan hitungan seperti itu, praktis maskapai tak punya pilihan lain kecuali mengejar load factor tinggi. Khususnya bagi maskapai berbiaya rendah atau LCC yang pada umumnya menjual tiket murah dengan berharap banyak pada tingginya load factor.

Adapun maskapai lainnya dengan reputasi tinggi pada layanan seperti Singapore Airlines, mungkin load factor tidak selalu menjadi satu-satunya andalan, mengingat, mereka mengambil margin yang cukup besar pada layanan yang ditawarkan. Namun, kembali lagi, dengan 75 persen pendapatan datang dari penumpang, load factor rendah tetap saja akan sangat mempengaruhi.

Selain penurunan pendapatan, SIA juga mencatat kerugian akibat mempensiunkan dini banyak armadanya. Laporan Simple Flying, setidaknya ada 45 pesawat berbagai tipe yang sudah dipensiunkan SIA sebelum waktunya; termasuk tujuh Airbus A380, empat 777-200ER, empat 777-300ER, delapan 737-800, beberapa A330, dan berbagai pesawat lainnya, menyisakan 162 jet penumpang dan tujuh pesawat kargo.

Sebagai gantinya, maskapai akan lebih fokus untuk merevitalisasi pesawat dan memaksimalkan pesawat-pesawat generasi terbaru yang lebih efisien, seperti Boeing 787 dan Airbus A350.

Untuk menutupi seluruh kebutuhan maskapai, baik menanggung kerugian tahun lalu maupun strategi bisnis ke depan, SIA berencana mencari pembiayaan sebesar US$4,6 miliar atau Rp66 triliun (kurs 14.454) melalui obligasi.

Baca juga: Semester Pertama 2020, Trafik Perjalanan Singapore Airlines Anjlok 98,9 Persen

Anjloknya traffic penumpang dan kerugian SIA sebetulnya bukan hal aneh. Maskapai lain juga merasakan hal serupa akibat pandemi virus Corona.

Hanya saja, SIA memang sangat wajar untuk menerima kerugian yang lebih besar dibanding maskapai lainnya. Sebab, SIA tidak punya pangsa pasar domestik mengingat luas wilayahnya yang teramat kecil dan sangat tergantung dengan posisinya sebagai hub Asia, khususnya Asia Tenggara.

PO Bus AKAP Lakukan Sistem Borongan, Ternyata Berdampak Negatif

Sistem borongan dalam operasional bus antar kota antar provinsi atau AKAP? Mungkin beberapa dari Anda pernah mendengar dan mengingatkan pada taksi masa lalu yang mau mengangkut penumpang borongan.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Dari Layani Penumpang Hingga Turunkan Barang di Bagasi

Namun, apakah dengan sistem borongan ini bisa berdampak besar bagi pengemudi dan awak bus? KabarPenumpang.com mengutip dari detik.com, ternyata sistem borongan bus AKAP sendiri sampai saat ini masih dianut oleh banyak perusahaan otobus.

Namun, direktur utama PT SAN Putra Sejahtera atau PO SAN, Kurnia Lesani Adnan mengatakan, dalam fenomena borongan, pihaknya sudah mengharamkan hal tersebut. Dia menyebutkan bahwa sistem ini perusahaan hanya perlu memberi sejumlah uang operasional kepada pengemudi dan kondektur.

Sehingga keuntungan dan kerugian selama perjalanan ditentukan oleh keduanya. Sani mengatakan, bila dalam satu hari itu penumpang banyak, maka pengemudi dan kondektur atau bisa disebut kenek tersebut akan untung.

Tetapi bila keadaannya berbalik alias sepi, maka akan ada kerugian dan pengemudi serta kenek harus nombok untuk urusan oeprasional. Sani menjelaskan, adanya sistem borongan juga membuka peluang kru bus lepas kendali di lapangan dan membuat berbagai cara untuk mendapatkan penumpang sebanyak mungkin.

“Kebijakan borongan itu membuat pengemudi dan kenek berlomba-lomba untuk menjadi maling bahasa kasarnya. Masih banyak PO itu yang dilepas, dia jalan cari sendiri. Masih ada beberapa PO dengan pola sistem borongan,” jelas Sani.

Selain itu mengemudikan bus, sistem borongan membuat para kru bus memiliki tugas lain, yakni mencari penumpang. PO SAN sendiri sudah menghilangkan praktik tersebut dan Sani menyebutkan masih banyak PO yang belum mempertegas pengemudi akan hal ini.

“Kalau kami jelas, pengemudi SAN itu memindahkan orang dari titik satu ke titik yang lain. Tapi masih banyak PO yang masih mencari orang untuk dipindahkan. Kalau pengemudi SAN itu nggak mikir nyari penumpang. Bukan ngompreng tapi memang mereka harus mencari penumpang. Kalau SAN nggak boleh,” kata Sani.

Baca juga: Pelayanan Rumah Makan Minang dan Karakter Penumpang, Jadi Sebab Bus AKAP Lintas Sumatera Tak Sediakan Makan

Sani menjelaskan contoh praktik sistem borongan di PO AKAP yakni biaya operasional normal butuh Rp4 juta, sedangkan borongan dari perusahaan hanya Rp3,5 juta. Rp4 juta tersebut pun pengemudi dan kenek belum mendapatkan apa-apa.

“Artinya, para sopir bus di jalan itu harus nyari uang Rp 1-1,5 juta atau sebanyak mungkin,” dia menambahkan.