61 Tahun Lalu, Tupolev Tu-114 Rossiya Jadi Pesawat Turboprop Tercepat, Terbesar, dan Jangkauan Terjauh di Dunia

Pada hari ini, 61 tahun lalu, bertepatan dengan 9 April 1960, pesawat legendaris Uni Soviet, Tupolev Tu-114 Rossiya mengukukan diri menjadi pesawat turboprop penumpang tercepat di dunia setelah melesat di kecepatan 877 km per jam.

Baca juga: Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia

Dilansir historynet.com, Rusia atau Uni Soviet memang sudah sejak awal abad ke-20 berambisi untuk membuat pesawat besar dan cepat. Itu bisa dilihat pada tahun 1913. Ketika itu, Igor Sikorsky berhasil membuat Russky Vityaz, pesawat empat mesin pertama dan terbesar di dunia.

Ambisi Uni Soviet memproduksi pesawat-pesawat besar terus berlanjut sampai ke Perang Dunia I dan II. Salah satunya ialah pembom strategis Tupolev Tu-95 “Bear” rancangan biro desain Tupolev pimpinan Andrei Tupolev. Seolah belum puas, Soviet pun mendorong Tupolev untuk turut membuat pesawat besar versi penumpang atau komersial hingga lahirlah Tupolev Tu-114 Rossiya.

Pesawat itu merupakan pengembangan dari Tupolev Tu-95 “Bear”. Meski demikian, Tupolev tetap membuat banyak perbedaan antar keduanya.

Disebutkan, pesawat turboprop penumpang terbesar di dunia ini didukung dengan kabin baru yang mampu menampung hingga 224 penumpang. Sayapnya juga berbeda. Bila sayap Tupolev Tu-95 “Bear” menggunakan high-wing position maka Tupolev Tu-114 Rossiya sebaliknya, menggunakan sayap rendah atau low-wing position.

Didukung empat baling-baling contra­rotating serta mesin Kuznetsov NK-12MV buatan produsen dalam negeri, Tu-114 mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan khas pesawat jet modern, 880 km per jam. Tak secepat jet Boeing 707 atau Douglas DC-8 memang, tapi pesawat ini mampu membawa beban lebih berat dibanding keduanya.

Pesawat dengan bentang sayap 51 meter, panjang 54 meter, dan berat lepas landas mencapai 385.809 pound ini pertama kali diperkenalkan ke publik di ajang Brussels World Exhibition pada tahun 1958, atau setahun setelah melakukan penerbangan perdana pada 15 November 1957.

Pesawat, yang oleh NATO dijuluki Cleat tersebut, kemudian dioperasikan untuk kunjungan Perdana Menteri Uni Soviet Khrushchev ke Amerika Serikat pada 1959. Ketika itu, sebetulnya, mayoritas pejabat Soviet tidak setuju menggunakan pesawat tersebut lantaran 80 persen perjalanan antara Moskow dan Washington sangat panjang dan Aeroflot, operator dari Tu- 114, jarang melakukan penerbangan trans-samudera pada saat itu hingga tidak memiliki pelatihan dengan teknik darurat, bertahan hidup di laut dan menggunakan rakit dan jaket penyelamat.

Politbiro Partai Komunis serta KGB mendesak Khrushchev untuk mempertimbangkan kembali keputusannya itu, tetapi dia tegas menolak. Lagi-lagi dia tidak mau malu.

Akhirnya semua harus dilakukan dengan perencanaan dan misi rumit. Angkatan Laut Soviet menempatkan kapal-kapal setiap 200 mil di sepanjang rute tersebut untuk mengantisipasi jika pesawat menghadapi masalah.

KGB bahkan harus membangun sebuah pesawat tiruan dan mengujinya di kolam renang besar di Moskow untuk menguji skenario evakuasi air. Beruntung, penerbangan berjalan lancar.

Sadar Tupolev Tu-114 Rossiya merupakan yang terbaik di kelasnya, Soviet pun mendorong Tupolev untuk melakukan uji kecepatan terbang pesawat itu di closed-circuit wind tunnel, sejenis tempat khusus untuk menguji mesin pesawat. Hasilnya, pesawat itu berhasil memegang rekor kecepatan dunia Fédération Aéronautique Internationale untuk pesawat baling-baling pada 1960 dengan capaian 877 km per jam.

Baca juga: 55 Tahun Lalu, Antonov An-22 Antei, Turboprop Terbesar di Dunia Terbang Perdana

Selain itu, Tupolev Tu-114 Rossiya juga menjadi pesawat turboprop penumpang dengan jangkauan terbang terjauh di dunia ketika itu, mencapai 10.900 km. Jadi, pesawat ini secara keseluruhan memegang gelar sebagai pesawat turboprop penumpang terbesar dan tercepat dengan jangkauan terjauh di dunia. Luar biasa, bukan?

Dalam 14 tahun berkarir di kancah penerbangan sipil, Tu-114 dilaporkan memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang tinggi. Tu-114 mengangkut lebih dari enam juta penumpang sebelum digantikan oleh Ilyushin Il-62 bertenaga jet. Sebanyak 32 pesawat dibangun di pabrik penerbangan Kuibyshev pada awal 1960an.

Bisa Angkut 7 Penumpang, Inilah Taksi “Minibus” Udara eVTOL Terbesar di Dunia

Startup asal Jerman, Lilium Aviation, resmi meluncurkan taksi udara listrik dengan kapasitas penumpang hingga tujuh orang. Muatan sebanyak itu dinilai tidak lagi menjadikannya masuk ke dalam segmen taksi udara listrik, melainkan minibus udara listrik. Ini bahkan diklaim sebagai taksi udara listrik atau eVTOL terbesar di dunia.

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Sebelumnya, pada tahun 2019, Lilium telah meluncurkan eVTOL (electric vertical takeoff and landing) berkapasitas lima kursi atau lima penumpang, yang diklaim enam hingga tujuh kali lebih senyap daripada helikopter saat lepas landas, di udara, maupun saat mendarat.

Lilium diketahui secara diam-diam sudah sejak tahun 2018 silam mengembangkan eVTOL berkapasitas tujuh kursi ini. Setelah melalui proses panjang, minibus udara Lilium tersebut akhirnya berhasil mendapat sertifikasi CRI-A01 dari EASA pada tahun 2020. Itu berarti, minibus udara Lilium sudah siap digunakan secara komersial. Sertifikasi EASA itu juga menjadi modal berharga untuk mendapat lolos sertifikasi FAA.

eVTOL terbesar di dunia dengan kapasitas tujuh kursi tersebut diketahui mampu melesat di kecepatan maksimum hingga 280 km per jam, dengan ketinggian maksimum mencapai 10 ribu kaki, serta jangkauan terbang 250 km lebih. Ini tentu jauh lebih kuat dan mumpuni dibanding eVTOL lainnya di seluruh dunia, sejalan dengan kapasitas kursinya.

Menariknya, sekalipun melaju jauh lebih cepat dibanding eVTOL lainnya, eVTOL Lilium menjamin tetap lebih senyap dan tenang saat terbang dalam kecepatan penuh, sehingga cocok untuk mendukung mobilitas udara perkotaan (UAM) yang bebas polusi udara dan suara di masa depan.

Kabin eVTOL Lilium. Foto Lilium Aviation

Beranjak ke dalam kabin atau interior, desainnya juga juga epik dan nuansa yang dibangun cukup brilian. Adapun detail fitur sejenis In Flight Entertainment (IFE) penumpang belum dipaparkan lebih jauh.

Dilansir New Atlas, eVTOL Lilium didukung oleh setidaknya 36 rotor listrik kecil yang tersebar di bagian kanan dan kiri sayap melintang di bagian belakang eVTOL Lilium, serta sayap di bagian depan yang lebih pendek.

Baca juga: Tiket Penerbangan eVTOL Penumpang Pertama Volocopter di Singapura Ludes Terjual dalam Sekejap

Jumlah rotor eVTOL Lilium tentu jauh lebih banyak dibanding para kompetitor yang rata-rata hanya mengandalkan rotor besar berjumlah di bawah 10, seperti eVTOL Joby Aviation dengan enam rotor besar, eVTOL ambulans udara buatan AMSL Aero dengan delapan rotor besar, eVTOL Uber dengan dua rotor besar, eVTOL Skai dengan enam rotor, hingga eVTOL Archer dengan 12 rotor besar.

Bila tak ada aral melintang, perusahaan yang akan go public di bursa Nasdaq melalui penggabungan dengan perusahaan akuisisi khusus (SPAC) bersama Qell Acquisition tersebut akan memulai debutnya pada 2024 untuk pasar Eropa dan 2025 untuk pasar Amerika Serikat.

Lufthansa Sulap Airbus A350 Jadi Lab Penelitian Iklim Terbang

Lufthansa dikabarkan tengah mengubah Airbus A350-900 menjadi pesawat penelitian iklim. Saat ini, proses pengerjaannya sudah dimulai Lufthansa Technik di Malta. Bila tak ada aral melintang, laboratorium iklim terbang ini akan mulai beroperasi pada 2021 mendatang.

Baca juga: Lufthansa Luncurkan Corona Lounge di Rusia, Seperti Apa?

Dilansir Simple Flying, pesawat dengan nomor registrasi D-AIXJ yang tengah dimodifikasi nantinya akan dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih di beberapa bagian, salah satunya bagian lambung atau perut pesawat.

Pesawat laboratorium iklim terbang bernama “Erfurt” itu akan dilengkapi dengan CARIBIC atau Civil Aircraft for the Regular Investigation of the atmosphere Based on an Instrument Container seberat 1,6 ton, sejenis peralatan pengukur, melengkapi air intake system atau sistem sirkulasi udara yang sebelumnya sudah dipasang di lambung pesawat, sebelum dikalibrasi.

Itu bukan pertama kalinya sebuah pesawat Lufthansa memiliki sistem pembawa CARIBIC. Sebelumnya maskapai memasangnya di A340-600.

“Memprediksi cuaca lebih akurat, menganalisis perubahan iklim lebih tepat, meneliti lebih baik bagaimana dunia berkembang. Ini adalah tujuan kerjasama unik global antara Lufthansa dan beberapa lembaga penelitian,” kata Annette Mann, head of Corporate Responsibility Lufthansa Group, dalam sebuah pernyataan.

Pesawat telah dimodifikasi dan dilengkapi dengan CARIBIC atau Civil Aircraft for the Regular Investigation of the atmosphere Based on an Instrument Container seberat 1,6 ton, sejenis peralatan pengukur, untuk mengumpulkan data atmosfer saat terbang antara 9-12 km. Foto: Lufthansa

“Kami membantu memastikan bahwa parameter penting yang relevan dengan iklim dikumpulkan tepat pada ketinggian itu di mana efek rumah kaca atmosfer sebagian besar dihasilkan,” lanjutnya.

Sebelum mulai dimodifikasi, proyek ini sudah didahului oleh tahap perencanaan dan pengembangan sekitar empat tahun yang melibatkan lebih dari sepuluh perusahaan serta Karlsruhe Institute of Technology (KIT) sebagai perwakilan dari konsorsium ilmiah yang lebih besar dari seluruh dunia.

Pada waktunya tiba, pesawat laboratorium iklim terbang ini akan beraksi untuk mengumpulkan data atmosfer dari sekitar 100 parameter berbeda, mulai dari gas jejak hingga parameter aerosol dan awan. Ini semua dioperasikan oleh Lufthansa, bekerja sama dengan banyak lembaga penelitian dunia.

Kumpulan data dari laboratorium iklim terbang Lufthansa akan jauh lebih akurat daripada yang dikumpulkan oleh stasiun pengamatan bumi dan satelit, karena pesawat berada tepat di ruang tempat atmosfer terkumpul.

Baca juga: Tua-tua Keladi, Setelah 63 Tahun DC-8 Justru Diandalkan NASA Jadi Lab Terbang Canggih

Itulah mengapa, banyak lembaga penelitian dunia juga melakukan hal serupa, salah satunya ialah NASA; yang mengoperasikan laboratorium terbang dari pesawat DC-8 untuk menjalankan tiga misi utama, yaitu pengembangan sensor, verifikasi sensor satelit, dan studi penelitian dasar tentang permukaan dan atmosfer Bumi.

Menurut Lufthansa, data yang dikumpulkan oleh D-AIXJ akan digunakan untuk menilai kinerja model atmosfer dan iklim saat ini. Ini, pada gilirannya, akan memungkinkan lembaga penelitian dunia untuk menyempurnakan model masa depan mereka.

Dengan Teknologi 3D, Bandara Internasional Kuala Lumpur Kini Berstandar “Airport 4.0”

Teknologi 3D baru dalam Sistem Manajemen Antrian Otomatis atau AQMS untuk mengelola dan mengurangi waktu tunggu antrian menjadi di bawah sepuluh menit diterapkan oleh Bandara Internasional Kuala Lumpur. Dalam pengoperasian ini, AQMS memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk menghitung secara akurat jumlah penumpang di area tertentu.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Kini Dilengkapi 14 Pemindai Tubuh dengan Teknologi X-CT Scan

Sehingga secara proaktif memantau kemacetan, kepadatan dan memperingatkan staf lapangan untuk intervensi yang diperlukan untuk memperkuat serta mematuhi standar tingkat layanan dan Prosedur Operasi Standar (SOP). Dilansir KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (15/3/2021), AQMS juga bertindak sebagai langkah pencegahan terbaru bandara dalam memerangi pandemi Covid-19 dan memungkinkan jarak fisik yang aman dan mematuhi norma baru.

Sebagai bagian dari transformasi Bandara Internasional Malaysia, operator Bandara Internasional Kuala Lumpur akan menjadi bandara 4.0. Sehingga data waktu tunggu dari AQMS akan diintegrasikan ke dalam Layar Tampilan Informasi Penerbangan (FIDS) Bandara Kuala Lumpur dan aplikasi seluler ‘MYAirports’ di kemudian hari.

Tahap untuk memungkinkan penumpang merencanakan perjalanan mereka di bandara dengan lebih baik. Fase pertama AQMS telah diselesaikan untuk semua titik pemeriksaan pemeriksaan keamanan, termasuk gerbang keberangkatan. Sistem akan diterapkan di semua titik kontak penting, dan fase berikutnya yang saat ini sedang berlangsung untuk check-in, imigrasi, dan bea cukai akan selesai pada Juni 2021.

“Dengan teknologi digital, kami akan mengubah proses bandara menjadi layanan yang lebih efisien yang akan melayani penumpang kami dengan lebih baik dalam hal keselamatan dan kenyamanan. AQMS akan menghilangkan stres karena waktu tunggu yang lama dan memastikan jarak fisik yang efektif di semua titik kontak utama. Untuk bandara, AQMS sesuai dengan aspirasi kami dalam memerangi pandemi dan transformasi Bandara 4.0 kami yang sedang berlangsung,” kata Chief Executive Officer of Malaysia Airports, Dato ‘Mohd Shukrie Mohd Salleh.

AQMS menggunakan sensor 3D yang memantau kondisi waktu secara realtime, seperti perubahan sederhana dalam kondisi suhu dan pencahayaan, dan algoritme kompleks secara otomatis mendeteksi antrean panjang dan waktu tunggu. Informasi waktu nyata ini kemudian disalurkan ke tulang punggung operasi bandara di Pusat Kontrol Operasi Bandara (AOCC), di mana sumber daya dapat segera digunakan untuk membantu memastikan layanan yang cepat dan arus penumpang yang lancar.

Pengendalian massa dapat dilakukan secara efektif sesuai dengan SOP untuk lebih menjamin keselamatan penumpang, bahkan saat mengantri.

Baca juga: Keliling Bandara dan Pesawat Lebih Mudah dengan Virtual Reality Ocean3D

“Pada akhirnya, kami tetap fokus pada perjalanan Bandara 4.0 kami dalam membuktikan layanan kami di masa depan dan meningkatkan pengalaman penumpang. Kami berharap dapat menciptakan nilai strategis bagi semua mitra dan lembaga pemerintah terkait dengan memanfaatkan data yang diambil dari AQMS agar lebih efisien dan efektif dalam perencanaan dan alokasi sumber daya. Distribusi analitik ini adalah upaya bersama bagi komunitas bandara untuk bekerja sama dalam meningkatkan perjalanan penumpang,” Dato ‘Mohd Shukrie menambahkan.

Kereta di Taiwan Tergelincir Hingga Tewaskan 51 Orang, Jepang Siap Bantu Pasca Kecelakaan

Sedikitnya 51 orang tewas ketika sebuah kereta bertabrakan dengan sebuah truk dan tergelincir di Taiwan timur pada hari Jumat (2/4/2021). Bahkan para pejabat kereta api mencatat bahwa jumlah korban tewas mungkin meningkat seiring upaya pemulihan jalur yang masih berlanjut tersebut.

Baca juga: Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Administrasi Kereta Api Taiwan (TRA) mengatakan bahwa insiden ini terjadi di Kabupaten Hualien yang saat itu truk pemeliharaan meluncur dari lereng dekat lokasi konstruksi di atas rel kereta api. Kereta dengan delapan gerbong dan mengangkut 492 penumpang dan empat awak yang melakukan perjalanan dari Taipei ke Kabupaten Taitung timur menabrak kendaraan sesaat sebelum memasuki terowongan.

Pejabat TRA mengatakan bahwa rem dicurigai tidak menahan kendaraan dan mereka sedang bekerja untuk mengumpulkan lebih banyak rincian konkret dari kecelakaan itu. Penggelinciran tersebut terjadi pada hari pertama dari istirahat empat hari untuk tradisi menyapu makam tahunan Taiwan.

Dalam insiden itu masinis dan asistennya tewas termasuk 51 penumpang yang mana salah satunya adalah warga negara Prancis. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (2/4/2021), Badan Pemadam Kebakaran Nasional mengatakan bahwa jumlah korban tewas mungkin meningkat karena beberapa jenazah yang tidak lengkap di tempat kejadian terlihat dan belum dipindahkan.

Kecelakaan itu juga menyebabkan sedikitnya 146 orang terluka, termasuk dua warga negara Jepang dan satu dari Makau. Beberapa gerbong rusak parah dalam kecelakaan itu, menurut rekaman yang ditayangkan di TV lokal. TRA mengatakan akan membutuhkan waktu seminggu untuk memindahkan gerbong yang macet di terowongan. Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang mengirimkan belasungkawa kepada keluarga para korban.

“Saya ingin menyampaikan simpati yang dalam kepada keluarga korban dan penumpang yang terluka. Itu juga membuat penumpang yang berada di dalam kereta takut,” kata Su.

Seorang penumpang bermarga Wu mengatakan, dia tidak berani melihat ke tempat kejadian di mana banyak orang sedang berbaring. Dia mengatakan, di sana gelap dan semua orang tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan penumpang lain yakni Hsueh mengaku, dia dan penumpang lainnya bekerja sama untuk memecahkan jendela agar bisa melarikan diri.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah menginstruksikan pihak berwenang untuk menyelidiki secara komprehensif penyebab kecelakaan itu, yang merupakan yang terburuk dalam sejarah Taiwan. Adanya inisiden ini kemudian membuat Jepang menyatakan akan siap membantu Taiwan jika ada permintaan dari negara tersebut.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang dalam kepada para korban kecelakaan itu dan menyampaikan simpati kami kepada semua yang terlibat,” juru bicara pemerintah Jepang Katsunobu Kato.

Baca juga: Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Kereta ekspres yang tergelincir di Taiwan timur diproduksi oleh pabrikan Jepang Hitachi dan mulai beroperasi pada Mei 2007. Institut Amerika di Taiwan (AIT), yang bertindak sebagai kedutaan besar AS secara de facto, juga menyampaikan belasungkawa yang terdalam kepada para korban, keluarga, dan komunitas yang terkena dampak dari penggelinciran tragis tersebut.

Sedih! Airbus A380 Digadang Bisa Jadi Jet Pribadi, Tapi Malah Ditolak Mentah-mentah

Pesawat komersial superjumbo terbesar di dunia, Airbus A380, terlalu fenomenal untuk sepenuhnya pensiun dari langit. Karenanya, banyak avgeek dan pengamat yang memandang bahwa A380 bisa saja tetap terbang sebagai jet pribadi atau pesawat VVIP. Namun, belum juga hal itu dijajaki, CEO perusahaan spesialis pesawat VIP dan jet pribadi terbesar di dunia justru menolak hal itu mentah-mentah.

Baca juga: (Video) Airbus A380 Terakhir Sukses Terbang Perdana 

Sejak terbang perdana pada 27 April 2005 dan pengiriman perdana ke maskapai Singapore Airlines pada Oktober 2007, A380 terus menunjukkan tajinya dan sangat digandrungi avgeek serta penumpang di seluruh dunia. Kabin luas, high tecnologhy, lebih senyap, lebih nyaman, dan banyak fitur canggih dinilai menjadi alasannya.

Pamor A380 semakin melejit tatkala raksasa maskapai penerbangan asal Timur Tengah, Emirates, memesan 117 unit pesawat superjumbo itu, didahului dan diikuti oleh maskapai besar lainnya yang semakin menjadikannya sebagai pesawat komersial termewah dan prestisius.

Seiring berjalannya waktu, pesawat lain yang lebih kecil dinilai jauh lebih efisien. Sudah begitu, tren penumpang juga berubah, dari semula penerbangan berbasis hub menjadi point-to-point. Hal ini tentu tak efisien bila menggunakan pesawat superjumbo quadjet. Perlahan A380 ditinggalkan maskapai. Alhasil, Airbus pun menyetop produksi A380 pada awal tahun 2019 silam.

Sebetulnya, hal itu tak terlalu berarti bila maskapai yang sudah memiliki pesawat itu terus menerbangkannya. Situasi kemudian berubah ketika virus Corona menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan menghentikan penerbangan. Masa depan A380 makin suram dan maskapai ramai-ramai mempensiunkan A380 secara permanen.

Di tengah kondisi itu, banyak kalangan mendorong agar A380 dijadikan sebagai pesawat VIP bahkan VVIP, pesawat kenegaraan, serta jet pribadi, semata pesawat superjumbo itu tetap menghiasi langit dunia. Namun, hal itu ditolak mentah-mentah oleh CEO Comlux Aviation, Andrea Zanetto.

Menurutnya, A380 memiliki lebih banyak kekurangan dibanding kelebihan untuk dijadikan pesawat jet pribadi dan sejenisnya.

“Yah, saya pikir bahkan pemerintah tidak akan pergi seperti itu, dan untuk pribadi, Anda biasanya tidak membeli kastil jika Anda ingin memiliki rumah mewah. Jadi, mengapa membeli kastil? Mungkin beberapa orang di dunia akan memiliki kastil, tetapi pada akhirnya, tidak akan nyaman atau menyenangkan untuk diajak terbang bersama,” jelasnya, dikutip dari Simple Flying.

“Anda tidak bisa mendarat di mana pun. Anda hanya bersandar ke hub utama. Ini bukan pesawat untuk penerbangan pribadi. Ada terlalu banyak batasan pada pesawat. Mengapa Anda ingin membatasi diri Anda pada lebih sedikit bandara di dunia?,” tambahnya.

Selain masalah ukuran yang membatasi mobilitas pengguna mendarat dimanapun, A380 juga tidak cocok untuk menjadi jet pribadi atau pesawat VVIP karena cost-nya tinggi.

Baca juga: Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

“Pada akhirnya, biaya operasional adalah sesuatu yang penting bagi semua orang, termasuk tamu VIP yang sedang terbang. Tapi saya pikir saya akan mengatakan bahwa batasan pesawat, ditambah ukurannya, terlalu besar untuk dipertimbangkan untuk urusan pribadi. Itu tidak masuk akal. Dua lantai, ukurannya, yang sangat besar, terlalu banyak,” ujarnya.

Meski demikian, ia tak menampik bahwa bisa saja ada segelintir orang di dunia ini yang ingin menjadikan A380 sebagai jet pribadi. Jika diminta, perusahaannya akan menghadirkan itu untuk mereka. Namun, sebagai konsultan, ia sangat tak merekomendasikan A380 sebagai jet pribadi, pesawat VVIP, ataupun pesawat kenegaraan.

Baru Sebulan Beroperasi di NTT, KMP Jatra 1 Tenggelam Akibat Gelombang Tinggi

Badai Siklon Tropis Seroja yang menghantam Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4 April kemarin, menyebabkan banjir bandang dan membuat moda transportasi baik darat, laut maupun udara sempat berhenti beroperasi. Bahkan salah satu kapal yang baru diresmikan dan beroperasi pada Maret kemarin harus karam dan tenggalam.

Baca juga: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Nyata dan Bukan Hanya Karangan Buya Hamka

Kapal ini adalah kapal motor penumpang (KMP) Jatra 1 yang dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry. Sekretaris PT ASDP Indonesia Ferry Shelvy Arifin mengatakan, pada kejadian itu, semua kru dalam keadaan selamat karena berada di darat.

Kemudian pihak ASDP melakukan koordinasi dengan regulator untuk melakukan evakuasi kapal sembari menunggu kondisi cuaca membaik.

“Sejak Sabtu, 2 April, layanan operasional penyeberangan di Pelabuhan Bolok, Kupang ditutup karena cuaca ekstrem,” kata Shelvy.

Dia juga mengatakan, kapal Jatra 1 ini pun sejak akhir pekan lalu tidak bisa bergerak dari Dermaga 2 Pelabuhan Bolok di Kupang karena terjebak badai. Saat terjebak itulah KMP Jatra 1 mengalami benturan karena tingginya gelombang air laut yang akhirnya menimbulkan kebocoran hingga air masuk kapal.

Kemudian posisi kapal dalam keadaan miring di dermaga dengan kondisi generator kapal mati. Selain KMP Jatra 1, KMP Namparnos juga sempat hanyut terbawa arus laut dan terdampar di Pulau Kambing yang mana sebelumnya kapal ini berlabuh di Pulau Semau.

Dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KMP Jatra 1 memiliki bobot 3.871 gross tonnage dan dioperasik ASDP NTT sejak 10 Maret 2021. Ini merupakan kapal terbesar yang dimiliki ASDP Kupang dengan panjang 88,7 meter, lebar 15,6 meter dan tinggi cardeck empat meter.

Baca juga: Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

KMP Jatra 1 mampu mengangkut 770 penumpang, 100 unit sepeda motor dan 84 mobil. Kapal ini melayani penyeberangan Rote, Larantuka (Flores Timur) dan Kalabahi (Alor). Kapal ini buatan tahun 1980.

Berdasarkan Surat Edaran ME.01.02/PDR/O7/KTUG/IV-2021 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kupang, keadaan pasang surut air laut, gelombang tinggi, dan curah hujan tinggi, mengakibatkan layanan operasional penyeberangan di Pelabuhan Kupang ditutup sementara. Penutupan dilakukan otoritas setempat hingga situasi kondusif.

Buntut Mesin Terbakar dan Meledak di Udara, JAL Pensiunkan Boeing 777

Japan Airlines (JAL) akhirnya mempensiunkan Boeing 777 bermesin Pratt & Whitney (P&W). Keputusan tersebut diambil menyusul insiden mesin pesawat Boeing 777 United Airlines terbakar dan meledak saat di udara.

Baca juga: Ternyata Ini Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar di Udara

Dilansir king5.com, semula maskapai nasional Jepang itu sudah berencana mempensiunkan Boeing Triple Seven Maret 2022 mendatang. Namun, perusahaan mulai meninjau ulang keputusan tersebut sejak Desember 2020 silam.

Ketika itu, pesawat Boeing 777 Japan Airlines dengan nomor penerbangan JL904 yang juga menggunakan mesin P&W4000 mengalami kerusakan di bagian mesin. Disebutkan, Badan Keselamatan Transportasi Jepang melaporkan dua bilah kipas rusak, salah satunya retak akibat kelelahan logam atau metal fatigue. Seolah bimbang, JAL tetap melanjutkan operasional mereka bersama pesawat tersebut.

Namun, ketika insiden serupa terulang di pesawat United Airlines, JAL bergerak cepat hingga akhirnya bulat mempensiunkan armada Boeing 777-nya.

Sebagai gantinya, JAL akan mengerahkan jet widebody lainnya yang lebih modern, yaitu Airbus A350-900 dengan basis di Bandara Itami Osaka. Selain itu, JAL juga memperkenalkan pesawat Boeing 767 yang dikonfigurasi secara internasional dalam jaringan domestik untuk mengisi kekosongan usai mempensiunkan Boeing 777.

Sebetulnya, JAL bisa dibilang terburu-buru memutuskan hal itu. Padahal, bila berkaca dari laporan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB), metal fatigue yang menjadi dalang insiden mesin pesawat Boeing 777 United Airlines terbakar dan meledak saat di udara masih tergolong pada kerusakan mesin terkendali. Artinya, tak ada ancaman berarti bilapun JAL tetap menerbangkan Triple Sevennya.

Dikutip dari Simple Flying, menurut Skybrary, kegagalan mesin terkendali bisa dibilang tidak sampai menyebabkan komponen-komponen mesin lepas dan puing-puingnya jatuh tanpa terkendali sehingga membahayakan orang-orang di darat.

Terbayang bukan, bila puing-puing mesin membentur badan atau bagian lain pesawat, yang notabene kabinnya bertekanan, bisa saja membuat lubang, terjadi dekompresi eksplosif, serta membuat pesawat kehilangan ketinggian.

Poinnya, kegalalan mesin terkendali tidak membahayakan penerbangan dan orang-orang yang berada di darat karena komponen mesin tidak lepas secara sporadis.

Berbeda dengan kegagalan mesin terkendali, kegagalan mesin tidak terkendali kondisinya jauh lebih rumit. Komponen-komponen mesin lepas dan jatuh ke daratan. Selain itu, komponen yang lepas secara sporadis juga masih dimungkinkan untuk membentur badan pesawat sehingga membayakan penerbangan.

Baca juga: ANA Sulap Pesawat Boeing 777 yang Di-grounded Jadi Restoran, Sekali Makan Rp7,8 Juta!

Agar pesawat Boeing 777 yang dipensiunkan tetap berguna dan menghasilkan pundi-pundi uang, JAL mungkin bisa mendapat inspirasi dari kompetitor domestiknya, All Nippon Airways (ANA).

Tak ingin pesawatnya mangkrak akibat grounded berkepanjangan, ANA menyulap salah satu Boeing Triple Sevennya menjadi restoran. Harga menyantap sajian makanan di sini tak tanggung-tanggung, mencapai US$540 atau sekitar Rp7,8 juta (kurs 14.525) untuk paket makanan di first class untuk sekali makan.

Qatar Airways Umumkan Penerbangan dengan Awak Kabin dan Penumpang Full Tervaksinasi

Menjadi pemimpin pemulihan dalam penerbangan, Qatar Airways baru saja mengoperasikan penerbangan pertama di dunia yang sudah divaksinasi Covid-19. Penerbangan itu dilakukan pada Selasa, (6/4/2021) dengan nomor QR6421 yang berangkat dari Bandara Internasional Hammad pada pukul 11.00 waktu setempat.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

Penerbangan itu mengangkut awak kabin, penumpang dan staf darat yang divaksinasi, sehingga semuanya merasa aman dalam perjalanan. Penerbangan itu kembali ke Doha pukul 14.00 waktu setempat. Penerbangan tersebut menggunakan pesawat Airbus A350-1000.

“Penerbangan khusus hari ini menunjukkan tahap selanjutnya dalam pemulihan perjalanan internasional. Kami bangga untuk terus memimpin industri dengan mengoperasikan penerbangan pertama dengan awak dan penumpang yang divaksinasi penuh dan memberikan harapan untuk masa depan penerbangan internasional,“ ujar Kepala Eksekutif Grup Qatar Airways Akbar Al Baker yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Selasa (6/4/2021).

Dia mengatakan ini merupakan DNA Qatar Airways untuk menjadi yang terdepan menetapkan standar keselamatan dan layanan pelanggan tertinggi. Al Baker menjelaskan, sebelum pandemi, Qatar Airways menjadi maskapai pertama dan satu-satunya yang dianugerahi Skytrax Airline of the Year sebanyak lima kali.

“Ketika pandemi mencapai puncaknya pada awal April 2020, maskapai kami terus terbang untuk membantu memulangkan jutaan penumpang yang terdampar dan mengangkut persediaan medis penting, sambil juga menerapkan inovasi terbaru dalam keamanan hayati dan kebersihan. Saat peluncuran vaksin mulai meningkat pesat di seluruh dunia, Qatar Airways tetap berkomitmen untuk menjadi penumpang maskapai penerbangan dan mitra perjalanan yang dapat diandalkan, mengoperasikan salah satu jaringan global terbesar untuk menyediakan konektivitas yang diperlukan untuk menyatukan kembali keluarga dan teman serta mendukung perdagangan global,“ jelasnya.

 

 

Bernilai Sejarah, Keberadaan Lockheed JetStar Peninggalan Elvis Presley Masih Misterius

Tak seperti Presiden Republik Indonesia saat ini, yang hanya mencicipi satu model pesawat kepresidenan, yaitu Boeing Business Jet 2, dahulu, Presiden Soekarno bisa dibilang cukup banyak menjajal pesawat populer sebagai pesawat kepresidenan. Mulai dari Dakota RI-001 (masih perdebatan karena tak digunakan khusus untuk presiden), Ilyushin Il-18 Dolok Martimbang, Convair 990, Douglas DC-8, hingga Lockheed C-140 (versi militer dari Lockheed JetStar L-329 atau L-1329).

Baca juga: Kisah “Azab” Big Bunny, Pesawat Private DC-9 Mewah Milik Bos Majalah Playboy

Untuk pesawat terakhir, di masanya, cukup banyak selebritis, tokoh, dan negarawan kenamaan dunia yang menggunakan pesawat ini. Sebut saja musisi Frank Sinatra, Presiden Amerika Serikat ke-36 Lyndon B Johnson, hingga King of Rock and Roll Elvis Presley.

Lockheed JetStar Frank Sinatra disebut mangkrak di suatu tempat. Sedangkan Lockheed JetStar yang dahulu disebut sebagai Air Force One and Half milik Presiden Lyndon B Johnson sudah masuk ke dalam koleksi museum nasional. Namun, lain cerita dengan keberadaan pesawat milik Elvis Presley. Sejak dijual pada tahun 1977, tak lama setelah ia wafat, Lockheed JetStar 1962 miliknya menghilang secara misterius.

Dilansir Simple Flying, setelah lama menghilang secara misterius, pesawat yang dapat menampung delapan penumpang, kabin luas, dan menampilkan interior beludru merah dengan panel kayu serta karpet kasar di kabin utama ini tiba-tiba muncul ke publik untuk dilelang.

Pada tahun 2017 silam, pesawat yang juga dilengkapi sistem musik onboard dan toilet pribadi tersebut laku dilelang seharga US$430.000, setelah menghabiskan waktu 35 tahun di kuburan pesawat di Roswell, New Mexico, AS. Meski sudah berkarat serta mesin dan komponen penerbangannya dilepas, pesawat tersebut masih cukup diminati.

Setahun setelahnya, sang pemilik baru pesawat legendaris peninggalan Elvis Presley justru kembali melelang. Meski tak semahal harga di tahun 2017, namun, tetap saja, pesawat bernilai sejarah itu tak mungkin dilepas dengan harga murah. Sebab, sedikit saja perbaikan, bukan tak mungkin harga jual Lockheed JetStar 1962 Elvis Preseley bisa melonjak drastis.

Sejak lelang terakhir, keberadaan pesawat tersebut masih misterius. Tak disebutkan dengan jelas siapa pemenang lelang dan kemana pesawat disimpan. Entah itu disimpan di Museum Graceland – wilayah kediaman Elvis Presley sejak tahun 1958 hingga kematiannya pada tahun 1977 sekaligus tempat ia ditemukan meninggal di kamar mandi oleh tunangannya Ginger Alden pada tanggal 16 Agustus 1977- sebagaimana dua pesawat lainnya atau disimpan di suatu tempat.

Baca juga: Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut

Akan tetapi, disebutkan, Lockheed JetStar 1962 peninggalan Elvis Presley saat ini ada di suatu tempat, milik seorang warga AS. Pesawat diregistrasi sebagai N440RM.

Secara umum, Lockheed JetStar dan Lockheed JetStar versi militer spesifikasinya tak jauh berbeda. Kokpit pesawat memuat dua orang pilot, mengangkut 8-10 penumpang, panjang hampir 19 meter dan tinggi 6 meter lebih. Dilansir Indomiliter.com, pesawat mampu melesat maksimum di kecepatan 883 km per jam sejauh 4,820 km di ketinggian maksimum 13.105 meter.