Punya Sederet Manfaat, Begini Cara Kerja Standing Water Detector Buatan ITS di Runway

Cuaca buruk atau hujan acap kali menyulitkan insan penerbangan bukan hanya di udara, melainkan juga di darat. Di udara, hujan disertai awan cumulonimbus bisa saja membuat pesawat mengalami kegagalan teknis dan berujung kecelakaan.

Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!

Begitupun juga dengan di darat, hujan juga bisa menyebabkan genangan air di runway atau landasan pacu bandara dan dapat memicu terjadinya hydroplaning, sebuah kondisi pengereman yang tidak sempurna akibat adanya pemantulan pesawat dari permukaan landasan, dan memungkinkan terjadinya insiden, seperti overrun atau tergelincir.

Khusus di Indonesia, ancaman hydroplaning dan menyebabkan terjadinya overrun cukup besar mengingat dari 300 bandara yang ada tak satupun dilengkapi dengan alat deteksi genangan air di runway. Terbukti, banyak insiden pesawat tergelincir dari landasan terjadi saat hujan deras menerjang.

Menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah 4 milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.

Menyikapi hal itu, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Balitbang Transportasi Udara Kementerian Perhubungan pun melakukan suatu inovasi dan melahirkan Standing Water Detector (SWD) atau alat pendeteksi tingginya genangan air yang ada di landas pacu bandara.

Dilansir laman resmi ITS, Ketua Riset SWD ITS, Melania Suweni Muntini mengungkapkan SWD telah dikembangkan sejak tahun 2018. Saat itu, pengetesan dilaksanakan di Bandara Trunojoyo Sumenep, dilanjutkan di Bandara Yogyakarta atau New Yogyakarta International Airport (NYIA) pada tahun 2019, dan enam bandara, meliputi Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Kualanamu, Juanda, I Gusti Ngurah Rai, dan Sultan Hassanuddin, pada 2020.

“Untuk alatnya sendiri bisa di semua bandara, ada 300 bandara di Indonesia yang mempunyai potensi untuk diujicobakan, khususnya yang SWD,” katanya.

Selain di bandara, pengujian juga dilakukan di laboratorium terbuka Departemen Fisika ITS untuk memastikan bahwa alat bekerja dengan benar di kedua tempat. “Alasan lainnya juga karena jika di bandara, saat hujan kita tidak bisa melihat langsung alatnya karena berbahaya. Kalau di lab kita bisa mengalibrasi secara langsung setelah diakuisisi data,” tutur Melani.

Alat ini memiliki dua sistem deteksi yaitu hardware dan software. Untuk software, data-data seperti profil runway berupa kekasaran serta kemiringan runway. Hardware sendiri akan bisa mendeteksi temperatur dan kelembaban udara. “Untuk metode deteksi standing water ini kita mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. KP 39 Tahun 2015 dan Annex 14, Aerodrome,” terang dosen Departemen Fisika ITS ini.

Pada pengoperasiannya, purwarupa SWD akan diletakkan di samping landas pacu pada area touchdown. Saat hujan, aliran air dari landasan pacu akan menyentuh sensor pada purwarupa yang kemudian aliran ini akan dikonversikan menjadi data digital dan digabungkan dengan data sekunder seperti profil landasan pacu yang akan memberikan output berupa ketinggian standing water.

Pengingat atau indikator di sistem akan menyala berwarna merah saat 25 persen alat menunjukkan bahwa ketinggian telah sama atau lebih dari 3 milimeter. Sementara bila belum mencapai ketinggian itu, indikator akan menunjukkan warna-warna lain.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Data ketinggian ini nantinya akan digunakan ATC untuk memberikan rekomendasi terbaik ke pilot terkait keputusan mendarat atau tidaknya pesawat. Demikian juga dengan pilot, adanya informasi ketinggian genangan air melalui alat SWD ITS-Balitbang TU Kemenhub itu akan mengurangi holding di udara hanya untuk memutuskan tetap mendarat di suatu bandara atau tidak. Manfaat lainnya, petugas juga tak perlu turun langsung untuk mengeceknya.

Saat ini, SWD masih dalam proses sertifikasi. Bila berhasil, bukan tak mungkin angka kecelakaan pesawat di bandara, seperti overrun atau tergelincir ke luar runway akibat cuaca buruk bisa ditekan.

Crazy Rich Asal Malang Punya Jet Pribadi dan Bus Mewah, Ini Dia Armadanya

Gilang Widya Pramana seorang Crazy Rich asal Malang, Jawa Timur ternyata punya pesawat jet pribadi dan bus mewah yang dikenal dengan Juragan 99. Pesawat pribadinya merupakan Cessna Citation Latitude yang harganya bisa dibilang tak murah yakni Rp280 miliar.

Baca juga: Intip Kemewahan Konsep Kabin VIP Airbus A220, Crazy Rich Wajib Coba!

KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, Crazy Rich Malang ini juga memiliki bus dari berbagai ukuran yakni sedang hingga besar. Bahkan busnya pun dari berbagai merek yakni Scania dan Mercy serta ada pula Mitsubishi dan Isuzu. Nah, yang pertama akan dibahas adalah pesawat Cessna Citation Latitude dengan harga fantastis tersebut.

Bus mewah Juragan 99

Cessna yang dimiliki Gilang merupakan jet bisnis dengan model 680A yang diumumkan pada konvensi NBAA 2011. Prototipe pesawat ini terbang pertama kali pada 18 Februari 2014, memperoleh sertifikasi FAA pada 5 Juni 2015 dan pengiriman pertama dimulai pada 27 Agustus.

Badan pesawat bundar stand-up sheet bersihnya memiliki lantai datar dan disimpan di Cessna Citation Longitude. Pesawat ini memperoleh sertifikasi dari Federal Aviation Administration pada tanggal 5 Juni 2015. Diluncurkan sebagai pesawat yang lebih besar dari Cessna Citation XLS+ dan lebih murah daripada Cessna Citation Sovereign.
Pengiriman pertama dijadwalkan awal 2016.

Pesawat ini memiliki sembilan kursi dan dilengkapi dengan mesin turbofan kembar Pratt & Whitney Canada PW306D1. Citation Latitude menampilkan avionik GARMIN G5000 layar sentuh berkemampuan NextGen, ekor salib, badan pesawat berbahan logam dan kokpit terbesar dari Citation line.

Citation Latitude dihargai $14,9 juta atau sekitar Rp200 miliar setelah produksi, dan harganya bisa lebih mahal jika sudah kena pajak. Pada Juni 2018, 129 telah dikirim, dengan 104 berada di Amerika Serikat, tiga di Meksiko, dua di China, Prancis dan Turki, dan satu di Chili, Paraguay, Filipina, Polandia, Skotlandia, dan Swiss.

Sedangkan Indonesia baru ada satu dan itu dimiliki oleh Juragan 99 Trans. Sebagian besar armada dimiliki oleh perusahaan menengah, sedangkan NetJets adalah operator armada terbesarnya. Sedangkan bus Juragan 99 memiliki Velg Alcoa yang harganya sama dengan sebuah mobil Avanza.

Bus Juragan 99 dari berbagai merek ini sudah super high desk sehingga untuk penumpang yang memiliki tinggi sekitar 177 cm tidak akan kepentok. Dilengkapi dengan bahan kulit elegan untuk jok kursinya. Uniknya bus ini dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi layaknya di sebuah rumah.

Baca juga: Inilah Journey, Bus Mewah dengan Interior ala Kondominium

Adapula ruang khusus merokok yang mana asapnya tidak akan mengganggu penumpang lainnya. Di setiap kursi penumpang ada televisi sehingga ketika bosan dalam perjalanan bisa menikmati hiburan dari televisi tersebut. Untuk memperlengkapi bus mewahnya, ada coffee maker dan lampu disko. Ini membuat bus mewah milik Crazy Rich asal Malang itu lebih premium dibandingkan bus pariwisata atau bus AKAP kelas super VIP.

Meski Rekor Sempat Dicabut, SSC Tuatara Rebut Kembali Rekor Mobil Tercepat di Dunia

Shelby Supercars (SSC) North America, Tuatara, kembali merebut rekor mobil tercepat di dunia dari tangan Koenigsegg Agera RS. Kepastian itu didapat setelah mobil supercepat ini melesat di kecepatan rata-rata 455,3 km per jam, di Kennedy Space Center, Amerika Serikat (AS), mematahkan rekor Agera RS sejak 2017 lalu, yang mencatat kecepatan rata-rata 446,97 km per jam di lintasan yang sama.

Baca juga: Inilah Sepuluh Kereta Cepat di Dunia

Sebelumnya, Tuatara pernah merebut rekor tersebut dari tangan Koenigsegg Agera pada Oktober tahun lalu. Hanya saja, keberhasilan Tuatara dicibir banyak pihak lantaran ketidaksinkronan data kecepatan di video dengan di GPS. Alhasil, rekor mobil tercepat di dunia yang sempat disandang Tuatara pun dicabut.

Pada 10 Oktober 2020 lalu di State Route 160, AS, dengan panjang jalur sekitar 11,2 kilometer, SSC Tuatara melakukan dua kali tes untuk memastikan keabsahan upayanya merebut rekor dunia dari tangan Agera RS.

Di pengujian pertama, SSC Tautara mampu mencapai kecepatan 508,73 km per jam. Di tes kedua, Tuatara malah makin ngebut dengan rekor 532,93 km per jam. Dari hasil di atas, SSC Tautara punya rata-rata kecepatan 508,73 km per jam. Ini jadi rekor baru sebagai mobil produksi tercepat di dunia. Agar presisi penghitungan kecepatan ini juga menggunakan GPS yang terintegrasi dengan 15 satelit.

Selain mematahkan rekor Koenigsegg Agera RS, SSC Tuatara ini sebetulnya juga mengalahkan catatan hypercar Bugatti Chiron Super Sport, yang mampu mencapai titik tertinggi 490,48 km per jam. Tapi catatan milik Bugatti tidak tepat bila disandingkan, sebab rekor Bugatti Chiron Super Sport itu didapat hanya sekali jalan, pun menggunakan tempat tes berbeda, di Ehra-Lessien, Jerman.

Setelah polemik ‘kecurangan’ Tuatara diungkap berbagai pihak, utamanya berkenaan dengan data kecepatan yang tidak sinkron antara data kecepatan di video dengan di satelit, SSC sempat melakukan pembelaan dengan melibatkan Dewetron, pembuat GPS speed tracking box. SSC menyebut bahwa rekornya itu telah divalidasi oleh Dewetron.

Sayangnya, Dewetron membantah hal itu dan mengatakan tak cukup mengandalkan GPS speed tracking box buatannya untuk memvalidasi rekor kecepatan SSC Tuatara. Dengan penuh amarah, Jerod Shelby, CEO SSC North America, bersumpah akan melakukan segala cara untuk merebut rekor tersebut sesegera mungkin dan melibatkan para ahli agar kejadian sebelumnya (polemik validasi rekor kecepatan) tidak terulang kembali.

Dilansir New Atlas, 17 Januari 2021, SSC Tuatara kembali beraksi. Upaya pemecahan rekor mobil tercepat di dunia itu dihadiri oleh desainer hypercar Jason Castriota, Racelogic Technical Director Jim Lau, analis independen Robert Mitchell.

Tes dilakukan dua kali. Tes pertama dilakukan oleh Oliver Webb, pebalap Formula 3. Tes kedua dilakukan oleh Larry Caplin, dokter yang juga pemillik Tuatara pertama seantero dunia. Meski ia bukan pebalap, ia sudah dibekali berbagai informasi bagaimana mengemudikan mobil itu agar dapat mencapai kecepatan maksimum.

Kedua tes tersebut pun mendapati kecepatan rata-rata SSC Tuatara mencapai 455,3 km per jam di lintasan sejauh 3,7 km dan sudah divalidasi oleh para ahli, salah satunya Jim Lau, dengan cara mengkalibrasi beberapa sistem pelacakan kecepatan VBOX pada mobil. Sekalipun tak sebagus capaian tes Oktober lalu, setidaknya SSC Tuatara berhasil mengukuhkan diri sebagai mobil tercepat di dunia.

Tuatara dicangkok mesin V8 5,9 liter twin-turbo yang menghasilkan 1.750 tenaga kuda. Mobil mampu menghasilkan 1.750 hp saat menggunakan bahan bakar etanol E85 dan 1.350 hp pada bensin oktan 91. Mesin tersebut menghasilkan torsi maksimum 1.735 Nm dan dikawinkan dengan transmisi manual otomatis (AMT).

Baca juga: Spektakuler! Sedan Tesla Mampu Derek Dreamliner Qantas Sejauh 300 Meter

Bobot kering hanya 1.247 kg, yang berkat bodi serat karbon dan monocoque. Aerodinamika juga berperan, dan hypercar SSC Tuatara memiliki area depan seluas 18 kaki persegi dan koefisien drag 0,279.

Sebagai mobil tercepat di dunia, tentu harga per unitnya tidaklah murah. Terlebih, Tuatara hanya diproduksi sebanyak100 unit di dunia. SSC Tuatara dibanderol US$ 1,6 jutaan atau sekitar Rp 25 miliar per unit. Tertarik?

Hari ini, 87 Tahun Lalu, Meluncur Kereta Gantung Ski Pertama di Amerika Serikat

Kereta gantung yang ada bukan hanya gondola tetapi di pegunungan bersalju juga ada dan biasanya ini digunakan oleh para pemain ski atau seluncur salju. Kereta gantung ini biasa disebut dengan lift ski atau derek ski dan mengangkut para pemain ski dengan peralatan mereka ke atas bukti bersalju dengan lebih mudah.

Baca juga: Bakal Hubungkan Rusia dan Cina, Inilah Kereta Gantung Lintas Negara Pertama di Dunia

Lift ski ini pertama kali dibuka di Amerika Serikat pada 28 Januari 1934 silam. Lift ski pertama ini tidak seperti sekarang di mana penggunanya duduk, tetapi bediri dan berpegangan pada tali yang bergerak dan membawa para pemain ski ke atas bukit. Derek ski atau lift ski pertama yang beroperasi di Amerika Serikat berada di White Cupboard Inn di Woodstock, Vermont.

Lift ski ini dinyalakan dengan menggunakan roda belakang Ford Mode A. Pada awal kehadirannya di Vermont, lift ski disebut Ski-Way tetapi ketika Wallace “Bunny” Bertram mengambil alih White Cupboard Inn, dia menamainya menjadi Ski Tow. Yang akhirnya dia memindahkan derek ski ke tempat yang menjadi pinggiran timur dari area ski selatan utama Vermont.

Resor regional ini masih beroperasi sampai sekarang dan beroperasi dengan nama Suicide Six. KabarPenumpang.com menghimpun dari berbagai sumber, bahwa derek ski adalah ide sederhana, yang dibutuhkan hanyalah mesin mobil, beberapa tali, dan beberapa katrol.

Penemuan ini membantu memicu ledakan ski, dan akhirnya snowboarding, di Amerika Serikat. Dalam lima tahun, ada lebih dari 100 tali penarikyang beroperasi di Amerika Utara. Saat ini, lift ski lebih umum, tetapi derek ski masih ada, kebanyakan di area “kelinci” pemula di lapangan ski.

Untuk diketahui, yang pertama naik lift pada 28 Januari 1934, adalah tiga anak lelaki setempat Bobby Bourdon, Lloyd Brownell dan Buster Johnson. Karena saat itu harus berdiri dan menggunakan tali, mereka berpegangan dan bertahan hingga mencapai ke tujuan.

Hal terunik yang lakukan ketika naik lift ski ini, mereka segera mendekati tali dengan hati-hati, meraih dengan kedua tangan, “satu tangan di depan yang lain, menekuk lutut dan melemparkan kembali pusat gravitasi ke tumit mereka”. Jika merasa perjalanannya lambat, mereka akan berteriak “Injak gas!” dan operator di dalam truk akan melantai itu.

Baca juga: Biara Tatev, Sajikan Kereta Gantung Double Track Non-Stop Terpanjang di Dunia

Saat tali ditarik, tali itu terpelintir, meremas dan sering mencuri sarung tangan dari pemain ski saat mereka mencapai puncak. Jika pemain ski tidak berhati-hati, mereka bisa digantung dengan syal mereka sendiri.

Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Boeing akhirnya buka suara terkait antusiasme perusahaan teknologi dan produsen pesawat di dunia terhadap konsep pesawat bertenaga hidrogen belakangan ini. Pihaknya mengaku tak yakin bahwa hidrogen akan menjadi bahan bakar pesawat di masa depan. Agar tetap berkontribusi terhadap program keberlanjutan atau sustainability goals, sebagai gantinya, Boeing akan mencari cara lain.

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Sejak pertengahan tahun lalu, raksasa dirgantara asal Eropa, Airbus, dikabarkan tengah menimbang-nimbang penggunaan hidrogen di masa mendatang. Maklum, perusahaan gabungan beberapa negara Eropa itu sudah sejak beberapa tahun lalu menyatakan komitmennya untuk membuat pesawat lebih hijau atau tanpa emisi pada 2035 mendatang.

Setelah lama menunggu, publik akhirnya disajikan tiga konsep pesawat hidrogen Airbus pada akhir September 2020. Ketiga konsep – semua diberi kode nama ZEROe – tersebut antara lain, pertama, desain turboprop (kapasitas hingga 100 penumpang) menggunakan mesin turboprop sebagai pengganti turbofan.

Konsep kedua pesawat hidrogen Airbus ialah turbofan (kapasitas 120-200 penumpang) dengan jangkauan 3.704 km lebih dan konsep pesawat Airbus bertenaga hidrogen yang terakhir yakni desain sayap-lebur atau blended-wing body (kapasitas hingga 100 penumpang). Semuanya ditargetkan bakal beroperasi mulai 2035.

Sadar reputasinya tercancam karena tak turut mengembangkan pesawat bertenaga hidrogen, CEO Boeing, David David Calhoun, mengungkapkan bahwa para pelaku bisnis dirgantara merasa bahwa industri masih jauh dari kata siap untuk mengembangkan teknologi ini.

“Saya memiliki cukup banyak pengalaman dengan hidrogen, perusahaan kami memiliki pengalaman yang luar biasa dengan hidrogen. Setidaknya dalam ukuran badan pesawat yang kita semua bicarakan. Kami bereksperimen pada harga rendah, tapi itu tidak akan menjadi pasar yang berarti di sini,” katanya kepada Simple Flying.

“Dan dengan munculnya sustainable fuels (bahan bakar berkelanjutan), kita sudah mampu hidup dengan bahan bakar berkelanjutan itu. Saya percaya itu akan menjadi jawaban 15 tahun untuk pedoman dan pendekatan 2050 karena kita semua telah bekerja dengannya, bereksperimen dengannya, kita tahu itu berhasil, dan sekarang kita mengembangkan jalur pasokan untuk itu. Tapi saya yakin itu satu-satunya jawaban antara sekarang dan 2050,” tambahnya.

Baca juga: Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator

Boeing sendiri terbukti memang sudah sejak lama ikut mengembangkan pesawat berbahan bakar ramah lingkungan. Awal tahun 2020, tepatnya pada 11 hingga 18 Januari, Boeing 787 Greenliner, pesawat ramah lingkungan besutan Boeing dan Etihad, melakukan penerbangan eco flight dalam helatan Abu Dhabi Sustainable Week.

Pekan lalu, perusahaan kembali menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membuat pesawat komersial 100 persen menggunakan berbahan bakar ramah lingkungan pada 2030 mendatang. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas, apa bahan bakar ramah lingkuangan yang dimaksud. Apakah itu listrik atau bahan bakar ramah lingkungan lainnya, Boeing tak menjelaskan secara detail.

Hari ini, 166 Tahun Lalu, Lokomotif Pertama Melintasi ‘Belahan’ Atlantik dan Pasifik di Panama

Sebelum lokomotif pertama melintasi Tanah Genting Panama dari Colón (Atlantik) ke Balboa (Pasifik, dekat Panama City) ternyata ada sekitar lima ribu hingga sepuluh ribu pekerja meninggal dalam pembangunan jalur antar benua ini. Jalur ini sendiri dibangun pada abad ke-19 yang juga dikenal dengan nama Pasific Railroad yang kemudian dikenal denga Overland Route.

Baca juga: Jalur Metro Panama 3 Sepanjang 34 km dan Menjadi Proyek Terbesar Sejak Perluasan Terusan Panama

Menghabiskan dana sebanyak US$8 juta, jalur ini mulai dibangun pada 1849 dan mulai melintaskan lokomotif pertamanya pada 28 Januari 1855 silam. Setelah jalur ini mulai beroperasi, kereta api melewati Terusan Panama selama setengah abad sampai kanal kapal dibangun sejajar dengan rel kereta api.

Panama Canal Railway

Jalur ini dibangun oleh Amerika Serikat dan insentif utamanya adalah peningkatan besar dalam lalu lintas penumpang dan barang dari Negeri Paman Sam bagian timur ke California setelah Demam Emas California 1849. Jalur ini kemudian digambarkan oleh beberapa orang sebagai mewakili rel kereta api lintas benua meski melintasi hanya tanah genting sempit yang menghubungkan antar benua.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, jalur kereta ini membentang sejauh 76 km dengan mengangkut volume kargo terberat per satuan panjang rel kereta api mana pun di dunia. Bahkan keberadaan rel jalur kereta api ini menjadi salah satu kunci terpilihnya Panama sebagai situs kanal.

Karena rute 1855 mengikuti lembah Chagres (yang akan menjadi Danau Gatun), rute itu harus diubah. Rel kereta api baru, yang dimulai pada tahun 1904, harus ditingkatkan secara signifikan dengan rel ganda tugas berat di sebagian besar jalur untuk mengakomodasi semua lokomotif baru dari sekitar 115 lokomotif yang kuat, 2.300 gerbong yang merusak tanah, dan 102 yang dipasang di rel kereta api sekop uapdibawa dari Amerika Serikat dan tempat lain.

Rel kereta api permanen yang baru sejajar dengan kanal di mana ia bisa dan dipindahkan dan dibangun kembali di tempat yang mengganggu pekerjaan kanal. Selain memindahkan dan memperluas jalur kereta api jika diperlukan, penambahan jalur yang cukup besar dan bengkel mesin yang ekstensif serta fasilitas pemeliharaan telah ditambahkan, dan peningkatan lainnya dilakukan pada sistem kereta api.

Kehadiran kereta api sangat membantu pembangunan Terusan Panama. Selain mengangkut jutaan ton orang, peralatan, dan persediaan, rel kereta api melakukan lebih banyak lagi. Untuk diketahui teknologi baru yang tidak tersedia pada tahun 1850-an memungkinkan pemotongan dan pengisian tanah yang sangat besar untuk digunakan pada rel kereta api baru yang jauh lebih besar daripada yang dilakukan pada konstruksi asli tahun 1851–55.

Kereta Api Panama yang dibangun kembali, jauh lebih baik dan sering diubah rute dilanjutkan di sepanjang kanal baru dan melintasi Danau Gatun. Rel kereta api diselesaikan dalam konfigurasi terakhirnya pada tahun 1912, dua tahun sebelum kanal, dengan biaya $9 juta atau $1 juta lebih banyak dari aslinya.

Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Setelah Perang Dunia II, beberapa perbaikan tambahan dilakukan pada Kereta Api Panama. Kondisinya menurun setelah 1979, ketika pemerintah AS menyerahkan kendali kepada pemerintah Panama.

Hari ini, 35 Tahun Lalu, Pesawat Ulang Alik Challenger Meledak Setelah 73 Detik Meluncur

Tujuh orang awak yang terdiri dari lima astronot NASA dan dua spesialis tewas setelah pesawat ulang alik yang mereka tumpangi meledak. Adapun tujuh awak tersebut yakni Francis R Scobe yang merupakan kapten pesawat ulang alik tersebut, Michael J Smith, Ronald McNair, Ellison Onizuka, Judith Resnik, Gregory Jarvis dan Christa MaAuliffe.

Baca juga: Pratiwi Pujilestari Sudarmono – Calon Astronot Pertama Indonesia yang Terpaksa Mengubur Asanya Ke Luar Angkasa

The Space Shuttle Challenger merupakan pesawat ulang alik yang tengah dalam misi membawa penunjukkan STS-51-L dan merupakan penerbangan kesepuluh untuk pengorbit Challenger. Dalam misinya ini, pesawat ulang alik Challenger harus mengalami nasib yang tragis di mana, meledak setelah 73 detik peluncuran.

Tujuh astronot menjadi korban tewas setalah Pesawat Ulang Alik Challenger meledak

Insiden ini terjadi pada 28 Januari 1986 yang tidak hanya disaksikan keluarga astronot tetapi juga disiarkan langsung televisi Amerika Serikat dan seluruh warga Negeri Paman Sam menjadi saksi matanya. Pesawat ini meledak dan hancur di atas Samudera Atlantik tepat di lepas pantai Cape Canaveral, Florida pukul 11.39 waktu setempat.

Sayangnya evakuasi tak bisa dilakukan langsung tetapi satu jam setelah ledakan terjadi. Hal tersebut karena serpihan pesawat ulang alik Challenger menghalangi upaya evakuasi. Awalnya pesawat ulang alik Challenger ini dijadwalkan diluncurkan pada 22 Januari 1986. Namun peluncuran ditunda karena cuaca buruk dan pada 27 Januari 1986 dan NASA menyatakan tidak punya tekanan untuk meluncurkan pesawat ulang alik ini.

Bahkan mereka juga memastikan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Untuk diketahui, pesawat ulang alk Challenger meledak karena adanya disintegrasi kendaraan yang mana sambungan di solid rocker booster (SRB) kanan gagal saat lepas landas. Kegagalan ini disebabkan oleh masalah segel O-ring yang digunakan pada sambungan yang tidak dirancang untuk menangani kondisi dingin yang tidak biasa yang ada pada peluncuran ini.

Kegagalan segel menyebabkan kerusakan pada sambungan SRB, memungkinkan gas pembakaran bertekanan dari dalam motor roket padat untuk mencapai bagian luar dan menimpa perangkat keras pemasangan sambungan bidang buritan SRB yang berdekatan dan tangki bahan bakar eksternal. Hal ini menyebabkan pemisahan sambungan sambungan bidang buritan SRB sebelah kanan dan kegagalan struktural tangki eksternal.

Untuk diketahui, kompartemen awak dan banyak pecahan dari pesawat ulang alik ini ditemukan di dasar laut setelah operasi pencarian dan pemulihan yang lama. Pesawat ulang-alik tidak memiliki sistem pelarian, dan dampak dari kompartemen awak pada kecepatan terminal dengan permukaan laut terlalu keras untuk bisa bertahan.

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

Adanya insiden ini pun mengakibatkan 32 bulan absen dalam program Pesawat Ulang Alik dan pembentukan Komisi Rogers, sebuah komisi khusus yang ditunjuk oleh Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan untuk menyelidiki kecelakaan tersebut. Komisi Rogers menemukan bahwa budaya organisasi NASA dan proses pengambilan keputusan telah menjadi faktor utama penyebab kecelakaan tersebut, dengan badan tersebut melanggar aturan keselamatannya sendiri.

Mengenal AIS, Sistem yang Bikin Kapal Tanker Iran dan Panama Ditangkap Bakamla

Pemerintah Iran mempertanyakan alasan Indonesia menangkap kapal tanker berbendera negaranya. Melalui Badan Keamanan Laut (Bakamla) Indonesia dengan tegas menyebut bahwa kapal tanker Iran dan Panama melakukan empat pelanggaran sehingga mereka harus ditangkap dan ditahan untuk kemudian diadili di Batam. Dari empat pelanggaran yang dilakukan, satu di antaranya ialah karena mematikan AIS.

Baca juga: Unik! Di Polandia Ada Kapal Laut ‘Berjalan’ Di Atas Daratan

AIS sendiri, sebagaimana dikutip dari laman Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Pinang, adalah transceiver atau sistem pemancaran radio Very High Frequency (VHF) yang menyampaikan data-data melalui VHF Data Link (VDL) untuk mengirim dan menerima informasi secara otomatis ke kapal lain, stasiun VTS, dan SROP.

Sesuai regulasi Internasional Maritime Organization (IMO), pemancar radionya harus berada di frekuensi maritim 161,975 MHz dan 162,025 MHz.

Transceiver secara otomatis mengirimkan AIS Message ke semua arah, message yang dikirimkan antara lain berisi Mobile Maritime System Identification (MMSI) atau ID kapal, kecepatan kapal, posisi kapal, arah kemudi kapal, dan seterusnya sehingga kapal lain di sekitar yang sudah dilengkapi dengan perangkat AIS Transceiver dapat mengetahui secara terus menerus situasi lalu lintas disekelilingnya yang ditampilkan pada layar display monitor Electronic Chart Display Information System (ECDIS) atau System Electronic Navigation Chart (SENC) atau Electronic Navigation Chart (ENC).

Dilansir dephub.go.id, Pemerintah Indonesia lewat Peraturan Menteri Perhubungan No.7/2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis bagi Kapal yang berlayar di Wilayah Perairan Indonesia mengharuskan pemasangan dan pengaktifan AIS ini bagi setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing. Oleh karena pentingnya AIS, pemasangan dan pengaktifannya langsung berada di bawah Menteri Perhubungan.

AIS wajib diaktifkan untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pelayaran, mempermudah pengawasan, kegiatan SAR, investigasi, monitoring pergerakan kapal, dan dukungan implementasi penetapan Traffic separation scheme (TSS) di Selat Sunda dan Lombok.

Teheran sendiri menyangkal bahwa AIS bukannya tidak dihidupkan atau tidak mau mengikuti aturan di Indonesia dengan sengaja melainkan ada kendala teknis yang menyebabkan AIS tidak berfungsi. Tetapi, tentu saja itu bukan alasan. Sebab, bila hal ini terjadi, Kemenhub sudah mengaturnya.

Disebutkan, jika AIS tidak berfungsi, nakhoda wajib menyampaikan informasi kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) atau Stasiun Vessel Traffic Services (VTS) serta mencatat kejadian tersebut pada buku catatan harian (log book) kapal yang dilaporkan kepada Syahbandar. Hal inilah yang tak dilakukan kapal berbendera Iran MT Horse dan kapal berbendera Panama MT Frea.

Baca juga: Lusitania Expresso, Balada Kapal Ferry RoRo Legendaris ‘Penantang’ Kapal Perang TNI AL

AIS sendiri jenisnya ada dua macam, yaitu AIS Klas A dan AIS Klas B. AIS Klas A wajib dipasang dan diaktifkan pada Kapal Berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan Konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia.

Sementara AIS Klas B wajib dipasang dan diaktifkan pada kapal berbendera Indonesia yang meliputi kapal penumpang dan kapal barang non konvensi dengan ukuran paling rendah GT 35, kapal yang berlayar antar lintas negara atau yang melakukan barter-trade atau kegiatan lain di bidang kepabeanan serta kapal penangkap ikan berukuran dengan ukuran paling rendah GT 60.

Studi Terbaru: Banyak Pilot Remehkan Dampak Stres Terhadap Keselamatan Penerbangan

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Aviation Psychology and Applied Human Factors berjudul Flying Solo: A Vignette-Based Examination of General Aviation Pilot Risk Perception and Decision-Making, menunjukkan bahwa pilot pesawat komersial di Inggris pada umumnya menyepelekan stres sebagai risiko. Mereka berdalih bahwa justru dengan tetap terbang dalam keadaan stres bisa membawa berkah karena dengan sendirinya akan hilang ketika melihat pemandangan dari langit.

Baca juga: Mengenal Non-Terrestrial Hostile, Satu Faktor yang Sumbang Tingkat Flying Stress Pada Pilot!

Para peneliti dari Universitas Aberdeen, Skotlandia, mendapat kesimpulan itu setelah mempelajari jawaban-jawaban dari 101 pilot yang juga sebagai responden. Metode penelitiannya simpel, mereka diminta untuk menjawab 12 skenario keputusan untuk lanjut atau tidak ketika diilustrasikan mendapat halangan dan rintangan sebelum terbang.

Ke-12 skenario tersebut tentu bukan asal dibuat melainkan didasarkan pada laporan kecelakaan dan insiden, serta rekomendasi keselamatan dari berbagai organisasi penerbangan.

Di antara 12 skenario tersebut, salah satunya ialah terkait dengan cuaca buruk. Mayoritas dari pilot yang memiliki penyakit dan tidak didukung dengan kondisi pesawat, maka cuaca buruk cenderung menjadi alasan mereka untuk tidak jadi menerbangkan pesawat. Pun sebaliknya, bagi pilot yang merasa fit, tidak mempunyai penyakit, serta didukung kondisi prima pesawat, mereka cenderung memutuskan lanjut terbang.

Sebagian dari responden juga mengungkapkan bahwa mereka akan mengecek radar dan ramalan cuaca agar bisa merencanakan rute aman sebelum lepas landas.

“Pilot penerbangan umum mempertimbangkan risiko yang terkait dengan keputusan lepas landas dengan hati-hati, dan sering melaporkan strategi mitigasi risiko (seperti mengubah rute yang direncanakan untuk menghindari cuaca buruk) yang memungkinkan mereka mengelola risiko untuk terbang,” kata salah satu peneliti, Amy L. Irwin, seperti dikutip dari PsyPost.

Sayangnya, di antara berbagai risiko untuk menerbangkan pesawat dengan aman, banyak responden menyepelekan risiko stres sebagai item dalam membuat rencana penerbangan. Umumnya, mereka berpendapat bahwa stres bisa dikelola dengan cara tetap menerbangkan pesawat sampai hilang dengan sendirinya setelah melihat pemandangan maha indah di langit.

“Saya menemukan stres terbang sangat berbeda dengan stres di tempat kerja, (terbang) hampir menghilangkan jenis stres yang berbeda,” kata seorang pilot kepada para peneliti.

Padahal, stres sudah sangat jelas adalah bagian dari risiko penerbangan. Sebab, ketika pilot menerbangkan dalam kondisi stres, kesalahan amat melekat padanya. Sekalipun tak melulu kesalahan fatal. Belum lagi, beberapa kondisi di penerbangan dapat menyebabkan pilot mengalami apa yang disebut flying stress, yang merupakan stress khusus atau ketegangan dalam penerbangan (jika diartikan dari sudut pandang ilmu psikiatrik penerbangan).

Baca juga: Kenali Flying Stress, Situasi yang Bisa Buyarkan Konsentrasi Penerbang

Tahan atau tidaknya seseorang dalam menghadapi stress memang tergantung pada ketahanan si pribadi itu sendiri dan sejumlah variabel yang mempengaruhinya – terutama integritas kepribadian dan motivasi.

Mengutip dari buku karangan Djarot S. Hindrayanto dan Wahjadi D. yang berjudul “Otopsi Psikologi Pada Kecelakaan Pesawat Udara yang diterbitkan pada tahun 2008 silam, gangguan stress ini dapat menimbulkan anxietas (kegelisahan) yang berlebih dan ini dapat menurunkan daya tahan terhadap stress itu sendiri, baik dalam derajat maupun durasinya.

Aib! Penumpang Qatar Airways Bawa Heroin Lolos dari Bandara Hamad, Tertangkap di India

Bandara Internasional Indira Gandhi atau biasa dikenal Bandara Delhi, belum lama ini berhasil mencatatkan rekor penangkapan narkoba terbesar dalam sejarah kebandarudaraan negara. Petugas setidaknya telah menyita narkoba jenis heroin senilai US$9,28 juta atau Rp130 miliar (kurs 14.148) dari tangan dua orang penumpang Qatar Airways asal Uganda.

Baca juga: Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik

Uniknya pelaku, yang berusia sekitar 35 tahun ini, berhasil lolos dari pemeriksaan Bandara Entebbe di Uganda dan Bandara Internasional Hamad di Qatar dengan membawa 51 kantong besar berisi total 9,8kg heroin di dalam dua bagasi.

Lolos dari bandara Entebbe mungkin publik masih cukup maklum mengingat bandara ini hanya mendapat bintang dua versi Skytrax. Lain halnya dengan Bandara Internasional Hamad yang notabene mendapat bintang lima atau perfect versi Skytrax. Tentu ini menjadi aib besar bandara terbaik yang berlokasi di Doha itu.

Dilansir Simple Flying, sejatinya setiap bandara di dunia memiliki teknik deteksi narkoba yang sangat ketat mengingat potensinya begitu besar. Mulai dari pemeriksaan acak di bea cukai, pengerahan anjing pelacak saat check-in dan boarding, body check, body scanner, hingga pemeriksaan X-Ray.

Seharusnya, dengan pemeriksaan super ketat seperti disebutkan di atas, apalagi dibantu dengan alat bertekonologi tinggi yang biasanya tersedia di bandara-bandara besar, barang-barang haram ataupun ilegal mustahil lolos. Faktanya, dua warga Uganda itu berhasil melenggang bebas dari pemeriksaan dua bandara sebelum akhirnya tertangkap di Delhi, India.

Lolosnya dua orang membawa narkoba dalam jumlah besar patut dicurigai adanya oknum petugas nakal yang bermain. Seperti kasus baru-baru ini dimana 80kg kokain ditemukan di pesawat kargo Boeing 747 KLM. Masuknya barang haram itu ke dalam kargo pada akhirnya berujung penangkapan beberapa orang dalam oleh pihak kepolisian.

Baca juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik

Selain penyelundupan narkoba, bandara juga sering menjadi tempat favorit penyelundupan barang ilegal, seperti emas, berlian, mutiara, barang elektronik, dan lain sebagainya. Tujuannya sudah pasti untuk menghindari bea cukai. Triknya pun sangat beragam. Mulai dari meletakkan di pakaian dalam, di botol minuman yang air dan botolnya berwarna gelap, serta berbagai trik lainnya.

Di era wabah virus Corona seperti sekarang ini, dimana terdapat sederet peraturan, seperti surat bebas Covid-19, beban petugas sudah pasti bertambah. Namun, di sisi lain, persyaratan itu menjadi celah para oknum untuk bermain guna mengeruk keuntungan pribadi.