Mengapa Main Landing Gear Boeing 737 Dibiarkan Terbuka dan Terlihat? Ini Jawabannya

Umumnya, pesawat, ketika telah meninggalkan landasan, roda pesawat atau landing gear akan ditekuk masuk ke dalam badan pesawat hingga tak terlihat – pun ketika pesawat hendak mendarat, maka roda akan kembali dikeluarkan. Tetapi, tidak dengan keluarga pesawat Boeing 737.

Baca juga: Boeing 737 Generasi Pertama vs Seri Klasik, Apa Perbedaannya?

Main landing gear pesawat ini memang tetap melipat ke dalam badan pesawat, namun, dibiarkan terbuka dan terlihat. Anehnya, saat dilipat, struts roda pendaratan utamanya tertutup cover dan menyisakan roda pendaratan yang terbuka. Lebih aneh lagi, nose landing gear atau landing gear bagian depan Boeing 737 tidak demikian. Ia melipat dan tertutup oleh cover atau sejenis pintu hingga tak terlihat. Lantas, mengapa demikian?

Dilansir Simple Flying, guna menjawab itu, agaknya harus mundur jauh ke belakang, tepatnya saat kemunculan generasi pertama pesawat pesaing Airbus A320 ini. Saat seri pertama Boeing 737-100 diperkenalkan pada tahun 1968 dan masuk layanan pada 28 Desember 1967, bandara-bandara di seluruh dunia -terlebih bandara tua- masih minim infrastruktur.

Bahkan, beberapa di antaranya, tidak memiliki mobil tangga serta garbarata. Alhasil, pesawat memang harus (khususnya pintu kargo) mudah dijangkau oleh operator tanpa bantuan tangga atau alat bantu lainnya.

Dengan berbagai pertimbangan itu, akhirnya, pesawat yang diberi gelar oleh Boeing sebagai Fat Little Ugly Fella tersebut akhirnya didesain untuk dapat beroperasi serendah mungkin, bahkan dengan badan pesawat bagian bawah yang hampir menyentuh daratan sekalipun.

Akan tetapi, semakin rendah pesawat dan semakin pesawat dekat dengan tanah itu berarti tidak ada ruang untuk buka tutup pintu main landing gear. Sebab, berbeda dengan nose landing gear, yang pintunya tak terlalu lebar, pintu main landing gear cukup lebar dan sangat mungkin menyentuh tanah.

Sebetulnya, pintu main landing gear bisa saja menutup kembali setelah roda keluar untuk persiapan mendarat. Tetapi, tidak ada yang menjamin ini akan berhasil (pintu main landing gear kembali menutup) dan membuat pendaratan aman. Alhasil, main landing gear pun diputuskan untuk tetap terbuka alih-alih mengambil risiko besar.

Lagi pula, tidak adanya pintu yang menutup main landing gear merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Selain mengurangi berat keseluruhan dan membebaskan ruang vital di perut pesawat, melepas pintu berarti mengurangi item perawatan pesawat.

Namun, tanpa adanya pintu penutup main landing gear, Boeing harus menyesuaikan beberapa hal, seperti menambah smooth hub cabs di bagian roda untuk membantu aerodinamika pesawat serta seal karet di sekitar bukaan landing gear agar benda apapun, termasuk air, tak masuk dan menghalangi keluarnya main landing gear.

Selain meniadakan pintu yang menutupi main landing gear, mesin pesawat juga sengaja dibuat rata pada bagian bawahnya. Hal itu agar bagian bawah mesin tak terlalu dekat dengan tanah. Di samping itu, teknologi pada waktu tersebut juga memang belum menemukan apa yang disebut sebagai bypass ratio, yakni sebuah teknologi yang memaksimalkan udara di dalam mesin untuk mencapai tingkat efisiensi berlebih.

Baca juga: Bingung Bagian Bawah Mesin Boeing 737 Rata? Ini Penjelasannya!

Guna mendapatkan lebih banyak udara ke dalam mesin, pesawat membutuhkan turbin yang lebih besar didukung dengan tenaga dari kipas yang lebih besar pula. Hal itu hanya bisa dibuat dengan menambahkan ketinggian pesawat agar mesin pesawat tidak menyentuh daratan. Tak heran, bila pesawat yang juga disebut Baby Boeing ini akhirnya didesain dengan mesin rata pada bagian bawah.

Meski saat ini garbarata dan infrastruktur lainnya sudah tersedia, nampaknya Boeing tetap mempertahankan desain tersebut pada pesawat anyar dari keluarga Boeing 737; termasuk Boeing 737 MAX. Di dunia, desain seperti ini bukan hanya dipakai oleh Boeing, melainkan juga oleh Embraer ERJ145, Embraer E-Jet, COMAC ARJ21, dan Airbus A220.

Duh, Boeing 737 MAX Masalah Lagi! Kali Ini Terkait Sealant Bahan Bakar

Boeing 737 MAX, yang baru diizinkan kembali terbang mulai 20 November 2020, kembali bermasalah. Kali ini berkenaan dengan sealant bahan bakar di 25 pesawat Boeing 737 MAX 9 yang sudah dikirim antara April 2018 dan Februari 2019. FAA menyebut, masalah tersebut dapat memicu kebakaran hebat di darat.

Baca juga: Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual

Setelah terbang perdana -usai lama digrounded- pada akhir Desember lalu bersama GOL Linhas Aéreas Inteligentes, maskapai bertarif rendah asal Brasil, Boeing 737 MAX terus mendapat sambutan positif dari berbagai maskapai di dunia. Terlebih, saat perayaan natal dan tahun baru datang, MAX memang sempat dioperasikan banyak maskapai.

Akan tetapi, bak petir di siang bolong, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) tiba-tiba mengeluarkan airworthiness directive (AD) atau arahan kelaikan udara tentang inspeksi 25 Boeing 737 MAX-9 pada 19 Januari lalu.

FAA mengungkapkan bahwa kelalaian terkait instruksi kerja telah menyebabkan sekitar 25 pesawat tersebut belum dipasang sealant di tangki bahan bakar. Sealant itu seharusnya menjadi pengaman atau penghalang di tangki bakan bakar untuk mencegah kebakaran.

“Sealant penutup pada sayap kiri dan sayap kanan pintu blowout bagian depan tidak terpasang selama proses produksi pesawat 737-9,” kata FAA dalam arahannya, seperti laporan Flight Global.

“Jika terjadi kebocoran bahan bakar yang substansial dari wing box, tidak adanya sealant dapat mengakibatkan bahan bakar bocor dan masuk ke mesin serta mengakibatkan kebakaran besar di darat,” lanjut FAA.

Boeing sendiri menanggapi dingin terkait arahan FAA. Produsen pesawat terbesar di dunia ini mengaku pihaknya sudah mencium adanya kelalaian itu sejak April tahun lalu. Dalam instruksinya, Boeing meminta maskapai untuk mengecek sealant di tangki bahan bakar. Jika sealant betul belum terpasang, maskapai sudah diarahkan untuk memasangnya secara mandiri atas bimbingan dan arahan Boeing.

Dengan adanya rekomendasi FAA, praktis, 25 pesawat Boeing 737 MAX 9 milik maskapai United Airlines, Copa Airlines, FlyDubai, Icelandair, dan Turkish Airlines, harus digrounded terlebih dahulu, sekalipun belum genap sebulan beroperasi. Semua pesawat yang bermasalah tersebut dikirim ke maskapai mulai April 2018 hingga Februari 2019.

Baca juga: EASA Akhirnya Izinkan Boeing 737 MAX Terbang di Eropa, Gegara Didesak AS?

Sejak akhir tahun 2019 lalu, Boeing 737 MAX memang selalu bermasalah; termasuk masalah terkait tangki bahan bakar.

Pada 20 Februari 2020, ditemukan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap beberapa Boeing 737 MAX yang belum dikirim ke pelanggan.

Aturan Sering Berubah, Cek Prosedur Setiap Negara Sebelum Bepergian di Masa Pandemi

Ketika bepergian menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian besar orang di masa pandemi ini, ternyata masih juga ada yang harus bepergian karena berbagai urusan baik diplomatik maupun kepentingan pemerintahan lainnya. Namun perjalanan ini pun masih sangat sulit karena pandemi Covid-19 yang masih terus memunculkan gejala di berbagai negara.

Baca juga: Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

Meski begitu, masih bisa bepergian dengan wajib melakukan tes swab PCR untuk memastikan seseorang tersebut negatif atau tidak terinfeksi Covid-19. KabarPenumpang.com melansir aboutmanchester.co.uk (20/1/2021), sebelum bepergian ke luar negeri, berikut ada beberapa daftar yang harus diperiksa selama masa pandemi ini untuk diikuti agar perjalanan berjalan dengan mulus.

1. Ketahui tujuan
Sebelum pergi, cek apa dokumen yang harus dibawa dan dilengkapi sebelum berangkat ke tujuan. Salah satu terpenting adalah hasil tes Covid-19 yang negatif dan diambil beberapa hari terakhir sebelum keberangkatan. Namun Anda tetap harus mengupdate, karena aturan kerap kali berubah-ubah agar ketika tiba tidak ditolak dan kembali dengan sia-sia.

2. Cek aturan karantina
Ini juga salah satu yang harus diketahui sebelum tiba di negara tujuan. Biasanya setiap negara memiliki waktu batasan karantina yang berbeda di Inggris, kembali dari bepergian, Anda harus karantina mandiri selama sepuluh hari. Ini akan berkurang jika sudah melakukan tes Covid dan menjadi lima hari hingga hasil menyatakan negatif.

3. Jalani tes
Untuk bepergian ke suatu negara, Anda harus melakukan tes dan mendapatkan hasil negatif. Baiknya pertimbangkan waktu tes dan jangan lupa anggarkan bila ada biaya tambahan. Tes ini dilakukan untuk menjaga agar Anda tetap terkontrol andaikata ketika tes lagi hasil yang didapat berbeda dari sebelum keberangkatan.

4. Bersikap fleksibel
Mungkin hal terbaik yang dapat Anda lakukan pada daftar periksa perjalanan Covid adalah merencanakan dengan fleksibel dalam segala hal yang lakukan. Aturan seputar karantina dan apa yang mungkin diminta negara lain dari Anda sebelum masuk dapat berubah secara cepat dan dramatis. Hampir dalam semalam, selama perjuangan Inggris dengan virus corona varian Inggris, negara-negara menutup perbatasan mereka untuk setiap pelancong dari Inggris Raya.

Oleh karena itu, yang terbaik adalah merencanakan hal terburuk yang terjadi dan berharap yang terbaik. Melakukan hal itu akan menghilangkan banyak tekanan yang berasal dari ketidakpastian saat memesan perjalanan ke luar negeri saat ini.

Baca juga: Aturan Baru, Singapura Wajibkan Semua Pesawat Punya Area Karantina di Dalam Kabin

5. Dapatkan asuransi
Terakhir, sangat penting untuk membeli asuransi perjalanan yang kuat sebelum Anda bepergian. Melakukan hal itu akan melindungi wisatawan dalam beberapa cara penting.
Pertama, kerugian finansial akan diminimalkan jika perjalanan harus dibatalkan di saat-saat terakhir. Asuransi perjalanan selalu merupakan ide yang baik untuk diambil sebelum Anda Covid mengangkat kepalanya yang buruk, tetapi itu sangat penting sekarang.

Covid secara material meningkatkan kemungkinan sesuatu menghentikan rencana perjalanan ke depannya. Membeli asuransi perjalanan memungkinkan para pelancong memesan liburan tanpa takut mereka berisiko kehilangan uang. Kedua, polis asuransi perjalanan yang baik harus memberikan dukungan finansial untuk setiap perawatan medis yang diperlukan saat berada di luar negeri. Biaya tersebut bisa tinggi terutama jika Covid terlibat mengingat berapa lama tinggal di rumah sakit saat melawan penyakit tersebut. Membeli asuransi perjalanan berarti biaya-biaya tersebut dan biaya pemulangan penderita Covid ke Inggris, tidak menjadi kekhawatiran atau risiko.

Bosen WFH, Cobain Nih Caravan NV350, Konsep Kantor ‘Berjalan’ Ala Nissan

Sejak virus Corona menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, berbagai perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Tidak terlalu ketat, dalam artian memperbolehkan bekerja di kantor atau work from office seperti biasa sekalipun tetap mematuhi protokol kesehatan, setengah ketat sampai sangat ketat.

Baca juga: Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi

Bagi kelompok perusahaan yang terakhir (sangat ketat), mayoritas dari mereka tetap memberlakukan work from home (WFH) kendati dunia sudah memasuki era new normal atau kenormalan baru, dimana tatap muka kembali dilakukan di bawah aturan ketat protokol kesehatan.

WFH sebulan dua bulan saja sudah cukup membosankan, apalagi WFH dari awal pandemi sampai detik ini, jangan-jangan, walaupun terhindar dari virus Corona tetapi karyawan di perusahaan ini malah terkena penyakit lain saking penatnya pikiran akibat kurang hiburan. Namun, jangan khawatir, bila Anda salah satunya, mungkin konsep kantor ‘berjalan’ dari Nissan bisa menjadi solusi terbaik.

Dilansir New Atlas, produsen mobil asal Jepang itu belum lama ini memperkenalkan mobil Caravan NV350 atau NV350 Caravan Office Pod Concept, sebuah konsep mobil sekaligus kantor mewah dengan segala fitur unggulan.

Sebagaimana namanya, mobil ini memungkinkan pengguna untuk tetap bekerja di luar kantor dan rumah dengan maksimal sambil merefreshing pikiran. Lewat fitur electric shade, misalnya, Anda bisa mengatur sendiri pemandangan di kaca belakang mobil atau di balik layar komputer Anda sesuai keinginan. Jadi, Anda boleh saja berada di dalam mobil, namun, suasananya biasa diubah sesuai keinginan.

https://www.youtube.com/watch?v=qSyMUr7cRXg&feature=emb_title

Selain fitur tersebut, masih ada lagi berbagai fitur unggulan, seperti black light carpeted floor mats, glove box with UV antibacterial lamp, DC/AC inverter, retractable office pod, edge lighting, herman miller cosm chair, polycarbonate floor, serta roof top deck.

Fitur black light carpeted floor mats, edge lighting, herman miller cosm chair, dan polycarbonate floor, mungkin tak terlalu penting. Sebab, fitur-fitur tersebut hanya memanjakan mata pengguna. Black light carpeted floor mats memungkinkan karpet di dalam mobil menyala. Begitu juga dengan polycarbonate floor, dimana lantai tempat kursi di meja kerja berada dibuat transparan.

Selain itu, andai pun pemandangan di bawah mobil tak terlalu memanjakan mata, polycarbonate floor juga bisa menyajikan pemandangan apapun yang diinginkan, mirip seperti electric shade.

Meja dan kursi kerja yang disetting fixed alias tidak bisa digeser-geser bisa ditarik keluar secara otomatis melalui smartphone masing-masing di bawah fitur retractable office pod. Setelahnya, kursi dan meja berada di luar mobil di bawah kap belakang yang menutupi di bagian atas.

Baca juga: Antisipasi Penyebaran Covid-19, Beginilah Gaya Liburan Outdoor di Negeri Paman Sam

Yang paling nikmat tentu roof top deck. Fitur ini membuat Anda dimungkinkan untuk berjemur di bawah hangat sinar mentari, lengkap dengan matras putih. Bila matahari terasa begitu panas di kulit, payung ala-ala di pantai siap melindungi.

Cara menggapainya pun tak begitu sulit. Di bagian kanan mobil, Nissan sudah menyiapkan tangga manual untuk memudahkan pengguna naik dan menikmati pemandangan dari atas. Gimana, setelah mendapat penjelasan sekaligus menonton video teasernya, apakah Anda tertarik?

PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Sebagai perusahaan pembuat kereta api, PT Industri Kereta Api atau PT INKA kini melebarkan sayapnya dengan membuat bus bertenaga listrik. Bus yang bernama E-Inobus tersebut kini memulai uji cobanya di ibukota Jakarta dan melibatkan PT Transportasi Jakarta (TransJakarta).

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

SM Pengembangan Produk dan Teknologi PT INKA Febry Pandu Wijaya mengatakan, uji coba di Jakarta bertujuan untuk mengetahui performansi baterai, motor dan hal lainnya pada bus listrik tersebut di rute TransJakarta.

“Saat ini INKA menawarkan E-Inobus ukuran panjang delapan meter ke TransJakarta, di mana TransJakarta mensyaratkan pengujian bus selama kurang lebih tiga bulan pada rute uji coba operasional mereka” ujar Febry yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis.

Dia menyebutkan bahwa jadwal uji coba tentatif yang dimulai pada 23 Desember 2020 hingga 6 April 2021. Pra pengujian akan dilakukan selama dua minggu yang kemudian dilanjutkan dengan uji operasional selama tiga bulan.

Bus E-Inobus merupakan kerjasama PT INKA dengan Tron-E dari Taiwan sebagai mitra komponen drive train dan baterai bus serta Piala Mas dari Malang sebagai mitra pembuatan bodi bus listrik ini. Bus listrik besutan INKA ini membutuhkan waktu tiga sampai empat jam untuk pengisian daya sampai penuh.

Untuk jarak tempuh dalam baterai penuh, bus mampu melaju hingga sejauh 200 km. Febry menyebutkan, untuk tingkat kebisiangannya, bus milik PT INKA ini jauh lebih baik dengan rata-rata 71 dB jika dibandingkan bus diesel yang rata-rata kebisingannya sebesar 85 dB.

Bus ini pun d klaim cocok digunakan untuk angkutan massal di kota besar yang menerapkan smart city karena ramah lingkungan. Sebab bus listrik ini tidak menimbulkan gas buangan yang membuat polisi udara.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Untuk diketahui, bus listrik E-Inobus pertama kali diuji coba dari balai kota Madiun di Jalan Pahlawan menuju Jalan Cokroaminoto, Musi, HA Salim, Ahmad Yani dan kembali ke balai kota. Dalam uji coba perdananya, Walikota Madiun turut menjajal kemampuan E-Inobus milik INKA tersebut.

Ulah Orang Iseng Dibalik Tanda SOS, TOLONGGG, dan ‘Kami Masih Hidup’ di Pulau Laki

Di setiap perisitiwa pasti akan selalu ada ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab; tak terkecuali terkait kecelakaan pesawat Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182, dimana ada tanda SOS, TOLONGGG dan sebagainya di Google Maps.

Baca juga: Pasir Sinyal ‘SOS’ Selamatkan Tiga Pria Usai Terdampar Tiga Hari di Pulau Terpencil Tak Berpenghuni

Diketahui, pesawat yang mengangkut 62 orang yang terdiri dari 12 kru, 40 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi ini dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Meskipun misteri jatuhnya pesawat Sriwijaya Air PK-CLC ini masih belum terungkap lantaran salah satu bagian dari black box (Cockpit Voice Recorder) rusak dan memorinya hilang, namun, dari data-data sebelum pesawat hilang kontak, pesawat sempat menukik tajam dengan kecepatan tinggi. Dalam kecepatan tinggi itulah kemudian pesawat menghujam lautan di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang.

https://twitter.com/pidipaw/status/1351558817746612224?s=20

Dengan posisi itu, tak heran bila banyak korban kecelakaan itu sudah tak lagi utuh. Potongan tubuh bahkan ditemukan dimana-mana, baik di sekitar lokasi kejadian bahkan hingga Pantai Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dan di Pantai Kis, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Singkatnya, besar kemungkinan -bila tak ingin dikatakan mustahil- bahwa tak ada korban selamat dalam insiden itu.

Oleh karenanya, aneh bila tanda atau sinyal SOS dan TOLONGGG di Google Maps, yang sempat membuat warga Twitter heboh, muncul sebagai pertanda adanya korban selamat yang meminta pertolongan di Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Bukan hanya itu, berbagai tanda lainnya juga muncul seperti pesan bertuliskan “Kami masih hidup” dan “Tolongin kita” juga viral di Twitter.

Terlepas dari ini hoax atau ulah orang iseng atau bukan, tim SAR sendiri sudah bergerak ke lokasi dan menyisir seluruh area. “Kita nggak menemukan apa-apa,” ujar Direktur Operasi Basarnas Brigjen Rasman MS kepada wartawan.

Penjelasan dari Google sendiri, sebagaimana laporan CNN Indonesia, ada tiga sumber data Google Maps, yaitu Google sendiri, pihak ketiga dan sumber publik, seperti data dari pemerintah dan institusi peta untuk memberikan penamaan jalan, kota, wilayah, dan keterangan geografis lain, serta kontribusi pengguna.

Saat di klik, pengguna bisa menambahkan sendiri nama tempat yang dimaksud, memilih kategori tempat, dan keterangan tambahan lain seperti nomor telepon, waktu buka, foto, hingga alamat web. Setelah informasi dikirim, tag tidak langsung tampil di Google Maps, tapi perlu persetujuan Google terlebih dulu.

Baca juga: Fake GPS, Jurus Pengemudi Online Akali Order Pelanggan

Pilihan kategori tempat, apakah itu taman, tempat belanja, atau hotel, akan memberikan tag khusus. Pada tag SOS di Pulau Laki, ditandai tag dengan simbol taman.

Dari keterangan Google di atas, itu berarti siapapun bisa berkontribusi untuk menambahkan nama tempat, tentu dengan nama yang diinginkan kontributor. Sama halnya ketika salah satu tempat di sekitar rumah Anda atau mungkin rumah Anda sendiri di-tag sebagai rumah ibadah atau mungkin mall oleh kontributor iseng, bisa saja dan bukan tak mungkin akan disetujui oleh Google sekalipun sebagai sebuah kekeliruan sistem.

Tak Perlu Bawa Surat Hasil Test Covid-19 atau Vaksin, Emirates Gandeng IATA Hadirkan Travel Pass

0

Berbagai macam cara dilakukan untuk memudahkan persyaratan bepergian dengan pesawat dan masuk ke dalam suatu negara di masa pandemi. Salah satunya dengan Paspor Covid yang membuktikan bahwa penumpang memiliki hasil tes Covid-19 atau sudah divaksin.

Baca juga: Gegara Corona, 21 Wilayah di Rusia Meminta Izin Akses Travell Pass Digital ala Moskow

Paspor Covid baru tengah dalam uji coba yang nantinya dapat membantu serta memudahkan penumpang untuk menavigasi berbagai aturan saat bepergian termasuk persyaratan tes Covid-19. Dilansir KabarPenumpang.com dari mirror.co.uk (19/1/2021), saat ini maskapai Emirates yang bermitra dengan Asosiasi Tansportasi Udara Internasional (IATA) menguji IATA Travel Pass yang merupakan Paspor Covid.

Ini adalah sebuah aplikasi yang memungkinkan Anda menyimpan informasi penting seperti hasil tes Covid-19 yang negatif dan informasi terkait penerimaan vaksin. Untuk memudahkannya, pelancong bisa mengikuti tes Covid-19 di lab bersertifikat dan hasilnya akan dikirimkan ke aplikasi seluler yang kemudian dapat mereka bagikan dengan pihak berwenang maupun maskapai penerbangan ketika akan bepergian.

Aplikasi ini juga diatur untuk menawarkan fitur yang sama bagi mereka yang sudah memiliki bukti bila sudah di vaksin Covid-19. Platform ini juga memungkinkan laboratorium dan pusat pengujian resmi untuk mengirimkan hasil tes dan sertifikat vaksinasi dengan aman kepada penumpang.

Saat ini Travel Pass IATA akan diujicobakan oleh Emirates pada penerbangan dari Dubai mulai April 2021. Kemudahan lainnya yang bisa didapatkan pelancong adalah mereka yang mengggunakan pesawat Emirates, bisa membagikan hasil tes Covid ataupun vaksin mereka sebelum tiba di bandara.

Hal ini bisa membuat penumpang secara otomatis masuk ke dalam sistem check in. Meski dimudahkan dengan Travel Pass, penumpang tetap harus membawa dokumen mereka seperti paspor dan visa yang relevan serta yang lainnya.

Nick Careen, Wakil Presiden Senior IATA untuk Bandara, Penumpang, Kargo, dan Keamanan mengatakan bahwa izin baru adalah langkah pertama dalam membuat perjalanan internasional selama pandemi menjadi senyaman mungkin, sehingga orang-orang yakin bahwa mereka memenuhi semua persyaratan masuk Covid-19 oleh pemerintah.

Ini bukan pertama kalinya aplikasi semacam ini diujicobakan. Tahun lalu, tiket digital serupa diujicobakan pada penerbangan yang dioperasikan oleh United Airlines dan Cathay Pacific, dengan para penumpang yang menjadi sukarelawan untuk skema tersebut.

Baca juga: Singapore Airlines Hadirkan Layanan Verifikasi Digital Covid-19 yang Juga Bisa Jadi ‘Paspor Vaksin’

“Meskipun perjalanan internasional tetap aman seperti sebelumnya, ada protokol baru dan persyaratan perjalanan dengan pandemi global saat ini. Kami telah bekerja sama dengan IATA dalam solusi inovatif ini untuk menyederhanakan dan mengirimkan secara digital informasi yang diperlukan oleh negara dan pemerintah ke dalam sistem maskapai kami, dengan cara yang aman dan efisien,” kata Chief Operating Officer Adel Al Redha Emirates.

Mengenang Sosok David Warren, Sang Penemu Black Box Gegara Ayah Kecelakaan Pesawat

Kecelakaan pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 mengingatkan kembali dunia akan pentingnya black box manakala insiden terjadi. Sebab, tanpa black box atau kotak hitam, kecelakaan pesawat hanya akan menjadi misteri tanpa diketahui penyebab jatuhnya.

Baca juga: Black Box Pesawat Bisa Hancur! Ini Penyebabnya

Di masa lalu, sebelum black box ditemukan, David Warren, pria asal Australia, mungkin amat merasakan hal itu. Terlebih, kecelakaan pesawat yang terjadi menimpa orang tercinta dan terpenting dalam hidup, yaitu ayahnya. Tak ingin hal itu terulang kembali atau mungkin dirasakan oleh orang-orang di masa mendatang, ia pun berinovasi sampai akhirnya menemukan dan mengembangkan alat perekam data penerbangan (FDR) dan perekam suara kokpit (CVR) pertama di dunia yang pada akhirnya disebut black box.

Sebagaimana penemu berbagai teknologi atau inovasi di masa lalu, umumnya temuan dari mereka tak langsung mendapat respon positif. Butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat akan temuannya; tak terkecuali David Warren. Terciptanya black box, yang sebegitu pentingnya di dunai penerbangan, oleh pria bernama lengkap David Ronald de Mey Warren AO ini juga tak mendapat respon apapun dari negaranya, Australia.

Dilansir dst.defence.gov.au, Warren lahir pada 1925 di Groote Eylandt, sebuah pulau di lepas pantai utara Australia.

Ayahnya, Rev Hubert Warren meninggal di tahun 1934 dalam insiden yang dikenal dengan peristiwa hilangnya Miss Hobart di Selat Bass. Otoritas Penerbangan Sipil Australia melakukan pencarian, namun tidak membuahkan hasil. Peristiwa itu kemudian ditetapkan sebagai kecelakaan pesawat pertama di Australia, dan semua penumpang dinyatakan tewas. Sebetulnya kecelakaan pesawat pertama di Australia bukan 1934, melainkan pada 21 Maret 1931 dimana pesawat Avro 618 Ten ‘Southern Cloud’ Australian National Airways (ANA) menghilang secara misterius.

Sebelum tewas dalam insiden kecelakaan pesawat pertama di Australia, ayahnya sempat memberikan kado. Kado terakhir dari ayahnya yang diterima David yang saat itu berusia 9 tahun adalah crystal set. Gadget ini populer pada masa itu untuk mendengarkan radio. Crystal set dari sang ayah mengantarkannya pada kecintaan terhadap hobi merakit radio dan dunia sains.

Pada 1950-an, Warren bekerja untuk Aeronautical Research Laboratories di Melbourne. Sekitar 7 tahun, ketertarikannya untuk merekam musik secara pribadi pada akhirnya mengantarkan David Warren untuk menemukan dan mengembangkan prototipe perekam penerbangan atau flight recorder pertama di dunia yang disebut ‘Memory Unit’. Sayangnya, penemuan tersebut lebih banyak mengundang kritik dibandingkan pujian.

Akhirnya, Inggris dan Amerika Serikat yang menanggapi penemuan Warren lebih serius dan memproduksi black box secara massal. Warren dikabarkan tidak mendapatkan imbalan finansial atas penemuannya.

Saat pertama kali dikembangkan, alat ini belum disebut sebagai black box, melainkan ARL Flight Memory Recorder. Prototipe pertama black box dibuat tahun 1956. Saat itu, pada rentang 1952-1983, David bekerja di Aeronautical Research Laboratories (ARL) sebagai peneliti utama sains yang berpusat di Melbourne, Australia.

Dia terlibat dalam penyelidikan kecelakaan pesawat komersial bertenaga jet pertama di dunia bernama Comet yang diluncurkan pada 1952. Namun, tiga pesawat Comet hilang sesaat setelah lepas landas dan menewaskan semua penumpang.

Baca juga: Inilah Jawaban Mengapa Black Box Direndam Air Pasca Ditemukan

Ide merancang black box yang sudah dipikirkannya sejak kecil semakin kuat ketika melihat miniatur alat perekam di sebuah pameran dagang. David berpikir, seandainya peneliti bisa mengetahui apa yang terjadi pada menit-menit sebelum pesawat jatuh, hal ini dapat membantu mencegah kecelakaan yang sama di kemudian hari.

Penemuan Warren pun baru diakui oleh Australia pada 2002. Dia akhirnya dianugerahi Orde Australia atas kontribusinya. Warren menutup usia pada 2010 dalam usianya ke 85 tahun. Penemuan dia telah menjadi andalan seluruh pesawat di dunia hingga saat ini. Namun, tak diketahui pasti mengapa alat perekam pesawat tersebut berakhir dengan nama kotak hitam.

Keanehan Dibalik Momen Trump Tumpangi Air Force One untuk Terakhir Kalinya

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald Trump sudah tidak lagi menjabat usai Presiden AS ke-46, Joe Biden resmi dilantik pada 20 Januari 2021. Dengan diantar Air Force One untuk kali terakhir, Trump pun sampai West Palm Beach, Florida dan disambut meriah para pendukungnya.

Baca juga: Gedung Capitol AS Dapat Ancaman Mau Ditabrak Pesawat! Ulah Pendukung Trump?

Trump memang tidak menghadiri pelantikan Joe Biden, menjadikannya sebagai Presiden AS pertama yang tak menghadiri pelantikan presiden pengganti dalam satu abad terakhir.

Dilansir Simple Flying, sebelum turun dari jabatan, Presiden AS sebelum Trump biasanya menumpangi pesawat Air Force One lain. Tetapi, tidak dengan Trump. Ia pun nampak niat sekali untuk menggunakan Boeing 747 yang disulap sebagai VC-25A ini. Apapun alasannya, yang jelas, Air Force One lepas landas dari Washington pada pukul 11 siang waktu setempat atau satu jam sebelum Joe Biden resmi dilantik. Secara yuridis, ia memang masih diperbolehkan menggunakan pesawat itu selama presiden pengganti belum dilantik.

Sebelum menumpangi Air Force One VC-25A, Trump sempat mengunjungi beberapa tempat dengan Sikorsky VH-3D Sea King Marine One. Ia kemudian mengadakan beberapa perpisahan serta upacara keberangkatan sebelum menumpangi VC-25A.

Sementara Trump menggunakan Air Force One, Joe Biden yang secara legal sebetulnya bisa menggunakan pesawat Air Force Two, yaitu sebuah pesawat modifikasi dari Boeing 757, atau biasa dikenal sebagai C-32, justru malah menumpangi pesawat Boeing 737 cateran.

Meski demikian, pesawat Boeing Business Jets carteran dari sebuah perusahaan leasing, Jet Edge, itu konfigurasinya sudah disesuaikan untuk kelas VVIP. Pesawat dengan nomor registrasi N934BZ itu merupakan jet mewah dengan kapasitas 16 penumpang yang dilengkapi berbagai fasilitas kelas satu, seperti lounge, sofa, hingga ruang meeting.

Disebutkan, Biden memang tak terlalu terlihat bermewah-mewahan terhadap pesawat. Jika itu benar, seharusnya ia tak terlalu memusingkan atas kebijakan Trump tentang perubahan livery pesawat Air Force One, yang bagi sebagian kalangan mirip dengan maskapai Trump Shuttle di tahun 1989.

Sebelumnya, pada awal Februari tahun lalu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengumumkan rencana perubahan pesawat Kepresidenan AS (Air Force One). Salah satu yang menarik dari rencana perubahan tersebut adalah warna pada pesawat, yakni merah, putih, dan biru, yang mengingatkan kita pada Trump Shuttle, maskapai bangkrut milik Donald Trump.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Thehill.com, melaporkan dalam rincian anggarannya, Pentagon mengajukan anggaran sebesar US$800,9 juta atau sekitar Rp11 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS untuk program Rekapitalisasi pesawat VC-25B atau program rekapitasisasi pesawat Air Force One. Hal ini dimaksudkan untuk menggantikan pesawat Air Force One saat ini dengan dua pesawat Boeing 747-8 yang baru sekaligus dimodifikasi, sesuai dengan pengajuan anggaran pertahanan administrasi Trump.

Namun, jalan Trump untuk merealisasikan keinginannya tersebut bukannya tanpa halangan. Apalagi, kini ia sudah tak lagi menjabat. Dua tahun lalu, Trump sebetulnya sudah berusaha meminta persetujuan kongres untuk perubahan skema livery pesawat kepresidenan dan desain interior. Namun ditolak dan masih menggantung hingga RAPBN AS 2021 mendatang.

Nehru Science Center Restorasi Lokomotif Uap dan Jet Tempur dari Masa Lalu

Kemajuan teknologi di bidang transportasi membuat masa-masa kejayaan moda transportasi masa lalu seakan terlupakan. Namun meski begitu, India baru-baru ini membangkitkan lokomotif dan pesawat dari masa lampau yang telah pensiun di Nehru Science Center (NSC) di Worli.

Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

Lokomotif dan pesawat ini kembali dibenahi dengan diperbaiki dan dikembalikan warnanya agar bisa menjadi pengingat kejayaan keduanya di masa lalu. KabarPenumpang.com melansir timesofindia.indiatimes.com (18/1/2021), pesawat ini adalah jet tempur buatan dalam negeri pertama India dengan kode HF-24 Marut dan dirancang oleh insinyur Jerman era Nazi dan digjnakan dalam Perang Kemerdekaan Bangladesh.

Sedangkan lokomotif uap berumur 114 tahun pernah menarik kapal ke dermaga Mazgaon dan salah satu lokomotif listrik pertama yang memasuki rel kereta api di akhir tahun dua puluhan. Sedangkan mobil trem listrik dari tahun 1902 dan mesin uap Kereta Api Darjeeling Himalayan yang legendaris untuk pertama kalinya sejak mereka menyelesaikan perjalanan memutar dan menjalani pekerjaan restorasi besar-besaran sebagai bagian dari prakarsa pusat tersebut untuk mempertahankan warisan transportasi negara.

“Artefak ini telah dipamerkan di taman sains terbuka Pusat Sains Nehru sejak 1979. Sayangnya, kondisi iklim yang panas karena dekat dengan laut selama bertahun-tahun menyebabkan korosi dan kerusakan. Meskipun upaya kecil seperti mengecat tubuh dilakukan sesekali, tidak pernah ada upaya untuk memulihkan artefak ini secara holistik dengan bantuan ahli,” kata direktur NSC, Shivaprasad Khened.

Sedangkan untuk jet tempur sendiri disumbangkan oleh Angkatan Udara India ke taman sains pada 1978. Untuk pemeliharaanya pihak taman sains meminta bantuan dari pihak pembuatnya yakni Hindustan Aeronautics Limited. Khened mengatakan pihaknya kemudian memanfaatkan penguncian di masa pandemi ini. Di mana mereka bersama dengan para ahli kemudian menghidupkan kembali benda-benda dari indistri transportasi.

”Meskipun pandemi Covid-19 memberi kami kesempatan untuk mencoba memulihkan besar-besaran pesawat bersejarah ini, kami juga menghadapi krisis dana yang parah. Kami mengajukan banding ke HAL, Nashhik. Mereka mengirim tim insinyur dan teknisi yang berkemah di pusat kami selama tiga minggu dan melakukan pemulihan, tanpa biaya,” kata Khened.

Kendaraan lain yang direstorasi ke bentuk aslinya dengan corak pita hitam dan merah adalah lokomotif listrik yang diproduksi sekitar tahun 1929 yang beroperasi antara Kalyan dan Pune selama era pra-kemerdekaan di bawah Great Indian Peninsular Railways.

“Pelat permukaan eksterior, member struktur dan atap terkorosi berat. Kami melepas dan mengganti semua bagian yang terkorosi dan pelat permukaan serta menjaga warna, tekstur, dan struktur aslinya,” kata kepala manajer bengkel Vivek Acharya.

Sebuah lokomotif uap tahun 1906 yang menggantikan gerbong bertenaga manusia dan hewan untuk mengangkut kapal ke dok kering Mazgaon dan untuk mengangkut material pengiriman dibangkitkan dari keausan substansial yang disebabkan selama empat dekade sejak diberikan kepada NSC.

Baca juga: Boeing 747 British Airways Disulap Jadi Museum dan Bioskop

“Selain dari kelembapan, penanganan konstan pengunjung dapat merusak logam. Tidak seperti museum seni dan arkeologi, museum sains dirancang dengan pameran langsung yang dapat disentuh. Sayangnya pendekatan non-koersif ini kontraproduktif dalam melestarikan artefak,” kata Khened.