Masa Pandemi, Bisnis Ride Hailing di Rusia Pertumbuhannya Terus Naik

Dalam masa pandemi Covid-19 perusahaan ride hailing di seluruh dunia mengalami penyurutan penumpang yang sangat signifikan. Namun, tak semuanya dapat dipukul rata, perusahaan ride hailing Citymobil di Rusia, kemudian memberikan gambaran pasaran ride hailing di negara tersebut. Bahkan Citymobil membandingkan perusahaan ride haling di Rusia dengan negara lain.

Baca juga: Layanan Ride Hailing di Amerika Serikat Sumbang 69 Persen Emisi Karbon

COO perusahaan ride hailing Citymobil Vitaly Bedarev, mengaku layanan transportasi online di Rusia masih dalam tahap pertumbuhan yang pesat. Ini tidak seperti di Amerika Serikat yang mana di Rusia masih mengalami perkembangan setiap tahun dan induristri memiliki karakteristik nasional yang unik.

Bedarev mengatakan, Uber di AS merupakan hal yang umum di mana pengemudi bekerja dengan layanan transportasi online memiliki mobil sendiri. Sedangkan di Rusia, pengemudi menyewa mobil dari perusahaan armada yang memiliki ribuan kendaraan.

KabarPenumpang.com merangkum intelligenttransport.com, Bedarev mengatakan, pembayaran secara tunai masih tinggi dan di Moskow uang tunai menjadi penyumbang sekitar 40 persen pembayaran dan ini merupakan perbedaan yang besar dari Inggris serta AS. Citymobil yang menjadi penantang Yandex.Taxi mulai berkembang pesat dengan pangsa 20-25 persen di kota-kota yang ada.

Selain itu, di kota-kota kecil pesanan taksi melalui telepon masih mendominasi dan ada pemain yang bekerja sesuai dengan prosedur ini (Maxim, Vezet). Citymobil adalah perusahaan IT besar, terutama perusahaan ride hailing berbasis aplikasi, namun di beberapa kota, 30 persen pesanan masih dilakukan melalui telepon. Di Rusia, tidak ada perbedaan antara taksi dan ride hailing.

Aplikasi ride hailing memungkinkan penggunanya memesan taksi berlisensi dan tidak ada lisensi khusus untuk ride hailing yang berbeda dari taksi. Inilah alasan utama mengapa pengemudi harus menyewa mobil berlisensi dari armada taksi daripada menggunakan kendaraan sendiri. Sebelum pandemi, ada beberapa restrukturisasi besar-besaran pasar di Rusia.

Pada 2017-18 Yandex mengakuisisi operasi Uber lokal dan monopoli de facto muncul di kota-kota besar, karena ukuran pesaing menjadi marjinal dibandingkan dengan pemimpin pasar. Kemudian Citymobil, sebagai penantang yang didanai oleh Mail.ru Group, muncul dan dengan cepat memasuki banyak kota di Rusia, mendapatkan pangsa pasar yang layak. Pandemi datang pada saat Citymobil diluncurkan di banyak kota dan seluruh pasar secara aktif bergerak menuju model yang saat ini ada di AS.

Di Rusia, pembatasan serius terkait virus korona diberlakukan pada Maret dan di bulan April, penguncian penuh diberlakukan dan penduduk harus menerima kode digital khusus untuk bergerak di sekitar Moskow, termasuk dengan taksi. Secara alami, hal ini menyebabkan penurunan permintaan transportasi termasuk pemesanan kendaraan di Moskow lebih signifikan daripada di wilayah lain.

Aturan karantina bervariasi di berbagai kota dan begitu pula dampaknya seperti di St. Petersburg hal itu menyebabkan sedikit penurunan permintaan sedangkan di wilayah Selatan seperti Krasnodar kami bahkan mengalami pertumbuhan permintaan selama pandemi. Minggu terburuk untuk permintaan adalah dari 31 Maret hingga 6 April. Pada puncaknya, permintaan di Moskow turun sekitar 50 persen dari periode sebelum virus korona.

Meskipun signifikan, ini jauh lebih kecil daripada dampak yang terlihat di New York dan Cina, di mana aturan karantina yang sangat ketat diberlakukan. Permintaan di Moskow mulai pulih dengan sangat cepat, dan pada akhir Juni melampaui tingkat sebelum virus Corona, yang juga berbeda dari AS dan Cina, di mana pemulihan pasar jauh lebih lambat.

Di Rusia, selama pandemi, layanan transportasi online harus mengendalikan pengemudi dan perusahaan taksi, dengan desinfeksi mobil dan distribusi masker, sarung tangan, dan pembersih. Selain itu, kami harus membeli masker dan pembersih untuk pengemudi dengan biaya sendiri dan membiayai desinfeksi mobil.

“Ini tidak umum untuk layanan ride hailing. Sejauh yang kami sadari, di seluruh dunia ini tidak pernah menjadi persyaratan, tetapi regulator mewajibkan kami untuk melakukannya. Ini mengakibatkan biaya yang signifikan. Namun, kami berhasil memberikan kompensasi kepada mereka dengan menghemat subsidi untuk pengemudi jumlah mereka yang dipertaruhkan hanya sedikit dan pasar masih berada dalam situasi kelebihan pasokan karena penurunan permintaan perjalanan yang lebih besar,” kata Bedarev.

Baca juga: Menyusup di Aplikasi RadickRadio, Aplikasi Ride Hailing Asal Iran Dihapus dari App Store!

Setelah pemulihan permintaan, Citymobil sedikit kehilangan pangsa pasar, tetapi ini sebanding dengan tingkat pertumbuhan dan masih memiliki pangsa yang lebih tinggi daripada operasi sebelum Covid. Menurut data terbaru dari Departemen Transportasi Moskow, Taksi Yandex pada Agustus memiliki sekitar 67,7 persen perjalanan per hari, Citymobil – 23,1 persen per hari, dan Gett 5,8 persen per hari.

Bantu Petugas dan Penumpang, Bandara Changi Operasikan 47 Unit Robot

Berbagai keindahan ditawarkan oleh Bandara Internasional Changi Singapura. Sebab Bandara Jewel Changi dilengkapi dengan air terjun indoor, berbagai macam taman dan area hiburan. Tak hanya bisa dinikmati oleh para pelancong yang tiba, berangkat atau transit, tetapi bagi pengunjung yang tidak terbang pun bisa merasakannya.

Baca juga: Sambut New Normal, Bandara Changi Kerahkan Robot Pembersih dan Toilet Tanpa Kontak

Ternyata tak hanya itu, Bandara Changi kini juga melengkapi diri dengan menghadirkan berbagai macam robot yang bisa membantu petugas dan penumpang untuk mendapat pengalaman yang lebih baik. Salah satunya robot yang membantu membersihkan genangan di lantai basah karena cipratan air terjun indoor dengan ketinggian 40 meter.

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (2/9/2020), ada dua robot tak kenal lelah yakni robot LeoScrub milik Jewel. Kedua robot ini merupakan besutan perusahaan lokal LionBots Internasional dan bagian dari armada otomatis yang terus berkembang untuk membantu menjaga Bandara Changi setiap harinya.

Robot pembersih LeoScrub sendiri merupakan bagian dari 47 robot di Jewel dan Terminal bandara. Tak hanya itu, robot tersebut juga semakin sering dipanggil untuk berinteraksi dengan pengunjung dalam berbagai cara.

LeoScrub dilengkapi dengan kode QR pada bagian dada kirinya dan pengunjung bisa memindai dengan ponsel mereka untuk membuka menu dengan pertanyaan yang dapat mereka ajukan pada robot. Selain itu, dengan kode QR ini juga, pengunjung bisa meminta robot untuk bernyanyi. Selain robot pembersih, Jewel juga memiliki robot pramutamu yang akan digunakan pada akhir tahun ini.

“Penggunaan robot telah membantu meringankan tugas yang lebih melelahkan dari staf kami, serta tugas mitra kami, di Jewel,” kata kepala pengalaman pengguna Jewel Changi Airport, Kelvin Tan.

Kelvin menambahkan bahwa staf telah mampu bekerja lebih cerdas dan produktif. Di mana petugas kebersihan biasanya berkeliling sekali sehari untuk mengumpulkan sampah dari setiap toko di Jewel. Ini bisa memakan waktu satu setengah jam hanya untuk satu tingkat mall.

Tetapi empat robot LeoPull yang merupakan saudara robot LeoScrub sudah menangani pengumpulan sampah di lantai ketiga Jewel dan akan ada yang lebih banyak lagi pada akhir tahun. Setiap LeoPull menarik tempat sampah besar yang disesuaikan dan akan berhenti di depan setiap toko dan membunyikan bel untuk memberi tahu penyewa tentang kedatangannya.

Ini sepenuhnya dilakukan sendiri, karena telah diprogram dengan rutenya. Serangkaian sensor juga membantu robot menghindari rintangan dan orang serta memberi tahu operatornya apa yang akan dilakukannya pada satu titik. Meski begitu operator juga dapat memberikan instruksi, jika diperlukan, melalui aplikasi.

Meskipun mereka mungkin menarik perhatian, LeoScrubs dan LeoPulls bukanlah robot paling populer di Bandara Changi. Perbedaan itu adalah milik robot Delight setinggi 1,3m, yang berkeliling di sekitar Jewel’s Canopy Park dua kali sehari, menawarkan kepada pengunjung minuman botol dan permen gratis.

Baca juga: Ssstt..! Ada Robot Polisi Lalu Lintas di Bandara Changi

“Robot Delight telah terbukti sangat populer sejak Canopy Park dibuka tahun lalu. Ini diprogram untuk mengikuti rute yang ditetapkan. Tapi kita juga bisa memicunya secara manual untuk kembali saat minuman habis,” kata eksekutif pengalaman pengguna Jewel Changi Airport, Euguene Tan, yang merupakan bagian dari tim yang mengawasi robot Jewel.

Hentikan Operasional Sementara, Inilah TransNusa, Maskapai Perintis yang Berbasis di Kupang

TransNusa dikenal sebagai maskapai yang mengoperasikan rute di Indonesia Timur terutama Nusa Tenggara dan saat ini tengah menghentikan operasionalnya sementara mulai 8 hingga 30 September 2020. Maskapai yang berbasis di Bandara El Tari, Kupang tersebut mengambil keputusan penghentian sementara operasional karena keterisian penumpang yang belum ekonomis.

Baca juga: Tingkatkan Daya Saing, TransNusa Gandeng China Aircraft Leasing

Selain itu penghentian sementara juga mempertimbangkan kasus positif Covid-19 yang masih tinggi. Direktur Utama TransNusa Bayu Susanto mengatakan, maskapai ini akan kembali beroperasi jika permintaan penumpang sudah lebih baik dan ada perbaikan kasus Covid-19.

“Kami kembali beroperasi bergantung perkembangan aspek kesehatan dari Covid-19 dan permintaan penumpang (yang lebih baik),” ujar Bayu yang juga merupakan Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Bayu menambahkan, penghentian operasional tersebut tidak menutup kemungkinan bisa diperpanjang dan keputusan diambil bila kondisi tak terus membaik. Penghentian operasional TransNusa sendiri diketahui dari bocoran surat untuk agen travel yang ditandatangani pada 5 September 2020 oleh Head of Sales & Revenue Management Rajasegaran Rajoo.

Surat itu mengumumkan bahwa TransNusa menghentikan operasional sementara penerbangannya. Penghentian operasi maskapai itu memperhatikan kasus pandemi Covid-19 yang masih merebak dan cenderung meningkat di seluruh provinsi di Indonesia. TransNusa menyampaikan penutupan sementara operasional seluruh penerbangan maskapai tersebut sampai keadaan benar-benar pulih dan adanya vaksin yang bisa memastikan pandemi Covid-19 di Indonesia akan segera berakhir.

“Selama masa tidak beroperasi ini, TransNusa akan terus memantau perkembangan kasus Covid-19. Dan akan kembali beroperasi dengan lebih kuat serta komitmen yang tinggi dalam melayani para pelanggan setia kami,” tulis Rajasegaran dalam surat tersebut.

Adapun proses pengembalian dana (refund), perubahan jadwal (reschedule), dan perubahan rute (reroute) sesuai dengan aturan yang berlaku mengacu pada ketentuan prosedur refund/rebook/reschedule/reroute. Untuk diketahui, TransNusa sendiri maskapai domestik yang diluncurkan pada Agustus 2005.

Maskapai ini melayani berbagai rute tujuan dari Kupang, Nusa Tenggara Timur dan beberapa kota di daerah NTT dengan tujuh pesawat pesawat ATR 72-600, satu pesawat ATR 42-500 dan satu BAe 146 . Pada bulan Agustus 2011, TransNusa mendapat sertifikat operator udara sendiri (AOC) dan izin penerbangan komersial berjadwal.

Baca juga: Miris, Begini Kondisi Industri Penerbangan Timor Leste! Nyesel Pisah dari Indonesia

Selain menerbangkan domestik di berbagai daerah di Nusa Tenggara, maskapai ini juga menerbangkan pesawatnya ke Makassar dan Bandung. Sedangkan untuk rute internasionalnya, maskapai ini menerbangkan ke Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato di Dili yang dioperasikan oleh Air Timor.

Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan

Sejak pertama kali dirilis pada 1980 lalu, diikuti Microsoft Flight Simulator X pada 2006, game spin-off pada tahun 2012, dan Microsoft Flight Simulator X: Steam Edition pada 2014, tak sekalipun games tersebut mendapat respon tinggi masyarakat; sampai akhirnya Microsoft Flight Simulator 2020 yang dirilis pada 18 Agustus lalu sukses di pasaran.

Baca juga: Maskapai Jepang Tawarkan Terbang Keliling Dunia Hanya Rp800 Ribuan, Masih Belum Minat?

Dilansir onmsft.com, selang dua pekan setelah peluncuran, Microsoft Flight Simulator 2020 sudah diunduh oleh 1 juta pengguna. Jumlah pemain ini membuat Microsoft Flight Simulator 2020 menjadi game Xbox Game Pass untuk PC dengan jumlah pemain terbesar dalam sejarah Microsoft. Umumnya mereka yang mengunduh adalah pilot, namun, tak sedikit orang awam (traveller) yang menikmati game simulasi penerbangan pesawat teranyar besutan Xbox Game Studios ini. Salah satunya Arif Bacchus.

Seorang traveller yang tak mempunyai latar belakang aviasi ini, mengaku menjajal Microsoft Flight Simulator karena tak ada pilihan lain untuk memenuhi hasrat berlibur kecuali dengan game tersebut. Pasalnya, dibanding VR atau memaksa berlibur dengan sederet protokol kesehatan dan karantina 14 hari setelah sampai di tempat tujuan, Microsoft Flight Simulator jauh lebih masuk akal untuk bisa melihat dunia dan merasakan kembali sensasi terbang.

Guna mengakomodir latar belakang beragam pengguna, Microsoft Flight Simulator menawarkan tiga preset, all assists, middle-ground, dan true-to life atau bisa dibilang otomatis, semi-otomatis, dan manual. Dalam kasus Arif Bacchus, ketidaktahuannya di bidang aviasi, khususnya cara menerbangkan pesawat, membuatnya mengambil mode all assists.

Di mode ini, ia cukup menekan tombol Y dan B untuk melepaskan parking brake, throttle up pesawat, meluncur di runway, dan menarik yoke untuk mengudara. Sudah itu, ia dapat menaikkan atau menurunkan ketinggian yang diinginkan dan menikmati dunia bersama pesawat favorit serta lepas landas dan landing di bandara idaman.

Bagi mereka yang sudah mengetahui cara menerbangan pesawat (pilot), Microsoft Flight Simulator 2020 setidaknya menyediakan delapan hal yang bisa dimanfaatkan untuk melatih skill menjadi penerbang, di antaranya basic controls and the cameras, altitudes, instruments take-off and level flight, landing, following traffic patterns, dan navigation.

Saat ini, Microsoft Flight Simulator 2020 bisa diunduh di platform Steam untuk smartphone serta Microsoft Store dan Xbox Game Pass untuk PC. Ada tiga versi Microsoft Flight Simulator 2020 yang ditawarkan, yakni Standard, Deluxe, dan Premium Deluxe. Di antara ketiganya, versi Standard memiliki harga yang paling terjangkau, yakni sebesar Rp790.000.

Baca juga: Curhat Pilot Senior Akibat Pandemi, Jam Terbang Rendah, Serba Lupa, dan Seperti Pertama Kali Terbang

Sementara versi Deluxe memiliki banderol harga Rp1.180.000 dan versi Premium Deluxe dengan harga tertinggi yakni sebesar Rp1.580.000. Pembeli versi Standard akan mendapatkan satu buah kopi game Microsoft Flight Simulator 2020 dengan lisensi kepemilikan game digital (Digital Ownership).

Sedangkan, pembeli versi Deluxe bakal mendapatkan bonus berupa lima buah bandara tambahan serta lima buah model pesawat baru. Seperti Deluxe, pembeli Microsoft Flight Simulator 2020 versi Premium Deluxe juga bakal mendapatkan konten ekstra, namun jumlahnya lebih banyak, terdiri dari 40 bandara internasional serta 30 model pesawat terbang.

Untuk pengalaman terbaik, Steam dan Microsoft Store sendiri memberikan panduan  spesifikasi minimum untuk Microsoft Flight Simulator 2020. Lengkapnya sebagai berikut.

OS: Windows 10 versi 18362.0 atau lebih tinggi

DirectX: versi 11

CPU: Ryzen 3 1200 / Intel Core i5-4460

GPU: Radeon RX 570 / NVIDIA GTX 770

VRAM: 2GB

RAM: 8GB

HDD: 150GB

Bandwidth internet: 5 Mbps

 

Center Console Airbus A350 Kini Tahan Cairan

Setelah membuat larangan cairan/minuman di dalam kokpit dan mengembangkan removable cover atau penutup yang bisa dilepas dan dipasang untuk melindungi panel-panel kontrol di kokpit dari tumpahan kopi, teh, atau cairan lainnya, kini Airbus tengah memasuki tahap akhir dalam upaya melindungi panel dari tumpahan dengan mengembangkan fitur liquid-resistant integrated flight panel.

Baca juga: Airbus Kembangkan Fitur Anti Tumpahan di Kokpit Lindungi Centre Pedestal

Dikutip dari avweb.com, desain ulang fitur liquid-resistant integrated flight panel atau panel terintegrasi anti tumpahan menjamin center pedestal atau center console tahan air dan tidak akan membuat mesin mati (jika terkena tumpahan), sebagaimana kasus tumpahan pada A350 Delta Airlines dan Asiana Airlines Januari dan November lalu.

Pada kedua kasus tersebut, tumpahan minuman ke panel kontrol centre pedestal di kedua kokpit, masing-masing telah membuat engine shutdown atau mesin mati dan tidak dapat direstart. Beruntung pesawat masih bisa didaratkan dengan selamat. Tak lama setelah dua insiden tersebut, Airbus pun merevisi aircraft flight manual, sejenis buku panduan pilot dan co-pilot, yang pada intinya memperketat aturan zona larangan adanya minuman di kokpit.

Dengan adanya inovasi berupa removable cover di kokpit serta adanya zona larangan adanya minuman di kokpit, diharapkan dua kejadian yang melibatkan Delta Air Lines dan Asian Airlines atau kejadian lainnya yang melibatkan A330 Condor Airlines tidak terulang lagi.

Namun demikian, karena removable cover tidak statis, artinya masih ada kemungkinan hilang, atau mungkin pula rusak. Bila salah satu dari dua keadaan tersebut terjadi, tidak ada cara lain kecuali memperketat aturan zona larangan cairan, selain tentu saja mendorong kesadaran pilot untuk patuh pada aturan tersebut.

Akan tetapi, bilapun pilot masih tidak patuh dan removable cover hilang atau rusak, kini pesawat akan tetap aman dengan sentuhan baru nerve center untuk membuat liquid-resistant integrated flight panel sesuai petunjuk terbaru EASA yang akan segera diumumkan. Bersamaan dengan mandat terbaru EASA soal liquid-resistant integrated flight panel, belum diketahui secara pasti apakah juga akan mendorong berbagai perubahan, termasuk desain cup holders yang lebih besar di sebelah kanan dan kiri pilot co-pilot atau tidak.

Pengembangan liquid-resistant integrated flight panel juga sekaligus menjawab keraguan berbagai pihak, tak terkecuali di Indonesia. Menurut seorang captain pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, dalam sebuah diskusi daring, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.

Baca juga: Setelah Dua Insiden, EASA Keluarkan Aturan Bebas Cairan di Dalam Kokpit Airbus A350

Kemudian, ia juga menyoroti bahwa sebetulnya dengan aturan main yang ada seharusnya sudah bisa menghindari terjadinya insiden itu. Hanya saja, karena aturan dilanggar, seperti tidak boleh ada minuman di atas atau di dekat center pedestal, entah sengaja atau tidak, insiden pun terjadi.

Padahal, dalam catatannya, dari database ASRS dan safety reporting NASA, insiden seperti itu rupanya sudah lumrah terjadi dan tidak hanya menimpa Airbus A350 dan kedua maskapai di atas. Meski demikian, lagi-lagi, ketidakdisiplinan kru kokpit ataupun kru kabin membuat insiden tersebut terus berulang hingga kini.

Sering Goda Orang Tak Dikenal di Jalanan? Hati-hati Anda Bisa Terjerat “Catcalling”

Anda sering dipanggil atau dipuji oleh orang yang tidak di kenal ketika tengah berada di stasiun, di halte atau di jalan? Biasanya ini terjadi lebih banyak kepada wanita dan dilakukan oleh para pria sebagai bentuk candaan atau keisengan belaka.

Baca juga: Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment

Para pria melakukannya kerap kali dengan cara spontan sembari tertawa dan segera melupakannya setelah melakukan hal tersebut. Padahal yang dilakukan ini bukanlah tindakan yang lucu dan godaan verbal di jalanan ini bisa disebut dengan catcalling yang merupakan perbuatan sangat mengganggu serta membuat wanita yang mengalaminya merasa tidak nyaman.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, catcalling secara harafiah diartikan sebagai siulan dan kenyataannya bisa terjadi dalam berbagai bentuk verbal atau ucapan. Contohnya seperti menggoda wanita ketika baru turun dari kendaraan umum, memanggil atau melontarkan ucapan yang bernada seksual.

Catcalling sendiri ternyata terjadi pada wanita yang menggunakan pakaian tertutup seperti menggunakan celana atau rok panjang, memakai baju dengan lengan panjang, seragam sekolah, bahkan yang menggunakan hijab. Jadi bisa dikatakan pelecehan terjadi bukan karena wanita menggunakan pakaian terbuka atau karena keluyuran pada malam hari.

Namun semua tindakan ini bisa termasuk catcalling atau tidak tergantung yang menanggapinya. Jika seseorang itu terganggu dengan siulan atau bernada seksual maka termasuk dengan catcalling tetapi jika tidak ini tak masalah.

Ternyata catcalling ini merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual dan termasuk dalam 15 bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan di Indonesia. Di beberapa negara dunia, tindakan catcalling sendiri termasuk perbuatan melanggar hukum dan pelakunya dapat dijatuhi hukuman mulai dari denda yang cukup tinggi hingga ancaman penjara.

Sampai saat ini ada enam negara yang sudah memiliki undang-undang yang mengatur pelecehan jalanan yakni Belgia, Portugal, Argentina, Kanada, New Zealand dan Amerika Serikat. Pada 1 Januari 2018, Belanda mulai memberlakukan undang-undang yang menyatakan bahwa pelaku catcalling adalah perbuatan kriminal dan akan dikenakan denda maksimum 8200 euro (Rp143 juta) atau tiga bulan penjara.

Setelah undang-undang ini diberlakukan, para pelaku dapat dilacak untuk kemudian diperiksa dan dijatuhi hukuman. Beberapa wilayah di Belanda, seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag bahkan telah menambahkan pasal bahwa mengintimidasi perempuan dan kaum homoseksual merupakan tindak kejahatan.

Nah, apakah di Indonesia sudah ada jerat hukum untuk pelaku catcalling? Sayangnya sampai saat ini belum ada dasar hukum yang jelas untuk catcalling dan harus menggabungkan beberapa pasal untuk menyelesaikannya. Dalam Pasal 35 dalam UU No.4/2008 menjabarkan hukuman bagi mereka yang melanggar aturan yang tertulis dalam Pasal 9 UU No.4.

Baca juga: Penumpang Tandai Pelaku Pelecehan Seksual di Kereta dengan Stempel Anti-Groping

Mereka yang menjadikan orang lain sebagai objek pornografi dapat dikenakan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda sebesar Rp500 juta sampai Rp6 miliar.

Ini Loh Cara Pintar Tak Perlu Bayar Bagasi Tambahan

Banyak penumpang pesawat yang harus mengeluarkan biaya tambahan ketika bepergian menggunakan pesawat terbang berbiaya hemat. Biasanya ini dikarenakan penumpang membawa bagasi melebihi berat yang diperbolehkan. Sehingga kelebihan tersebut harus dibayarkan oleh penumpang.

Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin

Untuk menghindari pembayaran biaya yang lebih dari harga tiket pesawat, penumpang bisa melakukan berbagai macam cara. Berikut ini ada beberapa cara cerdas yang bisa dilakukan penumpang agar tidak membayar kelebihan biaya bagasi dan sudah dirangkum oleh KabarPenumpang.com dari smarttravel.co.

#1 Kebijakan maskapai
Sebelum bepergian, baiknya Anda sebagai penumpang tidak lupa mengecek kebijakan bagasi yang dikeluarkan oleh maskapai. Karena setiap maskapai memiliki biaya yang berbeda dan sering berubah tergantung dari tujuan, tanggal penerbangan, jumlah tas, berat dan ukuran tas. Ini bisa membuat Anda lebih jeli ketika naik penerbangan berbiaya hemat yang mana tidak lagi lerlu mengeluarkan biaya tambahan karena kelebihan bagasi.

Beberapa maskapai seperti Southwest Airlines mengizinkan dua tas bagasi gratis untuk penumpang. JetBlue mengizinkan satu tas bagasi untuk semua kelas kecuali dengan tarif termurah. Biasanya biaya kelebihan bagasi bisa mencapai $28 hingga $65 tergantung kebijakan maskapai.

#2 Gabung sebagai member
Ini bisa menjadi salah satu solusi terbaik bagi seorang penumpang meski menggunakan maskapai berbiaya hemat. Sebab dengan menjadi seorang member maskapai, Anda bisa mendapatkan bagasi gratis dan mengikuti semua program untuk member. Bahkan bila mengumpulkan point setiap bepergian, ketika jumlahnya cukup bisa membuat Anda mendapatkan keuntungan lainnya ketika bepergian. Jangan lupa beberapa maskapai memberikan biaya tahunan pada para member sehingga baiknya dicek apakah sepadan dengan fasilitas yang diterima.

#3 Naik kereta
Ketika maskapai penerbangan menerapkan pembiayaan pada bagasi penumpang, kereta api memiliki hal berbeda. Kebijakan bagasi Amtrak menyatakan penumpang boleh membawa lebih dari dua koper tanpa terkena biaya. Tas tambahan yang dibawa pun akan dikenakan biaya lebih rendah yakni $20 per tas.

#4 Berat koper
Biaya kelebihan bagasi bisa lebih mahal dibandingkan dengan biaya dasar untuk bagasi terdaftar. Seperti American Airlines yang mengeluarkan biaya $100 untuk setiap bagasi terdaftar dengan berat 22,67 kg hingga 31 kg pada penerbangan domestik, atau sekitar $200 untuk barang lebih dari 31 kg. Untuk berjaga-jaga baiknya bawa timbangan portabel agar Anda bisa menimbang tas sebelum penerbangan pergi dan pulang.

#5 Kirim tas
Cara ini lebih tidak buruk karena biasanya lebih murah dibandingkan dengan biaya yang dikenakannmaskapai ketika Anda kelebihan bagasi. Gunakan layanan seperi FedEx, UPS dan USPS karena biaya yang dikenakan lebih standar dan terjangkau. Seperti FedEx mengenakan $62 untuk koper seberat 24,9 kg dari New York ke Chicago dengan pengiriman dalam dua hari kerja. Biaya ini lebih murah dibandingkan biaya kelebihan bagasi $100 pada beberapa maskapai besar. Dengan mengirimkan tas, Anda tak perlu repot mengantri di klaim bagasi.

#6 Tingkatkan bagasi
Penggunaan koper yang lebih ringan, bisa membuat bagasi yang akan Anda bawa tidak berlebihan. Biaya bagasi kelebihan berat, yang berlaku sekali jalan dan per tas, bisa mencapai ratusan dolar untuk beberapa perjalanan bagi penumpang yang tidak bepergian dengan ringan. Karena sebagian besar merek koper berkualitas tinggi dirancang agar ringan dan sangat tahan lama, merek ini dapat membantu pelancong yang sering bepergian menghindari biaya bagasi berlebih dari waktu ke waktu.

Baca juga: Ingin Hindari Pengeluaran Lebih Untuk Bagasi? Inilah Tips Ala Pramugari!

#7 Kemas Ringan dengan Produk Keren
Jika kesulitan memasukkan semuanya ke dalam tas jinjing, Anda mungkin memerlukan sedikit bantuan dari produk praktis seperti karung kompresi (kantong vakum), yang dapat memasukkan lebih banyak ke dalam ruang yang lebih sedikit. Atau simpan barang-barang penting di salah satu pakaian berkantong dari SCOTTeVEST, yang dirancang dengan cerdik dengan kompartemen tersembunyi yang menyimpan lebih dari yang Anda kira. Dan cari perlengkapan perjalanan yang licin dan dapat dilipat yang menghabiskan ruang koper minimal kapan pun Anda bisa; beberapa favorit saya termasuk Vapur Anti-Botol dan Bantal Travelrest tiup.

Mandala Airlines Akhirnya Bangkrut Walau Didukung Sandiaga Uno, Buntut Kecelakaan Flight 091?

Kecelakaan pesawat memang jadi malapetaka semua pihak. Bagi regulator, tentu kecelakaan (termasuk juga insiden penerbangan lainnya) mencoreng wajah penerbangan dalam negeri di mata internasional. Indonesia pernah berada pada posisi itu tatkala seluruh maskapai dalam negeri satupun tak diperbolehkan masuk ke Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) sejak 2007-2018 lalu.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan

Bagi maskapai penerbangan, kecelakaan pesawat tentu bakal menghilangkan rasa percaya segelintir atau sebagian penumpang untuk menggunakan jasa penerbangannya. Sudah begitu, mereka juga harus merogok kocek dalam-dalam untuk memberikan santunan (ganti-rugi) atas kecelakaan tersebut.

Belum lagi maskapai juga harus bertanggung jawab atas kerusakan pesawat ke pihak leasing. Tak jarang, besarnya uang yang dikeluarkan membuat finansial perusahaan menjadi tak stabil. Hal itulah yang diduga dialami oleh Mandala Airlines.

Dilansir dw.com, pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines flight RI 091 pada 5 September 2005 lalu dilaporkan jatuh dan menewaskan 149 orang, 100 berasal dari penumpang pesawat dan sisanya warga yang berada di darat, mengingat pesawat jatuh dan menghantam pemukiman warga, tak jauh dari Bandara Polonia, Medan.

Menurut Tempo, pihak Mandala Airlines memberikan santunan kepada korban kecelakaan pesawat flight 091 sebesar Rp300 juta perorang untuk korban meninggal. Sedangkan untuk korban luka-luka sebesar Rp 50 juta, dan Rp 300 juta bagi yang mengalami cacat tetap.

Sebetulnya angka tersebut masih jauh lebih kecil dibanding hasil Konvensi Montreal, dimana maskapai penerbangan harus memberikan kompensasi kepada penumpang atau keluarga penumpang sebesar 100.000 special drawing rights (SDR) untuk korban, baik cedera maupun meninggal. SDR sendiri adalah mata uang yang biasa digunakan IMF.

Konvensi Montreal juga mengatur mengenai ganti rugi atas barang yang diangkut pesawat yang mengalami kecelakaan. Jika barang yang diangkut hilang, rusak atau terlambat datang, maskapai wajib memberi kompensasi sebesar 17 SDR per kilogram.

Adapun menurut hukum di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan pada 8 Agustus 2011 mengeluarkan Permenhub No.PM 77/Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, yang diteken Menteri Freddy Numberi.

Aturan kompensasi angkutan udara tersebut juga telah disesuaikan dengan beleid lainnya seperti UU No.2/1992 tentang Perasuransian, UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan tentu saja UU No.1/2009 tentang Penerbangan. Berdasarkan Permenhub No.77 itu, korban jiwa karena kecelakaan pesawat mendapatkan santunan Rp1,25 miliar.

Bila sesuai Konvensi Montreal atau Permenhub, Mandala Airlines harusnya bisa mengeluarkan miliaran rupiah untuk satu korban tewas.

Baca juga: Saatnya Nostalgia, Ini Dia Lima Maskapai yang Sempat Mewarnai Langit Indonesia!

Namun, tetap saja, santunan sebesar Rp300 juta berarti memaksa Mandala Airlines mengeluarkan uang sebesar Rp44,5 miliar lebih. Belum lagi biaya kerusakan pesawat. Atas berbagai beban biaya itu pula-lah maskapai kemudian diduga terlilit hutang. Terbukti, enam tahun berselang, tepatnya pada Rabu, 11 Januari 2011, Mandala Airlines melakukan penerbangan terakhir sebelum menutup semua operasional.

Meskipun sempat kembali mengudara serta berganti nama jadi Tigerair Mandala setelah didukung Sandiaga Uno, melalui perusahaan investasi PT Saratoga Investment Group dan Tiger Airways Holding Limited dari Singapura, Mandala Airlines akhirnya harus benar-benar bangkrut pada 1 Juli 2014 dan bergabung dengan maskapai swasta nasional lainnya yang telah lebih dulu bangkrut, seperti Sempati Air, Bouraq Indonesia Airlines, Adam Air, dan Batavia Air.

34 Tahun Silam, Pan Am Flight 73 Dibajak dan Seorang Pramugari Dianugerahi Penghargaan Ashok Chakra

Sebuah pesawat Pan American World Airways Boeing 747-121 dengan penerbangan 73 dibajak 34 tahun yang lalu. Tepatnya 5 September 1986 ketika penerbangan Pan Am tersebut dari Bombay, India menuju ke New York, Amerika Serikat dibajak saat melakukan pemberhentiannya di Karachi, Pakistan. Pembajakan tersebut dilakukan oleh empat pria Palestina bersenjata di Organisasi Abu Nidal. Saat itu, pesawat baru saja tiba di Karachi pukul 04.30 waktu setempat. Pesawat membawa 394 penumpang, sembilan bayi, seorang awak pesawat Amerika dan 13 pramugari India.

Baca juga: Neerja Bhanot – Mengenang Tameng Hidup Tragedi Pan Am Penerbangan 73

Kemudian sebanyak 109 penumpang turun di Karachi dan bus pertama penumpang baru mencapai pesawat di landasan ketika pembajakan mulai terjadi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dua pembajak dari Pasukan Keamanan Bandara Pakistan menuju ke pesawat dengan van yang dilengkapi sirene dan lampu berkedip. Kemudian melepaskan tembakan ke udara dan naik tangga pesawat di mana dua pembajak lainnya bergabung dengan salah satunya menggunakan shalwar kameez Pakistan serta membawa koper penuh granat.

Para pembajak tersebut melepaskan tembakan ke kaki dari salah seorang pramugari yang memaksanya menutup pintu. Pramugari lainnya Neerja Bhanot yang tak terlihat oleh pembajak mengirimkan kode pembajakan ke pilot yang keluar dari pesawat melalui Perangkat Pelarian Reel Inersia. Keluarnya pilot, membuat pesawat yang sudah dalam kendali pembajak selama 40 menit tidak bisa bergerak.

Keempat pembajak itu kemudian diidentifikasi sebagai Zayd Hassan Abd al-Latif Safarini (Safarini, alias “Mustafa”), Jamal Saeed Abdul Rahim (alias “Fahad”), Muhammad Abdullah Khalil Hussain ar-Rahayyal (“Khalil”), dan Muhammad Ahmed Al-Munawar (alias “Mansoor”). Dalam waktu singkat setelah merebut kendali pesawat, pemimpin pembajak Safarini menyadari bahwa awak kokpit telah melarikan diri dan karena itu dia akan dipaksa untuk bernegosiasi dengan petugas.

Penumpang kelas satu dan bisnis diperintahkan menuju bagian belakang pesawat dan pada saat yang sama, penumpang di bagian belakang pesawat diperintahkan maju. Karena pesawat hampir penuh, penumpang duduk di lorong, dapur kecil dan pintu keluar. Sekitar pukul 10.00 pagi, Safarini naik pesawat dan tiba di kursi Rajesh Kumar, seorang warga Indian Amerika berusia 29 tahun.

Safarini memerintahkan Kumar untuk maju ke depan pesawat, berlutut di depan pintu pesawat dan menghadap ke depan pesawat dengan tangan di belakang kepala. Safarini bernegosiasi dengan pejabat, khususnya Viraf Daroga, kepala operasi Pan Am Pakistan, menyatakan bahwa jika awak pesawat tidak dikirim dalam waktu 30 menit, maka Kumar akan ditembak.

Karena tak sabar menunggu petugas, Safarini menembak bagian kepala Kumar di depan semua orang baik yang berada di dalam kabin pesawat maupun di luar. Safarini mendorong Kumar keluar dari pintu ke jalan di bawah. Personil Pakistan di jalan melaporkan bahwa Kumar masih bernafas ketika dia ditempatkan di ambulans, tetapi dia dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit di Karachi.

Safarini bergabung dengan para pembajak dan memerintahkan pramugari, Sunshine Vesuwala dan Madhvi Bahuguna, untuk mulai mengumpulkan paspor. Mereka memenuhi permintaan ini dan selama pengumpulan paspor, penumpang yang memiliki paspor Amerika akan dipilih oleh para pembajak, pramugari melanjutkan untuk menyembunyikan beberapa paspor Amerika di bawah kursi, dan membuang sisanya ke saluran sampah.

Kebuntuan pembajakan berlanjut hingga malam dan selama itu Dick Melhart diposisikan di dekat pintu dan mampu membukanya saat penembakan dimulai. Sekitar pukul 21.00 unit daya tambahan dimatikan, semua lampu dimatikan dan lampu darurat menyala. Penumpang di depan diperintahkan ke belakang, sedangkan penumpang di belakang diperintahkan maju.

Berhubung gang sudah penuh, penumpang yang berdiri itu hanya duduk. Dengan pesawat padam dan duduk di dekat kegelapan, seorang pembajak di pintu L1 mengucapkan doa dan kemudian bertujuan untuk menembak sabuk bahan peledak yang dikenakan oleh pembajak lain di dekat pintu. Tujuannya adalah untuk menimbulkan ledakan yang cukup masif untuk membunuh semua penumpang dan awak di dalamnya, serta diri mereka sendiri.

Namun, karena kabin gelap, pembajak meleset, menyebabkan ledakan kecil. Segera para pembajak mulai menembakkan senjata mereka ke kabin ke arah penumpang dan berusaha melemparkan granat mereka. Sekali lagi kekurangan cahaya menyebabkan mereka tidak menarik pin sepenuhnya dan hanya membuat ledakan kecil.

Hingga akhirnya pembajak menembakkan peluru pistol mereka dan memantul dari permukaan kabin sehingga membuat pecahan yang melumpuhkan. Seorang pramugari di pintu L3 membuka pintu meskipun perosotan tidak menyebar, beberapa penumpang dan awak melompat dari ketinggian enam meter. Dick Melhart berhasil membuka kunci pintu di R3 yang merupakan pintu keluar di atas sayap, penumpang melompat keluar dari pintu keluar ini.

Kemudian Neerja membuka pintu darurat dan langsung membuka parasut peluncuran darurat, tetapi bukannya melarikan diri, gadis berusia 23 tahun ini membantu membawa penumpang keluar. Dia ditembak dan dibunuh ketika menjadi perisai tiga anak dari dari tembakan api peluru. Seorang staf lapangan yang terperangkap di kapal selama cobaan berat bertanggung jawab untuk membuka pintu R4, yang merupakan satu-satunya pintu yang dipersenjatai untuk memasang perosotan darurat. Pada akhirnya, perosotan ini memungkinkan lebih banyak penumpang untuk mengungsi dengan aman dan tanpa cedera.

Pakistan dengan cepat mengirim pasukan komando Kelompok Layanan Khusus (SSG) Angkatan Darat Pakistan dan Penjaga Pakistan disiagakan. Pembajakan selama 17 jam berakhir ketika para pembajak menembaki penumpang pada pukul 21.30 Waktu Pakistan, tetapi segera kehabisan amunisi, mengakibatkan beberapa penumpang melarikan diri dari pesawat melalui pintu keluar darurat pesawat.

Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Diketahui, dalam pembajakan Empat puluh tiga penumpang tewas saat pembajakan yang berasal dari India, Amerika Serikat, Pakistan dan Meksiko. Seluruh pembajak ditangkap dan dihukum mati di Pakistan. Namun, hukuman kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup. Neerja Bhanot, kepala pramugari di penerbangan tersebut, secara anumerta dianugerahi penghargaan perdamaian tertinggi di India untuk keberanian, Penghargaan Ashok Chakra atas jasanya untuk menyelamatkan nyawa para penumpang saat pembajakan tersebut.

Selain Mandala Airlines dan Hercules TNI AU, Inilah Daftar Kecelakaan yang Terkait Bandara Polonia Medan

Tepat pada hari ini, 15 tahun yang lalu, bertepatan dengan Senin, 5 September 2005, pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines flight RI 091 jatuh dan menimpa pemukiman warga di Jalan Jamin Ginting, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara. Insiden tersebut pun menewaskan 100 orang, ditambah 49 orang lainnya yang berada di darat.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan

Bak deja vu, publik seperti melihat kejadian tersebut berulang beberapa tahun setelahnya. Pada Selasa, 30 Juni 2015, pesawat Lockheed C-130 Hercules C-130 milik TNI AU yang mengangkut logistik jatuh menimpa ruko-ruko juga di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara. Pesawat diketahui lepas landas dari Lapangan Udara Suwondo (dulu Bandara Polonia), Medan, pukul 11:48 WIB. Dua menit kemudian, atau pada pukul 11:50 WIB, langsung jatuh.

Akibat kecelakaan tersebut, sebanyak 110 penumpang dan 12 awak diyakini tewas. Sembilan masyarakat yang ada di darat juga dilaporkan menjadi korban. Di antara 110 penumpang itu, terdapat lima orang yang jasadnya tidak ditemukan dan menyisakan misteri, layaknya kecelakaan Mandala Airlines flight RI 091 yang menyisakan 17 penumpang selamat dimana seluruhnya berada di kursi bagian depan; di samping misteri keberadaan durian dan hubungannya dengan kecelakaan.

Di luar kedua itu, tak banyak yang tahu bahwasannya Bandara Polonia Medan pernah terlibat beberapa kecelakaan atau insiden, baik secara langsung maupun tidak.

Dihimpun dari berbagai laman, Sabtu, 4 April 1987, Garuda Indonesia flight 035 mengalami kecelakaan di Bandara Polonia, Medan. Pesawat Douglas DC-9 buatan 1976 dengan nomor registrasi PK-GNQ ini diketahui menabrak tonggak menara dan jatuh saat melakukan landing approach menggunakan Instrumen Landing System.

Akibat insiden itu, 23 orang dari 45 penumpang dan kru yang ada di dalam pesawat tersebut tewas. Semua korban tewas diyakini bukan akibat langsung dari benturan pesawat dengan daratan, melainkan tewas terbakar bersamaan dengan terbakarnya pesawat. Begitu juga dengan korban selamat, sebagian besar korban yang selamat melarikan diri lewat sela-sela puing pesawat dan 11 lainnya terlempar dari pesawat.

Sama halnya dengan kecelakaan Garuda Indonesia flight 035, Garuda Indonesia lainnya juga mengalami kecelakaan pada Rabu, 11 Juli 1979, saat hendak melakukan approach landing di Bandara Polonia, Medan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Pesawat Fokker F28 Garuda Indonesia bernama Mamberamo itu menabrak lereng Gunung Pertektekan, anak Gunung Sibayak, beberapa puluh meter dari Bandara Polonia. Sebanyak 61 orang, terdiri dari penumpang dan awak, dilaporkan tewas; termasuk Kapten pilot A.E. Lontoh.

Tak berhenti sampai di situ, 18 tahun kemudian, bertepatan dengan Jumat, 26 September 1997, Garuda Indonesia flight GA152 juga jatuh jelang masuk Bandara Polonia, Medan. Pesawat Airbus A300-B4 Garuda Indonesia diketahui mengalami crash di Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, 45 km dari Kota Medan. 234 orang, termasuk awak dan penumpang, tewas seketika; termasuk dua orang Inggris, satu Perancis, enam Malaysia, empat Jerman, dua Amerika, dan dua dari Kanada.

Baca juga: Tragedi GA152: Sempat Terjadi ‘Kebingungan’ Identifikasi ATC dengan MA152

Meskipun sejak 25 Juli 2013 (85 tahun beroperasi) seluruh area bekas Bandara Polonia Medan itu sudah berganti nama menjadi Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo (di bawah Pangkosek Hanudnas III), ditandai dengan keberangkatan terakhir pesawat komersial oleh AirAsia QZ 780, tetapi, hal itu tak lantas menghilangkan jejak bandara tersebut dari beberapa insiden kecelakaan pesawat di Indonesia. Bahkan, insiden yang terjadi sebelum era kemerdekaan Indonesia sekalipun; mengingat bandara tersebut sudah ada sejak sekitar tahun 1928.

Diketahui, sebuah pesawat Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), maskapai penerbangan Hindia Belanda, Douglas DC-3-194B “Nandoe” (PK-ALN), hancur digempur pesawat pembom Jepang saat tengah parkir di apron Bandara Polonia, Medan. Beruntung bandara dengan luas sekitar 144 hektare yang kini digantikan oleh Bandra Kuala Namu (KNO) ini tak ikut digempur habis Jepang.